• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL PASIEN TUBERKULOSIS RESISTEN OBAT GANDA DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN TAHUN SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROFIL PASIEN TUBERKULOSIS RESISTEN OBAT GANDA DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN TAHUN SKRIPSI"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL PASIEN TUBERKULOSIS RESISTEN OBAT GANDA DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK

MEDAN TAHUN 2013-2017

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Oleh : Vincent Tandiono

150100010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)

PROFIL PASIEN TUBERKULOSIS RESISTEN OBAT GANDA DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK

MEDAN TAHUN 2013-2017

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Oleh : Vincent Tandiono

150100010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan berkat-Nya penulis mampu menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. Skripsi ini berjudul “Profil Pasien Tuberkulosis Resisten Obat Ganda di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2013-2017” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan sarjana kedokteran program studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyusunan dan penyelesaian skripsi ini, penulis mendapat banyak dukungan dan bantuan baik secara moril maupun materil dari berbagai pihak.

Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih sebesar- besarnya kepada:

1. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K), yang banyak memberikan dukungan selama proses penyusunan skripsi.

2. Dosen Pembimbing, Dr. dr. Bintang Yinke Magdalena Sinaga, M.Ked (Paru), Sp.P (K), yang banyak memberikan arahan, masukan, ilmu, dan motivasi kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan sedemikian rupa.

3. Ketua Penguji, dr. Ahmad Yafiz Hasby, M.Ked (An), Sp. An dan Anggota Penguji, Dr. dr. Hotma Partogi Pasaribu, M.Ked (OG), Sp.OG (K), untuk setiap kritik dan saran yang membangun selama proses pembuatan skripsi ini.

4. Dosen Pembimbing Akademik, dr. Erjan Fikri, Sp.B, Sp.BA (K) yang senantiasa membimbing dan memberikan motivasi selama masa perkuliahan 7 semester

5. Seluruh staf pengajar dan civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas bimbingan dan ilmu yang diberikan dari mulai awal perkuliahan hingga penulis menyelesaikan skripsi ini

6. Seluruh pihak RSUP Haji Adam Malik yang banyak membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini

7. Kedua orang tua, Chandra Tandiono, S.E, M.BA dan Sri Rezeki, kedua saudara penulis, Steven S.Ked dan Michelle Tandiono serta pasangan penulis Agnesia Alyssa, yang selalu mendukung, memberikan semangat, kasih sayang, bantuan dan rasa kebersamaan yang tidak pernah berhenti sampai penulis menyelesaikan skripsi ini

8. Sahabat-sahabat penulis, Dicky, Surya Wijaya, Andrew Sunarto, Andrian, Casvin, Alicia, Jesslyn Wijaya, Hermawan, Jasen Ericko, dan sahabat terbaik lainnya yang tak bisa disebut satu per satu saling bahu membahu menolong satu sama lain dari awal perkuliahan sampai selesainya skripsi ini

(5)

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi konten maupun cara penulisannya. Oleh sebab itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran agar penulis dapat menyempurnakan skripsi ini.

Akhir kata penulis berharap skirpsi ini dapat bermanfaat dan mampu memberikan sumbangsih bagi bangsa dan Negara terutama dalam bidang pendidikan terkhususnya ilmu kedokteran.

Medan, 28 Desember 2018 Penulis,

Vincent Tandiono 150100010

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Pengesahan ... i

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi ... iv

Daftar Gambar ... vi

Daftar Tabel ... vii

Daftar Lampiran ... viii

Daftar Singkatan ... ix

Abstrak ... xi

Abstract ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1.Latar Belakang ... 1

1.2.Rumusan Masalah ... 3

1.3.Tujuan Penelitian ... 3

1.3.1. Tujuan Umum ... 3

1.3.2. Tujuan Khusus... 4

1.4.Manfaat Penelitian ... 4

1.4.1. Bagi Penelitian ... 4

1.4.2. Bagi Pendidikan ... 4

1.4.3. Bagi Pelayanan Masyarakat ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1. Paru-paru ... 5

2.1.1. Anatomi Paru ... 5

2.1.2. Histologi Paru ... 6

2.1.3. Fisiologi Paru ... 7

2.2. Tuberkulosis ... 7

2.2.1. Definisi... 7

2.2.2. Klasifikasi ... 8

2.3. Multi Drug Resistance-TB ... 11

2.3.1. Definisi... 11

2.3.2. Insidensi dan Epidemiologi ... 11

2.3.3. Faktor Risiko... 12

2.3.4. Etiologi... 13

2.3.5. Patofisiologi ... 13

2.3.5.1. Isoniazid... 13

2.3.5.2. Rifampicin ... 14

2.3.5.3. Ethambutol... 15

2.3.5.4. Pyrazinamide ... 15

2.3.5.5. Streptomycin ... 16

2.3.6. Gejala Klinis ... 16

(7)

2.3.7. Diagnosis ... 16

2.3.8. Penatalaksanaan ... 18

2.3.9. Evaluasi Pengobatan ... 23

2.4. Kerangka Teori... 25

2.5. Kerangka Konsep ... 26

BAB III. METODE PENELITIAN ... 27

3.1. RancanganPenelitian... 27

3.2. Lokasi Penelitian ... 27

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 27

3.3.1. Populasi Penelitian ... 27

3.3.2. Sampel Penelitian……. ... 27

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 28

3.5. Definisi Operasional ... 28

3.6. Metode Analisis Data ... 31

3.7. Alur Penelitian ... 31

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 32

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 41

5.1. Kesimpulan …... 41

5.2. Saran ………... 41

DAFTAR PUSTAKA ... 43

LAMPIRAN………... 47

(8)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

Gambar 2.1. Anatomi Paru... 5

Gambar 2.2. Kerangka Teori Penelitian... 25

Gambar 2.3. Kerangka Konsep Penelitian... 26

Gambar 3.1. Alur Penelitian... 30

(9)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

Tabel 2.1. Pembagian Kelompok Obat... 18

Tabel 2.2. Paduan Pengobatan... 19

Tabel 2.3. Pembagian Dosis OAT... 21

Tabel 2.4. Efek Samping OAT………... 22

Tabel 4.1. Data Distribusi Sampel berdasarkan Jenis Kelamin... 32

Tabel 4.2. Data Distribusi Sampel berdasarkan Umur…………. 33

Tabel 4.3. Data Distribusi Sampel berdasarkan Pekerjaan……... 35

Tabel 4.4. Data Distribusi Sampel berdasarkan Komorbid…….. 36

Tabel 4.5. Data Distribusi Sampel berdasarkan Kriteria MDR… 37

Tabel 4.6. Data Distribusi Sampel berdasarkan Hasil Pengobatan 39

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Daftar Riwayat Hidup Lampiran B Pernyataan Orisinalitas Lampiran C Ethical Clearance Penelitian Lampiran D Surat Izin Penelitian

Lampiran E Surat Balasan Izin Penelitian Lampiran F Output Perangkat Lunak Statistik Lampiran G Data Induk Penelitian

(11)

DAFTAR SINGKATAN

ahpC : Alkyl hydroperoxide reductase C

Am : Amikacin

Amx-Clv : Amoxilin Clavulanat

ART : Anti Retro Viral

atm : atmosphere

Bdq : Bedaquiline

BTA : Bakteri Tahan Asam

Cfz : Clofazimine

Cm : Capreomycin

cm : centimeter

Cs : Cycloserine

Dlm : Delamanid

DM : Diabetes Mellitus

E : Ethambutol

Eto : Ethionamide

Pto : Prothionamide

Gfx : Gatifloxacin

H : Isoniazid

HIV : Human Immunodeficiency Virus

INH : Isoniazid

inhA : Inhibin Alpha Subunit

Ipm : Imipenemsilastatin

katG : Katalase Peroksidase

Kemenkes : Kementerian Kesehatan

Km : Kanamycin

Lfx : Levofloxacin

Lzd : Linezolid

MDR-TB : Multi Drug Resistance Tuberculosis

Mfx : Moxifloxacin

mg : miligram

mmHg : milimeter air raksa

Mpm : Meropenem

MR-TB : Mono Resistance Tuberculosis

M. tuberculosis : Mycobacterium tuberculosis

NADH : Nicotinamide adenine dinucleotide

OAT : Obat Anti Tuberkulosis

PA-824 : Pretonamid

PAS : Asam Para aminosalisilat

PMO : Pengawas Minum Obat

PR-TB : Poli Resistance Tuberculosis

R : Rifampicin

Riskesdas : Riset Kesehatan Dasar

RNA : Ribonucleic acid

RO : Resisten Obat

(12)

rpoB : beta subunit of RNA polymerase

rpsL : Ribosomal protein gene

RR : Resistance Rifampicin

rrs : Ribosomal RNA gene

RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat

S : Streptomycin

SLTA : Sekolah Lanjutan Tingkat Atas

T : Thioasetazon

TB : Tuberkulosis

TCM : Tes Cepat Molekuler

Trd : Terizidone

WHO : World Health Organization

XDR-TB : Extensively Drug Resistance Tuberculosis

Z : Pyrazinamide

(13)

ABSTRAK

Latar Belakang. Meningkatnya prevalensi infeksi Mycobacterium tuberculosis yang resistan terhadap obat merupakan sebuah permasalahan medis yang menjadi perhatian masyarakat dunia.

Berdasarkan data dari Kemenkes RI, pada tahun 2015 terdapat 15.380 kasus terduga MDR-TB dan 1.860 kasus yang telah terkonfirmasi MDR-TB. Tujuan penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil pasien MDR-TB di RSUP Haji Adam Malik Medan. Metode.

Penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan penelitian potong lintang. Sampel penelitian diambil dengan teknik total sampling. Data rekam medis MDR-TB tahun 2013-2017 yang memnuhi kriteria inklusi dan eksklusi akan diambil seluruh datanya dan diolah menggunakan program SPSS. Hasil penelitian. Kasus MDR-TB di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2013-2017 ditemukan sebanyak 547 kasus. Kasus MDR-TB pada laki-laki lebih banyak ditemukan daripada perempuan dengan jumlah 369 orang (67,5%). Kelompok umur 36-45 tahun menjadi yang terbanyak ditemukan kasus MDR-TB yaitu 138 orang (25,2%). Kasus MDR-TB banyak ditemukan pada kelompok orang yang bekerja sebagai wiraswasta yaitu 177 orang (32,4%).

Kasus MDR-TB tanpa disertai komorbid paling banyak ditemukan yaitu sebanyak 363 orang (66,4%) dan komorbid yang paling banyak ditemukan pada kasus MDR-TB adalah Diabetes Mellitus sebanyak 146 orang (26,7%). Kriteria 6 merupakan kriteria MDR-TB yang paling banyak ditemukan dalam penelitian ini sebanyak 185 orang (33,8%). Hasil yang didapat dalam penelitian ini untuk pengobatan yang sembuh, meninggal, gagal pengobatan, in treatment, loss to follow up, pengobatan lengkap dan tidak dievaluasi adalah 188 orang (34,4%), 120 orang (21,9%), 82 orang (15%), 6 orang (1,1%), 101 orang (18,5 %), 13 orang (2,4%), dan 37 orang (6,8%).

Kesimpulan Kasus MDR-TB didapatkan lebih banyak pada laki-laki dibanding perempuan, pada kelompok usia 36-45 tahun, dan yang bekerja sebagai wiraswasta. Kasus MDR-TB tanpa disertai komorbid ditemukan yang terbanyak dan kriteria 6 merupakan kriteria terbanyak. Angka kesembuhan pengobatan MDR-TB pada penelitian ini adalah 34,4%.

Kata kunci : Multi Drug Resistance-Tuberculosis, Tuberculosis, Lung Infection

(14)

ABSTRACT

Background. The increasing prevalence of drug-resistant Mycobacterium tuberculosis infection is a medical concern worldwide. Based on data from the Indonesian Ministry of Health, in 2015 there were 15.380 suspected cases of MDR-TB and 1.860 confirmed cases of MDR-TB. Objective.

The purpose of this study is to determine the profile of MDR-TB patients at Haji Adam Malik Medan Hospital. Method. This is a descriptive study with cross sectional design. The sample of this study was taken with total sampling technique. Medical record data of MDR-TB from 2013- 2017 which fulfilled the inclusion and exclusion criteria were all taken and processed using SPSS program. Result. There were 547 cases of MDR-TB at Haji Adam Malik Medan Hospital from 2013-2017. MDR-TB cases in men (N=369; 67,5%) were more common than in women (N=178;

32,5%). Mostly, MDR-TB was found in 36-45 year age group (N=138; 25,2%). MDR-TB cases were found in group of people who work as entrepreneur (177 people; 32,4%). Majority of the cases were found with absence of comorbidities (N=363; 66,4%). The most common comorbidity found was Diabetes Mellitus (N=146; 26,7%). Based on MDR-TB criteria, samples with criteria 6 MDR-TB were the most common (N=185; 33,8%). The outcome of treatment in this study for cured treatment, death, failure, in treatment, loss to follow up, complete treatment and not evaluated are 188 people (34,4%), 120 people (21,9%), 82 people (15%), 6 people (1,1%), 101 people (18,5 %), 13 people (2,4%), and 37 people (6,8%) respectively. Conclusion. MDR-TB cases are found more in men than in women, in 36-45 age group and group of people who work as entrepreneur. Majority of cases are without comorbidities. Criteria 6 MDR-TB is the most commonly found. The cure rate for MDR-TB treatment in this study is 34,4%.

Key words: Multi Drug Resistance-Tuberculosis, Tuberculosis, Lung Infection

(15)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Tuberkulosis (TB) didefenisikan sebagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang pada umumnya menginfeksi paru-paru.

Tuberkulosis menyebar dari orang ke orang melalui udara (WHO, 2018). Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dapat menular melalui percikan dahak. Tuberkulosis bukan merupakan penyakit keturunan dan dapat disembuhkan dengan pengobatan teratur, serta diawasi oleh Pengawas Minum Obat (PMO). Sebagian besar kuman TB menyerang paru-paru tetapi bisa juga menyerang organ tubuh lainnya (Kemenkes, 2017).

Tuberkulosis merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian tersering di dunia. Menurut Global Tuberculosis Report 2017 yang dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan terdapat 10,4 juta insiden kasus TB di seluruh dunia, atau setara dengan 140 kasus per 100.000 populasi. Pada tahun 2016, kasus TB terbanyak didapati di wilayah Asia Tenggara (45%), wilayah Afrika (25%) dan wilayah Pasifik Barat (17%). India, Indonesia, Cina, Filipina dan Pakistan merupakan lima negara dengan kasus TB terbanyak di dunia. Kasus TB paru dilaporkan terdapat sebanyak 391 kasus per 100.000 populasi di Indonesia (WHO, 2017). Berdasarkan hasil survei prevalensi TB paru tahun 2013, untuk kelompok usia 15 tahun ke atas, terdapat 257 kasus tuberkulosis paru smear positif per 100.000 populasi (Kemenkes, 2016). Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, dari tahun 2007 hingga 2013 tidak terdapat perubahan yang berarti pada angka prevalensi penduduk Indonesia yang didiagnosis dengan TB paru oleh tenaga kesehatan yakni, sebesar 0,4%. Lima provinsi dengan prevalensi TB paru tertinggi di Indonesia adalah Jawa Barat (0,7%), Papua (0,6%), DKI Jakarta (0,6%), Gorontalo (0,5%), Banten (0,4%) dan Papua Barat (0,4%), sedangkan di Sumatera Utara prevalensi TB paru sebesar 0,2%

(Riskesdas,2013).

(16)

Data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2015 menunjukkan angka keberhasilan pengobatan TB di Indonesia hanya sebesar 85%. Dari 33 provinsi di Indonesia, terdapat 17 provinsi yang memiliki angka keberhasilan pengobatan TB di bawah 85% (Kemenkes, 2016).

Meningkatnya prevalensi infeksi Mycobacterium tuberculosis yang resisten terhadap obat merupakan sebuah permasalahan medis yang menjadi perhatian masyarakat dunia. Multi-Drug Resistance Tuberculosis (MDR-TB) merupakan TB yang telah kebal terhadap obat baik Rifampicin maupun Isoniazid dengan atau tanpa obat anti tuberkulosis lainnya (PDPI, 2006). Menurut data WHO pada tahun 2012, diperkirakan sekitar 630.000 orang di dunia membawa strain Mycobacterium tuberculosis yang resisten terhadap dua OAT yang saat ini paling efektif melawan tuberkulosis (TB). Extensively drug-resistant TB (XDR- TB) didefenisikan sebagai MDR-TB ditambah dengan resisten terhadap paling sedikit salah satu dari obat golongan Floroquinolone dan obat injeksi lini kedua seperti Amikacin, Capreomycin atau Kanamycin (WHO, 2017).

Pada tahun 2016, WHO mengumpulkan data laporan kasus MDR-TB di berbagai wilayah. Wilayah Asia Tenggara merupakan wilayah dengan kasus MDR-TB terbanyak yaitu sekitar 214.000 kasus pada tahun 2016. India, Cina, Rusia, Indonesia dan Filipina merupakan lima negara dengan kasus MDR-TB terbanyak di dunia. Kasus RR/MDR-TB yang dilaporkan terdapat sekitar 32.000 kasus di Indonesia dan sekitar 68% dari kasus yang dilaporkan merupakan kasus MDR-TB. Data dari WHO juga menunjukkan cakupan pengobatan di Indonesia untuk kasus RR/MDR-TB masih rendah dan jauh dari rekomendasi target yang ditetapkan WHO yaitu ≥ 90% (WHO, 2017).

Berdasarkan data dari Kemenkes RI, sejak tahun 2009 hingga 2015, kasus terduga dan yang terkonfirmasi MDR-TB terus mengalami peningkatan. Sebagai contoh, pada tahun 2015 terdapat 15.380 kasus terduga MDR-TB dan 1.860 kasus yang telah terkonfirmasi MDR-TB. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya, di mana pada tahun 2014 kasus terduga MDR-TB hanya sebesar 9.399 kasus dan 1.752 kasus MDR-TB yang telah terkonfirmasi (Kemenkes, 2016). Peningkatan jumlah kasus MDR-TB ini tidak diikuti dengan angka keberhasilan pengobatan

(17)

yang tinggi. Data dari WHO menunjukkan angka keberhasilan pengobatan RR/MDR-TB di Indonesia hanya sebesar 51% dan berada di bawah target keberhasilan pengobatan WHO yaitu ≥90% (WHO, 2017).

Penelitian yang dilakukan oleh Azwar et al. di RSUD Ulin Banjarmasin dari Desember 2015 sampai Mei 2016, menunjukkan hasil sebanyak 113 orang suspek MDR-TB. Dari 113 orang yang dicurigai MDR-TB, sebanyak 57 orang (50%) menunjukkan hasil negatif terhadap bakteri Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis). Dari 54 orang yang menunjukkan hasil positif terhadap bakteri M. tuberculosis, sebanyak 35 orang menunjukkan hasil M. tuberculosis yang sensitif terhadap Rifampicin serta 19 orang menunjukan hasil M. tuberculosis yang resisten terhadap Rifampicin (Azwar et al., 2017).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sihombing et al., MDR-TB banyak ditemukan pada kelompok umur 25-44 tahun sebesar 41,18%. Prevalensi MDR TB tertinggi terdapat pada orang dengan pendidikan terakhir SLTA (49,41%) dan orang yang bekerja wiraswasta (55%). Data dari penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa laki-laki (69,42%) lebih banyak terserang MDR-TB dibandingkan dengan perempuan (30,58%). (Sihombing et al., 2012).

Penelitian yang dilakukan oleh Manurung et al. di RSUP HAM Medan menunjukkan tipe resistensi MDR merupakan yang terbanyak yaitu sebesar 75,3%

dibandingkan dengan pre-XDR, RR dan Poly-resistence. Berdasarkan kriteria pada MDR, kriteria ke-6 menjadi yang tertinggi yaitu sebesar 20,6%. Prevalensi MDR-TB tanpa komorbid merupakan yang paling banyak (82,1%) dibandingkan dengan MDR-TB disertai HIV atau diabetes mellitus. Angka keberhasilan pengobatan di RSUP HAM tahun 2012-2015 adalah sebesar 48% (Manurung et al., 2018). Berdasarkan paparan di atas, peneliti ingin melakukan penelitian tentang profil pasien MDR-TB di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan tahun 2013-2017.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Bagaimana profil pasien MDR-TB di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan tahun 2013-2017?

(18)

1.3 TUJUAN 1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui profil pasien MDR-TB paru di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui profil pasien MDR-TB paru berdasarkan usia.

b. Untuk mengetahui profil pasien MDR-TB paru berdasarkan jenis kelamin.

c. Untuk mengetahui profil pasien MDR-TB paru berdasarkan pekerjaan.

d. Untuk mengetahui profil pasien MDR-TB paru berdasarkan komorbid.

e. Untuk mengetahui profil pasien MDR-TB paru berdasarkan kriteria MDR.

f. Untuk mengetahui profil pasien MDR-TB paru berdasarkan hasil pengobatan.

1.4 MANFAAT a. Bidang Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat dipakai sebagai data dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai profil pasien MDR-TB paru.

b. Bidang Pendidikan

Penelitian ini diharapkan sebagai sarana untuk melatih berpikir secara logis dan sistematis serta mampu menyelenggarakan suatu penelitian berdasarkan metode yang baik dan benar.

c. Bidang Pelayanan Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang benar bagi masyarakat tentang profil pasien MDR-TB paru.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PARU-PARU

2.1.1 Anatomi Paru

Paru adalah organ penting dari respirasi. Secara bentuk, paru terlihat mirip dengan setengah kerucut. Berat paru kanan orang dewasa normal berkisar sekitar 625 gram dan paru kiri sekitar 565 gram. Tetapi, biasanya berat kedua paru masing-masing orang dewasa bisa bervariasi bergantung dengan jumlah darah atau caran serosa yang terkandung dalam paru-paru ketika ditimbang. Biasanya paru seorang pria lebih berat dibanding dengan wanita (Standring, 2015).

Gambar 2.1. Anatomi Paru (Netter, 2013).

Paru kanan dibagi menjadi 3 lobus yakni lobus superior, lobus tengah dan lobus inferior, sedangkan paru kiri hanya dibagi menjadi 2 lobus yakni lobus superior dan lobus inferior. Lobus inferior pada paru kanan dipisahkan dari lobus superior dan lobus tengah oleh fisura oblikus. Fisura horizontalis memisahkan

(20)

lobus superior dengan lobus tengah. Berbeda halnya dengan paru kiri yang hanya terdiri dari 2 lobus, di mana hanya terdapat fisura oblikus yang memisahkan lobus superior dengan lobus inferior (Standring, 2015).

Paru memiliki bentuk kerucut dengan apeks tumpul setentang tulang rusuk pertama, permukaan dasar berbentuk cekung yang berbatasan dengan diafragma, permukaan costovertebra yang mengikuti bentuk dinding toraks, serta permukaan mediastinum yang melekat dengan perikardium (Ellis, 2013). Posisi diafragma di bagian kanan paru lebih tinggi dibandingkan dengan di bagian kiri untuk mengakomodasi hati, sehingga secara vertical paru kanan lebih pendek (sekitar 2,5 cm) daripada paru kiri (Standring, 2015).

2.1.2 Histologi Paru

Histologi bronkus intrapulmonal mirip dengan histologi trakea dan bronkus ekstrapulmonal, kecuali bahwa di bronkus intrapulmonal, cincin tulang rawan trakea bentuk-C diganti dengan lempeng tulang rawan hialin. Epitel pada bronkus intrapulmonal dilapisi oleh epitel bertinkgat semu silindris bersilia dengan sel goblet. Dinding bronkus intrapulmonal terdiri dari lamina propria yang tipis, lapisan tipis otot polos, submukosa dengan kelenjar bronkialis, lempeng tulang rawan hialin dan adventisia.

Lumen pada bronkiolus dilapisi oleh epitel yang sama dengan bronkus.

Lumen menunjukan lipatan mukosa akibat kontraksi lapisan otot polos. Kelenjar bronkialis dan lempeng tulang rawan sudah tidak ada dan bronkiolus dikelilingi adventisia. Bronkiolus terminalis menunjukkan lipatan mukosa dan dilapisi oleh epitel silindris bersilia tanpa goblet. Lapisan tipis lamina propria, otot polos dan adventisia mengelilingi bronkiolus terminalis.

Bronkiolus respiratorius dengan kantong-kantong alveoli berhubungan langsung dengan duktus alveolaris dan alveoli. Epitel bronkiolus respiratorius adalah silindris rendah atau kuboid dan mungkin bersilia di bagian proksimal saluran. Setiap bronkiolus respiratorius bercabang menjadi beberapa duktus alveolaris. Dinding duktus alveolaris dilapisi oleh alveoli. Kelompok alveoli yang

(21)

mengelilingi dan bermuara ke duktus alveolaris disebut sakus alveolaris (Eroschenko, 2015).

2.1.3 Fisiologi Paru

Proses pertukaran gas di dalam tubuh manusia disebut dengan proses respirasi. Proses respirasi dimulai dengan inhalasi dan diakhiri dengan ekshalasi.

Beberapa saat sebelum inhalasi terjadi, tekanan udara di paru sama dengan tekanan udara di atmosfer yaitu sekitar 760 mmHg atau 1 atm. Udara bisa masuk ke dalam paru hanya ketika tekanan udara di alveolus lebih rendah dari tekanan udara di atmosfer. Hal ini dapat terjadi dengan adanya peningkatan volume di paru. Volume paru meningkat ketika otot diafragma berkontraksi, di mana otot tersebut akan menjadi datar dan menciptakan lebih banyak ruangan. Ketika volume paru meningkat dengan cara tersebut, tekanan di paru akan terus menurun dari 760 mmHg menjadi 758 mmHg. Akibatnya, udara yang pada dasarnya selalu berpindah dari tekanan tinggi ke rendah akan masuk ke paru.

Proses selanjutnya yaitu ekshalasi terjadi melalui prinsip yang sama dengan inhalasi. Ketika otot diafragma berelaksasi, otot tersebut akan kembali ke posisi semula yaitu berbentuk kubah. Hal ini menyebabkan volume di paru menjadi menurun, sementara mengakibatkan tekanan di paru meningkat menjadi 762 mmHg. Akibatnya udara akan mengalir keluar menuju ke tekanan atmosfer yang lebih rendah (760 mmHg). Hubungan volume dan tekanan dapat dijelaskan melalui Hukum Boyle (Tortora et al., 2016).

2.2 TUBERKULOSIS 2.2.1 Definisi

Tuberkulosis atau yang lazim disingkat dengan TB didefenisikan oleh WHO sebagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri M. tuberculosis yang pada umumnya menginfeksi paru-paru. Tuberkulosis menyebar dari orang ke orang melalui udara (WHO, 2017). Menurut American Lung Association, TB merupakan penyakit infeksius yang biasanya menginfeksi paru, tetapi bisa juga menginfeksi hampir seluruh bagian di tubuh manusia. Biasanya seseorang tidaklah mudah

(22)

terinfeksi dengan TB kecuali orang tersebut terus-terusan terpapar dengan seseorang dengan penyakit TB untuk periode yang cukup panjang (ALA, 2016).

2.2.2 Klasifikasi I. Berdasarkan defenisi

Definisi kasus TB terdiri dari dua, yaitu (Menteri Kesehatan RI, 2016):

1. Pasien TB yang terkonfirmasi secara bakteriologis

Adalah pasien TB yang terbukti positif pada hasil pemeriksaan contoh uji biologinya (sputum dan jaringan) melalui pemeriksaan mikroskopis langsung, tes cepat molekuler (TCM) TB, atau biakan. Kelompok pasien yang termasuk dalam kategori ini adalah:

a. Pasien TB paru BTA positif.

b. Pasien TB paru hasil biakan M. tuberculosis positif.

c. Pasien TB paru hasil tes cepat M. tuberculosis positif

d. Pasien TB ekstraparu terkonfirmasi secara bakteriologis, baik dengan BTA, biakan maupun tes cepat molekuler TB.

e. TB anak yang terdiagnosis dengan pemeriksaan bakteriologis.

2. Pasien TB yang terdiagnosis secara klinis

Adalah pasien yang tidak memenuhi kriteria terdiagnosis secara bakteriologis tetapi didiagnosis sebagai pasien TB aktif oleh dokter, dan diputuskan untuk diberikan pengobatan TB. Kelompok pasien yang termasuk dalam kategori ini adalah:

a. Pasien TB paru BTA negatif dengan hasil pemeriksaan foto toraks mendukung TB.

b. Pasien TB paru BTA negatif dengan tidak ada perbaikan klinis setelah diberikan antibiotika non OAT, dan mempunyai faktor risiko TB.

c. Pasien TB ekstraparu yang terdiagnosis secara klinis maupun laboratoris dan histopatologis tanpa konfirmasi bakteriologis.

d. TB anak yang terdiagnosis dengan sistim skoring.

Pasien TB yang didiagnosis secara klinis dan kemudian dikonfirmasi secara bakteriologis positif (baik sebelum maupun setelah memulai

(23)

pengobatan) harus diklasifikasi ulang sebagai pasien TB terkonfirmasi bakteriologis (Menteri Kesehatan RI, 2016).

II. Berdasarkan lokasi anatomi

Klasifikasi berdasarkan lokasi anatomi dari penyakit (Menteri Kesehatan RI, 2016):

1. Tuberkulosis paru :

Adalah TB yang berlokasi pada parenkim (jaringan) paru. Milier TB dianggap sebagai TB paru karena adanya lesi pada jaringan paru. Pasien yang menderita TB paru dan sekaligus juga menderita TB ekstra paru, diklasifikasikan sebagai pasien TB paru.

2. Tuberkulosis ekstraparu:

Adalah TB yang terjadi pada organ selain paru, misalnya: pleura, kelenjar limfe, abdomen, saluran kencing, kulit, sendi, selaput otak dan tulang.

Limfadenitis TB dirongga dada (hilus dan atau mediastinum) atau efusi pleura tanpa terdapat gambaran radiologis yang mendukung TB pada paru, dinyatakan sebagai TB ekstra paru. Diagnosis TB ekstra paru ditegakkan ketika terdapat bukti secara bakteriologis (ditemukannya M. tuberculosis) atau klinis. Apabila kuman TB menginfeksi beberapa organ, maka penamaan disesuaikan dengan organ yang mengalami infeksi terberat.

III. Berdasarkan hasil uji kepekaan obat

Pengelompokan pasien disini berdasarkan hasil uji kepekaan contoh uji M.

tuberculosis terhadap OAT dan dapat berupa (Menteri Kesehatan RI, 2016):

1. Mono-resistance (MR-TB): Mycobacterium tuberculosis resisten terhadap salah satu jenis OAT lini pertama saja.

2. Poli-resistance (PR-TB): Mycobacterium tuberculosis resisten terhadap lebih dari satu jenis OAT lini pertama selain Isoniazid (H) dan Rifampicin (R) secara bersamaan.

3. Multi-drug resistance (MDR-TB): Mycobacterium tuberculosis resisten terhadap Isoniazid (H) dan Rifampicin (R) secara bersamaan, dengan atau tanpa diikuti resitan OAT lini pertama lainnya.

(24)

4. Extensive-drug resistance (XDR-TB): MDR-TB yang sekaligus juga resisten terhadap salah satu OAT golongan Fluorokuinolon dan minimal salah satu dari OAT lini kedua jenis suntikan (Kanamycin, Capreomycin dan Amikacin).

5. Resistance-Rifampicin (RR-TB): Mycobacterium tuberculosis resisten terhadap Rifampicin dengan atau tanpa resistensi terhadap OAT lain yang terdeteksi menggunakan metode genotip (tes cepat molekuler) atau metode fenotip (konvensional).

IV. Berdasarkan status HIV (Menteri Kesehatan RI, 2016)

1. Pasien TB dengan HIV positif (pasien ko-infeksi TB/HIV):

Adalah pasien TB dengan:

a) Hasil tes HIV positif sebelumnya atau sedang mendapatkan ART, atau b) Hasil tes HIV positif pada saat diagnosis TB.

2. Pasien TB dengan HIV negatif:

Adalah pasien TB dengan:

a) Hasil tes HIV negatif sebelumnya, atau b) Hasil tes HIV negatif pada saat diagnosis TB.

Catatan:

Apabila pada pemeriksaan selanjutnya ternyata hasil tes HIV menjadi positif, pasien harus disesuaikan kembali klasifikasinya sebagai pasien TB dengan HIV positif.

3. Pasien TB dengan status HIV tidak diketahui:

Adalah pasien TB tanpa ada bukti pendukung hasil tes HIV saat diagnosis TB ditetapkan.

Catatan:

Apabila pada pemeriksaan selanjutnya dapat diperoleh hasil tes HIV pasien, pasien harus disesuaikan kembali klasifikasinya berdasarkan hasil tes HIV terakhir.

(25)

2.3 MULTI DRUG RESISTANCE-TB 2.3.1 Definisi

Multi-Drug Resistance Tuberculosis (MDR-TB) merupakan tuberkulosis yang telah kebal terhadap pengobatan baik Rifampicin maupun Isoniazid dengan atau tanpa obat anti tuberkulosis lainnya (PDPI, 2006). Pengolongan seperti ini sangatlah penting mengingat hasil akhir dari pengobatan pada kelompok pasien ini jauh lebih buruk dibandingkan dengan kelompok pasien yang tidak resisten dengan OAT apapun. Multi-Drug Resistance Tuberculosis dengan tambahan resisten terhadap obat golongan Floroquinolone (seperti Ofloxacin atau Moxiflocacin) dan salah satu dari tiga obat injeksi lini kedua (Amikacin, Capreomycin, Kanamycin) digolongkan sebagai Extensively Drug Resistant Tuberculosis (Sullivan et al., 2013).

Pre-Extensively Drug Resistance Tuberculosis (Pre-XDR-TB) didefenisikan sebagai tuberkulosis dengan resisten terhadap obat Isoniazid dan Rifampicin serta salah satu dari golongan Floroquinolone atau obat injeksi lini kedua lainnya (Banerjee et al, 2008). Rifampicin Resistance Tuberculosis (RR- TB) didefenisikan sebagai tuberkulosis dengan resisten terhadap rifampicin, dengan atau tanpa resisten terhadap OAT lainnya (WHO, 2017).

2.3.2 Insidensi dan Epidemiologi

Indonesia merupakan salah satu dari 27 negara dengan insidensi MDR-TB tertinggi di dunia, dengan estimasi 6.800 kasus baru setiap tahunnya. Kasus MDR-TB ditemukan sebanyak 2,8% pada kasus baru TB dan sebanyak 16% pada kasus TB yang telah diberi pengobatan. Lebih dari 55.000 pasien TB diperiksa untuk melihat apakah terdapat resistensi obat dan sebanyak 6.000 pasien TB resisten obat (MDR, Pre-XDR dan XDR) telah diberi pengobatan sejak tahun 2009.

Sepanjang tahun 2016 (Januari sampai November), sebanyak 2.293 pasien didiagnosa dengan MDR-TB. Tingkat keberhasilan pengobatan untuk MDR-TB yang terdaftar per tahun 2013 di Indonesia adalah sebesar 51% (WHO, 2016).

(26)

2.3.3 Faktor Risiko

Faktor risiko seseorang untuk mengalami resistensi obat dalam pengobatan TB dibagi menjadi 4 faktor yaitu (Syahrezki, 2015):

a. Faktor dokter

Faktor dokter dalam konteks ini meliputi bagaimana cara seorang dokter memberikan edukasi kepada pasien, baik itu tentang penyakit TB, pengobatan, dan kemungkinan terjadinya resistensi obat.

b. Faktor pasien

Faktor pasien berkaitan dengan dukungan dari pihak keluarga, ada tidaknya pengawas minum obat (PMO), jarak dari tempat tinggal menuju ke pelayanan kesehatan serta tingkat pengetahuan pasien terhadap TB.

c. Faktor obat

Faktor obat berkaitan dengan pengetahuan yang dimiliki pasien tentang jenis obat yang digunakan, dosis OAT, pemakaian serta efek samping dari OAT.

d. Faktor pelayanan kesehatan

Faktor pelayanan kesehatan berkaitan dengan program kesehatan yang disajikan oleh tempat pelayanan kesehatan serta ketersediaan obat.

Faktor risiko lain terjadinya MDR-TB adalah paparan rokok dan alkohol, jenis kelamin, kelompok umur tertentu, adanya komorbid seperti diabetes dan infeksi HIV, pasien TB rujukan dari daerah lain, sosial ekonomi serta dosis obat yang tidak sesuai (Balaji et al., 2010; Sarwani et al., 2012). Penelitian yang dilakukan oleh Munir et al., menunjukkan ada beberapa faktor yang menjadi penghambat keberhasilan dalam pengobatan TB. Beberapa diantaranya adalah ketidaklengkapan pengobatan yang meliputi ketidakteraturan dan ketidakpatuhan pasien dalam meminum obat, waktu pengobatan yang panjang, cara pemakaian OAT yang tidak benar, rendahnya kualitas OAT, dan terputusnya ketersediaan OAT. Pengobatan yang tidak adekuat akan berdampak terhadap risiko terjadinya resistensi obat (Munir et al., 2010).

(27)

2.3.4 Etiologi

Ada beberapa penyebab terjadinya resitensi terhadap obat tuberkulosis, yaitu (PDPI, 2006):

a. Pemakaian obat tunggal dalam pengobatan tuberkulosis.

b. Penggunaan paduan obat yang tidak adekuat, baik karena jenis obatnya yang tidak tepat misalnya hanya memberikan INH dan Ethambutol pada awal pengobatan, maupun karena di lingkungan tersebut telah terdapat resistensi yang tinggi terhadap obat yang digunakan, misalnya memberikan Rifampicin dan INH saja pada daerah dengan resistensi terhadap kedua obat tersebut sudah cukup tinggi.

c. Penggunaan obat yang tidak teratur, misalnya hanya dimakan dua atau tiga minggu kemudian berhenti, setelah dua bulan berhenti kemudian berpindah dokter dan kembali mendapatkan pengobatan selama dua atau tiga bulan kemudian berhenti lagi, demikian seterusnya.

d. Fenomena Addition Syndrome , yaitu suatu obat ditambahkan dalam suatu paduan pengobatan yang tidak berhasil. Bila kegagalan itu terjadi karena kuman TB telah resisten pada paduan yang pertama, maka penambahan atau addition satu macam obat hanya akan menambah panjangnya daftar obat yang resisten.

e. Penggunaan obat kombinasi yang pencampurannya tidak dilakukan secara baik, sehingga mengganggu bioavailabilitas obat.

f. Penyediaan obat yang tidak reguler, kadang obat datang ke suatu daerah kadang terhenti pengirimannya sampai berbulan-bulan.

2.3.5 Patofisiologi 2.3.5.1 Isoniazid

Isoniazid merupakan salah satu obat utama dalam pengobatan TB.

Isoniazid memiliki struktur sederhana berupa cincin piridin dan grup hidrazid.

Mekanisme kerja dari Isoniazid adalah menghambat sintesis dinding sel lemak melalui jalur yang tergantung dengan oksigen seperti reaksi katalase-peroksidase.

(28)

Kekebalan terhadap Isoniazid merupakan proses yang kompleks. Mutasi dari beberapa gen, termasuk katG, ahpC, inhA, kasA dan ndh menjadi faktor yang memicu terjadinya resistensi terhadap Isoniazid. Isoniazid masuk ke dalam sel M.

tuberculosis dengan cara difusi pasif. Isoniazid merupakan pro-drug yang memerlukan aktivasi dari enzim katalase-peroksidase (katG) yang berada di dalam sel M. tuberculosis agar bisa berubah menjadi obat aktif. Isoniazid yang telah teraktivasi bekerja dengan cara menganggu sintesis asam mycolic essensial dengan menghambat NADH-dependent enoyl-ACP reductase, di mana proses ini dikodekan oleh inhA. Dua mekanisme molekuler telah terbukti menjadi penyebab resisten terhadap Isoniazid yaitu mutasi pada katG dan inhA. Mutasi pada kodon 315 merupakan mutasi yang paling sering ditemukan dan yang paling sering muncul adalah AGC (Serin) menjadi ACC (Treonin) (Silva et al., 2011; Siregar, 2015).

2.3.5.2 Rifampicin

Rifampicin merupakan antibiotic lipofilik yang memiliki spektrum luas.

Rifampicin hampir selalu digunakan dalam pengobatan awal TB, kecuali bila pasien telah terbukti resisten dengan Rifampicin (Somasundaram et al., 2014).

Target Rifampicin dalam pengobatan TB adalah sub unit gen β-RNA polimerase di mana obat ini bekerja dengan mengikat dan menginhibisi polimerase RNA yang tergantung DNA. Sebagai antimikroba yang efisien, Rifampicin bersama dengan Isoniazid dijadikan rejimen dasar dalam pengobatan jangka pendek untuk TB (Silva et al., 2011).

Pada kasus di mana terjadi resistensi terhadap Rifampicin, ditemukan adanya mutasi gen rpoB yang mengkode sub unit gen β-RNA polymerase. Mutasi yang terjadi pada gen rpoB akan mengubah struktur dari sub unit beta sehingga Rifampicin kehilangan fungsinya. Penelitian menunjukkan bahwa 96% strain yang resisten Rifampicin memiliki mutasi di inti gen 81-bp. Inti gen yang mencakupi kodon 507-533 ini, dikenal juga sebagai Rifampicin Resistance Determining Region (RRDR) (Silva et al., 2011; Rinanda, 2015).

(29)

2.3.5.3 Ethambutol

Ethambutol, 2,2’-(1,2-ethanediyldiimino)bis-1-butanol, pertama sekali digunakan pada tahun 1966 untuk pengobatan TB bersamaan dengan Isoniazid, Rifampicin dan Pyrazinamide. Ethambutol merupakan antibiotic yang bekerja pada dinding sel bakteri yaitu dengan cara menganggu enzim yang merupakan bagian dari sintesis arabinogalaktan (Schubert, 2017).

Resisteni terhadap Etambutol biasanya berkaitan dengan adanya mutasi pada gen embB. Gen tersebut mengkodekan enzim arabinosiltransferase yang terlibat dalam reaksi polymerase arabinogalaktan. Beberapa studi menunjukkan bahwa sekitar 50% kasus resisten Ethambutol menunjukkan adanya mutasi pada gen embB yang melibatkan pergantian posisi asam amino 306 (Silva et al., 2011).

Hal tersebut menjadi dasar penggunaan kodon 306 sebagai marker resistensi Etambutol (Park et al., 2012).

2.3.5.4 Pyrazinamide

Pyrazinamide merupakan obat anti tuberculosis lini pertama bersama dengan Isoniazid dan Rifampicin. Obat ini memiliki peran penting dalam pengobatan karena mampu membunuh bakteri M. tuberculosis dalam kondisi pH asam (Santos, 2012). Obat ini ditemukan pada tahun 1952 dan dikenalkan sebagai kemoterapi Tb pada awal tahun 1950. Penggunaan obat ini dapat mengurangi lama pengobatan TB dari 9 bulan menjadi 6 bulan. Pyrazinamide merupakan pro- drug di mana obat ini memiliki efek apabila dikonversi menjadi bentuk aktifnya yaitu asam pyrazinoat. Proses ini biasanya dilakukan oleh enzim pyrazinamidase (PZase) (Njire et al., 2016). Pyrazinamidase dikodekan pada bakteri M.

tuberculosis oleh gen pncA. Mutasi pncA merupakan mekanisme utama terjadinya resistensi Pyrazinamide pada bakteri M. tuberculosis (Silva et al., 2011). Mutasi pada gen tersebut mengakibatkan Pyrazinamide kehilangan aktivitas pyrzinamidase yang dibutuhkan untuk mengubah Pyrazinamide menjadi asam pyrazinoat. Mutasi yang terjadi pada gen pncA bisa berupa mutasi titik, insersi dan delesi nukleotida serta mutasi terminasi (Rinanda, 2015).

(30)

2.3.5.5 Streptomycin

Streptomycin merupakan antibiotika golongan aminoglikosida dan telah dibuktikan efektif terhadap strain MDR pada bakteri M. tuberculosis. Obat ini merupakan hasil isolasi dari Streptomyces Griseus. Streptomycin bekerja dengan cara menghambat sintesis protein dengan menimbulkan gangguan pada ribosom (Moure et al., 2013). Pada M.Tuberculosis, resistensi terhadap Streptomycin terjadi karena adanya mutasi terhadap gen rrs atau rpsL (Silva et al., 2011).

Mutasi terhadap gen rpsL ditemukan lebih sering pada kasus resistensi Streptomycin dibandingkan dengan mutasi terhadap gen rrs. Pada kasus resistensi Streptomycin, terdapat dua tipe mutasi gen rpsL yang tersering yaitu K43R dan K88R. Mutasi K43R merupakan mutasi yang terutama terjadi dalam kasus resistensi Streptomycin dengan frekuensi berkisar antara 24-64,1%. Mutasi K88R biasanya lebih jarang terjadi dibandingkan dengan mutasi K43R (Jagielski et al., 2014).

2.3.6 Gejala Klinis

Gejala klinis pada penyakit tuberkulosis paru sangat bervariasi. Gejala klinis TB paru digolongkan menjadi 2 yaitu gejala respiratorik dan gejala sistemik. Gejala respiratorik berupa batuk, batuk darah, sesak nafas, dan nyeri dada. Gejala respiratorik yang paling utama adalah batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih. (Menteri Kesehatan RI, 2016). Dalam proses perjalanan penyakit, apabila bronkus belum terlibat maka kemungkinan pasien tidak akan mengalami gejala batuk. Batuk akan terjadi pertama sekali ketika terdapat iritasi pada bronkus dan selanjutnya batuk diperlukan sebagai mekanisme untuk mengeluarkan dahak. Sedangkan gejala sistemik pada penderita TB paru dapat berupa demam, malaise, keringat malam, anoreksia dan penurunan berat badan (PDPI, 2006).

2.3.7 Diagnosis

Diagnosis MDR-TB didasarkan pada 9 kriteria yaitu :

• Kriteria 1: Pasien TB gagal pengobatan kategori 2

(31)

• Kriteria 2: Pasien TB pengobatan kategori 2 yang tidak konversi setelah 3 bulan pengobatan.

• Kriteria 3: Pasien TB yang mempunyai riwayat pengobatan TB yang tidak standar serta menggunakan kuinolon dan obat injeksi lini kedua paling sedikit selama 1 bulan.

• Kriteria 4: Pasien TB yang gagal pengobatan kategori 1.

• Kriteria 5: Pasien TB pengobatan kategori 1 yang tidak konversi setelah 2 bulan pengobatan.

• Kriteria 6: Pasien TB kasus kambuh dengan pengobatan OAT kategori 1 dan kategori 2.

• Kriteria 7: Pasien TB yang kembali setelah lalai pada pengobatan kategori 1 dan atau kategori 2.

• Kriteria 8: Suspek TB dengan keluhan, yang tinggal dekat dengan pasien MDR-TB yang telah terkonfirmasi, termasuk warga binaan yang ada di Lapas/Rutan, hunian padat seperti asrama, barak, buruh pabrik.

• Kriteria 9: Pasien ko infeksi TB-HIV yang tidak respons secara bakteriologis maupun klinis terhadap pemberian OAT.

Pasien yang memenuhi kriteria suspek harus dirujuk ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan biakan dan uji sensitivitas obat. Diagnosis MDR-TB boleh ditegakkan apabila telah dikonfirmasi dengan uji sensitivitas obat. Apabila dari hasil uji sensitivitas ditemukan strain M. tuberculosis yang resisten minimal terhadap Isoniazid dan Rifampicin maka dapat ditegakkan langsung diagnosis MDR-TB (Menteri Kesehatan RI, 2016).

(32)

2.3.8 Penatalaksanaan Pembagian kelompok OAT

Tabel 2.1. Pembagian Kelompok Obat (Menteri Kesehatan RI, 2016).

Grup Golongan Jenis Obat

A Floroquinolone Levofloxacin (Lfx)

Moxifloxacin (Mfx) Gatifloxacin (Gfx) B OAT suntik lini

kedua

Kanamycin (Km) Amikacin (Am) Capreomycin (Cm)

Streptomycin (S)

C OAT oral lini kedua Ethionamide (Eto)/ Prothionamide (Pto) Cycloserine (Cs)/ Terizidone (Trd)

Clofazimine (Cfz) Linezolid (Lzd)

D D1 OAT lini

pertama

Pirazinamid (Z) Etambutol (E) Isoniazid (H) dosis tinggi

D2 OAT baru Bedaquiline (Bdq)

Delamanid (Dlm) Pretonamid (PA-824)

D3 OAT

tambahan

Asam para aminosalisilat (PAS)

Imipenemsilastatin (Ipm) Meropenem (Mpm) Amoksilin clavulanat (Amx-

Clv) Thioasetazon (T)

(33)

Pengobatan TB resisten obat

Tabel 2.2. Paduan Pengobatan (Menteri Kesehatan RI, 2016).

Paduan Obat Obat yang digunakan

Standar Konvesional 8 Km-Lfx-Eto-Cs-Z-(E)-(H)/ 12 Lfx-Eto- Cs-Z-(E)-(H)

Jangka Pendek 4-6 Km-Mfx-Pto-H-Cfz-E-Z/ 5 Mfx-Cfz-E- Z

TB Pre-XDR Resisten Kanamycin

8 Cm-Lfx-Eto-Cs-Z-(E)-(H)/ 12 Lfx-Eto- Cs-Z-(E)-(H)

Resisten Fluorokuinolon

8 Km-Mfx-Eto-Cs-PAS-Z-(E)-(H)/ 12 Mfx- Eto-Cs-PAS-Z-(E)-(H)

TB-XDR Resisten

Kanamycin dan Fluorokuinnolon

12 Mfx-Eto-Cs-PAS-Z-(E)-(H)/ 12 Mfx- Eto-Cs-PAS-Z-(E)-(H)

TB-XDR (Alternatif)

Resisten semua obat injeksi lini

dua dan kuinolon cadangan telah

dipakai semuanya

12 Eto-Cs-PAS-Z-(E)-Bdq-Lnz-Cfz/ 12 Eto- Cs-PAS-Z-(E)-Lnz-Cfz

TB Pre-XDR (Alternatif)

Resistan kuinolon

8 Km-Eto-CS-PAS-Z-(E)-Bdq/ 12 Eto-Cs- PAS-Z-(E)

Resisten obat injeksi lini

kedua

8 Lfx-Eto-Cs-PAS-Z-(E)-Bdq/ 12 Lfx-Eto- CS-PAS-Z-(E)

Alergi atau efek samping berat terhadap 2 atau lebih oral OAT lini

kedua

8 Km-LFx-(Eto/Cs/PAS)-Z-(E)-Bdq- (Lnz/Cfz)/ 12 Lfx-(Eto/Cs/PAS)-Z-(E)-

(Lnz/Cfz)

(34)

Lama dan cara pemberian pengobatan TB Resistan Obat standar konvensional (Menteri Kesehatan RI, 2016):

1. Lama pengobatan pasien TB resistan obat adalah:

a. Pasien baru/belum pernah diobati dengan pengobatan TB RR/ RO:

 Lama pengobatan adalah 18 bulan setelah konversi biakan.

 Lama pengobatan paling sedikit 20 bulan.

b. Pasien sudah pernah diobati dengan pengobatan TB RR/ RO atau pasien TB XDR:

 Lama pengobatan adalah 22 bulan setelah konversi biakan.

 Lama pengobatan paling sedikit 24 bulan.

2. Pengobatan dibagi menjadi dua tahap, yaitu:

a. Tahap awal adalah tahap pengobatan dengan menggunakan obat oral dan obat suntikan Kanamycin atau Capreomycin.

Pasien baru:

1. Lama tahap awal adalah 4 bulan setelah terjadi konversi biakan.

2. Diberikan sekurang-kurangnya selama 8 bulan.

Pasien sudah pernah diobati atau pasien TB XDR:

1. Lama tahap awal adalah 10 bulan setelah terjadi konversi biakan.

2. Diberikan sekurang-kurangnya selama 12 bulan.

b. Tahap lanjutan adalah tahap pengobatan setelah selesai pengobatan tahap awal dan pemberian suntikan dihentikan.

 Pasien Baru: Lama tahap lanjutan adalah 12-14 bulan.

 Pasien pernah diobati TB RR/ ROatau pasien TB-XDR: Lama tahap lanjutan adalah 12 bulan.

(35)

Pembagian dosis berdasarkan berat badan

Tabel 2.3. Pembagian Dosis OAT (Menteri Kesehatan RI, 2016).

OAT Dosis

Harian

Berat Badan (BB)> 30 kg 30-35

kg

36-45 kg

46-55 kg

56-70 kg

>70 kg

Kanamycin 15-20 mg/kg/hari

500 mg 625-750 mg

875- 1000

mg

1000 mg

1000 mg

Capreomycin 15-20 mg/kg/hari

500 mg 600-750 mg

750-800 mg

1000 mg

1000 mg Pirazinamid 20-30

mg/kg/hari

800 mg 1000 mg

1200 mg

1600 mg

2000 mg Etambutol 15-25

mg/kg/hari

600 mg 800 mg 1000 mg

1200 mg

1200 mg Isoniasid 4-6

mg/kg/hari

150 mg 200 mg 300 mg 300 mg 300 mg

Levofloksasin (dosis standar)

750 mg/hari

750 mg 750 mg 750 mg 750- 1000

mg

1000 mg

Levofloksasin (dosis tinggi)

1000 mg/hari

1000 mg

1000 mg

1000 mg

1000 mg

1000 mg Moksifloksasin 400 mg/

hari

400 mg 400 mg 400 mg 400 mg 400 mg

Sikloserin 500-750 mg/hari

500 mg 500 mg 750 mg 750 mg 1000 mg Etionamid 500-750

mg/hari

500 mg 500 mg 750 mg 750 mg 1000 mg

Asam PAS 8 g/ hari 8 g 8 g 8 g 8 g 8 g

Sodium PAS 8 g/hari 8 g 8 g 8 g 8 g 8 g

Bedaquilin 400 mg/hari

400 mg 400 mg 400 mg 400 mg 400 mg

(36)

Linezolid 600 mg/hari

600 mg 600 mg 600 mg 600 mg 600 mg

Klofazimin 200-300 mg/hari

200 mg 200 mg 200 mg 300 mg 300 mg

Efek samping yang mungkin timbul dari pengobatan MDR-TB

Tabel 2.4. Efek Samping OAT (Menteri Kesehatan RI, 2016).

Nama Obat Efek Samping yang dapat terjadi

Kanamycin (Km) Ganguan N.VIII (gangguan pendengaran dan keseimbangan), neuropati perifer dan toksisitas ginjal.

Amykacin (Am) Kelemahan N.VIII dan toksisitas ginjal.

Capreomycin (Cm) Berepengaruh pada N.VIII dan toksisitas ginjal.

Levofloxacin (Lfx) Mual, kembung, pusing, insomnia, sakit kepala, ruam, pruritus dan fotosensitivitas.

Ethionamide (Eto) Mual, muntah, kehilangan nafsu makan, nyeri perut dan hepatotoksik.

Cycloserine (Cs) Gangguan neurologis dan psikiatris mulai dari sakit kepala, tremor, gangguan memori dan gangguan psikosis.

Para-Amino Salicylic Acid (PAS)

Mual, muntah, diare, nyeri epigastrium, reaksi hipersensitivitas, hepatitis, hipotiroidisme, atau anemia hemolitik.

Pyrazinamide Anemia sideroblastik, fotosensitif dermatitis dan gangguan hati berat.

Ethambutol .

Gangguan fungsi mata yang tergantung besarnya dosis, kelainan hati dan arthralgia.

Menurut penelitian Akshata et al., pengobatan MDR-TB merupakan sebuah tantangan bagi pasien. Ada beberapa hal yang bisa menjadi hambatan utama dalam pengobatan MDR-TB seperti faktor dalam pengobatan (durasi yang

(37)

panjang dan efek obat yang tidak diinginkan), faktor pasien (migrasi, komorbid, dan penyakit ekstensif), serta faktor dari program pengobatan (kurangnya tenaga kesehatan dan fasilitas lab yang kurang memadai). Diagnosis dini pada MDR-TB, pengawasan ketat terhadap pasien, pengobatan yang adekuat terhadap komorbid, dan pengobatan dini meningkatkan rasio keberhasilan dalam pengobatan (Akshata et al., 2016).

2.3.9 Evaluasi Pengobatan

Evaluasi akhir pada pasien MDR-TB (Menteri Kesehatan RI, 2016):

1. Sembuh:

Pasien dikatakan sembuh apabila pasien telah menyelesaikan paduan pengobatan TB-RO tanpa adanya bukti kegagalan dan hasil biakan telah menunjukkan negatif selama 3 kali berturut-turut dengan jarak pemeriksaan minimal 30 hari pada tahap lanjutan.

2. Pengobatan Lengkap

Pasien telah menyelesaikan paduan pengobatan TB-RO tetapi tidak dinyatakan sembuh atau gagal.

3. Meninggal

Pasien meninggal selama masa pengobatan karena sebab apapun.

4. Gagal

Pengobatan dihentikan atau terdapat perubahan paduan obat (≥2 obat) akibat kondisi berikut:

a. Tidak terjadi konversi di akhir bulan ke-8.

b. Terjadi reversi pada tahap lanjutan.

c. Terbukti adanya resisten tambahan terhadap obat golongan kuinolon atau obat injeksi lini kedua.

d. Terjadi efek samping obat yang berat.

5. Lost to follow-up

Pengobatan pasien teputus selama 2 bulan berturut-turut atau lebih.

6. Tidak Dievaluasi

(38)

Pasien yang tidak diketahui atau tidak mempunyai hasil akhir pengobatan TB- RO.

Evaluasi lanjutan pada pasien MDR-TB tetap dilakukan pasca pengobatan.

Evaluasi tersebut meliputi pemeriksaan fisik, pemeriksaan dahak, biakan dan foto toraks. Pemeriksaan dilakukan setiap 6 bulan sekali selama 2 tahun kecuali terdapat gejala dan tanda-tanda klinis TB (Menteri Kesehatan RI, 2016).

(39)

2.4 Kerangka Teori

Berdasarkan judul penelitian di atas maka kerangka teori dalam penelitian ini adalah:

Gambar 2.2. Kerangka Teori Penelitian.

Pengobatan Isoniazid

Rifampicin Pyrazinamide Etambutol

Streptomycin Sosiodemografi:

1. Usia

2. Jenis Kelamin 3. Pekerjaan

Keterangan:

Menyebabkan Resisten terhadap (Wajib)

Resisten terhadap

Faktor Risiko:

1. Komorbid

a. Tanpa Komorbid b. Dengan DM c. Dengan HIV d. Penyakit Lainnya 2. Faktor Dokter

3. Faktor Obat 4. Faktor Pasien 5. Faktor Pelayanan

Kesehatan

Multi Drug Resistance Tuberculosis

Sembuh Pengobatan Lengkap

Meninggal Gagal Pengobatan

Loss to Follow-up

Tidak Dievaluasi

(40)

2.5 Kerangka Konsep

Berdasarkan judul penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:

Gambar 2.3. Kerangka Konsep Penelitian.

Multi Drug Resistance Tuberculosis Sosiodemografi

1. Usia

2. Jenis Kelamin 3. Pekerjaan

Komorbid

1. Tanpa Komorbid

2. Dengan Diabetes Mellitus 3. Dengan HIV

4. Penyakit lainnya

Kriteria MDR-TB

Hasil Pemgobatan 1. Sembuh

2. Pengobatan Lengkap 3. Meninggal

4. Gagal Pengobatan 5. Loss to Follow-Up 6. Tidak Dievaluasi

(41)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 RANCANGAN PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan studi potong lintang atau cross-sectional. Pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui profil pasien MDR-TB yang dirawat di RSUP HAM Medan berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, komorbid, kriteria MDR, dan hasil pengobatan.

3.2 LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) Medan.

3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.3.1. Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang diteliti dan telah memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh peneliti. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien MDR-TB di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2013-2017.

3.3.2. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari populasi terjangkau yang dapat digunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling yaitu seluruh pasien MDR-TB di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2013-2017. Adapun sampel yang diambil memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan sebagai berikut:

1. Kriteria Inklusi

Pasien MDR-TB yang dirawat di RSUP HAM Medan dengan data rekam medis yang lengkap pada tahun 2013-2017.

(42)

2. Kriteria Eksklusi

Data pada rekam medis tidak lengkap.

3.4 METODE PENGUMPULAN DATA

Data yang digunakan adalah data sekunder berupa rekam medis pasien yang didiagnosis dengan MDR-TB di RSUP HAM Medan dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang diambil untuk diolah berupa usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, komorbid, kriteria MDR, dan hasil pengobatan.

3.5 DEFINISI OPERASIONAL

Definisi operasional untuk penelitian ini meliputi:

a. Multi-Drug Resistance Tuberculosis (MDR-TB)

- Definisi : Tuberkulosis yang telah kebal terhadap pengobatan baik Rifampicin maupun Isoniazid dengan atau tanpa obat anti tuberkulosis lainnya.

- Cara Ukur : Gejala klinis, pemeriksaan laboratorium.

- Alat Ukur : Rekam Medis - Hasil Ukur : 1. MDR-TB

2. Bukan MDR-TB - Skala Ukur : Nominal

b. Usia

- Definisi : Lamanya hidup penderita sampai dengan datang berobat ke bagian pulmonologi RSUP HAM Medan.

- Cara Ukur : Anamnese - Alat Ukur : Rekam Medis - Hasil Ukur : 1. 0-5 tahun

2. 6-11 tahun 3. 12-16 tahun 4. 17-25 tahun 5. 26-35 tahun

(43)

6. 36-45 tahun 7. 46-55 tahun 8. 56-65 tahun 9. > 65 tahun - Skala Ukur : Ratio

c. Jenis Kelamin

- Definisi : Jenis kelamin penderita MDR-TB yang datang berobat ke bagian pulmonologi RSUP HAM Medan.

- Cara Ukur : Anamnese - Alat Ukur : Rekam Medis - Hasil Ukur : 1. Laki-laki

2. Perempuan - Skala Ukur : Nominal

d. Pekerjaan

- Definisi : Kegiatan utama yang sedang dilakukan oleh pasien.

- Cara Ukur : Anamnese - Alat Ukur : Rekam Medis - Hasil Ukur : 1. Tidak Bekerja

2. Pegawai 3. Wiraswasta

4. Petani/Nelayan/Buruh 5. Lainnya

- Skala Ukur : Nominal

e. Komorbid

- Definisi : Penyakit atau proses patologi lainnya yang berlangsung secara bersamaan dengan MDR-TB.

- Cara Ukur : Dengan melihat data rekam medis - Alat Ukur : Rekam Medis

(44)

- Hasil Ukur : 1. Tanpa Komorbid

2. MDR-TB dengan Diabetes 3. MDR-TB dengan HIV 4. Penyakit Lainnya - Skala Ukur : Nominal

f. Kriteria MDR

- Definisi : Kriteria yang digunakan untuk mendiagnosis MDR-TB - Cara Ukur : Anamnese

- Alat Ukur : Rekam Medis - Hasil Ukur : 1. Kriteria 1

2. Kriteria 2 3. Kriteria 3 4. Kriteria 4 5. Kriteria 5 6. Kriteria 6 7. Kriteria 7 8. Kriteria 8 9. Kriteria 9 - Skala Ukur : Nominal

g. Hasil Pengobatan

- Definisi : Hasil yang didapatkan setelah pengobatan dilakukan.

- Cara Ukur : Observasi - Alat Ukur : Rekam Medis - Hasil Ukur : 1. Sembuh

2. Gagal Pengobatan 3. Meninggal

4. Pengobatan Lengkap 5. Loss to follow up 6. Tidak Dievaluasi

(45)

- Skala Ukur : Nominal 3.6 METODE ANALISIS DATA

Seluruh data yang telah dikumpulkan akan dicatat, diperiksa dan disusun berdasarkan kelompoknya kemudian diolah menjadi data statistika berupa tabel distribusi dan sesuai tujuan penelitian dengan menggunakan program SPSS pada komputer.

3.7 ALUR PENELITIAN

Gambar 3.1. Alur Penelitian.

Rekam Medis MDR-TB

Inklusi Eksklusi

1. Sosiodemografi 2. Komorbid

- Usia 3. Kriteria MDR-TB

- Jenis Kelamin 4. Hasil Pengobatan - Pekerjaan

Tidak Diambil

(46)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) yang berlokasi di Jalan Bunga Lau No. 17, Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.

RSUP HAM merupakan rumah sakit Kelas A yang menerima rujukan untuk wilayah pembangunan A yang meliputi provinsi Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat dan Riau, sehingga dapat dijumpai pasien dengan latar belakang yang sangat bervariasi.

Sampel dalam penelitian ini adalah data rekam medis pasien MDR-TB pada tahun 2013 – 2017. Jumlah seluruh sampel penelitian adalah 547 orang yang diambil dengan menggunakan metode total sampling dan telah memenuhi kriteria inklusi.

Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder berupa data rekam medis pasien MDR-TB. Data sekunder didapatkan langsung dari poli MDR-TB RSUP HAM.

Karakteristik sampel penelitian dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin, kelompok umur, pekerjaan, komorbid, kriteria MDR, dan hasil pengobatan. Berikut ini merupakan tabel karakteristik sampe penelitian.

Tabel 4.1. Data distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin

Jenis Kelamin Jumlah (orang) Persentase (%)

Laki-laki 369 67,5

Perempuan 178 32,5

Total 547 100

Pada tabel 4.1, dapat dilihat bahwa sampel laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan. Jumlah sampel laki-laki yaitu sebanyak 369 orang (67,5%) sedangkan perempuan sebanyak 178 orang (32,5%). Penelitian yang dilakukan oleh Sihombing et al., juga menunjukkan bahwa laki-laki lebih

(47)

banyak terserang penyakit MDR-TB dibanding perempuan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Nurjana disimpulkan bahwa tidak adanya hubungan bermakna antara jenis kelamin dan kejadian MDR-TB (Nurjana, 2015).

Sedangkan, menurut penelitian yang dilakukan Putri et al., bahwa penyebab laki- laki lebih sering menderita MDR-TB dikarenakan laki-laki cenderung lebih banyak melakukan aktivitas dan interaksi di luar rumah dibandingkan perempuan (Putri et al., 2015). Selain itu, hal lain yang menyebabkan laki-laki lebih banyak terdeteksi penyakit MDR-TB dibandingkan dengan perempuan adalah karena adanya keterlambatan diagnosis pada perempuan. Hal ini disebabkan karena perempuan lebih sering terlambat datang ke pelayanan kesehatan. Perempuan cenderung merasa malu dan aib serta adanya perasaan takut untuk dikucilkan dari keluarga dan lingkungan akibat penyakit infeksi yang dideritanya (Munir et al., 2010).

Tabel 4.2. Data distribusi sampel berdasarkan umur

Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

0-5 0 0

6-11 0 0

12-16 5 0.9

17-25 58 10.6

26-35 137 25

36-45 138 25.2

46-55 126 23

56-65 68 12.4

>65 15 2.7

Total 547 100

Berdasarkan tabel 4.2, penyakit MDR-TB paling banyak ditemukan pada kelompok umur 36-45 tahun yaitu sebanyak 138 orang (25.2%) yang kemudian disusul oleh kelompok umur 26-35 tahun yaitu 137 orang (25%) serta kelompok umur 46-55 tahun yaitu 126 orang (23%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang

(48)

dilakukan oleh Putri et al., yang melaporkan bahwa kejadian MDR-TB terbanyak ditemukan pada kelompok usia produktif rentan usia 25-44 tahun (Putri et al., 2015). Usia produktif adalah kelompok usia antara 15-64 tahun (Sukmaningrum et al., 2017). Menurut penelitian yang dilakukan Munir et al., usia produktif sangat berbahaya terhadap tingkat penularannya dikarenakan kelompok orang pada usia produktif cenderung memiliki mobilitas yang tinggi serta tingkat interaksi yang tinggi juga sehingga menularkan terhadap orang di lingkungan sekitar dan tempat tinggal (Munir et al., 2010).

Secara berturut-turut, distribusi pasien MDR-TB berdasarkan kelompok umur diikuti oleh kelompok umur 56-65 tahun yaitu 68 orang (12.4%), kemudian kelompok umur 17-25 tahun yaitu 58 orang (10.6%) serta kelompok umur >65 tahun sebanyak 15 orang (2.7%) dan kelompok umur 12-16 tahun sebanyak 5 orang (0.9%). Tidak ditemukan adanya penyakit MDR-TB pada kelompok umur 0-5 tahun dan 6-11 tahun.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa tingginya angka kejadian TB pada usia produktif memberikan pengaruh terhadap ekonomi sebuah negara.

Berdasarkan Global Economic Impact of Tuberculosis, dinyatakan bahwa kerugian ekonomi sebuah negara akibat penyakit TB disebabkan karena rendahnya produktivitas akibat sumber daya manusia yang terinfeksi. Negara dengan tingkat produktivitas tinggi per orang akan mendapatkan kerugian ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan negara dengan tingkat produktivitas rendah per orang. Jepang merupakan salah satu negara dengan tingkat mortalitas TB yang cukup rendah, namun karena Jepang merupakan negara dengan tingkat produktivitas yang tinggi maka negara tersebut justru masuk ke dalam daftar 10 negara yang paling berdampak ekonominya akibat TB (KPMG, 2017).

(49)

Tabel 4.3. Data distribusi sampel berdasarkan pekerjaan

Pekerjaan Jumlah (Orang) Persentase (%)

IRT

Mahasiswa/Pelajar Pegawai

84 20 82

15.4 3.7

15

Petani/Nelayan/Buruh 90 16.5

Tidak Bekerja 94 17.2

Wiraswasta 177 32.4

Total 547 100

Berdasarkan tabel 4.3, penyakit MDR-TB paling banyak ditemukan pada orang yang bekerja sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 177 orang (32.4%).

Kategori tidak bekerja ditemukan sebanyak 94 orang (17.2%). Kategori ini meliputi pensiunan dan pengangguran. Selanjutnya, petani/nelayan/buruh ditemukan sebanyak 90 orang (16.5%) yang mengidap MDR-TB yang kemudian disusul oleh ibu rumah tangga sebanyak 84 orang (15.4%) dan pegawai sebanyak 82 orang (15%). Penyakit MDR-TB paling sedikit ditemukan pada kelompok mahasiswa/pelajar yaitu sebanyak 20 orang (3.7%). Berdasarkan data yang tertera pada tabel 4.6, maka dapat disimpulkan bahwa MDR-TB ditemukan pada setiap jenis pekerjaan sehingga perlu kewaspadaan dari masyarkat sendiri agar tidak mudah tertular MDR-TB.

Penelitian yang dilakukan oleh Nurjana yang mengkaji tentang faktor- faktor yang berhubungan dengan TB paru menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara pekerjaan dengan kejadian TB paru. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurjana menunjukkan bahwa orang yang bekerja memberikan peluang seseorang untuk terinfeksi TB paru. Hal ini terkait dengan paparan terhadap kuman M. tuberculosis khususnya orang yang memiliki pekerjaan kasar (Nurjana, 2015). Pekerjaan juga mempengaruhi tingkat sosial ekonomi seseorang.

Orang dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah akan mengalami hambatan dalam deteksi dini penyakit, keterbatasan obat yang terjamin mutunya dan sistem pelayanan kesehatan yang memadai (Keshavjee et al., 2010).

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan pengabdian untuk meningkatkan ketrampilan dan kinerja wirusaha, memberikan ketrampilan tentang perencanaan bisnis dan manajemen usaha, meningkatkan ketrampilan SDM

Pada tugas akhir ini penulis memanfaatkan sebuah mini komputer yaitu Raspberry Pi sebagai host server yang akan me-remote mikrokontroler Arduino Mega dengan Ethernet

Jika terjadi persoalan internal antara anggota komunitas itu sendiri yang menyangkut nama baik komunitas di masyarakat maupun Djarum Black Car Community yang

Dalam hal ini, baik transaksi e-commerce maupun jual beli tradisional tidak dilarang sesuai dengan firman Allah dalam QS Al-Jumuah110; (2) Meskipun tidak dilakukan secara

Sejalan dengan hal tersebut, pada awal tahun 2011 pemerintah kembali meluncurkan sebuah kebijakan terobosan untuk meningkatkan persalinan yang ditolong oleh tenaga

Pembuatan sistem informasi bimbingan konseling (BK) diharapkan dapat membantu dan mempermudah guru BK dalam pencatatan data pribadi siswa, tindakan bimbingan

Kemiskinan struktural terjadi bukan dikarenakan “ketidakmauan” si miskin untuk bekerja (malas) melainkan karena “ketidakmampuan” sistem dan struktur sosial dalam

Produsen hard disk atau media penyimpan lainnya TIDAK menggunakan diagram tersebut. Prinsipnya mereka tidak mau rugi. Langsung saja ke prakteknya. Jadikan