• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

47 hasil penenlitian ini dalam pelaksanaan tindakan.

4.1 Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dilakukan di kelas 4 SD Negeri Mangunsari 07 Kota Salatiga denganjumlah 32 siswa pada pembelajaran IPA. Sebelum siklus I dilaksanakan, peneliti terlebih dahulu melakukan observasi awal dengan tujuan untuk mengetagui hasil pembelajaran sebelum dilakukan tindakan dengan menggunakan metode pembelajaran cooperative script.

4.1.1 Pelaksanaan Siklus 1 4.1.1.1. Perencanan

Perencanaan pembelajaran difokuskan pada permasalahan yang ditemukan pada kondisi awal. Dalam hal ini peneliti menyusun strategi, Memilih metode dan media yang sesuai dengan pembelajaran dengan tujuan siswa menjadi lebih aktif mengikuti pembelajaran. Pembelajaran siklus 1 dilaksanakan sebanyak 3 pertemuan dengan alokasi waktu masing-masing pertemuan 2 x 35 menit pada Standar Kompetensi Memahami hubungan antara sumber daya alam dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat, Kompetensi Dasar Menjelaskan hubungan antara sumber daya alam dengan lingkungan indikator: Siswa dapat menyebutkan 2 jenis sumber daya alam, Siswa dapat menyebutkan manfaat sumber daya alam, Siswa dapat mendiskripsikan sumber daya alam berdasarkan kedudukannya, Siswa dapat menjelaskan benda-benda hasil proses sumber daya alam.

Adapun instrumen yang telah disiapkan dalam pembelajaran siklus adalah:

1. Menyusun perangkat pembelajaran

2. Memilih metode pembelajaran cooperative script dan media gambar

(2)

3. Menyusun lembar observasi sebagai panduan bagi observer terdiri dari lembar observasi kegiatan siswa dan lembar observasi kegiatan guru 4. Menyusun lembar kerja siswa

5. Menyusun alat penilaian hasil belajar siswa.

4.1.1.2. Pelaksanaan

Pada pelaksanaan tindakan pada siklus 1, guru mengawali pembelajaran dengan menyiapkan kondisi kelas, melaksanakan langkah-langkah pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun. pada kegiatan awal guru melakukan apersepsi, memotivasi siswa dan menyampaikan tujuan pembelajaran.

4.1.1.3. Tindakan

Pada kegiatan inti pembelajaran diawali dengan pembentukan kelompok, berpasangan temansebangku. Memastikan bahwa setiap kelompok/ siswa memiliki buku pegangan dan menjelasan materi, membagikan lembar kerja siswa kepada masing-masing kelompok serta menjelaskan petunjuk mengerjakan lembar kerja. Proses pembentukan kelompok berpasangan dan menentukan siapa yang berperan sebagai pembicara dan sebagai pendengar , dikarenakan siswa belum terbiasa untuk belajar membentuk kelompok. Proses pembelajaran dengan metode pembelajaran cooperative script yang dilaksanakan oleh guru ternyata belum mampu mengefektifkan kegiatan belajar siswa. Terlebih lagi pemanfaatan alat peraga media gambar berupa benda-benda dikelas masih terbatas dalam pembimbingannya.

Guru membagikan lembar kerja siswa untuk mengaktifkan kegiatanbelajar dalam kelompok. Kerjasama dalam kelompok kurang terjalin dengan baik karena masih terdapat anggota kelompok yang pasif atau bahkan cenderung bekerja sendiri, tetapi kegiatan tanya jawab antara guru dan siswa berlangsung lebih aktif.

Kegiatan pembimbingan terhadap kelompok selalu dilakukan oleh guru, tetapi banyaknya kelompok dalam kelas menyebabkan pembimbingan kurang merata.

Selain itu aspek pengelolaan waktu cenderung lebih lama dari alokasi waktu yang

(3)

ditentukan sehingga menyebabkan kegiatan presentasi kelompok hanya mampu menampilkan beberapa kelompok saja.

Pada kegiatan akhir di pertemuan 3, guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran dan melaksanakan penilaian tertulis kepada siswa dengan membagikan soal. Dari analisis hasil tes formatif pada pertemuan 3 ini guru selanjutnya memberikan tindak lanjut kepada siswa dengan meminta siswa untuk tetap berlatih soal yang berbentuk penjumlahan dan pengurangan.

Pada pelaksanaan tindakan pada siklus 1, guru mengawali pembelajaran dengan menyiapkan kondisi kelas, mengatur pola tempat duduk siswa dalam bentuk diskusi kelompok, melaksanakan langkah-langkah pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun. pada kegiatan awal guru melakukan apersepsi berupa soal-soal dari materi pertemuan siklus 1, memotivasi siswa agar lebih berani dan tidak perlu malu-malu untuk bertanya atau menggunakan alat peraga dan menyampaikan tujuan pembelajaran.

Pada kegiatan inti pembelajaran diawali dengan membagi kelas menjadi beberapa kelompok dan sesui perannya siapa yang sebagai pembicara dan pendengar kepada setiap anggota kelompok. Pada siklus 1 berperan sebagai pembicara dan pendengar yang ditentukan oleh guru sehingga siswa tinggal melakunkan sesuai perannya saja. Memastikan bahwa setiap kelompok memiliki buku pegangan. Selanjutnya penjelasan materi oleh guru, memanfaatkan alat peraga dan media bersama dengan siswa, membagikan LKS untuk dikerjakan secara kelompok dan melaksanakan bimbingan. Pada akhir diskusi guru memanggil ketua kelompok mempresentasikan jawaban dari LKS. Proses pembentukan kelompok dapat dilaksanakan dengan cepat karena pola tempat duduk telah diatur dalam pola diskusi kelompok sehingga tidak terjadi keributan di kelas.

Proses metode pembelajaran cooperative script yang dilaksanakan oleh guru ternyata telah mampu mengefektifkan kegiatan belajar siswa. Terlebih lagi pemanfaatan alat peraga konkret dan media gambar yang telah diperbanyak jumlahnya sehingga mencukupi kelompok untuk memanfaatkannya. Dengan

(4)

bimbingan guru siswa tidak lagi malu-malu untuk menggunakan alat peraga yang disediakan.

Kerjasama dalam kelompok lebih terjalin karena guru memotivasi siswa untuk mencoba bekerja sama dalam kelompok. Dengan demikian telah terjadi kegiatan tanya jawab antara guru dan siswa lebih aktif. Pada akhir diskusi guru telah memberikan motivasi dan arahan kepada siswa agar menunjuk perwakilan kelompok untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok.

Pada kegiatan akhir pertemuan ke 3, guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran dan melaksanakan penilaian tertulis kepada siswa dengan membagikan soal. Dari analisis hasil tes formatif pada pertemuan 2 ini guru selanjutnya memberikan tindak lanjut kepada siswa dengan meminta siswa untuk tetap belajar materi pelajaran berikutnya.

4.1.1.4. Deskripsi Hasil Observasi

Pengamatan terhadap aktivitas siswa yang diamati oleh observer ibu Sri Martini, S.Pd guru kelas 6 SD Negeri Mangunsari 07 Kota Salatiga meliputi 5 aspek antara lain : (1) Perhatian siswa terhadap materi pelajaran, (2) Keaktifan siswa dalam memanfaatkan alat peraga (3) Keterampilan siswa dalam tanya jawab dengan guru (4) Keberanian siswa dalam berpendapat (5) Kerjasama dalam kelompok. Hasil pengamatan terhadap kegiatan siswa berdasarkan aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut :

1. Sebagian siswa sudah memperhatikan penjelasan guru 2. Siswa kurang aktif dan masih malu-malu

3. Masih banyak siswa yang pasif 4. Sudah ada siswa yang berpendapat

5. Kerjasama kurang terjalin, siswa masih suka mengerjakan sendiri.

Pengamatan terhadap aktivitas guru terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan metode pembelajaran cooperative script masih kurang maksimal. Aspek pengamatan aktivitas guru meliputi perencanaan, pelaksanaan, pembimbingan, analisis dan tindak lanjut hasil belajar siswa. Aspek-aspek kegiatan guru yang diamati antara lain : (1) Penguasaan guru terhadap materi, (2)

(5)

Memotivasi siswa dalam pembelajaran, (3) Penerapan metode pembelajaran, (4) Pemanfaatan media pembelajaran, (5) Pelaksanaan evaluasi.

4.1.2 Pelaksanaan Siklus 2 4.1.2.1. Perencanan

Perencanaan pembelajaran difokuskan pada permasalahan yang ditemukan pada siklus 1. Dalam hal ini peneliti menyusun dan memperbaiki strategi, menyusun kembali metode pembelajaran cooperative script lebih sistematis dan memilih alat peraga yang lebih tepat agar dapat dilaksanakan dengan baik.

Pembelajaran siklus 2 dilaksanakan sebanyak 3 pertemuan dengan alokasi waktu masing-masing pertemuan 2 x 35 menit pada Standar Kompetensi Memahami hubungan antara sumber daya alam dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat, Kompetensi Dasar Menjelaskan hubungan antara sumber daya alam dengan lingkungan, indikator : Siswa dapat menyebutkan cara pelestarian lingkungan , Siswa dapat mendiskripsikan dampak pengambilan sumber daya alam, Siswa dapat menjelaskan cara memelihara pelestarian.

Adapun instrumen yang telah disiapkan dalam pembelajaran siklus 2 adalah : (1) Menyiapkan perangkat pembelajaran, (2) Memperbaiki langkah- langkah metode pembelajaran cooperative script dan memperbanyak alat peraga konkret dan media gambar (3) Menyiapkan lembar observasi sebagai panduan bagi observer terdiri dari lembar observasi kegiatan siswa dan lembar observasi kegiatan guru (4) Menyiapkan lembar kerja siswa (5) Menyiapkan alat penilaian hasil belajar siswa.

4.1.2.2. Pelaksanaan

Pada pelaksanaan tindakan pada siklus 1, guru mengawali pembelajaran dengan menyiapkan kondisi kelas, melaksanakan langkah-langkah pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun. pada kegiatan awal guru melakukan apersepsi, memotivasi siswa dan menyampaikan tujuan pembelajaran.

Pada kegiatan inti pembelajaran diawali dengan pembentukan kelompok, berpasangan temansebangku. Memastikan bahwa setiap kelompok / siswa

(6)

memiliki buku pegangan dan menjelasan materi, membagikan lembar kerja siswa kepada masing-masing kelompok serta menjelaskan petunjuk mengerjakan lembar kerja. Proses pembentukan kelompok berpasangan dan menentukan siapa yang berperan sebagai pembicara dan sebagai pendengar , dikarenakan siswa belum terbiasa untuk belajar membentuk kelompok. Proses pembelajaran dengan metode pembelajaran cooperative script yang dilaksanakan oleh guru ternyata belum mampu mengefektifkan kegiatan belajar siswa. Terlebih lagi pemanfaatan alat peraga media gambar berupa benda-benda dikelas masih terbatas dalam pembimbingannya.

Guru membagikan lembar kerja siswa untuk mengaktifkan kegiatan belajar dalam kelompok. Kerjasama dalam kelompok kurang terjalin dengan baik karena masih terdapat anggota kelompok yang pasif atau bahkan cenderung bekerja sendiri, tetapi kegiatan tanya jawab antara guru dan siswa berlangsung lebih aktif. Kegiatan pembimbingan terhadap kelompok selalu dilakukan oleh guru, tetapi banyaknya kelompok dalam kelas menyebabkan pembimbingan kurang merata. Selain itu aspek pengelolaan waktu cenderung lebih lama dari alokasi waktu yang ditentukan sehingga menyebabkan kegiatan presentasi kelompok hanya mampu menampilkan beberapa kelompok saja.

Pada kegiatan akhir di pertemuan 3, guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran dan melaksanakan penilaian tertulis kepada siswa dengan membagikan soal. Dari analisis hasil tes formatif pada pertemuan 3 ini guru selanjutnya memberikan tindak lanjut kepada siswa dengan meminta siswa untuk tetap berlatih soal yang berbentuk penjumlahan dan pengurangan.

4.2.2.3. Tindakan

Pada pelaksanaan tindakan pada siklus 2, guru mengawali pembelajaran dengan menyiapkan kondisi kelas, mengatur pola tempat duduk siswa dalam bentuk diskusi kelompok, melaksanakan langkah-langkah pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun. pada kegiatan awal guru melakukan apersepsi berupa soal-soal dari materi pertemuan siklus 1, memotivasi

(7)

siswa agar lebih berani dan tidak perlu malu-malu untuk bertanya atau menggunakan alat peraga dan menyampaikan tujuan pembelajaran.

Pada kegiatan inti pembelajaran diawali dengan membagi kelas menjadi beberapa kelompok dan sesui perannya siapa yang sebagai pembicara dan pendengar kepada setiap anggota kelompok. Pada siklus 2 berperan sebagai pembicara dan pendengar yang ditentukan oleh guru sehingga siswa tinggal melakunkan sesuai perannya saja. Memastikan bahwa setiap kelompok memiliki buku pegangan. Selanjutnya penjelasan materi oleh guru, memanfaatkan alat peraga dan media bersama dengan siswa, membagikan LKS untuk dikerjakan secara kelompok dan melaksanakan bimbingan. Pada akhir diskusi guru memanggil ketua kelompok mempresentasikan jawaban dari LKS. Proses pembentukan kelompok dapat dilaksanakan dengan cepat karena pola tempat duduk telah diatur dalam pola diskusi kelompok sehingga tidak terjadi keributan di kelas.

Proses metode pembelajaran cooperative script yang dilaksanakan oleh guru ternyata telah mampu mengefektifkan kegiatan belajar siswa. Terlebih lagi pemanfaatan alat peraga konkret dan media gambar yang telah diperbanyak jumlahnya sehingga mencukupi kelompok untuk memanfaatkannya. Dengan bimbingan guru siswa tidak lagi malu-malu untuk menggunakan alat peraga yang disediakan.

Kerjasama dalam kelompok lebih terjalin karena guru memotivasi siswa untuk mencoba bekerja sama dalam kelompok. Dengan demikian telah terjadi kegiatan tanya jawab antara guru dan siswa lebih aktif. Pada akhir diskusi guru telah memberikan motivasi dan arahan kepada siswa agar menunjuk perwakilan kelompok untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok.

Pada kegiatan akhir pertemuan ke 3, guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran dan melaksanakan penilaian tertulis kepada siswa dengan membagikan soal. Dari analisis hasil tes formatif pada pertemuan 2 ini guru selanjutnya memberikan tindak lanjut kepada siswa dengan meminta siswa untuk tetap belajar materi pelajaran berikutnya.

(8)

4.2.2.4. Deskripsi Hasil Observasi Siklus 2

Pengamatan terhadap aktivitas siswa dilakukan oleh observer ibu Sri Martini, S.Pd guru kelas 6 SD Negeri Mangunsari 07 Kota Salatiga. Aspek pengamatan antara lain : (1) Perhatian siswa terhadap materi pelajaran, (2) Keaktifan siswa dalam memanfaatkan alat peraga (3) Keterampilan siswa dalam tanya jawab dengan guru (4) Keberanian siswa dalam berpendapat (5) Kerjasama dalam kelompok. Hasil pengamatan terhadap kegiatan siswa berdasarkan aspek- aspek tersebut adalah sebagai berikut :

1. Siswa sudah memperhatikan penjelasan guru dengan baik 2. Siswa sudah banyak yang aktif menggunakan alat peraga

3. Siswa sudah banyak yang aktif tanya jawab baik dalam kelompok maupun dengan guru.

4. Sudah banyak siswa yang berpendapat

Kerjasama sudah lebih aktif, siswa berdiskusi dengan anggota dalam kelompok maupun antar kelompok

Pengamatan terhadap aktivitas guru selama pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan metode pembelajaran cooperative script pada siklus 2 ini sudah maksimal dirasakan oleh siswa karena hasil pembelajaran siswa telah meningkat.

Aspek-aspek kegiatan guru yang diamati antara lain : (1) Penguasaan guru terhadap materi, (2) Memotivasi siswa dalam pembelajaran, (3) Penerapan metode pembelajaran, (4) Pemanfaatan media pembelajaran, (5) Pelaksanaan evaluasi.

4.2. Hasil Penelitian

Hasil penelitian pad asiklus 1, dan siklus 2, berupa data hasil belajar siswa kelas 4 SD Negeri Mangunsari 07 Kota Salatiga tahun pelajaran 2012/2013.

4.2.1.Deskripsi Data

Distribusi data, mendistribusikan data hasil belajar yang diperoleh pada siklus 1, dan siklus 2.

(9)

4.2.1.1. Deskripsi Data Hasil Belajar IPA Siklus 1 Berikut data hasil belajar IPA pada siklus 1 4.2.1.1. Deskripsi Data Hasil Belajar IPA Siklus 1

Berikut data hasil belajar IPA pada siklus 1

Tabel 10

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPA siswa kelas 4 SD Negeri Mangunsari 07 Kota Salatiga Tahun pelajaran 2012/2013 pada Siklus 1

No Rentang Nilai Frekuensi %

1 35 - 45 3 9,3

2 46– 56 7 12,5

3 57 - 67 2 6,2

4 68 - 78 13 40,6

5 79 - 89 5 15,6

6 90 - 100 2 6,2

Jumlah 32

Jumlah Nilai 2000

Rata -rata 62,5

Maximum 100

Minimum 35

Tabel 10menunjukan hasil belajar IPA siswa kelas 4 SD Negeri Mangunsari 07 Kota Salatiga, pada siklus 1 mendapat nilai rata-rata 62,5. Dengan nilai tertinggi adalah 100 dan nilai terendah 35. Diketahui siswa yang mendapat nilai dengan nilai interval 35 – 45 ada 3 siswa atau sebesar 9,3%, siswa yang mendapat nilai dengan interval 46- 56 ada 7 siswa atau sebesar 12,5%, siswa yang mendapat nilai dengan interval 57- 67 ada 2 siswa atau sebesar 6,2%, siswa yang mendapat nilai dengan interval 68- 78 ada 13 siswa atau sebesar 40,6%, siswa yang mendapat nilai dengan interval 79- 89 ada 5 siswa atau sebesar 15,6%, siswa yang mendapat nilai dengan interval 90- 100 ada 2 siswa atau sebesar 6,2%.

(10)

4.2.1.2. Deskripsi Data Hasil Belajar IPA Siklus 2 Berikut data hasil belajar IPA pada siklus 2 4.2.1.2. Deskripsi Data Hasil Belajar IPA Siklus 2

Berikut data hasil belajar IPA pada siklus 2

Tabel 11

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPA siswa kelas 4 SD Negeri Mangunsari 07 Kota Salatiga Tahun pelajaran 2012/2013 pada Siklus 2

No Rentang Nilai Frekuensi %

1 40 - 49 0 0,0

2 50 – 59 1 3,1

3 60 - 69 1 3,1

4 70 - 79 15 46,8

5 80 - 89 10 31,2

6 7

90 – 99 100

3 2

9,3 6,2

Jumlah 32

Jumlah Nilai 3000

Rata -rata 94

Maximum 100

Minimum 40

Tabel 11 menunjukan hasil belajar IPA siswa kelas 4 SD Negeri Mangunsari 07 Kota Salatiga, pada siklus 2 mendapat nilai rata-rata 94. Dengan nilai tertinggi adalah 100 dan nilai terendah 40. Diketahui siswa yang mendapat nilai dengan nilai interval 40 – 49 tidak ada atau sebesar 0,0%, siswa yang mendapat nilai dengan interval 50- 59 ada 1 siswa atau sebesar 3,1%, siswa yang mendapat nilai dengan interval 60- 69 ada 1 siswa atau sebesar 3,1%, siswa yang mendapat nilai dengan interval 70- 79 ada 15 siswa atau sebesar 46,8%, siswa yang mendapat nilai dengan interval 80- 89 ada 10 siswa atau sebesar 31,2,1%, siswa yang mendapat nilai dengan interval 90- 99 ada 3 siswa atau sebesar 9,3%, siswa yang mendapat nilai dengan interval 100 ada 2 siswa atau sebesar 6,2%.

(11)

4.2.2. Analisis Data

Pada penelitian ini data hasil belajar IPA siswa kelas 4 SD Negeri Mangunsari 07 Kota Salatiga pada siklus 1 dan siklus 2 di analisis menggunakan analisis ketuntasan dan analisis komperatif.

4.2.2.1. Analisis Ketuntasan

Kategori ketuntasan IPA siswa kelas 4 SD Negeri Mangunsari 07 Kota Salatiga bagi menjadi 2 yaitu tuntas dinilai ≥ 65 dan tidak tuntas dinilai IPA <

65.

Tabel 12

Analisis Ketuntasan Belajar IPA Siswa Kelas 4 DSN Mangunsari Kota Salatiga Tahun Pelajaran 2012/2013 Pada Siklus 1

Pada tabel 12menunjukan pada siklus 1, siswa yang tuntas atau dapat mencapai KKM ≥ 65yaitu ada 20 siswa atau sebesar 57%dan siswa yang mendapat nilai dibawah KKM ≤ 65 ada 12 siswa atau sebesar dengan presentase43%.

Kategori Nilai Frekuensi %

Tuntas ≥ 65 20 43

Tidak Tuntas ≤ 65 12 57

Jumlah 32

KKM 65

(12)

Tabel 13

Analisis Ketuntasan Belajar IPA Siswa Kelas 4 DSN Mangunsari Kota Salatiga Tahun Pelajaran 2012/2013 Pada Siklus 2

Kategori Nilai Frekuensi %

Tuntas ≥ 65 30 88

Tidak Tuntas ≤ 65 2 12

Jumlah 32

Pada tabel 13 menunjukan pada siklus 2, siswa yang tuntas atau dapat mencapai KKM ≥ 65yaitu ada 30 siswa atau sebesar 88%dan siswa yang mendapat nilai dibawah KKM ≤ 65 ada 2 siswa atau sebesar dengan presentase 12%.

4.2.2.2. Analisis Komperatif

Berdasarkan data-data yang diperoleh selama penelitian, dapat disimpulkan bahwa setelah menerapkan metode cooperative script berbantuan media gambar terjadi peningkatan hasil belajar dari siklus 1 sampai dengan siklus 2 jika dibandingkan dengan kondisi awal yang konvensional. Utntuk membandingkan hasil belajar kondisi awal sampai siklus 2, digunakan analisis deskriptif komperatif. Berikut disajikan perbandingan hasil belajar kondisi awal, siklus 1 sampai siklus 2.

Tabel 14

Hasil Belajar IPA siswa kelas 4 SD Negeri Mangunsari 07 Kota Salatiga Tahun Pelajaran 2012/2013 Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus 2

Kondisi Awal Siklus 1 Siklus 2 Nilai Kategori Frekuensi % Frekuensi % Frekuensi %

< 65

Belum

Tuntas 22 59 12 43 2 12

≥ 65 Tuntas 10 41 20 57 30 88

Rata-rata 52,25 62,5 94

(13)

Dari table 14 menunjukan bahwah terjadi peningkatan hasil belajar dari sebelim dilakukan tindakan sampai selesai pada akhir siklus 2. Nilai rat-rata dari 52,25 pada kondisi awal meningkat menjadi 94 pada siklus 2 dengan ketuntasan dari kondisi awal hanya ada 10 siswa yang tuntas dan pada siklus 2 siswa yang tuntas belajar meningkat menjadi 30 siswa.

Apabila perbandingan evaluasi hasil belajar pra siklus, siklus 1 sampai dengan siklus 2 disajikan dalam bentuk diagram adalah sebagai berikut:

Gambar2Diagram Perbandingan Presentase Hasil BelajarPrasiklus, siklus 1 dan siklus 2

Pada gambar 2, menunjukan peresentase hasil belajar pada kondisi awal, siklus 1, dan siklus 2. Pada kondisi awal ketuntasan belajar 41% , suklus 1, ketuntasan belajar meningkat menjadi 57% dari kondisi awal tetapi belum mencapai indikator keberhasilan dengan target≥85% siswa tuntas belajar sehinga diadakan perbaikan kembali pada siklus 2 yang dihasilkan dengan presentase ketuntasan belajar meningkat menjadi 88%. Hal ini berarti pembelajaran menerapkan metode cooperativescript berbantuan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa yang meningkat pada setiap siklus.

0 5 10 15 20 25 30 35

Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2 10

20

30 22

12

2

Banyak siswa

Tahap Tindakan Tuntas Belum Tuntas

(14)

4.3. Pembahasan

Dari hasil observasi sebelum tindakan (pra siklus) yang dilakukan di kelas 4 SD Negeri Mangunsari 07 Kota Salatiga bahwa hasil belajar IPA siswa masih rendah, hal ini disebabkan pemahaman siswa mengenai materi “Gaya” belum secara aktif terlibat dalam pembelajaran. Proses pembelajaran sebelum tindakan (pra siklus) menunjukkan siswa masih pasif selama pembelajaran, yang aktif guru.

Siswa lebih cenderung mendengarkan ceramah dari guru sehingga pembelajaran terkesan membosankan. Siswa keliru memanfaatkan waktu, siswa menggunakan waktu belajar untuk saling berkomunikasi dengan temannya. Hal di kelas tersebut, saat guru menjelaskan materi, siswa tidak memperhatikan dengan baik, ini akan membuat siswa tidak bisa memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru.

Siswa kurang memperhatikan pada saat pembelajaran berlangsung, dengan melakukan kontak yaitu saling surat-menyurat antar teman sebangku atau sekelas.

Suasana kelas menjadi ramai menyebabkan siswa tidak fokus dalam kegiatan pembelajaran terutama penjelasan materi yang diberikan guru. Siswa terlihat jenuh karena proses pembelajaran seakan monoton dari guru saja sehingga hasil belajar siswa rata-rata masih rendah. Khusus pada materi “Gaya”. Hasil belajar siswa dalam rata-rata sebelum tindakan adalah 52,25. Siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM=65) hanya 10 siswa atau 12%, sedangkan siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal sebanyak 22 siswa atau 88%. Nilai tertinggi yang berhasil didapatkan oleh siswa sebelum tindakan adalah 100 sedangkan nilain terendah adalah 40.

Adanya perbandingan yang cukup merata di kelas 4 SD Negeri Mangunsari 07 Kota Salatiga antara jumlah siswa yang tuntas dan tidak tuntas karena siswa yang sudah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) sudah dapat menerima materi yang disajikan oleh guru walaupun hanya dengan metode ceramah saja, karena ke-10 siswa ini memamg mempunyai daya tangkap materi pembelajaran yang lebih dibandingkan teman-teman yang lain walaupun guru menyampaikan materi dengan menggunakan metode ceramah saja, sebaliknya 22 siswa yang lain belum bisa menerima materi pembelajaran yang disajikan oleh guru menggunakan metode ceramah karena 22 siswa dalam hal penguasaan materi

(15)

pembelajaran masih rendah jika guru hanya menggunakan metode ceramah saja, sehingga diperlukan tindakan sesuai yaitu bagaimana guru harus menekankan aktifitas siswa di kelas agar tidak hanya mengandalkan metode konvensional (ceramah) yang sedikit membosankan dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak sekolah dasar yang masih dalam tahap operasional konkrit (7- 11 th) dan keadaan siswa yang suka berkomunikasi dengan sebangku atau sekelasnya melalui cara membuat kertas kecil (surat-suratan) atau buku tulis.

Siswa akan lebih dapat menguasai materi jika dihadapkan pada suatu yang konkrit dan sesuai dengan keadaan kelas maka pembelajaran yang menyenangkan siswa dapat mendapatkan pengalaman belajar yang berarti serta siswa dapat terlibat aktif selama kegaiatan belajar mengajar berlangsung.

Metode pembelajaran cooperative script adalah pembelajaran yang menyenangkan, segala suasananya dan menciptakan situasi belajar yang afektif.

Langkah –langkah pembelajaran cooperative script ada 7 Danserau dalam Hadi (2007) menjelaskan bahwa langkah-langkah dalam pembelajaran cooperative script sebagai berikut: Guru membagi siswa untuk berpasangan, Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasannya, Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berpe-ran sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar, Sajikan hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi, Bertukar peran, Penyimpulan, Penutup. Proses pembelajaran dengan menggunakan metode cooperative script terdiri dari 2 siklus. Pelaksanaan pada siklus 1 siswa secara diajar aktif dan terlibat langsung dalam peruses pembelajaran metode pembelajaran cooperative script siswa dalam kelas dibagi ke dalam kelompok berpasangan dengan teman sebangkunya dan menentukan siapa yang berperan sebaagai pembicara dan pendengar.

Waktu diskusi berpasangan terdapat siswa yang terlihat kurang aktif dan tidak aktif. Hal ini disebabkan siswa belum terbiasa dengan proses pembelajaran secara berpasangan dan bertukar peran. Pelaksanan siklus 2, karena mulai terbisa pembelajaran kelompok berpasangan dan bertukar peran maka pada siklus 2 ini pembelajaran dengan metode pembelajaran cooperative script lebih aktif hal ini dapat dilihat dari aktifitas dan keterlibatan siswa pada proses pembelajaran dalam

(16)

kelompok mengalami peningkatan. Didunakannya metode pembelajaran cooperative script, siswa lebih aktif, percaya diri dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran dalam kelompok berpasangan dan bertukar peran.

Penjelasan dari hasil analisis data observasi dapat disimpulkan bahwa terlaksanaan metode penbelajaran cooperative script dapat meningkatkan hasil belajar dari tindakan siklus 1 sampai tindakan siklus 2, terlaksanan metode pembelajaran cooperative script siswa pada siklus 2 rata-rata dari semua aktivitas yang diamati mengalami peningkatan aktivitas, melihat pelaksanaan peneliti yang dilakukan dari siklus 1sampai siklus 2 menunjukan peningkatan terlaksananya metode pembelajaran cooperative script. Peningkatan tersebut menunjukan bahwa pembelajaran IPA menggunakan metode pembelajaran cooperative script siswa menjadi semakin aktif ,percaya diri dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran, sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan afektif dan kondusif.

Kondisi yang afektif dapat meningkatkan prestasi atau hasil belajar siswa.

Dapat disimpulkan hasil penelitian dan tindakan yang sudah dilakukan dapat dinyatakan bahwa pembelajaran denganpenerapan metode pembelajaran cooperative scriptdapat meningkatkan hasil belajar IPA materi tentang Sumber Daya Alam pada siswa kelas 4 SD Negeri Mangunsari 07 Kota Salatiga semester 2Tahun Pelajaran 2012 /2013.

Referensi

Dokumen terkait

Skenario tindakan yang telah direncanakan pada tindakan kelas siklus I pertemuan pertama ini yaitu menyiapkan alat dan bahan untuk melaksanakan pembelajaran, kemudian

Pembelajaran pada siklus II ini dilakukan untuk memperbaiki tindakan dari siklus I. Sebelum pelaksanaan pada siklus II , berdasarkan pengamatan peneliti pada

Tahap diskusi kelompok asal pada model pembelajaran Jigsaw di MAN 2 Kudus berjalan dengan baik. Sedikit berbeda dengan langkah diskusi kelompok asal yang mana

Pelaksanaan siklus I ini dilaksanakan pada Hari senin tanggal 13 Pebruari 2012 dengan materi mempraktikkan wudlu. 1) Guru menyiapkan rencana pembelajaran Pendidikan

Dalam kegiatan inti baik siklus 1 maupun siklus 2, dari 16 aktivitas tindakan menggunakan model Discovery Learning , seluruhnya telah terlaksanakan, sedangkan

Berdasarkan tindakan pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus II terhadap kemampuan belajar siswa dalam menggunakan metode diskusi diketahui hasil observasi yang

Meminta salah satu peserta didik dari kelompok untuk mempresentasikan hasil kelompok (STAD). Membantu melancarkan kegiatan diskusi. Pemberian tes pada akhir

Kemudian dilakukan tindakan lagi perbaikan siklus 2 dengan perolehan rata-rata kelas 74,2 peningkatan nilai rata-rata dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 1,7% pada grafik