ISSN : 0216-0382
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MADURA PAMEKASAN
HAYATI
JURNAL ILMU-ILMU HAYATI
Vol. X No. 10 Desember 2013 Vol. VIII No. 08 Desember 2011 SUPARNO1,2,3, SUDIARTO4,5, S.T.WINARNO4,5
PETERNAK SAPI MADURA NON IB MEMILIKI PERSEPSI DAN SIKAP TERHADAP PROGRAM IB KASUS: DI KECAMATAN WARU KABUPATEN PAMEKASAN Ir. A. YUDI HERYADI1) LINA
BUDIARSIH2)
PROFITABILITAS USAHA ITIK PEDAGING
DI DESA JULUK KECAMATAN SARONGGI
KABUPATEN SUMENEP
MOH. ZALI STRATEGI PUSAT PENGEMBANGAN
AGENSI HAYATI (PPAH) SHINTA DALAM MENGEMBANGKAN
PRODUK AGENSI HAYATI DI KECAMATAN GALIS
KABUPATEN PAMEKASAN DESI MAHARANI AGUSTINI1.2.3,
ABUBAKAR RACHMAN WALIULU2,ZAINAL ABIDIN3
PERSEPSI PETANI PADI TENTANG INOVASI PENGELOLAAN
TANAMAN TERPADU (PTT) PADI SAWAH DAN TINGKAT
PENERAPANNYA
SELVIA NURLAILA JAMU MADURA : EKSISTENSI,
EKSPEKTASI DAN REALITAS PENGEMBANGANNYA DALAM PERSPEKTIF PRODUSEN DAN KONSUMEN
ISSN : 0216-0382
JURNAL ILMU-ILMU HAYATI
Diterbitkan oleh:
Fakultas Pertanian Jurusan Peternakan Universitas Madura
Penasehat :
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Madura Pimpinan Redaksi :
Ir. Ahmad Yudi Heryadi, MMA Dewan Redaksi / Penyunting :
Ir. Riszqina, M.P Ir. Joko Purdiyanto, M.P
Ir. Malikah Umar, M. Si Ir. Hary Soeyanto, MM
Ir. Suparno, M. Agr
Penyunting Ahli :
Dr. Farahdilla Kutsiyah, S.Pt. M.P
Alamat Redaksi :
Fakultas Pertanian Universitas Madura Jl. Raya Panglegur KM 3,5 Pamekasan
Telpon (0324) 322231
Jurnal ini diterbitkan pertama kali pada bulan Desember 2004, dan mulai Desember 2013 akan diterbitkan setahun 2 (dua) kali.
Jurnal ini dimaksudkan untuk menjadi sarana publikasi karya ilmiah bagi para peneliti di bidang-bidang ilmu Pertanian
Setiap hasil karya yang dimuat tidak selalu mencerminkan pendapat dan opini dari redaksi
ISSN : 0216-0382
JURNAL ILMU-ILMU HAYATI
Vol. X No. 10, Desember 2013
DAFTAR ISI
1 PETERNAK SAPI MADURA NON IB MEMILIKI PERSEPSI DAN SIKAP TERHADAP PROGRAM IB KASUS : DI KECAMATAN WARU KABUPATEN PAMEKASAN, Suparno1,2,3, Sudiarto4,5, S.T.Winarno4,5...1 2 PROFITABILITAS USAHA ITIK PEDAGING DI DESA JULUK
KECAMATAN SARONGGI KABUPATEN SUMENEP, Ir. A. Yudi Heryadi1) Lina Budiarsih2) ...13
3 STRATEGI PUSAT PENGEMBANGAN AGENSI HAYATI (PPAH) SHINTA
DALAM MENGEMBANGKAN PRODUK AGENSI HAYATI
DI KECAMATAN GALIS KABUPATEN PAMEKASAN, Moh.
Zali...20 4 PERSEPSI PETANI PADI TENTANG INOVASI PENGELOLAAN
TANAMAN TERPADU (PTT) PADI SAWAH DAN TINGKAT PENERAPANNYA, Desi Maharani Agustini1.2.3, Abubakar Rachman
Waliulu2,Zainal Abidin3 ...31 5 JAMU MADURA : EKSISTENSI, EKSPEKTASI DAN REALITAS
PENGEMBANGANNYA DALAM PERSPEKTIF PRODUSEN DAN
KONSUMEN, Selvia Nurlaila ...41 6 PANDUAN BAGI PENULIS ………...………51
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MADURA PAMEKASAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT. atas terbitnya Jurnal Hayati. Vol. X No. 10, Desember 2013 yang diterbitkan Fakultas Pertanian Universitas Madura. HAYATI mengetengahkan tulisan tentang ilmu-ilmu pertanian yang beragam baik dari aspek materi maupun disiplin ilmunya.
Pada edisi kali ini menampilkan hasil penelitian tentang Peternak Sapi Madura Non IB Memiliki Persepsi dan Sikap Terhadap Program IB, Analisis Profitabilitas Usaha Itik Pedaging Di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep, Strategi Pusat
Pengembangan Agensi Hayati (PPAH) Shinta dalam Mengembangkan Produk Agensi Hayati Di Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan, Persepsi Petani Padi Tentang Inovasi
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah dan Tingkat Penerapannya, Jamu Madura : Eksistensi, Ekspektasi dan Realitas Pengembangannya dalam Perspektif Produsen dan Konsumen.
Untuk selanjutnya, Jurnal Hayati akan terbit satu tahun 2 kali yaitu bulan Juni dan bulan Desember. Hal ini dimaksudkan untuk menampung tulisan-tulisan ilmiah yang diterima redaksi, dan sebagai persyaratan untuk mengajukan akreditasi jurnal Hayati.
Demi perbaikan dan perkembangan jurnal ini secara berkesinambungan, redaksi mengajak para Penulis untuk terus meningkatkan kualitas bahasan tulisan-tulisan yang dikirim ke redaksi. Semoga harapan kita terwujud dan memberikan sumbangsih untuk perkembangan ilmu-ilmu pertanian di Indonesia.
Redaks.i
PETERNAK SAPI MADURA NON IB MEMILIKI PERSEPSI DAN SIKAP TERHADAP PROGRAM IB
KASUS: DI KECAMATAN WARU KABUPATEN PAMEKASAN Suparno1,2,3, Sudiarto4,5, S.T.Winarno4,5
2Fakultas Pertanian Universitas Madura
3Kampus: Jalan Raya Panglegur KM 3,5 Pamekasan
4UPN “Veteran” Jawa Timur
5Kampus: Gunung Anyar Surabaya E-mail : [email protected]
ABSTRAK
Inseminasi Buatan (IB) kurang mendapatkan sambutan dari peternak yaitu sebesar 4,23 persen dari 12.345 orang peternak di seluruh Kecamatan Waru Kabupaten Pamekasan, sebesar 522 peternak sapi Madura non IB. Tujuan penelitian adalah; (1) mendeskripsikan alasan peternak tidak mengikuti program IB, (2) mendeskripsikan persepsi peternak sapi Madura non IB terhadap program IB, (3) mengidentifikasikan atribut anak sapi non IB yang menjadi pilihan, (4) menganalisis sikap kepercayaan peternak sapi Madura non IB terhadap hasil anak sapi non IB dan IB. Metode penelitian menggunakan metode survai melalui pendekatan studi kasus. Penentuan sampel dengan area sampling, besarnya yang terpilih 54 orang peternak dari 522 orang peternak sapi Madura non IB. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder.
Analisis data meliputi analisis deskriptif, rataan skoring, dan analisis model sikap Fishbein.
Alasan peternak non IB sapinya tidak dikawinkan dengan IB yaitu (a) asal usul pejantan tidak jelas keturunannya, (b) sapinya takut rusak karena anus dirogoh dengan tangan dan alat kelamin dimasukkan alat inseminasi saat melakukan inseminasi. Persepsi peternak sapi Madura non IB mempersepsikan program IB kurang baik, hal ini berhubungan dengan minat dan penilaian peternak sapi Madura non IB terhadap program IB yang kurang baik. Atribut yang menjadi pilihan peternak sapi Madura non IB adalah (a) tanduk melengkung ke dalam, (b) punuk bulat besar, (c) alis hitam/celak tebal, (d) bergelambir, (e) ada kantong rusuk, (f) ada punuk bawah berlipat ke dalam tipis, (g) leher pendek dan lebar, (h) mata sipit, (i) telinga kecil seperti daun bambu, (j) kaki panjang kuat dan kokoh, (k) ada garis hitam dipunggung. Penilaian sikap peternak sapi Madura non IB terhadap anak sapi hasil non IB adalah baik, sedangkan anak sapi hasil IB adalah biasa.
Kata Kunci: Persepsi, Sikap, Peternak sapi Madura Non IB dan Program IB
PENDAHULUAN
Populasi sapi Madura di Indonesia Tahun 2011 dilaporkan sebanyak 4.700.000 ekor. Sapi Madura di pulau Madura Tahun 2011 sebanyak 787.4242 ekor yang tersebar di empat Kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) atau 16 persen dari populasi
sapi Madura di Indonesia (Dinas Komunikasi dan Informatika Jatim, 2011). Potensi ini merupakan sumber pendapatan bagi peternak di Madura dan sekaligus merupakan potensi sumber bibit sapi yang besar untuk memenuhi kebutuhan bibit sapi di Indonesia. Pulau Madura telah mengeluarkan sapi (bibit dan potong) rata-rata 78.000 ekor per
tahun dan pemotongan lokal rata-rata 33.000 ekor per tahun (Soehadji, 1992).
Pada Tahun 2011 jumlah populasi sapi Madura di Kabupaten Pamekasan sebanyak 127.674 ekor. Dari jumlah populasi sebanyak 127.674 ekor sebanyak 13.865 ekor yang dipelihara oleh 12.348 rumah tangga, dengan rata- rata 1,12 ekor per rumah tangga terdapat di Kecamatan Waru Kabupaten Pamekasan. Sistem pemeliharaannya yang masih tradisional dan belum berorientasi agribisnis dapat merugikan peternak, karena pertambahan berat badan harian rendah (0,45 – 0,55 kg/hari), calving interval yang panjang (16 – 20 bulan). Menurut Siregar et al (1985) dalam Soehadji (1992) melaporkan service per conception (S/C) sapi Madura ± 2 (1,99 ± 0,25) dan calving rate sebesar 45,9 ± 2,9 persen. Service per conception (S/C) dan calving rate (CR) yang rendah menunjukkan rendahnya efisiensi reproduksi.
Untuk mengatasi masalah rendahnya produktivitas tersebut dapat dilakukan dengan cara introduksi teknologi, salah satunya adalah teknologi inseminasi buatan (IB). Inseminasi buatan (IB) sebagai salah satu teknologi yang diperkenalkan kepada peternak merupakan suatu program yang ditujukan untuk memperbaiki mutu genetik dan meningkatkan angka kelahiran (produksi ternak) sekaligus pendapatan peternak.
Secara harfiah, peningkatan angka kelahiran dimaknai penggunaan inseminasi buatan (IB) akan memperpendek calving interval, sedangkan perbaikan mutu genetik disimpulkan performan produksi hasil IB lebih baik daripada kawin alam.
Dinas Peternakan Kabupaten
Pamekasan yang didasarkan SK Bupati Pamekasan Nomor:
188/315/A/441.12/2008 membuat terobosan berupa program Satu Saka (Satu Tahun Satu Kelahiran), tujuannya
adalah memperpendek calving interval menjadi 12 bulan, mengoptimalkan peran inseminasi buatan, dan merubah pola pikir peternak dari usaha sampingan menjadi usaha pokok yang menguntungkan. Intinya adalah mengoptimalkan kemampuan reproduksi pada sapi Madura. Program ini bersinergi dengan program nasional P2SDS 2014 (Program Percepatan Swasembada Daging Sapi Tahun 2014) dan program Jawa Timur Intan Sejati (Inseminasi Buatan Sejuta Akseptor Sapi). Bentuk kegiatan program Satu Saka berupa; pelayanan inseminasi buatan (IB) ++ (plus pendampingan program Satu Saka-Intan Satu Saka), penataan kawin alam (seleksi pejantan pemacek milik rakyat dan memberikan identitas), pemberian pakan yang baik untuk betina produktif agar lebih cepat birahi kembali pasca beranak, sosialisasi program, membangun motto bagi semua inseminator yaitu dengan IB 155 smart menuju IB 158 excellent (Anonimous, 2012).
Hasil dari program tersebut, perkembangan jumlah akseptor inseminasi buatan dari Tahun 2008 sampai dengan Tahun 2012 di Kabupaten Pamekasan, sebagai berikut; pada Tahun 2008 sebanyak 8.617 ekor; Tahun 2009 sebanyak 11.050 ekor, Tahun 2010 sebanyak 13.559 ekor dan pada Tahun 2011 sebanyak 14.126 ekor dan Tahun 2012 sebanyak 15.171 ekor. Sedangkan di Kecamatan Waru Kabupaten Pamekasan perkembangan jumlah akseptor IB pada Tahun 2008 sebanyak 288 ekor; Tahun 2009 sebanyak 312 ekor; Tahun 2010 sebanyak 514 ekor;
Tahun 2011 sebanyak 545 ekor dan Tahun 2012 sebanyak 552 ekor (Dinas Peternakan, 2013).
Walaupun program inseminasi buatan (IB) menunjukkan keberhasilan dilihat dari jumlah akseptor IB dari Tahun ke Tahun selalau meningkat seperti tersebut di atas, kenyataannya
usaha untuk meningkatkan populasi dan mutu genetik sapi melalui IB, kurang mendapat sambutan yang antusias dari peternak. Indikasinya terlihat karena ada sebagian peternak yang mengawinkan sapinya dengan kawin alam. Menurut Kutsiyah (2011) bahkan peternak rela mendatangi pejantan pemacek yang disukainya dengan menggunakan kendaraan atau dituntun, walaupun jaraknya cukup jauh. Peternak beranggapan bahwa hasil IB hampir sama dengan kawin alam atau tidak ada hasil yang mempunyai nilai yang lebih dalam masyarakat.
Penerimaan peternak terhadap inovasi berhubungan dengan persepsi dan sikapnya terhadap inovasi, sedangkan persepsi peternak itu sendiri berhubungan dengan latar belakang peternak masing-masing, karena penerimaan inovasi akan dipengaruhi oleh persepsi dan karakteristik peternak itu sendiri.
Menurut data Dinas Peternakan Kabupaten Pamekasan (2012) Kecamatan Waru jumlah peternak sapi sebanyak 12.348 orang. Dari 12.348 orang peternak tersebut terdapat 522 orang peternak non IB (4,23 persen) yang tersebar di dua belas desa.
Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa masih ada peternak yang bertahan untuk tetap non IB tentu memiliki alasan-alasan tertentu yang patut untuk ditetliti, karena bisa jadi alasan peternak semata-semata bukan karena teknis dan ekonomis. Jadi dalam penelitian ini hanya berfokus pada peternak non IB.
Penelitian bertujuan (1) mendeskripsikan alasan peternak tidak mengikuti program IB, (2) mendeskripsikan persepsi peternak sapi Madura non IB terhadap program IB, (3) mengidentifikasi atribut anak sapi non IB yang menjadi pilihan peternak sapi Madura untuk tetap melakukan
perkawinan sapi dengan non IB,
(4) menganalisis sikap kepercayaan peternak sapi Madura non IB terhadap hasil anak sapi (pedet) IB dan non IB.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan metode survai melalui pendekatan studi kasus. Penentuan sampel penelitian dengan area sampling, besarnya yang terpilih 54 orang peternak dari 522 orang peternak sapi Madura non IB.
Analisis data guna menjawab masalah dan tujuan penelitian yang telah diajukan, dirumuskan digunakan teknik analisis sebagai berikut:
1. Tujuan penelitian yang pertama dan kedua serta ketiga yaitu: data mengenai alasan peternak dan persepsi peternak sapi Madura non IB dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu berupa tabulasi, persentase, tabel frekuensi, rataan skor serta keterangan/
penjelasan secara komprehensip dari peternak serta analisis identifikasi atribut yang dipilih peternak sapi Madura non IB.
2. Menjawab tujuan penelitian keempat, di analisis dengan analisis Model sikap Fishbein.
Analisis Model sikap Fishbein digunakan untuk menunjukkan hubungan diantara pengetahuan produk yang dimiliki konsumen dan sikap terhadap produk berkenaan dengan ciri atau atribut produk (Engel, Blackwel dan Miniard, 1994). Hasil penelitian Analisis Fishbein merupakan suatu gambaran peternak sapi Madura non IB yang berupa sikap dan penilaian positif atau negatif dari anak sapi non IB dan IB.
Rumus Mode Fisbein adalah sebagai berikut:
Ao =
Dimana:
Ao : Sikap terhadap produk
bi : Kekuatan kepercayaan konsumen terhadap atribut ke-i
ei : Evaluasi konsumen terhadap atribut ke-i
n : Jumlah atribut yang menonjol Variabel ei menggambarkan evaluasi atribut anak sapi non IB dan IB yang diukur secara khas pada skala evaluasi lima yaitu dari sangat penting hingga sangat tidak penting.
Variabel bi menunjukkan seberapa kuat peternak percaya bahwa anak sapi non IB dan IB yang diteliti memiliki atribut yang disenangi. Skala pengukuran bi juga sama dengan ei yaitu lima, namun variabel penilaiannya berbeda yaitu
sangat setuju hingga tidak setuju. Variabel Ao menunjukkan penilaian sikap responden terhadap atribut anak sapi non IB dan IB yang merupakan hasil perkalian set iap skor kekuatan kepercayaan dengan skor evaluasi atributnya.
Variabel Ao menunjukkan penilaian sikap responden terhadap atribut anak sapi non IB dan IB yang merupakan hasil perkalian setiap skor kekuatan kepercayaan dengan skor evaluasi atributnya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Asal -Usul Pejantan Tidak Jelas
Asal-usul pejantan menjadi pertimbangan yang penting bagi peternak non IB artinya bahwa peternak non IB akan mengawinkan sapi betina dengan pejantan yang telah diketahui sifat keunggulannya dengan maksud anak yang dilahirkan mempunyai sifat keunggulan seperti pejantan yang mengawininya (bapaknya). Pada perkawinan secara alami asal usul pejantan telah diketahui dan dapat dilihat sifat keunggulannya sedangkan
perkawinan IB asal usul pejantan tidak jelas sehingga sifat keunggulan pejantan dipertanyakan peternak non IB, walaupun IB telah dipahami oleh peternak non IB, yaitu dengan IB dapat memberi keuntungan Dalam melaksanakan inseminasi buatan (IB) pada seekor sapi betina; tangan kiri dimasukkan pada anus dan tangan kanan memasukkan “insemination gun”
melalui alat kelamin betina. Dengan melihat pelaksanaan IB tersebut peternak non IB menjadi kasihan dan takut sapi betina menjadi rusak, karena infeksi.
Infeksi /peradangan pada alat reproduksi khususnya rahim,dapat menjalar ke rongga panggul hingga menimbulkan radang.
Radang panggul terjadi jika kuman-kuman menembus rongga perut, bersemayam disaluran telur dan menyebabkan penyumbatan. Saluran telur tersumbat, menyebabkan sel telur tidak bisa keluar dan menyebabkan ketidaksuburan. Akibatnya sapi betina sulit jadi bunting.
Persepsi Peternak Sapi Madura Non IB Terhadap Program IB
Persepsi peternak terhadap inseminasi buatan (IB) merupakan tanggapan para peternak sapi Madura non IB terhadap program IB, yang dilihat dari tingkat pengetahuan peternak, minat peternak dan penilaian peternak sapi Madura non IB terhadap program inseminasi buatan sebagai suatu inovasi bagi mereka.
Persepsi peternak sapi Madura non IB terhadap program inseminasi buatan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Persepsi Peternak Sapi Madura Non IB terhadap Program IB
Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2013 Dari Tabel 1 nampak bahwa peternak sapi Madura non IB mempersepsikan inseminasi buatan antara kurang baik dengan baik adalah seimbang yaitu masing-masing sebesar 40,00 % dan 37,00%. Sedangkan 23,00
% peternak non IB mempersepsikan IB cukup baik. Hal ini berhubungan pengetahuan, minat dan penilaian peternak non IB terhadap program IB.
tergolong baik (65,96%), disebabkan karena peternak sering mendengar tentang IB dari peternak lain maupun dari penyuluh dan inseminator yang melakukan kegiatan penyuluhan yang diadakan sebulan sekali. Dengan demikian peternak non IB selain memahami arti, juga memahami manfaat tentang inseminasi buatan, yang meliputi: IB dapat meningkatkan populasi dan mutu sapi, menghemat biaya pemeliharaan pejantan, dapat mencegahan penularan penyakit, dapat mengatur jarak kelahiran dan
menghindari kecelakan fisik saat dilakukan perkawinan secara alam.
Walaupun peternak non IB mempunyai pengetahuan yang baik sebesar 65,96%, minat peternak non IB terhadap IB yang tergolong kurang baik (49,29%) disebabkan karena peternak melihat bahwa anak sapi hasil IB pertumbuhan kurang baik dan tidak sesuai yang diharapkan, pemacek banyak tersedia disekitar peternak.
Penilaian peternak sapi Madura non IB terhadap program IB dalam penelitian ini terdiri dari lima butir, yaitu:
1) persepsi peternak terhadap keuntungan relatif, 2) persepsi peternak terhadap kesesuaian (kondisi adat istiadat, kebutuhan), 3) persepsi peternak terhadap kesederhanaan, 4) persepsi peternak terhadap dapat dicoba suatu inovasi, 5) persepsi peternak terhadap diamatinya suatu inovasi. Persepsi peternak non IB terhadap inovasi teknologi inseminasi buatan dapat disajiakan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Penilaian Peternak Terhadap Ciri-Ciri Inovasi Inseminasi Buatan
Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2013
Berdasarkan pada Tabel 2 terlihat bahwa responden menilai kurang baik terhadap program IB sebesar 64,32%.
Penilaian kurang baik peternak non IB terhadap keuntungan relatif (64,30%) karena peternak non IB menilai bahwa hasil penjualan anak hasil IB lebih rendah sehingga secara ekonomis anak sapi hasil IB tidak menguntungkan.
Berdasarkan pada Tabel 3, sebagian besar responden (82,50%) menyatakan bahwa menggunakan inseminasi buatan kurang baik dibandingkan dengan kawin alam, hal ini:: 1) tidak sesuai adat istiadat karena menunjukkan bahwa program IB tidak konsisten terhadap nilai budaya serta bertentang adat kebiasaan peternak, 2) tidak sesuai kebutuhan masyarakat karenai menunjukkan bahwa program IB menghasilkan atribut-atribut anak yang tidak sesuai dengan yang diharapkan peternak.
Dalam hal kesederhanaan menggunakan inseminasi buatan (IB), sebagian responden (55,96%) menilai rumit. Hal ini disebabkan karena adanya kendala teknis yaitu tidak semua orang bisa melakukan inseminasi, karena menjadi seorang inseminator harus melalaui pendidikan untuk mendapatkan SIMI (Surat Ijin Melakukan Inseminasi).
Berdasarkan pada Tabel 2, penilaian sebagian besar responden (52,77%) pada kategori kurang baik terhadap triabilitas (dapat dicoba dalam sekali) inseminasi buatan disebabkan karena tidak semua orang dapat mencoba dalam melakukan inseminasi pada sapinya.dan inseminator dalam melakukan satu kali inseminasi belum tentu berhasil menjadi bunting, sehingga peternak kembali menggunakan pejantan.
Menurut Toelihere (1985) bahwa tingkat keberhasilan kebuntingan dipengaruhi beberapa faktor yaitu: 1) kondisi sapi betina, 2) kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan, 3) penyakit kandungan,
4) anatomi alat reproduksi, 5) kualitas
“semen”, 6) waktu yang tepat saat melakukan inseminasi, dan 7) ketrampilan inseminator dalam melakukan inseminasi dan dalam mendeteksi sapi birahi.
Berdasarkan Tabel 2, nilai hasil pengamatan sebesar 60,62% responden menilai kurang baik, hal ini disebabkan karena peternak non IB telah melihat bahwa anak sapi hasil IB kualitasnya rendah apabila dibandingkan dengan anak sapi hasil non IB. Menurut Kurnia (2000) suatu inovasi yang hasilnya mudah diamati akan makin cepat diterima oeh masyarakat, dan sebaliknya inovasi yang sukar diamati hasilnya, akan lama diterima oleh masyarakat.
Atribut Yang Menjadi Pilihan Peternak Sapi Madura Non IB
Peternak non IB berharap anak sapi yang dilahirkan dari pemacek yang dipilihnya sesuai yang diharapkan dan mempunyai cir-ciri: tanduk melengkung ke dalam, punuk bulat besar, alis hitam/celak tebal, bergelambir, ada kantong rusuk, ada punuk bawah berlipat ke dalam tipis, leher pendek dan lebar, bulu warna merah bata, kepala pendek dan lebar, mata sipit dan telinga kecil seperti daun bambu, kaki panjang, terdapat garis hitam di punggung.”
Pilihan ciri-ciri seperti tersebut di atas, peternak non IB terobsesi oleh sapi
“sonok”, karena di wilayah Kecamatan Waru Kabupaten Pamekasan merupakan pusat pengembangan seni budaya sapi
“sonok”. “Sonok” merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional masyarakat Madura yang mementingkan keindahan, keserasian dan keterampilan sapi Madura betina. Tujuannya untuk memperoleh bibit sapi Madura dilihat dari bentuk eksteriur. Sehubungan itu maka Pemerintah Kabupaten Pamekasan melalui Dinas Peternakan melakukan
pembinaan dengan membentuk pusat pembibitan perdesaan (village breeding centre).
Analisis Sikap Multiatribut Fishbein Model Multiatribut bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan produk yang dimiliki konsumen dengan sikap terhadap produk berkenaan dengan ciri atau atribut produk. Analisis penilaian sikap peternak dilakukan terhadap anak sapi hasil non IB dan anak sapi hasil IB, masing- masing
hasilnya diinterpretasikan ke dalam lima kelas skala penilaian. Angka tertinggi untuk menentukan interpretasi adalah 52 yaitu nilai jawaban tertinggi yaitu 2 yang dipilih responden untuk tiga belas atribut.
Sedangkan angka terendah adalah -26, yaitu jika responden memilih angka -2 untuk seluruh atribut. Banyaknya kelas interpretasi yang akan dibentuk adalah lima kelas. Menurut (Adityo, 2006) hasil rentangan nilainya yaitu:
R =52−(−52)
5 = 20,80 Jadi skala penilaiannya adalah 52 – 31,20 = sangat baik
<31,20 – 10,40 = baik
<10,40 – (-10,40) = biasa
<-10,40 – (- 31,20) = buruk
<-31,20 – (-52) = sangat buruk Hasil analisis sikap peternak terhadap anak sapi hasil non IB dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Analisis Evaluasi dan Kepercayaan Peternak Non IB Terhadap Anak Sapi Hasil Non IB dan Anak Sapi Hasil IB
Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2013
Tabel 3 memperlihatkan bahwa interpretasi penilaian responden terhadap anak sapi hasil non IB adalah baik dengan nilai 27,22. Secara keseluruhan atribut-atribut yang terdapat pada anak sapi hasil non IB dinilai baik oleh peternak non IB, hal ini dapat dilihat dari hasil penilaian evaluasi dan kepercayan peternak non IB terhadap masing-masing atribut.
Data pada Tabel 4 didapatkan interpretasi penilaian responden terhadap anak sapi hasil IB adalah biasa dengan nilai total 10,09. Jika dibandingkan dengan anak sapi hasil non IB, nilai interpretasi anak sapi hasil IB memiliki total nilai dibawah anak sapi hasil non IB. Hal ini karena teknologi inseminasi buatan belum mampu menghasilkan atribut-atribut yang dikendaki oleh peternak sapi non
IB. Permaslahan ini harus dipandang dengan cukup serius oleh Balai Inseminasi Besar Singosari Malang.
Balai Inseminasi Besar Singosari Malang harus lebih mampu meningkatkan kualitas dan menghasilkan atribut-atribut yang terdapat pada anak sapi hasil IB yang dikehendaki peternak non IB, pada akhirnya dapat meningkatkan interprestasi penilaian peternak non IB terhadap program IB.
Penilaian Sikap Peternak Non IB Terhadap Masing-Masing Atribut Anak Sapi Hasil Non IB dan Anak Sapi Hasil IB.
Untuk penilaian masing-masing atribut dapat diinterpretasikan pula dengan menggunakan rumus rentang skala yang sama namun dengan nilai skala yang berbeda. Nilai tertinggi diperoleh jika responden memberikan
skor maksimal yaitu 2 untuk evaluasi dan kepercayaan pada satu atribut yaitu nilai 2 untuk evaluasi dan kepercayaan pada satu atribut yaitu nilainya 4. Nilai terendah diperoleh jika responden memberikan (-2) dan 2 untuk masing- masing variabel pada satu atribut yaitu nilainya (-4). Banyaknya kelas interpretasi yang akan dibentuk adalah empat kelas. Menurut Adityo (2006) hasil rentangan nilainya yaitu:
R =4−(−4)
5 = 1,6 Jadi skala penilaiannya adalah:
4,00 – 2,40 = sangat baik
<2,40 – 0,80 = baik
<0,80 – (-2,40) = biasa
<-2,40 – (- 4,00) = buruk
Hasil analisis Model Fishbein dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Sikap Obyek Model Fishbein Beserta Interprestasi Peternak Non IB Terhadap Anak Sapi Hasil Non IB dan Anak Sapi Hasil IB
Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2013 Responden memiliki penilaian sangat baik untuk atribut bangsa dan genetik pada anak sapi hasil non IB dengan nilai sikap yaitu 3,18 lebih besar dibandingkan pada anak sapi hasil IB nilai sikap 1,69 dengan penilaian biasa.
Tingkat evaluasi atau kepentingan responden terhadap anak sapi baik yaitu
sebesar 1,59 berarti responden dalam memilih sapi berdasarkan atribut bangsa dan genetik merupakan faktor penting dengan peringkat pertama. Untuk tingkat kepercayaan responden terhadap atribut bangsa dan genetik pada anak sapi hasil non IB sebesar 2,00 sedangkan pada anak sapi hasil IB sebesar 1,59. Hal ini terjadi,
responden percaya bahwa anak sapi hasil non IB lebih baik dibandingkan anak sapi IB, karena pejantan yang dipergunakan dalam perkawinan non IB telah diketahui keunggulan, sehingga sifat-sifat yang dimiliki dapat diturunkan kepada keturunannya. Sedangkan pada perkawinan dengan IB, pejantan yang diambil “semen”nya tidak diketahui dengan pasti.
Responden pada penilaian sikap terhadap atribut ukuran badan panjang, dalam dan rusuk panjang sebesar 2,57 adalah sangat baik pada anak sapi hasil non IB, sedangkan pada anak sapi hasil IB sebesar 1.07 adalah baik. Berdasarkan nilai evaluasi terhadap ukuran badan panjang, dalam dan rusuk panjang sebesar 1,34, berati responden dalam memilih sapi terhadap ini pada peringkat kedua. Nilai ini menunjukan bahwa responden memandang ukuran badan panjang, dalam dan rusuk panjang hal yang penting dalam memilih anak sapi.
Berdasarkan tingkat kepercayaan responden, anak sapi hasil non IB memperoleh skor sebesar 1,92 sedangkan anak sapi hasil IB memperoleh skor 0,81 untuk atribut ukuran badan panjang, dalam dan rusuk panjang. Ini memperlihatkan responden memiliki kepercayaan yang baik pada ukuran badan panjang, dalam dan rusuk panjang dari anak sapi hasil non IB.
Responden berharap dengan ukuran badan panjang, dalam dan rusuk panjang, anak sapi mempunyai kapasitas tubuh yang besar. Kapasitas tubuh yang besar memungkinkan sapi dapat menampung sejumlah makanan dan berbagai jenis makanan dengan volume tinggi yang diperlukan sebagai bahan baku pembentukan energi.
Penilaian sikap responden terhadap atribut pertumbuhan sebesar 2,88 pada anak sapi hasil non IB adalah sangat baik dan1,01 pada anak sapi hasil IB adalah baik, artinya pertumbuhan anak sapi hasil non IB lebih baik dibandingkan
anak sapi hasil IB. Berdasarkan nilai evaluasi atribut pertumbuhan badan pada anak sapi hasil non IB maupun pada anak sapi hasil IB menempati peringkat kedua sebesar 1,47, hal ini menjadi pertimbangan yang penting bagi peternak dalam memilih anak sapi.
Untuk tingkat kepercayaan responden terhadap atribut pertumbuhan pada anak sapi hasil non IB sebesar 1,96 dan pada anak sapi hasil IB sebesar 0,69, hal ini berkaitan dengan harapan responden akan pertumbuhan yang cepat, jika pertumbuhan cepat, maka diharapkan peternak memperoleh pendapatan yang tinggi pula.
Responden memberikan nilai sikap yang baik untuk atribut dada dalam dan lebar, baik anak sapi hasil non IB maupun anak sapi hasil IB masing- masing dengan nilai sebesar 2,25 dan 0,86. Untuk nilai tingkat evaluasi atau kepentingan responden terhadap atribut dada dalam dan lebar sebesar 1,23 berarti responden dalam memilih sapi berdasarkan atribut pada urutan kesembilan. Sedangkan nilai tingkat kepercayaan responden, anak sapi hasil non IB sebesar 1,83 dan anak sapi hasil IB sebesar 0,70, berarti responden menilai bahwa atribut dada dalam dan lebar anak sapi hasil non IB lebih baik daripada anak sapi hasil IB. Responden berharap dengan dada dalam dan lebar, memungkinkan ruang dada yang lebar akan memberikan tempat yang lapang bagi perkembangan jantung dan paru- paru, sehingga jantung dan paru-paru akan bekerja optimal.
Responden memberikan penilaian sikap sebesar 2,70 adalah sangat baik terhadap atribut kaki yang kuat dan kokoh pada anak sapi hasil non IB, sedangkan anak sapi hasil IB memiliki penilaian sikap sebesar 0,88 adalah baik.
Nilai hasil evaluasi pada atribut kaki kuat dan kokoh sebesar 1,39 berarti responden dalam memilih sapi dengan
mempertimbangkan atribut kaki kuat dan kokoh pada urutan ketiga.
Penilaian tingkat kepercayaan responden pada anak sapi hasil non IB memberikan nilai 1,94 dan menempati peringkat keempat, sedangkan pada anak sapi hasil IB dengan nilai 0,64 menempati peringkat keenam, berarti anak sapi hasil non IB kakinya lebih kuat dan kokoh bila dibandingkan anak sapi hasil IB. Responden percaya bahwa kaki yang kuat dan kokoh sangat penting guna menopang berat badan, sehingga keempat kakinya akan menempati keempat titik sudut dan sapi tidak jatuh yang dapat menimbulkan kecacatan maupun keguguran atau kematian fetoes pada sapi yang bunting.
Responden memberikan nilai sikap sebesar 2,20 atribut tubuh berisi pada anak sapi hasil non IB dan 0,79 untuk atribut tubuh berisi (padat) pada anak sapi hasil IB. Nilai sikap yang diberikan responden baik anak sapi hasil non IB maupun anak sapi hasil IB adalah baik.
Berdasarkan penilaian evaluasi pada atribut tubuh berisi (padat) adalah sebesar 1,25 berarti responden dalam memilih sapi berdasarkan atribu ini pada peringkat kedelapan.
Penilaian tingkat kepercayaan responden memberikan nilai 1,76 untuk anak sapi hasil non IB dan 0,63 untuk anak sapi hasil IB, berarti responden percaya bahwa anak sapi hasil non IB tubuhnya lebih berisi (padat) dibandingkan dengan anak sapi hasil IB.
Harapan responden dengan memilih atribut tubuh berisi (padat), sebagai indikator bahwa anak sapi memiliki pertumbuhan yang baik, karena pencernaan juga baik.
Responden memberikan penilaian sikap biasa terhadap atribut tidak ada parasit ekternal. Nilai sikap anak sapi hasil non IB adalah sebesar 0,11 dan untuk anak sapi hasil IB sebesar 0,02.
Nilai evaluasi pada atribut tidak ada parasit eksternal sebesar 0,24 berarti
reponden memilih sapi berdasarkan atribut ini merupakan peringkat yang paling rendah. Berdasarkan penilaian kepercayaan responden pada atribut tidak ada parasit eksternal pada anak sapi hasil non IB sebesar 0,46 dan pada anak sapi hasil IB sebesar 0,07, ini berarti dalam memilih atribut sapi, responden kurang begitu mementingkan atribut tidak ada parasit eksternal, karena responden percaya bahwa, ada atau tidak adanya parasit eksternal berhubungan dengan pemeliharaan sapi, khususnya perawatan dalam memandikan sapi.
Manfaat memandikan sapi adalah membersihkan kotoran-kotoran yang melekat pada kulit (debu, daki, tanah), sehingga kelenjar keringat akan berfungsi dan menjadikan peredaran darah menjadi lancar. Kulit yang bersih tidak memungkinkan berkembangnya parasit eksternal seperti kudis atau penyakit kulit lainnya. Maka sapi perlu dimandikan minimal dua kali dalam seminggu.
Responden memberikan penilaian sikap sebesar 2,49 sangat baik terhadap atribut tegap pada anak sapi hasil non IB, sedangkan anak sapi hasil IB adalah baik sebesar 0,75.
Tingkat evaluasi atau tingkat kepentingan responden terhadap atribut tegap adalah sebesar 1,32, berarti responden dalam memilih sapi berdasarkan atribut tegap pada peringkat enam. Sedangkan berdasarkan tingkat kepercayaan responden pada anak sapi hasil IB sebesar 1,89 dan pada anak sapi hasil IB sebesar 0,57. Ini memperlihatkan bahwa anak sapi hasil non IB lebih tegap dibandingkan anak sapi hasil IB. Hal ini menurut responden berhubungan dengan tingkah laku dari sapi.
Responden memiliki penilaian sikap sangat baik sebesar 2,40 terhadap atribut bernafas tenang dan teratur pada anak sapi hasil non IB, sedangkan anak sapi hasil IB responden memberikan penilaian baik sebesar 0,76. Pada
penilaian evaluasi atau tingkat kepentingan responden terhadap atribut bernafas dengan tenang dan teratur sebesar 1,30, berarti responden dalam memilih sapi berdasarkan atribut ini pada peringkat keenam.
Penilaian tingkat kepercayaan responden, anak sapi hasil non IB memperoleh skor 1,82 dan anak sapi hasil IB memperoleh skor 0,76, berarti responden percaya bahwa anak sapi non IB lebih baik dalam hal bernafas dibandingkan anak sapi hasil IB. Hal ini berhubungan dengan atribut dada lebar dan dalam.
Responden memberikan penilaian sikap baik untuk atribut memamah biak pada anak sapi hasil IB maupun anak sapi hasil IB dengan masing-masing nilai 2,32 dan 0,72. Sedangkan penilaian evaluasi atau tingkat kepentingan responden terhadap atribut memamah biak sebesar 1,28, berarti responden dalam memilih sapi berdasarkan atribut ini adalah pada peringkat ketujuh.
Berdasarkan penilaian tingkat kepercayaan terhadap atribut memamah biak pada anak sapi hasil non IB sebesar 1,81 berarti atribut memamah biak anak sapi hasil non IB lebih baik daripada anak sapi hasil IB. Responden berharap dengan memilih atribut memamah biak sebesar 0,56, berarti responden percaya bahwa cara memamah biak anak sapi hasil non IB lebih dibandingkan anak sapi hasil IB. Responden berharap sapi yang memamah biak dengan adalah sehat. Hal ini akan berpengaruh pada proses biologis yaitu metabolisme.
Responden memberikan penilaian sikap baik untuk atribut pembuangan kotoran pada anak sapi hasil non IB sebesar 2,32 dan pada anak sapi hasil IB sebesar 0,72. Berdasarkan penilaian evaluasi terhadap atribut pembuangan kotoran sebesar 1,17, berarti responden dalam memilih sapi berdasarkan atribut ini pada peringkat kesebelas.
Pada tingkat kepercayaan responden, anak sapi hasil non IB memperoleh nilai 1,65 dan pada anak sapi hasil IB sebesar 0,61,berarti responden percaya anak sapi hasil non IB dalam pembuangan kotoran yang berupa feses dan urine lebih lancar daripada anak sapi hasil IB. Responden memiliki harapan dengan melihat feses pada pantat sapi dan keluarnya urine, peternak akan dapat mengetahui sapi itu sakit atau sehat.
Responden memberikan penilaian sikap baik untuk atribut mata cerah dan tajam pada anak sapi hasil non IB sebesar 2,02 dan pada anak sapi hasil IB sebesar 0,78. Pada penilaian evaluasi terhadap mata cerah dan tajam sebesar 1,21, berati responden dalam memilih atribut ini apa peringkat kesepuluh. Sedangkan penilaian tingkat kepercayaan responden terhadap atribut mata cerah dan tajam pada anak sapi hasil non IB sebesar 1,67 dan pada anak sapi hasil IB sebesar 0,65, berarti responden percaya bahwa anak sapi hasil non IB matanya lebih cerah dan tajam. Dengan melihat atribut mata cerah dan tajam, responden berharap sapi yang dipilih adalah sapi yang sehat.
Responden memberikan penilaian sikap biasa terhadap atribut bulu halus dan mengkilat pada anak sapi hasil non IB sebesar 0,15 dan pada anak sapi hasil IB sebesar 0,05. Penilaian evaluasi atau tingkat kepentingan respponden terhadap atribut ini sebesar 0,30, berarti responden dalam memilih anak sapi berdasarkan bulu halus dan mengkilat pada peringkat keduabelas.
Berdasarkan penilaian tingkat kepercayaan responden terhadap bulu halus dan mengkilat pada anak sapi hasil non IB sebesar 0,50, sedangkan pada anak sapi hasil IB sebesar 0,17, berarti anak sapi hasil non IB bulunya lebih halus dan mengkilat dibandingkan anak sapi hasil IB. Harapan responden dengan memilih bulu yang halus dan mengkilat dapat diartikan sapi yang sehat.
KESIMPULAN
Alasan peternak non IB sapinya tidak dikawinkan dengan IB yaitu (a) asal-usul pejantan tidak jelas keturunannya, (b) sapinya takut rusak karena anus dirogoh dengan tangan dan alat kelamin dimasukkan alat inseminasi saat melakukan inseminasi. Persepsi peternak sapi Madura non IB mempersepsikan program IB kurang baik, hal ini program IB yang kurang baik. Atribut yang menjadi pilihan peternak sapi Madura non IB adalah (a) tanduk melengkung ke dalam, (b) punuk bulat besar, (c) alis hitam/celak tebal, (d) bergelambir, (e) ada kantong rusuk, (f) ada punuk bawah berlipat ke dalam tipis, (g) leher pendek dan lebar, (h) mata sipit, (i) telinga kecil seperti daun bambu, (j) kaki panjang kuat dan kokoh, (k) ada garis hitam dipunggung. Penilaian sikap peternak sapi Madura non IB terhadap anak sapi hasil non IB adalah baik, sedangkan anak hasil IB adalah biasa.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2012. Program Dinas Peternakan Kabupaten Pamekasan
http://disnak.pamekasankab.go.id/
index.php/component/conten/artic le/78-demo-section/demo-
category/126-program-unggulan.
Diunduh pada hari senin, 4 Pebruari 2013 pukul 09.15.
Adityo, 206. Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Festea Tekita dan Teh Sosro Kemasan Botol Di Kota Bogor. Program
Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Dinas Komunikasi dan Informatika Jatim 2011. Ketenagaankerjaan:Di http//www.jatimprovgo.id/index.
php?option=comcontent&tlsk=vie w&id=504&Itemid=1. Di unduh pada hari sabtu, 25 Mei 2013 pukul 19.00.
Engel, James F, Blackwel, Roger D, dan Miniard, Paul W. 1994. Perilaku Konsumen. Edisi Enam, Binaputra Aksara. Jakarta.
Kurnia, G. 2000. Keterkaitan Penelitian dan Penyuluhan Dalam Perspektif Penyebaran Inovasi Pertanian.
Disampaikan Pada Lokakarya Nasional Penyebaran Inovasi Pertanian Era Otonomi Daerah.
Bogor.
Kutsiyah, F. 2012. Kelembagaan dan Pembibitan Sapi Potong di Pulau Madura. Cetakan 1, Penerbit Karya Putra Darwati. Bandung.
Soehadji. 1992. Kebijakan Pengembangan Ternak Potong di Indonesia Tinjauan Khusus Sapi Madura. Pros. Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan Pengembangan Sapi Madura. Hal.
1 – 2.
Toelihere, M.R. 1985. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Edisi Ke-2, Angkasa . Bandung.
PROFITABILITAS USAHA ITIK PEDAGING DI DESA JULUK KECAMATAN SARONGGI KABUPATEN SUMENEP
Ir. A. Yudi Heryadi1) Lina Budiarsih2) Fakultas Pertanian Universitas Madura
E-mail: [email protected] ABSTRAKSI
Usaha peternakan itik semakin diminati sebagai alternatif sumber pendapatan bagi masyarakat di pedesaan maupun di sekitar perkotaan. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan strategis yang lebih memihak pada usaha peternakan itik, antara lain adalah semakin terpuruknya usaha peternakan ayam ras skala kecil dan munculnya wabah penyakit flu burung yang sangat merugikan peternakan ayam ras maupun ayam kampung.
Di samping itu, semakin terbukanya pasar produk itik ikut mendorong berkembangnya peternakan itik di Indonesia. Ternak itik mempunyai beberapa keunggulan, itik memiliki sifat lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan karena tidak terpengaruh iklim, lebih mudah dalam perawatan karena tidak rentan terhadap penyakit, pemeliharaannya lebih organik, tidak memerlukan pakan khusus, dan modal yang diperlukan untuk membuka usaha peternakan itik pun relatif kecil. Penelitian ini dilaksanakan di sentra peternakan itik rakyat di desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep mulai tanggal 01 Juni sampai tanggal 30 Juni 2013. Sampel penelitian yang digunakan sebagai media penelitian adalah peternak itik pedaging dengan pengambilan sampel secara Two Stage Cluster Sampling, yaitu mengambil sampel secara cluster berdasarkan skala pemeliharaan peternak dengan 2 (dua) tahapan atau Two Stage.
Usaha ternak itik pedaging di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep, diketahui jumlah rata-rata pendapatan bersih usaha tani (NFI) adalah Rp.
3.712.430 (Tiga juta tujuh ratus dua belas ribu empat ratus tiga puluh rupiah), Nilai profitabilitas atau Gross Profit Margin (GPM) adalah = 168,441%, besarnya nilai laba yang memadai dalam usaha tani (ROI) adalah = 37,094% , sedangkan nilai bunga deposito Bank Indonesia (BI) saat penelitian adalah 6,5% pertahun atau 0,7222% per produksi (6,5% /9 kali produksi), atau ROI > nilai bunga deposito bank. Hal ini menunjukkan bahwa usaha ternak itik pedaging di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep mampu menghasilkan laba yang memadai.
Kata Kunci : Profitabilitas, Itik Pedaging
PENDAHULUAN
Perkembangan usaha peternakan unggas di Indonesia relatif lebih maju dibandingkan usaha ternak yang lain. Hal ini tercermin dari kontribusinya yang cukup besar dalam memperluas lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan terutama sekali dalam pemenuhan kebutuhan makanan bernilai gizi tinggi. Salah satu usaha perunggasan yang cukup berkembang di Indonesia
adalah usaha ternak itik. Meskipun tidak sepopuler ternak ayam, itik mempunyai potensi yang cukup besar sebagai penghasil telur dan daging. Jika dibandingkan dengan ternak unggas yang lain, ternak itik mempunyai kelebihan diantaranya adalah memiliki daya tahan terhadap penyakit. Oleh karena itu usaha ternak itik memiliki resiko yang relatif lebih kecil, sehingga sangat potensial untuk dikembangkan dan diharapkan usaha ternak itik tidak saja mampu
menjadi usaha sampingan, namun juga sebagai penghasil pendapatan tambahan bagi keluarga.
Usaha peternakan itik semakin diminati sebagai alternatif sumber pendapatan bagi masyarakat di pedesaan maupun di sekitar perkotaan. Hal ini disebabkan oleh beberapa kondisi lingkungan strategis yang lebih memihak pada usaha peternakan itik, antara lain adalah semakin terpuruknya usaha peternakan ayam ras skala kecil dan munculnya wabah penyakit flu burung yang sangat merugikan peternakan ayam ras maupun ayam kampung. Di samping itu, semakin terbukanya pasar produk itik ikut mendorong berkembangnya peternakan itik di Indonesia.
Ternak itik mempunyai beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan ternak ayam. Menurut Murtidjo (2002), itik memiliki sifat lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan karena tidak terpengaruh iklim, lebih mudah dalam perawatan karena tidak rentan terhadap penyakit, pemeliharaannya lebih organik, tidak memerlukan pakan khusus, dan modal yang diperlukan untuk membuka usaha peternakan itik pun relatif kecil. Suharno dan Amri (2002) menyatakan bahwa, dalam pemeliharaan itik ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu: (1) sanitasi dan tindakan preventif, sanitasi kandang mutlak diperlukan dalam pemeliharaan itik dan tindakan preventif (pencegahan penyakit) perlu diperhatikan sejak dini untuk mewaspadai timbulnya penyakit;
(2) pengontrol penyakit, dilakukan setiap saat dan secara hati-hati serta menyeluruh. (3) pemberian pakan, pemberian pakan itik harus disesuaikan dengan fasenya.
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di sentra peternakan itik rakyat di desa
Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep mulai tanggal 01 Juni sampai tanggal 30 Juni 2013.
Jumlah peternak itik di desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep, yaitu 64 orang peternak.
Sampel penelitian yang digunakan sebagai media penelitian adalah peternak itik pedaging dengan pengambilan sampel secara Two Stage Cluster Sampling, (Nazir, 2005) yaitu mengambil sampel secara cluster berdasarkan skala pemeliharaan peternak dengan 2 (dua) tahapan atau Two Stage.
Tahap1. Penentuan skala usaha yaitu :
- Skala usaha 100 ekor 14 peternak - Skala usaha 200 ekor 10 peternak - Skala usaha 300 ekor 6 peternak - Skala usaha 400 ekor 14 peternak - Skala usaha 500 ekor 10 peternak - Skala usaha lebih dari 500 ekor 8
peternak..
Sampel yang digunakan (f1) adalah peternak dengan skala usaha 300 – 500 ekor.
Tahap 2. Penentuan sampel peternak (f2) yaitu 50% atau f2 = 0,5 sehingga sampel yang digunakan yaitu:
n1 = 0,5 x 6 = 3 orang peternak dengan skala usaha 300 ekor
n2 = 0,5 x 14 = 7 orang peternak dengan skala usaha 400 ekor
n3 = 0,5 x 10 = 5 orang peternak dengan skala usaha 500 ekor
Besar sampel yang digunakan (n) = 3 + 7 + 5 = 15 peternak.
Untuk memperoleh data, baik data primer maupun data sekunder dilakukan dengan cara :
1. Wawancara : Metode ini dilakukan untuk memperoleh data primer dengan melakukan wawancara secara langsung kepada para peternak itik pedaging di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep
2. Observasi : Metode ini dilakukan untuk memperoleh data pendahuluan mengenai keadaan lokasi yang akan
diteliti dengan melakukan survei langsung ke lokasi penelitian
3. Studi Kepustakaan : Yaitu dengan cara mencari literatur mengenai usaha ternak itik sebagai data sekunder
Analisis Data
Profitabilitas usaha ternak itik tercermin dari tingkat pendapatan yang diperoleh, nilai kemampuan input (modal) yang dikeluarkan untuk menghasilkan output (pendapatan) dan nilai laba yang memadai.
1. Untuk mengetahui tingkat pendapatan yang diperoleh dengan menggunakan rumus:
π = TR – TC , dengan kaidah keputusan Jika TR > TC, maka usaha ternak itik yang dilakukan mampu menghasilkan pendapatan.
2. Untuk mengetahui nilai profitabilitasyaitu kemampuan input
(modal) yang dikeluarkan untuk menghasilkan output (pendapatan) pada usaha Itik Pedaging di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep, dengan menggunakan rumus:Gross Profit Margin (GPM) = (Penjualan - HPP) / Penjualan
Atau
Gross Profit Margin (GPM) = Laba Kotor / Penjualan x 100 %
3. Untuk mengetahui nilailaba yang memadaipada usaha Itik Pedaging di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep, dengan menggunakan rumus Return on Investmen (ROI) :
ROI = Laba Bersih / Jumlah Investasi x 100 % , dengan kaidah keputusan jika nilai Return on Investmen > Tingkat bunga deposito, maka usaha ternak itik yang dilakukan mampu menghasilkan laba yang memadai.
HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL
Total Pengeluaran Usaha Tani (TFC = Total Farm Cost) Tabel 1. Total Pengeluaran Usaha Tani (TFC)
No Nama ∑ Ternak Biaya Tetap Biaya Variabel ∑Pengeluaran 1 Moh. Juhari 500 ekor Rp. 127.778 Rp. 6.341.100 Rp. 6.468.878 2 Alimakki 400 ekor Rp. 107.778 Rp. 5.236.680 Rp. 5.344.458 3 Hartono 300 ekor Rp. 91.667 Rp. 3.972.260 Rp. 4.063.927 4 H. Hasan 500 ekor Rp. 132.778 Rp. 6.403.350 Rp. 6.536.128 5 Mudahnan 400 ekor Rp. 103.056 Rp. 5.137.680 Rp. 5.240.736 6 Su’eb 500 ekor Rp. 139.772 Rp. 6.340.850 Rp. 6.480.572 7 Abd. Latif 300 ekor Rp. 82.500 Rp. 4.010.010 Rp. 4.092.510 8 Fathullah 400 ekor Rp. 105.556 Rp. 5.137.680 Rp. 5.243.236 9 Alwi 400 ekor Rp. 110.000 Rp. 5.138.680 Rp. 5.248.680 10 Safiuddin 400 ekor Rp. 101.944 Rp. 5.138.180 Rp. 5.240.124 11 Zakariyah 500 ekor Rp. 129.722 Rp. 6.216.100 Rp. 6.345.822 12 Mistari 300 ekor Rp. 86.111 Rp. 3.859.760 Rp. 3.945.871 13 Moh. Rahem 400 ekor Rp. 107.778 Rp. 5.237.680 Rp. 5.345.458 14 Ansori 500 ekor Rp. 127.778 Rp. 6.341.150 Rp. 6.468.928 15 Haikal 400 ekor Rp. 110.556 Rp. 5.187.680 Rp. 5.298.236
Jumlah Rp 1.664.722 Rp 79.698.840 Rp. 81.363.562 Jumlah rata-rata Rp 110.981 Rp 5.313.256 Rp 5.424.237
Total pengeluaran usaha tani, atau disebut sebagai Total Farm Cost (TFC) merupakan keseluruhan biaya yang dikeluarkan oleh petani/peternak dalam membiayai seluruh usaha tani yang dilakukannya. Ada dua jenis biaya yang menjadi pengeluaran petani/peternak dalam usahanya, yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang hanya dibutuhkan sekali dalam jangka waktu (umur teknis) tertentu.
Sedangkan biaya variabel adalah biaya rutin yang harus dikeluarkan oleh petani/peternak dalam setiap produksi.
Dalam penelitian terhadap usaha ternak itik pedaging di Desa Juluk, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep ini, biaya tetap
meliputi biaya pengadaan kandang dan peralatan. Sedangkan biaya variable meliputi biaya pakan (konsentrat 5.11, konsentrat 1.44, dan dedak), biaya obat- obatan, pengadaan bibit, dan ongkos tenaga kerja.
Dari tabel di atas diketahui bahwa jumlah rata-rata biaya tetap sebesar Rp.
110.981 (Seratus sepuluh ribu sembilan ratus delapan puluh satu rupiah), jumlah rata-rata biaya variabel adalah Rp.
5.313.256 (Lima juta tiga ratus tiga belas ribu dua ratus lima puluh enam rupiah), sehingga jumlah rata-rata pengeluaran usaha tani (TFC) adalah Rp. 5.424.237 (Lima juta empat ratus dua puluh empat ribu dua ratus tiga puluh tujuh rupiah).
Pendapatan Kotor Usaha Tani (GFI = Gross Farm Income) Tabel 2. Pendapatan Kotor Usaha Tani (GFI)
No Nama ∑ Ternak ∑ Pendapatan Kotor
1 Moh. Juhari 500 ekor Rp. 12.500.000
2 Alimakki 400 ekor Rp. 12.000.000
3 Hartono 300 ekor Rp. 6.000.000
4 H. Hasan 500 ekor Rp. 10.000.000
5 Mudahnan 400 ekor Rp. 9.200.000
6 Su’eb 500 ekor Rp. 10.000.000
7 Abd. Latif 300 ekor Rp. 6.000.000
8 Fathullah 400 ekor Rp. 9.800.000
9 Alwi 400 ekor Rp. 8.000.000
10 Safiuddin 400 ekor Rp. 8.000.000
11 Zakariyah 500 ekor Rp. 12.500.000
12 Mistari 300 ekor Rp. 7.050.000
13 Moh. Rahem 400 ekor Rp. 8.000.000
14 Ansori 500 ekor Rp. 10.000.000
15 Haikal 400 ekor Rp. 8.000.000
Jumlah Total Rp. 137.050.000
Jumlah Rata-rata Rp. 9.136.667
Pendapatan kotor usaha tani, yang di-istilah-kan sebagai Gross Farm Income (GFI) adalah jumlah seluruh pendapatan yang diterima oleh petani/peternak dari usahanya sebelum dikurangi total pengeluaran usaha tani (TFC). Dalam penelitian terhadap usaha ternak itik pedaging di Desa Juluk, Kecamatan Saronggi, Kabupaten
Sumenep ini, pendapatan kotor usaha tani (GFI) diperoleh dari hasil penjualan itik pedaging setelah masa produksi.
Nilai rata-rata pendapatan kotor usaha tani (GFI) mencapai Rp. 9.136.667 (Sembilan juta seratus tiga puluh enam ribu enam ratus enam puluh tujuh rupiah), seperti tertera dalam tabel di atas.
Pendapatan Bersih Usaha Tani (NFI = Net Farm Income)
Pendapatan bersih usaha tani, atau disebut sebagai Net Farm Income (NFI) merupakan jumlah pendapatan kotor atau Gross Farm Income (GFI) yang diperoleh oleh petani/peternak dikurangi total pengeluaran usaha tani atau Total Farm Cost (TFC). Jika dirumuskan, maka :
Dalam usaha ternak itik pedaging di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep, diketahui jumlah rata-rata pendapatan bersih usaha tani (NFI) adalah Rp. 3.712.430 (Tiga juta tujuh ratus dua belas ribu empat ratus tiga puluh rupiah), yakni rata-rata GFI (Rp. 9.136.667) dikurangi rata-rata TFC (Rp. 5.424.237).
Nilai Profitabilitas (GPM = Gross Profit Margin)
Nilai profitabilitas, atau disebut sebagai Gross Profit Margin (GPM) adalah kemampuan input yang dikeluarkan untuk menghasilkan output.
Nilai profitabilitas merupakan besar prosentase jumlah pendapatan kotor atau Gross Farm Income (GFI) terhadap total pengeluaran usaha tani atau Total Farm Cost (TFC). Jika dirumuskan, maka :
Bila diperhatikan dalam usaha ternak itik pedaging di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep, besarnya nilai profitabilitas (GPM) adalah : GFI (Rp. 9.136.667) / TFC (Rp. 5.424.237) x 100% = 168,441%,.
Nilai Laba Yang Memadai (ROI = Return On Investmen)
Nilai laba yang memadai dalam usaha tani, atau disebut sebagai Return On Investmen (ROI) merupakan nilai prosentase jumlah pendapatan bersih atau Net Farm Income (NFI) yang diperoleh oleh petani/peternak terhadap jumlah nilai investasi. Jika dirumuskan, maka :
Dalam usaha ternak itik pedaging di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep, besarnya nilai laba yang memadai dalam usaha tani (ROI) adalah NFI (Rp. 3.712.430) / INVESTASI (Rp. 10.007.904) x 100%. = 37,094%.
PEMBAHASAN
Dari data di atas, diketahui prosentase dari nilai besarnya nilai laba yang memadai dalam usaha tani (ROI) adalah 37,094% sedangkan nilai bunga deposito Bank Indonesia (BI) saat penelitian adalah 6,5% pertahun atau 0,7222% per produksi (6,5% /9 kali produksi). Dengan demikian maka dapat dijelaskan bahwa ROI > nilai bunga deposito bank. Hal ini menunjukkan bahwa usaha ternak itik pedaging di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep mampu menghasilkan laba yang memadai.
Tercapainya laba yang memadai dalam usaha ini tidak dapat dilepaskan dari beberapa faktor pendukung terhadap usaha tersebut. Faktor-faktor pendukung tersebut antara lain : akses jalan yang mudah, tempat yang strategis, dan lingkungan makro yang sangat mendukung. Adapun yang dimaksud lingkungan makro di sini adalah kelembaban lingkungan, suhu, dan cuaca.
Akses jalan menjadi mudah, karena seluruh petani/peternak dalam NFI = GFI - TFC
GPM = GFI/TFC x 100%
ROI = NFI / INVESTASI x 100%
penelitian ini terhubung dengan sarana jalan desa yang seluruhnya telah beraspal baik. Sedangkan tempat yang strategis karena Desa Juluk berada hanya ± 5 Km ke arah barat dari pusat Kecamatan Saronggi, yang dihubungkan dengan jalan kecamatan beraspal baik, dan wilayah Kecamatan Saronggi sendiri dilalui jalan provinsi yang menghubungkan kota Sumenep dan Pamekasan.
Adapun lingkungan makro Desa Juluk tercatat cuaca pasti antara kemarau dan penghujan, dengan suhu ± 29 ºC dan kelembaban lingkungan berkisar antara 60 – 65 %. Lingkungan makro tersebut sangat mendukung terhadap usaha ternak itik pedaging di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep di atas.
KESIMPULAN
Pendapatan bersih usaha tani (NFI), usaha ternak itik pedaging di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep adalah Rp. 3.712.430 (Tiga juta tujuh ratus dua belas ribu empat ratus tiga puluh rupiah), Nilai profitabilitas atau Gross Profit Margin (GPM) adalah = 168,441%, Nilai laba yang memadai dalam usaha tani (ROI) adalah = 37,094% , sedangkan nilai bunga deposito Bank Indonesia (BI) saat penelitian adalah 6,5% pertahun atau 0,7222% per produksi (6,5% /9 kali produksi), atau ROI > nilai bunga deposito bank. Disimpulkan usaha ternak itik pedaging di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep mampu menghasilkan laba yang memadai.
DAFTAR PUSTAKA
Adiwilaga, A. 1982. Ilmu Usaha Tani.
Alumni, Bandung.
Downey, D. W. dan S. P. Erickson. 1988.
Manajemen Agribisnis.
PenerbitErlangga, Jakarta.
Hernanto, F. 1989. Ilmu Usaha Tani.
Edisi Ke-1. Penebar Swadaya, Jakarta.
Jayasamudera, D.J dan Cahyono, B.
2005. Pembibitan Itik. Penebar Swadaya, Jakarta.
Marhijanto, B. 1993. Delapan Langkah Beternak Itik yang Berhasil. Edisi ke-1.Penerbit Arkola, Surabaya.
Murtidjo, B. A. 2002. Mengelola Itik.
Kanisius, Yogyakarta.
Nazir, M. 2005. Metode Penelitian. Edisi ke- 5. Penerbit Ghalia Indonesia.
Bogor.
Rahmat, P. 2007. Beternak Itik Hemat Air. PT Agromedia Pustaka, Jakarta.
Rasyaf, M. 2002. Beternak Itik. Edisi ke- 16. Kanisius, Yogyakarta.
Reksohadiprodjo, S dan I. Gitosudarmo.
2000. Manajemen Produksi UniversitasGadjah Mada, Yogyakarta.
Soekartawi. 1993. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Penerbit Alumni, Bandung.
Sugihen, B.G dan A. Napitupulu. 1977.
Analisa Ekonomi Usaha Ternak Itik diIndonesia. Buletin Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.
Suharno, B dan K. Amri. 2002. Beternak Itik Secara Intensif. Cetakan ke- 10.Penebar Swadaya, Jakarta.
Wahju, J. 1997. Ilmu Nutrisi Unggas.
Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press,Yogyakarta.
Windhyarti, S.S. 2002. Beternak Itik Tanpa Air. Cetakan Ke-22.
Penebar Swadaya,Jakarta.
STRATEGI PUSAT PENGEMBANGAN AGENSI HAYATI (PPAH) SHINTA
DALAM MENGEMBANGKAN PRODUK AGENSI HAYATI DI KECAMATAN GALIS KABUPATEN PAMEKASAN
Moh. Zali
Fakultas Pertanian Universitas Madura E – mail : [email protected]
ABSTRACT
Plant protection is an integral part of the system and business sustainability. The Agency's biological Development Center (PPAH) as the first door for farmers or farmers groups in empowering farmers in integrated pest control. The purpose of the research is to identify factors internal and external environments that include strengths, weaknesses, opportunities and threats for the PPAH Shinta in developing Biological Agency in Pamekasan Galis and define alternative strategies PPAH Shinta.
The results showed the internal, external factors and alternative strategies as follows: internal factors which contributed towards the development of PPAH Shinta in developing biological products to agencies in district of Galis, Pamekasan strength:
tooling AH, enough Experience, the number of members is pretty good, service, increasing revenue PPAH Shinta. While the disadvantage is: low-member partipasi, lack of product diversification, the partnership has not been optimized and insufficient counselling as well as dependence on government programs. The external factors which influence on development of the PPAH Shinta in developing biological products to agencies in district of Galis, Pamekasan have opportunities: the potential of vast open land, many farmers, the potential amount of resources (commodities variety), development of supportive government policies, AH. While the threats are: many who develop, farmers less leverage the use of biodiversity, the Trust Agency farmers against product quality the effect is longer, better quality competitors, following standard Laboratory applications PHPOPTH. An alternative strategy is the best that can be done for the development of the power strategy is the PPAH shinta peluan (aggressive), where implementation may be done in developing the Agency's biological products in Pamekasan Galis is maximizing the use of facilities and human resources to improve and expand the number and type of products to increase production of Biological Agens PPAH Shinta.
Key word: PPAH Shinta, Strategy
PENDAHULUAN
Pengembangan pembangunan pertanian berwawasan agribisnis dan perlindungan tanaman tidak terlepas dari kegiatan budidaya tanaman dan sampai kepemasarannya. Program utama pembangunan pertanian dalam Kabinet Persatuan Nasional yaitu program Ketahanan Pangan dan Program Pengembangan Sistem Agribisnis.
Pembangunan pertanian sebagai bagian dari pembangunan nasional yang diharapkan pada tantangan dan persaingan yang semaikin kuat.
Sementara itu dengan berlakunya otonomi daerah memberi peluang bagi daerah untuk lebih pro aktif dan kreatif dalam melakukan pembangunan sesuai dengan potensi daerah masing-masing.
Dengan adanya otonomi daerah upaya pencapaian tujuan pembangunan
pertanian sangat menentukan adanya kondisi antar instansi yang terkait (Anonimous, 2001).
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan resiko yang harus dihadapi dan diperhitungkan dalam setiap usaha budidaya tanaman untuk meningkatkan produk yang sesuai dengan harapan. Resiko ini merupakan konsekuensi dari setiap perubahan ekosistem sebagai akibat budidaya tanaman yang dilakukan. Konsep pengendalian hama terapadu (PHT) berkembang sebagai koreksi tehadap kebijakan pengendalian OPT secara konvensional yang bertumpu pada penggunaan pestisida berspektrum luas ternyata dapat menimbulkan masalah resitensi hama, resurjensi hama, timbulnya hama sekunder, residu pada hasil pertanian, pencemaran lingkungan dan kesehatan masyarakat (Anonimous, 2002).
Menurut (Anonimous, 2001), menjelaskan bahwa dalam menghadapi era perdagangan bebas tersebut Indonesia harus segera melalukan persiapan dengan penyesuaian-penyesuaian mendasar menyangkut berbagai sapek kebijakan operasional pembangunan yang memungkinkan para produsen hasil-hasil pertanian untuk mampu bersaing di pasar bebas internasional. Menurut Anonimous (2012a), Pusat Pengembangan Agens Hayati (PPAH) di Jawa Timur yang dirintis sejak tahun 1999 hingga saat ini sudah mencapai 152 PPAH terbentuk dengan dukungan APBD I, bahkan secara keseluruhan mencapai hampir 200 PPAH bila ditambah dengan PPAH dukungan APBD II dan PPAH Swadaya.
Keberadaan PPAH ini antara lain diharapkan dapat berperan sebagai base camp perlindungan tanaman yang tersebar di tingkat kecamatan se Jawa timur. Beberapa jenis agens hayati telah disosialisasikan dan dikembangkan oleh PPAH. PPAH mengembangkan agens hayati dengan media perbanyakan yang
cukup murah dan mudah, dengan sumber biakan / inokulum induk berasal dari Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit yang tersebar di 7 karesidenan di Jawa Timur serta dari Laboratorium Agens Hayati di UPT. Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura di Surabaya.
Beberapa jenis agensi hayati yang dikembangkan oleh petani antara lain 1) Golongan parasitoid, 2) Golongan Patogen serangga (Cendawan dan NPV) serta 3) Golongan Agens Antagonis (Cendawan maupun Bakteri) .
Sosialisasi dan Pembinaan pengembangan Agens hayati tidak hanya difokuskan pada hal-hal teknis tentang bagaimana mempertahankan kualitas produk yang dihasilkan serta faktor- faktor yang mempengaruhi efektivitas kerja Agensi hayati di lapang, namun juga kelembagaan PPAH yang masih mencerminkan pelaku individu penanggung jawab / Pengurus PPAH dan belum mencerminkan kerja kelompoknya yang dapat mempengaruhi kelompok tani - kelompok tani lain di sekitar PPAH atau PPAH lain se-Kabupaten Pamekasan (Anonimous, 2013b). Pada akhirnya masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk membenahi Strategi PPAH Shinta dalam mengembangkan produk agensi hayati di Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan.
METODE PENELITIAN
Penentuan Lokasi dan Jenis Desain Penelitian
Penelitian dilakukan di Pusat Pengembangan Agensi Hayati (PPAH) Shinta Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan, dengan pertimbangan bahwa PPAH Shinta merupakan binaan langsung dari Laboratium PHPOPTH Kabupaten Pamekasan sudah memproduksi Agensia Hayati. PPAH Shinta mampu memberikan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Penelitian