PENGARUH RESOURCE BASED VIEW PERSPECTIVE DAN KINERJA BISNIS TERHADAP DAYA SAING USAHA ( STUDI KASUS
PADA CAFE DI WILAYAH MEDAN AREA )
OLEH
NURUL RAHMADHANI 140502117
PROGRAM STUDI STRATA 1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
PENGARUH RESOURCE BASED VIEW PERSPECTIVE DAN KINERJA BISNIS TERHADAP DAYA SAING
USAHA ( STUDI KASUS PADA CAFE DI WILAYAH MEDAN AREA )
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Resource Based View Perspective dan Kinerja Bisnis terhadap Daya Saing Usaha di Wilayah Medan Area. Populasi dalam penelitian ini adalah cafe yang berjumlah 50 orang dan sampel penelitian ini adalah sesuai dengan jumlah populasi penelitian (sampel jenuh). Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara Resource Based View Perspective (X1) terhadap Daya Saing Usaha (Y) yang ditunjukkan dengan signifikan (0.000) lebih kecil dari 0.05 dan nilai thitung (8,188) > ttabel (1,678). Selain itu juga terdapat pengaruh positif dan signifikan antara Kinerja Bisnis (X2) terhadap Daya Saing Usaha (Y) yang ditunjukkan dengan nilai signifikan (0.000) lebih kecil dari 0.05 dan nilai thitung (5,879) > ttabel (1,678). Dalam penelitian ini diperoleh nilai R sebesar 0.882 berarti 88.2% menunjukkan bahwa hubungan antara variabel resource based view perspective dan kinerja bisnis terhadap daya saing usaha memiliki hubungan yang cukup erat. Daya saing usaha mampu dijelaskan oleh kedua variabel tersebut, yaitu Resource Based View Perspective dan Kinerja Bisnis sebesar 76.8%.
Kata Kunci: Resource Based View Perspective, Kinerja Bisnis, dan Daya Saing Usaha
INFLUENCE OF RESOURCE BASED VIEW PERSPECTIVE AND BUSINESS PERFORMANCE ON BUSINESS
COMPETITIVENESS (CASE STUDIES AT CAFES IN MEDAN AREA REGION)
The purpose of this research is to find out and analyze the impact of Resource Based View Perspective and Business Performance on Business Competitiveness in Medan Area Region. The population in this research was cafes business owner that amounted to 50 people and the sample of this research are based on the amount of the research population (saturation sample). The used data analysis method is multiple linear regression analysis. The results showed that there is a positive and significant impact between Resource Based View Perspective (X1) on Business Competitiveness (Y) indicated with significant (0,000) less than 0,05 and the value of tcount (8,188) > ttable (1,678). In addition, there is also a positive and significant impact between Business Performance (X2) and Business Competitiveness (Y) indicated with significant (0,000) less than 0,05 and the value of tcount (5,879) > ttable (1,678). In this study obtained R value of 0.882 means 88.2% indicates that the relationship between resource based view perspective variables and business performance of business competitiveness have a close relationship. Business competitiveness can be explained by both variables, namely Resource Based View Perspective and Business Performance of 76.8%.
Keywords: Resource Based View Perspective, Business Performance, and Business Competitiveness
Alhamdulillah puji dan syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan perkuliahan dan penulisan skripsi ini.
Shalawat beserta salam semoga senantiasa terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, kepada keluarganya, para sahabatnya, hingga kepada umatnya hingga akhir zaman. Aamiin. Penulisan skripsi ini diajukan guna memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Judul yang diajukan peneliti adalah “Pengaruh Resource Based View dan Kinerja Bisnis Terhadap Daya Saing Usaha (Studi Kasus pada Cafe di Wilayah Medan Area)”.
Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua saya, yakni Bapak saya Aulia Nazir, dan Ibu saya Nursila yang telah mendidik dan membesarkan peneliti dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Terima kasih untuk kasih sayang yang tak terhingga dan tak terbalaskan kepada orang tua peneliti. Dalam penyusunan skripsi ini tak terlepas dari bantuan, bimbingan, serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini peneliti dengan senang hati menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, SE, M.Si, dan Bapak Doli Muhammad Jafar Dalimunthe, SE, M.Si, selaku Ketua/SekretarisDepartemen dan Program
banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan dan saran dalam penulisan skripsi ini.
4. Bapak Drs. Ami Dilham, M.Si, dan Ibu Aisyah, SE, M.Si, selaku Dosen Penguji I dan Penguji II yang telah membantu dan memberikan saran untuk kesempurnaan dalam pengerjaan skripsi ini.
5. Dosen dan staf pada program studi Manajemen Universitas Sumatera Utara.
Terima kasih telah membantu dan memberikan saran untuk pengerjaan skripsi ini.
6. Abang kandung peneliti Muhammad Noeh, Kakak ipar peneliti Diny Syahfitri Pardede dan adik-adik kandung peneliti, M. Andriansyah dan Zuleyka.
Terima kasih telah memberikan dukungan, doa, dan semangat kepada peneliti dalam pengerjaan skripsi ini.
7. Teristimewa Kiki Satria Nanda. Terima kasih atas waktu yang telah dilalui bersama dalam suka dan duka, semua doa, dukungan, tenaga dan semangat yang telah diberikan kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.
8. Sahabat-sahabat terbaik Ade Octaviani Yunaz, dan Dinda Dwi Aprillia.
Terima kasih atas dukungan, dan semangat yang telah diberikan kepada peneliti dalam pengerjaan skripsi ini.
9. Terkhusus teman terbaik Maya Oktavia Pane. Terima kasih atas arahan, dukungan, waktu, tenaga, dan doa yang telah diberikan kepada peneliti dalam pengerjaan skripsi ini.
10. Teman-teman di Program Studi Manajemen Putra Ahmad Syarif Irawan
Terima kasih atas semangat yang kalian berikan kepada peneliti dalam pengerjaan skripsi ini.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat memberikan balasan atas kebaikan-kebaikan yang telah diberikan kepada peneliti baik di dunia maupun di akhirat kelak. Saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saya mengharapkan saran dan kritikan yang membangun dari pembaca untuk perbaikan-perbaikan dimasa yang akan datang.
Medan, Desember 2018 Peneliti,
Nurul Rahmadhani 140502117
Halaman
ABSTRAK i
ABSTRACT ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR GAMBAR ix
DAFTAR LAMPIRAN x
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Perumusan Masalah 6
1.3 Tujuan Penelitian 7
1.4 Manfaat Penelitian 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Usaha Kecil 9
2.1.1 Pengertian Usaha Kecil 9
2.2 Kewirausahaan 11
2.2.1 Pengertian Kewirausahaan 11
2.2.2 Resource Based View Perspective 13
2.2.3 Pengertian RBV Perspective 13
2.3 Kinerja Bisnis 16
2.4.1 Pengertian Kinerja Bisnis 16
2.4.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja 18
2.4.3 Dimensi Kinerja Bisnis 19
2.4 Daya Saing 20
2.5.1 Pengertian Daya Saing 20
2.5.2 Dimensi Daya Saing 24
2.5 Penelitian Terdahulu 25
2.6 Kerangka Konseptual 26
2.7 Hipotesis 27
BAB III METODE PENELITIAN 28
3.1 Jenis Penelitian 28
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 28
3.3 Batasan Operasional Variabel 28
3.4 Definisi Operasional 29
3.5 Skala PengukuranVariabel 30
3.6 Populasi dan Sampel Penelitian 31
3.6.1 Populasi 31
3.6.2 Sampel 31
3.7 Jenis dan Sumber Data 32
3.8 Metode Pengumpulan Data 33
3.10.1 Metode Analisis Deskriptif 36 3.10.2 Analisis Regresi Linear Berganda 37
3.11 Uji Asumsi Klasik 37
3.11.1 Uji Normalitas 37
3.11.2 Uji Multikolonieritas 38
3.11.3 Uji Heteroskedastisitas 38
3.12 Pengujian Hipotesis 39
3.12.1 Uji Signifikan Simultan (Uji-F) 39
3.12.2 Uji Parsial (Uji-t) 39
3.12.3 Uji Koefisien Determinasi (R2) 40
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 41
4.1 Gambara Umum Perusahaan 41
4.2 Hasil Penelitian 42
4.2.1 Deskripsi Karakteristik Responden 42
4.2.2 Deskripsi Variabel Penelitian 43
4.3 Analisis Regresi Linear Berganda 55
4.4 Uji Asumsi Klasik 56
4.4.1 Uji Normalitas 56
4.4.2 Uji Heteroskedestisitas 58
4.4.3 Uji Multikoloniearitas 59
4.5 Pengujian Hipotesis 59
4.5.1 Uji Secara Serempak (Uji F) 59
4.5.2 Uji Secara Parsial (Uji-t) 60
4.5.3 Pengujian Koefisien Determinasi (R2) 61
4.6 Pembahasan 62
4.6.1 Pengaruh Resource Based View Perspective
Terhadap Harga Saing 64
4.6.2 Pengaruh Kinerja Bisnis Terhadap Daya Saing 67
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 69
5.1 Kesimpulan 69
5.2 Saran 69
DAFTAR PUSTAKA 72
DAFTAR LAMPIRAN 76
No. Tabel Judul Halaman
1.1 Usaha-usaha Cafe di Wilayah Medan Area 5
2.1 Sifat yang Dimiliki Seorang Wirausaha 13
2.2 Penelitian Terdahulu 25
3.1 Operasionalisasi Variabel 29
3.2 Pengukuran Skala Likert 31
3.3 Uji Validitas 34
3.4 Uji Reliabilitas 36
4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin 42
4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia 42
4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan 43 4.4 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Resources
Based View Perspective (X1) 43
4.5 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Kinerja
Bisnis(X2) 47
4.6 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Daya Saing (Y) 51
4.7 Analisis Regresi Linear Berganda 55
4.8 Kolmogorov-Smirnov 58
4.9 Uji Glejser 59
4.10 Anova 59
4.11 Uji Multikolonieritas 60
4.12 Uji Secara Serempak (Uji F) 61
4.13 Uji Secara Parsial (Uji t) 61
4.14 Uji Koefisien Determinasi (R2) 62
No. Gambar Judul Halaman
2.1 Kerangka Konseptual 27
4.1 Histogram Uji Normalitas 56
4.2 P-Plot Uji Normalitas 57
4.3 Scatterplot Uji Heteroskedastisitas 58
No. Lampiran Judul Halaman
1. Kuesioner Penelitian ... 74
2. Distribusi Jawaban Responden Penelitian ... 77
3. Uji Validitas ... 81
4. Uji Reliabilitas ... 81
5. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin... 82
6. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 82
7. Karakteristik Responde Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 82
8. Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Resource Based View Perspective (X1) ... 83
9. Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Kinerja Bisnis (X2) ... 83
10. Distribusi Jawaban Responden Terhadap VariabelDaya Saing (Y) 84 11. Analisis Regresi Linear Berganda ... 84
12. Histogram Uji Normalitas ... 84
13. P-Plot Uji Normalitas ... 85
14. Uji Kolmogorov Smirnov ... 85
15. Uji Heteroskedastisitas dengan Scatterplot ... 85
16. Uji Glejser ... 86
17. Anova ... 86
18. Uji Multikolinearitas ... 86
19. Uji Secara Serempak (Uji- F) ... 87
20. Uji Secara Parsial (Uji – t) ... 87
21. Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 87
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya setiap perusahaan mempunyai suatu strategi. Bentuk dan strategi dapat bervariasi dari satu perusahaan ke perusahaan lain dan dari satu situasi ke situasi lain, perbedaan inilah yang menciptakan persaingan ketat bagi setiap perusahaan. Untuk itu setiap perusahaan harus menciptakan strategi yang tepat untuk memenangkan pasar. Strategi adalah segala aktivitas dan rencana yang sedang dijalankan oleh setiap perusahaan. Dalam menghadapi persaingan yang ketat ini para perusahaan maupun pengusaha dituntut untuk mengembangkan strateginya.
Pada saat ini persaingan di dunia bisnis menjadi sangat ketat, sama halnya dengan persaingan bisnis dibidang kuliner. Bisnis kuliner seperti halnya makanan dan minuman sangat menarik dan menjanjikan bagi para penggiat usaha, dikarenakan makanan dan minuman merupakan kebutuhan dasar manusia. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya persaingan ketat di bisnis kuliner.
Cafe berasal dari bahasa perancis yaitu “cafe” yang secara harfiah adalah kopi (minuman), tetapi kemudian menjadi tempat untuk minum-minum yang bukan hanya kopi, tetapi juga minuman lainnya termasuk minuman yang beralkohol rendah. Di Indonesia, cafe berarti semacem tempat sederhana, tetapi cukup menarik untuk makan makanan ringan. Pada saat ini cafe tidak hanya sebagai tempat makan dan minum, namun juga sebagai tempat untuk rapat, main game, mengerjakan tugas dan untuk sekedar menghabiskan waktu. Hal ini merupakan peluang bisnis yang sangat menguntungkan.
Dengan konsep yang bagus, makanan dan minuman yang bervariasi serta berbagai fasilitas lainnya, maka cafe akan menjadi tempat yang sangat dilirik oleh konsumen. Untuk mewujudkan hal itu, para penggiat usaha yang terjun ke bisnis ini harus memperhatikan beberapa aspek penting seperti, menentukan target pasar, mencari lokasi yang tepat, konsep yang unik, peralatan yang memadai, cita rasa yang menjual, pelayanan terbaik, branding, fasilitas yang mendukung dan promosi yang tepat. Namun kebanyakan penggiat usaha tidak memikirkan aspek- aspek tersebut, mereka hanya terpaku pada modal atau hanya sekedar mengikuti trend, hal inilah yang membuat para pebisnis kafe mengalami kerugian, bahkan ada yang mengalami kebangkrutan.
Cafe tergolong UKM, UKM adalah Usaha Kecil dan Menengah, sebagian UKM masih mempunyai berbagai kelemahan yang bersifat eksternal, seperti kurangnya kemampuan untuk beradaptasi terhadap pengaruh lingkungan yang strategis, kurang cekatan dalam peluang-peluang usaha, kurangnya kreativitas dan inovasi dalam mengantisipasi berbagai tantangan sebagai akibat resesi ekonomi yang berkepanjangan. Disamping itu faktor internal dari sebagian UKM yaitu kurangnya kemampuan manajerial dan keterampilan, kurangnya akses terhadap informasi teknologi, permodalan dan pasar. Kelemahan internal ini disebabkan sebagian SDM pengelola UKM kurang berkualitas dalam mengantisipasi berbagai masalah yang sedang dihadapi.
Dengan banyaknya pengusaha cafe saat ini, maka persaingan bisnis tidak dapat dihindari. Untuk menghadapi persaingan maka diperlukan adanya daya saing yang tinggi pada usaha yang digeluti. Daya saing bermakna kekuatan untuk
berusaha menjadi unggul dalam hal tertentu yang dilakukan seseorang, kelompok atau institusi tertentu. Persaingan yang semakin ketat menuntut para pelaku bisnis untuk memaksimalkan kinerjanya melalui biaya, kualitas, waktu, dan fleksibilitas.
Para pelaku bisnis harus memaksimalkan keempat hal tersebut seperti menentukan biaya produksi yang tepat, menghasilkan produk yang berkualitas, ketepatan waktu produksi, dan ketepatan menyesuaikan dengan kepentingan lingkungan agar dapat memenangkan persaingan.
Dengan semakin banyaknya cafe di Wilayah Medan Area, maka pelaku bisnis harus berjuang meraih target yang diharapkan. Metode tersebut dikenal sebagai kinerja bisnis. Menurut Muis (2012) kinerja bisnis dapat dilihat dari dua hal yaitu finansial dan non fnansial. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari dua hal tersebut maka pelaku bisnis harus melakukan langkah - langkah seperti menciptakan strategi yang baik, melakukan rencana untuk mengembangkan bisnis melalui peningkatan volume penjualan, peningkatan pangsa pasar, peningkatan jumlah pelanggan, peningkatan kepuasan pelanggan, memonitoring (mengontrol) bisnis yang dijalankan serta melakukan tindakan seperti mempromosikan cafe dan menciptakan produk yang berkualitas untuk meningkatkan performa usaha.
Asumsi dasar Resource-Based View-RBV adalah bahwa sumber daya dalam perusahaan bergabung menjadi satu (bundles) dan kemampuan yang mendasari produksi tidak sama satu dengan lainnya. Esensi kombinasi sumber daya dan kapabilitas tersebut sebagai “apa” yang membuat suatu organisasi unik dalam hal kemampuannya menawarkan nilai kepada pelanggannya. Hasil kajian-
kajian terdahulu dan konsep teoritis menjustifikasi konsep resource-based view secara universial sebagai kekuatan potensial, sumber atau syarat keunggulan kompetitif, pendorong kinerja maksimal perusahaan skala besar, serta membuktikan relevansi jika diaplikasikan pada perusahaan berskala besar.
Relevansi hasil kajian-kajian tersebut didasarkan pada karateristik perusahaan besar yang memiliki aset sumber daya relatif formal, beragam/bervariasi, baik, dan lengkap, berpotensi mampu membentuk kapabilitas strategik, yang bernilai, sukar ditiru atau dialihkan oleh pesaing.
Untuk itu perlu adanya suatu pendekatan internal yang meliputi sumber daya (resource) perusahaan yang dapat menciptakan keunggulan bersaing. Dalam manajemen strategi, pandangan bahwa sumber daya pada akhirnya menentukan keberlangsungan organisasi, seperti menang bersaing dan berkembang disebut dengan RBV (Resource Based View) yang merupakan suatu metode untuk menganalisis dan mengidentifikasikan keunggulan strategis suatu perusahaan berdasarkan pada tinjauan terhadap kombinasi dari asset, keahlian, kapabilitas, dan aset tak berwujud.
Penggunaan sumber daya memiliki banyak keunggulan potensial bagi perusahaan seperti pencapaian efisiensi yang lebih besar dan selanjutnya biaya yang lebih rendah, peningkatan kualitas dan kemungkinan pangsa pasar serta profitabilitas yang lebih besar (Collis & Montgomery, 1995). Pendekatan analisis yang disebut Resource-Based View (RBV) menekankan peningkatan keunggulan bersaing yang berasal dari sumber daya strategis organisasi (Barney, 1991). Sumber daya dapat berupa berwujud atau tidak berwujud.
Sumber daya berwujud adalah aset fisik yang dimiliki perusahaan, seperti produk, pabrik, dan peralatan unik. Sumber daya tidak berwujud, di sisi lain, tidak secara fisik ada, namun mereka memberikan nilai yang signifikan, seperti pengakuan nama merek, reputasi, paten, dan teknologi atau pengetahuan pemasaran (Collis & Montgomery, 1995).
Penggunaan sumber daya yang juga dilakukan oleh pelaku bisnis cafe ini adalah promosi. Promosi yang dilakukan adalah melalui media sosial, penyebaran brosur dan relasi seperti promosi mouth to mouth. Jumlah usaha kecil di Kota Medan saat ini sudah mulai bertambah termasuk juga usaha kafe. Beberapa dari mereka mampu bertahan dan bahkan berkembang. Alasan perusahaan yang bermula dengan keberhasilan bukan karena pendirinya mempunyai modal besar pada saat mengawali usaha mereka, hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa usaha mereka dikelola oleh para pengusaha yang mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Dengan banyaknya pesaing sejenis di Wilayah Medan Area, maka pemilik cafe harus mampu meningkatkan daya saing usaha, kinerja bisnis, dan menjaga sumber daya yang dimilikinya untuk menjaga kelangsungan hidup usahanya, hal itu terletak pada kemampuannya untuk berinovasi. Dari sinilah para pemilik kafe harus mampu menghasilkan, keunikan, sehingga menumbuhkan keunggulan bersaing, dan juga dituntut untuk mampu menggali dan memanfaatkan keunggulannya.
Tabel 1.1
Usaha – Usaha Cafe di Wilayah Medan Area
No. Nama Cafe
1. Studio Cafe 2. Ben’s Cafe 3. Kopi Tulang Cafe 4. Digidi Cafe 5. Camp Kuphie Cafe 6. RIZ Cafe
Lanjutan Tabel 1.1
No. Nama Cafe
7 Pasar Merah Café 8 Café Tialif I 9 Café Tialif II
10. Rumah Kopi Atjeh Cafe 11. D’Java Cafe
12. Cafe Wong Medan 13. Cafe Kita
14. RPP Cafe 15. Cafe Area
16. Cafe Kanjeng Mami 17. Suasa Cafe 18. Cafe Arsy 19. Cafe Mega 20. Cafe Amoy 21. Bringsmoen Cafe 22. Cafe Puri 99 23. TTM Cafe 24. Cafe Distro
25. HOT (Harta Orang Tua) Cafe 26. Cost Cafe
27. Literacy Cafe 28. Cafe ABE 29. Cafe Tetangga 30. Cafe Puri Indah 31. MP Cafe 32. Lizzan Cafe 33. Pojok Cafe 98 34. Sagar Cafe 35. Kirori Cafe 36. Cimitalom Cafe 37. Ard Cafe 38. Wulan Cafe 39. Makyung Cafe 40. Cafe Dzikra 41. Martonah Cafe 42. Blue Light Cafe 43. Cafe Babeh
44. Thirteen Eleven Cafe 45. Cafe Vanirudi 46. Liv Cafe 47. Boh Hate Cafe 48. Iwan Halat Cafe 49. Widi Cafe 50. Smart Cafe Sumber: Prasurvey 2018
Dari beberapa permasalahan diatas akhirnya mendorong peneliti untuk melakukan penelitian mengenai: “Pengaruh Resource Based View Perspective Dan Kinerja Bisnis Terhadap Peningkatan Daya Saing Usaha ( Studi Kasus Pada Cafe Di Wilayah Medan Area ).”
1.2 Perumusan Masalah
Dengan semakin banyaknya persaingan berakibat pada keuntungan perusahaan, maka peneliti terlebih dahulu merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah resource based view perspective dan kinerja bisnis berpengaruh terhadap daya saing usaha pada cafe di Wilayah Medan Area?
2. Apakah resource based view perspective berpengaruh terhadap daya saing usaha pada cafe di Wilayah Medan Area?
3. Apakah kinerja bisnis berpengaruh terhadap daya saing usaha pada cafe di Wilayah Medan Area?
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Resource Based View Perspective dan Kinerja Bisnis terhadap daya saing usaha pada cafe di Wilayah Medan Area.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Resource Based View Perspective terhadap daya saing usaha pada cafe di Wilayah Medan Area.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Kinerja Bisnis terhadap daya saing usaha pada cafe di Wilayah Medan Area.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Bagi Peneliti
Dapat menjadi tambahan dan memperluas wawasan peneliti dalam ilmu manajemen khususnya dalam bidang kewirausahaan.
2. Bagi Pelaku Bisnis Khususnya UKM
Sebagai masukan bagi warung makan yang ada di Wilayah Medan Area dalam mengembangkan strategi menghadapi persaingan, sehingga dapat dijadikan pertimbangan dalam pengembangan strategi di masa yang akan datang.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan perbandingan dalam melakukan pengembangan penelitan yang sama dimasa yang akan datang. menambah pengetahuan khusunya dibidang kewirausahaan, yang berkaitan dengan resource based view perspective dan kinerja bisnis dalam peningkatan daya saing usaha.
2.1 Usaha Kecil
2.1.1 Pengertian Usaha Kecil
Di Indonesia pengertian mengenai usaha kecil masih sangat beragam.
Menurut Undang-Undang No.9 Tahun 1995 yang dimaksud usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil, dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta kepemilikan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini, pasal 1 butir 1 yaitu:
1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah, dan bangunan tempat usaha.
2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).
3. Milik warga negara Indonesia.
4. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau usaha besar.
5. Berbentuk usaha perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum termasuk koperasi.
Selanjutnya Bank Indonesia dan Departemen Perindustrian mendefinisikan mengenai usaha kecil berdasarkan nilai asetnya. Menurut kedua lembaga tersebut, yang dimaksud dengan usaha kecil adalah usaha yang mana asetnya tidak termasuk tanah dan bangunan bernilai kurang dari Rp 600 juta. Adapun Kadin
(dalam Listiani, 2016) terlebih dahulu membedakan usaha kecil menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama, adalah yang bergerak dalam bidang perdagangan, pertanian, dan industri. Kelompok yang kedua, adalah yang bergerak dalam bidang konstruksi. Usaha kecil adalah usaha yang memiliki modal kerja kurang dari Rp 150 juta dan memiliki nilai usaha kurang dari Rp 600 juta.
Sehubungan dengan adanya keragaman dalam batasan tersebut, tampaknya perlu diketahui tentang ciri-ciri umum dari usaha kecil. Berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh Musselman & Hughes (1964) dapat disimpulkan ciri - ciri umum usaha kecil, yaitu:
1. Kegiatannya cenderung tidak formal dan jarang yang memiliki rencana usaha.
2. Struktur organisasi bersifat sederhana.
3. Jumlah tenaga kerja terbatas dengan pembagian kerja yang longgar.
4. Kebanyakan tidak melakukan pemisahan antara kekayaan pribadi dengan kekayaan perusahaan.
5. Sistem akuntansi kurang baik, bahkan sukar menekan biaya.
6. Kemampuan pemasaran serta diversifikasi pasar cenderung terbatas.
7. Margin keuntungan sangat tipis.
Berdasarkan pada ciri di atas, maka dapat diketahui bahwa kelemahan dari usaha kecil selain dipengaruhi oleh faktor keterbatasan modal juga tampak pada kelemahan manajerialnya. Hal ini terungkap baik pada kelemahan akuntansinya.
Selanjutnya kriteria Usaha Kecil diatur dalam ketentuan Undang-Undang No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, yaitu “Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau
hasil penjualan tahunan serta kepemilikan sebagaimana diatur dalam undang- undang ini”. Secara nominal kriteria dalam ketentuan tersebut memberikan batas Rp 200 juta sebagai pembatas jumlah modal pengusaha kecil. Dalam kenyataannya, praktek indusri atau usaha kecil ternyata juga muncul dalam aneka tipe yang bermacam-macam, diantaranya dari sudut penggunaan tenaga kerja yaitu:
1. Industri kerajinan rumah tangga (cottage or household industry) yang hanya mempekerjakan beberapa tenaga kerja. Untuk di Indonesia batasan kategori ini adalah usaha (establishment) yang mempekerjakan satu sampai empat tenaga kerja, terutama anggota keluarga yang tidak dibayar (unpaid family labour). Industri kerajinan rumah tangga ini pada umumnya berorientasi pada pasar lokal dan menggunakan teknologi tradisional.
2. Industri kecil yang berskala kecil, akan tetapi tidak mengandalkan diri pada tenaga kerja keluarga. Industri ini mempekerjakan tenaga kerja yang dibayar upah dan di dalamnya terdapat suatu hirarki antara para pekerja.
Sedangkan dari segi teknologinya, usaha kecil dapat digolongkan atas usaha kecil yang tradisional serta usaha yang berorientasi pada teknologi modern.
Penggolongan ini tentunya menjadi salah satu faktor yang turut menentukan keberhasilan dalam menyerap pola hubungan kemitraan pada akhirnya.
2.2 Kewirausahaan
2.2.1 Pengertian Kewirausahaan
Secara sederhana arti kewirausahaan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil risiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan.
Berjiwa berani mengambil risiko artinya bermental mandiri dan berani memulai
usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti (Kasmir, 2010). Wirausaha ialah orang yang inovatif, antisipatif, inisiatif, pengambil risiko, dan berorientasi laba. Menurut Zimmerer & Scarborough (2005) wirausahawan adalah orang yang menciptakan bisnis baru dengan mengambil risiko dan ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang dan menggabungkan sumber daya yang diperlukan untuk mendirikannya. Wirausaha mampu mengidentifikasikan berbagai kesepakatan, dan mencurahkan seluruh sumber daya yang ia miliki untuk mengubah kesempatan itu suatu yang menguntungkan.
Seorang wirausaha adalah orang yang melihat adanya peluang. Pengertian wirausaha disini menekankan pada setiap orang yang memulai sesuatu bisnis yang baru (Alma, 2011). Wirausaha adalah individu yang berorientasi kepada tindakan dan bermotivasi tinggi yang mengambil resiko dalam mengejar tujuannya. Untuk menjadi seorang wirausaha yang sukses, pola sikap, perilaku, dan pandangan mampu menghasilkan gagasan cemerlang dan mewujudkan dalam usaha yang nyata. Mereka yang tidak memiliki kepercayaan diri, tidak memiliki gagasan baru, tidak dapat memanfaatkan peluang yang ada serta hanya memandang sukses dan kejayaan yang telah lalu, tidak memiliki peluang untuk menjadi wirausaha yang berhasil (Widjajanta, Widyaningsih, & Tanuatmodjo, 2007). Ini berarti kewirausahaan merupakan sikap dan perilaku orang yang inovatif, antisipatif, inisiatif, mengambil resiko dan berorientasi laba.
Menurut Prawiro (dalam Suci, 2009) kewirausahaan merupakan suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulai sebuah usaha & perkembangan usaha. Tidak
semua orang memiliki kapabilitas kewirausahaan. Hanya orang yang memiliki jiwa kewirausahaan dapat mendirikan dan mengelola usaha secara professional (Echdar, 2013). Dari berbagai penelitian di Amerika Serikat, untuk menjadi wirausahawan, seorang harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Tabel 2.1
Sifat yang harus Dimiliki Seorang Wirausaha
Ciri – ciri Indikator
a. Percaya Diri 1. Kepercayaan ( keteguhan ).
2. Ketidaktergantungan, kepribadian yang baik.
3. Optimisme.
b. Berorientasi tugas dan hasil 1. Kebutuhan atau haus akan prestasi.
2. Berorientasi laba atau hasil.
3. Tabah dan tekun.
4. Penuh inisiatif.
5. Energik.
c. Kepemimpinan 1. Mampu memimpin.
2. Dapat bergaul dengan orang lain.
3. Menanggapi saran dan kritik.
d. Pengambilan resiko 1. Mampu mengambil resiko.
2. Suka dengan tantangan.
e. Keorsinilan 1. Inovatif.
2. Kreatif.
3. Fleksibel.
4. Banyak sumber.
5. Mengetahui banyak hal.
f. Berorientasi ke masa depan 1. Selalu melihat ke depan.
2. Perseptif.
Sumber : Marbun (dalam Alma, 2011)
2.3 Resource Based View Perspective
2.3.1 Pengertian Resource Based View Perspective
Konsep Pendekatan berbasis sumber daya (Resource-Based View) pada dasarnya merupakan konsep yang mampu membantu entrepreneur dalam meraih sustainable competitive advantage (Barney, 1991). Asumsi dasar Resource-Based View-RBV adalah bahwa sumber daya dalam perusahaan bergabung menjadi satu (bundles) dan kemampuan yang mendasari produksi tidak sama satu dengan
lainnya. Esensi kombinasi sumber daya dan kapabilitas tersebut sebagai “apa”
yang membuat suatu organisasi unik dalam hal kemampuannya menawarkan nilai kepada pelanggannya.
Resource based view menyatakan bahwa sumber keunggulan bersaing berkelanjutan perusahaan adalah sumber daya yang bernilai, langka, tidak dapat ditiru, dan tidak ada substitusinya. Sumber daya yang dimaksud meliputi semua aset, kapabilitas, proses organisasional, karakteristik perusahaan, informasi, pengetahuan dan sebagainya yang mana sumber daya ini berada dalam kendali perusahaan untuk implementasi strategi agar tercapai keefektifan dan efisiensi.
berbagai tersebut dikelompokan menjadi tiga kategori yaitu sumber daya modal fisik, sumber daya modal manusia, dan sumber daya modal organisasional.
Beberapa sumber daya mungkin memiliki pengaruh terhadap proses implementasi strategi yang bernilai, namun beberapa sumber daya juga mungkin tidak memberikan pengaruh yang positif terhadap implementasi strategi.
Resource-Based View (RBV) telah menjadi salah satu diantara banyak teori yang paling berpengaruh dalam sejarah teori manajemen, terutama dalam teori manajemen strategik. Indikator untuk mengukur strategi RBV terdiri dari dua indikator yaitu: sumber daya dan kapabilitas (Hitt, Ireland, & Horkisson, 2001). Secara umum, RBV berfokus pada pemahaman mengenai potensi sumber daya dan kapabilitas organisasi (Robbins & Mary, 2002). Menurut Meyer (dalam Robbins & Mary, 2002) dimensi sumber daya adalah sebagai berikut:
1. Sumber daya berwujud (tangible)
Sumber daya berwujud adalah segala sesuatu yang tersedia di perusahaan
yang secara fisik dapat diamati (disentuh), seperti bangunan, dan uang.
2. Sumber daya tidak berwujud (intangible)
Sumber daya tidak berwujud ini tidak dapat disentuh, tapi sebagian besar dikerjakan oleh karyawan di organisasi, sumber daya yang tersedia di organisasi yang muncul akibat interaksi organisasi dengan lingkungannya.
Menurut Thompson, Strickland, & Gamble (2010) menjelaskan, untuk menganalisis kekuatan dan kapabilitas sumber daya perusahaan, antara lain adalah:
1. Keterampilan atau keahlian
Mencakup anatara lain kekuatan dalam keahlian, layanan prima, iklan yang unik. Ketrampilan dan keahlian ini perlu diproteksi oleh perusahaan sehingga tidak mudah ditiru oleh kompetitor.
2. Aset fisik yang bernilai
Mencakup antara lain fasilitas produksi dengan peralatan yang baik, fasilitas distribusi yang luas, network dan sistem informasi, nilai dan norma sistem manajerial, sistem teknis berbasis pengetahuan dan keterampilan.
3. Aset sumber daya manusia
Mencakup antara lain pekerja yang berpengalaman dan capable, pekerja yang berbakat di area kunci, pekerja yang enerjik dan bermotivasi tinggi. Dalam konteks ini perlu diperhatikan apakah perusahaan memberikan peluang yang memadai bagi karyawan untuk meningkatkan kapabilitasnya.
4. Aset organisasi yang bernilai
Sistem kontrol yang berkualitas, sistem tekhnologi yang mumpuni, aset organisasi ini sangat penting karena berkaitan dengan kecepatan perusahaan
dalam menengarai permasalahan yang telah dan yang akan dihadapi untuk kemudian mengambil keputusan yang tepat dan cepat.
5. Kapabilitas bersaing
Mencakup antara lain kemampuan perusahaan dalam waktu relatif pendek meluncurkan produk baru, kemitraan yang kuat dengan pemasok kunci, dan yang terpenting ialah merespons perubahan yang terjadi pada kondisi pasar dan kemampuan yang terlatih baik dalam melayani pelanggan.
6. Aliansi dan kerjasama
Kolaborasi kemitraan dengan pemasok dan pemasar dapat memperkuat daya saing perusahaan. Hubungan perusahaan dengan pemasok dan pemasar sangat strategis karena dengan kemitraan yang baik dan saling menguntungkan akan dapat menciptakan keunggulan bersaing.
2.4 Kinerja Bisnis
2.4.1 Pengertian Kinerja Bisnis
Kinerja bisnis merupakan rangkaian kegiatan yang dimulai dari perencanaan kinerja, pemantauan / peninjauan kinerja, penilaian kinerja dan tindak lanjut berupa pemberian penghargaan dan hukuman. Fairoz, Hirobumi, &
Tanaka (2010) menyatakan bahwa kinerja bisnis telah dilapokan sebagai hasil dari tujuan-tujuan organisasi yang dicapai melalui efektivitas strategi dan teknik.
Guritno & Waridin (2005) menyatakan bahwa kinerja merupakan perbandingan hasil kerja yang dicapai oleh karyawan dengan standar yang telah ditentukan.
Sedangkan menurut Hakim (2006) mendefinisikan kinerja sebagai hasil
individu tersebut dalam suatu perusahaan pada suatu periode waktu tertentu, yang dihubungkan dengan suatu ukuran nilai atau standar tertentu dari perusahaan dimana individu tersebut bekerja. Kinerja merupakan perbandingan hasil kerja yang dicapai oleh pegawai dengan standar yang telah ditentukan (Masrukhin & Waridin, 2004).
Jadi dapat disimpulkan bahwa kinerja suatu bisnis merupakan segala sesuatu yang diinginkan oleh konsumen dalan produk ataupun jasa dengan memaksimalkan kualitas hasil yang nantinya diterima konsumen. Berdasarkan analisa diatas, dapat disimpulkan juga bahwa pada dasarnya kinerja suatu bisnis sangat dibutuhkan dan penting dalam persaingan bisnis. Dengan adanya kinerja bisnis yang baik yang ditawarkan tentunya akan menjadi keunggulan tersendiri bagi suatu bisnis untuk mengembangkan usahanya.
Kinerja bisnis merupakan ukuran prestasi yang diperoleh dari aktifitas proses pemasaran secara menyeluruh dari sebuah perusahaan atau organisasi.
Selain itu, kinerja pemasaran juga dapat dipandang sebagai sebuah konsep yang digunakan untuk mengukur sampai sejauh mana prestasi pasar yang telah dicapai oleh suatu produk yang dihasilkan perusahaan. Ferdinand (2000) menyatakan bahwa kinerja pemasaran merupakan faktor yang seringkali digunakan untuk mengukur dampak dari strategi yang diterapkan perusahaan. Strategi perusahaan selalu diarahkan untuk menghasilkan kinerja pemasaran yang baik dan juga kinerja keuangan yang baik. Selanjutnya Ferdinand juga menyatakan bahwa kinerja pemasaran yang baik dinyatakan dalam tiga besaran utama nilai, yaitu nilai penjualan, pertumbuhan penjualan, dan porsi pasar.
Wahyono (2002) menjelaskan bahwa pertumbuhan penjualan akan bergantung pada berapa jumlah pelanggan yang diketahui tingkat konsumsi rata – ratanya yang bersifat tetap. Nilai penjualan menunjukkan berapa rupiah atau berapa unit produk yang berhasil dijual oleh perusahaan kepada konsumen atau pelanggan. Semakin tinggi nilai penjualan mengindikasikan semakin banyak produk yang berhasil dijual oleh perusahaan. Sedangkan porsi pasar menunjukkan seberapa besar kontribusi produk yang ditangani dapat menguasi pasar untuk produk sejenis dibandingkan para kompetitor.
2.4.2 Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Faktor yang mempengaruhi kinerja diantaranya yaitu:
1. Faktor kemampuan
Secara psikologis, kemampuan atau ability pegawai terdiri atas kemampan potensi (IQ) dan kemampuan realita (pendidikan).
2. Faktor motivasi
Motivasi terbentuk dari sikap seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja.
Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai terarah untuk mencapai tujuan kerja. Sikap mental merupakan kondisi mental yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai potensi kerja secara maksimal.
3. Efektifitas dan Efisiensi
Jika tujuan tercapai, dapat dinyatakan bahwa kegiatan tersebut efetif namun jika jika akibat yang dicariu kegiatan menilai penting dari hasil yang dicapai maka akan mengakibatkan kepuasan meskipun efektif itu disebut tidak
tersebut efisien.
4. Wewenang (Otoritas)
Otoritas ini merupakan sifat komunikasi dalam suatu organisasi formal yang dimiliki anggota organisasi terhadap anggota lain untuk melakukan suatu kegiatan sesuai kontribusinya.
5. Disiplin
Disiplin atau taat terhadap peraturan yang telah disepakati dalam organisasi dimana ia bekerja perlu dilakukan oleh karyawan.
6. Inisiatif
Inisiatif berkaitan dengan daya pikir dan kreatifitas dalam membentuk ide yang berkaitan dengan tujuan organisasi yang telah direncanakan.
2.4.3 Dimensi Kinerja Bisnis
Menurut Muis (2012) terdapat dua dimensi kinerja bisnis, yaitu:
1. Finansial dengan indikator yaitu peningkatan pendapatan dan peningkatan keuntungan.
2. Non Finansial dengan indikator yaitu peningkatan volume penjualan, peningkatan pangsa pasar, peningkatan jumlah pelanggan, dan peningkatan kepuasan pelanggan.
Menurut Suci (2009) tujuan sebuah bisnis itu dari eksis (survive) mampu berdiri, untuk memperoleh laba (benefit) dan strategi bisnis yang dapat berkembang (growth), yang tercapai apabila bisnis tersebut mempunyai performa yang baik. Kinerja (performa) bisnis dapat dilihat dari tingkat penjualan, tingkat keuntungan, pengembalian modal, tingkat turn over dan
pangsa pasar yang diraihnya.
2.5 Daya Saing
2.5.1 Pengertian Daya Saing
Daya saing dapat didefenisikan sebagai kemampuan untuk mempertahankan pangsa pasar. Daya saing mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan produktivitas UKM dan memperluas akses pasar. Hal ini akan bermuara kepada peningkatan omset penjualan dan profitabillitas usaha. Era globalisasi saat ini persaingan usaha semakin ketat dan kompetitif, hampir sebagian besar perusahaan skala besar maupun kecil berupaya untuk melakukan inovasi atau terobosan baru agar dapat bertahan dan memenangkan persaingan usaha. Sementara itu, pada usaha kecil dan menengah (UKM) yang merupakan sektor ekonomi rakyat harus melakukan langkah- langkah strategis yang efektif dan efisien sehingga hal ini menjadi terobosan yang baru dalam merebut pangsa pasar dan mampu bersaing dengan perusahaan berskala menengah dan skala besar.
Daya saing adalah tingkat produktivitas yang diartikan sebagai output yang dihasilkan oleh suatu tenaga kerja (Porter, 1990). Salah satu kunci meningkatkan daya saing tersebut adalah mendorong laju inovasi sebuah perusahaan agar bisa bersaing, baik ditingkat lokal, nasional, dan lingkungan global. Analisis persaingan UKM perlu dilakukan secara cermat dan akurat agar dapat memberikan informasi yang dibutukan untuk pengambilan keputusan yang sifatnya strategis di masa mendatang. Dengan demikian, UKM dapat dengan
kurang menguntungkan bagi kelangsungan usaha baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Menurut Sumarwan, et al. (2013) ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisis pesaing utama, yaitu:
1. Strategis
Dalam hal ini, sekelompok perusahaan yang melakukan strategi yang sama didalam suatu pasar tertentu dinamakan satu kelompok strategik.
2. Objectives
Secara umum dapat diasumsikan bahwa para pesaing tertarik dengan beberapa tujuan bauran seperti, current profitability, market share growth, cash flow, tecnological leadership, or service leadership. Selain itu, perusahaan juga harus memonitor rencana ekspansi para pesaing sehingga dapat diambil tindakan antisipasi kedepannya.
3. Strengths and Weakness
Dalam hal ini, guna mengevaluasi kelemahan dan kekuatan pesaing antara lain dapat dilakukan dengan mengadakan survei konsumen atau pelanggan tentang pendapat mereka mengenai beberapa atribut perusahaan pesaing, seperti kepedulian konsumen, kualitas produk, ketersediaan produk, staf penjualan dan sebagainya.
Dengan demikian, persaingan yang terjadi diantara UKM baik bidang usaha sejenis maupun berbeda menimbulkan dampak positif maupun negatif terhadap kegiatan operasional. Dampak yang ditimbulkan ini tentunya berkaitan langsung dengan kegiatan utama baik jangka pendek maupun jangak panjang.
Berikut ini ada dua dampak yang ditimbulkan dari persaingan usaha, yaitu (Sumarwan, et al., 2013):
1. Dampak positif, dari persaingan pasar antara lain:
a. Terjadinya peningkatan kualitas produk.
b. Lebih terjaminnya ketersediaan produk.
c. Meningkatan kualitas sumber daya manusia.
d. Terjadinya kewajaran harga karena efisiensi.
e. Meningkatkan kualitas korporasi yang terseleksi secara alami.
f. Meningkatkan teknologi.
2. Dampak negatif dari persaingan pasar antara lain:
a. Kemungkinan terjadinya pelanggaran etika bisnis.
b. Kesulitan tumbuhnya bisnis pemula.
c. Daya serap tenaga kerja yang terbatas karena jumlah perusahaan masih sedikit.
d. Terjadinya perang harga yang merugikan bagi semua pesaing.
e. Dapat menghasilkan bisnis monopoli dalam persaingan yang liar.
Keunggulan bersaing merupakan strategi keuntungan dari pengusaha yang melakukan kerjasama untuk berkompetisi lebih efektif dalam pasar. Strategi yang didesain bertujuan untuk mencapai keunggulan bersaing yang terus menerus agar UKM dapat terus menjadi pemimpin pasar (Prakosa, 2005). UKM mengalami keunggulan bersaing ketika tindakan-tindakan dalam suatu industri atau pasar menciptakan nilai ekonomi dan ketika beberapa UKM yang bersaing terlibat dalam tindakan serupa. Menurut David ( dalam Djodjobo & Tawas, 2014),
persaingan antara perusahaaan mengalami peningkatan dalam kondisi:
1. Banyaknya usaha yang bersaing.
2. Ukuran serupa dari usaha yang bersaing.
3. Kapabilitas yang serupa dari usaha yang bersaing.
4. Penurunan permintaan produk industri.
5. Turunnya harga produk/ jasa di industri.
6. Ketika konsumen dapat beralih merek dengan mudah.
7. Ketika hambatan untuk meninggalkan pasar tinggi.
8. Ketika hambatan untuk memasuki pasar rendah.
9. Ketika biaya tetap tinggi di antara perusahaan yang bersaing.
10. Saat produk dapat dihancurkan.
11. Ketika saingan memiliki kelebihan kapasitas.
12. Ketika permintaan konsumen turun.
13. Ketika saingan memiliki kelebihan persediaan.
14. Ketika saingan menjual produk / jasa serupa.
15. Ketika merger menjadi hal umum di industri.
2.5.2 Dimensi Daya Saing
Dimensi daya saing suatu perusahaan yang dikemukakan oleh Muhardi (2007) terdiri dari 4 (empat) dimensi, yaitu:
1. Biaya adalah dimensi daya saing operasi yang meliputi 4 (empat) indikator yaitu biaya produksi, produktivitas tenaga kerja, penggunaan kapasitas, produksi, dan persediaan. Unsur daya saing yang terdiri dari biaya merupakan modal yang mutlak dimiliki oleh suatu perusahaan yang mencakup
pembiayaan produksinya, produktivitas tenaga kerjanya, pemanfaatan kapasitas produksi perusahaan dan adanya cadangan produksi ( persediaan ) yang sewaktu – waktu dapat dipergunakan oleh perusahaan untuk menunjang kelancaran perusahaan tersebut.
2. Kualitas seperti yang dimaksudkan oleh Muhardi adalah merupakan dimensi daya saing yang juga sangat penting , yaitu meliputi berbagai indikator diantaranya tampilan produk, jangka waktu penerimaan produk, daya tahan produk, kecepatan penyelesaian keluhan konsumen, dan kesesuaian produk terhadap spesifikasi desain. Tampilan produk dapat tercermin dari desain produk atau layanannya, tampilan produk yang baik adalah yang memiliki desain sederhana namun mempunyai nilai yang tinggi. Jangka waktu penerimaan produk dimaksudkan dengan lamanya umur produk dapat diterima oleh pasar, semakin lama umur produk di pasar menunjukkan kualitas produk tersebut semakin baik. Adapun daya tahan produk dapat diukur dari umur ekonomis penggunaan produk.
3. Waktu penyampaian merupakan dimensi daya saing yang meliputi berbagai indikator diantaranya ketepatan waktu produksi, pengurangan waktu tunggu produksi, dan ketepatan waktu penyampaian produk. Ketiga indikator tersebut berkaitan, ketepatan waktu penyampaian produk dapat dipengaruhi oleh ketepatan waktu produksi dan lamanya waktu tunggu produksi.
4. Adapun fleksibilitas merupakan dimensi daya saing operasi yang meliputi berbagai indikator diantaranya macam produk yang dihasilkan, kecepatan menyesuaikan dengan kepentingan lingkungan.
2.6 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.2
Daftar Penelitian Terdahulu
Nama Peneliti
(Tahun)i Judul Penelitian Hasil Penelitian
Listiani, Lisa (2016)
Pengaruh strategi Resources Based View dan Orientasi Kewirausahaan Terhadap Keunggulan Bersaing UMKM ( Studi Kasus pada Kerajinan Rotan di Medan )
Secara parsial strategi resources based view dan orientasi kewirausahaan secara bersama – sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan bersaing pada anggota Koperasi Industri dan Kerajinan Rotan di Medan.
Sari, Siti Novita ( 2015 )
Faktor – faktor yang
Mempengaruhi Peningkatan Daya Saing Usaha Pelaku Usaha Mikro Rotan di Kota Medan.
Sumber daya manusia, modal, pemasaran produk, dan dukungan pemerintah daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap daya saing usaha pada pelaku usaha mikro rotan di Kota Medan. Dukungan pemerintah daerah adalah setiap usaha yang dilakukan pemerintah untuk
memperbaiki performasi pekerja pada suatu pekerjaan untuk meningkatkan daya saing.
Rengkung, Leonardus Ricky ( 2015 )
Keuntungan Kompetitif Organisasi dalam Perspektif Resources Based View (RBV).
Sumber daya manusia merupakan salah satu sumber daya ada dalam organisasiyang harus ditranformasikan oleh organisasi untuk mendapatkan dan mempertahankan keuntungan kompetitif.
Jati, Gilang Prasidya ( 2014 )
Pengaruh Keunggulan Bersaing Melalui Kinerja Bisnis ( Studi Kasus pada Warung Makan Tlogosari Semarang ).
Pengaruh keragaman produk dan kualitas produk terhadap keunggulan bersaing yang berdampak pada kinerja bisnis pada warung makan di Pusat Kuliner di Wilayah Tlogosari.
Metehoky, Stella Marris ( 2013 )
Pengaruh Strategi Resource Based dan Orientasi Kewirausahaan Terhadap Keunggulan Bersaing Usaha Kecil dan Usaha Mikro (Studi Kasus pada Usaha Jasa Etnis Maluku).
Strategi Resource-Based berpengaruh secara langsung terhadap orientasi kewirausahaan dan keunggulan bersaing usaha kecil dan usaha mikro etnis Maluku.
Zuhroida, Ayu ( 2013 )
Pendekatan Model RBV (Resource Based View) untuk Mengevaluasi Strategi Bersaing pada Rumah Sakit Jemursari Surabaya.
Peneliti telah menemukan karakteristik sumber daya yang dimiliki Rumah Sakit Islam Jemursari sebagai sumber daya yang mampu menciptakan keunggulan bersaing. Sumber daya yang bernilai bagi Rumah Sakit Islam Jemursari adalah pelayanan islami yang menjadikan nilai tambah bagi rumah sakit, sumber daya langkah pada rumah sakit ini adalah penerbitan buku fiqih medis yang yang membahas tentang kesehatan yang dihubungkan dengan nilai-nilai islam.
Sumber : Lisa Listiani (2016), Siti Novita Sari (2015), Leonardus Ricky Rengkung (2015), Gilang Prasidya Jati (2014), Stellamaris Metekohy (2013), Ayu Zuhroida (2013).
2.7 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual atau disebut juga kerangka teoretis yaitu suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan suatu teori dengan faktor-faktor yang penting yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu. Kerangka teoretis akan menghubungkan secara teoretis antara variabel-variabel penelitian, yaitu antara variabel bebas dengan variabel terikat (Erlina, 2011).
Menurut Metehoky (2013) strategi Resource-based yang teraktualisasi dalam sumber daya dan kapabilitas berpengaruh meningkatkan orientasi kewirausahaan. Strategi Resource-based yang lebih baik dapat meningkatkan daya saing dalam hal keunggulan biaya, keunggulan diferensiasi usaha kecil dan usaha mikro khususnya usaha jasa.
Menurut Rengkung (2015) Organisasi akan dianggap memiliki keberhasilan dan mampu mempertahankan eksistensi, jika organisasi mampu memiliki sumber daya yang unik dan melebihi dengan apa yang dimiliki oleh pesaing. Karakter sumber daya organisasi adalah merupakan sumber daya yang valuable, rare, imitable, and not subsitutable (VRIN).
Daya saing mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan produktivitas UKM dan memperluas akses pasar. Hal ini akan bermuara kepada peningkatan omset penjualan dan provitabilitas. Dengan semakin banyaknya persaingan pada warung makan di Wilayah Medan Area, Medan berakibat pada penurunan keuntungan perusahaan.
Seorang wirausahawan pada intinya apabila menerapkan resource based view perspective, dan kinerja bisnis maka wirausahawan tersebut mempunyai
tujuan yaitu untuk meningkatkan daya saing.
Berdasarkan teori yang telah diuraikan sebelumnya, penelitian ini akan membahas mengenai pengaruh resource-based view perspective dan kinerja bisnis terhadap peningkatan daya saing usaha. Melihat teori dan penjelasan tersebut, maka dibentuklah kerangka konseptual yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
2.8 Hipotesis
Berdasarkan uraian teoritis dan kerangka konseptual diatas, maka hipotesis penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Resource Based View Perspective dan Kinerja Bisnis berpengaruh signifikan terhadap Daya Saing Usaha pada cafe di Wilayah Medan Area.
2. Resource Based View Perspective berpengaruh positif dan signifikan terhadap Daya Saing Usaha pada cafe di Wilayah Medan Area.
3. Kinerja Bisnis berpengaruh positif dan signifikan terhadap Daya Saing Usaha pada cafe di Wilayah Medan Area.
Resources Based View Perspective
Daya Saing
Kinerja Bisnis
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kuantitatif.
Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Penelitian kuantitatif pada umumnya dilakukan pada sampel yang diambil secara random, sehingga kesimpulan hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi di mana sampel tersebut diambil (Sugiyono, 2011).
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada usaha cafe di Wilayah Kecamatan Medan Area Kota Medan. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Februari 2018 sampai dengan Juni 2018.
3.3 Batasan Operasional
Batasan operasional digunakan untuk menghindari kesimpangsiuran dalam membahas dan menganalisis permasalahan dalam penelitian ini, maka penelitian ini dibatasi pada pengaruh strategi resource based view perspective dan kinerja bisnis terhadap peningkatan daya saing usaha pada UMKM dan dalam hal ini UMKM yang bergerak di bidang kuliner di wilayah Medan Area. Adapun variabel
dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel Dependen (Y), yaitu Daya Saing Usaha (Y).
2. Variabel Independen (X), yaitu Resource Based View Perspective (X1) dan Kinerja bisnis (X2).
3.4 Definisi Operasional
Pada penelitian ini variabel yang dioperasionalkan adalah semua variabel - variabel yang yang termasuk dalam hipotesis. Untuk memberikan gambaran yang jelas dan memudahkan pelaksanaan penelitian, maka perlu pendefinisian variabel - variabel yang akan diteliti, yaitu sebagai berikut :
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel
Variabel Definisi Dimensi Indikator Skala
Resource Based View Perspective (X1)
Strategi perusahaan yang ingin mengetahui dan memahami apa yang membuat suatu perusahaan berbeda, memperoleh dan bertahan dalam keunggulan kompetitif, melalui pemanfaatan keberagaman sumber daya yang dimilikinya.
1. Sumber daya berwujud (tangible).
1. Lokasi.
2. Bahan Baku.
3. Mesin.
4. Peralatan.
5. Transportasi.
6. Sumber daya manusia.
Likert
2. Sumber daya tidak berwujud (intangible).
1. Nama usaha.
2. Nama Produk.
3. Inovasi.
3. Kapabilitas. 1. Keterampilan atau keahlian.
2. Aset fisik yang bernilai.
3. Aset sumber daya manusia.
4. Kapabilitas bersaing.
5. Aliansi dan kerja sama.
Kinerja Bisnis (X2)
Kinerja adalah keberhasilan personil, tim, atau unit organisasi dalam mewujudkan
1. Finasial 1. Peningkatan pendapatan.
2. Peningkatan keuntungan.
Likert
Lanjutan Tabel 3.1
Variabel Definisi Dimensi Indikator Skala
sasaran strategik yang telah ditetapkan sebelumnya dengan perilaku yang diharapkan
2. Non Finansial 1. Peningkatan volume penjualan.
2. Peningkatan pangsa pasar.
3. Peningkatan jumlah pelanggan.
4. Peningkatan kepuasan pelanggan.
Daya Saing (Y)
Tingkat sejauh mana suatu UMKM dapat memenuhi pasar, baik domestik maupun internasional, dalam memproduksi barang dan jasa dengan tetap mempertahankan atau meningkatkan daya saing.
1. Biaya 1. Biaya produksi.
2. Penggunaan kapasitas.
3. produksi, dan persediaan.
Likert
2. Kualitas 1. Mampu menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas.
2. Kualitas bahan baku yang sesuai dengan harga.
3. Waktu 1. Ketepatan waktu produksi.
2. Pengurangan waktu tunggu produksi.
3. Ketepatan waktu penyampaian produk.
4. Fleksibilitas 1. Berbagai macam produk yang dihasilkan.
2. Kecepatan menyesuaikan dengan kepentingan lingkungan.
3.5 Skala Pengukuran Variabel
Skala pengukuran digunakan untuk mengklasifikasikan variabel yang akan di ukur supaya tidak terjadi kesalahan dalam menentukan analisis data dan
langkah penelitian selanjutnya. Dalam penelitian ini digunakan skala Likert yaitu sebagai alat untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2014).
Pada penelitian ini responden memilih salah satu dari jawaban yang tersedia, kemudian masing-masing jawaban diberi skor tertentu. Total skor inilah yang ditafsir sebagai posisi responden dalam skala Likert. Kriteria pengukurannya adalah sebagai berikut:
Tabel 3.2
Pengukuran Skala Likert
No. Alternatif Jawaban Skor
1 Sangat Setuju (SS) 5
2 Setuju (S) 4
3 Kurang Setuju (KS) 3
4 Tidak Setuju (TS) 2
5 Sangat Tidak Setuju (STS) 1
3.6 Populasi dan Sampel Penelitian 3.6.1 Populasi
Sugiyono (2011) mengemukakan populasi adalah wilayah generelisasi yang terdiri dari atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah UKM kuliner di Wilayah Medan Area yang berjumlah 50 responden.
3.6.2 Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri atau keadaan
tertentu yang akan diteliti (Martono, 2011). Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah boring sampling ( sampel jenuh ). Sedangkan teknik penentuan sampel dalam penelitian ini adalah simple random sampling.
Menurut Sugiyono (2011) sampel jenuh (boring sampling) adalah “teknik yang menentukan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel”. Sedangkan simple random sampling adalah “Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhartikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen (Sugiyono, 2014)”.
Berdasarkan penjelasan tersebut, yang menjadi sampel penelitian ini adalah 50 pelaku UKM cafe di wilayah Medan Area.
3.7 Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini terdiri, yakni:
1. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden terpilih pada lokasi penelitian. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil pengisian kuesioner oleh responden, yaitu pelaku UKM usaha cafe di wilayah Medan Area.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung, baik berupa keterangan maupun literatur yang ada hubungannya dengan penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data jumlah warung makan di
3.8 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Angket ( Kuesioner )
Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2011).
2. Observasi
Observasi adalah pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung pada lokasi penelitian, dalam hal ini di beberapa kuliner di wilayah Medan Area untuk melengkapi catatan penelitian yang diperlukan.
3. Wawancara
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data dengan menggunakan alat bantu berupa seperangkat daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti. Wawancara dilakukan dengan pihak yang bersangkutan, yaitu pelaku UKM kuliner di wilayah Medan Area.
3.9 Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dan reliabilitas dilakukan terhadap alat penelitian yaitu kuesioner. Penyebaran kuesioner khusus uji validitas dan reliabilitas diberikan kepada pelaku bisnis cafe sebagai responden diluar dari pada sampel, yaitu pada 30 pelaku UKM cafe di Jalan Dr.Mansyur, Kecamatan Medan Selayang.