EGO-CENTRIC SOCIAL NETWORK ANALYSIS PADA PEMASARAN IKAN KERAMBA JARING APUNG (KJA) DI
KELURAHAN/NAGORI HARANGGAOL, KECAMATAN HARANGGAOL HORISON, KAB. SIMALUNGUN
TESIS
OLEH
FERIEL AMELIA SEMBIRING 147047005
PROGRAM STUDI MAGISTER SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
EGO-CENTRIC SOCIAL NETWORK ANALYSIS PADA PEMASARAN IKAN KERAMBA JARING APUNG (KJA) DI
KELURAHAN/NAGORI HARANGGAOL, KECAMATAN HARANGGAOL HORISON, KAB. SIMALUNGUN
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Sosiologi Dalam Program Studi Sosiologi Pada Sekolah
Pascasarjana
OLEH
FERIEL AMELIA SEMBIRING 147047005
PROGRAM STUDI MAGISTER SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
Telah diuji pada
Tanggal : 7 Februari 2019
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Fikarwin Zuska, M. Ant Anggota : 1. Dr. Bengkel Ginting, M. Si
2. Prof. Rizabuana Ismail, M.Phil, Ph.D 3. Drs. Henry Sitorus, M. Si
PERNYATAAN
EGO-CENTRIC SOCIAL NETWORK ANALYSIS PADA PEMASARAN IKAN KERAMBA JARING APUNG (KJA) DI
KELURAHAN/NAGORI HARANGGAOL, KECAMATAN HARANGGAOL HORISON, KAB. SIMALUNGUN
Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Sosiologi pada program studi Magister Sosiologi Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundanagan yang berlaku.
Medan, April 2019 Penulis
Feriel Amelia Sembiring
EGO-CENTRIC SOCIAL NETWORK ANALYSIS PADA PEMASARAN IKAN KERAMBA JARING APUNG (KJA) DI KELURAHAN/NAGORI
HARANGGAOL, KECAMATAN HARANGGAOL HORISON, KAB.
SIMALUNGUN
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jaringan pemasaran yang terbentuk di antara pedagang pengumpul (pengusaha/pemilik modal) dengan para petani keramba jaring apung yang berlokasi di Haranggaol, Kecamatan Haranggaol, Kabupaten Simalungun. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan cara analisis jaringan sosial dibantu dengan program lunak komputer jaringan yakni Ucinet. Yang menjadi subjek penelitian ialah pedagang pengumpul dan petani keramba. Subjek penelitian menggunakan pendekatan realitas dalam analisis jaringan. Data pada penelitian ini berupa data primer yang meliputi observasi dan wawancara terstruktur pada saat melakukan memasarkan ikan hasil panen oleh petani keramba kepada pedagang pengumpul. Data sekunder diperoleh dari informasi berupa artikel, referensi ataupun jurnal. Analisa data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Penelitian ini menggunakan teori jaringan sosial. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa ada tiga aktor egocentric yang ditemukan peneliti dalam membentuk jaringan dimana tiga aktor egocentric tersebut sebagai pedagang pengumpul (pengusaha/petani pemilik modal) yakni kelompok Rohakinian, kelompok Siharo dan kelompok Paimaham. Aktor alter yang terhubung dengan kelompok Rohakinian ada 12 petani dalam kelompok dan 2 petani diluar kelompok dengan density 0,033. Aktor alter yang terhubung dengan kelompok Siharo ada 27 yakni 21 petani dari kelompoknya dan 6 petani diluar kelompok dengan density 0,014.
Aktor alter yang terhubung dengan kelompok Moses Paimaham ada 27 yakni 36 petani dari kelompoknya dan 10 petani diluar kelompok dengan density 0,005.
Pola jaringan yang terbentuk dari hasil analisis jaringan adalah pola jaringan tertutup, pola dimana aktor ego dengan alter dan juga alter dengan alter yang terjalin namun dengan kohesivitas yang rendah. Jarak maupun diameter untuk ketiga kelompok tersebut tidak didapati, Jaringan sosial yang terjalin di antara mereka disebabkan hubungan sosial kekerabatan, keluarga atau teman dekat yang saling kenal.
Kata Kunci: Analisis Jaringan, Egocentric, Akor Ego-Alter, Pola Analisis Jaringan, Hubungan Sosial
EGO-CENTRIC SOCIAL NETWORK ANALYSIS IN MARKETING KJA (FLOATING NET CAGE) FISH AT KELURAHAN NAGORI HARANGGAOL, HARANGGAOL HORISON SUBDISTRICT,
SIMALUNGUN REGENCY ABSTRACT
The objective of the research was to analyze the marketing network established between collectors (business people/capital owners) and KJA raisers at Haranggaol, Haranggaol Sub-district, Simalungun Regency. The research used descriptive qualitative method, and social network was analyzed by using Icinet computer network. The research subjects were collectors and UJK raisers, using reality approach with network analysis. Primary data were gathered by conducting structuring observation and interviews during marketing the fish raisers’ fish to collectors. Secondary data were obtained from information such as articles, references, and journals. The gathered data were analyzed by conducting data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research also used the theory of social network. The result of the research showed that there were three egocentric actors in establishing the network as collectors (business people/capital owners): Rohakinian group, Siharo group, and Moses Paimaham group. Alter actors that were related to Rohakinian group were 14 KJA raisers with 12 of them were in the group and 2 of them were outside the group with the density of 0.033, alter actors that were related to Siharo group were 27 KJA raisers with 21 of them were in the group and 6 of them were outside the group with the density of 0.014, and alter actors that were related to Moses Paimaham group were 27 KJA raisers with 16 of them were in the group and 10 of them were outside the group with the density of 0.005. Network pattern established from the result of network analysis was closed network pattern in which ego actors with alter actors and alter actors with alter actors were tied together although in low cohesiveness. There was no range and diameter in the three groups. Social network tied together among them was caused by kinship social, family, and close friend relationship in which they know to each other.
Keywords: Network Analysis, Egocentric, Ego-Alter Actors, Network Analysis Pattern, Social Relationship
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkatNya yang selalu tercurah sehingga dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Kerjasama yang terjalin diantara pedagang pengumpul dengan para petani keramba jaring apung yang ada di Haranggaol sehingga membentuk jaringan sosial yang secara terus menerus dalam hal memasarkan ataupun menjual panen ikan yang dianalisis dalam bentuk pemetaan membuat saya tertarik untuk mengkaji hal tersebut.
Dalam penulisan tesis ini saya banyak mendapat bimbingan, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak. Maka dari itu saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara. Bapak Dr. Muryanto Amin,S.Sos,M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Bapak Prof.Rizabuana Ismail, PhD selaku Ketua Program Studi Magister Sosiologi Universitas Sumatera Utara dan selaku Dosen Penguji yang telah banyak memberikan masukan untuk perbaikan tesis ini. Bapak Drs. Henri Sitorus, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi Magister Sosiologi dan selaku Dosen Penguji yang telah banyak memberikan masukan untuk perbaikan tesis ini. Bapak Dr.
Fikarwin Zuska, M.Ant, selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah banyak membimbing, mengarahkan dan memberikan masukan kepada saya dalam penelitian tesis ini. Bapak Dr. Bengkel Ginting, M.Si, selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak memberikan masukkan untuk perbaikkan tesis.
Seluruh dosen dan staf administrasi Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Rasa terima kasih yang mendalam juga tak lupa saya haturkan kepada kedua orang tua saya, yang selalu support dan mendoakan setiap perjalanan hidup saya terutama dalam penyelesaian tesis ini. Semoga hasil yang saya peroleh saat ini dan yang akan datang dapat memberikan kebanggaan bagi keluarga dan orang lain. Dan rasa terima kasih kepada abang saya, Fernando yang selalu memberikan motivasi bahwa adiknya ini mampu untuk menyelesaikan tesis ini. Serta kakak saya, Agustina, yang selalu sibuk bertanya kapan wisuda dan memberi masukan serta semangat untuk menyelesaikan studi kepada saya,
Kepada pedagang pengumpul, dan para petani keramba yang telah bersedia memberi informasi yang saya butuhkan. Kepada keluarga Ibu Pakpahan boru Saragih, Bapak Puncamen Saragih dan Evan Pakpahan, yang telah bersedia untuk saya repoti membawa saya kepada para petani. Semoga berkat Tuhan selalu berlimpah atas kalian. Rekan - rekan almameter dan alumnus Magister Sosiologi dan terkhusus Tahun Ajaran 2014/2015, Bapak Salamat Sinaga, Bapak Johannes Tampubolon, Bang Rholand Muary, Bang Efentinus Ndruru, Bang Harisan Boni, Bang Razali, Bang Zimmy, Kakak Nurbadariah Tampubolon, Kakak Elida Husni, Kakak Mardiana, Kakak Desty Ariani, Kakak Netty Siringo-ringo, Reza Ardillah, Rudi dan banyak teman lainnya yang tidak saya sebut terima kasih untuk bantuan dan dukungan selama saya menempuh studi dan dalam penelitian tesis ini.
Semoga Tuhan selalu memberikan berkat dan kasihNya yang berlimpah kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan perhatian kepada saya.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati saya menyadari bahwa tesis ini jauh dari kata sempurna dan berharap kiranya semua pihak khususnya bagi pengembangan serta penelitian dalam bidang sumber daya manusia memberikan kritikan dan saran dari guna membangun penulisan yang lebih baik dikemudian hari.
Medan, April 2019 Penulis,
Feriel Amelia Sembiring
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latarbelakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 9
1.3 Tujuan Penelitian ... 9
1.4 Manfaat Penelitian ... 10
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 12
2.1 Kajian Pustaka ... 12
2.1.1 Analisis Jaringan Sosial (AJS)/Social Network Analysis(SNA) ... 12
2.1.2 Egocentric Network ... 15
2.1.3 Keramba Jaring Apung ... 17
2.1.4 Pemasaran Hasil Panen Ikan ... 21
2.2 Teori Jaringan ... 23
2.3 Penelitian atau Studi Sebelumnya ... 27
2.4 Kerangka Konsep ... 30
BAB III METODOLOGI ... 33
3.1 Jenis Penelitian ... 33
3.2 Lokasi Penelitian ... 33
3.3 Subjek Penelitian ... 34
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 35
3.5 Teknik Validitas Data ... 37
3.6 Teknik Analisis Data ... 36
BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN ... 40
4.1 Lokasi dan Sistem Pemeritahan ... 40
4.2 Asal Usul ... 44
4.3 Jumlah Penduduk ... 45
4.3.1 Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur ... 46
4.3.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian ... 47
4.3.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenjang Pendidikan ... 49
4.3.4 Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku ... 51
4.3.5 Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama ... 52
4.4 Pola Pemukiman Penduduk ... 53
4.5 Sarana dan Prasarana ... 55
BAB V KERAMBA JARING APUNG HARANGGAOL ... 63
5.1 Keramba Jaring Apung Haranggaol ... 63
5.2 Aktor-Aktor Jaringan ... 71
5.1.1 Pedagang Pengumpul ... 74
5.1.2 Petani Keramba Jaring Apung ... 76
5.3 Kesepakatan dan Keterikatan Pedagang Pengumpul dan Petani Keramba .... 80
5.4 Proses Petani Keramba Menjual Ikannya ... 84
5.4 Aktor Ego dan Aktor Alter Dalam Analisis Jaringan Sosial Keramba Jaring Apung ... 85
BAB VI ANALISIS JARINGAN SOSIAL EGO CENTRIC KERAMBA JARING APUNG ... 88
6.1 Aktor Ego dan Aktor Alter ... 88
6.1 Analisis Jaringan Sosial Ego Dalam Setiap Kelompok ... 91
6.1.1 Analisis Jaringan Sosial Aseng Sinaga (Rohakinian) ... 91
6.1.2 Analsis Jaringan Sosial Kelompok Siharo ... 98
6.1.3 Analsis Jaringan Sosial Kelompok Moses Paimaham ... 108
6.2 Hubungan Sosial Antar Aktor ... 117
6.2.1 Hubungan Antar Aktor Ego dengan Alter ... 118
6.2.2 Hubungan Antar Aktor Alter ... 121
6.3 Implikasi Teori Dengan Hasil Penelitian ... 123
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ... 126
7.1 Kesimpulan ... 126
7.2 Saran ... 129 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Pedoman Wawancara Dokumentasi
Tabel Analisis Jaringan Ego
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Banyaknya Rumah Tangga Perikanan (RTP), Luas, Produksi Dan
Nilai Penjualan Petani Jaringan Apung Dan Keramba ... 4
Tabel 4.1 Pembagian Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) Kelurahan Haranggaol ... 46
Tabel 4.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur ... 47
Tabel 4.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian ... 49
Tabel 4.5 Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 50
Tabel 4.6 Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku ... 52
Tabel 4.7 Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama ... 53
Tabel 4.8 Sarana Kesehatan di Kelurahan Haranggaol ... 58
Tabel 4.9 Sarana Pendidikan di Kelurahan Haranggaol ... 59
Tabel 4.10 Rumah Ibadah ... 62
Tabel 6.1 Ukuran, Kepadatan, Diameter, Ikatan Dalam Jaringan Aseng Sinaga ... 96
Tabel 6.2 Hasil Density Pada Aktor Ego ... 97
Tabel 6.3 Ukuran, Kepadatan, Diameter, Ikatan Dalam Jaringan Irwan Rajagukguk ... 100
Tabel 6.4 Hasil Density Pada Aktor Ego ... 106
Tabel 6.5 Ukuran, Kepadatan, Diameter, Ikatan Dalam Jaringan Bombom Haloho ... 113
Tabel 6.6 Hasil Density Pada Aktor Ego ... 115
DAFTAR GAMBAR
Gbr 6.1 Pemetaan Jaringan Sosial Kelompok Aseng Sinaga (Rohakinian)... 92 Gbr 6.2 Pemetaan Jaringan Sosial Kelompok Irwan Rajagukguk (Siharo) ... 100 Gbr 6.3 Pemetaan Jaringan Sosial Kelompok Bombom Haloho (Moses
Paimaham) ... 109
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah negara yang memiliki 13.000-an pulau dan garis pantai sepanjang 80.000 km. Sebagai negara yang memiliki belasan ribu pulau dan jarak garis pantai yang mencapai puluhan ribu menyebabkan Indonesia mendapat julukan sebagai negara kepulauan. Kenyataan ini memungkinkan untuk munculnya corak kehidupan yang berkaitan dengan perairan bagi manusianya.
Oleh karena itu tidak mengherankan jika di sekitar perairan, orang-orang memanfaatkan perairan tersebut sebagai sumber mata pencaharian.
Pada umumnya masyarakat yang bertempat tinggal di daerah perairan baik berupa pantai, danau ataupun daerah aliran sungai, dominan masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan dan pembudidaya ikan. Salah satu daerah tersebut ada di wilayah Sumatera Utara. Sumatera Utara dijadikan tempat perikanan karena memiliki kekuatan potensial dan komperatif serta keunggulan kompetitif yang cukup besar. Sumber daya perikanan baik tangkap maupun budidaya mendukung pembangunan perikanan secara umum tanpa bersaing dengan subsektor pertanian lainnya dalam alokasi penggunaan lahan yang semakin terbatas.
Usaha perikanan di Propinsi Sumatera Utara meliputi perikanan laut dan perikanan darat. Usaha perikanan darat meliputi perikanan perairan umum (sungai dan danau), dan perikanan budidaya (tambak, kolam, sawah, keramba jaring apung). Kawasan Danau Toba merupakan salah satu diantara sentra perikanan
darat di Sumatera Utara yang menjadi primadona. Danau Toba yang luasnya mencapai 1.256 kilometer persegi, perairannya dimanfaatkan sebagian warga untuk pengolahan Keramba Jaring Apung (KJA). Menurut survei Bapedalda Sumatera Utara pada tahun 2007 menunjukkan bahwa jumlah total keramba jaring apung milik masyarakat sebagai sarana budidaya perikanan pada saat itu mencapai 4.922 unit yang tersebar pada 51 lokasi dengan luas 110.000 ha.
(Inkubasi Kawasan Danau Toba, akses November 2016).
Budidaya Keramba Jaring Apung (KJA) Danau Toba merupakan budidaya perikanan yang dilakukan di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara, terkhususnya yang berada di pinggiran-pinggiran kawasan Danau Toba (bibir danau). Sebagai masyarakat yang memiliki pengetahuan dalam mengembangbiakkan bibit-bibit ikan, petani-petani keramba ini sangat menggantungkan hidupnya dari hasil budidaya ikan tersebut.
Budidaya ikan sistem keramba jaring apung di pinggiran Danau Toba ini sudah ada sejak tahun 1980-an hingga sampai saat ini bahkan diperkirakan akan terus berkembang sejalan dengan kebutuhan akan protein hewani dan kebijakan pemerintahan setempat yang membutuhkan peningkatan pendapatan asli daerahnya dari sumber daya alam yang dimilikinya (Rismawati, 2010).
Kemudian, survei yang dilakukan dinas perikanan dan kelautan Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2008, didapatkan bahwa keramba jaring apung yang beroperasi di perairan Danau Toba sebanyak 7.012 unit, yang terdiri dari KJA milik PT. Aquafarm Nusantara sebanyak 1.780 unit dan Kerambah Jaring Apung (KJA) milik masyarakat sebanyak 5.232 unit berlokasi di Haranggaol, Pangururan, Tomok, Tuktuk, Balige, Muara, Paropo, Tabun Raya, Sigapitan,
Tongging, Panahatan dan Silalahi (Inkubasi Kawasan Danau Toba, akses November 2016).
Sebagai desa pembudidaya dan penghasil ikan keramba jaring apung yang berada disekitaran Danau Toba, Haranggaol adalah daerah yang terkenal akan banyaknya hasil produksi budidaya ikan keramba, baik itu ikan mas ataupun ikan nila. Sebelum maraknya keramba jaring apung menghiasi bibir Danau Toba, daerah Haranggaol merupakan salah satu tempat wisata yang begitu diminati wisatawan untuk dikunjungi karena destinasi alamnya yang begitu indah. Namun karena pesatnya pertambahan keramba jaring apung tersebut dari tahun ke tahun mulai dari tahun 1998-2004 menyebabkan tempat ini tidak hanya sebagai tempat wisata bagi wisatawan lokal maupun mancanegara tetapi juga sebagai tempat pembudidayaan ikan. Tidak mengherankan jika daerah ini tidak lagi dikenal sebagai daerah wisata oleh masyarakat luar melainkan dikenal sebagai daerah budidaya ikan keramba.
Dari tahun ke tahun masyarakatnya semakin banyak yang membuka dan menambah jumlah keramba mereka dan mulai meninggalkan pertanian. Sehingga jumlah keramba yang ada sudah memenuhi bibir danau sekitaran Haranggaol, sudah melebihi bibir danau yang merupakan batas area untuk keramba. Akhir- akhir ini program pemerintah untuk menjadikan Haranggaol kembali lagi untuk menjadi tempat wisata yang akan diperuntukkan menjadi sentranya wisata Danau Toba pada pertengahan tahun 2016 oleh pemerintah pusat membawa dampak keramba jaring apung ditertibkan sesuai peraturan yang sudah ada selama ini yang dilanggar pihak pemilik keramba.
Keramba-keramba yang tidak sesuai prosedur aturan dalam membangun keramba jaring apung ditertibkan dengan menutup keramba yang melanggar prosedur aturan tersebut. Bahkan, ada isu-isu bahwa akan dikeluarkan kebijakan untuk ditutupnya semua keramba jaring apung tersebut demi menjadikan Danau Toba sebagai Monaco of Asia. Namun hingga sekarang kebijakan tersebut belum terealisasi sepenuhnya karena adanya penolakan dari masyarakat lokal akan peraturan tersebut. Penolakan tersebut dikarenakan bahwa keramba jaring apung merupakan mata pencaharian yang bisa mengerakkan perekonomian masyarakatnya. Terlihat dari kehidupan ekonomi masyarakatnya yang mulai meningkat dan mengalami kesejahteraan. Rumah-rumah tempat tinggal yang sudah berganti ke bangunan permanen dan berlantai keramik adalah salah satu hasil dari budidaya keramba jaring apung.
Perekonomian yang terus berkembang dan menambah pendapatan masyarakatnya kecamatan Haranggaol masih menjadi daerah prioritas dalam membudidayakan keramba termasuk salah satu desanya yakni Haranggaol.
Tempat ini dijadikan sebagai sentranya keramba jaring apung di kawasan danau Toba (lintasmedan.com, akses Agustus 2017). Walaupun saat ini belum ada data otentik mengenai jumlah keramba jaring apung, terlebih pada tahun 2016 di saat pembersihan keramba yang dilakukan secara besar-besaran.
Data yang di dapat pada tahun 2012 dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Simalungun bahwa Kecamatan Haranggaol memperlihatkan bahwa Kecamatan Haranggaol merupakan penghasil ikan keramba milik masyarakat yang paling banyak bila dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lainnya di wilayah Simalungun. Untuk lebih jelas mengenai perincian banyaknya rumah
tangga perikanan diberbagai kecamatan di Kabupaten Simalungun pada tahun 2012 dapat dilihat pada tabel 1.1 berikut ini :
Tabel 1.1
Banyaknya Rumah Tangga Perikanan (RTP), Luas, Produksi Dan Nilai Penjualan Petani Jaringan Apung Dan Keramba
No Kecamatan Jumlah
Rumah Tangga Perikanan
(RTP)
Luas (Kantong)
Produksi Nilai
Penjualan (Rp)
1.
2.
3.
4.
5.
Pematang Silimahuta Haranggaol Horison Dolok Pardamean Pematang Sidamanik Girsang Sipangan
1 280
47 36 94
6 2.991
190 159 854
3,6 3.964,7
158,8 144,6 1.294,6
59 64.941
2.601 21.202
-
Kabupaten Simalungun 458 412 5.562,5 88.803
Sumber : Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Simalungun (2012)
Banyaknya hasil produksi dari panen ikan keramba jaring apung daerah Haranggaol menyebabkan hasil panen ikan tesebut dipasarkan ke berbagai wilayah yang meliputi Tanah Karo, Medan, Rantau Prapat dan daerah lainnya.
Hasil produksi ikan yang banyak menandakan bahwa jumlah keramba dipastikan juga banyak. Dengan jumlah keramba yang banyak akan membawa usaha budidaya ini saling terhubung antara pedagang pengmpul dengan petani keramba dalam melancarkan usaha budidaya ikan keramba termasuk dalam hal memasarkan hasil panen atau menjual hasil panennya.
Pemasaran yang dilakukan hingga menjangkau beberapa daerah tahap
para petani dalam menjalin hubungan yang kemudian diteruskan hingga ke pedagang pengecer besar sampai ke tangan pedagang pengecer kecil.
Kemitraan yang terjalin antara pedagang pengumpul dengan para petani keramba akan membentuk jaringan sosial yang akan membawa keberlangsungan dalam hal memasarkan hasil panen ikan. Jaringan sosial yang dibentuk dalam usaha keramba jaring apung merupakan hal yang penting bagi pedagang pengumpul dan para petani keramba jaring apung dalam menjalankan usahanya.
Berbagai keterbatasan akses jaringan sosial bagi petani keramba jaring apung ke pangsa pasar yang ada di berbagai daerah mengharuskan mereka unuk memakai bantuan agen pemasaran dalam hal ini agen pemasaran pertama yakni pedagang pengumpul untuk memasarkan hasil produksi ikan mereka.
Jaringan sosial terbentuk karena adanya rasa saling tahu, saling menginformasikan, saling mengingatkan, dan saling membantu dalam melaksanakan ataupun mengatasi sesuatu serta rasa saling percaya. Damsar (2011) menyatakan bahwa jaringan sosial merupakan hubungan-hubungan yang tercipta antar banyak individu dalam suatu kelompok ataupun antar suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Hubungan-hubungan yang terjadi bisa dalam bentuk yang formal maupun bentuk informal.
Peran jaringan sosial dalam sistem pemasaran ikan berpengaruh dalam hal pemasaran misalnya saja kesepakatan harga dan lain sebagainya. Sebelum tingkat pemasaran yang lebih luas yang dilakukan oleh pedagang pengumpul hingga sampai ke tangan pemasar tingkat dua (pedagang pengecer/produsen kedua), dibentuk jaringan sosial antara pedagang pengumpul keramba jaring apung dengan beberapa aktor yakni petani keramba, sang penghasil produksi ikan.
Dalam melancarkan usaha keramba jaring apung tersebut, interaksi merupakan hal penting untuk berbagi informasi baik itu dalam lingkungan sesama petani keramba jaring apung yang berada didalam kelompok maupun petani yang berada diluar kelompok yang ada. Bagi para petani yang akan baru mulai menjalani usaha keramba akan mencari tahu informasi bagaimana dan apa yang harus dilakukan. Maka dari tahap inilah dia mencari informasi dari orang yang tidak lain dan tidak bukan merupakan petani keramba juga yang sudah lama memulai usahanya yang tentunya juga sudah menjalin hubungan dengan sesama petani dan juga pedagang pengumpul.
Hubungan yang telah terjalin tersebut secara intens terjadi melalui seberapa banyak mereka mempunyai hubungan-hubungan sosial hingga pada tingkatan yang luas, hubungan kedekatan dan juga hubungan keperantaraan akan semakin mendukung jaringan sosial yang diantara para petani keramba dan pedagang pengumpul (ego). Dalam mencari informasi pemasaran ikan hasil keramba, petani keramba harus membangun struktur jaringan dengan petani keramba lainnya untuk mendapatkan informasi siapa pedagang pengumpul yang bisa membantu memasarkan hasil panen ikan mereka ke agen pemasaran berikutnya (pedagang besar ataupun pedagang pengecer).
Jaringan dapat menjadi potensi besar untuk menyukseskan usaha dalam suatu sistem karena akan sangat membantu dalam mengakses link untuk memasarkan hasil panen. Jaringan sosial yang tercipta karena adanya proses hubungan sosial antara petani keramba jaring apung dengan pedagang pengumpul.
Jaringan sosial ini akan lebih dipermudah untuk dilihat apabila di analisa menggunakan pendekatan analisis jaringan sosial yang khsususnya analisis
jaringan yang berpusat pada pedagang pengumpul (ego). Dimaksudkan disini para petanilah yang mencari pedagang pengumpul berdasarkan informasi yang didapat dari sesama petani.
Analisis jaringan sosial adalah interaksi ataupun hubungan yang terbentuk karena adanya jaringan antara aktor-aktor (node-node) yang dihubungkan dengan garis/simpul (link) yang dimana link menunjukkan adanya relasi. Jaringan memandang sistem apapun sebagai seperangkat aktor yang saling terkait atau node. Para aktor dapat mewakili entitas di berbagai tingkat kolektivitas, seperti orang, perusahaan, negara, dan sebagainya. Ikatan antara pelaku dapat dari berbagai jenis, seperti persahabatan, persaingan, dan sebagainya, dan dapat dicirikan bersama beberapa dimensi, seperti durasi, frekuensi, dan sejenisnya yang yang dapat digambarkan melalui sebuah diagram dengan menggunakan program pengolahan data jaringan sosial (Borgatti dan Xun Li, 2009).
Analisis jaringan sosial dalam hal ini berperan untuk mengidentifikasi struktur jaringan ego yang terjalin antara petani ikan keramba jaring apung dengan pedagang pengumpul. Sebanyak apa mereka yang menjalin hubungan sosial dan hubungan seperti apa yang terjalin diantara mereka sehingga jaringan sosial ini masih terjadi pada kedua pihak. Melalui struktur jaringan yang diidentifikasi maka akan menghasilkan struktur jaringan berupa pemetaan dan juga mengetahui besar ukuran, kepadatan, jarak dan diameter yang terbentuk antara petani ikan keramba dengan masing-masing pedagang pengumpul.
Dari pemetaan jaringan sosial tersebut maka dapat diketahui pula pola jaringan sosial yang terjalin diantara mereka. Dengan terbentuknya pola analisis jaringan ego diantara petani ikan kerambah jaring apung dan pedagang
pengumpul. Penelitian ini akan memberikan sumbangan informasi dalam ilmu sosial khususnya ilmu sosiologi ekonomi dalam hal memetakan jaringan sosial khususnya pemasaran panen ikan dengan melihat hubungan yang terjalin melalui sosiogram. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk memetakan jaringan sosial yang terbentuk selama ini dalam jaringan sosial pemasaran ikan keramba di daerah Haranggaol.
1.2. Rumusan Masalah
Dari latarbelakang yang telah dipaparkan sebelumnya oleh peneliti maka yang menjadi rumusan masalah adalah :
1. Bagaimana analisis jaringan sosial dan pola analisis jaringan yang terbentuk dalam hal pemasaran keramba jaring apung dalam struktur jaringan sosial ego antara pengusaha/pedagang pengumpul dan para petani keramba jaring apung?
2. Bagaimana hubungan sosial yang terjalin diantara pedagang pengumpul/pengusaha/petani pemilik modal dengan para petani keramba?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan diatas , adapun tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk menganalisis jaringan sosial dan mendeskripsikan pola analisis jaringan pada pemasaran keramba jaring dalam struktur jaringan sosial ego antara pedagang pengumpul dan para petani keramba jaring apung.
2. Untuk mendeskripsikan hubungan sosial yang terbentuk diantara pedagang pengumpul/pengusaha/petani pemilik modal (ego) dengan para petani keramba jaring apung.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai berikut:
1. Aspek akademik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dan literatur yang lebih mendalam lagi mengenai analisis jaringan sosial ego-centric yang terjadi dalam hal pemasaran antara pedagang pengumpul/pengusaha/petani pemilik modal (ego) dan para petani keramba jaring apung (alter), sehingga dapat diketahui seberapa banyak aktor alter dengan ego serta aktor alter dengan alter yang terhubung dan pola jaringan yang terbentuk berdasarkan hasil analisis jaringan serta hubungan-hubungan sosial yang membentuk jaringan sosial di antara mereka.
2. Aspek Praktis
Selain dari aspek akademik, penelitian ini diharapkan dari aspek praktis dapat memberikan sumbangsih berupa referensi terhadap pembuat kebijakan dalam hal ini pemerintah daerah berusaha memberikan gambaran utuh kepada mereka mengenai kondisi para petani keramba dalam memasarkan hasil panen, sehingga dapat membantu memberikan informasi lebih lanjut sistem pemasaran bagi para petani yang mau atau masih merencanakan untuk membuka usaha keramba serta memungkinkan juga untuk bisa menjangkau ke daerah-daerah yang lebih banyak lagi. Juga dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah
terkhususnya pemerintah pusat bahwa kawasan ini merupakan lahan untuk mata pencaharian masyarakat lokalnya sehingga tidak akan mengambil keputusan dengan menutup semua keramba jaring apung demi membangun kota wisata, dengan diberlakukannya zona untuk keramba maka keberlangsungan mata pencaharian masyarakatnya akan tetap terus berlangsung. Dan khususnya pedagang pengumpul, penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan mengenai analisis jaringan sosial dalam hal ini gambaran jaringan sosial yang terbentuk sehingga saling mengguntungkan diantara mereka yang terjalin jaringan sosial.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Kajian Pustaka
2.1.1. Analisis Jaringan Sosial ( AJS )/Social Network Analysis(SNA)
Analisis jaringan sosial adalah studi tentang struktur yang mengacu pada keteraturan dalam pola hubungan antara individu, kelompok atau organisasi.
Analisis jaringan sosial merupakan salah satu kajian dalam sosiologi modern. Saat ini perkembangan analisis jaringan sosial sudah memasuki ranah studi-studi lainnya seperti studi biologi, komunikasi, ekonomi, geografi, kesehatan serta linguistik. Analisis jaringan sosial adalah analisis tentang pandangan akan hubungan-hubungan sosial yang didalamnya memuat berbagai bentuk jenis dan pola-pola hubungan antar pelaku dalam jaringan serta ikatan sosial antar pelaku dalam jaringan.
Asumsi mendasar analisis jaringan sosial adalah bahwa struktur jaringan, dan sifat-sifat struktur tersebut memiliki implikasi yang signifikan terhadap hasil kepentingan. Karena fokus pada struktur jaringan daripada karakteristik individu dan atau perilaku anggota jaringan, data yang diperlukan untuk analisis yang tepat berbeda dari apa yang biasanya dikumpulkan. Biasanya, desain penelitian yang berfokus pada karakteristik perilaku individu dan bagaimana karakteristik tersebut mempengaruhi yang lain, mengumpulkan dan melakukan analisis terhadap data atribut. Data atribut didefinisikan sebagai data yang mencerminkan sikap, pendapat, dan perilaku individu atau kelompok.
Sebaliknya, analisis jaringan sosial tidak hanya mensyaratkan data atribut, namun dibangun berdasarkan pengumpulan dan analisis data relasional. Data
relasional mengacu pada kontak, ikatan dan koneksi, yang menghubungkan satu agen dalam jaringan ke jaringan lainnya. Data relasional tidak dapat direduksi menjadi sifat masing-masing agen itu sendiri melainkan pada sistem kumpulan agen.
Wasserman dan Faust (1994) dalam Rice et al (2015) menjelaskan bahwa social network analysis (SNA) merupakan metode untuk menganalisis struktur
sosial mengenai berbagai elemen yang terdapat pada lingkungan sosial yang saling berhubungan. Berbeda dengan analisis sosial lainnya, SNA menitikberatkan analisisnya pada interaksi antar aktor. Terdapat dua jenis hubungan yang bisa dijelaskan dalam SNA, yaitu: pertama, directional relations: jenis hubungan “self choices” dimana hubungan yang terjadi antar aktor merupakan pilihan dari
masing-masing aktor dan tidak berlaku saling berkebalikan. Kedua, non directional relations: jenis hubungan dimana hubungan para aktor saling simetris.
Analisis jaringan sosial adalah interaksi ataupun hubungan yang terbentuk karena adanya jaringan antara aktor-aktor (node-node) yang dihubungkan dengan garis/simpul (link) yang dimana link menunjukkan adanya relasi. Jaringan memandang sistem apapun sebagai seperangkat aktor yang saling terkait atau node. Para aktor dapat mewakili entitas di berbagai tingkat kolektivitas, seperti orang, perusahaan, negara, dan sebagainya. Ikatan antara pelaku dapat dari berbagai jenis, seperti persahabatan, persaingan, dan sebagainya, dan dapat dicirikan bersama beberapa dimensi, seperti durasi, frekuensi, dan sejenisnya yang yang dapat digambarkan melalui sebuah diagram dengan menggunakan program pengolahan data jaringan sosial (Borgatti dan Xun Li, 2009)
Social network analysis berdasar atas asumsi tentang pentingnya hubungan diantara node-node yang berinteraksi meliputi teori, model, serta aplikasinya.
Dinyatakan berdasarkan konsep-konsep relasional atau proses analisis. Analisis jaringan tidak secara individu, tetapi dengan entitas yang terdiri dari individu- individu dan hubungan yang tercipta diantara mereka atau relasi antar anggota dalam sebuah kelompok.
Analisis jaringan sosial adalah suatu teknik untuk mempelajari hubungan atau relasi sosial antar anggota dari sebuah komunitas orang (Hanneman dan Ridldle, 2005) dalam Eriyanto (2014). Sedangkan pendapat lain yaitu Schelhas dan Cerveny, analisis jaringan sosial adalah suatu proses pembelajaran serta pemahaman mengenai jaringan-jaringan (formal maupun informal) pada bidang- bidang tertentu (Soumokil, et al. 2013). Dalam analisis jaringan sosial terdapat simpul dan garis. Simpul adalah aktor individual dalam jaringan dan garis adalah hubungan antara para aktor.
Analisis jaringan sosial memandang hubungan-hubungan sosial dan ikatan-ikatan sosial diantara pelaku atau aktor-aktor (nodes) yang hasil analisis struktur-sturktur sosiak dapat dideskripsikan dalam bentuk grafik atau diagram yang dikenal dengan sosiogram. Ada dua cara dalam menganalisis jaringan sosial yakni analisis jaringan sosial utuh (menyeluruh) dan analisis jaringan sosial egocentric. Analisis jaringan sosial utuh (menyeluruh) dan analisis jaringan sosial egocentric , aktor-aktornya dapat dibedakan. Dalam analisis jaringan sosial utuh (menyeluruh) aktor-aktor adalah nodes sedangkan analisis jaringan ego aktor- aktornya adalah ego dan alter. Analisis jaringan utuh mencari siapa aktor
centralnya sedangkan analisis jarigan ego aktor centralnya sudah diketahui yakni si ego sendiri.
2.1.2. Ego-centric Network
Analisis jaringan ego-centric, level aktor memusatkan perhatian pada bagaimana posisi aktor (ego) dengan aktor lainnya (alter). Pada jaringan ego- centric tidak membicarakan jaringan secara keseluruhan tetapi hanya jaringan yang melibatkan aktor ego-alter. Jaringan ego-centirc menyoroti efek bahwa jaringan ini dapat memiliki perilaku, yang pada gilirannya, menggarisbawahi pentingnya praktisi dan peneliti untuk memeriksa jaringan lokal seseorang untuk lebih memahami tingkat risiko dan faktor pelindung yang mempengaruhi individu.
Dalam analisis jaringan sosial ego-centric terdapat struktur yang dapat diketahui, meliputi:
1. Ukuran (Size)
Ukuran berkaitan dengan jumlah anggota dalam jaringan. Ukuran dari jaringan menentukan karakterikstik suatu jaringan. Ukuran dapat dihitung dengan menghitung berapa banyak link antara ego dan alter (Carolan 2013:147) dalam Eriyanto (2014). Jaringan dengan ukuran kecil, antar aktor (node) lebih kohesif dibandingkan dengan jaringan ukuran besar. Struktur relasi diantara aktor juga berbeda antara jaringan dengan ukuran kecil dan besar.
2. Kepadatan (Density)
Kepadatan (density) adalah perbandingan jumlah link (ties) yang ada dalam jaringan dengan jumlah link yang mungkin muncul. Jaringan dengan kepadatan tinggi adalah jaringan dimana anggotanya saling berinteraksi satu sama lain. Sebaliknya jaringan dengan kepadatan rendah ditandai dengan minimnya interaksi antar anggota jaringan.
Angka kepadatan bergerak dari 0 hingga 1, dimana semakin mengarah ke 1 berarti makin padat suatu jaringan.
3. Jarak (Distance) dan Diameter
Ukuran lain dalam jaringan ego yaitu jarak (distance) dan diameter.
Jarak adalah berapa rata-rata semua aktor (ego-alter) bisa saling mengontak satu sama lain. Menghitung jarak (distance) cukup sederhana. Hitung berapa jarak terdekat antara satu aktor bisa mengontak aktor lain. Jarak dari semua aktor tersebut kemudian dibuat rata-rata. Sementara diameter adalah jarak paling jauh seorang aktor bisa mengontak aktor lain dalam jaringan.
Data egocentric memungkinkan mengeksplor (menjelajah) keragaman hubungan jaringan yang mengelilingi individu-individunya misalnya, rekan- rekan yang berbasis dalam lingkungan, rekan-rekan yang berbasis dalam sekolah dan ataupun anggota keluarga. Jenis data berfokus pada individu yang sedang dipelajari yang disebut dengan ego dan alter, yang orang lain kepada siapa ego terikat (Butts, 2008) dalam Eric Rice et al (2015).
Dalam studi egocentric, peserta diminta untuk mencalonkan alter kepada siapa mereka terikat, atribut dari orang-orang tersebut dan sifat ikatan (hubungan)
pada setiap alter. Dan kemudian peserta diminta mengeksplorasi jika dan bagaimana alter terikat satu sama lain. Pertanyaan untuk mengumpulkan data tentang struktur jaringan lokal ego mudah diberikan melalui instrumen survei (Butts, 2003, 2008). Setelah jaringan ini dibangun maka dapat dipahami peran setiap anggota dalam jaringan, membantu menjelaskan akses ke informasi, aliran informasi, ketersedian dukungan dan memberi pengaruh banyak pada perilaku orang yang target potensialnya untuk upaya intervensi.
Jaringan egocentric terdapat dua ikatan yang terbentuk dalam jaringan antara ego dengan alter dan juga alter dengan alter yakni jaringan tertutup dan jaringan terbuka. Jaringan disebut terbuka jikalau relasi hanya terjadi antar aktor ego dan alter sementara antar alter tidak saling terhubung satu sama lain. Jaringan terbuka disebut juga dengan jaringan radikal. Sebaliknya, jika jaringan dikatakan tertutup jikalau tidak hanya aktor ego dan alter saling terhubung satu sama lain melainkan juga aktor alter dengan aktor alter. Jaringan ini disebut dengan jaringan mengunci/interlock (Eriyanto, 2014:389).
2.1.3. Keramba Jaring Apung
Keramba jaring apung adalah wadah pemeliharaan ikan terbuat dari jaring yang dibentuk segi empat atau silindris ada diapungkan dalam air permukaan menggunakan pelampung dan kerangka kayu, bambu, atau besi, serta sistem penjangkaran. Lokasi yang dipilih bagi usaha pemeliharaan ikan dalam KJA relatif tenang, terhindar dari badai dan mudah dijangkau. Ikan yang dipelihara bervariasi mulai dari ikan air tawar, berbagai jenis kakap, sampai baronang, bahkan tebster. KJA ini juga merupakan proses yang luwes untuk mengubah
nelayan kecil tradisional menjadi pengusaha agribisnis perikanan (Abdulkadir, 2010).
Keramba jaring apung merupakan salah satu metode pemeliharan ikan dalam kurungan yang terdiri atas 4 pola dasar pemeliharan ikan, yaitu :
1. Kurungan tancap : bentuk kurungan ikan yang peletakannya menggunakan tiang- tiang pancang yang ditancapkan ke dasar perairan.
2. Kurungan terendam : bentuk kurungan ikan yang secara keseluruhan terendam didalam air dan bergantung kepada pelampung/rangka apung.
3. Kurungan lepas dasar : biasanya terbuat dari kotak kayu/bambu dan diletakan pada dasar air yang beraliran deras, dan diberi pemberat/jangkar.
4. Keramba jaring apung : jaring kurung apung ini terikat pada suatu rangka dengan disukung oleh pengapung-pengapung (Nikijuluw V.P.H, 1992) dalam Rachmatun Suyanto (2010). Usaha budidaya ikan air tawar dengan menggunakan teknik Kerambah Jaring Apung (KJA) lebih efisien dari segi biaya dari pada teknik tambak di kawasan danau atau perairan tertutup yang sifatnya permanen dan rentan terhadap konflik kepemilikan lahan atau tanah. Selain itu keramba jaring apung termasuk alat produksi yang fleksibel, karena bila tidak berproduksi kerambah dapat didaratkan untuk menjaga keamanan dan pemeliharaannya.
Keramba jaring apung merupakan bentuk/sistem kurungan yang banyak sekali di pakai dan bentuk serta ukurannya bervariasi sesuai dengan tujuan penggunaannya dikarenakan sistem keramba ini memiliki nilai yang ekonomis (murah) dan merupakan cara yang sangat baik untuk menyimpan berbagai organisme air, maka banyak sekali kegunaannya yaitu : sebagai sarana penyimpanan sementara, sebagai tempat pemeliharaan pembesaran ikan-ikan
konsumsi, tempat penyimpanan dan transportasi ikan umpan, wadah organisme air untuk memonitor kualitas lingkungan, sarana pemeliharaan untuk tujuan “Re–
stocking“.
Sejauh ini keramba jaring apung merupakan cara yang paling baik untuk membudidayakan ikan secara intensif dibandingkan cara lain seperti kurung tancap (pens), tambak (pond), kolam (tank), ataupun kolam arus. Bila ditinjau dari segi pengelolaannya, sangat mudah diterapkan. Tingkat kualitas ikan peliharaan serta pemanfaatan sumber daya dapat bernilai ekonomis (Nikijuluw V.P.H, 1992) dalam Rachmatun Suyanto (2010).
Dalam hal untuk menjalankan usaha budidaya ikan keramba jaring apung ada persyaratan teknis yang harus diperhatikan dalam memilih lokasi usaha budidaya antara lain adalah :
1. Arus air
Arus air pada lokasi yang dipilih diusahakan tidak terlalu kuat namun tetap ada arusnya agar tetap terjadi pergantian air dengan baik dan kandungan oksigen terlarut dalam wadah budidaya ikan tercukupi, selain itu dengan adanya arus maka dapat menghanyutkan sisa-sisa pakan dan kotoran ikan yang terjatuh di dasar perairan.
2. Kedalaman Perairan
Kedalaman perairan sangat berpengaruh terhadap kualitas air pada lokasi tersebut. Lokasi yang dangkal akan lebih mudah terjadinya pengadukan dasar akibat dari pengaruh gelombang yang pada akhirnya menimbulkan kekeruhan.
Sebagai dasar patokan pada saat surut terendah sebaiknya kedalaman perairan lebih dari 3m dari dasar waring/jaring.
3. Tingkat Kesuburan Air
Jenis perairan yang sangat baik untuk digunakan dalam budidaya ikan di jaring terapung dengan sistem intensif adalah perairan dengan tingkat kesuburan rendah hingga sedang.Jika perairan dengan tingkat kesuburan tinggi digunakan dalam budidaya ikan di jaring terapung maka hal ini sangat beresiko tinggi karena pada perairan tinggi (eutropik) kandungan oksigen terlarut pada malam hari sangat rendah dan berpengaruh buruk terhadap ikan yang dipelihara dengan kepadatan tinggi.
4. Bebas dari Pencemaran
Dalam dunia perikanan, yang dimaksud dengan pencemaran perairan adalah penambahan sesuatu berupa bahan atau energi ke dalam perairan yang menyebabkan perubahan kualitas air sehingga mengurangi atau merusak nilai guna air dan sumber air perairan tersebut.
5. Kualitas Air
Dalam budidaya ikan, secara umum kualitas air dapat diartikan sebagai setiap perubahan (variabel) yang mempengaruhi pengelolaan, kelangsungan hidup dan produktivitas ikan yang dibudidayakan. Jadi perairan yang dipilih harus berkualitas air yang memenuhi persyaratan bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan yang meliputi sifat fisika, kimia dan biologi.
6. Lokasi Bukan Daerah Up-welling
Lokasi ini terhindar dari proses perputaran air dasar kepermukaan (up- welling). Pada daerah yang sering terjadi up-welling sangat membahayakan kehidupan organisme yang dipelihara, dimana air bawah dengan kandungan oksigen yang sangat rendah serta gas-gas beracun akan kepermukaan yang dapat
menimbulkan kematian secara massal. Lokasi seperti ini sebaiknya dihindari kecuali sistem keramba dipasok oksigennya dengan suatu mekanisme tertentu.
2.1.4. Pemasaran Hasil Panen Ikan
Pemasaran merupakan aspek yang sangat mendasar dalam mencapai keuntungan suatu usaha. Jika produk yang dihasilkan tidak memiliki sasaran pasar maka produk tersebut tidak akan terjual. Oleh karena itu, sebelum melakukan usaha seorang pengusaha sebaiknya berpikir dan berorientasi ke aspek pemasaran terlebih dahulu (Dardiani dan Intan Rahma Sari, 2010).
Menurut Kohls dan Uhls (1990 dan 2002) dalam Kusnadi et al (2009:23) mendefenisikan pemasaran sebagai keragaman dari semua aktivitas bisnis dalam aliran dari produk- produk dari jasa-jasa dimulai dari tingkat produksi pertanian sampai di tingkat konsumen akhir.
Dalam pengertian dunia perusahaan, perkataan produksi dipakai sebagai tindakan pembuatan barang-barang, sedangkan perkataan distribusi (marketing) dipakai sebagai tindakan yang bertalian dengan pergerakan barang-barang dan jasa dari produsen ke tangan atau ke pihak konsumen. Istilah pemasaran dan tataniaga yang sering di dengar dalam ucapan sehari-hari di negeri kita adalah terjemahan dari atau berasal dari perkataan “marketing” (Hanafiah dan Saefuddin, 1983). Menurut Hanafiah dan Saefuddin, tataniaga atau pemasaran hasil perikanan mempunyai sejumlah ciri, diantaranya sebagai berikut :
1. Sebagian besar dari hasil perikanan berupa bahan makanan yang dipasarkan diserap oleh konsumen akhir secara relatip stabil sepanjang tahun sedangkan
penawarannya sangat tergantung kepada produksi yang sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim.
2. Pada umumnya pedagang pengumpul memberi kredit (advancedpayment) kepada produsen (nelayan dan petani ikan) sebagai ikatan atau jaminan untuk dapat memperoleh bagian terbesar dari hasil perikanan dalam waktu tertentu.
3. Saluran tataniaga hasil perikanan pada umumnya terdiri dari : produsen (nelayan atau petani ikan), pedagang perantara sebagai peengumpul, wholesaler (grosir), pedagang eceran dan konsumen (industry pengolahan dan konsumen akhir).
4. Pergerakan hasil perikanan berupa bahan makanan dari produsen samapai konsumen pada umumnya meliputi proses-proses pengumpul, pengimbangan dan penyebaran, dimana proses pengumpulan adalah terpenting.
5. Kedudukan terpenting dalam tataniaga atau pemasaran hasil perikanan terletak pada pedagang pengumpul daalam fungsinya sebagai pengumpul hasil, berhubung daerah produksi terpencar-pencar, skala produksi kecil-kecil dan produksinya berlangsung musiman.
6. Tataniaga atau pemasaran hasil perikanan tertentu pada umumnya bersifat musiman, dan ini jelas dapat dilihat pada perikanan laut. Barang-barang perikanan mempunyai ciri-ciri yang dapat mempengaruhi atau menimbulkan masalah dalam pemasarannya. Ciri-ciri dimaksud antara lain sebagai berikut :
1. Produksinya musiman, berlangsung dalam ukuran kecil-kecil (small scale) dan di daerah terpencar-pencar serta spesialisasi.
2. Konsumsi hasil perikanan berupa bahan makanan relative stabil sepanjang tahun. Sifat demikian ini dihubungkan dengan sifat
produksinya yang musiman dan jumlahnya tidak berketentuan karena pengaruh cuaca, menimbulkan masalah dalam penyimpanan dan pembiayaan.
3. Barang hasil perikanan berupa bahan makanan mempunyai sifat cepat atau mudah rusak (perishabel).
4. Jumlah atau kualitas hasil perikanan dapat berubah-ubah. Kenyataan menunjukkan bahwa jumlah dan kualitas dari hasil perikanan tidak selalu tetap, tetap berubah-ubah dari tahun ke tahun (Hanafiah dan Saefuddin, 1983).
2.2. Teori Jaringan Sosial
Manusia merupakan mahluk sosial yang memiliki keinginan untuk hidup bersama dengan orang lain. Keinginan tersebut meliputi keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lainnya yang berbeda di sekelilingnya. Keinginan tersebut muncul karena manusia merasakan suatu kebutuhan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia adalah dengan berinteraksi satu sama lain. Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang saling mempengaruhi dalam hal pengetahuan, sikap dan perilaku. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu.
Hubungan sosial bisa dipandang sebagai sesuatu yang seolah-olah merupakan sebuah jalur atau saluran yang menghubungkan antara satu orang
(titik) dengan orang-orang lain dimana melalui jalur atau saluran tersebut bisa dialirkan sesuatu, misalnya barang, jasa, dan informasi. Hubungan sosial antara dua orang mencerminkan adanya pengharapan peran dari masing-masing lawan interaksinya. Tingkah laku yang diwujudkan dalam suatu interaksi sosial itu sistematik, meskipun para pelakunya belum tentu menyadarinya. Dari terwujudnya hubungan sosial yang baik maka akan memudahkan jaringan sosial berkembang.
Calhoun, et al. (1994) mengemukakan bahwa proses interaksi sosial merupakan dasar terbentuknya hubungan sosial (social relationship) yaitu pola interaksi antara dua orang atau lebih. Banyak orang memiliki beberapa hubungan sosial, mulai dari kenalan biasa, sahabat karib sampai dengan kerabat atau keluarga. Adanya jaringan hubungan antara sekelompok orang yang membentuk mata rantai, langsung maupun tidak langsung dengan beragam komunikasi dan perjanjian diantara mereka yang disebut dengan jaringan sosial. Jaringan sosial timbul dari adanya keteraturan interaksi yang berulang atau merupakan suatu hubungan sosial yang terpola.
Jaringan sosial (social network) adalah sebuah struktur sosial yang tercipta dari individu-individu atau organisasi yang lazim disebut node yang terikat atau terhubung oleh satu atau lebih karakteristik interdepensi tertentu diantara mereka.
Beberapa contoh dari jaringan sosial antara lain, persahabatan, kekerabatan, pertukaran financial , hubungan ketaksukaan, hubungan seksual atau hubungan kepercayaan, pengetahuan atau prestise (Lawang, 2004).
Jaringan sosial merupakan salah satu dimensi modal sosial selain kepercayaan dan norma. Ide sentral dari modal sosial adalah bahwa jaringan-
jaringan sosial merupakan suatu aset yang bernilai (Field, 2005:16), jaringan- jaringan menyediakan suatu basis bagi kohesi sosial karena menyanggupkan orang untuk bekerjasama satu sama lain dan bukan hanya dengan orang yang mereka kenal secara langsung agar saling menguntungkan. Jaringan sosial merupakan suatu jaringan tipe khusus, dimana ikatan yang menghubungkan satu titik ke titik lain dalam jaringan adalah hubungan sosial. Terlihat pada jenis ikatan ini, maka secara langsung atau tidak langsung yang menjadi anggota suatu jaringan sosial adalah manusia (person). Jaringan sosial tidak hanya beranggotakan pada satu individu, namun dapat juga berupa sekumpulan orang yang mewakili titik-titik seperti yang dikemukakan sebelumnya, jadi tidak harus satu titik mewakili satu orang, misalnya organisasi, instansi, pemerintah atau negara.
Jaringan sosial menjadi sangat penting di dalam masyarakat karena di dunia ini bisa dikatakan bahwa tidak ada manusia yang tidak menjadi bagian dari jaringan-jaringan hubungan sosial dari manusia lainnya. Walaupun begitu manusia tidak selalu menggunakan semua hubungan sosial yang dimilikinya dalam mencapai tujuan-tujuannya, tetapi disesuaikan dengan ruang dan waktu atau konteks sosialnya (Agusyanto, 2007:30). Analisis jaringan atau teori jaringan sosial merupakan studi tentang cara struktur sosial dari hubungan-hubungan sekitar seseorang, kelompok, atau organisasi mempengaruhi keyakinan-keyakinan atau perilaku-perilaku.
Menurut Granoveter hubungan (jaringan) itu terjadi berlandaskan gagasan, bahwa aktor (individu atau kolektifitas) berada pada stratifikasi yang berbeda sehingga mempunyai akses yang berbeda pula terhadap sumber daya bernilai
(kekayaan, kekuasaan, informasi). Distribusi yang timpang dari sumber daya yang terbatas akan menimbulkan baik itu kerjasama maupun kompetisi, yang mana beberapa kelompok akan bergabung untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas itu dengan bekerjasama. Akibatnya pada sistem yang strukturnya cenderung terstratifikasi, komponen tertentu akan tergantung pada komponen yang lain (Ritzer & Goodman, 2008:382).
Dalam pendekatan sosiologi ekonomi, Granovetter menilai jaringan sosial didalam kehidupan ekonomi didasarkan pada tiga hal. Hal pertama, jaringan sosial dapat mempengaruhi arus dan kualitas informasi. Seperti yang diketahui bahwa informasi merupakan sesuatu yang sulit untuk bisa dideskripsikan karena bersifat multi makna serta sulit untuk dibuktikan. Seorang individu tidak begitu saja menyerap informasi yang diperolehnya terlebih jika berasal dari pihak yang tidak dikenalnya.
Akan tetapi hal tersebut berbeda situasinya jika informasi yang diperolehnya berasal dari pihak yang dikenal. Hal kedua yakni, jaringan sosial merupakan sumber penting dari penghargaan dan sangsi. Dengan adanya jaringan seorang individu, memiliki kemungkinan untuk mendapatkan penghargaan atau sangsi yang lebih banyak jumlahnya. Hal ketiga, berkaitan dengan rasa kepercayaan yang dapat tumbuh didalam jaringan sosial dan dapat berimplikasi pada pembangunan hubungan.
Menurut Granovetter dalam Ritzer & Goodman (2008:383), membedakan tentang ikatan lemah dan kuat, ikatan kuat misalnya, kaitan antara orang dengan teman-teman dekat dan kerabat mereka, ikatan lemah, kaitan orang dengan kenalannya. Granovetter menjelaskan bahwa ikatan yang lemah bisa menjadi
sangat penting. Contoh ikatan lemah antar dua aktor dapat membantu sebagai jembatan antara dua kelompok yang kuat ikatan internalnya, tanpa adanya dua kelompok seperti itu, kedua kelompok mungkin akan terisolasi secara total. Isolasi ini selanjutnya dapat menyebabkan sistem sosial semakin terfragmentasi. Seorang individu tanpa ikatan lemah akan merasa dirinya terisolasi dalam sebuah kelompok yang ikatannya sangat kuat dan akan kekurangan informasi tentang apa yang terjadi di kelompok lain maupun dalam masyarakat lebih luas. Meski Granoveter menekankan pentingnya ikatan lemah, ia segera menjelaskan bahwa ikatan yang kuat pun mempunyai nilai. Misalnya orang yang memiliki ikatan yang kuat memiliki motivasi lebih besar untuk saling membantu dan lebih siap membantu satu sama lain.
Konsep jaringan dalam modal sosial lebih memfokuskan pada aspek ikatan antar simpul yang bisa berupa orang atau kelompok (organisasi). Intinya, konsep dalam jaringan sosial menunjuk pada semua hubungan dengan orang atau kelompok lain yang memungkinkan kejadian dapat berjalan secara efisien dan efektif. Selanjutnya jaringan itu sendiri dapat terbentuk dari hubungan antar personal, antar individu dengan individu, serta jaringan antar institusi (Lawang, 2004).
2.3. Penelitian atau Studi Sebelumnya
Adapun beberapa penelitian mengenai studi analisis jaringan sosial yang didapat bukanlah semuanya dalam hal kajian sosiologi, akan tetapi setidaknya penelitian sebelumnya yang peneliti usungkan dapat dijadikan sebagai dasar
pijakan bagi peneliti yang saat ini mengusung tema tentang Analisis Jaringan Sosial Petani Ikan Keramba.
1. Penelitian yang dilakukan oleh Asri Sulistiawati, et al ( 2014 ) menjelaskan komunikasi yang terjadi diantara anggota dengan menggunakan analisis sosiometri. Struktur jaringan yang terbentuk adalah struktur roda yang dimana bentuk jaringan komunikasinya adalah memusat. Berdasarkan hasil uji korelasi dengan karakteristik individu dan jaringan komunikasi interpersonal menunjukkan bahwa identifikasi derajat sentralitas aktor yang memiliki variabel nyata dengan hubungan usia, skala usaha dan tingkat kepemilikan media massa. Identifikasi aktor dengan tingkat kedekatan memiliki variabel umur dan tingkat kepemilikan media massa. Dan identifikasi aktor yang memiliki tingkat kebersamaan memiliki variabel umur, tingkat pendidikan formal juga tingkat kepemilikan media massa.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Zulkarnain, et al (2015). Penelitian yang menggunakan analisis sosiogram menjelaskan jaringan komunikasi yang terbentuk dalam kegiatan produksi dan pemasaran usaha budidaya perikanan dalam pemberdayaan pembudidaya ikan bersifat memusat (interlock personal network). Hal ini dikarenakan adanya peran dominan individu yang berperan sebagai star dalam jaringan komunikasi tersebut. Individu yang berperan sebagai star dalam lingkungannya adalah individu yang paling berpengaruh dan paling banyak terlibat dalam jaringan komunikasi diantara pembudidaya ikan. Mereka memiliki kemampuan lebih, yaitu menjabat sebagai pengurus kelompok, berpendidikan tinggi, kepemilikan asset yang banyak, dan lebih berpengalaman.
Keberadaan jaringan komunikasi yang memusat seperti ini memiliki kerentanan terhadap keberlanjutan usaha budidaya perikanan dan ketergantungan individu
yang berkemampuan rendah dengan individu berkemampuan lebih dalam berinteraksi untuk memenuhi keperluan usaha budidaya perikanan.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Gaetano Martino, et al (2013) menguji organisasi pertukaran daging sapi berkualitas tinggi dalam rantai pasokan pangan pertanian. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa daging sapi diarahkan mengambil keuntungan dari peluang yang disediakan oleh organisasi jaringan proses pertukaran. Karakteristik dasar kerangka organisasi akan dievaluasi, karena strategi pengaruh perusahaan ini dan secara tidak langsung, strategi pasokan untuk sumber pangan pertanian hewan. Pasokan genotipe, bahan baku dan produk akhir biasanya didasarkan pada konsep sentralitas pasar spot kompetitif menunjukkan relevansi analisis jaringan sosial untuk menafsirkan dan memahami indikasi pasar dan memiliki kesadaran untuk mempromosikan yang lebih besar dalam proses seleksi daging sapi. Analisis jaringan yang terbentuk dalam proses mempromosikan daging sapi untuk dipasarkan membentuk struktur jaringan utuh antara 5 peternak sapi, 13 industri perencana pengolahan daging, 9 perusahaan pemasaran dan 51 perusahaan distribusi.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Sang Putu Kaler Surata et al (2010) mengenai ekoliterasi ketahanan hayati (EKH) dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif, dan melibatkan 30 orang mahasiswa (S1) calon guru.
Dengan mengikuti 14 kali pertemuan tatap muka di dalam kelas, dua kali kunjungan lapang, baik pada ruang tertutup maupun terbuka (indoor dan outdoor).
Setiap mahasiswa (sebelum, dan setelah EKH) diminta menominasi nama lima mahasiswa lain yang dianggap memiliki hubungan paling erat dengan mereka.
Hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan kohesi sosial
mahasiswa setelah mereka mengikuti EKH. Hal tersebut didukung berbagai ukuran analisis jaringan sosial (kepadatan, keterdekatan, dan derajat), yang menunjukkan kohesi sosial mahasiswa berbeda nyata, antara sebelum dan setelah EKH. Peta struktur sosial (sosiogram) setelah EKH juga menggambarkan mahasiswa lebih berkelompok sesuai dengan grup, dibandingkan dengan sebelum EKH.
Sementara penelitian yang peneliti lakukan ini merupakan penelitian tentang analisis jaringan sosial yang dimana jaringan sosialnya bersifat jaringan egocentric (ego-alter), dengan ego sudah ditentukan siapa, untuk mengetahui siapa saja aktor alter membentuk jaringan dengan ego dan yang membawa aktor alter untuk bergabung dengan ego.
2.4. Kerangka Konsep
Analisis jaringan sosial adalah hubungan-hubungan yang terbentuk karena interaksi yang terjalin dari antar pelaku atau aktor-aktor yang dideskripsikan dalam bentuk grafik atau diagram jaringan. Adanya jaringan antara aktor-aktor (node-node) yang dihubungkan dengan garis/simpul (link) yang dimana link menunjukkan adanya relasi. Jaringan memandang sistem apapun sebagai seperangkat aktor (node) yang saling terkait.
Analisis jaringan sosial penting untuk bisa mendeskripsikan aktor-aktor yang terhubung satu sama lain sehingga membentuk pola-pola hubungan dalam analisis jaringan . Semua hubungan –hubungan sosial dalam suatu kelompok ataupun lembaga dapat di analisis dengan diagram jaringan. Salah satunya analisi jaringan dalam hal pemasaran.
Pemasaran adalah hal yang paling penting dalam suatu usaha, termasuk usaha budidaya ikan keramba jaring apung. Menurut Kohls dan Uhls (1990 dan 2002) dalam Kusnadi et al (2009:23) mendefenisikan pemasaran sebagai keragaan dari semua aktivitas bisnis dalam aliran dari produk- produk dari jasa-jasa dimulai dari tingkat produksi pertanian sampai di tingkat konsumen akhir. Dalam pemasaran panen ikan pada umumnya terdiri dari produsen ( nelayan atau petani ikan), pedagang perantara pertama (pedagang pengumpul), wholesaler (grosir) dan pedagang eceran dan konsumen hingga pada konsumen akhir (Hanafiah dan Saefuddin, 1983).
Akses kebutuhan terhadap informasi yang berhubungan dengan pemasaran akan membentuk jaringan sosial. Jaringan sosial merupakan suatu jaringan tipe khusus, dimana ikatan yang menghubungkan satu titik ke titik lain dalam jaringan adalah hubungan sosial. Terlihat pada jenis ikatan ini, maka secara langsung atau tidak langsung yang menjadi anggota suatu jaringan sosial adalah manusia (person). Jaringan terjadi berlandaskan gagasan, bahwa aktor (individu atau kolektifitas) berada pada stratifikasi yang berbeda sehingga mempunyai akses yang berbeda pula terhadap sumber daya bernilai (kekayaan, kekuasaan, informasi). Distribusi yang timpang dari sumber daya yang terbatas akan menimbulkan baik itu kerjasama maupun kompetisi, yang mana beberapa kelompok akan bergabung untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas itu dengan bekerjasama (Granovetter dalam Ritzer & Goodman, 2008:382).
Akses informasi akan pemasaran hasil panen ikan keramba adalah bagian yang sangat penting. Karena dengan akses pemasaran itu, petani keramba akan dengan mudah untuk menjual ikan mereka tanpa takut untuk tidak laku. Oleh
karena itu petani keramba jaring apung menjalin hubungan-hubungan sosial dengan beberapa aktor penting dalam memasarkan hasil panen ikan dalam menjalankan usahanya. Informasi yang diperlukan membuat hubungan terjalin antar sesama petani keramba jaring apung ataupun di luar petani keramba guna membantu petani dalam pemasaran ikan keramba mereka yang lebih baik.
Informasi ini dapat disebarluaskan antar satu petani keramba jaring apung ke petani keramba lainnya ataupun diluar petani dengan membangun jaringan sosial.
Hasil panen ikan keramba yang ada akan disalurkan petani keramba kepada pedagang pengumpul. Ditangan pedagang pengumpul akan terus disalurkan kepada pedagang eceran lainnya. Dalam hal ini pemasaran yang terjadi yang berpusat pada pedagang pengumpul. Jaringan sosial antar pelaku atau aktor- aktor penting dalam pemasaran dipetakan dalam analisis jaringan sosial.
Analisis jaringan sosial akan menghasilkan struktur jaringan yang dapat diukur dalam suatu jaringan sosial pada sistem jaringan sosial mereka, yang meliputi ukuran, kepadatan, jarak dan diameter. Dari struktur jaringan yang telah dianalisis tersebut dapat ditentukan pola analisis jaringan seperti apa yang akan terbentuk.