PENGARUH KELOMPOK KERJA GURU DAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA MENGAJAR GURU SEKOLAH DASAR DI WILAYAH IV KABUPATEN SUMEDANG.

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

Halaman

Lembar Pengesahan Pembimbing ... i

Lembar Persetujuan Ketua Program Studi ... Abstrak ... ii iii Pernyataan ... iv

Kata Pengantar ... v

Ucapan Terima Kasih... vi

Daftar Isi ... x

Daftar Gambar ... xiv

Daftar Tabel ... xv

Daftar Lampiran ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang ... 1

B.Identifikasi Masalah ... 7

C.Perumusan Masalah ... 10

D.Tujuan Penelitian ... 11

1. Tujuan Umum ... 11

2. Tujuan Khusus ... 11

E. Manfaat Penelitian ... 11

1. Secara Teoritis ... 11

2. Secara Praktis ... 12

F. Definisi Operasional ... 12

G.Asumsi-asumsi ... 13

H.Hipotesis Penelitian ... 15

I. Kerangka Berpikir ... 15

J. Metode Penelitian ... 19

1. Metode Penelitian ... 19

(2)

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 22

A.Kinerja Mengajar Guru dalam Manajemen SDM Pendidikan... 22

1. Pengertian Kinerja... 25

2. Penilaian Kinerja... 25

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja... 27

4. Indikator-indikator Keberhasilan Kinerja... 29

B.Kelompok Kerja Guru dalam Manajemen SDM Pendidikan... 32

1. Konsep Kelompok ... 32

2. Kelompok Kerja Guru ... 37

C.Supervisi Pendidikan ... 50

1. Pengertian Supervisi Pendidikan ... 50

2. Fungsi dan Tujuan Supervisi ... 53

3. Prinsip-prinsip Supervisi ... 56

4. Sasaran Supervisi ... 58

D.Hasil Penelitian Terdaulu yang Relevan ... 59

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 62

A.Metode Penelitian dan Desain Penelitian... 1. Metode Penelitian ... 2. Desain Penelitian ... 62 62 62 B.Populasi dan Sampel Penelitian ... 64

1. Populasi ... 64

2. Sampel ... 64

C.Instrumen Penelitian ... 66

D.Teknik Pengumpulan Data ... 67 E. Teknik Analisis Data ...

(3)

1. Analisis Statistik Deskriptif ... 2. Uji Persyaratan Analisis ... a. Uji Normalitas Data ... b. Uji Linieritas Data ... c. Uji Linieritas X1 terhadap Y ... d. Uji Linieritas X2 terhadap Y ... e. Uji Linieritas X1 terhadap X2 ... I. Analisis Data Untuk Pengujian Hipotesis Penelitian ... 1. Analisis Korelasi ... 2. Koefisien Korelasi Ganda ... 3. Mencari Derajat Hubungan Berdasarkan Koefisien Determinasi (r)

83

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN ... 92

A.Deskripsi Hasil Penelitian ... 92

B.Teknik Pengolahan Data ... 92

1. Uji Persyaratan Analisis ... 92

a. Uji Normalitas ... b. Uji Linieritas ... 92 94 2. Pengujian Hipotesis ... 95

a. Pengaruh Kelompok Kerja Guru Terhadap Kinerja Mengajar Guru ... 95

b. Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar guru ... 100

c. Pengaruh Kelompok Kerja Guru dan Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar Guru ... 105

C.Pembahasan ... 109 1. Pengaruh Kelompok Kerja Guru Terhadap Kinerja Mengajar Guru 109 2. Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar

Guru ...

112

3. Pengaruh Kelompok Kerja Guru dan Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar Guru ...

(4)

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 118

A.Kesimpulan ... 118

B.Rekomendasi ... 119

DAFTAR PUSTAKA ... 122

(5)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 Alur Pikir Penelitian ... 18

Gambar 1.2 Kerangka Variabel Penelitian ... 19

Gambar 2.1 Faktor yang Mempengaruhi Kinerja... 28

Gambar 2.2 Model Terbentuknya Kelompok ... 35

Gambar 2.3 Proses Perencanaan Strategis ... 41

Gambar 2.4 Langkah-langkah Dasar Proses Pengawasan ... 49

Gambar 2.5 Fungsi- Fungsi Supervisi Akademik ... 54

Gambar 3.1 Desain Penelitian ... 63

Gambar 4.1 Pengaruh KKG Terhadap Kinerja Mengajar Guru ... 109

Gambar 4.2 Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar Guru .. 113

Gambar 4.3 Pengaruh KKG Terhadap Supervisi Kepala Sekolah ... 118

Gambar 4.4 Pengaruh KKG dan Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar Guru... 121

(6)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 2.1 Fungsi dan Tujuan Supervisi ...

Tabel 3.1 Jumlah Populasi dan Sampel ...

54 66

Tabel 3.2 Interpretasi Koefisien Korelasi r ... 70

Tabel 3.3 Analisis Varians ... Tabel 3.4 Validitas Butir Angket Variabel X1 ... Tabel 3.5 Validitas Butir Angket Variabel X2 ... Tabel 3.6 Validitas Butir Angket Variabel Y ... Tabel 3.7 Uji Linieritas antara Variabel X1 dengan Y ... Tabel 3.8 Uji Linieritas antara Variabel X2 dengan Y ... Tabel 3.9 Uji Linieritas antara Variabel X1 dengan X2 ... 72 77 79 81 86 87 88 Tabel 4.1 Coefficients ... 97

Tabel 4.2 Anova ... 98

Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi Model Summary ... 99

Tabel 4.4 Cosfficients ... 102

Tabel 4.5 Anova ... 103

Tabel 4.6 Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi Model Summary ... 104

Tabel 4.7 Cosfficients ... 106

Tabel 4.8 Anova ... 107

(7)

DAFTAR BAGAN

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Variabel X1 (KKG) ... 125 Lampiran 2 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Variabel X2 (Supervisi Kepala

Sekolah ... 126 Lampiran 3 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Variabel Y (Kinerja Mengajar

Guru) ... 128 Lampiran 4 Kuisioner Penelitian ... 130 Lampiran 5 Uji Normalitas Data Variabel X1 ...

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengembangan sumber daya manusia pendidik, khususnya pengembangan

profesional guru, merupakan usaha mempersiapkan guru agar memiliki berbagai

wawasan, pengetahuan, keterampilan, dan memberikan rasa percaya diri untuk

melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai petugas profesional.

Pengembangan atau peningkatan kemampuan profesional harus bertolak pada

kebutuhan atau permasalahan nyata yang dihadapi oleh guru, agar bermakna.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru

dan Dosen pasal 20 ayat (b) mengamanatkan bahwa dalam rangka melaksanakan

tugas keprofesionalannya, guru berkewajiban meningkatkan dan mengembangkan

kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan

perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Pernyataan undang-undang

di atas pada intinya mempersyaratkan guru untuk memiliki: (i) kualifikasi

akademik minimum S1 atau D-IV; (ii) kompetensi sebagai agen pembelajaran

yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional; dan (iii)

sertifikat pendidik. Undang-undang ini diharapkan memberikan suatu

kesempatan yang tepat bagi guru untuk meningkatkan profesionalismenya secara

berkelanjutan melalui pelatihan, penelitian, penulisan karya ilmiah, dan kegiatan

profesional lainnya. Kegiatan tersebut sangat dimungkinkan dilaksanakan di

(10)

melakukan pertemuan bagi guru-guru sekolah dasar yang ada di suatu gugus

persekolahan.

Berkaitan dengan peran forum pertemuan guru di KKG yang sangat

strategis untuk peningkatan kompetensi guru dan kinerja guru, maka

pemberdayaan KKG merupakan hal mendesak yang harus segera dilakukan.

Berbagai upaya untuk meningkatkan kinerja guru, antara lain melalui berbagai

pelatihan instruktur, peningkatan sarana dan prasarana, dan peningkatan mutu

manajemen KKG.

Dengan lebih terstrukturnya kegiatan guru yang dilakukan di KKG

diharapkan dapat diperhitungkan ekuivalensinya dengan satuan kredit semester

(sks) bagi guru yang akan melanjutkan ke jenjang S1 atau pemberian angka kredit

bagi guru untuk mengajukan kenaikan kepangkatan. Berdasarkan hal tersebut,

penyelenggaraan KKG perlu direvitalisasi agar pelaksanaan kegiatan lebih

terstruktur. Berkenaan dengan hal tersebut Ditjen PMPTK melalui Direktorat

Profesi Pendidik mengembangkan panduan penyelenggaraan KKG yakni sebagai

berikut: 1. Rambu-rambu Pengembangan Kegiatan KKG dan MGMP, 2. Prosedur

Operasional Standar Penyelenggaraan KKG dan MGMP, dan 3. Prosedur

Operasional Standar Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di

KKG.

Baedhowi (2009: 5) mengungkapkan tujuan dilakukannya revitalisasi

kegiatan di KKG adalah sebagai berikut:

(11)

dipahami, strategi/metode/ pendekatan/media pembelajaran, sumber belajar, kriteria ketuntasan minimal, pembelajaran remedial, soal tes untuk berbagai kebutuhan, menganalisis hasil belajar, menyusun program dan pengayaan, dan membahas berbagai permasalahan serta mencari alternatif solusinya;

2. Memberi kesempatan kepada guru untuk berbagi pengalaman serta saling memberikan bantuan dan umpan balik;

3. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta mengadopsi pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif bagi guru;

4. Memberdayakan dan membantu guru dalam melaksanakan tugas-tugas guru di sekolah dalam rangka meningkatkan pembelajaran sesuai dengan standar;

5. Mengubah budaya kerja dan mengembangkan profesionalisme guru dalam upaya menjamin mutu pendidikan;

6. Meningkatkan mutu proses pendidikan dan pembelajaran yang tercermin dari peningkatan hasil belajar peserta didik dalam rangka mewujudkan pelayanan pendidikan yang berkualitas;

7. Mengembangkan kegiatan mentoring dari guru senior kepada guru junior; dan

8. Meningkatkan kesadaran guru terhadap permasalahan pembelajaran di kelas yang selama ini tidak disadari dan tidak terdokumentasi dengan baik.

Delapan tujuan revitalisasi kegiatan KKG di atas sebagai acuan dan

panduan dijadikan pegangan bagi KKG agar aktivitas yang dilaksanakan dapat lebih terarah dan dapat dijadikan wahana bagi pengembangan profesionalisme

guru yang bermutu, mandiri, dan berkelanjutan.

Secara teoritis dan fungsi Kelompok Kerja Guru merupakan wadah dalam

pembinaan profesional guru yang dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi,

bertukar fikiran dan berbagi pengalaman, melaksanakan berbagai demonstrasi,

atraksi dan simulasi dalam pembelajaran. Di dalam wadah ini para guru dapat

membahas permasalahan dari mereka dan untuk mereka.

Kelompok Kerja Guru sebagai suatu forum atau wadah profesional guru

(kelas/mata pelajaran) yang berada pada suatu wilayah gugus sekolah yang prinsip

(12)

KKG adalah suatu organisasi non struktural yang bersifat mandiri, berasaskan

kekeluargaan, dan tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan lembaga lain.

AF Tangyong dkk (Deden Herdiana,2003: 4) mengemukakan bahwa:

Kelompok kerja guru sebagai menunggu kreatifitas guru, membantu guru mengembangkan topik, menunggu sumbangan gagasan dari guru lain, sumber informasi, wadah komunikasi, bengkeil kerja yang berguna, merupakan laboratorium tempat percobaan guru, tempat pembinaan kekeluargaan, dan merupakan pusat perpustakaan bagi guru.

Kemudian berdasarkan penelitian terdahulu sebagaimana dikemukakan

oleh Djam’an Satori (1989: 126) bahwa KKG adalah:

Wadah kerjasama yang dapat mempertemukan kebutuhan profesional guru-guru. Melalui wadah ini guru-guru memiliki kesempatan untuk berfikir dan bekerja sebagai satu kelompok dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang mereka hadapi sehari-hari dibidang supervisi dalam upaya memperbaiki pengajaran.

Jack Mazirow (Mustofa Kamil, 1997: 112) menyatakan “Learning in

group is generally the most effective means for bringing about change in attitude

and behavior”. Teori tersebut memberikan arahan bahwa dengan berkelompok

kreativitas dan aktivitas anggota akan semakin berproduktif, karena dengan

berkelompok berarti tingkat interaksi guru sebagai anggota kelompok juga ikut

meningkat karena terjadi saling belajar.

Namun secara empiris, kegiatan kelompok kerja guru walaupun

pelaksanaannya cukup efektif masih terdapat kendala yang harus mendapat

pembinaan secara terus menerus. Baedhowi (2009: 2) menyatakan “masih banyak

KKG atau MGMP yang belum menunjukkan peningkatan kinerja yang berarti. Di

beberapa daerah peningkatan kinerja KKG atau MGMP cukup menggembirakan,

(13)

Kegiatan KKG yang dirasakan masih belum efektif dalam melaksanakan

tugas dan fungsinya, diantaranya sebagai berikut:

1. Masih kurangnya rasa tanggung jawab dan mengelola dari pembina teknis,

para pengelola dan anggota KKG/gugus, sehingga kurang penduli dalam

melakukan terobosan terhadap pemberdayaan kegiatan kelompok,

2. Penyusunan program KKG kurang jelas dan kurang terprogram,

3. Penerimaan dan penggunaan dana stimulan kurang transparan,

4. Tingkat kebersamaan diantara guru dirasakan kurang,

5. Waktu pelaksanaan kegiatan relatif terbatas/sempit,

6. Pembentukan pengurus KKG kurang memperhatikan azas demokrasi,

7. Penyusunan program tidak berdasarkan analisis kebutuhan anggota sehingga

kegiatan kurang relevan dan menimbulkan kejenuhan,

8. Pelaksanaan kegiatan masih bersifat menjalankan proyek/program

pemerintah dan komando dari pembina teknis, intensitas dan inisiatif belum

dirasakan.

9. Latar belakang pendidikan guru menjadi kendala tarhadap tercapainya

sasaran program, sehingga anggota dan pengurus belum maksimal dalam

mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan-permasalahan yang

terjadi.

Permasalahan-permasalahan tersebut sangat dirasakan bukan hanya oleh

anggota (guru) itu sendiri, akan tetapi oleh para pembina teknis dan pihak-pihak

(14)

kelompok kerja guru merupakan pendekatan yang paling efektif dan terarah dalam

mengembangkan diri yang sekaligus berdampak bagi kinerja mengajar guru.

Kemampuan kinerja mengajar guru sangat diperlukan, karena guru adalah

orang yang terdepan dan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap

upaya pendidikan. Itulah sebabnya setiap adanya inovasi pendidikan khususnya

dalam kurikulum dan peningkatan sumber daya manusia yang dihasilkan dari

upaya pendidikan selalu bermuara pada faktor guru.

Selain peranan KKG sebagai wadah pembinaan profesional guru yang

dapat mempengaruhi kinerja mengajar guru, terdapat aspek lain yang mendukung

pemberdayaan profesional guru dalam terwujudnya kinerja mengajar guru, yaitu

peranan kepala sekolah sebagai pembina teknis.

Kepala sekolah sebagai pimpinan dalam satuan pendidikan memegang

peranan yang sangat strategis dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dalam

lingkup satuan jenjang persekolahan. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya

sebagai manajer pendidikan, kepala sekolahmemiliki tanggungjawab ganda yaitu

melaksanakan administrasi sekolah sehingga tercipta situasi yang berhubungan

dengan usaha-usaha menciptakan kondisi belajar yang lebih baik, yang berupa

aspek akademis bukan masalah fisik material sematadan melaksanakan supervisi

atau pengawasan dalam kelembagaan pendidikan yang diidentikkan dengan

supervisi pengawasan profesional, hal ini tentu dihadapkan pada berbagai

peristiwa dan kegiatan.

Dalam konteks pengawasan mutu pendidikan, maka supervisi oleh kepala

(15)

pengamatan secara intensif terhadap kegiatan utama dalam sebuah organisasi dan

kelembagaan pendidikan dan kemudian ditindak lanjuti dengan pemberian feed

back. Hal ini sejalan pula dengan pendapat Djam’an Satori (1997: 3) bahwa

“supervisi dipandang sebagai kegiatan yang ditujukan untuk memperbaiki dan

meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran”. Lebih lanjut, Satori (1997: 3)

menjelaskan bahwa “fungsi supervisi pendidikan adalah meningkatkan

kemampuan profesional guru dalam upaya mewujudkan proses belajar peserta

didik yang lebih baik melalui cara-cara mengajar yang lebih baik pula”.

Mengacu pada pemikiran diatas, maka supervisi kepala sekolah berupa

pengawasan profesional tentu diarahkan pada upaya untuk meningkatkan proses

dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan menetralisir kesenjangan,

mengidentifikasi serta menemukan peluang-peluang yang dapat diciptakan guna

meningkatkan mutu pendidikan dalam satuan pendidikan secara menyeluruh.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka diduga bahwa kegiatan

Kelompok Kerja Guru (KKG) dan supervisi kepala sekolah berpengaruh terhadap

kinerja mengajar guru. Oleh karena itu, penulis sangat tertarik untuk melakukan

penelitian tentang pengaruh kegiatan kerja kelompok guru dan supervisi kepala

sekolah terhadap kinerja mengajar guru sekolah dasar di wilayah IV Kabupaten

Sumedang.

B.Identifikasi Masalah

Dari uraian pada latar belakang di atas, dapat diidentifikasikan bahwa

kualitas kinerja mengajar guru dipengaruhi setidaknya oleh dua faktor, yaitu;

(16)

dalam memberikan pembinaan, peningkatan atau perbaikan sebagai evaluasi dan

tindak lanjut terhadap aktivitas guru yang diperolehnya melalui forum kegiatan

KKG.

Namun secara empiris, kinerja guru SD di wilayah IV Kabupaten

Sumedang dihadapkan pada persoalan-persoalan yang dinilai masih rendah dari

daerah lainnya di Kabupaten Sumedang, salah satunya dilatarbelakangi oleh

kurang sinergisnya antara pengelolaan kelompok kerja guru dan supervisi kepala

sekolah. Berdasarkan identifikasi masalah di atas, dapat disampaikan

masalah-masalah yang dihadapi berkaitan dengan rendahnya kinerja guru, yaitu:

1. Pengelolaan manajemen program Kelompok Kerja Guru (KKG) belum optimal

dan belum intensifnya program pendampingan yang dilaksanakan instruktur

terhadap guru sebagai tindak lanjut pelaksanaan kegiatan KKG.

2. Kegiatan KKG pelaksanaannya masih bersifat parsial dan penyusunan program

kegiatan KKG cenderung tidak berdasarkan analisis kebutuhan anggota

sehingga kegiatan kurang relevan dan menimbulkan kejenuhan,

3. Kurangnya dukungan dari pemangku kepentingan (kepala sekolah, pengawas

sekolah dan tenaga teknis lainnya) terhadap kegiatan KKG.

4. Ketidaksesuaian latar belakang guru dalam mengajar dengan mata pelajaran

yang diampunya (mismatch) menjadi kendala bagi guru dalam mengikuti

kegiatan di KKG.

5. Kekhasan daerah mewarnai perbedaan tingkat penanganan berbagai

(17)

6. Pengawasan, evaluasi, dan pembinaan dari pengawas sekolah dan kepala

sekolah terhadap implementasi program KKG dirasakan masih lemah.

7. Pelaksanaan supervisi kepala sekolah cenderung masih bersifat otokratif dan

korektif, dilaksanakan tidak berdasarkan data dan fakta yang objektif sehingga

sikap yang demikian menciptakan rasa tidak aman, tidak nyaman dan

menimbulkan rasa takut.

8. Dengan kapasitasnya sebagai jabatan fungsional, kepala sekolah sebagai

supervisor tidak dibekali dengan kemampuan akdemik yang memadai,

sehingga supervisi yang lakukan oleh kepala sekolah, cenderung tidak sesuai

dengan prinsif-prinsif supervisi.

Perlu disadari bahwa masalah-masalah yang dihadapi oleh guru dalam

proses belajar mengajar hanya dapat dipecahkan apabila guru dan kepala sekolah

memiliki pemahaman yang jelas tentang masalah itu dan faktor-faktor yang

mempengaruhinya, terhadap kegiatan utama dalam sebuah organisasi dan

kelembagaan pendidikan dan kemudian ditindak lanjuti dengan pemberian feed

back.

Kedua faktor di atas menjadi sumber kekuatan dalam mencapai tujuan dan

sasaran peningkatan kualitas kinerja guru yang pada akhirnya dapat meningkatnya

mutu pendidikan dalam kerangka tujuan pendidikan nasional. Kegiatan KKG dan

supervisi kepala sekolah hendaknya sejalan secara sinergis dalam menciptakan

dan menjaga keselarasan antara tujuan dan sasaran peningkatan mutu pendidikan

Hal ini sejalan dengan fungsi supervisi dan pendekatan prilaku supervisi, yakni “

(18)

(personal needs) dan tujuan-tujuan organisasi (institusional goals) melalui kerja

tim dan evaluasi terhadap sasaran-sasaran supervisi”. (Djam’an Satori, 1997: 6).

C.Perumusan Masalah

Dari inti permasalahan yang dikemukakan pada identifikasi masalah

penelitian di atas, dapat diidentifikasi variabel-variabel yang menjadi titik tolak

dalam penelitian ini, yaitu variabel kegiatan KKG sebagai variabel yang

mempengaruhi (X1), dan kinerja mengajar guru sebagai variabel yang dipengaruhi (Y). Sedangkan variabel independent lain yang penulis coba memiliki pengaruh

terhadap kinerja mengajar guru adalah supervisi kepala sekolah (X2).

Bertolak dari latar belakang, identifikasi masalah, dan identifikasi

variabel-variabel penelitian di atas, maka dapat dirumuskan tentang rumusan

masalah penelitian tersebut ke dalam beberapa pertanyaan penelitian sebagai

berikut:

1. Apakah kegiatan Kelompok Kerja Guru berpengaruh terhadap kinerja

mengajar guru sekolah dasar di wilayah IV Kabupaten Sumedang?

2. Apakah supervisi kepala sekolah berpengaruh terhadap kinerja mengajar

guru sekolah dasar di wilayah IV Kabupaten Sumedang?

3. Apakah kelompok kerja guru dan supervisi kepala sekolah berpengaruh

secara simultan terhadap kinerja mengajar guru sekolah dasar di wilayah IV

(19)

D.Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini secara umum, yaitu untuk mendeskripsikan

bagaimana pengaruh kegiatan Kelompok Kerja Guru dan supervisi kepala

sekolah terhadap kinerja mengajar guru sekolah dasar di wilayah IV Kabupaten

Sumedang.

2. Tujuan Khusus

Penelitian ini secara khusus yang lebih operasional adalah sebagai

berikut:

a. Mengetahui pengaruh kegiatan Kelompok Kerja Guru terhadap kinerja guru

sekolah dasar.

b. Mengetahui pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru

sekolah dasar.

c. Mengetahui pengaruh kegiatan Kerja Kelompok Guru dan supervisi kepala

sekolah terhadap kinerja mengajar guru sekolah dasar.

E.Manfaat Penelitian

1. Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat mengkaji lebih dalam tentang pengaruh

dan hubungannya antara kegiatan Kelompok Kerja Guru dan supervisi kepala

sekolah dengan kinerja mengajar guru sekolah dasar, sehingga dapat

memberikan konstribusi terhadap teori-teori pendidikan khususnya

(20)

proses pendidikan, dan kinerja guru dalam rangka meningkatkan mutu dan

layanan pendidikan.

2. Secara Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pedoman dalam upaya

optimalisasi pengelolaan dan pemberdayaan KKG serta pengawasan (supervisi

kepala sekolah) yang erat kaitannya dengan upaya meningkatkan kinerja

mengajar guru yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan dan

layanan pendidikan di sekolah dasar.

F. Definisi Opersional

Untuk memberikan gambaran secara lebih jelas tentang objek kajian dalam

penelitian ini, maka perlu disajikan beberapa defiinisi operasional dari variabel

yang akan diteliti, yaitu:

1. KKG yang dimaksud dalam penelitian ini adalah wadah kerjasama yang

dapat mempertemukan kebutuhan profesional guru-guru. Melalui wadah ini

guru-guru memiliki kesempatan untuk berfikir dan bekerja sebagai satu

kelompok dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang mereka

hadapi sehari-hari dibidang supervisi dalam upaya memperbaiki pengajaran,

(Djam’an Satori, 1989: 126) Dalam hal ini, fokus yang diteliti adalah;

manajemen program, perencanaan program, pelaksanaan program, dan

evaluasi program dalam upaya peningkatan kinerja guru.

2. Supervisi kepala sekolah yang dimaksud dalam penelitian ini ialah suatu

(21)

pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif,

(Purwanto, 2010: 76)

3. Kinerja mengajar guru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah prilaku

yang dimunculkan oleh setiap indivdu guru dalam melaksanakan

tugas-tugasnya sebagai tenaga pendidik sesuai dengan kompetensi (Kompetensi

pedagogik, pribadi, sosial, dan kompetensi profesional) yang harus dimiliki

oleh guru.

G.Asumsi-asumsi

Arikunto (2000: 60) mengemukakan bahwa “asumsi-asumsi atau anggapan

dasar penelitian dipandang sebagai landasan teori atau titik tolak pemikiran yang

digunakan dalam suatu penelitian, yang mana kebenarannya diterima oleh

peneliti”. Selanjutnya Arikunto (2000: 61) mengemukakan pula bahwa “peneliti

dipandang perlu merumuskan asumsi-asumsi penelitian dengan maksud 1) agar

terdapat landasan berpijak yang kokoh bagi masalah yang sedang diteliti; 2)

mempertegas variabel-variabel yang menjadi fokus penelitian; dan 3) berguna

untuk kepentingan menentukan dan merumuskan hipotesis.

Dalam merumuskan asumsi penelitian ini ditempuh melalui telaah

berbagai konsep dan teori yang berkaitan dengan kegiatan kelompok KKG dan

supervisi kepala sekolah terhadap kinerja mengajar guru. Dalam kaitan dengan

kepentingan penelitian ini, dapat dirumuskan asumsi-asumsi peneliti, yakni

sebagai berikut:

1. Kegiatan kelompok kerja guru forum KKG merupakan Wadah kerjasama

(22)

wadah ini guru-guru memiliki kesempatan untuk berfikir dan bekerja

sebagai satu kelompok dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah

yang mereka hadapi sehari-hari dibidang supervisi dalam upaya

memperbaiki pengajaran. (Djam’an Satori,1989: 126)

2. Kelompok kerja guru sebagai menunggu kreatifitas guru, membantu guru

mengembangkan topik, menunggu sumbangan gagasan dari guru lain,

sumber informasi, wadah komunikasi, bengkeil kerja yang berguna,

merupakan laboratorium tempat percobaan guru, tempat pembinaan

kekeluargaan, dan merupakan pusat perpustakaan bagi guru. AF Tangyong

dkk dalam Deden Herdiana (2003: 4)

3. Supervisi dalam sistem sekolah yaitu kegiatan yang ditujukan untuk

memperbaiki dan meningkatkan mutu akademik. (Djam’an Satori, 1997: 2)

4. Fungsi supervisi pendidikan adalah meningkaktan kemampuan profesional

guru dalam upaya mewujudkan proses belajar peserta didik yang lebih baik

melalui cara-cara mengajar yang lebih baik pula. (Djam’an Satori, 1997: 3)

5. Supervisi yang yang efektif dapat melahirkan wadah kerjasama yang dapat

mempertemukan kebutuhan profesional guru. Melalui wadah ini

guru-guru memiliki kesempatan untuk berfikir dan bekerja sebagai suatu

kelompok dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapi

sehari-hari di bawah bimbingan pembina dakam upaya memperbaiki proses

(23)

H.Hipotesis Penelitian

Berdasarkan asumsi-asumsi penelitian sebagaimana diuraikan di atas,

maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

1. Kegiatan Kelompok Kerja Guru Kelompok kerja guru berpengaruh secara

positif dan signifikan terhadap kinerja mengajar guru Sekolah Dasar Negeri

di wilayah IV Kabupaten Sumedang.

2. Supervisi kepala sekolah berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap

kinerja mengajar guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah IV Kabupaten

Sumedang.

3. Kelompok kerja guru dan supervisi kepala sekolah secara simultan

berpengaruh siginifikan terhadap kinerja mengajar guru Sekolah Dasar

Negeri di wilayah IV Kabupaten Sumedang.

I. Kerangka Berpikir

Peran guru sebagai tenaga pendidik tidak hanya berhenti sebagai

pemegang tonggak peradaban saja, melainkan juga sebagai rahim peradaban bagi

kemajuan zaman. Karena dialah sosok yang berperan aktif dalam pentransferan

ilmu dan pengetahuan bagi anak didiknya untuk dijadikan bekal yang sangat vital

bagi dirinya kelak.

Berbagai kajian dan hasil penelitian mengungkapkan bahwa mutu

pendidikan yang dinilai dari prestasi belajar peserta didik sangat ditentukan oleh

guru. Oleh karena itu, baik buruknya sekolah sangat bergantung pada peran dan

fungsi guru. Hampir semua sepakat bahwa dari tiga faktor penentu keberhasilan

(24)

peralatan praktek, laboratorium, perpustakaan, dan lain-lain; perangkat lunak

(software) yang meliputi: kurikulum, program pengajaran, manajemen sekolah,

sistem pembelajaran, dan lain-lain serta perangkat pikir (brainware) yaitu: guru,

kepala sekolah, anak didik, dan orang-orang yang terkait dalam proses tersebut,

maka kinerja guru adalah faktor yang paling menentukan.

Kinerja guru mempunyai mempunyai spesifikasi/kriteria tertentu. Kinerja

guru dapat dilihat dan diukur berdasarkan spesifikasi/kriteria kompetensi yang

harus dimiliki oleh setiap guru. Berkaitan dengan kinerja guru, wujud perilaku

yang dimaksud adalah kegiatan guru dalam proses pembelajaran yaitu bagaimana

seorang guru merencanakan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran,

dan menilai hasil belajar. Wujud prilaku guru tersebut tergambar dalam empat kompetensi, Pemendiknas No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi

Akademik dan Kompetensi Guru. Dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Guru

dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama, yaitu 1) kompetensi

pedagogik, 2) kompetensi kepribadian, 3) kompetensi sosial, dan 4) kompetensi

profesional. Keempat kompetensi tersebut teritegrasi dalam kinerja guru.

Standar kinerja guru perlu dirumuskan untuk dijadikan acuan dalam

mengadakan penilaian, yaitu membandingkan apa yang dicapai dengan apa yang

diharapkan. Standar kinerja guru dapat dijadikan patokan dalam mengadakan

pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dilaksanakan.

Untuk meningkatkan kinerja guru dipandang perlu pembinaan dan

peningkatan kompetensi yang dilakukan melalui kegiatan pelatihan akan lebih

(25)

sendiri. Seyogyanya melaksanakan pelatihan-pelatihan, tarining-training sangatlah

relevan melalui wadah kegiatan guru (KKG,MGMP, dan sebagainya). Melalui

wadah KKG diharapkan bukan hanya sekedar memberikan pengetahuan, akan

tetapi sampai tingkat merubah kinerja guru.

Banyak harapan terwujud melalui wadah KKG antara lain terpenuhinya

standar minimal profesionalisme dan menjadi salah satu alternatif yang secara

langsung dapat meningkatkan profesionalisme guru. Lebih lanjut, KKG

diharapkan menjadi gugus kendali dan penjaminan dalam rangka peningkatan

mutu guru secara berkelanjutan. Di samping sebagai upaya peningkatan

kompetensi dan profesionalisme guru, hasil-hasil pelaksanaan program KKG

diharapkan dapat dimanfaatkan antara lain untuk: a) peningkatan kualifikasi

akademik bagi guru yang belum memiliki ijazah S1 atau D-IV; dan b)

pengembangan profesionalisme guru secara berkelanjutan bagi guru yang sudah

memiliki sertifikat pendidik.

Pembinaan profesional dilakukan karena satu alasan, yaitu

memberdayakan akuntabilitas profesional guru yang pada gilirannya

meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Oleh sebab itu, kegiatan

supervisi kepala sekolah berfungsi sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan

dan alat untuk mengukur keberhasilan pembinaan profesional. Melalui supervisi

yang kontinyu terhadap kegiatan guru dapat mengetahui masalah-masalah proses

belajar mengajar, merumuskan solusi/alternatif pemecahan masalah yang

dihadapi, dan pada akhirnya dapat mengetahui secara sistematis

(26)

Berdasarkan uraian di atas, maka diduga kegiatan KKG dan supervisi

kepala sekolah berhubungan dengan kualitas kinerja mengajar guru. Hubungan

tersebut diilustrasikan seperti paradigma penelitian seperti gambar 1.1 sebagai

berikut:

Gambar 1.1

Alur Pikir Penelitian (Rekayasa Penulis)

Berdasarkan alur pikir penelitian yang diilustrasikan pada gambar 1.1,

menunjukan bahwa terdapat variabel yang mempengaruhi dan variabel yang

dipengaruhi. Variabel-variabel tersebut penulis kelompokan menjadi variabel

Guru

NON S-1 S-1/DIV

Non Sertifikasi

Prilaku/Kinerja Mengajar Guru

Prilaku Belajar & Prestasi Siswa

(27)

independent dan variabel dependent. Variabel independent meliputi kelompok

kerja guru dan supervisi kepala sekolah, sedangkan variabel dependent adalah

kinerja mengajar guru. Hubungan setiap variabel penelitian dapat penulis

gambarkan sebagai berikut:

є

Gambar 1.2

Kerangka Variabel Penelitian Keterangan :

X1 = Kegiatan Kelompok Kerja Guru (variabel bebas) X2 = Supervisi Kepala Sekolah (variabel bebas) Y = Kinerja Mengajar Guru (variabel terikat) є = Residual (variabel sisa)

J. Metode Penelitian

1. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi jenis penelitian,

instrumen penelitian, dan teknik pengumpulan data.

a. Jenis penelitian

Jenis penelitian yang berkaitan dengan pengaruh KKG dan supervisi

kepala sekolah dasar ini adalah jenis penelitian dengan menggunakan X1

X2

(28)

pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional yang dapat ditarik suatu

kesimpulannya dan dinyatakan dalam bentuk koefisien korelasi .

b. Instrumen penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner dan angket yang

disusun berdsarkan variabel yang diteliti dengan proses uji validitas,

reliabilitas, dan normalitas.

c. Teknik pengumpulan data

Instrument yang telah disusun dan sudah dilakukan uji validitas,

reliabilitas, dan normalitas tersebut digunakan sebagai pedoman dalam

mengumpulkan data dengan cara memberikan kuesioner dan angket kepada

responden.

d. Analisis data

Berdasarkan jenis penelitian, instrumen yang digunakan dan teknik

pengumpulan data yang sesuai dengan variabel yang diteliti, maka pembahasan

tentang pengaruh kelompok kerja guru dan supervisi kepala sekolah terhadap

kinerja mengajar guru lebih tepat menggunakan teknik skala interval atau rasio

dengan menggunakan Pearson product moment correlation atau linear

regression.

2. Lokasi dan Sampel Penelitian

Sesuai dengan judul dalam penelitian ini, maka lokasi penelitian

dilakukan dan ditetapkan yaitu pada kelompok kerja guru sebagai suatu forum

atau wadah professional guru yang berada dan tersebar di wilayah IV

(29)

Situraja, Cisitu, Darmaraja, Cibugel, Wado, dan Kecamatan Jatinunggal, dan

sasaran sebagai sampel penelitian adalah pengurus KKG dan para guru yang

tergabung dalam KKG. Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini

(30)
(31)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.Metode Penelitian dan Desain Penelitian

1. Metode Penelitian

Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode

korelasional dan ex post facto. Metode korelasional dimaksudkan untuk

mengungkap keterkaitan antara hubungan kegiatan Kelompok Kerja Guru dan

supervisi kepala sekolah terhadap kinerja mengajar guru, sebagaimana yang

dikemukakan Suharsimi Arikunto (2006: 326) bahwa “ Penelitian korelasional

merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya

hubungan antara dua atau beberapa variabel”. Dengan teknik korelasi dapat

diketahui hubungan variasi dalam sebuah variabel dengan variasi lain dan

besarnya atau tingginya hubungan dinyatakan dalam bentuk koefisien korelasi.

Sedangkan Ex post facto menurut Nana Sujana dan Ibrahim (2001: 56)

adalah “metode penelitian menunjuk kepada perlakuan atau manipulasi

variabel bebas X telah terjadi sebelumnya sehingga peneliti tidak perlu

memberikan perlakuan lagi, tinggal melihat efeknya pada variabel terikat”.

Tujuan penggunaan metode ex post facto untuk meneliti kemungkinan

saling hubungan sebab akibat dengan cara mengamati terhadap akibat yang ada

dengan mencari faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.

(32)

guru dengan mencari faktor yang mempengaruhi (penyebabnya) dilihat dari

kegiatan Kelompok Kerja Guru dan supervisi kepala sekolah.

2. Desain Penelitian

Desain penelitian pengaruh kegiatan kelompok kerja guru dan supervisi

kepala sekolah terhadap kinerja mengajar guru dapat diilustrasikan pada

gambar 3.1. Hal ini menunjukan bahwa terdapat variabel yang mempengaruhi

dan variabel yang dipengaruhi. Variabel-variabel tersebut penulis kelompokan

menjadi variabel independent dan variabel dependent. Variabel independent

meliputi kelompok kerja guru dan supervisi kepala sekolah, sedangkan variabel

dependent adalah kinerja mengajar guru. Selain itu pula terdapat variabel sisa

(residual variabel). Hubungan setiap variabel penelitian dapat penulis

gambarkan sebagai berikut:

є

rx1y

R2x2x2y rx2y

Keterangan:

X1 = Kelompok Kerja Guru X2 = Supervisi Kepala Sekolah Y = Kinerja Mengajar Guru

Є = Variabel Sisa (Residual)

Gambar 3.1

Desain Penelitian (Riduwan, 2009: 139) Y

(33)

B.Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi diartikan oleh Djam’an Satori dan Aan Komariah (2009: 48)

adalah “ sebagai wilayah generalisasi yang terdiri dari atas subjek yang

memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya”. Sedangkan menurut Walpole

(Muhtadi, 2000: 66) adalah sebagai “the totality of observations with wich we

are concerned”, dan mendifinisikan sebagai “keseluruhan unsur-unsur yang

diamati atau dipelajari dan unsur menrupakan unit anaslisisnya”.

Dari pengertian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa, populasi

dalam penelitian meliputi segala sesuatu yang akan dijadikan subjek atau objek

penelitian yang dikehendaki peneliti. Berkenaan dengan penelitian ini, maka

yang dijadikan populasi dalam penelitian ini adalah guru SD Negeri yang

tergabung dalam 18 kelompok kerja guru (KKG) sebanyak 902 orang guru

kelas yang terdapat di wilayah IV Kabupaten Sumedang dan tersebar di enam

kecamatan, yaitu; Kecamatan Situraja, Cisitu, Darmaraja, Cibugel, Wado, dan

Kecamatan Jatinunggal.

2. Sampel

Populasi guru SD di wilayah IV Kabupaten Sumedang cukup banyak,

oleh karena itu penulis memandang perlu untuk menentukan sampel penelitian

ini. Riduwan (2009: 56), dan Djam’an Satori dan Aan Komariah (2009: 48),

(34)

sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili

seluruh populasi.

Dalam penelitian besar ukuran sampel minimal ditentukan berdasarkan

ukuran-ukuran yang diungkapkan Arikunto (1998: 120) bahwa “untuk sekedar

ancar-ancar maka apabila subjeknya kurang dari 100 orang lebih baik diambil

semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika

jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10 – 15%”.

Memperhatikan pernyataan di atas, karena jumlah populasi guru SD

Negeri di wilayah IV Kabupaten Sumedang lebih dari 100 orang, maka

penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Taro Yamane atau

Slovin (Riduwan, 2010: 65) sebagai berikut:

Keterangan:

n = Jumlah Sampel N = Jumlah Populasi

d2 = Presisi (ditetapkan 10% dengan tingkat kepercayaan 90%)

Berdasarkan rumus tersebut diperoleh jumlah sampel sebagai berkut:

N = . = . , = , = 92

Dengan rumus di atas, maka diperoleh jumlah sampel yaitu guru SD

Negeri yang tergabung dalam 18 KKG yang terdapat di wilayah IV Kabupaten

Sumedang sebagai berikut: N

n =

(35)

Tabel 3.1

Jumlah Populasi dan Sampel Guru SDN di 18 KKG se-wilayah IV Kabupaten Sumedang

Sumedang dengan menggunakan angket sebanyak 92 guru (responden).

C.Instrumen Penelitian

Yang dimaksud instrumen menurut Kountour (2004: 113) adalah “alat

pengumpul data, diantaranya angket atau kuestioner”. Instrumen yang akan

digunakan dalam penelitian ini adalah kedua-duanya (angket dan kuestioner).

Kegiatan yang akan ditempuh dalam pengumpulan data pada penelitian ini,

yaitu; a) menyusun indikator variabel penelitian, b) menyusun kisi-kisi

(36)

reliabilitas instrumen. (lebih lengkapnya mengenai instrumen dapat dilihat

pada lampiran).

D.Teknik Pengumpulan Data

Sesuai dengan rumusan masalah dan untuk menguji hipotesis, maka

instrumen pengumpul data yang akan digunakan untuk dapat menggali

keterangan dan memperoleh data mengenai varibel-variabel dalam penelitian

ini, yaitu kegiatan Kelompok Kerja Guru dan supervisi kepala sekolah

instrumen pengumpul datanya adalah kuesioner.

Penggunan kuesioner sebagai alat pengumpul data dalam penelitian ini

dilandasi oleh data empiris yang dihadapi peneliti. Hal ini sejalan dengan

pendapat yang dikemukakan oleh Hadjar (1996: 181) bahwa:

Angket (quesionere) merupakan sutu daftar pertanyaan atau pernyataan tentang topik tertentu yang diberikan kepada subjek, baik secara individu maupun kelompok untuk mendapatkan informasi tertentu. Untuk mendapat informasi dengan anket ini peneliti tidak perlu bertemu langsung dengan subjek, tetapi cukup dengan mengajukan pertanyaan atau pernyataan tertulis untuk mendapatkan respon”.

Selain itu, pertimbangan yang dijadikan dasar dalam penggunaan

kuesioner, sebagaimana diungkapkan oleh Arif (1982: 70) bahwa:

1.Agar hasil pengukuran terhadap variabel-variabel yang diteliti dapat dianalisa dan diolah secara statistik.

2. Dengan alat pengumpul data tersebut memungkinkan dapat diperoleh data yang objektif.

3. Dengan alat pengumpul data itu, memungkinkan penelitian dilakukan dengan mudah serta lebih dapat menghemat waktu, biaya, dan tenaga.

Sedangkan metode untuk menguji reliabilitas dan konsistensi data

penelitian ini, akan menggunakan metode retest. Sebagaimana yang ungkapkan

(37)

realibilitas suatu test dengan cara melakukan pengujian dua kali untuk test

yang sama pada orang yang sama”. Untuk mengukur apakah hasil dari

pengujian pertama sama dengan hasil dari pengujian kedua digunakan Pearson

product moment correlation (r)

Kemudian untuk mengungkap data mengenai variabel penelitian ini

akan menggunakan Model Skala Likert. Penggunaan Skala Likert ini agar

responden dapat memberikan respon terhadap statemen-statemen dengan

memberikan salah satu jawaban dari 5 alternatif jawaban pada masing-masing

statemen/pertanyaan. Tiap-tiap respon diasosiasikan dengan suatu nilai dan

nilai individual ditentukan dengan menjumlah nilai masing-masing statemen.

Untuk nilai positif dimulai dari sangat setuju = 5, setuju = 4, ragu-ragu = 3,

tidak setuju = 2, dan sangat tidak setuju = 1. Sedangkan untuk statemen yang

negatif nilai itu akan terbalik yaitu; sangat setuju = 1, setuju = 2, ragu-ragu = 3,

tidak setuju = 4, dan sangat tidak setuju = 5.

Teknik yang akan digunakan dalam pengumpulan data adalah a) Studi

dokumentasi, dan b) Teknik angket.

E.Teknik Analisis Data

Mengacu kepada metode yang digunakan pada penelitian ini adalah

metode korelasional dan ex post facto, yakni untuk mengetahui hubungan

antara variabel penelitian, maka teknik analisis data yang akan digunakan

adalah teknik skala interval atau rasio yakni dengan menggunakan Pearson

product moment correlation atau linear regression, hal ini bertujuan untuk

(38)

Statistik-statistik yang digunakan untuk analisis data korelasi dapat dilhat pada

bagan berikut ini:

Bagan 3.1

Statistik untuk Analasis Data Korelasi (Kountour, 2004: 181)

1. Analisis validitas

Untuk mengukur validitas data pada penelitian ini dengan teknik

korelasi product moment dari Pearson, akan menggunakan rumus:

n ∑

− ∑ . ∑

r xy =

{

n.∑

X

2

– (∑

X)

2

}.{

n.∑

Y

2

– (∑

Y)

2

}

Keterangan:

n = Jumlah responden

∑XY = Jumlah perkalian skor X dan Y

∑ X = Jumlah skor tiap butir

∑Y = Jumlah skor total

∑X2 = Jumlah kuadrat skor tiap butir

∑Y2 = Jumlah kuadrat skor total

Korelasi PPM dilambangkan (r) dengan ketentuan nilai r tidak lebih

dari harga (-1≤ r ≤ + 1). Apabila nilai r = - 1 artinya korelasinya negatif

sempurna; r = 0 artinya ada korelasi; dan r = 1 berarti korelasinya sangat kuat.

Sedangkan arti harga r akan donsultasikab dengan tebel interpretasi Nilai r

sebagai berikut :

Analiasis Data Korelasi

Nominal

(chi-square)

Nominal

(chi-square)

Interval/Ratio (Pearson's r, linear

(39)

Tabel 3.2

Interpretasi Koefiien Korelasi Nilai r

Interval Koefisien Tingkat Pengaruh

Antara 0,80 sampai dengan 1,000 Antara 0,60 sampai dengan 0,799 Antara 0,40 sampai dengan 0,599 Antara 0,20 sampai dengan 0,399 Antara 0,00 sampai dengan 0,199

Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah

Sangat Rendah

Sumber :Riduwan (2009 : 110)

2. Analisis reliabilitas

Untuk menguji reliabiltas apakah angket yang disusun cukup dipercaya

sebagai alat pengumpul data, sehingga kebenaran yang diperoleh melalui hasil

penelitian tidak diragukan orang lain, maka akan digunakan rumus-rumus

sebagaimana yang dikemukakan oleh Riduwan (2009: 125) sebagai berikut:

k

s

1

langkah-langkah mencari nilai reliabilitas dengan metode Alpha sebagai

berikut:

a. Langkah 1: Mencari harga varians Skor tiap-tiap item, menggunakan rumus

(40)

b. Langkah 2: Kemudian menjumlahkan varians semua item dengan rumus :

Keterangan : S.Si = Jumlah varians semua item

S1, S2, S3,...,, = Varians item ke1,2,3....,,

c. Langkah ke 3 : Menghitung Varians total dengan rumus :

Keterangan : St = Varians total

Xt2 = Jumlah kuadrat X total

( ∑Xt)2 = Jumlah X total

dikuadratkan

N = Jumlah responden

d. Langkah ke 4: Memasukan nilai Alpha dengan rumus:

Pengujian lanjutan yaitu menentukan signifikansi reliabiltas instrumen,

dengan rumus t student untuk mencari makna pengaruh variabel X terhadap Y,

maka hasil korelasi PPM tersebut diuji dengan Uji Signifikan dengan rumus

sebagaimana yang dikemukakan oleh Riduwan (2009: 137) sebagai berikut:

thitung = √ − 2 Keterangan: thitung = Nilai t

√1 − r = Nilai Koefisien Korelasi n = Jumlah sampel

Selanjutnya untuk menyatakan besar kecilnya sumbangan variabel X

terhadap Y dapat ditentukan dengan rumus koefisien determinan. Koefisien

determinasi adalah kuadrat dari koefisien korelasi PPM yang dikalikan dengan

100%. Untuk mengetahui seberapa besar variabel X mempunyai sumbangan

atau ikut menentukan variabel Y. Sumbangan dicari dengan menggunakan

(41)

Keterangan : KD = Nilai Koefisien Determinan (Konstribusi antar variabel) r = Nilai Koefisien Korelasi

Kemudian untuk mengetahui pengaruh antara variabel X1 dan X2 terhadap variabel Y digunakan rumus korelasi ganda, yaitu:

e. Pengujian Hipotesis

Pengujian data untuk menguji hipotesis penelitian dengan

urutan-urutan sebagai berikut:

1) Membuat tabel data skor variabel penelitian

2) Menghitung regresi linier sederhana dengan rumus :

3) Menghitung siginifikansi dan linieritas dengan menggunakan persamaan

regresi melalui tabel Analisis Varians (ANAVA), bentuk tabelnya

(42)

f. Menghitung siginifikansi regresi dengan jalan membandingkan nilai F hitung (S2 reg/S2tes) dengan Ftabel dimana taraf siginifikasi (ά = 0,05) dan dk = n-2.

Kritrianya, jika Fhitung > Ftabel, maka regresi Y atas X (X1 atau X2) signifikan, tetapi jika sebaliknya F hitung < F tabel, maka regresi Y atas X

tidak siginifikan.

g. Menguji linieritas hubungan fungsional antara variabel X1, X2 dengan variabel Y menggunakan analisis regresi ganda, adapun

tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:

1) Menentukan persamaan regresi 3 variabel, yaitu:

Y = a + b1∑X1 + b2∑X2

Untuk mendapatkan besarnya harga-harga a, b1, dan b2 digunakan rumus yang dikemukakan oleh Riduwan (2009: 145), yaitu:

∑X1Y = b1∑X12 + b2∑X1 X2

∑X2Y = b1∑X1 X2 + b2∑X22

a = Y – b1X1 – b2 X22

2) Uji signifikan dengan membandingkan Fhitung dengan Ftabel dengan rumus yang dikemukakan Riduwan (2009: 154, yaitu:

R2 (n – m – 1) Fhitung =

m(1 – R2)

selanjutnya membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel, jika F hitung > F

(43)

3) Mencari koefisien korelasi dengan tujuan untuk mengetahui besarnya

keeratan hubungan antara varibel X (X1 dan X2) dengan variabel Y.

Maka untuk menghitungnya menggunakan rumus:

n∑XY – (∑X). (∑Y) rxy =

{

n∑X2- (∑X)2

}{

n∑Y2 – (∑Y)2

}

(Riduwan, 2009: 136)

4) Menguji siginifikansi koefisien korelasi dengan rumus:

r √ n - 2 t =

√1 - r2

(Riduwan, 2009: 137)

5) Mencari Koefisien Determinan

kd = r2 x 100%

F. Pengumpulan Data

Sesuai dengan tujuan dan metode penelitian yang ditetapkan, jenis data

dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Variabel mayor terdiri dari Kegiatan

Kelompok Kerja Guru (X1), Supervisi Kepala Sekolah (X2), Kinerja Mengajar

Guru (Y).

Sebelum instrumen penelitian digunakan, terlebih dahulu dilakukan uji

validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas untuk mengetahui ketepatan

instrumen dalam menjalankan fungsi ukurnya, sedangkan uji reliabilitas yaitu

untuk mengukur tingkat reliabelitas sehingga data yang diperoleh dari hasil

(44)

Uji coba validitas dan reliabilitas dilakukan terhadap 92 responden yang

memiliki kesamaaan karakteristik dengan sampel yang diteliti. Sehingga ada

beberapa instrumen yang harus dibuang karena tidak memenuhi kriteria

tersebut.

Instrumen yang telah direvisi, kemudian disebarkan kepada responden

yang dijadikan sampel penelitian. Setiap sampel mendapatkan kuesioner yang

sama banyaknya.

Kuesioner disebar kepada responden, dengan permohonan meminta

responden untuk memilih salah satu alternatif respon/jawaban yang disediakan

dan kuesioner dikembalikan dalam waktu satu minggu kemudian. Kuesioner

yang dikembalikan 100%.

G.Uji Validitas dan Uji Realibilitas.

Ukuran memadai atau tidaknya instrumen pengumpul data, minimal

dilihat dari dua syarat yaitu syarat validitas atau kesahihhan dan syarat

reliabilitas atau keajegan. Uji coba instrumen dilakukan terhadap sejumlah

subyek yang bukan merupakan sampel penelitian , akan tetapi mempunyai

karakteristik yang sama dengan subyek yang akan dijadikan sampel penelitian,

yang selanjutnya dilakukan analisis statistik dengan tujuan untuk menguji

validitas dan reliabilitasnya. Angket dianggap valid, apabila terdapat kesamaan

antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek

yang diteliti. Dan angket dianggap reliabel apabila terdapat kesamaan data

(45)

Dengan diketahui keterjaminan validitas dan reliabilitas alat pengumpul

data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi atau memiliki validitas

dan reliabilitas yang dapat dipertanggung jawabkan.

Untuk koefisien validitas digunakan rumus korelasi product moment

dengan menggunakan Pearson. Rumus pengujian validitas adalah sebagai

berikut:

(Riduwan, 2009 : 136)

Keterangan:

rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y N = banyaknya responden

X = skor tiap item angket Y = skor total angket

Untuk mengetahui keberartian koefisien korelasi tersebut menunjukkan

valid atau tidaknya, dilanjutkan dengan uji t , dengan rumus :

2

maka butir angket tersebut dikatakan valid. Setelah dilakukan analisis butir

(46)

1.Validitas Butir Angket Variabel X1

Tabel 3.4

Validitas Butir Angket Variabel X1

(47)

Case Processing Summary

N %

Cases Valid 30 100.0

Excludeda 0 .0

Total 30 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha Part 1 Value .858

N of Items 15a

Part 2 Value .869

N of Items 15b

Total N of Items 30

Correlation Between Forms .771 Spearman-Brown

Coefficient

Equal Length .871

Unequal Length .871

Guttman Split-Half Coefficient .868

a.The items are: VAR00001, VAR00002, VAR00003, VAR00004, VAR00005, VAR00006, VAR00007, VAR00008, VAR00009, VAR00010, VAR00011, VAR00012, VAR00013, VAR00014, VAR00015.

b.The items are: VAR00016, VAR00017, VAR00018, VAR00019, VAR00020, VAR00021, VAR00022, VAR00023, VAR00024, VAR00025, VAR00026, VAR00027, VAR00028, VAR00029, VAR00030.

Instrumen pengukuran variabel pengaturan KKG (X1) yang diujicobakan sebanyak 30 butir. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh

(48)

instrumen lainnya langsung dapat dipergunakan untuk pengumpulan data dan

hasil untuk realibilitasnya dinyatakan realibel.

2. Validitas Butir Angket Variabel X2

Tabel 3.5

(49)

Case Processing Summary

N %

Cases Valid 30 100.0

Excludeda 0 .0

Total 30 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha Part 1 Value .875

N of Items 15a

Part 2 Value .888

N of Items 15b

Total N of Items 30

Correlation Between Forms .752 Spearman-Brown

Coefficient

Equal Length .858

Unequal Length .858

Guttman Split-Half

Coefficient

.852

a.The items are: VAR00001, VAR00002, VAR00003, VAR00004, VAR00005, VAR00006, VAR00007, VAR00008, VAR00009, VAR00010, VAR00011, VAR00012, VAR00013, VAR00014, VAR00015.

b. The items are: VAR00016, VAR00017, VAR00018, VAR00019, VAR00020, VAR00021, VAR00022, VAR00023, VAR00024, VAR00025, VAR00026, VAR00027, VAR00028, VAR00029, VAR00030.

Instrumen pengukuran variabel supervisi kepala sekolah (X2) yang

(50)

koefisien korelasi terendah rhitung = 0,079 dan tTabel = 2,011. Dengan demikian tiga instrumen tidak dapat dipakai karena tidak valid, sedangkan 27 butir

instrumen lainnya langsung dapat dipergunakan untuk pengumpulan data dan

hasil untuk realibilitasnya dinyatakan realibel.

3. Validitas Butir Angket Variabel Y

Tabel 3.6

(51)

Case Processing Summary

N %

Cases Valid 30 100.0

Excludeda 0 .0

Total 30 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the

procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha Part 1 Value .203

N of Items 12a

Part 2 Value .027

N of Items 11b

Total N of Items 23

Correlation Between Forms .434 Spearman-Brown

Coefficient

Equal Length .605

Unequal Length .606

Guttman Split-Half

Coefficient

.604

a.The items are: VAR00001, VAR00002, VAR00003, VAR00004, VAR00005, VAR00006, VAR00007, VAR00008, VAR00009, VAR00010, VAR00011, VAR00012.

(52)

n X

M =

Instrumen pengukuran variabel Kinerja mengajar guru (Y) yang

diujicobakan sebanyak 30 butir. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh

koefisien korelasi terendah rhitung = 0,270 dan ttabel = 2,011. Dengan demikian dua instrumen tidak dapat dipakai karena tidak valid, sedangkan 28 butir

instrumen lainnya langsung dapat dipergunakan untuk pengumpulan data dan

hasil untuk realibilitasnya dinyatakan realibel.

H.Pengolahan Data

Teknik analisis data untuk mengungkapkan hasil penelitian

dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1. Analisis Statistik Deskriptif

Melalui statistik deskriptif ini, akan disajikan data dalam tabel

distribusi frekuensi, grafik garis maupun batang, penjelasan kelompok

melalui mean, dan variasi kelompok melalui rentang dan standar deviasi

terhadap semua variabel dan sub variabel penelitian. Perhitungan deskriptif

yang digunakan adalah rata-rata hitung (arimatic mean) dengan rumus:

Keterangan: M = Mean. Σ = Jumlah.

(53)

K R n T n

I = ρ( )− ρ( )

Penentuan klasifikasi skor jawaban responden yang disusun

berdasarkan skala instrumen dengan rumus:

Keterangan:

I = Interval skor jawaban responden. n = Jumlah item pertanyaan.

ρ = Kemungkinan skor jawaban (probabilitas).

T = Skor jawaban tinggi. R = Skor jawaban rendah. K = Jumlah kelas interval.

2. Uji Persyaratan Analisis

Tahapan ini bertujuan untuk mengetahui sebaran data apakah

berdistribusi normal atau tidak berdistribusi normal, serta uji linieritas.

a. Uji Normalitas Data

Uji normalitas data, dilakukan dengan pengujian Kolmogorov-Smirnov, dengan kriteria jika nilai asymp. Sign (p) > α, maka sebaran data

berdistribusi normal.

b. Uji Linieritas Data

Mengenai uji linieritas kriterianya adalah jika nilai Fhitung lebih kecil

dari nilai Ftabel atau nilai p > α maka hubungan yang dihasilkan tersebut

berbentuk linier.

Pengolahan data dilakukan dengan maksud agar data yang terhimpun dapat

memberikan arti bagi penelitian yang dilakukan. Data yang terkumpul harus diolah,

diorganisir dan disistematisasikan sesuai dengan tujuan penelitian. Winarno

(54)

untuk membuat data dan tingginya nilai data yang terkumpul (sebagai hasil fase

pelaksanaan pengumpulan data), apabila tidak disusun dalam suatu organisasi dan

diolah menurut sistematis yang baik.

Dalam prosedur pengolahan data, seleksi, dan klasifikasi data, penulis

menempuh langkah-langkah sebagai berikut:

1) Pemeriksaan kecenderungan umum skor mentah

2) Mengubah skor mentah menjadi skor baku

3) Uji normalitas distribusi data untuk mengetahui dan menentukan apakah

pengolahan data menggunakan analisis parametik atau non parametik,

dengan menggunakan rumus Chi Kuadrat ( X )

Langkah-langkah yang ditempuh adalah :

(a)Membuat distribusi frekuensi

(b)Mencari batas bawah skor kiri interval dan batas atas skor kanan interval

(c)Mencari Z untuk batas kelas dengan rumus:

(55)

(d)Mencari luas 0 - Z dari daftar F

(e)Mencari luas tiap interval dengan cara mencari selisih luas O - Z dengan

interval yang berdekatan untuk tanda Z sejenis dan menambah luas O -

Z yang berlawanan

(f)Mencari Ei (frekuensi yang diharapkan) diperoleh dengan cara

mengalikan luas interval n

(g)Mencari Oi ( Frekuensi hasil penelitian ) diperoleh dengan cara melihat

tiap kelas interval ( Fi) pada tabel distribusi frekuensi

(h)Mencari X dengan cara jalan membandingkan nilai presentil untuk

distribusi X

c. Uji Linieritas X1 terhadap Y

Untuk uji linieritas antara variabel X1 dengan variabel Y, maka

diperoleh nilai Fhitung sebesar 1,830 dengan nilai Sig. = 0,397. Ternyata nilai Sig. = 0,397 lebih besar dari α = 0,05 sehingga hubungan yang dihasilkan

tersebut berbentuk linier. Hasil pengolahan data di atas, diperlihatkan pada

Tabel 3.7 berikut ini:

Tabel 3.7:

Uji Linieritas antara Variabel X1 dengan Y

(56)

d. Uji Linieritas X2 terhadap Y

Untuk uji linieritas antara variabel X2 dengan variael Y, maka

diperoleh nilai Fhitung sebesar 1.020 dengan nilai Sig. = 0,554. Ternyata nilai Sig. = 0,554 lebih besar dari α = 0,05 sehingga hubungan yang dihasilkan

tersebut berbentuk linier. Hasil pengolahan data di atas, diperlihatkan pada

Tabel 3.8 berikut ini:

Tabel 3.8

Uji Linieritas antara Variabel X2 dengan Y

Tabel ringkasan ANAVA Variabel X2 -Y untuk uji lineritas

sumber varians

ternyata f hitung < F tabel atau 1,02 <

diperoleh nilai Fhitung sebesar 1.780 dengan nilai Sig. = 0,682. Ternyata nilai Sig. = 0,682 lebih besar dari α = 0,05 sehingga hubungan yang dihasilkan

tersebut berbentuk linier. Hasil pengolahan data di atas, diperlihatkan pada

(57)

Tabel 3.9

Uji Linieritas antara Variabel X1 dengan X2 Tabel ringkasan ANAVA Variabel X1 –X2 untuk uji lineritas

sumber

residu 90 119176472 1295396

tuna cocok 31 117866272 3802138

Kesalahan 59 27,75 2,134615

I. Analisis Data Untuk Pengujian Hipotesis Penelitian

1. Analisis korelasi

Analisis korelasi digunakan untuk menemukan arah dan kuatnya

hubungan antara dua variabel atau lebih (Sugiyono, 2004: 236). Pada

umumnya setiap analisa regresi didahului dengan analisis korelasi, tetapi

setiap analisa korelasi belum tentu dilanjutkan dengan regresi.

Untuk lebih jelasnya langkah-langkah terinci dapat dilihat sebagai

berikut:

a. Memberi bobot setiap kemungkinan jawaban pada item untuk setiap

variabel penelitian dan memberi skor pada angket responden berdasarkan

petunjuk yang telah ditetapkan

b. Pengolahan data dengan menggunakan perhitungan prosentase.

Perhitungan presentase dimaksimalkan untuk mengetahui kecenderungan

umum jawaban responden terhadap variabel penelitian, dengan

(58)

c. Menentukan rentang (R) yaitu skor tertinggi dikurangi skor terendah

(STT – STR )

R = STT - STR

d. Menentukan banyak kelas ( bk ) interval dengan menggunakan rumus :

Bk =1 + (3,3) log n

e. Menentukan panjang kelas interval yaitu rentang dibagi banyak kelas

bk R

(59)

f. Mencari rata-rata dengan rumus:

g. Mencari simpangan baku dengan rumus :

Analisis korelasi merupakan teknik statistika yang berusaha mencari

derajat hubungan antara variabel X dengan variabel Y, dan ukuran yang

dipakai untuk mengetahui derajat hubungan dalam penelitian ini adalah

analisis non parametik dengan menggunakan Rank Spearman dengan

rumus :

Menghitung keberartian koefisien korelasi (tingkat signifikansi)

dengan menggunakan rumus :

Selanjutnya nilai t hitung dibandingkan dengan nilai ttabel dengan dk

= n – 2 pada taraf atau tingkat kepercayaan yang dipilih, dalam hal ini

adalah tingkat kepercayaan 95%. Apabila thitung > ttabel, maka dapat

(60)

Kemudian menafsirkan besarnya koefisien korelasi berdasarkan

kriteria yang dikemukakan Subino (1982: 66) adalah sebagai berikut:

Kurang dari 0,020 ; Hubungan dianggap tidak ada Antara 0,20 – 0,40 : Hubungan ada tetapi rendah Antara 0,41 – 0,70 : Hubungan cukup

Antara 0,71 – 0,90 : Hubungan tinggi

Antara 0,91 – 1,00 : Hubungan sangat tinggi

2. Koefisien Korelasi Ganda

Dimaksudkan analisis korelasi dilakukan untuk mengetahui seberapa

kuat derajat keterikatan antara variabel dependen dan independen. Untuk

menghitung koefisien korelasi ganda (R) dengan rumus sebagai berikut:

2

3. Mencari Derajat Hubungan Berdasarkan Koefisien Determinasi (r )

Dimaksudkan untuk menyatakan besarnya presentase variabel yang

satu turut ditentukan oleh variabel yang lain (Subino. 1982: 63) dengan

(61)
(62)

118 BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Dalam bab ini disajikan kesimpulan penelitian yang merupakan muara

hasil penelitian dan jawaban atas pertanyaan penelitian, serta implikasi praktis dan

teoritis dari penelitian ini. Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian tersebut

diajukan rekomendasi-rekomendasi bagi tim pengembangan ilmu pendidikan di

wilayah IV Kabupaten Sumedang khususnya, pemerintah daerah, dan penelitian

selanjutnya dalam kaitannya meningkatkan mutu kinerja guru.

A.Kesimpulan

Berdasarkan hasil interpretasi dan pembahasan hasil penelitian, penulis

sampaikan kesimpulannya, yakni sebagai berikut:

1. Kelompok kerja guru berpengaruh rendah terhadap kinerja mengajar guru.

Meskipun pengaruhnya rendah akan tetapi sangat positif, karena semakin

baik pengelolaan KKG akan semakin baik pula kinerja mengajar guru

Sekolah Dasar di wilayah IV Kabupaten Sumedang.

2. Supervisi kepala sekolah berpengaruh cukup positif terhadap kinerja

mengajar guru Sekolah Dasar di wilayah IV Kabupaten Sumedang, karena

semakin baik pelaksanaan supervisi kepala sekolah akan semakin baik pula

kinerja mengajar guru.

3. Kelompok kerja guru dan supervisi kepala sekolah secara bersama-sama

Figur

Gambar 1.2 Kerangka Variabel Penelitian

Gambar 1.2

Kerangka Variabel Penelitian p.27
gambar 3.1.  Hal ini menunjukan bahwa terdapat variabel yang mempengaruhi

gambar 3.1.

Hal ini menunjukan bahwa terdapat variabel yang mempengaruhi p.32
Tabel 3.1 Jumlah Populasi dan Sampel Guru SDN di 18 KKG se-wilayah IV

Tabel 3.1

Jumlah Populasi dan Sampel Guru SDN di 18 KKG se-wilayah IV p.35
Tabel 3.2 Interpretasi Koefiien Korelasi Nilai r

Tabel 3.2

Interpretasi Koefiien Korelasi Nilai r p.39
Tabel 3.3  Analisis Varians

Tabel 3.3

Analisis Varians p.41
Tabel 3.4 Validitas Butir Angket Variabel X1Item-Total Statistics

Tabel 3.4

Validitas Butir Angket Variabel X1Item-Total Statistics p.46
Tabel 3.5  Validitas Butir Angket Variabel X

Tabel 3.5

Validitas Butir Angket Variabel X p.48
Tabel 3.6 Validitas Butir Angket Variabel Y

Tabel 3.6

Validitas Butir Angket Variabel Y p.50
Tabel 3.7 berikut ini:

Tabel 3.7

berikut ini: p.55
Tabel 3.8 berikut ini:

Tabel 3.8

berikut ini: p.56
Tabel ringkasan ANAVA Variabel X1 –X2 untuk uji lineritas

Tabel ringkasan

ANAVA Variabel X1 –X2 untuk uji lineritas p.57

Referensi

Memperbarui...