Perencanaan Sistem Penerangan Jalan Umum Dan Taman Di Areal Kampus Usu Dengan Menggunakan Teknologi Tenaga Surya (Aplikasi Pendopo Dan Lapangan Parkir) Chapter III V

52 

Teks penuh

(1)

BAB III

TEKNIK DAN PERENCANAAN SISTEM PENERANGAN

3.1 Teknik Penerangan

Cahaya adalah suatu gejala fisis. Sumber cahaya memancarkan energi yang sebagian energi tersebut menjadi cahaya tampak. Perambatan cahaya di ruang bebas dilakukan oleh gelombang-gelombang elektromagnetik. Jadi cahaya itu merupakan suatu gejala getaran.

3.1.1 Satuan Penerangan Sistem Internasional

a. 1 watt cahaya adalah energi yang dipancarkan oleh suatu sumber cahaya sebesar 1 watt dengan panjang gelombang 555 mµ

b. 1 watt cahaya = 680 lumen

c. Flux cahaya (lumen) adalah jumlah seluruh cahaya yang dipancarkan oleh suatu sumber cahaya dalam satu detik.

d. Flux cahaya spesifik = lumen/watt

e. Steradian. Misalkan dari permukaan sebuah bola (gambar 3.1) dengan jari-jari r ditentukan suatu bidang dengan luas r2. Kalau ujung suatu jari-jari kemudian menjalani tepi bidang itu, maka sudut ruang yang dipotong dari bola oleh jari-jari ini disebut satu steradian. Karena luas permukaan bola sama dengan 4πr2, maka di sekitar titik tengah bola dapat diletakkan 4π sudut ruang yang masing-masing sama dengan satu steradian.

f. Intensitas cahaya (candela) = flux cahaya persatuan sudut ruang (steradian) yang dipancarkan ke suatu arah tertentu. Intensitas cahaya diketahui melalui Persamaan 3.1 di bawah ini.

(2)

I = ∅

ɷ (cd) (3.1)

dimana :

I = Intensitas cahaya (cd)

∅ = Flux cahaya (Lm)

ɷ= Sudut ruang (steradian)

g. Tingkat/kuat penerangan (Iliminasi – Lux), didefinisikan sebagai sejumlah arus cahaya yang jatuh pada suatu permukaan seluas 1 (satu) meter persegi sejauh 1 (satu) meter dari sumber cahaya 1 (satu) lumen.

Intensitas penerangan atau iluminasi (E) = flux cahaya persatuan luas permukaan A (m2), seperti ditunjukkan pada Persamaan 3.2 berikut ini.

Erata-rata = ∅

A lux (3.2)

Intensitas penerangan di suatu bidang dapat dihitung melalui Persamaan 3.3 di bawah ini:

Ep =

Ep = intensitas penerangan di suatu titik P dari bidang yang diterangi (lux)

I = intensitas sumber cahaya (cd)

(3)

3.1.2 Diagram Polar Intensitas Cahaya

Diagram polar intensitas cahaya adalah suatu karakteristik untuk pembagian cahaya sebuah lampu atau armatur. Diagram ini umumnya diberikan untuk lampu 1000 lumen. Gambar 3.1 menunjukkan diagram polar intensitas cahaya dan armatur.

Gambar 3.1 Diagram Polar Intensitas Cahaya dan Armatur

Diagram polar intensitas cahaya digunakan untuk melindungi intensitas penerangan suatu titik menurut persamaan 3.4 berikut :

Ep =

I 2

r

lux (3.4)

(4)

Persamaan 3.5 menunjukkan intensitas penerangan E’ di bidang a’ – b’ tegak lurus pada arah I menurut hukum kuadrat :

E’ = 2I r

lux (3.5)

Intensitas penerangan E di bidang horizontal a – b, ialah proyeksi dari E’ pada garis tegak lurus pada bidang a – b di titik P. Jadi :

E = E’ cos α (3.6)

Dari persamaan (3.5) dan (3.6) diperoleh :

E = 2I r

cos α lux (3.7)

Rumus ini dikenal sebagai Hukum Cosinus.

3.1.3 Sistem Penerangan dan Armatur

Penyebaran cahaya dari suatu sumber cahaya tergantung pada : 1. Konstruksi sumber cahaya

2. Konstruksi armature yang digunakan

Konstruksi armature yang digunakan antara lain ditentukan oleh : • Cara pemasangannya pada dinding atau langit-langit

• Cara pemasangan fiting atau fiting-fiting di dalam armature • Perlindungan sumber cahaya

(5)

Berdasarkan pembagian flux cahayanya oleh sumber cahaya dan armature yang digunakan, dapat dibedakan sistem-sistem penerangan seperti ditunjukkan pada tabel 3.1 di bawah ini.

Table 3.1 Pembagian flux cahaya terhadap bidang kerja

Sistem Penerangan Langsung ke bidang kerja

a. Penerangan langsung 90 – 100 %

b. Terutama penerangan langsung 60 – 90 % c. Penerengan campuran atau penerangan baur 40 – 60 % d. Terutama penerangan tidak langsung 10 – 40 %

e. Penerangan tidak langsung 0 – 10 %

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan sistem penerangan adalah : a. Intensitas penerangannya di bidang kerja

b. Intensitas penerangan umumnya dalam ruangan c. Biaya instalasinya

d. Biaya pemakaian energinya dan biaya pemeliharaan

Perbandingan antara intensitas penerangan minimum dan maksimum di bidang kerja sekurang-kurangnya = 0,7. Perbandingan dengan sekelilingnya sekurang-sekurang-kurangnya = 0,3

Intensitas penerangan ditentukan oleh :

(6)

3.1.4 Efisiensi Penerangan

Efisiensi penerangan dapat ditentukan melalui persamaan 3.7 di bawah ini.

η = ∅∅�g (3.8)

dimana :

∅o = flux cahaya yang dipancarkan oleh semua sumber cahaya yang ada dalam ruangan

∅g = flux cahaya berguna yang mencapai bidang kerja, langsung atau tidak langsung setelah

dipantulkan oleh dinding dan langit-langit.

dan ∅g = E x A (3.9)

dari persamaan (3.7) dan (3.8) diperoleh rumus flux cahaya

∅o = � . �

η

Lm

(3.10)

dimana :

E = intensitas penerangan yang diperlukan di bidang kerja (lux) A = luas bidang kerja (m2)

Untuk menentukan efisiensi penerangannya harus diperhitungkan : a. Efisiensi armaturnya (v)

V = ���� ��ℎ��� ���� ����������� ��� ℎ�������

(7)

b. Faktor refleksi dinding (rw), faktor refleksi langit-langit (rp) dan faktor refleksi bidang

pengukurannya (rm).

Faktor-faktor refleksi ditentukan berdasarkan warna dinding dan langit-langit ruangan : - warna putih dan warna sangat muda = 0,7

- warna muda = 0,5 - warna sedang = 0,3 - warna gelap = 0,1

khusus faktor refleksi bidang pengukurannya (rm) ditetapkan = 0,1

c. Indeks ruangan atau indeks bentuk (k) ditentukan dengan persamaan 3.10 berikut.

k = � . �

ℎ(�+�)

(3.11)

dimana :

p = panjang ruangan (m) l = lebar ruangan (m)

h = tinggi sumber cahaya di atas bidang kerja (m)

Bidang kerja umumnya diambil 80 cm – 90 cm di atas lantai.

(8)

nA =

E = intensitas penerangan yang diperlukan A = luas bidang kerja

η = efisiensi penerangan

d = faktor depresiasi

3.2 Sistem Penerangan Luar

Lampu penerangan jalan adalah bagian dari bangunan pelengkap jalan yang dapat diletakkan/dipasang di kiri/kanan jalan dan atau di tengah (di bagian median jalan) yang digunakan untuk menerangi jalan maupun ling kungan di sekitar jalan yang diperlukan termasuk persimpangan jalan (intersection), jalan layang (interchange, overpass, fly over), jembatan dan jalan di bawah tanah (underpass, terowongan).

(9)

3.2.1 Fungsi Penerangan Jalan

Penerangan jalan di kawasan perkotaan mempunyai fungsi antara lain : a. Menghasilkan kekontrasan antara obyek dan permukaan jalan; b. Sebagai alat bantu navigasi pengguna jalan;

c. Meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan, khususnya pada malam hari;

d. Mendukung keamanan lingkungan; e. Memberikan keindahan lingkungan jalan.

3.2.2 Acuan Normatif

Spesifikasi penerangan jalan di kawasan perkotaan ini merujuk pada acuan sebagai berikut: a. Undang Undang RI Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; b. Undang Undang RI Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan;

c. Peraturan Pemerintah RI Nomor 26 Tahun 1985 tentang Jalan;

d. Peraturan Pemerintah RI Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan; e. SNI No. 03-2447-1991, Spesifikasi Trotoar;

f. SNI No. 04-6262-2000, Rekomendasi untuk pencahayaan kendaraan bermotor dan pejalan kaki;

g. AASHTO, 1984, An Informational Guide for Roadway Lighting.

3.2.3 Perbandingan Kemerataan Pencahayaan (Uniformity Ratio)

(10)

permukaan jalan. Uniformity Ratio 3 : 1 berarti rata-rata nilai kuat penerangan/luminasi adalah 3 (tiga) kali nilai kuat penerangan/luminasi pada suatu titik dari penerangan minimum pada permukaan/perkerasan jalan.

Rasio maksimum antara kemerataan pencahayaan maksimum dan minimum menurut lokasi penempatan tertentu adalah seperti yang ditentukan pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Rasio kemerataan pencahayaan

Lokasi Penempatan Rasio Maksimum Jalur lalu lintas :

- di daerah permukiman

- di daerah komersil/pusat kota

6 : 1 3 : 1 Jalur pejalan kaki :

- di daerah permukiman

- di daerah komersil/pusat kota

10 : 1 4 : 1 Tempat-tempat peristirahatan (rest area) 6 : 1

Terowongan 3 : 1

3.2.4 Pandangan Silau dan Pandangan Silhoutte

(11)

b. Pandangan Silhoutte adalah pandangan yang terjadi pada suatu kondisi dimana obvek yang gelap berada di latar belakang yang sangat terang, seperti pada kondisi lengkung alinvemen vertikal yang cembung, persimpangan yang luas, pantulan dari perkerasan yang basah, dll.

Kedua pandangan ini harus diperhatikan dalam perencanaan penempatan/pemasangan lampu penerangan jalan kota.

3.2.5 Sistem Penempatan Lampu Penerangan Jalan

Sistem penempatan lampu penerangan adalah susunan penempatan/penataan lampu yang satu terhadap lampu yang lain. Sistem penempatan ada 2 (dua) sistem, yaitu :

a. Sistem Penempatan Menerus

Sistem penempatan menerus adalah sistem penempatan lampu penerangan jalan yang menerus/kontinyu di sepanjang jalan/jembatan.

b. Sistem Penempatan Parsial (setempat)

Sistem penempatan parsial adalah sistem penempatan lampu penerangan jalan pada suatu daerah-daerah tertentu atau pada suatu panjang jarak tertentu sesuai dengan keperluannya.

3.2.6 Dasar Perencanaan Penerangan Jalan

a. Perencanaan penerangan jalan terkait dengan hal-hal berikut ini :

- Volume lalu-lintas, baik kendaraan maupun lingkungan yang bersinggungan seperti pejalan kaki, pengayuh sepeda, dll;

(12)

- Geometri jalan, seperti alinyemen horisontal, alinyemen vertikal, dll;

- Tekstur perkerasan dan jenis perkerasan yang mempengaruhi pantulan cahaya lampu penerangan;

- Pemilihan jenis dan kualitas sumber cahaya/lampu, data fotometrik lampu dan lokasi sumber listrik;

- Tingkat kebutuhan, biaya operasi, biaya pemeliharaan, dan lain-lain, agar perencanaan sistem lampu penerangan efektif dan ekonomis;

- Rencana jangka panjang pengembangan jalan dan pengembangan daerah sekitarnya; - Data kecelakaan dan kerawanan di lokasi.

b. Beberapa tempat yang memerlukan perhatian khusus dalam perencanaan penerangan jalan antara lain sebagai berikut :

- Lebar ruang milik jalan yang bervariasi dalam satu ruas jalan;

- Tempat-tempat dimana kondisi lengkung horisontal (tikungan) tajam; - Tempat yang luas seperti persimpangan, interchange, tempat parkir, dll; - Jalan-jalan berpohon;

- Jalan-jalan dengan lebar median yang sempit, terutama untuk pemasangan lampu di bagian median;

- Jembatan sempit/panjang, jalan layang dan jalan bawah tanah (terowongan);

- Tempat-tempat lain dimana lingkungan jalan banyak berinterferensi dengan jalannya.

3.3 Perencanaan dan Perancangan Sistem Penerangan Tenaga Surya

(13)

matahari ini dibagi dua yaitu aktif dan pasif. Penggunaan secara aktif yaitu menggunakan teknologi panel surya untuk mengumpulkan energi listrik. Sementara cara penggunaan secara pasif adalah dengan cara mengatur arah bangunan, menggunakan material yang menyerap panas dan desain bangunan yang secara alami memperlancar sirkulasi udara didalam bangunan.

3.3.1 Konfigurasi Sistem

Pada perencanaan dan pembuatan perangkat keras baterai charge dan lampu LED sebagai sumber lampu untuk kebutuhan bebanPenerangan Jalan Umum (PJU) megacu pada blok diagram yang ditunjukan pada Gambar 3.3. Sebelum tegangan keluaran dari Solar Cell masuk ke dalam Battery terlebih dulu diatur didalam Rangkaian Battery Charger.

Gambar 3.3 Block Diagram Sistem penerangan dengan Solar Cell

3.3.2 Instalasi Solar Cell

(14)

surya, membuat photon bergerak menuju electron dan menghasilkan arus dan tegangan listrik. Arus listrik yang dihasilkan adalah listrik dengan arus searah (DC) sebesar 3,5 A. Besar tegangan yang dihasilkan adalah 0,4-0,5V. Jadi sebuah panel surya 12 Volt terdiri dari kurang lebih 36 sel surya (untuk menghasilkan 17 Volt tegangan maksimum). Listrik yang dihasilkan oleh panel surya dapat langsung digunakan atau disimpan lebih dahulu ke dalam baterei kering. Tergantung dari kebutuhannya, didapatkan perhitungan berapa jumlah solar cells panel dan baterai yang dibutuhkan.

Perhitungan Teknis :

Daya yang dihasilkan oleh panel surya maksimum diukur dengan besaran Wattpeak (Wp), yang konversinya terhadap Watthour (Wh) tergantung intensitas cahaya matahari yang mengenai permukaan panel. Selanjutnya daya yang dikeluarkan oleh panel surya adalah daya panel dikalikan lama penyinaran.

Misalnya sebuah panel surya berkapasitas 50 Wp disinari matahari dengan intensitas maksimum selama 8 jam maka daya yang dihasilkan adalah 50 kali 8 Wh atau 400 Wh. Daya sebanyak ini dapat digunakan untuk menyalakan 4 buah lampu 25 Watt selama 4 jam atau sebuah televisi hitam putih 40 Watt selama 10 jam.

Di Indonesia, daya (Wh) yang dihasilkan perhari biasanya sekitar 3-5 kali daya panel maksimum (Wp), 3 kali untuk cuaca mendung, dan 5 kali untuk kondisi panas terik. Misalnya untuk sebuah panel surya berdaya maksimum 50 Wp, daya yang dihasilkan pada cuaca mendung perhari adalah 3 kali 50 Wp atau 150 Wp, dan pada cuaca cerah adalah 5 kali 50 Wp atau 250 Wp.

(15)

keluaran. Tegangan yang lebih tinggi diperoleh dengan merangkai panel-panel dengan arus keluaran yang sama secara seri. Misalnya untuk memperoleh keluaran sebesar 12 Volt dan arus 12 A, kita dapat merangkai 4 buah panel masing-masing dengan keluaran 12 Volt dan 3 A secara paralel. Sementara kalau keempat panel tersebut dirangkai secara seri akan diperoleh keluaran tegangan sebesar 48 Volt dan arus 3 A.

Berikut ini merupakan peralatan yang dibutuhkan dalam instalasi Lampu listrik tenaga surya :

g. Modul Solar Cell Mono/Polycrystalline h. Lampu LED/CFL + Cobra Head Lamp i. Charge Controller Automatic Timer

j. Battery SLA/VLRA Deep Cycle Free Maintenance k. Battery Box

l. Solar Panel Support m. Various Brackets n. Wiring Harnesses

Gambar 3.4 menunjukkan rangkaian instalasi penerangan secara umum dengan menggunakan teknologi tenaga surya.

(16)

3.3.3 Tipe-tipe Pemasangan Sel Surya

Dalam pemasangannya, sel surya dapat dibedakan menjadi :

a. Tipe stand-alone, dimana tipe ini biasanya digunakan untuk beban listrik terisolasi atau di daerah terpencil, kapasitas kecil.

b. Tipe isolated grid , tipe ini biasanya digunakan untuk beban listrik besar terisolasi dan terkonsentrasi, bisa dikombinasikan dengan sumber energi lain dalam operasi hybrid. c. Tipe grid connected , tipe ini digunakan pada daerah yang telah memiliki sistem jaringan

listrik komersial, dan sistem langsung output energi surya ke dalam jaringan listrik. Untuk daerah perkotaan yang sudah terjangkau aliran listrik PLN, biasanya sel surya dipasang secara grid connected. Revolusi aplikasi sel surya pada bangunan arsitektur telah mengalami perkembangan yang pesat, mulai dari teknologi biasa sampai teknologi tinggi pada generasi ke-3, yaitu :

a. Generasi Pertama (tahun 1980 an), panel-panel/deretan sel surya modul dengan rangka besi hanya diletakkan (mounting) pada bidang atap datar bangunan dengan alat penyangga (tracking).

b. Generasi Kedua (tahun 1990 an), sel surya dikembangkan lebih menyatu menjadi bagian material bangunan yaitu : bahan atap (genting, sirap).

c. Generasi Ketiga (tahun 1997), sel surya dikembangkan menjadi kesatuan integrasi bangunan arsitektur dalam berbagai materi bangunan dan aplikasi canggih.

Pemasangan sel surya secara grid connected dengan jaringan listrik PLN, dapat digunakan sebagai :

a. Sebagai catu-daya back-up, dimana :

(17)

- Meningkatkan kualitas pelayanan daya listrik pada sistem yanglemah. b. Sebagai sarana Load Shaving , dimana :

- Energi surya disimpan dalam battery storage dan digunakan padasaat beban tinggi.

- Energi yang tersimpan dalam battery tersebut dapat digunakanuntuk membantu mengurangi beban puncak.

c. Sebagai Peak Cliping :

- Pada aplikasi grid-connected bisa terjadi koinsidensi beban puncak dan radiasi puncak - Pada kondisi ini energi surya dapat langsung berdampak pada penurunan konsumsi untuk beban puncak dari jaringan listrik.

Untuk mendapatkan keluaran energi Iistrik yang optimum di Indonesia, maka cukup dilakukan dengan memiringkan modul surya tersebut ke suatu arah dengan sudut kemiringan sebesar lintang lokasi solar cell tersebut berada. Sebagai contoh apabila lokasi tersebut berada di sebelah utara khatulistiwa maka modul surya tersebut dihadapkan ke selatan, dan sebaliknya bila diselatan khatulistiwa maka modul surya dihadapkan ke utara.

Selain pengaruh arah dari modul surya, temperatur juga dapat mempengaruhi energi listrik yang dihasilkannya. Semakin tinggi temperatur modul surya jenis silikon kristal, maka akan semakin berkurang tegangan yang dihasilkannya yaitu sebesar 0,04V sampai 0,10V per ºC. Oleh karena itu, dalam pemasangan modul surya diusahakan tidak dipasang langsung di atas atap, tetapi diberikan jarak antara 30 sampai 50cm, hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya akumulasi panas di bagian bawah modul surya.

(18)

3.3.4 Perencanaan Perhitungan Daya Solar Cell

Dalam penggunaan PJU yang dirancang memakai solar cell dengan daya sebesar 80 WP, dan solar yang akan dianalisa pada hal ini adalah solar cell dengan daya 50 WP dan 30 WP seperti terlihat pada Gambar 3.5 dan Gambar 3.6.

Gambar 3.5 Solar Cell 50 WP Gambar 3.6 Solar Cell 30 WP

- Max. Power : 50W - Max. Power : 30W - Voltage Pmax : 121V - Voltage Pmax : 90V - Current Pmax : 2,9A - Current Pmax : 2A

- Warranted Min.Pmax : 45W - Warranted Min.Pmax : 45W - Short circuit current : 2.9A - Short circuit current : 2,3A - Open circuit Voltage : 21,8V - Open circuit Voltage : 19V

Perencanaan Perhitungan Daya Solar Cell : a. Total Beban

(19)

‐ 1 Mikrokontroller 5 V = 2 Watt

‐ 1 relay 12V = 5 Watt

‐ RTC (Real Time Clock) = 2 Watt

‐Total daya keseluruhan diperkirakan = 50 Watt

b. Dengan perkiraan daya sebesar 50 Watt maka dibutuhkan Battery perkiraan arus sebagai berikut :

I = P daya yang direncanakan V aki

I = 50 12

I = 4.2 A

Aki yang digunakan pada sitem ini adalah : Aki = Jam penggunaan x arus aki

= 12 x 4.2 = 50,4 Ah.

Pada perencanaan sistem memakai cadangan aki sebesar = 50,4 Ah, jika tidak adanya matahari untuk mencharger, jadi aki yang harus digunakan adalah 60Ah.

Diperoleh :

‐ Daya aki : lama pengecasan == 50,4 : 9 jam = 5,6

‐ Jadi solar cell yang diperlukan= 5.6 x 14.5 (tegangan charge) = 81.2Wp

(20)

3.3.5 Battery Charger

Sumber Tegangan dari Keluaran Generator DC sebelum masuk ke dalam Battery terlebih dulu diatur dalam Rangkaian Regulator.Setelah diatur kemudian tegangan masuk ke dalam Rangkaian Comparator untuk diatur lagi pada tegangan nominal berapa Battery telah terisi penuh. Pada saat Tegangan pada Battery penuh maka Rangkaian Comparator akan memutuskan tegangan dan menurunkan arus pengisian secara otomatis, seperti ditunjukkan pada Gambar 3.7.

Gambar 3.7 Blok Diagram Sistem Kontrol Pada Battery Charger

Komponen Kontrol Battery Charger

Dalam Sistem ini akan menggunakan dua buah kontrol untuk mengatur pengisian battery pada rangkaian sistem pengisian battery charger, yang meliputi :

a. Regulator LM350

(21)

Gambar 3.8 Konfigurasi Rangkaian Dasar dari LM350

b. Comparator HA17458

Rangkaian Comparator ini berfungsi untuk mengontrol aliran arusyang mengalir dari battery charger ke battery. Gambar 3.9 menunjukkan Konfigurasi Pin dari HA17458.

Gambar 3.9 Konfigurasi Pin HA17458

Rangkaian Battery Charger

(22)

telah ditentukan dan menahan arus pengisian hingga menjadi lebih lambat sehingga indicator menyala menandakan battery telah terisi penuh. Rangkaian Battery Charger ditunjukkan pada Gambar 3.10 di bawah ini.

Gambar 3.10 Rangkaian Battery Charger

Keterangan Gambar 3.10 :

(23)

drop tegangan ini lebih besar dari pengaturan pada potentiometer akan menyebabkan keluaran IC

LM1458 menjadi rendah dan arus start yang mengalir melalui diode menjadi kecildan hal ini pada dasarnya akan mengurangi arus yang mengalir melalui resistor - resistor yang diseri, yaitu resistor 1K + potentiometer 2K. Dengan ini arus distabilkan.

Titik diantara C dan B terdiri dari tiga resistor : 2.2 Ohm, potentiometer 100 Ohm, dan resistor 150 Ohm, 2.2 Ohm dan potentiometer 100 Ohm dihubungkan ke masukan noninverting (+) dari IC LM1458. Masukan Inverting (-) dihubungkan pada sambungan jalur (wiring) resistor 0.1 Ohm secara seri dengan keluaran. Selama drop tegangan, yang disebabkan oleh arus yang mengalir melalui resistor 0.1 Ohm lebih besar dari drop tegangan pada resistor 2.2 Ohm keluaran LM1458 akan tetap tinggi dan pada gilirannya menghalangi arus yangakan mengalir ke transistor BC558. Tetapi secepatnya arus pengisian turun di bawah nilai spesifik LM1458 dan mengaktifkan transistor yang mana menyebabkan LED menyala. Pada waktu yang sama arus kecil akan mengalir melewati resistor Rx', hal ini akan berakibat pada tegangan keluaran dari charger berubah turun hingga menjadi 13.6 Volt. Perubahan tegangan ini merupakan tegangan keluaran yang sangat aman, dan tidak menyebabkan pengisian yang berlebihan pada battery dan juga tidak menyebabkan pengisian yang berlebih (trickle).

Nilai Rx sebaiknya nilai yang bersifat percobaan yang telah ditentukan sebelumnya dan mungkin dapat dihitung secara matematika tetapi nilai eksaknya ditentukan oleh toleransi dari komponen-komponen spesifik dari rangkaian.

(24)

1.25 Volt. Dalam kasus ini, total resistor adalah 2.2 + 100 + 150 = 252.2 Ohm. Sebab kita berhubungan dengan perhitungan arus yang sangat kecil dalam satuan milliampere dan perhitungan resistansi dalam Kilo-Ohm. Dengan begitu, arus yang mengalir melalui resistor ini adalah 1.25 /0.2522 = 4.9564 mA. Arus yang sama juga mengalir melalui resistor 1K & 2K yang terangkai secara seri. Tegangan keluaran yang kita inginkan harus terbaca terbaca 14.1 Volt, berarti drop tegangan pada resistor yang terangkai secara seri ini harus 14.1 - 1.25 = 12.85 Volt. Dengan demikian, total nilai resistansi harus 12.85 / 4.9564 = 2.5926 Ohm. Untuk menentukan tegangan keluaran sebesar 14.1 V kita harus melakukan penyesuaian agar dapat memperoleh nilai tegangan tersebut, salah satu dari resistor dipilih sebagai 10-turn trimpot (trimmer potentiometer). Bersamaan dengan Resistor 1K yang dirangkai secara seri (total resistansinya menjadi 3K) kita dapat melakukan pengaturan pada trimpot untuk mendapatkan nilai tegangan sebesar 14.1 V ini.

(25)

seri dengan LED hal ini dilakukan untuk membatasi arus yang mengalir melalui LED supaya di bawah 20 mA.

Satu-satunya perhitungan yang tertinggal adalah menghitung nilai resistor yang dirangkai secara seri yang ditentukan dari perubahan kondisi pengisian ke kondisi float. Ini terjadi bila drop tegangan pada (sambungan jalur) resistor 0.1 Ohm pada sisi kaki positifnya lebih kecil daripada yang melalui resistor 2.2 Ohm. Nilainya adalah 2.2 x 4.9564 = 10.9 mV.

Nilai resistansi dari resistor yang dirangkai secara seri dengan keluaran sebesar 0.1 ohm, untuk mendapatkan drop tegangan sebesar 10.9 mV pada resistor ini maka arusnya harus 10.9 x 0.1 = 109 mA. Selanjutnya arus pengisian ini menjadi lebih kecil dari 109 mA, LM1458 mentrigger pada kondisi float .

Pengaturan pada trimpot 100-Ohm berfungsi untuk menentukan arus pengisian maksimum. Tegangan pada kaki trimpot ini bervariasi antara 10.9 mV s/d 506.54 mV. Pada cara ini besar arus pengisian dapat diatur nilai arusnya antara 0.1A s/d 5A, tetapi kita seharusnya tidak berpikir terlalu jauh sebab LM350 tidak dapat mengendalikan arus diatas 3 Ampere. Jika kita memilih suatu trimpot yang mempunyai nilai resistansi sebesar 50 ohm, tetapi 3A tidak bisa diperoleh. Kalau begitu, penyetelan yang saksama adalah cara yang terbaik. Dengan arus pengisian maksimum yang telah diketahui dengan jelas yaitu sebesar 3 Ampere, maka menghitung nilai disipasi dari resistor merupakan suatu pekerjaan yang mudah. Dengan kata lain, hasil dari resistansi dikalikan dengan arus (I2 x R).

Satu-satunya resistor yang sulit dalam mencari nilai disipasinya adalah resistor 0.1 ohm, akan tetapi nilai disipasinya tidak begitu besar,yaitu 3 x 3 x 0.1 = 0.9 Watt.

(26)

resistor, 0.1 x 3= 0.33 Volt, dan tegangan minimum 3 Volt pada LM1458 sesuai dengan fungsinya, total 17.43 Volt. Nilai baku dari kapasitor pada sisi masukan adalah sebesar 4700 uF dengan nilai tegangan minimum sekitar 35-40Volt. Mengganti kapasitor pada sisi masukan dengan nilai yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku tidak begitu berbahaya dan hanya menghilangkan tegangan spikes kecil yang dapat mempengaruhi pengoperasian dari charger ini begitu juga sebaliknya. Kapasitor penyangga/buffer yang terletak pada poin C LM350 bernilai kira-kira 25Volt accros. Kapasitor buffer ini tidak digunakan untuk menstabilkan tegangan masukan, tetapi berfungsi untuk meningkatkan respon transient.

Setelah kita melakukan perhitungan nilai-nilai pada setiap komponen maka dapat dihitung Effisiensinya. Kita mempunyai tegangan masukan sebesar 18 V dan arus masukan sebesar 0.51 A, sehingga didapat Daya Masukan, 18 x 1.5 = 27 Watt . Sedangkan kita juga mempunyai tegangan keluaran sebesar 14 V dan arus keluaran sebesar 0.51 A, sehingga didapat Daya Keluaran, 14 x 1.5 = 21 Watt. Maka Effisiensi Rangkaian Battery Charger dapat diketahui dengan persamaan (3.13).

η = P in

P out

x 100%

(3.13)

dengan :

η = Effisiensi;

Pout = Daya Keluaran (Watt);

Pin = Daya Masukan (Watt).

(27)

η = P in

P out

x 100%

= 21 W

27 W

x 100%

= 77.7777 %

Effisiensi Rangkaian Battery Charger pada Proyek Akhir ini adalahsebesar 77.77 %.

3.3.5 Sensor Cahaya

Pada aplikasinya PJU terdapat sensor cahaya (LDR), dimana sensor cahaya (LDR) tersebut ada yang bertegangan ac dan dc, yang berfungsi sebagai hidup / mati dari lampu tersebut digunakan output dari sensor cahaya (LDR) . Penggunaan LDR sebagai sensor cahaya yang berfungsi pada malam hari, pada alat ini hasil dari sensor yang sangat sensitif dan presisi. Pada perancangan sistem penerangan ini menggunakan satu sensor cahaya (LDR) yang ditempatkan diantara solar cell.

Gambar 3.11 Rangkaian LDR 1 Gambar 3.12 Rangkaian LDR 2

(28)

akan mengeluarkan tegengan high (1), dan pada Gambar 3.12 Rangkaian LDR 2 dapat kita lihat jika LDR tersebut terkena matahari akan mengeluarkan tegangan high (1) dan ketika sensor tidak terkena sensor matahari akan mengeluarkan tegengan low (0). Pada Gambar 3.13 menunjukan gambar rangkaian LDR dengan op-amp.

Untuk mengetahui Vout dapat mengetahui dengan menghitung :

Vout =

R bottom

R bottom +R top

x V

in (3.14)

Gambar 3.13 Rangkaian Sensor Cahaya

3.3.6 Sensor Tegangan

Sensor tegangan ini akan mensensor tegangan aki pada malam hari. Fungsinya digunakan jika aki kurang charge dari solar cell dikarenakan pada hari tersebut mendung dan tidak cahaya matahari. Sedangkan pada ADC, hanya mampu menerima tegangan dc maksimal 5 volt.

(29)

menjadi + 4,5 volt, yaitudengan cara memberi dua buah resistor (voltage divider) yang dipasang seri. Nilai dari resistor tersebut dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :

Vout =

R 2

R 1 +R 2

x V

in (3.15)

dimana; Vout = Tegangan output dari resistor (V)

Vin = Tegangan sumber (V)

R1 dan R2 = Resistor (Ω)

Dari perumusan tersebut, apabila nilai Vin = 14.7 volt dan Vout = 4.47 volt, maka dapat ditentukan nilai dari resistor, yaitu sebesar 1 kΩ dan nilai resistor 470 Ω. Pada resistor 500 Ω, dihasilkan tegangan sebesar 4,47 volt. Setelah itu, tegangan tersebut disambungkan pada mikro. Tegangan inilah yang akan masuk ke ADC yang ditunjukan Gambar 3.14.

Gambar 3.14 Rangkaian Pembagi Tegangan

(30)

Vout =

R 2

R 1 +R 2

x V

in

Vout =

470

1 + 470

x 14,7 V

Vout = 4,47 V

Jadi tegangan yang keluar pada resistor 470Ω sebesar 4.47V. Dan setela h output dari sensor tegangan 4.47V dimasukan dalam ADC mikro yang berarti jika nilai ADC sebesar 4.47 maka baterai tersebut dikatakan penuh.

3.3.7 Lampu LED (Light Emighthing Diode)

Dalam perencanaan ini lampu led yang akan dipakai mempunyai daya sebesar 10 watt dengan tegangan 12 volt yang akandipararel sebanyak 4x sehingga akan mendapatkan jumlah daya sebesar sebesar 40 watt yang ditunjukan Gambar 3.15 lampu LED 10 Watt.

Gambar 3.15 Lampu LED 10 Watt

(31)

Diagram sirkuit rangkaian lampu LED yang dibuat dari beberapa lampu LED yang dipararel sebanyak 4x diatas yang ditunjukan pada Gambar 3.16 berikut :

Gambar 3.16 Diagram Rangkaian Lampu LED Yang Dipararel

3.3.8 Perbandingan Lampu Jalan AC Dengan Lampu DC LED

Dalam perencanaan ini akan dilakukan perbandingan antara lampu jalan AC dengan LED DC. Untuk lebih jelasnya dapat ditunjukan pada Tabel 3.3 dan Tabel 3.4

Tabel 3.3 Pengukuran Lampu LED (4 Lampu Dengan Daya 40 Watt) dengan Reflector Alumunium Dengan Tambahan Kaca

Tegangan Arus Jarak Lux

12 2,5 1 m 650

12 2,5 1,5 m 300

(32)

Tabel 3.4 Pengukuran Lampu Jalan AC mercury (Daya 200 Watt) Dengan Reflector Alumunium Dengan Tambahan Kaca

Tegangan Arus Jarak Lux

220 0,2 1,5 m 200

(33)

BAB IV

PENGUJIAN DAN ANALISA

4.1 Perhitungan Daya Total Lampu Penerangan Terpasang di Areal Kampus USU Berdasarkan lampiran gambar denah areal kampus USU, maka didapat total daya lampu yang terpasang pada tabel 4.1 sebagai berikut :

Tabel 4.1 Total Daya LPJU di Areal Kampus USU

(34)

14 C4 7250 3000 5000 15250

15 C5 4500 0 0 4500

16 D1 6750 1500 0 8250

17 D2 4500 1500 0 6000

18 D3 9750 1500 0 11250

19 D4 8000 1500 0 9500

20 D5 4500 1500 0 6000

Total daya yang digunakan untuk lampu penerangan jalan umum (sumber PLN): P total lampu : 159.750 Watt

Jumlah total lampu : 639 bohlam Jumlah lampu menyala : 233 bohlam Jumlah lampu mati : 406 bohlam

Waktu beroperasi : 12 jam (nyala : pukul 18.00 WIB ; padam : pukul 06.00 WIB)

Perhitungan tarif listrik untuk penerangan umum di kampus USU (harga tarif : Rp. 290,-/KWh) : 159,75 KW x 12 jam : 1917 KWh

1917 KWh x Rp. 290 : Rp. 555.930,- Tarif listrik penerangan umum per bulan :

(35)

4.2 Aplikasi Penerangan Umum Tenaga Surya di Area Pendopo dan Lapangan Parkir Perancangan penerangan umum tenaga surya pada tugas akhir ini diaplikasikan di satu lokasi yaitu area pendopo dan lapangan parkir pendopo.

Luas area pendopo dan lapangan parker : 100 m x 100 m

- Jarak pemasangan antara tiang : 20 m (setiap tiang dipasang solar cell 50 Wp dengan 2 lengan lampu LED).

- Jumlah tiang lampu jalan solar cell yang akan dipasang di sekeliling pendopo : 20 tiang, 20 solar cell daya 50 Wp, 40 lampu LED untuk penerangan jalan.

- Jumlah tiang lampu taman solar cell yang akan dipasang : 4 tiang, 4 solar cell daya 50 Wp, 8 lampu LED untuk penerangan taman.

4.3 Pengujian dan Analisa Perangkat

(36)

accu akan mensuplai lampu untuk bias menyala selama 12 jam yaitu sampai dengan jam 5.59 WIB tetapi pada alat yang dirancang cadangan supply tegangan untuk lampu dari PLN mengunakan AC-DC converter. Pada saat itu proses akan kembali pada keadaan semula yaitu pada saat jam 6.00 WIB accu akan melakukan pengisian kembali. Disini mikro ATmega 16 berfungsi sebagai on dan off lampu, yaitu pada saat aki melakukan pengecasan sampai dengan aki akan mensuplai lampu agar lampu menyala.

4.4 Pengujian Solar Cell

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui tegangan solar cell_1 = 50 Wp yang dan solar cell_2 = 30 Wp. Pengujian solar cell 1 ini dilaksanakan dengan menggunakan alat ukur voltmeter. Adapun tegangan solar cell yang diperoleh sebesar 17 volt sampai 22 volt dc dari pengamatan pukul 8 pagi sampai 16 sore ditunjukan pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Data Pengujian Solar Cell 50Wp No Jam (WIB) Tegangan Output (Volt)

1 8.00 20

2 8.30 21

3 9.00 19

4 9.30 20

5 10.00 20

6 10.30 21

7 11.00 21

(37)

9 12.00 21

10 12.30 22

11 13.00 22

12 13.30 22

13 14.00 20

14 14.30 18

15 15.00 18

16 15.30 18

17 16.00 17.5

Pengujian solar cell_2 30 WP juga menggunakan alat ukur voltmeter. Adapun tegangan solar cell yang diperoleh sebesar 16 volt sampai 20 volt dc dari pengamatan pukul 8 pagi sampai 16 sore ditunjukan pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Data Pengujian Solar Cell 50Wp No Jam (WIB) Tegangan Output (Volt)

1 8.00 17

2 8.30 18

3 9.00 19

4 9.30 20

5 10.00 20

6 10.30 20

(38)

8 11.30 20

4.5 Pengujian Baterai Charger

Battery Charger adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengisi battery dengan arus konstan hingga mencapai tegangan yang ditentukan. Bila level tegangan yang ditentukan itu telah tercapai, maka arus pengisian akan turun secara otomatis ke level yang aman tepatnya yang telah ditentukan dan menahan arus pengisian hingga menjadi lebih lambat sehingga indicator menyala menandakan battery telah terisi penuh

Data pengujian ditunjukan pada Tabel 4.4 dan Tabel 4.5 di bawah ini.

(39)

1 8.00 18 14.5 10 0,75

(40)

9 13.30 16 13.5 11,5 0,19

10 14.30 16 13.5 11,8 0,15

11 15.00 16 14.5 12 0,15

Pengatur tegangan pada rangkaian battery charger sebenarnya berupa Regulator LM350. Akan tetapi untuk meningkatkan dan mengontrol tegangan keluaran battery charger yang lebih akurat lagi pada pin Adjust LM350 ditambahkan resistor sebesar 1kΩ dan trimpot 2k Ω (dalam Proyek Akhir ini trimpot 2kΩ diganti dengan trimpot 50kΩ yang dirangkai secara seri. Pada Tabel 4.6 menunjukkan pengujian tegangan keluaran (dengan mengatur trimpot 50kΩ) Battery Charger.

Tabel 4.6 Data Hasil Pengujian Pengatur Tegangan Keluaran Battery Charge Resistansi (Ω) Tegangan Keluaran

(Volt)

(41)

4.6 Pengujian Lampu LED

Pada perencanaan Lampu LED yang akan digunakan dengan reflektor dan tanpa reflektor. Dengan adanya reflektor tersebut maka akan menambah hasil dari lumen lampu LED. Lampu yang diuji mulai dari lampu LED 3 Watt, 10 Watt dan 40 Watt.

f. Pengukuran lampu LED (1 lampu dengan daya 3 watt) tanpa reflektor dengan menggunakan tegangan sebesar 3 volt akan menghasilkan arus sebesar 0,7 A dengan jarak ukur 30 cm akan menghasilkan lux sebesar 50.

Tabel 4.7 Pengukuran Lampu LED (1 Lampu Dengan Daya 3 Watt) Tanpa Reflektor

Tegangan (Volt) Arus (A) Jarak Lux

3 0,7 30 cm 50

P = V x I P = 3 x 0,7 P = 2,1 Watt

Maka efisiensi penggunaan :

P efisiensi = P percobaan

P lampu x 100 %

= 2.1

(42)

g. Pengukuran lampu LED (1 lampu dengan daya 10 watt) tanpa reflektor dengan menggunakan tegangan sebesar 12 volt akan menghasilkan arus sebesar 0,7 A dengan jarak ukur 1 m akan menghasilkan lux sebesar 100.

Tabel 4.8 Pengukuran Lampu Led (1 Lampu Dengan Daya 10 Watt) Tanpa Reflektor

Tegangan (Volt) Arus (A) Jarak Lux

12 0,7 1 m 100

P = V x I P = 12 x 0.7 P = 8.4 Watt

Maka efisiensi penggunaan :

P efisiensi = ����������

������ x 100 %

= 8,4 / 10 x 100% = 84%

h. Pengukuran lampu LED (4 lampu dengan daya 40 watt) tanpa reflektor dengan menggunakan tegangan sebesar 12 volt akan menghasilkan arus sebesar 2,5 A dengan jarak 1,5 cm akan menghasilkan lux sebesar 300.

Tabel 4.9 Pengukuran Lampu Led (4 Lampu Dengan Daya 40 Watt) Tanpa Reflektor

Tegangan (Volt) Arus (A) Jarak Lux

(43)

P = V x I P = 12 x 2,5 P = 30 Watt

Maka efisiensi penggunaan :

P efisiensi = ����������

������ x 100%

= 30

40 x 100% = 75%

i. Pengukuran lampu LED (4 lampu dengan daya 40 watt) dengan reflector alumunium, dengan menggunakan tegngan sebesar 12 volt akan menghasilkan arus sebesar 2,5 A dengan jarak ukur 1 m dan 1,5 m akan menghasilkan lux sebesar 600 dan 200.

Tabel 4.10 Pengukuran Lampu Led (4 Lampu Dengan Daya 40 Watt) Dengan Reflector Alumunium

Tegangan (Volt) Arus (A) Jarak Lux

12 2,5 1 600

12 2,5 1,5 200

P = V x I P = 12 x 2,5 P = 30 Watt

(44)

P efisiensi = P percobaan / P lampu x 100%

= 30

40 x 100 % = 75%

j. Pengukuran lampu LED (4 lampu dengan daya 40 watt) dengan reflector alumunium dengan tambahan kaca, dengan menggunakan tegangan sebesar 12 volt akan menghasilkan arus sebesar 2,5 A dengan jarak ukur 1 m dan 1,5 m akan menghasilkan lux sebesar 650 dan 300.

Tabel 4.11 Pengukuran Lampu Led (4 Lampu Dengan Daya 40 Watt) Dengan Reflector Alumunium Dengan Tambahan Kaca

Tegangan (Volt) Arus (A) Jarak Lux

12 2,5 1 m 650

12 2,5 1,5 m 300

P = V x I P = 12 x 2,5 P = 30 Watt

Maka efisiensi penggunaan :

P efisiensi = P percobaan / P lampu x 100%

= 30

(45)

4.7 Perhitungan Pengunaan Energi PLN

Perhitungan dilakukan dengan mengambil data dari percobaan baterai 12 Ah dengan nilai E = 140 Wh dan daya P = 50 W.

Accu mensuplai energi kebeban selama 2,8 jam

Total waktu pemakaian beban dalam satu hari 12 jam, jadi PLN akan mensuplai energi ke beban selama :

12 jam – 2.8 jam = 9,2 jam

EPLN = P x t = 50 x 9,2 = 460 wh = 0,46 kWh

Jika PLN = 1 KWh = Rp. 290,- Maka yang harus dibayar tiap bulan : 0.46 kWh x 30 hari = 13,8 KWh 13.8 KWh x Rp. 290,- = Rp. 4.002,-

Jadi pembayaran sebesar : Rp. 4.002,- /tiap bulan

Presentase pemakaian daya energi dari PLN dan daya keluaran baterai accu per 12 jam. - Energi yang dikeluarkan baterai accu (12 Ah):

2,8

(46)

- Energi yang dikeluarkan PLN: 9,2

(47)
(48)
(49)
(50)

Fakultas Pertanian 7 13 20

Fakultas MIPA 16 17 33

Perpustakaan

Lampu Taman 0 34 34

Lampu Jalan 6 14 8

Fakultas Teknik

Sipil + Arsitek 0 22 22

Industri 1 2 3

Elektro 1 0 1

Mesin 0 6 6

Lapangan Parkir Teknik 1 5 6

(51)

BAB V PENUTUP

Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil dan kelemahan dari sistem yang telah dibuat. Setelah melakukan perencanaan dan perancangan hingga pengujian sistem secara keseluruhan maka dapat diambil kesimpulan dan saran sebagai berikut.

5.1 Kesimpulan

Dari pengujian dan analisa perangkat yang telah dilakukan pada pembuatan system diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

a. Semakin besar radiasi matahari yang mengenai sel surya, maka semakin besar pula arus yang dihasilkan oleh sel surya tersebut. Sel surya akan selalu memproduksi energi listrik bila disinari oleh matahari. Oleh karenanya sel surya tidak akan pernah habis atau rusak dalam membangkitkan listrik. Biasanya kerusakan terjadi disebabkan karena sel surya tersebut pecah atau karena faktor lain, sehingga bila sel surya dilindungi dengan baik, maka usianya bisa mencapai dua puluh tahun.

b. Penerangan Jalan Umum dengan menggunakan tenaga surya (solar cell) dapat mengurangi konsumsi akan tenaga listrik dari PLN. Setiap hari dalam 12 jam, daya yang dikeluarkan PLN untuk penerangan umum adalah sebesar 76,66% sedangkan dengan menggunakan baterai accu 12 Ah adalah sebesar 23,3% .

c. Dari sistem yang ada yaitu baterai charge yang bisa memutuskan arus dengan sendirinya jika baterai penuh dengan memakai ic1458 sebagai swicth regulator dengan membandingkan keluaran tegangan pada rangkaian tersebut.

(52)

d. Selain dengan menggunakan control otomatis dari controller, kita dapat menggunakan LDR yang mana akan mengontrol on dan off nyala lampu dari perubahan pencahayaan di sekitar sistem.

5.2 Saran

Dari hasil studi penelitian yang dilakukan diambil beberapa saran untuk kesempurnaan penulisan tugas akhir ini diantaranya:

a. Lampu jalan tenaga surya ini bisa menggunakan lampu LED or mercury. Tapi lebih effisien menggunakan lampu LED. Karena dengan lampu LED yang 30 watt sama dengan lampu mercury 150 watt, sehingga effisiensi sangat tinggi.

Figur

Gambar 3.1 Diagram Polar Intensitas Cahaya dan Armatur
Gambar 3 1 Diagram Polar Intensitas Cahaya dan Armatur . View in document p.3
Gambar  3.2 Diagram vektor intensitas penerangan
Gambar 3 2 Diagram vektor intensitas penerangan . View in document p.3
Table 3.1  Pembagian flux cahaya terhadap bidang kerja
Table 3 1 Pembagian flux cahaya terhadap bidang kerja . View in document p.5
Tabel 3.2      Rasio kemerataan pencahayaan
Tabel 3 2 Rasio kemerataan pencahayaan . View in document p.10
Gambar 3.3  Block Diagram Sistem penerangan dengan Solar Cell
Gambar 3 3 Block Diagram Sistem penerangan dengan Solar Cell . View in document p.13
Gambar 3.4  Rangkaian Instalasi Solar Cell
Gambar 3 4 Rangkaian Instalasi Solar Cell . View in document p.15
Gambar 3.6  Solar Cell 30 WP
Gambar 3 6 Solar Cell 30 WP . View in document p.18
Gambar  3.7  Blok Diagram Sistem Kontrol Pada Battery Charger
Gambar 3 7 Blok Diagram Sistem Kontrol Pada Battery Charger . View in document p.20
Gambar 3.8  Konfigurasi Rangkaian Dasar dari LM350
Gambar 3 8 Konfigurasi Rangkaian Dasar dari LM350 . View in document p.21
Gambar 3.10  Rangkaian Battery Charger
Gambar 3 10 Rangkaian Battery Charger . View in document p.22
Gambar 3.11  Rangkaian LDR 1
Gambar 3 11 Rangkaian LDR 1 . View in document p.27
Gambar 3.13   Rangkaian Sensor Cahaya
Gambar 3 13 Rangkaian Sensor Cahaya . View in document p.28
Gambar 3.14  Rangkaian Pembagi Tegangan
Gambar 3 14 Rangkaian Pembagi Tegangan . View in document p.29
Gambar 3.15  Lampu LED 10 Watt
Gambar 3 15 Lampu LED 10 Watt . View in document p.30
Gambar 3.16  Diagram Rangkaian Lampu LED Yang Dipararel
Gambar 3 16 Diagram Rangkaian Lampu LED Yang Dipararel . View in document p.31
Tabel 4.1  Total Daya LPJU di Areal Kampus USU
Tabel 4 1 Total Daya LPJU di Areal Kampus USU . View in document p.33
Tabel 4.2   Data Pengujian Solar Cell 50Wp
Tabel 4 2 Data Pengujian Solar Cell 50Wp . View in document p.36
Tabel 4.3   Data Pengujian Solar Cell 50Wp
Tabel 4 3 Data Pengujian Solar Cell 50Wp . View in document p.37
Tabel 4.4  Pengujian Baterai Charge Dengan Solar Cell 50 Wp
Tabel 4 4 Pengujian Baterai Charge Dengan Solar Cell 50 Wp . View in document p.38
Tabel 4.5  Pengujian Baterai Charge Dengan Solar Cell 30 Wp
Tabel 4 5 Pengujian Baterai Charge Dengan Solar Cell 30 Wp . View in document p.39
Tabel 4.6  Data Hasil Pengujian Pengatur Tegangan Keluaran Battery Charge
Tabel 4 6 Data Hasil Pengujian Pengatur Tegangan Keluaran Battery Charge . View in document p.40
Tabel 4.6 menunjukkan pengujian tegangan keluaran (dengan mengatur trimpot 50kΩ) Battery
Tabel 4 6 menunjukkan pengujian tegangan keluaran dengan mengatur trimpot 50k Battery . View in document p.40
Tabel 4.8  Pengukuran Lampu Led (1 Lampu Dengan Daya 10 Watt) Tanpa Reflektor
Tabel 4 8 Pengukuran Lampu Led 1 Lampu Dengan Daya 10 Watt Tanpa Reflektor . View in document p.42
Tabel 4.9 Pengukuran Lampu Led (4 Lampu Dengan Daya 40 Watt) Tanpa Reflektor
Tabel 4 9 Pengukuran Lampu Led 4 Lampu Dengan Daya 40 Watt Tanpa Reflektor . View in document p.42
Tabel 4.10 Pengukuran Lampu Led (4 Lampu Dengan Daya 40 Watt) Dengan Reflector
Tabel 4 10 Pengukuran Lampu Led 4 Lampu Dengan Daya 40 Watt Dengan Reflector . View in document p.43

Referensi

Memperbarui...