ASBABUL WURUD. Makalah. Disusun guna memenuhi tugas. Mata Kuliah : Ulumul Hadits II. Dosen Pengampu : Ulin Niam Masruri, M. A

Teks penuh

(1)

1

ASBABUL WURUD

Makalah

Disusun guna memenuhi tugas

Mata Kuliah : Ulumul Hadits II

Dosen Pengampu : Ulin Niam Masruri, M. A

Oleh:

Fithrotul Kamilia (1504026093)

FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO

(2)

2

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hadis atau as-Sunnah merupakan salah satu sumber ajaran Islam yang menduduki posisi sangat signifikan, baik secara struktural maupun fungsional. Secara struktural, hadis menduduki posisi kedua setelah al-Qur’an, namun jika dilihat secara fungsional, hadis merupakan bayan (menjelaskan) terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang bersifat ‘am (umum),

mujmal (global) atau mutlaq.

Disamping sebagai bayan terhadap al-Qur’an, hadis dapat menetapkan suatu ketetapan yang belum diatur dalam al-Qur’an. Namun, dalam memahami suatu hadis itu tidaklah mudah. Ketika mencoba memahami hadis, tidak cukup hanya melihat teks hadisnya saja, maka perlu mengetahui

asbabul wurudnya. Dan perlu dicatat bahwa hadis ada yang mempunyai

asbabul wurud dan juga tidak mempunyai asbabul wurud. 1

Oleh karena itu, kita perlu mempelajari asbabul wurud untuk dapat memahami suatu hadis. Sedangkan untuk hadis yang tidak mempunyai asbabul wurud, kita mungkin dapat menggunakan pendekatan historis, sosiologis, dan lainnya sebagai analisis dalam memahami hadis.

1

Said Agil Husin Munawwar, Asbabul Wurud: Studi Kritis Hadis Nabi Pendek atan Sosio-Historis-Kontek stual, Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2001, h lm 3-5

(3)

3

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari asbabul wurud?

2. Apa saja macam- macam dari asbabul wurud? 3. Apa manfaat dari mengetahui asbabul wurud?

4. Apa saja kitab-kitab yang berbicara tentang asbabul wurud ?

C. Tujuan Pembelajaran

1. Mengetahui pengertian dari asbabul wurud. 2. Mengetahui macam- macam asbabul wurud. 3. Mengetahui manfaat mengetahui asbabul wurud.

(4)

4

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Asbabul Wurud

Secara etimologis, “asbabul wurud” merupakan gabungan (idhafah) dari dua suku kata yaitu dari kata asbab dan al-wurud. Kata “asbab” adalah bentuk jamak dari kata “sabab”, yang berarti sebab atau segala sesuatu yang dapat menghubungkan kepada sesuatu yang lain. Sedangkan kata “al-wurud” merupakan bentuk isim masdar dari kata warada- yaridu-wurudan yang berarti datang atau sampai.2

Menurut as-Suyuthi, secara terminologi asbabul wurud diartikan sebagai berikut:

أ

مومع نم ثيدلحا نم دارلما ديدحتل اقيرط نوكيام هن

أ

صخ و

و

ص

أ

قلاطإ و

أو

دييقت

أ

خسن و

أ

كلذونح و

.

“Sesuatu yang menjadi thariq (metode) untuk menentukan maksud suatu hadis yang bersifat umum, atau khusus, mutlak atau muqayyad, dan untuk menentukan ada tidaknya naskh (pembatalan) dalam suatu hadis.”

Menurut Hasbi ash-Shiddiqie asbabul wurud sebagai berikut:

هبءاج ىذلا نامزلاو ثيدلحا هلجلادرو ىذلا ببسلا هب فرعي ملع

.

“Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi SAW. menuturkan sabdanya dan masa- masa Nabi SAW. menuturkannya.”

Sementara itu, ada pula ulama yang memberikan definisi asbabul wurud, agak mirip dengan pengertian asbabun nuzul, yaitu:

هعوقو مايأ ثيدلحا دروام

.

2

Abdul Sattar, Konsiderasi Rasional Sabda Nabi dan Pengaruhnya Terhadap Tampilan Redak sional Hadis (Studi Tentang Asbabul Wurud al -Hadis), Sema rang: IAIN Walisongo, 2012, hlm 19.

(5)

5 “Sesuatu (baik berupa peristiwa-peristiwa atau pertaanyaan-pertanyaan) yang terjadi pada waktu hadis itu disampaikan oleh Nabi SAW.3

Dengan demikian, secara sederhana dapat diartikan bahwa asbabul wurud adalah sebab-sebab datangnya sebuaah hadis. Artinya ilmu ini membahas mengenai sebab mengapa suatu hal itu disabdakan, dilakukan atau ditetapkan Nabi Muhammad SAW. Maka, asbabul wurud sangat erat kaitannya dengan waktu dan tempat terjadinya peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya suatu hadis.4

B. Macam-Macam Asbabul Wurud

Menurut Imam as-Suyuthi, asbabul wurud itu dapat dikategorikan menjadi tiga macam yaitu:5

1. Sebab yang berupa ayat al-Qur’an.

Artinya disini ayat al-Qur’an itu menjadi penyebab Nabi SAW mengeluarkan sabdanya. Contohnya antara lain adalah firman Allah SWT yang berbunyi:

لأا ُمَُلَ َكِئَلوُأ ٍمْلُظِب ْمُهَ ناَْيِْإ اوُسِبْلَ ي َْلََو اوُنَمآ َنيِذَّلا

َنوُدَتْهُم ْمَُُو ُنْم

“Orang- orang yang beriman, dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu orang-orang yang mendapat petunjuk.”

(QS. Al-An’am:82)

Ketika itu sebagian sahabat memahami kata “azh-zhulmu” dengan pengertian al-jaur yang berarti berbuat aniaya atau melanggar aturan.

3

Said Agil Husin Munawwar, Asbabul Wurud: Studi Kritis Hadis Nabi Pendek atan Sosio-Historis-Kontek stual, Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2001, h lm 7 -9.

4

Abdul Sattar, Konsiderasi Rasional Sabda Nabi dan Pengaruhnya Terhadap Tampilan Redak sional Hadis (Studi Tentang Asbabul Wurud al -Hadis), Sema rang: IAIN Walisongo, 2012, hlm 21.

5

Said Agil Husin Munawwar, Asbabul Wurud: Studi Kritis Hadis Nabi Pendekatan Sosio-Historis-Kontek stual, Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2001, h lm 9-12.

(6)

6 Nabi SAW kemudian memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud azh-zhulmu dalam firman tersebut adalah asy-syirku yakni perbuatan syirk, sebagaimana yang disebutkan dalam surat al- Luqman:

ٌميِظَع ٌمْلُظَل َكْرِِّشلا َّنِإ

“Sesungguhnya syirk itu merupakan kezhaliman yang besar.” (QS. Al-Luqman: 13)

2. Sebab yang berupa hadis.

Artinya pada saat saat itu Nabi menyampaikan sebuah hadis, namun sebagian sahabat merasa kesulitan memahami apa yang dikehendaki Nabi, maka kemudian muncul hadis lain yang memberikan penjelasan terhadap hadis tersebut.

Misalnya pada saat Nabi bersabda:

ِطْنَ ي ِضْرَْلاا ِفِ ٌةَكِئ لآَم َلَ اَعَ ت َِِّلِلّ َّنِا

ْنِم ِءْرَلمْا ِفِ اَِبِ َمَدأ ِنَِب ِةَنِسْلَا ىَلَع ُق

ٍِّرَش ْوَا ٍْيَْخ

“Sesungguhnya Allah SWT memiliki para malaikat di bumi, yang dapat berbicara melalui mulut manusia mengenai kebaikan dan keburukan seseorang.” (HR. Hakim)

Dalam memahami hadis tersebut, para sahabat merasa kesulitan, maka mereka bertanya: Ya Rasul, bagaimana hal itu dapat terjadi? Maka nabi SAW menjelaskan lewat sabdanya yang lain, sebagaimana hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik. Suatu ketika Nabi SAW bertemu dengan rombongan yang membawa jenazah. Para sahabat kemudian memberikan pujian terhadap jenazah tersebut, seraya berkata: “Jenazah itu baik”. Mendengar pujian tersebut, maka Nabi berkata: “wajabat” (pasti masuk surga) tiga kali. Kemudian Nabi SAW bertemu lagi dengan rombongan yang membawa jenazah lain. Ternyata para sahabat mencelanya, seraya berkata: “ Dia itu orang jahat”. Mendengar pernyataan itu, maka Nabi berkata: “Wajabat”. (pasti masuk neraka).

(7)

7 Ketika mendengar komentar Nabi SAW yang demikian, maka para sahabat bertanya: ‘Ya Rasul! Mengapa terhadap jenazah pertama engkau ikut memuji, sedangkan terhadap jenazah ke dua tuan ikut mencelanya. Engkau katakan kepada kedua jenazah tersebut: “wajabat” sampai tiga kali. Nabi menjawab: Ya benar. Lalu Nabi berkata kepada Abu Bakar: “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya Allah SWT memiliki para malaikat di bumi. Melalui mulut merekalah, malaikat akan menyatakan tentang kebaikan dan keburukan seseorang”. (HR. al-Hakim dan al-Baihaqi).

Yang dimaksud dengan para malaikat Allah di bumi yang menceritakan tentang kebaikan keburukan seseorang adalah para sahabat atau orang-orang yang mengatakan bahwa jenazah ini baik dan jenazah itu jahat.

3. Sebab yang berupa perkara yang berkaitan dengan para pendengar di kalangan sahabat.

Sebagai contoh adalah persoalan yang berkaitan dengan sahabat Syuraid bin Suwaid ats- Tsaqafi. Pada waktu Fath Makkah (pembukaan kota Mekah) beliau pernah datang kepada Nabi SAW seraya berkata:

“Saya bernazar akan shalat di Baitul Maqdis”. Mendengar pernyataan

sahabat tersebut, lalu Nabi bersabda: “Shalat disini, yakni Masjidil

Haram itu lebih utama”. Nabi SAW lalu bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, seandainya kamu shalat disini (masjid al-Haram Makah), maka sudah mencukupi bagimu untuk memenuhi nazarmu”. Kemudian Nabi SAW, bersabda lagi: “Shalat di masjid ini, yaitu Masjid al-Haram itu lebih utama dari pada 100 000 kali shalat di selain masjid Haram”. (H.R. Abdurrazzaq dalam kitab

(8)

8

C. Manfaat Mengetahui Asbabul Wurud

Asbabul wurud mempunyai peranan yang sangat peting dalam rangka memahami suatu hadis. Adapun urgensi dan signifikansi asbabul wurud menurut Imam as-Suyuthi antara lain untuk:

1. Menentukan adanya takhshish (pengkhususan) hadis yang bersifat umum (‘am).

Contoh hadis:

ُمِئاَقلْا ةَلاَص ْنِم ِفْصِِّنلا ىَلَع ُدِعاَقلْا ُةَلاَص

“Shalat orang yang sambil duduk pahalanya separoh dari orang yang shalat sambil berdiri.” (HR.Ahmad)

Pengertian “shalat” dalam hadis tersebut masih bersifat umum, bisa shalat fardhu bisa juga shalat sunnah. Jika ditelusuri melalui asbabul wurudnya, maka akan dapat dipahami bahwa yang dimaksud “shalat” dalam hadis itu adalah shalat sunnah, bukan shalat fardhu. Pada waktu itu penduduk Madinah sedang terjangkit suatu wabah penyakit. Maka kebanyakan para sahabat lalu melakukan shalat sunnah sambil duduk. Pada waktu itu, Nabi kebetulaan datang dan tahu bahwa mereka suka melakukan shalat sunnah dengan sambil duduk. Inilah yang dimaksud dengan takhshish, yaitu menentukan kekhususan suatu hadis yang bersifat umum, dengan memperhatikan konteks asbabul wurud.

2. Membatasi pengertian hadis yang masih mutlak.

3. Mentafshil (memerinci) hadis yang masih bersifat global.

4. Menentukan ada atau tidak adanya naskh-mansukh dalam suatu hadis. Contoh:

.

ُمْوُجْحَلمْاَو ُمِجاَلحْا َرَطْفَأ

“Puasa orang yang berbekam (canthuk) dan yang minta dibekam adalah batal.” (HR. Imam Ahmad)

َمَجَتْحِإ ْنَم َلاَو َمَلَ تْحِإ ْنَم َلاَو َءاَق ْنَم ُرُطْفَ يَلا

.

(9)

9 “Tidak batal puasa orang yang muntah, orang yang bermimpi keluar

sperma dan orang yang berbekam.” (HR. Abu Dawud).

Menurut pendapat Imam asy-Syafi’i dan Imam Ibnu Hazm, Hadis pertama sudah dinasakh (dihapuskan) dengan hadis yang kedua. Karena hadis pertama datang lebih awal dari pada hadis yang kedua.

5. Menjelaskan ‘illat (sebab-sebab) ditetapkannya suatu hukum.

6. Menjelaskan maksud suatu hadis yang masih musykil (sulit dipahami).6

D. Kitab-Kitab yang Berbicara tentang Asbabul Wurud

Adapun kitab-kitab yang banyak bicara mengenai asbabul wurud antara lain:

1. Asbabu Wurud al-Hadis karya Abu Hafs al-Ukbari (w.339 H), namun sayang kitab tersebut tidak dapat sampai ke tangan kita.

2. Asbabu Wurud al-Hadis karya Abu Hamid Abdul Jalil al-Jabari. Kitab tersebut juga tidak sempat sampai ke tangan kita.

3. Asbabu Wurud al-Hadis atau yang disebut juga al-Luma’ fi asbab Wurudil hadis, karya Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi. Kitab tersebut sudah ditahqiq oleh yahya Ismail Ahmad.

4. Al-Bayan wa at-Ta;rif karya Ibnu Hamzah al-Husaini ad-Dimasyqi (w.1110 H).7

6

Said Agil Husin Munawwar, Asbabul Wurud: Studi Kritis Hadis Nabi Pendekatan Sosio-Historis-Kontek stual, Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2001, h lm 13-18.

7

Said Agil Husin Munawwar, Asbabul Wurud: Studi Kritis Hadis Nabi Pendekatan Sosio-Historis-Kontek stual, Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2001, h lm 19-20.

(10)

10

BAB III PENUTUP

A. Simpulan

Asbabul wurud al-hadis merupakan konteks historisitas yang melatarbelakangi munculnya suatu hadis. Ia dapat berupa peristiwa atau pertanyaan yang terjadi pada saat hadis itu disampaikan Nabi SAW. Dengan lain ungkapan, asbabul wurud adalah faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya suatu hadis. Asbabul wurud mempunyai peranan penting untuk memahami maksud suatu hadis secara lebih baik.

B. Saran

Makalah ini masih banyak kekurangan disetiap bagiannya, karena keterbatasan referensi dari kami. O leh sebab itu, saran dari dosen maupun teman-teman sangat kami butuhkan untuk memperbaiki makalah kami selanjutnya.

(11)

11

DAFTAR PUSTAKA

Munawwar, Said Agil Husin. 2001. Asbabul Wurud: Studi Kritis Hadis Nabi

Pendekatan Sosio-Historis-Kontekstual. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.

Sattar, Abdul. 2012. Konsiderasi Rasional Sabda Nabi dan Pengaruhnya

Terhadap Tampilan Redaksional Hadis (Studi Tentang Asbabul Wurud al-Hadis).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :