• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Reklamasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Reklamasi"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Reklamasi

Reklamasi adalah upaya pengadaan lahan dengan cara mengeringkan rawa, daerah pasang surut dan sebagainya. Menurut Permen Perhubungan No. 52 Tahun 2011 reklamasi diartikan sebagai pekerjaan timbunan di perairan atau pesisir yang mengubah garis pantai dan atau kontur kedalaman perairan. Kegiatan reklamasi umumnya dilakukan untuk mendapatkan suatu lahan baru sebagai alternatif dalam upaya memenuhi kebutuhan lahan yang semakin mendesak. Reklamasi juga dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh orang dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase (Perpres No. 122 Tahun 2012).

Kegiatan reklamasi dapat dilakukan di wilayah pesisir maupun di wilayah bekas lokasi tambang. Tujuan reklamasi pada wilayah bekas tambang umumnya untuk memeperbaiki kualitas tanah dan lingkungan yang rusak akibat aktivitas pertambangan. Sementara itu reklamasi yang dilakukan di wilayah pesisir yang bukan merupakan lahan bekas tambang umumnya dilakukan untuk kepentingan pembangunan pelabuhan, pembangunan kawasan industri atau kepentingan lain sesuai dengan rencana tata ruang dan pengembangan daerah pesisir.

Pilihan melakukan reklamasi di wilayah pesisir untuk mendapatkan lahan baru tentunya akan dibarengi dengan konsekuensi dampak yang akan terjadi. Reklamasi dapat memberikan dampak baik positif maupun negatif bagi masyarakat dan ekosistem pesisir dan laut. Dampak tersebut dapat bersifat jangka pendek atau jangka panjang, tergantung dari jenis dampak dan kondisi ekosistem serta masyarakat di lokasi reklamasi dan sekitarnya. Reklamasi terhadap kawasan pantai, harus memperhatikan berbagai aspek/dampak-dampak yang akan ditimbulkan oleh kegiatan tersebut. Dampak yang dimaksud adalah dampak lingkungan, sosial budaya dan ekonomi.

Latar belakang dilakukannya reklamasi sangat beragam, antara lain karena harga lahan di darat semakin mahal sehingga orang atau pemerintah daerah lebih memilih alternatif untuk menimbun pantai. Reklamasi juga dailakukan untuk memperoleh lahan bagi pengembangan kota/wilayah. Kegiatan reklamasi di kawasan pesisir juga sangat menjanjikan sehingga tidak jarang disajikan sebagai sumber pendapatan daerah melalui berbagai pungutan atau

(2)

12

penjualan lahan hasil reklamasi dengan harga yang relatif bersaing. Meskipun latar belakang reklamasi sangat beragam namun secara umum ada 4 penggerak utama dilakukannya reklamsi pantai yaitu (Ruesink dan Wu 2005):

1) Ekspansi pertanian yang dimulai pada awal abad ke 6 di teluk Osaka Jepang.

2) Kebutuhan untuk lahan pembangunan industri dimana pantai dinilai sebagai lokasi yang nyaman dan aman untuk dilakukan reklamasi karena dekat dengan jalur perdagangan bahan baku dan ekspor. Selain itu umumnya tenaga kerja akan mudah tersedia dari kota terdekat dan limbah dari proses industri dapat dibuang begitu saja pada anak sungai yang ada di sekitar pantai.

3) Pembangunan pelabuhan untuk pengiriman barang sebagai dampak ikutan dari berkembangnya kawasan industri di sekitar pantai.

4) Kepadatan penduduk yang semakin tinggi akibat dari pengembangan kawasan industri di sekitar pantai akan menciptakan kebutuhan lahan pemukiman baru sehingga diperlukan kegiatan reklamasi.

Kegiatan Reklamasi pantai di suatu wilayah pesisir yang dilakukan secara terpadu, dengan teknologi yang tepat, dan sesuai dengan kondisi biogeofisik serta memperhatikan kondisi sosial ekonomi akan memberikan keuntungan dan manfaat baik terhadap lingkungan maupun manusianya. Manfaat dan keuntungan yang dapat diperoleh dari kegiatan reklamasi antara lain (Pratikto 2004) :

1) Tambahan lahan baru yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti tempat wisata, kawasan industri, pelabuhan bahkan perumahan (pemukiman) atau hotel,

2) Memperbaiki kondisi fisik pantai yang telah mengalami kerusakan seperti akibat erosi atau abrasi,

3) Memperbaiki kualitas lingkungan pantai secara keseluruhan,

4) Memberikan kejelasan tanggungjawab pengelolaan kawasan pantai. Pengelolaan lingkungan untuk proses reklamasi harus dilakukan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dan kelestarian. Salah satu pedoman yang adapat digunakan adalah panduan internasional dari PIANC (2010) tentang panduan pelaksanaan reklamasi.

(3)

13 2.2 Sumberdaya Ikan

Ikan adalah salah satu bentuk sumberdaya alam yang bersifat renewable atau dapat memperbaharui diri. Dalam UU No. 31 Tahun 2004 junto UU No. 45 Tahun 2009 tentang perikanan definisi ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan. Widodo dan Nurhakim (2002) menyatakan bahwa sumberdaya ikan pada umumnya dianggap bersifat open access dan common property yang artinya pemanfaatan bersifat terbuka oleh siapa saja dan kepemilikannya bersifat umum.

Potensi sumberdaya ikan (SDI) yang ada di Indonesia telah dimanfaatkan dengan berbagai cara, baik melalui perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Upaya pemanfaatan SDI yang dilakukan oleh masyarakat nelayan di wilayah pesisir masih terkonsentrasi pada perairan sekitar pantai dengan pola pengelolaan yang tradisional. Pengelolaan sumberdaya ikan idealnya harus dilakukan secara terarah dan terpadu sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Pengelolaan sumberdaya ikan adalah suatu proses yang terintegrasi mulai dari pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pengambilan keputusan, alokasi sumber dan penerapannya dalam rangka menjamin kelangsungan produktivitas serta pencapaian tujuan pengelolaan (FAO 1995). Secara umum, tujuan utama pengelolaan sumberdaya ikan adalah (Widodo dan Nurhakim 2002):

1) Menjaga kelestarian produksi, terutama melalui berbagai regulasi serta tindakan perbaikan stok SDI (enhancement).

2) Meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial nelayan.

3) Memenuhi keperluan industri yang memanfaatkan produksi tersebut.

Pengelolaan perikanan di Indonesia sebenarnya lebih berkaitan dengan masalah sumberdaya manusia (people problem) dari pada masalah sumberdaya (resources problem). Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa lebih dari 60% produksi perikanan Indonesia dihasilkan oleh perikanan skala kecil, yang banyak menyerap tenaga kerja atau lebih dikenal dengan sebutan nelayan (Septifitri 2010). Kaiser dan Forsberg (2001) memberikan beberapa hal yang harus dipertimbangkan didalam pengelolaan perikanan yaitu :

1) Jumlah stakeholder perikanan adalah banyak.

(4)

14

3) Hormati sebanyak mungkin nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. 4) Kebijakan harus mempertimbangkan aspek sosial, politik dan ekonomi.

Dalam pengelolaan perikanan pemerintah bertindak sebagai pelaksana mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pada pengawasan. Kelompok masyarakat pengguna hanya menerima informasi tentang produk-produk kebijakan dari pemerintah dan keterlibatan masyarakat penggunan dalam perumusan kebijakan masih sangat rendah. Satria et al. (2002) mengemukakan bahwa pengelolaan perikanan seperti ini mempunyai beberapa kelemahan yaitu:

1) Aturan-aturan yang dibuat menjadi kurang terinternalisasi dalam masyarakat, sehingga menjadi sulit untuk ditegakkan.

2) Biaya transaksi yang harus dikeluarkan untuk pelaksanaan dan pengawasan sangat besar, sehingga menyebabkan lemahnya penegakan hukum.

2.3 Alat Penangkapan Ikan

Dalam

Permen Kelautan dan Perikanan No. 02 tahun 2011, yang

dimaksud dengan alat penangkapan ikan (API) adalah sarana dan

perlengkapan atau benda-benda lainnya yang dipergunakan untuk

menangkap ikan. Jenis API yang beroperasi di perairan Teluk Jakarta sangat

beragam, namun yang akan terdampak langsung dari kegiatan reklamasi

adalah dogol, bagan, payang dan

gillnet.

2.3.1 Jaring insang (gillnet)

Gillnet secara harfiah berarti jaring insang. Alat tangkap ini disebut jaring insang karena ikan yang tertangkap oleh gillnet umumnya tersangkut pada tutup insangnya (Sadhori 1985). Martasuganda (2002), mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan jaring insang adalah jaring yang berbentuk empat persegi panjang, dimana mata jaring dari bagian jaring utama ukurannya sama dan jumlah mata jaring ke arah horizontal lebih banyak dari pada jumlah mata jaring arah vertikal. Pada bagian atasnya dilengkapi dengan beberapa pelampung dan bagian bawahnya dilengkapi dengan beberapa pemberat sehingga adanya dua gaya yang berlawanan menyebabkan jaring dapat terentang sempurna.

Menurut Gunarso (1985), gillnet merupakan dinding jaring dengan bahan yang lembut dan mempunyai daya visibilitas yang rendah. Gillnet sebagai dinding

(5)

15 yang lebar ditempatkan di atas dasar laut untuk menangkap ikan demersal, atau seluruh tempat mulai dari pertengahan kolom air sampai lapisan permukaan untuk menangkap ikan pelagis (Sainsburry 1996).

Ayodhyoa (1981) mengklasifikasikan gillnet berdasarkan cara pengoperasiannya atau kedudukan jaring di daerah penangkapan. yaitu :

1) Surface gillnet, yaitu gillnet yang direntangkan di lapisan permukaan dengan area daerah penangkapan yang sempit;

2) Bottom gillnet, yaitu gillnet yang dipasang dekat atau di dasar laut dengan menambahkan jangkar sehingga jenis ikan tujuan penangkapannya adalah ikan demersal;

3) Drift gillnet, yaitu gillnet yang dibiarkan hanyut di suatu perairan terbawa arus dengan atau tanpa kapal. Posisi jaring ini ditentukan oleh jangkar, sehingga pengaruh kecepatan arus terhadap kekuatan tubuh jaring dapat diabaikan;

4) Encircling gillnet, yaitu gillnet yang dipasang melingkar terhadap gerombolan ikan dengan maksud menghadang ikan.

Secara umum cara gillnet dipasang melintang terhadap arah arus dengan tujuan menghadang arah ikan dan diharapkan ikan-ikan tersebut menabrak jaring serta terjerat (gilled) pada mata jaring di sekitar insang atau terpuntal (entangled) pada tubuh jaring. Oleh karena itu wama jaring sebaiknya disesuaikan dengan wama perairan tempat gillnet dioperasikan (Sadhori 1985). Menurut Martasuganda (2002), jaring insang hanyut (drift gillnet) adalah jaring yang cara pengoperasiannya dibiarkan hanyut di perairan, baik itu dihanyutkan di bagian permukaan (surface drift gillnet), kolom perairan (midwater/submerged drift gillnet) atau dasar perairan (bottom drift gillnet).

Hasil tangkapan gillnet terdiri atas ikan berbagai jenis ikan baik pelagis maupun demersal, tergantung pada jenis dan metode pengoperasiannya. Jenis-jenis ikan yang tertangkap oleh gillnet adalah layang (Decapterus spp), tembang (Sardinella fimbriata), kuwe (Caranx spp.), manyung (Arius spp.), selar (Selaroides spp.), kembung (Rastrelliger spp.), tetengkek (Megalaspis cordyla), daun bambu (Chorinemus spp.), belanak (Mugil spp.), kuro (Polynemus spp.), tongkol (Auxis spp.), tenggiri (Scomberomorus spp.) dan cakalang (Katsuwonus pelamis) (Sadhori. 1985).

Ukuran mata jaring (mesh size) mempunyai hubungan erat dengan ikan yang tertangkap. Untuk menghasilkan ukuran ikan tangkapan yang besar pada

(6)

16

suatu daerah penangkapan, hendaknya ukuran mata jaring disesuaikan dengan besar badan ikan yang terjerat. Pada umumnya ikan tertangkap secara terjerat pada bagian tutup insangnya maka luas mata jaring disesuaikan dengan luas penampang tubuh ikan antara batas tutup insang sampai sekitar bagian depan dari sirip dada (Ayodhyoa 1981).

2.3.2 Bagan

Bagan merupakan alat tangkap yang diklasifikasikan ke dalam jaring angkat (lift net). Dalam pengoperasiannya, jaring atau waring diturunkan secara vertikal ke dalam perairan. Penangkapan bagan hanya dilakukan pada malam hari (light fishing) terutama pada hari gelap bulan dengan menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan (Subani dan Barus 1989).

Bagan terdiri atas komponen-komponen penting yaitu : jaring bagan, rumah bagan (anjang-anjang, kadang tanpa anjang-anjang), serok dan lampu. Pada pelataran bagan terdapat alat penggulung (roller) yang berfungsi untuk menurunkan dan mengangkat jaring bagan pada saat dioperasikan (Subani dan Barus 1989).

Subani dan Barus (1989) menggolongkan bagan berdasarkan bentuk dan cara pengoperasiannya menjadi tiga macam. yaitu :

1) Bagan tancap (stationary lift net)

Bagan yang posisinya tidak dapat dipindah-pindahkan, satu kali pembuatan berlaku untuk sekali musim penangkapan. Pada bagan tancap terdapat rumah bagan yang disebut "anjang-anjang" dan berbentuk piramida;

2) Bagan rakit (raft lift net)

Bagan rakit merupakan jaring angkat yang dalam pengoperasiannya dapat dipindah-pindahkan ke tempat yang diperkirakan banyak ikan. Pada sebelah kanan dan kiri bagian bawah terdapat rakit dari bambu yang berfungsi sebagai landasan dan sekaligus sebagai alat apung. Pada bagan ini juga terdapat anjang-anjang;

3) Bagan perahu (boat lift net)

Bentuknya lebih sederhana dibandingkan bagan rakit dan lebih ringan sehingga memudahkan dalam pemindahan ke tempat yang dikehendaki. Bagan perahu terbagi atas dua macam, yaitu bagan yang menggunakan satu perahu dan bagan dua perahu. Bagian depan dan belakang bagan

(7)

17 dua perahu dihubungkan oleh dua batang bambu, sehingga berbentuk bujur sangkar. Bambu tersebut berfungsi sebagai tempat untuk menggantung jaring atau waring.

Operasi penangkapan ikan menggunakan bagan dimulai pada saat matahari terbenam. Terlebih dahulu jaring bagan diturunkan sampai kedalaman yang diinginkan, kemudian lampu mulai dinyalakan untuk menarik perhatian ikan agar segera berkumpul di sekitar bagan. Apabila telah banyak ikan terkumpul di bawah sinar lampu, maka jaring bagan diangkat sampai berada di atas permukaan air dan hasil tangkapan diambil dengan menggunakan serok. Jenis-jenis ikan hasil tangkapan bagan adalah teri (Stolephorus spp.), layang (Decapterus spp.), selar (Selaroides spp.), kembung (Rastrelliger spp.). lemuru (Sardinella longiceps), tembang (Sardinella fimbriata) dan layur (Trichiurus spp.) (Sadhori 1985).

2.3.3 Payang

Von Brandt (1984) mengelompokkan payang kedalam jenis "seine net", yaitu alat tangkap yang memiliki warp penarik yang sangat panjang dimana pengoperasiannya dilakukan dengan cara melingkari area atau wilayah seluas-luasnya dan kemudian menariknya ke kapal atau pantai. Jaring payang terdiri atas bagian kantong (codend), badan (body), dua buah sayap (wing) pada bagian kanan dan kiri serta tali ris, dimana tali ris atas dibuat lebih panjang dari tali ris bawah untuk mencegah lolosnya ikan ke arah vertikal bawah.

Jaring pada payang terdiri atas kantong, dua buah sayap, dua tali ris, tali selembar, serta pelampung dan pemberat. Kantong merupakan satu kesatuan yang berbentuk kerucut terpancung, semakin ke arah ujung kantong jumlah mata jaring semakin berkurang dan ukuran mata jaringnya semakin kecil. Ikan hasil tangkapan akan berkumpul di bagian kantong ini, semakin kecil ukuran mata jaring maka semakin kecil kemungkinan ikan meloloskan diri.

Dasar operasi seine net adalah melingkari gerombolan ikan dalam area perairan dengan warp panjang dan jaring yang terletak di bagian tengah. Penarikan dua warp dilakukan secara bersamaan ke arah kapal, sehingga kelompok ikan tergiring masuk ke dalam jaring (Sainsburry 1996). Penarikan jaring payang perlu dilakukan dengan kecepatan yang cukup tinggi dan secara bersamaan agar ikan tidak lolos dari bagian sayap. Terbukanya mulut jaring

(8)

18

secara maksimal akan sangat menentukan keberhasilan operasi penangkapan ikan (Ayodhyoa 1981).

Indikator dalam menemukan gerombolan ikan dapat dilakukan dengan melihat: (1) adanya perubahan permukaan air laut, karena gerombolan ikan berenang dekat pada permukaan air; (2) ikan yang melompat-lompat di permukaan; (3) terlihat buih-buih di permukaan air laut akibat udara yang dikeluarkan ikan; (4) terlihat riak kecil karena gerombolan ikan berenang dekat permukaan laut; (5) adanya burung burung yang menukik menyambar permukaan laut (Ayodhyoa 1981).

Hasil tangkapan payang adalah tongkol (Aims spp.), cakalang (Katsuwonus pelamis), kembung (Rastrelliger spp.), selar (Selaroides spp.), layang (Decapterus spp.), tembang (Sardinella fimbriata), japuh (Dussumeieria spp.), pepetek (Leiognathus spp.), layur (Trichiurus spp.), tenggiri (Scomberomorus sp.p), julung-julung (Hemirhampus spp.), manyung (Arius spp.), bawal (Pampus spp.) dan cucut {Sphyrna spp.) (Artikasari, 1999).

2.3.4 Dogol

Dogol termasuk dalam kelompok pukat kantong (seine net). Pukat kantong adalah jenis jaring menangkap ikan berbentuk kerucut yang terdiri dari kantong atau bag, badan (body), dua lembar sayap (wing) yang dipasang pada kedua sisi mulut jaring, dan tali penarik (warp). Berdasarkan bentuk jaring, seine net dibedakan menjadi 2 jenis yaitu seine net without bag dan with bag. Seine net yang menggunakan kantong dibedakan menjadi 2 jenis yaitu beach seine yang ditarik ke pantai dan boat seine yang di tarik dari atas perahu ( Von Brandt 1984).

Dogol adalah nama daerah untuk pukat kantong di daerah Utara Jawa yang bertujuan untuk menangkap ikan-ikan dasar. Konstruksi dari alat tangkap dogol mirip dengan alat tangkap danish seine sehingga nama dogol sering digunakan sebagai terjemahan langsung untuk danish seine.

Dogol termasuk dalam pukat kantong lingkar (bag seine net) yaitu jaring yang terdiri atas kantong (bag), kaki (sayap) yang dipasang pada kedua sisi (kiri dan kanan) mulut jaring dan dalam pengoperasiannya dilingkarkan pada sasaran tertentu. Pada tiap akhir penangkapan hasilnya dinaikkan ke atas geladak kapal atau didaratkan ke pantai. Bagian atas mulut jaring dogol agak lebih menjorok ke

(9)

19 depan sehingga bentuk atau konstruksinya menyerupai pukat udang (trawl) tetapi ukurannya lebih kecil (Subani dan Barus 1989).

Hasil tangkapan dogol sangat beragam dan terdiri atas ikan pelagis maupun ikan demersal dan bahkan hewan lunak. Jenis hasil tangkapan dogol antara lain ikan pepetek (Leiognathus sp.), tigawaja (Johnius dussumieri), bawal putih (Pampus argentus), sotong (Sephia sp.), cumi-cumi (Loligo sp.), bawal hitam (Formio niger), julung-julung (Hemirhampus far), gurita (Octopus sp.) pari (Trugon sephen), kembung (Ratrelliger sp.), sembilang (Plotosus canius), gerot-gerot (Therapon theraps),dan gumalah (Argyrosomus amoyensis) (Wahju et al. 2009). Bervariasinya hasil tangkapan dogol disebabkan metode pengoperasiannya yang cenderung aktif ditarik di dasar perairan sehingga ikan yang berada di area bukaan mulut dogol akan tertangkap.

2.4 Valuasi Ekonomi 2.4.1 Konsep nilai ekonomi

Menurut Freeman (2003) nilai atau value dapat dikategorikan ke dalam dua pengertian besar yaitu nilai interinsik (intrinsic value) dan nilai instrumental (instrumental value). Secara garis besar, suatu komoditas memiliki nilai interinsik apabila komoditas tersebut bernilai di dalam dan untuk komoditas itu sendiri. Artinya, nilainya tidak diperoleh dari pemanfaatan dari komoditas tersebut, tetapi bebas dari penggunaan dan fungsi yang terkait dengan alam (nature) dan lingkungan (environment). Nilai instrumental dari sebuah komoditas adalah nilai yang muncul akibat pemanfaatan komoditas tersebut untuk kepentingan tertentu.

Nilai adalah persepsi manusia, tentang makna suatu objek (sumberdaya) tertentu, tempat dan juga waktu tertentu. Persepsi merupakan ungkapan, pandangan, perspektif seseorang (individu) terhadap suatu benda dengan proses pemahaman melalui panca indera yang diteruskan ke otak untuk proses pemikiran, dan di sini berpadu dengan harapan ataupun norma-norma kehidupan yang melekat pada individu atau masyarakat tersebut (Turner et al. 1994).

Nilai ekonomi secara umum didefinisikan sebagai pengukuran jumlah maksimum seseorang ingin mengorbankan barang dan jasa untuk memperoleh barang dan jasa lainnya. Secara formal konsep ini disebut sebagai keinginan membayar (willingness to pay) seseorang terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan. Nilai ekologis dari ekosistem dengan menggunakan pengukuran ini bisa diterjemahkan ke dalam bahasa

(10)

20

ekonomi dengan mengukur nilai moneter dari barang dan jasa. Sebagai contoh jika ekosistem pantai mengalami kerusakan akibat polusi, maka nilai yang hilang akibat degradasi lingkungan bisa diukur dari keinginan seseorang untuk membayar agar lingkungan tersebut kembali ke aslinya atau mendekati aslinya (Fauzi 2004).

Nilai ekonomi adalah nilai barang dan jasa yang dapat diperjualbelikan sehingga memberikan pendapatan. Konsep ekonomi kegunaan memberikan pengertian bahwa kepuasan atau kesenangan yang diperoleh individu atau masyarakat tidak terbatas kepada barang dan jasa yang diperoleh melalui jual beli (transaksi) saja, tetapi semua barang dan jasa yang memberikan manfaat akan memberikan kesejahteraan bagi individu atau masyarakat tersebut (Pearce dan Moran 1994).

Untuk mengukur nilai suatu sumberdaya dapat dilakukan berdasarkan konsep nilai total (total value) yaitu nilai kegunaan atau pemanfaatan (use value) dan nilai bukan kegunaan atau non use value. Apabila nilai suatu sumberdaya kita ketahui maka seharusnya kita dapat memanfaatkan sumberdaya secara efisien.

Nilai ekonomi total (total economic value) adalah sebuah konsep yang sederhana yang dapat digunakan untuk menghitung nilai total dari beberapa sumberdaya alam, yang tersusun dari komponen-komponen yang berbeda. Beberapa dari komponen tersebut mudah untuk diidentifikasi dan dinilai, dan yang lainnya ada yang tidak diketahui atau tidak bisa diraba. Barton (1994) mengemukaan bahwa nilai ekonomi total dari lingkungan sebagai asset merupakan jumlah dari nilai manfaat (use value) dan non-manfaat (non use value).

Nilai manfaat adalah suatu nilai yang timbul dari pemanfaatan sebenarnya suatu fungsi atau sumberdaya yang terdapat dalam suatu ekosistem. Nilai manfaat terdiri dari nilai manfaat secara langsung (direct value), nilai manfaat secara tidak langsung (indirect value) dan nilai pilihan (option value). Nilai non-manfaat biasanya terdiri dari nilai eksistensi (existence value) dan nila di masa depan (bequest value) (Dixon 1998).

Metode analisis biaya dan manfaat (benefit-cost analysis) konvensional sering tidak mampu menjawab permasalahan yang terjadi pada sumberdaya dan 2.4.2 Valuasi ekonomi

(11)

21 lingkungan, sebab konsep ini sering tidak memasukkan manfaat ekologis di dalam analisisnya. Ketika kita mengetahui kerusakan lingkungan terjadi akibat aktivitas ekonomi, seringkali pengambil kebijakan tidak mampu mengkuantifikasikan kerusakan tersebut dengan metode ekonomi yang konvensional. Permasalahan-permasalahan ini kemudian menjadi dasar pemikiran lahirnya konsep valuasi ekonomi (Fauzi dan Anna 2005).

Fauzi (2004) menyebutkan bahwa valuasi ekonomi dapat didefinisikan sebagai upaya untuk memberikan nilai kuantitatif terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan, baik atas nilai pasar (market value) maupun nilai non pasar (non market value). Penilaian ekonomi sumberdaya merupakan suatu alat ekonomi (economic tools) yang menggunakan teknik penilaian tertentu untuk mengestimasi nilai uang dari barang dan jasa yang diberikan oleh suatu sumberdaya alam. Tujuan dari penilaian ekonomi antara lain digunakan untuk menunjukkan keterkaitan antara konservasi sumberdaya alam dan pembangunan ekonomi, maka valuasi ekonomi dapat menjadi suatu alat penting dalam peningkatan apriesiasi dan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.

Konsep penilaian ekonomi berlandaskan dari teori ekonomi neo-klasik yang menekankan pada kepuasan atau keperluan konsumen. Berdasarkan pemikiran neo-klasik ini dikemukakan bahwa penilaian setiap individu pada barang dan jasa tidak lain adalah selisih antara keinginan membayar (willingness to pay) dengan biaya untuk mensuplai barang dan jasa tersebut (Barbier et al. 1997).

Dalam melakukan suatu penilaian ekonomi suatu sumberdaya umumnya digunakan satuan moneter. Suparmoko (2000) menjelaskan beberapa alasan mengapa satuan moneter diperlukan dalam valuasi ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan. Tiga alasan utamanya adalah:

1) Satuan moneter dapat digunakan untuk menilai tingkat kepedulian seseorang terhadap lingkungan.

2) Satuan moneter dari manfaat dan biaya sumberdaya alam dan lingkungan dapat menjadi pendukung untuk keberpihakan terhadap kualitas lingkungan.

3) Satuan moneter dapat dijadikan sebagai bahan pembanding secara kuantitatif terhadap beberapa alternatif suatu kebijakan tertentu termasuk pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan.

(12)

22

Valuasi ekonomi adalah nilai ekonomi yang terkandung dalam suatu sumberdaya alam, baik nilai guna maupun nilai fungsional yang harus diperhitungkan dalam menyusun kebijakan pengelolaan. Hal ini dimaksudkan agar alokasi dan alternatif penggunaannya dapat ditentukan secara benar dan tepat sasaran. Valuasi ekonomi dilakukan karena sumberdaya alam bersifat public good, terbuka dan tidak mengikuti hukum kepemilikan dan tidak ada mekanisme pasar dimana harga dapat berperan sebagai instrumen penyeimbang antara permintaan dan penawaran. Selain itu, manusia dipandang sebagai homoeconomicus yang cenderung memaksimalkan manfaat total (Kusumastanto 2000).

Gambar 3 Tipologi nilai ekonomi total (Sumber : Barton 1994)

2.4.3 Teknik pengukuran nilai ekonomi

Berbagai macam metode penilaian ekonomi terhadap sumberdaya alam telah dipraktekkan dalam banyak proyek di berbagai negara. Metode-metode tersebut pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu Metode-metode yang secara langsung didasarkan pada nilai/nilai pasar, metode yang menggunakan nilai pasar barang pengganti atau barang pelengkap dan metode yang didasarkan pada hasil survei.

2.4.3.1 Pendekatan harga pasar

Teknik pengukuran valuasi ekonomi dengan pendekatan harga pasar sudah banyak dilakukan dan lebih terukur. Pendekatan dengan harga pasar dapat dibedakan lagi menjadi :

(13)

23 1) Pendekatan harga pasar yang sebenarnya atau pendekatan

produktivitas.

Pendekatan produktivitas adalah pendekatan yang mengukur nilai ekonomi sumberdaya alam berdasarkan kontribusi produktivitas sumberdaya tersebut. Misalnya rehabilitasi hutan mangrove akan mempengaruhi produktivitas perikanan pantai. Dengan demikian manfaat dari rehabilitasi hutan mangrove bisa diukur dari peningkatan pendapatan dari perikanan pantai. Pendekatan produktivitas ini telah banyak digunakan dalam menganalisis biaya dan manfaat suatu proyek. Namun dengan dipertimbangkannya dimensi lingkungan, akan sulit untuk me-nentukan harga pasar yang tepat.

Dalam menilai atau memberikan harga terhadap dampak suatu proyek, selama ada harga pasar untuk produk atau jasa yang hilang atau yang timbul dari adanya suatu proyek, sebaiknya digunakan harga pasar. Dengan adanya suatu proyek biasanya ada suatu produk atau jasa.yang diciptakan dan dengan menggunakan harga pasar dari produk atau jasa tersebut akan diperoleh nilai sumbangan manfaat dari proyek yang bersangkutan. Di sisi lain juga akan ada korban fisik atau hilangnya suatu produk atau aset fisik yang timbul dari adanya suatu proyek, sehingga dengan menggunakan harga pasar akan dapat diperkirakan nilai biaya atau korban dari proyek tersebut.

Pendekatan produktivitas umumnya membutuhkan data yang baik mengenai biaya produksi barang akhir, permintaan dan penawaran barang akhir serta permintaan dan penawaran dari faktor produksi. Oleh karena kebutuhan data tersebut, pendekatan ini relatif lebih kompleks.

2) Pendekatan modal manusia (human capital)

Pendekatan ini diterapkan untuk menilai sumberdaya manusia bila terjadi kematian, cacat tubuh yang permanen dan sebagainya sebagai akibat adanya suatu proyek. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan harga pasar dan tingkat upah untuk menilai sumbangan proyek terhadap penghasilan masyarakat.

(14)

24

3) Apabila data mengenai harga atau upah tidak cukup tersedia, biaya kesempatan atau pendapatan yang hilang dapat digunakan sebagai pendekatan.

Pendekatan ini digunakan untuk menghitung biaya yang harus dikeluarkan guna melestarikan suatu manfaat, dan bukannya untuk memberikan nilai terhadap manfaat itu sendiri. Misalnya untuk menilai berapa besar manfaat ekonomi yang harus dikorbankan jika suatu proyek harus dilaksanakan atau tidak dilaksanakan sehingga kualitas lingkungan tidak dapat dikembalikan seperti keadaan semula.

Umumnya tidak mudah untuk mendapatkan harga pasar bagi bagi barang atau jasa yang timbul karena adanya suatu proyek. Untuk itu sedapat mungkin digunakan harga alternatif atau biaya kesempatan (opportunity cost). Cara ini dapat dipakai untuk mengukur berapa pendapatan yang hilang karena adanya suatu proyek. Pendapatan yang hilang tersebut dapat diartikan sebagai biaya tidak langsung karena adanya suatu proyek. Untuk jasa-jasa yang berkaitan dengan lingkungan seperti pemandangan alam, udara yang sejuk dan sebagainya harga alternatif sulit untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, untuk jasa sumberdaya alam dan lingkungan seperti itu dinilai dengan pendekatan keinginan untuk membayar (willingness to pay).

2.4.3.2 Pendekatan dengan nilai barang pengganti atau barang pelengkap (Surrogate Market Price)

1) Pendekatan nilai kekayaan (hedonic pricing)

Teknik hedonic pricing dikembangkan dari teori atribut atau karakteristik yang dikemukakan oleh Lancaster (1966) yang kemudian dikembangkan oleh Griliches (1971) dan Rosen (1974). Seringkali kita sulit menemui harga pasar atau harga alternatif, maka degan pendekatan nilai barang pengganti atau barang pelengkap kita dapat menemukan pasar bagi barang dan jasa yang terpengaruh oleh barang dan jasa lingkungan yang tidak dipasarkan. Pendekatan nilai kekayaan didasarkan atas pemikiran tersebut. Kualitas lingkungan akan mempengaruhi keputusan untuk membeli rumah dan harga rumah juga dipengaruhi oleh jasa lingkungan yang diberikan oleh kualitas lingkungan yang ada. Jadi harga rumah ditentukan oleh lokasi, akses ke lokasi, kualitas lingkungan dan lain-lain.

(15)

25 Dengan menggunakan harga barang substitusi atau barang komplementer nilai lingkungan yang tidak dipasarkan tersebut dapat diperkirakan.

2) Pendekatan tingkat upah

Pendekatan atas dasar tingkat upah sebenarnya mirip dengan pendekatan atas dasar nilai kekayaan. Pendekatan ini menggunakan tingkat upah pada jenis pekerjaan yang sama tetapi pada lokasi yang berbeda untuk menilai kualitas lingkungan kerja pada masing-masing lokasi tersebut. Pendekatan yang dipakai adalah bahwa upah dibayarkan lebih tinggi pada lokasi yang lebih tercemar atau pada lokasi yang lebih berbahaya bagi kesehatan maupun kehidupan.

3) Pendekatan biaya perjalanan (travel cost approach)

Pendekatan ini kebanyakan digunakan untuk menganalisis permintaan terhadap rekreasi di alam terbuka (outdoor recreation) seperti rekreasi ke pantai atau objek wisata lainnya, memancing, berburu, dan lain-lain. Pendekatan ini menggunakan biaya transportasi atau biaya perjalanan terutama untuk menilai lingkungan pada objek-objek wisata. Pendekatan ini menganggap bahwa biaya perjalanan serta waktu yang dikorbankan para wisatawan untuk menuju objek wisata tertentu dianggap sebagai nilai lingkungan yang wisatawan bersedia untuk membayar.

Pendekatan biaya perjalanan ini dapat digunakan untuk mengukur manfaat dan biaya akibat :

a) Perubahan biaya akses (tiket masuk) bagi suatu tempat rekreasi b) Penambahan tempat rekreasi baru

c) Perubahan kualitas lingkungan tempat rekreasi d) Penutupan tempat rekreasi yang ada.

Pendekatan biaya perjalanan dianggap pendekatan yang praktis, akan tetapi terdapat beberapa kelemahan dari pendekatan ini. Pertama, pendekatan biaya perjalanan dibangun berdasarkan asumsi bahwa setiap individu hanya memiliki satu tujuan tempat wisata. Kedua, Tidak dibedakan individu yang memang datang untuk berlibur dengan individu dari wilayah setempat.

(16)

26

2.4.3.3 Pendekatan hasil survei

Beberapa teknik survei dapat digunakan dalam valuasi ekonomi bagi pengelolaan sumberdaya alam, yaitu :

1) Contingent valuation approach

Pendekatan ini disebut “contingent” (tergantung kondisi) karena pada prakteknya informasi yang diperoleh sangat tergantung dari hipotesis yang dibangun. Pendekatan ini pada hakekatnya bertujuan untuk mengetahui keinginan untuk membayar (WTP) dari sekelompok masyarakat, misalnya perbaikan kualitas lingkungan dan keinginan untuk menerima (willingness to accept, WTA) dari kerusakan suatu lingkungan perairan. Terdapat beberapa tahapan dalam melaksanakan pendekatan ini, yaitu membuat hipotesis pasar, mendapatkan nilai lelang (bids), menghitung rataan WTP dan WTA, memperkirakan kurva lelang dan mengagregatkan data.

2) Survei Langsung

Mewawancarai responden (masyarakat) secara langsung mengenai kesediaan mereka untuk membayar (willingnes to pay) atau menerima pembayaran (willingnes to accept) sebagai ganti rugi.

3) Pendekatan delphi

Pendekatan ini berdasarkan kepada pendapat para ahli dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu sangat tergantung kepada pengalaman, pengetahuan dan latar belakang kehidupan para ahli.

2.4.3.4 Benefit transfer

Masalah utama yang dihadapi negara berkembang seperti Indonesia dalam menilai dampak lingkungan adalah sedikitnya data yang tersedia dan biaya untuk melakukan penelitian secara komprehensif. Menghadapi permasalahan ini salah satu solusi yang diusulkan adalah dengan menilai perkiraan benefit dari tempat lain (dimana sumberdaya tersedia) kemudian benefit tersebut ditransfer untuk memperoleh perkiraan yang kasar mengenai manfaat dari lingkungan. Metode ini kemudian disebut dengan metode benefit transfer. Secara prinsipil diakui pendekatan ini perlu dilakukan secara hati-hati karena banyaknya kelemahan yang terkandung di dalamnya. Ini dikarenakan

(17)

27 belum adanya protokol kesepakatan untuk menggunakan metode ini, tidak seperti halnya metode CVM yang telah diadopsi dengan protokol yang sama. Berbagai pertimbangan perlu dipikirkan secara matang sebelum teknik ini dilaksanakan. Pertimbangan ini menyangkut biaya dan manfaat dengan mengadopsi teknik benefit transfer tersebut serta desain dan koleksi data untuk keperluan studi ditempat lain (data asal). Krupnick (1993) menulis secara lebih detail kapan dan dalam situasi yang bagaimana benefit transfer bisa dilakukan dan kapan tidak. Ia menyebutkan misalnya, benefit transfer sulit dilakukan untuk sumberdaya alam wetland (seperti mangrove dan sejenisnya) karena nilai yang diperoleh akan sangat tergantung pada tempat dan karakteristik populasi. Krupnick menyatakan bahwa benefit transfer bisa saja dilakukan jika sumberdaya alam tersebut memiliki ekosistim yang sama baik dari segi tempat maupun karaketristik pasar (market characteristic).

2.5 Proses Hierarki Analitik (PHA)

Proses hierarki analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process merupakan teknik pengambilan keputusan yang pertama kali dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 1970–an. PHA didesain untuk menangkap secara rasional persepsi orang yang berhubungan erat dengan permasalahan tertentu melalui prosedur yang didesain untuk sampai pada suatu skala preferensi diantara berbagai alternatif. PHA banyak digunakan pada metode pengambilan keputusan untuk berbagai kriteria, perencanaan, alokasi sumberdaya dan penentuan prioritas dari strategi-strategi yang dimiliki stakeholders dalam situasi konflik.

PHA merupakan proses pengambilan keputusan dengan pendekatan sistem. Pada penyelesaian persoalan dengan PHA terdapat beberapa prinsip dasar yang harus dipahami antara lain (Saaty 1993):

1) Dekomposisi, setelah permasalahan atau persoalan didefinisikan, maka perlu dilakukan dekomposisi yaitu memecah persoalan yang utuh menjadi unsur-unsurnya. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, maka dilakukan pemecahan terhadap unsur-unsur tersebut sampai tidak dapat dipecah lagi, sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari persoalan tersebut.

2) Comparative judgement, yaitu membuat penilaian tentang kepentingan relatif diantara dua elemen pada suatu tingkatan tertentu dalam kaitannya dengan tingkatan diatasnya. Penilaian ini merupakan inti dari PHA karena akan

(18)

28

berpengaruh terhadap prioritas elemen-elemen yang disajikan dalam bentuk matriks pairwise comparison.

3) Synthesis of priorrity, yaitu melakukan sintesis prioritas atau mencari nilai eigenvektor-nya dari setiap matrik pairwise comparison untuk mendapatkan prioritas lokal. Matrik pairwise comparison terdapat pada setiap tingkat, oleh karena itu untuk mendapatkan prioritas global harus dilakukan sintesis diantara prioritas lokal.

4) Logical consistency, konsistensi memiliki dua makna, yaitu (1) obyek-obyek yang serupa dapat dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansinya. (2) tingkat hubungan antara obyek-obyek didasarkan pada kriteria tertentu.

Pada dasarnya, metode PHA ini memecah-mecah suatu situasi yang kompleks, tak terstruktur, ke dalam bagian-bagian komponennya; menata bagian atau variabel ini dalam suatu susunan hierarki; memberi nilai numerik pada pertimbangan subyektif tentang relatif pentingnya setiap variabel; dan mensintesis berbagai pertimbangan ini untuk menetapkan variabel mana yang memiliki prioritas paling tinggi dan bertindak untuk mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.

PHA juga menyediakan suatu struktur efektif untuk pengambilan keputusan secara berkelompok dengan memaksakan disiplin dalam proses pemikiran kelompok itu. Keharusan memberi nilai numerik pada setiap variabel masalah membantu para pengambil keputusan untuk mempertahankan pola-pola pikiran yang kohesif dan mencapai suatu kesimpulan. Selain itu, adanya konsensus dalam pengambilan keputusan kelompok memperbaiki konsistensi pertimbangan dan meningkatkan keandalan PHA sebagai alat pengambilan keputusan.

PHA memberikan satu model tunggal yang mudah dimengerti, untuk aneka ragam persoalan tak berstruktur, memadukan rancangan deduktif dan rancangan berdasarkan sistem dalam memecahkan persoalan kompleks. Proses sistemik dalam PHA memungkinkan pengambil keputusan mempelajari interaksi dari komponen-komponen yang telah disusun dalam hierarki secara simultan. Keharusan untuk memberikan nilai numerik pada setiap variabel masalah akan membantu pengambil keputusan mempertahankan pola pikir yang kohesif dan mencapai suatu kesimpulan.

(19)

29 Penyusunan secara hierarkis dalam PHA mencerminkan pemilahan elemen sistem dalam beberapa tingkat yang berlainan dan pengelompokan unsur serupa pada setiap tingkat. Setiap perangkat elemen dalam hierarki fungsional menduduki satu tingkat hierarki. Tingkat puncak yang disebut fokus, hanya terdiri atas satu elemen yaitu sasaran keseluruhan yang sifatnya luas. Pada tingkat berikutnya masing-masing dapat memiliki beberapa elemen, meskipun jumlahnya biasanya kecil, antara lima dan sembilan. Dalam perencanaan yang menggunakan PHA untuk mengkaji persoalan mula-mula harus mendefinisikan situasi dengan seksama, memasukkan sebanyak mungkin data yang relevan, kemudian menyusunnya dalam suatu hierarki yang terdiri dari beberapa tingkat rincian seperti ditunjukkan pada contoh Gambar 4.

Gambar 4 Struktur hierarki PHA

Untuk dapat melakukan analisis PHA dengan baik, maka prinsip kerja yang sangat mendasar dan harus diperhatikan adalah (Saaty 1993):

1) Penyusunan hierarki,

Persoalan yang akan diselesaikan, diuraikan menjadi unsur, yaitu kriteria dan alternatif, kemudian disusun menjadi struktur hierarki.

2) Penilaian kriteria dan alternatif,

Kriteria dan alternatif melalui perbandingan berpasangan. Menurut Saaty (1983), untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik Tingkat 1 Fokus Tingkat 3 Faktor Tingkat 4 Alternatif Tingkat 2 Skenario FOKUS

Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3

Faktor 1 Faktor 2 Faktor 3 Faktor 4 Faktor 5

(20)

30

dalam mengekspresikan pendapat. Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan Saaty dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan Saaty (1993)

Intensitas

Pentingnya Definisi Penjelasan

1 Kedua elemen sama penting Dua elemen mempengaruhi sama kuat pada sifat itu

3 Elemen yang satu sedikit lebih penting dari pada yang lain

Pengalaman atau pertimbangan sedikit menyokong satu elemen di atas yang lain.

5 Elemen yang satu jelas lebih penting dibandingkan dengan elemen yang lain

Pengalaman atau pertimbangan dengan kuat disokong dan dominasinya terlihat dalam praktek

7 Satu elemen sangat lebih penting dibandingkan elemen yang lain

Satu elemen dengan disokong dan dominasinya terlihat dalam praktek

9 Satu elemen mutlak lebih penting dibandingkan elemen yang lainnya

Sokongan elemen yang satu atas yang lain terbukti memiliki tingkat penegasan tertinggi

2,4,6,8 Nilai-nilai diantara dua

pertimbangan yang berdekatan

Kompromi diperlukan diantara dua pertimbangan

Kebalikan nilai-nilai di atas

Nilai-nilai di atas dianggap membandingkan antara elemen A dan B maka nilai-nilai kebalikan (1/2, 1/3, ¼,…, 1/9) digunakan untuk membandingkan kepentingan B terhadap A

Nilai perbandingan A dengan B adalah 1 (satu) dibagi dengan nilai perbandingan B dengan A.

3) Penentuan prioritas

Untuk setiap kriteria dan alternatif, perlu dilakukan perbandingan berpasangan (passive comparisons). Nilai-nilai perbandingan relatif kemudian diolah untuk menentukan peringkat relatif dari seluruh alternatif.

Baik kriteria kualitatif, maupun kriteria kuantitatif, dapat dibandingkan sesuai dengan judgment yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot dan prioritas. Bobot atau prioritas dihitung dengan manipulasi matriks atau melalui penyelesaian persamaan matematika.

4) Konsistensi logis.

Semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan suatu kriteria yang logis.

(21)

31 Saaty (1993) mengatakan bahwa proses pada PHA adalah mengidentifikasi, memahami, dan menilai intreraksi-interaksi suatu sistem sebagai suatu keseluruhan. Dalam penilaian PHA dan pengisian matriks banding berpasangan menggunakan nilai skala banding berpasangan (Tabel 5). Pengisian matriks hanya dapat dilakukan untuk bagian di atas garis diagonal dari kiri ke kanan bawah.

Prinsip penilaian pada AHP bila terdapat m kriteria yang dibandingkan, maka harus dihasilkan m matriks, setiap sel cij

c

mempunyai karakteristik sedemikian sehingga:

ij = 1/ cji atau cji x cij

Jika C1, C2, …,Cn adalah elemen yang akan dibandingkan, dan n adalah jumlah elemen yang akan dibandingkan (Tabel 5).

= 1

Analisis selanjutnya adalah menghitung nilai-nilai yang telah dari setiap matrik untuk mendapatkan vektor prioritas (VP). Selain itu juga dilakukan sintesis berbagai pertimbangan dan mendapatkan nilai konsistensi.

Penghitungan nilai eigen Maks (λ maks) dengan rumus : VA = (aij) x VP dengan VA = (vai)

VB = VA / VP dengan VB = (vbi) λ maks = 1/n Σ vbi

Tabel 5 Matriks elemen

C1 C2 ….. Cn

C1 1 a12 …. A1n

C2 1/a12 1 ….. A2n

….. ….. …. 1 ….

Cn 1/a1n 1/a2n ….. 1

Tabel 6 Menjumlahkan nilai dalam setiap kolom, matrik normalisasi dan vektor prioritas

C1 C2 … Cn Matriks Normalisasi VP

C1 1 A12 … A1n 1/J1 A12/J2 … A1n/Jn P1 C2 1/a12 1 … A2n A21/J1 1/J2 … A2n/Jn P2

… … … 1 …. … … … …. …

Cn 1/a1n 1/a2n … 1 An1/J1 An2/J2 … 1/Jn Pn

(22)

32

Perhitungan indeks konsistensi (CI) dengan rumus : CI = (λ maks – n) (n-1)

Perhitungan Rasio Konsistensi (CR) adalah :

CR = CI/RI, dimana; RI = Indeks acak (random Indeks) dari matriks berordo 1 sampai 15 (Tabel 7).

CR dikatakan mempunyai tingkat konsistensi yang tinggi dan dapat dipertanggungjawabkan bila bernilai lebih kecil atau sama dengan 0,1. Hal ini dikarenakan merupakan tolok ukur bagi konsistensi atau tidaknya suatu hasil perbandingan berpasangan dalam suatu matriks pendapat (Saaty 1993). Saaty (1993) menyatakan bahwa AHP memberi suatu sarana yang berguna untuk menstruktur hierarki, baik untuk perencanaan yang diproyeksikan (deskriptif) maupun perencaan ideal (normative).

Tabel 7 Nilai indeks acak (RI) matriks berordo 1 s/d 15

N RI N RI N RI 1 0,00 6 1,24 11 1,51 2 0,00 7 1.32 12 1,48 3 0,59 8 1,41 13 1,56 4 0,90 9 1,45 14 1,57 5 1,12 10 1,49 15 1,59 Sumber : Saaty (1993) 2.6 Analisis Kebijakan

Analis kebijakan merupakan sebuah konsep yang diambil dari berbagai disiplin dan profesi yang bersifat deskriptif, evaluatif dan prespektif. Analisis kebijakan adalah sebuah disiplin ilmu sosial terapan yang menggunakan berbagai metode penelitian dan argumen untuk menghasilkan dan memindahkan informasi yang ada hubungannya dengan kebijakan sehingga dapat dimanfaatkan ditingkat politik dalam rangka memecahkan masalah-masalah kebijakan (Dunn, 2000). Analisis kebijakan adalah salah satu diantara sejumlah banyak faktor di dalam sistem kebijakan. Suatu sistem kebijakan (policy system) atau seluruh pola institusional dimana didalamnya kebijakan dibuat, mencakup hubungan timbal balik antara tiga unsur yaitu : kebijakan publik, pelaku kebijakan dan lingkungan kebijakan. Sistem kebijakan adalah produk manusia yang

(23)

33 subjektif. yang diciptakan melalui pilihan-pilihan yang sadar oleh para pelaku kebijakan.

Kebijakan publik (public policies) merupakan rangkaian pilihan yang kurang lebih berhubungan termasuk keputusan-keputusan untuk tidak bertindak yang dibuat oleh badan dan pejabat pemerintah yang diformulasikan dalam berbagai bidang termasuk lingkungan hidup. Masalah kebijakan tergantung pula pada pola keterlibatan pelaku kebijakan (policy stakeholders) yang khusus, yaitu para individu atau kelompok individu yang mempunyai andil didalam kebijakan karena mereka mempengaruhi dan dipengaruhi oleh keputusan pemerintah.

Lingkungan kebijakan (policy environment) yaitu konteks khusus dimana kejadian-kejadian disekeliling isu kebijakan terjadi, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pembuat kebijakan dan kebijakan publik. Salah satu faktor yang menyebabkan sulitnya mengambil keputusan (kebijakan) adalah sulitnya memperoleh informasi yang cukup serta bukti-bukti yang sulit disimpulkan. Karena itu dalam pengambilan keputusan akan lebih mudah bila menggunakan model tertentu. Model kebijakan adalah sajian yang disederhanakan melalui aspek-aspek terpilih dari situasi problematik yang disusun untuk tujuan-tujuan khusus. Model-model kebijakan tersebut yaitu model deskriptif, model normatif, model verbal, model simbolik, model prosedural, model pengganti dan model perspektif.

Setiap model kebijakan yang ada tidak dapat diterapkan untuk semua perumusan kebijakan karena masing-masing model menfokuskan pada aspek-aspek yang berbeda. Menurut Dunn (2000), persoalan kebijakan tidak terletak pada menggunakan atau membuang model, persoalannya hanyalah terletak pada pemilihan diantara berbagai alternatif.

Menurut Dunn (2000) proses analisis kebijakan adalah serangkaian aktifitas intelektual yang dilakukan didalam proses kegiatan yang pada dasarnya bersifat politis. Aktivitas politis tersebut dijelaskan sebagai proses pembuatan kebijakan dan divisualisasikan sebagai rangkaian tahap yang saling bergantung yang diatur menurut urutan waktu yaitu penyusunan agenda, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan, implementasi kebijakan dan penilaian kebijakan.

(24)

34

2.7 Dampak Reklamasi

Reklamasi yang dilakukan untuk kepentingan pembangunan pelabuhan Dublin di Irlandia telah menyebabkan peningkatan konsentrasi unsur logam dalam sedimen permukaan di zona pasang surut sehingga memiliki efek buruk pada biota-biota pantai di muara Sungai Tolka di wilayah tersebut. Proyek ini juga telah menyempitkan wilayah perairan di muara Tolka (Buggy and Tobin 2006). Reklamasi yang dilakukan pada lahan darat juga mengubah kecenderungan suksesi intrinsik fauna tanah melalui mekanisme yang kompleks dan berinteraksi, yang menghasilkan penyederhanaan dan perubahan struktur fungsi suatu komunitas (Wu et al. 2002). Perubahan komposisi trofik disebabkan oleh perubahan tata guna lahan, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap fungsi ekosistem melalui perubahan struktur jaringan dan rantai makanan dan jalur dekomposisi nutrien (materi).

Proyek reklamasi di kawasan industri Pelabuhan Tianjin secara signifikan juga telah mempengaruhi pertumbuhan, reproduksi dan distribusi fitoplankton, sehingga berdampak negatif pada pertumbuhan dan distribusi zooplankton sebagai pemakan fitoplankton. Pekerjaan pengerukan telah memberi dampak langsung terhadap lingkungan hidup terutama komunitas benthos dan menyebabkan kepunahan beberapa jenis benthos. Selain itu, proyek tersebut juga telah membawa tanah sumber polutan, limbah industri dan sebagainya yang mengakibatkan pengaruh negatif terhadap kehidupan laut. Proyek tersebut juga secara signifikan mempengaruhi lingkungan laut dan menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati serta perubahan struktur masyarakat (Li et al. 2010).

Sohma et al. (2008) membuat sebuah model ekosistem yang digunakan dalam penelitian di Teluk Atsumi, Jepang untuk mengevaluasi dampak reklamasi atas padang lamun. Perairan dangkal buatan yang berisikan padang lamun dibuat untuk mengurangi dampak reklamasi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa reklamasi atas padang lamun alami mengakibatkan peningkatan fitoplankton dan detritus dari sistem pelagis (mengakibatkan kerugian di tingkat pemurnian air). Sebaliknya, penciptaan perairan buatan dangkal mengakibatkan penurunan fitoplankton dan detritus dari sistem pelagis (menghasilkan keuntungan pada tingkat pemurnian air). Kemudian semakinnmeningkatnya pencemaran air disertai dengan blooming fitoplankton dimuara sungai Jepang terkait sebagai akibat dari semakin menurunnya fungsi ekologisnperairan dangkal akibat reklamasi.

(25)

35 Wang et al. (2010) mengemukanan bahwa biaya yang terkait dengan kerusakan ekosistem secara signifikan lebih tinggi dari biaya internal proyek-proyek reklamasi. Prospek untuk pembangunan berkelanjutan pada masyarakat pesisir akan menjadi seuatu yang sangat sulit jika tren eksploitasi sumberdaya alam terus berlanjut. Sayangnya, keputusan pengembang lahan dan beberapa investor lokal biasanya didorong oleh keuntungan ekonomi langsung jangka pendek, yang telah mengabaikan kerusakan lingkungan akibat reklamasi lahan.

Gambar

Gambar 4  Struktur hierarki PHA
Tabel 4   Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan Saaty  (1993)
Tabel 7 Nilai indeks acak (RI) matriks berordo 1 s/d 15

Referensi

Dokumen terkait

5) Metode Kontekstual, Pembelajaran kontekstual adalah konsepsi  pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata  pelajaran dengan situasi dunia nyata dan

bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 43A ayat (4) dan Pasal 45A ayat (4) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana

Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian yang dilakukan oleh Ayu Sari dan Rina Harimurti dengan judul Sistem Pakar untuk Menganalisis Tingkat Stres Belajar pada Siswa

a) Pesan (Stimulus,S), stimulus atau pesan yang dimaksud disini adalah isi informasi dan fitur-fitur yang ada di situs Kaskus. Stimulus atau pesan yang disampaikan kepada

Data hasil observasi dalam penelitian upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada materi jajargenjang dengan menggunakan metode penemuan terbimbing di kelas IV

Disebutkan bahwa dari setiap sembilan kesempatan kerja yang tersedia secara global saat ini, satu diantaranya berasal dari sektor pariwisata (Soebagyo,

Penentuan sampel rumah tangga yang dijadikan unit analisis penelitian menggunakan metode non probability sampling jenis purposive sampling (Moleong, 2001). Responden

Kode BCD weighted : setiap posisi bit mempunyai bobot tertentu • Kode BCD weighted : setiap posisi bit mempunyai bobot tertentu • Kode BCD unweighted : posisi bit tidak