i
TINJAUAN INEFISIENSI BIAYA SEBAGAI AKIBAT DARI SISTEM
PENOMORAN SERI PADA REKAM MEDIS RAWAT INAP
DI BLUD RS RATU ZALECHA MARTAPURA
Karya Tulis Ilmiah
Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Dalam menyelesaikan Pendidikan pada Program Studi Perekam dan Informasi Kesehatan
ANNA MAULIDA
08D30003
PROGRAM STUDI PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN
STIKES HUSADA BORNEO
BANJARBARU
2011
ii
PENOMORAN SERI PADA REKAM MEDIS RAWAT INAP
DI BLUD RS RATU ZALECHA MARTAPURA
ANNA MAULIDA
08D30003
PROGRAM STUDI PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN
STIKES HUSADA BORNEO
BANJARBARU
2011
iii
LEMBAR PERNYATAAN
Yang bertanda tangga dibawah ini,
Nama : Anna Maulida
NIM : 08D30003
Program Studi : Perekam dan Informasi Kesehatan
Judul KTI : Tinjauan Inefiesiensi Biaya Sebagai Akibat dari Sistem Penomoran Seri pada Rekam Medis Rawat Inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura Dengan ini saya menyatakan bahwa hasil penulisan karya ilmiah yang telah saya buat ini merupakan hasil karya sendiri dan tidak melakukan pelanggaran sebagai berikut :
- Plagiasi tulisan maupun gagasan - Rekayasa dan manipulasi data
- Minta tolong atau membayar orang lain untuk meneliti
- Mengajukan sebagian atau seluruh karya tulis ilmiah untuk publikasi atau untuk memperoleh gelar atau sertifikat atau pengakuan akademik atau profesi di tempat lain
Apabila terbukti saya melakukan pelanggaran tersebut diatas, maka saya bersedia meneirma sanksi berupa pencabutan gelar akademik.
Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tidak dipaksakan
Penulis,
iv Nama : Anna Maulida
NIM : 08D30003
Karya tulis ilmiah ini telah disetujui dan disidangkan,
Banjarbaru, Agustus 2011
Pembimbing Utama,
(Hj. Hosizah, Amd.Perkes, SKM, MKM) NIDN 031 902 7101
Pembimbing Pendamping,
(Apit Widiarta, Amd.PK) NIDN 111 710 8502
Pembimbing Rumah Sakit,
(Irmawan, Amd.PerKes) NIP. 19800118 200803 1 001
v
HALAMAN PENGESAHAN
Nama : Anna Maulida
NIM : 08D30003
Karya tulis ilmiah ini telah dipertahankan di depan dewan penguji dan disetujui, Pada tanggal : 03 Agustus 2011
Penguji 1 (Ketua),
Hj. Hosizah, Amd. Perkes, SKM, MKM NIDN 031 902 7101
Penguji 2 (Anggota),
Apit Widiarta, Amd.PK NIDN 111 710 8502
Penguji 3 (Anggota),
Irmawan, Amd.Perkes NIDN 111 710 8502 Diketahui
Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Borneo
Rusman Efendi, SKM, M.Si NIDN 121 804 7801
Ketua Program Studi Perekam dan Informasi Kesehatan
Deasy Rosmala Dewi, S.KM, M.Kes NIDN 112 602 7501
vi
Anna Maulida. 08D30003
TINJAUAN INEFISIENSI BIAYA SEBAGAI AKIBAT DARI SISTEM PENOMORAN SERI PADA REKAM MEDIS RAWAT INAP DI BLUD RS RATU ZALECHA MARTAPURA
Karya Tulis Ilmiah. Program Studi Perekam dan Informasi Kesehatan. 2011. (xvii + 39 + Lampiran)
Awal tahun 2011 RSUD Ratu Zalecha Martapura menjadi BLUD RS Ratu Zalecha Martapura, rumah sakit pemerintah diharapkan mampu menjalankan fungsinya memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan menonjolkan produktivitas, efisiensi dan efektifitas serta mampu menerapkan manajemen keuangan yang berbasis pada hasil (kinerja). Sistem penomoran seri diimpelementasikan pada rekam medis rawat inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura, sehingga banyak kerugian salah satunya memiliki biaya persediaan yang lebih tinggi karena setiap kunjungan ke rumah sakit membutuhkan penggunaan rekam medis baru serta banyak memakai tempat untuk penyimpanan rekam medis tersebut sehingga mengakibatkan pemborosan biaya yang dikeluarkan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui inefisiensi biaya akibat dari sistem penomoran seri pada rekam medis rawat inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan
case study dengan sampel penelitian rekam medis rawat inap pada periode
tahun 2010 di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura. Instrumen penelitian yaitu lembar pedoman observasi (check list) dan pedoman wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa yaitu total inefisiensi rekam medis rawat inap dengan biaya Rp. 3.000,- dan rak penyimpanan dengan kunjungan rawat ulang 1,6% sebesar Rp. 2.782.500,- per 5 tahun. Total inefisiensi rekam medis rawat inap dengan biaya Rp. 15.000,- dan rak penyimpanan sebesar Rp. 12.802.500,- per 5 tahun. Total inefisiensi rekam medis rawat inap dengan biaya Rp. 3.000,- dan rak penyimpanan dengan kunjungan rawat ulang 20% sebesar Rp. 34.866.000,- per 5 tahun. Total inefisiensi rekam medis rawat inap dengan biaya Rp. 15.000,- dan rak penyimpanan dengan kunjungan rawat ulang 20% sebesar Rp. 160.386.000,- per 5 tahun.
Daftar Pustaka: 18 (1994-2011)
Kata kunci : Inefiesiensi Biaya, Sistem Penomoran Seri, Rekam Medis, Rawat Inap
vii
ABSTRACT
Anna Maulida. 08D30003
INEFFICIENCY OF COST AS A RESULT OF SERIAL NUMBERING SYSTEM ON INPATIENT MEDICAL RECORD IN BLUD RS RATU ZALECHA MARTAPURA
Scientific Writing. The Medical Record and Health Information College. 2011. (xvii + 39 +Annex)
Early in 2011 RSUD Ratu Zalecha Martapura become BLUD RS Ratu Zalecha Martapura, government hospital are expected to perform its functions to provide public health care by emphasizing productivity, efficiency and effectiveness and be able to apply financial management based on the results (performance). Implemented serial numbering system on the inpatient medical record in BLUD RS Ratu Zalecha Martapura, it’s made so much harm, one of them has the higher inventory costs for each visit to the hospital requires the new medical records and many use the space for medical records filing so resulting waste costs incurred. The research goal was to determine due to the cost inefficiency of the serial numbering system on the inpatient medical record in BLUD RS Ratu Zalecha Martapura.
The research method used is descriptive approach case study. The samples were inpatient medical records at 2010 periode in BLUD RS Ratu Zalecha Martapura. Research instrument that is the observation sheet (check list) and interview guides.
Results of the research are the total inefficiency of the inpatient medical records with a cost of Rp. 3.000,- and storage rack filing with readmissions 1,6% Rp. 2.782.500,- per 5 years. The total inefficiency of the inpatient medical records with the cost of Rp. 15.000,- and storage rack filing Rp. 12.802.500,- per 5 years. The total inefficiency of the inpatient medical records and storage rack filing with readmissions 20% Rp. 34,866,000,- per 5 years. The total inefficiency of the inpatient medical records with a cost of Rp. 15.000,- and storage rack filing with readmissions 20% Rp. 160 386 000,- per 5 years.
References: 18 (1994-2011)
Keywords: Inefficiency of Cost, Serial Numbering System, Medical Records, Inpatient
viii
“Man jadda wa jada”
“Orang yang baik itu orang yang bisa membawa kebaikan bagi orang lain…” My dad
“Bagaimanapun hasilnya nanti,
tetapi lakukan hal yang terbaik kamu yang bisa….” AZA (2008)
ix
HALAMAN PERSEMBAHAN
Dedicated to:
My lovely dad,
Though you have left me here I have no hard feelings towards you and I want you to know that. You are such a great man and the perfect daddy. I am
so sorry that you have been so unhappy lately and I hope that in being away you can find true happiness, because despite what you may think, you of all people deserve to be happy. I love you more than you will ever know, and I miss you already. I love you so much and I will miss you but I know that you
will not abandon us, I know I will see you again one day. I love you so much. Be careful, wherever you are. <3
My lovely mom,
I thank you from the heart for all you've done for me. You’re always be my supermom and my inspiration. I love you. <3
My brother and my sista
Even though I might not say I appreciate all you do Richly blessed is how I feel
Having a brother and a sista just like you
Thanks because of you complete me in the sense of perfect To AZA…
Because of him
I am a different person, a better person His honesty helped me to see my weakness, and his support helped me to turn them into strengths
I would thank to him
x
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Tuhan yang memberikan petunjuk ke jalan yang lurus. Tuhan yang memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Tinjauan Inefisiensi Biaya Sebagai Akibat dari Sistem Penomoran Seri pada Rekam Medis Rawat Inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura”.
Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai hasil tugas akhir dalam menyelesaikan studi Program D III Perekam dan Informasi Kesehatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Husada Borneo.
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terwujud tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak yang telah berpartisipasi dalam penulisan ini, sehingga pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Rusman Efendi, S.KM, M.Si selaku Ketua STIKES Husada Borneo.
2. Deasy Rosmala Dewi, S.KM, M.Kes selaku Ketua Program Studi Perekam dan Informasi Kesehatan STIKES Husada Borneo
3. Hj.Hozisah, Amd.Perkes, S.KM, M.KM dan Apit Widiarta, Amd.PK selaku dosen pembimbing atas segala ketulusan dan keikhlasan dalam menyediakan waktu dan memberikan arahan, nasehat, dan perhatian dari awal proses penelitian sampai dengan penyelasaian karya tulis ilmiah ini 4. Ikhwansyah, M.Kes selaku Direktur BLUD RS Ratu Zalecha Martapura. 5. Irmawan, A.Md.Perkes selaku Kepala Instalasi Rekam Medis BLUD RS Ratu
Zalecha Martapura
6. Seluruh staf Instalasi Rekam Medis BLUD RS Ratu Zalecha Martapura yang telah banyak memberikan bantuan kesediaan membimbing dan mengarahkan selama selama kegiatan penelitian.
7. Seluruh pihak yang telah membantu baik selama kegiatan penelitian maupun dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Namun penulis berharap Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
xi
Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik yang dapat membangun untuk memperbaiki demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini. Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat dan petunjuk-Nya kepada kita semua.
Banjarbaru, Agustus 2011
xii
Halaman Depan ... i
Halaman Judul ... ii
Halaman Pernyataan ... iii
Halaman Persetujuan ... iv Halaman Pengesahan ... v Abstrak ... vi Abstract ... vii Motto ... viii Halaman Persembahan ... ix Kata Pengantar ... x
Daftar Isi ... xii
Daftar Tabel ... xv
Daftar Gambar ... xvi
Daftar Lampiran ... xvii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 3 1.3 Tujuan Penelitian ... 4 1.3.1 Tujuan Umum ... 4 13.2 Tujuan Khusus ... 4 1.4 Manfaat Penelitian ... 4 1.4.1 Manfaat Praktis ... 4
1.4.1.1 Bagi Rumah Sakit ... 4
1.4.1.2 Bagi Peneliti ... 4
1.4.2 Manfaat Teoritis... 4
1.4.1.1 Bagi Instutusi Pendidikan ... 4
1.4.1.2 Bagi Peneliti Lain ... 4
1.5 Keaslian Penelitian ... 5 Halaman
xiii
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teori... 6
2.1.1 Inefisiensi... 6
2.1.2 Biaya ... 6
2.1.3 Rekam Medis ... 7
2.1.3.1 Definisi Rekam Medis... 7
2.1.3.2 Tujuan Rekam Medis ... 7
2.1.3.3 Kegunaan Rekam Medis ... 9
2.1.4 Sistem Penomoran Rekam Medis ... 10
2.1.4.1 Sistem Penomoran Unit ... 10
2.1.4.2 Sistem Penomoran Seri ... 10
2.1.4.2 Sistem Penomoran Seri Unit ... 11
2.1.5 Rekam Medis Rawat Inap ... 11
2.2 Landasan Teori... 12
2.3 Kerangka Konsep Penelitian ... 12
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian ... 14
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 14
3.3 Subjek Penelitian ... 14
3.3.1 Populasi Penelitian ... 14
3.3.2. Sampel Penelitian ... 15
3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 15
3.4.1 Variabel Penelitian ... 15
3.4.2 Definisi Operasional ... 15
3.5 Instrumen Penelitian ... 16
3.6 Teknik Pengumpulan Data ... 17
3.7 Teknik Analisa Data ... 18
3.8 Prosedur Penelitian ... 18
3.8.1 Tahap Persiapan Penelitian ... 18
3.8.2 Tahap Pelaksanaan Penelitian ... 18
3.8.3 Tahap Akhir Penelitian ... 18
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian ... 20 4.1.1 Gambaran Umum BLUD RS Ratu Zalecha Martapura 20 4.1.2 Visi dan Misi BLUD RS Ratu Zalecha Martapura ... 20 4.1.3 Indikator Pelayanan BLUD RS Ratu Zalecha
Martapura ... 21 4.1.4 Gambaran Umum Instalasi Rekam Medis BLUD
RS Ratu Zalecha Martapura... 21 4.1.5 Biaya (Cost) per Satu Rekam Medis Rawat Inap ... 22 4.1.6 Jumlah Pasien Rawat Inap dengan Rawat Ulang
(Readmissions) Periode Tahun 2010 ... 23 4.1.7 Inefisiensi Biaya Rekam Medis Ganda dan Rak
Penyimpanan Rekam Medis Rawa Inap Periode
Tahun 2010 ... 29 4.1.7.1 Inefisiensi Biaya Rekam Medis Ganda ... 29 4.1.7.2 Inefisiensi Biaya Rak Penyimpanan
Rekam Medis Rawat Inap ... 31 4.1.7.3 Total Inefisiensi Biaya Rekam Medis Ganda
dan Rak Penyimpanan Rekam Medis
Rawat Inap ... 31 4.2 Pembahasan Penelitian ... 32 4.2.1 Biaya (Cost) per Satu Rekam Medis Rawat Inap ... 32 4.2.2 Jumlah Pasien Rawat Inap dengan Rawat Ulang
(Readmissions) Periode Tahun 2010 ... 33 4.2.3 Total Inefisiensi Biaya Rekam Medis Ganda dan
Rak Penyimpanan Rekam Medis Rawat Inap ... 34
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ... 38 5.2 Saran ... 38
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Indikator Pelayanan BLUD RS Ratu Zalecha Martapura Tahun
2008 – 2010 ... 21 Tabel 4.2 Pasien Rawat Inap dengan Rawat Ulang Tahun 2010 ... 25 Tabel 4.3 Jumlah Inefisiensi Biaya Rekam Medis Rawat Inap Ganda Tahun
2010 ... 30 Halaman
xvi
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian ... 13 Gambar 4.1 Trend Jumlah Pasien Rawat Inap dengan Rawat Ulang Tahun
2010 ... 22 Halaman
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat izin penelitian
Lampiran 2 Daftar judul penelitian dan tempat penelitian Lampiran 3 Surat balasan izin penelitian dari rumah sakit Lampiran 4 Pengantar wawancara penelitian
Lampiran 5 Persetujuan subjek penelitian
Lampiran 6 Pedoman wawancara petugas pendaftaran pasien rawat inap Lampiran 7 Pedoman wawancara petugas penyimpan rekam medis rawat inap Lampiran 8 Pedoman wawancara kepala instalasi rekam medis
Lampiran 9 Pedoman observasi penelitian
Lampiran 10 Struktur Organisasi Instalasi Rekam Medis BLUD RS Ratu Zalecha Martapura
Lampran 11 Hasil Check List
Lampiran 12 Rekam Medis Rawat Inap Pasien Dewasa Perempuan di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura
Lampiran 13 Rak Penyimpanan Rekam Medis Rawat Inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura
Lampiran 14 SOP Penerimaan Pasien Rawat Inap di Tempat Penerimaan Pasien (TPP) Rekam Medis
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan upaya pengelolaan berbagai sumber daya, baik oleh pemerintah maupun masyarakat sehingga dapat tersedia pelayanan kesehatan yang efisien, bermutu dan terjangkau. Hal ini memerlukan dukungan komitmen, kemauan dan etika disertai semangat pemberdayaan yang memprioritaskan upaya kesehatan.
Tahun 2009, telah dikeluarkan UU No 44 tentang rumah sakit. Di dalam pasal 7 di UU tersebut dinyatakan bahwa rumah sakit pemerintah harus menerapkan pola pengelolaan keuangan dengan prinsip Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Dengan menjadi BLUD, rumah sakit pemerintah diharapkan mampu menjalankan fungsinya memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan menonjolkan produktivitas, efisiensi dan efektifitas. Serta mampu menerapkan manajemen keuangan yang berbasis pada hasil (kinerja)(Kominfo RI). Untuk melakukan hal tersebut maka rumah sakit harus berpikir efektif dan efisien atau harus memprinsipkan secara ekonomis artinya sedikit yang diluarkan akan tetapi menghasilkan banyak.
Efisiensi tercapai apabila unit dalam rumah sakit mampu melakukan efisiensi dan efektifitas dari setiap dana yang dikeluar termasuk diantaranya penyelenggaraan rekam medis. Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis, untuk mewujudkan peningkatan mutu pelayanan kesehatan, penyelenggaraan pelayanan kesehatan harus didukung adanya sarana penunjang yang memadai antara lain melalui penyelenggaraan rekam medis di setiap instansi pelayanan kesehatan termasuk di rumah sakit.
Pada penyelenggaraan rekam medis, unit kerja rekam medis bertanggung jawab dalam mengelola rekam medis juga harus melakukan hal yang sama. Efisiensi bisa dicapai apabila pengelolaan sumber daya
2
dilakukan dengan baik, diantaranya sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta sistem rekam medis yang dijalankan. Salah satu sistem rekam medis yaitu pendaftaran pasien yang berfungsi untuk mencatat data administrasi pasien pada saat mendaftar baik di rawat jalan, rawat inap, atau gawat darurat. Pendaftaran pasien terbagi menjadi pendaftaran rawat jalan dan pendaftaran rawat inap.
Pendaftaran (penerimaan) pasien menggunakan berbagai sistem atau metode rekam medis yang ada, meliputi sistem penomoran, sistem penamaan dan Kartu Indeks Utama Pasien (KIUP) atau Master Patient
Index. Sistem penomoran dan sistem penamaan rekam medis digunakan
untuk dapat membedakan rekam medis pasien satu dengan lainnya. Pengumpulan data identifikasi pasien dan pemberian nomor rekam medis atau verifikasi dari mencatat nomor medis yang ada harus menjadi langkah pertama dalam setiap prosedur penerimaan pasien (WHO, 2002).
Sistem penomoran rekam medis terbagi menjadi tiga sistem yaitu sistem penomoran seri, sistem penomoran unit, dan sistem penomoran seri unit. Sistem penomoran tersebut memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing. Sistem penomoran unit merupakan usaha untuk menghindari pemberian ekstra nomor baru untuk setiap kunjungan dan pencarian rekam medis di beberapa tempat. Dengan sistem penomoran unit, fasilitas dengan mudah dapat membuat rekam medis untuk pasien yang disimpan dalam satu tempat penyimpanan. Biaya tenaga kerja berkurang karena dipertahankan jumlah KIUP hanya sekali, dan biaya suplai lebih rendah karena folder rekam medis yang sama digunakan untuk semua kunjungan kecuali jumlah kunjungan melebihi kemampuan penyimpanan folder rekam medis, sehingga mengakibatkan penambahan folder rekam medis (Abdelhak, 2001).
Sistem penomoran seri adalah sistem pemberian nomor di mana pasien menerima nomor untuk setiap pertemuan di fasilitas tersebut. Pasien bisa memiliki beberapa nomor, artinya pasien diperlakukan sebagai pasien baru setiap kali dengan nomor baru, kartu indeks baru dan rekam medis baru, yang diberiakan benar-benar independen dari catatan sebelumnya (tidak bekesinambungan) (IFHRO). Metode ini juga memiliki biaya persediaan yang lebih tinggi karena setiap kunjungan di fasilitas membutuhkan penggunaan folder rekam medis baru serta memakan tempat untuk penyimpanan rekam
medis tersebut. Setiap folder rekam medis baru yang diberikan disimpan pada tempat yang berbeda dan membutuhkan waktu yang lama dalam proses mencari beberapa tempat untuk mengambil seluruh catatan rekam medis pada satu pasien (Abdelhak, 2001). Untuk rumah sakit yang menyediakan pelayanan perawatan rawat jalan (ambulatory care services), dengan menggunakan sistem penomoran seri tidak efektif dalam mengintegrasikan rekam medis rawat inap dan rekam medis rawat jalan (Skurka, 2003).
Sistem penomoran seri unit merupakan adaptasi dari sistem penomoran seri dan sistem penomoran unit yang menggabungkan kedua sistem. Sistem penomoran seri unit, pasien akan mendapatkan nomor baru di setiap kunjungan dengan rumah sakit, tetapi rekam medisnya yang terdahulu digabungkan dan disimpan dibawah nomor yang paling baru (IFHRO). Dengan sistem penomoran seri unit dapat menciptakan satu rekam medis yang berisi informasi dari semua kunjungan pasien.
Berdasarkan studi pendahuluan pada tanggal 27 April 2011 sistem penomoran seri diimpelementasikan pada rekam medis rawat inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura, sehingga banyak kerugian terjadi seperti yang disebutkan di atas. Dengan menggunakan sistem penomoran seri pada rekam medis rawat inap maka terjadi ketidakefisiensian (inefisiensi) pada biaya dikarenakan seorang pasien dapat memiliki beberapa nomor rekam medis sehingga mengakibatkan pemborosan biaya yang dikeluarkan. Dengan dilatarbelakangi oleh beberapa uraian masalah tentang inefisiensi biaya sebagai akibat dari penggunaan sistem penomoran seri pada rekam medis rawat inap, maka peneliti mengangkat judul karya tulis ilmiah “Tinjauan Inefisiensi Biaya Sebagai Akibat dari Sistem Penomoran Seri pada Rekam Medis Rawat Inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah berapakah inefisiensi biaya (cost) sebagai akibat dari sistem penomoran seri pada rekam medis rawat inap di Badan Layanan Umum Daerah RS Ratu Zalecha Martapura?
4
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui inefisiensi biaya akibat dari sistem penomoran seri pada rekam medis rawat inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi biaya (cost) per satu rekam medis rawat inap b. Mengidentifikasi jumlah pasien rawat inap dengan rawat ulang
(readmisions) periode tahun 2010
c. Menghitung total inefisiensi biaya rekam medis rawat inap ganda dan rak penyimpanan rekam medis rawat inap
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Praktis
1.4.1.1 Bagi Rumah Sakit
Dapat digunakan sebagai bahan evaluasi bagi pihak rumah sakit dalam menyusun kebijakan dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit.
1.4.1.2 Bagi Peneliti
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta pengalaman yang berharga secara langsung di rumah sakit dengan menerapkan teori yang peneliti peroleh dari institusi pendidikan.
1.4.2 Manfaat Teoritis
1.4.2.1 Bagi Institusi Pendidikan
Dapat menjadi bahan masukan dalam pembelajaran ilmu rekam medis dan meningkatkan pengetahuan tentang rekam medis.
1.4.2.2 Bagi Peneliti Lain
Dapat digunakan sebagai acuan dalam pendalaman materi yang bersangkutan untuk kelanjutan penelitian yang relevan.
1.5 Keaslian Penelitian
Sepengetahuan peneliti, penelitian tentang “Tinjauan Inefisiensi Biaya Sebagai Akibat dari Sistem Penomoran Seri pada Rekam Medis Rawat Inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura” belum pernah dilakukan oleh peneliti lain.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teori 2.1.1 Inefisiensi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, inefisiensi adalah pemborosan; pemubaziran; ketidakefisienan. Dan menurut Wiktionary “degree or measure of someone or something's lack of
efficiency or effectiveness” yaitu derajat atau ukuran kekurangan oleh
seseorang atau sesuatu dari efisiensi atau efektivitas. Dalam penyelenggaraan di unit rekam medis inefisiensi dapat berupa pemborosan penggunaan rekam medis sehingga terjadi ketidakefisienan dalam penggunaan rekam tersebut.
2.1.2 Biaya
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, biaya merupakan uang yang dikeluarkan untuk mengadakan (mendirikan, melakukan, dan sebagainya) sesuatu; ongkos; atau pengeluaran. Melalui pendekatan ekonomi, biaya dirumuskan sebagai nilai masukan atau sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan keluaran (produk pelayanan kesehatan) (Huffman, 1994).
Di dalam pelayanan kesehatan definisi efisiensi tidak hanya dihitung dalam pengiritan jumlah uang yang dibelanjakan, namun harus berdasarkan hasil yang diperoleh dari pemanfaatan alat tersebut bagi kentingan pertolongan nyawa seseorang (Huffman, 1994). Salah satu biaya yang ada di pelayanan kesehatan adalah biaya rekam medis, yaitu uang dikeluarkan untuk pengadaan rekam medis.
2.1.3 Rekam Medis
2.1.3.1 Definisi Rekam Medis
Rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien di sarana pelayanan kesehatan (Hatta, 2008).
Rekam medis adalah fakta yang berkaitan dengan keadaan pasien, riwayat penyakit dan pengobatan masa lalu serta saat ini yang tertulis oleh profesi kesehatan yang memberikan pelayanan kepada pasien tersebut (Huffman, 1994).
2.1.3.2 Tujuan Rekam Medis
Tujuan rekam medis adalah menunjang tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Karena dengan adanya tertib administrasi, merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam upaya pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dapat diraih atau dicapai apabila didukung oleh suatu sistem pengelolaan rekam medis yang baik dan benar. Dengan majunya teknologi informasi, kegunaan rekam medis dapat dilihat dalam 2 kelompok besar. Pertama, yang paling berhubungan langsung dengan pelayanan pasien (primer). Kedua, yang berkaitan dengan lingkungan seputar pelayanan pasien namun tidak berhubungan langsung secara spesifik (sekunder) (Hatta, 2009).
a. Tujuan utama (primer), terbagi menjadi 5 kepentingan yaitu untuk:
1) Pasien, rekam medis merupakan alat bukti utama yang mampu membenarkan adanya pasien dengan identitas yang jelas dan telah mendapatkan berbagai pemeriksaan dan pengobatan di sarana pelayanan kesehatan dengan segala hasil serta konsekuensi biayanya.
8
2) Pelayanan medis, rekam kesehatan mendokumentasikan pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan, penunjang medis dan tenaga lain yang bekerja dalam berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan demikian rekam medis membantu pengambilan keputusan tentang tindakan, terapi dan penentuan diagnosis pasien. Selain itu rekam medis juga digunakan sebagai sarana komunikasi antar tenaga kesehatan.
3) Manajemen pelayanan, rekam medis yang lengkap memuat segala aktivitas yang terjadi dalam manajemen pelayanan sehingga digunakan dalam menganalisis berbagai penyakit, menyusun pedoman praktik, serta untuk mengevaluasi mutu pelayanan yang diberikan.
4) Menunjang pelayanan, rekam medis yang rinci akan mampu menjelaskan aktivitas yang berkaitan dengan penanganan sumber-sumber yang ada pada organisasi pelayanan di rumah sakit, menganalisis kecenderungan yang terjadi dan mengkomunikasikan informasi di antara klinik yang berbeda.
5) Pembiayaan, rekam medis yang akurat mencatat segala pemberian pelayanan kesehatan yang diterima pasien.
b. Tujuan sekunder
Tujuan sekunder rekam medis ditujukan kepada hal yang berkaitan dengan lingkungan seputar pelayanan pasien, yaitu untuk kepentingan edukasi, riset, peraturan dan pembuatan kebijakan (Hatta, 2009).
2.1.3.3 Kegunaan Rekam Medis
Kegunaan rekam medis menurut Edna K. Huffman (1994) adalah:
a. Dalam pengelolaan pasien
1) Sebagai bukti tertulis atas segala tindakan pelayanan perkembangan penyakit dan pengobatan selama pasien berkunjung atau dirawat pada institusi pelayanan kesehatan
2) Sebagai alat komunikasi antara dokter denga tenaga ahli lainnya yang ikut ambil bagian didalam memberikan pelayanan pengobatan kepada pasien 3) Sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan
atau perawatan yang harus diberikan kepada pasien b. Dalam mengevaluasi kualitas pada pasien
Dipergunakan sebagai bahan yang berguna untuk analisa, penelitian dan evaluasi terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien.
c. Dalam pembayaran atas jasa pelayanan
Digunakan sebagai dasar perhitungan biaya pelayanan medis pasien
d. Dalam pelindungan hukum
Digunakan untuk melindungi kepentingan hukum bagi pasien, institusi pelayanan kesehatan, dokter dan tenaga kesehatan lainnya
e. Dalam penelitian
Dapat menyediakan kasus studi yang aktual bagi pendidikan professional kesehatan
f. Dalam pendidikan
Rekam medis menyediakan data yang dapat memperluas pengetahuan medis
g. Dalam pelayanan kesehatan masyarakat
Dapat mengidentifikasi terjadi wabah penyakit sehingga perencanaan dapat dilakukan untuk
10
mengingkatkan derajat kesehatan secara nasional dan internasional
h. Dalam perencanaan pemasaran
Rekam medis digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan data guna memilih dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
2.1.4 Sistem Penomoran Rekam Medis
2.1.4.1 Sistem Penomoran Unit (Unit Numbering System)
Sistem penomoran unit memberikan satu unit rekam medis baik kepada pasien rawat jalan dan rawat inap. Pasien yang berkunjung pertama kali untuk berobat jalan atau rawat inap akan diberikan satu nomor yang akan dipakai selamanya untuk kunjungan seterusnya dan rekam medisnya tersimpan di dalam satu berkas dengan nomor yang sama (Hatta, 2009). Sebagian besar fasilitas besar menggunakan sistem penomoran unit (LaTour, 2002).
2.1.4.2 Sistem Penomoran Seri (Serial Numbering System)
Sistem unit seri yaitu pasien diberi nomor rekam medis yang berbeda untuk setiap kunjungan ke rumah sakit. Beberapa rekam medis untuk pasien yang sama akan disimpan di tempat yang berbeda (McMiller, 2002).
Dengan sistem penomoran seri setiap pasien mendapat nomor baru setiap kunjungan ke rumah sakit, misalnya berkunjung 5 kali, maka pasien tersebut mendapat 5 nomor yang berbeda. Semua nomor tersebut harus dicatat pada Kartu Indeks Utama Pasien (KIUP) pasien yang bersangkutan. Sedangkan rekam medisnya disimpan diberbagai tempat sesuai nomor yang telah diperoleh (Hatta, 2009).
Sistem penomoran seri tidak digunakan secara luas, pada saat ini hanya berguna di rumah sakit kecil dengan rendahnya tingkat pendaftaran kembali (WHO, 2002). Ahli menyarankan bahwa sistem penomoran seri dapat efisien jika
menampung tidak lebih dari 25.000 rekam medis (LaTour, 2002) dan tingkat pasien kembali rendah atau populasi yang disediakan adalah sementara (Abdelhak, 2001).
2.1.4.3 Sistem Penomoran Seri Unit (Serial Unit Numbering
System)
Sistem penomoran seri unit merupakan gabungan antara sistem penomoran seri dan sistem penomoran unit. Setiap pasien yang berkunjung ke rumah sakit, akan diberikan satu nomor baru, tetapi rekam medisnya yang terdahulu digabungkan dan disimpan di bawah nomor yang paling baru sehingga terciptalah satu unit rekam medis. Apabila rekam medis lama diambil dan dipindahkan tempatnya ke nomor yang baru, di tempat yang lama diberi tanda petunjuk yang menunjukkan kemana rekam medis tersebut dipindahkan. Tanda petunjuk tersebut diletakkan menggantikan tempat rekam medis yang lama.
2.1.5 Rekam Medis Rawat Inap
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI 129/Menkes/SK/II/2008, rekam medis rawat inap adalah dokumen rekam medis pasien baru atau pasien lama yang digunakan pada pelayanan rawat inap. Waktu penyediaan dokumen rekam medis pelayanan rawat inap adalah waktu mulai pasien diputuskan untuk rawat inap oleh dokter sampai rekam medis rawat inap tersedia di bangsal pasien. Rekam medis pasien rawat inap mulai diisi di bagian penerimaan (pendaftaran) di rumah sakit atau sebelum dirawat dalam bentuk pemeriksaan pra-perawatan atau bentuk data lainnya. Ditempat pendaftaran pasien atau yang mewakilinya memberikan data identitas dan keuangan dan menandatangani formulir persetujuan untuk pengobatan dan pembebasan informasi (Huffman, 1994).
12
2.2 Landasan Teori
Dalam penelitian ini, peneliti mengacu pada teori WHO (2002) “SATU PASIEN→ NOMOR REKAM MEDIS= SATU REKAM MEDIS (One Patient→
One Medical Record Number= One Medical Record)”. Di beberapa rumah
sakit, setiap kali pasien datang ke rumah sakit, nomor rekam medis baru diberikan dan rekam medis baru dimulai. Dengan sistem ini, pasien bisa memiliki banyak rekam medis tersebar di seluruh ruangan file. Hal ini tidak dianjurkan. Untuk perawatan pasien yang baik, pasien harus memiliki satu rekam medis dengan semua pelayanan dalam satu catatan dan disimpan di satu tempat. Untuk tujuan manual ini, akan mengacu pada metode penyimpanan rekam medis.
Menurut Abdelhak (2001), dengan sistem penomoran seri memiliki biaya persediaan yang lebih tinggi karena setiap pertemuan di fasilitas ini membutuhkan penggunaan folder rekam medis baru serta memakan tempat untuk penyimpanan rekam medis tersebut. Setiap folder rekam medis baru yang diberikan disimpan pada tempat yang berbeda dan membutuhkan waktu yang lama dalam proses mencari beberapa tempat untuk mengambil. Untuk rumah sakit yang menyediakan pelayanan perawatan rawat jalan (ambulatory care services), sistem penomoran seri tidak efektif dalam mengintegrasikan rekam medis rawat inap dan rekam medis rawat jalan (Skurka, 2003).
Sistem penomoran seri tidak digunakan secara luas, pada saat ini hanya berguna di rumah sakit kecil dengan rendahnya tingkat pendaftaran kembali (WHO, 2002). Ahli menyarankan bahwa sistem penomoran seri dapat efisien jika menampung tidak lebih dari 25.000 rekam medis (LaTour, 2002) dan tingkat pasien kembali rendah atau populasi yang disediakan adalah sementara (Abdelhak, 2001).
2.3 Kerangka Konsep Penelitian
Tujuan penelitian yang diharapkan adalah mengetahui inefisiensi biaya sebagai akibat dari sistem penomoran seri pada rekam medis rawat inap. Untuk mencapai tujuan tersebut adalah perlu adanya kebijakan, SDM, serta sarana dan prasarana. Kebijakan sebagai prosedur serta ketentuan yang mengatur tentang proses pemberian nomor rekam medis, SDM yaitu
petugas rekam medis yang bertanggung jawab memberikan nomor rekam medis di bagian pendaftaran (penerimaan pasien) rawat inap, serta sarana prasarana yang terkait dengan pelayanan rekam medis.
Setelah ada kebijakan, SDM, dan sarana prasarana perlu adanya proses dalam pelaksanaan pada pendaftaran pasien yaitu menggunakan sistem penomoran seri pada rekam medis rawat inap dengan mengidentifkasi biaya per satu rekam medis rawat inap, jumlah pasien rawat inap dengan rawat ulang dan total inefisiensi biaya rekam medis ganda dan sarana prasarana penyimpanan.
Dari proses tersebut maka tujuan yang akan dicapai dapat terwujud yaitu mengetahui inefisiensi biaya akibat dari sistem penomoran seri pada rekam medis rawat inap. Maka kerangka konsep yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat di lihat pada gambar 2.1.
Keterangan gambar :
= Variabel yang diteliti
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian
INPUT PROSES OUTPUT
- Kebijakan - SDM - Sarana
prasarana
Sistem penomoran seri - Biaya per 1 rekam
medis
- Jumlah pasien rawat inap dengan rawat ulang periode tahun 2010
- Total inefisiensi biaya rekam medis rawat inap ganda dan rak penyimpanan rekam medis rawat inap
Inefisiensi Biaya akibat dari sistem
penomoran seri rekam medis
14
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Notoatmodjo (2005), metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. Dalam penelitian ini, peneliti bermaksud memberikan deskripsi atau gambaran mengenai inefisiensi biaya sebagai akibat dari sistem penomoran seri pada rekam medis rawat inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura.
Rancangan penelitian dalam penelitian ini menggunakan case study. Menurut Notoatmodjo (2005), penelitian case study (studi kasus) dilakukan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal. Dengan rancangan penelitian ini, pengumpulan data mengenai inefisiensi biaya akibat dari sistem penomoran seri pada rekam medis rawat inap.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dengan judul “Tinjauan Inefisiensi Biaya Sebagai Akibat dari Sistem Penomoran Seri pada Rekam Medis Rawat Inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura” dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Juli 2011 di Instalasi Rekam Medis BLUD RS Ratu Zalecha Martapura bagian pendaftaran pasien rawat inap dan ruang penyimpanan rekam medis rawat inap.
3.3 Subjek Penelitian
3.3.1 Populasi Penelitian
Menurut Notoadmodjo (2005), populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. Populasi penelitian adalah seluruh rekam medis inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Teknik sampling yang digunakan adalah non random (non probability) purposive
sampling. Menurut Notoadmodjo (2005), pengambilan sampel secara purposive didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat
oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Sampel penelitian adalah rekam medis rawat inap pada periode tahun 2010 di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura.
3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.4.1 Variabel Penelitian
Adapun menjadi variabel penelitian adalah inefisiensi biaya sebagai akibat dari sistem penomoran seri pada rekam medis rawat inap, yang terdiri dari subvariabel yaitu :
a. Kebijakan
b. Sumber daya manusia (SDM) c. Sarana dan prasarana
d. Sistem penomoran seri rekam medis rawat inap - Biaya per satu rekam medis
- Jumlah pasien rawat inap dengan rawat ulang tahun 2010 - Total inefisiensi biaya rekam medis rawat inap ganda dan rak
penyimpanan rekam medis rawat inap
3.4.2 Definisi Operasional
Untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel yang diteliti atau diamati, perlu sekali variabel-variabel-variabel-variabel tersebut diberi batasan atau definisi operasional (Notoatmodjo, 2005).
a. Kebijakan meliputi segala prosedur serta ketentuan yang mengatur tentang proses pemberian nomor rekam medis
b. Sumber daya manusia (SDM) adalah petugas rekam medis yang bertanggungjawab memberikan nomor rekam medis di bagian pendaftaran (penerimaan) pasien rawat inap
16
c. Sarana prasarana adalah fasilitas-fasilitas yang terkait dengan pelayanan rekam medis
d. Sistem penomoran seri yaitu sistem pemberian nomor dimana setiap pasien yang berkunjung di rumah sakit selalu mendapat nomor baru.
e. Pelaksanaan pemberian nomor rekam medis meliputi petugas pemberian nomor rekam medis, fasilitas pemberian nomor rekam medis, dan proses pemberian nomor rekam medis serta penyebab terjadinya penomoran ganda.
f. Rekam medis rawat inap adalah rekam medis pasien baru atau pasien lama yang digunakan pada pelayanan rawat inap
g. Rak penyimpanan rekam medis rawat inap adalah tempat meletakan rekam medis rawat inap sesuai dengan urutan nomor untuk disimpan
h. Inefisiensi biaya sebagai akibat dari sistem penomoran seri pada rekam medis rawat inap adalah kisaran biaya yang hilang akibat dari sistem penomoran seri rawat inap sehingga terjadi pemborosan biaya yang disebabkan pasien memiliki lebih dari dua nomor rekam medis
3.5 Instrumen Penelitian
Untuk mendapatkan data penelitian yang dibutuhkan, peneliti menggunakan beberapa alat ukur, yaitu :
a. Pedoman Observasi (Checklist)
Pedoman observasi berisi daftar hal-hal yang perlu diamati yang telah disusun sebelumnya dan menggunakan alat tulis untuk mencatat hasil observasi. Menurut Notoatmodjo (2005), checklist adalah suatu daftar pengecek berisi subjek dan beberapa gejala atau identitas lainnya dari sasaran pengamatan.
b. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara berisi daftar pertanyaan yang telah disusun sebelumnya, dengan menggunakan alat tulis untuk mencatat hasil wawancara, sedangkan recorder untuk merekam hasil wawancara.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini antara lain: a. Observasi
Menurut Notoatmodjo (2005) observasi atau pengamatan adalah suatu prosedur yang berencana, yang antara lain meliputi melihat dan mencatat jumlah dan taraf aktivitas tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. Penelitian ini menggunakan observasi berstruktur. Pada observasi berstruktur, peneliti telah mengetahui tentang variabel yang akan diamati. Dengan mengetahui variabel yang akan diamati sehingga akan lebih relevan dengan masalah dan tujuan penelitian karena pada pengamatan peneliti telah terlebih dahulu mempersiapkan materi pengamatan dan instrumen yang digunakan.
Observasi dilakukan pada data sekunder yaitu buku register pendaftaran (penerimaan) pasien rawat inap tahun 2010 dan rekam medis rawat inap untuk mengidentifikasi pasien rawat inap yang memiliki lebih dari dua nomor rekam medis (ganda)
b. Wawancara
Menurut Notoatmodjo (2005), wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, dimana peneliti mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari sasaran penelitian (responden), atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (face to face).
Wawancara akan dilakukan secara terstruktur dan terbuka, dimana peneliti melakukan wawancara kepada petugas terkait pemberian nomor rekam medis di pendaftaran rawat inap yang kemudian dicross check kepada Kepala Instalasi Rekam Medis dengan menggunakan pedoman wawancara berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
18
3.7 Teknik Analisa Data
Teknik analisis data secara umum menggunakan analisis univariat. Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian (Notoatmodjo, 2010). Data yang diperoleh dari hasil pengumpulan dapat disajikan dalam bentuk tekstular dan tabular.
3.8 Prosedur Penelitian
3.8.1 Tahap Persiapan Penelitian
Tahap persiapan peneliti melakukan identifikasi masalah atau topik KTI terlebih dahulu bersamaan dengan PKL V di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura. Kemudian peneliti mengajukan judul penelitian sesuai dengan identifikasi masalah kepada dosen pembimbing. Peneliti mengurus surat perijinan penelitian melalui Sekretariat DIII Perekam dan Informasi Kesehatan setelah judul penelitian disetujui oleh dosen pembimbing. Selanjutnya surat ijin penelitian tersebut diserahkan ke BLUD RS Ratu Zalecha Martapura. Setelah pihak rumah sakit menyetujui ijin penelitian, maka peneliti melakukan studi pendahuluan dengan mulai merumuskan masalah dan merencanakan instrumen yang dibutuhkan untuk pengumpulan data pada saat penelitian. Kegiatan ini dirumuskan dalam proposal penelitian. Setelah proposal penelitian yang telah disetujui dosen pembimbing maka peneliti dapat melakukan penelitian.
3.8.2 Tahap Pelaksanaan Penelitian
Tahap pelaksanaan peneliti mulai melakukan pengumpulan data. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan peneliti yaitu berupa observasi (pengamatan) dan wawancara.
3.8.3 Tahap Akhir Penelitian
Tahap akhir peneliti mengolah data yang telah didapat untuk kemudian disusun menjadi sebuah laporan penelitian.
3.9 Keterbatasan dan Kelemahan Penelitian
Dengan judul penelitian “Tinjauan Inefisiensi Biaya Sebagai Akibat dari Sistem Penomoran Seri pada Rekam Medis Rawat Inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura”, maka peneliti hanya membatasi berdasarkan variabel yaitu inefisiensi biaya sebagai akibat dari sistem penomoran seri pada rekam medis rawat inap. Adapun keterbatasan dan kelemahan yaitu pada penelitian adalah sampel hanya menggunakan rekam medis rawat inap periode tahun 2010 dikarenakan ketidaktersediaanya data pada tahun sebelumnya serta sulitnya dalam identifikasi pada sumber data. Dan juga peneliti tidak meneliti pada sudut pandang dokter terhadap kerugian dari sistem penomoran seri rekam medis rawat inap.
20
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum BLUD RS Ratu Zalecha Martapura
RSUD Ratu Zalecha Martapura adalah RSUD milik pemerintah Kabupaten Banjar yang berdiri sejak tahun 1963 dan merupakan Rumah Sakit Umum kelas C sesuai dengan Surat keputusan Menteri Kesehatan RI no. 214/Menkes/SK/II/1993 tanggal 26 Februari 1993. Tepat diawal tahun baru 2011, RSUD Ratu Zalecha Martapura ditetapkan oleh Bupati Banjar melalui Surat Keputusan Nomor 557 tahun 2010 sebagai rumah sakit dengan status pola pengelolaan keuangan badan layanan umum daerah (PPK-BLUD) maka menjadi BLUD RS Ratu Zalecha.
Kemampuan pelayanan yang dimiliki sampai saat ini ada 4 (empat) spesialis dasar (anak, bedah, umum, penyakit dalam, kebidanan) dan 6 (enam) spesialis penunjang pelayanan (spesialis mata, anestesi, patologi klinik dan Radiologi, orthopedi). Kapasitas tempat tidur sebanyak 194 tempat tidur, terdiri dari ruang VIP Intan, VIP, ruang kelas I, ruang kelas II, ruang kelas III, ruang isolasi, ruang ICU dan ruang perinatologi. BLUD RS Ratu Zalecha Martapura merupakan pusat rujukan kesehatan dalam wilayah Kabupaten Banjar dan wilayah lain sekitarnya.
Dengan keadaan tersebut dari tahun ke tahun BLUD RS Ratu Zalecha Martapura terus berbenah diri untuk meningkatkan citra rumah sakit sebagai wujud nyata dalam pelayanan kesehatan prima.
4.1.2 Visi dan Misi BLUD RS Ratu Zalecha Martapura
Visi BLUD RS Ratu Zalecha Martapura adalah “Rumah Sakit Bermutu dan Profesional”.
Adapun misi BLUD RS Ratu Zalecha Martapura yaitu : a. Menyediakan pelayanan kesehatan komprehensif dan religius b. Memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar mutu
c. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan pola kemitraan d. Menyelenggarakan tertib administrasi dan keuangan
e. Menjadi pusat kajian pendidikan, pelatihan dan penelitian
4.1.3 Indikator Pelayanan BLUD RS Ratu Zalecha Martapura
Tabel 4.1. Indikator Pelayanan BLUD RS Ratu Zalecha Martapura Tahun 2008 - 2010
No Indikator 2008 2009 2010 Standar
Nasional
1. Rata-rata pemakaian TT
Bed Occupancy Rate
(BOR)
67,77% 71,40% 71,84% 60-85% 2. Rata-rata lama pasien di
rawat (Av. LOS) 4,1 hari 4 hari 4,2 hari 3-6 hari 3. Turn Over Internal (TOI) 2 hari 2 hari 2 hari 1-3 hari 4. Frekuensi pemakaian TT
Bed Turn Over (BTO) 63,1 kali 61,7 kali 72,13 kali 40-50 kali
5. Angka kematian netto
Netto Dead Rate (NDR) 17,24 ‰ 17,24 ‰ 16,9 ‰ < 25/ ‰
6. Angka kematian kasar
Gross Dead Rate (GDR) 41,96 ‰ 36,20 ‰ 34,23 ‰ > 45/ ‰
Sumber : Instalasi Rekam Medis BLUD RS Ratu Zalecha Martapura
4.1.4 Gambaran Umum Instalasi Rekam Medis BLUD RS Ratu Zalecha Martapura
Instalasi Rekam Medis BLUD RS Ratu Zalecha Martapura dipimpin oleh seorang Kepala Instalasi Rekam Medis. Kepala Instalasi Rekam Medis bertanggung jawab kepada Direktur Rumah Sakit. Kepala Instalasi Rekam Medis membawahi Korespondensi Medik, Pelaporan, TPP Rawat Jalan, TPP Rawat Inap, Pengelola Data Rawat Inap, Assembling, Coding/Indeksing, Filing, dan Sensus Harian (struktur organisasi rekam medis terlampir).
22
4.1.5 Biaya (Cost) per Satu Rekam Medis Rawat Inap
Dari hasil penelitian yang mengola dalam penganggaran rekam medis rawat inap yaitu oleh Sub Bagian Program yang mana biaya per satu set rekam medis rawat inap adalah Rp. 3.000,-. Adapun untuk satu set rekam medis rawat inap terdiri dari :
- Untuk rekam medis rawat inap pasien dewasa pria, dewasa perempuan, dan perawatan penyakit anak
a. Map sampul
b. Formulir ringkasan masuk dan keluar c. Formulir ringkasan keluar (resume)
d. Formulir riwayat penyakit dan pemeriksa fisik
e. Formulir pemeriksaan fisik (status generalis dan status lokalis) f. Formulir riwayat penyakit dan pemeriksa fisik (sambungan) g. Formulir grafik suhu nadi
h. Formulir catatan perkembangan i. Formulir catatan perawatan atau bidan j. Formulir salinan resep dan koresponden
k. Formulir rekaman asuhan keperawatan pelaksanaan perawatan kesehatan
- Untuk rekam medis rawat inap perawatan bersalin obstetri a. Map sampul
b. Formulir ringkasan masuk dan keluar c. Formulir ringkasan keluar (resume) d. Formulir partograf
e. Formulir catatan persalinan
f. Formulir perjalanan penyakit perintah dokter dan pengobatan g. Formulir laporan persalinan
h. Formulir grafik suhu nadi i. Formulir salinan resep
j. Formulir hasil-hasil pemeriksaan laboraturium dan x-ray atau foto k. Formulir penempelan surat-surat korespondensi
l. Formulir rekaman asuhan kebidanan
m. Formulir rekaman asuhan keperawatan pelaksanaan perawatan kesehatan
- Untuk rekam medis rawat inap perawatan bersalin gynekologi a. Map sampul
b. Formulir ringkasan masuk dan keluar c. Formulir ringkasan keluar (resume) d. Formulir anamnesa
e. Formulir pemeriksaan fisik
f. Formulir perjalanan penyakit perintah dokter dan pengobatan g. Formulir laporan persalinan
h. Formulir grafik suhu nadi i. Formulir salinan resep
j. Formulir hasil-hasil pemeriksaan laboraturium dan x-ray atau foto k. Formulir penempelan surat-surat korespondensi
l. Formulir rekaman asuhan kebidanan
m. Formulir rekaman asuhan keperawatan pelaksanaan perawatan kesehatan
- Untuk rekam medis rawat inap perinatologi atau bayi baru lahir a. Map sampul
b. Formulir ringkasan masuk dan keluar c. Formulir ringkasan keluar (resume) d. Formulir penyakit dan pemeriksa fisik
e. Formulir pemeriksaan fisik (status generalis dan status lokalis) f. Formulir riwayat penyakit dan pemeriksa fisik (sambungan) g. Formulir pemeriksaan bayi baru lahir
h. Formulir keadaan bayi segera sesudah lahir
i. Formulir catatan perawat bayi baru lahir grafik suhu dan nadi j. Formulir catatan perawat bayi baru lahir
k. Formulir identifikasi bayi
n. Formulir rekaman asuhan kebidanan
l. Formulir rekaman asuhan keperawatan pelaksanaan perawatan kesehatan
24
4.1.6 Jumlah Pasien Rawat Inap dengan Rawat Ulang (Readimisions) Periode Tahun 2010
Berdasarkan hasil penelitian maka didapatkan trend jumlah pasien rawat inap dengan rawat ulang (readmission) pada tahun 2010 dari dengan seluruh diagnosis, dapat dilihat pada gambar 4.1.
Gambar 4.1 Trend Jumlah Pasien Rawat Inap dengan Rawat Ulang
(Readmissions) di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura Tahun 2010
Dari gambar 4.1 di atas menunjukkan jumlah pasien rawat inap dengan rawat ulang tahun 2010 dengan jumlah tertinggi yaitu pada bulan Februari dengan jumlah 19 pasien rawat inap dan jumlah terendah pada bulan Oktober dengan jumlah 10 pasien rawat inap.
Adapun hasil identifikasi pasien rawat inap dengan rawat ulang tahun 2010 dari register penerimaan pasien rawat inap dapat dilihat pada tabel 4.2 :
Tabel 4.2 Pasien Rawat Inap dengan Rawat Ulang (Readmissions) di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura Tahun 2010
No Nama Alamat No. RM
1 Siti Kholisah, An Pekauman 10 76 97
10 89 79 10 96 47 11 07 63 11 18 46 11 30 61 11 37 54 11 43 81 11 49 39 11 61 54 2 Andre, An Pemurus 10 80 20 10 80 30 11 10 17 11 20 26 11 32 05 11 55 08 3. Murzani, An Sei Lakuan Kertak
Hanyar 10 80 21 10 93 74 11 04 76 11 17 19 11 29 63 11 40 68 11 51 00 11 62 79 4. M. Saman, An Sei. Paring
Martapura 10 81 24 10 92 96 11 05 11 11 16 65 11 29 54 11 41 16 11 55 13 11 68 99 5. Ana Miftahul Jannah,
An Lorong Bupati Rantau 10 74 81 10 86 63 11 04 50 11 15 23 11 27 79 11 41 27
26
No Nama Alamat No. RM
6. Amelia Aulia Rahma, An Cabi Kec. Simpang 4 Pengaron 10 81 57 10 92 22 11 05 69 11 16 00 11 23 16 11 35 26 11 45 15 11 55 03 11 67 94 7. Nurul Hafizah, An Jl.Menteri 4
Martapura 10 71 37 10 86 08 10 97 70 11 07 53 11 17 60 11 51 41 11 31 24 11 45 19 11 65 15 8. Gt. Adistya, An Sungai Paring 11 49 96 11 60 56 11 02 85 11 11 66 10 75 02 10 85 37 11 18 81 10 94 31 11 28 01 11 36 99 11 68 34 11 41 78 9. Sophia, An Astambul 10 75 44 11 00 16 10 86 67 11 07 16 11 28 48 11 18 69 11 65 45 11 39 26 11 56 28
No Nama Alamat No. RM
10. M. Rizal, An Dalam Pagar 10 97 00
10 84 93 11 06 66 11 29 93 11 37 53 11 44 71 11 71 20 11 57 31 11 16 06
11. Nur Jannah, An Pakauman 10 76 35
10 74 90 11 16 07 11 49 14 11 24 27 10 96 26 11 57 29 11 37 56 11 02 22 10 90 07 11 43 43 11 08 11 11 30 62 10 86 48 11 65 48 12. Rabiatul, Nn Murung Keraton 11 15 56 10 98 66 10 87 67 11 29 78 11 53 43 11 71 68 13. Ratnawati, An Sungai Arfat 11 01 03 10 85 33 11 51 42 11 23 24 11 32 67 11 42 45 11 65 13 11 11 67
28
No Nama Alamat No. RM
14. Husni Tamrin, An Cindai Alus Martapura
11 09 33 11 27 78 11 65 70 11 47 43 15. H. M. Kamruni, Tn Komp. Amaco
Banjarbaru
11 02 69 11 58 14 11 46 33 11 24 96 16. Bahtiar, Tn Jawa Laut Martapura 11 11 16 11 28 35 17. M. Alif Bais S, An Balitan 3 Banjarbaru 11 06 77 10 84 49 11 62 16 18. Rahman Sadikin, An Jl. Manarap Tengah
Kertak Hanyar 11 26 61 10 72 34 10 82 42 11 69 51 11 00 48 10 91 39 11 52 92 11 09 36 11 35 07 11 42 46 11 18 25 11 63 39 19. M. Rif'at Faisa, An Simpang V Galam
Rabah 11 52 98 11 55 42 20 Andre, Tn Veteran Gg. 4 Mei 10 74 03 10 74 70
21 Hj, Mamas, Ny Sekumpul 11 09 17
11 16 50
22 Fahridawati, Ny Binuang 11 06 00
10 72 71
23 Samsuri Ahmad, Tn Aranio 11 20 01
11 27 76
24 Nawawi, Tn Murung Kenanga,
Jl.Kubah
11 14 02 11 56 32
25 Ardiansyah, Tn Batas Kota 10 81 48
No Nama Alamat No. RM
26. Nor Hasanah, Ny Jl.Menteri 4 Martapura
10 86 62 10 90 68 27. Gt. Setia Darma, Tn Banjarbaru 11 07 18 11 08 68 28. M. Asy'ari, Tn Keraton 11 63 44 11 86 98 11 36 43 29. Drs. Irmansyah Saleh, Tn Nusa Indah 10 99 43 11 03 38
30. Rifali, An Tanjung Rema 10 71 08
10 95 66 31. M. Kharil Akmal, An Banua Permai 10 92 61 10 93 95 Pada tabel 4.2 di atas menunjukkan hasil identifikasi pasien rawat inap dengan rawat ulang pada tahun 2010 adalah pasien rawat inap dengan rawat ulang pada tahun 2010 yaitu berjumlah 31 pasien dengan jumlah 167 kunjungan rawat ulang, maka ada 167 rekam medis dengan nomor rekam medis berbeda dari 31 pasien rawat inap. Pasien rawat inap dengan rawat ulang tertinggi yaitu 15 kali rawat ulang, oleh karena itu pasien tersebut memiliki 15 nomor rekam medis berbeda atas nama pasien Nur Jannah, An dengan diagnosis Thalasemia. Maka dapat dipersentasekan 1,6% yaitu 167 pasien dengan rawat ulang (readmissions) dari total kunjungan pasien rawat inap pada tahun 2010 sebanyak 10.458 orang di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura.
4.1.7 Inefisiensi Biaya Rekam Medis Rawat Inap Ganda dan Rak Penyimpanan Rekam Medis Rawat Inap
4.1.7.1 Inefisiensi Biaya Rekam Medis Rawat Inap Ganda
Berdasarkan dari hasil penelitian maka diketahui inefisiensi biaya rekam medis rawat inap ganda sebesar Rp. 501.000,-. Jumlah tersebut didapat dari perhitungan jumlah rekam medis pasien rawat inap dengan rawat ulang dikalikan dengan biaya per satu rekam medisnya. Secara rinci dapat dilihat pada tabel 4.3 :
30
Tabel 4.3 Jumlah Inefisiensi Biaya Rekam Medis Rawat Inap Ganda di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura Tahun 2010
1. Siti Kholisah, An 10 X Rp. 3.000,- = Rp. 30.000,- 2. Andre, An 6 X Rp. 3.000,- = Rp. 18.000,- 3. Murzani, An 8 X Rp. 3.000,- = Rp. 24.000,- 4. M. Saman, An 8 X Rp. 3.000,- = Rp. 24.000,- 5. Amelia Aulia Rahma, An 9 X Rp. 3.000,- = Rp. 27.000,- 6. Ana Miftahul Jannah, An 6 X Rp. 3.000,- = Rp. 18.000,- 7. Nurul Hafizah, An 9 X Rp. 3.000,- = Rp. 27.000,- 8. Gt. Adistya, An 12 X Rp. 3.000,- = Rp. 36.000,- 9. Sophia, An 9 X Rp. 3.000,- = Rp. 27.000,- 10. Nur Jannah, An 15 X Rp. 3.000,- = Rp. 45.000,- 11. M. Rizal, An 9 X Rp. 3.000,- = Rp. 27.000,- 12. Rabiatul, Nn 6 X Rp. 3.000,- = Rp. 18.000,- 13. Ratnawati, An 8 X Rp. 3.000,- = Rp. 24.000,- 14. Husni Tamrin, An 4 X Rp. 3.000,- = Rp. 12.000,- 15. H. M. Kamruni, Tn 4 X Rp. 3.000,- = Rp. 12.000,- 16. Rahman Sadikin, An 12 X Rp. 3.000,- = Rp. 36.000,- 17. M. Rif'at Faisa, An 2 X Rp. 3.000,- = Rp. 6.000,- 18. Bahtiar, Tn 2 X Rp. 3.000,- = Rp. 6.000,- 19. M. Alif Bais S, An 3 X Rp. 3.000,- = Rp. 9.000,- 20. Andre, Tn 2 X Rp. 3.000,- = Rp. 6.000,- 21. Hj, Mamas, Ny 2 X Rp. 3.000,- = Rp. 6.000,- 22. Fahridawati, Ny 2 X Rp. 3.000,- = Rp. 6.000,- 23. Samsuri Ahmad, Tn 2 X Rp. 3.000,- = Rp. 6.000,- 24. Nawawi, Tn 2 X Rp. 3.000,- = Rp. 6.000,- 25. Ardiansyah, Tn 2 X Rp. 3.000,- = Rp. 6.000,- 26. Nor Hasanah, Ny 2 X Rp. 3.000,- = Rp. 6.000,- 27. Gt. Setia Darma, Tn 2 X Rp. 3.000,- = Rp. 6.000,- 28. M. Asy'ari, Tn 3 X Rp. 3.000,- = Rp. 9.000,- 29. Drs. Irmansyah Saleh, Tn 2 X Rp. 3.000,- = Rp. 6.000,- 30. Rifali, An 2 X Rp. 3.000,- = Rp. 6.000,- 31. M. Kharil Akmal, An 2 X Rp. 3.000,- = Rp. 6.000,- JUMLAH 167 X Rp. 3.000,- = Rp. 501.000,-
Dari tabel 4.3 di atas menjelaskan jumlah inefisiensi biaya rekam medis rawat inap ganda pada tahun 2010 adalah Rp 501.000,-.
4.1.7.2 Inefisiensi Biaya Rak Penyimpanan Rekam Medis Rawat Inap
Berdasarkan hasil penelitian maka diketahui untuk satu rak penyimpanan rekam medis rawat inap seharga Rp. 3.000.000,- yang terdiri dari 15 sub rak dengan ukuran tinggi sub rak 45 cm dan lebar sub rak 60 cm, dengan asumsi ketebalan rekam medis rawat inap 0,2 cm maka setiap satu sub rak dapat menampung ± 600 rekam medis rawat inap di sisi depan dan belakang. Jadi untuk satu rak rekam medis rawat inap dapat menampung ± 9000 rekam medis rawat inap dari hasil 15 sub rak dikali dengan ± 600 rekam medis rawat inap.
Dari hasil identifikasi rekam medis rawat inap ganda pada tahun 2010 berjumlah 167 rekam medis rawat inap maka inefisiensi rak penyimpanan rawat inap dan rekam medis rawat inap tahun 2010 dapat dihitung dibawah ini : - Persentase inefisiensi rak penyimpanan rekam medis
rawat inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura
- Inefisiensi biaya rak penyimpanan rawat inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura
Rp. 3.000.000 x 1,85% = Rp. 55.500,-
Jadi inefisiensi biaya rak penyimpanan rekam medis rawat inap tahun 2010 adalah Rp. 55.500,-.
4.1.7.3 Total Inefisiensi Biaya Rekam Medis Ganda dan Rak Penyimpanan Rekam Medis Rawat Inap
Total inefisiensi biaya rekam medis rawat inap ganda dan rak penyimpanan rekam medis rawat inap pada tahun 2010 sebagai berikut :
Inefisiensi biaya RM rawat inap = Rp. 501.000,- Inefisiensi biaya rak RM rawat inap = Rp. 55.500,- +
32
Maka diperoleh total inefisiensi biaya rekam medis rawat inap ganda dan rak penyimpanan rekam medis pada tahun 2010 sebesar Rp. 556.500,-.
4.2 Pembahasan Penelitian
4.2.1 Biaya (Cost) per Satu Rekam Medis Rawat Inap
Biaya dirumuskan sebagai nilai masukan atau sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan keluaran (produk pelayanan kesehatan) (Huffman, 1994). Biaya rekam medis merupakan nilai atau uang yang dikeluarkan untuk pengadaan rekam medis. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 269/Menkes/Per/III/2008 pasal 1 rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
Adapun biaya rekam medis rawat inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura yaitu Rp. 3.000,- untuk per satu rekam medis. Dimana setiap satu set rekam medis rawat inap terdiri map sampul (folder) dan formulir-formulir yang berisikan catatan identitas pasien serta catatan medis pasien selama dirawat. Biaya rekam medis rawat inap sebesar Rp. 3.000,- merupakan angka biaya rekam medis rawat inap rendah. Menurut WHO (2002), rekam medis dengan kualitas yang baik yaitu terdiri dari formulir yang semuanya dibuat dengan ukuran yang sama (biasanya ukuran A4), penjepit (fastener), pembatas untuk membatasi setiap kunjungan pasien ke sarana pelayanan kesehatan dan map sampul (folder) sebaiknya terbuat dari kertas yang lebih keras misalnya kertas manila. Dan dapat asumsikan angka biaya rekam medis rawat inap tertinggi sebesar Rp. 15.000,- dengan kualitas rekam medis yang baik.
4.2.2 Jumlah Pasien Rawat Inap dengan Rawat Ulang (Readmissions) Periode Tahun 2010
Berdasarkan hasil penelitian, pada standar operasional prosedur (SOP) sistem penomoran yang menggunakan sistem penomoran unit akan tetapi pada pelaksanaannya sistem penomoran pada pendaftararan pasien rawat inap BLUD RS Ratu Zalecha Martapura yang diimplementasikan adalah sistem penomoran seri. Menurut Gemala Hatta (2009), dengan sistem penomoran seri setiap pasien mendapat nomor baru setiap kunjungan ke rumah sakit, misalnya berkunjung 5 kali, maka pasien tersebut mendapat 5 nomor yang berbeda. Dan menurut WHO (2002), setiap kali pasien datang ke rumah sakit, nomor rekam medis baru diberikan dan rekam medis baru dimulai. Dengan sistem ini, pasien bisa memiliki banyak rekam medis tersebar di seluruh ruangan file. Hal ini tidak dianjurkan. Untuk perawatan pasien yang baik, pasien harus memiliki satu rekam medis dengan semua pelayanan dalam satu catatan dan disimpan di satu tempat.
Dengan pengimplementasian sistem penomoran seri pada rekam medis rawat inap maka terjadinya pasien memilki lebih dari dua rekam medis di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura. Dari hasil identifikasi pada register penerimaan pasien rawat inap dan rekam medis rawat inap maka diketahui pasien rawat inap dengan rawat ulang pada tahun 2010 di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura yaitu terdapat 167 rekam medis dengan nomor rekam medis berbeda dari 31 pasien rawat inap yang melakukan rawat ulang. Pasien rawat inap dengan rawat ulang tertinggi yaitu 15 kali rawat ulang, maka pasien tersebut memiliki 15 nomor rekam medis berbeda atas nama pasien Nur Jannah, An dengan diagnosis Thalasemia.
Pada tahun 2010 jumlah kunjungan pasien rawat inap adalah 10.458 orang dan 1,6% dari jumlah total kunjungan pasien rawat inap tahun 2010 yaitu 167 pasien rawat inap adalah pasien rawat inap dengan rawat ulang (readmissions). Dari jumlah sampel yang diambil belum menunjukkan angka yang sebenarnya dengan alasan keterbatasan pendokumentasian yang ada di BLUD RS Ratu
34
Zalecha sehingga menyulitkan dalam identifikasi. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa diasumsikan 20% dari jumlah kunjungan pasien rawat inap pertahunnya merupakan kunjungan rawat ulang (readmissions) maka berjumlah 2091 orang pasien rawat inap dengan rawat ulang (readmissions).
4.2.3 Inefisiensi Biaya Rekam Medis Rawat Inap Ganda dan Rak Penyimpanan Rekam Medis Rawat Inap
Sistem penomoran seri tidak digunakan secara luas, pada saat ini hanya berguna di rumah sakit kecil dengan rendahnya tingkat pendaftaran kembali (WHO, 2002). Ahli menyarankan bahwa sistem penomoran seri dapat efisien jika menampung tidak lebih dari 25.000 rekam medis (LaTour, 2002) dan tingkat pasien kembali rendah atau populasi yang disediakan adalah sementara (Abdelhak, 2001). Sampai dengan Juni 2011 nomor rekam medis rawat inap sudah mencapai 12 26 60.
Menurut Abdelhak (2001), dengan sistem penomoran seri memiliki biaya persediaan yang lebih tinggi karena setiap kunjungan di rumah sakit membutuhkan penggunaan rekam medis baru serta memakan tempat untuk penyimpanan rekam medis tersebut. Setiap folder rekam medis baru yang diberikan disimpan pada tempat yang berbeda dan membutuhkan waktu yang lama dalam proses mencari beberapa tempat untuk mengambil.
Maka dari itu dengan pengimplementasian sistem penomoran seri mengakibatkan inefisiensi biaya rekam medis rawat inap di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura. Dari hasil identifikasi pasien rawat inap dengan rawat ulang pada tahun 2010 didapat 167 rekam medis dari 31 pasien dikalikan biaya per satu set rekam medis rawat inap sebesarkan Rp. 3.000,- maka didapatkan jumlah inefisiensi rekam medis rawat inap tahun 2010 sebesar Rp. 501.000,- untuk 5 tahun sebesar Rp. 2.505.000,. akan tetapi angka tersebut belum dapat menggambarkan inefisiensi rekam medis rawat inap yang sebenarnya. Maka diasumsikan inefisiensi rekam medis rawat inap dengan jumlah kunjungan rawat inap rawat ulang