5. Rapatk~ Tahun Sidang Masa Persidangan Rapat ke -Jenis Rapat Deng an Sifat Rapat Harl, tanggal Waktu Tempat Ketua Rapat Sekretaris Acara Hadir ANGGOT A TET AP : 1. dr. Bawadiman
CATATAN RAPAT
PANITIA KHUSUS RUU
TENTANG
PENDIDIKAN NASIONAL
1988 - 1989 II 6 Raker ke - 4 Mendikbud Terbuka. Rabu, 30 .Nopermber 1988 09.00WIB.Etadartha Samiti Di Gedung MPR-RI dr. Bawadiman
Drs. Noer Fata.
Pembahasan DIM RUU tentang Pendidikan Nasional.
Pansus DPR-RI.
40 dari 48 orang Anggota Tetap; 17 dari 23 orang Anggota Pengganti. Pemerintah :
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beserta Staf;
2. H. Sulaeman Tyakrawiguna 3.
H.
Suryo Mardjiyo4.
H.
Imam Sofwan 5. B. N. Marbun, S.H. 6. Ir. A. Moestahid Astari 7. Ki. Soeratman.8. Sahun tung Sast rohamid joyo 9. H. Obos Syabandi Purwana 10.
Dr.
Johannes Riberu 11. A.S. Harjono.12. Drs. Oman Simanjuntak. 14. So e g i yo no. 14. H. Ismael Hassan, S.H. 15. H. Basyuni Suriamihardja 16. Drs.
Ds.
Isaac Saujay 17. Anton Priyatno, S.H. 18. Drs. H. Iman Soedarwo PS. 19. Drs. H. Hasanudin 20. Mohammad Roem, S.H. 21. H. Achmad H.M.S. S.H. 22. Ibnu Saleh.23. K.H.A. Syarifuddin Sapari
24. Ir. Soewardjo Adikoesoemo 25. Harsono
26. Dra. Ny. Syamsiar Lasahido.
27. H. Djamaluddin Tambunan, S.H.
28. Drs. Mozes Adisoerjo Soenarjo
29. Ir.IdaBagusPutera 30. Roebijanto. 31. Basas Suyono 32. Drs. Made Sudiartha 33. A.R. Lubis. 34. Soebagjo, S.H. 35. Pudjo Bintoro 36. Drs.
H.
Zarkasih Nur 37. Sukardi Effendi, S.H. 38. Drs. Suandi Hambali 39. H. Soetardjo Soerjogoeritno, BSc. 40. A. Ty as Satijono Soenarto 41. Budi Hardjono, S.H.ANGGOT A PENGGANTI
1. Dra. Ny. Inne E. A. Soekaryo2. Krissantono
3. H. CH. Muhammad Muas. 4. Ny. R.H. Madahera Hertasning
5. Drs. H. Hoesni Thamrin ~at, S.H.
6.
Sri Redjeki Lasmindar, S.H.7.
Ir. Ny. H. Tati S. Soemiamo8. Drs. Awang Faroek Ishak.
9. Ors. Bambang Wahyoedi
10.
J.
Moelyono 11. J .H. Salu12. HJ. Sanggor. 13. Sadikun Sugihwaras. 14. Sundoro Syamsuri 15. Muhammad Yusuf Husein
16. Ny. Aisyah Aminy, S.li
PEMERINTAH
1. Prof. DR. Fuad Hasan ( Mendikbud)
2. Bambang Triantoro (Sekjen Depdikbud)
3. Harsja W. Bachtiar. 4. W.P. Napitupulu. 5. P.u g e r
6.
Waskito 7. Moegiadi 8. Soetanto Wirjoprasonto 9. Budihardjo 10. E. Soeharya 11. Sugeng Kamo 12. Soejoto 13. D. Budi Kencono, S.H.14. Ny. Mardiyah Santoso
15. Bambang Haryadi, S.H.
16. Mardjuki, S.H.
KETUA RAPAT (dr. Bawadiman):
Dengan mengucapkan Bismillahir rahman nirrahim Rapat Pansus dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.
( KETOK
PALU )Hasil kerja kita kemarin itu sudah menyelesaikan pembahasannya untuk dilanjutkan yaitu sampai Pasal 20, yaitu terakhir pada Pasal 20 ayat (1) diserahkan Panja dengan cat a-tan Panja nanti merumuskan penjelasan tena-tang pengertian "pendidikan akadernik" dan "pendidikan profesional".
Sedang ayat (2) dan (3) sudah disepakati pada tanggal 28 Nopember 1988. Sekarang halaman 25 mengenai usul-usul baru itu kit a lewati saja dulu, halaman 26 juga kita lewati.
Pasal 21. Menurut pandangan Pimpinan kelihatannya beberapa ayat atau keseluruhan-nya yang penting dalam Pasal 21 ini bisa kita bahas, karena di sana-sini mengandung hal-hal F raksi-fraksi mengusulkan adanya perubahan penyempurnaan. Kecuali F ABRI, Pasal 21 FKP ada usu! perubahan, FPP juga ada perubahan, sedangkan FPDI juga ada usu!. Oleh ka-rena itu karni persilahkan Fraksi-fraksi untuk menyampaikan pandangan dan alasannya mengapa mengusulkan perubahan ini.
Kami persilakan FKP, karena di sini banyak usulannya.
FKP (Anton Priyatno, S.H.):
Sebetulnya pembahasan Pasal 21 ini bagi FKP ada pasal yang diusulkan mendahului, tapi karena tadi termasuk dalam metode pembahasan kita usu! baru. maka dilewati. Namun Supaya tidak nampak sontak (ujuk-ujuk) seperti kemarin. saya ingin gambarkan mengenai Pasal 21 ini.
Dalam RUU tiba-tiba muncul sebutan/gelar, baik gelar akademik maupun gelar profesi-onal. Sekedar la tar belakang izinkan karni menyampaikan gambaran. Pada pasal terdahulu-nyc. yang tadi dilewati, kami usulkan gelar.gelar itu merupa.kan lronsekuensi dari adanya penjenjangan yang ada di dalam perguruan tinggi.
Dengan demikian narnpak jelas untuk jenjang apa, gelar apa diberikan, sehingga tidak nam-pak diatur dalam undang-undang ini.
Di
perguruan tinggi ada sebutan sarjana, magister, dokter, dan ada profesional. Oleh karena itu kami mengusulkan ditambah pasal yang me-muat mengenai jenjang yang ada di dalam perguruan tinggi. Itu latar belakang mengapa FKP mengusulkan ada tambahan pasal sebelum pasal11.
Selanjutnya mengenai Pasal 21 sendiri, yang semula terdapat 6 ayat pada RUU, kami mengusulkan ada 6 ayat dengan beberapa penyempumaan, yaitu:
Ayat
(I)
diberikan gelar untuk Strata 1 (sarjana 1) diberikan sebagai konsekuensi lulusan dari jenjang pendidikan tinggi yang menyelenggarakan program Sl. Sedangkan gelar magister atau sarjana utama, diberikan kepada lulusan dari jenjang pendidikan Sarjana S2. Apa itu Sl dan S2 itu dikemukakan pada usul kami tadi kemukakan. Demikian juga gelar doktor diberikan kepada lulusan terhadap penyelenggaraan S3. Mengenai gelar Honorius Causa (HC) hanya merupakan penyempurnaan beberapa kalimat, prinsipnya (subtansinya) tidak mengalarni perubahan terlalu besar, hanya kami kemukakan disitu bahwa yang bisa menyelenggarakan atau yang bisa memberikan gelar HC ialah universitas/institut yang menyelenggarakan pendidikan S3.Ayat 5 mengenai gelar profesional. Kami usulkan tidak dibedakan dan yang sudah lazim dipakai ialah sebutan gelar. Tidak untuk mengkokohkan yang sudah ada. tapi begitu-lah nampaknya masyarakat kita membutuhkan pengakuan-pengakuan terhadap prestasi-prestasi ini baik akademik maupun profesional. Yang tentu tidak usah dibedakan derajat-nya. Masing-masing mempunyai kesetaraan di dalam fungsinya masing-masing. Oleh karena itu kami tidak mencoba memberikan gerak tingkat gradasi yang berada antara sebutan aka-demik dan profesional. Dia berada dalam kesejajaran walaupun mungkin harus berbeda-beda di dalam fungsinya.
Sedangkan ayat (6) mengenai "pengaturan lebih lanjut dengan peraturan pemerintah" kami setujui.
Demikian sekedar penjelasan awal terhadap usul perubahan yang diajukan FKP me-nenai Pasal 21.
KETUA:
FKP telah memberikan penjelasan dengan dilatarbelakangi pemikian adanya jenjang program di lingkungan pendidikan tinggi, maka tadi dijelaskan mencoba mensistematisasi-kan pengusulan perubahannya seperti yang diuraimensistematisasi-kan tadi.
Kami persilakan FPP.
FPP (H. Ismail Hasan Metaremn, S.H. ) :
Dari fraksi kami hanya sedikit saja usu! tentang pasal ini. Mengenai masalah yang per-tama barangkali kami tidak memberikan_sesuatu usu! (ayat 1 Pasal 21), karenakami ang-gap sudah memadai dan mengerti isinya.
Sedangkan ayat (2) kami melihat adanya kurang konsistensi dari RUU, disebut dari ayat-ayat lain dari belakang ada istilah sekolah tinggi di sini tidak disebut. Apakah di sini tidak memberikan hak kepada sekolah tinggi itu at au terlupakan dalam memberikan hak kepada sekolah tinggi itu atau terlupakan dalam mengetiknya, karena itu kami tambah mengetiknya barangkali.
Kemudian ayat (3). Di sini kami melihat ada persoalan yang perlu kit a pikirkan secara matang dari segi keseluruhan kita melihat bahwa tidak perlu menunjuk sesuatu pada
"peraturan pemerintah", tapi kita katakan saja "memenuhi persyaratan" Apakah itu dalam Undang-undang atau Peraturan Pemerintah atau semacam itu. Jadi kita tulis saja "yang memenuhi persyaratan". Sebutan'1 magister atau dokter diberikan oleh institut dan universitas yang memenuhi persyaratan ", termasuk Undang-undang maupun Peraturan Pemerintah.
Pada ayat (5), di sini ada kej anggalan sedikit dari RUU "diberi hak". Kalau dii:Jeri hak itu mesti ada yang memberikan. Oleh hak". Kalau diberi hak itu mesti ada yang memberi-kan. Oleh karena itu karni menganggap "berhak" itu lebih tetap, karena sudah meme-nuhi persyaratan. dia berhak untuk memberikan itu, jadi bukan "diberi hak" oleh orang
lain. .
Dalam masalah Honorius Causa ini ada yang kurang lengkap. Sesudah disebut bi-dang-bidang yang lain, tapi dalam bidang kemasyarakatan yang sering kita lihat sekarang ini diberikan oleh perguruan-perguruan tinggi itulah yang menentukan siapa dan bagaimana persyaratannya, sehingga memenuhi semua yang kita harapkan di dalam ketentuan ayat
(5) ini.
Kemudian ayat (6). Supaya lebih kuat persoalan ini, kita masukkan dalam Undang-undang ini bukan merupakan Undang-Undang-undang tersendiri. 1adi masalah yang berhubungan dengan syarat-syarat, jenis dan tatacara pemberian perlindungan serta pemakaian sebutan itu diatur dalam Undang-undang. Undang-undang yang mana ? ltu bisa kita bicarakan nan-ti. Kami mengusulkan 4 Undang-undang tambahan di lain ketentuan pokok ini, yaitu ten-tang pendidikan dasar, menengah dan dan pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi merupakan satu Undang-undang tersendiri untuk keseluruhan persoalan yang diatur yang berkenaan dengan perguruan tinggi itu, kemudian perguruan swasta. Ini kami ulang untuk lebih jelas, mengapa bicara masalah Undang-undang itu, kan Undang-undang sendiri yang mengatur gelar.
KETUA:
Ayat (2) tel ah dikemukakan FPP sepertinya kok ketinggalan dan sebagainya dan mak-sud perubahan ayat (6) tadi juga mak-sudah di kemukakan.
Selanjutnya silakan FPDI. FPDI (Budi Hardjono, S.H.) :
FPDI dalam rangka menanggapi atau menjelaskan Pasal 21 yang terdiri dari beberapa ayat, pertama-tama FPDI masih berpangkal tolak bahwa masalah pendidikan tinggi perlu diatur dalam Undang-undang tersendiri sebagaimana telah kami kemukakan dalam pengan-tar dan dalam pemandangan umum FPDI menghendaki adanya Undang-undang Pendidikan Tinggi, Undang-undang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Undang-undang ten tang Per-guruan Swasta.
Karena itu beberapa ketentuan pasal yang juga agak teknis itu masih tetap menurut pendapat Fraksi karni diatur dalam suatu ketentuan Undang-undang. Bila karni ingin mema-suki materi-materi yang tersebar di sini, satu catatan yang bisa diberikan bahwa rumusan-rumusan itu masih belum cukup jelas bagi FPDL Kriteria-kriteria apa yang diberikan ter-hadap terminologi dan jenjang penyebutan masalah sarjana dalam pengertian umum dan sebutan"'5ebutan secara spesies dalam urutan pembagian yang diberikan. Pada waktu kita ikuti dalam penjelasannya pun belum juga jelas,jadi sudah barangtentukami ingin menda-patkan penjelasan dari Pemerintah dan juga perlunya diintrodusir istilah magister dan se-bagainya. Namun lebih daripada itu, karni tetap berpendirian bahwa masalah pendidlkan tinggi secara menyeluruh perlu diatur di dalarn Undang-undang tersendin.
KETI.JA:
PEMERINTAH :
Menanggapi apa yang diutarak.an FKP mengenai sebutan-sebutan dan gelar-gelar itu, sebelum saya menguraikan kiranya perhi diperhatikan bahwa RUU perkataan gelar tidak. dipergunak.an. Sedangkan dalam usul-usul ini ada disarankan atau digunak.an kata-kata gelar. Ini barangkali satu masalah tersendiri yang perlu dicarikan kesepak.atannya.
Kedua, mengenai usul perubahan yang disarankan oleh FKP apabila saran itu berbunyi sebutan" sarjana diberikan kepada lulusan pendidikan Strata i ", maka hal ii:d merupakai1 kalikan kepada lulusan pendidikan Strata l", mak.a hal ini merupak.an kalimat yang logis, artinya sebagai petunjuk bahwa orang ini selesai studi padajenjang Sarjana 1 (SI). Oleh ka-rena itu dia berhak. disebut Sarjana, ini yang pertama.
Kedua, saran atau penyempurnaan dari FPP tentang ayat
(2)
tentang sekolah tinggi lupa disebutkan, saya kira itu .benar. Dan barangkali ada baiknya itu ditambah atau harus ditambahkan, karena sekolah tinggi memang menghasilkan sarjana.Berikutnya mengenai sebutan-sebutan itu sendiri. Sebagaimana saya sebutkan tadi, mak.a pada kolom RUU tidak terdapat istilah gelar. Barangkali ini perlu kita selesaikan se-cara umum lebih dahulu atau kita akan menggunakan istilah gelar, dalam arti titel atau sebutan saja. Menurut hemat kami istilah sebutan itu lebih umum sifatnya, at au bisa diper-gunakan dua-duanya. Sebutan sebagai istilah yang umum, gelar sebagai pengkhususan dari sebutan itu. Untuk ini saya menawarkan kepada Pansus ini untuk membahasnya supaya rumusan-rumusan pasal demi pasal nanti tidak mencampuradukkan istilah sebutan dan gelar.
Tentang kriteria sebutan itu jelas bahwa sebut-sebutan ini terkait langsung pada dise-lesaikannya sesuatu jenjang pendidikan. Oleh karena itu tidak ada salahnya saran FKP tadi untuk memberikan perumusan yang mengacu pada diselesaikannya suatu jenjang studi. Adapun saran dari FPP dan FPDI mengenai kemungkinan untuk dituangkannya Undang-undang tersendiri untuk pendidikan tinggi, saya kira ini masalah yang masih menanti disele-saikannya sekaligus dengan pembicaraan ten tang judul sebagaimana kita sepakati pada hari pertama.
Kalau kami boleh menyarankan, maka Pasal 21 yang menggunakan istilah sebutan itu dipertahankan, kecuali ada argumen lain yang menganggap perlu dibedakannya sebutan dan gelar itu.
KETUA:
Demikian tanggapan dari Pemerintah bahkan menyarankan yang pertama supaya kita sepakati dalam Pansus ini, istilah sebutan atau gelar, dengan keterangan dari Pemerintah bahwa sepertinya gelar itu pengkhususan dari sebutan, dan sebutan itu bersifat umum.
Kemudian tadi Pemerintah juga meng-appeal, memang konsekuensi logis dari suatu jenjang sehingga tadi mengatakan supaya Pansus juga memikirkan bagaimnakalau masalah jenjang itu juga dituangkan sesuai dengan apa diusulkan latar belakang FKP tadi.
Oleh karena itu kami kembalikan kepada masing-masing Fraksi, setelah ada penje-lasan pemerintah meskipun F ABRl itu setuju dengan adanya pelemparan karni mohon pen-dapat a tau pandangan F ABRI terhadap pelemparan Pemerintah tadi.
Kami silakan.
F ABRI (Drs. Made Sudiartha) :
Kami sependapat dengan Pemerintah bahwa sebutan sarjana itu rasanya lebih tepat. Untuk menghindari kenyataan sekarang itu bermacam-macam gelar yang ada, ada Raden
Mas ada juga Insinyur ada Drs. ada bermacam-macam. Tapi kalau dengan sebutan sarjana mungkin sarjana hukum, sarjana ini mungkin lebih tepat, dalam rangka menertibkan sebutan gelar yang ada. J adi oleh karena itu kami sependapat dengan Pemerintah bahwa rumusan ini telah tepat.
KETUA:
F ABRI menganggap lebih tepat sebutan. Kemudian tadi sambutan dari Pemerintah tidak bermaksud apa, tapi menanggapi yang dikemukakan FKP yang rupanya perlu kita berikan sebelum ini adanya jenjang.
Menurut pendapat F ABRI bagaimana? J enjang program di Perguruan Tinggi.
F ABRI (Drs. Made Sudiartha) :
Perguruan Tinggi (PT) sudah merupakan jenjang daripada pendidikan. Dan kalau di sana disebutkan jenjang lagi, mungkin kurang tepat. Mungkin hanya dalam rangka penta-hapan program pendidikan.
J adi memang dalam kaitannya dengan itu, say a rasa perbedaan ant ara jenj ang dan pen-tahpan untuk mencapai suatu sarjana itu memang didasarkan program studinya yang ada pada waktu itu.
Untuk ini saya rasa akan terkait nanti di dalam kurikulum. Jadi dalam kurikulum dari suatu perguruan tinggi a1<:an menentukan stratanya nanti. Apakah memang terkait dalam hal ini, itu bisa dirumuskan kembali.
KETUA:
Selanjutnya kami persilahkan dari FKP kembali untuk memberikan pendapatnya sete-lah Pemerintah memberikan penjelasannya.
FKP
(Anton Priyatno,S.H.) :
Pertama, mengenai sekolah tinggi dulu.
Memang kami merumuskan menjadi perumusan yang sifatnya umum bahwa perguruan tinggi yang menyelenggara .. an jenjang program at au kalau menurut rekan F ABRI kuatir mengenai istilah jenjang bisa strata, terserah mana yang mau dipakai. Tapi jelas bal1wa itu jenjang. Jenjang dalam arti yang kita pakai pada yang didepan. Karena apa? Sl ke S2 itu jenjang, ada peringkat juga dari S2 ke S3 itu jenjang, ada peringkat. Jadi bukan sesuatu yang sama. Sebab kalau sama saya kira tidak perlu kita berikan jumlah gelar atau sebutan yang ada 3 macam ini. Dus, jelas dalam artian umum jenjang atau strata atau peringkat. Mana yang mau dipakai, terserah nan ti.
Oleh karena itu
FKP
tidak perlu menyebut universitas, institut, sekolah tinggi dapat memberikan gelar sarjana, tetapi perguruan tinggi yang menyelenggarakan jenjang at au stra-ta astra-tau Sl berhak memberikan gelar sarjana Sl, demikian seterusnya.Mengenai istilah gelar dan sebutan, terserah mana yang mau dipakai. Asal kit a sepakat dan sesuatu yang sifatnya sudah tersosialisasi. Menurut kami yang selama ini sudah terso-sialisasi itu adalah gelar. Jadi tidak usah menabrak sesuatu yang sudah tersoterso-sialisasi di da-lam masyarakat.
Ketiga, terima kasih atas tanggapan Pemerintah bahwa memang diperlukan pasal-pasal yang mengatur mengenai penjenjangan at au strata di dalam perguruan tinggi ini supaya
KETUA:
Maaf Sdr. Menteri, ada satu barangkali sebelum saya ke FPP, tadi ada usulan FPP soal kata diberi hak, dan berhak. Jadi tadi FPP mengusulkan yang tepat itu kok berhak Kalau diberi hak itu tentu ada yang memberi,
Ini
ta di sepertinya belum ditanggapi, jadi mohon ditambahkan, ayat (5) nya tadi.PEMERINTAH :
Mungkin di sini perkataan ''tertentu" itu harus jelas, supaya pemberian Honoris Causa tidak begitu saja dimiliki oleh sesuatu institut, karena persyaratan-persyaratan yang harus dimiliki oleh satu universitas atau institut untuk memberikan gelar Honoris Causa.
Kalau disebutkan universitas/institut tertentu berhak, maka tertentunya ini harus jelas apa indikasi dan kondisi-kondisinya yang harus dipenuhi. Jadi kalau itu belum jelas, maka saya kira perlu disebutkan masih dapat diberi hak. Karena di mana-mana pemberian Honoris Causa ini punya persyaratan yang dikaitkan dengan institut yang bersangkutan.
KETUA:
Terima kasih atas tambahan penjelasan.
Demikian tadi ungkapan kembali dali FKP yang mengenai masalah sebutan dan gelar, rupanya tidak menjadi plinsip hanya monggo kerso, hanya dilihat mana yang sudah terso-sialisasikan.
FABRI (Ors. Made Sudiartha) : Interupsi
Mungkin untuk urun rembug dalam kaitannya dengan sebutan ini. Kalau kita membaca secara cermat dali ayat (1) Pasal 21 ini, pada perguruan tinggi ada sebutan sarjana, magis-ter, doktor dan sebutan profesional.
Dari Pasal 21 ayat (1) ini tidak berdiri sendiri, dia merupakan kelanjutan daripada pasal sebelumnya. Kalau kita lihat Pasal 19 ayat (2) : Perguruan Tinggi dapat berbentuk akademi, sekolah politeknik, sekolah tinggi, institut a tau universitas. Kalau pengertian ayat
(2) ini kita masukkan ke dalam pengertian perguruan tinggi, nanti pada akademi ada juga sebutan sarjana. Oleh )<arena itu, dalam kaitannya ini, ini hanya menyangkut kadarnya adanya sebutan itu.
Terkait atau tidak. terlepas dari pada pasal sebelumnya, demikian pula kalau kita kaitkan dengan Pasal 20 (1) "Pendidikan tinggi terdiri dari dua jalur .... " kalau ini masih pengertian lama pendidikan yaitu pendidikan akademik dan pendidikan profesional. Dengan kedua ini saya rasa itu sudah menunjuk:rnn bahwa yang pertama,menunjukkan bagian sesuai dengan tujuan pendidikan masing-masing pembagian itu ada sebutan itu, mungkin ada satu saja sebutan itu ada tidak semua.
KETUA:
Jadi F ABRI mengkaitkan dengan pasal sebelumnya yaitu Pasal 19, hanya kalau boleh saya memberikan komentar tadi menyinggung istilah "berhak" itu yang diusulkan oleh FPP khusus untuk Ayat (5) kaitannya dengan pemberian gelar doktor honoris causa. Terima kasih atas urun rembugnya dari F ABRI kami persilakan PPP.
FPP (H. Ismail Hasan Metareum, S_H.):
Pertama-tama kami menyatakan setuju sekali dengan keterangan Pemerintah yang terakhir bahwa harus memenuhi persyaratan karena itu kami mohon dicantumkan kalimat itu di dalam Dndang-undang ini, jadi agar memenuhi persyaratan itu merupakan salah satu
. 4 yang harus kita masukkan dalam Ayat (5) "Universitas swasta/Institut yang memenuhi per-syaratan ... " kemudian ada istilah "berhak" atau diberi "hak", memang ini hanya istilah saja tidak lebih dari itu jadi apakah diberi hak atau berhak, kalau berhak diartikan kalau sudah memenuhi persyaratan dia mempunyai hak langsung tidak usah karena diberi inilah istilahnya, kalau kita berdebat dengan panjang ta pi kita sederhana sekali persoalannya.
Kemudian yang kedua mengenai masalah yang diusulkan oleh FKP kami tanggapi juga sedikit apa yang ditanggapi oleh Pemerintah kami anggap sudah jelas dua-duanya. Kalau kita umpamanya ini umpama saja kami mengusulkan umpamanya disini tetap : dipakai istilah sebutan karena itu pengertian umum, nanti di dalam penjelasan kita meng-gunakan istilah-istilah seperti "Gelar" itu. Jadi di dalam penjelasan kita tampung penger-tian dari pada sebutan yang ada disitu. Ini barangkali lebih tepat karena sudah kita gunakan selama ini, namun secara umum kita sebut sebutan da!am diktum.
Masalah ketiga mengenai masalah "Jenjang" kami menganggap bahwa Pemerintah memang sudah lama mempersiapkan (warming up) sebelum Undang-undang ini sudah di-lakukan o!eh Pemerintah men-introdusier Strata I, Strata II dan Strata III (Sl, S2, S3) dan ini sudah dapat diterima oleh masyarakat kelihatannya dia tidak ada yang keberatan. Mes-kipun sesudah itu ada komentar dari orang-orang yang setengah mengerti a tau kurang me-ngerti saya tidak tahu bahwa kita mendistratir diri jadi karena SI sekarang ini sama dengan Bachelor di luar di beberapa negeri h:ita mendistratir diri, ini ada tanggapan tapi i<ami dalam ha! ini, ini perencanaan umum kita untuk masa de pan barang.Kali tidak ada permasa-lahan. Cuma kami kalau ditanya orang, ini maaf kalau ilustrasi sedikit orang bertanya SI diterjemahkan ke dalam bahasa lnggeris ini apa? Ini kami sulit kami belum bisa men-jawab sekarang sebelum ada kamus barangkali.
Jadi da!am persoalan ini memang sekarang ini sudah berja!an karena itu maka kami ingin mengusulkan supaya mengenai Perguruan Tinggi ini kita buat Undang-undang tersen-diri di mana jenjang-jenjang inipun diatur di dalamnya. Ka]au hanya masalah jenjang ini ki-ta atur ki-tapi tidak mengatur yang lain mengenai yang di bawahnya barangkali agak sedikit janggal umpamanya pen~idikan dasar hanya satu kalimat atau satu pasal, kemudian pendi-dikan menengah satu pasal dan perguruan tinggi banyak-banyak sekali pasal ini barangkali ada sedikit kejanggalan da!am suatu Undang-undang, barangkali inilah yang ingin kami sam-paikan kepada sidang yang terhormat ini mungkin ada yang !ebih dan kurang kami minta maaf dan terirna kasih.
KETUA:
Terima kasih atas pendapat FPP jadi menyangkut Ayat (5) tentang pemberian doktor kehormatan dari pihak FPP mengulangi sependapat dengan Pemerintah supaya dicantum-kan kalimat usulannya yaitu "yang memenuhi persyaratan '' sehingga nanti selanjutnya diberi hak atau berhak ta pi dimonggokan.
Kemudian menyangkut sebutan dan gelar FPP mengusu!kan bagaimana kalau kita angkat saja "sebutan" kemudian menyang.Kut gelar itu bisa diuraikan di penjelasan. Sedangkan menyangkut yang diusu!Kan dengan istilah "jenjang" dari FKP ditanggapi oleh FPP bahwa SI, S2 itu kenyataannya sudah dilaksanakan hanya tadi kalau dihubung-kan dengan kamus itu bahasa Inggerisnya itu apa?. Jadi Pimpinan menggaris bawahi kalau Pemerintah bisa cepat memberikan kamus kepada Anggota Pansus, ini kami menggaris bawahi karena kita hams tanggap aspirasi Anggota, itu akan terima kasih dan akan memper-1ancar. Demikian tadi sudah saling memberikan masukan kait-mengkait antara
FPDI (Budi Hardjono, S.H.):
FPDI ada tiga hal pertama-tama yang tadi menyangkut "sebutan" menurut hemat karni "sebutan" mempunyai pengertian yang lebilduas dari pada gelar, sebab dengan start perkataan sebutan itu bisa memberikan arah "Pendeterminansi" kepada misalnya sarjana muda yang dahulu pun ya gelar (B.Sc) sekarang tidak boleh bergelar lagi. Sehingga perkata-an sebutperkata-an di dalam konteks ini yperkata-ang sifatnya lebih umum lebih tepat dipertahperkata-ankperkata-an di dalam pasal ayat ini.
Kedua sebagaimana juga dikemukakan juga oleh rekan dari FPP ayat (5) itu "Univer-sitas dan Institut tertentu . . . . " sudah barang tentu sudah harus memenuhi persyaratan "dapat diberi hak untuk memberikan sebutan doktor kehormatan" doktor honoris causa kepada tokoh-tokoh yang dianggap perlu memperoleh penghargaan amat tinggi berkenaan dengan jasa-jasa luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan teknologi ataupun kebudayaan.
Dengan menunggu kamus yang tadi diusulkan oleh Saudara FPP itu pendapat dari FPDI sementara ini redaksi saja yaitu bahwa perkataan atau kata "dapat diberi hak" di dalam satu Undang-undang ini tidak begitu lazim, di dalam Undang-undang yang lazim digunakan "berhak" atau "berkewajiban" (hak dan kewajiban) tidak "diberi hak" dan ti-dak "diwajibkan", terminologi U,ndang-undang biasanya begitu, tapi ini titi-dak harus begitu kalau Lembaga ini mau membuat ist.ilah yang "neko-neko" ya bisa saja asal kita sepakati.
Kemudian mengenai pemberian honoris causa yang di sini dirumuskan hanya kepada subyek yang mempunyai jasa-jasa luar biasa dalam bidang ilmu pengetauan, teknologi ataupun kebudayaan. Kalau ada orang yang sangat berjasa, luar biasa bukan ilmuwan bukan teknolog (seorang ahli teknologi) atau bukan budayawan apa tidak bisa diberikan gelar honoris causa? Ini mohon penjelasan, sebab bagi negara yang berkembang seperti Indonesia yang memerlukan patriot-patriot yang ditauladani itu tidak hanya diselesaikan persoalan bangsa yang besar ini oleh ilmuwan, oleh ahli teknologi dan budayawan tapi politisi itµ juga perlu mendapat perhatian.
Sekian terima kasih.
KETUA:
Terima kasih dari FPI)I ini sudah termasuk usulan FPP "kemasyarakatan", FPP ada mengusulkan "kemasyarakatan"? Ini hanya karni ingin menanyakan saja.
FPDI (Budi Hardjono, S.H.) :
Istilah tidak menjadi persoalan tapi materi yang karni usulkan itu-kira-kira bisa ter-tampung, kamusnya yang terbaik saya tidak tahu nanti terserah.
KETUA:
Demikian tadi pandangan atau pendapat masing-masing Fraksi karni kembali kepada pihak Pemerintah untuk sekali lagi memberikan tanggapannya.
PEMERINT AH :
Mengenai saran dari FPP untuk menambahkan universitas dan institut yang mempu-nyai persyaratan tertentu apabila itu disertakan dan lalu perkataan "diberi hak" menjadi "berhak" karni tidak keberatan asal ada sebutan tadi '-'memenuhi persyaratan tertentu". Dengan dernikian maka juga tanggapan dari FPDI untuk merubah kata-kata diberi hak menjadi berhak sesuai dengan bahasa perundang-undangan tidak menjadi berhak sesuai del'lgan bahasa perundang-undangan 'tidak menjadi soal asal sesudah kata "institut"
ditam-bahkan yang mempunyai syarat tertentu. Dan ini berlaku di mana saja bukan hal yang luar biasa.
Mengenai penggunaan istilah jenjang atau strata saya kira
ini
cukup terbuka untuk dipilih tan pa kamus juga bisa.Yang ingin saya sampaikan sebagai catatan sekedar meluruskan pengertian tadi dari
FPDI
disebutkan istilah sarjana muda yang sekarang tidak berlaku lalu dicontohkan (B.Sc) sebagai gelar, B.Sc m1 gelar ta pi sarjana muda itu belum pernah menjadi gelar. Kalau sistimnya Bacheloriat maka "B" itu menjadi satu jenjang yang dibulatkan, tapi kalau sistimnya bukan Bachaloriat jadi tidak ada Bacelir. istilah belandanya Candidaat itu berarti "calon" saja. Jadi hanya dalam sistem Bachaloriat maka gelar Bachelor ini menjadi gelar atau sebutan. Tapi dalam sistem yang pernah kita miliki dahulu dimana seorang sarjana itu harus selesai selengkapnya maka sarjana muda itu bukan gelar bukan satu pembulatan, jadi ini harap dibedakan. Nah sekarang ini dengan penjenjangan yang baru S 1, S2 dan S3 masing-masing ini nanti
dibulatkan pada akhir sesuatu Strata, maka sebutannya menjadi bulat sebagai gelar.Dengan demikian jelas bahwa istilah sarjana muda tidak dipergunakan, bukan tidak dipergunakan lagi tapi mestinya tidak pernah dipergunakan, kecuali kalau sistem pendidik-annya itu sistem yang menggunakan istilah bacheloriat jadi Bachelor Master, sedangkan istilah sarjana muda dahulu adalah terjemahan dari candidaat dalam sistem Propadeuse, Candidaat baru sarjana.
Hal ini perlu saya sampaikan oleh karena di sementara kalangan masyarakat juga seolah-olah ada anggapan gelar sarjana muda dihapuskan, sebetulnya tidak dihapus karena memang tidak pernah ada mes tin ya, kecuali kalau dalam sistem Bacheloriat, ini keterangan-nya. Bahwa disana-sini ada kekeliruan penterapan istilah ini, itu dimengerti dan justru karena banyaknya kekeliruan ini maka perlu ditertibkan bahwa sistim bacheloriat lain dari sistem sarjana muda yang terkait langsung pada sarjana. Jadi misalnya Sarjana muda kedokteran ini tidak ada. sarjana muda kedokteran ini dokter bukan dan perawat bukan dan dukun pun buKan, dia baru lengkap kalau selesai Drs. Medical ini tadi. Nah karena mungkin Pernah ada da!am satu keadaan yang darurat barangkali satu institusi pendidikan hukum yang membulatkan dengan gelar Be.HK. Nah. ini barangkali yang agak mem-bingungkan, kemudian ada gelar BSc ini tadi. pada ha! sistemnya bukan sistem Bacheloriat.
Yang terakhir mengenai gelar honoris causa, saran dari
FPP
untuk menambahkan ilmu kemasyarakatan perlu saya sampaikan di sini bahwa dalam sebutan ilmu pengetahuan termasuk ilmu-ilmu kemasyarakatan, , jadi ilmu pengetahuan termasuk disiplin di dalam-nya, teknoligi semua jenis teknologi di dalamnya dan kebudayaan semua ungkapan budaya, apakah itu kesenian pakah itu kebahasaan dan lain sebagainya.Sekarang pertanyaan dari FPDI apakah yang diberikan gelar honoris causa ini hanya orang-orang dari ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan jawabnya ya, nah apakah ini berarti yang bukan ilmuwan bukan teknologi atau bukan budayawan dapat menerima gelar honoris causa jawabnya dapat sejauh ada jasanya di ketiga bidang ini. Jadi banyak orang-orang yang menerima gelar doktor honoris causa dalam sesuatu cabang ilmu oleh karena jasanya yang luar biasa di sesuatu bidang yang dapat dipertanggung jawabkan alasan-alasannya untuk memberikan gelar hoaoris causa ini.
Sebab untuk mendapatkan honoris causa dan ini sebabnya perlu kita jaga tertibnya, untuk mendapatkan gelar honoris causa seseorang harus diusulkan oleh sesuatu Anggota Senat, jadi misalnya seorang ingin diusulkan atau ingin diusulkan sebagai doktor honoris causa dalam ilmu ekonomi maka harus ada gurubesar ekonomi yang mengusulkan kepada senat Fakultas Ekonomi dengan alasan-alasan yang kuat bahwa kepada yang bersangkutan
dapat diberi doktor honoris causa dalam ilmu ekonomi maka harus ada gurubesar ekonomi yang mengusulkna kepada senat Fakultan Ekonomi dengan alasan-alasan yang kuat bahwa kepada yang bersangkutan dapat diberi doktor honoris causa. Kalau senat menerimanya maka kepada orang ini ditawarkan honoris causa.
Yang ditawari itu bukan saja selalu menerima tapi dia juga berhak menolak apabila dianggap institusi yang akan memberikan ini harganya kurang dia akan mengatakan terima kasih ta pi tidak akan menerima, ini jalannya proses pemberian gelar honoris causa.
Apabila ada seorang tadi dicontohkan politikus yang besar jasanya terhadap negara dan bangsa akan tetapi agak di luar atau diluar ilmu pengetahuan dan teknologi atau kebudayaan tentu juga dia dapat diberi penghargaan tapi tidak perlu wujudnya honoris causa. penghargaan ini bisa bintang, bisa piagam dan bisa medali dan lain-lain sebagainya jadi tidak begitu saja memberikan honoris causa diberikan karena ada pidato promotor-nya, dan pidato promoter ini harus memberikan semua alasan mengapa orang ini diberi honoris kausa kemudian yang menerima hams memberikan juga pidato jawaban yang tentunya lebih ringan. Oleh karena itu maka dengan penjelasan ini, mudah-mudahan juga pemberian doktor-doi<.tor ini bisa makin tertiblah.
Supaya derajat honoris causa dalam lingkungan akademik ini betul-betul terjaga. jangan sampai doktor honoris kausa menjadi doktor humoris kausa, terima kasil1.
KETUA:
Terima kasih dari penjelasan pihak Pemerintah usu! terakhir menyangkut pemberian sebutan doktor kehormatan tadi itu menurut pendapat pemerintah sudah "mumpuni" pada tiga bidang itu, oleh karena itu kepada Fraksi yang terkait kami persilakan FPP.
FPP (H. lsmail Hasan Metareum, S.H.):
Kami ingin menjelaskan sedikit saja mengenai usu! karni yang dikomentari oleh Pak Menteri tadi mengenai masalah "kemasyarakatan" kami bukan menyatakan ilmu kemasya-rakatan tapi masalahnya teknologi kemasyaral<.atan atau kebudayaan jadi bukan ilmu kemasyaraka tan.
Sehingga timbul pertanyaan pada karni sekarang apakah yang diberikan honoris causa itu harus betul-betul ahli ilmu. Kalau kalimat yang diberikan oleh pemerintah di sini dalam RUU " ... penghargaan amat tinggi berkenaan jasa-jasa yang Juar biasa .. " kemudian ." . . . dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi ataupun kebudayaan" kami menambahkan bidang satu lagi yang lebih lengkap sehingga tidak membatasi diri karena itu kami mengusulkan "kemasyarakatan".
Itu apapun bisa diartikan silahkan artikan tapi kami ingin supaya kita lengkap apa yang kita buat, tapi terns terang karni terkesan tadi seolah-olah yang ahli ilmu saja yang diberikan. Kalau itu barangkali lain Pak? Sa ya kira ini yang perlu karni jelaskan.
Kalau kesan kami dengan kalimat yang dibuat dalam RUU oleh Pemerintah tidak pada ahli ilmu tapi diakui dia mempunyai sesuatu atau mempunyai jasa dalam bidang yang kita sebutkan itu sehingga dia seolah-olah karena diberikan oleh perguruan tinggi dia seolah-olah dia punya ilmu sehingga bisa membuat jasa itu barangkali begitulah kira-kira, dernikian terima kasih.
KETUA:
PEMERINT AH :
Sebagaimana saya jelaskan tadi yang bisa mendapat gelar honoris causa itu termasuk bukan ilmuwan, jadi orang awampun bisa asal dia telah memberikan jasanya dibidang-bidang ini. Saya tadi di sini mencatat tadi ilmu kemasyarakatan oleh karena itu saya jawab tercakup dalam ilmu-ilmu pengetahuan akan tetapi kalau mau ditambahkan "ke-masyarakatan" itu tidak ada keberatan karena dalam perkataan kebudayaan ini umumnya soal sosial budaya sifatnya. Dus kalatt mau ditambah kemasyarakatan tidak menjadi soal.
Khusus mengenai pemberian gelar honoris causa ini yang sekarang ini terutama perlu sekali kita perhatikan adalah bahwa seorang yang menerima gelar itu harus diusulkan dan disetujui oleh senat, nah ini yang penting. Dan gelar honoris causa selalu diberikan di Universitas ini perlu saya tekankan oleh karena barangkali ada disana-sini pemberian gelar honoris causa di luar universitas tanpa senat dan sebagainya.
Sekian dan terima kasih.
KETUA:
Terima kasih atas tanggapan pemerintah pada ulasan atau pandangan FPP, kepada FPDI i<:ami persilakan.
FPDI (Budi Hardjono, S.H.):
Sebagai juga tanggapan pada Saudara Menteri Dikbud, tadi saya kemukakan masalah sebutan yang terkait dengan gelar "BA dan BSc, BS. AP" beberapa yang lalu itu memang pernah terjadi, sehingga beberapa periode yang lalu itu memang terjadi kesimpangsiuran pemberian gelar satu akademi demikian gampang memberikan predikat pada alumninya juga seperti pernah terjadi di dalam PTHM (Pendidikan Tinggi Hukum Militer) itu juga pernah ada gelar "BSc.HK". Sehingga kalau tidak salah sebagai sa!ah satu contoh Bapak Supolo itu juga memberikan gelarnya "BSc. HK" dan sebagainya.
Itu memang kami setuju untuk diadakan penertiban/perbaikan memang setuju, hanya kami tadi ingin menyampaikan pada forum ini bahwa pada waktu yang lalu dunia per-guruan tinggi atau akademik kita itu memang terjadi kesernrawutan atau kerancuan me-ngenai gelar-gelar tersebut, nah ini memang tepat sekali kalau di dalam Undang-undang ini akan diberikan satu penertiban juga termasuk sangat setuju jangan sampai nanti ada datang di Hilton Hotel karena mampu membayar mendatangkan orang (Off the record) terus mendapatkan gelar HC. itu juga jangan sampai terjadi demikian lagi atau kita pergi ke Manila ya ini urusan ;\1anila terus punya uang bisa beli gelar terns punya gelar doktor, itu banyak terjadi dan ini dari esensi pendidikan tidak memberikan pendidikan yang baik bagi warganya apalagi kalau itu dilakukan oleh pemimpm-pemimpin. terima kasih.
KETUA:
Terima kasih FPDI, masih ada coment dari pihak pemerintah?
PEMERINT AH :
Saudara Ketua. sekedar meluruskan sejarah gelar-gelar ini tadi dikutip gelar Be.HK yang dikeluarkan PTHM, begitu. Ini juga keliru oleh karena gelar Be.HK dikeluarkan oleh AHM (Akademi Hukum Militer) yang waktu itu dianggap perlu untuk diadakan. Jadi Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1950 menyebutkan kemungkinan pendidikan bacheloriat sebutannya bachelorius malahan waktu itu.
Jadi pada waktu itu entah apa urgensinya tapi AHM membulatkan studi Hukum Militer ini pada tingkat Bacheloriat oleh karena itu ada gelar B.Sc. HK, PTHM ini bukan bacheloriat.
Bahwa kemudian seperti dikatakan oleh antara FPDI ada saja institut-institut baru yang membuka bukan sistem bacheloriat tapi menggelari sistem bacheloriat ini juga
ke-semrawutannya yang kemudian perlu ditertibkan itu. Sekian ratifikasinya terima kasih.
KE1UA:
Terima kasih kepada Pemerintah, sebelum Pimpinan menyimpulkan kami persilakan FKP.
FKP (Anton prijatno, S.H.)
Kami ingin mengomentari yang terakhir mengenai istilah "Kemasyarakatan" yang memerintahkan FPP sepakat, dari kami yang nampaknya belum sepakat.
Begini, apa yang dibina dan dikembangkan di perguruan tinggi atau di pendidikan tinggi saya kira kita harus konsisten, di Pasal 19 yang substansinya sudah setuju walaupun perumusannya belum, yang ingin dikembangkan di pendidikan tinggi itu adalah ilmu pe-ngetahuan, teknologi, dan kesenian.
Nah, tentunya inilah yang menjadi kewenangan dari lembaga perguruan tinggi. Sejaub orang itu mempunyai jasa di bidang ilmu pengetahuan, tekno]ogi mestinya kesenian. ini juga yang ingin kami pertanyakan mengapa mendadak sontak kebudayaan.
Sedangkan di dalam fungsi pendidikan tinggi yang kita rumusi\.an substansinya pada Pasal 19 itu ilmu pengetahuan. teknologi dan Kesenian. Apakah sudah tidak di luar jangkau-an kewenjangkau-angjangkau-an lembaga ini, jadi karni kira walaupun itu doktor honoris causa tapi tetap berada di dalam ruang lingkup kewenangan dari pada Jembaga yang memang membina ini sumua. Melihat substansi yang dernikian kalau memang di dalam Pansus ini masih belum kecocokan dan memang karni nampak belum ada kecocokan kita teruskan saja ke Panja terima kasih.
KE1UA:
Jadi Pimpinan ingin memberikan komentar soal kebudayaan tidak mendadak, karena FKP sendiri juga menyetujui istilah itu jadi tidak mendadak sontak karena FKP sendiri menyangkut doktor honoris causa sudah demikian hanya nanti bagaimana kita temukan itu bisa-bisa saja. FABRI kami persilahkan untuk urun rembugnya.
FABRI (Drs. Made Sudiartha) :
Mengenai Ayat (5) sebenarnya kami sejalan dengan pemerintah tapi hanya catatan kecil. di mana kalau pemerintah mengusulkan dengan tambahan itu sehubungan dengan menjelas tentang "dapat diberi hak" dengan kata memenuhi syarat, ini sebenarnya hanya kurang tepat menurut kami oleh karena di dalam Ayat (6) itu juga ada nantinya tentang syarat-syarat yang dianjurkan.
Jadi kalau di sana disebutkan syarat juga ini apa kaitannya? Syarat yang disebutkan dalam Ayat (5) dengan syarat yang disebutkan pada Ayat (6). Di dalam kaitannya ini kemungkinan bahwa kami ingin menyarankan nanti dalam perumusan dalam Ayat (5) ini yaitu dengan analog perumusan dengan ayat sebelumnya. Kalau kita melihat rumusan di dalam ayat sebelumnya yaitu ayat (2), (3), dan (4) sebutan Sarjana hanya diberikan
oleh Institut clan Universitas, sebutan Magister dan Doktor diberikan oleh Institut clan Universitas yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah, seanclainya analogi dengan rumusarr yang disebutkan clalam ayat ini kemungkinan di dalam ayat 5 ini menekankan mengenai memberikan sebutan itu. Jadi berarti sebutan doktor kehormatan atau doktor honoris causa diberikan ini sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Mungkin dengan demikian itu akan lebih jelas mengenai dengan menambahkan persyaratan-persyaratan tertentu, oleh karena suclah tercakup di dalam ayat ini.
Mengenai bidang yang akan diberlkan kami tetap kepada rumusan yang pertama, bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan ini mungkin akan mencakup luas di dalam arti kebuclayaan itu yang dimaksudkan dengan kebudayaan oleh Mendikbud mohon penjelasan, karena kebudayaan ini menyangkut bidang yang sangat luas, yaitu baik mengenai sikap pola dan pola pikir perbuatan manusia, semuanya itu juga kebudaya-an, kalau ilmu pengetahuan itu juga kebuclayaan sebenarnya. Ini mohon penjelasan.
Terima kasih.
KETUA:
Terima kasih dari Fraksi ABRI, urun rembugnya yang diakhiri dengan mohon penjelasan Pemerintah masalah kebudayaan.
PEMERINT AH :
Terirna kasih Saudara Ketua, karena seorang yang mendapat gelar doktor honoris causa harus diusulkan oleh seorang guru besar dari suatu bidang ilmu, maka baik ilmu pe-ngetahuan, teknologi, maupun kebudayaan harus diusulkan dari suatu disiplin. Jadi kalau ada disjplinnya dan dari disiplin itu ada guru besarnya yang mengusulkan, maka dia bisa mendapatkan gelar honoris causa itu.
Jadi kebudayaan memang artinya luas, barangkali tidak selalu masuk sebagai suatu disiplin ilmiah . .\1isalnya kalau seorang melakukan penelitian yang dinilai oleh seorang gu-ru besar antropologi, patut diberi honoris causa, maka gelar itu nanti gelar honoris causa dari antropologi ini. Tapi seorang misalnya yang pemain musik yang luar biasa hebatnya dia bisa menjadi maestro, tapi tidak doctor honoris causa.
Kalau dia musikoolog, bisa mendapatkan honoris causa. Jadi kuncinya pada, apakah ada guru besar yang mengusulkan. dus promotornya, sebab bagairnanapun juga yang me-nerima honoris causa ini JUga disebut promovendus, jadi kalau tidak ada promotor dari disiplinnya tentu tidak bisa.
-Tentang kemasyarakatan yang tadi ditanggapi oleh Saudara dari FKP sebetulnya seperti saya terangkan tadi. ini meliputi diliput dalam ilmu pengetahuan, atau kebudayaan. Barang kali kita masih ingat bahwa singkatan yang sudah sekarang sudah banya.l( dii(enal orang IPOLEKSOSBUD, itukan tadinya kan IPOLSOS, lalu ada anggapan perlu ditambah BUD lalau IPOLSOSBUD, ialu IPOLEKSOSBUD, ekonominya minta sendiri . Jadi ini mengkategorikan gejala-gejala kemasyarakatan. 1'.alangan sosial mengatakan budaya adalah gejala masyarakat. Kalangan budaya mengatakan masyarakat adalah gejala budaya. Oleh karena itu kemudian tambah panjang, dari IPOLSOS menjadi IPOLSOSBUD. Ekonom menganggap, ekonomi berdiri sendiri IPOLEKSOSBUD. pada akhirnya lalu dari lingkung-an Militer menambahklingkung-an HANK.AM, jadi makin plingkung-anjlingkung-ang, ini bisa juga begi.tu, makin panjang-makin panjang, ta pi sebetulnya yang kuncinya bukan d;liam sebutan ini, kuncmya apakah acla disiplin yang mengusulkan. Dan yang mengusulkan ini adalah Guru Besar
yang dermawan, menderma terus, barang kiili tidak ada sosiolog yang akan memberikan honoris causa, karena argumentasinya ftlantropis saja. Bukan ilmiah, ini orang baik, tapi tidak honoris causa, sebaliknya kalau seorang awam merencanakan suatu pembangunan masyarakat (community development) yang berhasil dan memenuhi tata kemasyarakatan yang baik dan terbukti baik, maka orang ini mungkin saja diberi sebagai orang awam diberi honoris causa dalam ilmu kemasyarakatan. lni bedanya. Jadi kuncinya pada ada .promotornya apa tidak.
Demikianlah terima kasih.
KETUA:
Terima kasih, Pak Menteri kalau kami melihat jalannya diskusi ini kelihatannya sudah semua kelihatan ada alirannya menuju ke suatu tempat. Kami persilakan dari FPDI.
FPDI (Budi Hardjono, S.H.):
Terima kasih Saudara Ketua, Saya juga sudah mengikuti penjelasan daripada Saudara Menteri, pada dasamya kita bisa mengerti, hanya bagaimanapun juga kami masih tetap menghendaki dengan harus memenuhi kriteria-kriteria akademik untuk pemberian gelar 'honoris causa itu, masalah pokok supaya warga negara·lndonesia yang mempunyai pengor-banan yang cukup besar di dalam pembangunan bangsa itu tetap mendapat kesempatan untuk mendapatkan gelar honoris causa tidak terlalu dipersempit oleh terminologi atau ketentuan-ketentuan yang kita bikin. Tetapi juga kriteria-kriteria akademik memang harus diperhatikan. Sebab ha! demikian mempunyai dampru~ yang luas bahwa bangsa kita mampu menghargai kepada pejuang-pejuangnya, itu pendapat daripada Fraksi PDI.
Dan kemudian kalau kami menengok kepada Pasal 19 yaitu yang tadi terkait bahwa misalnya kemasyarakatan itu tidak perlu dijadfi,an landasan di dalam pemberian honoris causa itu, kalau saya diijinkan membaca Pasal 19 ayat (I) Pendidikan tinggi diselenggara-kan oleh perguruan tinggi untuk menyiapdiselenggara-kan peserta dididiselenggara-kan menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik a tau keilmuan dan. atau profesional, sehingga dapat menerapkan, mengembangkan dan atau menciptakan ilmu pengetahuan teknologi dan atau kesenian.
Terus terang dari Fraksi PDI belum puas dengan terminologi yang mengantar masalah pendidikan tinggi di dalam Pasal 19 ini dan sudah barang tentu nanti harus kita diskusikan di dalam Panja. Sebab terminologi ini belum memenuhi suatu pendirian yang oleh Fraksi PDI dikemukakan di dalam pemandangan umum maupun pengantar Pansus beberapa hari yang lalu bahwa proses pendidikan itu harus beranjak dari kondisi apa adanya· kepada kondisi yang kita inginkan, sehingga dimensi normatif imperatif yang kita harapkan itu harus jelas ada. Di sini belum diisi dengan penegasan bahwa menjadi katakanlah seorang sarjana yang berkepribadian ini-ini. Jadi kuncinya itu harus ada suatu karakter, ada kepri-badian, jadi dimensinya itu tidak terlalu ilmiah saja, tapi juga pendidikan itu harus tidak bisa meninggalkan dimensi membentuk watak dan karakter yang kita inginkan. Nah, kriteria nanti bisa kita diskusikan, tapi itulah masalahnya. Sehingga kami tetap tidak puas atau belum bisa menerima kalau pendidikan tinggi hanya menjadikan orang menjadi ilmiah, menjadikan orang berperan di masa depan tanpa secara eksplisit ditegaskan, diisi
kearah pembinaan dari pada personifikasi dan kepribadian. Demikian Saudara Ketua, terima kasih.
KETUA:
Terima kasih Pak, hanya kami mohon supaya nanti ticiak berkembang jadi Pasal
19
itu sudah di dorong ke Panja dan di situlah memang ketidakpuasan FPDI dapat tempat, di situ tolong dituangkan se baik-baiknya di dalam permusyawaratan di Panja nanti.
Sedangkan menyangkut ungkapan yang terkait kepada ayat (5), karena tadi ada semacam menawar seolah-olah, barang kali Pemerintah bisa menjelaskan lagi.
PEMERINT AH :
Terima kasih Saudara Ketua, dan Saudara dari Waij! PDI yang terhormat, seperti saya jelaskan sebelumnya yang dapat menerima gelar honoris causa itu termasuk awam, jadi tidak selalu harus ilmuwan, tadi mungkin ada ungkapan yang kurang begitu tepat, yaitu bahwa untuk mendapatkan gelar-honoris causa ini harus dipenuhi kriteria akademik, ini tidak, yang saya sebutkan tadi adalah bahwa gelar honoris causa ini diberikan atas dasar usulan seorang Akademikus, yaitu guru besar di bidangnya. Sebab honoris causa ini tidak diberikan tanpa menyebutkan dalain ha! apa. Dus misalnya tidak mungkin orang menerima gelar doktor honoris causa, mesti doktor honoris causa dalam sesuatu. Nah, guru besar dalam ilmu inilah yang menjadi promotornya. Jadi orang awam pun dapat, politisi juga dapat. Siapapun bisa, asal promotor ini cukup alasannya untuk mengajukan dan mendapatkan persetujuan dari Senat.
Nah di samping itu perlu diingat bahwa bentuk-bentuk dan ragam penghargaan negara maupun masyarakat terhadap tokoh-tokoh yang berjasa itu macam-rnacam. Sepcrti tadi juga saya sebutkan bisa saja seorang mendapatkan bin tang penghargaan, bahkan bisa saja seorang menjadi Maha Putra bahkan bisa menjadi tugu barang Kali. rna;csud saya dirnonu-rnenkan. Kan kita di dunia rnanapun banyak, ada monumen Jefferson. Munumen ini, rnonumen itu, itu bisa saja. Jadi penghargaan ini macam-macam ragamnya. Doktor honoris causa adalah ragam penghargaan dari '.;:alangan akademis. Jadi oleh karena itu maka juga ada ketentuan-ketentuannya. kemungkinannya jadi tidak tertutup, hanya harus ada yang mempromosikan dari lingkungan akademik, bukan kriteria akademis.
Saya kira sudah terjawab te1ima irnsih Pak.
KETUA:
Terima kasih, jadi khusus yang menyangkut sebutan doktor ;.;.ehorrnatan nan1' C:i!Jeri-kan penjelasan barang kali sehingga sejelas-jelas;-.ya, begitu. Kalau lrnmi melfoat jalannya diskusi ini maka barang kali Pasal 21 ini bisa didorong Ice arah Panja. dengan caLatan tadi juga sudah berkembang sampai dimana kemung;dnannya nanti Panja untul memi-kir:zan ancang-ancang yang terh:ait, apakah namanya jenjang, apakah strata di dal: ;n yang
tadi dikatakan oleh F ABRI, FPP dan sebagainya.
Jadi tentang bagairnana susun::mnya nan ti itu Panja, tetapi •nengacu icepada P'1sai 21 ini ayat (I\ ayat (2) ayat (3), ayat (4). ayat (5) itu ycmg penting, sdangK:an di daL1m ayat (6) nya sendiri tadi khususnya fPP maksudnya ini adalah buK:an Undang-undans
ti•rsen-diri. tetapi ia berada di dalam Undang-undang.
Jadi setidak-tidaknya ayat (1) sampai dengan ayat (5) itu bisa diclorong Kear2a <1zmja
dengan catato.n y:iitu ancang·anca:·1g tcntang stratr, tatli d::n penjclasan sebai:. ,;ai,,_nyz, rnenyangkut sebutan doktor kehormatan, apakah bisa disepai.;.ati ;,e Panja?
(RAP AT SETUJU)
Seperti yang telah Pimpinan sampaikan pada awal rapat ini, bahwa golong<d1 yang usul penghapusan kita tinggalkan dulu, jadi Pasal 22 kita tinggalkan dulu, Pasal 23 kita
tinggalkan dulu, Pasal 24 kita tinggalkan dulu, karena dari ke 3 pasal ini FPDI usulnya adalah untuk ditiadakan. Nanti khusus itu kita bicarakan tersendiri bersama-sama yang lain.
Kemudian kita masuk ke Pasal 25, yaitu hakekatnya menyangkut masalah kebebasan akadernik sesuai dengan apa yang ada di dalam RUU, kemudian ada perkembangan usulan-usulan yang masih dipandang ada relevansinya di situ. Oleh karena itu kepada masing-masing Fraksi karni mohon untuk memberikan penjelasannya dan kaini persilakan lebih dahulu dari Fraksi ABRI.
F ABRI (A.S. Harjono) :
Terima kasih atas kesempatan ini, Fraksi ABRI meninjau masalah Pasal 25 dalam rurnusan pasal ini dan penjelasannya itu belum termasuk adanya kebebasan yang dimililci oleb mahasiswa. Menurut kenyataan kami menganggap bahwa di dalam kehidupan per-guruan tinggi itu unsur mahasiswa pun perlu adanya suatu kebebasan di dalam mengikuti dalam perkembangan di dalam perguruan tinggi itu.
Di dalam keterangan-keterangan Pemerintah ataupun dalam pasal itu penjelasa1mya, bahwa dijelaskan adanya kebebasan mimbar dan kebebasan akademik, yang keterangan terakhir dari Pemerintah bahwa kebebasan yang bisa diikuti atau bisa diikutsertakan mahasiswa itu adalah kebebasan akademik, kami bisa menerima masalah itu, sehingga dengan demikian dalam rumusan itu nanti yang kita kehendaki adalah sampai dimana keikutsertaan mahasiswa itu dalam kebebasan akademik. Hal inilah perlu dicantumkan di dalam pasal ataupun di dalam penjelasan nanti sehingga jelas tidak akan kata1rnnlah semrawut seperti sekarang, seperti sekarang, mahasiswanya minta kebebasan lalu l\.ebe-basan, sampai di mana, mau bebas sebebas-bebasnya, tapi Pemerintah juga mengatakan ada kebebasan tapi sejauh mana? Itu belum jelas. Jadi yang Fraksi ABRI minta adalah adanya batasan-batasan yang bisa dimengerti oleh kedua belah pihak, sehingga Pemerintah bisa membatasi sampai dimana kebebasan itu bisa dilepaskan dan mahasiswanya sendiri juga bisa mengerti kebebasan mana yang dimilikinya.
Inilah prinsip yang dikehendal<l oleh Fraksi ABRI, terima kasih. KETUA.:
Terima kasih atas penjelasan alasan dan latar belaKang pemikiran usulan perubahan dari FABRI, kami persilakan dari Fraksi FPP.
FPP (H. Ismail Hasan Metareum, S.H.):
Terima kasih Saudara Pimpinan, karni memberikan suatu rumusan yang menggambar-kan kenyataan apa yang dilaksanamenggambar-kan sekarang ini dan tidak tercakup di dalam RUU, saya bicara saja ayat (1) terlebih dahulu.
Di dalam RUU di sana dituliskan kebebasan akadernik, di sini belum menggambarkail permasalahannya yang sebenarnya sehingga kami mengusulkan kebebasan ini dibagi K.epada dua, kebebasan akadernik dan kebebasan mimbar. Karena menyangkut 2 permasalahan yang esensial yang dipunyai oleh setiap perguruan tinggi. -Yang kami maksudkan dengan kebebasan akademik adalah kebebasan dalam memperkembangkan mencari, mengali dan memperkembangkan ilmu.
Dalam hal kebebasan akadernik ini tidak hanya tenaga pengajar yang diberikan kebe-basan, sebab di samping itu mahasiswa untuk mengembangkan dirinyapun hams meneliti,
harus mengadakan pembahasan mengenai masalah-masalah keilmuan, sehingga kebebasan akademik itu tidak hanya dipunyai oleh guru besar a tau oleh tenaga peneliti yang khusus, tapi mahaSiswa pun malah diharuskan mahasiswa untuk ikut dalam penelitian.
Sedangkan kebebasan mimbar ini benar dipunyai oleh mereka yang berwenang untuk bidang itu. Jadi harus kita bedakan kebebasan mimbar dan kebebasan akademik. Ini
menge-ooi ayat yang pertama. ·
Dan kemudian ada lagi suatu permasalahan yaitu yang menyangkut keseluruhan dan tersangkut dengan ayat (2). Ayat (2) kami mengusulkan ayat baru yang ayat (3) nya barang kali itu soal yang sudah kita bicarakan berkali-kali termasuk dalam perundang-undangan itu sendiri, tapi kami tidak akan kupas soal itu, kami hanya mengupas soal ayat (2) supaya sekaligus karena sating berkait dengan ayat (1) yang kami usulkan.
Ayat (2) ini mengenai memiliki otonomi, kalau kami berbicara soal otonomi, jangan-lah sampai dianggap bahwa universitas itu suatu negeri sendiri, bukan negeri sendiri, tapi dalam satu negeri, dengan yang lain-lainnya. Tapi mereka mempunyai keistirnewaan, kekhususan, oleh karena itu kita harapkan dalam berbagai bidang mereka mempunyai otonomi dalam pengertian tidak terlepas dari pada ketentuan-ketentuan umum yang harus dipatuhi juga oleh mereka. Namun kepada mereka sebagai harapan kita bersama untuk dapat memajukan ilmu pengetahuan dan memajukan negeri, mai<a kepada mereka kita berikan semacam otonomi itu.
Jadi ini yang kami harapkan dan dapat lcita perkembangkan di dalam Undang-undang ini. Antara lain otonomi yang kami maksudkan umpamanya di dalam pelembagaan, mereka tidak terlalu diuniformitaskan dengan yang lain-lain baik yang dibentUK dari atas maupun dari samping, jadi mereka mempunyai kelembagaan . ·yang otonom yang bisa diberikan kebebasan mereka dalam batas-batas tertetentu, tentunya tidak bebas seperti yang saya kemukakan seolah-olah negeri sendiri.
Kemuc:fan yang kedua, di dalam ketenagakerjaan, ini mereka diberi hak untuk memi-kirkan, memperkembangkan, tapi tidak ter!alu luas kalau dihilang tenaga kerjaan, terutama kalau di negeri kita tentunya akan tunduk kepada peraturan-peratuan yang ada hubungan-nya dengan tenaga kerja pegawai negeri/tenaga kerja negeri artihubungan-nya pada undang-undang pegawai negeri.
Kemudian yangkedua, di dalam ketenagakerjaan, ini mereka diberi hak untuk memikir-kan, memperkembangmemikir-kan, tapi tidak terlalu luas kalau dihilang ketenagakerjaan, H:rutama perguruan tinggi untuk dapat memperlihatkan semacam identitas mereka keklrnsusan mereka yang di situlah berlomba-lomba, kalau istilah kami yang biasa dipakai p1subi-hul khoirot di dalam otonomi yang tepat mereka masing-masing. Jadi mudah-m tddian mereka dengan otonomi yang ada pada mereka, mereka bisa berlomba untuk mer:int:kat-kan mutu masing-masing dan meningkatmer:int:kat-kan prestasi masing-masing di dalam rangb kesa-tuan. Dalam rangka kesatuan artinya dalam negara kesatuan, kemudian juga dalam soal pendidikan tidak harus ada poirnk-pokok yang kita atur, tapi di sinilah kebhinekaannya kita beri kesempatan bhineka tunggal ika terlihat di da!am gambaran perguruan-perguruan tinggijuga.
Masalah kemahasiswaan, juga mereka bartanggung jawab atau dibimbing oleh pimpin-an universitas, ini saya tidak komentar lebih jauh. Adapun perpimpin-an Pemerintah di dalam hal ini mengatur secara umum dan memberikan biaya-biaya secara memadai kepada setiap perguruan tinggi kalau itu perguruan tinggi Pemerintah, i<alau itu perguruan tinggi swasta, maka pemerintah mengatur, tapi jangan sampai orang berkata bahwa swasta itu duplikat dari pemerintah, tetapi adalah mitra dari pada pemerintah.
Mereka diberikan juga kesempatan untuk mengembangkan diri mereka dam memper-lihatkan identitas mereka
dan
berlomba dalam memajukan ilmu dan negeri. Inilah yang ingin kami sampaikandi
dalam masalah otonomi itu.Di
dalam rangka otonomi inilah kita memikirkari masalah kebebasan kampus, karena bicara ayat (1) itu bicara kebebasan, maka di ayat (1) itu kami tuliskan kebebasan kampus.Namun masalah otonomi, karena ini masalah yang lain, maka diayat ke-2, tidak bisa kita pisahkan dengan masalah pertama itu, jadi kebebasan kampus dalam rangka pembi· naan otonomi perguruan tinggi di dalam rangka pembangunan perguruan tinggi suatu lembaga ilmu pengetahuan yang benar-benar kita harapkan untuk memajukan ilmu dan memajukan negara pada masa yang akan datang.
Saya kira inilah sementara, terirna kasih.
KETUA:
Terima kasih dari pihak FPP yang telah menjelaskan apa yang dimaksudkan usulan otonomi dan kebebasan kampus pada khususnya. Kami persilahkan Fraksi Partai Demo· krasi Indonesia untuk menyampaikan pendapatnya.
FPDI (Budi Harjono, S.H.):
Saudara Ketua dan Saudara-saudara sekalian yang kami hormati,
dari
Fraksi Partai Demokrasi Indonesia telah mengajukan suatu pendapat seperti halnya yang terumus di dalam Daftar lsian Masalah yaitu perumusan Pasal 25 ini yang mengatur kebebasan akade· mik kurang diluruskan secara mendasar dan terinci perlu disempurnakan rumusannya, hingga mencakup hal-hal sebagai berikut :Pertama-tama mengenai fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang kita hayati selama ini perlu ditegaskan di dalam undang-undang.
Kedua, otonomi perguruan tinggi mulai perlu dikembangkan termasuk pengembangan kemandirian mahasiswa untuk mengatur dirinya sendiri dalam kampus lembaga pendidikan tinggi. Jadi kampus ini kami artikan kampus lembaga pendidikan tinggi. bukan berarti kampus rojo koyo atau kampus atlit. Jadi kampus lembaga pendidikan tinggi secara lebih demokratis.
Kehidupan perguruan tinggi harus menumbuhkan iklim suasana kampus lembaga pendidikan tinggi sedemikian rupa, sehingga para mahasiswa sebagai potensi pemimpin bangsa dapat berkembang seoptimal mungkin.
Perguruan tinggi tidak sekedar perguruan tinggi dan atau lembaga pendidikan tinggi, tidak sekedar menghasilkan sarjana-sarjana yang berkeahlian dalam bidangnya tetapi mandul dari aspirasi masyarakat dan bangsanya, harus menghasilkan sarjana-sarjana pemikir pejuang dan pejuang pemikir. Barang kali nanti sudah barang tentu karena cukup banyak materi·materi yang harus kita diskusikan memang nantinya secara mendalam harus kita bicarakan usul dari FPDI di dalam Panja.
Sa tu hal yang juga ingin saya kemukakan, kami lihat penjelasan dari pada Pasal 25 dalam RUU Pendidikan Nasional Pasal 25. Dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengem· bangan ilmu pengetahuan pada perguruan tinggi berlaku kebebasan akademik, komentar seperti yang telah kami kemukakan tadi.
Kemudian penjelasan, kebebasan keilmuan yang lebih dikenal umum sebagai kebe-basan akademik adalah kebekebe-basan yang diberikan kepada para tenaga pendidik dan pene-liti di perguruan tinggi untuk melakukan penepene-litian dan menyampaikan
hasil
penelitianyang diperoleh sendiri ataupun diperoleh peneliti lain secara bertanggung jawab. Kebebasan keilmuan diadakan untuk memungkinkan upaya memajukan ilmu pengetauan demi kemajuan masyarakat dan umat manusia.
Dengan membaca Pasal 25 dan penjelasan ini, maka lahirlah pikiran seperti di dalam DIM PDI, dan yang menarik adalah keterangan Saudara Menteri Pendiciikan dan Kebu-dayaan pada waktu pembukaan Pansus, bahwa yang dinanti·nantikan oleh masyarakat sekarang ini sudah mulai terkemukakan menjadikan lebih memberikan kesegaran, bahwa Saudara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan bahwa mahasiswa juga memiliki kebebasan, ikut disertakan di dalam kebebasan akademik, kira-kira demikian.
Sehingga dengan demikian penjelasan Pasal 25 ayat (1) ini dengan penjelasan Bapak Menteri itu menjadi lebih jelas dan dengan demikian kalau kira-kira memang arahnya demikian itu juga akan mengembangkan salah satu esensi pikiran da_ri Fraksi PDI bahwa rnahasiswa pun sebagai subyek dan pemeran serta katif di dalam pengembangan kebebasan akadernik. Ta pi kalau hanya kita baca penjelasan Pasal 25 ayat
(1)
tan pa mendapat penje-lasan dari Bapak Me,gteri pada Sidang Pansus hari pertama kemarin ada kemungkinan tafsiran bahwa mahasiswa tidak merniliki kebebasan akademik. Persoalan selanjutnya mengenai Otonorni Perguruan Tinggi dan sebagainya, barangkali karena juga memerlukan suatu pendiskusian yang cukup mendalam, FPDI hanya akan mengemukakannya nanti pada Panja dan sudah barang tentu tetap pada satu keinginan dari FPDI bahwa Undang-undang Pendidikan Tinggi itu seyogyanya diatur di dalam Undang-Undang-undang tersendiri. Sekian komentar kami.Terima kasih Saudara Pimpinan. KETUA:
Terima kasih Pak, tapi kalau Pimpinan boleh menawar seperti halnya juga FPP tadi menjelaskan mohon dijelaskan secara singkat apa dimaui tentang Otonomi Perguruan Tinggi menurut FPDI dibawa ke Panja, sehingga modalnya sama-sama sudah tahu,jadi Jebih terbuka maksud say a juga harapa-n Ff>DI sendiri kita supaya terbuka.
Terima kasih.
FPDI (Budi Harjono, S.H.):
PDI memang selalu terbuka jadi tidak perlu diragukan keterbukaannya apalagi karena kecil jadi selalu gampang terbuka itu, pada prinsipnya jadi pendirian PDI secara agak menyeluruh katakanlah agak komprehensif.
Mengenai otonomi Perguruan Tinggi itu nanti aican kami kemukakan di dalam Panja saja, karena memang masalahnya cukup mendasar. tapi sebagai gambaran singkat Perguruan Tinggi, Lembaga Pendidikan Tinggi itu perlu ada satu kemandirian, mengatur dirinya sebab Lembaga Pendidikan Tinggi adalah Lembaga yang cukup terhormat dengan kom-ponen Guru Besar, Profesor. Dokter, lnsinyur dan sebagainya kemudian mahasiswa seba-gai jenjang pendidikan formal terakhir, pendidikan formal yang paling tinggi sudah tentu mempunyai kedewasaan dan kematangan berpikir dan sebagainya disamping sarana-sarana keras lainnya.
Yang kami inginkan sebenarnya Otonomi Perguruan Tinggi itu supaya Perguruan Tinggi itu mampu mengembangkan suasana perkembangan kehidupannya yang menjadi lebih tidak kurang dibatasi menjadi memungkinkan terdapat kemampuannya untuk mela-kukan alternatif-alternatif atau kreatifitas-.kreatifitas yang juga sambung dengan perkem-bangan masyarakat sekitarnya daripada pengaruh Lembaga Perguruan Tinggi itu bisa
menyampaikan pendapat-pendapatnya secara terbuka dan bertanggwigjawab, sudah barang tentu dengan tertib.
Semmtara ini berdasarkan dialog atau pembicaraan antara FPDI dengan Para Palm Pendidikan Tinggi apakah itu Prof. Slamet Iman Santoso, Prof. Mahar Mardjono Prof.
Dr.
Ir.
lskandar Alisyahbana itu, Prof. Daud Yusuf dan sebagainya yang pernah kami adakan Rapat Dengar Pendapat itu dirasakan iklim otonomi Perguruan Tinggi itu masih perlu diperbaiki, suatu contoh konkret misalnya kalau ada dokter yang diundang oleh sesuatu organisasi masyarakat, wah saya tidak bisa datang karena belum dapat ijin dari Rektor, inilah kira-kira salah satu contoh konkret dan supaya juga para Pakar-pakar itu mendapat kekuasaan yang lebih lagi untuk mengemukakan pendapat-pendapatnya yang tidak harus hanya sebagai kelanjutan atau yang hanya merupakan penjuru-bicara dari pada pemegang kebijaksanaan di dalam pendidikan tinggi, itu kira-kira.Dan sudah barang tentu mahasiswa pun juga harus menjadi, mendapatkan kebebasan-nya yang lebih baik, jadi kalau mahasiswa misalkebebasan-nya mau ke DPR itu ya tidak hams pakai surat dengan Rektor, ke DPRD Jogya misalnya tidak harus perlu dengan surat ijin Rektor dan sebagainya sebab mereka toh itikatnya baik dan bisa kita tangani dengan sebaik-baiknya, itu beberapa contoh-contoh konkret mengenai hal-hal yang menghambat adanya Otqnomi Lembaga Pendidikan Tinggi. Baiknya menyangkut para pengasuh guru besar, staf pengajar dan sebagainya juga bagi para mahasiswa, itu keterangan kami sementara Saudara Ketua.
Terima kasih.
KETUA:
Terima kasih dari FPDI yang telah memberikan gambaran apa yang dimaksudkan de-ngan Otonomi Perguruan Tinggi pada khususnya. Selanjutnya kami persilakan pada FKP dengan permohonan karena FPDI menyinggung Tridarma untuk menserasikan, tolong di-singgung pula karena ada usulan halaman 25 yang terkait dengan Tridarrna. Jadi saya kira nan ti bisa sekaligus, supaya ada kesinambungan usul dari Fraksi lain, kami persilakan.
FKP (Drs.Dewa Putu Tengah): Terima kasih Saudara Pimpinan.
Yang terhormat Saudara Menteri dan Saudara-saudara peserta Pansus yang kami hormati, FKP sehubungan dengan Pasal 25 ini hanya menginginkan penyempurnaan dengan menitik beratkan maksudnya penelitian dalam rumusan tersebut, karena penelitian mem· punyai hubungan yang erat dalam rangka kebebasan akademik ini.
Dengan rumusan seperti ini juga sekaligus kami menyerap aspirasi yang sekarang berkembang yaitu ikut sertanya mahasiswa di dalam kegiatan kebebasan akademik ini, karena mahasiswa juga sebagai komponen di universitas suatu institut melaksanakan penelitian ini.
Sedangkan sehubungan dengan kebebasan mimbar akademik yang sekarang juga mulai menjadi hangat dan merupakan keinginan juga dari pihak-pihak yang merasa ber· kepentingan terutama dalam hal ini mahasiswa di lingkungan kampus kami mempunyai suatu konsep sebagai berikut : bahwa hubungan antara kebebasan akademik dengan kebe· basan mimbar ibaratnya adalah 2 buah lingkaran yang berpotongan dimana di dalam kebebasan mimbar akademik itu sendiri terdapat kebebasan akademik, hanya yang me· ngemban yang berbeda.