KEANEKARAGAMAN DAN POTENSI SPESIES TUMBUHAN BAWAH PADA BEBERAPA TEGAKAN FAMILI POHON DI KEBUN RAYA BOGOR INSANI SILMI

Teks penuh

(1)

KEANEKARAGAMAN DAN POTENSI SPESIES TUMBUHAN

BAWAH PADA BEBERAPA TEGAKAN FAMILI POHON

DI KEBUN RAYA BOGOR

INSANI SILMI

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Keanekaragaman dan Potensi Spesies Tumbuhan Bawah pada Beberapa Tegakan Famili Pohon di Kebun Raya Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Maret 2017

Insani Silmi NIM E34120013

(4)

ABSTRAK

INSANI SILMI. Keanekaragaman dan Potensi Spesies Tumbuhan Bawah pada Beberapa Tegakan Famili Pohon di Kebun Raya Bogor. Dibimbing oleh AGUS HIKMAT dan SYAMSUL HIDAYAT.

Kebun Raya adalah kawasan konservasi tumbuhan secara ex-situ dan terdapat sistem pendokumentasian pada koleksi tumbuhannya. Salah satu kebun raya yang ada di Indonesia yaitu Kebun Raya Bogor (KRB). Koleksi tumbuhan yang ada di KRB terdiri dari berbagai spesies dan habitus, diantaranya yaitu tumbuhan bawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman dan potensi spesies tumbuhan bawah, serta mendeskripsikan kondisi faktor lingkungan abiotik pada beberapa tegakan pohon di KRB. Metode pengambilan data dilakukan dengan analisis vegetasi, observasi lapang, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teridentifikasi 37 spesies tumbuhan bawah dari 20 famili. Tumbuhan bawah yang diperoleh dari hasil analisis vegetasi berpotensi sebagai tumbuhan obat, tanaman hias, bioherbisida, dan pembersih udara. Kondisi lingkungan abiotik yang diukur pada plot penelitian menunjukkan nilai yang relatif sama kecuali pada nilai intensitas cahaya matahari.

Kata kunci: keanekaragaman, kebun raya bogor, tumbuhan bawah

ABSTRACT

INSANI SILMI. The Diversity and Potential of Undergrowth Species in Several Tree Families Stands at Bogor Botanical Gardens. Supervised by AGUS HIKMAT and SYAMSUL HIDAYAT.

Botanical Gardens is an ex-situ conservation plant area that uses documenting systems in plant collection. One of the botanical gardens in Indonesia is Bogor Botanical Garden (KRB). Collection of plants in KRB consists of various types and habitus, among which undergrowth species. This study aimed to identify the diversity and potential of undergrowth species, also to describe the conditions of abiotic environmental factors at several of tree stands in KRB. Methods of data collection was done by analysis of vegetation, field observation, and literature studies. The results showed that there were 37 species of undergrowth species from 20 families. Undergrowth species obtained from the analysis of vegetation have the potential as medicinal plant, decorative plants, bioherbicide, and air purifier. Abiotic environment conditions measured on the observation plots showed the same relative value, except for the value of light intensity.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan

pada

Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

KEANEKARAGAMAN DAN POTENSI SPESIES TUMBUHAN

BAWAH PADA BEBERAPA TEGAKAN FAMILI POHON

DI KEBUN RAYA BOGOR

INSANI SILMI

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)
(8)

Judul Skripsi : Keanekaragaman dan Potensi Spesies Tumbuhan Bawah pada Beberapa Tegakan Famili Pohon di Kebun Raya Bogor Nama : Insani Silmi

NIM : E34120013

Disetujui oleh

Dr Ir Agus Hikmat, MScF Pembimbing I

Ir R. Syamsul Hidayat, MSi Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr Ir Nyoto Santoso, MS Ketua Departemen

(9)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Mei 2016 ini ialah keanekaragaman tumbuhan, dengan judul Keanekaragaman dan Potensi Spesies Tumbuhan Bawah pada Beberapa Tegakan Famili Pohon di Kebun Raya Bogor.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ir Agus Hikmat, MScF dan Bapak Ir R. Syamsul Hidayat, MSi selaku pembimbing. Di samping itu, penulis berterimakasih kepada staff dan pegawai Kebun Raya Bogor yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Maret 2017

(10)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vii

DAFTAR GAMBAR vii

DAFTAR LAMPIRAN vii

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

METODE 2

Lokasi dan Waktu Penelitian 2

Bahan dan Alat 3

Jenis Data yang Dikumpulkan 3

Metode Pengumpulan Data 3

Analisis Data 5

HASIL DAN PEMBAHASAN 7

Kondisi Umum Lokasi Penelitian 7

Komposisi Famili dan Spesies Tumbuhan Bawah 8

Indeks Keanekaragaman Spesies Tumbuhan Bawah 9

Dominansi Spesies Tumbuhan 10

Kesamaan Komunitas Tumbuhan Bawah 13

Potensi Kegunaan Spesies Tumbuhan Bawah 13

Kondisi Lingkungan Abiotik pada Lokasi Penelitian 16

SIMPULAN DAN SARAN 16

Simpulan 16

Saran 17

DAFTAR PUSTAKA 17

(11)

DAFTAR TABEL

1 Jenis dan metode pengumpulan data penelitian 3

2 Indeks Keanekaragaman Spesies (H’), Indeks Kemerataan Spesies (E), dan Indeks Dominansi Spesies (ID) Tumbuhan Bawah di lokasi

penelitian 9

3 Spesies tumbuhan bawah dengan INP ≥ 10 % dari seluruh plot

penelitian 10

4 Indeks kesamaan komunitas tumbuhan antar komunitas di lokasi

penelitian 13

5 Spesies tumbuhan bawah yang berkhasiat obat 15

6 Faktor lingkungan pada tiap plot penelitian 16

DAFTAR GAMBAR

1 Peta lokasi penelitian 2

2 Bentuk sampling dan petak contoh penelitian 4

3 Jumlah spesies tumbuhan bawah pada tiap plot penelitian 8

4 Rumput gajah mini (Axonopus compresuss) 11

5 Rumput gunung (Oplismenus burmanii) 11

6 Geophila repens 12

7 Rostellularia sundana 12

8 Epipremnum pinnatum 12

9 Kakerlak (Elatostema repens) 14

10 Sirih gading (Epipremnum pinnatum) 14

(12)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kebun raya adalah bagian dari kekayaan bangsa yang merupakan pusat pengetahuan botani, kawasan konservasi, kawasan pendidikan dan penelitian, serta sebagai sarana rekreasi di alam terbuka. Kebun raya berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2011 adalah kawasan konservasi tumbuhan secara ex-situ yang memiliki koleksi tumbuhan terdokumentasi dan didata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, bioregion, tematik, atau kombinasi dari pola-pola tersebut untuk tujuan kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata, dan jasa lingkungan.

Ada beberapa macam kawasan konservasi tumbuhan secara ex situ, namun Kebun raya memiliki kekhasan tersendiri sebagaimana dapat dilihat pada definisi dan karakteristiknya. Salah satu karakteristik yang paling menonjol adalah adanya sistem pendokumentasian pada koleksi tumbuhannya. Kebun raya juga berperan sebagai bank tumbuhan, serta sebagai tempat inventarisasi dan eksplorasi tumbuh-tumbuhan yang mempunyai nilai ilmu pengetahuan dan ekonomi. Salah satu kebun raya di Indonesia yang mempunyai koleksi tumbuhan paling lengkap dan mempunyai sejarah panjang dalam konservasi tumbuhan secara ex-situ adalah Kebun Raya Bogor yang terletak di Provinsi Jawa Barat.

Kebun Raya Bogor (KRB) adalah kawasan konservasi ex-situ yang sudah berusia hampir dua abad dan juga merupakan kebun raya pertama dan terbesar di Asia Tenggara sehingga mempunyai nilai penting yang tinggi. KRB memiliki luas areal 87 ha dan terbagi kedalam 25 vak (zona). Menurut data terbaru KRB yaitu Januari 2016, KRB mempunyai koleksi tumbuhan sebanyak 218 famili, 1.227 genus, dan 3.301 spesies (LIPI 2016). Koleksi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan belahan dunia ini memiliki habitus yang sangat beragam, mulai dari tumbuhan merambat, herba, perdu sampai pohon-pohon berkayu berukuran besar (Hidayat 2011).

Kebun Raya Bogor (KRB) bisa disebut sebagai suatu ekosistem hutan karena di dalamnya terdapat masyarakat tumbuhan, satwa, dan lingkungannya yang mana diantara komponen tersebut terjadi hubungan timbal balik dan saling memengaruhi. Dalam ekosistem hutan terdapat beberapa komponen masyarakat tumbuh-tumbuhan. Salah satu komponen dalam masyarakat tumbuh-tumbuhan adalah tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah merupakan vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, yang meliputi rerumputan, herba dan semak belukar. Dalam stratifikasi hutan hujan tropika, tumbuhan bawah menempati stratum D yakni lapisan perdu, semak dan lapisan tumbuhan penutup tanah pada stratum E (Soerianegara dan Indrawan 1998).

Tumbuhan bawah memiliki banyak potensi antara lain sebagai tumbuhan obat, bahan pangan, tanaman hias, dan penghasil minyak atsiri. Keberadaan tumbuhan bawah di lantai hutan juga berfungsi untuk menjaga kelembaban dan meningkatkan infiltrasi air hujan ke dalam tanah. Selain tumbuhan koleksi dan tumbuhan yang sengaja ditanam, di KRB juga terdapat tumbuhan liar terutama tumbuhan bawah. Data mengenai keanekaragaman dan potensi spesies tumbuhan bawah tersebut belum terdokumentasi dengan baik. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai tumbuhan bawah yang ada di KRB.

(13)

2

Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk :

1. Mengidentifikasi keanekaragaman spesies tumbuhan bawah di Kebun Raya Bogor.

2. Mengidentifikasi potensi kegunaan spesies tumbuhan bawah yang ada di Kebun Raya Bogor.

3. Mendeskripsikan kondisi lingkungan abiotik pada lokasi penelitian.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai komposisi, keanekaragaman spesies, dan potensi tumbuhan bawah di Kebun Raya Bogor untuk kepentingan pengelolaan Kebun Raya Bogor dalam kaitan peranan dan fungsinya sebagai kawasan konservasi tumbuhan secara ex-situ.

METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Mei – September 2016 di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat (Gambar 1).

(14)

3 Bahan dan Alat

Obyek yang diamati dalam penelitian ini adalah tumbuhan bawah yang berada di bawah tegakan pohon di KRB. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi meteran, tali rafia, patok, tally sheet, lux meter, termometer dry wet, alat tulis, kamera dan buku identifikasi spesies.

Jenis Data yang Dikumpulkan

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi kondisi umum lokasi penelitian, keanekaragaman tumbuhan bawah, kondisi lingkungan abiotik, dan potensi tumbuhan bawah (Tabel 1).

Tabel 1 Jenis dan metode pengumpulan data penelitian No Jenis Data Aspek yang diamati Metode

1 Kondisi umum lokasi penelitian

 Letak dan luas  Topografi dan iklim  Tanah dan geologi  Flora dan fauna

Studi literatur 2 Keanekaragaman tumbuhan bawah  Nama lokal  Nama ilmiah  Famili Analisis Vegetasi, Studi literatur, dan wawancara 3 4 Potensi tumbuhan bawah Kondisi lingkungan abiotik  Kegunaan tumbuhan  Suhu  Kelembaban udara

 Intensitas cahaya matahari

Studi literatur Studi literatur dan observasi lapang

Metode Pengumpulan Data Penentuan lokasi penelitian

Survei lapangan dilakukan terlebih dahulu untuk menentukan lokasi dan peletakan plot penelitian. Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Kriteria pemilihan plot penelitian adalah area yang didominansi oleh tegakan pohon dari famili yang sama dan di bawah tegakan tidak hanya ditumbuhi oleh rumput. Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh 13 plot penelitian yang terdiri dari tegakan famili Fabaceae, Dipterocarpaceae, Annonaceae, Euphorbiaceae, Rutaceae, Myrtaceae, Apocynaceae, Myristicaceae, Rubiaceae, Sapotaceae, Verbenaceae, Sterculiaceae, dan Moraceae.

(15)

4

Analisis vegetasi

Analisis komunitas tumbuhan merupakan suatu cara mempelajari susunan atau komposisi spesies dan bentuk atau struktur vegetasi. Tujuan analisis komunitas yaitu untuk mengetahui komposisi spesies dan struktur komunitas pada suatu wilayah yang dipelajari (Indriyanto 2008). Parameter tumbuhan bawah yang diamati adalah jumlah individu dan spesies. Pengambilan contoh vegetasi di lapangan dilakukan dengan metode petak ganda. Menurut Kusmana (1997) dalam Indriyanto (2008), untuk fase semai serta tumbuhan bawah menggunakan petak contoh berukuran 1 m x 1 m atau 2 m x 2 m. Pengambilan contoh vegetasi pada metode petak ganda dilakukan dengan menggunakan banyak petak contoh yang letaknya tersebar merata pada areal yang dipelajari, dan peletakan petak contoh sebaiknya sistematik (Indriyanto 2008).

Pada penelitian ini dibuat satu petak sampling dengan ukuran 10 m x 10 m yang mewakili satu tipe tegakan famili pohon yang dominan, kemudian petak sampling dibagi menjadi 25 petak kecil yang masing-masing berukuran 2 m x 2 m (Gambar 2). Dengan menggunakan teknik Systematic Sampling, kemudian ditentukan 13 petak kecil yang masing-masing akan diamati dan dicatat spesies dan jumlah tumbuhan bawah yang ada. Pada Gambar 2, petak kecil yang terpilih adalah yang berwarna hitam.

Gambar 2 Bentuk sampling dan petak contoh penelitian Identifikasi spesies

Spesies tumbuhan bawah pada masing-masing petak contoh yang ditemukan diidentifikasi langsung di lapangan berdasarkan pengetahuan pengamat dan pegawai kebun KRB serta buku identifikasi spesies tumbuhan bawah. Buku identifikasi spesies dan manfaat tumbuhan bawah yang digunakan yaitu Dalimartha (2005), Hidayat dan Napitulu (2015), Lestari dan Kencana (2015), Sangat et al (2000), Satya (2013), dan Hartati (2001).

Pengukuran intensitas cahaya matahari

Pengukuran intensitas cahaya matahari dilakukan pada 13 plot penelitian pada jam 11.00-12.00 WIB dengan menggunakan lux meter. Pengukuran dilakukan saat cuaca cerah dan tidak berangin agar menghindari terjadinya bias (Jani 2012).

(16)

5 Pengukuran suhu dan kelembaban udara

Pengukuran suhu dan kelembaban relatif dilakukan pada 13 plot penelitian pada jam 09.00-11.00 WIB. Pengukuran menggunakan termometer dry wet yang diletakkan pada ketinggian 1.5 m dari permukaan tanah dan didiamkan selama 15 menit (Safari 2004).

Wawancara

Wawancara dilakukan terhadap pegawai KRB, dilakukan untuk identifikasi spesies dan mengetahui spesies tumbuhan bawah yang mempunyai potensi sebagai tumbuhan berguna.

Studi pustaka

Studi pustaka dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai kondisi umum Kebun Raya Bogor, yang meliputi letak dan luas, kondisi fisik, biotik, dan iklim, yang diperoleh dari pustaka Kebun Raya Bogor.

Analisis Data Indeks nilai penting (INP)

Indeks nilai penting (INP) digunakan untuk menetapkan dominansi suatu spesies terhadap spesies lainnya. Indeks nilai penting merupakan penjumlahan dari kerapatan relatif (KR) dan frekuensi relatif (FR) (Soerianegara dan Indrawan 1998). a. Kerapatan (K) = Jumlah individu suatu spesies

Luas petak contoh (ha) b. Kerapatan Relatif (KR) = Kerapatan suatu spesies

Kerapatan total seluruh spesies × 100%

c. Frekuensi (F) = Jumlah plot ditemukan suatu spesies Jumlah seluruh plot

d. Frekuensi Relatif (FR) = Frekuensi suatu spesies

Frekuensi total seluruh spesies ×100%

e. Indeks Nilai Penting (INP) = Kerapatan Relatif + Frekuensi Relatif Tingkat keanekaragaman spesies (H’)

Keanekaragaman spesies ditentukan dengan menggunakan rumus Shannon Index of General Diversity dalam Odum (1993) diacu dalam (Indriyanto 2008).

H'=- ∑ [ni Nlog ni N] n i=1 Keterangan : H’ = Indeks Shannon ni = INP spesies i N = Total INP

(17)

6

Menurut Shannon dan Wiener (1949) diacu dalam Odum (1996) nilai Indeks Keanekaragaman Spesies dapat diklasifikasikan dalam beberapa tingkatan,

a. Rendah jika H’ < 2 b. Sedang jika 2 ≤ H’< 3 c. Tinggi jika H’ ≥ 3

Tingkat kemerataan spesies (E)

Rumus indeks kemerataan spesies yang secara umum paling banyak digunakan oleh para ekologis adalah (Ludwig dan Reynold 1988):

E = H' ln (S)

Indeks dominansi spesies (ID)

Nilai indeks dominansi menggambarkan pola dominansi spesies dalam suatu komunitas. Untuk mengetahui indeks dominansi spesies digunakan rumus sebagai berikut (Indriyanto 2008). ID = ∑ (ni N) 2 n i=1

Indeks Kesamaan Komunitas (IS)

Indeks kesamaan komunitas atau index of similarity (IS) menunjukkan tingkat kesamaan antara beberapa tegakan, antara beberapa unit sampling, atau antara beberapa komunitas yang dipelajari dan dibandingkan komposisi dan struktur komunitasnya (Indriyanto 2008). Semakin besar nilai indeks kesamaan komunitas, maka kesamaan spesies kedua komunitas yang dibandingkan semakin seragam komposisi spesiesnya. Nilai koefisien kesamaan komunitas berkisar antara 0-100 %. Untuk mengetahui besarnya indeks kesamaan dapat dipergunakan rumus sebagai berikut (Odum 1993) diacu dalam Indriyanto (2008):

IS = 2C

A + B×100% Keterangan :

IS = Indeks kesamaan komunitas

C = Jumlah spesies yang sama dan terdapat pada kedua komunitas A = Jumlah spesies dalam komunitas A

B = Jumlah spesies dalam komunitas B

Keterangan:

E = Indeks kemerataan spesies H’ = Indeks keanekaragaman spesies S = Jumlah Spesies

Keterangan:

ID = Indeks dominansi ni = INP tiap spesies ke-i N = Total INP

(18)

7

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum Lokasi Penelitian

Kebun Raya Bogor (KRB) terletak di pusat Kota Bogor. Secara administrasi, KRB masuk dalam wilayah Kecamatan Bogor Tengah. Secara geografis, KRB terletak diantara 60 36’LS dan 1060 48’ BT. KRB terletak pada ketinggian 215-250 mdpl. KRB

memeliki luas 87 ha dan terdiri dari area koleksi tanaman, jalur sirkulasi, lapangan parkir, museum, kebun pembibitan, rumah kaca, perkantoran, dan rumah pegawai. Areal koleksi tanaman yang dapat dikunjungi oleh pengunjung memiliki luas 53 ha. Batas-batas wilayah KRB adalah sebagai berikut (Permatasari 2012):

1. Sebelah utara berbatasan dengan Jalan Jalak Harupat 2. Sebelah barat berbatasan dengan Jalan Ir. H. Juanda

3. Sebelah selatan berbatasan dengan Jalan Otto Iskandar Dinata 4. Sebelah timur berbatasan dengan Jalan Raya Pajajaran

Keadaan topografi datar dengan kemiringan 3-15 persen. Kawasan KRB dilalui oleh Sungai Ciliwung dan anak sungainya serta Sungai Cibatok. Suhu udara rata-rata harian minimum 250C pada pagi hari dan maksimum 270C pada siang hari

dalam keadaan cerah. Kelembaban udara tinggi dan hanya sedikit terjadi perubahan suhu musiman. Lama penyinaran tertinggi terjadi pada bulan Agustus dan terendah pada bulan Januari. Bogor yang disebut juga sebagai “kota hujan”mempunyai curah hujan rata-rata 4.330 mm per tahun, hari hujan rata-rata 165 hari per tahun, dengan 12 bulan basah. Menurut Schmidt dan Fergusson (1951) Bogor mempunyai tipe curah hujan A (Permatasari 2012).

Jenis tanah di KRB termasuk jenis tanah Latosol Coklat Kemerahan yang mempunyai sifat antara lain teksturnya halus, drainase yang sedang, aktivitas biologi baik, permeabilitas baik, kepekaan terhadap erosi kecil, bahan organik tergolong rendah sampai sedang di lapisan atas dan menurun kebawah dan daya absorbsinya tergolong rendah sampai sedang (Permatasari 2012).

Kebun Raya Bogor memiliki luas areal 87 ha dan terbagi kedalam 25 vak (petak). Menurut data terbaru KRB yaitu Januari 2016, KRB mempunyai koleksi tumbuhan sebanyak 218 famili, 1.227 genus, dan 3.301 spesies (LIPI 2016). Koleksi tumbuhan yang ada di KRB terdiri dari berbagai macam yaitu diantaranya koleksi anggrek, bambu, dan berbagai famili tumbuhan seperti Fabaceae, Apocynaceae, Araceae, dan Arecaceae. KRB dibangun dengan konsep tata ruang yang indah, koleksinya dikelompokkan menurut kekerabatan pohon dengan pengaturan penanaman yang disesuaikan oleh tingkat evolusi tumbuhan. KRB juga memiliki kebun koleksi tumbuhan obat yang berada di vak (petak) XXIV.A dan XXIV.B (Permatasari 2012).

Kebun Raya Bogor selain sebagai tempat koleksi flora, juga merupakan tempat bernaung berbagai jenis fauna, seperti serangga, burung, mamalia kecil, dan sebagainya. Sebuah pulau kecil di tengah kolam gunting dekat Istana Bogor, sejak lama dihuni kawanan burung merandai (Acridotheres javanica) pemakan ikan. Ada pula jenis burung seperti kepodang hutam (Orlolus chinensis) dan burung raja udang (Halcyon chloris) (Yogaswari 2015).

(19)

8

Komposisi Famili dan Spesies Tumbuhan Bawah

Berdasarkan hasil analisis vegetasi dari seluruh lokasi penelitian yaitu 13 plot, teridentifikasi spesies tumbuhan bawah sebanyak 37 spesies dari 20 famili. Data mengenai jumlah spesies pada masing-masing plot penelitian disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3 Jumlah spesies tumbuhan bawah pada tiap plot penelitian

Pada plot Verbenaceae, Myristicaceae, Moraceae, dan Fabaceae ditemukan jumlah spesies tumbuhan bawah yang tinggi. Jumlah spesies tumbuhan bawah yang tinggi pada plot-plot tersebut disebabkan karena tutupan tajuk yang jarang. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Masyrafina (2014) yang menyatakan bahwa komposisi spesies tumbuhan bawah lebih tinggi pada lokasi yang lebih terbuka dan tidak memiliki stratifikasi tajuk yang dapat menutupi permukaan tanah sehingga memungkinkan banyaknya tumbuhan bawah pada stratum E yang mendapatkan cahaya yang cukup untuk tumbuh.

Jumlah spesies tumbuhan bawah terkecil ditemukan pada plot Rutaceae yaitu 7 spesies. Berdasarkan hasil pengamatan, pada plot Rutaceae tutupan tajuk sangat rapat dan intensitas cahaya matahari yang sampai ke lantai tegakan pohon sangat sedikit sehingga menyebabkan jumlah spesies tumbuhan bawah pada plot tersebut paling rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rahma (2008) yang menjelaskan bahwa pada hutan dengan kerapatan cukup tinggi, tajuk pohon tumbuh dan berkembang sehingga membentuk kanopi. Kanopi yang terbentuk ini, menghalangi cahaya matahari sampai ke lantai hutan sehingga tumbuhan bawah menjadi tertekan. Tumbuhan tertekan karena kekurangan intensitas cahaya matahari yang diperlukan untuk fotosintesis sehingga proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan terganggu.

Pada plot Apocynaceae, Annonaceae, Euphorbiaceae, Rubiaceae, dan Sterculiaceae tutupan tajuk juga tergolong jarang akan tetapi pada plot-plot ini

16 15 14 13 10 10 10 9 9 9 8 8 7 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 Jum la h s pe si es t um b uh an b aw ah Plot penelitian

(20)

9 didominansi oleh spesies tumbuhan bawah dari famili Poaceae yaitu rumput gajah mini (Axonopus compressus) dan rumput gunung (Oplismenus burmanii). Tumbuhan Axonopus compressus dan Oplismenus burmanii merupakan spesies intoleran yang dapat tumbuh dengan baik di lokasi terbuka dan menekan spesies tumbuhan bawah lainnya karena kalah dalam persaingan mendapatkan mineral tanah dan tempat tumbuh. Masyrafina (2014) menyatakan bahwa spesies-spesies ground cover yang intoleran terhadap cahaya dapat tumbuh dengan baik di lokasi yang terbuka. Spesies-spesies tersebut diantanya dari famili Poaceae dan Cyperaceae.

Pada plot Sapotaceae teridentifikasi 9 spesies tumbuhan. Jumlah spesies ini termasuk sedikit, hal tersebut disebabkan karena terdapat serasah yang cukup tebal di lantai hutan. Keberadaan serasah yang cukup tebal menghalnagi pertumbuhan bawah yang terdapat di lantai hutan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Vazquez et al (1996) bahwa ditingkat perkecambahan benih, serasah dapat menghalangi cahaya matahari, akan menghambat perkecambahan dengan mengubah perbandingan red/far-red. Hal tersebut dapat menjadi penghalang fisik untuk kemunculan semai dan menghambat radicula berkecambah mencapai tanah.

Indeks Keanekaragaman Spesies Tumbuhan Bawah

Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai indeks keanekaragaman, indeks kemerataan, dan indeks dominansi spesies tumbuhan bawah di lokasi penelitian seperti yang disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Indeks Keanekaragaman Spesies (H’), Indeks Kemerataan Spesies (E), dan Indeks Dominansi Spesies (ID) Tumbuhan Bawah di lokasi penelitian

No Plot/tegakan Jumlah spesies H' E ID

1 Verbenaceae 16 2.32 0.84 0.12 2 Fabaceae 15 2.13 0.79 0.16 3 Myristicaceae 14 2.28 0.87 0.12 4 Moraceae 13 2.05 0.77 0.18 5 Apocynaceae 10 1.94 0.84 0.17 6 Dipterocarpaceae 10 1.67 0.73 0.29 7 Myrtaceae 10 1.78 0.77 0.22 8 Sapotaceae 9 1.67 0.76 0.25 9 Annonaceae 9 1.76 0.80 0.25 10 Euphorbiaceae 9 1.98 0.90 0.15 11 Rubiaceae 8 1.84 0.88 0.18 12 Sterculiaceae 8 1.79 0.86 0.19 13 Rutaceae 7 1.44 0.74 0.32

Hasil perhitungan pada Tabel 2 menunjukkan plot Verbenaceae mempunyai indeks keanekaragamn spesies tertinggi yaitu 2,32 dan terendah pada plot Rutaceae yaitu 1,44. Keadaan tajuk yang sangat rapat pada plot Rutaceae merupakan faktor utama penyebab keanekaragaman spesies di plot tersebut paling rendah. Hal ini

(21)

10

sesuai dengan pernyataan Rahma (2008) bahwa tegakan hutan yang mempunyai tajuk rapat akan menghalangi cahaya matahari sampai ke permukaan tanah sehingga tumbuhan bawah yang ada pada lantai hutan akan tertekan, sehingga spesies tumbuhan bawah yang bisa tumbuh hanya spesies-spesies tertentu dan dalam jumlah sedikit.

Nilai indeks kemerataan spesies dari 13 plot penelitian tidak berbeda jauh, nilai tertinggi terdapat pada plot Euphorbiaceae yaitu sebesar 0,90 dan terendah pada plot Dipterocarpaceae yaitu sebesar 0,73. Jika nilai indeks kemerataan (E) semakin tinggi maka spesies-spesies dalam suatu komunitas semakin menyebar (Kusmana 1997). Berdasarkan Tabel 2, dapat diambil kesimpulan bahwa spesies-spesies tumbuhan bawah pada 13 plot penelitian adalah menyebar merata.

Indeks dominansi (ID) adalah parameter yang menyatakan tingkat terpusatnya dominansi (pengusaan) spesies dalam suatu komunitas. Apabila nilai indeks dominansi tinggi, maka dominansi (pengusaan) terpusat (terdapat) pada satu spesies, tetapi apabila nilai indeks dominansi rendah, maka dominansi terpusat (terdapat) pada beberapa spesies (Indriyanto 2008). Pada semua lokasi penelitian tidak ada nilai ID yang sama dengan atau mendekati 1, dengan demikian dapat dikatakan bahwa dominansi spesies di lokasi penelitian tergolong rendah. Hal ini mengindikasikan dominansi spesies tumbuhan bawah pada semua lokasi penelitian menyebar pada banyak spesies.

Dominansi Spesies Tumbuhan

Soegianto (1994) diacu dalam Indriyanto (2008) menyatakan, Indeks nilai penting (INP) adalah parameter kuantitatif yang dapat dipakai untuk menyatakan tingkat dominansi (tingkat penguasaan) spesies-spesies dalam suatu komunitas tumbuhan. Sutisna (1981) diacu dalam Rosalia (2008) mengemukakan bahwa suatu spesies tumbuhan dapat dikatakan berperan atau berpengaruh dalam suatu komunitas apabila memiliki nilai INP ≥ 10%. Berdasarkan hasil perhitungan, terdapat 5 spesies tumbuhan yang dominan (INP ≥ 10%) dari seluruh plot penelitian seperti yang tersaji pada Tabel 3 dan secara lengkap terdapat pada Lampiran 1. Tabel 3 Spesies tumbuhan bawah dengan INP ≥ 10 % dari seluruh plot penelitian

No Nama ilmiah Nama lokal KR

(%) FR (%) INP (%) 1 Rostellularia sundana * 22.68 13.31 35.98 2 Geophila repens * 17.16 14.13 31.29

3 Oplismenus burmanii Rumput gunung 17.05 11.52 28.57 4 Axonopus compressus Rumput gajah mini 14.77 11.11 25.88 5 Epipremnum pinnatum Sirih gading 5.06 6.86 11.92 Teridentifikasi 2 spesies tumbuhan bawah yang termasuk kedalam kategori rumput-rumputan atau Poaceae yaitu Oplismenus burmanii dan Axonopus compressus. Oplismenus burmanii dan Axonopus compressus umumnya mendominansi pada plot penelitian yang mempunyai tutupan tajuk jarang dan intensitas cahaya matahari tinggi karena spesies ini adalah spesies intoleran. Hal ini sesuai dengan pernyataan Masyrafina (2014) bahwa spesies-spesies ground cover

(22)

11 yang intoleran terhadap cahaya dapat tumbuh dengan baik di lokasi yang terbuka. Spesies-spesies tersebut diantanya dari famili Poaceae dan Cyperaceae. Selain itu, Axonopus compressus mendominansi karena spesies ini sengaja ditanam oleh pihak KRB untuk menutupi permukaan tanah dan mencegah pengikisan tanah oleh air.

Spesies Rostellularia sundana mendominansi pada plot-plot penelitian karena tumbuh mengelompok dan mempunyai biji-biji halus pada bunganya yang mudah terbawa oleh angin atau media lain sehingga mudah menyebar dan tumbuh mendominansi pada suatu area. Spesies Geophila repens dan Epipremnum pinnatum mendominansi karena spesies-spesies ini melakukan perkembangbiakan dan penyebaran melalui penjalaran akar sehingga akan mengalami pertumbuhan yang cepat dan menjalar keseluruh area. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dewick (1997) yaitu faktor biologi yang mempengaruhi komposisi spesies penyusun tumbuhan bawah adalah kemampuan beradaptasi dan mengembangkan diri secara cepat dari spesies-spesies lain pada habitatnya. Kemampuan ini antara lain alat perkembangbiakan dan penyebaran secara vegetatif seperti penjalaran akar (stolon), akar rimpang, spora dan sebagainya.

a. Axonopus compresus

Rumput gajah mini (Axonopus compresus) (Gambar 4) mempunyai sistem perakaran tunggang, akar berwarna coklat keputih-putihan, dan tumbuh mengelompok. Daun rumput gajah mini mempunyai panjang berukuran 2.5-37.5 cm, lebar 6-16 mm. berbentuk lanset, pada bagian pangkal meluas dan lengkung, ujungnya agak tumpul, dan permukaan bagian atas ditumbuhi bulu-bulu halus yang menyebar rata (FAO 2000).

Gambar 4 Rumput gajah mini (Axonopus compresuss) b. Oplismenus burmanii

Rumput gunung (Oplismenus burmanii) (Gambar 5) mempunyai panjang tangkai 20-50 cm, daun berbentuk lanset, panjang daun 1-5 cm, dan permukaan daun bagian atas bergelombang. Daun berbulu halus dan mempunyai susunan bunga tangkai dengan panjang 10 cm (EOL 2003).

(23)

12

c. Geophila repens

Geophila repens (Gambar 6) merupakan herba yang bisa tumbuh, mencapai ketinggian 10 cm, evergreen, mempunyai buah berwarna merah, tumbuh merambat, dan membentuk koloni atau populasi yang padat di tempat yang ternaungi, serta bisa tumbuh sebagai ground cover (Tropichal Plants Database 2014).

Gambar 6 Geophila repens d. Rostellularia sundana

Rostellularia sundana (Gambar 7) merupakan herba yang tumbuh mengelompok, merambat, panjang daun 1-2 cm, dan mempunyai bunga yang terdapat biji-biji halus di dalamnya.

Gambar 7 Rostellularia sundana e. Epipremnum pinnatum

Sirih gading (Epipremnum pinnatum) (Gambar 8) tumbuh merambat di permukaan tanah, tumbuh memanjat pada pohon atau inang yang ada disekitarnya, dan mempunyai warna daun hijau dengan garis atau bercak-bercak kuning.

(24)

13 Kesamaan Komunitas Tumbuhan Bawah

Berdasarkan hasil perhitungan, besarnya nilai indeks kesamaan (IS) antar komunitas tumbuhan bawah pada 13 plot penelitian disajikan pada Tabel 4. Tabel 4 Indeks kesamaan komunitas tumbuhan antar komunitas di lokasi penelitian

IS (%) 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 1 46.2 48.0 33.3 17.4 30.8 45.2 41.7 30.8 40.0 64.0 33.3 41.4 2 73.7 66.7 35.3 60.0 56.0 44.4 40.0 42.1 63.2 55.6 60.9 3 78.3 37.5 63.2 41.7 58.8 52.6 33.3 55.6 47.1 54.5 4 38.1 50.0 48.3 45.5 50.0 26.1 52.2 45.5 74.1 5 47.1 9.1 26.7 47.1 12.5 12.5 26.7 30.0 6 32.0 55.6 70.0 31.6 42.1 44.4 52.2 7 52.2 40.0 41.7 50.0 52.2 50.0 8 55.6 35.3 58.8 37.5 47.6 9 21.1 42.1 55.6 60.9 10 44.4 23.5 36.3 11 35.3 54.5 12 47.6

Keterangan : 1. Verbenaceae; 2. Apocynaceae; 3. Sapotaceae; 4. Myristicacea; 5. Rutaceae; 6. Dipterocarpaceae; 7.Fabaceae; 8.Rubiaceae; 9.Myrtaceae; 10.Annonaceae; 11. Euphorbiaceae; 12.Sterculiaceae; 13.Moraceae.

Hasil perhitungan indeks kesamaan menunjukkan tingkat kesamaan yang bervariasi pada tiap plot penelitian. Pada Tabel 4, nilai indeks kesamaan antara plot Sapotaceae dan Myristicaceae memiliki nilai tertinggi yaitu 78.3%. Hal ini menunjukkan bahwa spesies tumbuhan bawah yang ditemukan pada kedua plot relatif sama. Nilai indeks kesamaan terendah ditemukan pada plot Rutaceae dan Fabaceae yaitu sebesar 9.1%. Tingkat kesamaan yang rendah antara plot Rutaceae dan Fabaceae disebabkan karena keadaan lingkungan yang sangat berbeda diantara kedua plot tersebut. Pada plot Rutaceae tingkat intensitas cahaya matahari sangat rendah, sedangkan plot Fabaceae memperoleh intensitas cahaya matahari yang tinggi dan juga adanya proses fiksasi nitrogen. Menurut Decky (2008), indeks kesamaan antara komunitas biasanya dipengaruhi salah satunya oleh kemiripan faktor abiotik. Faktor abiotik tersebut antara lain yaitu suhu, kelembaban, tanah, dan intensitas cahaya matahari.

Potensi Kegunaan Spesies Tumbuhan Bawah

Berdasarkan hasil analisis vegetasi, teridentifikasi 19 spesies tumbuhan bawah berguna di KRB yang terdiri dari 16 spesies tumbuhan obat, 1 spesies tumbuhan hias, 1 spesies tumbuhan sebagai bioherbisida, dan 1 spesies sebagai sirkulator udara.

(25)

14

a. Tumbuhan bawah sebagai tanaman hias

Kakerlak (Gambar 9) termasuk kedalam spesies tumbuhan bawah yang mempunyai potensi sebagai taman hias. Berdasarkan Lestari dan Kencana (2015), tumbuhan kakerlak (Elatostema repens) berfungsi sebagai penutup tanah, terarium, dan tanaman hias (digantung di pot).

Gambar 9 Kakerlak (Elatostema repens) b. Tumbuhan bawah berperan sebagai sirkulator atau pembersih udara

Sirih gading (Gambar 10) adalah tanaman hias yang umumnya ditempatkan di dalam pot. Tumbuhan ini bisa menyerap bermacam racun serta polusi di dalam ruangan untuk membersihkan udara dari polusi (Mediatani 2016).

Gambar 10 Sirih gading (Epipremnum pinnatum) d. Tumbuhan bawah berpotensi sebagai bioherbisida

Spesies tumbuhan bawah yang berpotensi sebagai bioherbisida adalah sembung rambat (Mikania micrantha). Menurut Perez et al (2010) diacu dalam Hamidah et al (2015), Sembung rambat (Mikania micrantha) memiliki senyawa alelokimia berupa fenol, flavonoid dan terpenoid. Senyawa tersebut menghambat pertumbuhan tumbuhan lain sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bioherbisida. Selain itu, berdasarkan (Lowe et al 2000) tumbuhan sembung rambat termasuk kategori tumbuhan asing invasif. Dari 13 plot penelitian, tumbuhan ini hanya ditemukan pada plot Annonaceae dan dalam jumlah individu yang sangat sedikit sehingga tidak menjadi ancaman bagi spesies tumbuhan lainnya yang ada di Kebun Raya Bogor.

(26)

15

Gambar 11 Sembung rambat (Mikania micrantha) c. Tumbuhan bawah berkhasiat obat

Berdasarkan hasil penelitian, teridentifikasi 16 spesies tumbuhan bawah yang berkhasiat sebagai tumbuhan obat. Menurut Zuhud (2004) tumbuhan obat adalah seluruh spesies tumbuhan yang diketahui mempunyai khasiat obat. Kegunaan atau khasiat spesies tumbuhan bawah yang berpotensi sebagai tumbuhan obat disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 Spesies tumbuhan bawah yang berkhasiat obat

No Nama spesies Nama lokal Khasiat Bagian yang

digunakan

1 Elephantopus scaber Tapak liman Peluruh dahak, peluruh

haid, dan penawar racun Daun

2 Cyperus kyllingia Rumput teki Mengobati penyakit

cacingan Umbi

3 Syndrella nodiflora Jotang kuda Mengobati sakit perut

dan rematik Daun

4 Phyllanthus urinaria Meniran Mengobati sakit kuning

dan beri-beri Daun

5 Peperomia pellucida Tumpangan

air

Pusing, rematik, dan

asam urat Seluruh

6 Oxalis barrelieri Calincing Mengobati batuk rejan Daun

7 Belamcanda punctata Suliga Sakit pinggang Daun

8 Tacca palmata Leme ati atau

iles-iles

Mengatasi gangguan

tidur (obat tidur) Daun

9 Euporbhia hirta Patikan kebo

Mengobati bronkitis, asma, dan sakit pinggang.

Daun

10 Centella asiatica Pegagan Batuk kering Seluruh

11 Cissus sp. Sisus Maag Daun

12 Asystasia gangetica Rumput

israel Asma Daun

13 Borreria laevis Rumput

kancing ungu Sakit pinggang Daun 14 Hypolepis punctata Paku galing Mengobati luka bakar Daun 15 Ageratum conyzoides Bandotan Antioksidan, tonik, dan

peluruh kencing. Daun

16 Hydrocotyle

sibthorpioides

Semanggi gunung

Penurun panas, peluruh dahak, dan menetralisir racun

(27)

16

Kondisi Lingkungan Abiotik pada Lokasi Penelitian

Pada penelitian ini dilakukan pengukuran faktor lingkungan abiotik yang meliputi suhu, kelembaban udara, dan intensitas cahaya matahari. Hasil pengukuran faktor lingkungan abiotik pada tiap plot disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6 Faktor lingkungan pada tiap plot penelitian No Plot/Tegakan Jumlah Spesies Suhu ( 0C) Kelembaban Relatif (%) Intensitas Cahaya (lux) 1 Verbenaceae 16 27-28 82-91 6740 2 Fabaceae 15 27-28 82-91 5400 3 Myristicaceae 14 28-29 75-91 5680 4 Moraceae 13 27-28 82-91 6250 5 Apocynaceae 10 27-28 82-91 6200 6 Dipterocarpaceae 10 27-28 82-91 3430 7 Myrtaceae 10 27-28 82-91 3270 8 Sapotaceae 9 27-28 82-91 1630 9 Annonaceae 9 28-29 75-91 7450 10 Euphorbiaceae 9 27-28 82-91 4510 11 Rubiaceae 8 28-29 75-91 6380 12 Sterculiaceae 8 27-28 82-91 5140 13 Rutaceae 7 27-28 82-91 410

Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan pada 13 plot penelitian, diperoleh suhu 270C-280C, kelembaban udara sebesar 75-91%, dan intensitas cahaya matahari berkisar antara 410-6740 lux. Nilai suhu dan kelembaban udara tidak menunjukkan perbedaan yang besar atau relatif sama, akan tetapi intensitas cahaya matahari menunjukkan perbedaan yang cukup besar pada tiap plot penelitian. Berdasarkan hasil pengukuran faktor lingkungan dan pengamatan di lapangan dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tumbuhan bawah adalah intensitas cahaya matahari. Hal ini sesuai dengan pernyataan Masyrafina (2014) bahwa stratifikasi tajuk dan intensitas cahaya matahari merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi komposisi spesies tumbuhan bawah.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

1. Total spesies tumbuhan bawah yang teridentifikasi pada 13 plot penelitian di Kebun Raya Bogor (KRB) adalah sebanyak 37 spesies dari 20 famili. Jumlah spesies tumbuhan bawah tertinggi terdapat pada plot Verbenaceae yaitu 16 spesies dan terendah pada plot Rutaceae yaitu sebanyak 7 spesies.

(28)

17 2. Tumbuhan bawah yang ditemukan di lokasi penelitian berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat, tumbuhan hias, bioherbisida, dan pembersih udara.

3. Kondisi lingkungan abiotik pada tiap plot penelitian menunjukkan nilai yang relatif sama kecuali pada nilai intensitas cahaya matahari.

Saran

Keberadaan tumbuhan bawah di lantai hutan pada ekosistem Kebun Raya Bogor (KRB) harus dipertahankan karena selain berpotensi sebagai tumbuhan berguna, tumbuhan bawah juga berfungsi untuk menjaga kelembaban, meningkatkan infiltrasi air hujan ke dalam tanah, dan mencegah pengikisan tanah oleh air. Selain itu, tumbuhan bawah yang berpotensi sebagai tumbuhan berguna juga dapat dijadikan sebagai objek interpretasi dan pendidikan bagi pengunjung KRB.

DAFTAR PUSTAKA

Dalimartha S. 2005. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta (ID): Trubus Agriwidya.

Decky IJ. 2008. Keragaman komunitas tumbuhan di Taman Nasional Gunung Ciremai. Buletin Kebun Raya Indonesia 4(2).

Dewick, PM. 1997. Medicinal Natural Products. West Sussex (GB): John Wiley & Sons.

[EOL] Ensyclopedia of Life. 2003. Oplismenus burmanii [internet]. [diunduh 2017 Januari 27]. Tersedia pada http://eol.org/pages/1115092/details.

[FAO] Food and Agricultural Organization. 2000. Axonopus compressus (Swartsz) Beauv [internet]. [diunduh 2017 Januari 27]. Tersedia pada http://www.fao.org/ag/agp/AGPC/doc/gbase/data/Pf00D180.HTM.

Hamidah HS, Mukarina, dan Linda R. 2015. Kemampuan ekstrak daun sembung rambat (Mikania micrantha H.B.K) sebagai bioherbisida gulma Melastoma affine D.Don. Jurnal Protobiont 4(1): 89─93.

Hartati S. 2001. Gulma dan Rempah Berkhasiat Obat. Bogor(ID): IPB Press. Hidayat S. 2011. Konservasi ex-situ tumbuhan obat di Kebun Raya Bogor [tesis].

Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Hidayat S, Napitupulu RM. 2015. Kitab Tumbuhan Obat. Jakarta (ID): Agriflo. Indriyanto. 2008. Ekologi Hutan. Jakarta (ID): Bumi Aksara.

Jani M. 2012. Teknik Pengukuran Intensitas Cahaya di Lantai Hutan [internet]. [diunduh 2017 Januari 27]. Tersedia pada http://staff.unila.ac.id/janter /2012/02/17/teknik-pengukuran-intensitas-cahaya-di-lantai-hutan-di-bawah-kanopi/.

Kusmana, C. 1997. Metode Survei Vegetasi. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. [LIPI] Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2016. Sejarah Kebun Raya Bogor.

Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya [Internet]. [diunduh 2016 Maret 22]. Tersedia pada http://krbogor.lipi.go.id.

(29)

18

Lestari G, Kencana IP. 2015. Tanaman Hias Lanskap Jakarta (ID): Penebar Swadaya.

Lowe S, Browne M, Boudjelas S, De Poorter M. (2000). 100 of the World‟s Invasive Alien Species. ISSG (Invasive Species Specialist Group).

Ludwig JA, Reynold JF. 1988. Statistical Ecology. New York (US): Jhon Wiley and Sons.

Masyrafina I. 2014. Keanekaragaman jenis tumbuhan bawah di Gunung Papandayan bagian timur, Garut, Jawa barat [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan IPB.

[Mediatani]. 2016. Enam tanaman hias pembersih udara di dalam rumah [internet]. [diunduh 2016 November 18]. Tersedia pada https://mediatani.com/6-tanaman-hias-pembersih-udara-di-dalam-rumah.

Odum EP. 1996. Dasar-Dasar Ekologi Edisi Ketiga. Tjahjono Samingan, penerjemah; Srigandono B, editor. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari: Fundamentals of Ecology Third Edition.

Pemerintah Republik Indonesia. 2011. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 93 tahun 2011 tentang Kebun Raya. Jakarta (ID). Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Rahma A. 2008. Estimasi potensi simpanan karbon pada tegakan puspa (Schima wallichii Korth.) di hutan sekunder yang terganggu akibat dua kali pembakaran di Jasinga, Bogor [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan IPB.

Permatasari AP. 2012. Pengaruh ruang terbuka hijau terhadap iklim mikro studi kasus kebun raya bogor [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Pertanian IPB. Rosalia N. 2008. Penyebaran dan karakteristik tempat tumbuh pohon tembesu

(Fragaea fragrans Roxb.) (Studi kasus di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum Kapusa Hulu Kalimantan Barat). [tesis]. Bogor (ID): Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Safari M. 2004. Pengaruh suhu dan kelembaban udara terhadap perilaku kadar air bahan bakar [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan IPB.

Sangat HM, Zuhud EAM, Damayanti EK. 2000. Kamus Penyakit dan Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta (ID): Yayasan Obor Indonesia.

Satya BDS. 2013. Koleksi Tumbuhan Berkhasiat. Yogyakarta (ID): Rapha Publishing.

Soerianegara I, Indrawan A. 1998. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor (ID): IPB Press. [Tropical Plants Database]. 2014. Useful Tropical Plants [internet]. [diunduh 2017

Januari 27]. Tersedia pada http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id= Geophila+repens.

Vazquez CY, Rojas AM, Sanchez CME, Orozco SA. 1996. Comparison of light regulated seed germination in Ficus spp and Cecropia obtucifolia: ecological implication. Journal Tree Physiology. 16(1): 871-875.

Yogaswari A. 2015. Pengaruh potensi daya tarik Amorphopallus titanum terhadap keputusan wisatawan untuk berkunjung ke Kebun Raya Bogor [skripsi]. Bandung (ID): Universitas Pendidikan Indonesia.

Zuhud, EAM. 2004. Hutan Tropika Indonesia Sebagai Sumber Kenekaragaman Plasma Nutfah Tumbuhan Obat. Bogor (ID): Lembaga Alam Tropika Indonesia.

(30)

19

19

Lampiran 1 Spesies tumbuhan bawah pada seluruh plot penelitian

No Nama Spesies Famili Nama Lokal K KR

(Ind/ha) F

FR (%)

INP (%) 1 Rostellularia sundana Bremek. Acanthaceae * 58757 22.68 0.57 13.31 35.98 2 Geophila repens (L.) I.M.Johnst. Rubiaceae * 44453 17.16 0.61 14.13 31.29 3 Oplismenus burmanni (Retz.) P.Beauv. Poaceae Rumput gunung 44172 17.05 0.50 11.52 28.57 4 Axonopus compressus (Sw.) P.Beauv. Poaceae Rumput gajah mini 38254 14.77 0.48 11.11 25.88 5 Epipremnum pinnatum (L.) Engl. Araceae Sirih gading 13121 5.06 0.30 6.86 11.92 6 Cyathula prostrata (L.) Blume Amaranthaceae * 12648 4.88 0.22 5.08 9.96 7 Euphorbia hirta L. Euphorbiaceae Patikan kebo 7559 2.92 0.22 5.21 8.13 8 Torenia polygonoides Benth. Linderniaceae * 11317 4.37 0.08 1.92 6.29 9 Elephantopus scaber L. Asteraceae Tapak liman 9926 3.83 0.10 2.33 6.16 10 Synedrella nodiflora (L.) Gaertn. Asteraceae Jotang kuda 2707 1.04 0.17 3.98 5.02

11 Palisota pynaertii De Wild. Commelinaceae * 1065 0.41 0.15 3.57 3.98

12 Cyanotis axillaris (L.) D.Don Commelinaceae * 1302 0.50 0.08 1.92 2.42

13 Lygodium circinnatum (Burm. fill.) Sw. * * 2352 0.91 0.05 1.23 2.14

14 Athyrium asplenioides (Michx.) A.A. Eaton Athyriaceae Paku 1 873 0.34 0.08 1.78 2.12 15 Hydrocotyle sibthorpioides L. Apiaceae Semanggi gunung 1746 0.67 0.05 1.23 1.91

16 Pellionia repens (Lour.) Merr. Urticaceae * 1834 0.71 0.05 1.10 1.81

17 Elatostema repens (Lour.) Merr. Urticaceae * 1834 0.71 0.05 1.10 1.81

18 Iris domestica (L.) Goldblatt & Mabb. Iridaceae Suliga 503 0.19 0.07 1.51 1.70 19 Peperomia pellucida (L.) Kunth Piperaceae Tumpangan air 917 0.35 0.05 1.23 1.59 20 Spermacoce exilis (L.O.Williams)

C.D.Adams Rubiaceae * 414 0.16 0.04 0.96 1.12

21 Tacca palmata Blume Taccaceae Iles-iles 207 0.08 0.04 0.82 0.90

(31)

28

20

Lampiran 2 Spesies tumbuhan bawah pada seluruh plot penelitian (lanjutan)

23 Asystasia gangetica (L.) T.Andreson Acanthaceae Rumput israel 444 0.17 0.03 0.69 0.86 24 Borreria laevis (Lamk.) Griseb. Rubiaceae Rumput kancing ungu 399 0.15 0.03 0.69 0.84

25 Oxalis barrelieri L. Oxalidaceae Calincing 488 0.19 0.02 0.55 0.74

26 Phyllanthus urinaria L. Phyllanthaceae Meniran 340 0.13 0.02 0.55 0.68

27 Hypolepis muelleri N.A. Wakef. Dennstaedtiaceae * 296 0.11 0.02 0.55 0.66

28 Rhynchospora colorata (L.) H.Pfeiff. Cyperaceae Rumput teki 355 0.14 0.02 0.41 0.55 29 Setaria barbata (Lam.) Kunth Poaceae Rumput jamarak 148 0.06 0.02 0.41 0.47 30 Hypolepis punctata (Thunb.) Mett. Dennstaedtiaceae Paku galing 281 0.11 0.01 0.27 0.38

31 Cissus sp Vitaceae Sisus 207 0.08 0.01 0.27 0.35

32 Syngonium podophyllum Schott Araceae * 74 0.03 0.01 0.27 0.30

33 Davallia fejeensis Hook. Davalliaceae Paku 3 89 0.03 0.02 0.41 0.45

34 Centella asiatica (L.) Urb. Acanthaceae Pegagan 104 0.04 0.01 0.14 0.18

35 Mikania micrantha Kunth. Asteraceae Sembung rambat 74 0.03 0.01 0.14 0.17

36 Ageratum conyzoides L. Asteraceae Bandotan 44 0.02 0.01 0.14 0.15

37 Pleocnemia irregularis (C. Presl) Holttum

Tectariaceae Paku 2

15 0.01 0.01 0.14 0.14

(32)

29 21

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Lubuk Sikaping Pasaman Timur Sumatera Barat pada tanggal 12 Desember 1994 dari ayah Suardi Baharuddin dan ibu Ratna Sari Mulyati. Penulis adalah putri kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2012 penulis lulus dari SMAN 1 Junjung Sirih Kabupaten Solok Sumatera Barat dan pada tahun yang sama penulis lulus masuk Institut Pertanian Bogor melaluli jalur undangan dan diterima di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan. Pada bulan Februari 2016 penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapang Profesi (PKLP) di Taman Nasional Gunung Merapi yang terletak di Yogyakarta Provinsi Jawa Tengah. Penulis aktif sebagai anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas Kehutanan di bagian Kastrad (Kajian Strategi dan Advokasi) periode 2013/2014 dan 2014/2015. Pada September 2016 penulis mempresentasikan karya paper pada acara ICAD (International Conference on ASEAN Development) 2016 di Leiden Belanda yang diselenggarakan oleh PPI Belanda dan didukung oleh KBRI Den Haag dan Kedutaan negara ASEAN di Belanda. Penulis menyelesaikan penelitian dengan judul Keanekaragaman dan Potensi Spesies Tumbuhan Bawah pada Beberapa Tegakan Famili Pohon di Kebun Raya Bogorndibawah bimbingan Dr Ir Agus Hikmat, MSc F dan Ir Syamsul Hidayat, MSi.

Figur

Gambar 1  Peta lokasi penelitian

Gambar 1

Peta lokasi penelitian p.13
Tabel 1  Jenis dan metode pengumpulan data penelitian  No  Jenis  Data  Aspek yang diamati  Metode

Tabel 1

Jenis dan metode pengumpulan data penelitian No Jenis Data Aspek yang diamati Metode p.14
Gambar 3  Jumlah spesies tumbuhan bawah pada tiap plot penelitian

Gambar 3

Jumlah spesies tumbuhan bawah pada tiap plot penelitian p.19
Tabel 2  Indeks Keanekaragaman Spesies (H’), Indeks Kemerataan Spesies (E), dan  Indeks Dominansi Spesies (ID) Tumbuhan Bawah di lokasi penelitian

Tabel 2

Indeks Keanekaragaman Spesies (H’), Indeks Kemerataan Spesies (E), dan Indeks Dominansi Spesies (ID) Tumbuhan Bawah di lokasi penelitian p.20
Gambar 6  Geophila repens  d. Rostellularia sundana

Gambar 6

Geophila repens d. Rostellularia sundana p.23
Gambar 11  Sembung rambat (Mikania micrantha)  c. Tumbuhan bawah berkhasiat obat

Gambar 11

Sembung rambat (Mikania micrantha) c. Tumbuhan bawah berkhasiat obat p.26
Tabel 6  Faktor lingkungan pada tiap plot penelitian  No  Plot/Tegakan  Jumlah

Tabel 6

Faktor lingkungan pada tiap plot penelitian No Plot/Tegakan Jumlah p.27
Related subjects :