2015 KINERJA PROFESIONAL GURU BIMBINGAN DAN KONSELING ATAU KONSELOR DILIHAT DARI KUALITAS PRIBADI DAN FAKTOR BIOGRAFISNYA

12 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

Guru bimbingan dan konseling atau konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaswara, fasilitator dan instruktur (Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, pasal 1 ayat 6). Dalam kesejajaran posisi ini, konselor memiliki konteks tugas, ekspektasi kinerja, dan setting pelayanan spesifik yang satu dan yang lainnya mengandung kekhasan dan perbedaan (Depdiknas, 2008, hlm. 135). Merujuk pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 74 (2008, hlm. 23) tentang Guru, tenaga pendidik di bidang bimbingan dan konseling disebut dengan Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor. Selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah Nomor 111, (2014, hlm. 1) menyatakan Guru Bimbingan dan Konseling adalah pendidik yang berkualifikasi akademik minimal Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan memiliki kompetensi di bidang bimbingan dan konseling, sedangkan Konselor adalah pendidik profesional yang berkualifikasi akademik minimal Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan telah lulus pendidikan profesi guru bimbingan dan konseling atau konselor.

Bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dari keseluruhan program pendidikan, memiliki peran yang sangat strategis untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin pesat, berpengaruh pada pergeseran paradigma pembelajaran maupun pendidikan secara lebih luas. Keberadaan guru bimbingan dan konseling atau Konselor sekolah hari ini adalah penting untuk keberhasilan peserta didik secara komperehensif. Suherman (2014, hlm. 127) menjelaskan terkait hal ini, dituntut adanya upaya peningkatan profesionalisasi guru bimbingan dan konseling yang merujuk pada proses peningkatan kualifikasi maupun kriteria standar dalam penampilannya sebagai anggota suatu profesi.

(2)

Guru bimbingan dan konseling atau konselor sekolah hari ini dihadapkan dengan perubahan lingkungan dalam hal peran, tanggung jawab, peserta didik, masalah administrasi, peluang serta tantangan pendidikan ke depan. Steve F. Bain, (2014, hlm. 1) menyatakan bahwa konselor sekolah hari ini harus menjawab dengan deskripsi pekerjaan yang jauh lebih rumit. Dengan perubahan yang konstan dalam masyarakat dunia, maka harapan dan persepsi individu terhadap layanan bimbingan dan konseling telah berubah dari waktu ke waktu. Keberadaan guru bimbingan dan konseling atau konselor tidak hanya dibutuhkan oleh lingkungan sekolah. The American School Counselor Association (ASCA), (2005. hlm. 21) menyatakan bahwa fungsi layanan bimbingan dan konseling sebagai layanan transformatif di sekolah, menuntut konselor sekolah muncul sebagai pemimpin pendidikan dalam merubah paradigma pendidikan dan kerangka kerja serta posisi konselor sekolah berada di garis depan bagi perbaikan sekolah dan prestasi peserta didik.

Peningkatan mutu pendidikan secara umum dan layanan bimbingan dan konseling secara khusus merupakan hal amat penting. Dalam hal ini berbagai informasi diperlukan untuk menjamin bahwa layanan bimbingan dan konseling telah dilaksanakan secara efektif, efisien dan akuntabel. Inilah yang mendasari diperlukannya informasi normal maupun nonformal, salah satunya lewat penelitian untuk melaporkan kinerja guru bimbingan dan konseling yang memiliki posisi strategis dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Tuntutan terhadap kinerja guru bimbingan dan konseling yang profesional saat ini semakin mengemuka.

The American School Counselor Association (ASCA), (2011, hlm. 3)

menjelaskan bahwa guru bimbingan dan konseling atau konselor yang telah disebut profesional adalah yang telah memiliki sertifikat atau berlisensi di sekolah dengan kualifikasi dan keterampilan untuk mengatasi masalah semua peserta didik yang unik dan bertanggungjawab dalam membantu peserta didik di bidang prestasi akademik, pengembangan pribadi, sosial dan pengembangan karir. Selanjutnya Permendiknas No. 27 (2008, hlm. 2) menjelaskan bahwa konselor profesional adalah yang telah mendapat sertifikat profesi bimbingan dan konseling

(3)

dengan gelar profesi Konselor, disingkat Kons. Dalam hal ini pendidikan konselor berlangsung pada dua tahap. Tahap pertama ialah pembentukan kompetensi akademik konselor, yaitu proses pendidikan formal jenjang strata satu (S-1) bidang bimbingan dan konseling, yang bermuara pada penganugerahan ijazah akademik Sarjana Pendidikan (S.Pd) bidang bimbingan dan konseling. Tahap kedua, pembentukan kompetensi profesional sebagai proses penguasaan kiat penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang memandirikan, yang ditumbuhkan serta diasah melalui latihan menerapkan kompetensi akademik yang telah diperoleh dalam konteks otentik pendidikan profesi guru bimbingan dan konseling atau konselor yang berorientasi pada pengalaman dan kemampuan praktik lapangan.

Baswedan, Anis (2015, hlm. 1) menyatakan bahwa kinerja guru perlu sejalan dengan kompetensi guru, sertifikasi guru dan penghargaan yang diberikan kepada guru. Dalam mendorong kinerja guru, bahwa penilaian kinerja dan kompetensi guru harus menjadi syarat pemberian tunjangan profesi. Pemberian penghargaan kepada guru bimbingan dan konseling atau konselor telah diberikan oleh pemerintah. Namun demikian, pendapatan yang besar itu sering kali tidak dibarengi dengan kinerja yang baik serta peningkatan layanan bimbingan dan konseling. Hal ini sejalan dengan Kartadinata, Sunaryo (2014, hlm. 21) menyatakan bahwa pemberian tunjangan dari pemerintah baru mengurangi sebagian beban ekonomi guru, tetapi belum diikuti dengan peningkatan prestasi. Hal ini menandakan bahwa peningkatan mutu tidak hanya berkaitan dengan penyediaan anggaran, dan salah satu yang menentukan adalah kualitas pribadi guru bimbingan dan konseling atau konselor itu sendiri.

Yolanda D. Johnson & Sonia E. Dinnall, (2009, hlm. 5) menjelaskan bahwa kompleksitas masalah yang dialami oleh peserta didik saat ini, dibutuhkan kualitas guru bimbingan dan konseling yang mumpuni. Menurut Yusuf, Syamsu dan Nurihsan, (2012, hlm. 37) menjelaskan bahwa di antara kualitas penting guru bimbingan dan konseling adalah kualitas pribadi dan ini akan menjadi faktor penentu bagi pencapaian konseling yang efektif, di samping faktor pengetahuan tentang dinamika perilaku dan keterampilan teraupetik atau konseling. Glading,

(4)

(2012, hlm. 41) menjelaskan bahwa seiring dengan tuntutan untuk menjadi konselor efektif, maka salah satu komponen penting adalah kualitas kepribadian guru bimbingan dan konseling. Johnson C.D, (2005, hlm. 3) menjelaskan bahwa elemen dasar yang kuat akan menggambarkan hasil yang diinginkan, maka diperlukan kontribusi guru bimbingan dan konseling atau konselor yang memiliki kualitas kepribadian. Hal ini menandakan bahwa konselor yang memiliki kepribadian berkualitas, akan merasa nyaman bekerja dalam lingkungan konseling karena latar belakang minat dan kemampuannya.

Kinerja profesional guru bimbingan dan konseling atau konselor dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling juga sangat berbeda antara satu dengan lainnya, begitu juga dalam kualitas pribadi guru bimbingan dan konseling atau konselor. Ditilik dari sifatnya, perbedaan kinerja profesional dan kualitas pribadi guru bimbingan dan konseling atau konselor itu disebabkan oleh karakteristik biografis guru bimbingan dan konseling atau konselor itu sendiri yang meliputi usia, jenis kelamin, masa kerja dan pendidikan dan pelatihan. Perbedaan ini tercermin dari kemampuan dan cara berpikir guru bimbingan dan konseling atau konselor dalam mengimplementasikan seluruh pengalaman yang diperoleh melalui interaksi dan pengaruh lingkungan yang mendukung sehingga menimbulkan reaksi afektifnya berbeda satu sama lain.

Persoalan dan keluhan tentang pelayanan yang diberikan guru bimbingan dan konseling atau konselor sekolah masih banyak dilontarkan, meskipun keberadaannya telah memberikan kontribusi positif bagi pencapaian perkembangan diri peserta didik melalui intervensi pendidikan di sekolah. Keluhan atau kritikan tersebut mengarah pada kurangnya profesionalisme konselor dalam menjalankan tugasnya. Salah satu hal yang ditenggarai sebagai penyebab yang menentukan itu adalah rendahnya kompetensi mereka. Persepsi ini berasal dari peserta didik dan masyarakat penerima layanan bimbingan dan konseling. Richard A. Wantz & Michael Firmin, (2014, hlm. 71) menegaskan bahwa persepsi siswa tentang penyedia layanan bimbingan dan konseling dapat dipengaruhi oleh berbagai sosialisasi hasil penelitian, perilaku yang tampak dan biasanya menerima informasi atau pengaruh dari berbagai sumber yang aktif

(5)

mencoba untuk membentuk persepsi mereka tentang nilai pelayanan dan sebagai salah satu ragam eksistensi konselor semakin terkuatkan.

Berdasarkan data dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP) kemendikbud, sebanyak 1.611.251 guru hanya memperoleh rata-rata nilai Uji Kompetensi Guru (UKG) sebesar 47. Dari jumlah tersebut, sebanyak 88% di Kabupaten atau Kota di luar pulau Jawa nilai dibawah 47 (Syawal Gultom, 2015, hlm. 1). Selanjutnya analisis hasil Ujian Kompetensi Awal (UKA) calon guru sertifikasi 2012 yang digelar kementerian pendidikan, diperoleh data kemampuan guru-guru di daerah NTB masih berada di bawah rata-rata nasional. Data ini diperkuat oleh hasil penelitian Darwis, HAR. (2014, hlm. 67) tentang pelayanan publik oleh guru pada bidang pendidikan di Kota Bima, diperoleh hasil yang belum memuaskan. Dalam hal ini mengandung arti bahwa bila kompetensi guru tidak memenuhi standar yang ada, maka layanan pendidikan yang baik tidak akan terwujud.

Beberapa penelitian terkait dengan penampilan konselor di sekolah menunjukkan perilaku yang kurang profesional. Penelitian terhadap guru bimbingan dan konseling atau konselor di Kota Bima oleh Nurhayati (2008, hlm. 94) tentang pemahaman konsep dasar konselor, menyatakan bahwa pemahaman konselor umumnya atau rata-rata 69,48% baik, pada aspek pemahaman keterampilan konseling dinyatakan cukup (53,22%), sedangkan pada kemampuan guru bimbingan dan konseling atau konselor dalam mengaplikasikan layanan bimbingan dan konseling tergolong pada kategori baik, yaitu rata-rata 68,70%. Pada aspek karakteristik pribadi guru bimbingan dan konseling atau konselor di Kota Bima juga memiliki nilai yang rendah dengan presentase 54.23%.

Selain itu dalam konteks kinerja profesional konselor, Hajati (2010, hlm. 105) menyatakan bahwa 86 % konselor memperoleh skor tes dalam kategori kurang, dan tidak satu pun mencapai skor sedang maupun tinggi. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar konselor pada SMA Negeri di wilayah Jakarta Timur kurang menguasai kompetensi teoritik pada keseluruhan rumpun kompetensi, yang seharusnya mereka kuasai secara memadai sebagai landasan pijak

(6)

penyelenggaraan bimbingan dan konseling profesional di sekolah. Dari uji kompetensi terhadap keseluruhan pendidik tersebut, dapat diinformasikan bahwa kompetensi yang ditunjukkan oleh guru bimbingan dan konseling tersebut paling rendah di antara guru-guru lain (guru mata pelajaran ).

Penelitian oleh Abdul Rahman, Malek, et al. (2014, hlm. 8) untuk mengetahui tingkat kompetensi konselor di sekolah menengah di Negara Perak, Malaysia, menjelaskan bahwa tingkat kompetensi konselor sekolah menengah secara keseluruhan berada dalam tingkat sedang dengan persentase 64,16 persen. Lebih lanjut menurut Hajati (2010) menjelaskan hasil uji kompetensi konselor di wilayah DKI Jakarta, dari 385 responden, kepemilikan keseluruhan rumpun kompetensinya: 2% sangat baik (A), 9% baik (B), 47% sedang (C), 38% kurang (D), dan 4% sangat kurang (E). Lebih lanjut diinformasikan, bahwa kompetensi yang ditunjukkan oleh guru bimbingan dan konseling atau konselor tersebut paling rendah di antara guru-guru lain. Penelitian itu merekomendasikan pentingnya program pembinaan terhadap guru bimbingan dan konseling atau konselor. Hal ini dilakukan sebagai upaya pembinaan terhadap pengembangan kompetensi dan tindak lanjut pasca uji kompetensi guru bimbingan dan konseling atau konselor yang telah dilakukan untuk diterapkan dalam upaya pengembangan kompetensi konselor lebih lanjut.

Para ahli sepakat bahwa di antara elemen dasar dari kesuksesan penyelengaraan bimbingan dan konseling adalah terletak pada karakteristik pribadi dan profesional guru bimbingan dan konseling atau konselor. Akan tetapi sudahkah guru bimbingan dan konseling atau konselor memiliki kinerja yang baik dan kualitas pribadi sebagaimana yang dituntut oleh dunia pendidikan sekarang. Terkait situasi pendidikan nasional saat ini bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya tergantung pada sistem yang dibangun, tapi yang penting adalah pada kualitas guru. Dalam harian Kompas, Mendikbud Baswedan, Anis (2014, hlm. 10) menjelaskan bahwa tidak ada kurikulum yang sempurna, tetapi jika dilaksanakan oleh guru yang memiliki pribadi yang berkualitas, hasilnya pasti positif bagi peserta didik.

(7)

Upaya peningkatan kompetensi guru di propinsi NTB telah dicanangkan di Kota Bima tahun 2013 sebagai tahun kebangkitan pendidik dan tenaga kependidikan (PTK). Dalam Sumbawa Barat post Kasim, Musliar (2013. hlm. 1) menekankan kepada para guru di Kota Bima untuk terus berupaya meningkatkan kompetensinya. Hal ini mempertimbangkan kondisi kualitas guru di Kota Bima dan NTB pada umumnya masih berada dibawah standar nasional sebesar 42,25. Sementara nilai rata-rata guru di Provinsi NTB 39,9 dan nilai rata rata pengawas pendidikan masih di bawah standar yakni 32,58. Hal ini dapat dijelaskan, dengan melihat hasil uji kompetensi guru itu bisa disimpulkan bahwa kemampuan kompetensi guru dan pengawas pendidikan di NTB masih jauh di bawah kompetensi profesionalisme guru (Laporan LPMP NTB. 2013).

Keterandalan guru bimbingan dan konseling atau konselor menjadi penting bagi profesi, karena secara langsung terkait dengan perolehan kepercayaan publik (public trust) maupun akuntabilitas. Sehingga dengan demikian profesi ini semakin diakui tidak hanya sampai pada tataran kebijakan legalitas formal, tetapi sampai pada tataran praksis yakni pemanfaatan keberadaannya. Oleh karena itu, intervensi yang ditujukan untuk mengembangkan profesionalitas konselor disamping dilakukan melalui pendidikan prajabatan, juga penting dilakukan dalam jabatan yang diselenggarakan secara kontinu. Terlepas dari ekspektasi semua orang terhadap kualitas guru bimbingan dan konseling atau konselor yang memiliki kepribadian mumpuni, sebenarnya bahwa guru bimbingan dan konseling atau konselor adalah manusia biasa yang juga mengalami kesulitan yang sama seperti yang dialami oleh peserta didik di sekolah.

Karakteristik biografis seperti umur, jenis kelamin, masa kerja, pendidikan dan pelatihan yang diikuti oleh guru bimbingan dan konseling atau konselor adalah beberapa perbedaan yang nyata pada para guru bimbingan dan konseling. Dalam penelitian ini peneliti akan melihat faktor-faktor yang mudah dibedakan dan telah tersedia data yang dapat diperoleh pada kebanyakan bagian karakteristik dan file-file guru bimbingan dan konseling di Kota Bima. Robbin S. Stephen dan Judge, Timoty (2015, hlm. 28) menyatakan bahwa variasi dalam karakteristik level permukaan mungkin menjadi dasar diskriminasi terhadap kelas-kelas

(8)

pekerja, sehingga layak untuk mengetahui seberapa erat kaitannya terhadap pentingnya hasil kerja. Dalam hal ini faktor biografis merupakan bagian yang memberikan warna dan perbedaan pada guru bimbingan dan konseling dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling. Perdebatan tentang personil bimbingan dan konseling saat ini masih terus mengemuka, apakah usia, jenis kelamin, masa kerja dan pendidikan dan pelatihan yang diperoleh guru bimbingan dan konseling atau konselor erat kaitannya dengan kualitas pribadi dan kinerja profesional.

Dari paparan di atas tampak dengan jelas tentang pentingnya pelayanan yang maksimal dalam memenuhi tugas perkembangan peserta didik, semakin menuntut guru bimbingan dan konseling atau konselor untuk menunjukkan kinerja profesionalnya. Guru bimbingan dan konseling atau konselor sebagai penentu dan ujung tombak keberhasilan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, maka peneliti ingin mengeksplorasi kinerja profesional guru bimbingan dan konseling atau konselor dilihat dari kualitas pribadi dan faktor biografisnya. Karakteristik biografis guru bimbingan dan konseling diekstraksi dari segi usia, jenis kelamin, masa kerja dan pendidikan dan pelatihan yang diperoleh. Hasil eksplorasi akan menjadi acuan bagi para pengembangan program pembinaan guru bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhannya secara tepat. Sehingga kebijakan pemerintah, organisasi profesi dapat merencanakan upaya peningkatan kompetensi guru bimbingan dan konseling atau konselor terrencana dengan baik dan berimbas pada pelayanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik dan masyarakat secara maksimal.

1.2. Rumusan Masalah

Kinerja profesional guru bimbingan dan konseling atau konselor saat ini merupakan hal yang menjadi prioritas program pemerintah bagi peningkatan kualitas pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Kinerja guru bimbingan dan konseling telah diatur dalam kompetensi utuh konselor sekolah profesional. Terkait dengan kinerja profesional guru bimbingan dan konseling

(9)

atau konselor mengacu pada aspek melaksanakan konseling yang memandirikan. Salah satu penentu keberhasilan guru bimbingan dan konseling atau konselor dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah adalah kualitas pribadi guru bimbingan dan konseling itu sendiri.

Dari uraian masalah di atas, teridentifikasi bahwa kinerja profesional dan kualitas pribadi yang ditampilkan oleh guru bimbingan dan konseling atau konselor saat ini agak mengecewakan. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa hasil penelitian terdahulu. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ilfiandra (2006) dan Furqon, et al. (2001) tentang kinerja profesional konselor sekolah mengimplikasikan urgensi pembinaan para konselor sekolah di lapangan untuk dapat meningkatkan profesionalisme mereka. Penelitian ilfiandra menemukan bahwa 64% kinerja guru bimbingan dan konseling tidak memuaskan, sedangkan Furqon menemukan lebih dari 48% dari seluruh kelompok yang dinilai secara independen menunjukkan tingkat keefektifan yang rendah. Jika mutu kinerja guru bimbingan dan konseling tidak ditingkatkan, dikhawatirkan citra profesi konselor sekolah semakin sulit ditingkatkan (Nurhudaya, 2012, hlm. 5).

Penampilan guru bimbingan dan konseling atau konselor dilatarbelakangi oleh banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya adalah faktor biografis dalam aspek usia, jenis kelamin, masa kerja dan pendidikan dan pelatihan yang selalu melekat dalam karakteristik guru bimbingan dan konsleing. Tuntutan terhadap pencapaian kinerja profesional yang memenuhi standar dengan kegiatan Uji Kompetensi Guru setiap tahun, pemberhentian pemberian tunjangan dan kesejahteraan bagi guru bimbingan dan konseling atau konselor dan diberikan sanksi pensiunan dini bagi guru bimbingan dan konseling atau konselor yang tidak mampu meningkatkan kinerjanya sesuai tahapan yang diberikan. Hal ini akan menambah kekhawatiran guru bimbingan dan konseling atau konselor di lapangan. Kondisi seperti ini perlu dilakukan upaya penelitian dalam memahami kondisi nyata yang dialami oleh guru bimbingan dan konseling atau konselor dalam menyelenggarakan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.

(10)

Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas, maka rumusan masalah penelitian ini dapat dipaparkan sebagai berikut:

1.2.1. Seperti apakah profil biografis guru bimbingan dan konseling di Kota Bima?

1.2.2. Seperti apakah profil kualitas pribadi guru bimbingan dan konseling di Kota Bima?

1.2.3. Seperti apakah profil kinerja profesional guru bimbingan dan konseling di Kota Bima?

1.2.4. Apakah terdapat hubungan antara kinerja profesional dengan kualitas pribadi guru bimbingan dan konseling di Kota Bima?

1.2.5. Apakah terdapat hubungan antara kinerja profesional dengan faktor biografis guru bimbingan dan konseling di Kota Bima?

1.2.6. Apakah terdapat hubungan antara kualitas pribadi dengan faktor biografis guru bimbingan dan konseling di Kota Bima?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui hal-hal sebagai berikut :

1.3.1. Profil biografis guru bimbingan dan konseling di Kota Bima. 1.3.2. Profil kualitas pribadi guru bimbingan dan konseling di Kota Bima. 1.3.3. Profil kinerja profesional guru bimbingan dan konseling di Kota Bima. 1.3.4. Hubungan antara kinerja profesional dengan kualitas pribadi guru

bimbingan dan konseling di Kota Bima.

1.3.5. Hubungan antara kinerja profesional dengan faktor biografis guru bimbingan dan konseling di Kota Bima.

1.3.6. Hubungan antara kualitas pribadi dengan faktor biografis guru bimbingan dan konseling di Kota Bima.

(11)

1.4. Manfaat Penelitian

Berdasarkan permasalahan pada rumusan masalah dan tujuan penelitian di atas, maka manfaat penelitian ini dapat dibagi menjadi manfaat teoritis dan praktis sebagai berikut :

1.4.1. Manfaat Secara Teoritis

1.4.1.1. Memberikan wawasan keilmuan tentang gambaran kinerja profesional guru bimbingan dan konseling dilihat dari kualitas pribadi dan faktor biografisnya yang berkenaan dengan aspek usia, jenis kelamin, masa kerja, pendidikan dan pelatihan di Kota Bima. 1.4.1.2. Memberikan informasi tentang hubungan antara kinerja profesional

dengan kualitas pribadi guru bimbingan dan konseling dan faktor biografis dalam aspek usia, jenis kelamin, masa kerja dan pendidikan dan pelatihan guru bimbingan dan konseling di Kota Bima.

1.4.1.3. Memberikan gambaran kompetensi yang harus dipenuhi dalam merancang program pembinaan bagi guru bimbingan dan konseling di Kota Bima.

1.4.2. Manfaat Secara Praktis.

1.4.2.1. Bagi guru bimbingan dan konseling dapat mengetahui gambaran kinerja profesional, kualitas pribadi berdasarkan karakteristik biografisnya untuk mendapatkan program pembinaan bagi guru bimbingan dan konseling di Kota Bima.

1.4.2.2. Bagi pemerintah dan organisasi profesi untuk menindaklanjuti hasil penelitian bagi perencanaan kegiatan peningkatan kualitas pribadi dan kinerja profesional guru bimbingan dan konseling atau konselor di Kota Bima.

1.4.2.3. Bagi sekolah agar dapat merancang program peningkatan kinerja profesional dan kualitas pribadi guru bimbingan dan konseling pada masing-masing satuan pendidikan dalam melaksanakan layanan yang maksimal kepada konseli.

(12)

1.5. Struktur Organisasi Tesis

Penulisan tesis ini terdiri dari lima bab. Berikut adalah penjelasan mengenai pembagian lima bab tersebut:

1.5.1. Bab I merupakan bagian pendahuluan yang akan memuat hal-hal mengenai latar belakang penelitian, Identifikasi dan rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian yang meliputi dari segi teori, kebijakan, praktik, isu serta tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian ini.

1.5.2. Bab II merupakan bagian kajian pustaka yang akan menjelaskan kajian teori mengenai kinerja profesional guru bimbingan dan konseling, kualitas pribadi dan karakteristik biografis guru bimbingan dan konseling atau konselor sekolah yang berkenaan dengan aspek usia, jenis kelamin, masa kerja dan pendidikan dan pelatihan yang melekat. Selanjutnya adalah kajian tentang kinerja profesional guru bimbingan dan konseling dilihat dari kualitas pribadi dan faktor biografis secara komperehensif.

1.5.3. Bab III merupakan bagian yang menjelaskan metode penelitian yang meliputi desain penelitian, partisipan, instrumen penelitian, prosedur penelitian, dan analisis data.

1.5.4. Bab IV merupakan bagian temuan dan pembahasan yang meliputi penjelasan mengenai temuan penelitian berdasarkan hasil penelitian, pengolahan, dan evaluasi, serta pembahasan temuan penelitian dilakukan secara tematik untuk menjawab pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya.

1.5.5. Bab V merupakan bagian simpulan, implikasi, dan rekomendasi yang bisa diberikan kepada guru bimbingan dan konseling atau konselor di Kota Bima berdasarkan profil yang telah diungkapkan secara lengkap. Secara berurutan akan disajikan penafsiran dan pemaknaan peneliti terhadap hasil analisis temuan penelitian sekaligus mengajukan hal-hal penting yang dapat dimanfaatkan dari hasil penelitian tersebut.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :