BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, maka didapat hasil penelitian sebagai

Teks penuh

(1)

BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, maka didapat hasil penelitian sebagai berikut :

1. Nomor Perkara: 305/PDT.G/BANI/2014/PN.JKT.UTR 2. Identitas Para Pihak:

a. Pemohon :

PT. SEA WORLD INDONESIA (d/h PT. Laras Tropika Nusantara), berkedudukan di Taman Impian Jaya Ancol, Jalan Lodan Timur Nomor 7 Jakarta Utara, 14430, yang diwakili oleh EFRIJANTO SALIM selaku Presiden Direktur dan H. SONY WIBISONO WIDJANARKO selaku direktur, selanjutnya disebut sebagai PEMOHON.

b. Termohon I dan Termohon II :

a. PT. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL (Persero), Tbk, berkedudukan di Gedung Econvention Jalan Lodan Timur Nomor 7 Taman Impian Jaya Ancol Jakarta Utara, yang diwakili oleh GATOT SETYOWALUYO selaku Direktur Utama, selanjutnya disebut sebagai TERMOHON I.

b. BADAN ARBITRASE NASIONAL INDONESIA INDONESIA (BANI), beralamat di Gedung Wahana Graha lantai 1 & 2, Jalan Mampang Prapatan Raya Nomor 2 Jakarta Selatan 12760, yang diwakili oleh M.HUSSEYN UMAR, S.H., FCBArb, selaku Wakil Ketua, selanjutnya disebut sebagai TERMOHON II

3. Kasus Posisi

Berkaitan dengan putusan 305/Pdt.G/BANI/2014/PN.Jkt.Utr dalam surat permohonannya tersebut disebutkan duduk perkaranya sebagai berikut:

(2)

Menimbang, bahwa Pemohon dengan surat permohonannya tanggal 23 Juli 2014 yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada tanggal 24 Juli 2014, terdaftar dalam register Nomor 305/Pdt.G/BANI/2014/PN.Jkt.Utr, telah mengemukakan sebagai berikut :

 Bahwa Majelis Arbiter pada Termohon II telah memutus Putusan BANI No.513 pada tanggal 5 Juni 2014 dengan amar putusan sebagai berikut:

MEMUTUSKAN Dalam Eksepsi

Menolak Eksepsi Termohon Konvensi untuk seluruhnya Dalam Pokok Perkara

a. Mengabulkan permohonan dari Pemohon Konvensi untuk sebagian.

b. Menyatakan Perjanjian Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan Hak atas UNDERSEA WORLD INDONESIA di Taman Impian Jaya Ancol sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan No.81 tanggal 21 September 1992 yang dibuat di hadapan SUTJIPTO, S.H., Notaris di Jakarta, berakhir pada tanggal 06 Juni 2014.

c. Menyatakan opsi perpanjangan masa Perjanjian Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan Hak atas UNDERSEA WORLD INDONESIA di Taman Impian Jaya Ancol sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan No.81 tanggal 21 September 1992 yang dibuat di hadapan SUTJIPTO, S.H., Notaris di Jakarta, adalah tidak berlaku secara serta merta atau otomatis, melainkan bersyarat dapat diperpanjang dengan perjanjian baru

(3)

yang disepakati Pemohon Konvensi dan Termohon Konvensi.

d. Menghukum Termohon Konvensi untuk menyerahkan bangunan UNDERSEA WORLD INDONESIA termasuk peralatan serta fasilitas dan barang inventaris lainnya sesuai dengan Berita Acara Pemeriksaan setempat tanggal 20 Februari 2014 yang dilakukan oleh Majelis dan Para Pihak kepada Pemohon Konvensi dalam keadaan baik dan berfungsi sebagaimana mestinya pada saat pengelolaan berakhir, yaitu tanggal 06 Juni 2014.

e. Menolak permohonan Pemohon Konvensi untuk selebihnya.

DALAM REKONVENSI

Menolak Permohonan Rekonvensi dari Pemohon Rekonvensi/Termohon Rekonvensi seluruhnya.

DALAM KONVENSI DAN REKONVENSI

a. Menghukum Pemohon Konvensi/Termohon Rekonvensi dan Termohon Konvensi/Pemohon Rekonvensi membayar biaya administrasi, biaya pemeriksaan, dan biaya arbiter dalm Konvensi masing-masing seperdua bagian.

b. Memerintahkan Termohon Konvensi/Pemohon Rekonvensi untuk mengembalikan ½ (seperdua) biaya administrasi, biaya pemeriksaan, dan biaya arbiter dalam Konvensi, yaitu sebesar Rp 261.900.000,- (dua ratus enam puluh satu juta sembilan ratus ribu rupiah) kepada Pemohon Konvensi/Termohon Rekonvensi. c. Menghukum Termohon Konvensi/Pemohon Rekonvensi

untuk membayar biaya administrasi, biaya pemeriksaan, dan biaya arbiter dalam Rekonvensi

(4)

sebesar Rp 523.800.000,- (lima ratus dua puluh tiga juta delapan ratus ribu rupiah) untuk seluruhnya. d. Menghukum Pemohon dan Termohon untuk

melaksanakan putusan ini selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak putusan diucapkan.

e. Menyatakan putusan ini putusan dalam tingkat pertama dan terakhir serta mengikat kedua belah pihak.

f. Memerintahkan Sekretaris Majelis dalam perkara ini mendaftarkan Putusan Arbitrase tersebut pada Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada waktu sesuai yang ditetapkan dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

 Bahwa Putusan BANI No.513 telah didaftarkan pada Pengadilan Negeri Jakarta Utara tanggal 1 Juli 2014 di bawah register No. 02/WASIT/2014/PN.JKT.UTR sebagaimana dalam surat Termohon II No.14.1148/VII/BANI/ED tertanggal 2 Juli 2014.

 Bahwa atasan Putusan BANI No. 513, Pemohon mengajukan Permohonan Pembatalan pada tanggal 24 Juli 2014. Dengan demikian, maka Permohonan Pembatalan Putusan BANI No. 513 ini masih dalam jangka waktu yang ditentukan oleh karenanya patut dan berdasar hukum untuk diterima, sesuai ketentuan Pasal 71 Undang-Undang No. 30 Tahub 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (selanjutnya disebut UU Arbitrase) yang berbunyi:

“Permohonan pembatalan putusan arbitrase harus diajukan secaa tertulis dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak hari penyerahan dan pendaftaran putusan arbitrase kepada panitera pengadilan negeri.”

(5)

 Bahwa sebelumnya kami sampaikan adapun alasan-alasan kami mengajukan Permohonan Pembatalan terhadap Putusan BANI No. 513 adalah sebagai berikut:

a. Pemohon menemukan dokumen maupun fakta yang disembunyikan baik oleh Termohon I sebagai pihak maupun salah satu arbiter Termohon II yang ditunjuk oleh Termohon I yang sifatnya menentukan setelah Putusan BANI No. 513 diputus. Hal ini sejalan dengan ketentuan Pasal 70 huruf b UU Arbitrase yang menyebutkan:

“Terhadap putusan para pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan apabila putusan tersebut diduga mengandung unsur-unsur sebagai berikut:

b) Setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh pihak lawan”.

b. Bahwa Putusan BANI No. 513 terindikasi kuat putus berdasarkan tipu muslihat yang menunjukkan keberpihakan Termohon II kepada salah satu pihak sehingga adalah berdasar hukum Putusan BANI No. 513 untuk dibatalkan. Hal ini sejalan dengan ketentuan Pasal 70 huruf c UU Arbitrase yang menyebutkan:

“Terhadap putusan para pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan apabila putusan tersebut diduga mengandung unsur-unsur sebagai berikut:

c) Putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa”.

c. Bahwa Majelis Termohon II telah melakukan kekeliruan nyata dalam memutus perkara terkait penggunaan dasar hukum pengambilan keputusan, yaitu ketentuan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 6

(6)

tahun 2006 tentang pengelolaan Barang Milik Daerah (selanjutnya disebut PP No.8/2008).

d. Bahwa Putusan BANI No. 513 telah melanggar azas kebebasan berkontrak dan hukum perjanjian yang diatur dalam Pasal 1338 KUHPerdata.

e. Bahwa Termohon II selaku Majelis Pemutus telah memberikan putusan yang melebihi tuntutan dalam permohonan arbitrase (ultra vires) sehingga adalah patut dan berdasar hukum untuk dibatalkan berdasar ketentuan Pasal 634 Rv angka 4 yang menyatakan:

“Bila diputuskan tentang sesuatu yang tidak dituntut, atau dengan itu diberikan lebih dari yang dituntut.”

4. Dasar Permohonan Pembatalan Putusan BANI No. 513/IV/ARB-BANI/2013

 Pemohon Menemukan Dokumen yang Sifatnya Menentukan Di Mana Dokumen Ini Menunjukkan Adanya Afiliasi Antara Saksi Ahli yang Diajukan Pemohon Arbitrase dengan Salah Satu Arbiter yang Mempengaruhi Putusan BANI No. 513/IV/ARB-BANI/2013 Sebagaimana yang Dimaksud dalam Ketentuan Pasal 70 b UU Arbitrase:

Bahwa dalam pemeriksaan Perkara No. 513/IV/ARB-BANI/2013, pihak Termohon I mengajukan salah satu arbiter yang ada di Termohon II yaitu HUMPREY R. DJEMAT, S.H., LL.M.,FCBArb sebagai arbiter

Bahwa dalam persidangan pada tanggal 30 Januari 2014, Termohon I mengajukan Ahli M.E ELIJANA TANSAH, S.H untuk didengar keterangannya di hadapan Majelis Arbiter Perkara No. 513/IV/ARB-BANI/2013. Dalam pemeriksaan tersebut, Majelis Arbiter telah memeriksa dan meminta keterangan dari Ahli M.E ELIJANA TANSAH S.H.

(7)

Bahwa ternyata setelah Putusan BANI No. 513/IV/ARB-BANI/2013 dibacakan pada tanggal 5 Juli 2014, Pemohon menemukan fakta dan bukti berupa berita dalam situs hukumonline.com tertanggal 6 Maret 2009 yang menyebutkan :

“...ELIJANA TANSAH dari kantor advokat GANI DJEMAT & PARTNERS berpendapat lain...dst”

berita dalam hukumonline.com tersebut menunjukkan bahwa Ahli M.E ELIJANA TANSAH, S.H terafilliasi dengan salah satu Majelis Arbiter, yaitu HUMPREY R. DJEMAT, S.H.,LL.M.,FCBArb yang notabene adalah arbiter yang ditunjuk oleh PT.PEMBANGUNAN JAYA ANCOL (Persero). Tbk. i.c. Termohon I/ dahulu Pemohon Arbitrase.

Bahwa dengan demikian maka seharusnya Ahli M.E. ELIJANA TANSAH, S.H pada saat dimintai keterangannya pada persidangan tanggal 6 Februari 2014 wajib menolak untuk memberikan keterangan dengan alasan terdapat benturan kepentingan HUMPREY R. DJEMAT, S.H.,LL.M.,FCBArb yang merupakan Majelis Arbiter Perkara No. 513/IV/ARB-BANI/2013 yang ditetapkan oleh Termohon II sebagai Majelis Perkara.

Bahwa demikian juga dengan HUMPREY R. DJEMAT, S.H.,LL.m.,FCBArb sebagai salah satu Arbiter Perkara No.513/IV/ARB-BANI/2013 wajib menolak untuk memeriksa dan/atau meminta keterangan dari Ahli M.E ELIJANA TANSAH, S.H dengan alasan terdapat benturan kepentingan yang dapat mempengaruhi independensi keterangan-keterangan ahli M.E ELIJANA TANSAH, S.H dalam pemeriksaan, termasuk objektifitas HUMPREY R. DJEMAT, S.H.,LL.M.,FCBArb sebagai salah satu anggota Majelis Arbiter yang ditetapkan oleh Termohon II.

Bahwa jika keadaan ataupun fakta ini oleh Pemohon pada saat persidangan, maka tentunya Pemohon akan mengajukan keberatan dan

(8)

menolak Ahli M.E ELIJANA TANSAH, S.H untuk diperiksa dan didengar keterangannya.

Bahwa adanya konspirasi ini semakin ditunjukkan dalam pertimbangan hukum Putusan BANI No. 513/IV/ARB-BANI/2013 halaman 55, paragraf 1 menyebutkan:

“Menimbang bahwa terdapat dua pendapat tersebut, Majelis menganggap bahwa pendapat Ahli M.E ELIJANA TANSAH, S.H yang tepat, karena sebagaimana peraturan-peraturan dan doktrin-doktrin yang telah kita pertimbangkan diatas, perjanjian BOT hanya dapat dilansungkan selama maksimal 30 tahun. Di samping itu, karena tidak tercapai kesepakatan sebagai syarat adanya perjanjian baru sebagaimana ketentuan Pasal 1320 KUHPerdata, maka perjanjian tersebut serta merta otomatis bisa diperpanjang,”

Pertimbangan hukum dimaksud benar-benar mengesampingkan keterangan Prof. NINDYO PRAMONO, S.H.,M.H. sebagai Ahli Hukum Perjanjian dan Hukum Bisnis yang diajukan Pemohon dan justru langsung menyatakan bahwa keterangan Ahli M.E ELIJANA TANSAH, S.H adalah benar.

 Patut Diduga Putusan BANI No. 513/IV/ARB-BANI/2013 Diambil Dari Hasil Tipu Muslihat Dari Pihak Pemohon Arbitrase Sebagaimana Dimaksud dalam Ketentuan Pasal 70 Huruf c UU Arbitrase.

Bahwa dengan fakta adanya hubungan antara Majelis Arbiter Termohon II (HUMPREY R. DJEMAT, S.H.,LL.M.,FCBArb) dengan ahli M.E ELIJANA TANSAH, S.H yang diajukanoleh Termohon I sebagai salah satu pihak dalam Perkara Arbitrase No. 513/IV/ARB-BANI/2013, patut diduga telah terjadi konspirasi sejak awal didaftarkannya Permohonan Arbitrase yang bertujuan untuk menghilangkan hak-hak dan kepentingan hukum Pemohon.

Bahwa dalam hal ini dapat dilihat dari fakta-fakta bahwa:

(9)

Termohon I/dahulu Pemohon Arbitrase menunjuk Termohon II sebagai arbiter dari PT. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL (Persero), Tbk.

b. PT. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL (Persero), Tbk. ic. Termohon I/dahulu Pemohon Arbitrase menunjuk Ahli M.E ELIJANA TANSAH, S.H untuk diperiksa dan didengar keterangannya dalam persidangan.

c. Ahli M.E ELIJANA TANSAH yang diajukan oleh PT. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL (Persero), Tbk. ic.Termohon I/dahulu Pemohon Arbitrase memiliki hubungan/afiliasi dengan Termohon II.

d. Dalam persidangan, baik Ahli M.E ELIJANA TANSAH, S.H maupun Termohon II menyembunyikan fakta adanya afiliasi di antara keduannya dan dalam Putusan BANI No. 513/IV/ARB-BANI/2013, keterangan Ahli M.E ELIJANA TANSAH, S.H dijadikan pedoman dalam mempertimbangkan putusan yang dimaksud.

Bahwa dengan demikian adalah sangat jelas itikad tidak baik dan konspirasi dari awal untuk mempecundangi Pemohon dalam perkara arbitrase ini.

Bahwa hal ini jelas memenuhi persyaratan untuk pembatalan suatu putusan arbitrase berdasarkan ketentuan Pasal 70 huruf c UU Arbitrase. Oleh karena itu, Putusan BANI No. 513/IV/ARB-BANI/2013 adalah berdasar hukum dan sangat beralasan untuk dibatalkan.

 Majelis Arbitrase Telah Melakukan Kekeliruan Nyata dalam Memutus Perkara Terkait Penggunaan Dasar Hukum Pengambilan Keputusan.

Bahwa untuk memenangkan dan/atau mengakomodir kepentingan salah satu pihak, yakni Termohon I, Majelis Arbiter telah dengan sengaja melakukan kekeliruan nyata dalam pertimbangan hukumnya

(10)

yang mengakibatkan Putusan BANI No. 513/IV/ARB-BANI/2013 tidak sesuai dengan perundang-undangan dan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia.

Bahwa Majelis Arbiter pada Termohon II telah menggunakan dan/atau mempertimbangkan ketentuan hukum yang tidak tepat, yaitu penggunaan PP No. 38/2008 sebagaimana pertimbangan hukum Termohon II dalam Putusan BANI No. 513/IV/ARB-BANI/2013 halaman 50 paragraf 4 dan 5 yang menyatakan:

- Menimbang, bahwa objek Perjanjian Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan No. 81 berupa bangunan UNDERSEA WORLD INDONESIA dan peralatan serata fasilitas dan barang inventaris lainnya yang didirikan di atas tanah yang merupakan bagian Sertifikat Hak Pengelolaan Pemerintah Daerah, Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. I/1987 tanggal 23 Februari 1987 yang terletak di Taman Impian Jaya Ancol, Kelurahan Ancol, Kecamatan Penjaringan, Wilayah Kota Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Bukti P-14).

- Menimbang, bahwa dikarenakan proyek UNDERSEA WORLD INDONESIA tersebut didirikan di atas tanah milik Pemerintah Daerah, Daerah Khusus Ibukota Jakarta dalam bentuk Hak Pengelolaan, maka terhadapnya berlaku dan diterapkan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah.

Bahwa Perjanjian Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan Hak Atas Tanah No. 81 tanggal 21 September 1992 yang dibuat dihadapan SUTJIPTO, S.H., Notaris di Jakarta (“Perjanjian Kerja Sama”) yang menjadi pokok sengketa dalam perkara a quo dibuat pada tahun 1992, sedangkan Termohon II menggunakan alas dasar hukum yang baru ditetapkan jauh sesudah Perjanjian Kerja Sama dibuat dan ditandatangani oleh Para Pihak.

(11)

Bahwa Termohon II dengan sengaja mengakomodir ketentuan-ketentuan dalam PP No. 38/2008 untuk menguatkan dan/atau menguntungkan dalil-dalil salah satu pihak, yakni PT. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL (Persero), Tbk.i.c Termohon I/dahulu Pemohon Arbitrase, padahal hal ini adalah tidak tepat.

Bahwa dalam PP No.38/2008, ditujukan khusus kepada hak-hak kepemilikan Badan Usaha Milik Negara/Daerah. Sedangkan faktanya, terkait dengan Sertifikat Hak Pengelolaan No. 1/1987 tanggal 23 Februari 1987 adalah bukan barang milik negara/daerah maupun dalam penguasaan i.c Pemerintah Propinsi DKI Jakarta, melainkan sudah di inbreng-kan kepada PT. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL (Persero), Tbk.i.c.

Bahwa berdasarkan Bukti P-14 dijelaskan Sertifikat Hak Pengelolaan No. 1/1987 tanggal 23 Februari 1987 telah di-inbreng-kan oleh Pemerintah Propinsi DKI Jakarta sebagai model ke dalam PT. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL (Persero), Tbk.i.c. dengan demikian maka sudah tidak melekat kepemilikan tanah sesuai Sertifikat Hak Pengelolaan No. 1/1987 tanggal 23 Februari 1987 adalah milik PT. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL (Persero), Tbk.i.c Termohon I/dahulu Pemohon Arbitrase dan bukan lagi Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Karenanya tidak tepat jika menjustifikasi bahwa tanah yang digunakan oleh PT. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL (Persero), Tbk.i.c Termohon I/dahulu PemohonArbitrase untuk bekerjasama dengan Pemohon adalah milik negara i.c Pemerintah Propinsi DKI Jakarta sehingga dapat dikaitkan dengan PP No. 38/2008 beserta ketentuan teknis lainnya.

Bahwa dengan demikian adalah tidak tepat seluruh pertimbangan hukum Termohon II yang menggunakan dasar-dasar maupun ketentuan hukum terkait adanya kepemilikan pemerintah dalam kerja sama antara Pemohon dan Termohon I sesuai Perjanjian Kerja Sama. Oleh

(12)

karenanya terbukti Termohon II telah melakukan kekeliruan nyata dalam pertimbangan Putusan BANI No.513.

 Putusan BANI No. 513 Telah Melanggar Azas Kebebasan Berkontrak dan Hukum Perjanjian yang Diatur dalam Pasal 1338 KUHPerdata.

Bahwa Perjanjian Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan Hak atas UNDERSEA WORLD INDONESIA di Taman Impian Jaya Ancol No. 81 tanggal 21 September 1992 yang dibuat dihadapan SUTJIPTO, S.H., Notaris di Jakarta (“Perjanjian Kerja Sama”) antara Pemohon dan Termohon I adalah sah dan mengikat dan berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya.

Bahwa Perjanjian Kerja Sama telah dibuat dan disepakati serta ditandatangani oleh kedua belah pihak dan telah memenuhi syarat Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu:

a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya b. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian c. Suatu hal tertentu

d. Suatu sebab yang halal

Bahwa seluruh isi Perjanjian Kerja Sama telah dimengerti oleh para pihak yang membuatnya termasuk tujuan dan maksud-maksud yang tertuang dan diatur dalam Perjannjian Kerja Sama. Tidak ada lagi penafsiran-penafsiran yang berbeda antara kedua belah pihak sehingga kedua belah pihak secara sadar dan itikad baik membuat dan menandatangani Perjanjian Kerja Sama dimaksud.

Bahwa permohonan arbitrase yang diajukan oleh Termohon I adalah terkait penafsiran ketentuan yang telah diatur sejak 20 (dua puluh) tahun lalu di mana pada saat dibuat dan ditandatanganinya Perjanjian Kerja Sama tidak ada pihak yang berkeberatan maupun meminta perubahan isi perjanjian dalam hal ini terkait hak opsi yang mutlak dimiliki oleh Pemohon termasuk tata cara penggunaan hak opsi yang dimaksud. Hal ini sejalan dengan pertimbangan hukum Majelis

(13)

Termohon II yang memberikan pendapat berbeda (dissenting opinion) dalam Putusan BANI No. 513 bagian perbedaan pendapat halaman 5 paragraf 1 s/d 5 yang menyatakan:

- Menimbang tentang tahapan kedua Ahli M.E. ELIJANA TANSAH, S.H berpendapat bahwa setelah Termohon memberitahukan kepada Pemohon, bahwa akan melaksanakan hak opsinya Pemohon dan Termohon subject to membuat perjanjian yang baru. Demikian juga Ahli Prof. Dr. NINDYO PRAMONO, S.H.,M.S berpendapat setelah Termohon melaksanakan hak opsinya, tahapan selanjutnya Pemohon dan Termohon membuat perjanjian yang baru yang didasarkan pada Perjanjian Akta 81 kecuali tentang hasil penjualan tiket masih harus dirundingkan untuk disepakati.

- Menimbang bahwa oleh karenanya yang diperlukan kata sepakat/ persetujuan Pemohon dan Termohon adalah tentang pembuatan perjanjian yang baru bukan tentang pelaksanaan hak dan opsi Termohon.

- Menimbang bahwa Pemohon dan Termohon dalam Akta Notaris No. 81 termaksud telah bersepakat tentang berakhirnya Perjanjian Akta Notaris No. 81 sebagaimana dicantumkan secara limitatif dalam pasal 8 ayat (3) Perjanjian Akta No. 81.

- Menimbang dalam pasal 8 ayat (3) Perjanjian Akta Nomor 81 disebutkan bahwa perjanjian ini akan berakhir dengan sendirinya setelah lewatnya jangka waktu berlakunya perjanjian.

- Menimbang bahwa sesuai dengan azas kebebasan berkontrak dalam Pasal 8 ayat (6) Perjanjian Akta Nomor 81, Pemohon dan Termohon bersepakat untuk memberikan hak opsi kepada Termohon untuk memperpanjang masa pengelolaan selama maksimal 20 (dua puluh) tahun lagi.

Bahwa dengan mengakomodir kepentingan hukum Pemohon untuk melakukan penafsiran bukti dan/isi Perjanjian Kerja Sama yang sahdan

(14)

mengikat antara Pemohon dan Termohon I, maka sesungguhnya Termohon I telah melanggar azas kebebasan berkontrak dan mengesampingkan ketentuan Pasal 1338 KUHPerdata.

Bahwa ketentuan yang diatur dalam Pasal 8 ayat (6) Perjanjian Kerja Sama mengenai hak opsi yang dimiliki Pemohon adalah tidak dapat ditafsirkan lain karena sudah jelas maksud dan tujuannya di mana Pemohon memiliki hak opsi untuk memperpanjang masa pengelolaan selama maksimal 20 (dua puluh) tahun dan untuk menggunakan hak opsi tersebut Pemohon cukup memberitahukan secara tertulis kepada Termohon.

Bahwa ketentuan Pasal 1342 KUHPerdata yang menyatakan kalau kata-kata suatu perjanjian jelas, tidaklah diperkenankan untuk menyimpang daripadanya dengan jalan penafsiran.

Bahwa dengan demikian tindakan Termohon II yang mengakomodir penafisiran Termohon I terhadap suatu undang-undang i.c isi Perjanjian Kerja Sama yang dimohonkan oleh Termohon I adalah tindakan pelanggaran undang-undang dan ketentuan hukum yang berlaku. Oleh karenanya segala pertimbangan hukum dan amar Putusan BANI No. 513 adalah patut dan berdasarkan hukum untuk dibatalkan yakni pertimbangan hukum halaman 60 paragraf 1 dan 2 yang berbunyi:

- Menimbang, oleh karena perpanjangan masa pengelolaan UNDERSEA WORLD INDONESIA sebagaimana dalam Perjanjian Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan No. 81 dengan alasan sebagaimana diuraikan melalui pertimbangan-pertimbangan diatas baik menurut hukum maupun azas keadilan dan kepatutan harus dibuat dalam perjanjian yang baru dimana menurut hukum layaknya sebuah perjanjian harus disepakati oleh kedua belaj pihak yang membuatnya. (Pemohon dan Termohon), maka Majelis berpendapat opsi perpanjangan masa pengelolaan UNDERSEA WORLD INDONESIA dalam Perjanjian

(15)

Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan No. 81 tidak berlaku secara serta merta atau otomatis, melainkan bersyarat dengan adanya kesepakatan antara Pemohon dan Termohon dengan cara menuangkan dalam perjanjian baru.

- Menimbang bahwa berdasarkan perjanjian yang dibuat para pihak maka apabila tidak tercapai kesepakatan baru dalam perjanjian tersebut, maka perjanjian berakhir pada tanggal 6 Juni 2014 sebagaimana yang dinyatakan dalam Permohonan Pemohon halaman 6 butir 4d yang menyatakan “masa pengelolaan berakhir: sesuai perjanjian akan berakhir pada tanggal 06 Juni 2014.” Hal tersebut telah dibenarkan dengan Jawaban Termohon halaman 3 butir 6 yang menyatakan “jangka waktu atau masa pengelolaan untuk pertama kalinya berlangsung selama 20 (dua puluh) tahun terhitung sejak dimulai operasi komersil tetapi tidak lebih lama dari 6 (enam) bulan setelah pembangunan selesai. Sesuai dengan fakta, jangka waktu pengelolaan SEA WORLD dimulai sejak tanggal 06 Juni 1994 dan karenanya akan berakhir nanti pada tanggal 06 Juni 2014.”

 Termohon II Selaku Majelis Pemutus Telah Memberikan Putusan yang Melebihi Tuntutan dalam Permohonan Arbitrase Bahwa Amar Putusan BANI No. 513 adalah melebihi dari apa yang dimohonkan oleh Pemohon Arbitrase (ultra vires/ultra petita) sehingga adalah demi hukum jika suatu putusan yang melanggar azas ultra petita harus dibatalkan. Hal mana sejalan dengan Ketentuan Pasal 643 RV angka 4 yang menyatakan:

“Bila diputuskan tentnag suatu yang tidak dituntut atau dengan itu diberikan lebih dari yang dituntut.”

Dan Yurisprudensi Putusan Mahkamah Agung RI No. 77K/SIP/1973 tertanggal 19 September 1973 yang menyatakan:

(16)

Bahwa dalam petitum Permohonan Arbitrase yang diajukan oleh PT. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL (Persero), Tbk. i.c Termohon I/dahulu Pemohon Arbitrase, memohon agar Majelis Arbitrase memutus dengan putusan sebagai berikut:

- Menyatakan jangka waktu berakhirnya Akta Perjanjian Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan Hak atas UNDERSEA WORLD INDONESIA di Taman Impian Jaya Ancol No. 81 tanggal 21 September 1992 yang dibuat dihadapan SUTJIPTO, S.H., Notaris di Jakarta yakni pada pada tanggal 6 Juni 2014. - Menyatakan hak opsi perpanjangan dan perubahan Akta Perjanjian

Pembagunan, Pengelolaan, dan Pengalihan Hak atas UNDERSEA WORLD INDONESIA di Taman Impian Jaya Ancol No. 81 Tanggal 21 September 1992 yang dibuat dihadapan SUTJIPTO, S.H., Notaris di Jakarta sebagaimana diatur dalam pasal 8 ayat (6) perjanjian tersebut diartikan bahwa dapat berlaku setelah para pihak sepakat untuk memperpanjang dan/atau merubah perjanjian. - Menyatakan apabila Pemohon tidak sepakat untuk memperpanjang

dan/atau mengubah perjanjian sebagaiman yang dimohonkan Termohon, maka perjanjian berakhir sesuai dengan jangka waktu perjanjian, yakni pada tanggal 06 Juni 2014.

- Menyatakan apabila Pemohon tidak sepakat untuk memperpanjang dan/atau mengubah perjanjian sebagaimana yang dimohonkan Termohon, Termohon tunduk dan melaksanakan kewajibannya sebagaimana diatur dalam Pasal 8 ayat (4) Akta Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan Hak atas UNDERSEA WORLD INDONESIA di Taman Impian Jaya Ancol No. 81 tanggal 21 September 1992 yang dibuat dihadapan SUTJIPTO, S.H., Notaris di Jakarta.

- Menyatakan apabila Pemohon tidak memperpanjang dan/atau mengubah perjanjian sebagaimana yang dimohonkan Termohon, Termohon tunduk dan melaksanakan kewajibannya sebagaimana

(17)

diatur dalam Pasal 8 ayat (5) Akta Perjanjian Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan Hak atas UNDERSEA WORLD INDONESIA di Taman Impian Jaya Ancol No. 81 tanggal 21 September 1992 yang dibuat di hadapan SUTJIPTO, S.H., Notaris di Jakarta.

Seluruh petitum dalam Permohonan Arbitrase Pemohon adalah petitum yang sifatnya declaratoir yang artinya amar putusan declaratoir adalah putusan yang menyatakan suatu keadaan yang sah menurut hukum.

Bahwa ternyata dalam Putusan BANI No. 513 telah melebihi amar putusan yang dimohonkan oleh Termohon I di mana Termohon II dalam mengabulkan Permohonan Arbitrase Termohon I menyebutkan dalam amar putusannya sebagai berikut:

“Dalam Pokok Perkara

- Mengabulkan permohonan dari Pemohon Konvensi untuk sebagian.

- Menyatakan Perjanjian Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan Hak atas UNDERSEA WORLD INDONESIA di Taman Impian Jaya Ancol sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan No. 81 Tanggal 21 September 1992 yang dibuat dihadapan SUTJIPTO, S.H., Notaris di Jakarta, berakhir pada tanggal 06 Juni 2014.

- Menyatakan opsi perpanjangan masa Perjanjian Pembagunan, Pengelolaan, dan Pengalihan Hak atas UNDERSEA WORLD INDONESIA di Taman Impian Jaya Ancol sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan No. 81 Tanggal 21 September 1992 yang dibuat dihadapan SUTJIPTO, S.H., Notaris di Jakarta, adalah tidak berlaku secara serta merta atau otomatis, melainkan bersyarat dapat diperpanjang dengan perjanjian baru yang disepakati Pemohon Konvensi dan Termohon Konvensi.

(18)

- Menghukum Termohon Konvensi untuk menyerahkan bangunan UNDERSEA WORLD INDONESIA termasuk peralatan serta fasilitas dan barang inventaris lainnya sesuai dengan Berita Acara Pemeriksaan Setempat tanggal 20 Februari 2014 yang dilakukan oleh Majelis dan Para Pihak kepada Pemohon Konvensi dalam keadaan baik dan berfungsi sebagaimana mestinya pada saat pengelolaan berakhir, yaitu tanggal 06 Juni 2014.

- Menolak permohonan Pemohon Konvensi untuk selebihnya.” Hal ini jelas-jelas berbeda dengan yang dimohonkan, bahkan melebihi dari apa yang dimohonkan oleh PT. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL (Persero), Tbk. i.c Termohon I/dahulu Pemohon Arbitrase dalam petitumnya di mana amar Putusan BANI No. 513 adalah bersifat condemnatoir atau putusan yang bersifat menghukum pihak yang kalah untuk memenuhi prestasi.

Bahwa petitum permohonan yang dimohonkan oleh Termohon I merupakan petitum amar yang sifatnya declaratoir. Namun, Termohon II telah bertindak melebihi apa yang dimintakan dengan memutus dengan amar putusan yang sifatnya menghukum (condemnatoir), maka jelas amar Putusan BANI No. 513 telah melebihi dari apa yang dimintakan oleh Pemohon Arbitrase.

Bahwa hal ini jelas melanggar keadilan dan kepatutan dalam memutus Perkara No. 513/IV/ARB-BANI/2013 sebagaimana disyaratkan dalam Pasal 56 ayat (1) UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa yang berbunyi:

“Arbiter atau Majelis Arbitrase mengambil putusan berdasarkan ketentuan hukum atau berdasarkan keadilan dan kepatutan.”

Bahwa dengan Termohon II memutuskan melebihi dari apa yang dimohonkan (ultra Petita), hal ini jelas menguntungkan PT. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL (Persero), Tbk. i.c Termohon I/ dahulu Pemohon Arbitrase.

(19)

Pemohon Primer

a. Menyatakan menerima dan mengabulkan Permohonan Pemohon. b. Menyatakan Putusan Arbitrase BANI No.

513/IV/ARB-BANI/2013 tanggal 5 Juni 2014 tidak mencerminkan rasa keadilan dan kepatutan.

c. Menyatakan Putusan Arbitrase BANI No. 513/IV/ARB-BANI/2013 tanggal 5 Juni 2014 adalah batal demi hukum.

d. Menetapkan semua ongkos perkara yang timbul dari permohonan ini sepenuhnya ditanggung oleh Pemohon.

Termohon I Primer

Dalam Eksepsi

a. Menerima dan mengabulkan eksepsi dari Termohon I untuk seluruhnya.

b. Menyatakan permohonan Pemohon tidak dapat diterima (Niet ontvankelijk verklaard).

c. Menghukum Pemohon untuk membayar segala biaya yang timbul dalam perkara ini.

Dalam Pokok Perkara

a. Menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya.

b. Menghukum Pemohon untuk membayar segala biaya yang timbul dalam perkara ini.

Subsider

Apabila Majelis Hakim yang mulia berpendapat lain, Termohon I mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aquo et bono) demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Termohon II

Dalam Pokok Perkara

a. Menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya. b. Menghukum Pemohon untuk membayar biaya perkara.

(20)

6. Putusan

Mengutip Amar dalam Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara

tanggal 29 September 2014 Nomor

305/PDT.G/BANI/2014/PN.JKT.UTR yang berbunyi sebagai berikut: MENGADILI

a. Mengabulkan permohonan Pemohon

b. Membatalkan Putusan Temrohon II/ Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 tanggal 5 Juni 2014

c. Membebankan biaya perkara ini kepada Pemohon sejumlah Rp 513.000,00 (Lima ratus tiga puluh satu ribu rupiah.

B. PEMBAHASAN

1. Pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara dalam Membatalkan Putusan BANI Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013

Beberapa hal yang menjadi analisis penulis terhadap Putusan

Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor

305/PDT.G/BANI/2014/PN.JKT.UTR tentang Permohonan Pembatalan Putusan Arbitrase yang diajukan oleh PT. Sea World Indonesia dapat dikabulkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara, yaitu:

a. Perkara ini merupakan upaya pemohon yaitu, PT. Sea World Indonesia, untuk membatalkan putusan arbitrase BANI dalam sengketa perjanjian BOT yang diajukan oleh PT.Pembangunan Jaya Ancol. Perkara ini bermula pada saat perjanjian BOT antara PT. Sea World Indonesia dan PT. Pembangunan Jaya Ancol berakhir pada tangal 16 Juni 2014. Dengan berakhirnya perjanjian BOT tersebut maka berakhirlah hak pengelolaan PT. Sea World Indonesia dan sesuai perjanjian beralih ke PT. Pembangunan Jaya Ancol.

(21)

Penyebab dari perselisihan adalah terdapat beberapa poin yang ditafsirkan berbeda oleh kedua belah pihak dalam kontrak perjanjian pembangunan, pengelolaan, dan peralihan hak atas Undersea World Indonesia di Taman Impian Jaya Ancol, Akta No.81/1992 tertanggal 21 September 1992. Pada Pasal 8 tentang Jangka Waktu Pengelolaan ayat 1 berbunyi pada intinya setelah pekerjaan pembangunan selesai, pengelolaan akan diserahkan kepada Sea World dengan berita acara serah terima. Ayat 2 berbunyi pada intinya kedua pihak setuju masa pengelolaan berlaku untuk jangka waktu 20 tahun terhitung sejak Sea World beroperasi. Ayat 3 berbunyi pada intinya perjanjian berakhir apabila telah berakhir masa berlakunya perjanjian, atau kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri, atau salah satu pihak lalai dalam memenuhi perjanjian. Ayat 5 berbunyi pada intinya saat perjanjian berakhir, Sea World harus menyerahkan tanah dan bangunan proyek pada Jaya Ancol dengan sarana penunjang dan hak pengelolaannya. Ayat 6 yang berbunyi pada intinya Sea World mempunyai opsi memperpanjang masa pengelolaan selama 20 tahun lagi dengan mengajukan secara tertulis setahun sebelum masa perjanjian selesai.

Sesuai dengan Pasal 23 ayat (2) Akta No.81/1992 yang menyatakan pada intinya apabila ada sengketa maka diselesaikan melalui arbitrase, maka PT.Pembangunan Jaya Ancol mengajukan surat permohonan arbitrase kepada BANI dan menunjuk Humprey R. Djemat, S.H.,LL.M.,FCBArb sebagai arbiter pilihannya. Selanjutnya, PT.Sea World Indonesia mengajukan H.Basoeki, S.H. sebagai arbiter pilihannya. Berdasarkan hal itu dengan kesediaan dari para arbiter maka BANI mengeluarkan surat keputusan mengangkat Majelis Arbiter yang terdiri dari Fatimah Achyar, S.H.,FCBArb selaku Ketua Majelis, Humprey R. Djemat,

(22)

S.H.,LL.M.,FCBArb dan H.Basoeki, S.H masing-masing sebagai Anggota Majelis Arbitrase.

b. Berdasarkan pertimbangan majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara, PT. Sea World Indonesia sebagai Pemohon Pembatalan Putusan Arbitrase dalam mengajukan Permohonan Pembatalan Putusan Arbitrase BANI Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 telah sesuai dengan Pasal 71 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa Permohonan Pembatalan Putusan Arbitrase harus diajukan secara tertulis dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak hari penyerahan dan pendaftaran putusan arbitrase kepada Panitera Pengadilan Negeri.

Bahwa Putusan BANI Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 tanggal 5 Juni 2014 telah didaftarkan pada Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Utara tanggal 1 Juli 2014 dengan register nomor 02/WASIT/2014/PN.JKT.UTR. Selanjutnya, Pemohon mengajukan Permohonan Pembatalan Putusan BANI pada tanggal 24 Juli 2014, sehingga jangka waktu permohonan sesuai dengan Pasal 71 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999.

Berdasarkan pertimbangan diatas, maka Majelis Hakim menerima Permohonan Pembatalan Putusan BANI yang diajukan Pemohon. Pertimbangan Majelis Hakim untuk menerima Permohonan Pembatalan Putusan BANI adalah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999.

c. Alasan Permohonan yang diajukan oleh PT. Sea World Indonesia ada 5 yaitu:

 Pemohon Menemukan Dokumen yang Sifatnya Menentukan di mana Dokumen ini Menunjukkan Adanya Afiliasi antara Saksi Ahli yang Diajukan Pemohon Arbitrase dengan Salah Satu Arbiter yang Mempengaruhi Putusan BANI Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 Sebagaimana dimaksud dalam

(23)

Ketentuan Pasal 70 Huruf b Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999.

 Patut Diduga Putusan BANI Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 Diambil dari Hasil Tipu Muslihat dari Pihak Termohon I dan II Sebagaimana Dimaksud dalam Ketentuan Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999.

 Majelis Arbitrase Telah Melakukan Kekeliruan Nyata dalam Memutus Perkara Terkait Penggunaan Dasar Hukum Pengambilan Keputusan.

 Putusan BANI Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 Telah Melanggar Azas Kebebasan Berkontrak dan Hukum Perjanjian yang Diatur dalam Pasal 1338 KUHPerdata.

 Termohon II Selaku Majelis Pemutus Telah Memberikan Putusan yang Melebihi Tuntutan dalam Permohonan Arbitrase.

Bahwa berdasarkan Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 dinyatakan terhadap Putusan Arbitrase para pihak dapat mengajukan Permohonan Pembatalan Putusan Arbitrase apabila Putusan tersebut diduga mengandung unsur-unsur sebagai berikut:

- Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan setelah putusan dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu

- Setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan yang disembunyikan oleh pihak lawan

- Putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa.

Majelis Hakim menimbang bahwa berdasarkan Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999, hanya ada 2 (dua) permasalahan hukum pokok yang dapat dipertimbangkan oleh Majelis Hakim sehubungan dengan perkara a quo yaitu:

(24)

- Apakah ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh Termohon I setelah adanya Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 tanggal 5 Juni 2014?

- Apakah Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 tanggal 5 Juni 2014 diambil dari tipu muslihat yang dilakukan oleh Termohon I dalam pemeriksaan?

Majelis Hakim menimbang bahwa alasan selebihnya yang diajukan oleh Pemohon, yaitu:

- Majelis Arbitrase Telah Melakukan Kekeliruan Nyata dalam Memutus Perkara Terkait Penggunaan Dasar Hukum Pengambilan Keputusan.

- Putusan BANI Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 Telah Melanggar Azas Kebebasan Berkontrak dan Hukum Perjanjian yang Diatur dalam Pasal 1338 KUHPerdata.

- Termohon II Selaku Majelis Pemutus Telah Memberikan Putusan yang Melebihi Tuntutan dalam Permohonan Arbitrase. Alasan-alasan Pemohon diatas Majelis Hakim menyatakan bukan merupakan alasan-alasan sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999. Bahkan, hal tersebut telah lebih jauh masuk ke dalam pokok perkara yang bukan menjadi kewenangan dari Majelis Hakim untuk menilainya. Oleh karena itu, ketiga alasan Pemohon tersebut Majelis Hakim tidak akan mempertimbangkannya lebih lanjut dan patutlah untuk dikesampingkan.

Berdasarkan pertimbangan Majelis Hakim diatas, dapat dikatakan bahwa pertimbangan Majelis Hakim adalah benar dan telah sesuai dengan Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999.

(25)

d. Majelis Hakim menimbang bahwa akan mempertimbangkan Permasalahan Hukum pertama yaitu apakah ada ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh Termohon I setelah adanya Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 tanggal 5 Juni 2014?

Majelis Hakim menimbang bahwa, Pemohon di dalam dalil pokok persoalan pertama dimaksud menyatakan terdapat berita dalam situs hukumonline.com yang menunjukkan bahwa ELIJANA TANSAH terafiliasi dengan salah satu Majelis Arbiter, yaitu HUMPREY R. DJEMAT yang notabene adalah arbiter yang ditunjuk oleh PT. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL (Persero) Tbk./Termohon I, sehingga dengan demikian maka seharusnya Ahli ELIJANA TANSAH pada saat dimintai keterangannya pada persidangan tanggal 6 Februari 2014 wajib menolak untuk memberikan keterangan dengan alasan terdapat benturan kepentingan dengan HUMPREY R. DJEMAT, demikian juga HUMPREY R. DJEMAT seharusnya wajib menolak untuk memeriksa dan/atau meminta keterangan dan Ahli ELIJANA TANSAH dengan alasan terdapat benturan kepentingan yang mempengaruhi independensi keterangan Ahli ELIJANA TANSAH dalam pemeriksaan, termasuk objektifitas HUMPREY R. DJEMAT sebagai salah satu anggota Majelis Arbiter yang ditetapkan Termohon I.

Majelis Hakim menimbang bahwa, terhadap dalil Pemohon Termohon I di dalam dalil jawabannya menyatakan tidak mungkin Termohon I menyembunyikan dokumen yang bersifat menentukan sedangkan dokumen tersebut adalah berita dari situs hukumonline.com tertanggal 6 Maret 2009 dimana situs hukumonline.com adalah situs yang terbuka untuk umum dan sangat tidak mungkin dapat disembunyikan oleh Termohon II,

(26)

bahkan dalam persidangan ini jelas-jelas Termohon I dapat dengan mudah menemukan informasi tersebut melalui internet.

Majelis Hakim menimbang bahwa, Termohon II dalam dalil jawabannya menyatakan jika dalil Pemohon tersebut merupakan hal yang mengada-ada karena tidak ada satupun bukti bahwa Termohon I telah secara sengaja menyembunyikan dokumen, apalagi dokumen berupa berita dari situs hukumonline.com dapat diakses oleh setiap orang, selanjutnya, Termohon II menyatakan tidak ada satupun Putusan Pengadilan yang Telah Berkekuatan Hukum Tetap yang membuktikan adanya dokumen yang disembunyikan oleh pihak lawan, in casu Termohon I di dalam proses pemeriksaan perkara Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013.

Majelis Hakim menimbang bahwa, selanjutnya terhadap permasalahan hukum pertama di muka, Majelis Hakim memberikan pertimbangan sebagai berikut: bahwa setelah mempelajari dengan seksama bukti-bukti yang diajukan oleh pihak-pihak, sehubungan dengan dalil Pemohon perihal dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh Termohon I adalah mengacu kepada bukti P-10 berupa fotokopi berita yang diambil dari situs hukumonline.com tanggal 6 Maret 2009, yang didalamnya terdapat berita dengan kalimat “Sedangkan Elijana Tansah dari Kantor Advokat Gani Djemat & Partners berpendapat lain”.

Majelis Hakim menimbang bahwa, akan mempertimbangkan apakah bukti P-10 dimaksud termasuk dalam kategori dokumen yang bersifat menentukan yang disembunyikan oleh Termohon I. Bahwa bukti P-10 adalah diambil dari situs dengan alamat www.hukumonline.com yang merupakan situs umum, dimana setiap orang dapat dengan mudah untuk mengaksesnya, utamanya di dalam melihat berita yanggal 6 Maret

(27)

2009 yang terdapat kalimat “Sedangkan Elijana Tansah dari Kantor Advokat Gani Djemat & Partners berpendapat lain”, dimana Pembaca dapat lansung mengaksesnya tanpa terlebih dahulu harus mendaftar menjadi anggota situs hukumonline.com.

Majelis Hakim menimbang bahwa, untuk itu sependapat dengan dalil Termohon I dan Termohon II yang pada pokoknya menyatakan situs hukumonline.com adalah situs terbuka untuk umum yang dapat diakses oleh setiap orang sehingga tidak mungkin dapat disembunyikan oleh Termohon I, sehingga terhadap bukti P-10 berupa fotokopi berita yang diambil dari situs berita hukumonline.com tanggal 6 Maret 2009, yang didalamnya terdapat berita dengan kalimat “Sedangkan Elijana Tansah dari Kantor Advokat Gani Djemat & Partners berpendapat lain”, Majelis Hakim berpendapat bukanlah termasuk sebagai dokumen yang disembunyikan sebagaimana diatur di dalam Ketentuan Pasal 70 Huruf b Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999, Majelis Hakim berpendapat bukti P-10 dimaksud sifatnya tidaklah menentukan, oleh karena hanya merupakan sebuah berita seperti pada umumnya.

Berdasarkan pertimbangan Majelis Hakim diatas, maka Majelis Hakim Berpendapat bahwa alasan pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 tanggal 5 Juni 2014 yang diajukan oleh Pemohon dengan alasan ada ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh Termohon I setelah adanya putusan haruslah untuk ditolak.

Berdasarkan pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara diatas maka benar bahwa untuk alasan ditemukannya dokumen yang bersifat menentukan haruslah ditolak karena tidak sesuai dengan Pasal 70 huruf b Undang-Udnang Nomor 30 Tahun 1999. Dokumen berita yang merupakan bukti

(28)

yang diajukan Pemohon (P-10) bukanlah suatu dokumen yang menentukan karena hanyalah sebuah kalimat dalam berita yang berada di situs berita hukumonline.com.

e. Majelis Hakim menimbang Permasalahan Hukum kedua yaitu apakah Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 tanggal 5 Juni 2014 di ambil dari tipu muslihat yang dilakukan oleh Termohon I dalam pemeriksaan sengketa?

Majelis Hakim menimbang bahwa Pemohon di dalam dalil pokok persoalan kedua dimaksud dari awal untuk mempecundangi Pemohon dalam perkara arbitrase, oleh karena adanya fakta hukum hubungan antara Majelis Arbiter Termohon II (HUMPREY R DJEMAT) dengan Ahli ELIJANA TANSAH yang diajukan oleh Termohon I sebagai salah satu pihak dalam Perkara Arbitrase No. 513/IV/ARB-BANI/2013 tanggal 5 Juni 2014, sehingga patut di duga telah terjadi konspirasi sejak awal didaftarkannya Permohonan Arbitrase yang bertujuan untuk menghilangkan hak-hak dan kepentingan hukum Pemohon.

Majelis Hakim menimbang bahwa terhadap dalil Pemohon, Termohon I di dalam dalil jawabannya menyatakan bahwa mengenai dalil adanya tipu muslihat di mana Termohon I menunjuk Termohon II untuk menyelesaikan pokok sengketa/permasalahan adalah memang sudah sesuai dengan amanat pada Akta No. 81/1992, yaitu Pasal 23 ayat (2) yang menyatakan dalam hal adanya perselisihan memang harus diselesaikan melalui Termohon II dan bukan melalui instansi atau lembaga peradilan yang lain. Hal ini adalah kesepakatan Pemohon dan Termohon I dan oleh karenanya berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.

Majelis Hakim menimbang bahwa Termohon II di dalam dalil jawabannya menyatakan jika dalil Pemohon tersebut

(29)

merupakan tuduhan yang tendensius dan mengada-ada karena pemeriksaan perkara Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 telah berjalan-jalan sesuai ketentuan dan mempertimbangkan seluruh dalil, bukti-bukti serta fakta-fakta yang disampaikan oleh kedua belah pihak secara seimbang sesuai asas audi et elteram partem dan tidak ada satupun tipu muslihat yang dilakukan. Termohon II berdalih bahwa ELIJANA TANSAH tidak pernah bekerja di kantor hukum GANI DJEMAT & PARTNERS tempat dimana HUMPREY R DJEMAT tergabung, sehingga menolah tuduhan Pemohon yang menyatakan adanya afiliasi antara ELIJANA TANSAH dan HUMPREY R DJEMAT.

Bahwa di dalam Penjelasan Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 dinyatakan bahwa Permohonan Pembatalan Putusan Arbitrase alasan-alasannya yang disebut dalam Pasal 70 harus dibuktikan dengan putusan pengadilan.

Majelis Hakim menimbang bahwa Pembatalan Putusan Arbitrase berdasarkan tipu muslihat dapat diajukan dengan tanpa disertai dengan putusan pengadilan yang menyatakan adanya tipu muslihat tersebut. Majelis Hakim menganggap bahwa hanya dengan menilai bukti-bukti cukup untuk menilai apakah ada tipu muslihat yang dilakukan oleh Termohon I. Pertimbangan hakim ini didasarkan pada putusan yang sebelumnya yaitu Putusan Mahkamah Agung Nomor 700 PK/Pdt/2008 jo Putusan Mahkamah Agung Nomor 02/Banding/Wasit/2004 jo Putusan Pengadilan Negeri Surabaya Nomor 468/Pdt.G/2003/PN.Sby, dimana Majelis Hakim Mahkamah Agung berpendapat Pemohon telah sengaja mengajukan bukti yang diketahuinya sudah tidak berlaku serta bukti yang tidak sah, sehingga mengakibatkan Majelis Arbitrase menjatuhkan putusan yang mendasarkan kepada bukti tersebut.

Majelis Hakim mendasarkan pertimbangannya pada Alat Bukti yang diajukan oleh Pemohon yaitu fotokopi berita dalam

(30)

hukumonline.com (Bukti P-10) dan Alat Bukti yang diajukan oleh Termohon II berupa fotokopi email korespondensi dari Sekretariat BANI dengan Bapak Humprey R. Djemat (T.II-8). Bukti dari Pemohon ingin menunjukkan bahwa Ahli ELIJANA TANSAH bekerja di tempat yang sama dengan Arbiter HUMPREY R DJEMAT yaitu di Kantor Advokat Gani Djemat & Partners. Sebaliknya Alat Bukti yang diajukan oleh Termohon II ingin menunjukkan bahwa HUMPREY R DJEMAT dengan ELIJANA TANSAH tidak ada hubungannya, dengan menunjukkan bahwa Ahli ELIJANA TANSAH tidak pernah bekerja di Kantor Advokat Gani Djemat & Partners.

Bahwa ternyata dalam Bukti Termohon II yaitu fotokopi email korespondensi dari Sekretariat BANI dengan Bapak Humprey R. Djemat (T.II-8), malah semakin mempertegas bahwa adanya hubungan antara HUMPREY R. DJEMAT dengan Ahli ELIJANA TANSAH. Hal ini dikarenakan adanya kalimat yang mengindikasikan bahwa Ahli ELIJANA TANSAH dan HUMPREY R DJEMAT ada hubungan komunikasi dan kerjasama yang cukup erat dan berkesinambungan. Kalimat tersebut adalah “..mengundang beliau (Elijana Tansah) untuk konsultasi,menjadi pembicara dalam seminar atau menjadi saksi ahli dalam persidangan..”.

Bahwa di dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tidak diatur secara tegas mengenai afiliasi. Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa peristiwa kongkrit tersebut dapat dicakup oleh Pasal 70 Huruf c Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999. Hal yang mendasari pertimbangan Majelis Hakim adalah bahwa Termohon I dalam Perkara Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 telah menunjuk HUMPREY R DJEMAT sebagai arbiter dan mengajukan ELIJANA TANSAH sebagai ahli untuk didengar keterangannya. Termohon I dalam dalil jawabannya tidak

(31)

menyampaikan bantahan perihal hubungan antara HUMPREY R DJEMAT dan Ahli ELIJANA TANSAH. Hal tersebut membuat Majelis Hakim berkesimpulan bahwa Termohon I telah sengaja mengajukan Ahli ELIJANA TANSAH yang diketahuinya mempunyai hubungan dengan arbiter HUMPREY R DJEMAT, sehingga sedemikian rupa mengakibatkan dua Anggota Majelis Arbitrase menjatuhkan Putusan yang mendasarkan kepada Keterangan Ahli ELIJANA TANSAH perihal: Perjanjian Nomor 81 Tanggal 21 September 1992 tentang Perjanjian Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan Hak Atas Undersea World Indonesia di Taman Impian Jaya Ancol, utamanya di dalam menafsirkan ketentuan Pasal 8 ayat (6) tentang hak opsi, sehingga tindakan Termohon I tersebut sifatnya mengelabui atau mengecoh dan digolongkan oleh Majelis Hakim sebagai suatu tipu muslihat yang dilakukan oleh Termohon I dalam proses pemeriksaan arbitrase.

Majelis Hakim berpendapat alasan Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 tanggal 5 Juni 2014 yang diajukan oleh Pemohon dengan alasan Putusan Arbitrase diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh Termohon I dapat dikabulkan.

Berdasarkan pertimbangan Majelis Hakim diatas maka Majelis Hakim memperluas pengertian tipu muslihat dalam Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 untuk mencakup persoalan afiliasi antara Ahli Elijana Tansah dan Arbiter Humprey R Djemat yang diajukan oleh Termohon I. Majelis Hakim juga mendasarkan pertimbangannya dalam mengabulkan Permohonan Pembatalan Putusan Arbitrase ini dengan precedent sebelumnya yang memeriksa perkara yang mirip yaitu Putusan Mahkamah Agung Nomor 700 PK/Pdt/2008 jo Putusan Mahkamah Agung Nomor 02/Banding/Wasit/2004 jo Putusan Pengadilan Negeri Surabaya Nomor 468/Pdt.G/2003/PN.Sby dimana dalam putusan

(32)

itu pertimbangan Majelis Hakim adalah pada bukti yang diajukan salah satu pihak yang mengajukan bukti yang sifatnya mengelabuhi dan membuat Majelis Arbiter tidak dapat mendudukkan fakta-fakta hukum pada keadaan yang sebenarnya. Hal tersebut sama dengan kasus Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 dimana dengan bukti Keterangan Ahli Elijana Tansah yang diajukan oleh Termohon I bersifat mengecoh sehingga menyebabkan dua Anggota Majelis Arbiter mendasarkan Putusan nya pada Bukti yang mengecoh yang diajukan oleh Termohon I/ dahulu Pemohon perkara arbitrase. Berdasarkan hal tersebut maka Pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara adalah telah sesuai dengan ketentuan Pasal 70 Huruf (c) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 yang menyebutkan alasan Permohonan Pembatalan Putusan Arbitrase dengan adanya tipu muslihat yang dilakukan oleh pihak lawan dalam pemeriksaan sengketa. Selain itu, Majelis Hakim juga telah mendasarkan Pertimbangannya pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 700 PK/Pdt/2008 jo Putusan Mahkamah Agung Nomor 02/Banding/Wasit/2004 jo Putusan Pengadilan Negeri Surabaya Nomor 468/Pdt.G/2003/PN.Sby, hal tersebut telah sesuai dengan Penjelasan Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999.

2. Akibat Hukum dari dibatalkannya Putusan Badan Arbitrase Nasional (BANI) Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013.

Akibat hukum adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk memperoleh suatu akibat yang dikehendaki oleh pelaku dan yang diatur oleh hukum. Tindakan yang dilakukannya merupakan tindakan hukum yakni tindakan yang dilakukan guna memperoleh suatu akibat yang dikehendaki hukum (R.Soeroso, 2006:294). Akibat hukum merupakan segala akibat yang terjadi dari segala perbuatan hukum yang dilakukan oleh subyek hukum terhadap obyek hukum atau

(33)

akibat-akibat lain yang disebabkan karena kejadian-kejadian tertentu oleh hukum yang bersangkutan telah ditentukan atau dianggap sebagai akibat hukum. Akibat hukum dapat berwujud (Pipin Syarifin, 1999:71):

- Lahirnya, berubahnya atau lenyapnya suatu keadaan hukum. - Lahirnya, berubahnya atau lenyapnya suatu hubungan hukum

antara dua atau lebih subyek hukum, di mana hak dan kewajiban pihak yang satu berhadapan dengan hak dan kewajiban pihak lain.

- Lahirnya sanksi apabila dilakukan tindakan yang melawan hukum.

- Akibat hukum yang timbul karena adanya kejadian-kejadian darurat oleh hukum yang bersangkutan telah diakui atau dianggap sebagai akibat hukum, meskipun dalam keadaan yang wajar tindakan-tindakan tersebut mungkin terlanrang menurut hukum.

Menurut Hikmahanto Juwana sebagaimana dikutip oleh Suleman Batubara terhadap akibat hukum pembatalan putusan arbitrase adalah, pertama, Berdasarkan proses dan alasan untuk pembatalan putusan arbitrase diatur dalam peraturan perundang-undangan suatu negara dan tidak diatur dalam sebuah perjanjian internasional. Kedua, Berdasarkan konsekuensi hukumnya, pembatalan putusan arbitrase berakibat pada dinafikkannya (seolah tidak pernah dibuat) suatu putusan arbitrase dan pengadilan dapat meminta agar para pihak mengulang proses arbitrase(re-arbitrate). pembatalan putusan arbitrase tidak membawa konsekuensi pada pengadilan yang membatalkannya untuk memiliki wewenang memeriksa dan memutus sengketa.

Mengenai akibat hukum dari pembatalan putusan arbitrase, lebih lanjut dapat dimengerti mengenai uraian lebih lanjut yaitu:

(34)

- Upaya hukum pembatalan diistilahkan dengan annualment/set aside.

- Pengaturan, syarat-syarat, alasan-alasan antara upaya hukum pembatalan diatur dalam suatu perundang-undangan suatu negara yaitu Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999.

- Akibat hukum dari diterimanya upaya hukum pembatalan adalah apabila dikabulkannya permohonan pembatalan putusan arbitrase mengakibatkan putusan arbitrase tersebut dinafikkan (dianggap tidak pernah ada putusan arbitrase).

- Dikabulkannya permohonan pembatalan putusan arbitrase membuat para pihak harus mengulang kembali proses arbitrase (re-arbitrate).

- Dikabulkannya permohonan pembatalan tidak membuat pengadilan negeri berwenang memeriksa dan memutus sengketa tersebut.

Akibat dari pembatalan putusan arbitrase juga diatur oleh Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999. Pengaturannya ada di dalam Pasal 72 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 yang menyatakan “Apabila permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikabulkan, Ketua Pengadilan Negeri menentukan lebih lanjut akibat pembatalan seluruhnya atau sebagian putusan arbitrase”.

Selanjutnya, dalam Penjelasan Pasal 72 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 menyatakan:

Ketua Pengadilan Negeri diberi wewenang untuk memeriksa tuntutan pembatalan jika diminta para pihak, dan mengatur akibat dari pembatalan seluruhnya atau sebagian dari putusan arbitrase bersangkutan. Selanjutnya, Ketua Pengadilan Negeri dapat memutuskan bahwa setelah diucapkan pembatalan, arbiter yang sama atau arbiter lain akan memeriksa kembali sengketa bersangkutan atau menentukan bahwa suatu sengketa tidak mungkin diselesaikan lagi melalui arbitrase.

Selanjunya, berdasarkan teori diatas penulis terapkan dalam kasus Permohonan Pembatalan Arbitrase antara PT.Sea World

(35)

Indonesia dengan PT. Pembagunan Jaya Ancol. Berdasarkan Amar Putusan Nomor 305/PDT.G/BANI/2014/PN.JKT.UTR dimana dalam amarnya pada intinya mengabulkan permohonan pembatalan putusan arbitrase dari Pemohon (PT. Sea World Indonesia), maka akibat hukum yang diterima oleh kedua belah pihak adalah:

- Berdasarkan dalam teori sebelumnya yang menyatakan apabila permohonan pembatalan putusan arbitrase dikabulkan maka dinafikkannya putusan arbitrase tersebut atau putusan arbitrase tersebut dianggap tidak pernah dibuat. Mendasarkan dari amar putusan yang menyatakan bahwa Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara mengabulkan permohonan pembatalan putusan arbitrase yang diajukan oleh Pemohon PT. Sea World Indonesia maka berakibat menjadi Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 dinafikkan atau dianggap tidak pernah dibuat.

- Apabila Putusan Badan Arbitrase Nasional (BANI) Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 dinafikkan maka segala hak yang timbul dari putusan itu seperti peralihan hak atas Undersea Wold Indonesia di Taman Impian Jaya Ancol dari PT. Sea World Indonesia kepada PT. Pembangunan Jaya Ancol dibatalkan. Dengan adanya Putusan Nomor 305/PDT.G/BANI/2014/PN.JKT.UTR maka PT. Pembangunan Jaya Ancol kehilangan hak untuk mengelola Undersea World Indonesia di Taman Impian Jaya Ancol.

- Akibat hukum yang lain adalah kembalinya hak mengelola kepada PT. Sea World Indonesia. Dalam sengketa antara PT. Sea World Indonesia dan PT. Pembangunan Jaya Ancol. Berdasarkan analisis penulis Akta Nomor 81 Tahun 1992 tentang Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan Hak atas Undersea World Indonesia di Taman Impuan Jaya Ancol telah berakhir pada tanggal 6 Juni 2014 sehingga sesuai ketentuan

(36)

akta masa kepemilikan hak atas Undersea World Indonesia milik PT. Sea World Indonesia telah berakhir dan harus dialihkan kepada PT. Pembangunan Jaya Ancol. Pada prakteknya, terjadi sengketa dan diselesaikan melalui arbitrase sesuai Pasal 23 ayat (2) Akta Nomor 81 tahun 1992 tentang Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengalihan Hak atas Undersea World Indonesia di Taman Impuan Jaya Ancol. Sengketa tersebut sudah diperiksa dan diputus dengan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013, namun dengan Putusan Nomor 305/PDT.G/BANI/2014/PN.JKT.UTR yang membatalkan Putusan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 membuat hak mengelola tetap pada PT. Sea World Indonesia. Sehingga dibatalkannya Putusan BANI 513/IV/ARB-BANI/2013 membuat hak mengelola tidak beralih ke tangan PT. Pembangunan Jayaa Ancol.

- Putusan Nomor 305/PDT.G/BANI/2014/PN.JKT.UTR yang membuat batalnya Putusan Badan Arbitrase Nasional (BANI) Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 dinafikkan, juga membuat para pihak yang bersengketa harus mengulang lagi proses arbitrase untuk menyelesaikan sengketa yang timbul sebelumnya yaitu masalah perpanjangan hak opsi secara serta merta yang dilakukan oleh PT. Sea World Indonesia. Diatur pula dalam Pasal 72 ayat (2) bahwa Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara berwenang mengatur akibat dari dibatalkannya putusan arbitrase seluruhnya atau sebagian, tapi didalam penjelasan dinyatakan bahwa Ketua Pengadilan Negeri dapat menentukan arbiter yang sama atau arbiter yang lain dapat memeriksa sengketa yang bersangkutan atau dapat menentukan bahwa sengketa tersebut tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase. Dari hal ini dapat dilihat bahwa akibat hukum dari

(37)

dibatalkannya Putusan Nomor 305/PDT.G/BANI/2014/PN.JKT.UTR adalah selain hilangnya hak-hak karena dinafikkannya Putusan Badan Arbitrase Nasional (BANI) Nomor 513/IV/ARB-BANI/2013 adalah bahwa sengketa tersebut harus diperiksa ulang dan Ketua Pengadilan Negeri yang berwenang dalam menentukan dengan arbiter siapa sengketa tersebut diperiksa dan diputus atau sengketa tersebut diperiksa oleh Pengadilan Negeri dan menganggap bahwa sengketa tersebut tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :