MAKALAH IMUNOMODULATOR

20 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG A. LATAR BELAKANG

Sistem imun tubuh terdiri dari banyak komponen. Semua komponen tersebut akan bekerja Sistem imun tubuh terdiri dari banyak komponen. Semua komponen tersebut akan bekerja secara serentak manakala tubuh mendapatkan serangan dari penyakit yang berasal dari luar secara serentak manakala tubuh mendapatkan serangan dari penyakit yang berasal dari luar tubuh maupun dari dalam tubuh kita sendiri. Sistim imun dibagi atas dua jenis, yaitu sistem tubuh maupun dari dalam tubuh kita sendiri. Sistim imun dibagi atas dua jenis, yaitu sistem imun kongenital atau nonspesifik dan sistim imun didapat atau adaptive atau spesifik. imun kongenital atau nonspesifik dan sistim imun didapat atau adaptive atau spesifik. Mekanisme pertahanan tubuh oleh sistim imun kongenital bersifat spontan, tidak spesifik, Mekanisme pertahanan tubuh oleh sistim imun kongenital bersifat spontan, tidak spesifik, dan tidak berubah baik secara kualitas maupun kuantitas bahkan setelah paparan berulang dan tidak berubah baik secara kualitas maupun kuantitas bahkan setelah paparan berulang dengan patogen yang sama. Sedangkan sistim imun didapat muncul setelah proses mengenal dengan patogen yang sama. Sedangkan sistim imun didapat muncul setelah proses mengenal oleh limfosit (clonal selection), yang tergantung pada paparan terhadap patogen sebelumnya. oleh limfosit (clonal selection), yang tergantung pada paparan terhadap patogen sebelumnya. Adanya sistim imun kongenital memungkinkan respon imun dini untuk melindungi tubuh Adanya sistim imun kongenital memungkinkan respon imun dini untuk melindungi tubuh selama 4-5 hari, yang merupakan waktu yang diperlukan untuk mengaktivasai limfosit selama 4-5 hari, yang merupakan waktu yang diperlukan untuk mengaktivasai limfosit (imunitas didapat). Mekanisme pertahanan tubuh ini dibagi atas 3 fase :

(imunitas didapat). Mekanisme pertahanan tubuh ini dibagi atas 3 fase :

1. Immediate phase, ditandai oleh terdapatnya komponen sistim imun kongenital (makrofag 1. Immediate phase, ditandai oleh terdapatnya komponen sistim imun kongenital (makrofag dan neutrofil), yang beraksi langsung terhadap patogen tanpa diinduksi. Jika mikroorganisme dan neutrofil), yang beraksi langsung terhadap patogen tanpa diinduksi. Jika mikroorganisme (m.o) memiliki molekul permukaan yang dikenali oleh fagosit (makrofag dan neutrofil) (m.o) memiliki molekul permukaan yang dikenali oleh fagosit (makrofag dan neutrofil) sebagai benda asing, akan diserang atau dihancurkan secara langsung. Bila m.o dikenali sebagai benda asing, akan diserang atau dihancurkan secara langsung. Bila m.o dikenali sebagai antibodi, maka protein komplemen yang sesuai yang berada diplasma akan berikatan sebagai antibodi, maka protein komplemen yang sesuai yang berada diplasma akan berikatan dengan m.o, kompleks ini kemudian dikenal sebagai benda asing oleh fagosit dan kemudian dengan m.o, kompleks ini kemudian dikenal sebagai benda asing oleh fagosit dan kemudian diserang atau dihancurkan.

diserang atau dihancurkan.

2. Acute-phase proteins atau early phase, muncul beberapa jam kemudian, diinduksi, tetapi 2. Acute-phase proteins atau early phase, muncul beberapa jam kemudian, diinduksi, tetapi masih bersifat nonspesifik, timbul bila fagosit gagal mengenal m.o melalui jalur diatas. M.o masih bersifat nonspesifik, timbul bila fagosit gagal mengenal m.o melalui jalur diatas. M.o akan terpapar terhadap acute-phase proteins (APPs) yang diproduksi oleh hepatosit dan akan terpapar terhadap acute-phase proteins (APPs) yang diproduksi oleh hepatosit dan kemudian dikenali oleh protein komplemen. Kompleks m.o, APPs, dan protein komplemen kemudian dikenali oleh protein komplemen. Kompleks m.o, APPs, dan protein komplemen kemudian dikenali oleh fagosit dan diserang serta dihancurkan.

kemudian dikenali oleh fagosit dan diserang serta dihancurkan.

3. Late phase, merupakan respon imun didapat timbul 4 hari setelah infeksi pertama, ditandai 3. Late phase, merupakan respon imun didapat timbul 4 hari setelah infeksi pertama, ditandai oleh clonal selection limfosit spesifik. Pada fase ini dibentuk molekul dan sel efektor oleh clonal selection limfosit spesifik. Pada fase ini dibentuk molekul dan sel efektor  pertama.

 pertama.

Mempertahankan kekebalan tubuh diperlukan agar tubuh senantiasa sehat. Meningkatkan Mempertahankan kekebalan tubuh diperlukan agar tubuh senantiasa sehat. Meningkatkan dengan menjaga pola hidup sehat, yaitu istirahat/tidur

(2)

yang mengandung vitamin dan mineral, dan bila perlu menggunakan imunomodulator. yang mengandung vitamin dan mineral, dan bila perlu menggunakan imunomodulator. Imunomodulator adalah imunostimulasi atau imunopotensiasi, yaitu cara memperbaiki fungsi Imunomodulator adalah imunostimulasi atau imunopotensiasi, yaitu cara memperbaiki fungsi sistem imun tubuh dengan menggunakan bahan yang merangsang atau meningkatkan kerja sistem imun tubuh dengan menggunakan bahan yang merangsang atau meningkatkan kerja sistem tersebut.

sistem tersebut.

B. RUMUSAN MASALAH B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian Imunomodulator ? 1. Apa pengertian Imunomodulator ?

2. Bagaimana Pengelompokan Imunomodulator ? 2. Bagaimana Pengelompokan Imunomodulator ? 3. Apa saja Metode Uji Aktifitas

3. Apa saja Metode Uji Aktifitas Imunomodulator ?Imunomodulator ? C. TUJUAN

C. TUJUAN

Dengan mempelajari makalah ini mahasiswa diharapkan mampu : Dengan mempelajari makalah ini mahasiswa diharapkan mampu : 1. Mengetahui pengertian Imunomodulator

1. Mengetahui pengertian Imunomodulator 2. Mengetahui pengelompokan dalam i

2. Mengetahui pengelompokan dalam imunomodulatormunomodulator

3. Mengetahui pengertian imunorestorasi, Imunostimulasi dan Imunosupresi 3. Mengetahui pengertian imunorestorasi, Imunostimulasi dan Imunosupresi

(3)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN IMUNOMODULATOR

Imunomodulator merupakan senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme

 pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik, dan terjadi induksi non spesifik  baik mekanisme pertahanan seluler maupun humoral. Pertahanan non spesifik terhadap

antigen ini disebut paramunitas, dan zat berhubungan dengan penginduksi disebut

 paraimunitas. Induktor semacam ini biasanya tidak atau sedikit sekali kerja antigennya, akan tetapi sebagian besar bekerja sebagai mitogen yaitu meningkatkan proliferasi sel yang

 berperan pada imunitas. Sel tujuan adalah makrofag, granulosit, limfosit T dan B, karena induktor paramunitas ini bekerja menstimulasi mekanisme pertahanan seluler. Mitogen ini dapat bekerja langsung maupun tak langsung misalnya melalui sistem komplemen atau limfosit, melalui produksi interferon atau enzim lisosomal untuk meningkatkan fagositosis mikro dan makro . Mekanisme pertahanan spesifik maupun non spesifik umumnya saling  berpengaruh. Dalam hal ini pengaruh pada beberapa sistem pertahanan mungkin terjadi,

hingga mempersulit penggunaan imunomodulator.

Terdapat 2 jenis Imunomodulator yaitu Imunomodulator sintesis dan imunomodulator alami. Imunomodulator sintesis adalah seperti Isoprinosin, Levamisol, Vaksin BCG dan banyak lagi. Penggunaan imunomodulator sintetik ini mempunyai beberapa kekurangan seperti mengakibatkan reaksi alergi dan hipersensitivitas pada sesetengah orang. Ia juga dapat mengakibatkan efek samping yang tidak diinginkan. Dengan ini, adalah lebih aman jika digunakan imunomodulator alami karena efek samping darinya juga lebih ringan dibanding dengan imunomodulator sintetik.

Penggunaan tanaman sebagai obat setelah diketahui mengandung antioksidan alami serta dapat meningkatkan aktivitas sistem imun. Terjadi peningkatan dalam dekade terakhir pada manusia karena penggunaan tanaman sebagai obat merupakan suatu pendekatan yang aman dan alami untuk mengobati penyakit. Menurut WHO, imunomodulator haruslah memenuhi  persyaratan berikut: secara kimiawi murni atau dapat didefinisikan secara kimia, secara  biologik dapat diuraikan dengan cepat, tidak bersifat kanserogenik atau ko-kanserogenik,  baik secara akut maupun kronis tidak toksik dan tidak mempunyai efek samping farmakologi

yang merugikan serta tidak menyebabkan stimulasi yang terlalu kecil ataupun terlalu besar. Hal ini sesuai dengan Imunomodulator alami, yang tidak bersifat toksik, tidak memilii efek samping farmakoogi yang merugikan .Berbagai tanaman diketahui memiliki aktivitas sebagai imunomodulator di antaranya adalah Kaempferia Galanga L.

(4)

Tujuan Imunomodulator

Untuk meningkatkan fungsi dan aktifitas komponen sistem imun penderita terutama kearah  penyembuhan.

Manfaat Imunomodulator a) Pertahanan Tubuh

Menangkal bahan berbahaya agar tubuh tidak sakit, dan jika sel imun yang bertugas untuk  pertahanan ini mendapatkan gangguan atau tidak bekerja dengan baik, maka orang akan

mudah terkena sakit

 b) Keseimbangan fungsi homeostatik Menjaga keseimbangan dari komponen tubuh

c) Perondaan

Sebagian dari sel-sel imun memiliki kemampuan untuk meronda ke seluruh bagian tubuh. Jika ada sel-sel tubuh yang mengalami mutasi maka sel peronda tersebut akan

membinasakannya.

B. PENGELOMPOKAN IMUNOMODULATOR

Imunomodulator adalah obat yang dapat mengembalikan dan memperbaiki sistem imun yang fungsinya terganggu atau untuk menekan yang fungsinya berlebihan.Obat golongan

imunomodulator bekerja menurut 3 cara, yaitu melalui:Imunorestorasi, Imunostimulasi, Imunosupresi. Imunorestorasi dan imunostimulasi disebut imunopotensiasi atau up regulation, sedangkan imunosupresi disebut down regulation.

1. Imunorestorasi

Ialah suatu cara untuk mengembalikan fungsi sistem imun yang terganggu dengan memberikan berbagai komponen sistem imun, seperti: immunoglobulin dalam bentuk Immune Serum Globulin (ISG), Hyperimmune Serum Globulin (HSG), plasma,  plasmapheresis, leukopheresis, transplantasi sumsum tulang, hati dan timus.

ISG dan HSG diberikan untuk memperbaiki fungsi sistem imun pada penderita dengan defisiensi imun humoral, baik primer maupun sekunder. ISG dapat diberikan secara intravena dengan aman. Defisiensi imunoglobulin sekunder dapat terjadi bila tubuh kehilangan Ig

(5)

dalam jumlah besar, misalnya pada sindrom nefrotik, limfangiektasi intestinal, dermatitis eksfoliatif dan luka bakar.

Infus plasma segar telah diberikan sejak tahun 1960 dalam usaha memperbaiki sistem imun. Keuntungan pemberian plasma adalah semua jenis imunoglobulin dapat diberikan dalam  jumlah besar tanpa menimbulkan rasa sakit.

Plasmapheresis (pemisahan sel darah dari plasma) digunakan untuk memisahkan plasma yang mengandung banyak antibodi yang merusak jaringan atau sel, seperti pada penyakit: miastenia gravis, sindroma goodpasture dan anemia hemolitik autoimun.

Pemisahan leukosit secara selektif dari penderita telah dilakukan dalam usaha terapi artritis reumatoid yang tidak baik dengan cara-cara yang sudah ada.

2. Imunostimulasi

Imunostimulasi dan Imunorestorasi yang disebut juga imunopotensiasi adalah cara memperbaiki fungsi sistem imun dengan menggunakan bahan yang merangsang sistem tersebut.

Imunostimulan ditunjukan untuk perbaikan fungsi imun pada kondisi-kondisi imunosupresi. Kelompok obat ini dapat memperngaruhi respon imun seluler maupun humoral. Kelemahan obat ini adalah efeknya menyeluruh dan tidak bersifat spesifik untuk jenis sel atau antibodi tertentu. Selain itu efek umumnya lemah. Indikasi imunostimulan antara lain AIDS, infeksi kronik, dan keganasan terutama yang melibatkan sistem lifatik. (Widianto B Matildha. 1987). Imunostimulan adalah senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik, dan terjadi induksi non spesifik baik

mekanisme pertahanan seluler maupun humoral. Pertahanan non spesifik terhadap antigen ini disebut paramunitas, dan zat berhubungan dengan penginduksi disebut paraimunitas.

Induktor semacam ini biasanya tidak atau sedikit sekali kerja antigennya, akan tetapi sebagian besar bekerja sebagai mitogen yaitu meningkatkan proliferasi sel yang berperan  pada imunitas. Sel tujuan adalah makrofag, granulosit, limfosit T dan B, karena induktor  paramunitas ini bekerja menstimulasi mekanisme pertahanan seluler. Mitogen ini dapat  bekerja langsung maupun tak langsung (misalnya melalui sistem komplemen atau limfosit,

melalui produksi interferon atau enzim lisosomal) untuk meningkatkan fagositosis mikro dan makro. Mekanisme pertahanan spesifik maupun non spesifik umumnya saling berpengaruh. Dalam hal ini pengaruh pada beberapa sistem pertahanan mungkin terjadi, hingga

mempersulit penggunaan imunomodulator, dalam praktek.

Biological Response Modifier (BRM) adalah bahan-bahan yang dapat merubah respons imun, biasanya meningkatkan. Bahan yang disebut imunostimulator itu dapat dibagi sebagai  berikut:

a.Biologik Hormon timus

Sel epitel timus memproduksi beberapa jenis homon yang berfungsi dalam pematangan sel T dan modulasi fungsi sel T yang sudah matang. Ada 4 jenis hormon timus, yaitu timosin alfa,

(6)

timolin, timopoietin dan faktor humoral timus. Semuanya berfungsi untuk memperbaiki gangguan fungsi imun (imunostimulasi non-spesifik) pada usia lanjut, kanker, autoimunitas dan pada defek sistem imun(imunostimulasi non-spesifik) pada usia lanjut, kanker,

autoimunitas dan pada defek sistem imun (imunosupresi) akibat pengobatan. Pemberian  bahan-bahan tersebut jelas menunjukkan peningkatan jumlah, fungsi dan reseptor sel T dan  beberapa aspek imunitas seluler. Efek sampingnya berupa reaksi alergi lokal atau sistemik.

 b. Limfokin

Disebut juga interleukin atau sitokin yang diproduksi oleh limfosit yang diaktifkan.

Contohnya ialah Macrophage Activating Factor (MAF), Macrophage Growth Factor (MGF), T-cell Growth Factor atau Interleukin-2 (IL-2), Colony Stimulating Factor (CSF) dan

interferon gama (IFN-.). Gangguan sintetis IL-2 ditemukan pada kanker, penderita AIDS, usia lanjut dan autoimunitas.

c. Interferon

Ada tiga jenis interferon yaitu alfa, beta dan gama. INF-a dibentuk oleh leukosit, INF-ß dibentuk oleh sel fibroblas yang bukan limfosit dan IFN-. dibentuk oleh sel T yang

diaktifkan. Semua interferon dapat menghambat replikasi virus DNA dan RNA, sel normal dan sel ganas serta memodulasi sistem imun. Interferon dalam dosis tinggi menghambat  penggandaan sel B dan sel T sehingga menurunkan respons imun selular dan humoral, dan

dalam dosis rendah mengatur produksi antibodi serta merangsang sistem imun yaitu meningkatkan aktivitas membunuh sel NK, makrofag dan sel T. Dalam klinik, IFN

digunakan pada berbagai kanker seperti melanoma, karsinoma sel ginjal, leukimia mie lositik kronik, hairy cell leukimia, dan kapossi’s sarkoma.Efek sampingnya adalah demam, malaise, mialgia, mual, muntah, mencret, leukopenia, trombositopenia, dan aritmia.

d. Antibodi monoclonal

Diperoleh dari fusi dua sel yaitu sel yang dapat membentuk antibodi dan sel yang dapat hidup terus menerus dalam biakan sehingga antibodi tersebut dapat dihasilkan dal am jumlah yang  besar. Antibodi tersebut dapat mengikat komplemen, membunuh sel tumor manusia dan tikus

in vivo .

e. Transfer factor / ekstrak leukosit

Ekstrak leukosit seperti Dialysed Leucocyte Extract dan Transfer Factor (TF) telah digunakan dalam imunoterapi. Imunostimulasi yang diperlihatkan oleh TF yang spesifik asal leukosit

(7)

terlihat pada penyakit seperti candidiasis mukokutan kronik, koksidiomikosis, lepra lepromatosa, tuberkulosis, dan vaksinia gangrenosa.

f. Nukleotida

 Nukleotida terdapat pada air susu ibu. Akhir-akhir ini banyak susu formula yang diberi suplementasi nukleotida. Pada penelitian uji banding kasus yang dilakukan pada bayi, satu kelompok diberikan susu ibu atau susu formula yang disuplementasi nukleotida,

dibandingkan dengan kelompok yang diberikan susu formula tanpa nukleotida, ternyata terdapat peningkatan aktifitas sel NK pada bayi-bayi yang diberi susu ibu dan formula dengan nukleotida dibandingkan bayi-bayi yang diberi susu formula tanpa nukleotida.

Peneliti yang sama mendapatkan peningkatan produksi IL-2 oleh sel monosit pada kelompok yang diberi susu formula dengan nukleotida. Nukleotida juga mengaktifkan sel T dan sel B.

g. Lymphokin-Activated Killer (LAK) cells

Adalah sel T sitotoksik singeneik yang ditimbulkan in vitro dengan menambahkan sitokin seperti IL-2 ke sel-sel seseorang yag kemudian diinfuskan kembali. Prosedur ini merupakan imunoterapi terhadap keganasan.

h. Bahan asal bakteri

• BCG (Bacillus Calmette Guerin), memperbaiki produksi limfokin dan mengaktifkan sel NK dan telah dicoba pada penanggulangan keganasan (imuno-stimulan non-spesifik).

• Corynebacterium parvum (C. parvum), digunakan sebagai imunostimulasi non-spesifik  pada keganasan.

• Klebsiella dan Brucella, diduga memiliki efek yang sama dengan BCG.

• Bordetella pertusis, memproduksi Lymphocytosis Promoting Factor (LPF) yang merupakan mitogen untuk sel T dan imunostimulan.

• Endotoksin, dapat merangsang proliferasi sel B dan sel T serta mengaktifkan makrofag.

i. Bahan asal jamur

Berbagai bahan telah dihasilkan dari jamur seperti lentinan, krestin dan schizophyllan. Bahan-bahan tersebut merupakan polisakarida dalam bentuk beta-glukan yang dapat meningkatkan fungsi makrofag dan telah banyak digunakan dalam pengobatan kanker

sebagai imunostimulan non-spesifik.5 Penelitian terbaru menemukan jamur Maitake (Grifola frondosa) yang mengandung beta-glukan yang lebih poten sebagai imunostimulan pada

(8)

 b. Sintetik

a) Kortikosteroid (Glukokortikoid)

 b) Penghambat kalsineurin (Siklosporin dan Takrolimus)

c) Sitotoksik (Azatioprin, mikofenolat mofetil, Siklosfosfamid) d) Antibodi (antibodi poliklonal dan monoklonal)

1. Levamisol

Merupakan derivat tetramizol, Dalam klinik lazim dipakai sebagai obat cacing, dan sebagai imunostimulan levamisol berkhasiat untuk meningkatkan penggandaan sel T, menghambat sitotoksisitas sel T, mengembalikan anergi pada beberapa kanker (bersifat stimulasi nonspesifik), meningkatkan efek antigen, mitogen, limfokin dan faktor kemotaktik terhadap limfosit, granulosit dan makrofag. Selain untuk penyakit hodgkin, penggunaan klinisnya untuk mengobati artritis reumatoid, penyakit virus, lupus eritematosus sistemik, sindrom nefrotik. Diberikan dengan dosis 2,5 mg/kgBB per oral selama 2 minggu, kemudian dosis  pemeliharaan beberapa hari per minggu. Efek samping yang harus diperhatikan adalah mual,

muntah, urtikaria, dan agranulositosis. Obat i9ni diabsorpsi dnegan cepat dengan kadar  puncak 1-2 jam. Obat ini didistribusikan luas ke berbagai jaringan dan dimetabolisme di hati.

Tersedia dalam bentuk tablet 25,40,50mg.

2. Isoprinosin

Disebut juga isosiplex (ISO), adalah bahan sintetis yang mempunyai sifat antivirus dan meningkatkan proliferasi dan toksisitas sel T. Sebagai imunostimulator isoprinosin berkhasiat meningkatkan penggandaan sel T, meningkatkan toksisitas sel T, membantu produksi IL-2(LIMFOKIN) yang berperan dalam diferensiasi limfosit dan makrofag, serta meningkatkan fungsi sel NK. Diberikan dengan dosis 50 mg/kgBB. Perlu pemantauan kadar asam urat darah karena pemberian isoprinosin dapat meningkatkan kadar asam urat. Berbagai derivat sintetiknya sedang dalam penyelidikan untuk AIDS dan berbagai neoplasma. Obat ini dilaporkan mengurangi risiko infeksi terhadap HIV pada tahap lanjut.

3. Muramil Dipeptida (MDP)

Merupakan komponen aktif terkecil dari dinding sel mycobacterium. Sebagai imunostimulan  berkhasiat meningkatkan sekresi enzim dan monokin, serta bersama minyak dan antigen

dapat meningkatkan respons selular maupun humoral. Dalam klinik telah banyak digunakan untuk pencegahan tumor dan infeksi sebagai ajuvan vaksin.

(9)

4. Vaksin BCG

BCG dan komponen aktifnya merupakan produk bakteri yang memiliki efek

imunostimulan. Penggunaan BCG dalam imunopotensiasi bermula dari pengamatan bahwa  penderita tuberkulosis kelihatan lebih kebal terhadap infeksi oleh jasad renik lain. Dalam

imunomodulasi BCG digunakan untuk mengaktifkan sel T, memperbaiki produksi li mfokin, dan mengaktifkan sel NK. Walaupun sudah dicoba untuk berbagai neoplasma, efek yang cukup nyata terlihat pada kanker kandung kemih dengan pemberian intravesika. Efek samping meliputi reaksi hipersensitivitas, syok, menggigil, lesu, dan penyakit kompleks imun.

• Mekanisme Kerja

Imunostimulator secara tidak langsung berkhasiat mereaktivasi s ystem imun yang rendah dengan meningkatkan respon imun tak spesifik antara lain perbanyakan limfo T4, NK-cell dan magrofag distimulasi olehnya, juga pelepasan interferon dan interleukin. Sebagai efek akhir dari reaksi kompleks itu, zat asing dapat dikenali dan dimusnahkan. Pada sel – sel tumor ekspresi antigen transplantasi diperkuat olehnya sehingga lebih dikenali oleh TNF dan sel –  sel sytotoksis. Zat imunostimulator yang kini digunakan adalah vaksin BCG, limfokin

(interveron , interleukin) dan levamisol.

3. Imunosupresi

Pertahanan tubuh merupakan fungsi fisiologis yang amat penting bagi mahluk hidup. Dengan  pertahanan tubuh berjalan optimal, mahluk hidup dapat tumbuh berkembang, bereproduksi

dengan optimal. Bila berbicara mengenai pertahanan tubuh, perlu diketahui pula ancaman-ancaman penyakit yang dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh sehingga perkembangan tubuh dan produksi menjadi terganggu.

Imunosupresi adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan reaksi pembentukan zat kebal tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid. Dengan adanya penurunan jumlah antibodi dalam tubuh, maka penyakit-penyakit akan lebih leluasa masuk dan menginfeksi  bagian tubuh. Hal tersebut akan menyebabkan adanya gangguan pertumbuhan dan produksi.

Jadi, sangatlah penting untuk mengenali dan mengetahui imunosupresi.

• Mekanisme Kerja

(10)

atau lebih komponen sistem kekebalan tubuh. Mekanisme terjadinya imunosupresi biasanya terjadi melalui 3 mekanisme yaitu :

1. Secara langsung mengganggu fungsi sistem kekebalan atau merusak organ dan kelenjar limfoid primer (bursa Fabricius dan thymus) sekaligus organ/kelenjar limfoid sekunder (limfa, proventrikulus, seka tonsil dll). Mekanisme ini biasanya disebabkan serangan Gumboro, Marek’s, reovirus, limfoid leukosis dan aspergilosis.

2. Merusak atau mengganggu fungsi dan sistem pertahanan yang bersifat sekunder (limfa,  proventrikulus, seka tonsil, sel harderian) karena serangan penyakit swolen head syndrome,

kolera, ILT dan snot (korisa)

3. Menguras zat kebal (antibodi) tubuh yang telah terbentuk dari hasil vaksinasi, yang disebabkan serangan koksidiosis

• Secara umum adanya imunosupresi ditunjukkan dari adanya :

1. Gangguan sistem kekebalan tubuh, seperti adanya kegagalan vaksinasi (meskipun vaksin yang digunakan berkualitas dan tata laksana vaksinasi telah dilakukan dengan tepat), reaksi  post vaksinasi, turun atau hilangnya keampuhan pengobatan bahkan meningkatnya kasus  penyakit yang tidak umum, seperti gangrenous dermatitis, aplastic anemia atau inclusion  body hepatitis.

2. Meningkatnya penyakit yang menyerang saluran/sistem pernapasan yang diikuti infeksi sekunder oleh bakteri.

• Terapi Imunosupresi

Miastenia gravis adalah penyakit autoimun, di mana kekebalan tubuh balik menyerang diri sendiri. Dengan dasar tersebut digunakan obat-obatan imunosupresi (penekan kekebalan tubuh). Penggunaan obat imunosupresi efektif pada hampir seluruh pasien miastenia gravis. Beberapa obat yang biasa digunakan adalah glukokortikoid, azathioprine, siklosporin,

takrolimus, dan lain-lain. Pemilihan obat yang digunakan didasarkan pada keuntungan dan kerugian pada masing-masing pasien.

(11)

Bentuk sediaan dan dosis dari imunomodulator  Siklosporin

Sediaan intravena dalam bentuk larutan 50 mg/ml, sediaan oral berupa kapsul lunak 25-100 mg.

 Takrolimus

Sediaan oral untuk dewasa 150-200 mg/kg BB/hari, dosis intravena 25-50 mg/kg BB/hari.  Siklofosfamid

Dosis berkisar tablet 25 dan 50 mg larutan injeksi intravena 100 mg/vial  Metotreksat

(12)

BAB III PEMBAHASAN

IMUNOMODULATOR ALAMI KLASIFIKASI

 Nama Latin : Echinacea purpurea, Echinacea angustifolia, Echinacea pallida  Nama lain : Echinacea, purple coneflower, coneflower, American coneflower(1)

Kingdom : Plantae Subkindom : Traceobionta Division : Magnolyopita Class : Magnoliopsida Subclass : Asteridae Family : Asteraceae

Genus : Echinaceae Moench

Species : Echinaceae Purpurea (L.) Moench (2)

Tumbuhan Echinacea yang digunakan sebagai obat adalah akarnya. Echinacea  purpurea dan E. pallid digunakan sebagai imunostimulan dan dalam pengobatan infeksi  pernapasan. Kedua spesies dimanfaatkan untuk pembuatan produk farmasetik dan terdapat sejumlah data mengenai efikasinya. Spesies lain juga digunakan, tetapi tidak cukup data yang tersedia untuk memvalidasi penggunaannya. Kandungan zat aktif tidak diketahui. Oleh karena itu, ekstrak kedua spesies ini di pasaran (dan biasanya dianggap aktif secara farmakologis) dapat digolongkan sebagai tipe C. Kandungan yang menonjol adalah turunan asam kafeat (sekitar 1%), terutama ekinakosida ( E.pallida), asam sikorat ( E.purpurea), alkamida ( E.purpurea), sejumlah kecil minyak atsiri dan polisakarida (keduanya dari spesies Echinacea spp.)

(13)

MEKANISME KERJA

Jurnal “Applications of the Phytomedicine Echinaceapurpurea (Purple Coneflower) in Infectious Diseases” telah menunjukkan bahwa beberapa ekstrak Echinacea jelas mengandung senyawa, atau kombinasi dari senyawa, dengan kemampuan untuk berinteraksi secara khusus dengan virus dan mikroba. Selain itu, ekstrak ini dapat mempengaruhi berbagai  jalur sinyal sel epitel dan menghambat virus / bakteri yang disebabkan sekresi sitokin / kemokin dan mediator inflamasi lainnya yang bertanggung jawab untuk gejala paru. Karena  banyak jalur sinyal dapat dipengaruhi oleh Echinacea dalam tipe sel yang berbeda, termasuk

sel-sel kekebalan tubuh, dapat dibayangkan bahwa efek menguntungkan secara keseluruhan karena kombinasi senyawa tertentu bekerja secara sinergis. Contoh sinergisme dalam  pengobatan herbal telah dijelaskan dan dalam beberapa kasus divalidasi eksperimental, dan

ada kemungkinan bahwa Echinacea tertentu juga menampilkan sinergisme. Dapat meningkatkan imunitas tubuh dengan cara:

 mengaktifkan fagositosis  menstimulasi sel-sel fibroblas  meningkatkan aktivitas respirasi  meningkatkan mobilitas leukosit EFEK FARMAKOLOGI

A. Aktivitas Anti Inflamasi

Echinacea purpurea adalah salah satu spesies utama Echinacea, obat ini telah lama digunakan untuk mengobati infeksi untuk membantu penyembuhan luka dan meningkatkan sistem

kekebalan tubuh. Alkamides dan turunan asam caffeic yang kuat adalah agen anti –  inflamasi hadir dalam Echinacea. Alkamides echinacea yang diturunkan memiliki imunomodulator dan aktivitas anti-inflamasi. Efek anti-inflamasi melalui penghambatan produksi mediator

inflamasi tumor necrosis factor-alpha (TNF-α) dan oksida nitrat (NO) (5). B. Anti Oksidant

Echinacea ditemukan menjadi antioksidan yang sangat ampuh. Metabolisme asam arakidonat dan produksi E2 prostaglandin berkurang oleh beberapa E. purpurea. Ekstrak alkohol

Echinacea biasanya terdiri dari dua kelas bahan kimia alami, alkamides lipofilik dan turunan asam caffeic larut dalam air. Turunan asam caffeic adalah antioksidan yang efektif dalam sistem generasi radikal bebas dan memiliki aktivitas anti hialuronidase (5).

C. Anti Immunosupresant

Echinacea menunjukkan efek stimulasi bila diterapkan pada sel-sel kekebalan dalam budaya atau intraperitoneal disuntikkan ke tikus. Echinacea merangsang Neutrofil dan fungsi

makrofag fagositosis. Studi lain ilmiah menunjukkan

 bahwa Echinacea  purpurea memiliki efek non spesifik, jangka pendek stimulan sistem kekebalan tubuh propert(5).

(14)

D. Anti Viral

Benzalkonium klorida dan fitokimia yang berasal dari Echinacea purpurea ditemukan

memiliki aktivitas antivirus terhadap virus herpes dalam model sel manusia. Estrak hidrofilik dan lipofilik kompleks Echinacea memiliki lebih pada aktivitas virus-infeksi fraksi

inhibititor. Polisakarida yang berasal dari Echinacea purpurea telah menunjukkan aktivitas untuk merangsang aktivitas makrofag dan fungsi yang terkait dengan produksi sitokin dan kelompok senyawa fenolik serta alkamides, yang telah menunjukkan sifat antivirus dan antijamur (5).

E. Anti Fungi

Ekstrak E. purpurea terbukti memiliki aktivitas antijamur dalam serangkaian percobaan in vitro aktivitas pengujian terhadap berbagai spesies Candida, dan berbagai Saccharomyces cerevisiae,Candida albicans penyebab jamur yang paling umum dari penyakit kulit manusia. Polisakarida yang kaya pada ekstrak Echinacea purpurea ditemukan untuk mengurangi

infeksi dan angka kematian tikus imunosupresi terinfeksi Candida(5). INTERAKSI DENGAN OBAT SINTETIK

Echinaceae berinteraksi dengan beberapa obat yaitu dextrometrophan, immunosupresant, tolbutamide dan midazolam.

1. Echinaceae dan dextromethrophan

Uji in vitro mengajukan bahwa echinaceae memberikan efek yang lemah dalam menghambat isoenzym sitokrom P450,meskipun begitu pada studi in vivo dengan menggunakan

debrisoquine (substrate lain yang dapat memeriksa dari CYP2D6), saran ters ebut tidak memberikan keterkaitan dalam uji klinik

2. Echinaceae dan digoxin

Pada uji in vitro tidak ada efek farmakokinetik secara signifikan jika euchinaceae diberikan  bersamaan dengan digoxin dengan suatu substrat untuk P-glycoprotein.Digoxin ini sebagai

substrat untuk memeriksa P-glikoprotein,maka dari itu tidak ada bukti klinis secara relevan yang menunjukkan adanya interaksi antara echinaceae dan P-glycoprotein.

3. Echinaceae dan immunosuppressants

Interaksi keduanya masih dalam hipotesis,karena belum ditemukan laporan uji klinik.Echinaceae memberikan efek imunostimulan,dalam teoritis echinaceae dapat

memberikan efek antagonis dari obatimmunosupresive.Pada pembuatan dari 3 produk yang telah memiliki surat izin dari MHRA di United Kingdom menyarankan dengan penggunaan yang berlawanan untuk imunosupresive terutama ciclosporin dan methotrexate.

4. Echinaceae dan Midazolam

Echinaceae tidak menyebabkan nilai AUC dan clearence dengan penggunaan oral midazolam  berubah,meskipun dapat meningkatkan bioavibilitas.Clearence pada penggunaan intravena

midazolam mungkin dapat meningkat pada pemberian Echinaceae.Dengan mekanisme

midazolam terutama dimetabolisme oleh isoenzim CYP3A sitokrom P450.Hal tersebut dapat disarankan bahwa adanya pemilihan efek pada isoenzym CYP3A sitokrom P450 pada hati dan saluran pencernaan.Berdasarkan hasil studi terdapat perbedaan efek jika diberikan dalam midazolam oral dan midazolam intravena.

(15)

5. Echinacea dan Tolbutamide

Penggunaan echinaceae dan tolbutamide tidak memberikan efek klinik pada farmakokinetik yang relevan,sehingga tidak perlu adanya penyesuaian dosis tolbutamide saat bersamaan dalam penggunaan echinaceae (7).

EFEK TOKSIK

Echinacea dapat menyebabkan reaksi alergi dari tingkat yang ringan menjadi anafilaksis, yaitu keadaan sulit bernafas biasanya diiringi dengan rasa tercekik dan rasa lemas. Penderita asma dan alergi mendapat resiko yang berat jika mengkonsumsi karena akan mengalami anafilaksis sehingga dapat memperburuk kondisi penderita tersebut. Echinacea juga menyebabkan efek samping numbing temporer dan sensasi tingling pada kulit mulut yang sedang menurun sistem imunnya. Echinacea tidak aman jika diminum oleh individu yang hamil dan menyusui (8).

DOSIS

Pada sebuah penelitian lainnya dpt dilihat brbgai spesies Echinacea dapat digunakan sebagai

terapi Common cold atau demam. Pada penelitian ini dibandingkan bagian-bagian dari

tmbuhan spesie Echinacea dengan placebo. Dosis-dosisnya dapat dilihat pada table dibawah ini(9)

Imboost

Imboost Tablet dan Imboost Syrup 60 ml & 120 ml. Komposisi :

Imboost tablet Echinacea purpurea 250 mg dan Zn picolinate 10 mg Imboost syrup Echinacea purpurea 250 mg dan Zn picolinate 5 mg.

Biasanya digunakan untuk infeksi akut pernafasan akibat virus baik yang terjadi pada  penyakit paru kronik ataupun tidak. Jarang digunakan pada tuberkulosis.

1) Penyakit Paru Obstruktif Kronik/Bronkitis kronis eksaserbasi akut

(16)

2) Asma eksaserbasi akut

Imboost dengan dosis 2-3x 1 tablet/hari selama 2 minggu 3) Bronkiektasis

Dosis 2×1 tablet/hari selama 2-4 minggu, interval (break) 2-4 minggu, kemudian pemberian diulang kembali dengan dosis 2×1 tablet/hari selama 2-4 minggu(10).

FARMAKOKINETIK

Asam hydroxycinnamic merupakan salah satu kelas utama asam fenolik. Beberapa kelompok  penelitian gagal untuk mendeteksi adanya asam klorogenat yang sekelompok dengan asam hydroxycinnamic pada plasma manusia atau tikus setelah mengkonsumi Echinaceae. Seharusnya dalam plasma dan urin ditemukan asam klorogenat,sehingga dapat disimpulkan  bahawa dalam penelitian ini asam klorogenat yang diserap dan

dimetabolisme cepat.Namun dalam penelitian pada produk Echinaceae tertentu memberikan hasil yang berbeda secara signifikan jika diteliti farmakokinetik dari hydroxycinnamate.Alkamide juga menjadi studi dalam kapasitas absorbsi. Dilaporkan konsentrasi dari aklamide dalam serum antara 10,88  –   336 ng/ml dengan t1/2yaitu 71,9 menit,pada studi lain didapat t1/2 berkisar 0,4 –   1,03 jam dengan observasi pada senyawa yangsama.Nilai t1/2 juga tergantung pada struktur alkylamide.Info terbaru melaporkan bahwa Echinaceae memiliki aktivitas anxyolityc (11).

IMUNOMODULATOR SINTETIS METOTREKSAT

Metotreksat dulunya merupakan obat antikanker namun belakangan ini ditemukan potensi dari metotreksat untuk menghambat peradangan(inflamasi) secara spesifik. Karena kerja obat ini yang spesifik dalam menghambat terjadi inflamasi dan tidak menimbulkan efek samping seperti obat-obat golongan NSAID, maka obat ini dijadikan sebagai alternative obat dalam  pengobatan rheumatid arthritis (Limanto,2012).

Mekanisme Kerja

Metotreksat yang masuk kedalam tubuh, kemudian akan diserap ke dalam sel. Methotreksat yang terserap kemudian akan dipecah menjadi adenosine. Dengan adanya penambahan  jumlah adenisin melalui pemecahan methotreksat akan terjadi peningkatan jumalah adenosine

didalam sel. Adenosine merupakan senyawa endogen yang diproduksi oleh sel dan jaringan yang bertanggungjawab terhadap stress fisik ataupun yang diakibatkan oleh metabolit, sehingga adenosine merupakan senyawa endogen yang berperan sebagai agen anti-inflamasi.

(17)

Kemampuan methotreksat sebagai anti-inflamasi ditunjukkan dengan adanya gugusan adenine yang dilepaskan dari metotreksat (Limanto,2012).

Arthritis rheumatoid adalah suatu penyakit yang menyerang respon imunologi. Leukosit adalah bagian sistem imun tubuh yang secara normal dibawa ke sinovium dan menyebabkan reaksi inflamasi atau sinoviositis saat antigen berkenalan dengan sistem imun. Ketika terjadi arthritis rheumatoid maka akan menyebabkan inflamasi pada sel dimana kerja dari metotreksat adalah melawan atau menghambat pembentukan inflamasi (Anggi, 2010). Injeksi dari metotreksat akan mempengaruhi beberapa organ tubuh terutama pada ginjal sebesar 99% dan 67% pada hati. Setelah itu metotreksat akan melewati pembuluh darah dimana ketika sel darah menangkap gugus dari metotreksat, metotreksat akan berperan sebagai analog dari asam folat lalu bersaing dengan reseptor folat kemudian masuk ke jalur asam folat. Memasuki sel melalui mekanisme transpor aktif dan difusi terfasilitasi di dalam sel, ia diubah menjadi polyglutamate MTX oleh sintase folylpolyglutamyl. Polyglutamate MTX reversibel menghambat reduktase dihydrofolate tetapi juga menghambat enzim lainnya, terutama sintase timidilat dan 5-aminoimidazole-4-karboksamida ribonucleotide (Aicar) transformylase. Folat  berkurang (tetrahydrofolate [THF]) yang terlibat dalam sintesis de novo dari prekursor purin dan pirimidin. Setelah itu mensintetis AMP dan GMP yang kemudian membentuk sintesis DNA dan RNA (Christian, 2009). Kemudian menyebabkan poliferasi sel atau perbanyakan sel. Sel darah terutama leukosit yang membawa metotreksat akan menghambat terjadinya inflamasi secara perlahan-lahan. Kemudian leukosit yang mengandung Polyglutamate MTX akan memetabolisme obat dengan respon yang maksimal. Selain itu efek samping dari metotreksat adalah GI stress dan hepatotoksik. Kontribusi dari efek samping lainnya yaitu mereduksi enzim Methylen Tetrahidrofolat Reductase (MTHFR). Enzim MTHFR berfungsi sebagai pemberi informasi mengenai banyaknya metotreksat yang terkandung dalam darah (Yudodiharjo, 2012). Menurut beberapa penelitian laboratorium dikatakan bahwa hasil kerja dari metotreksat untuk penderita arthritis rheumatoid sangat membantu dikarenakan strukturnya yg bersifat analog dengan asam folat sehingga dapat bersaing dengan reseptor folat.

D. METODE UJI AKTIFITAS IMUNOMODULATOR

Metode uji aktivitas imunomoduator yang dapat digunakan,yaitu: 1. Metode bersihan karbon (“Carbon-Clearance”)

Pengukuran secara spektrofluorometrik laju eliminasi partikel karbon dari daerah h ewan. Ini merupakan ukuran aktivitas fagositosis.

2. Uji granulosit

Percobaan in vitro dengan mengukur jumlah sel ragi atau bakteri yang difagositir oleh fraksi granulosit yang diperoleh dari serum manusia. Percobaan ini dilakukan di bawah mikroskop. 3. Bioluminisensi radikal

Jumlah radikal 02 yang dibebaskan akibat kontak mitogen dengan granulosit atau makrofag, merupakan ukuran besarnya stimulasi yang dicapai.

4. Uji transformasi limfosit T

(18)

masuk ke dalam asam nukleat limfosit 1. Dengan mengukur laju permbentukan dapat ditentukan besarnya stimulasi dibandingkan dengan fitohemaglutinin A (P HA) atau konkanavalin A (Con A).

(19)

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Imunomodulator merupakan senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme  pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik, dan terjadi induksi non spesifik  baik mekanisme pertahanan seluler maupun humoral.

2. Terdapat 2 jenis Imunomodulator yaitu Imunomodulator sintesis dan imunomodulator alam. Imunomodulator alami adalah seperti echinaceae ser ta Imunomodulator sintesis adalah seperti Isoprinosin, Levamisol.

3. Metode uji aktivitas imunomoduator yang dapat digunakan, yaitu : Metode bersihan karbon (“Carbon-Clearance”), Uji granulosit, Bioluminisensi radikal, Uji transformasi limfosit T.

4. Imunosupresi adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan reaksi pembentukan zat kebal tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid.

B. SARAN

Dengan adanya makalah sederhana ini, penulis mengharapkan agar para pembaca dapat memahami materi Imunologi ini dengan mudah. Saran dari penulis agar para pembaca dapat menguasai materi singkat dalam makalah ini dengan baik, kemudian dilanjutkan dengan  pelatihan soal dan mencari literatur lain yang berhubungan agar semakin menguasai materi.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

1. USDA NRCS National Plant Data Center, Plant Guide, Civil Rights at the Natural Resources Convervation Service

2. Anonim, http://plants.usda.gov/java/profile?symbol=ECPU,  21 April 2013 jam 20.35 WIB

3. Heinrich, Michael., 2009, Farmakognosi dan Fitoterapi, Jakarta, EGC

4. James B. Hudson, 2012, Applications of the Phytomedicine Echinacea purpurea (Purple

Coneflower) in Infectious Diseases, Journal of Biomedicine and Biotechnology Volume 2012: 16

5. K.M.Kumar, K.H., Ramaiah Sudha., 2011, Pharmacologicl Importance of Echinacea

 purpurea, International Journal of Pharma and Bio Sciences. 2 (4) : 307-309

6. Adel Feizi, Farhad Dadian, 2012, The Effects Of Echinacea Purpurea Dried Extract On

Humoral Immune Response Of Broiler Chicks To Newcastle Vaccination, African

 Journal of Biotechnology Vol. 11(94), pp. 16095-16098

7. Williamson, Elizabeth., Driver, Samuel., Baxter, Karen., 2009, Stockley’s Herbal

 Medicines Interaction, Pharmaceutical Press, London, 169,170

8. Foster, S. 2005. Echinacea. University of Maryland Medical Centre

9. sachin,a,s et al. 2007. evaluation of echinacea for the prevention of the common cold:a meta-analysis. Lancert Infect Dis (Review); vol 7:473

10. Abebe , W., Herbal medication: potential for adverse interactions with analgesic drugs, Journal of Clinical Pharmacy and Therapeutics (2002) 27, 391 – 401

11. Spelman , Kevin., 2012, The Pharmacodynamics, Pharmacokinetics,and Clinical Use of

 Echinaceae Purpurea, Continuing Education

12. Handayani, Gemmy Nastity. 2010. Imunodulator. UIN Alauddin Makassar. Pdf

13. J Peny Dalam, 2007. Chronic Hepatitis B And C Case With Mutation Of Gene P53 Codone 249 In The Liver Tissue Volume 8 Nomor 2. Pdf

14. Anonim.2007.Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Departemen Farmakologi dan Terapi , Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal 757-766.

15. Mohamed Labib Salem.2005. Review: Immunomodulatory and therapeutic properties of

the Nigella sativa L. seed . International Immunopharmacology 5 (2005) 1749 – 1770

16. Swamy S.M.K dan B.K.H. Tan. 2000. Immunomodulatory and therapeutic properties

of the Nigella sativa L. seed . Journal of Ethnopharmacology 70 (2000) 1 – 7

17. Widianto B Matildha. 1987. Immnomodulator. Jurusan Farmasi Institute Teknologi Bandung. Majalah Cermin Dunia Kedokteran. Halaman 44-46

18. Zhong, Xiuhui., Wang, Men., MA, Aituan., Niu, Xiaoei., Shi, Wahyu. 2009. Effects Of Echinaceapurpurea  Extract On The Immunological Response To Infectious Bursal

Disease Vaccine In Broilers. Research Article. Volume 3, Nomor 4

19. James B. Hudson, 2012, Applications of the Phytomedicine Echinacea purpurea (Purple

Coneflower) In Infectious Diseases. Journal Of Biomedicine and Biotechnology Volume 16, 2012.

20. Fraudenstein, J., Teuscher, E., Lindequst, U., Bodinet, C. 2002. Effect Of An Orally Applied Herbal Immunomodulator On Cytokine Induction And Antibody Response In

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :