BAB I PENDAHULUAN. tetapi proses sosialisasi sudah mulai dilaksanakan pemerintah daerah pada

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan irigasi Mbay Kiri resmi dimulai pada tahun 2010, tetapi proses sosialisasi sudah mulai dilaksanakan pemerintah daerah pada awal Februari 2009. Protes dan perlawanan terhadap pembangunan tersebut sudah mulai dilakukan masyarakat sejak tahap awal proses sosialisasi. Salah satu petikan dialog antara Bupati dan peserta sosialisasi yang menyampaikan pernyataan protes sebagai berikut :

‘...Pembangunan irigasi Mbay Kiri merupakan berita gembira bagi kita semua..., bahwa akan ada gesekan dalam pembangunan ini, tetapi tidak berarti gesekan itu harus meniadakan proyek Mbay Kiri ini ...’ (Pernyataan Bupati Yohanes S. Aoh dalam forum sosialisasi)

‘...Pembangunan Mbay kiri ini adalah berita gembira, tetapi akan ada kesan berita duka, karena ada yang tertawa dan ada juga yang menangis. karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Oleh karena itu harap pemerintah daerah optimalkan dulu lahan Mbay Kanan baru bangun di Mbay Kiri. Pertimbangkan secara adil antara masyarakat yang diuntungkan dan yang dirugikan..’ (Pernyataan penolakan bapak Stanislaus Mbuu, warga kelurahan Mbay II pada sosialisasi awal ) (Sumber : dokumen notulensi sosialisasi pembangunan Irigasi Mbay Kiri pada bagian administrasi dan pemerintahan umum kabupten nagekeo, November 2014)

Kutipan pernyataan di atas menunjukkan bahwa protes yang dilakukan masyarakat sedianya sudah terjadi sejak awal proses sosialisasi. Meskipun demikian, pemerintah tetap melanjutkan pelaksanaan pembangunan dengan harapan bahwa sikap protes dan penolakan tersebut akan bisa ditangani dengan berbagai negosiasi. Harapan tersebut tidak

(2)

2

terwujud karena terbukti mega proyek untuk irigasi Mbay Kiri terhenti pelaksanaannya pada tahun 2012 akibat adanya gelombang protes dan perlawanan masyarakat.

Selama kurun waktu dua tahun, disela-sela pelaksanaan pembangunan saluran irigasi, gelombang protes dan perlawanan terus berdatangan dari beberapa kelompok masyarakat lokal. Berikut ini dinamika protes dan perlawanan masyarakat sejak tahun 2009 sampai 2012

Tabel I

Dinamkia Protes dan Perlawanan Pembangunan Irigasi Mbay Kiri

Tahun Bentuk Protes Aktor

2009 Protes lisan secara individu dalam forum sosialisasi dan pertemuan

 Tokoh masyarakat

 Pemangku dan

Anggota Komunitas adat

2010  Protes tertulis melalui surat penyataan, berita acara tuntutan.

 Dialog dan tatap muka penyampaian aspirasi

 Dikeluarkannya rekomendsi DPRD

 Ditetapkan kesepakatan

tertulis antara masyarakat dan pemerintah  Komunitas adat suku Dhawe  Komunitas adat suku Towak  Komunitas Makitonggung  Individu 2011 – 2012  Pemagaran lokasi  Penghentian paksa pembangunan

 Boikot dan penutupan

langsung di lapangan.  Komunitas makitonggung  Pemangku suku Towak di kelurahan Mbay II

Sumber : olahan data dokumentasi penelitian November 2014

Puncak perjuangan protes dan perlawanan masyarakat terjadi pada tahun 2012, di mana sebagian dana yang bersumber dari APBN dan dana

(3)

3

pinjaman Loan dikembalikan ke kas negara. Pelaksanaan fisik dan serapan anggaran hanya mencapai 74,74 %. Pihak pelaksana proyek tidak dapat melanjutkan kegiatan pembangunan karena sekitar 17000an M atau 17 KM lahan yang hendak dilalui pembangunan saluran irigasi merupakan lahan bermasalah yang belum diselesaikan. Padahal menurut pemerintah, lahan tersebut masuk dalam daftar aset daerah karena sudah diserahkan masyarakat kepada pemerintah daerah sejak tahun 1950an, dan tahun 1970an.

Pelaksanaan pembangunan fisik irigasi Mbay Kiri menggunakan dana sebesar Rp. 40.718.000.000 yang bersumber dari dana APBN tahun 2010-2012 sebesar Rp. 19.991.000.000 dan dana Loan sebesar Rp.20.727.000.000. Dana pendamping untuk urusan pembangunan sosial seperti sosialisasi, pembebasan lahan, negosiasi dan penyelesaian konflik bersumber dari APBD Kabupaten Nagekeo tahun 2010 yang diambil dari pos bantuan dinas PPKAD Kabupaten Nagekeo. Lokasi yang menjadi sasaran pembangunan tersebut adalah desa Nggolo Mbay, Kelurahan Danga, Kelurahan Mbay I, Kelurahan Mbay II, Kelurahan Towak, dan desa Waekkak di kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo.

Protes dan perlawanan masyarakat terhadap pemerintah Kabupaten Nagekeo dalam pembangunan saluran irigasi Mbay Kiri menurut wacana umum muncul sebagai akibat dari akumulasi kekecewaan terhadap berbagai bentuk ketidakadilan yang bersumber dari sejumlah kebijakan dan program pemerintah tentang distribusi, penguasaan dan pemanfaatan lahan irigasi. Kebijakan dan program pengembangan irigasi pada masa lalu sarat dengan

(4)

4

muatan kepentingan kaum penguasa. Lahan irigasi yang saat ini menjadi penopang ekonomi masyarakat di Kabupaten Nagekeo semula adalah lahan milik masyarakat lokal yang diserahkan kepada pemerintah daerah untuk tujuan pembangunan irigasi. Harapan masyarakat lokal saat itu adalah setelah sarana irigasi dibangun, distribusi kepemilikan lahan irigasi diprioritaskan bagi masyarakat lokal yang telah kehilangan lahan sebelumnya. Harapan tersebut menjadi isapan jempol belaka setelah dalam proses implementasinya pemerintah mendistribusikannya secara kurang adil.

Akumulasi persoalan kekecewaan lain yang ikut memicu protes dan perlawanan masyarakat adalah alih fungsi lahan di Mbay Kiri dari lahan untuk irigasi dengan program non irigasi seperti pemukiman transmigran lokal, sawah garam, industri garam dan penetapan Hak Guna usaha yang diberikan pemerintah daerah kepada pihak ketiga. Kebijakan pemerintah daerah yang menghadirkan sejumlah program pembangunan di lahan irigasi memicu kemarahan masyarakat lokal. Dambaan masyarakat untuk kembali mendapatkan lahan irigasi di Mbay Kiri semakin terancam dengan kehadiran sejumlah program tersebut. Hal ini karena sebagian besar lahan sudah digunakan untuk pembangunan non irigasi.

Isu utama yang hendak diteliti dalam penelitian ini adalah motif apa yang ada dibalik menguatnya sikap protes dan perlawanan masyarakat lokal. Motif tersebut hendak ditelusuri dalam kemasan protes dan perlawanan dengan isu ketidakadilan pendistribusian lahan sebagai isu utama. Untuk itu peneliti juga mendalami bagaimana distribusi lahan irigasi sebagai landasan

(5)

5

dan pemicu protes dan perlawanan masyarakat. Pertanyaan-pertanyaan tersebut hendak diteliti lebih jauh dalam penelitian yang mengambil topik: Dinamika Protes dan Perlawanan Masyarakat terhadap Pemerintah dalam Pembangunan Saluran Irigasi Mbay Kiri di Kelurahan Mbay II, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo Nusa Tenggara Timur.

Penelitian sejenis pernah dilakukan pada masyarakat korban yang menolak pembangunan waduk kedung ombo yang akan menenggelamkan pemukiman masyarakat dan mengganggu fungsi ekologi lokal pada tahun 1986 di propinsi Jawa Tengah. Aksi protes masyarakat lokal mulai membesar setelah masyarakat mendapat dukungan aktivis mahasiswa dan orgonaisasi non pemerintah (ornop) yang melakukan berbagai bentuk protes mulai dari mengirim surat protes, lobi, gugatan ke pengadilan, menggalang dukungan internasional sampai melakukan berbagai demonstrasi di lokasi pembangunan, pada instansi pemerintah daerah dan beberapa institusi di Jakarta (Situmorang 2013: 7).

Penelitian sejenis lainnya pernah dilakukan oleh Abdul Putra Ginda Hasibuan (2011) tentang gerakan perlawanan masyarakat lokal dalam mempertahankan ulayatnya di Kecamatan Bangun Purba, Kabupaten Rokan Hulu Propinsi Riau. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa kesewenang-wenangan negara dan swasta dalam penyerobotan tanah-tanah yang dimiliki oleh masyarakat adat, menjadi pemicu munculnya gerakan perlawanan dari masyarakat.

(6)

6

Perbedaan dengan penelitian ini adalah perlawanan masyarakat bukan terhadap cara kesewenang-wenangan pemerintah, tetapi perlawanan dalam ‘ruang kesepakatan/konsensus’ yang telah tertuang dalam perencanaan pembangunan yang dianggap telah disetujui oleh masyarakat. Meskipun rencana pembangunan irigasi dilegitimasi oleh produk perencanaan pemerintah dan konsensus dari masyarakat adat setempat, akan tetapi dalam perjalanannya masih mendapat protes dan perlawanan atau ditolak oleh masyarakat setempat. Protes tersebut dilakukan baik oleh para pemangku ulayat yang pada masa lalu telah menyerahkan lahan untuk irigasi ataupun oleh masyarakat yang tidak ikut terlibat dalam penyerahan masa lalu. Disinilah letak perbedaan penelitian ini dengan penelitian lainnya.

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka pertanyaan utama (main question) dari penelitian ini adalah, apa motif dibalik menguatnya sikap protes dan perlawanan masyarakat terhadap pemerintah pada pembangunan saluran irigasi Mbay Kiri. Pertanyaan tersebut diturunkan dalam rumusan empiris selanjutnya yakni, 1), Bagaimana proses dan mekanisme pendistribusian lahan sehingga menjadi landasan pemicu protes ? 2), Bagaimana dinamika protes dan perlawanan masyarakat dalam pembangunan saluran irigasi Mbay Kiri yang diperankan oleh para aktor dan sejumlah kepentingannya ? 3) Bagaimana Dinamika Konflik yang terjadi di balik aksi protes dan perlawanan masyarakat ?

(7)

7 C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memahami motif di balik menguatnya sikap protes dan perlawanan masyarakat terhadap pemerintah dalam pembangunan saluran irigasi Mbay Kiri. Selain itu tujuan tersebut dijabarkan dalam beberapa tujuan berikut yakni :

1) Untuk mengetahui proses dan mekanisme distribusi lahan sebagai latar belakang pemicu munculnya protes dan perlawanan masyarakat lokal 2) Untuk mengetahui dinamika protes dan perlawanan, pihak-pihak yang

terlibat dalam melakukan protes dan perlawanan beserta kepentingannya masing-masing.

3) Untuk mengetahui dinamika konflik yang terjadi dibalik aksi protes dan perlawanan masyarakat.

Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah :

1) Sebagai bahan masukan kepada pemerintah daerah selaku pembuat kebijakan terkait pembangunan saluran irigasi Mbay Kiri

2) Bermanfaat bagi pengembangan ilmu pembangunan sosial dan kesejahteraan yang berhubungan dengan penanganan konflik sosial dalam pembangunan.

D. Kerangka Teoritik

Protes dan perlawanan masyarakat lokal terhadap pembangunan saluran irigasi Mbay Kiri muncul akibat ketidakadilan kebijakan pemerintah daerah tentang penguasaan, distribusi dan pemanfaatan lahan irigasi. Motif

(8)

8

dibalik sikap protes dan perlawanan tersebut adalah adanya dinamika konflik kepentingan yang berkembang antara masyarakat lokal dan pemerintah daerah dalam otoritas dan posisinya yang berbeda. Dinamika konflik berkembang dari konflik yang bersifat vertikal (masyarakat vs pemerintah) dan berpotensi menjadi konflik horizontal antara masyarakat asli dan masyarakat yang didatangkan. Konflik tersebut awalnya adalah konflik laten yang sudah puluhan tahun berkembang dalam program optimalisasi irigasi Mbay Kanan. Dalam perjalanannya, akhirnya pecah menjadi konflik manifes atau konflik terbuka setelah pembangunan irigasi memasuki wilayah Mbay Kiri. Konflik ini juga berkembang dari konflik kepentingan sosial ekonomi menjadi konflik kepentingan ekonomi politik antara aktor yang terlibat di dalamnya.

Sumber konflik berasal dari perbedaan kepentingan antara masyarakat dan pemerintah daerah terhadap sejumlah program dan kebijakan tentang penguasaan, pendistribusian dan pemanfaatan lahan irigasi. Dikotomi cara pandang dan kepentingan tentang penguasaan dan distribusi lahan terjadi sejak awal program irigasi dibangun di daerah ini. Menurut masyarakat lokal, lahan irigasi yang sebelumnya adalah padang peternakan dan lahan pertanian (lahan kering) yang produktif merupakan satu-satunya sumber daya ekonomi yang menghidupkan masyarakat. Seharusnya penguasaan, distribusi dan pemanfaatan lahan tersebut diberikan secara proporsional dan adil terutama bagi masyarakat lokal yang telah kehilangan lahan. Hal ini karena hanya di atas lahan tersebut masyarakat menggantungkan hidup dan menjadi sumber penghidupan utama bagi keluarga dan anak cucunya ke depan.

(9)

9

Sebaliknya menurut pemerintah daerah, lahan untuk irigasi yang telah diserahkan masyarakat kepada pemerintah daerah; hak pengaturan, pembagian dan penguasaan sepenuhnya ada di tangan pemerintah sebagaimana diatur dalam undang-undang. Pemerintah daerah berhak penuh untuk mengatur sesuai dengan peruntukkannya, termasuk untuk irigasi bagi masyarakat dan untuk program pembangunan non irigasi lainnya yakni untuk investasi maupun untuk pemukiman transmigrasi. Setelah resmi mendapat mandat penyerahan lahan dari masyarakat lokal, hak penguasaan, distribusi, dan pemanfaatan lahan ditetapkan melalui kebijakan pemerintah daerah. Persoalannya adalah dibalik otoritas dan kekuasaan merumuskan kebijakan tersebut tersebut terdapat sejumlah kepentingan pemerintah daerah yang terkesan berupaya meminggirkan dan mengabaikan eksitensi posisi dan otoritas masyarakat lokal.

Perbedaan cara pandang tentang lahan irigasi sebagimana diuraikan di atas mencerminkan adanya konflik antara masyarakat dan pemerintah daerah. Benturan kepentingan antara penguasa (pemerintah) dan yang dikuasai (masyarakat) mencuat ke permukaan setelah isu ketidakadilan kebijakan pada masa lalu berani di persoalkan dan dibongkar masyarakat di depan publik. Ketidakadilan di lahan irigasi yang dipersoalkan masyarakat yakni ketidakadilan dalam hal pengaturan penguasaan, pendistribusian dan pemanfatan lahan antara masyarakat lokal dan masyarakat dari luar yang adalah kroni atau keluarga dekat pejabat pemerintah.

(10)

10

Ketidakadilan yang ditemukan dalam beberapa kebijakan bersumber dari perbedaan kepentingan dan cara pandang terhadap lahan irigasi. Perbedaan kepentingan mendasar terjadi antara masyarakat dan pemerintah daerah yakni lahan sebagai sumber daya sosial ekonomi pada tataran masyarakat lokal dan lahan sebagai sumber daya ekonomi politik pada tataran elit dan pemerintah daerah.

Benturan konflik tak dapat dihindari ketika pemerintah daerah dianggap ingkar janji. Bermula dari adanya penyimpangan yang dilakukan pemerintah daerah terhadap sejumlah konsensus yang dibuat sejak awal lahan tersebut diserahkan untuk kepentingan irigasi. Dalam proses implementatif sejumlah kebijakan dan program yang diskriminatif dan tidak adil dilakukan di atas lahan irigasi tersebut. Disinilah letak konflik dan benturan kepentingan terbaca dibalik aksi protes dan perlwanan masyarakat lokal.

Untuk mengintepretasi motif konflik di balik aksi protes dan perlawanan dimaksud maka peneliti menggunakan teori konflik Dahrendrorf. Teori ini menekankan adanya konflik kepentingan yang mendasar antara para pihak atau antara kelompok yang memiliki otoritas dan kekuasaan yang berbeda. Masing-masing pihak akan berusaha sedemikian rupa untuk mempertahankan atau menaklukkan pihak lain agar mendapatkan kepentingan yang lebih besar.

Teori ini sebagian berkembang sebagai reaksi terhadap teori fungsionalisme struktural dan akibat berbagai kritik yang berasal dari sumber lain seperti teori Marxian dan pemikiran konflik sosial dari Simmel. Salah satu

(11)

11

kontribusi utama teori konflik adalah meletakkan landasan untuk teori-teori yang lebih memanfaatkan pemikiran Marx. Masalah mendasar dalam teori konflik adalah tidak pernah memisahkan diri dari akar struktural fungsionalnya. Menurut Ritzer (2012), Dahrendrorf adalah pendukung utama masyarakat yang mempunyai dua wajah yakni konsensus dan konflik, statis dan dinamis, tertib dan pertikaian, integrasi dan terpisah yang mencerminkan aspek peran ganda masyarakat. Menggunakan jalur ini Dahrendrof menyatakan bahwa masyarakat tidak bisa ada tanpa ada konflik dan konsensus, keduanya merupakan prasyarat satu sama lain. Tidak akan ada konflik jika tidak ada konsensus yang mendauhuluinya.

Pemikiran Ralf tentang masyarakat adalah, setiap masyarakat pada setiap saat tunduk pada proses perubahan dan pertikaian serta konflik ada dalam sistem sosial termasuk berbagai elemen kemasyarakatan yang berkontribusi terhadap disintegrasi dan perubahan. Suatu bentuk keteraturan dalam masyarakat hanya berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh karena mereka yang memiliki kekuasaan. Sehingga ia menekankan peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat.

Bagi Dahrendrof, masyarakat memiliki dua wajah sekaligus yakni konflik dan konsensus yang dikenal dengan teori konflik dialektika (Johnson 1990). Bagi Ralf, masyarakat disatukan oleh ketidakbebasan yang dipaksakan. Dengan demikian posisi tertentu dalam masyarakat akan mendelegasikan kekuasaan dan otoritas terhadap posisi yang lain. Fakta ini mengarahkan Dahrendrorf pada tesis sentralnya bahwa perbedaan distribusi otoritas selalu

(12)

12

menjadi faktor yang menentukan konflik sosial sistematis. Hubungan antara konflik sosial dan otoritas dijelaskan Dahrendrorf bahwa posisi yang ada dalam masyarakat memiliki otoritas atau kekuasaan dengan intensitas yang berbeda-beda. Otoritas tidak terletak pada diri individu tetapi dalam posisi sehingga tidak bersifat statis. Jadi seseorang bisa saja berkuasa atau memiliki otoritas dalam lingkungan tertentu dan tidak mempunyai kuasa atau otoritas tertentu dalam lingkungan lainnya. Sehingga seseorang yang berada dalam posisi subordinat dalam posisi tertentu mungkin saja menempati posisi superordinat pada kelompok yang lain (Ritzer 2012).

Otoritas di dalam setiap kelompok bersifat dikotomis. Orang-orang yang memegang posisi dan otoritas pada pihak subordinat maupun superordinat masing-masing mempertahankan kepentingan tertentu yang bertentangan dari segi substansi maupun arah. Disini ditemukan istilah kunci yang disampaikan oleh Dahrendrorf yakni konflik kepentingan. Kelompok yang berada di atas maupun di bawah didefinisikan oleh kepentingan-kepentingan umum. Konflik kepentingan-kepentingan tersebut tidak harus disadari oleh kelompok subordinat maupun superordinat. Kepentingan superordinat dan subordinat objektif di dalam pengharapan atau peran-peran yang melekat pada posisi-posisi tertentu. Para individu tidak harus menyadari kepentingan tersebut dan bertindak sesuai dengannya. Dahrendrorf menyebutkan pengharapan-pengharaan akan peran yang tidak disadari tersebut sebagai kepentingan-kepentingan laten. Sedangkan kepentingan nyata merupakan

(13)

13

kepentingan laten yang disadari melalui peran dan posisi seseorang (Ritzer 2012).

Merujuk pada adanya konflik kepentingan ini, Dahrendrorf membedakan ada tiga kategori kelompok yakni kelompok semu atau kuasi, kelompok kepentingan dan kelompok konflik (Ritzer: 2012). Kelompok semu adalah sejumlah pemegang posisi dengan kepentingan yang sama tetapi belum menyadari keberadaannya. Kelompok kepentingan adalah agen-agen nyata yang memiliki struktur, suatu bentuk organisasi, program tujuan dan personalia anggota. Sedangkan kelompok konflik adalah orang-orang yang benar-benar terlibat di dalam konflik tersebut. Pada konteks ini Dahrendrorf menjelaskan konflik sosial melalui konsep-konsep mengenai kepentingan laten, kepentingan manifes; kelompok kuasi, kelompok kepentingan dan kelompok konflik. Dalam kondisi ideal, konflik sosial tidak pernah dipengaruhi oleh variabel-variabel lain. Akan tetapi karena setiap kondisi selalu tidak ideal maka banyak faktor telah ikut mempengaruhi dalam proses terjadinya konflik. Dahrendrorf menyebutkan kondisi-kondisi teknis seperti personalia, kondisi politik/politis seperti iklim politik dan kondisi sosial seperti adanya mata rantai komunikasi. Cara orang direkrut menjadi kelompok kuasi adalah gambaran faktor kondisi sosial sebagaimana dimaksudkan Dahrendrorf. Asumsinya bahwa jika perekrutan bersifat acak dan ditentukan secara kebetulan tidak mungkin muncul kelompok kepentingan begitu pula kelompok konflik. Berbeda dengan Marx, Dahrendrorf melihat bahwa masyarakat yang berada di dasar sistem ekonomi tidak secara otomatis

(14)

14

membentuk suatu kelompok konflik karena kondisinya, tetapi pembentukan kelompok semu dilakukan secara struktural, kelompok itu menjadi dasar terbentuknya kelompok kepentingan dan kelompok konflik.

Aspek terakhir yang dilihat Dahrendrorf adalah konflik melahirkan perubahan sosial. Pada konteks ini Dahrendrorf mengakui pentingnya karya Lewis Coser (Ritzer : 2012) yang melihat fungsi konflik di dalam memelihara status quo. Menurut Dahrendrorf jika konflik itu intensif dan membara maka perubahan yang terjadi akan bersifat radikal, sebaliknya jika konflik disertai kekerasan maka akan terjadi perubahan struktural secara tiba-tiba atau mendadak. Perubahan yang diperkirakan Dahrendrorf adalah perubahan struktur sosial. Perubahan ini menyebabkan juga perubahan-perubahan lain di dalam masyarakat antara lain munculnya kelas, dekomposisi tenaga kerja, dekomposisi modal menengah dan baru.

Analisis Dahrendrorf berbeda dengan Marx yang membagi masyarakat dalam kelas borjuis dan proletarat. Dahrendrorf melihat masyarakat terdiri atas kaum pemilik modal, kaum eksklusif dan tenaga kerja. Cara pandang ini berdampak pada cara pandang tentang bentuk-bentuk konflik yang berbeda. Menurut Dahrendrorf, konflik terjadi karena adanya kelompok yang berkuasa atau dominasi dan yang dikuasai. Maka jelas ada dua kelas sosial yaitu mereka yang berperan serta dalam struktur kekuasaan melalui penguasaan dan mereka yang tidak berpartisipasi melalui penundukkan. Sedangkan Marx berasumsi bahwa satu-satunya konflik adalah konflik kelas yang terjadi karena adanya pertentangan antara kaum pemilik sarana produksi

(15)

15

dengan kaum buruh (Ritzer: 2012). Marx berasumsi bahwa kapitalisme, pemilikan modal dan kontrol atas sarana-sarana produksi berada di tangan individu yang sama yang sering disebut kaum borjuis dan kaum kapitalis.

Teori konflik Ralf Dahrendrof mengkritik Marx mengenai teori pembentukan kelas dan teori konflik kelasnya yang hanya relevan untuk tahap awal kapitlisme, bukan untuk masyarakat industri post capitalist yang mempunyai ciri heterogenitas tenaga kerja, persamaan hak berpolitik, kebijaksanaan upah karena pajak, musyawarah mufakat dalam permasalahan sosial. Pada waktu Marx hidup pemilikan faktor produksi adalah proses pembentukan kelas-kelas sosial, sehingga tidak bisa dipakai untuk menganalisis masyarakat industri modern yang menurut Dahrendrorf lebih pada kontrol atas pemilikan faktor produksi. Kontrol kepemilikan faktor produksi ini dilihat dari struktur otoritas dari suatu masyarakat, bagaimana posisi yang memiliki otoritas menguasai posisi yang tidak memiliki otoritas. Dahrendrorf mengakui pembedaan kekuasaan yakni kemampuan untuk memaksakan kemauan individu meskipun ada perlawanan dan otoritas yakni hak yang sah untuk mengharapkan kepatuhan (Rofiki: 2014).

Dalam hubungan dengan teori fungsionalisme struktural, teori konflik dibangun di atas dasar paradigma yang sama yaitu paradigma fakta sosial. Meskipun demikian, pola pikir keduanya bertentangan satu sama lain termasuk proposisi-proposisinya (Soetomo, 2013). Ralf Dahrendrorf merupakan tokoh utama yang mempertentangkan kedua teori struktural fungsional dan konflik. Menurut Dahrendrorf, teori fungsional struktural

(16)

16

mendalami tentang integrasi, sedangkan konflik mengarah kepada pendalaman tentang disintegrasi. Teori konflik diorientasikan ke arah studi mengenai struktur-struktur dan lembaga-lembaga sosial. Kaum fungsionalis, melihat masyarakat cenderung statis, berkesimbangan. Sedangkan bagi teoritisi konflik, setiap masyarakat tunduk pada proses-proses perubahan. Dimana kaum fungsionalis menekankan ketertiban masyarakat, sedangkan kaum teoritisi konflik termasuk Dahrendrorf melihat setiap masyarakat merupakan penyumbang disintegrasi dan perubahan.

Merujuk pada tesis Dahrendrorf tentang konflik, sebagaimana diuraikan di atas dalam penelitian ini dapat dikatakan bahwa protes dan perlawanan yang mencerminkan konflik bermula dari persoalan tidak terlaksananya konsensus, benturan kepentingan dan adanya dikotomi otoritas serta kekuasaan masing-masing pihak. Rencana pembangunan irigasi di dataran Mbay (Kiri dan Kanan) seluas 6500an hektar dapat diimplementasi secara bertahap setelah ada konsensus antara masyarakat lokal dan pemerintah daerah pada saat serah terima lahan kepada pemerintah. Salah satu isi konsensus lisan tersebut yakni seluruh daerah dataran Mbay yang luasnya mencapai 6500an hektar diserahkan kepada pemerintah untuk dikelola menjadi lahan irigasi dan didistribusikan kepada masyarakat dengan prioritas utama bagi masyarakat lokal yang telah kehilangan lahan sebagai sumber penghidupan utama. Dengan penyerahan ini maka aktivitas penghidupan di atas lahan yang fungsi awalnya sebagai padang penggembalaan ternak dan pertanian lahan kering beralih menjadi lahan irigasi. Konsekuensinya adalah

(17)

17

terjadi alih profesi besar-besaran dari semula sebagai peternak dan petani lahan kering beralih menjadi petani irigasi. Konsensus lisan lainnya pada tingkat pemerintah daerah adalah pemerintah berkewajiban merealisasikan pembangunan irigasi secara bertahap dan mendistribusikan lahan secara adil dengan prioritas utama bagi masyarakat lokal.

Dalam perjalanan waktu, komitmen di tingkat masyarakat lokal tidak berubah, lahan yang sudah diserahkan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah dalam pengaturannya. Sebaliknya pada tingkat pemerintah daerah komitmen peruntukkan lahan, distribusi lahan dan penguasaan lahan mengalami pergeseran. Alih fungsi lahan terjadi dari fungsi irigasi ke fungsi non irigasi seperti industri garam, pemukiman dan program lainnya. Aroma ketidakadilan dan diskriminasi tercium dari sejumlah kebijakan distribusi, penguasaan lahan dan program yang ditetapkan.

Merujuk pada Dahrendrof, konsensus yang dibangun antara para pihak dalam masyarakat dipengaruhi oleh posisi struktur seseorang atau sekelompok orang. Diferensiasi otoritas antara para pihak dalam masyarakat menjadi faktor penentu konflik-konflik sosial dalam masyarakat (Ritzer, 2012 : 451). Konstruksi konsensus pada awal penyerahan lahan mencerminkan adanya otoritas yang berbeda antara pemerintah dan masyarakat lokal. Pemerintah mempunyai posisi dan otoritas dalam pembangunan saluran irigasi karena memiliki kekuasaan anggaran dan kekuasaan kebijakan. Sedangkan masyarakat lokal mempunyai posisi dan otoritas dalam penguasaan lahan secara ulayat.

(18)

18

Pemerintah dengan posisi dan otoritasnya sebagai penyelenggara pembangunan pada tataran ideal diharapkan dapat memfasilitasi pembangunan irigasi untuk dapat menciptakan kesejahteraan masyarakat secara adil dan proporsional. Otoritas ini tidak dimiliki masyarakat sehingga dalam mendukung otoritas tersebut masyarakat lokal dalam posisi dan otoritasnya menyerahkan ribuan hektar lahan untuk diatur menjadi lahan irigasi. Merujuk pada otoritasnya yang syah, pemerintah mengendalikan pengaturan distribusi dan penguasaan lahan irigasi secara timpang dan tidak adil.

Dikotomi otoritas yang satu terhadap yang lain menurut Dahrendrorf menimbulkan dikotomi kepentingan. Masing-masing pihak yakni antara pihak superordinasi dan pihak subordinasi dalam pandangan Dahrendrorf memiliki kepentingan yang bertentangan dari segi substansi dan arah. Kaum superordinasi berkepentingan untuk mempertahankan status quo, sedangkan pihak sub ordinasi berkepentingan untuk mendorong perubahan sosial. Dalam penelitian ini, pemerintah daerah adalah pihak yang berada pada kategori superordinasi karena memiliki kuasa dan otoritas sebagai penyelenggara negara. Sedangkan masyarakat lokal berada pada posisi subordinasi. Perbedaam otoritas yang tidak diikuti dengan konsistensi sikap masing-masing pihak menjadi pemicu adanya konflik yang terjadi antara pemerintah dengan masyarakat lokal.

Kepentingan pemerintah daerah sebagai pihak superordinasi sangat laten dalam setiap rumusan kebijakannya. Pemerintah tidak menyadari bahwa kebijakan tentang distribusi lahan, penguasaan dan peruntukan lahan irigasi

(19)

19

yang beralih ke lahan non irigasi adalah bentuk kepentingan tersembunyi dengan tujuan meminggirkan masyarakat lokal. Kepentingan-kepentingan yang laten seperti penguasaan lahan, kapitalisasi lahan umumnya dikemas dalam kebijakan ‘demi’ kesejateraan. Pemerintah baru menyadari sebagai kepentingan nyata ketika masyarakat mempersoalkan itu secara terbuka. Konflik sebagaimana diuraikan di atas muncul ke permukaan dalam bentuk protes dan perlawanan masyarakat dalam pembangunan saluran irigasi Mbay Kiri.

Protes dan perlawanan adalah bentuk konflik yang membara atau konflik yang keras antara para pihak yang terlibat. Menurut Dahrendrorf, jika konflik terjadi secara keras maka akan terjadi perubahan yang radikal atau akan terjadi perubahan struktur sosial. Protes dan perlawanan yang dilakukan dalam pembangunan irigasi Mbay kiri telah melahirkan perubahan sosial yang radikal. Pemerintah daerah tidak lagi menjadi satu-satunya penentu kebijakan pembangunan. Otoritas dan kekuasaan pemerintah diperhadapkan dengan otoritas dan kekuasaan masyarakat lokal yang secara defacto menempati wilayah sasaran pembangunan. Kedua otoritas dan posisi tersebut mempunyai kepentingan masing-masing sehingga timbul konflik. Protes dan perlawanan yang dilakukan masyarakat merupakan bentuk dari konflik yang radikal sehingga menghasilkan perubahan yang radikal yakni terhentinya pembangunan irigasi.

Protes adalah pernyataan pendapat secara beramai-ramai maupun individu dan biasanya berupa pembangkangan, keluhan, keberatan, atau

(20)

20

ungkapan keengganan terhadap suatu gagasan atau tindakan; ekspresi penolakan secara lugas, deklarasi oleh pihak tertentu sebelum atau pada saat membayar pajak atau melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepadanya yang dianggap ilegal, pengingkaran terhadap tuntutan yang dibebankan dan menuntut hak dan melakukan klaim untuk menunjukkan bahwa tindakannya tidak dilakukan secara sukarela, menyatakan suatu hal secara terbuka di muka umum, bersumpah, berjanji untuk melakukan penolakan secara beramai-ramai; mendudukan masalah pada proporsinya (Lofland, 2003: 2). Dari kutipan tersebut ditemukan beberapa dimensi protes yakni (1) penolakan atau keberatan; (2) atas sesuatu yang berseberangan; (3) yang sudah tidak dapat ditoleransi; (4) yang ditujukan kepada pribadi atau lembaga yang berkuasa; (5) secara beramai-ramai dan resmi; (6) yang dilakukan secara terbuka; (7) dan didasari oleh perasaan ketidakadilan.

Protes yang dilakukan dalam pembangunan saluran irigasi Mbay Kiri adalah bentuk penolakan atau keberatan masyarakat lokal terhadap pembangunan karena berseberangan dan kontradiktif dengan tujuan awal dan apa yang dikehendaki masyarakat lokal, sehingga tidak dapat ditoleransi. Protes tersebut ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Nagekeo secara kelembagaan dan terutama kepada Bupati (pada masa pemerintahan di Kabupaten Induk Ngada dan masa pemerintahan setelah pemekaran di Kabupaten Nagekeo) yang dijabat oleh Drs. Yohanes S. Aoh. Bupati dimaksud dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab ketika mengeluarkan sejumlah kebijakan pada masa lalu. Protes tersebut dilakukan

(21)

21

secara terbuka karena persoalan ketidakadilan, diskriminasi dalam sejumlah kebijakan sungguh-sungguh dirasakan oleh masyarakat lokal.

Muara dari protes adalah sikap perlawanan masyarakat lokal terhadap kesewenang-wenangan pemerintah. Perlawanan merupakan protes yang bersifat keras. Menurut James C.Scott, perlawanan adalah setiap atau semua tindakan oleh para anggota atau individu dengan maksud untuk melunakkan atau menolak tuntutan-tuntutan (misalnya sewa, pajak, penghormatan) yang dikenakan kepadanya oleh pihak lain yang lebih atas misalnya tuan tanah, negara, pemilik mesin, pemberi pinjaman uang atau untuk mengajukan tuntutan-tuntutannya sendiri misalnya pekerjaan, lahan, kemurahan hati, penghargaan terhadap kelas-kelas atas lainnya. Perlawanan merupakan tindakan yang sekurang-kurangnya melibatkan suatu pengorbanan perorangan atau kolektif supaya diperoleh keuntungan bersama. Pemogokan, pemboikotan atau bahkan penolakan untuk memperoleh tanah atau pekerjaan adalah wujud nyata dari perlawanan (Scott, 1993: 302-303).

Perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam pembangunan saluran Irigasi Mbay Kiri setelah semua tuntutan protes yang pernah diajukan tidak diindahkan. Pemerintah daerah memaksakan lanjutan pelaksanaan pembangunan irigasi tanpa terlebih dahulu memenuhi tuntutan-tuntutan revisi kebijakan dan program pemerintah di lahan irigasi sebagaimana yang diajukan masyarakat dalam tahapan awal mula protes. Perlawanan dilakukan masyarakat dengan cara pemagaran lokasi proyek atau lokasi pembangunan, pemboikotan pekerjaan dan menghadang para pekerja di lokasi

(22)

22

sasaran. Perlawanan ini melibatkan sejumlah anggota komunitas Makitonggung dengan tujuan jangka panjang yakni menghentikan pembangunan untuk pemenuhan tuntutan keadilan.

Protes dan perlawanan yang dilakukan dalam pembangunan saluran irigasi Mbay Kiri mengindikasikan adanya tiga kaidah utama dari teori konflik Dahrendrof. Pertama, dalam kasus ini ditemukan adanya wajah ganda masyarakat yakni konsensus sekaligus konflik. Kedua, dalam kasus ini juga diketahui adanya perbedaan kepentingan yang mendasar antara para pihak dalam agenda penguasaan, pemanfaatan dan pendistribusian lahan irigasi sehingga memicu adanya konflik. Ketiga, perbedaan-perbedaan kepentingan tersebut dipengaruhi oleh otoritas dan kekuasaan masing-masing pihak yang berbeda arah dan substansinya. Pemerintah daerah sebagai pihak yang menguasai berada pada posisi superodinat dan masyarakat lokal sebagai pihak yang dikuasai berada pada pihak subordinat. Perbedaan otoritas tersebut mendorong masing-masing pihak untuk berupaya menaklukkan pihak lain guna memenuhi kepentingan lain yang lebih besar.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :