Pilar III Pengelolaan Koperasi - Kepemimpinan Strategik (Strategic Leadership) akan meramu dan

Teks penuh

(1)

Marilyn Scholl dan Art Sherwood dalam Four Pillar of Cooperative Governance

menawarkan model empat PILAR PENGELOLAAN KOPERASI (Gambar 1) yang terdiri dari: 1. Menjadi Tim (Teaming)

2. Pemberdayaan yang Akuntabel (Accountable Empowerment) 3. Kepemimpinan Strategik (Strategic Leadership)

4. Demokrasi (Democracy) Gambar 1

Pilar Pengelolaan Koperasi

diolah dari Scholl & Sherwood (2014)

Pilar III Pengelolaan Koperasi - Kepemimpinan Strategik (Strategic

Leadership) akan meramu dan

meracik setiap potensi dari partisipasi yang diberikan dari setiap perangkat koperasi agar benar-benar bermanfaat yang dapat membuka jalan bagi masa depan yang baik bagi koperasi, membentuk keunggulan kompetitif organisasi secara berkelanjutan.

Pilar IV Pengelolaan Koperasi - Demokrasi (Democracy)

merupakan pilar terakhir yang menjadi pembeda utama koperasi dengan pelaku dalam sistem ekonomi lainnya.

(2)

PILAR IV - DEMOKRASI

(

DEMOCRACY

)

Partisipasi anggota secara demokratis adalah hal terbaik yang telah diketahui menjadi cara khas koperasi dalam menjalankan bisnisnya, dan menjadi karakteristik pembeda yang kontras dengan bisnis umumnya -kepemilikan investor. Namun demikian, insan koperasi tidaklah sama dalam pemahaman mengenai demokrasi itu sendiri. Masing-masing memiliki persepsi dan interpretasi dalam memahami dan mewujudkan demokrasi. Art Sherwood dalam wawancara dengan Todd Wallace (2014) menyatakan:

While cooperators know they “own” democracy, this does not equal having skills -you are not born knowing how to do democracy, nor do you get the magic sauce just because you formed or became an owner of cooperative. If you don’t invest in practicing, promoting, perpetuating and protecting it, your democracy will not live up to its potential.

[Ketika anggota koperasi memahami “sendiri” demokrasi, ini tidaklah sama dengan memiliki kemampuan demokrasi -dirimu tidak dilahirkan langsung mengetahui bagaimana kerja demokrasi, ataupun memiliki ramuan ajaib hanya karena terbentuk otomatis sebagai pemilik suatu koperasi [model bisnis sebagai anggota sekaligus pemilik]. Jika dirimu tidak berinvestasi dalam pelatihan, penyebaran, pengembangan atau perlindungan terhadap demokrasi, maka demokrasi tidak akan tumbuh menunjukkan potensinya.]

PEMAHAMAN DASAR TENTANG DEMOKRASI

Demokrasi, secara harfiah, berarti pemerintahan yang dilakukan dengan menjadikan rakyat (demos) sebagai pemegang kekuasaan (kratos) tertinggi. Dalam arti ini, secara formal, demokrasi dapat didefinisikan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

(3)

Sepanjang sejarah pemikiran manusia, konsep demokrasi terus mengundang perdebatan. Para filsuf politik, mulai dari Yunani Kuno sampai sekarang, tidak memiliki pendapat yang sama, ketika mereka berbicara soal demokrasi. Namun demikian, konsep demokrasi muncul sebagai akibat dari perubahan dalam prinsip-prinsip pengaturan kekuasaan dalam masyarakat. Ini menjadikan demokrasi sebagai bentuk pemerintahan yang paling baik dibandingkan dengan sistem pemerintahan lain, seperti otokrasi dan oligarki. Wattimena (2012) dalam Nilai-nilai

Dasar Demokrasi, Sebuah Telaah Filosofis menyatakan:

Menurut saya, lepas dari segala kekurangannya, demokrasi tetap merupakan bentuk pemerintahan terbaik di antara berbagai bentuk pemerintahan lainnya yang lebih buruk. Ini terjadi, karena demokrasi memiliki mekanisme pengecekan kekuasaan yang paling tinggi, sehingga tidak ada satu pun kekuasaan yang bisa diselewengkan untuk waktu yang lama. Dengan mekanisme pengecekan ini, proses-proses yang adil untuk mendirikan masyarakat yang cerdas, adil, dan makmur bisa dipastikan berjalan. Ini tentu saja mengandaikan, bahwa proses-proses demokrasi, dengan nilai-nilai dasarnya, seperti pengetahuan yang mencukupi, kesetaraan, dan otonomi warga negara, cukup kuat tertanam di masyarakat.

Organisasi Parlemen Internasional (Inter-Parliamentary Union) di Kairo, 16 September 1997, mendeklarasikan Universal

Declaration on Democracy dimana di dalamnya terdapat

delapan prinsip demokrasi, yaitu:

1. Demokrasi yang ideal diakui secara universal sebagai suatu tujuan, yang dilandasi nilai-nilai umum yang dimiliki oleh orang-orang di seluruh masyarakat dunia terlepas dari perbedaan budaya, politik, sosial dan ekonomi. Dengan demikian menjadi suatu hak dasar warga negara untuk dilaksanakan dalam kondisi kebebasan, kesetaraan, keterbukaan, dan tanggung jawab, dengan kewajiban menghormati kemajemukan pendapat dan kepentingan politik.

2. Demokrasi menjadi ideal jika diteruskan dalam bentuk pemerintahan yang diterapkan sesuai dengan bagian-bagian yang mencerminkan keragaman pengalaman dan kekhasan budaya tanpa melenceng dari prinsip-prinsip, norma-norma

(4)

dan standar-standar yang diakui secara internasional. Ini terus-menerus disempurnakan sesuai kondisi dan situasi yang sedang terjadi, tergantung dari berbagai faktor politik, sosial, ekonomi dan budaya.

3. Sebagai sesuatu yang ideal, demokrasi bertujuan dasar untuk melestarikan dan mengangkat harkat martabat dan hak-hak dasar individu untuk mencapai suatu keadilan sosial, meningkatkan taraf ekonomi dan sosial kemasyarakatan, memperkuat kesatuan masyarakat dan meningkatkan ketentraman bersama, yang pada akhirnya menciptakan iklim yang mendukung perdamaian dunia. Sebagai suatu bentuk pemerintahan, demokrasi menjadi cara terbaik untuk mencapai tujuan tersebut; dan juga satu-satunya sistem politik yang memiliki kapasitas untuk perbaikan sendiri.

4. Pencapaian kesuksesan demokrasi mengandalkan kemitraan sejajar antara laki-laki dan wanita dalam pelaksanaan urusan kemasyarakatan dimana mereka bekerja dalam kesetaraan yang saling melengkapi, menonjolkan hubungan saling memperkuat dari perbedaan yang dimiliki.

5. Keadaan demokrasi memastikan bahwa proses dimana kekuasaan disetujui, ditetapkan atau diganti, dilakukan dalam kompetisi politik yang bebas dan merupakan suatu hasil dari keterbukaan, kebebasan, dan partisipasi tidak diskriminatif dari masyarakat, dilaksanakan sesuai dengan perangkat hukum, baik tersurat maupun tersirat.

6. Demokrasi tidak dapat dipisahkan dari seperangkat hak dalam instrumen internasional yang disebut dalam Pembukaan (Preamble) [Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia]. Hak-hak ini harus diterapkan secara efektif dan dilatih dengan tepat sesuai dengan tanggung jawab individu dan kolektif.

7. Demokrasi dibangun di atas supremasi hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Dalam kondisi demokratis, tidak seorang pun lebih tinggi kedudukannya dari hukum, semua adalah sama di hadapan hukum.

8. Perdamaian dan pembangunan ekonomi, sosial dan budaya merupakan kondisi dan hasil dari demokrasi. Itu semua saling berkaitan erat antara perdamaian, pembangunan, penghormatan dan ketaatan atas perangkat hukum dan hak asasi manusia.

(5)

Dari prinsip-prinsip di atas, dapat dipahami bahwa pada dasarnya tujuan paling hakiki dari demokrasi, menurut Masdar sebagaimana dikutip dari Siswanto (2006), adalah membentuk suatu sistem apresiatif terhadap hak-hak dasar manusia sebagai makhluk, baik sebagai individu maupun kelompok sosial yang berdaulat dan bermartabat. Demokrasi, baik sebagai sebuah sistem nilai kebudayaan maupun yang termanifestasi dalam struktur masyarakat akan mencegah kekuatan yang otoritarian. Hak-hak dasar manusia telah diatur dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, menyebutkan bahwa Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Hak-hak tersebut meliputi:

1. Hak untuk Hidup;

2. Hak Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan; 3. Hak Mengembangkan Diri;

4. Hak Memperoleh Keadilan; 5. Hak atas Kebebasan Pribadi; 6. Hak atas Rasa Aman;

7. Hak atas Kesejahteraan;

8. Hak Turut Serta dalam Pemerintahan; 9. Hak Wanita; dan

10. Hak Anak;

Meskipun hak asasi manusia dijunjung tinggi dan dilindungi, ada kewajiban yang melekat kepadanya, sebagaimana diuraikan dalam UU tersebut di Pasal 69 sebagai berikut:

(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain, moral, etika, dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

(2) Setiap hak asasi manusia seseorang menimbulkan kewajiban dasar dan tanggung jawab untuk menghormati hak asasi orang lain secara timbal balik serta menjadi tugas pemerintah untuk menghormati, melindungi, menegakkan dan memajukannya.

(6)

DEMOKRASI DALAM KOPERASI

Koperasi merupakan salah satu organisasi demokratis yang dikendalikan sepenuhnya oleh para anggota, sebagaimana

International Labour Organization mendefinisikan koperasi

sebagai suatu perkumpulan orang yang biasanya dengan tujuan tertentu, yang bergabung secara sukarela untuk meningkatkan taraf ekonomi melalui pembentukan suatu organisasi bisnis yang dikelola demokratis, menyumbang kontribusi adil atas modal yang ditetapkan dan menerima bagian yang adil atas risiko dan manfaat dari usaha tersebut.

Meskipun demokrasi identik dengan mekanisme pemungutan suara, Marilyn School dan Art Sherwood mengingatkan bahwa demokrasi koperasi bukan sekedar pemungutan suara, sebagaimana dinyatakannya:

Democracy in cooperatives is about more than voting. A healthy democracy gives owners opportunities to meaningfully participate in reflection and change in their organization. All owners have the right to participate in the cooperative regardless of their wealth, investment, patronage, or values and beliefs. Ownership and democracy are at the heart of what makes a co-op different from other businesses.

[Demokrasi dalam koperasi lebih dari sekedar pemungutan suara. Demokrasi yang sehat memberikan kesempatan pemilik untuk berpartisipasi penuh arti dalam merefleksikan dan mengubah organisasinya. Semua pemilik (anggota) memiliki hak partisipasi dalam koperasi tanpa memperhatikan kekayaan, nilai investasi, langganan atau keyakinan dan kepercayaannya. Kepemilikan dan demokrasi adalah jantung yang memjadikan koperasi berbeda dengan bisnis lainnya.]

Partisipasi secara bebas dari para anggotanya merupakan inti utama yang harus ditumbuhkembangkan dalam demokrasi organisasi koperasi. Ketika partisipasi anggota dapat dengan baik dikelola, akan memberikan kontribusi positif terhadap koperasi, termasuk dalam mengurangi angka kemiskinan, meningkatkan kemampuan dan pengetahuan. Lebih dari itu,

(7)

partisipasi individu yang tersalurkan akan menciptakan iklim demokrasi yang baik dalam organisasi, berdampak dalam proses pengambilan keputusan yang lebih efektif dan efisien. Aliansi Koperasi Internasional bahkan mengatakan member participation as the co-op sector’s most valuable asset

[partisipasi anggota sebagai aset paling berharga dalam sektor koperasi] (Balkan, 2013).

Untuk dapat meningkatkan partisipasi anggota, beberapa langkah dapat dilakukan, diolah dari Blueprint for a

Co-operative Decade:

1. Temukan cara baru untuk merekrut anggota baru melalui unit koperasi dari jaringan anggota lama.

2. Kumpulkan dan susunlah cara terbaik dalam perekrutan anggota; temukan dan bagikan ide-ide terbaik, termasuk yang terkait usia atau jenis kelamin; identifikasikan tren negatif yang merusak, tampilkan praktik-praktik salah dan kemudian bangunlah alat dan teknik untuk memperbaikinya. 3. Kumpulkan dan susunlah informasi yang menunjukkan

cara-cara terbaik dan positif yang berkaitan dengan kinerja kuat dalam beragam indikator, termasuk sukses keuangan, keterlibatan karyawan atau sosial dan perbaikan lingkungan. 4. Pahami remaja dan pemuda, termasuk melalui sosial media

untuk menjelajahi motivasi generasi muda dalam hubungan aktivitas dan ketertarikan kolaborasi; bagaimana berkomunikasi karena bentuk menjalin hubungan telah berubah, baik secara online maupun offline; ujilah praktik yang melibatkan gerakan masa kini.

5. Uji dan tantanglah praktik demokrasi koperasi yang sedang berjalan, kumpulkan bukti dari praktik inovasi, dorong ujicoba pendekatan alternatif dan kumpulkan data.

6. Dalam hubungan partisipasi dengan para karyawan yang bekerja di koperasi namun bukan anggota koperasi, kumpulkan data dari praktik yang sudah dan sedang berlangsung.

Menerapkan demokrasi mungkin akan sulit. Namun percayalah ketika memulainya dengan sulit maka saat menyelesaikannya akan sangat terasa mudah. Dua ancaman yang mungkin akan dihadapi, dikutip dari Wallace & Sherwood (2013), yaitu:

1. Tirani Minoritas (Tyranny of the Minority)

(8)

proses demokrasi melalui isu dan kesalahan kecil. Misalnya ketika suatu perubahan terjadi namun pengurus tidak menganggap perubahan itu penting sehingga diabaikan dan ini dijadikan isu oleh kelompok kecil tersebut dengan beragam alasan pendukung. Akhirnya pengurus dan atau pengelola akan menjadi “sasaran tembak” saat rapat dilaksanakan. Akan sangat sulit ketika nantinya akan menghadapi kemarahan anggota yang termakan isu tersebut.

2. Kelaliman Demokrasi (Democratic Despotism)

Ini terjadi justru ketika koperasi berjalan dengan baik dan lancar. Kebutuhan untuk menerapkan demokrasi tampaknya kurang didukung oleh perangkat koperasi yang mungkin lupa dengan sejarah awal bagaimana sebenarnya koperasi didirikan. Tiada rapat yang demokratis yang memberikan partisipasi yang penuh arti.

Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, pengalaman dari

Neighborhood Co-op di Carbondale, Illionis, melaksanakan apa

yang disebut “pembicaraan komunitas” (community

conversation) dimana membahas upaya penerapan demokrasi

koperasi dengan menghubungkan sesuai prinsip dan nilai dasar koperasi. Mereka menemukan bagaimana melaksanakan dan melindungi setiap proses demokrasi sehingga terlatih mengarahkan tekanan yang menjadi isu kala itu (Wallace & Sherwood, 2013).

Selain itu, Mondragon Corporation di Basque, Spanyol adalah salah satu koperasi demokratis sukses yang bergerak di empat bidang utama: industri, keuangan, ritel dan pengetahuan. Di setiap perusahaan, anggota koperasi secara kolektif memiliki dan mengelola langsung. Melalui rapat anggota tahunan memilih dan mengangkat pengelola dan menjalankan kekuasaan untuk memutuskan keputusan dasar terhadap perusahaan (apa, bagaimana dan dimana untuk memproduksi dan apa yang dilakukan terhadap Sisa Hasil Usaha). Salah satu prinsip mereka, we are not some paradise, but rather a family of co-operative enterprise struggling to build a different kind of

life around a different way of working. [Kami bukanlah surga,

tetapi cukup sebuah keluarga perusahaan koperasi yang berjuang untuk membangun suatu hidup yang berbeda melalui cara kerja yang berbeda.] (Wolff, 2012).

(9)

DAFTAR BACAAN

Balkan, Donna. Member Participation key to co-op success. 6 September 2013. Co-operative News. http://www.thenews.coop/39947/news/co-operatives/member-participation-key-co-op-success/ diakses 18 Oktober 2016: 20.13 WITA

Parliamentary Union (1998). Democracy: Its Principles and Achievement. Geneva: Inter-Parliamentary Union. ISBN 92-9142-036-0

International Co-operative Alliance. Blueprint for Co-operative Decade, Januari 2013. International Co-operative Alliance

Scholl, Marilyn & Sherwood, Art. Four Pillars of Cooperative Governance. Cooperative Grocer, Januari-Februari 2014, hal. 18-21

Siswanto. Filsafat Progressivisme dan Demokrasi Pendidikan (Menggagas Pembelajaran Demokratis), Tadris, Volume 1, Nomor 2, 2006, hal. 244-260

Wallace, Tod & Sherwood, Art. Reinventing Our Cooperative Democracy: A conversation. Cooperative Grocer, November-Desember 2014, hal. 22-25

Wattimena, Reza A. A. Nilai-nilai Dasar Demokrasi, Sebuah Telaah Filosofis, 21 Juli 2012, Rumah Filsafat. https://rumahfilsafat.com/2012/07/21/nilai-nilai-dasar-demokrasi-sebuah-telaah-filosofis/ diakses 18 Oktober 2016

Wolff, Richard. Yes, there is an alternative to capitalism: Mondragon show the way. 24 Juni 2012. The Guardian. diakses http://www.theguardian.com/ commentisfree/2012/jun/24/alternative capitalismmondragon pada 11 Desember 2015

(10)

MATERI DISKUSI

KRITIK SEBAGAI BAGIAN DEMOKRASI

Tujuan paling hakiki dari demokrasi adalah membentuk suatu sistem apresiatif terhadap hak-hak dasar manusia sebagai makhluk, baik sebagai individu maupun kelompok sosial yang berdaulat dan bermartabat (Siswanto, 2006). Hak-hak yang dilindungi dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, salah satunya, menyebutkan tentang Hak atas Kebebasan Pribadi. Hak ini, sebagaimana di Pasal 23 Ayat (2) menyebutkan bahwa setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan tulisan melalui media cetak maupun elektronik dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum dan keutuhan bangsa.

Kata “pendapat sesuai hati nuraninya” salah satu bentuknya dapat berupa kritik. Kata “kritik” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat dan sebagainya.

Dengan demikian, demokrasi telah membuka ruang yang cukup luas untuk menyampaikan kritik melalui banyak saluran masa kini yang begitu beragam, bisa melalui koran, majalah, tabloid, jejaring sosial, dan sebagainya. Bahkan dapat juga dengan memanfaatkan massa dalam penyampaiannya melalui demontrasi, sebagaimana kerap disaksikan melalui berita di layar kaca.

Akan tetapi, seringkali dilupakan adalah ETIKA dalam menyampaikannya. Banyak kritik yang dianggap “kebablasan” seakan-akan bebas-sebebasnya. Kata etika, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).

Untuk itulah, dalam diskusi kali ini akan dibahas tentang KRITIK dan ETIKA KRITIK sebagai bagian dari pembelajaran DEMOKRASI yang menjadi salah satu PILAR PENGELOLAAN KOPERASI.

SUMBER BACAAN

Etika. Kamus Besar Bahasa Indonesia. http://kbbi.web.id/kritik diakses 22 Oktober 2016: 16.10 WITA Kritik. Kamus Besar Bahasa Indonesia. http://kbbi.web.id/kritik diakses 22 Oktober 2016: 15.56 WITA Siswanto. Filsafat Progressivisme dan Demokrasi Pendidikan (Menggagas Pembelajaran

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :