Oleh: Sulthan Syahril *
Abstrak
Persoalan kenegaraan di dalam Islam merupakan persoalan-persoalan yang selalu terbuka dan menarik untuk dibicarakan. Tema ini tentu saja menyangkut banyak hal, mulai dari persoalan apakah umat Islam dituntut untuk mendirikan sebuah negara yang berlabelkan Islam sampai pada upaya-upaya penerapan syariat Islam dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Munculnya berbagai persoalan tersebut di antaranya disebabkan karena baik al-Qur’an maupun hadist tidak memberikan penjelasan secara eksplisit tentang persoalan-persoalan kenegaraan itu sendiri. Konsep kenegaraan di dalam Islam yang ada sesungguhnya merupakan hasil interpretasi para ahli terhadap isyarat-isyarat yang terdapat di dalam al-Qur’an dan hadist, termasuk dalam hal ini konsep negara Islam yang diintrodusir oleh para pemikir politik Islam.
Upaya mendirikan negara Islam secara konstitusional dan menjadikan syari’at Islam sebagai hokum positif untuk konteks Indonesia, hampir-hampir tidak mungkin dilaksanakan walaupun bangsa Indonesia mayoritas berpenduduk Muslim. Hal ini disebabkan Indonesia bukan negara agama (religious state) dan bukan pula negara sekuler (secular state). Para founding-father telah menetapkan negara Indonesia sebagai negara kebangsaan (nation state) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, di mana nilai-nilai heteroginitas dan pluralitas sangat dihargai dan dijunjung tinggi.
Kata kunci: negara Islam, nation state, Indonesia A. Pendahuluan
Sejak zaman klasik, zaman modern dan bahkan sampai sekarang, persoalan-persoalan kenegaraan di dalam Islam masih merupakan komuditas aktual yang selalu menarik untuk didiskusikan, lebih-lebih ketika berbagai ideologi Barat mulai menanamkan pengaruhnya di dunia Islam. Tema diskusi dan perdebatan berkisar pada beberapa persoalan yang cukup mendasar, di antaranya adalah sejauh mana keharusan kaum muslimin untuk mendirikan sebuah negara, apa bantuk dan sistem pemerintahan yang harus dijalankan oleh umat Islam dalam konteks kehidupan bernegara, bagaimanakah seharusnya dibangun hubungan anatara agama dan negara, dan apakah umat Islam dituntut untuk
mendirikan sebuah negara yang berlabelkan Islam (negara Islam), dan lain-lain.
Munculnya beberapa persoalan kenegaraan di atas, sesungguhnya disebabkan baik al-Qur’an maupun hadits tidak pernah memberikan penjelasan secara eksplisit tentang konsep-konsep kenegaraan yang harus di jadikan acuan umat Islam di dalam mengatur dan menata kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan nabi Muhammad s.a.w. pun setelah wafat tidak meninggalkan konsep kenegaraan yang baku. Hal ini mengindikasikan bahwa persoalan kenegaraan di dalam Islam masih
terbuka untuk berkembang dan diperdebatkan.1
Sejarah telah membuktikan bahwa pada periode Makkah nabi Muhammad tidak memiliki kekuasaan politik untuk mem-back up misi kenabiannya. Sementara di Madinah, di samping sebagai tokoh spiritual dan agama, ia juga berkedudukan sebagai pemimpin politik, kendatipun dalam kenyataannya nabi tidak pernah memproklamirkan diri sebagai seorang penguasa, raja atau pemimpin negara. Tetapi paling tidak, dari usaha-usaha yang dilakukan nabi setibanya di Madinah, seperti mengadakan perjanjian tertulis antara kelompok Muhajirin dan Anshar, memberikan jaminan dan proteksi kepada komunitas Yahudi di dalam menjalankan agama dan keselamatan harta benda mereka, menetapkan hak dan kewajiban bagi setiap anggota masyarakat, mengatur hubungan
antara umat Islam dan non-muslim,2
dan lain-lain, cukup untuk dijadikan argumentasi bahwa sejak periode Madinah nabi telah membangun sebuah pemerintahan, atau minimal telah membentuk tatanan masyarakat yang bernaung di bawah kepemimpinannya. Periode Madinah, menurut hemat penulis, merupakan periode berdirinya masyarakat dan pemerintahan Islam yang pertama di dalam sejarah, sebab di dalam periode ini, secara de-facto telah diletakkan dasar-dasar yang kuat bagi berdirinya seabuah negara. Istilah negara dalam pengertian ilmu politik merupakan suatu komunitas manusia yang mendiami daerah tertentu, merdeka secara legal dari dominasi dan pengendalian luar, memiliki suatu pemerintahan dan adanya ikatan bersama. Dengan demikian, dari batasan ini terdapat unsur-unsur adanya wilayah, adanya penduduk, adanya pemerintah dan adanya
kedaulatan.3 Di dalam negara yang pertama didirikan nabi di Madinah
tersebut ternyata unsur-unsur negara telah terpenuhi, walaupun dalam bentuknya yang masih sederhana. Rakyat atau penduduk adalah
1 Harun Nasution dan Azyumardi Azra, Perkembangan Modern dalam Islam, (Jakarta:
Yayasan Obor, 1985 ), p. 10.
2Ahmad Azhar Basyir, Negara dan Pemerintahan, (Yogyakarta: UII, 1984 ), p. 17. 3Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Cet.13, (Jakarta: Gramedia Pustaka
masyarakat Islam (Muhajirin dan Anshar) sebagai kelompok mayoritas dan masyarakat non-muslim (Yahudi dan Nasrani) sebagai kelompok minoritas; Undang-undang yang dipergunakan adalah syari’at Islam; daerah yang ditempati secara permanen adalah Madinah, dan pemerintahnya Muhammad s.a.w. beserta para sahabat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa masyarakat yang dibina nabi di Madinah merupakan manifestasi dari sebuah pemerintahan Islam dalam formatnya
yang sederhana. Corak pemerintahan berbentuk teo-demokrasi, 4 sebab
dalam periode ini nabi mengatur kehidupan sosio-kultural umat berdasarkan kepada wahyu yang diterima dari Allah, dan dalam hal-hal yang tidak ada wahyunya, nabi bermusyawarah dengan para sahabat.
Sementara itu, pada masa Khulafa’ al-Rasydin dan periode-periode berikutnya, corak pemerintahan Islam selalu berkembang dan mengalami perubahan-prubahan. Pada masa Khulafa' al-Rasyidin corak pemerintahan berbentuk republik-demokratis, karena pada masa ini budaya musyawarah sangat dikembangkan dan merupakan bagian dari langkah yang diambil para khalifah dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang secara eksplisit tidak diatur, baik di dalam al-Qur’an maupun hadits. Pada periode dinasti Umayyah dan Abbasiyyah, corak pemerintahan bergeser kepada bentuk dinasti atau kerajaan. Sistem pemerintahan dinasti yang muncul pada abad ke-7 dan bertahan lebih dari 1200 tahun, pada abad ke-20 berubah dan mengambil bentuk Republik-konstitusional dan demokratis, seperti Republik Turki, Republik Pakistan, Republik Mesir, Republik Syria,
Republik Irak, Republik Indonesia, dan lain-lain.5
Dari tinjauan sejarah di atas, ternyata sistem kenegaraan di dalam Islam dengan berbagai persoalannya tidak memberikan gambaran yang jelas dan baku yang dapat dijadikan acuan bagi umat Islam dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana Islam juga tidak memberikan garis yang jelas bahwa sebuah negara harus dikemas dalam bentuk negara Islam yang secara eksklusif tidak memberikan ruang bagi komunitas non-muslim untuk menjalankan ajaran agamanya serta mengembangkan kultur yang dimilki secara bebas, elegan dan penuh toleransi, karena pada dasarnya Islam adalah agama yang sangat mengembangkan sikap toleransi, agama yang menghargai pluralitas dan kemajemukan, sebagaimana yang telah diimplimentasikan oleh nabi Muhammad dalam membangun masyarakat Madinah yang sangat heterogen dan pluralis.
4Harun Nasution, Perkembangan Modern..., p. 10.
5Ibid., pp. 11-12. Selanjutnya lihat Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran,
B. Negara Islam vs Pluralisme: Antara Harapan dan Kenyataan
1. Hakikat Negara Islam
Kata-kata Arab yang berarti negara atau pemerintahan (dawlah dan hukumah) tidak pernah disebut di dalam al-Qur’an. Istilah dawlah merupakan perkembangan baru, dan agaknya dimaksudkan untuk menunjukkan konsep Barat tentang nation state. Demikian juga dengan kata
hukumah yang merujuk pada kata hakama-yahkumu dalam al-Qur’an,6
yang pada akhirnya memunculkan konsep hakimiyyah atau kekuasaan pemerintahan. Kata hukm dan bentuk derivatifnya yang banyak disebut di dalam al-Qur’an, ternyata menunjukkan banyak arti dan perlu dipahami
dalam konteksnya masing-masing.7
Dengan demikian, tuntutan al-Qur’an tentang kehidupan bernegara sesungguhnya tidak menunjuk kepada sebuah model tertentu tentang sebuah negara yang harus diikuti oleh umat Islam di berbagai negara. Alasan untuk ini tentunya tidak terlalu sulit untuk dicari dan dieksplorasi. Pertama, al-Qur’an pada prinsipnya adalah petunjuk etik bagi manusia; ia bukan sebuah kitab ilmu politik. Kedua, merupakan suatu kenyataan bahwa institusi-institusi sosio-politik dan organisasi manusia selalu
mengalami perubahan dari masa ke masa.8
Dengan memakai ungkapan
lain, diamnya al-Qur’an dalam konteks ini berarti memberikan suatu jaminan yang sangat esensial serta sengaja terhadap kekuatan hukum dan sosial.9
Demikian juga halnya dengan istilah negara Islam atau dawlah Islamiyah. Baik di dalam al-Qur’an maupun kitab-kitab tafsir yang dikarang oleh para ulama sebelum abad ke-20, tidak dijumpai istilah negara Islam atau dawlah Islamiyah. Hadits-hadits dan praktik-praktik kehidupan nabi selama membangun masyarakat Islam Madinah tidak pernah menyinggung masalah ini. Begitu juga dengan Piagam Madinah, baik secara eksplisit maupun implisit tidak ditemukan ide tentang Dawlah Islamiyah, tatanan masyarakat Islam Madinah hanya disebut sebagai al-Mujtama’ al-Islamy atau komunitas Islam. Menurut Robert N. Bellah, praktik kenegaraan yang dijalankan oleh nabi Muhammad di Madinah merupakan tatanan yang sangat modern dan demokratis pada masanya. Namun, dalam kenyataannya nabi tidak pernah menyebut negara Madinah sebagai negara Islam. Ide negara Islam sesungguhnya merupakan produk abad ke-20 yang
6Muhammad Fuad Abd. al-Baqi, Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Qur’an, (Ttp.: Dar
al-Fikr li al-Taba’ wa al-Nasyr, 1981), p. 34.
7Ibid.
8Syafi’i Ma’arif, Islam dan Masalah Kenegaraan, (Jakarta: LP3ES, 1987), p. 16. 9Ibid.
diintrodusir pertama kali oleh Muhammad Rasyid Ridha di dalam karyanya yang berjudul Khilafah , yang kemudian ditindak lanjuti oleh Hasan al-Banna (1906-1949) dan dirumuskan secara konseptual oleh Sayyid Qutb (1903-1979). Dengan demikian, ide dan gagasan negara Islam sesungguhnya merupakan produk ijtihad para pemikir politik Islam abad ke-20 yang bertitik tolak dari pemahaman mereka terhadap prinsip-prinsip kenegaraan yang terdapat di dalam al-Qur’an. Hampir tidak terdapat kesepakatan bulat di kalangan para pemikir politik Islam kontemporer tentang pengertian dan hakikat negara Islam serta hal-hal yang terkandung di dalam konsep negara Islam itu sendiri. Namun demikian, setidak-tidaknya secara teoritis terdapat kesepakatan minimal bahwa suatu negara disebut sebagai negara Islam apabila negara tersebut mendasarkan diri di atas agama Islam dan memberlakukan syari’at Islam dalam aturan dan perundang-undangan negara. Dengan kata lain, pelaksanaan hukum Islam merupakan prasyarat formal dan utama bagi eksisnya negara Islam. Suatu negara dapat dianggap sebagai negara Islam apabila negara tersebut benar-benar telah melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara, serta mengintegrasikannya ke dalam Undang-undang negara.10
Dalam spektrum kajian politik Islam, Rasyid Ridha merupakan sosok ulama terkemuka di awal abad ke-20 yang dianggap paling bertanggung jawab dalam merumuskan konsep negara Islam modern. Ia menyatakan bahwa premis pokok dari konsep negara Islam adalah syari’at merupakan sumber hukum tertinggi. Dalam pandangan Ridha, syari’at mesti membutuhkan bantuan kekuasaan (power) dalam upaya mengimplimentasikannya, dan adalah mustahil untuk dapat menerapkan syari’at Islam tanpa kehadiran negara Islam. Dengan demikian, penerapan syari’at Islam merupakan satu-satunya kriteria utama yang amat menentukan (the single most desicive criterion) untuk membedakan antara suatu
negara Islam dengan negara non-Islam.11
Dari beberapa statemen di atas dapat diformulasikan, bahwa negara Islam adalah negara di mana peraturan dan perundang-undangan didasarkan kepada ajaran Islam atau syari’at Islam yang dijadikan sebagai sumber hukum tertinggi. Suatu negara yang dihuni oleh mayoritas muslim tidak otomatis menjadi negara Islam kecuali syari’at Islam tentang sosio- politik dilaksanakan dalam kehidupan rakyat berdasarkan konstitusi. Di dalam sejarah pemikiran politik Islam kontemporer, nama al-Maududi tampaknya dikenal sebagai tokoh yang mampu mengkonstruksi konsepsi
10Ibid., p. 140.
11Lihat Arskal Salim, "Penerapan Syari’at Islam Bukan Negara Islam", dalam
negara Islam yang relatif utuh dan terperinci,12 kendatipun pada tataran aplikasinya sangat sulit untuk di realisasikan, lebih-lebih terhadap negara yang penduduknya memiliki keanekaragaman agama, ras dan budaya. 2. Pluralisme Sebuah Kenyataan
Pluralitas dan kemajemukan dalam konteks kehidupan manusia merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Di manapun manusia berada pluralitas agama, ras dan budaya merupakan sesuatu yang inheren dengan kehidupan manusia. Agaknya sulit dibayangkan ketika ada belahan bumi tertentu yang hanya dihuni oleh komunitas tertentu dengan latar belakang agama, ras dan budaya yang tunggal sebab pada dasarnya, Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan latar belakang kultur yang berbeda-beda pula (Q.S. al-Hujurat (49): 13). Hal ini tentu saja akan berimplikasi pada munculnya problem-problem sosiologis-politis apabila dihadapkan dengan tatanan norma-norma serta aturan dan perundang-undangan yang ditetapkan di dalam kerangka negara Islam. Lebih-lebih apabila di dalam bingkai negara Islam tersebut terdapat kelompok-kelompok yang secara ekstrim menafikan dan tidak menghargai eksistensi kemajemukan.
Dalam kaitannya dengan keyakinan keberagamaan, biasanya kelompok semacam ini cenderung memunculkan pola-pola keberagamaan yang eksklusif yang mungkin dapat dikategorikan sebagai kelompok fundamentalis, yang menggunakan sudut pandang yang sangat terbatas. Dengan kata lain, pemahaman keagamaan mereka lebih bersipat eksklusif dengan pandangan bahwa hanya keyakinan dan agama merekalah yang benar, sementara agama yang lain sesat dan jauh dari kebenaran. Dalam terminologi Azyumardi Azra kelompok ini biasanya dicirikan dengan 4 (empat) ciri pokok, yaitu: Pertama, fundamentalisme merupakan oppositionalism terhadap ancaman yang dianggap membahayakan eksistensi agama. Kedua, menolak hermeneutika; penafsiran kritis terhadap teks-teks dan penafsirannya. Dalam konteks ini, maka al-Qur’an harus dipahami secara literal tanpa memberi peluang terhadap alternatif pemaknaan yang lain. Ketiga, gerakan atau kelompok fundamentalis menolak pluralisme dan relativisme. Pemahaman dan sikap keberagamaan yang tidak selaras dengan pandangan kelompok fundamentalis dianggap sebagai bentuk dari relativisme keagamaan yang tentunya harus ditolak. Keempat, yang
12Secara konseptual konstruksi negara Islam yang dibangun oleh al-Maududi,
antara lain adalah: bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan Allah, manusia hanya bertindak sebagai pelaksana dari kedaulatan Allah; dasar negara adalah syari’at Islam; Untuk melaksanakan syari’at Islam, sistem pemerintahan harus dalam bentuk khilafah.
bersifat universal dan tidak mengenal batas-batas geografis, ras, bahasa dan budaya.kelompok ini menolak perkembangan historis dan sosiologis dengan anggapan bahwa perkembangan historis dan sosiologis telah
membawa manusia semakin jauh dari ajaran kitab suci.13
Problem lain yang diprediksi akan muncul dalam kerangka negara Islam, adalah kemungkinan terjadinya benturan-benturan dan konflik berkepanjangan antarintern umat Islam akibat tarik menarik kepentingan. Dalam kenyataannya, terdapat dua arus pemikiran kontradiktif dalam kaitannya dengan keharusan mendirikan negara Islam. Arus pertama berpendapat bahwa untuk melaksanakan syari’at Islam dalam tatanan kehidupan umat diperlukan suatu kekuasaan pemerintahan yang bernaung di bawah panji-panji negara Islam. Arus ini menegaskan penolakannya terhadap pemisahan antara agama dan negara, karena dalam pandangan mereka, Islam adalah din dan dawlah. Islam juga merupakan agama yang komprehensif yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk mengatur persoalan-persoalan kenegaraan. Arus ini dalam perjuangannya sangat bersemangat untuk mendirikan negara Islam, karena menurut mereka tanpa adanya negara Islam, kehidupan Islam tidak mungkin dapat direalisasikan secara utuh. Para pionir dalam arus pemikiran ini, antara lain Rasyid Ridha, Sayyid Qutb, Hasan al-Banna dan Abul A’la al-Maududi.
Arus kedua memandang bahwa keterutusan Muhammad s.a.w. hanya membawa satu misi, yaitu misi spiritual keagamaan (risalah ruhiyah diniyah) yang sama sekali tidak bermaksud membangun sebuah negara. Oleh karena itu, mereka menolak keterlibatan agama dalam urusan urusan negara atau pemerintahan; hubungan agama dan negara merupakan hubungan yang terpisah dan tidak mungkin untuk dipersatukan, sebab agama hanya mengatur persoalan-persoalan spiritual umat, sedangkan negara mengatur persoalan-persoalan duniawi. Menurut arus pemikiran ini, di dalam Islam tidak ada ruang untuk berpendapat bahwa risalah yang dibawa oleh Nabi Muhamad mengandung kewajiban mendirikan sebuah negara Islam yang wujudnya dalam bentuk sistem khilafah. Institusi negara dalam pandangan mereka tidak terlalu penting dan yang paling penting adalah komitmen untuk mengimplimentasikan nilai-nilai ajaran Islam. Di antara para tokoh yang menganut arus pemikiran yang kedua ini adalah Ali Abd. Al-Raziq dan Thaha Husein, keduanya tokoh intelektual yang berasal dari Mesir. Di dalam kancah pemikiran politik di dunia Islam, kedua arus pemikiran di atas pada akhirnya melahirkan dua bentuk kecenderungan yang antagonistis dalam pengelolaan sebuah negara, terutama pasca penjajahan dan setelah
13Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme Hingga Post
berdirinya negara-negara nasional di dunia Islam. Dua kecenderungan itu ialah kecenderungan sekularistik dan kecenderungan religius yang masing-masing pendukungnya oleh sebagian pakar disebut nasionalis sekuler atau aliran substansialis dan nasionalis religius atau aliran skripturalis religius. 3. Relevansi Negara Islam Untuk Konteks Keindonesiaan
Dari latar belakang sejarah, dapat diketahui bahwa secara konstitusional maupun inkonstitusional telah ada upaya-upaya yang dilakukan oleh sebagian umat Islam Indonesia untuk mendirikan negara Islam dengan penegas syari’at Islam dengan menjadikannya sebagai hukum positif dalam sidang BPUPKI 1945 terjadi perdebatan yang cukup sengit antara kelompok Islam dan kelompok nasionalis sekuler tentang dasar dan filsafah bagi negara yang akan merdeka.sebagian anggota menghendaki agar negara Indonesia nantinya berdasarkan Islam dengan implikasi pemberlakuan syari’at Islam. Sebagian yang lain justru mengijinkan bentuk negara sekuler. Pada akhir perdebatan yang cukup panjang tersebut dicapai titik temu yang bersifat kompromistis yang kemudian di tuangkan dalam piagam Jakarta (Jakarta Charter) pada tanggal 22 Juni 1945.
Dalam piagam Jakarta, Pancasila diakui sebagai dasar negara dengan penambahan tujuh kata yang berbunyi: ”dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya”, walaupun dalam kenyataannya pada pertemuan mendadak yang diadakan pada tanggal 18 Agustus 1945, ketujuh kata tersebut disepakati untuk dihapuskan. Dengan demikian, perjuangan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam yang memberlakukan syari’at Islam bagi pemeluknya menjadi kandas.
Menjelang pemilu tahun 1955, isu negara dan pemberlakuan syari’at Islam kembali muncul bahkan partai-partai politik yang berbasis Islam hasil pemilu 1955 yang ada di perkenan (kurang lebih memiliki suara 45%), berusaha untuk merubah pembukaan UUD’45 dengan memasukkan kembali piagam Jakarta. Lagi-lagi upaya dan perjuangan mereka mengalami hambatan, karena suara pendukung tidak mencapai dua pertiga dari keseluruhan anggota parlemen sesuai dengan ketentuan UUDS 1950.
Di samping upaya konstitusional telah dilakukan juga upaya-upaya inkonstitusional untuk mendirikan negara Islam. Gerakan-gerakan yang berlatarbelakang kekerasan ternyata banyak juga ditempuh, dan cara ini telah beberapa kali dilakukan oleh kelompok-kelompok muslim tertentu untuk mendirikan negara Islam yang mengimplikasikan syari’at. Kelompok-kelompok ini berjuang untuk mencapai tujuannya dengan
melakukan pemberontakan dan perlawanan bersenjata terhadap pemerintah Indonesia.
Berbagai pemberontakan atau gerakan tersebut, antara lain: a. Gerakan darul Islam /Negara Islam Indonesia (DI/NII)
Gerakan Darul Islam (DI)Dipimpin oleh Sukaermaji Marijan Kartosuwiryo dengan memproklamirkan negara Islam Indonesia (NII) pada tanggal 7 1945 di desa Gisampang Jawa Barat. Dalam pasal 1 dan 2 konstitusi NII tersebut dinyatakan bahwa negara menjamin berlakunya syariat Islam bagi masyarakat Islam dengan menjamin keberadaan beribadah bagi pemeluk agama-agama lain. Islam dinyatakan sebagai landasan dan dasar hukum NII dan berpegang teguh pada al-Qur'an
dengan hadits sebagai kekuasan tertinggi.14
Secara substansial, ketentuan dalam konstitusi NII banyak kemiripan dengan Undang-undang Dasar 1945 walaupun dalam berbagai istilah tertentu terdapat perbedaan. Dalam kontek jabatan-jabatan penting dengan strategis terdapat klausul yang sangat diskriminatif dan bertolak belakang dengan Undang-undang Dasar 1945, seperti klausul yang terdapat dalam pasal 28 yang berbunyi: “Jabatan-jabatan penting dan kedudukan-kedudukan yang penting bertanggungjawab di dalam pemerintahan, baik sipil maupun militer hanya diberikan kepada Emerat Islam, sementara pasal 31 menekankan pendidikan Islam sebagai sistem
pendidilan nasiomal.15
Pada mulanya, gerakan NII berkembang dan menyebar di beberapa daerah, seperti Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Aceh bahkan ke sebagian Nusa Tenggara, Maluku dan Halmahera. Namun pada awal tahun 1960-an, TNI berhasil menumpas berbagai gerakan bersenjata seperti DI/NII,dan puncaknya terjadi pada tanggal 1962 setelah Kartosuwiryo ditembak mati.
b. Komando Jihad
Pada penghujung tahun 1980-an dan awal 80-an terjadi sejumlah aksi kekerasan yang kemudian dikaitkan dengan suatu kelompok yang lebih dikenal dengan Komando Jihad. Kelompok ini dipimpin oleh Warman. Gerakan ini bertujuan membentuk Dewan Revolusi Islam Indonesia. Dalam jangka panjang, gol print gerakan ini adalah akan membentuk negara Islam Indonesia yang diikuti dengan mengganti pancasila dengan UUD’45 sebagai dasar dan konstitusi Negara.sedangkan
dalam jangka pendek komando Jihad bertujuan menghapus komunisme.16
14 Taufik Adnan Amal dan Syamsurizal, Pengembangan Politik Syariat Islam, (Jakarta:
Alvabet Politik, 2004), p. 65.
15 Van Dijk, Darul Islam: Sebagai Pemberontakan, (Jakarta: Grabiti Pres, 1983), p. 86. 16 Taufik Adnan Amal, Pengembangan, p. 68.
Dengan demikian, Komando Jihad sesungguh nya lebih banyak kemiripan atau merupakan kelanjutan dari DI/NII sebelumnya.
Menurut sejumlah sumber, munculnya gerakan Komando Jihad sesungguhnya merupakan rekayasa Ali Murtopo (pemerintah Orde Baru) dalam upaya menggembosi suara partai-partai Islam pada pemilu 1977. Setelah ide Ali Murtopo direspon oleh sejumlah tokoh, maka pemerintah melakukan penangkapan-penangkapan terhadap 185 orang yang dituduh terlibat dalam Komando jihad yang dianggap memperjuangkan negara Islam Indonesia sebagaimana dicita-citakan oleh Kartosuwiryo.
Namun demikian, setelah gerakan ini melakukan berbagai aksi kekerasan seperti pembunuhan, perampokan, dan lain-lain, maka pada tahun 1981 Komando Jihad kelompok Warman ini berhasil dihancurkan setelah Warman sendiri mati tertembak petugas pada tanggal 23 Juli 1981 di Serang Jawa Barat.
Selain dua gerakan revolusioner yang disebutkan di atas, sesungguhnya masih banyak lagi gerakan-gerakan lain yang memiliki tujuan dan orientasi yang sama terutama dalam konteks upaya mendirikan negara Islam dan pemegang syari’at Islam di Indonesia/seperti Jema’ah Imran dan gerakan-gerakan radikal yang lain, walaupun tidak semua gerakan mereka yang menempuh jalan kekerasan dan pemberontakan terhadap pemerintah. Akan tetapi satu hal yang sulit dipungkiri bahwa hampir seluruh gerakan dan perjuangan mereka kandas di tengah jalan dan berhasil ditumpas oleh pemerintah. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal:
1. Bahwa negara Indonesia bukan negara agama (religiousstate), tetapi negara
kebangsaan (nation-state), sehingga status ini merupakan harga mati yang tak mungkin untuk dirubah, kendatipun umat Islam merupakan kelompok mayoritas.
2. Bahwa tingkat pemahaman keagamaan umat Islam Indonesia sangat
bervariasi, ada yang memahami secara tradisional (tekstualis), moderat (kontekstual) dan ada pula pemahamannya secara ekstrim dan kaku dan sebagai implikasinya tidak semua gerakan termasuk gerakan mendirikan negara Islam direspon dan didukung oleh mayoritas umat Islam.
Di samping itu, dalam kenyataannya negara Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk yang sangat heterogen, baik dari sisi agama, ras, adat istiadat maupun budaya. Secara konstitusional, setiap warga negara memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sama, dan secara yuridis formal memiliki perlakuan yang sama di muka hukum. Heteroginitas dan kemajemukan ini pula yang membuat kenyataan bahwa Indonesia bukan negara agama (religious state) tetapi negara kebangsaan (nation state), yang oleh karenanya para founding fathers negara menjadikan Pancasila serta Undang-undang Dasar 1945 sebagai falsafah dan dasar
negara Republik Indonesia. Atas dasar ini, maka konsepsi negara Islam menurut hemat penulis kurang pas, dan bahkan tidak relevan untuk konteks keindonesiaan.
Selain itu, konsepsi negara Islam yang ditawarkan oleh para pemikir politik Islam semacam al-Maududi dan kawan-kawan tampaknya sangat normatif, ideologis dan formalistis, sehingga pada tataran aplikasinya sangat sulit untuk diwujudkan, dan tidak mustahil akan menimbulkan problem-problem politis, ketegangan-ketegangan keberagamaan serta konflik-konflik berkepanjangan, baik intern maupun antarumat beragama. Setiap komunitas muslim tentu saja menginginkan agar syari’at Islam dapat berlaku dalam negara di mana mereka berada, dan berkeinginan agar hukum Islam dapat mewarnai keputusan-keputusan politik. Akan tetapi, untuk merealisasikan keinginan dan harapan tersebut, menurut penulis, tidak harus menggunakan konsep negara Islam, atau secara formal memberi label negara dengan label Islam. Membangun tatanan masyarakat Islam yang secara konsisten melaksanakan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan, menurut penulis, merupakan langkah konkret dalam upaya mewujudkan keinginan dan harapan di atas.
Di satu sisi, konsepsi negara Islam memang harus diakui sebagai cerminan dari bentuk sebuah negara ideal di dalam Islam yang sangat ideologis dan formalis. Tetapi di sisi lain tampaknya memiliki kelemahan-kelemahan, di mana secara doktriner memiliki kecenderungan eksklusif terutama dalam konteks merespon arus modernisasi. Sebagai contoh, di dalam konsep negara Islam, ditemukan doktrin yang menyatakan bahwa nilai dan tradisi yang benar hanyalah yang berasal dari Islam, semua nilai dan tradisi yang bukan dari Islam adalah sesat dan harus ditolak, bahkan bila perlu penolakannya melalui proses kekerasan. Doktrin lain yang cenderung eksklusif adalah pandangan bahwa kebudayaan Barat merupakan musuh Islam, dan orang-orang yang terpengaruh dengan pemikiran Barat dianggap berbahaya.
Dua contoh kongkrit konsepsi negara Islam di atas lebih bersifat apologistis dan pemaksaan terhadap klaim kebenaran, sehingga sulit mengakomodir hal-hal yang berasal dari luar Islam atau sama sulitnya menerima pemikiran-pemikiran orang lain. Implikasinya sering terjadi sikap reaktif yang terlalu berlebihan dan bahkan memvonis sesat atau kufur terhadap kelompok lain yang tidak sependapat. Upaya filterisasi terhadap nilai-nilai dan tradisi yang berasal dari luar Islam mutlak harus dilakukan, terutama nilai-nilai negatif yang akan membahayakan eksistensi Islam. Tetapi tidak berarti bahwa semua nilai, tradisi dan budaya yang berasal dari luar Islam harus ditolak, sebab pada dasarnya semua yang baik itu adalah Islam.
Daftar Pustaka
Alamsyah, Politik Hukum Islam; Wacana dan Penerapan Syariat Islam di Indonesia, Lampung: Fakta Press IAIN Raden Intan Lampung, 2009. al-Baqi, Muhammad Fuad Abd., Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Qur’an,
Mesir: Dari al-Fikr li al-Thiba’ah wa al-Nasyr, 1981.
Amal, Taufik Adnan dan Syamsurizal Panggabean, Politik Syari’at Islam, Jakarta: Alfabet Politik, 2004.
Azra, Azyumardi, Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme Hingga Post Modernisme, Bandung: Mizan, 1996.
Basyir, Ahmad Azhar, Negara dan Pemerintahan, Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia, 1984.
Budiardjo, Meriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991.
Dijk, van, Darul Islam: Sebuah Pemberontakan, Jakarta: Grafiti Press, 1983. Ma’arif, Syafi’i, Islam dan Masalah Kenegaraan, Jakarta: LP3ES, 1987.
Nasution, Harun dan Azyumardi Azra, Perkembangan Modern Dalam Islam, Jakarta: Yayasan Obor, 1985.
Salim, Arskal, "Penerapan Syariat Islam Bukan Negara Islam", www.google.com, tgl. 24 Maret 2002.
Sjadzali, Munawir, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, Jakarta: UI Press, 1993.