SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Fisika

127  Download (0)

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI, MOTIVASI BERPRESTASI, DAN PARTISIPASI AKTIF SISWA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

DENGAN PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KELAS IX SMP STELLA DUCE II YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

Oleh:

Maria Tri Rahayu Sulistyawati NIM: 041424016

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

i

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI, MOTIVASI BERPRESTASI, DAN PARTISIPASI AKTIF SISWA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

DENGAN PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KELAS IX SMP STELLA DUCE 2 YOGYAKARTA

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Memperoleh gelar sarjana pendidikan

Program studi pendidikan fisika

Oleh:

Maria Tri Rahayu Sulistyawati NIM: 041424016

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

“Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai;

kasih dan kemuliaan Ia berikan;

Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.”

Mazmur 84:12

”Jangan menganggap tugas belajarmu sebagai kewajiban, melainkan

pandanglah itu sebagai sebuah kesempatan untuk menikmati betapa indahnya

dunia ilmu pengetahuan, kepuasan hati yang diberikannya serta manfaat yang

akan diterima oleh masyarakat apabila jerih payahmu berhasil.”

Albert Einstein

“Barangsiapa yang tidak pernah melakukan kesalahan, maka dia tidak pernah

mencoba sesuatu yang baru.”

Albert Einstein

Skripsi ini kupersembahkan untuk : Tuhan Yesus Kristus Dan Bunda Maria Bapak Petrus Suprapto Ibu Theresia Sumarsih Ignasius Primandaru Edi Kurniawan Benediktus Indriawan Heri Prasetyo

(6)

v

ABSTRAK

Sulistyawati, Maria Tri Rahayu. 2009. Hubungan Konsep Diri, Motivasi Berprestasi, dan Partisipasi Aktif Siswa dalam Proses Belajar Mengajar Dengan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas IX SMP Stella Duce 2 Yogyakarta. Program Studi Pendidikan Fisika. Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sanata Dharma.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) apakah ada hubungan konsep diri dengan hasil belajar siswa dalam ranah kognitif; (2) apakah ada hubungan motivasi dengan hasil belajar siswa dalam ranah kognitif; (3) apakah ada hubungan partisipasi aktif siswa dalam proses belajar mengajar dengan hasil belajar siswa dalam ranah kognitif. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Stella Duce 2 Yogyakarta, pada bulan November 2008. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX Tanjung dan siswa kelas IX Nagasari SMP Stella Duce 2 Yogyakarta yang semuanya berjumlah 68 siswa. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan beberapa siswa untuk mengetahui lebih lanjut hubungan partisipasi aktif siswa dan motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa yang diperoleh melalui tanya-jawab langsung dari siswa. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis Korelasi Product Moment Pearson dengan taraf signifikansi 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada hubungan konsep diri dengan hasil belajar siswa dalam ranah kognitif dengan r = 0,677; (2) ada hubungan motivasi dengan hasil belajar siswa dalam ranah kognitif dengan r = 0,760; (3) ada hubungan partisipasi aktif siswa dalam proses belajar mengajar dengan hasil belajar siswa dalam ranah kognitif dengan r = 0,788.

(7)

vi

ABSTRACT

Sulistyawati, Maria Tri Rahayu. 2009. The relationship of self concept, achievement motivation, and students’active participation in teaching-learning process; with achievement in teaching-learning physics of SMP Stella Duce 2 Yogyakarta grade IX students. Physics Education Study Program. Department of Mathematics and Science Education. Faculty of Teachers Training and Education. Sanata Dharma University Yogyakarta.

The purposes of this research to find out: (1) whether self concept has relationship with students’ learning result in cognitive knowledge; (2) whether motivation has relationship with students’ learning result in cognitive knowledge; (3) whether students’ active participation in the teaching-learning process has relationship with students’ learning result in cognitive knowledge. This research was conducted in SMP Stella Duce 2 Yogyakarta on November 2008. The subjects of this research were the students of grade IX Tanjung and the students of grade IX Nagasari of SMP Stella Duce 2 Yogyakarta. They were 68 students. Data was collected using questionnaire, observation, documentation, and interview with some students to know in advance about the relationship of students’ active participation and students’ learning motivation with students’ learning result which was gained through direct interview with the students. Research data was analyzed using Product Moment Pearson correlation analysis with significance level 5%.

The research result show that: (1) self concept has relationship with students’ learning result in cognitive knowledge with r = 0,677; (2) motivation has relationship with students’ learning result in cognitive knowledge with r = 0,760; (3) students’ active participation in the teaching-learning process has relationship with students’ learning result in cognitive knowledge with r = 0,788.

(8)

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang selalu menyertai dan

membimbing saya dalam menyelesaikan skripsi ini dari awal sampai akhir

penyusunan skripsi yang berjudul ”Hubungan Antara Konsep Diri, Motivasi

Berprestasi, dan Partisipasi Aktif Siswa dalam Proses Belajar Mengajar dengan

Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas IX SMP Stella Duce 2 Yogyakarta”.

Tidak lupa juga saya ucapkan terima kasih kepada pihak lain yang telah

mendukung dan membantu saya dalam penyusunan skripsi ini. Rasa terima kasih

ini saya ucapkan kepada:

1. Bapak Drs. Domi Severinus, M.Si, selaku Ketua Jurusan Pendidikan

Fisika dan sekaligus sebagai dosen pembimbing skripsi yang selalu

membantu dan membimbing dalam penyelesaian skripsi.

2. Drs. Fr.Y. Kartika Budi, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing Akademik.

3. Seluruh Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendididkan Fisika

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah memberikan

dukungan dan bimbingannya

4. Bapak Sunarjo, Bapak Sugeng, dan Ibu Heni selaku staf sekretariat

JPMIPA yang telah membantu selama proses perkuliahan dan

kelancaran dalam menyelesaiakan skripsi.

5. Ibu Kepala Sekolah SMP Stella Duce 2 Yogyakarta yang sudah

(9)

viii

Parno, S.Pd.Si guru fisika SMP Stella Duce 2 Yogyakarta yang telah

mendukung dan memberikan nasihat dalam melakukan penelitian.

6. Ayah dan ibu yang selalu memberikan semangat, sehingga tidak ada

kata putus asa untuk terus mencoba yang terbaik .

7. Saudaraku, Ig. Primandaru dan Benediktus Indriawan yang selalu

mendukung dalam doa dan memberi semangat untuk segera

menyelesaikan skripsi

8. Buat teman spesialku, Yohanes Nova Probo Wicaksono. Terima kasih

selama ini selalu memberiku semangat dan membuat aku menjadi

seseorang yang lebih dewasa.

9. Temanku Fitri Wulansih, yang selalu menemaniku dalam melakukan

penelitian

10. Buat temen kos (Aster, Iken, Retno, Rina, dan Cristin),

temen-temenku Pendidikan Fisika angkatan 2004 khususnya (Made, Heti,

Dina, Sisca, Wiwi, Woro, Tia, Meta, Ita, Wil, Budi, Bene, Teguh,

Andri, Deny, Fredy, Ion, Yosep, Silvester) dan temen-temenku yang

lain khususnya (Hani, Novi, Mery, Yovita, Intan, Endah, Pandu, Adi

Nugroho, Yanuarius, Dedi, Arnanto, Yoyok) yang selalu membuatku

tersenyum.

11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima

kasih banyak atas bantuan dan dukungannya.

(10)

ix

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II DASAR TEORI ... 6

A. Hakikat Fisika ... 6

B. Konsep Diri ... 7

1. Pengertian Konsep Diri ... 7

(11)

x

3. Konsep Diri Negatif dan Konsep Diri Positif ... 9

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri ... 11

C. Motivasi Berprestasi ... 13

1. Pengertian Motivasi Belajar ... 13

2. Jenis Motivasi Belajar ... 15

3. Fungsi Motivasi Belajar ... 16

4. Ciri-ciri motivasi Belajar Tinggi ... 16

D. Partisipasi Aktif Siswa Dalam Proses Belajar Mengajar Fisika ... 18

1. Pengertian Partisipasi Aktif Siswa ... 18

2. Ciri-ciri Partisipasi Aktif Siswa dalam Proses Belajar Mengajar .. 19

E. Prestasi Belajar Fisika ... 20

1. Pengertian Belajar ... 20

2. Pengertian Prestasi Belajar... 21

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ... 22

F. Kerangka Berpikir ... 25

1. Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Prestasi Belajar Fisika .... 25

2. Hubungan Antara Motivasi Berprestasi dengan Prestasi Belajar Fisika ... 26

3. Hubungan Antara Partisipasi Aktif Siswa Dalam Proses Belajar Mengajar Fisika Dengan Prestasi Belajar Fisika ... 27

G. Pengajuan Hipotesis ... 28

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 29

(12)

xi

B. Definisi Operasional Variabel ... 29

C. Design Penelitian ... 31

D. Lokasi dan Waktu Penelitian ……... 32

E. Subyek Penelitian ... 32

F. Metode Pengumpulan Data ……….. ... 32

G. Instrument Penelitian ... 34

H. Validitas Instrumen ... 36

I. Metode Analisis Data ... 37

BAB IV DATA DAN ANALISIS DATA ... 42

A. Pelaksanaan Penelitian ... 42 B. Hasil Penelitian ... 43 C. Analisis Data ... 55 BAB V PENUTUP ... 61 A. Kesimpulan ... 62 B. Saran ... 63 DAFTAR PUSTAKA ... 65

(13)

xii

DAFTAR TABEL

Halaman

TABEL 3.1. Sebaran Butir Pernyataan Konsep Diri ... 35

TABEL 3.2. Sebaran Butir Pernyataan Motivasi Berprestasi ... 35

TABEL 3.3. Aspek yang Diamati dalam Observasi dan Pengelompokannya 36 TABEL 3.4. Penyekoran untuk Setiap Butir Pernyataan Positif dan Negatif 38

TABEL 3.5. Penyekoran Konsep Diri dan Motivasi Belajar pada Siswa... 38

TABEL 3.6. Skor Terakhir dari Konsep Diri, Motivasi Belajar Siswa, dan Hasil Prestasi Belajar Masing-masing Siswa ... 39

TABEL 3.7. Kualifikasi Konsep Diri dan Kualifikasi Motivasi Belajar ... 39

TABEL 3.8. Penyekoran Partisipasi Aktif Siswa ... 39

TABEL 3.9. Skor Partisipasi Aktif Siswa untuk 4 kali Pengamatan ... 40

TABEL 4.1. Prestasi Belajar Siswa ... 43

TABEL 4.2. Skor Konsep Diri ... 45

TABEL 4.3. Skor Motivasi Berprestasi ... 47

TABEL 4.4. Skor Partisipasi Aktif Sisa ... 49

TABEL 4.5. Korelasi Konsep Diri dengan Prestasi Belajar Fisika ... 56

TABEL 4.6. Korelasi Motivasi Berprestasi dengan Prestasi Belajar Fisika . 57 TABEL 4.7. Korelasi Partisipasi Aktif dengan Prestasi Belajar Fisika ... 58

(14)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

LAMPIRAN 1. Surat Ijin Penelitian ... 66

LAMPIRAN 2. Surat Keterangan ... 67

LAMPIRAN 3. Kuesioner Konsep Diri... 68

LAMPIRAN 4. Kuesioner Motivasi Berprestasi ... 70

LAMPIRAN 5. Lembar Observasi Aktivitas Siswa ... 73

LAMPIRAN 6. Lembar Wawancara ... 74

LAMPIRAN 7. Data Hasil Belajar Siswa ... 75

LAMPIRAN 8. Tabel Penyekoran Konsep Diri ... 83

LAMPIRAN 9. Tabel Penyekoran Motivasi Belajar ... 89

LAMPIRAN 10. Lembar Partisipasi Akktif Siswa ... 95

LAMPIRAN 11. Data Hasil Penelitian ... 100

LAMPIRAN 12. Hasil Uji Korelasi dengan Program SPSS 16 ... 102

(15)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kemerosotan kualitas pendidikan nasional adalah persoalan serius

bangsa yang menjadi salah satu penyebab dari krisis multidimensi yang

berkepanjangan bagi warga bangsa Indonesia. Kualitas pendidikan di

Indonesia masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara-negara

lainnya.

Pendidikan merupakan upaya mempersiapkan dan mencetak SDM

yang berkualitas. Oleh karena itu pendidikan mempunyai peranan yang

penting dalam meningkatkan kualitas SDM di Indonesia.

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa masih rendahnya prestasi

belajar siswa Indonesia. Prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan siswa

dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk

skor yang diperoleh dari hasil tes sejumlah materi pelajaran tertentu.

Untuk mencapai prestasi belajar yang diinginkan dipengaruhi oleh

karakteristik-karakteristik psikologis pada diri siswa.

Karakteristik-karakteristik psikologis pada diri siswa yang mempengaruhi kualitas dan

kuantitas belajar dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: 1)

karakteristik-karakteristik kognitif (seperti kognitif, kemampuan intelektual, kreativitas dan

sebagainya), dan 2) karakteristik-karakteristik afektif (seperti motivasi, minat,

(16)

Fisika termasuk mata pelajaran yang “ditakuti” di kalangan siswa.

Banyak teori, rumus dengan segala perhitungan dan kegiatan dalam

mempelajari fisika sering membuat siswa menyerah di tengah jalan dan tidak

berminat menekuninya. Hal itu mengakibatkan hasil belajar siswa untuk mata

pelajaran fisika relatif rendah dibanding mata pelajaran lain.

Di dalam mempelajari mata pelajaran fisika diperlukan adanya

dorongan dari dalam diri individu yang sedang belajar, dorongan dari dalam

inilah yang disebut motif. Dengan demikian, pelajaran fisika akan berhasil

mencapai sasarannya jika siswanya mempunyai motivasi belajar yang tinggi.

Dengan kata lain, hasil belajar fisika seseorang ditentukan pula oleh motivasi

di dalam belajar fisika itu. Bila anak mempunyai motivasi yang cukup tinggi

untuk belajar maka ia akan berusaha agar dapat belajar dengan

sebaik-baiknya sehingga dapat dibayangkan bahwa hasil belajarnya akan baik pula.

Motivasi beprestasi merupakan dorongan untuk maju, dorongan untuk

selalu memperbaiki prestasi yang telah dicapai sehingga akhirnya akan

diperoleh prestasi yang optimal. Siswa yang memiliki motivasi yang tinggi

dalam belajar fisika, ia akan selalu terdorong untuk berusaha dengan berbagai

cara untuk mendapatkan nilai yang tinggi, baik melalui belajar sendiri,

bertanya atau pun berdiskusi dengan teman, guru maupun belajar dari

literature yang dapat menyebabkan prestasi belajar fisikanya lebih baik.

Untuk mempelajari fisika dengan baik juga diperlukan keterampilan

dan ketelitian dari siswa. Hal ini berarti partisipasi aktif atau keterlibatan

(17)

mengerjakan soal-soal, bertanya terhadap hal-hal yang belum jelas, menjawab

pertanyaan guru, diskusi dan lain sebagainya. Usman (1995:23) melukiskan

kadar keaktifan siswa itu dalam interaksi diantara siswa dengan guru dan

siswa dengan siswa lainnya. Apabila kita perhatikan suasana kelas pada waktu

terjadi kegiatan instruksional, akan tampak komunikasi yang beraneka ragam.

Komunikasi tersebut dibangun oleh guru bersama dengan para siswa dalam

rangka mewujudkan pola pembelajaran yang interaktif atau interaksi

instruksional dan tidak didominasi oleh guru.

Di dalam penelitian ini, konsep diri juga dilibatkan karena konsep diri

merupakan salah satu faktor dalam diri siswa yang mempengaruhi prsetasi

akademik siswa. Konsep diri merupakan harapan dan penilaian tentang

perilaku seseorang. Harapan dan penilaian mempengaruhi perilaku seseorang

dalam mencapai tujuan hidupnya serta dalam mencapai tujuan belajarnya

(prestasi akademik). Dengan demikian kemampuan konsep diri tersebut

menjadi penting dan berpengaruh terhadap prestasi akademik.

Berdasarkan uraian di atas dapat diungkapkan bahwa konsep diri,

motivasi berprestasi dan partisipasi aktif siswa dalam proses belajar mengajar

akan berpengaruh dalam meningkatkan prestasi belajar. Oleh karena itu

peneliti tertarik untuk mengetahui lebih dalam lagi berkenaan dengan

hubungan antara konsep diri, motivasi berprestasi dan partisipasi aktif siswa

(18)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat disusun rumusan

masalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah hubungan antara konsep diri dengan prestasi belajar siswa?

2. Bagaimanakah hubungan antara motivasi berprestasi dengan prestasi

belajar siswa?

3. Bagaimanakah hubungan antara partisipasi aktif siswa dalam proses

belajar mengajar dengan prestasi belajar siswa?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban dari rumusan

masalah yang telah disebutkan di atas. Dengan demikian tujuan penelitian ini

adalah untuk mengetahui:

1. Hubungan antara konsep diri dengan prestasi belajar siswa

2. Hubungan antara motivasi berprestasi dengan prestasi belajar siswa

3. Hubungan antara partisipasi aktif siswa dalam proses belajar mengajar

(19)

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada

berbagai pihak, antara lain sebagai berikut:

1. Secara praktis

a. Penelitian ini dapat dijadikan dasar bagi guru dalam meningkatkan

kualitas proses belajar mengajar dengan memperhatikan konsep diri

siswa, motivasi berprestasi siswa dan partisipasi aktif siswa dalam

proses belajar mengajar

b. Hasil penelitian bagi siswa adalah agar terbiasa dapat memotivasi diri

dan berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

2. Secara teoritis

a. Memberikan sumbangan pemikiran tentang tentang konsep diri,

motivasi berprestasi dan partisipasi aktif siswa dalam proses belajar

mengajar

b. Penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan kepustakaan dalam

bidang pendidikan, khususnya yang melihat permasalahan yang

berkaitan dengan konsep diri, motivasi berprestasi dan partisipasi aktif

(20)

6

BAB II DASAR TEORI

A. Hakikat Fisika

Fisika merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam atau sains.

Oleh karena itu hakikat yang dimiliki oleh sains dimiliki pula oleh fisika.

Allonso dan Finn menyatakan bahwa ilmu pengetahuan alam adalah ilmu

yang lahir dan berkembang berdasarkan observasi dan eksperimentasi.

Berdasarkan definisi di atas dapat pula dikatakan bahwa ilmu pengetahuan

atau sains adalah merupakan suatu rangkaian konsep yang lahir dan

berkembang berdasarkan hasil pengamatan dan eksperimen.

Fisika merupakan salah satu cabang dari ilmu pengetahuan alam,

maka dapat dikatakan bahwa fisika juga merupakan ilmu yang lahir dan

berkembang berdasarkan pengamatan dan eksperimen. Fisika juga

merupakan ilmu yang lahir dan berkembang lewat langkah-langkah

observasi, perumusan masalah, penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis

lewat eksperimen, penarikan kesimpulan dan penemuan teori atau konsep.

Di dalam fisika, teori dan konsep yang diperoleh dikembangkan

lewat observasi dan eksperimen, sehingga diperoleh penemuan baru. Hasil

penemuan ini berguna untuk observasi dan eksperimen yang lebih lanjut

sehingga menuju ke arah penemuan yang lebih sempurna. Demikian

(21)

Mempelajari fisika tidak dapat hanya mendengar lewat ceramah atau

membaca buku teks saja, tetapi harus disertai dengan keaktifan. Jadi disini

siswa dituntut aktif dan diberi kesempatan untuk ikut serta dalam

diskusi-diskusi, melakukan eksperimen, serta melakukan penelitian guna

memecahkan suatu masalah.

B. Konsep Diri

1. Pengertian Konsep Diri

Setiap individu memiliki pengalaman hidup yang berbeda,

pengalaman hidup sejak lahir sampai dewasa akan membentuk penilaian

individu terhadap dirinya sendiri. Burns (1993:53) merinci konsep diri

sebagai kesan individu terhadap dirinya secara keseluruhan, mencakup

pendapatnya tentang gambaran dirinya di mata orang lain dan pendapatnya

tentang hal-hal yang dicapainya.

Brooks (dalam Jalaluddin Rakhmat, 2007:100) menyatakan bahwa

konsep diri adalah pandangan dan perasaan seseorang tentang dirinya yang

bersifat psikologis, sosial, dan fisik. Persepsi tentang diri ini diperoleh dari

pengalaman dan interaksi dengan orang lain.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri

adalah semua hal yang dipikirkan dan dirasakan seseorang tentang dirinya

yang diperoleh dari hasil observasi terhadap dirinya di masa lalu dan pada

(22)

2. Aspek-aspek Konsep Diri

Menurut Pudjijogyanti (1985:2), konsep diri memiliki dua aspek,

yaitu:

a. Aspek kognitif, yaitu pengetahuan individu mengenai keadaan dirinya

sendiri. Aspek kognitif ini merupakan penjelasan dari pertanyaan “siapa

saya?” dan yang akan memberi gambaran tentang diri sendiri

(self-picture). Gambaran mengenai diri sendiri akan membentuk citra diri

(self image). Aspek kognitif merupakan data yang bersifat objektif,

contohnya saya seorang wanita, muda usia.

b. Aspek afektif, merupakan penilaian individu terhadap diri. Penilaian

tersebut akan membentuk penerimaan terhadap diri (self-acceptance),

serta harga diri (self esteem) individu. Aspek merupakan data yang

bersifat subjektif, contohnya adalah saya puas dan senang dengan

keadaan saya.

Sedangkan Berzonsky (1981) dalam www.aristorahadi.word

press.com menyatakan dalam konsep diri terdapat 4 aspek, yaitu:

1) Aspek fisik, didalamnya meliputi penilaian individu terhadap segala

sesuatu yang dimilikinya secara fisik seperti penampilan diri, kondisi

fisik, dan arti penting tubuhnya dalam hubungan dengan penampilannya

2) Aspek psikis, yang di dalamnya terdapat pikiran, perasaan, dan sikap

yang dimiliki oleh individu terhadap diri sendiri yang ditunjukkan oleh

kemampuan atau kepribadian yang mendukung untuk berhubungan

(23)

3) Aspek sosial, meliputi bagaimana peranan sosial yang dilakukan

individu dan penilaian individu terhadap tindakan tersebut

4) Aspek moral, yang didalamnya meliputi nilai dan prinsip yang memberi

arti serta arah bagi kehidupan seseorang

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa

aspek-aspek konsep diri antara lain aspek-aspek kognitif, aspek-aspek afektif, aspek-aspek sosial,

aspek fisik, aspek psikis, dan aspek moral. Namun demikian, aspek-aspek

konsep diri yang peneliti gunakan untuk pembuatan angket hanyalah

aspek-aspek konsep diri dari Berzonsky, karena aspek-aspek ini lebih luas mengungkap

konsep diri dari pada aspek yang dikemukakan oleh Pudjijogyanti.

3. Konsep Diri Negatif dan Konsep Diri Positif

Konsep diri merupakan pengertian, harapan dan penilaian individu

mengenai dirinya sendiri. Konsep diri meliputi konsep diri negatif dan

konsep diri positif.

a. Konsep diri negatif

Individu yang mempunyai konsep diri negatif umumnya

memiliki sedikit pengetahuan tentang dirinya sendiri. Individu yang

mempunyai konsep diri negatif biasanya ia kurang tahu siapa dirinya,

kekuatannya dan kelemahannya.

Harapan individu yang mempunyai konsep diri negatif tidak

realistis. Bila ia mengalami kegagalan, maka kegagalan ini akan merusak

(24)

Individu yang mempunyai konsep diri negatif akan memberi

penilaian terhadap dirinya juga negatif. Apapun keadaan dirinya, tidak

pernah cukup baik. Apapun yang diperolehnya tampak tidak berharga

dibanding dengan apa yang diperoleh orang lain.

Individu yang mempunyai konsep diri negatif mempunyai

pengertian tidak tepat tentang dirinya, pengharapan yang tidak realistis

dan harga diri yang rendah. Individu ini memandang dirinya tidak punya

potensi dan mempunyai motivasi yang rendah untuk belajar, mudah

cemas dan putus asa, kurang mampu mengaktualisasikan potensinya,

sensitif dan mudah curiga. Individu dengan konsep diri negatif

menganggap suatu keberhasilan diperoleh bukan karena kemampuannya

tapi karena suatu kebetulan atau nasib semata.

b. Konsep diri positif

Individu yang mempunyai konsep diri positif mengenal dirinya

dengan baik. Individu ini dapat menyimpan informasi tentang dirinya

sendiri baik positif atau negatif. Individu dengan konsep diri positif

dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat

bermacam-macam tentang dirinya.

Pengharapan individu yang berkonsep diri positif dirancang

dengan tujuan-tujuan yang sesuai dengan realistis. Artinya memiliki

kemunginan besar untuk dapat mencapai tujuan tersebut. Individu

dengan konsep diri positif dapat tampil ke depan dengan bebas, ia akan

(25)

serta hormat. Individu ini memandang hidup lebih menyenangkan dan

penuh harapan. Individu ini juga dapat menerima dirinya apa adanya dan

juga dapat menerima orang lain apa adanya.

Individu yang mempunyai konsep diri positif, memiliki

pengertian yang luas dan bermacam-macam tentang dirinya,

pengharapan yang realistis dan harga diri yang tinggi.

Kemampuannya dalam berinteraksi dengan lingkungan sangat

bagus. Individu yang berkonsep diri positif sangat menghargai dirinya

dan orang lain, spontan, bebas dan dapat mengantisipasi hal-hal negatif,

bebas mengemukakan pendapat, memiliki motivasi yang tinggi untuk

mencapai prestasi serta mampu mengaktualisasikan potensinya.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

Menurut Burns (1993:25) faktor-faktor yang mempengaruhi

perkembangan konsep diri seseorang adalah:

a. Usia. Adaya perbedaan usia menentukan perbedaan bagaimana

konsep diri akan dibentuk. Hal ini disebabkan karena adanya

perbedaan pengalaman yang diperoleh seseorang sehingga akan

semakin mempengaruhi luasnya wawasan kognitif. Selanjutnya

akan menentukan bagaimana persepsi seseorang terhadap

pengalamannya dan akhirnya turut juga berpengaruh dalam

(26)

b. Peran seksual. Jenis kelamin merupakan penentu untuk menetapkan

apakah individu digolongkan sebagai laki-laki ataukah sebagai

perempuan berdasarkan fakta-fakta biologisnya. Peran seksual akan

mempengaruhi perkembangan konsep diri individu. Itu berarti, peran

seksual yang diterapkan pada seorang anak lambat-laun akan

membentuk konsep diri anak. Misalnya, seorang anak perempuan

tunggal yang mempunyai beberapa saudara laki-laki, dapat

dimungkinkan bahwa lambat laun akan berperilaku seperti layaknya

laki-laki.

c. Keadaan fisik. Keadaan fisik merupakan faktor yang dominan bagi

seseorang, khususnya bagi seorang wanita. Ini disebabkan keadaan

fisik memegang peranan penting dalam pembentukan konsep diri.

Gambaran fisik dipahami melalui pengalaman langsung dan

persepsinya mengenai tubuhnya sendiri. Adanya ketidaksempurnaan

tubuh seseorang, akan mempengaruhi konsep diri secara tidak

langsung. Penilaian yang positif terhadap keadaan fisik seseorang baik

dari diri sendiri maupun dari orang lain sangat membantu

perkembangan konsep diri yang positif.

d. Sikap-sikap orang di lingkungan sekitarnya. Konsep diri ditentukan

oleh interaksi yang terbentuk antara individu dengan lingkungan

sekitarnya. Ini berhubungan dengan feed back atau umpan balik yang

diberikan oleh orang-orang disekitarnya terhadap perilaku individu

(27)

mempengaruhi konsep diri individu. Jika umpan balik yang diberikan

orang-orang di lingkungannya menunjukkan penerimaan maka

individu merasa diterima dan akan membantu perkembangan konsep

diri ke arah positif. Tetapi jika umpan balik yang diberikan oleh

orang-orang di lingkungannya menunjukkan penolakan, individu akan

merasa terabaikan, terasing, merasa rendah diri, dan akan membentuk

konsep diri yang negatif.

e. Figur-firgur bermakna. Banyak figur yang bermakna bagi individu

yang pada intinya memberi pengaruh pada dirinya. Figur-figur tersebut

memberi pengaruh yang sangat terasa dalam pembentukan dan

perkembangan konsep diri. Figur bermakna biasanya orang yang

mempunyai arti khusus bagi individu meliputi orangtua, angota

keluarga, guru, teman, pacar dan tokoh idola.

C. Motivasi Berprestasi

1. Pengertian Motivasi Belajar

Di dalam kaitannya dalam belajar, motivasi merupakan daya

penggerak untuk melakukan belajarnya. Individu yang memiliki motivasi

yang tinggi dalam belajarnya akan berusaha melaksanakan kegiatan

belajarnya tersebut dengan efektif dan efisien. Oleh karena itu, motivasi

belajar harus dipelihara, baik oleh guru maupun oleh siswa itu sendiri.

Sardiman (1996:75) mengatakan bahwa motivasi belajar adalah

(28)

belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang

dikehendaki oleh sub belajar dapat tercapai. Di dalam hal ini, tugas guru

adalah membangkitkan motivasi siswa sehingga ia mau melakukan belajar.

Motivasi dapat timbul dari dalam diri individu dan dapat pula timbul akibat

pengaruh dari luar dirinya.

Pembelajaran yang bermotivasi menuntut kreatifitas guru untuk

berupaya secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan serasa

guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa. Guru

hendaknya berupaya agar siswa memiliki motivasi sendiri yang baik, sehingga

diharapkan timbul kesadaran sendiri dari siswa untuk melakukan kegiatan

belajar.

Kehadiran motivasi dalam belajar merupakan faktor psikis yang dapat

menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar, sehingga

peranan motivasi dalam belajar dapat menimbulkan gairah, minat, senang dan

semangat dalam belajar. Siswa harus mempunyai motivasi untuk mengikuti

kegiatan belajar atau pendidikan yang sedang berlangsung. Apabila

mempunyai motivasi yang kuat, siswa akan menunjukkan minatnya,

aktivitasnya, dan partisipasinya dalam proses belajar-mengajar yang sedang

dilaksanakan.

Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi apabila nilai

ujiannya tidak baik ia akan merasa menyesal dan marah pada dirinya sendiri,

karena seharusnya ia dapat mencapai hasil yang lebih baik. Sedangkan siswa

(29)

hanya untuk menghindari kegagalan, jadi kalau ia mendapat nilai baik berarti

suatu keberuntungan saja. Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi

jika berhasil maka ia akan merasa puas karena keberhasilan tersebut berkat

usahanya bukan karena suatu keberuntungan belaka. Ia tidak akan mudah

putus asa dalam menghadapi kesulitan yang timbul dalam kegiatan belajarnya.

Ia akan berusaha keras untuk mengatasi kesulitan baik lewat belajar sendiri

dan literatur, berdiskusi dengan teman maupun bertanya pada orang yang

dipandang menguasainya.

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa motivasi

berprestasi adalah dorongan yang ada di dalam diri seseorang untuk selalu

sukses, selalu unggul dan terbaik dalam belajar.

2. Jenis Motivasi Belajar

Motivasi ada dua macam yaitu motivasi instrinsik dan motivasi

ekstinsik. Motivasi instrinsik adalah kegiatan bertindak yang disebabkan

pendorong dari dalam diri individu, seperti sikap menerima pelajaran,

mengerjakan tugas pelajaran, mencari sumber belajar lain, dan keinginan

berprestasi.

Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang keberadaannya

karena pengaruh rangsangan dari luar individu, seperti manfaat nilai bagi

siswa, peranan hadiah bagi siswa, serta peranan pujian dari orang tua, guru,

(30)

3. Fungsi Motivasi Belajar

Sardiman (1996:84) mengemukakan fungsi motivasi dalam belajar

adalah sebagai berikut:

a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak/pendorong

usaha untuk pencapaian prestasi.

b. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai.

Sebagai contoh: Seorang siswa yang giat belajar untuk mendapatkan

prestasi yang baik.

c. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan mana yang harus

dikerjakan yang serasa guna mencapai tujuan dengan menyisihkan

perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Contohnya: Seorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan

harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak

akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu/membaca komik,

sebab tidak serasi dengan tujuan.

4. Ciri-ciri Motivasi Belajar Tinggi

Sardiman (1996:83) mengemukakan motivasi yang ada pada setiap

orang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Tekun menghadapi tugas yaitu dapat bekerja terus menerus dalam

(31)

b. Ulet menghadapi kesulitan atau tidak lekas putus asa. Tidak

memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin

(tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapainya);

c. Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah;

d. Lebih senang bekerja mandiri;

e. Cepat bosan pada tugas-tugas rutin (hal-hal mekanis,

berulang-ulang sehingga kurang kreatif);

f. Dapat mempertahankan pendapatnya jika sudah yakin dengan

sesuatu;

g. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini; dan

h. Senang mencari dan memecahkan soal-soal.

Menurut Mc Clelland dalam Moh. As’ad (1987:53) tingkah laku

individu yang didorong oleh kebutuhan berprestasi yang tinggi akan nampak

ciri-ciri sebagai berikut:

a. Berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru dan kreatif.

b. Mencari feed back (umpan balik) tentang perbuatannya

c. Mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatan-perbuatannya.

Berdasarkan uraian ciri-ciri individu yang memiliki motivasi di atas

dapat diambil bahwa aspek-aspek motivasi yang dipakai dalam penelitian

antara lain adalah tanggungjawab pribadi yang besar, menyukai tugas dan

latihan-latihan soal, pantang menyerah, dan bertindak secara inovatif dan

(32)

D. Partisipasi Aktif Siswa dalam Proses Belajar Mengajar Fisika 1. Pengertian Partisipasi Aktif Siswa

Moh. Uzer Usman (1995:23-24) melukiskan kadar keaktifan siswa itu

dalam interaksi diantara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa lainnya.

Apabila kita perhatikan suasana kelas pada waktu terjadi kegiatan

instruksional, akan tampak komunikasi yang beraneka ragam. Komunikasi

tersebut dibangun oleh guru bersama dengan para murid dalam rangka

mewujudkan pola pembelajaran yang interaktif atau interaksi instruksional

dan tidak tidak didominasi oleh guru. Interaksi intsruksional ialah interaksi

yang terjadi antara siswa dengan guru, antara siswa dengan siswa, antara

siswa dengan sumber belajar lainnya yang menghasilkan perubahan pada

aspek-aspek intelektual, keterampilan psikomotorik, interaktif, kognitif, dan

efektif. Hal ini tentu saja bergantung pada keterampilan guru dalam mengelola

interaksi kegiatan belajar mengajar. Penggunaan variasi pola interaksi mutlak

dilakukan oleh guru. Hal ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan kebosanan

siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam jenis pola interaksi ini, terdapat 4 jenis komunikasi atau interaksi

antara guru dan siswa seperti tampak pada Gambar 1.

G G

S S S S S S

Komunikasi satu arah Ada balikkan bagi guru, tidak ada interaksi di antara siswa

(33)

G G

S S

S S S S S

Ada balikkan bagi guru, Interaksi optimal antara guru siswa berinteraksi dengan siswa dan antara siswa dengan siswa lainnya

Gambar 1. Jenis-jenis Interaksi Belajar Mengajar.

Situasi pengajaran atau proses pembelajaran dapat terjadi dalam

berbagai pola komunikasi di atas dan tergantung pada keterampilan guru

untuk menggunakan pola komunikasi yang bagaimana dalam proses

pembelajaran. Untuk melibatkan siswa dalam proses pembelajaran sehingga

siswa berpartisipasi maka guru harus memilih dan menggunakan pola

komunikasi atau pola interaksi banyak arah, yaitu komunikasi terjadi antara

guru dengan siswa atau sebaliknya dan antara siswa dengan siswa lainnya.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa partisipasi

aktif siswa dalam proses belajar mengajar adalah keterlibatan siswa dalam

menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif.

2. Ciri-ciri Partisipasi Aktif Siswa dalam Proses Belajar Mengajar

Menurut Nana Sudjana (1992: 61), keaktifan siswa dalam proses

belajar mengajar dapat dilihat dalam hal :

(34)

b. Terlibat dalam pemecahan masalah dan dalam proses memperdalam

materi pelajaran,

c. Bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami

persoalan yang dihadapinya dan berani mengungkapkan

ide/gagasannya.

d. Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk

pemecahan masalah (berusaha untuk meningkatkan prestasi),

e. Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru,

f. Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya,

g. Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis (tekun

menyelesaikan tugas dan latihan),

h. Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah

diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang

dihadapinya.

E. Prestasi Belajar Fisika 1. Pengertian Belajar

Nana Sudjana (2000:28) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu

proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang.

Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai

bentuk seperti berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan

tingkah lakunya, daya penerimaannya dan lain-lain aspek yang ada pada

(35)

Berdasarkan pendapat tentang belajar tersebut dapat pula

disimpulkan bahwa belajar merupakan perubahan kecakapan yang relatif

menetap dalam tingkah laku yang terjadi dari suatu hasil latihan,

pengalaman dan interaksi dengan lingkungan.

Dari definisi di atas dapat ditarik pengertian bahwa unsur-unsur

pokok dalam belajar adalah:

a. Belajar merupakan suatu kegiatan yang disengaja atau dilakukan

secara sadar. Maksudnya seorang yang belajar akan menyadari

kegiatan yang dilakukan dan menyadari terjadinya perubahan atau

sekurang-kurangnya ia merasakan adanya perubahan dalam

dirinya.

b. Di dalam belajar terdapat perubahan tingkah laku

c. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu. Perubahan yang terjadi

dalam seseorang berlangsung secara berkesinambungan. Satu

perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya

dan akan berguna bagi proses belajar berikutnya

d. Timbul kecakapan-kecakapan baru sebagai hasil dari belajar.

Kecakapan baru itu berupa keterampilan, pengetahuan dan sikap

2. Pengertian Prestasi Belajar.

Prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari

materi pelajaran di sekolah yang kemudian dinyatakan dalam bentuk

(36)

Prestasi belajar berupa nilai akan didapat siswa setelah menjalani

Tes Prestasi Belajar, yang dilaksanakan secara formal, tertib dan

terencana. Nilai Tes Prestasi juga berguna sebagai sarana peningkatan

motivasi belajar. Pengalaman menunjukkan bahwa siswa akan lebih giat

belajar apabila akan diadakan tes.

Kemampuan berprestasi merupakan suatu puncak proses belajar.

Pada tahap ini siswa membuktikan keberhasilan belajar. Siswa

menunjukkan bahwa ia telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau

menstransfer hasil belajar.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Prestasi belajar tidak saja ditentukan oleh satu faktor, tetapi oleh

beberapa faktor yang saling berkaitan

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa menurut Muhibbin

Syah (1995:132) dapat dibedakan menjadi 3 macam :

a. Faktor internal: faktor dari dalam siswa yakni keadaan/kondisi jasmani

dan rohani siswa.

1) Kondisi Jasmani

Kondisi umum jasmani siswa dapat mempengaruhi semangat dan

intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi tubuh yang

lemah dapat menurunkan kualitas kognitif siswa sehingga materi

(37)

2) Kondisi Rohani meliputi :

ƒ Tingkat kecerdasan/inteligensi siswa

Tingkat kecerdasan atau inteligensi (IQ) siswa sangat

menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Semakin tinggi

kemampuan inteligensi siswa maka semakin besar peluangnya

untuk meraih sukses. ƒ Sikap siswa

Sikap siswa yang posistif pada mata pelajaran yang diajarkan

merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa

tersebut. ƒ Bakat siswa

Bakat merupakan kemampuan individu untuk melakukan tugas

tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan

latihan. Bakat dapat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi

belajar siswa. Pemaksaan kehendak terhadap seorang siswa,

dan juga ketidaksadaran siswa terhadap bakatnya sendiri akan

berpengaruh terhadap prestasi belajarnya. ƒ Minat siswa

Minat merupakan kecenderungan dan kegairahan yang tinggi

atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Contohnya,

seorang siswa yang menaruh minat besar terhadap mata

pelajaran fisika, maka dia akan memusatkan perhatiannya lebih

(38)

intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan siswa tadi

untuk belajar lebih giat dan akhirnya mencapai prestasi yang

baik.

ƒ Motivasi siswa

Siswa akan terdorong untuk belajar jika ada motivasi intrinsik

dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik misalnya dorongan

mencapai prestasi dan memiliki pengetahuan dan ketrampilan

untuk masa depan. Sedangkan motivasi ekstrinsik misalnya

karena ada pujian dari guru, hadiah, atau dorongan keharusan

dari orang tua dan guru.

b. Faktor eksternal: faktor dari luar siswa yakni kondisi lingkungan di

sekitar siswa yang meliputi:

1) Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial sekolah, keluarga, dan masyarakat sekitar dapat

mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Lingkungan sosial

yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua

dan keluarga siswa itu sendiri. Contohnya kebiasaan yang

diterapkan orangtua siswa dalam mengelola keluarga yang keliru,

seperti kelalaian orangtua dalam memonitor anak, akan

menimbulkan dampak yang buruk sehingga anak tidak mau

(39)

2) Lingkungan Non Sosial

Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non sosial adalah gedung

sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal dan letaknya, alat-alat

belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.

Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan

belajar siswa. Contohnya kondisi rumah yang sempit dan

berantakan serta pada perkampungan yang padat akan berpengaruh

buruk pada kegiatan belajar siswa.

c. Faktor pendekatan belajar (approach to learning) yakni jenis upaya

belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa

untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.

F. Kerangka-Berpikir

1. Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Prestasi Belajar Fisika

Konsep diri dapat diartikan bagaimana seseorang menggambarkan

dirinya dan bagaimana seseorang memandang dirinya. Bagaimana

seseorang memandang dirinya, menilai dirinya dan mempengaruhi sikap

dan perilakunya dalam belajar akan dapat mempengaruhi prestasi belajar

yang ia capai. Jika seseorang memandang dirinya mampu mengerjakan

tugas-tugas fisika yang diberikan guru, maka ia tidak akan ragu-ragu

dalam mengerjakan soal-soal tersebut. Mereka selalu berusaha dengan

segala kemampuannya untuk dapat mengerjakan soal yang diberikan guru

(40)

me-ngerjakan soal-soal fisika yang diberikan guru dalam ujian mereka selalu

mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan merasa optimis bahwa

soal-soal fisika itu dapat dikerjakan sehingga akhirnya mencapai hasil/prestasi

belajar fisika yang baik.

Seseorang yang mempunyai konsep diri tinggi dan positif ia akan

memiliki sikap positif juga terhadap teman-temannya dan pelajarannya.

Dengan demikian mereka tidak akan mengalami kesulitan dalam

menerima dan melakukan kegiatan belajar. Siswa yang konsep dirinya

tinggi dan positif mereka akan dapat mencapai prestasi belajar yang baik.

Atas dasar pemikiran tersebut di atas akhirnya dapat dinyatakan bahwa

konsep diri memiliki hubungan yang kuat dengan prestasi belajar yang

dalam hal ini adalah prestasi belajar fisika.

2. Hubungan Antara Motivasi Berprestasi dengan Prestasi Belajar Fisika

Motivasi berprestasi adalah salah satu bentuk dari motivasi yang berasal

dari dalam diri individu. Sehingga dalam kegiatan belajar mengajar khususnya

kegiatan belajar mengajar fisika motivasi berprestasi mempunyai peranan

yang sangat menentukan. Kegiatan belajar mengajar akan berhasil guna dan

bermakna bagi pelajar apabila individu yang sedang belajar tersebut terdorong

untuk belajar yang giat/tekun. Sehingga dengan belajar yang lebih giat

diharapkan dapat mencapai prestasi belajar yang optimal.

Apabila seorang siswa mempunyai motivasi berprestasi tinggi maka

(41)

mencapai prestasi belajar fisika yang paling tinggi. Mereka akan mengikuti

pelajaran dengan tekun dan rajin, membaca pelajaran yang lebih efektif,

menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya, selalu membaca buku-buku lain

yang menunjang atau berhubungan dengan fisika, apabila mengalami

kesulitan dalam belajar selalu menanyakan kepada temannya atau kepada

siapa saja yang dianggap lebih tahu.

Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi mempunyai harapan

yang tinggi untuk sukses serta tidak takut kepada kemungkinan kegagalan.

Bila mereka mencapai tujuan yang diinginkan, mereka merasa puas karena hal

itu dicapai berkat usahanya.

3. Hubungan Antara Partisipasi Aktif Siswa Dalam Proses Belajar Mengajar Fisika Dengan Prestasi Belajar Fisika

Dalam proses belajar mengajar yang menekankan adanya peran aktif

siswa, guru sebagai pengajar harus dapat memberikan suasana yang kondusif

yaitu membantu dan mendorong siswa ke arah pencapaian tujuan yang

diinginkan. Jadi seorang guru sebagai pengajar dalam proses belajar mengajar

harus dapat menimbulkan aktifitas dan kreatifitas pada siswa. Di samping itu,

guru hendaknya dapat merangsang timbulnya perhatian pada siswa.

Fisika adalah cabang ilmu pengetahuan alam yang mana dalam

mempelajari fisika tidak cukup hanya dengan menghafal saja, melainkan

harus disertai dengan praktek yang membutuhkan keterampilan dan

(42)

dalam proses belajar mengajar fisika dituntut adanya keterlibatan fisik dan

psikis siswa, berarti bahwa partisipasi aktif siswa dalam proses belajar

mengajar akan berpengaruh dalam pencapaian hasil belajar fisika bagi siswa.

Semakin banyak keikutsertaan siswa baik fisik maupun mental dalam

kegiatan belajar mengajar fisika, maka siswa tersebut akan memperoleh

pengalaman langsung sehingga mereka lebih menghayati bahan pelajaran

secara lebih mendalam dan tahan lama dalam ingatan.

G. Pengajuan Hipotesis

Berdasarkan uraian pada permasalahan dan kajian pustaka yang telah

diuraikan di atas dapat diajukan beberapa hipotesis yaitu:

1. Ada hubungan yang positif dan signifikan antara konsep diri dengan

prestasi belajar fisika.

2. Ada hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi berprestasi

dengan prestasi belajar fisika.

3. Ada hubungan yang positif dan signifikan partisipasi aktif siswa dalam

(43)

29

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif (mengukur apa yang ada pada subyek penelitian tanpa melakukan treatmen) dan kuantitatif dengan model korelasional. Penelitian korelasional bertujuan untuk menyelidiki sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada satu variabel lainnya. Permasalahan yang akan diselidiki dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan positif antara konsep diri, motivasi berprestasi dan partisipasi aktif siswa dalam proses belajar mengajar dengan prestasi belajar fisika.

B. Definisi Operasional Variabel

1. Konsep Diri

Konsep diri adalah semua hal yang dipikirkan dan dirasakan seseorang tentang dirinya yang diperoleh dari hasil observasi terhadap dirinya di masa lalu dan pada saat sekarang serta hasil interaksi dengan orang lain yang meliputi aspek kognitif, aspek afektif, aspek sosial, aspek fisik, aspek psikis, dan aspek moral. Konsep diri pada penelitian ini direfleksikan melalui pemberian angket pada siswa.

(44)

2. Motivasi Berprestasi

Motivasi berprestasi adalah dorongan yang ada di dalam diri seseorang untuk selalu sukses, selalu unggul dan terbaik dalam belajar sehingga menimbulkan gairah, minat, rasa senang, dan semangat dalam belajar.

Motivasi berprestasi pada penelitian ini direfleksikan melalui pemberian angket pada siswa.

3. Partisipasi Aktif Siswa

Partisipasi aktif siswa dalam proses belajar mengajar adalah keterlibatan siswa dalam menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif dimana siswa tidak tinggal diam hanya menunggu dorongan yang disampaikan oleh guru, melainkan bisa terlibat secara intelektual dan emosional (misalnya dalam bentuk aktivitas bertanya, diskusi kepada guru atau siswa lain, keterlibatan dalam mengerjakan tugas-tugas, dan latihan-latihan soal.

Partisipasi aktif siswa dapat dilihat melalui observasi dan pengamatan langsung pada siswa.

4. Prestasi Belajar

Prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan atau hasil yang dicapai siswa setelah menyelesaikan serangkaian kegiatan belajar mengajar, yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.

Prestasi belajar yang ditinjau pada penelitian ini adalah nilai rata-rata ulangan harian, ujian mid semester I, dan ujian semester I siswa kelas IX Tanjung dan kelas IX Nagasari.

(45)

h1

h3

h2

C. Design Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat empat macam variabel yaitu tiga variabel bebas dan satu variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah variabel konsep diri, motivasi berprestasi dan partisipasi aktif siswa sedangkan variabel terikatnya adalah variabel prestasi belajar fisika.

Sesuai dengan kerangka berpikir dan pengajuan hipotesa tentang hubungan antara keempat variabel dalam penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :

Gb.1. Skema paradigma hubungan konsep diri, motivasi berprestasi dan partisipasi siswa dengan prestasi belajar fisika.

Keterangan : X1 : Konsep diri

X2 : Motivasi berprestasi

X3 : Partisipasi aktif siswa

Y : Prestasi belajar fisika

h1 : Hubungan antara konsep diri dengan prestasi belajar fisika

h2 : Hubungan antara motivasi berprestasi dengan prestasi belajar fisika

h3 : Hubungan antara partisipasi siswa dengan prestasi belajar fisika

X1

X2

Y X3

(46)

D. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Stella Duce II Yogyakarta. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan November 2008.

E. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah siswa kelas IX Nagasari dan kelas IX Tanjung di SMP Stella Duce II Yogyakarta, yang berjumlah 68 siswa. Siswa SMP Stella Duce II Yogyakarta ditetapkan sebagai subyek penelitian karena peneliti mengenal lingkungan sekolah tersebut, sehingga peneliti ingin memberikan sumbangan informasi dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dengan memperhatikan konsep diri siswa, motivasi berprestasi siswa dan partisipasi aktif siswa dalam proses belajar mengajar

F. Metode Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang akurat, maka dalam penelitian ini mengunakan beberapa metode pengumpulan data yaitu:

1. Angket/Kuesioner

Angket/kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi-informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal yang ia ketahui. Metode angket digunakan untuk mendapatkan data konsep diri dan motivasi berprestasi.

(47)

2. Observasi

Dalam metode observasi peneliti akan mengadakan pengamatan terhadap suatu obyek penelitian melalui pemusatan perhatian. Metode observasi adalah penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan terhadap obyek, baik secara langsung maupun tidak. Observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipan yaitu peneliti terlibat secara langsung dengan

informan. Metode ini digunakan untuk memperoleh data partisipasi

siswa.

3. Dokumentasi

Dokumentasi biasanya dipergunakan untuk mencari informasi dari hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, agenda dan sebagainya. Metode ini dilakukan untuk mendapatkan data prestasi belajar fisika atau nilai fisika dan data-data lain yang berupa catatan kegiatan untuk melengkapi penelitian.

4.. Wawancara

Wawancara merupakan suatu dialog yang dilakukan pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Ditinjau dari pelaksanaannya, wawancara yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terpimpin, dimana pewawancara membawa pertanyaan lengkap dan terperinci sewaktu melaksanakan wawancara.

(48)

Dalam pelaksanaannya, wawancara dilakukan setelah pewawancara mengetahui hasil angket hubungan konsep diri dengan prestasi belajar siswa, dan hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa. Siswa yang diwawancarai adalah siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi dan siswa yang mempunyai motivasi belajar yang rendah. Dalam pewawancara ini, siswa yang diwawancara dipilih oleh pewawancara untuk mewakili dari siswa-siswa yang lain.

Tujuan dilakukan wawancara ini adalah untuk mengetahui lebih lanjut hubungan partisipasi aktif siswa dan motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa yang diperoleh melalui tanya-jawab langsung dari siswa, siswa yang diwawancarai adalah beberapa siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi dan beberapa siswa yang mempunyai motivasi belajar yang rendah mempunyai tujuan untuk membandingkannya ke dalam partisipasi aktif siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi dan yang mempunyai motivasi belajar rendah.

G. Instrumen Penelitian

Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian (Suparno, 2007: 56). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah .

1. Konsep Diri

Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket tertutup tentang konsep diri siswa. Konsep diri yang dikembangkan disini diambil dari

(49)

aspek-aspek konsep diri, yaitu aspek-aspek fisik, aspek-aspek psikis, aspek-aspek sosial, dan aspek-aspek moral. Siswa diminta menjawab angket yang diberikan dengan memilih jawaban yang paling sesuai dengan pendapat siswa. Adapun sebaran butir yang mengungkap konsep diri siswa dapat dilihat pada tabel.

Tabel 3.1. Sebaran Butir Pernyataan Konsep Diri Nomor Pernyataan No Aspek Positif Negatif Jumlah 1 Fisik 1, 2 3, 4, 5 5 2 Psikis 6, 7, 8 9, 10 5 3 Sosial 11, 12, 13 14, 15 5 4 Moral 16, 17 18, 19, 20 5 Jumlah 10 10 20 2. Motivasi Berprestasi

Instrumen ini berupa angket yang terdiri dari 20 butir pernyataan tentang motivasi berprestasi siswa. Instrumen ini dikembangkan dengan mengacu pada ciri-ciri siswa yang mempunyai motivasi berprestasi meliputi: tanggung jawab pribadi yang besar, menyukai tugas dan latihan-latihan soal, pantang menyerah, dan bertindak secara inovatif dan kreatif. Adapun sebaran butir yang mengungkap motivasi siswa dapat dilihat pada tabel.

Tabel 3.2. Sebaran Butir Pernyataan Motivasi Berprestasi Nomor Pernyataan No Aspek

Positif Negatif

Jumlah

1 Tanggung jawab pribadi yang besar 1, 2, 3, 4 5 5

2 Menyukai tugas dan latihan-latihan soal 6, 7, 8 9, 10 5

3 Pantang menyerah 11, 12, 13 14, 15 5

4 Bertindak secara inovatif dan kreatif 16, 17, 18 19, 20 5

Jumlah 13 7 20

(50)

3. Partisipasi Aktif Siswa

Pada lembar observasi pernyataan dibuat berdasarkan aspek partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Pada pengamatan observasi masing-masing siswa, partisipasi siswa dikelompokan menjadi 5 bagian yaitu: sangat aktif, aktif, cukup aktif, kurang aktif, dan tidak aktif.

Berikut 4 aspek yang diamati dalam observasi dan pengelompokannya. Tabel 3.3. Aspek yang diamati dalam observasi dan pengelompokannya

NO ASPEK YANG DIAMATI Sangat Aktif Aktif Cukup Aktif Kurang Aktif Tidak Aktif 1 Siswa mengungkapkan gagasan/pendapatnya tentang penjelasan guru di kelas

2 Siswa bertanya kepada guru bila ada materi pelajaran yang belum dipahami

3 Siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru di kelas secara lisan

4 Siswa mengerjakan

tugas/latihan-latihan soal yang diberikan kepada guru pada waktu pelajaran dengan maju dan mengerjakan di papan tulis

H. Validitas Instrumen

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan suatu instrumen yang akan digunakan. Kesimpulannya valid bila sesuai dengan tujuan penelitian (Suparno, 2007: 67-68). Validitas dalam instrumen ini termasuk validitas isi. Termasuk validitas isi karena dalam pembuatan lembar observasi, kuesioner, dan wawancara telah disesuaikan dengan tujuan.

(51)

Untuk menjamin validitas kuesioner konsep diri, motivasi, kuesioner dibuat berdasarkan kisi-kisinya dan telah dikonsultasikan oleh para ahli (dosen pembimbing). Untuk menjamin validitas soal kuesioner konsep diri, maka kuesioner konsep diri mencakup 4 aspek (fisik, psikis, sosial, dan moral). Sedangkan untuk menjamin validitas soal kuesioner motivasi berprestasi siswa juga meliputi 4 aspek (tanggung jawab pribadi yang besar, menyukai tugas dan latihan-latihan soal, pantang menyerah, dan bertindak secara inovatif dan kreatif). Pada lembar observasi pernyataan dibuat berdasarkan aspek-aspek partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas (siswa mengungkapkan gagasan/pendapatnya tentang penjelasan guru di kelas, siswa bertanya kepada guru bila ada materi pelajaran yang belum dipahami, siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru di kelas secara lisan, dan siswa mengerjakan tugas/latihan-latihan soal yang diberikan kepada guru pada waktu pelajaran dengan maju dan mengerjakan di papan tulis).

I. Metode Analisis Data

Sesuai dengan tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengungkap hubungan konsep diri, motivasi, dan partisipasi aktif siswa dengan prestasi belajar, maka dilakukan analisis data. Angket yang sudah diisi siswa kemudian dianalisis menggunakan skor-skor yang telah ditentukan dan secara kuantitatif akan dihubungkan dengan hasil prestasi belajar siswa yaitu dari rata-rata nilai ulangan harian, ujian mid semester I, dan ujian semester I .

(52)

Data yang diperoleh dari kuesioner dianalisis dengan tahap-tahap sebagai berikut. Kuesioner yang telah diisi oleh siswa dikategorikan ke dalam pernyataan positif dan negatif. Kemudian masing-masing kategori jawaban tersebut diberi skor. Penetapan skor dengan menggunakan Skala Likert.

Dari 4 jawaban alternatif, skor untuk setiap butir soal jawaban alternatif yaitu 3, 2, 1, 0 untuk menyakakan pernyataan konsep diri/motivasi yang bernilai positif. Sedangkan 0, 1, 2, 3 untuk pernyataan konsep diri/motivasi yang bernilai negatif. Untuk lebih jelasnya dalam menentukan skor tersebut peneliti sampaikan dalam bentuk tabel seperti di bawah ini:

Tabel 3.4. Penyekoran untuk Setiap Butir Pernyataan Positif dan Negatif

Skor Nilai Item Positif Item Negatif

Sangat Setuju 3 0

Setuju 2 1

Tidak Setuju 1 2

Sangat Tidak Setuju 0 3

Berikut penyekoran konsep diri dan motivasi belajar pada siswa: Tabel 3.5. Penyekoran konsep diri dan motivasi belajar pada siswa:

No

Angket 1 2 3 4 ... 20 Skor Siswa Maks

No Nomor siswa

Skor Maks

Berikut skor terakhir dari konsep diri dan motivasi belajar siswa, dan hasil prestasi belajar masing-masing siswa dari ujian mid semester I

(53)

Tabel 3.6. Skor terakhir dari konsep diri dan motivasi belajar siswa, dan hasil prestasi belajar masing-masing siswa.

Nomor Siswa Skor Konsep Diri Skor Motivasi Belajar Prestasi Belajar Siswa

Mengelompokkan kualifikasi konsep diri dan motivasi belajar menjadi 3 macam yaitu tinggi, sedang, rendah. Berdasarkan skor terakhir dari angket konsep diri dan angket motivasi belajar, konsep diri dan motivasi belajar siswa dapat dilihat dalam tabel kualifikasi sebagai berikut :

Tabel 3.7. Kualifikasi Konsep Diri dan Kualifikasi Motivasi Belajar

Skor Kualifikasi

41-60 Tinggi 21-40 Sedang 0-20 Rendah

Skor yang diperoleh siswa dalam kuesioner dijumlahkan. Dan skor ini yang digunakan sebagai skor konsep diri dan motivasi belajar siswa.

Untuk data partisipasi aktif siswa diperoleh dari observasi masing-masing siswa kemudian dianalisis menggunakan skor-skor yang telah ditentukan dan secara kuantitatif akan dihubungkan dengan hasil prestasi belajar siswa yaitu dari rata-rata nilai ulangan harian, ujian mid semester I, dan ujian semester I .

Berikut penyekoran partisipasi aktif siswa Tabel 3.8. Penyekoran partisipasi aktif siswa:

Sangat Aktif Aktif Cukup Aktif Kurang Aktif Tidak Aktif

(54)

Berikut Penyekoran Setiap Aspek Partisipasi Siswa Pada Masing-masing Siswa Untuk 4 kali Pengamatan.

Tabel 3.9. Penyekoran partisipasi aktif siswa untuk 4 kali pengamatan

ASPEK I II III IV No. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Jumlah 1 2 3

Skor yang diperoleh setiap siswa dari 4 kali pengamatan kemudian dijumlahkan. Setelah dijumlahkan skor setiap siswa kemudian dirata-rata. Dan skor ini yang digunakan sebagai skor partisipasi aktif siswa.

Analisis data menggunakan teknik korelasi product moment dengan rumus:

{

2 ( )2

}{

2 ( )2

}

) )( ( Y Y N X X N Y X XY N rxy ∑ − ∑ ∑ − ∑ ∑ ∑ − ∑ = Keterangan : xy

r : Koefisien korelasi antara X dan Y

X : Skor konsep diri, motivasi berprestasi, partisipasi aktif siswa Y : Skor prestasi belajar

N : Jumlah responden atau siswa

Dalam penelitian ini untuk mencari korelasi antara dua variabel digunakan program SPSS 16.

(55)

Untuk menguji signifikansi hasil korelasi dengan penyusunan hipotesis: ƒ Ho : tidak ada hubungan antara dua variabel

ƒ Hi : ada hubungan antara dua variabel

Bila probabilitasnya < 0,05 maka Ho ditolak dan berarti bahwa ada hubungan antara dua variabel (ada hubungan konsep diri terhadap hasil belajar siswa dalam ranah kognitif).

Bila probabilitasnya < 0,05 berarti bahwa ada hubungan antara dua variabel (ada hubungan motivasi terhadap hasil belajar siswa dalam ranah kognitif).

Bila probabilitasnya < 0,05 berarti bahwa ada hubungan antara dua variabel (ada hubungan partisipasi aktif siswa terhadap hasil belajar siswa dalam ranah kognitif)

Mengenai motivasi belajar siswa dan partisipasi aktif siswa diperkuat dari hasil pengamatan selama proses pembelajaran dan wawancara dengan beberapa siswa.

(56)

42

BAB IV

DATA DAN ANALISIS DATA

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini mengambil data dari kelas IX Tanjung dan kelas IX

Nagasari. SMP Stella Duce II Yogyakarta. Jumlah siswa kelas IX Tanjung 34

siswa dan kelas IX Nagasari 34 siswa, sehingga jumlah keseluruhan siswa yang

menjadi sampel dalam penelitian ini adalah 68 siswa.

Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan. Pada hari pertama, penelitian

diawali dengan perkenalan antara peneliti dengan siswa-siswi kemudian memberi

penjelasan mengenai kegiatan penelitian yang akan dilaksanakan. Setelah

siswa-siswi paham dengan kegiatan yang akan dilaksanakan maka peneliti melakukan

observasi selama 4 kali pertemuan. Peneliti mengikuti pembelajaran fisika yang

dipandu oleh guru, sehingga peneliti menjadi observer. Selama proses belajar

mengajar berlangsung, peneliti merangkum aktivitas masing-masing siswa selama

pembelajaran. Peneliti juga mengamati bagaimana partisipasi aktif siswa dalam

mengikuti pelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan.

Pada pertemuan terakhir Peneliti membagikan angket konsep diri dan

angket motivasi berprestasi. Kemudian para siswa mengisi angket dengan suasana

yang sangat tenang. Peneliti beberapa kali mengingatkan agar tidak ada satu

pernyataan pun yang terlewatkan atau tidak diisi jawaban. Selain itu peneliti juga

(57)

pelajaran fisika. Setelah selesai mengisi peneliti mengambil kembali angket yang

telah diisi siswa.

B. Hasil Penelitian

1. Prestasi Belajar Siswa

Prestasi Belajar Fisika siswa dalam penelitian ini menggunakan

nilai rata-rata belajar siswa pada tengah semester pertama. Hasilnya adalah

seperti pada tabel 4.1 berikut:

Tabel 4.1. Tabel Prestasi Belajar Siswa

No. Siswa Nilai

1 70.67 2 60.67 3 76.00 4 56.67 5 67.00 6 57.33 7 70.00 8 56.67 9 60.67 10 62.00 11 68.00 12 64.00 13 75.00 14 63.33 15 61.67 16 58.00 17 72.33 18 61.67 19 57.00 20 59.33 21 69.00 22 65.33 23 61.00 24 58.33 25 63.67 26 59.33 27 72.00 28 58.00

(58)

29 77.33 30 60.67 31 71.67 32 70.67 33 61.00 34 60.00 35 56.67 36 61.67 37 64.67 38 63.33 39 58.67 40 58.33 41 63.67 42 73.33 43 71.67 44 55.00 45 60.00 46 58.00 47 72.00 48 74.33 49 67.67 50 69.67 51 71.67 52 64.67 53 62.00 54 53.00 55 54.00 56 58.00 57 59.67 58 55.33 59 54.67 60 73.33 61 57.67 62 60.67 63 72.00 64 59.67 65 59.00 66 58.33 67 62.67 68 57.33

Keterangan : No. 1 – 34 Siswa Kelas Tanjung

(59)

2. Konsep Diri

Data konsep diri diambil dari kuesioner yang diberikan pada

siswa. Hasil skor konsep diri siswa seperti pada tabel 4.2 berikut:

Hasil skor konsep diri seperti pada tabel 4.2 berikut:

Tabel 4.2. Tabel Skor Konsep Diri

No. Siswa Skor Konsep Diri

1 44 2 40 3 50 4 40 5 45 6 38 7 44 8 37 9 41 10 43 11 43 12 41 13 49 14 43 15 41 16 38 17 36 18 47 19 40 20 37 21 43 22 42 23 42 24 37 25 41 26 36 27 42 28 42 29 45 30 35 31 43 32 42 33 41 34 36

(60)

35 42 36 46 37 43 38 44 39 41 40 45 41 46 42 49 43 46 44 42 45 41 46 39 47 44 48 48 49 43 50 44 51 45 52 44 53 42 54 37 55 37 56 38 57 39 58 39 59 40 60 48 61 43 62 44 63 47 64 37 65 39 66 38 67 40 68 39

Keterangan : No. 1 – 34 Siswa Kelas Tanjung No. 35 – 68 Siswa Kelas Nagasari

(61)

3. Motivasi Berprestasi

Data motivasi berprestasi diambil dari kuesioner yang diberikan

pada siswa. Hasil skor motivasi berprestasi siswa seperti pada tabel 4.3

berikut:

Tabel 4.3. Tabel Skor Motivasi Berprestasi

No. Siswa Skor Motivasi Berprestasi 1 44 2 37 3 49 4 37 5 42 6 35 7 42 8 36 9 39 10 42 11 44 12 41 13 47 14 44 15 42 16 31 17 46 18 43 19 33 20 30 21 45 22 42 23 40 24 34 25 40 26 36 27 44 28 39 29 43 30 37 31 43 32 43 33 40

(62)

34 35 35 38 36 47 37 40 38 42 39 40 40 41 41 41 42 48 43 45 44 39 45 41 46 42 47 45 48 53 49 43 50 49 51 46 52 44 53 43 54 34 55 37 56 40 57 43 58 36 59 37 60 54 61 42 62 42 63 46 64 42 65 41 66 40 67 42 68 42

Keterangan : No. 1 – 34 Siswa Kelas Tanjung No. 35 – 68 Siswa Kelas Nagasari

Figur

Gambar 1. Jenis-jenis Interaksi Belajar Mengajar.

Gambar 1.

Jenis-jenis Interaksi Belajar Mengajar. p.33
Tabel 3.1. Sebaran Butir Pernyataan Konsep Diri  Nomor Pernyataan No Aspek  Positif Negatif  Jumlah  1  Fisik  1, 2  3, 4, 5  5  2  Psikis  6, 7, 8  9, 10  5  3  Sosial  11, 12, 13  14, 15  5  4  Moral  16, 17  18, 19, 20  5  Jumlah 10  10  20  2

Tabel 3.1.

Sebaran Butir Pernyataan Konsep Diri Nomor Pernyataan No Aspek Positif Negatif Jumlah 1 Fisik 1, 2 3, 4, 5 5 2 Psikis 6, 7, 8 9, 10 5 3 Sosial 11, 12, 13 14, 15 5 4 Moral 16, 17 18, 19, 20 5 Jumlah 10 10 20 2 p.49
Tabel 3.3. Aspek yang diamati dalam observasi dan pengelompokannya   NO  ASPEK  YANG  DIAMATI  Sangat

Tabel 3.3.

Aspek yang diamati dalam observasi dan pengelompokannya NO ASPEK YANG DIAMATI Sangat p.50
Tabel 3.4. Penyekoran untuk Setiap Butir Pernyataan Positif  dan Negatif  Skor Nilai  Item Positif  Item Negatif

Tabel 3.4.

Penyekoran untuk Setiap Butir Pernyataan Positif dan Negatif Skor Nilai Item Positif Item Negatif p.52
Tabel 3.6. Skor terakhir dari konsep diri dan motivasi belajar siswa, dan  hasil prestasi belajar masing-masing siswa

Tabel 3.6.

Skor terakhir dari konsep diri dan motivasi belajar siswa, dan hasil prestasi belajar masing-masing siswa p.53
Tabel 3.7. Kualifikasi Konsep Diri dan Kualifikasi Motivasi Belajar   Skor   Kualifikasi

Tabel 3.7.

Kualifikasi Konsep Diri dan Kualifikasi Motivasi Belajar Skor Kualifikasi p.53
Tabel 3.9. Penyekoran partisipasi aktif siswa untuk 4 kali pengamatan

Tabel 3.9.

Penyekoran partisipasi aktif siswa untuk 4 kali pengamatan p.54
Tabel 4.3. Tabel Skor Motivasi Berprestasi   No.  Siswa  Skor Motivasi Berprestasi  1 44  2 37  3 49  4 37  5 42  6 35  7 42  8 36  9 39  10 42  11 44  12 41  13 47  14 44  15 42  16 31  17 46  18 43  19 33  20 30  21 45  22 42  23 40  24 34  25 40  26 36

Tabel 4.3.

Tabel Skor Motivasi Berprestasi No. Siswa Skor Motivasi Berprestasi 1 44 2 37 3 49 4 37 5 42 6 35 7 42 8 36 9 39 10 42 11 44 12 41 13 47 14 44 15 42 16 31 17 46 18 43 19 33 20 30 21 45 22 42 23 40 24 34 25 40 26 36 p.61
Tabel 4.5. Tabel Korelasi Konsep Diri  Dengan Prestasi Belajar Fisika Siswa  Dalam Ranah Kognitif

Tabel 4.5.

Tabel Korelasi Konsep Diri Dengan Prestasi Belajar Fisika Siswa Dalam Ranah Kognitif p.70
Tabel 4.6. Tabel Korelasi Motivasi berprestasi Dengan Prestasi Belajar Fisika

Tabel 4.6.

Tabel Korelasi Motivasi berprestasi Dengan Prestasi Belajar Fisika p.71
Tabel 4.7. Tabel Korelasi Partisipasi Aktif Dengan Prestasi Belajar Fisika  Correlations  Prestasi Belajar  Fisika  Partisipasi Aktif Siswa  Pearson Correlation  1 .788 ** Sig

Tabel 4.7.

Tabel Korelasi Partisipasi Aktif Dengan Prestasi Belajar Fisika Correlations Prestasi Belajar Fisika Partisipasi Aktif Siswa Pearson Correlation 1 .788 ** Sig p.72
Tabel Penyekoran Konsep Diri Siswa Kelas IX Tanjung  Nomor Siswa  Nomor  Angket  1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Skor  Maks  Siswa Skor  Maks 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3  60  1  3 3 2 2 2 2 2 3 3 2 2 1 2 2 2 2 2 3 2 2  44  2

Tabel Penyekoran

Konsep Diri Siswa Kelas IX Tanjung Nomor Siswa Nomor Angket 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Skor Maks Siswa Skor Maks 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 60 1 3 3 2 2 2 2 2 3 3 2 2 1 2 2 2 2 2 3 2 2 44 2 p.98
Tabel Penyekoran Konsep Diri Siswa Kelas IX Nagasari  Nomor Siswa  Nomor  Angket  1 2  3  4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 1 9  20  Skor  Maks Sisw a  Skor  Maks 3 3  3  3 3 3 3 3 3 3  3  3  3  3  3  3  3  3 3  3  60  1  2 2  2  2 1 2 2 2 2 2  1  3

Tabel Penyekoran

Konsep Diri Siswa Kelas IX Nagasari Nomor Siswa Nomor Angket 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 1 9 20 Skor Maks Sisw a Skor Maks 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 60 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 3 p.101
Tabel Penyekoran Motivasi Belajar Siswa  Kelas IX Tanjung  Nomor Siswa  Nomor  Angket  1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Skor  Maks  Siswa  Skor  Maks 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3  60  1  3 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2

Tabel Penyekoran

Motivasi Belajar Siswa Kelas IX Tanjung Nomor Siswa Nomor Angket 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Skor Maks Siswa Skor Maks 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 60 1 3 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 p.104
Tabel Penyekoran Motivasi Belajar Siswa  Kelas IX Nagasari  Nomor Siswa  Nomor  Angket  1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Skor  Maks  Siswa  Skor  Maks 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3  60  1  2 2 1 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2

Tabel Penyekoran

Motivasi Belajar Siswa Kelas IX Nagasari Nomor Siswa Nomor Angket 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Skor Maks Siswa Skor Maks 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 60 1 2 2 1 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 p.107

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :