i
PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN DISCOVERY
LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN,
KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS, DAN KARAKTER MANDIRI
MAHASISWA MAPPI 1 PADA MATERI PEMANASAN GLOBAL
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana
PendidikanProgram Studi
Pendidikan FisikaDisusun oleh:
JUNI ARLINA HUTAGALUNG NIM: 161424028
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
ii GYAKART
iv
HALAMAN MOTTO
Hidup menjadi berwarna ketika kebiasaan belajar dan bergaul secara sehat terselip dalam kehidupan setiap manusia yang mampu menciptakan kebahagiaan.
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya ini dipersembahkan kepada: Bapak Asmin Hutagalung
Ibu Ertaniar Saleleubaja Lusiana Hutagalung Maria Elvi Hutagalung Tiodora Hutagalung Yohana Dwi Hartati
viii
ABSTRAK
Juni Arlina Hutagalung. 161424028. 2020. Penggunaan Metode Pembelajaran Discovery Learning untuk Meningkatkan Pengetahuan, Kemampuan Berpikir Kritis, Dan Karakter Mandiri Mahasiswa Mappi 1
Pada Materi Pemanasan Global
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) peningkatan pengetahuan mahasiswa Mappi kelas 1 pada materi pemanasan global dengan metode discovery, (2) peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa Mappi kelas 1 pada materi pemanasan global dengan metode discovery, dan (3) peningkatan karakter mandiri mahasiswa Mappi kelas 1 pada materi pemanasan global dengan metode discovery.
Jenis penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif. Subjek penelitian adalah mahasiswa Mappi 1 (mahasiswa mappi program studi pendidikan guru sekolah dasar) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta berjumlah 9 orang mahasiswa. Treatment dalam penelitian ini dengan menggunakan metode pembelajaran discovery learning. Instrumen berupa soal pretest dan posttest, angket karakter mandiri, wawancara dan observasi. Data berupa skor yang diolah menggunakan statistik nonparametrik uji wilcoxon dengan bantuan software SPSS 17.0 for windows.
Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) metode pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa mappi kelas 1 untuk materi pemanasan global dengan rata-rata sebelum diberikan treatmen ialah 34,44 dan setelah diberikan treatmen ialah 55,56, dan bedanya signifikan, (2) metode pembelajaran discovery learning meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa mappi kelas 1 untuk materi pemanasan global dengan rata-rata sebelum diberikan treatmen ialah 22,22, dan setelah diberikan treatmen ialah 53,89, dan bedanya signifikan, (3) metode pembelajaran discovery learning meningkatkan kemampuan mandiri mahasiswa mappi kelas 1 dengan rata-rata awal angket mandiri ialah 75 dan nilai rata-rata akhir ialah 81,7, dan bedanya signifikan. Kata kunci: Discovery Learning, Pengetahuan, Berpikir Kritis, Karakter Mandiri, Pemanasan Global.
ix
ABSTRACT
Juni Arlina Hutagalung. 161424028. 2020. The Use of Discovery Learning Methods to Enhance Knowledge, Critical Thinking Ability, and the Independent
Character of Mappi 1 Students on Global Warming Materials
The purpose of this study was to find out: (1) the improvement of the knowledge of grade 1 Mappi students on global warming material with the discovery method, (2) the improvement of the critical thinking skills of class 1 Mappi students on global warming material with discovery methods, and (3) the improvement of the independent character of grade 1 Mappi students on global warming material with the discovery method.
This type of research is qualitative and quantitative. The research subjects were Mappi 1 students (mapppi students of elementary school teacher education study programs) Sanata Dharma University in Yogyakarta totaling 9 students. Treatment in this study using discovery learning methods. The instruments are in the form of pretest and posstest questions, independent character questionnaire, interview and observation. Data in the form of scores were processed using non-parametric statistical wilcoxon test with the help of SPSS 17.0 for windows software.
The results showed that (1) the learning method of discovery learning could increase the knowledge of grade 1 students mappi to global warming material with an average before given treatmen is 34.44 and after given treatmen is 55.56, and the difference is significant, (2) methods of learning discovery learning improves the critical thinking ability of class 1 students mappi to global warming material with an average before given treatmen is 22.22, and after administered treatmen is 53.89 , and the difference is significant, (3) discovery learning methods enhance the self-ability of class 1 students mappi with an initial average of self-reliant is 75 and the average final value is 81.7, and the difference is significant.
Keywords: Discovery Learning, Knowledge, Critical Thinking, Independent
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Allah yang maha kuasa atas segala berkat dan kasih karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Penggunaan Metode Pembelajaran Discovery Learning untuk Meningkatkan Pengetahuan, Kemampuan Berkritis Kritis, dan Karakter Mandiri Mahasiswa Mappi 1 pada Materi Pemanasan Global”.
Dalam menyusun skripsi ini, penulis dibantu oleh berbagai pihak. Maka dari itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Ign. Edi Santosa. M. S., selaku ketua program studi pendidikan fisika yang memberikan arahan, motivasi serta kesempatan belajar selama penulis berada di Universitas Sanata Dharma.
2. Bapak Albertus Hariwangsa Panuluh M.Sc., selaku wakil ketua program studi pendidikan fisika yang memberikan arahan, motivasi serta kesempatan belajar selama penulis berada di Universitas Sanata Dharma.
3. Romo Prof. Dr. Paul Suparno, S. J., M. S. T., selaku dosen pembimbing yang dengan penuh kesabaran serta kerelaan hati membantu penulis memahami dan menganalisis dalam menyusun skripsi.
4. Bapak Rohandi Ph.D., sebagai validator dan dosen pembimbing akademik yang bersedia memberi masukan, saran dan motivasi untuk instrumen yang penulis buat sampai penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
5. Karyawan JPMIPA yang memperlancar surat izin penelitian.
6. Mahasiswa Mappi 1 karena kerelaan hatinya untuk meluangkan waktu dan bersedia untuk menjadi sampel dalam penelitian penulis.
7. Kedua orang tua penulis Bapak Asmin Hutagalung dan Ibu Ertaniar Saleleubaja, yang senantiasa memberikan motivasi dan kasih sayang yang berlimpah sampai penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
xii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... Error! Bookmark not defined. HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .... Error! Bookmark not defined. HALAMAN PENGESAHAN ... Error! Bookmark not defined.
HALAMAN MOTTO ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... Error! Bookmark not defined. LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI...vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB 1PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan Penelitian ... 5
1.4. Manfaat Penelitian ... 5
1.5. Sistematika Penulisan ... 6
BAB 2LANDASAN TEORI ... 7
2.1. Metode Discovery ... 7
2.1.1. Pengertian Discovery ... 7
2.1.2. Proses Discovery... 7
2.1.3. Urutan Model Discovery ... 8
2.1.4. Macam Discovery ... 8
2.1.5. Keuntungan Belajar dengan Discovery... 9
xiii
2.2. Pengetahuan ... 10
2.3. Berpikir Kritis ... 11
2.5. Pemanasan Global ... 12
2.4.1. Pengertian Pemanasan Global ... 12
2.5.2. Penyebab Pemanasan Global ... 13
2.5.3. Dampak Pemanasan Global ... 13
2.5.4. Upaya Penanggulangan Pemanasan Global ... 14
2.4. Karakter Mandiri ... 15
2.5. Alur Penelitian ... 16
BAB 3 METODE PENELITIAN... 17
3.1. Jenis Penelitian... 17
3.2. Waktu dan Tempat Penelitian ... 17
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 17
3.4. Treatmen ... 18
3.5. Instrumen ... 19
3.5.1. Pretest dan Posstest ... 19
3.5.2. Angket ... 25
3.5.3. Pengamatan atau Observasi ... 26
3.5.4. Wawancara... 26
3.6. Analisis Data ... 27
3.6.1. Skoring Soal Pretest dan Posttest ... 27
3.6.2. Klasifikasi dan Skoring Hasil Angket ... 28
3.6.3. Analisis statistik nonparametrik... 29
3.6.4. Pengamatan atau Observasi ... 29
3.6.5. Wawancara... 29
3.7. Validitas ... 30
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 31
4.1. Deskripsi Penelitian ... 31
4.2. Data dan Analisis Data Kuantitatif ... 34
4.3. Data dan Analisis Data Kualititatif ... 36
4.3.1. Pengetahuan ... 36
xiv
4.4. Pembahasan... 39
4.4.1. Peningkatan Pengetahuan Mahasiswa ... 39
4.4.2. Peningkatan Berpikir Kritis Mahasiswa ... 40
4.4.3. Peningkatan Kemandirian Mahasiswa ... 41
4.4.4. Proses Discovery Mahasiswa ... 42
4.5. Keterbatasan Penelitian ... 43
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 44
5.1. Kesimpulan ... 44 5.2. Saran ... 44 5.2.1. Bagi guru... 44 5.2.2. Bagi Peneliti ... 45 DAFTAR PUSTAKA ... 46 LAMPIRAN ... 48
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1. Kisi-kisi Soal Pretest dan Posttest Pengetahuan...19
Tabel 3.2. Kisi-kisi Soal Pretest dan Posttest Berpikir Kritis...22
Tabel 3.3. Kisi-Kisi Angket Mandiri...25
Tabel 3.4. Pertanyaan Wawancara...27
Tabel 3.5. Rubrik Penilaian...27
Tabel 3.6. Pilihan Jawaban dan Skor Angket...29
Tabel 3.7. Klasifikasi Karakter Mandiri...29
Tabel 3.8. Kisi-kisi Validitas Isi...30
Tabel 4.1. Data Hasil Penelitian...35
xvi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Skema Alur Penelitian...16 Gambar 4.1. Responden Mengerjakan Pretest dan Angket...32 Gambar 4.2. Berdiskusi dengan Responden...33 Gambar 4.3. Responden Berbagi Pengalaman setelah selesai Mengerjakan Posttest dan Angket...34 Gambar 4.4. Skema Proses Discovery yang dialami Mahasiswa...42
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Permohonan Izin Penelitian...49
Lampiran 2. Lembar Persetujuan Mahasiswa sebagai Sampel...51
Lampiran 3. Rancangan Pembelajaran Semester...52
Lampiran 4. Lembar Kerja Mahasiswa...56
Lampiran 5. Validasi Angket Mandiri oleh Dosen Fisika ...61
Lampiran 6. Validasi Soal Pretest dan Posttest Pengetahuan dan Berpikir Kritis oleh Dosen Fisika...62
Lampiran 7. Angket Mandiri...64
Lampiran 8. Soal Pretest dan Posstest Pengetahuan dan Berpikir Kritis...66
Lampiran 9. Jawaban Soal Pretest dan Posstest Pengetahuan dan Berpikir Kritis..68
Lampiran 10. Daftar Nama Mahasiswa...70
Lampiran 11. Hasil Angket Mahasiswa...71
Lampiran 12. Hasil Pretest dan Posttest...75
Lampiran 13. Hasil Lembar Kerja Mahasiswa...81
Lampiran 14. Hasil Analisis SPSS...83
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Dalam pendidikan belajar merupakan hal yang penting untuk mengetahui, menerima dan memahami suatu pengetahuan. Menurut Suparno (1997: 61-62), belajar merupakan proses aktif pelajar mengkonstruksi arti entah teks, dialog, pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan. Menurut konstruktivisme, pelajar sendirilah yang bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Mereka membawa pengertiannya yang lama dalam situasi belajar yang baru. Mereka sendiri yang membuat penalaran atas apa yang telah dipelajarinya dengan cara mencari makna, membandingkannya dengan apa yang telah ia ketahui serta menyelesaikan ketegangan antara apa yang telah ia ketahui dengan apa yang ia perlukan dalam pengalaman baru.
Dalam pembelajaran siswa dituntut untuk mampu berpikir kritis. Dalam pembelajaran siswa bukan hanya sekadar membaca soal dan menjawabnya, namun siswa dituntut untuk mampu berpikir kritis terhadap suatu persoalan yang akan diselesaikan. Dengan kata lain siswa harus mampu menganalisis dan memahami persoalan, sehingga dapat memecahkan persoalan tersebut dengan benar sesuai konsep yang digunakan. Kemampuan berpikir kritis penting untuk ditingkatkan. Berpikir kritis menurut Sies (1998, dalam Ridwan, dkk 2019:12-13) merupakan proses berpikir terampil dan bertanggung jawab ketika seseorang mempelajari suatu permasalahan dari semua sudut pandang, dan terlibat dalam penyelidikan sehingga dapat memperoleh opini, penilaian, atau pertimbangan terbaik menggunakan kecerdasannya untuk menarik kesimpulan. Selain itu menurut Norris (1989), seorang pemikir kritis akan berupaya mencari alternatif, mempertimbangkan pandangan orang lain dan diri sendiri secara serius, menunda kesimpulan jika bukti dan alasan tidak cukup kuat, serta mencari sebanyak mungkin informasi yang akurat. Individu yang mampu berpikir kritis dapat mempertimbangkan berbagai
pilihan sebelum membuat keputusan untuk bertindak. Seorang yang mampu berpikir kritis juga harus dapat mengemukakan alasan atau kritik logis terhadap permasalahan yang dihadapi. Jadi, orang yang berpikir kritis adalah individu yang rasional, mampu berpikir reflektif, dan mengambil suatu keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang.
Menurut filsafat konstruktivisme (Suparno 1997: 28-29), pengetahuan adalah hasil konstruksi manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi mereka dengan objek, fenomen, pengalaman, dan lingkungan mereka. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Bagi konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang kepada yang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Tiap orang harus mengkonstruktsi pengetahuan sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam proses itu keaktifan seseorang yang ingin tahu amat berperanan dalam perkembangan pengetahuannya.
Definisi konstruktivisme di atas mengungkapkan tentang pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran, didapat siswa karena berperan aktif untuk membangun sendiri pengetahuan dalam memorinya. Maka dari itu siswa memiliki tanggung jawab yang besar untuk pengetahuan bagi dirinya sendiri. Hal ini berkaitan dengan kemandirian siswa belajar. Siswa dituntut untuk mampu berpikir kritis sekaligus mampu mandiri dengan mencari tahu dan memahami pengetahuan. Orang yang mandiri adalah orang yang cukup diri (self sufficient), yaitu orang yang mampu berpikir dan berfungsi secara independen, tidak perlu bantuan orang lain, tidak menolak risiko dan bisa memecahkan masalah, bukan khawatir tentang masalah-masalah yang dihadapinya. Orang seperti itu akan mandiri dan dapat menguasai kehidupannya sendiri dan dapat menangani apa saja dari kehidupan ini yang ia hadapi Mohamad (2011: 94).
Mahasiswa Mappi 1 adalah nama kelas mahasiswa Mappi yang peneliti buat untuk membedakan dengan mahasiswa Mappi 2. Mahasiswa Mappi 1 merupakan
mahasiswa Mappi dengan program studi PGSD (pendidikan guru sekolah dasar) sedangkan Mappi 2 merupakan mahasiswa Mappi dengan program studi PENDIKAT (pendidikan agama katolik). Mahasiswa Mappi 1 dan Mappi 2 adalah mahasiswa angkatan 2019 yang tinggal di Student Residence Universitas Sanata Dharma. Penulis melakukan wawancara dengan empat orang mahasiswa dari kelas Mappi 1 tersebut. Mappi merupakan salah satu kabupaten baru yang diresmikan pada tahun 2005 di Papua. Ketika ada pengunjung yang datang ke wilayah tersebut akan disambut dengan adat istiadat Mappi dengan menggunakan pakaian khas serta topi yang terbuat dari bulu burung kuning dan bulu burung cendrawasih. Makanan khas masyarakat Mappi adalah sagu. Selain sagu, daging rusa dan daging babi juga menjadi makanan khas masyarakat Mappi. Daerah kabupaten Mappi terdapat banyak rawa, air pada rawa ini ada yang bewarna merah dan hitam. Untuk akses internet dan pembangunan masih minim, terlebih di daerah pedalaman kabupaten Mappi atau daerah distrik hampir tidak tersentuh dengan segala teknologi serta listrik. Untuk prasarana sudah cukup baik dengan adanya jalan, namun masih banyak jalan yang rusak karena ada banyak lubang.
Kebakaran hutan sering terjadi di kabupaten Mappi. Pada musim kemarau hutan sering terbakar dengan sendirinya karena suhu yang cukup tinggi. Selain itu kebiasaan masyarakat yang membakar akar rumput untuk menangkap ikan, ada pula yang dengan sengaja membakar hutan karena medan atau jalan banyak belok sehingga beberapa masyarakat Mappi membakar hutan untuk membuat jalan pintas. Selain itu ada yang dengan sengaja membakar demi kepuasaan hati. Mengenai fenomena kebakaran hutan yang terjadi, keempat mahasiswa belum mengetahui bahwa akibat dari kebakaran hutan merupakan fenomena yang terkait dengan pemanasan global, dimana pemanasan global ini merupakan salah satu materi atau ilmu yang berkaitan dengan fisika.
Peneliti mewawancarai empat orang mahasiswa Mappi 1. Mahasiswa pertama dan mahasiswa kedua dulu tinggal di kabupaten Mappi sedangkan mahasiswa ketiga dan mahasiswa keempat tinggal di daerah distrik atau di daerah pedalaman. Mahasiswa pertama dulu sekolah dan masuk di SMK (Sekolah
Menengah Kejuruan) dengan jurusan TGB (Teknik Gambar Bangunan) sedangkan mahasiswa kedua, ketiga dan keempat bersekolah di SMA (Sekolah Menegah Atas) dengan jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Mahasiswa pertama tidak menyukai fisika karena fisika merupakan pembelajaran yang banyak hitungan, selain itu guru tidak menjelaskan secara mendalam tentang materi fisika yang diajarkan, sehingga siswa tidak paham. Mahasiswa kedua dan mahasiswa ketiga tidak mendapatkan pembelajaran fisika karena di sekolah mereka hanya siswa dengan jurusan IPA yang mempelajari fisika. Mahasiswa keempat menyukai fisika, karena tertarik dengan hitungan dan penemu-penemu fisika yang berhasil membawa pembaharuan dalam kehidupan. Cara guru mengajar pembelajaran fisika kurang memahami kebutuhan siswa dan kurang pengetahuan tentang pemanasan global.
Sebagai calon guru sekolah dasar penting menjelaskan secara baik materi IPA di sekolah dasar, yang salah satunya adalah tentang pemanasan global. Dengan demikian nantinya anak-anak dapat ikut menjaga lingkungan.
Berdasarkan alasan-alasan di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian, yang berjudul: Penggunaan Metode Pembelajaran Discovery
Learning untuk Meningkatkan Pengetahuan, Kemampuan Berpikir Kritis,
dan Karakter Mandiri Mahasiswa Mappi Kelas 1 pada Materi Pemanasan Global.
1.2. Rumusan Masalah
Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah:
1) Apakah penggunaan metode pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa Mappi kelas 1 pada materi pemanasan global?
2) Apakah penggunaan metode pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa Mappi kelas 1 pada materi pemanasan global?
3) Apakah penggunaan metode pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan karakter mandiri mahasiswa Mappi kelas 1 pada materi pemanasan global?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1) Peningkatan pengetahuan mahasiswa Mappi kelas 1 pada materi pemanasan global dengan metode pembelajaran discovery learning 2) Peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa Mappi kelas 1
pada materi pemanasan global dengan metode pembelajaran discovery learning
3) Peningkatan karakter mandiri mahasiswa Mappi kelas 1 pada materi materi pemanasan global dengan metode pembelajaran discovery learning
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini antara lain:
1) Bagi Guru, diharapkan dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran fisika
2) Bagi Mahasiswa, memberikan kesempatan untuk mengalami secara nyata dalam menghadapi masalah yang berkaitan dengan materi pemanasan global
3) Bagi Pendidik, membantu menganalisis dan memberikan masukan untuk memilih metode dan strategi yang tepat dalam pembelajaran untuk meningkatkan berpikir kritis dan karakter mandiri siswa dalam memecahkan permasalahan terkait materi pemanasan global
4) Bagi Universitas Sanata Dharma, memberikan deskripsi atau gambaran mengenai kemampuan mahasiswa kerjasama Mappi untuk memecahkan permasalahan tentang materi pemanasan global
1.5. Sistematika Penulisan
Penyusunan skripsi ini dilakukan dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB 1 PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, sistematika penulisan
BAB 2 LANDASAN TEORI
Bab ini berisikan pengertian, proses, urutan model, macam, keuntungan dan kelemahan metode discovery. Berisi pengertian, penyebab, dampak dan upaya penanggulangan pemanasan pemanasan global serta alur penelitian.
BAB 3 METODE PENELITIAN
Bab ini memuat jenis, waktu dan tempat, populasi dan sampel, treatmen penelitian. Instrumen yang berisi pretest dan posstest, angket, pengamatan atau observasi, wawancara. Analisis data yang berisi skorsing soal pretest dan posstest, klasifikasi dan skorsing, analis statistik nonparametrik, pengamatan atau observasi, wawancara. Kemudian yang terakhir adalah validitas.
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini mencakup deskripsi penelitian, data, analisis data kuantitatif dan kualitatif. Pembahasan tentang peningkatan pengetahuan, berpikir kritis dan kemandirian mahasiswa dengan menggunakan metode discovery, keterbatasan penelitian.
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
7
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1. Metode Discovery
Salah satu metode pembelajaran yang digunakan dalam pendidikan adalah metode discovery. Berikut ini dijelaskan pengertian, urutan model, macam, keuntungan dan kelemahan metode discovery.
2.1.1. Pengertian Discovery
Metode Discovery merupakan model pembelajaran yang memberikan kebebasan kepada siswa untuk menemukan sendiri suatu persoalan atau masalah serta pemecahan dari masalah yang terkait. Siswa dituntut untuk mandiri dan mampu menganalisis suatu persoalan dan pemecahan masalah yang ada, dengan demikian siswa lebih aktif dan terlibat dalam pembelajaran.
2.1.2. Proses Discovery
Proses Discovery menurut Suparno (2014: 73), antara lain sebagai berikut: Mengamati. Siswa mengamati gejala atau persoalan yang dihadapi.
Menggolongkan. Siswa mengklasifikasi apa-apa yang ditemukan dalam pengamatan sehingga menjadi lebih jelas.
Memprediksi. Siswa diajak untuk memperkirakan mengapa gejala itu terjadi atau mengapa persoalan itu terjadi.
Mengukur. Siswa melakukan pengukuran terhadap yang diamati untuk memperoleh data yang lebih akurat yang dapat digunakan untuk mengambil kesimpulan.
Menguraikan atau menjelaskan. Siswa dibantu untuk menjelaskan atau menguraikan dari data pengukuran yang dilakukan.
Menyimpulkan. Siswa mengambil kesimpulan dari data-data yang didapatkan.
2.1.3. Urutan Model Discovery
Urutan model discovery adalah sebagai berikut:
Guru mengajukan persoalan dan siswa diminta mencari pemecahannya Misalnya: apa yang akan terjadi bila anda mengendarai sepeda motor di jalan yang melingkar?
Siswa memecahkan persoalan itu baik secara individu maupun berkelompok.
Bila ada konsep baru yang perlu ditambahkan, guru dapat menambahkannya sehingga siswa dapat lebih mengerti.
2.1.4. Macam Discovery
Weimer (1975, dalam Burden & Byrd, dalam Suparno 2013: 80-81) mengidentifikasi adanya 6 tipe discovery, yaitu:
Discovery. Proses menemukan sesuatu sendiri. Prosesnya lebih bebas, yang terpenting adalah orang menemukan sesuatu hukum, prinsip, atau pengertian sendiri.
Discovery teaching. Model mengajar dengan cara menemukan sesuatu. Model ini lebih digunakan guru untuk mengajar siswa dengan cara penemuan.
Inductive discovery. Penemuan sesuatu dengan pendekatan induktif, yaitu dari pengamatan banyak data, lalu disimpulkan. Prosesnya lengkap seperti metode ilmiah.
Semi-inductive discovery. Penemuan dengan pendekatan induktif, tetapi tidak lengkap. Ketidaklengkapan dapat pada data yang diambil hanya sedikit, dapat pula prosesnya disederhanakan, dll.
Unguided or pure discovery atau discovery murni. Siswa diberi persoalan dan harus memecahkan sendiri dengan sedikit sekali petunjuk guru.
Guided Discovery. Siswa diberi soal untuk dipecahkan dengan guru menyediakan hint (petunjuk), dan arahan bagaimana memecahkan persoalan itu.
2.1.5. Keuntungan Belajar dengan Discovery
Menurut Bruner beberapa keuntungan dapat disebutkan antara lain sebagai berikut (Bruner, dalam Trowbridge & Bybee, 1996, dalam Suparno, 2013: 81-82): Siswa mengembangkan potensi intelektualnya dengan dengan berpikir. Dengan model discovery pikiran siswa digunakan, dilatih untuk memecahkan persoalan.
Mengembangkan motivasi intrinsik. Dengan menemukan sendiri dalam discovery siswa merasa puas dan percaya diri untuk terus mau menekuni sesuatu.
Belajar menemukan sesuatu. Discovery ini adalah praktek menemukan sesuatu yang dapat memperkaya siswa dalam penemuan hal-hal yang lain di kemudian hari.
Menemukan sesuatu sendiri, dapat mengingat lebih lama yang dipelajari dan tidak mudah dilupakan.
Discovery juga menimbulkan keingintahuan siswa dan memotivasi siswa untuk terus berusaha menemukan sesuatu sampai ketemu (Burden & Byrd, hal 104).
Melatih keterampilan memecahkan persoalan sendiri dan melatih siswa untuk dapat mengumpulkan dan menganalisis data sendiri.
2.1.6. Kelemahan Discovery
Menurut Suryosubroto (2002: 201-202, dalam Putri, 2017. Skripsi) kelemahan discovery antara lain adalah sebagai berikut:
Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar Ini. Misalnya siswa yang lamban mungkin bingung dalam usahanya mengembangkan pikirannya berhadapan dengan hal-hal yang abstrak, atau menemukan saling ketergantungan antara pengertian dalam suatu subjek, atau dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis. Siswa yang lebih pandai mungkin akan memonopoli penemuan dan akan menimbulkan frustrasi pada siswa yang lain.
Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar. Misalnya sebagian waktu dapat hilang karena membantu seorang siswa menemukan teori-teori, atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu.
Fasilitas yang baik sangat dibutuhkan untuk membantu discovery
2.2. Pengetahuan
Menurut filsafat konstruktivisme (Suparno 1997: 28-29), pengetahuan adalah hasil konstruksi manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi mereka dengan objek, fenomen, pengalaman, dan lingkungan mereka. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Bagi konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang kepada yang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Tiap orang harus mengkonstruktsi pengetahuan sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam proses itu keaktifan seseorang yang ingin tahu amat berperanan dalam perkembangan pengetahuannya.
Definisi konstruktivisme di atas mengungkapkan tentang pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran, didapat siswa karena berperan aktif untuk membangun sendiri pengetahuan dalam memorinya. Maka dari itu siswa memiliki tanggung jawab yang besar untuk pengetahuan bagi dirinya sendiri. Hal ini berkaitan dengan kemandirian siswa belajar. Siswa dituntut untuk mampu berpikir kritis sekaligus mampu mandiri dengan mencari tahu dan memahami pengetahuan. Orang yang mandiri adalah orang yang cukup diri (self sufficient), yaitu orang yang mampu berpikir dan berfungsi secara independen, tidak perlu bantuan orang lain, tidak menolak risiko dan bisa memecahkan masalah, bukan khawatir tentang masalah-masalah yang dihadapinya. Orang seperti itu akan mandiri dan dapat menguasai kehidupannya sendiri dan dapat menangani apa saja dari kehidupan ini yang ia hadapi Mohamad (2011: 94).
2.3. Berpikir Kritis
Dalam pendidikan saat ini keterampilan atau kemampuan berpikir kritis sangat penting untuk ditingkatkan karena dengan berpikir kritis kita dapat menganalisis suatu informasi dan mencermatinya dengan baik. Berpikir kritis adalah berpikir pada level yang kompleks dengan menggunakan analisis dan proses analisis terhadap suatu informasi yang didapat.
Menurut Beyer (1995, dalam Sani, dkk 2019: 14) ada enam aspek inti dari berpikir kritis, antara lain:
Disposisi. Pemikir kritis adalah orang yang skeptis, berpikiran terbuka, bebas nilai dalam berpikir, menghargai bukti dan nalar, menghargai kejelasan dan perubahan orientasi, melihat dengan berbagai sudut pandang, dan akan mengubah posisi atau pemikiran jika ada alasan untuk itu.
Kriteria. Kriteria harus digunakan dalam berpikir kritis, sehingga ada kondisi yang harus dipenuhi oleh suatu pernyataan agar dapat diyakini atau disimpulkan. Sebuah pernyataan tentang evaluasi dan resolusi harus didasarkan pada informasi yang signifikan dan perubahan orientasi, serta berasal dari sumber yang tepercaya. Pernyataan tersebut tidak boleh mengandung prasangka dan tidak logis
Argumen. Bukti logis harus dilakukan untuk mendukung pernyataan. Berpikir kritis mencakup proses mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengkonstruksi argumen.
Bernalar. Orang yang berpikir kritis harus memiliki kemampuan untuk merangkum sebuah kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukung kesimpulan (premis). Hubungan antar pernyataan atau data membutuhkan pemeriksaan secara logis.
Cara pandang. Cara pandang seseorang akan membentuk makna atau signifikansi bagi orang tersebut. Seorang pemikir kritis perlu melihat sebuah fenomena atau permasalahan.
Prosedur untuk menerapkan kriteria. Prosedur ini diperlukan untuk menganalisis proses berpikir. Beberapa prosedur yang dilakukan dalam
berpikir kritis adalah mengajukan pertanyaan, mengidentifikasi asumsi, dan membuat kesimpulan berdasarkan suatu kasus.
Watson dan Glaser, (1980, dalam Sani, dkk 2019: 14) menyatakan bahwa berpikir kritis sebagai kombinasi dari dimensi kognitif dan afektif. Menurut mereka, berpikir kritis didasarkan pada afiliasi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
2.5. Pemanasan Global
Berikut ini dijelaskan pengertian, penyebab, dampak dan upaya penanggulangan pemanasan global.
2.4.1. Pengertian Pemanasan Global
Pemanasan Global adalah meningkatnya temperatur rata-rata bumi akibat dari akumulasi panas di atmosfer yang disebabkan oleh efek rumah kaca (Suwedi, 2005). Efek rumah kaca adalah meningkatnya suhu dipermukaan bumi yang disebabkan oleh molekul gas rumah kaca salah satunya adalah molekul karbon dioksida yang berada diatmosfer. Adanya molekul ini dapat menyebabkan sinar yang dipancarkan kembali oleh bumi terhalangi karena sinar tersebut adalah gelombang panas berupa sinar inframerah. Diistilahkan dengan efek rumah kaca, karena peristiwanya mirip dengan yang terjadi di dalam rumah kaca yang biasa digunakan untuk kegiatan pertanian dan perkebunan untuk menghangatkan tanaman di dalamnya, akibatnya suhu di dalam ruangan rumah kaca lebih tinggi dari pada suhu diluarnya.
Gas Rumah Kaca (GRK) seperti gas CO2 (karbon dioksida), CH4 (metana),
N2O (nitrogen dioksida), PFCS (perfluorokarbon), HFCS (hidrofluorokarbon), SF6
(sulfurheksafluorida), dan uap air (H2O) merupakan gas-gas yang ada di atmosfer
2.5.2. Penyebab Pemanasan Global
Menurut Suryati dkk penyebab terjadinya pemanasan global adalah: Efek Rumah Kaca. Adanya efek rumah kaca mengakibatkan panas di
atmosfer semakin banyak dengan adanya gas-gas yang terperangkap oleh selimut dari gas-gas CO2 (karbon dioksida), CH4 (metana), N2O (nitrogen
dioksida), PFCS (perfluorokarbon), HFCS (hidrofluorokarbon), SF6
(sulfurheksafluorida), dan uap air (H2O).
Penipisan lapisan ozon di atmosfer, terutama di wilayah kutub. Kegiatan yang menghasilkan bahan perusak ozon (BPO) antara lain adalah kegiatan industri pendingin udara (kulkas dan AC), pesawat terbang, katalisator proses industri, bahan pencegah kebakaran dan fumigasi yang menggunakan CFC, Halon, Aerosol, Solvent, dan Metil Bromida.
Menurunnya kemampuan alam di dalam menyerap karbon. Aktivitas penggundulan hutan serta pola penggunaan lahan yang tidak ramah lingkungan akan mengurangi kemampuan alamiah alam dalam menyerap karbon yang ada di atmosfer.
2.5.3. Dampak Pemanasan Global Dampak pemanasan global adalah:
Mencairnya lapisan es yang oleh adanya penurunan ketebalan lapisan es di kutub dan adanya pecahan gunung es.
Naiknya muka air laut sebagai akibat dari mencairnya es di kutub dan pemuaian masa air laut.
Kemungkinan akan hilangnya beberapa pulau kecil dan tenggelamnya beberapa wilayah pesisir dan pantai.
Peningkatan suhu dan naiknya muka air laut mengakibatkan rusak atau matinya terumbu karang. Kematian terumbu karang menyebabkan hilangnya daerah potensi ikan dan daerah penahan energi gelombang Adanya perubahan produktivitas lahan yang akhirnya berpengaruh pada
Perubahan siklus/ pola serta intensitas curah hujan di berbagai wilayah mengakibatkan beberapa wilayah terjadi banjir dan beberapa wilayah kekeringan.
Kebakaran hutan bisa juga diakibatkan oleh bergesernya pola hujan di suatu wilayah dimana hutan yang biasanya basah tiba-tiba menjadi kering karena kekurangan hujan.
Banjir dan kekeringan bisa pula mendatangkan wabah penyakit pada daerah yang terkena banjir atau kekeringan.
2.5.4. Upaya Penanggulangan Pemanasan Global
Beberapa upaya penanggulangan pemanasan global:
Peningkatan kepedulian masyarakat terhadap upaya memperlambat/ mencegah meningkatnya pemanasan global dengan melakukan sosialisasi tentang pentingnya menjaga alam bagi kehidupan.
Mengurangi aktivitas yang menghasilkan gas rumah kaca dan mengurangi penggunaan bahan perusak ozon, dengan cara mengurangi proses pembakaran sampah dan serasah di tempat pembuangan akhir (TPA), kawasan pertanian , peternakan dan kawasan lainnya.
Penghematan penggunaan energi di bidang industri, pembangkit listrik berbahan bakar fosil, transportasi, dan rumah tangga serta mewajibkan uji emisi pada setiap kendaraan dan pemasangan catalitic converter pada kendaraan yang menghasilkan gas buang melebihi ambang batas.
Peningkatan sarana dan prasarana penanggulangan bencana banjir dan kekeringan dengan cara meningkatkan jumlah waduk dan sumur resapan dalam usaha mempertahankan ketersediaan cadangan air.
Peningkatan perangkat pemadam kebakaran kemudian mencegah terjadinya penebangan hutan secara liar serta merehabilitasi lahan kritis dengan cara penanaman pohon (reboisasi) sebagai upaya memperbanyak media penyerap gas karbon serta meningkatkan ketersediaan cadangan air. Merehabilitasi habitat hutan mangrove, terumbu karang dan padang lamun,
2.4. Karakter Mandiri
Karakter sudah ada dan melekat dalam diri seseorang sehingga setiap orang memiliki karakter yang berbeda. Karakter merupakan ciri khas dari setiap individu tentang cara berpikir, cara berperilaku dalam menjalin relasi dengan orang lain. Menurut Prayitno dan Belferik (2011: 47), karakter merupakan sifat pribadi yang relatif stabil pada diri individu yang menjadi landasan bagi penampilan perilaku dalam standar nilai dan norma yang tinggi.
Menurut Mustari (2014: 77-78), mandiri adalah sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. Mandiri itu merujuk pada kepercayaan diri seseorang untuk berhadapan dengan situasi apa saja. Dengan demikian orang yang mandiri adalah orang yang cukup diri (self-sufficient), yaitu orang yang mampu berpikir dan berfungsi secara independen, tidak perlu bantuan orang lain, tidak menolak risiko dan bisa memecahkan masalah, bukan hanya khawatir tentang masalah-masalah yang dihadapinya.
Dalam pengertian karakter dan mandiri di atas, maka karakter mandiri adalah cara seseorang berpikir dan berperilaku dalam menyelesaikan tugas atau masalah tanpa melibatkan orang lain.
2.5. Alur Penelitian
Alur penulisan adalah struktur penulisan dalam skripsi yang ditunjukan pada skema di bawah ini
Gambar 2.1. Skema Alur Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan memberikan tes awal (pretest) untuk mengetahui kemampuan awal mahasiswa. Mahasiswa diarahkan untuk mencapai tujuan dari pembelajaran. Selanjutnya peneliti memberikan tes akhir (posstest) untuk mengetahui kemampuan mahasiswa setelah pembelajaran. Hasil akhir akan dianalisis lalu disimpulkan.
Pretest 1. Pengetahuan 2. Berpikir Kritis
Mahasiswa diberi pembelajaran tentang materi pemanasan global dengan menggunakan metode pembelajaran
discovery learning. Mahasiswa diberi
perlakuan dengan menonton video, diskusi, mengerjakan LKM Posstest 1. Pengetahuan 2. Berpikir Kritis Analisis Observasi Kesimpulan
17
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang banyak menggunakan angka, gambar, tabel, grafik dan lainnya. Menurut Suparno (2014: 119), penelitian kuantitatif adalah desain riset yang menggunakan data berupa skor atau angka, dan menggunakan statistik untuk analisis. Penelitian ini digunakan untuk melihat perbedaan hasil pretest dan postest serta berpikir kritis mahasiswa dalam materi pemanasan global. Sedangkan penelitian kualitatif tidak menggunakan data berupa skor dan analisisnya tidak menggunakan statistik (Suparno, 2014: 33). Penelitian ini digunakan untuk melihat proses yang dialami secara langsung oleh mahasiswa selama penelitian dilakukan. Untuk data didapat dari hasil observasi dalam proses penelitian yang berlangsung dan hasil wawancara yang peneliti lakukan pada mahasiswa.
3.2. Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 8-15 Maret 2020 dan dilaksanakan di Asrama Student Residence Universitas Sanata Dharma
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian
Menurut Suparno (2014), populasi adalah semua anggota kelompok yang akan diteliti dan hasil penelitiannya diharapkan dapat berlaku. Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Mappi angkatan 2019 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Sampel yang digunakan adalah 15 orang mahasiswa Mappi Program Studi PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) angkatan 2019 Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Namun dalam penelitian hanya ada 9 orang.
3.4. Treatmen
Treatmen adalah perlakuan khusus yang diberikan oleh peneliti kepada subyek atau sampel yang akan diteliti untuk memperoleh data yang diinginkan (Suparno 2014: 49). Peneliti menggunakan metode pembelajaran discovery learning untuk mengajarkan materi pemanasan global dengan proses sebagai berikut:
1) Mahasiswa dibagi dalam 5 kelompok; 4 kelompok terdiri dari 2 orang mahasiswa, 1 kelompok yang lain berjumlah 3 orang
2) Mahasiswa mengamati dan menganalisis video yang ditayangkan mengenai pemanasan global.
3) Mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya mengenai video yang berisi tentang pengertian, penyebab, dampak dan upaya penanggulangan pemanasan global.
4) Setiap mahasiswa dalam kelompok memperoleh lembar kerja mahasiswa (LKM) dan memahami prosedur atau petunjuk yang ada di LKM
5) Mahasiswa melakukan discovery learning dalam kelompok tentang materi pemanasan global
6) Mahasiswa mendiskusikan hal yang diperoleh dalam kelompok secara bersama-sama dari video yang sudah ditayangkan
7) Mahasiswa menemukan kesimpulan dari hasil discovery learning.
8) Peneliti bersama mahasiswa menyimpulkan hasil discovery learning dan dikaitkan dengan materi
Dalam melaksanakan treatmen penulis menggunakan Rancangan Pembelajaran Semester (RPS) dan Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) sebagai bantuan. RPS dan LKM yang digunakan dalam penelitian secara lengkap ada pada lampiran.
3.5. Instrumen
Dalam melakukan penelitian, alat yang digunakan untuk mengumpulkan data disebut instrumen (Suparno, 2014). Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa tes dan non tes. Tes terdiri dari pretest, posttest dan hasil Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) sedangkan non tes berupa angket, wawancara, observasi. 3.5.1. Pretest dan Posstest
Pretest adalah test awal sedangkan posttest adalah test akhir. Untuk pretest dan posttest berisi tentang pernyataan tentang pemanasan global. Berikut ini merupakan dua tabel kisi pretest dan posstest. Tabel 3.1. merupakan tabel kisi-kisi soal pretest dan posstest pengetahuan sedangkan tabel 3.2. merupakan tabel kisi-kisi soal pretest dan posstest berpikir kritis.
Tabel 3.1 Kisi-kisi Soal Pretest dan Posttest Pengetahuan
No Indikator Soal Soal Jawaban
1 Menjelaskan pengertian pemanasan global
Jelaskan menurut pendapat anda apa yang dimaksud dengan pemanasan global?
Pemanasan global adalah meningkatnya temperatur rata-rata bumi akibat dari akumulasi panas di atmosfer karena adanya efek rumah kaca. Efek rumah kaca adalah fenomena menghangatnya bumi karena radiasi sinar matahari dari permukaan bumi, yang kemudian dipantulkan kembali ke angkasa dan terkerangkap oleh selimut dari gas-gas karbon dioksida, metana, dan lainnya. 2 Menganalisis aktivitas manusia yang menyebabkan terjadinya pemanasan global Keinginan manusia yang tidak terbatas menjadikan mereka serakah untuk menguasai alam. Selain itu, perkembangan teknologi juga membawa manusia pada kehidupan yang serba instan.
Disamping kemajuan tersebut, dampak negatif seperti kerusakan alam dan terganggunya kesehatan juga tak dapat dihindari dari kehidupan manusia. Sebutkan dan jelaskan contoh tindakan manusia
Aktivitas manusia yang membakar sampah. Manusia sering membakar sampah, sampah yang dibakar menghasilkan gas-gas yang berbahaya. Kepulan asap akan menuju atmosfer kemudian akan merusak lapisan ozon dan menganggu kesehatan manusia dimana semakin mudah terkena sinar ultraviolet.
Penggunaan energi di bidang industri, pembangkit listrik berbahan bakar fosil, transportasi, dan rumah tangga yang mengasilkan gas buang melebihi ambang batas. Sehingga menghasilkan banyak limbah yang beracun dan mempengaruhi kesehatan makhluk hidup karena berbahaya dan menyebabkan kerusakan ataupun pencemaran lingkungan hidup sehingga terjadinya pemanasan global
Penebangan hutan secara liar. Penebangan hutan secara liar dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan dan juga mengurangi
yang menyebabkan terjadinya kerusakan alam
kadar oksigen, karena hutan merupakan penghasil oksigen yang cukup besar. Selain itu banjir juga dapat terjadi karena
tumbuhan yang dulunya sebagai penahan air sudah tidak ada. Hal ini juga
menyebabkan suhu menjadi panas karena hutan sudah gundul.
Penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak dan zat kimia berbahaya lainnya. Aktivitas dan kehidupan ikan terganggu bahkan punah akibat zat-zat beracun, hal ini juga berdampak pada kerusakan ekosistem laut.
Timbunan sampah. Kita tahu di perkotaan ada tempat penimpunan sampah. Timbunan sampah dalam jumlah yang banyak akan menyebabkan terjadinya polusi udara. Tidak hanya bau yang tidak sedap, namun juga berbagai macam penyakit seperti gangguan paru- paru dan juga gangguan kulit. 3 Menganalisis pencemaran dan dampak pemanasan global Pada tahun 2019, Riau dan Kalimantan mengalami
kebakaran hutan dan lahan (Karhutala) yang
menyumbangkan dampak buruk bagi kehidupan. Peristiwa ini mengganggu kesehatan masyarakat dan menimbulkan kerusakan alam di wilayah tersebut hingga beberapa daerah disekitarnya. Jelaskan dampak dari terjadinya karhutala?
Kebakaran hutan dan lahan dapat
menyebabkan kerusakan lingkungan yang berdampak pada rusaknya ekosistem dan musnahnya flora dan fauna. Gas-gas yang dihasilkan dari kebakaran tersebut juga membahayakan kesehatan makhluk hidup dan adanya gangguan pernafasan seperti Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), asma, penyakit paru obstruktif kronik. Selain itu, asap bisa mengganggu jarak pandang, terutama untuk transportasi penerbangan. Dampak lainnya: Kebakaran hutan dan lahan menyebakan tersebarnya asap dan emisi gas karbondioksida dan gas-gas lain ke udara yang berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim. Kebakaran hutan akan menyebabkan hutan menjadi gundul sehingga tak mampu menampung cadangan air saat musim hujan. Hal ini yang menjadi faktor terjadinya tanah longsor maupun banjir. Berkurangnya sumber air bersih dan menyebabkan kekeringan karena kebakaran hutan menyebabkan hilangnya pepohonan yang menampung cadangan air.
4 Menganalisis tindakan nyata untuk mengatasi masalah pemanasan global yang diakibatkan Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dan industri pabrik
mengakibatkan naiknya suhu udara bumi, terutama di wilayah perkotaan.
1. Batasi Penggunanaan kertas Gunakan kertas se-efektif mungkin
misalnya dengan mencetak print out bolak-balik pada setiap kertas. Bila anda nge-print sesuatu yang tidak terlalu penting, gunakanlah kertas bekas yang dibaliknya masih kosong.
oleh aktivitas manusia
Peristiwa ini juga berdampak pada proses pernafasan yang dialami oleh makhluk hidup. Hal tersebut karena gas buangan dari
kendaraan dan pabrik bersifat sebagai gas rumah kaca dan bersifat racun bagi tubuh. Apa yang anda akan lakukan untuk mengatasi peristiwa tersebut?
2. Naik kendaraan umum
Saat ini jumlah kendaraan pribadi sudah teramat banyak dan bikin sumpek. Sector transportasi menyumbang sampai 14 % emisi gas rumah kaca ke atmosfer, jika kita menggunakan kendaran umum maka kita mengurangi emisi gas rumah kaca, karena dalam satu kendaraan umum bisa mengangkut puluhan orang, dan itu sangat hemat energi.
3. Jangan pakai kantong plastik Plastik ini memang unsur yang sulit
terurai, butuh 1000 tahun untuk mengurainya didalam tanah. Efek Gas rumah kaca yang
ditimbulkannya juga cukup besar. Maka beralihlah ke kantong kain, misal dari kain serat alami.
4. Melakukan penghematan listrik Dengan berhemat listrik, secara tidak
langsung kita telah mengurangi kadar CO2 pada lapisan atmosfer karena sebagian besar gas CO2 ini dihasilkan dari pembangkit listrik yang berbahan bakar fosil.
5. Menanam pohon atau reboisasi
Menanam pohon atau reboisasi merupakan langkah untuk menyeimbangkan kadar gas CO2 di lapisan atmosfer. Karena pohon akan menyerap gas CO2 untuk melakukan proses fotosintesis dan akan melepaskan oksigen ke udara. Hal ini akan membuat udara pada lapisan atmosfer lebih sejuk dan pemanasan global sedikit teratasi. 5 Menganalisis contoh tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari tentang cara menyelamatkan lingkungan Anda sekalian merupakan calon pendidik atau calon guru khususnya guru sekolah dasar (SD). Apa yang akan anda lakukan untuk mengajak peserta didik sekolah dasar dalam mengurangi pemanasan global agar bumi lestari?
1. Membawa peserta didik belajar dalam dan menikmati pemandangan indah
pepohonan. Kemudian menjelaskan bahwa ketika kita tidak menjaga alam maka akan terjadi kerusakan seperti hutan gundul, sehingga suhu menjadi naik (panas) 2. Mengajarkan peserta didik untuk
menghemat listrik. Ketika selesai
menonton TV maka TV dimatikan, ketika bangun dna hari sudah terang, mematikan lampu.
3. Mengajarkan murid bahwa jalan kaki itu sehat, dan dapat membantu mengurangi kadar asap-asap kendaraan yang berbahaya.
Tabel 3.2. Kisi-kisi Soal Pretest dan Posttest Berpikir Kritis
No Indikator Soal Soal Jawaban
1. Menjelaskan pengertian pemanasan global
Jelaskan apa yang dimaksud dengan pemanasan global?
1. Menurut Suriandjo (2019), pemanasan global adalah fenomena yang menjadi permasalahan yang menjadi sorotan dunia masa kini.
2. Menurut Riyanto (2007), pemanasan global (global warming) merupakan proses diserapnya panas matahari oleh lapisan atmosfer bumi yang sangat tipis lalu dipantulkan kembali ke luar angkasa dalam bentuk sinar infra merah. Radiasi sinar ini kemudian terjebak sehingga menjadikan atmosfer semakin panas. 3. Menurut Satriago (dalam Suryati dkk
2007), pemanasan global (global
warming) diartikan sebagai akumulasi
panas di atmosfer yang disebabkan oleh efek rumah kaca sehingga mengakibatkan peningkatan rata-rata temperatur bumi 4. Menurut pendapat saya, pemanasan global
adalah meningkatnya rata-rata temperatur bumi akibat terjebaknya panas matahari yang disebabkan oleh efek rumah kaca. 2. Menganalisis aktivitas manusia yang menyebabkan terjadinya pemanasan global Manusia mempunyai banyak keinginan namun tidak memperhatikan akibat dari keinginnanya tersebut. Salah satu contoh adalah dengan adanya peningkatan pengguna transportasi yang mengeluarkan gas beracun dan berbahaya yang menganggu kesehatan maupun kehidupan makhluk hidup lainnya. Berdasarkan contoh di atas sebutkan dan jelaskan aktivitas lain yang dilakukan manusia yang menyebabkan kerusakan
lingkungan hidup !
1. Membakar sampah dalam jumlah besar. Sampah yang dibakar akan menghasilkan gas-gas yang mengganggu kesehatan dan mejadi cikal bakal terjadinya pemanasan global. Asap yang menggumpal dari pembakaran tadi akan terbang bebas ke lingkungan hingga menuju atmosfer. Bila panas dari pembakaran banyak yang terperangkap di bumi dibandingkan dengan yang kembali ke udara, maka panas dibumi akan bertambah panas dari sebelumnya
2. Penggunaan energi di bidang industri, pembangkit listrik berbahan bakar fosil, transportasi, dan rumah tangga yang menghasilkan gas buang melebihi batas wajar. Tindakan manusia seperti membuang sampah sembarang menjadikan timbunan sampah yang mendatangkan polusi udara. Lampu dan AC yang dinyalakan jika tidak diperlukan, menggunakan kendaraan untuk pergi ke lokasi yang jaraknya dekat, dan memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan saat berpergian menggali banyak panas sehingga bumi semakin panas. Beberapa tindakan sederhana yang biasa diabaikan manusia namun sangat fatal karena memendirikan pabrik tanpa mempertimbangan keadaan lingkungan dengan membuang limbah dari
pabrik tersebut tidak pada tempatnya. adalah contoh sederhana yang dapat mendatangkan pemanasan global. Contoh lain misalnya pembangunan pabrik untuk mendukung perekonomian masyarakat juga dapat memicu panas global. Hal ini karena untuk membangun pabrik sudah merusak alam karena membuka lahan baru. Hal sederhana seperti seperti itu dapat memicu terjadinya panas global. Selain itu, limbah dari pabrik yang tidak dikelola dengan baik juga berbahaya karena mengeluarkan gas-gas yang menyumbangkan terjadinya pemanasan global.
3. Penebangan hutan secara liar menyebabkan kerusakan hutan yang memicu pemanasan global. Hutan dan lahan yang telah gundul menjadikan suhu bumi lebih panas dan mengurangi kadar oksigen. 3. Menganalisis pencemaran dan dampak pemanasan global Kebakaran hutan dan lahan (karhutala) dapat menyebabkan kerusakan lingkungan hidup. Kebakaran sering terjadi dalam kehidupan nyata. Jelaskan dampak dari terjadinya karhutala?
Kebakaran hutan dan lahan dapat
menyebabkan kerusakan lingkungan yang berdampak pada rusaknya ekosistem dan musnahnya flora dan fauna. Gas-gas yang dihasilkan dari kebakaran tersebut juga membahayakan kesehatan makhluk hidup dan adanya gangguan pernafasan seperti Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), asma, penyakit paru obstruktif kronik. Selain itu, asap bisa mengganggu jarak pandang, terutama untuk transportasi penerbangan. Dampak lainnya: Kebakaran hutan dan lahan menyebakan tersebarnya asap dan emisi gas karbondioksida dan gas-gas lain ke udara yang berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim. Kebakaran hutan akan
menyebabkan hutan menjadi gundul sehingga tak mampu menampung cadangan air saat musim hujan. Hal ini yang menjadi faktor terjadinya tanah longsor maupun banjir. Berkurangnya sumber air bersih dan menyebabkan kekeringan karena kebakaran hutan menyebabkan hilangnya pepohonan yang menampung cadangan air.
4. Menganalisis tindakan nyata untuk mengatasi masalah pemanasan global yang Pembangunan pabrik yang cukup banyak dapat merusak
lingkungan hidup karena pembuangan dari pabrik berupa
1. Batasi Penggunanaan kertas Gunakan kertas se-efektif mungkin
misalnya dengan mencetak print out bolak-balik pada setiap kertas. Bila anda nge-print sesuatu yang tidak terlalu penting, gunakanlah kertas bekas yang dibaliknya masih kosong.
diakibatkan oleh aktivitas manusia
gas beracun dan berbahaya. Peristiwa ini juga berdampak pada proses pernafasan makhluk hidup. Apa yang anda akan lakukan untuk mengatasi peristiwa tersebut?
2. Naik kendaraan umum
Saat ini jumlah kendaraan pribadi sudah teramat banyak dan bikin sumpek. Sector transportasi menyumbang sampai 14 % emisi gas rumah kaca ke atmosfer, jika kita menggunakan kendaran umum maka kita mengurangi emisi gas rumah kaca, karena dalam satu kendaraan umum bisa mengangkut puluhan orang, dan itu sangat hemat energi.
3. Jangan pakai kantong plastik Plastik ini memang unsur yang sulit
terurai, butuh 1000 tahun untuk mengurainya didalam tanah. Efek Gas rumah kaca yang
ditimbulkannya juga cukup besar. Maka beralihlah ke kantong kain, misal dari kain serat alami.
4. Melakukan penghematan listrik Dengan berhemat listrik, secara tidak
langsung kita telah mengurangi kadar CO2 pada lapisan atmosfer karena sebagian besar gas CO2 ini dihasilkan dari pembangkit listrik yang berbahan bakar fosil.
5. Menanam pohon atau reboisasi
Menanam pohon atau reboisasi merupakan langkah untuk menyeimbangkan kadar gas CO2 di lapisan atmosfer. Karena pohon akan menyerap gas CO2 untuk melakukan proses fotosintesis dan akan melepaskan oksigen ke udara. Hal ini akan membuat udara pada lapisan atmosfer lebih sejuk dan pemanasan global sedikit teratasi. 5. Menganalisis contoh tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari tentang cara menyelamatkan lingkungan Anda sekalian merupakan calon pendidik atau calon guru khususnya guru sekolah dasar (SD). Apa yang akan anda lakukan untuk mengajak peserta didik sekolah dasar dalam mengurangi pemanasan global agar bumi lestari?
1. Membawa peserta didik belajar dalam dan menikmati pemandangan indah
pepohonan. Kemudian menjelaskan bahwa ketika kita tidak menjaga alam maka akan terjadi kerusakan seperti hutan gundul, sehingga suhu menjadi naik (panas) 2. Mengajarkan peserta didik untuk
menghemat listrik. Ketika selesai
menonton TV maka TV dimatikan, ketika bangun dna hari sudah terang, mematikan lampu.
3. Mengajarkan murid bahwa jalan kaki itu sehat, dan dapat membantu mengurangi kadar asap-asap kendaraan yang berbahaya.
3.5.2. Angket
Angket adalah sejumlah pernyataan tertulis untuk memperoleh informasi dari responden yang diteliti. Dalam penelitian ini satu angket yang digunakan, yaitu angket karakter mandiri. Berikut ini merupakan tabel kisi-kisi angket karakter mandiri.
Tabel 3.3. Kisi-Kisi Angket Mandiri No Aspek Karakter
Mandiri Indikator Pernyataan
1. Percaya diri Mahasiswa tidak bergantung kepada orang lain
Mahasiswa yakin terhadap diri sendiri
1. Saya mengerjakan tugas sendiri tanpa melihat dan bertanya kepada orang lain
2. Saya yakin setiap tugas yang saya kerjakan adalah benar
3. Saya berani berbicara dan
memberikan pendapat di depan orang banyak
4. Saya mengerjakan tugas tanpa ragu-ragu dan berusaha mengerjakan dengan maksimal
5. Saya mengerjakan tugas individu secara mandiri 2. Disiplin. Mahasiswa memperhatikan penjelasam Dosen ketika mengajar Mahasiswa tidak
menunda tugas yang diberikan Dosen
6. Saya memperhatikan dosen yang sedang mengajar
7. Jika saya belum paham tentang materi pelajaran, saya bertanya kepada dosen atau teman yang sudah memahami
8. Setiap ada tugas saya langsung mengerjakan pada hari itu juga 9. Saya mengumpulkan tugas dengan
tepat waktu
10. Saya mengerjakan tugas dengan tepat waktu
3. Inisiatif Mahasiswa belajar dengan keinginan sendiri dan sudah belajar sebelum kuliah dimulai
Mahasiswa berusaha mencari referensi lain dalam belajar tanpa disuruh Dosen
11. Saya mengerjakan latihan soal meskipun tidak disuruh dosen 12. Saya belajar sendiri tanpa disuruh
orang tua
13. Saya bertanya jika kesulitan dalam belajar
14. Saya mempelajari terlebih dahulu materi yang akan diajarkan di kelas
15. Saya berusaha mencari referensi lain tanpa disuruh dosen
16. Saya belajar secara rutin tanpa disuruh oleh orang lain walaupun tidak ada ujian
17. Saya bertanggung jawab dalam menghadapi tugas yang diberikan dosen tanpa bantuan orang lain 18. Saya belajar secara teratur tidak
hanya ketika ujian 4. Tanggung jawab Mahasiswa sadar dan
ingin untuk belajar Mahasiswa ikut serta
dan bersunguh-sungguh dalam belajar
19. Saya selalu ikut mengerjakan tugas kelompok dan memberikan pendapat dari hasil pemikiran saya
20. Ketika membahas soal atau masalah secara kelompok, saya ikut aktif mencari sumber referensi atau bacaan
3.5.3. Pengamatan atau Observasi
Menurut Suparno (2014: 62), pengamatan atau observasi merupakan kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu obyek dengan menggunakan alat indera (penciuman, pendengaran, peraba, pengecap, rekaman gambar, rekaman suara, dll). Observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi non sistematis atau tidak menggunakan instrumen pengamatan. Observasi dilakukan saat proses penelitian berlangsung.
3.5.4. Wawancara
Wawancara adalah semacam kuesioner lisan, suatu dialog yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara bebas terarah yakni bebas menanyakan apa saja yang diperlukan (Suparno 2014:61). Wawancara dilakukan saat proses penelitian berlangsung. Pada tabel 3.4 di bawah merupakan beberapa pertanyaan wawancara. Pertanyaan dapat dikembangkan sesuai dengan jawaban mahasiswa.
Tabel 3.4 Pertanyaan Wawancara
No Pertanyaan
1. Bagaimana pendapat anda mengenai pemanasan global?
2. Apa tindakan nyata yang anda lakukan untuk mengatasi pemanasan global? 3. Jika kendaraan bermotor dan pabrik bertambah apa akibatnya bagi kehidupan? 4. Bagaimana kondisi lingkungan hidup di daerah anda, apakah masih baik dan sehat? 5. Sebagai calon guru sekolah dasar bagaimana cara anda mengajarkan kepada siswa untuk
menjaga bumi akan tetap lestari?
3.6. Analisis Data
Metode analisis menggunakan analisis statistik nonparametrik karena sampel kecil. Digunakan uji Wilcoxon Signed Ranks.
3.6.1. Skoring Soal Pretest dan Posttest
Pretest dan postest merupakan Test. Pretest adalah test awal sedangkan posttest adalah test akhir. Materi untuk test dalam penelitian ini adalah materi pemanasan global. Soal pretest dan posttest beserta jawabannya ada pada lampiran. Tabel 3.5 berikut merupakan rubrik penilaian dari soal pretest dan posttest.
Tabel 3.5. Rubrik Penilaian No Indikator Penilaian
Kognitif
Skor Aspek yang diteliti
1. Pengetahuan 20 Menjawab soal tentang pengertian pemanasan global dengan kalimat sendiri dan jawaban benar
15 Menjawab soal tentang pengertian pemanasan global dan jawaban benar
10 Menjawab soal tentang pengertian pemanasan global tetapi jawaban kurang lengkap
5 Menjawab soal tentang pengertian pemanasan global tetapi jawaban salah
0 Tidak menjawab sama sekali
2. Analisis 20 Menganalisis penyebab, akibat dari terjadinya pemanasan global dalam kehidupan dengan kalimat sendiri dan jawaban benar
15 Menganalisis penyebab, akibat dari terjadinya pemanasan global dalam kehidupan dan jawaban benar
10 Menganalisis penyebab, akibat dari terjadinya pemanasan global dalam kehidupan tetapi jawaban kurang lengkap 5 Menganalisis penyebab, akibat dari terjadinya pemanasan
global dalam kehidupan tetapi jawaban salah 0 Tidak menjawab sama sekali
3. Penerapan 20 Menganalisis upaya penanggulangan dari pemanasan global dan penerapannya dalam kehidupan serta menganalisis cara yang tepat untuk mengajarkan kepada siswa pentingnya menjaga lingkungan hidup dengan kalimat sendiri dan jawaban benar
15 Menganalisis upaya penanggulangan dari pemanasan global dan penerapannya dalam kehidupan serta menganalisis cara yang tepat untuk mengajarkan kepada siswa pentingnya menjaga lingkungan hidup dan jawaban benar
10 Menganalisis upaya penanggulangan dari pemanasan global dan penerapannya dalam kehidupan serta menganalisis cara yang tepat untuk mengajarkan kepada siswa pentingnya menjaga lingkungan hidup tetapi jawaban kurang lengkap
5 Menganalisis upaya penanggulangan dari pemanasan global dan penerapannya dalam kehidupan serta menganalisis cara yang tepat untuk mengajarkan kepada siswa pentingnya menjaga lingkungan hidup tetapi jawaban salah
0 Tidak menjawab sama sekali Nilai kemudian akan dihitung dengan cara:
𝒏𝒊𝒍𝒂𝒊 = 𝒔𝒌𝒐𝒓 𝒕𝒐𝒕𝒂𝒍 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒑𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉
𝒔𝒌𝒐𝒓 𝒎𝒂𝒌𝒔𝒊𝒎𝒂𝒍 𝒙 𝟏𝟎𝟎
Skor maksimal dalam penelitian ini adalah 100 3.6.2. Klasifikasi dan Skoring Hasil Angket
Angket yang telah diberikan kepada responden kemudian dikumpulkan kembali untuk dianalisis dengan menghitung skor total. Pada angket terdapat 5 pilihan jawaban, antara lain: selalu (S), sering kali (SK), kadang-kadang (K), jarang (J), dan tidak pernah (TP). Angket yang diberikan kepada responden adalah angket karakter mandiri yang memilki skor seperti pada tabel 3.6. Skor maksimal untuk semua pernyataan adalah 100, sedangkan skor minimal adalah 20. Oleh karena itu, peneliti membuat kriteria dalam mengklasifikasikan karakter mandiri responden seperti tabel 3.7.
Tabel 3.6 Pilihan Jawaban dan Skor Angket
Pilihan Jawaban Skor
Selalu 5
Sering Kali 4
Kadang-kadang 3
Jarang 2
Tidak Pernah 1
Tabel 3.7 Klasifikasi Karakter Mandiri No Kriteria Penilaian
Rerata Skor Kategori
1. 20-34 Sangat Kurang
2. 35-49 Kurang
3. 50-64 Cukup
4. 65-80 Baik
5. 81-100 Sangat Baik
3.6.3. Analisis statistik nonparametrik
Skor yang sudah didapatkan lalu diolah menggunakan analisis statistik nonparametrik. Analisis statistik nonparametrik menggunakan Uji Peringkat Bertanda Wilcoxon yang terdapat dalam software SPSS 17.0 for windows. Peneliti menggunakan uji tersebut karena responden dalam penelitian ini berjumlah 9 orang. 3.6.4. Pengamatan atau Observasi
Pengamatan atau observasi akan dianalisis dengan melaporkan hasil pengamatan kegiatan mahasiswa selama berdinamika diluar maupun selama pembelajaran berlangsung. Laporan mengenai pengamatan ini berupa dokumentasi foto dan video.
3.6.5. Wawancara
Analisis data yang dilakukan dalam wawancara untuk menanyakan dan memperkaya informasi terkait penelitian yang dilakukan.
3.7. Validitas
Validitas mengukur atau menentukan apakah suatu tes sungguh mengukur apa yang mau diukur, yaitu apakah sesuai dengan tujuan (valid). Validitas menunjukan adanya kesesuaian, kepenuh-artian, bergunanya kesimpulan yang dibuat peneliti berdasarkan data yang mau diukur. Tes dikatakan valid apabila mengukur yang mau diukur (Suparno 2014:65).
Dalam penelitian ini, instrumen dibuat sesuai dengan kisi-kisi yang mengacu pada materi pemanasan global. Validitas isi instrumen dilakukan oleh Bapak Rohandi, Ph. D. yang merupakan ahli fisika dan juga dosen pendidikan fisika Universitas Sanata Dharma. Berikut ini pada tabel 3.7 kisi-kisi validitas.
Tabel 3.8 Kisi-kisi Validitas Isi No Kompetensi yang diharapkan Indikator
1. Mendefinisikan pemanasan global melalui interaksi antar makhluk hidup dengan lingkungannya
1. Mengidentifikasikan macam gejala
interaksi makhluk hidup dengan lingkungan 2. Menjelaskan hubungan spesifik antara
makhluk hidup dengan lingkungan 3. Mendefinisikan pemanasan global 2. Menganalisis tentang penyebab
terjadinya pemanasan global
1. Mendefinisikan konsep pemanasan global 2. Menganalisis penyebab terjadinya
pemanasan global 3. Menganalisis pencemaran dan dampak,
serta cara mengatasi bagi makhluk hidup
1. Mengeksplorasi terjadinya pencemaran lingkungan
2. Menganalisis dampak pemanasan global bagi kehidupan
3. Menganalisis upaya untuk mengatasi terjadinya pemanasan global
4. Menganalisis rancangan pembelajaran Sekolah Dasar yang berkaitan dengan pemanasan global
31
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Penelitian
Penelitian ini telah dilakukan selama 1 minggu yang dibagi dalam 3 kali pertemuan pada tanggal 8 Maret 2020 sampai dengan 15 Maret 2020. Deskripsi ketiga pertemuan pada penelitian yang telah dilakukan yakni sebagai berikut:
1) Pertemuan 1 (Minggu, 8 Maret 2020)
Pada pertemuan pertama penelitian dilaksanakan di ruang belajar bagian timur Asrama Student Residence Universitas Sanata Dharma pada pukul 10.30 WIB sampai dengan 12.00 WIB. Responden yang hadir berjumlah 15 orang. Peneliti dan responden saling berkenalan, kemudian dilanjutkan dengan pengisian lembar persetujuan sebagai responden, menjawab soal pretest berisi 10 pertanyaan terdiri atas 5 soal pengetahuan dan 5 soal berpikir kritis, pengisian angket mandiri yang berisi 20 pernyataan. Saat menjawab pernyataan angket ada beberapa responden yang masih bingung terkait jawaban pada angket dan ada 2 orang responden yang bertanya “ini maksudnya gimana kak?”. Kemudian peneliti menjelaskan bahwa keterangan jawaban angket seperti S, TP adalah selalu dan tidak pernah ada di atas tabel pernyataan angket. Waktu pengerjaan soal pretest yang dilakukan responden adalah selama 1 jam dan pengisian angket mandiri selama 25 menit.