• Tidak ada hasil yang ditemukan

Politeknik Negeri Malang 2) Politeknik Negeri Malang 3)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Politeknik Negeri Malang 2) Politeknik Negeri Malang 3)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

A.18

PENERAPAN STRATEGI 4-R (REDEFINING, RELOOKING,

REDESIGNING DAN REINCORPORATING) DALAM MELAKUKAN

HUMAN RESOURCE TRANSFORMATIONS DI BIDANG HOSPITALITY

INDUSTRY PADA ERA COVID-19

Ellyn Eka Wahyu 1), Siti Nurbaya2), Cahya Nova Kurniawan3) 1) Politeknik Negeri Malang

[email protected] 2) Politeknik Negeri Malang [email protected]

3) Universitas Brawijaya [email protected]

Abstract

Covid-19 had bring several impacts, especially in the hospitality industry. Despite from the fact that the pandemic may causes various impacts on physical health (such as flu, coughs, and triggers other comorbid diseases) it also had some impacts on down-rate of the hotel’s occupancy due to the prohibition on travel and holding events. Since the lockdown scenario and social restrictions were introduced as a step to mitigate the spread of the Covid-19 virus, there were many problems that related to the hospitality industry, such as hospitality-hygiene, food-hygiene, and many problems that related to minimizing physical contact in hospitality services. Even though it was still in a pandemic atmosphere, the hotel business was expected to be able to survived by making some adjustments on human resource skills. This study is an integrative review by combining various kinds of literature from various disciplines such as health science, management science, and hospitality. Researchers provided advice to companies that engaged in the hospitality sector based on literature reviews by providing 4-R (Redefining, Relooking, Redesigning and Reincorporating) propositions that can be applied by HRD to improved corporate intervention in extraordinary situations such as Covid-19.

Keywords: 4-R Strategy, Human Resource Transformations, Covid-19

Abstrak

Covid-19 telah membawa sejumlah dampak khususnya dalam industri hospitality. Selain karena wabah tersebut menyebabkan berbagai dampak terhadap kesehatan fisik (seperti munculnya flu, batuk, dan memicu penyakit komorbid lainnya) juga menimbulkan dampak terhadap menurunnya tingkat okupansi hotel karena adanya larangan untuk berwisata dan larangan untuk menyelenggarakan event. Sejak skenario lockdown dan pembatasan interaksi sosial diperkenalkan sebagai langkah untuk mengatasi penyebaran virus covid-19, muncul berbagai permasalahan baru terkait dengan industri hospitality seperti masalah higienitas tempat menginap, higienitas makanan dan minuman, serta permasalahan minimalisasi terjadinya kontak fisik dalam pelayanan kepada konsumen. Meskipun masih dalam suasana

(2)

A.19

pandemi, usaha perhotelan diharapkan mampu untuk tetap bertahan dengan melakukan beberapa penyesuaian pada penguasaan skill sumber daya manusia. Kajian ini merupakan review integratif dengan menggabungkan berbagai macam literatur dari berbagai disiplin ilmu seperti ilmu kesehatan ilmu manajemen, dan ilmu tentang hospitality. Peneliti memberikan advis kepada perusahaan yang bergerak di bidang hospitality berdasarkan kajian literatur dengan memberikan proposisi 4-R (Redefining, Relooking, Redesigning dan Reincorporating) yang dapat diterapkan oleh HRD untuk memperbaiki pola intervensi perusahaan dalam situasi luar biasa seperti Covid-19.

Kata – Kata Kunci: Strategi 4-R, Transformasi HR, Industri Hospitality,

Covid-19

1. PENDAHULUAN

Setelah ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok mereda pada akhir tahun 2019, ketidakpastian kembali muncul pada awal tahun 2020. Dunia dilanda kepanikan akibat menyebarnya virus COVID-19 dengan sangat cepat (Brodjonegoro, 2020). Virus corona menyebabkan kepanikan di China dan menimbulkan korban jiwa sampai ribuan orang penduduk China. Dengan merebaknya virus tersebut, hampir seluruh pemerintahan dunia memberlakukan local

lockdown serta social and physical distancing

untuk menurangi laju persebaran virus tersebut (Gursoy & Chi, 2020).

Atas pemberlakuan program pembatasan sosial tersebut, tak pelak menyebabkan banyak perusahaan kecil, menengah maupun besar yang akhirnya terpaksa menutup usahanya untuk sementara. Tidak hanya perusahaan saja yang tutup, ribuan tempat

usaha makanan/

minuman juga terpaksa tutup (Budiyanti, 2020). Indonesia khususnya pada sektor

hospitality juga mengalami pukulan telak

serupa. Lembaga Mc Kinsey merilis sebuah artikel yang ditulis oleh Potia & Dahiya (2020). Artikel tersebut menjelaskan bahwa industri hospitality merupakan industri terparah kedua setelah industri penerbangan domestik yang terpukul akibat adanya pandemi covid-19. Penurunan penerimaan hotel berkisar antara minus 83 persen sejak diberlakukannya pembatasan sosial yang berakibat turunnya angka okupansi hotel dan

penginapan sejenis. Secara infografis dapat dijelaskan melalui gambar berikut ini:

Gambar 1. Dampak Pandemi Terhadap Industri

Hospitality di Indonesia

Sumber : Potia & Dahiya (2020)

Dalam sebuah artikelnya, Sukmana (2020) mengungkapkan bahwa Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani menjelaskan dampak pandemi Covid-19 kepada industri hotel dan restoran. sejak Januari hingga April 2020, hotel dan restoran mengalami kerugian sebesar Rp 70 triliun. Pasalnya, ada lebih 2.000 hotel dan 8.000 restoran yang menghentikan operasionalnya. Akibat dari Covid-19, banyak pula karyawan yang dirumahkan atau dicutikan di luar tanggungan perusahaan (unpaid leave) karena masih menunggu perkembangan peningkatan permintaan.

(3)

A.20 Meskipun dalam suasana pandemi, usaha bisnis tidak dapat berhenti seluruhnya termasuk perhotelan. Usaha-usaha untuk survive di era pandemi telah nampak seperti pada usaha restoran yang telah beralih dengan mengurangi proram

dine-in dan memperbanyak program take away

(Budiyanti, 2020). Namun permasalahannya adalah, industri hospitality sangat erat kaitannya dengan industri pariwisata, industri transportasi dan industri MICE (meeting, incentive, convention and exhibition). Ketika pemerintah

melakukan pembatasan sosial berskala besar maka secara otomatis seluruh industri yang terkait dengan perhotelan akan sama-sama terhenti (Rogers, 2020) .

Berbagai dampak dari covid-19 terhadap

sektor industri menyebabkan munculnya

tantangan baru bagi Human Resource Department (HRD) untuk mencari berbagai alternatif dalam mengatasi career shocks pada pekerja (Hite & McDonald, 2020). Beliau menambahkan, career

shocks merupakan sebuah kondisi yang

mencerminkan sebuah disrupsi / extraordinary

event yang mampu menyebabkan terjadinya

perubahan terhadap frekuensi, intensitas, prediktabilitas, prevalensi, dan durasi pekerjaan. Dalam situasi covid-19, pekerja akan dihadapkan kepada berbagai demands yang tidak pernah muncul sebelumnya sehingga peran HRD dalam melakukan proses recovery terhadap Sumber Daya Manusia penunjang kegiatan operasional menjadi sangat penting (Hite & McDonald, 2020). Mengacu kepada latar belakang yang telah dikemukakan, maka research question dalam penulisan review ini antara lain:

a) Apa sajakah dampak pandemi covid-19

terhadap perubahan minat konsumen

mengenai hotel ?

b) Bagaimanakah konsep 4-R (Redefining,

Re-looking, Re-designing dan Re-incorporating)

dapat diterapkan oleh Human Resource

Department industri perhotelan dalam

menjawab permintaan dari konsumen hotel di era pandemi?

Dalam review ini, peneliti bermaksud

mengemukakan konsep 4-R yang dapat

digunakan oleh HRD untuk redefining,relooking, redesigning dan reincorporating pola intervensi

HRD dalam membangun kompatibilitas antara tujuan organisasional dan produktivitas kerja terhadap berbagai tantangan dan permintaan yang muncul akibat pandemi covid-19 (Arora & Suri, 2020).

2. KAJIAN LITERATUR

2.1. Pergeseran Minat Konsumen Dalam Bidang Hospitality Di Era Covid-19

Gursoy & Chi, (2020) dalam sebuah risetnya mengungkapkan bahwa dimasa pandemi covid-19 seperti saat ini hampir seluruh pemerintahan dunia memberlakukan pembatasan interaksi sosial yang berdampak

pada keengganan masyarakat untuk

melakukan wisata atau sekedar berkunjung ke hotel. Dalam temuannya, terdapat semacam ketakutan pribadi (self-anxiety) konsumen yang cukup tinggi terhadap beberapa hal yang terkait dengan pelayanan hotel antara lain sebagai berikut:

a) Apakah hotel memiliki kemampuan untuk mendeteksi, melacak dan melakukan test terhadap setiap pengunjung hotel untuk menjamin lingkungan hotel terbebas dari virus?

b) Apakah hotel menunjang proses sanitasi yang memadai (seperti penempatan hand

sanitizer di pintu masuk serta seluruh

karyawan hotel mengenakan masker dan sarung tangan)?

c) Apakah hotel menerapkan physical

distancing dan melakukan pembatasan

terhadap jumlah wisatawan yang

berkunjung ke hotel tersebut?

d) Apakah karyawan hotel sudah diberikan pelatihan terhadap pelaksanaan protokol

kesehatan untuk seluruh kegiatan

pelayanan hotel (seperti pembersihan ruang tidur, kebersihan alat dan tempat makan dan kebersihan kamar mandi) dan mampu untuk membersihkan sudut-sudut ruangan / peralatan yang terkontak oleh konsumen dengan cairan disinfektan secara berkala?

e) Apakah hotel sudah memiliki peralatan yang memadai untuk meminimalisir kontak antar manusia (seperti penggunaan

contactless payment, menu digital, keyless entry, atau bahkan touchless lift).

(4)

A.21 2.2. Konsep 4-R

Konsep ini dikemukakan oleh Arora & Suri, (2020) sebagai sebuah masterplan bagi HRD untuk melakukan penyesuaian pola kerja dikala pandemi. Konsep ini memiliki empat komponen antara lain Defining,

Re-Looking, Re-Designing dan Re-Incorporating

yang akan dijelaskan dibawah ini:

a) Re-Defining

Arora & Suri, (2020) mengemukakan bahwa pada tahap ini setiap HRD profesional harus memahami konteks krisis baik dari segi sifat dan luasnya serta mengeksplorasi seluruh proses dan strategi HRD yang lazim untuk operasional dalam extraordinary time. Risiko dan tantangan yang terkait dengan COVID-19 juga perlu ditangani. Hal yang paling penting dalam konteks ini adalah pembenahan terhadap pola pikir tenaga kerja saat ini. Profesional HRD harus mencoba memetakan pola pikir individu dalam organisasi untuk menentukan tingkat kecemasan, stres, kebingungan dan dilema. Selain itu HRD diharapkan mampu menawarkan mekanisme ketahanan yang sesuai dengan kondisi ini.

b) Re-Looking

Kemudian Arora & Suri, (2020) mengemukakan bahwa pada tahap ini HRD profesional didalam organisasi perlu memperhatikan komunikasi karyawan dengan karyawan lain (melalui tatap muka atau virtual), kemudian meninjau kembali model pelatihan dan pengembangan untuk memenuhi kebutuhan organisasi saat ini. Selain itu, dibutuhkan Upskilling dan

Reskilling untuk menyesuaikan dengan

dinamika skenario yang berubah di tengah krisis. Profesional HRD perlu membiasakan tenaga kerja untuk selalu meningkatkan keterampilan serta memberi mereka pelatihan dan intervensi pengembangan untuk memungkinkan mereka memberikan pelayanan terbaik untuk organisasi.

c) Re-Designing

Tahap ini menurut Arora & Suri, (2020) pada dasarnya berkaitan dengan mendesain ulang sepenuhnya model-model yang dapat menyesuaikan dengan situasi COVID-19.

Proses ini berfokus pada mendesain ulang model kolaborasi, karena fungsi organisasi didasarkan pada kolaborasi, jaringan, dan pembangunan tim. Para profesional HRD harus menganalisis tahap ini agar tenaga kerja tetap selalu terhubung dan membawa elemen interaksi di antara mereka meskipun secara virtual. Merancang model kolaborasi yang interaktif dan menarik akan membuat tenaga kerja tetap termotivasi untuk bekerja.

d) Re-Incorporating

Terakhir, Arora & Suri, (2020) mengemukakan bahwa agar perubahan baru menjadi sebuah proses yang mengadopsi terminologi new normal, maka adopsi perilaku dan proses baru perlu dilakukan untuk memastikan bahwa pekerja memiliki kemampuan untuk beradaptasi yang lebih baik, fleksibilitas yang lebih besar, dan produktivitas yang lebih tinggi. Pembelajaran dari tiga tahap sebelumnya digabungkan kembali untuk membangun keadaan normal baru.

3. METODOLOGI PENELITIAN

Kajian ini merupakan sebuah review integratif yang menghubungkan berbagai jenis literatur untuk membahas sebuah permasalahan yang kompleks secara holistik (Jones-Devitt et al., 2017). Tujuan dari review ini adalah untuk merangkum segala pembahasan yang relevan dengan topik penelitian dan memberikan sintesa temuan kepada komunitas yang menjadi target dalam penelitian (Toronto & Remington, 2020).

Secara umum, terdapat lima tahapan dalam menyusun sebuah review integratif. Menurut Jones-Devitt et al., (2017) tahapan menyusun review integrative dapat ditunjukkan pada gambar 1. Berpatokan pada tahapan yang telah disebutkan pada Gambar 1, maka selanjutnya peneliti berusaha untuk membuat protokol review integratif melalui tabel kriteria yang akan disajikan pada Tabel 1.

(5)

A.22 Gambar1. Tahapan Review Integratif

Sumber: Jones-Devitt et al., (2017)

Tabel 1. Kriteria Dalam Kajian Literatur

No Kriteria Keterangan

1 Bidang Studi

Manajemen Sumber Daya Manusia

2 Jenis Studi Review Integratif 3 Bahasa Indonesia dan Inggris. 4 Lingkup Literatur Ilmu Kesehatan, Manajemen Sumber Daya Manusia, Hospitality 5 Batasan Tahun Literatur Hingga tahun 2020 6 Relevansi a. Menjelaskan bagaimanakah konsep 4-R dapat digunakan oleh HRD dalam melakukan transformasi sumber daya manusia di bidang hospitality. b. Level Analisis : dapat memberikan kontribusi tambahan terhadap bidang hospitality dalam melakukan upgrading skills sumber daya manusia perhotelan di era pandemi covid-19.

Sumber: Diolah Penulis, 2020

Peneliti melakukan review ini dengan memanfaatkan beberapa artikel jurnal bereputasi yang diunduh dari beberapa

database seperti Taylor and Francis dan

Science Direct. Dalam proses pengumpulan literatur, peneliti memasukkan berbagai kata kunci yang terkait dengan topik penelitian seperti “Covid-19 and Hotels”, “Covid-19

and Human Resource Department” serta kata

kunci lain seperti “How Hotels Can Thrive in

Covid-19 Pandemic”. Mengenai batasan

tahun penerbitan artikel ilmiah, peneliti melakukan pembatasan hingga bulan Juni tahun 2020. Setelah peneliti melakukan penelusuran terhadap beberapa database jurnal, ditemukan sejumlah artikel ilmiah terbaru dalam jurnal internasional yang relevan dengan topik studi. Hasil tersebut disajikan pada Tabel 2. berikut:

Tabel 2. Rekapitulasi Bahan Artikel Ilmiah

No Nama Jurnal Jumlah

Artikel 1 Human Resource Development International, 2 2 Journal of Hospitality Marketing and Management, 1

3 Social Research Update 1

4 Jumlah 4

Sumber: Diolah Penulis, 2020

Selain memanfaatkan artikel ilmiah, peneliti juga memanfaatkan sumber dari beberapa publikasi yang diunggah oleh lembaga survei Mc Kinsey antara lain sebagai berikut:

Tabel 3. Rekapitulasi Bahan Non-Artikel

No Judul Penerbit

1 State of the Hotel

Industry Analysis:

Covid-19 six months later.

AHLA

2 Perkembangan

Ekonomi Indonesia dan Dunia Triwulan II 2019 Bappenas Republik Indonesia Identifikasi Permasalahan Pencarian Literatur Evaluasi Literatur Analisis Temuan Studi Mempresentasikan Temuan

(6)

A.23 3 Beyond contactless operations: Human-centered customer experience Mc Kinsey & Company 4 Optimistic, digital, generous : COVID-19 ’ s impact on Indonesian consumer sentiment Mc Kinsey & Company 5 Contactless service and operations : Hotels. Mc Kinsey & Company 6 Hospitality and COVID-19 : How long until “ no vacancy ” for US hotels ? Mc Kinsey & Company

Sumber: Diolah Penulis, 2020

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gursoy & Chi,(2020) dalam kesimpulan penelitiannya menjelaskan bahwa industri

hospitality diharapkan dapat melakukan

perubahan substansial dalam menjaga

lingkungan kerja dan konsumen agar terbebas dari covid-19, serta mampu untuk menjawab

consumer’s demands dikala pandemi. Dalam

diskusi ini, peneliti mengintegrasikan

informasi berdasarkan laporan mengenai

hospitality industry yang dirilis oleh lembaga

Mc Kinsey & Company dengan konsep 4-R yang dikemukakan oleh Arora & Suri, (2020) antara lain sebagai berikut:

a) Re-Defining

Dalrymple & Dolan, (2020) dalam artikelnya mengemukakan bahwa pada masa covid-19 para pekerja di lingkungan hotel sangat rentan untuk terjangkit virus. Maka dari itu, terdapat tiga langkah awal yang harus dilakukan oleh HRD yang fokus pada bidang

hospitality ketika pandemi covid-19 melanda

antara lain sebagai berikut:

1) Mengidentifikasi hubungan interaksi yang terjadi antar pekerja hotel.

2) Mengidentifikasi hubungan interaksi yang terjadi antara pekerja dengan pengunjung hotel.

3) Mengidentifikasi hubungan interaksi yang terjadi antar pengunjung hotel.

Dalrymple & Dolan, (2020) menambahkan bahwa dalam proses identifikasi tersebut seorang HRD harus mampu memetakan seberapa sering pekerja hotel berinteraksi dengan salah satu pihak dalam lingkungan kerjanya seperti seberapa sering resepsionis berinteraksi dengan pengunjung hotel, seberapa sering room boy berinteraksi dengan petugas laundry, atau seberapa sering antar pengunjung berinteraksi dalam ruang makan. Pemetaan interaksi tersebut nantinya akan menciptakan sebuah model yang dapat diimplementasikan untuk menjaga operasional hotel agar sesuai dengan protokol kesehatan.

Selain melakukan evaluasi terhadap pola interaksi yang terbentuk dalam lingkungan hotel, dalam tahap ini HRD juga harus membangun ketahanan mental pekerja dalam menghadapi situasi yang penuh dengan ketidakpastian (Hite & McDonald, 2020). Beliau menambahkan terdapat tiga cara yang dapat dilakukan oleh HRD untuk membangun solidaritas antar pegawai antara lain:

1) Mengupayakan untuk saling membantu antar pekerja. Dukungan semacam ini merupakan penguat yang cukup ampuh untuk meningkatkan solidaritas pekerja dikala pandemi.

2) Mampu menjadi jembatan penghubung antara perusahaan dengan komunitas / instansi diluar perusahaan. Dimasa pandemi seperti saat ini, HRD harus mampu untuk menjalin komunikasi yang intensif dengan stakeholder penyedia layanan jasa kesehatan seperti klinik, rumah sakit dan lembaga pengawas makanan untuk memastikan bahwa kegiatan operasional hotel bebas dari sebaran virus. Selain itu, pihak HRD perusahaan juga diwajibkan untuk memiliki koneksi dengan aparat yang berwenang terkait dengan penyampaian

(7)

A.24 agar pihak perusahaan dapat menyusun langkah antisipatif ketika status kota sedang pada zona merah virus.

3) Mempraktekkan Self-Care. Para HRD diharapkan mampu untuk memberikan penyesuaian terhadap jam kerja dikala pandemi dengan memberikan waktu bagi pekerja untuk melakukan komunikasi dengan keluarga dengan tidak menghilangkan norma kesopanan yang berlaku dalam sebuah perusahaan. Komunikasi tersebut dapat membantu karyawan perusahaan untuk melepaskan stress dan kelelahan akibat dari pekerjaan. b) Re-Looking

Setelah mengetahui pola interaksi yang terjadi dalam lingkungan hotel, maka langkah selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan prioritisasi risiko tentang kegiatan apa dan siapa pihak yang paling berpotensi untuk terpapar oleh virus. Maka dari itu dibutuhkan sebuah pemetaan seperti tabel dibawah ini: Tabel 4. Pemetaan Prioritisasi Risiko Penularan Virus

Interaksi Skenario Risiko Antar Pekerja Proses kedatangan bahan baku penunjang operasional hotel Rendah (karena bahan baku ditutup dengan mengunakan plastic buble wrap). Konsumen Dengan Pekerja a) Proses Pengecekan Kondisi Konsumen di Pintu Masuk Hotel oleh petugas keamanan. b) Proses Checkin pengunjung di Lobby Hotel a) Tinggi (karena petugas keamanan merupakan orang pertama yang melakukan kontak dengan konsumen dari luar daerah). b) Tinggi (karena

Interaksi Skenario Risiko resepsionis merupakan orang kedua yang kontak dengan konsumen). Antar Konsumen Proses Makan Pagi di Restoran Hotel Sedang (karena antar konsumen berkumpul dalam satu ruangan dengan menghirup udara dari air

conditioner

yang sama )

Sumber: Mc. Kinsey, (2020)

Setelah mengetahui berbagai risiko yang akan dialami oleh pekerja (khususnya pekerja hotel) melalui tabel pemetaan risiko diatas, maka tugas HRD selanjutnya adalah menentukan pihak-pihak yang akan diberikan

upskilling / reskilling terkait dengan

perubahan pola kerja dalam masa pandemi. Contohnya adalah petugas keamanan diberikan pelatihan dalam mengoperasikan

thermogun untuk mengecek suhu badan

pengunjung sebelum masuk hotel (upskilling) serta petugas roomboy diwajibkan untuk menggunakan masker, penutup wajah dan sarung tangan untuk proses penggantian linen dalam kamar pengunjung (reskilling) (Mc. Kinsey, 2020). Dua proses pelatihan ini dapat dilakukan secara virtual melalui media sosial ataupun melalui aplikasi pertemuan online.

c) Re-Designing

Proses re-designing merupakan proses penataan ulang kegiatan operasional hotel dengan mengacu kepada tabel pemetaan risiko yang telah ditentukan sebelumnya. Mc. Kinsey (2020) mengemukakan beberapa contoh proses redesain kegiatan operasional hotel dalam menyesuaikan dengan protokol kesehatan yang berlaku antara lain:

(8)

A.25 Gambar 2. Pembatasan Antrian Pada

Resepsionis

Sumber: Mc. Kinsey (2020)

Gambar 3. Penerapan Touch-Free Handle

Sumber: Mc. Kinsey (2020)

Gambar 4. Penerapan Pembatasan Jumlah Pengunjung Pada Lobby

Sumber: Mc. Kinsey (2020)

Gambar 5. Fitur Lift Menggunakan Voice Command

Sumber: Mc. Kinsey (2020)

Selain itu, proses redesain juga dilakukan terhadap metode pembayaran seperti dengan menggunakan e-money dan m-banking

(cashless transactions) (Dalrymple & Dolan, 2020).

d) Re-Incorporating

Dalrymple & Dolan, (2020) mengatakan bahwa terdapat lima poin yang harus

diperhatikan oleh HRD dalam melaksanakan dan mempertahankan sustainabilitas kegiatan operasional hotel di era new normal antara lain sebagai berikut:

1) Learning and Adjusment. Dalam hal ini HRD dihimbau untuk secara rutin dan berkala melakukan pengecekan terhadap kualitas penyelenggaraan kegiatan operasional hotel dikala pandemi secara berkala dan melakukan penyesuaian apabila ditemukan perubahan yang substansial.

2) Sistem Manajemen. Diharapkan penyesuaian kegiatan operasional hotel sudah terintegrasi kedalam sistem manajemen sehingga memudahkan HRD untuk memantau progress pelaksanaan operasional hotel.

3) Soliditas Tim. Hal ini menjadi isu yang sangat sensitif karena pandemi dapat menyebabkan krisis kepercayaan apabila manajemen lengah dalam memberikan pelayanan kepada konsumen. Setiap personel karyawan bertanggung jawab penuh dalam memastikan agar konsumen merasa aman dan terlayani dengan baik. 4) Contactless but human. Pandemi

mendorong terjadinya disrupsi termasuk pada pelayanan hotel. HRD diharapkan mampu memastikan bahwa seluruh proses operasional yang sudah melalui ketentuan minimalisasi kontak agar memasukkan elemen interaksi untuk menciptakan elemen “kontak dengan manusia” (misalkan: peran resepsionis diganti dengan menggunakan website, HRD harus memastikan bahwa dalam proses pemesanan terdapat elemen yang menandakan seolah-olah pengunjung masih berinteraksi dengan resepsionis yang asli seperti pemanfaatan

(9)

A.26 5) Keterikatan Pekerja. HRD memiliki

tugas untuk membangun hubungan yang harmonis baik antar pekerja maupun antara perusahaan dengan keluarga pekerja dengan maksud agar pekerja dapat saling membantu untuk bertahan dari krisis pandemi ini.

5. SIMPULAN DAN SARAN

Pandemi covid-19 menyisakan berbagai tantangan yang harus dihadapi khususnya oleh industri yang bergerak dibidang hospitality. Mulai dari ancaman penularan virus, penurunan okupansi, isu yang berkaitan dengan higienitas produk dan lingkungan kerja harus dihadapi dalam usaha untuk bertahan di era pandemi. Peran HRD professional sangat krusial dalam menerapkan Konsep 4-R ini karena HRD menjadi garda terdepan dalam melakukan pembenahan terhadap sumber daya internal hotel dan menjadi konseptor dalam perbaikan sistem kerja yang disesuaikan dengan protokol kesehatan yang berlaku. HRD bertugas untuk mengkombinasikan antara model kerja yang telah lama digunakan dengan model terbaru di era panemi dengan tujuan supaya goals perusahaan dapat mampu dipertahankan di dalam situasi yang sangat mengandung ketidakpastian ini.

Tim Peneliti memberikan saran kepada peneliti lain yang akan melanjutkan penelitian mengenai dampak covid-19 terhadap industri

hospitality agar mampu mengungkap peran

pemerintah dalam membangun kepercayaan masyarakat agar berkunjung ke hotel. Saat ini industri perhotelan menghadapi ketidakpastian tentang kapan pandemi akan berakhir. Maka dari itu pemerintah lokal turut andil dalam memberikan rasa aman kepada wisatawan yang ingin berkunjung ke hotel agar terjadi peningkatan okupansi yang akan berdampak pada pemulihan ekonomi dibidang pariwisata (Wittkamp et al., 2020).

6. DAFTAR RUJUKAN

Arora, P., & Suri, D. (2020). Redefining, relooking, redesigning, and reincorporating HRD in the post Covid

19 context and thereafter. Human

Resource Development International,

23(4), 438–451.

https://doi.org/10.1080/13678868.2020. 1780077

Brodjonegoro, B. P. S. (2020).

Perkembangan Ekonomi Indonesia dan Dunia Triwulan II 2019 (Vol. 3, Issue 4).

https://bappenas.go.id/files/2715/8529/3 891/Laporan_Perkembangan_Ekonomi _Indonesia_dan_Dunia_Triwulan_IV_2 019.pdf.pdf

Budiyanti, E. (2020). Dampak Virus Corona Terhadap Sektor Perdagangan Dan Pariwisata Indonesia. Kajian Bidang

Ekonomi Dan Kebijakan Publik, XII(4),

19–24.

http://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_s ingkat/Info Singkat-XII-4-II-P3DI-Februari-2020-219.pdf

Dalrymple, M., & Dolan, K. (2020). Beyond

contactless operations: Human-centered customer experience (Issue May).

https://www.mckinsey.com/business-

functions/operations/our- insights/beyond-contactless-operations-human-centered-customer-experience Gursoy, D., & Chi, C. G. (2020). Effects of

COVID-19 pandemic on hospitality industry: review of the current situations and a research agenda. Journal of

Hospitality Marketing and Management,

29(5), 527–529.

https://doi.org/10.1080/19368623.2020. 1788231

Hite, L. M., & McDonald, K. S. (2020). Careers after COVID-19: challenges and changes. Human Resource Development

International, 23(4), 1–11.

https://doi.org/10.1080/13678868.2020. 1779576

Jones-Devitt, S., Austen, L., & Parkin, H. (2017). Integrative Reviewing for exploring complex phenomena. Social

Research Update, 66, 1–4.

Mc. Kinsey. (2020). Contactless service and

operations : Hotels.

https://www.mckinsey.com/~/media/Mc Kinsey/About Us/COVID Response

(10)

Center/PDFs/Contactless-service-and-A.27 operations-Retail-nongrocery.pdf

Potia, A., & Dahiya, K. (2020, April).

Optimistic, digital, generous : COVID-19 ’ s impact on Indonesian consumer

sentiment. 1–4. https://www.mckinsey.com/business- functions/marketing-and-sales/our- insights/survey-indonesian-consumer- sentiment-during-the-coronavirus-crisis#

Rogers, C. (2020). State of the Hotel Industry

Analysis: Covid-19 six months later.

https://www.ahla.com/sites/default/files /State of the Industry.pdf

Sukmana, Y. (2020). Pengusaha Hotel dan

Restoran Mengaku Rugi Rp 70 Triliun

Akibat Corona. Kompas.Com.

https://money.kompas.com/read/2020/0 7/14/193000926/pengusaha-hotel-dan- restoran-mengaku-rugi-rp-70-triliun-akibat-corona

Toronto, C. E., & Remington, R. (2020). A Step-by-Step Guide to Conducting an Integrative Review. In A Step-by-Step

Guide to Conducting an Integrative Review. Springer Nature Switzerland

AG. https://doi.org/10.1007/978-3-030-37504-1

Wittkamp, N., Mann, R., Krishnan, V., & Seitzman, N. (2020). Hospitality and COVID-19 : How long until “ no vacancy ” for US hotels ? Mckinsey,

June.

https://www.mckinsey.com/~/media/Mc Kinsey/Industries/Travel Transport and Logistics/Our Insights/Hospitality and COVID 19 How long until no vacancy for US hotels/Hospitality-and-COVID- 19-How-long-until-no-vacancy-for-US-hotels-vF.pdf

Gambar

Gambar 3. Penerapan Touch-Free Handle  Sumber: Mc. Kinsey (2020)

Referensi

Dokumen terkait

Perangkat Daerah, perlu menetapkan Peraturan Walikota tentang Pembentukan, Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Kebun Bibit

E-govt dan e-administration yang perlu dikembangkan di Indonesia lebih lanjut Bambang (2003) menjelaskan bahwa sistem harus mampu memberikan layanan yang bersifat elektronik

Kesimpulan yang logis adalah bahwa jika emosi- emosi negatif yang kuat dapat menyebabkan timbulnya perubahan fisiologis tertentu pada tubuh, perubahan yang mugkin dapat

Batas daerah Kabupaten Bolaang Mongondow dengan Kota. Kotamobagu

PEKERJAAN : Perencanaan Pembangunan Gedung Pengadilan Agama Taliwang Tahp III (Finishing) LOKASI : Jl.. Telaga

Menurut bahasa, Port USB terdiri dari dua kata, yang pertama Port adalah tempat untuk memasukkan kabel / peripheral lainnya ke komputer kita, serta USB merupakan singkatan

Bencana yang terjadi pada 11 Maret 2011 lalu memang memberikan dampak negatif bagi pariwisata Jepang, seperti penurunan pada inbound, outbound, tingkat hunian

Sedangkan pada kelompok skipping hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara latihan skipping terhadap kecepatan lari 60 meter siswa Kelas V