BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. Sekolah yang baik adalah sekolah yang diharapkan mampu memberikan

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Sekolah yang baik adalah sekolah yang diharapkan mampu memberikan pengalaman terbaik bagi siswa sehingga membuat siswa-siswanya merasa sejahtera (well-being) karena kesejahteraan siswa (student well-being) mempengaruhi hampir seluruh aspek bagi optimalisasi fungsi siswa di sekolah (Smith, R. dkk, 2010).

Istilah well-being banyak ditemukan di psikologi humanistik dan psikologi positif. Well-being sering diartikan sebagai sejahtera, para peneliti sering mengartikannya sebagai sejahtera (Hartanti, 2010), namun tulisan ini akan menyoroti kesejahteraan siswa dalam lingkungan sekolah. Menurut De Fraine, dkk, 2005, derajat di mana siswa merasa baik di lingkungan sekolah.

Kesejahteraan di sekolah merupakan penilaian subjektif siswa terhadap keadaan sekolahnya yang meliputi having, loving, being, dan health (Konu & Rimpelä, 2002). School well-being merupakan sebuah model yang berdasar pada well-being yang dikembangkan oleh Allardt (dalam Konu & Rimpela, 2002). Konsep

well-being itu sendiri berasal dari khasanah tradisi sosiologi (Allardt dalam Alanen,et

al., 2002). Allardt mendefinisikan well-being sebagai sebuah keadaan yang memungkinkan individu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (dalam Konu & Rimpela, 2002).

Banyak kasus pada siswa SMP sekarang ini anak-anak terdorong berbuat nekat akibat ejekan, cemoohan dan olok-olok teman-teman mereka. Ejekan, cemoohan,

(2)

olok-olok mungkin terkesan sepele dan terlihat wajar. Namun pada kenyataannya hal-hal tersebut dapat menjadi senjata tak kenal ampun yang secara perlahan tapi pasti dapat menghancurkan seorang anak. Aksi-aksi negatif serupa itu adalah sebagian wujud dari bullying, sebuah perilaku yang telah lama berlangsung dan mengancam segala aspek kehidupan sebagian besar anak-anak kita: di sekolah, di rumah, di lingkungannya. Bullying tampil dalam berbagai ragam, antara lain bentuk non fisik seperti ejekan dan cemoohan, tapi juga dapat muncul sebagai aksi fisik (Utami, 2012).

Dalam beberapa tahun belakangan ini, beberapa topik media massa menyoroti kekerasan di sekolah. Misalnya saja Koran Suara Merdeka Jawa Tengah menyoroti kekerasan yang terjadi di lingkungan sebuah akademi militer di Semarang, di mana seorang taruna dihajar oleh seniornya, kisah yang sama terjadi beberapa tahun sebelumnya di sebuah sekolah tinggi di Bandung di mana calon pejabat pemerintahan dipersiapkan hingga berakibat kematian salah seorang siswanya juga dilakukan oleh beberapa senior (Siswati, 2009).

Namun kematian dan bunuh diri hanyalah sedikit contoh dari akibat bullying. Lebih banyak lagi anak-anak dan remaja korban bulyying yang terus hidup dan tidak nekad mengakhiri hidupnya, namun tumbuh menjadi orang-orang berkepribadian rapuh, mudah sedih, tidak percaya diri, atau sebaliknya, pemarah dan agresif. Orang-orang seprti itu sulit sekali meraih sukses dan tidak hidup bahagia (Suryatmini, 2008).

Dalam Al-qur’an pada surat Al An’am: 55 menjelaskan tentang orang yang terzholimi Allah berfirman:

(3)

ُبيِنُأ ِهْيَلِإَو ُتْلهكَوَت ِهْيَلَع ِ هللَّاِب لاِإ يِقيِفْوَت اَمَو ُتْعَطَتْسا اَم َحلاْصلإا لاِإ ُديِرُأ ْنِإ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali” (Al An’am: 55).

Remaja merupakan fase usia paling penting dalam bidang pembentukan dan pembinaan kepribadian seseorang. Apabila seseorang berhasil melewati fase ini dengan baik, itu artinya ia akan hidup dengan jiwa yang sehat dan kepribadian yang ideal (Jamaluddin, 2004).

Dalam konteks Indonesia, kesejahteraan juga menjadi titik perhatian sebagaimana tampak pada keseluruhan nafas Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak, serta Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak. Dalam UU tentang Kesejahteraan Anak, pasal 1 disebutkan bahwa kesejahteraan anak adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan anak yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan anak dengan wajar, baik secara rohani, jasmani maupun sosial. Kesejahteraan anak diusahakan terutama untuk penuhan kebutuhan pokok anak sebagaimana yang dinyatakan pada Pasal 2 UU Kesejahteraan Anak. Pada penjelasan terhadap pasal 2 tersebut dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kebutuhan pokok anak adalah pangan, sandang, pemukiman, pendidikan, dan kesehatan. Dalam perspektif Undang-undang Perlindungan Anak, yang dimaksud anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Setiap anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan (UU No. 23 Tahun 2003 (dalam Karyani, 2013).

(4)

Peran positif Agama dalam kehidupan remaja yang telah dipaparkan oleh bridgers & Snarey, 2010; king & Roesser, 2009 (dalam Santrok, 2012) peneliti telah menemukan bahwa berbagai hasil aspek agama terkait dengan hasil yang positif bagi remaja, agama juga berperan dalam kesehatan remaja dan masalah perilaku mereka.

Penelitian perkembangan terbaru mengungkapkan bahwa keyakinan remaja AS menurun dari usia 14 ke 20 tahun (Koenig, McGue, & lacono, 2008). Dalam penelitian ini, keyakinan diukur dengan frekuensi berdoa, mendiskusikan ajaran agama, memutuskan tindakan moral dengan dengan alasan agama, dan pentingnya agama dalam kehidupan sehari-hari, lebih banyak perubahan yang terjadi ketika usia 14 hingga 18 tahun dibandingkan ketika usia 20 hingga 24 tahun. Demikian pula, frekuensi mendatangi tempat ibadah tertinggi ketika usia 14 tahun, menurun ketika usia 14 hingga 18 tahun, dan meningkat ketika usia 20 tahun (dalam Santrock, 2012). Dalam penelitian Darokah (2005) hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara pelajaran agama Islam dan akhlak terhadap kebahagiaan pada remaja sebesar (r = 0,495). Hasil penelitian yang dilakukan Rinasti 2011 menunjukkan korelasi antara tingkat religiusitas dengan subjective well being sebesar 0,274 dengan taraf signifikansi sebesar 0,006 (p≤0,01) artinya ada hubungan positif yang sangat signifikan antara tingkat religiusitas dengan subjective well being pada remaja awal, serta di dukung penelitian lain oleh Saputri, Hardjono, Karyanta 2013 menunjukkan hubungan yang sangat signifikan antara religiusitas dengan dukungan sosial dengan

psychological well-being pada santri kelas VIII.

Hubungan antara aqidah akhlak dengan kesejahteraan siswa di sekolah memiliki hubungan yang positif. Kebahagiaan akan dirasakan oleh individu yang

(5)

telah merasakan pengalaman-pengalaman religius akibat mengamalkan (akhlak) ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh dan disertai dengan keyakinan (akidah) yang kuat. Dengan pelajaran aqidah akhlak yang telah didapat siswa dan kegiatan keagamaan yang dilakukan pihak sekolah maupun pihak OSIS tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan siswa.

Islam memperhatikan pendidikan rohani, mengasah kemampuan akal, dan mendorongan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Dalam banyak ayat. Al-Qur’an menganjurkan untuk berfikir, merenung, dan menguasai kebenaran-kebenaran alam. Di antaranya ialah firman Allah Ta’ala:



















































“(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-zumar: 9)

Satu hal yang harus diberikan kepada generasi muda pada fase ini, ialah pendidikan agama dan moral, serta iklim sosial yang kondusif bagi upaya pengembangan jiwa mereka. Esensi pendidikan agama yang sesuai dengan fase pengajaran, selain menembus hati nurani si anak dan mengembangkan semangat keagamaannya, ialah mengikat segi-segi kepribadiannya dengan akidah dan ajaran-ajaran spiritual, memperkuat hubungna bersama Allah Sang Pencipta dengan cara mengakrabkannya pada Al-Qur’an untuk dihafal, dipahami dan dipelajari, dan juga pada sunnah serta sirah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam (Jamaluddin, 2004).

(6)

Sekolah sebagai wadah dalam proses pembelajaran yang diharapkan mampu berperan dalam mengembangkan potensi dan bakat siswa, melalui berbagai kegiatan pembelajaran serta penerapan pendidikan aqidah yang bercermin pada pendidikan akhlak, moral, nilai kegamaan. Untuk dapat mengasah potensi kegiatan siswa, maka memerlukan dukungan sarana dan prasarana sekolah yang memadai, sehingga siswa mampu berkembang secara optimal dan dapat meraih prestasi yang membanggakan.

Di dalam keluarga terjadi pengaruh antara yang satu dengan yang lain. Pengaruh tersebut terjadi timbal-balik di dalam lapangan keluarga. Pengaruh dari orang tua terhadap anak mempunyai arti yang besar di dalam pembentukan pribadi anak (Barnadib, 1981). Menurut Ahid (2010) keluarga memegang peranan penting dalam pendidikan akhlak untuk anak-anak sebagai institusi yang mula-mula sekali berinteraksi dengannya. Oleh sebab itu, haruslah keluarga mengambil posisi tentang pendidikan ini, mengajar mereka akhlak yang mulia yang diajarkan seperti kebenaran, kejujuran, keikhlasan, kasih sayang, cinta kebaikan, pemurah, pemberani dan mengajarkan nilai-nilai dan faedahnya berpegang pada akhlak di dalam hidup.

Orang tua sangat berperan dalam menanamkan pendidikan aqidah akhlak terhadap anak, orang tualah yang seharusnya sudah tertanam nilai-nilai agama dan akhlak yang baik sebagai suri tauladan bagi anak-anaknya, karena anak akan mudah mencontoh perilaku-perilaku dari orang-orang terdekatnya. sebagai hadist telah dipaparkan :

نمام

ٍدُل ْوَم

لاإ

ِهِناَسِّجَمُي ْوَأ ِهِناَرِّصَنُي ْوَأ ِهِناَدِّوَهُي ُهاَوَبَأَف ٍةَرْطِف ىَلَع ُدَلْوُي

ُحَتْنَت اَمَك

ِءاَعْدَج ْنِم َن ْوُّسِحُت ْلَه ُءاَعْمَج ُهَمْيِهَبلا

(

هاور

ملسم

)

“Tiadaklah seseorang yang dilahirkan melaikan menurut fitrahnya, maka akibat

kedua orang tuanyalah yang menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani ataupun Majusi (H.R Muslim).

(7)

Bahkan sejak kedua orang tua memilih pasangan untuk dapat membangun keluarga yang baik serta bertanggung jawab terutama terhadap anak-anaknya sesuai dengan hadist Rasulullah Saw yang telah dipaparkan:

ِهِتهيِعَر ْنَع ٌل ْوُؤْسَمَو ِهِلْهَأ ْيِف ٍعاَر ُلُجهرلاَو

,

َو

ِتْيَب يِف ٌةَيِعاَر ُةَأرَمْلا

ٌةَل ْوُؤْسَمَو اَهِجْوَز

اَهِتهيِعَر ْنَع

(

ملسملا و يراخب هاور

)

“seorang laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan ia bertanggung

jawab terhadap yang dipimpinnya. Dan seorang wanita adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan ia bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya itu.” (HR.

Bukhari dan Muslim).

Seorang ibu bagaikan sebuah sekolah. Apabila engkau mempersiapkan sekolah ini dengan baik. Engkau telah mempersiapkan sebuah generasi yang baik penuh dengan mutiara yang berharga (Hafidz, 1997). Maka dalam keluarga ibulah sebagai peran utama dalam mendidik anak sebagai generasi yang baik untuk masa depan anak.

Sehingga kaitan antara pendidikan aqidah akhlak dengan kesejahteraan siswa adalah bagaimana anak mendapatkan pendidikan aqidah akhlak disekolah maupun dikeluarga yang menyebabkan anak memiliki kebahagiaan terhadap dirinya sendiri dalam pengalaman hidupnya. Maka dalam hal ini peneliti akan mengkaji tentang hubungan antara aqidah akhlak siswa dengan kesejahteraan siswa, sehingga didapatkan rumusan masalah yaitu: “APAKAH ADA HUBUNGAN ANTARA AQIDAH AKHLAK DENGAN KESEJAHTERAAN SISWA DI SEKOLAH?”

B. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui kualitas aqidah akhlak pada siswa. 2. Untuk mengetahui tingkat kesejahteraan siswa.

(8)

3. Untuk mengetahui hubungan antara aqidah akhlak siswa dengan kesejahteraan siswa disekolah.

C. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Sebagai acuan untuk memperluas pemikiran dan pengalaman penulis dalam bidang psikologi pendidikan dan pendidikan agama Islam.

2. Manfaat praktis

a. Bagi subjek penelitian; apabila hipotesis terbukti, maka dapat menjadi acuan untuk mengoptimalkan kesejahteraan dan aqidah akhlak siswa.

b. Bagi guru; dapat menumbuhkan kesadaran kepada anak didik untuk meningkatkan kesejahteraan pada siswa dengan cara memperbaiki aqidah akhlaknya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :