• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UNIVERSITAS INDONESIA"

Copied!
222
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS INDONESIA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI PREMATUR YANG

MENGALAMI NYERI PROSEDURAL MELALUI INTERVENSI

FACILITATED TUCKING DISERTAI “HADIR-BERBICARA”

BERBASIS TEORI COMFORT KOLCABA

KARYA ILMIAH AKHIR

NOPI NUR KHASANAH NPM. 1306431526

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI SPESIALIS KEPERAWATAN

(2)

UNIVERSITAS INDONESIA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI PREMATUR YANG

MENGALAMI NYERI PROSEDURAL MELALUI INTERVENSI

FACILITATED TUCKING DISERTAI “HADIR-BERBICARA”

BERBASIS TEORI COMFORT KOLCABA

KARYA ILMIAH AKHIR

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Spesialis Keperawatan Anak

NOPI NUR KHASANAH NPM. 1306431526

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM NERS SPESIALIS KEPERAWATAN

(3)

Karya Iimiah Aliirir ini adaiah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang

dikutip maupun yang dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama

NPM

Tanda Tangan Tanggai

(4)

Nama

Tempat, Tanggal Lahir NIDN

Unit Kerja No. HP Alamat email

Nopi Nur Kltasanalt

Purbalingga, 30 November 1987 06301 I 8701

Universitas Islam Sultan Agung Semarang 085640256378

nopi.khasanah@unissula. ac. id

Dengan ini menyatakan dengan sebenarnl'a bahrna Karya Ilmiah Akhir saya yang berjudul 'oAsuhan Keperawatan pada Bayi Prematur yang Mengalami Nyeri Prosedural melalui Intervensi Fucilitutetl Tucking disertai 'Hadir-Berbicara' berbasis Teori Comfort Kolcaba". betras dari plagiarisme dan bukan hasil karva orang lain.

Apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian dari Karya llmiah

Akhir

tersebut terdapat indikasi plagiarisme, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Demikan pernyataan

ini

saya buat dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari siapapun.

Mengetahui:

Pembimbing Karya Ilmiah Akhir

k

Dibuat di Depok Pada tanggal2S Juni2A1,6 Yang Membuat Pemyataan

(5)

Nama NPM Program studi Supervisor Penguji I Penguji II

: Nopi Nur Khasanah :1306431526

: Spesialis Keperawatan

Judul Karya Ilmiah

Akhir

: Asuhan Keperawatan pada Bayi Prematur yang

Mengalami

Nyeri

Prosedural melalui Intervensi Facilitated Tucking disertai "Hadit-Berbicma"

Berbasis T ean Comfor t Kolcaba

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dalam Sidang Karya Ilmiah Akhir sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Spesialis

Keperawatan Anak pada Program Studi Spesialis Keperawatan Fakultas Ilmu

Keperaw@Univ

taslndoneSia;,..,.. ".

:t::.r t,

Supervisor Utama

DEWAI TENGUJI

...

Yeni Rustina"

S6-,

U.epp.$c,.n.Ph.D. r-''

Fajar,Tti

Wil.ry#;

Xs., Sp'Keo An., IBCLa

..:

'l

dr..&

Teguh Perma Iskandar,,Sp. A.

. ::::i:::ti!:iii;::!.i:::::i.::::ii:, :r,:::t:::.:.:.:i:.

:::::i5::::"'' " .::::::-::_:i::.=i

Nurhayati, Ns. Sp.Kep.An.

Disetujui

di

: Depok

Tanggal

: ..&?.... Juni 2016

1V

(6)

v

ridho-Nya saya dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir ini. Penulisan Karya Ilmiah Akhir ini disusun sebagai Tugas Akhir dan syarat untuk mendapatkan gelar Ners Spesialis Keperawatan Anak. Karya Ilmiah Akhir ini berjudul “Asuhan Keperawatan pada Bayi Prematur yang Mengalami Nyeri Prosedural melalui Intervensi Facilitated

Tucking disertai “Hadir-Berbicara” Berbasis Teori Comfort Kolcaba”.

Penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Saya menyadari bahwa tanpa dukungan sangatlah sulit menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir ini. Saya ucapkan terimakasih kepada:

1. Ibu Yeni Rustina, SKp., M.App.Sc., Ph.D., selaku Supervisor Utama yang dengan sabar telah memberikan dukungan, bimbingan dan arahan dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini.

2. Ibu Fajar Tri Waluyanti, Ns., Sp.Kep.An., IBCLC, selaku supervisor yang dengan sabar telah banyak memberikan motivasi dan arahan dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini.

3. Bapak dr. R. Adhi Teguh Perma Iskandar, Sp. A., selaku penguji I yang telah banyak memberikan masukan Karya Ilmiah Akhir ini.

4. Ibu Nurhayati, Ns., Sp.Kep.An., selaku penguji II yang telah memberikan saran dalam Karya Ilmiah Akhir ini.

5. Dra. Junaiti Sahar, S.Kp., M.App.Sc., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

6. Dr. Novy Helena CD, S.Kp., M.Sc., selaku Ketua Program Studi Magister dan Spesialis FIK UI yang telah memberikan pengarahan sehingga saya termotivasi untuk menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir ini.

7. Seluruh Dosen dan Staf Program Studi Spesialis Keperawatan yang telah membantu dan memfasilitasi saya selama menjalani proses pendidikan.

8. Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Unissula Semarang yang telah memfasilitasi untuk melanjutkan studi di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. 9. Teman-teman Peminatan Perina yang selalu saling menguatkan.

(7)

vi menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir ini.

11. Ayah dan Ibu terkasih, Nurhadi dan Rumyati yang selalu mendoakan kemudahan untuk saya, mendukung setiap langkah saya, dan senantiasa mengingatkan pada kebaikan.

12. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Akhir kata, saya berharap Allah SWT berkenan membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga Karya Ilmiah Akhir ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu keperawatan. Aamiin.

Depok, Juni 2016

(8)

Sebagai sivitas akaciemik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama NPM Program Studi Kekhususan Fakultas Jenis Karya

Nopi Nur Khasanah

I 30643 1 5

Spesialis Keperawatan Keperawatan Anak Ilmu Keperawatan Karya llmiah Akhir

demi pengembangan

ilmu

pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Nonexclusive Royulty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

Asuhan Keperawatan pada Bayi Prematur yang Mengalami Nyeri Prosedural

melalui Intervensi Facilitated Tucking disertai "Hadir-Berbicara" Berbasis Teori Comfort Kolcaba

beserta perangkat yang acia

ljika

diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai

pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat ciengan sebenarnya.

dibuat di : Depok

Pada tanggal : Juni 2016 Yang menyatakan

$

(Nopi Nur Khasanah)

(9)

Program Studi : Spesialis Keperawatan

Judul : Asuhan Keperawatan pada Bayi Prematur yang Mengalami Nyeri Prosedural melalui Intervensi Facilitated Tucking disertai “Hadir-Berbicara” Berbasis Teori Comfort Kolcaba

Karya ilmiah ini merupakan analisis pelaksanaan praktik residensi keperawatan anak selama dua semester. Kegiatan utama yang dilakukan antara lain memberikan asuhan keperawatan pada bayi prematur dan praktik keperawatan berbasis pembuktian. Asuhan keperawatan pada bayi prematur menggunakan teori comfort Kolcaba. Diagnosis keperawatan yang sering muncul pada bayi prematur adalah nyeri prosedural, gangguan termoregulasi, nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan risiko infeksi. Intervensi dengan teknik mengukur kenyamanan, edukasi pada orangtua, dan melalui tindakan menenangkan jiwa. Praktik keperawatan berbasis pembuktian dilakukan melalui facilitated tucking disertai ‘hadir-berbicara’ untuk menurunkan skor nyeri prosedural. Hasil menunjukkan bahwa intervensi berbasis teori comfort Kolcaba efektif untuk meningkatkan kenyamanan. Disarankan agar teori comfort Kolcaba dapat diterapkan dalam pemberian asuhan keperawatan pada bayi prematur. Kata kunci: bayi prematur, nyeri prosedural, facilitated tucking, hadir-berbicara, teori comfort

ABSTRACT

Name : Nopi Nur Khasanah

Study Program: Specialist on Nursing

Title : Nursing Care on Premature’s infant with Pain Procedural by

Facilitated Tucking and ‘Being with-Talking to’ interventions based on Kolcaba Comfort’s Theory.

This scientific paper is an analysis of the implementation of pediatric nursing practice residency during two semesters. Main activities were providing nursing care to premature’s infant and doing evidence based nursing practice. Nursing care had been premature’s infant using a Kolcaba comfort’s theory. Nursing problem usually occured in premature’s infant were acute procedural pain, ineffective thermoregulation, imbalanced nutrition: less than body, risk for infection. Intervention done by technical comfort measures, parent’s coaching, and comfort food the soul. Evidence done by doing facilitated tucking and ‘talking to-being with’ to decrease score of acute procedural pain. The result showed the evidence based on Kolcaba comfort’s theory effective to increase comfort. It is suggested that Kolcaba comfort’s theory can applied in the provision of nursing care to premature’s infant. Key words: premature’s infant, procedural pain, facilitated tucking, being with-talking to, comfort’s theory

(10)

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

HALAMAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR SKEMA ... x

DAFTAR GRAFIK ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Penulisan ... 7

1.3 Sistematika Penulisan ... 7

2. APLIKASI TEORI KEPERAWATAN PADA ASUHAN KEPERAWATAN ... 8

2.1 Gambaran Kasus ... 8

2.2 Tinjauan Teoritis... 13

2.3 Integrasi Teori dan Konsep Keperawatan dalam Proses Keperawatan ... 26

2.4 Aplikasi Teori Keperawatan pada Kasus Terpilih ... 34

3. PENCAPAIAN KOMPETENSI ... 54

3.1 Pencapaian Kontrak Belajar ... 54

3.2 Implementasi Evidence Based Nursing Practice ... 61

4. PEMBAHASAN ... 68

4.1 Pembahasan Penerapan Teori Keperawatan dalam Asuhan Keperawatan ... 68

4.2 Pembahasan Praktik Spesialis Keperawatan Anak dalam Pencapaian Target ... 87

5. SIMPULAN DAN SARAN ... 90

5.1 Simpulan ... 90

5.2 Saran ... 91

DAFTAR PUSTAKA ... 92 LAMPIRAN

(11)

Skema 2.1 Hubungan antar Konsep dari Teori Comfort Kolcaba ... 29 Skema 2.2 Integrasi Teori Comfort Kolcaba dalam Asuhan Keperawatan

(12)

Grafik 3.1 Rerata Frekuensi Nadi Bayi yang Mendapatkan

Prosedur Penusukan Tumit di Perina RSCM (n=20) ... 66 Grafik 3.2 Rerata Saturasi Oksigen Bayi yang Mendapatkan Prosedur

(13)

Tabel 2.1 Struktur Taksonomi Comfort Kolcaba pada Kasus Lima... 37 Tabel 2.2 Intervensi Keperawatan untuk Masalah Ketidakseimbangan

Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh ... 39 Tabel 2.3 Intervensi Keperawatan untuk Masalah Hipotermia Grade I .... 40 Tabel 2.4 Intervensi Keperawatan untuk Masalah Perilaku Bayi

Tidak Terorganisir ... 41 Tabel 2.5 Intervensi Keperawatan untuk Masalah Risiko Infeksi ... 42 Tabel 2.6 Intervensi Keperawatan untuk Masalah Nyeri Akut ... 43 Tabel 2.7 Intervensi Keperawatan untuk Masalah Gangguan

Menelan ... 43 Tabel 2.8 Intervensi Keperawatan untuk Masalah Kesiapan

Meningkatkan Perilaku Terorganisir ... 44 Tabel 2.9 Intervensi Keperawatan untuk Masalah Inefektif

Pertahanan Tubuh ... 45 Tabel 2.10 Catatan Perkembangan Kasus Lima ... 47 Tabel 3.1 Distribusi Rerata Responden yang Mendapatkan Prosedur

Penusukan Tumit di Perina RSCM (n=20) ... 62 Tabel 3.2 Distribusi Responden berdasarkan Jenis Kelamin

Bayi yang Mendapatkan Prosedur Penusukan

Tumit di Perina RSCM (n=20) ... 63 Tabel 3.3 Perbedaan Respon Nyeri Bayi yang Mendapatkan

Prosedur Penusukan Tumit di Perina RSCM (n=20) ... 63 Tabel 3.4 Perbedaan Frekuensi Nadi Bayi yang Mendapatkan

Prosedur Penusukan Tumit di Perina RSCM (n=20) ... 64 Tabel 3.5 Perbedaan Saturasi Oksigen Bayi yang Mendapatkan

Prosedur Penusukan Tumit di Perina RSCM (n=20) ... 65 Tabel 4.1 Evaluasi Keperawatan berdasarkan Struktur Taksonomi

(14)

Gambar 2.1 Posisi Facilitated Tucking untuk Prosedur Isap Lendir ... 20 Gambar 2.2 Posisi Facilitated Tucking untuk Prosedur Penusukan Tumit ... 21 Gambar 4.1 Tingkatan Anastesi pada Manajemen Nyeri Neonatus ... 77

(15)

Lampiran 1 Asuhan Keperawatan pada By Ny Sam Lampiran 2 Asuhan Keperawatan pada By Ny En Lampiran 3 Asuhan Keperawatan pada By Ny Et Lampiran 4 Asuhan Keperawatan pada By Ny St Lampiran 5 Laporan Proyek Inovasi

Lampiran 6 Pemantauan Risiko Trauma pada Neonatus Preterm-Aterm Menggunakan Neonatal Skin Risk Assessment Scale (NSRAS) Lampiran 7 Pemantauan Nyeri Neonatus Menggunakan Premature Infant Pain

Profile (PIPP)

Lampiran 8 Lembar Observasi Komunikasi Interaksi Modifikasi 2007 Lampiran 9 Daftar Riwayat Hidup

(16)

1.1. Latar Belakang

Tujuan utama dilakukan perawatan pada bayi baru lahir adalah mengurangi terjadinya stress akibat lingkungan dan nyeri pada bayi baru lahir terutama bayi yang lahir prematur (Aita, Oberlander, Snider, Johnston, & Ed, 2015). Intervensi dari asuhan perkembangan merekomendasikan bahwa untuk mengurangi stress akibat lingkungan pada bayi prematur dapat dilakukan dengan meminimalkan bayi terpapar cahaya dan kebisingan.

Stress yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada bayi prematur juga dapat diminimalkan dengan mengurangi berbagai prosedur yang menyakitkan untuk mengurangi respon nyeri bayi prematur. Namun bayi prematur seringkali mendapatkan pengalaman nyeri secara periodik dari berbagai prosedur menyakitkan yang seringkali dilakukan untuk menentukan diagnosis maupun sebagai tindakan perawatan (Roofthooft, Simons, Anand, Tibboel, & van Dijk, 2014). Prosedur menyakitkan yang sering dilakukan antara lain prosedur penusukan tumit, pemeriksaan Retinophaty of Prematurity (ROP), pemasangan infus dan berbagai prosedur perawatan luka. Gomella, Cunningham, dan Eyal (2013) menambahkan bahwa fokus praktik manajemen nyeri pada ruang perawatan bayi antara lain mengurangi frekuensi prosedur isap lendir melalui endotracheal tube (ETT) dan penusukan tumit, mengembangkan protokol manajemen nyeri yang terstandar, melakukan pengkajian nyeri secara rutin, melakukan strategi untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman bayi misalnya pendampingan selama prosedur penusukan tumit dan pemasangan infus perifer.

Nyeri didefinisikan sebagai sebuah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan terjadinya kerusakan jaringan maupun yang berpotensi mengalami kerusakan jaringan (Mathew & Mathew, 2003). Pengalaman nyeri pada bayi prematur yang berada di ruang perawatan intensif terjadi setiap hari selama perawatan berlangsung. Kondisi

(17)

menyakitkan setiap hari yang dirasakan oleh bayi prematur tidak dirasakan oleh bayi normal yang tidak menjalani hospitalisasi. Selain itu perilaku

distress yang sering muncul pada bayi prematur dapat menjadi tanda adanya

nyeri yang dirasakan oleh bayi prematur. Perbedaan ini dapat menjadi dasar perlunya memperluas cakupan definisi nyeri pada bayi prematur.

Ditinjau secara anatomi, fisiologi dan biokimia, persepsi nyeri telah ada pada tahap awal kehidupan intrauterin. Pernyataan ini sejalan dengan Mathew & Mathew (2003) yang menjelaskan bahwa sistem endokrin pada bayi baru lahir berkembang dengan baik. Endokrin mampu melepaskan kortisol dan katekolamin untuk menanggapi pengalaman menyakitkan, selanjutnya menghasilkan perubahan fisiologis-biokimia sehingga tim kesehatan dapat menilai respon bayi terhadap nyeri secara objektif. Namun terdapat beberapa perbedaan mendasar dalam neurofisiologis pada persepsi nyeri bayi.

Impuls nosiseptif mulai aktif dan berfungsi sejak usia gestasi 25 minggu. Impuls ini pada bayi lebih banyak yang berjalan ke tulang belakang melalui serabut saraf yang tidak bermielin daripada serabut mielin dan cenderung kekurangan inhibisi neurotransmitter. Bayi juga memiliki bidang reseptif yang lebih besar dan konsentrasi substansi P reseptor yang lebih tinggi. Selain itu, bayi memiliki batas bawah untuk eksitasi dan sensitasi, sehingga mengalami efek yang lebih sentral dari nosiseptif stimuli. Faktor-faktor ini diyakini membuat bayi prematur merasa nyeri yang lebih parah dibandingkan dengan bayi cukup bulan (AAP, 2016).

Pengalaman nyeri pada bayi prematur tidak hanya karena faktor fisiologis bayi. Faktor lain seperti prosedur tindakan medis maupun keperawatan, serta lingkungan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dapat meningkatkan terjadinya nyeri bayi. Jeong, Park, Lee, Choi, dan Lee (2014) menyebutkan beberapa prosedur yang sering dilakukan dan menimbulkan nyeri bayi antara lain intubasi dan ekstubasi endotrakeal (ET), pengisapan lendir pada ETT, hidung atau mulut, fisioterapi dada, pengambilan darah vena maupun arteri, pemasangan dan pelepasan infus, injeksi, penusukan tumit, perawatan luka,

(18)

nasal kanul. Bayi prematur dapat mengalami dua atau lebih prosedur menyakitkan setiap hari (Badr, 2013). Lingkungan NICU yang kurang kondusif untuk perkembangan bayi prematur juga akan menambah pengalaman nyeri bayi.

Prosedur tindakan menyakitkan dan terus berulang yang terjadi pada tahap awal kehidupan dapat merusak perkembangan sistem saraf pusat secara permanen (Hatfield, Myers, & Messing, 2013). Manajemen nyeri yang tidak memadai dan distress yang terjadi selama prosedur invasif pada bayi secara permanen dapat menurunkan toleransi nyeri, meningkatkan respon nyeri sejalan dengan bertambahnya usia dan berkontribusi pada perkembangan nyeri kronis. Tenaga kesehatan perlu melakukan manajemen nyeri pada saat prosedur tindakan sejak saat bayi dilahirkan. Manajemen nyeri pada bayi saat prosedur tindakan dapat dilakukan oleh perawat, dokter, fisioterapis maupun petugas laboratorium. Bayi berbeda dengan anak maupun orang dewasa yang dapat memverbalisasi ketika merasa nyeri. Oleh karena itu untuk dapat memberikan manajemen nyeri dengan tepat, seluruh tim kesehatan perlu melakukan pengkajian nyeri pada bayi prematur, termasuk status perilaku bayi. de Aymar, de Lima, dos Santos, Moreno, dan Coutinho (2014) dalam penelitiannya merekomendasikan untuk melakukan pembelajaran dengan metode kelompok kerja pada profesional kesehatan tentang pengkajian dan penatalaksanaan nyeri agar dapat lebih efektif dalam memberikan manajemen nyeri pada bayi.

Teknik manajemen nyeri dapat dilakukan dengan metode farmakologi maupun non-farmakologi. Namun dalam konteks prosedur rutin di ruang perawatan bayi, metode farmakologi untuk menurunkan nyeri pada bayi prematur digunakan hanya jika pengkajian skor nyeri bayi dalam kategori nyeri berat (Gomella, Cunningham, & Eyal, 2013). Beberapa prosedur yang memerlukan manajemen nyeri dengan teknik farmakologi antara lain prosedur intubasi, ventilasi mekanik, lumbal pungsi, sirkumsisi, ligasi Patent

Ductus Arteriosus (PDA) dan pemasangan selang peritonium. Oleh karena

(19)

prematur banyak dilakukan pada berbagai prosedur rutin yang menyebabkan nyeri ringan sampai nyeri sedang. Tindakan-tindakan non-farmakologis menawarkan profilaksis dan pendekatan komplementer untuk mengurangi nyeri akut. Intervensi ini mengaktifkan perhatian bayi baru lahir, mengalihkan perhatian bayi dari rasa sakit sehingga dapat mengubah persepsi nyeri.

Hasil telusur jurnal menunjukkan beberapa metode non-farmakologi untuk menurunkan nyeri maupun ketidaknyamanan yang dialami oleh bayi prematur. Metode non-farmakologi ini antara lain nonnutritive sucking (NNS), perawatan metode kanguru (PMK), pembedongan, sentuhan, pemberian sukrosa, dan facilitated tucking (fasilitasi menyelipkan ekstremitas/memposisikan fleksi fisiologis) (Liaw et al., 2013; Riddell et al., 2011). Upaya non-farmakologi yang dilakukan oleh residen keperawatan anak untuk menurunkan nyeri bayi prematur yang digunakan pada pasien-pasien kelolaan adalah metode facilitated tucking karena beberapa alasan, antara lain belum diaplikasikan oleh tim kesehatan, tidak memerlukan alat dan keluarga tidak harus hadir pada saat intervensi, sehingga lebih mungkin dilakukan untuk berbagai prosedur yang membutuhkan hasil cepat dan berulang. Selain itu, intervensi ini tidak memerlukan biaya, sehingga tidak memberatkan dan membebani keluarga pasien. Gomella, Cunningham, dan Eyal (2013) menyebutkan bahwa metode facilitated tucking dilakukan dengan memegang lembut tangan dan kaki bayi pada posisi fleksi, metode ini efektif pada awal pemasangan infus, pemeriksaan ROP dan pengisapan lendir pada ETT, serta terbukti menurunkan waktu penyembuhan dan denyut nadi cenderung lebih stabil dalam rentang normal (120-160 kali per menit).

Intervensi dengan biaya yang efektif dapat menjadi alternatif yang menguntungkan, terutama bagi keluarga. Menurut Zwimpfer dan Elder (2012) intervensi non-farmakologi saat melakukan prosedur menyakitkan pada bayi prematur dengan biaya efektif dapat juga dilakukan dengan intervensi yang berbasis hubungan, yaitu “hadir-berbicara” pada bayi prematur. Intervensi ini memungkinkan kebutuhan emosional bayi yang harus dipenuhi lebih efektif di NICU. Bidang kesehatan mental menekankan

(20)

pentingnya interaksi yang selaras antara pengasuh dengan bayi untuk pengembangan kapasitas regulasi emosi yang sehat pada bayi. Hawthorne (2005) menyebutkan bahwa kapasitas regulasi emosi ini dapat dinilai menggunakan instrumen Neonatal Behavioral and Assessment Scale (NBAS) yaitu pada item status regulasi, yang diantaranya dinilai dari kemampuan fleksi sendiri, dapat dihibur, tenang dan tangan ke mulut. Selain itu, kehadiran emosional merupakan elemen kunci dari pendekatan psikoanalitik untuk mengelola psikis rasa sakit (Zwimpfer & Elder, 2012).

Intervensi “hadir-berbicara” dilakukan oleh perawat dengan mengajak bicara bayi secara lembut dan secara emosional hadir untuk bayi selama prosedur menyakitkan sebagai alat manajemen nyeri. Perawat harus dalam keadaan selaras, berpikir tentang bayi dan berempati terhadap bayi tersebut. Pada saat observasi di Ruang Perawatan Bayi Baru Lahir, hanya sebagian kecil perawat yang sudah mengaplikasikan intervensi ini. Namun selama observasi, perawat yang mendampingi bayi saat pelaksanaan prosedur menyakitkan tidak disertai ‘hadir-berbicara’. Oleh karena itu, agar dapat optimal dilakukan oleh semua perawat maka residen keperawatan anak telah melakukan proyek inovasi dengan mengkombinasikan intervensi facilitated tucking disertai “hadir-berbicara” pada bayi prematur dalam upaya mengurangi nyeri bayi, pada proyek inovasi residen keperawatan anak hanya membatasi saat tindakan penusukan tumit. Hasil intervensi lebih efektif dan dapat dilanjutkan untuk diaplikasikan seterusnya agar perawatan terstandar dan seluruh perawat menyadari pentingnya meningkatkan empati pada pasien-pasien bayi prematur. Selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan maupun asuhan perkembangan pada bayi-bayi prematur yang berada di ruang perawatan bayi baru lahir untuk memperoleh kenyamanan. Kenyamanan merupakan kebutuhan dasar pasien yang merupakan tujuan pemberian asuhan keperawatan. Pernyataan tersebut sejalan dengan konsep teori Comfort yang dikemukakan oleh Kolcaba yang menyatakan bahwa kenyamanan adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia (Kolcaba & Dimarco, 2005). Terkait dengan peran ners spesialis

(21)

keperawatan anak, residen keperawatan anak mengembangkan profesionalisme dalam memberikan asuhan keperawatan dengan menerapkan teori Comfort yang dikemukakan oleh Kolcaba untuk mengatasi masalah nyeri dan/atau ketidaknyaman pada bayi prematur yang dirawat di NICU. Kolcaba dalam teorinya menjelaskan bahwa kenyamanan didefinisikan sebagai pengalaman manusia yang segera dilakukan untuk memenuhi kebutuhan relief, ease dan transcendence bertemu dalam empat konteks pengalaman (fisik, psikospiritual, sosial dan lingkungan). Kolcaba menjelaskan bahwa intervensi untuk memberikan kenyamanan pada pasien dapat diterapkan pada berbagai kondisi pasien dengan masalah nyeri, cemas dan takut. Pemberian kenyamanan setidaknya memerlukan tiga jenis intervensi, yaitu teknik pengukuran kenyamanan, pelatihan/bimbingan dan memberikan kenyamanan pada hati/jiwa.

Teori Comfort telah diterapkan dan diuji coba pada lingkup keperawatan bayi baru lahir di ruang Neonatal Intensive Care Unit (Williamson, 2013). Kolcaba juga telah menyusun kerangka kerja untuk dapat dipahami dan diimplementasikan dalam penelitian dan praktik keperawatan anak (Kolcaba & DiMarco, 2005). Tenaga kesehatan, terutama perawat bertanggung jawab dalam memberikan rasa nyaman dan aman di lingkungan Perawatan bayi baru lahir yang masih merupakan bagian dari keperawatan anak. Bayi prematur memerlukan rasa nyaman dari lingkungan dan rasa aman dalam menjalani pengalaman nyeri dari berbagai prosedur terapi agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Pendekatan keperawatan turut berperan aktif dalam memberikan rasa nyaman dan aman untuk mengatasi masalah nyeri/ketidaknyamanan yang dialami oleh bayi prematur. Aplikasi teori keperawatan Comfort yang dikembangkan oleh Kolcaba dapat dijadikan pedoman dalam melakukan pengkajian, penegakan diagnosis dan perumusan intervensi keperawatan untuk mengatasi masalah nyeri/ketidaknyamanan. Melalui pendekatan teori Comfort diharapkan bayi prematur dapat mencapai kenyamanan dari aspek fisik, psikospiritual, lingkungan dan sosiokultural. Hal ini menjadi latar belakang residen keperawatan anak menerapkan teori

(22)

Comfort untuk mengatasi masalah keperawatan nyeri/ketidaknyamanan pada

bayi prematur di ruang perawatan bayi baru lahir. 1.2. Tujuan Penulisan

1.2.1. Tujuan Umum

Menganalisis aplikasi teori Comfort Kolcaba sebagai upaya menurunkan ketidaknyamanan: Nyeri pada bayi prematur yang mengalami nyeri prosedural melalui intervensi facilitated tucking disertai ‘hadir-berbicara’. 1.2.2. Tujuan Khusus

a. Diperolehnya analisis penerapan asuhan keperawatan pada bayi dengan masalah nyeri akut prosedural.

b. Diperolehnya analisis lima kasus terpilih berdasarkan aplikasi teori

Comfort Kolcaba pada bayi prematur yang mengalami nyeri prosedural

dengan pendekatan proses keperawatan.

c. Diperolehnya analisis pencapaian target kompetensi dalam praktik spesialis keperawatan anak.

1.3. Sistematika Penulisan

Karya ilmiah akhir ini terdiri dari lima bab yang setiap bab berisi pokok bahasan tertentu. Bab satu pendahuluan mencakup latar belakang, tujuan, dan sistematika penulisan. Bab dua berisi aplikasi teori keperawatan pada asuhan keperawatan yang meliputi gambaran kasus, tinjauan teoritis, integrasi teori dalam proses keperawatan, serta aplikasi teori keperawatan pada kasus terpilih. Bab tiga mencakup pencapaian kompetensi meliputi pencapaian kompetensi dan implementasi evidence based nursing practice. Bab empat adalah pembahasan dari analisa penerapan teori Comfort pada kelima kasus terpilih sesuai tahapan proses keperawatan, serta pembahasan praktik spesialis keperawatan anak dalam pencapaian kompetensi. Bab lima mencakup simpulan dan saran.

(23)

2.1. Gambaran Kasus

Gambaran kasus merupakan ringkasan riwayat asuhan keperawatan yang diberikan pada lima pasien kelolaan yang terpilih selama praktik residensi. Kasus-kasus yang terpilih ini meliputi asuhan keperawatan pada bayi yang lahir prematur dengan berbagai latar belakang masalah medis yang berbeda. Namun memiliki masalah keperawatan yang sama yaitu ketidaknyamanan: nyeri akut.

Kasus Satu

By. Ny. Sam, laki-laki usia 3 hari, dengan diagnosis Respiratory Distress

Syndrom, Hyalin Membran Disease, trombositopenia, sepsis dan

hiperbilirubinemia. Bayi dilahirkan secara Sectio Caesaria atas indikasi gawat janin dan polihidramnion dengan faktor risiko keputihan, ketuban pecah 8 jam, Ibu bayi ada riwayat menderita Diabetes Mellitus tipe 2 sejak 3 tahun yang lalu dan hasil Cardiotocography bayi adalah Reassuring Fetal

State kategori II. Pemeriksaan APGAR Score didapatkan hasil 4/5/8.

Pemeriksaan fisik didapatkan berat lahir 3.740 gram, usia gestasi 35 minggu, bayi termasuk dalam Neonatus Kurang Bulan - Besar Masa Kehamilan (NKB-BMK).

Pengkajian awal pada kasus ini bayi mengalami instabilitas suhu sampai 39oC, hasil laboratorium darah menunjukkan adanya trombositopenia (73.000/mm3), hipokalsemia (0,92 mEq/L) yang sudah dikoreksi satu kali, dan hasil foto thorax menunjukkan adanya kardiomegali. Pola napas dangkal dan cepat, frekuensi napas 72 kali per menit, saturasi oksigen 90%, bayi terpasang alat bantu napas Non Invasive Ventilation dengan Peak

Inspiratory Pressure (PIP) 40, Positive End Expiratory Pressure (PEEP) 6

dan Fraction of inspired Oxygen (FiO2) 21%. Prosedur penusukan tumit untuk mendapatkan sampel darah perifer sebagai pemantauan gas darah dilakukan setiap pagi dengan rata-rata denyut jantung 186 kali per menit dan

(24)

produksi mukus berlebih, terdengar ronkhi terutama di paru kiri dan terlihat adanya retraksi dinding dada. Pada usia 6 hari kasus satu terlihat kuning pada area kepala, leher, badan dan tungkai atas (Derajat Kremer III) dengan nilai bilirubin 10 mg/dl.

Masalah keperawatan yang muncul dari data pengkajian yang didapatkan oleh residen keperawatan anak antara lain bersihan jalan napas tidak efektif, gangguan pertukaran gas, nyeri akut, hipertermia, gangguan kenyamanan, kerusakan integritas kulit, ikterik neonatus, dan perilaku bayi tidak terorganisir,. Selama perawatan, residen keperawatan anak melakukan prosedur isap lendir minimal satu kali setiap shift. Residen keperawatan anak juga mendampingi prosedur penusukan tumit dengan menggunakan metode facilitated tucking disertai “hadir-berbicara” dan didapatkan rata-rata skor nyeri menggunakan Premature Infant Pain Profile (PIPP) selama lima hari prosedur penusukan tumit adalah 10 (nyeri sedang, rentang 0-21). Evaluasi hasil interpretasi analisa gas darah pada hari kelima pemantauan analisa gas darah menunjukkan hipoksemia. Pada hari perawatan ke-13 keadaan bayi mulai stabil kemudian dipindahkan ke ruang perawatan level I. Kasus Dua

By. Ny. En, perempuan usia 63 hari dengan diagnosis unproven sepsis, riwayat Necrotizing Enterocolitis Grade I, riwayat Apnea of Prematurity, riwayat hiperbilirubinemia, dermatitis kontak iritan et causa hipafix di dagu, pipi, tangan dan kaki, dermatitis kontak iritan et causa urin dan feses di glutea dengan diagnosis pembanding eksodermatik enteropathy. Bayi dilahirkan secara Sectio Caesaria dengan indikasi impending eklampsia pada usia gestasi 30 minggu dengan berat lahir 1.450 gram (NKB-SMK). Saat pengkajian awal kondisi kesadaran bayi kompos mentis, motorik aktif dan mampu menangis kuat. Luka dermatitis tampak mengelupas basah dan berdarah, dilakukan prosedur perawatan luka setiap hari. Hasil pemeriksaan suhu 36,9oC, frekuensi napas 65 kali per menit, denyut jantung 187 kali per menit, saturasi oksigen 98%, akral teraba hangat. Bayi minum ASI melalui

(25)

oral sebanyak 27 ml setiap 3 jam, berat badan sekarang 2.390 gram, tidak ada muntah, tidak ada kembung, toleransi minum baik, dan abdomen supel. Pada hari rawat ke-65 terjadi instabilitas suhu sampai 38,4oC.

Masalah keperawatan yang muncul pada kasus ini adalah nyeri akut, kerusakan integritas kulit, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, inefektif pertahanan tubuh, gangguan kenyamanan, risiko gangguan perlekatan orangtua-bayi, dan hipertermia. Intervensi pada masalah nyeri akut dan kerusakan integritas kulit dilakukan melalui prosedur perawatan luka dermatitis yang secara rutin memberikan kompres NaCl 0,9% selama 15 menit dengan frekuensi 2 kali sehari, mupirocin 2% di semua lesi erosi, daktarin diapers setiap ganti popok, area bokong dibersihkan dengan air dan sabun setiap BAB serta mandi dengan sabun batang bayi. Selama empat hari mendampingi prosedur perawatan luka, residen keperawatan anak menggunakan metode facilitated tucking disertai “hadir-berbicara” dan didapatkan rata-rata skor nyeri dengan menggunakan PIPP adalah 13 (nyeri berat, rentang 0-21).

Evaluasi nyeri yang dialami pada kasus dua tidak hanya terjadi saat perawatan luka, jika lesi tersentuh saat pemberian minum melalui oral bayi menangis kuat, alis menonjol, nasolabial mengerut, mata menutup sehingga residen keperawatan anak perlu berhati-hati saat pemberian minum. Evaluasi pada hari perawatan ke-67 lesi mulai kering, prosedur perawatan luka hanya dilakukan pemberian mupirocin, nyeri telah berkurang.

Kasus Tiga

By. Ny. Et, laki-laki usia 2 jam, usia gestasi 34 minggu, berat lahir 1.840 gram (NKB-SMK), diagnosis Gemelli II, Respiratory Distress, Hyalin

Membran Disease, Sepsis Neonatorum Awitan Dini, unproven sepsis, risiko Apnea of Prematurity. Bayi lahir spontan atas indikasi inpartu kala I fase

aktif, APGAR Score 6/8. Bayi dilahirkan menangis lemah, setelah dihangatkan dan dirangsang bayi merintih, retraksi berat, menggunakan alat bantu napas Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) dengan PEEP 7 FiO2 21%.

(26)

Saat pengkajian retraksi dada minimal, saturasi oksigen 95% masih terpasang CPAP dengan PEEP 7 FiO2 21%. Bayi kemudian dilakukan prosedur penusukan tumit untuk evaluasi Gula Darah Sewaktu. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran kompos mentis, kondisi bayi aktif, nadi 152 kali per menit, suhu 36,8oC, napas 48 kali per menit, saturasi oksigen 97%. Pada hari rawat ke-6 bayi tampak kuning di area di kepala, leher, badan atas-bawah, dan tungkai atas (Derajat Kramer III) dengan nilai bilirubin 11 mg/dl. Pada hari rawat ke-8 berat badan mengalami penurunan menjadi 1.670 gram.

Masalah keperawatan yang muncul antara lain pola napas tidak efektif, nyeri akut, perilaku bayi tidak terorganisir, gangguan rasa nyaman, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, risiko infeksi, risiko gangguan termoregulasi, dan ikterik neonatus. Metode facilitated

tucking disertai “hadir-berbicara” digunakan selama prosedur penusukan

tumit. Hasil gula darah sewaktu 97 mg/dL, skor nyeri 11 (nyeri sedang, rentang 0-21) menggunakan alat pengkajian nyeri PIPP.

Evaluasi masalah nyeri teratasi pada hari rawat pertama. Pada umur 9 hari kondisi bayi stabil, bayi masih mengalami masalah nutrisi, risiko infeksi dan risiko gangguan termoregulasi meskipun selama perawatan tidak terjadi instabilitas suhu pada kasus tiga, rencana bayi akan dipindahkan ke level I. Kasus Empat

By. Ny. St, perempuan usia 18 jam, usia gestasi 36 minggu, berat lahir 2700 gram (NKB-SMK). Diagnosis medis hiperbilirubinemia, inkompatibilitas ABO, dan Anemia. Bayi dilahirkan secara Sectio Caesaria dengan indikasi ketuban pecah 20 jam. Bayi rujukan dari RS A, hasil pemeriksaan darah sebelumnya antara lain: Golongan darah ibu O, golongan darah bayi A+, pemeriksaan haemoglobin hasilnya 10,4 g/dL, setelah 6 jam perawatan haemoglobin turun menjadi 9,3 g/dL dengan nilai bilirubin total 15,03 mg%. Saat pengkajian awal berat badan turun menjadi 2690 gram, Haemoglobin 7,7 g/dL, bilirubin total 14,38 mg% dengan bilirubin direk 0,4 mg%. Hasil

(27)

pemeriksaan coomb’s test indirect positif yang artinya terdapat antibodi pada permukaan eritrosit dan anti-antibodi eritrosit pada serum. Hari rawat kedua berat badan turun 50 gram (2640 gram), akses intra vena perifer bengkak kemudian perawat melakukan prosedur pemasangan infus ulang. Kesadaran kompos mentis, tampak lemah, malas minum, tidak ada muntah, abdomen supel, bising usus ada.

Masalah keperawatan yang muncul antara lain ikterik neonatus, kerusakan integritas kulit, gangguan kenyamanan, nyeri akut, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, dan inefektif pertahanan tubuh. Residen keperawatan anak mendampingi perawat dengan menggunakan metode facilitated tucking disertai “hadir-berbicara” saat pemasangan infus. Rerata skor nyeri menggunakan PIPP dalam empat kali penusukan adalah 12 (nyeri sedang, rentang skor 0-21). Terapi sinar diberikan dengan tiga lampu fototerapi, nutrisi diberikan secara enteral dan parenteral.

Evaluasi pada hari rawat ke-3 berat badan naik 5 gram (2685 gram), hasil pemeriksaan bilirubin total 10,37 mg% sehingga lampu fototerapi dikurangi satu. Hari rawat ke-14 bayi tidak ikterik, tidak terjadi instabilitas suhu, berat badan naik secara progresif dengan rata-rata kenaikan 15 gram/hari.

Kasus Lima

By. Ny. Cla, laki-laki, usia 13 hari, usia gestasi 30 minggu, berat lahir 1524 gram (NKB-SMK), riwayat Respiratory Distress Syndrom, riwayat Hyalin

Membran Disease Grade I-II, riwayat hiperbilirubinemia, dan Anemia. Bayi

lahir secara Sectio Caesaria dengan indikasi gawat janin karena ibu pre eklampsi berat. Bayi lahir dengan nilai APGAR 7/9, kondisi menangis dan diberi bantuan napas melalui Nasal CPAP dengan PEEP 8 dan FiO2 21%. Saat pengkajian awal keadaan bayi stabil, napas spontan tanpa alat bantu, tidak ada distress pernapasan dan bayi berada dalam inkubator. Bayi mengalami distensi abdomen dengan lingkar perut 29 cm, bising usus 1 kali per menit, berat badan mengalami penurunan 15 gram (1372 gram). Suhu tubuh bayi 36,1oC dengan suhu inkubator 33,5oC, akral teraba dingin,

(28)

denyut jantung 158 kali per menit, frekuensi napas 52 kali per menit. Tampak respon terkejut berlebihan, jari tangan menyebar, ekstremitas hiperekstensi. Umur 14 hari dilakukan prosedur pemeriksaan Retinophaty

Of Prematurity untuk diagnosis adanya retinopati. Umur 24 hari bayi

tampak letargi, keadaan bayi lemah, malas minum, dilakukan pemeriksaan darah hasilnya terjadi penurunan hemoglobin, hematokrit, dan neutrofil. Masalah keperawatan yang muncul antara lain ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, hipotermia grade I, perilaku bayi tidak terorganisir, risiko infeksi, nyeri akut, gangguan menelan, kesiapan meningkatkan perilaku terorganisir, dan inefektif pertahanan tubuh. Metode

facilitated tucking disertai “hadir-berbicara” diberikan dalam mendampingi

pemeriksaan Retinophaty Of Prematurity. Skala nyeri menggunakan PIPP 9 (nyeri sedang, rentang skor 0-21), bayi tampak menangis dan meringis. Evaluasi untuk masalah nyeri teratasi pada hari rawat ke-15. Pada hari rawat ke-29 nutrisi yang diterima adekuat ditandai dengan tidak muntah, abdomen supel, dan tidak ada residu, lingkar perut tidak meningkat, bising usus 2 kali per menit, berat badan meningkat progresif 25 gram/hari.

2.2. Tinjauan Teoritis

Pada subbab ini dibahas dasar-dasar teori mengenai nyeri pada bayi prematur, perkembangan reseptor nyeri, penyebab nyeri pada bayi baru lahir, alat pengkajian nyeri, dan penatalaksanaan nyeri pada bayi prematur, serta landasan konsep pencegahan trauma dalam keperawatan anak.

2.2.1. Nyeri pada Bayi Prematur

Fakta menyebutkan bahwa struktur anatomi, fisiologis dan neurokimia yang menyampaikan rasa sakit berkembang dengan baik pada neonatus. (Hockenberry & Wilson, 2009) mengatakan bahwa nyeri merupakan pengalaman tidak menyenangkan yang bersifat subjektif akibat rusaknya jaringan yang akan mempengaruhi pengalaman individu dalam mempersepsikan apa yang dirasakan. Definisi tersebut jelas menggambarkan bahwa nyeri merupakan mekanisme fisiologis alami untuk

(29)

memperingatkan tubuh akan kemungkinan terjadinya kerusakan jaringan. Nyeri yang tidak ditangani dan nyeri kronik pada neonatus dapat berefek jangka pendek maupun jangka panjang. Efek jangka pendek dapat menyebabkan keterlambatan penyembuhan, mobilitas dan pola tidur terganggu. Efek jangka panjang dapat menyebabkan perilaku dan kondisi yang abnormal, keterlambatan perkembangan serta kerusakan perkembangan sistem saraf untuk mempersepsikan rasa nyeri (Nimbalkar, Dongara, & Phatak, 2014).

Penelitian telah menunjukkan bahwa bayi prematur tidak hanya merasakan dan memahami rasa sakit, tetapi juga merespon lebih intensif dibandingkan dengan neonatus cukup bulan (Badr, 2013). Jumlah dan tipe nosiseptor perifer telah sama dengan dewasa pada usia gestasi 20 sampai 24 minggu, sehingga densitas nosiseptor bayi dan luas kulit lebih besar dibanding dewasa. Sistem saraf pusat janin berkembang dengan baik setelah usia kehamilan 24 minggu. Neonatus memiliki semua komponen nosiseptif walaupun tidak memiliki sistem saraf mielin yang lengkap (Mathew & Mathew, 2003).

Selama menjalani perawatan di ruang perawatan bayi baru lahir, bayi prematur memerlukan perawatan rutin dan prosedur yang lebih sering dibandingkan dengan neonatus cukup bulan (Lopez et al., 2015). Oleh karena itu, hipersensitivitas bayi memanjang dan ambang nyeri berkurang. Sebagai hasilnya, rangsangan yang tidak berbahaya seperti mengubah posisi dan melakukan perawatan rutin bisa menyakitkan bagi bayi prematur dan menyebabkan stress. Manajemen nyeri yang tidak memadai pada bayi dapat menyebabkan perubahan permanen dalam proses pengorganisasian otak dan muncul perilaku maladaptif. Nyeri juga dapat memiliki efek yang merugikan pada kemampuan masa depan anak untuk belajar dan mengingat informasi baru (Ranger & Grunau, 2014).

Badr (2013) mendokumentasikan sejumlah prosedur yang menimbulkan nyeri pada bayi prematur. Badr menyebutkan sejumlah 14-25 prosedur per bayi per hari atau sekitar 273 dalam 2 minggu, termasuk aktivitas rutin

(30)

seperti mengganti pampers dan penimbangan berat badan. Intervensi menyakitkan yang sering dilakukan adalah prosedur isap lendir, penusukan tumit, dan merubah posisi/mengganti diapers. Nyeri pada neonatus dimanifestasikan dalam perilakunya seperti ekspresi wajah, pergerakan tubuh, menangis, dan konsolabiliti. Selain itu tanda-tanda fisik seperti hipoksemia, hipertensi, takikardi, kenaikan variabilitas denyut jantung juga merupakan tanda bayi mengalami nyeri.

2.2.2. Perkembangan Reseptor Nyeri

Gomella, Cunningham, dan Eyal (2013) dalam bukunya menjelaskan perkembangan ujung saraf sensori yang telah dimulai sangat dini pada proses nosiseptif, sebagai berikut:

a. Usia gestasi 7,5-15 minggu: Reseptor sensori pada area kulit perifer berkembang pada perioral, wajah, palmar, area abdomen dan ekstremitas proksimal.

b. Usia gestasi 8-19 minggu: Reflek spinal mampu berespon pada stimulus yang mengganggu dan neuron diliputi oleh akar ganglion dorsal.

c. Usia gestasi 20 minggu: membran mukosa dan area kulit diliputi oleh ujung-ujung saraf sensori.

d. Usia gestasi 20-24 minggu: Thalamic afferents terjalin dengan persepsi sadar mencapai area ambang nyeri dan lapisan kortikal.

e. Usia gestasi 23-27 minggu: Thalamic afferents mencapai korteks visual. f. Usia gestasi 26-28 minggu: Thalamic afferents mencapai lapisan

kortikal auditori.

Hockenberry dan Wilson (2009) juga menjelaskan bahwa bayi baru lahir dapat menunjukkan nyeri secara non verbal. Respon perilaku bayi tersebut dapat dikatakan sebagai respon stress pada bayi prematur. Khasanah, Rustina, dan Syahreni (2015) tidak merekomendasikan terjadinya interaksi antara pengasuh dengan bayi pada saat bayi menunjukkan respon/perilaku stress tersebut. Oleh karena itu, tim tenaga kesehatan perlu mengetahui dengan tepat bagaimana merespon bayi ketika mengalami stress sehingga bayi tidak bertambah stress yang dapat berakibat meningkatnya rasa nyeri

(31)

bayi. Tim tenaga kesehatan perlu mempunyai instrumen pengkajian untuk dapat mengevaluasi nyeri bayi prematur sehingga dengan pengkajian yang akurat, tim kesehatan mampu menentukan penatalaksanaan yang tepat pada nyeri bayi prematur tersebut. Selanjutnya, perawat maupun tenaga kesehatan lain mampu meminimalkan skor nyeri bayi prematur terutama saat dilakukan tindakan invasif.

2.2.3. Penyebab Nyeri pada Bayi Baru Lahir

Gomella, Cunningham, dan Eyal (2013) mengklasifikasikan tipe nyeri pada bayi baru lahir berdasarkan penyebab terjadinya nyeri, antara lain:

a. Nyeri akibat trauma persalinan

Nyeri pada bayi baru lahir yang berkaitan dengan trauma persalinan biasanya merupakan hasil dari persalinan yang menggunakan vakum. Beberapa bayi dapat terlihat tanda memar pada wajah dan kepala yang merupakan trauma akibat melewati jalan lahir. Persalinan dengan forsep juga akan meninggalkan tanda temporari atau memar pada wajah dan kepala bayi. Cephalhematom merupakan tanda yang biasanya terlihat pada bayi dengan persalinan forsep atau ekstraksi vakum. Nyeri akibat fraktur saat proses persalinan juga dapat terjadi pada bayi baru lahir. b. Nyeri akut prosedural

Frekuensi prosedur menyakitkan di NICU dapat terjadi antara 5 – 15 prosedur dalam satu hari. Oleh karena itu, metode yang paling optimal untuk mengontrol nyeri adalah dengan membatasi sejumlah prosedur menyakitkan. Prosedur menyakitkan yang berada di ruang NICU antara lain pengisapan lendir melalui ETT, intubasi, ventilasi mekanik, pemasangan chest tube, pemeriksaan ROP, pemasangan akses sentral, pemasangan intra vena, penusukan tumit, lumbal pungsi, sirkumsisi, ligasi PDA dan pemasangan drain peritoneal.

c. Nyeri akut postoperatif

Protokol nyeri post operasi membantu praktik terstandar antara tim kesehatan profesional. Pengkajian nyeri secara rutin perlu dilakukan menggunakan skala yang khusus untuk post operasi atau nyeri.

(32)

Pengobatan dengan opioid dapat diberikan melalui bolus atau syringe

pump.

d. Nyeri kronik

Beberapa nyeri kronik yang terjadi pada bayi merupakan akibat dari nyeri akut yang tidak terkontrol. Alat pengkajian nyeri seharusnya merupakan alat yang tervalidasi untuk nyeri kronik. Dibutuhkan penelitian untuk meneruskan perkembangan area nyeri kronik ini.

2.2.4. Pengkajian Nyeri pada Bayi Prematur

Terdapat banyak alat pengkajian nyeri pada bayi, diperlukan alat pengkajian yang reliabel untuk mengkaji nyeri bayi secara rutin. Berikut beberapa alat pengkajian nyeri yang sering digunakan pada bayi, yaitu:

a. Neonatal infant pain scale (NIPS)

Skala ini mengkaji intensitas nyeri pada bayi dengan rata-rata umur kehamilan 33,5 minggu. Skala terdiri dari 6 variabel penilaian dengan total skor 0 untuk tidak ada nyeri sedangkan 7 nilai nyeri hebat. Adapun variabel yang dinilai adalah ekspresi wajah (0-1), tangan (0-1), menangis (0-2), kaki (0-1), pola pernapasan (0-1), dan kepekaan terhadap rangsangan (0-1) (Lawrence et al., 1993 dalam Glasper & Richardson, 2006).

b. Pain assessment tool (PAT)

Skala digunakan untuk mengkaji intensitas nyeri pada bayi dengan umur kehamilan 27 minggu sampai matur. Skala ini terdiri dari 10 variabel penilaian dengan skor total 4 untuk tidak ada nyeri dan 20 untuk nyeri hebat. Adapun variabel penilaian tersebut adalah sikap/ suara (1-2), pernapasan (1-2), pola tidur (0-2), frekuensi jantung (1-2), ekspresi (1-2), saturasi (0-2), warna (0-2), tekanan darah (0-2), menangis (0-2), persepsi perawat (0-2) (Hodgkinson et al., 1994 dalam Hockenberry & Wilson, 2009).

c. Crying, Requiring increased oxygen, Increased vital signs, Expession,

and Sleeplessness (CRIES)

Skala digunakan untuk mengkaji intensitas nyeri pada bayi dengan umur kehamilan 32 sampai 60 minggu. Skala ini terdiri dari 5 penilaian dengan

(33)

skor total 0 untuk tidak ada nyeri dan 10 untuk nyeri hebat. Adapun penilaian tersebut adalah menangis (0-2), peningkatan kebutuhan oksigen tambahan (0-2), peningkatan tanda vital (0-2), ekspresi (0-2), tidak bisa tidur (0-2) (Krechel & Bildner, 1995 dalam Glasper & Richardson, 2006).

d. Premature Infant Pain profile (PIPP)

Skala ini dipakai untuk mengkaji nyeri pada bayi dengan usia gestasi 28-40 minggu. Terdiri dari 7 penilaian dengan skor total 0 untuk tidak ada nyeri dan 3 untuk sangat nyeri. Adapun variabel yang dinilai adalah usia kehamilan, mata berkerut, status perilaku, bibir melipat ke dalam, denyut jantung, saturasi Oksigen, dan alis menonjol. Skala ini biasanya digunakan untuk mengkaji nyeri pada prosedur/tindakan perawatan. Pada skoring status perilaku, observasi dilakukan 15 detik segera sebelum prosedur, kemudian observasi berikutnya dilakukan 30 detik segera setelah prosedur (Walden & Gibbins, 2008).

2.2.5. Penatalaksanaan Nyeri pada Bayi Prematur

Penatalaksanaan nyeri secara farmakologis meliputi penggunaan opioid (narkotik), nonopioid/ NSAIDs (Nonsteroid Anti Inflamation Drugs) dan

adjuvant, serta ko-analgesik. Namun obat ini tidak bisa digunakan sampai

fungsi ginjal matur. Tata laksana nyeri yang lain dapat diberikan anestesi topikal seperti Eutetic Mixture of Local Anaesthetics (EMLA) yang merupakan krim dengan dosis pada bayi prematur > 1500 gram 1 cm2 atau 0.30 gram dan pada neonatus cukup bulan dapat diberikan 2 cm2 atau 0.50 gram. Selanjutnya anastesi regional, misalnya blok saraf perifer dan blok saraf sentral (spinal, epidural) dimana teknik ini harus dilakukan dengan hati-hati oleh tenaga kesehatan profesional terlatih serta memerlukan observasi yang ketat (Ranger & Grunau, 2014).

Penatalaksanaan nyeri non farmakologi pada bayi yang dapat dilakukan antara lain menyusui, pemberian dekstrosa, pemberian sukrosa, metode kanguru, pengaturan posisi, mengisap nonnutritif, pembedongan, pijat bayi,

(34)

dengan menatap bayi, sentuhan lembut pada punggung dan wajah bayi, berbicara pada bayi dengan lembut tapi jelas dan intervensi lingkungan misalnya dengan mengendalikan kebisingan dan pencahayaan di lingkungan NICU (Gomella et al., 2013). Metode non-farmakologis yang telah diterapkan pada kelima kasus terpilih adalah facilitated tucking disertai “hadir-berbicara”. Menurut Yin et al. (2014), kombinasi dua intervensi non farmakologi dapat menjadikan intervensi tersebut lebih efektif untuk menurunkan skor nyeri pada bayi prematur yang mengalami nyeri akut prosedural.

a. Facilitated tucking

Prosedur invasif yang terjadi secara rutin pada neonatus di ruang perawatan bayi baru lahir menyebabkan rasa sakit dan perkembangan tidak terduga. Neonatus lebih sensitif untuk merasakan rasa sakit dari bayi yang lebih tua, anak-anak, bahkan orang dewasa, dan hipersensitivitas ini lebih diperparah pada neonatus prematur. Beberapa bukti menunjukkan bahwa paparan nyeri yang berulang dan berkepanjangan pada bayi dapat mengubah pengalaman rasa sakit berikutnya, perkembangan jangka panjang, dan perilaku bayi (Gitto et al., 2012). Terjadinya nyeri pada neonatus memiliki konsekuensi fisik dan psikologis, memprovokasi terjadinya hipoksemia, hipertensi, takikardia, kenaikan variabilitas denyut jantung, dan tekanan intrakranial. Nyeri/rasa sakit yang terjadi pada bayi prematur dapat menyebabkan kerusakan otak. Hal ini berkaitan dengan vasoregulasi yang belum matang dari sistem saraf pusat bayi prematur (Ranger & Grunau, 2014).

Analgesik farmakologi memiliki efek yang cepat namun dampaknya pada neonatus masih dipertanyakan (Cignacco et al., 2010). Oleh karena itu diperlukan intervensi non-farmakologis yang tepat untuk mengatasi nyeri akut bayi prematur pada saat prosedur diagnostik dan terapeutik. Dampak intervensi non-farmakologis biasanya terbatas pada efektifitas untuk mengurangi rasa sakit namun tidak memperhatikan dari segi waktu, biaya dan kemudahan pelaksanaan intervensi dalam setting klinik.

(35)

Intervensi non-farmakologi membutuhkan paradigma perawatan yang berorientasi pada bayi dan orangtua, didorong oleh empati dan fokus perhatian dari tim kesehatan profesional. Fokus ini memerlukan perubahan sikap dan nilai-nilai yang ada dalam sebuah tim kesehatan di NICU.

Facilitated tucking merupakan salah satu intervensi non-farmakologis

untuk menurunkan persepsi nyeri bayi prematur yang terbukti efektif dalam menghilangkan nyeri akut pada neonatus (Cignacco & Sellam, 2012; Liaw et al., 2012; Lopez et al., 2015; Sundaram, Shrivastava, Pandian, & Singh, 2013; Yin et al., 2014). Facilitated tucking didefinisikan sebagai penahanan lengan dan kaki bayi dalam tertekuk, posisi garis tengah dekat dengan tenggorokan (posisi fleksi fisiologis/midline position). Teknik memegangnya dapat berbeda tergantung prosedur menyakitkan yang akan dilakukan pada bayi prematur (Kucukoglu et al., 2015). Sebagai contoh untuk prosedur isap lendir (suction) dianjurkan untuk memegang dekat lengan dan kaki bayi (lihat gambar 2.1). Prosedur facilitated tucking untuk penusukan tumit dilakukan dengan cara satu tangan memegang lembut kepala, sementara yang lain memegang tubuh bayi dan lengan dalam keadaan tertekuk (lihat Gambar 2.2).

Gambar 2.1. Posisi Facilitated Tucking untuk Prosedur Isap Lendir Sumber: Cignacco et al. (2010)

(36)

Gambar 2.2. Posisi Facilitated Tucking untuk Prosedur Penusukan Tumit

Sumber: Cignacco et al. (2010)

Pemanfaatan yang efektif dari intervensi ini membutuhkan sekitar 10 menit dari interaksi dengan bayi untuk memberikan dukungan emosional dan mendampingi bayi dalam melalui pengalaman yang tidak menyenangkan dari rasa sakit. Facilitated tucking harus dimulai sekitar 3 menit sebelum prosedur menyakitkan untuk membantu bayi beradaptasi dengan rangsangan taktil, dua tangan orang dewasa menahannya. Relaksasi bayi pada umumnya diamati setelah sekitar 3 menit dari

facilitated tucking, sehingga prosedur yang menyakitkan itu sendiri

seharusnya tidak dimulai sampai setelah bayi santai. Hal yang sama berlaku untuk periode setelah tindakan, dimana intervensi facilitated

tucking perlu terus dilakukan selama setidaknya 3 menit untuk

memberikan bayi kesempatan pemulihan dan kembali ke status dasar. b. “Hadir-berbicara” pada bayi prematur

Bidang kesehatan mental bayi yang berfokus pada penelitian, neurologi dan intervensi berbasis hubungan menekankan pentingnya hubungan yang selaras antara interaksi pengasuh dengan bayi, hal ini bertujuan untuk pengembangan emosional yang sehat dan kapasitas regulasi bayi (Zwimpfer & Elder, 2012). “Hadir-berbicara” pada bayi sebagai bagian dari perawatan neonatal telah diidentifikasi sebagai aspek penting dari manajemen nyeri meskipun belum banyak penelitian tentang hal ini. Namun Schore (1996, dalam Zwimpfer & Elder, 2012) membuktikan

(37)

bahwa hubungan dengan orang dewasa sangat penting untuk memfasilitasi pertumbuhan otak bayi agar mampu mengelola stres. Bayi yang dalam keadaan stres sangat membutuhkan dukungan dari pengasuh dewasa untuk membantu mengatur keadaan emosional mereka. Ketika bayi yang masih belajar dan ditenangkan oleh pengasuh/orang dewasa, kemampuan mereka untuk menenangkan diri mereka sendiri difasilitasi melalui pengembangan jalur saraf untuk pengaturan emosional. Ketika hal ini tidak terjadi bayi berisiko mengalami gejala sisa kesehatan mental di kemudian hari. Artinya perkembangan pengaturan emosional mereka tergantung dari kesediaan orang dewasa untuk bisa berempati dan berkomunikasi dengan bayi. Hal ini menjadi penting karena dalam perkembangannya saat ini NICU tidak hanya dilihat sebagai tempat untuk perawatan fisik saja, tetapi juga asuhan perkembangan termasuk perkembangan emosional bayi.

Intervensi “hadir-berbicara” sesuai dengan penelitian Bellieni et al. (2002) yang mengatakan bahwa intervensi ‘rasa’ dengan menggunakan glukosa oral menjadi lebih efektif dengan adanya intervensi sentuhan dan bicara pada bayi saat dilakukan prosedur yang menyakitkan. Psikoterapi melalui pendekatan orangtua-bayi umumnya ditujukan untuk mengenali dan menangkap ekspresi emosional bayi.

Kenyataannya perawat secara langsung lebih sering berinteraksi dengan bayi prematur tersebut dibandingkan orangtua bayi. Oleh karena itu, menurut Salomonsson (2010) terdapat tiga teknik yang dapat dilakukan petugas kesehatan, dalam hal ini perawat untuk “hadir” pada bayi prematur, yaitu:

1. Perawat berusaha membangun hubungan terapeutik dengan bayi Peran perawat sangat besar bagi bayi prematur. Hal ini harus disadari oleh seluruh perawat yang bekerja di ruang NICU. Bayi prematur dapat menghabiskan sampai tiga atau empat bulan di NICU. Hanya ada sedikit peluang untuk bayi dapat berinteraksi dengan orangtua.

(38)

Oleh karena itu, perawat yang mengambil peran sebagai orangtua bayi. Perawat bekerja secara langsung dengan bayi dan mengambil tanggung jawab keseluruhan untuk perawatan fisik maupun emosional bayi prematur.

2. Perawat meyakini bayi akan menggunakan intersubjektivitas (kapasitas bawaan untuk berhubungan dengan orang lain) untuk memperoleh “containment”

Bayi prematur mencari komunikasi dan kenyamanan dari pengasuh (seseorang yang menawarkan kepedulian terhadap mereka). Hal ini karena bayi prematur lahir dengan intersubjektivitas yang merupakan bawaan primer. Bayi siap untuk berhubungan dengan manusia lain dan mengharapkan respon terhadap keinginan bayi untuk berkomunikasi. Trevarthen (2001, dalam Zwimpfer & Elder, 2012) mengatakan bahwa tidak perlu harus menjadi ibu biologis yang memenuhi kebutuhan bayi, tapi setiap orang dewasa yang simpatik, bersedia dan mampu masuk dalam dunia emosional bayi dapat memenuhi kebutuhan mereka.

Teori dalam aliran pemikiran menekankan pentingnya pengasuh membantu bayi mengelola perasaannya, baik rasa menyenangkan maupun menyakitkan. Proses ini sering digambarkan sebagai ”containment”, yaitu ‘wadah’ untuk mengekspresikan perasaan bayi dan mendapatkan respon dari orang dewasa terkait apa yang dirasakannya. Bellieni, Tei, Coccina, dan Buonocore (2012) menyarankan pentingnya kehadiran pengasuh bersama bayi selama prosedur menyakitkan, terutama ‘kehadiran empati’ dari pengasuh/orang dewasa. Oleh karena itu, penting bagi tim kesehatan yang bekerja di NICU mengekspresikan empati dan cinta bagi pasien mereka dan meyakini bahwa hal ini penting untuk memaksimalkan perawatan, serta merupakan suatu intervensi untuk mengurangi stress.

(39)

3. Perawat mengasumsikan bahwa bayi memproses aspek interaksi non leksikal

Asumsi disini adalah bahwa meskipun bayi tidak memahami kata-kata yang sebenarnya diucapkan kepada mereka, namun bayi memahami maksud emosional dibalik kata-kata. Jika asumsi ini ada pada setiap perawat, maka akan ada nilai terapeutik dimana perawat menenangkan bayi yang sedang mengalami stress dengan ‘vokal’. Berbicara menenangkan pada bayi perlu jujur, misalnya dengan mengakui pengalaman nyeri yang dirasakan oleh bayi agar bermakna untuk bayi dan membantu bayi merasa dimengerti dan meyakinkan, sehingga terbentuk proses “containment”.

Sudut pandang psikoterapi adalah bahwa kehadiran manusia adalah tentang ‘menjadi dengan’ dan ‘berpikir tentang’ bayi secara emosional, tidak hanya secara fisik (Zwimpfer & Elder, 2012). Oleh karena itu, tim kesehatan yang bekerja di NICU perlu ditekankan untuk bersikap sensitif dan responsif terhadap kebutuhan bayi.

Model ‘vokal’ yang lembut dan menenangkan diperlukan untuk memberikan intervensi “hadir-berbicara” pada bayi prematur. Jika secara emosional perawat hadir untuk berkomunikasi dengan bayi dan menyampaikan pada bayi melalui sikap yang selaras, suara yang empatik, lembut dibawah 50 db, dan mirip dengan ‘ibu’ maka bayi akan mencapai proses “containment”. Melalui cara ini, perawat responsif untuk berkomunikasi dengan bayi, memahami perasaan nyeri/sakit yang dialami bayi, kemudian menenangkan.

Kata-kata yang digunakan oleh perawat merupakan komponen penting dari komunikasi ini. Kata-kata harus benar dan digunakan dalam konteks untuk membantu bayi merasa bahwa pengalaman nyeri mereka telah dipahami dengan baik. Salah satu cara untuk memastikannya adalah dengan mempertimbangkan langkah-langkah untuk manajemen nyeri prosedural berikut (Halimaa, 2003), yaitu: Menciptakan lingkungan yang

(40)

dengan aman untuk dilakukan prosedur, meminimalkan nyeri selama prosedur, dan mengembalikan rasa aman bayi setelah prosedur.

Langkah-langkah manajemen nyeri prosedural yang telah disebutkan dalam paragraf sebelumnya bertujuan untuk dapat menghasilkan ‘vokal’ yang menenangkan. Pertama memberikan peringatan tentang apa yang akan terjadi, maka perawat ‘berbicara’ pada bayi sebelum prosedur sehingga bayi memiliki waktu setelah peringatan itu. Tujuannya adalah untuk menemani bayi dari awal prosedur sampai akhir, untuk melihat dari sudut pandang bayi, untuk memberikan peringatan atau persiapan tentang apa yang akan dilakukan pemeriksa selanjutnya, untuk menyadari perasaan bayi selama prosedur, dan kemudian melakukan evaluasi apa yang telah terjadi sebelum pindah ke prosedur berikutnya.

Selama proses intervensi ini perawat harus selaras dengan pengalaman bayi (Zwimpfer & Elder, 2012). Perawat perlu merasa empati dan yakin bahwa bayi akan mentolerir prosedur dengan baik dan pulih dengan baik dari stress sementara yang mereka alami. Inti dari teori “containment” adalah bahwa ketika bayi merasa bahwa ada orang lain yang lebih kuat mengerti bagaimana perasaan mereka kemudian orang lain tersebut tetap tenang dan mendukung bayi, maka akan meyakinkan dan menenangkan untuk bayi.

2.2.6. Pencegahan Trauma

Keperawatan anak merupakan suatu cabang ilmu keperawatan yang berangkat dari sebuah filosofi bahwa keyakinan atau pandangan yang dimiliki perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan anak yang berfokus pada keluarga (family centered care), manajemen kasus, dan pencegahan trauma (atraumatic care) (Hockenberry & Wilson, 2009). Pencegahan trauma sendiri merupakan tindakan yang menjaga perawat untuk tidak menimbulkan trauma baik pada bayi maupun keluarga. Beberapa hal yang dapat menimbulkan trauma pada bayi, antara lain nyeri, kebisingan, pencahayaan dan sikap perawat yang tidak bersahabat. Oleh karena itu, perawat perlu mengidentifikasi hal-hal yang dapat menimbulkan

(41)

nyeri pada bayi untuk dapat dilakukan pencegahan trauma. Hal ini karena dengan melakukan pencegahan trauma dapat mengurangi dampak psikologis bagi perkembangan bayi prematur.

Wong et al. (2002) menjelaskan beberapa prinsip untuk mengurangi trauma pada bayi dapat dilakukan dengan cara: Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dengan orangtua, meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengenal isyarat bayi, mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri sebagai dampak psikologis, dan memodifikasi lingkungan.

2.3. Integrasi Teori dan Konsep Keperawatan dalam Proses Keperawatan Subbab ini akan menjelaskan terkait gambaran model teori Comfort Kolcaba dan proses keperawatan dalam teori Comfort Kolcaba.

2.3.1. Gambaran Model Teori Comfort Kolcaba

Kolcaba menilai bahwa pelayanan kesehatan harus menciptakan rasa nyaman. Kolcaba (1992, dalam Alligood, 2014) mendefinisikan kenyamanan sebagai suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan ketentraman (suatu kepuasan yang meningkatkan perilaku terorganisir bayi), kelegaan (kebutuhan telah terpenuhi), dan transenden (keadaan telah mampu beradaptasi dengan nyeri). Perawat bertanggung jawab didalam menciptakan kenyamanan bagi pasien dari awal hingga akhir. Seorang perawat yang profesional dapat memberikan dan menghadirkan kenyamanan bagi pasien. Kemampuan perawat dalam memberikan kenyamanan pada pasien ditentukan oleh besarnya tingkat keterampilan dan karakter dari seorang perawat. Kolcaba dan Dimarco (2005) menyatakan bahwa kenyamanan baik dari segi fisik maupun mental adalah tanggung jawab perawat dan seorang perawat dalam memberikan tindakan kenyamanan tidak hanya berakhir dengan kenyamanan dari segi fisik saja. Kenyamanan diletakkan di garis depan pelayanan keperawatan. Kolcaba menganalisis konsep kenyamanan dengan menggambarkan komponen fisik, psikospiritual, lingkungan dan sosial budaya. Kemudian mengevaluasi

(42)

artinya dalam berbagai konteks di mana perawatan kesehatan terjadi, serta menjelaskan bagaimana hal itu dapat diukur. Pendekatan holistik ini dapat membantu dalam menentukan prioritas dan parameter untuk perawatan pasien. Tipe-tipe kenyamaman didefiniskan sebagai berikut (Kolcaba, 2003 dalam Tomey & Alligood, 2010): (1) Relief: kondisi bayi yang membutuhkan penanganan yang spesifik dan segera; (2) Ease: kondisi yang tenteram atau kepuasan hati; dan (3) Transcendence: kondisi dimana bayi mampu mengatasi masalahnya (nyeri). Selain itu, terdapat empat konteks kenyamanan, yaitu: (1) Fisik: berkaitan dengan sensasi jasmani; (2) Psikospiritual: berkaitan dengan status perilaku bayi, serta konsep diri, kepercayaan dan makna hidup orangtua; (3) Lingkungan: berkaitan dengan keadaan sekitarnya, kondisi-kondisi, dan pengaruhnya; dan (4) Sosiokultural: berkaitan dengan keluarga, hubungan sosial, dan budaya yang dianut oleh keluarga.

Kolcaba (2003, dalam Alligood & Tomey, 2010) menyebutkan bahwa untuk memberikan kenyamanan memerlukan tiga jenis intervensi kenyamanan, yaitu:

a. Teknik mengukur kenyamanan (technical comfort measures)

Intervensi ini didesain untuk mempertahankan homeostasis dan manajemen nyeri, seperti pemantauan tanda-tanda vital dan hasil kimia darah. Termasuk juga dalam pemberian obat anti nyeri. Pengukuran kenyamanan didesain untuk membantu bayi mempertahankan atau memulihkan fungsi fisik dan kenyamanan serta mencegah terjadinya komplikasi pada bayi prematur.

b. Pembinaan (coaching)

Intervensi ini didesain untuk membebaskan rasa nyeri dan menyediakan penenteraman hati dan informasi, membangkitkan harapan, mendengar, dan membantu perencanaan yang realistis untuk pemulihan, integrasi, atau meninggal sesuai budayanya. Pada pasien bayi prematur, pembinaan dilakukan pada orangtua bayi yang nantinya akan merawat bayi di rumah.

(43)

c. ”Comfort Food for The Soul”

Intervensi ini meliputi intervensi yang tidak dibutuhkan bayi dan orangtua saat ini tetapi sangat berguna untuk menentramkan jiwa. Intervensi kenyamanan ini membuat orangtua dan bayi merasa lebih kuat dalam kondisi yang sulit diukur secara personal. Target intervensi ini adalah transcendence meliputi hubungan yang mengesankan antara perawat-bayi dan perawat-keluarga. Sugesti kenyamanan ini dapat diberikan dalam bentuk pijatan, lingkungan yang adaptif yang menciptakan kedamaian dan ketenangan, terapi musik, ‘hadir-berbicara’, dan sentuhan terapeutik.

Teori Comfort Kolcaba menawarkan cara yang efisien untuk membangun pendekatan interdisipliner untuk mengikuti intervensi secara individual. Berikut merupakan asumsi Kolcaba yang diterapkan pada bayi: (1) Bayi/keluarga mempunyai respon holistik terhadap stimulus yang kompleks. Kenyamanan merupakan hasil holistik yang relevan dengan disiplin keperawatan dan pada tingkat dasar relevan dengan disiplin kesehatan lain. (2) Bayi/keluarga berusaha memenuhi kenyamanan dasar dengan bantuan perawat, (3) intervening variables diperhitungkan dalam merancang intervensi dan menentukan keberhasilan intervensi, (4) intervensi yang efektif dan dilakukan dengan caring hasilnya akan langsung terlihat sebagai peningkatan rasa nyaman, (5) Bila kenyamanan tercapai, bayi dan keluarga terikat oleh HSBs yang akan meningkatkan kenyamanan lebih lanjut. Bila bayi dan orangtua telah memiliki HSBs yang kuat sebagai hasil dari comfort

care, perawat dan keluarga akan lebih puas dengan pelayanan kesehatan,

dan (6) Kepuasan akan berdampak pada perkembangan institusi pelayanan kesehatan karena masyarakat yang merasa puas dengan pelayanan akan mengakui integritas dari institusi tersebut (Kolcaba, 2003; Sitzman dan Eichelberger, 2011; Herlina, 2012).

Gambar

Grafik 3.1  Rerata Frekuensi Nadi Bayi yang Mendapatkan
Tabel 2.1  Struktur Taksonomi Comfort Kolcaba pada Kasus Lima.......... 37  Tabel 2.2  Intervensi Keperawatan untuk Masalah Ketidakseimbangan
Gambar 2.1  Posisi Facilitated Tucking untuk Prosedur Isap Lendir ............ 20  Gambar 2.2  Posisi Facilitated Tucking untuk Prosedur Penusukan Tumit ..
Gambar 2.1. Posisi Facilitated Tucking untuk Prosedur Isap Lendir  Sumber: Cignacco et al
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam menjalankan tugas keperawatan dengan profesional perawat dituntut tidak hanya melakukan asuhan keperawatan dengan optimal tetapi juga memberikan sentuhan

Dalam proses keperawatan, seorang perawat dapat mengetahui sudah atau belum suatu intervensi keperawatan dilakukan dapat dilihat pada... fungsi

Berdasarkan hasil observasi dilapangan yang penulis lakukan ditemukan bahwa perawat yang melakukan asuhan keperawatan pada anak yang dilakukan penyuntikan

kesehatan berupa pembuatan panduan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan oleh perawat dalam merawat Ibu hamil untuk mencegah risiko preeklampsia. Perawat merupakan

mempertimbangkan pentingnya penanganan demam dan tindakan mandiri perawat dalam intervensi keperawatan, peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai perbedaan penurunan

Dalam keperawatan anak yang penting dilakukan atau diperhatikan perawat ketika melakukan tindakan perawatan pasca bedah dengan pasien anak yaitu :.. − Memberikan sentuhan

Diharapkan perawat dapat melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit ginjal kronik dengan optimal untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.. Perawat melakukan asuhan

5.2 Saran 5.2.1 Bagi Perawat Perawat sebaiknya melakukan intervensi keperawatan mandiri dalam membantu meningkatkan kualitas tidur dengan cara menerapkan relaksasi otot progresif