• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aria Indra Purnama, ST. MUM NIP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Aria Indra Purnama, ST. MUM NIP"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

K

K

K

A

A

A

T

T

T

A

A

A

P

P

P

E

E

E

N

N

N

G

G

G

A

A

A

N

N

N

T

T

T

A

A

A

R

R

R

Laporan Kinerja (LKj) Direktorat Perencanaan Tata Ruang Tahun 2015 disusun dengan maksud untuk mengkomunikasikan capaian kinerja tahunan yang terkait dengan proses pencapaian tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam Perjajian Kinerja (PK) sekaligus sebagai sarana untuk mempertanggungjawaban tingkat kinerja yang dicapai.

Dokumen Laporan Kinerja (LKj) terdiri dari empat bagian, Pertama, memaparkan gambaran umum tugas, fungsi direktorat dan struktur organisasi, serta Rencana Strategis yang dijadikan sebagai acuan dalam pemrograman dan penganggaran yang berpengaruh terhadap pencapaian kinerja. Kedua, menjelaskan tentang Rencana Kinerja atau Perjanjian Kinerja Tahunan, termasuk penjelasan terkait outcome yang pencapaiannya dipengaruhi oleh kinerja output Direktorat dan indikator kinerja output yang digunakan untuk pengukuran kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang. Ketiga, menjelaskan tentang akuntabilitas kinerja yang dicapai Direktorat melalui pengukuran kinerja, perbandingan pencapaian kinerja, dan evaluasi kinerja yang dilengkapi dengan analisis akuntabilitas kinerja dan tinjauan aspek keuangan, serta hal-hal pokok yang perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan kinerja direktorat pada masa yang akan datang dan Keempat adalah penutup yang merupakan kesimpulan dari capaian kinerja dan upaya penyelesaian permasalahan dalam pencapaian kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang.

Penilaian akuntabilitas kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang mengacu pada dokumen Penetapan Kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang tahun 2015 yang ditetapkan di awal tahun anggaran meskipun kemudian didalam pelaksanaanya terdapat perubahan, baik berupa perubahan jumlah paket pekerjaan maupun alokasi dana kegiatan yang semuanya dilakukan melalui proses revisi anggaran serta tercantum dalam dokumen hasil revisi.

Dengan disusunnya Laporan Kinerja (LKj), di samping sebagai suatu kewajiban, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk melakukan evaluasi guna peningkatan kinerja dan penyempurnaan proses perencanaan dan penganggaran, baik di lingkungan Direktorat Perencanaan Tata Ruang khususnya maupun kinerja Direktorat Jenderal Tata Ruang pada umumnya sehingga visi dan misi yang ditetapkan dalam dokumen Renstra dapat tercapai.

Jakarta, Januari 2016

Plh. Direktur Perencanaan Tata Ruang

Aria Indra Purnama, ST. MUM NIP. 19681228 199703 1 003

(3)

BAB I PENDAHULUAN ...I-1

1.1. Gambaran Umum...I-1 1.1.1 Landasan Hukum ...I-1 1.1.2 Tugas Pokok dan Fungsi ...I-2 1.1.3 Struktur Organisasi ...I-2 1.2. Isu Strategis Direktorat Perencanaan Tata Ruang ...I-2 1.2.1 Alih Fungsi Lahan ...I-3 1.2.2 Ketimpangan Wilayah dan Kesenjangan Sosial ...I-3 1.2.3 Ketahanan Pangan Dan Produktivitas Pertanian ...I-5 1.2.4 Kawasan Perbatasan Dan Pertahanan Negara ...I-6 1.2.5 Penataan Ruang Daerah Dan Pemekaran Wilayah ...I-7 1.2.6 Kelautan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil ...I-8 1.2.7 Perubahan Iklim Dan Resiko Bencana...I-9 1.2.8 Tata Kelola Kelembagaan Penataan Ruang ... I-10 1.2.9 Rangkuman Isu Strategis ... I-10 1.3. Permasalahan dan Tantangan ... I-11

BAB II PERJANJIAN KINERJA ... II-1

2.1 Perjanjian Kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang ... II-1 2.2 Indikator Kinerja dan Output Direktorat Perencanaan Tata Ruang ... II-2

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ... III-1

3.1. Capaian Kinerja ... III-1 3.1.1 Perbandingan Antara Target dan Realisasi Kinerja Tahun 2015... III-1 3.1.2 Perbandingan Realisasi Kinerja Tahun 2015 Dengan Target Jangka Menengah ... III-8 3.1.3 Perbandingan Antara Realisasi Kinerja dan Capaian Kinerja Pada Tahun 2015 dengan Tahun 2014 ... III-13 3.1.4 Perbandingan Realisasi Kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang Tahun 2015

dengan Rencana Strategis ... III-13 3.1.5 Penyebab Keberhasilan / Kegagalan ... III-18 3.2. Realisasi Anggaran... III-19

BAB IV PENUTUP ... IV-1

(4)

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT PERENCANAAN TATA RUANG TAHUN 2015

Tabel 1.1 Rekapitulasi Perhitungan Tapak Ekologis dan Biokapasitas Pulau di Indonesia ...I-9 Tabel 2.1 Perjanjian Kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang ... II-1 Tabel 3.1 Perbandingan Realisasi Kinerja 2015 dengan Target Jangka Menengah 2015 - 2019 ... III-9 Tabel 3.2 Perbandingan Capaian Kinerja Direktorat Tahun 2014 dengan Tahun 2015 ... III-13 Tabel 3.3 Perbandingan Realisasi Kinerja 2015 dengan Target Rencana Strategis 2015 ... III-15 Tabel 3.4 Realisasi Anggaran Direktorat Perencanaan Tata Ruang Tahun 2015 ... III-20

(5)

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT PERENCANAAN TATA RUANG TAHUN 2015

Gambar 1.1 Struktur Organisasi ...I-3 Gambar 1.2 Peta Kondisi Kesenjangan Sosial per Pulau...I-5 Gambar 1.3 Perkembangan Pola Konsumsi Pangan Pojok di Indonesia (1954-2010) ...I-6 Gambar 1.4 Struktur Organisasi ...I-7 Gambar 2.1 Perjanjian Kinerja Tahun 2015 Kementerian ATR ... II-1 Gambar 3.1 Persentase Capaian Kinerja Antara Target dan Realisasi Kinerja Direktorat ... III-1 Gambar 3.2 Persentase Realisasi Kinerja 2015 dengan Rencana Strategis 2015 - 2019 ... III-14 Gambar 3.3 Prosedur Penyusunan Rancangan Peraturan Presiden RTR pulau dan RTR KSN ... III-18

(6)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Gambaran Umum

Rencana tata ruang digunakan sebagai arahan dalam penyusunan rencana pembangunan dan menjadi acuan dalam pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang sehingga rencana tata ruang merupakan aspek penting untuk dapat mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman produktif, dan berkelanjutan sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Peraturan Presiden Nomor 165 Tahun 2014 tentang Penataan Tugas dan Fungsi Kabinet Kerja merupakan acuan beralihnya fungsi penataan ruang dari Kementerian Pekerjaan Umum ke Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional. Perubahan ini berimplikasi terhadap perubahan unit organisasi dan nomenklaturnya. Berdasarkan Perpres tersebut, Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 8 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional.

1.1.1 Landasan Hukum

1) Undang Undang Nomor 25 Tahun 2005 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional 2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional

(RPJPN) Tahun 2005-2025

3) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

4) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah

5) Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional 6) Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang,

7) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

8) Peraturan Presiden Nomor 165 Tahun 2014 tentang Penataan Tugas dan Fungsi Kabinet Kerja. 9) Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia

Nomor 53 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah

10) Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Agraria Dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional

(7)

1.1.2 Tugas Pokok dan Fungsi

Direktorat Perencanaan Tata Ruang yang berada di bawah Direktorat Jenderal Tata Ruang memiliki tugas pokok dan fungsi :

melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang perencanaan tata ruang wilayah nasional, pulau/kepulauan, dan kawasan strategis nasional.

Dalam melaksanakan tugas tersebut, Direktorat Perencanaan Tata Ruang menyelenggarakan fungsi yaitu:

a) penyiapan perumusan kebijakan dan strategi di bidang perencanaan tata ruang wilayah nasional, pulau/kepulauan, dan kawasan strategis nasional;

b) penyiapan dan pelaksanaan program di bidang perencanaan tata ruang wilayah nasional, pulau/kepulauan, dan kawasan strategis nasional;

c) penyiapan instrumen dan pelaksanaan peningkatan peran serta masyarakat dalam perencanaan tata ruang;

d) penyiapan pengelolaan data dan informasi serta bahan komunikasi; e) penyusunan pedoman bidang perencanaan tata ruang;

f) penyusunan dan pelaksanaan peninjauan kembali rencana tata ruang wilayah nasional, rencana tata ruang pulau/kepulauan, dan rencana tata ruang kawasan strategis nasional, termasuk kawasan perbatasan negara; dan

g) pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.

Direktorat Perencanaan Tata Ruang terdiri atas:

a) Subdirektorat Perencanaan dan Kemitraan; b) Subdirektorat Pedoman Perencanaan Tata Ruang; c) Subdirektorat Perencanaan Tata Ruang Nasional;

d) Subdirektorat Perencanaan Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional Wilayah I; e) Subdirektorat Perencanaan Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional Wilayah II; f) Subbagian Tata Usaha; dan

g) Kelompok Jabatan Fungsional.

1.1.3 Struktur Organisasi

Struktur Organisasi Direktorat Perencanaan Tata Ruang Direktorat Jenderal Tata Ruang dapat dilihat pada gambar 1.1

(8)

Struktur Organisasi

Gambar 1.1

1.2. Isu Strategis Direktorat Perencanaan Tata Ruang

1.2.1 Alih Fungsi Lahan

Salah satu isu utama terkait konflik pemanfaatan lahan adalah semakin tingginya perubahan guna lahan atau konversi lahan. Konversi lahan atau alih fungsi secara umum menyangkut transformasi dalam pengalokasian sumberdaya lahan dari satu penggunaan ke penggunaan lainnya. Pengalihan fungsi lahan dalam beberapa tahun terakhir menunjukan kecenderungan yang selalu meningkat, berikut adalah fakta-fakta yang ada:

Luas lahan sawah di Pulau Jawa pada 2010 susut menjadi 3,4 juta ha dari 4,1 juta ha di 2007 dengan luas sawah Indonesia seluas 7.741.533 ha (Kementerian Pertanian, 2012)

Luas lahan pertanian khususnya panen padi Indonesia meningkat 516.463 ha yaitu tahun 2010 seluas 13.253.450 dan tahun 2013 menjadi 13.769.913 ha (BPS, 2010-2013)

Luas lahan panen pertanian non padi di Indonesia mengalami penurunan setiap tahunnya dari 2010 ke 2013, dengan luas di tahun 2010 sebesar 7.035.339 ha menjadi 6.418.137 di tahun 2013 (BPS, 2010-2013)

Luas area bervegetasi meningkat dari 113,7 juta ha tahun 2007 menjadi 117,2 juta ha tahun 2010, kecuali Pulau Jawa yang kehilangan lahan tersebut seluas ± 203 ribu ha (Kementerian Lingkungan Hidup, 2011).

Selama 2000 - 2011, lahan kritis bertambah 4 juta ha menjadi 27.294.845 ha, dengan kontribusi setiap provinsi yang berbeda-beda. (Kementerian Lingkungan Hidup, 2012)

Tingkat kerusakan hutan di Indonesia mencapai 0,45 terbagi menjadi kerusakan kawasan hutan 0,32 dan di luar kawasan hutan 0,13 per tahun. (Kemenhut, 2011)

(9)

1.2.2 Ketimpangan Wilayah dan Kesenjangan Sosial

Ketimpangan wilayah merupakan aspek yang umum terjadi dalam kegiatan ekonomi suatu daerah yang dikarenakan salah satu penyebabnya adalah tidak meratanya konsentrasi ekonomi dan penyediaan infrastruktur. Di Indonesia, ketimpangan dapat teridentifikasi pada wilayah barat dan timur. Berdasarkan data BPS tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di Pulau Jawa sebesar 57% dengan luas wilayah 7% dari total luas wilayah Indonesia, sedangkan penduduk yang tinggal di Pulau Maluku dan Papua tidak lebih dari 3% dari total penduduk Indonesia. Kepadatan penduduk di Pulau Jawa mencapai 1055 jiwa/km² sedangkan kepadatan penduduk di Bali dan NT sebesar 179 jiwa/km², Sumatera hanya 105 jiwa/km², Kalimantan sebesar 25 jiwa/km², Sulawesi sebesar 92 jiwa/km², dan Maluku Papua sebesar 12² jiwa/km.

Struktur perekonomian Indonesia secara spasial pada triwulan IV-2013 per tanggal publikasi 5 Februari 2014 masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 57,78 persen, kemudian diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 23,83 persen, Pulau Kalimantan 8,52 persen, dan Pulau Sulawesi 4,90 persen, Bali dan Nusa Tenggara 2,54 persen, serta sisanya 2,43 persen di Maluku dan Papua.

Alih fungsi lahan kawasan hutan menjadi Cagar Alam (CA), Taman Buru (TB), Hutan Lindung (HL), Taman Wisata Alam (TWA), Hutan Produksi Terbatas (HPT), Hutan Produki Tetap dan Hutan Produksi yang dapat Dikonversi (HPK) mengalami pengurangan luasnya dengan yang luas yaitu HPT dari 687.415,13 ha menjadi 168.343,0 ha. (Kemenhut, 2012)

Alih fungsi lahan menjadi Suaka Margasatwa (SM), Taman Nasional (TN), Taman Hutan Raya (Tahura), dan Hutan produksi (HP), diantaranya HP dari 160.309,27 ha menjadi 648.330,7 ha. (Kemenhut, 2012)

Kawasan hutan pun mengalami perubahan untuk pemukiman transmigrasi tahap izin prinsip, yang pada tahun 2007 seluas 598.229,66 ha dan 2012 seluas 564.117,69 ha. (Kemenhut, 2012)

Kawasan hutan pun mengalami perubahan untuk pemukiman transmigrasi tahap SK pelepasan kawasan hutan yang pada tahun 2007 seluas 956.125,37 ha dan 2012 seluas 962.083,01 ha. (Kemenhut, 2012)

Kawasan hutan yang dapat dikonversi untuk pertanian/ perkebunan tahap izin prinsip pada tahun 2007 seluas 513.773,40 ha dan tahun 2012 menjadi seluas 808.809,40 ha. (Kemenhut, 2012)

Kawasan hutan yang dikonversi untuk Pertanian/ Perkebunan tahap SK Pelepasan Hutan pada tahun 2007 seluas 4.569.309,10 ha dan pada tahun 2012 menjadi 5.793.039,23 ha. (Kemenhut, 2012)

Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa perkembangan tukar menukar kawasan hutan pada tahun 2012 terdapat penambahan sebanyak 1 unit untuk masing-masing tanah masuk dan tanah keluar dan masing-masing seluas 40 ha. (Kemenhut, 2012)

Penutupan hutan di Indonesia keseluruhan sebesar 1% per tahun di tahun 2000 hingga 2010, dengan laju penurunan tutupan hutan tahunan tertinggi ialah Seumatera (2,7%), disusul oleh Kalimantan sebesar 1,3% (Miettinen dkk, 2011).

Laju deforestasi Indonesia diperkirakan sekitar 1,125 juta ha setiap tahun, dengan degradasi rata-rata yang disebabkan oleh pembalakan yang diperkirakan sebesar 0,626 juta ha per tahun (Bappenas 2010)

(10)

Peta Kondisi Kesenjangan Sosial per Pulau

Sumber: Olahan dari BPS, 2014

Gambar 1.2.

1.2.3 Ketahanan Pangan Dan Produktivitas Pertanian

Penurunan kapasitas produksi, ketidakpastian panen, degradasi kualitas lahan dan air, serta ketidakseimbangan produksi dan stok pangan merupakan sekelumit isu dalam menjaga ketahanan pangan. Sehingga diperlukan ketersediaan lahan yang disesuaikan dengan kebutuhan baik jangka pendek maupun panjang. Selain ketersediaan lahan untuk pemenuhan kebutuhan pangan pokok, hal yang perlu didorong juga adalah penyediaan lahan cadangan pangan pokok pemerintah daerah melalui penyediaan beragam pangan dan makanan berdasarkan potensi sumberdaya dan budaya lokal. Hal tersebut mutlak dibutuhkan mengingat pola konsumsi pangan pokok di Indonesia yang makin kurang variatif dan hanya mengandalkan beras. Perkembangan pola konsumsi pangan pokok di

indonesia dalam kurun tahun 1954 sampai tahun 2010 dapat dilihat pada gambar 1.3

Sumatera Rata-rata IPM = 74 Penduduk Miskin = 11%

Kontribusi PDB = 23,83% Kalimantan Rata-rata IPM = 73 Penduduk Miskin = 6% Kontribusi PDB = 8,52% Sulawesi Rata-rata IPM = 72 Penduduk Miskin = 12% Kontribusi PDB = 4,9% Jawa Rata-rata IPM = 74 Penduduk Miskin = 10% Kontribusi PDB = 57,78% Bali + NT Rata-rata IPM = 68 Penduduk Miskin = 14% Kontribusi PDB = 2,54% Maluku + Papua Rata-rata IPM = 69 Penduduk Miskin = 21% Kontribusi PDB = 2,43%

(11)

Perkembangan Pola Konsumsi Pangan Pokok di Indonesia (1954-2010)

Sumber: Diolah dari Kementerian Pertanian, 2011

Gambar 1.3.

Konversi lahan pertanian merupakan sebuah tantangan dalam menjaga ketahanan pangan. Kurangnya ketersediaan lahan akan mengakibatkan krisis pangan yang memicu kebijakan impor produksi luar negeri. Terkait hal tersebut negara dituntut untuk memantapkan ketahanan pangannya melalui peningkatan produksi pangan dalam negeri. Berikut adalah isu aktual terkait ketersediaan lahan pangan:

a. Laju alih fungsi lahan sawah untuk penggunaan non pertanian masih cukup tinggi, yaitu sekitar 100.000 ha per tahun.

b. Berdasarkan data BPS (2013), luas lahan panen padi tahun 2012 sebesar 13.445.524 Ha, luas panen jagung sebesar 3.957.595 Ha, luas panen kedelai sebesar 567.624 Ha, luas panen kacang tanah sebesar 541.340 Ha, luas panen kacang hijau sebesar 245.006 Ha, luas panen ubi kayu sebesar 1.129.688 Ha, dan luas panen ubi jalar sebesar 178.121 Ha.

c. Tingkat ketersediaan beberapa pangan komoditas pangan domestik yang masih tergantung pada impor, yaitu kedelai sekitar 70 persen, gula sekitar 54 persen, dan daging sapi sekitar 20 persen. Untuk beras dan jagung, impornya tidak terlalu besar yaitu hanya sekitar 11 persen untuk jagung dan 5 persen untuk beras.

1.2.4 Kawasan Perbatasan Dan Pertahanan Negara

Kawasan perbatasan sebagai ‘beranda negara’ perlu mendapatkan prioritas penanganan seiring dengan berkembangnya berbagai isu dan permasalahan yang dihadapi. Isu utama di daerah perbatasan adalah isu geografis territorial, menyangkut penentuan tapal batas (demarkasi dan delimitasi) wilayah Indonesia dengan tetangga. Berikut beberapa detail konflik dan permasalahan perbatasan yang terangkum dalam gambar 1.4

•Beras (54%), •Ubi kayu (22%), •Jagung (19%), •Lain-lain (5%)

1954

•Beras (80%), •Ubi kayu (10%), •Jagung (7%), •Lain-lain (3%)

1987

•Beras (86%), •Ubi kayu (5%), •Jagung (2%), •Lain-lain (7%)

1999

•Beras (139.15 kg), •Terigu (17 kg), •Pangsa pangan

selain beras dalam pola konsumsi pangan nyaris hilang

(12)

Konflik dan Permasalahan Perbatasan Negara

Gambar 1.4

Sesuai dengan Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Undang-undang No.43 Tahun 2008 tentang wilayah Negara, kawasan perbatasan memiliki nilai strategis bagi kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan nasional. Sesuai dengan arahan pembangunan jangka panjang nasional, upaya pengembangan kawasan perbatasan dilakukan dnegan mengubah arah kebijakan yang cenderung berorientasi kedalam (memandang perbatasan semata-mata pertahanan keamanan) menjadi berorientasi ke luar (memanfaatkan perbatasan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dengan tetangga). Pendekatan pembangunan selain pendekatan keamanan (security approach) juga dilakukan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach).

1.2.5 Penataan Ruang Daerah Dan Pemekaran Wilayah

Kebijakan mengenai pemekaran wilayah dipertegas kembali melalui Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 yang memberikan penjelasan mengenai beberapa ketentuan terkait sebagaimana tercantum pada Pasal 4 ayat (1). Legalisasi pemekaran wilayah dicantumkan dalam pasal yang sama pada ayat 3 yang menyatakan bahwa, “Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih.” Ada beberapa hal menjadi penyebab utama sebuah wilayah menginginkan melepaskan diri dari wilayah induknya,hal-hal tersebut adalah: a. kemampuan ekonomi; b. potensi daerah; c. sosial

Indonesia Singapura Malaysia Australia Palau Timor Leste PNG Thailand Filipina Vietnam Selat Malaka& Pulau Nipah

Tj. Datu, Landas Kontinen LCS, Selat Malaka

Landas Kontinen Christmas, Karang Ashmore

ZEE blm aplikatif

Masalah batas di Noel Besi, Memo, Manusasi, TTU, dan Belu Penyepakatan 52

tugu batas utama ZEE laut

Andaman ZEE landas kontinen

dan Pulau Miangas

Batas wilayah sekitar Natuna

(13)

budaya; d. sosial politik; e. kependudukan; f. luas daerah; g. pertahanan; h. keamanan; dan i. dan faktor lain yang menunjang otonomi daerah.

Sejak reformasi bergulir, pemerintah telah melakukan 205 pemekaran daerah (7 provinsi, 146 kabupaten, dan sisanya kota) sehingga jumlah daerah di Indonesia, yaitu 33 provinsi dan 491 kabupaten/kota yang menjadi daerah-daerah otonom. Pada 27 Desember 2013 lalu, telah dikeluarkannya Amanat Presiden terkait pemekaran 65 DOB (Daerah Otonomi Baru) yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia, delapan diantaranya merupakan usulan pemekaran provinsi. Namun, saat ini masih ditelisik syarat administrasinya, memenuhi syarat atau tidak sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2007 tentang tata cara pembentukan, penghapusan, dan penggabungan daerah. Seperti 2012 lalu, dari 19 usulan, tersisa 4 daerah yang belum dimekarkan lantaran kurangnya persyaratan untuk menjadi DOB. Berdasarkan hasil evaluasi dari Kementerian Dalam Negeri (2012) terhadap kinerja pemekaran daerah, tercatat bahwa dari 205 DOB, 70 persen itu tidak baik. Hal tersebut ditinjau dari tata kelola daerah dan pelayanan publik yang belum memuaskan.

Hingga maret 2014, tercatat bahwa terdapat 13 kabupaten telah menetapkan UU Pembentukan Kabupaten yang baru. Seringkali upaya pemekaran wilayah tidak hanya berlandaskan kesejahteraan masyarakatnya. Sehingga Pemerintah diamanatkan untuk tetap mengatur dan menjalankan urusan di beberapa sektor di tingkat kabupaten dan menjamin bahwa pemerintah lokal punya kapasitas dan mekanisme bagi pengaturan hukum tambahan atas bidang-bidang tertentu, serta membantu dalam penyelesaian perselisihan. Selain itu, Pemerintah Pusat juga diharapkan menguji kembali dan memperketat kriteria pemekaran wilayah.

1.2.6 Kelautan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil

Hampir 70% wilayah Indonesia merupakan lautan yang mempunyai potensi ekonomi yang sangat besar, sehingga negara Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia atau The largest archipelago country in the world. Namun secara empiris pembangunan kelautan, pesisir, dan pulau-pulau kecil kurang mendapat perhatian dan selalu diposisikan sebagai pinggiran dalam pembangunan ekonomi nasional. Untuk itu pilihan pembangunan sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu sektor andalan utama pembangunan Indonesia merupakan pilihan yang sangat tepat.

Permasalahan yang dihadapi terkait dalam pengelolaan masyarakat pesisir adalah (1) Penataan ruang wilayah pesisir laut yang belum maksimal; (2) Penataan ruang yang belum dapat diimplementasikan sesuai dengan kondisi dan karakteristik daerah; (3) konflik penataan ruang antar sektor, antar daerah atau stakeholder terkait lainnya; (4) Belum terkelolanya secara maksimal potensi sumber daya di wilayah pesisir laut yang mengakibatkan adanya kesenjangan yang tajam antar daerah dan antar wilayah pulau-pulau kecil/terluar; (5) Adanya Kegiatan yang bersifat eksploitatif dan destruktif, mengakibatkan terganggunya lingkungan di wilayah pesisir (sedimentasi, pencemaran, degradasi habitat, degradasi sumber daya dan keanekaragam hayati).

Selain wilayah pesisir, konsentrasi pemerintah, swasta dan masyarakat terhadap pulau-pulau kecil juga mutlak dibutuhkan. Berdasarkan Konvensi Hukum Laut (UNCLOS) 1982, Indonesia memiliki kedaulatan atas wilayah perairan seluas 3,2 juta km2 yang terdiri dari perairan kepulauan seluas 2,9 juta km2 dan laut teritorial seluas 0,3 juta km2. Selain itu Indonesia juga mempunyai hak eksklusif untuk memanfaatkan sumber daya kelautan dan berbagai kepentingan terkait seluas 2,7 km2 pada perairan ZEE (sampai dengan 200 mil dari garis pangkal). Menurut Pasal 47 Ayat 1 Konvensi Hukum

(14)

Laut Internasional (UNCLOS) 1982, Negara Kepulauan berhak menarik garis pangkal kepulauan (archipelagic baseline), sebagai dasar pengukuran wilayah perairannya dari titik-titik terluar dari pulau-pulau terluarnya. Hal ini menunjukkan nilai strategis pulau-pulau kecil pada kawasan perbatasan negara sebagai ‘gatekeeper’ wilayah kedaulatan RI.

Salah satu isu yang berkembang dalam konteks pengembangan pulau-pulau kecil di Indonesia adalah belum maksimalnya penatagunaan ruang pulau-pulau kecil, dengan berlandaskan pengembangan potensi sektor-sektor unggulan dan pembagian pusat-pusat pertumbuhan. Pada saat ini, sebagian besar kawasan perbatasan laut dapat dikelompokkan status perkembangannya ke dalam ‘kawasan tertinggal’. Sehingga konsep pengembangan laut, pesisir dan pulau kecil merupakan langkah nyata melindungi kedaulatan negara, mencegah konflik sekaligus menjaga kekayaan nabati dan hewani.

1.2.7 Perubahan Iklim Dan Resiko Bencana

Hasil perhitungan daya dukung wilayah Indonesia (selisih antara biokapasitas dan telapak ekologis) yang masih surplus adalah lahan peternakan, lahan kehutanan, dan lahan perikanan. Komponen yang menunjukkan nilai paling tinggi adalah lahan perikanan (0,26 gha/orang). Tingginya biokapasitas lahan perikanan dikarenakan secara geografis wilayah di Indonesia merupakan wilayah kepulauan dan memiliki perairan yang luas dengan potensi sumber daya perikanan yang melimpah dan beragam. Untuk komponen penggunaan lahan pertanian, perbandingan antara nilai telapak ekologis dan nilai biokapasitasnya memiliki nilai yang sama yaitu 0,35 ha/orang. Hal ini menunjukkan permintaan masyarakat terhadap produk pertanian dan kapasitas alam sebagai penyedia sumber daya untuk penghasil produk pertanian adalah sama.

Sedangkan daya dukung yang telah mengalami defisit adalah pada lahan penyerap karbon dan lahan terbangun. Untuk kedua komponen tersebut, tingginya nilai telapak ekologis total dikarenakan sumbangan dari nilai telapak ekologis produksi. Salah satu penyebab tingginya telapak ekologis pada komponen penggunaan lahan untuk lahan penyerap karbon adalah nilai telapak ekologis produksi lahan penyerap karbon yang tinggi di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Hal yang menjadi faktor penyebabnya antara lain: banyaknya penggunaan kendaraan pribadi yang beremisi tinggi, banyak pengelola perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karet yang tidak mengelola limbahnya dengan baik, banyaknya alih fungsi lahan kawasan hutan (seperti: hutan rawa/hutan gambut dan hutan mangrove) untuk dijadikan penggunaan lahan lainnya seperti pertanian, perkebunan, maupun lahan terbangun, serta lahan untuk aktivitas industri.

Tabel 1.1. Rekapitulasi Perhitungan Telapak Ekologis dan Biokapasitas per Kapita Pulau-pulau di Indonesia

Sumber : Telapak Ekologis di Indonesia Tahun 2010

PULAU/ KEPULAUAN TE (gha/orang) BK (gha/orang) ED (gha/orang) Kategori Sumatera 1.56 1.96 0.40 Surplus Jawa 1.01 0.20 -0.81 Defisit Bali 1.76 0.24 -1.52 Defisit Kalimantan 1.26 4.05 2.79 Surplus Sulawesi 1.46 1.63 0.17 Surplus Nusa Tenggara 0.45 0.47 0.02 Surplus Maluku 1.20 1.25 0.05 Surplus Papua 0.79 7.43 6.64 Surplus Indonesia 1,07 1,12 0,05 Surplus

(15)

Tabel ini memperlihatkan nilai telapak ekologis, nilai biokapasitas, serta nilai defisit ekologis yang menggambarkan daya dukung wilayah yang telah terlampaui atau belum. Dari hasil perhitungan menunjukkan masyarakat di Pulau Jawa dan Pulau Bali telah menggunakan sumber daya alam melebihi kapasitas alam penyedianya dengan nilai defisit ekologis masing-masing adalah -0,81 gha/orang dan -1,52 gha/orang. Daya dukung wilayah yang belum terlampaui (surplus) yang berada di posisi pertama dan kedua adalah Pulau Papua dan Pulau Kalimantan, yang nilainya adalah 6,64 gha/orang dan 2,79 gha/orang.

1.2.8 Tata Kelola Kelembagaan Penataan Ruang

Kegagalan mewujudkan rencana tata ruang dalam praktek pemanfaatan dan pengendalian ruang inilah yang dimaksud sebagai penataan ruang yang tidak efektif. Secara garis besar, ada beberapa permasalahan yang melatar-belakangi hal ini, di antaranya:

a. Belum dijadikannya Lembaga Penataan Ruang (Nasional/Pusat dan Daerah) sebagai Leader dalam proses Pembangunan yang semuanya dilakukan didalam ruang (wilayah Regional dan Kota).

b. Belum optimalnya kapasitas kelembagaan Bidang Tata Ruang yang mencakup kuantitas dan kualitas SDM di pusat dan daerah.

c. Belum lengkapnya peraturan perundangan dan NSPK bidang penataan ruang sehingga sulit diimplemmentasikan.

d. Masih minimnya penyediaan sistem informasi dan data bidang tata ruang yang terbuka dan interaktif.

e. Lemahnya kepastian hukum, penegakan hukum dan ketidakjelasan kewenangan. Belum tersedianya instrumen pengendalian yang optimal, mekanisme perizinan yang mengacu kepada RTRW dan turunannya, dan petunjuk pelaksanaan pemberian sanksi terhadap pelanggaran RTRW (karena belum adanya ada kajian akademik mengenai posisi hukum untuk pelanggaran Tata Ruang).

f. Lemahnya koordinasi dan konflik antar sektor dalam penyelenggaraan penataan ruang yang mengakibatkan disharmoni regulasi, disharmoni program dan disharmoni otonomi.

g. Masih kurangnya penelitian dan pengembangan bidang penataan ruang yang bisa dikerjasamakan dengan PTN/PTS dan organisasi profesi.

h. Kurangnya pemahaman mengenai konteks pembangunan di sektor publik. Kegagalan memahami konteks pembangunan di sektor publik. Di dalam konteks pembangunan di sektor publik, banyak sekali kepentingan, penguasaan sumberdaya, dan hubungan kekuasaan yang saling mempengaruhi satu sama lain.

1.2.9 Rangkuman Isu Strategis

Dari keseluruhan kondisi pembangunan dan penataan ruang di Indonesia yang telah dielaborasi secara rinci di atas, dapat dirangkum beberapa isu-isu strategis yang memiliki keterkaitan tinggi dengan penataan ruang di tingkat nasional, yang merupakan tugas utama dan fungsi dari organisasi Direktorat Perencanaan Tata Ruang. Isu-isu strategis tersebut adalah sebagai berikut.

1) Perlunya KETERPADUAN penataan ruang udara, laut, daratan dan ruang dalam bumi Upaya untuk mewujudkan keterpaduan melalui integrasi rencana keruangan tersebut dilakukan dengan penyusunan rencana tata ruang udara, ruang bawah tanah dan ruang

(16)

bawah laut di kawasan perbatasan negara, kawasan pertahanan Negara, dan di wilayah Nasional (Pulau, KSN, Kawasan Andalan), Provinsi, Kabupaten dan Kota

2) Masih rendahnya peran MASYARAKAT DAN DUNIA USAHA dalam kegiatan perencanaan tata ruang. Perlunya pengembangan kemitraan dalam pembangunan sektoral ataupun wilayah guna mewujudkan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan.

3) Tingginya frekuensi kejadian BENCANA. Perlu peningkatan peran penataan ruang dalam menata KAWASAN RAWAN BENCANA

4) Perlu adanya PENINGKATAN PELAYANAN dalam perencanaan tata ruang 5) Perlunya percepatan penyelesaian RDTR KAWASAN PERBATASAN

6) Integrasi Lingkungan dan Kebijakan Strategis Nasional dengan Penataan Ruang → Integrasi dan Keterkaitan antara NAWACITA, RPJMN, dengan RTRWN

7) Percepatan Penataan Kawasan Perkotaan Metropolitan.

1.3. Permasalahan dan Tantangan

Identifikasi permasalahan dan tantangan yang menjadi fokus strategis untuk ditangani sebagai berikut:

1. Penyelenggaraan penataan ruang masih menghadapi berbagai kendala, antara lain pengaturan penataan ruang yang masih belum lengkap, pelaksanaan pembinaan penataan ruang yang masih belum efektif, pelaksanaan penataan ruang yang masih belum optimal, dan pengawasan penataan ruang yang masih lemah.

2. Berkembangnya pemikiran dan kesadaran di tengah masyarakat untuk meningkatkan kinerja penyelenggaraan penataan ruang yang lebih menyentuh hal-hal yang terkait langsung dengan permasalahan kehidupan masyarakat, terutama dengan meningkatnya banjir dan longsor, kemacetan lalu lintas, bertambahnya perumahan kumuh, berkurangnya ruang publik dan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan, kurang memadainya kapasitas kawasan metropolitan terhadap tekanan jumlah penduduk, serta kurang seimbangnya pembangunan kawasan perkotaan dan perdesaan.

3. Masih belum serasinya berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penataan ruang dan penataan pertanahan. Hal itu telah menyebabkan terjadinya tumpang tindih wewenang dan tanggung jawab antar instansi dalam pengelolaan penataan ruang dan penataan pertanahan, terutama menyangkut pola pemanfaatan ruang dan kepastian hukum atas tanah.

4. Upaya penataan ruang dan penataan pertanahan memerlukan ketersediaan data dasar dan informasi yang akurat dan rinci. Dengan demikian, pola pemanfaatan ruang dapat disusun secara lebih tepat dalam mencerminkan kebutuhan pembangunan di masa datang. Data dasar yang tepat dan rinci penting bagi administrasi pertanahan dalam kegiatan pendaftaran tanah, penentuan batas yang tegas dan akurat, identifikasi tanah negara, serta pemberian status hukum atas tanah.

(17)

BAB II PERJANJIAN KINERJA

2.1

Perjanjian Kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang

Adalah pernyataan komitmen dan janji berupa kesepakatan kinerja di Tahun 2015 yang akan diwujudkan oleh Direktur Perencanaan Tata Ruang sebagai penerima amanah kepada atasan langsungnya yaitu Direktur Jenderal Tata Ruang dengan mengacu pada dokumen DIPA.

Dokumen Perjanjian Kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang memuat informasi tentang sasaran yang ingin dicapai dalam Tahun 2015 meliputi sasaran, program, kegiatan dan indikator kinerja untuk mewujudkan sebagian dari sasaran yang harus dicapai oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang pada Tahun 2015 sebagaimana termuat pada gambar 2.1

Gambar 2.1

Perjanjian Kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang Direktorat Jenderal Tata Ruang sebagaimana termuat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1. Perjanjian Kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang

No Sasaran

Kegiatan

Indikator Kinerja Target

1. Terlaksananya Pengaturan, Perencanaan Tata Ruang, Pemanfaatan Ruang, serta Pengembangan KSN

Indikator Kinerja Kegiatan 1:

Jumlah Dokumen Kebijakan, Strategi, dan Pelaksanaan Program Bidang Perencanaan Tata Ruang

Output 01:

Kebijakan Teknis dan Program Perencanaan Tata Ruang

3 dokumen

Indikator Kinerja Kegiatan 2:

Jumlah Dokumen Monev Kinerja Bid. Perencanaan Tata Ruang

Output 02:

Dokumen monitoring dan evaluasi kinerja perencanaan tata ruang

2 dokumen

Indikator Kinerja Kegiatan 3:

Jumlah Data dan Informasi bid.Perencanaan Tata Ruang

(18)

No Sasaran Kegiatan

Indikator Kinerja Target

Indikator Kinerja Kegiatan 4:

Jumlah Forum Masyarakat dan Kemitraaan Dunia Usaha, Lembaga Pendidikan, dan Organisasi Non Pemerintah yang dibentuk atau difasilitasi pengembangannya dalam Perencanaan Tata Ruang

Output 04:

Forum Masyarakat dan Kemitraan Dunia Usaha, Lembaga Pendidikan, dan Organisasi Non Pemerintah yang dibentuk atau difasilitasi pengembangannya dalam Perencanaan Tata Ruang

1 dokumen

Indikator Kinerja Kegiatan 5:

Jumlah NSPK Perencanaan Tata Ruang

Output 05:

NSPK Perencanaan Tata Ruang

8 dokumen

Indikator Kinerja Kegiatan 6:

RTRWN hasil reviu

Output 06:

RTRWN hasil reviu

1 RTRWN

Indikator Kinerja Kegiatan 7:

Jumlah RTR Pulau/Kepulauan Hasil Reviu

Output 07:

RTR Pulau/Kepulauan Hasil Reviu

1 dokumen

Indikator Kinerja Kegiatan 8:

Jumlah Dokumen Rencana Pengelolaan Ruang Laut Nasional dan Ruang Udara Nasional

Output 08:

Rencana Pengelolaan Ruang Laut Nasional dan Ruang Udara Nasional

2 dokumen

Indikator Kinerja Kegiatan 9:

Jumlah RTR dan RDTR Kawasan Perbatasan Negara

Output 09:

RTR dan RDTR Kawasan perbatasan negara

10 RDTR Kawasan Perbatasan Negara dan 2 RTR Kawasan Perbatasan Negara

Indikator Kinerja Kegiatan 10:

Jumlah RTR KSN dan RTR KSN Hasil Reviu

Output 10:

RTR KSN dan RTR KSN Hasil Reviu

38 KSN

Mengacu pada dokumen Perjanjian Kerja Tahun 2015 maka jumlah alokasi dana di Direktorat Perencanaan Tata Ruang sebesar Rp. 105.426.400.000 yang terdiri atas :

1. Kegiatan Terlaksananya Pengaturan, Perencanaan Tata Ruang, Pemanfaatan Ruang, serta Pengembangan KSN sebesar Rp. 98.520.793.000

2. Administrasi dan Supervisi Kegiatan sebesar Rp. 6.905.607.000

*

2.2

Indikator Kinerja dan Output Direktorat Perencanaan Tata Ruang

Indikator Kinerja Kegiatan 1 dengan output Kebijakan Teknis dan Program Perencanaan Tata Ruang

merupakan Dokumen Kebijakan dan Strategi baik bersifat teknis maupun program dalam Perencanaan Tata Ruang yang akan menjadi bahan masukan dalam melakukan pekerjaan perencanaan tata ruang nasional selama 5 (lima) tahun.

(19)

Indikator Kinerja Kegiatan 2 dengan output Dokumen monitoring dan evaluasi kinerja perencanaan

tata ruang merupakan Dokumen pemantauan dan evaluasi kinerja perencanaan tata ruang yang dapat mendorong percepatan penyelesaian program perencanaan tata ruang nasional.

Indikator Kinerja Kegiatan 3 dengan output Data dan Informasi Bidang Perencanaan Tata Ruang

merupakan dokumen pengelolaan data dan informasi RTRWN, RTR Pulau/Kepulauan dan RTR KSN dan sebagai salah satu upaya media komunikasi Pemerintah dengan stakeholder terkait.

Indikator Kinerja Kegiatan 4 dengan output Forum Masyarakat dan Kemitraan Dunia Usaha,

Lembaga Pendidikan, dan Organisasi Non Pemerintah yang dibentuk atau difasilitasi pengembangannya dalam bidang perencanaan tata ruang sebagai bentuk upaya Pemerintah untuk memfasilitasi terbentuknya forum masyarakat agar dapat berperan aktif dalam bidang perencanaan tata ruang.

Indikator Kinerja Kegiatan 5 dengan output NSPK Perencanaan Tata Ruang merupakan salah satu

upaya Pemerintah menyiapkan acuan bagi pemerintah daerah dalam perencanaan tata ruang berupa norma standar pedoman dan kriteria.

Indikator Kinerja Kegiatan 6 dengan output RTRWN hasil reviu merupakan dokumen hasil

peninjauan kembali RTRWN yang dilakukan oleh Pemerintah setiap 5 (lima) tahun atau dapat dilakukan kurang dari 5 (lima) apabila memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dalam PP No. 15 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.

Indikator Kinerja Kegiatan 7 dengan output RTR Pulau/Kepulauan hasil reviu merupakan dokumen

hasil peninjauan kembali RTR Pulau/Kepulauan yang dilakukan oleh Pemerintah setiap 5 tahun atau dapat dilakukan kurang dari 5 (lima) apabila memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dalam PP No. 15 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang. RTR Pulau merupakan rencana rinci dari RTRWN yang nantinya menjadi dokumen acuan pemerintah daerah dalam melakukan penyusunan maupun peninjauan kembali RTRW Provinsi/Kabupaten/Kota serta menjadi acuan sektor pada Kementerian/Lembaga dalam penyiapan program pembangunan serta program lintas sektor.

Indikator Kinerja Kegiatan 8 dengan output Rencana Pengelolaan Ruang Laut Nasional dan Ruang

Udara Nasional merupakan amanat Undang-undang yang dituangkan dalam RPJMN dan diturunkan sebagai dokumen materi teknis yang menjadi acuan dalam peyiapan pengelolaan ruang laut nasional dan pengelolaan ruang udara nasional.

Indikator Kinerja Kegiatan 9 dengan output RTR dan RDTR Kawasan Perbatasan Negara merupakan

dokumen acuan perencanaan tata ruang dan arahan zonasi di kawasan perbatasan Negara bagi pemerintah daerah serta sektor terkait keamanan dan pertahanan Negara dan upaya Pemerintah dalam peningkatan pengembangan kawasan perbatasan Negara.

Indikator Kinerja Kegiatan 10 dengan output RTR KSN dan RTR KSN Hasil Reviu merupakan

dokumen penyiapan penyusunan Raperpres RTR KSN dan dokumen hasil peninjauan kembali RTR KSN yang dilakukan oleh Pemerintah setiap 5 tahun atau dapat dilakukan kurang dari 5 (lima) apabila memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dalam PP No. 15 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang. RTR KSN juga merupakan rencana rinci dari RTRWN nantinya menjadi dokumen acuan pemerintah daerah dalam melakukan penyusunan program prioritas pada KSN serta menjadi acuan sektor pada Kementerian/Lembaga dalam penyiapan program pembangunan serta program lintas sektor dalam mendukung program prioritas di KSN.

(20)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

3.1. Capaian Kinerja

Capaian kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang merupakan hasil kerja pelaksanaan kegiatan atau program yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam jangka waktu tertentu.

Penilaian pencapaian kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang dilakukan dengan melihat realisasi masing-masing indikator output berdasarkan target output yang telah ditetapkan serta indikator outcome Direktorat

Jenderal Tata Ruang yang pencapaiannya terkait langsung dengan indikator output yang ada di Direktorat Perencanaan Tata Ruang.

3.1.1 Perbandingan Antara Target dan Realisasi Kinerja Tahun 2015

Tingkat capaian kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang untuk indikator kinerja dan output dapat dilihat pada tabel perbandingan antara target dan realisasi kinerja tahun 2015 pada Gambar 3.1

Persentase Capaian Kinerja Antara Target dan Realisasi Kinerja Direktorat Perencanan Tata Ruang 2015

Gambar 3. 1 0 20 40 60 80 100

(21)

Indikator Kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang dilakukan melalui kegiatan prioritas dan kegiatan pendukung.

Indikator Kinerja Kegiatan 1

Indikator Kinerja 1 dicapai melalui pelaksanaan 3 (tiga) pekerjaan prioritas :

Jumlah Dokumen Kebijakan, Strategi, dan Pelaksanaan Program Bidang Perencanaan Tata Ruang

Pekerjaan

Kajian Isu-Isu Strategis Nasional dan Pengembangan Wilayah (Tol Laut) Penyusunan Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Sungai Strategis Nasional dan Lintas Negara

Penyusunan Renstra Direktorat Perencanaan Tata Ruang 2015-2019 Output 1 Kebijakan Teknis dan Program Perencanaan Tata Ruang

TARGET : Tersedianya 3 (tiga) Dokumen Kebijakan, Strategi, dan Pelaksanaan Program Bidang

Perencanaan Tata Ruang.

REALISASI : Terselesaikannya pekerjaan yang menghasilkan 3 (tiga) Dokumen Kebijakan, Strategi,

dan Pelaksanaan Program Bidang Perencanaan Tata Ruang.

EVALUASI : Muatan substansi didalam pekerjaan belum sesuai dengan harapan karena

keterbatasan waktu pelaksanaan dan adanya perubahan struktur organisasi Kementerian sehingga perlu penyesuaian dalam setiap penyusunan kebijakan, strategi, dan pelaksanaan program.

MANFAAT : Tersedianya bahan masukan dalam melakukan pekerjaan perencanaan tata ruang

nasional selama 5 (lima) tahun.

Indikator Kinerja Kegiatan 2

Indikator Kinerja 2 dicapai melalui pelaksanaan 2 (dua) pekerjaan prioritas :

Jumlah Dokumen Monev Kinerja Bid. Perencanaan Tata Ruang Pekerjaan

Fasilitasi Penyusunan serta Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Program Perencanaan Tata Ruang (Fasilitasi Program, Monev Program, dan LAKIP) Supervisi Pelaksanaan Dekonsentrasi KSN

Output 2 Dokumen monitoring dan evaluasi kinerja perencanaan tata ruang

TARGET : Tersedianya 2 (dua) Dokumen monitoring dan evaluasi kinerja perencanaan tata

ruang.

REALISASI : Terselesaikannya pekerjaan yang menghasilkan 2 (dua) Dokumen monitoring dan

evaluasi kinerja perencanaan tata ruang.

EVALUASI : Muatan substansi didalam pekerjaan belum sesuai dengan harapan karena

keterbatasan waktu pelaksanaan sehingga belum tercapainya pelaksanaan monitoring dan evaluasi kinerja perencanaan tata ruang.

MANFAAT : Tersedianya bahan evaluasi untuk mendorong percepatan penyelesaian program

(22)

Indikator kinerja kegiatan 3

Indikator Kinerja 3 dicapai melalui pelaksanaan 1 (satu) pekerjaan prioritas :

Jumlah Data dan Informasi Bidang Perencanaan Tata Ruang Pekerjaan

Pemutakhiran Database Informasi RTRWN, RTR Pulau /Kepulauan dan KSN

(Prioritas)

Penyusunan Profil KSN (Pendukung)

Strategi Pengembangan Kota - Kota Maritim di Indonesia (Pendukung) Pemutakhiran Kebutuhan Pedoman Penataan Ruang Wilayah Nasional

(Pendukung)

Output 3 Data dan Informasi Bidang Perencanaan Tata Ruang

TARGET : Tersedianya 1 (satu) Data dan Informasi Bidang Perencanaan Tata Ruang.

REALISASI : Terselesaikannya pekerjaan yang menghasilkan 1 (satu) Data dan Informasi Bidang

Perencanaan Tata Ruang berupa aplikasi SITARUNAS.

EVALUASI : Penyelesaian pekerjaan masih terkendala dalam penyiapan server berbasis GIS

karena belum tersambungnya jaringan internet dari Pusdatin ke ruang server Direktorat Jenderal Tata Ruang sehingga belum sepenuhnya dapat tersajikan Peta pada aplikasi SITARUNAS sehingga perlu pengembangan aplikasi SITARUNAS di tahun berikutnya.

MANFAAT : Tersedianya dokumen pengelolaan data dan informasi RTRWN, RTR

Pulau/Kepulauan dan RTR KSN dan sebagai salah satu upaya media komunikasi Pemerintah dengan stakeholder terkait.

Indikator kinerja kegiatan 4

Indikator Kinerja 4 dicapai melalui pelaksanaan 1 (satu) pekerjaan prioritas :

Jumlah Forum Masyarakat dan Kemitraaan Dunia Usaha, Lembaga Pendidikan, dan Organisasi Non Pemerintah yang dibentuk atau difasilitasi pengembangannya dalam Perencanaan Tata Ruang

Pekerjaan Pembinaan Kompetensi Sumber Daya Perencana Indonesia (Kerjasama dengan

IAP)

Output 4 Forum Masyarakat dan Kemitraan Dunia Usaha, Lembaga Pendidikan, dan Organisasi Non

Pemerintah yang dibentuk atau difasilitasi pengembangannya dalam Perencanaan Tata Ruang

TARGET : Terfasilitasinya 1 (satu) Forum Masyarakat dan Kemitraan Dunia Usaha, Lembaga

Pendidikan, dan Organisasi Non Pemerintah.

REALISASI : Terfasilitasinya 1 (satu) Forum Masyarakat dan Kemitraan Dunia Usaha, Lembaga

Pendidikan, dan Organisasi Non Pemerintah yaitu dengan IAP.

EVALUASI : Belum terfasilitasinya dengan baik penyiapan Forum Masyarakat dan Kemitraan

Dunia Usaha, Lembaga Pendidikan, dan Organisasi Non Pemerintah yang dilakukan dengan IAP karena perlu adanya petunjuk teknis pelaksanaan kerjasama dengan pihak terkait sehingga perlu dibuat pedoman/petunjuk teknis pelaksanaan kerjasama di tahun berikutnya.

(23)

MANFAAT : Terbentuknya atau terfasilitasinya Forum Masyarakat dan Kemitraan Dunia Usaha,

Lembaga Pendidikan, dan Organisasi Non Pemerintah untuk dapat berperan aktif dalam bidang perencanaan tata ruang.

Indikator kinerja kegiatan 5

Indikator Kinerja 5 dicapai melalui pelaksanaan 8 (delapan) pekerjaan prioritas :

Jumlah NSPK Perencanaan Tata Ruang

Pekerjaan

Finalisasi Pedoman Perpetaan RDTR

Finalisasi Pedoman Penataan Ruang di Kawasan Rawan Bencana

Finalisasi Pedoman Penataan Ruang Kawasan Strategis Kabupaten Direktorat Jenderal Tata Ruang

Finalisasi Pedoman Kemitraan dalam Penataan Ruang Finalisasi Pedoman Delineasi Kawasan Perkotaan

Penyusunan Materi Teknis Pedoman Penyusunan RTR Kawasan Industri

Penyusunan Materi Teknis Pedoman Perencanaan Tata Ruang di Kawasan Reklamasi Pantai

Penyusunan Naskah Akademis Pedoman Penyajian dan Interpretasi Peta Rencana Tata Ruang

Output 5 NSPK Perencanaan Tata Ruang

TARGET : Tersusunnya 8 (delapan) Dokumen NSPK Bidang Perencanaan Tata Ruang.

REALISASI : Tersusunnya 8 (delapan) Dokumen NSPK Bidang Perencanaan Tata Ruang.

EVALUASI : Dokumen tersebut belum sampai tahap legalisasi tapi baru pada tahapan proses

pengajuan ke Bagian Hukum sebanyak 5 (lima) dokumen dan 3 (tiga) dokumen baru pada tahap disusunnya materi teknis.

MANFAAT : Dokumen Draft NSPK Bidang Perencanaan Tata Ruang akan menjadi acuan bagi

pemerintah daerah dalam penyelenggaraan penataan ruang.

Indikator kinerja kegiatan 6

Indikator Kinerja 6 dicapai melalui pelaksanaan 1 (satu) pekerjaan prioritas :

RTRWN Hasil Reviu

Pekerjaan Fasilitasi Tindak Lanjut Hasil Peninjauan Kembali RTRWN (Prioritas)

Output 6 RTRWN Hasil Reviu.

TARGET : Tersusunnya 1 (satu) Dokumen hasil peninjauan kembali RTRWN.

REALISASI : Tersusunnya 1 (satu) Dokumen hasil peninjauan kembali RTRWN.

EVALUASI : Dokumen hasil peninjauan kembali RTRWN sudah siap diajukan ke proses

harmonisasi dengan Kemenkumham, masih perlu dilanjutkan pada tahun berikutnya.

MANFAAT : Sebagai pemenuhan amanat Undang-Undang Penataan Ruang No. 26 tahun 2007

dimana Dokumen hasil peninjauan kembali RTRWN akan menjadi dokumen acuan pemerintah daerah dalam melakukan penyusunan maupun peninjauan kembali RTRW Provinsi/Kabupaten/Kota.

(24)

Indikator kinerja kegiatan 7

Indikator Kinerja 7 dicapai melalui pelaksanaan 1 (satu) pekerjaan prioritas :

Jumlah RTR Pulau/Kepulauan hasil reviu

Pekerjaan Penyiapan Materi Teknis Peninjauan Kembali RTR Pulau Sulawesi Output 7 RTR Pulau/Kepulauan Hasil Reviu

TARGET : Tersusunnya 1 (satu) Dokumen hasil peninjauan kembali RTR Pulau/Kepulauan.

REALISASI : Tersusunnya 1 (satu) Dokumen hasil peninjauan kembali RTR Pulau/Kepulauan untuk

Pulau Sulawesi.

EVALUASI : Dokumen hasil peninjauan kembali RTR Pulau/Kepulauan untuk Pulau Sulawesi

berupa Materi Teknis masih perlu dilanjutkan ke proses penyusunan kajian aspek strategis pada tahun berikutnya sebagai bahan pendukung penyusunan reviu Perpres No.88 Tahun 2011.

MANFAAT : Dokumen hasil peninjauan kembali RTR Pulau/Kepulauan akan menjadi dokumen

acuan pemerintah daerah dengan pemerintah daerah lainnya bersinergi dalam melakukan penyusunan program pembangunan serta program lintas sektor serta acuan dalam peninjauan kembali RTRW Provinsi/Kabupaten/Kota.

Indikator kinerja kegiatan 8

Indikator Kinerja 8 memuat 2 (dua) pekerjaan yaitu :

Jumlah Rencana Pengelolaan Ruang Laut Nasional dan Ruang Udara Nasional

Pekerjaan Kajian Pemanfaatan dan Pengelolaan Ruang Laut dan Ruang Udara Nasional

Penyusunan Naskah Akademis RUU Tentang Pengelolaan Udara Nasional

Output 8 Rencana Pengelolaan Ruang Laut dan Rencana Pengelolaan Ruang Udara Nasional.

TARGET : Tersusunnya 2 (dua) Dokumen Rencana Pengelolaan Ruang Laut Nasional dan Ruang

Udara Nasional.

REALISASI : Tersusunnya 2 (dua) Dokumen Rencana Pengelolaan Ruang Laut Nasional dan Ruang

Udara Nasional.

EVALUASI : Dokumen Rencana Pengelolaan Ruang Laut Nasional dan Ruang Udara Nasional

masih berupa draft Materi Teknis Rencana Pengelolaan Ruang Laut Nasional dan digunakan sebagai bahan masukan dalam peninjauan kembali RTRWN, untuk kajian Rencana Pengelolaan Ruang Udara Nasional masih akan dilanjutkan ke proses penyusunan draft Rapepres pada tahun berikutnya.

MANFAAT : Rencana Pengelolaan Ruang Laut Nasional dan Ruang Udara Nasional merupakan

amanat Undang-undang yang dituangkan dalam RPJMN dan diturunkan sebagai dokumen materi teknis yang menjadi acuan dalam peyiapan pengelolaan ruang laut nasional dan pengelolaan ruang udara nasional.

Indikator kinerja kegiatan 9

(25)

Jumlah RTR dan RDTR Kawasan Perbatasan Negara

Pekerjaan

Penyusunan Rencana Detail Kawasan Perbatasan di Entikong Penyusunan Rencana Detail Kawasan Perbatasan di Paloh Penyusunan Rencana Detail Kawasan Perbatasan di Nanga Badau Penyusunan Rencana Detail Kawasan Perbatasan di Nunukan Penyusunan Rencana Detail Kawasan Perbatasan di Motaain Penyusunan Rencana Detail Kawasan Perbatasan di Motamasin Penyusunan Rencana Detail Kawasan Perbatasan di Skow Penyusunan Rencana Detail Kawasan Perbatasan di Waris Penyusunan Rencana Detail Kawasan Perbatasan di Miangas Penyusunan Rencana Detail Kawasan Perbatasan di Morotai

Rounding Up Fasilitasi Legislasi dan Penyusunan Raperpres RTR KSN Kawasan Perbatasan ( Aceh-Sumut, Riau-Kepri, Kaltim-Kaltara-Sulut-Gorontalo-Sulteng) Penyempurnaan Raperpres dan Penyiapan Peta Lampiran RTR Kawasan Perbatasan di Laut Lepas

Output 9 RTR dan RDTR Kawasan Perbatasan Negara

TARGET : Tersusunnya 10 (sepuluh) dokumen RDTR Kawasan Perbatasan Negara dan 2 (dua)

dokumen RTR Kawasan Perbatasan Negara.

REALISASI : Tersusunnya 10 (sepuluh) dokumen RDTR Kawasan Perbatasan Negara dan 2 (dua)

dokumen RTR Kawasan Perbatasan Negara.

EVALUASI : Proses penetapan Dokumen RTR Kawasan Perbatasan Negara :

1. Kawasan Perbatasan Negara Kaltim-Kaltara-Sulut-Gorontalo-Sulteng, masih dalam proses penetapan dan permintaaan nomor Perpres

2. Kawasan Perbatasan Negara Aceh-Sumut masih dalam proses pengajuan penetapannya oleh Presiden (melalui Setkab) .

3. Kawasan Perbatasan Negara Riau-Kepri, masih dalam proses pengajuan penetapannya oleh Presiden (melalui Setkab).

4. Penyempurnaan Raperpres di Laut Lepas, masih dalam tahap penyusunan materi teknis dan draft Raperpres.

Dokumen RTR Kawasan Perbatasan Negara sudah masuk pada tahap persetujuan akhir (Program penyusunan peraturan Peraturan Presiden Tahun 2015/Prolegnas). Untuk dokumen RDTR Kawasan Perbatasan Negara berupa dokumen materi teknis.

MANFAAT : RTR dan RDTR Kawasan Perbatasan Negara akan dijadikan acuan perencanaan tata

ruang dan arahan zonasi di kawasan perbatasan Negara bagi pemerintah daerah serta sektor, terkait keamanan dan pertahanan Negara dan upaya Pemerintah dalam peningkatan pengembangan kawasan perbatasan Negara.

Indikator output 10

Indikator Kinerja 10 dicapai melalui penyelesaian 38 (tiga puluh delapan) RTR KSN:

Jumlah RTR KSN hasil Reviu

Pekerjaan Penyediaan Peta dan Fasilitasi Legislasi RTR KSN Taman Nasional (KE Leuser, TN Kerinci

(26)

Fasilitasi Penetapan RTR KSN Perkotaan (Kedungsepur, Gerbangkertosusilo, dan Cekungan Bandung)

Finalisasi Penetapan RTR KSN Perkotaan Jabodetabekpunjur

Rounding UP Fasilitasi Legalisasi dan Penyusunan Raperpres KSN Wilayah I

Penyempurnaan Peta dan Fasilitasi Legislasi Raperpres RTR KSN Taman Nasional Tanjung Puting, Gunung RInjani, HoB, dan Komodo

Rounding Up Fasilitasi Legalisasi Raperpres RTR KSN di Wilayah II ( 12 kapet, komodo, sorowako, timika, tondano, toraja, tangjung putting, rinjani)

Penyepakatan Muatan dan Proses Legislasi Raperpres KSN Teknologi Tinggi Fasilitasi Legislasi Raperpres RTR KSN Timika dan Raja Ampat

Finalisasi Revisi Perpes 54/2008 tentang Penataan Ruang Jabodetabekpunjur

Penyusunan Raperpres dan Penyiapan Peta RTR KSN Berbak, Bukit Dua Belas dan Mahato Penyusunan KLHS KSN Mahato, Bukit Dua Belas, Berbak, dan Tanjung Lesung

Penyempurnaan Materi Teknis Kawasan Cagar Budaya Bali Landscape Penyiapan Materi Teknis Peninjauan Kembali RTR KSN BBK

Penyempurnaan Peta Lampiran Raperpres RTR KSN Laut Banda dan RTR KSN PBPB Sabang Penyiapan draft Raperpres dan Peta Lampiran Arahan Peraturan Zonasi Kawasan Candi Prambanan

Penyusunan KLHS KSN Teknologi Tinggi

Penyiapan Peta Lampiran RTR KSN Teknologi Tinggi

Penyempurnaan dan Penyiapan Peta Raperpres RTR KSN K3H Teluk Bintuni, KL Buol Lambunu, KL Balingara, dan Poso

Penyempurnaan dan Penyiapan Peta Lampiran RTR KSN TN Rawa Aopa-Watumohai dan Rawa Tinondo

Penyempurnaan Raperpres RTR KSN TN. Lorentz

Penyiapan Peta Lampiran Raperpres RTR KSN Jabodetabekpunjur

Rencana Pengembangan Kawasan Pusat Pelayanan Utama Danau Toba Kota Balige Rencana Pengembangan Wilayah Terisolir Pulau Sumatera Bagian Barat

Rencana Pengembangan Wilayah Terisolir Pulau Jawa Bagian Selatan Rencana Pengembangan Wilayah Papua Bagian Selatan

Rencana Pengembangan Wilayah Pulau Nias, Mentawai, Rupat, dan Simeuleu Penyiapan Strategi Pengembangan Wilayah Berbasis Rendah Karbon di Pulau Papua Penyiapan Strategi Pengembangan Wilayah Berbasis Rendah Karbon di Pulau Kalimantan Rencana Pengembangan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan di Bali dan Jawa Penyusunan Konsep Penataan Kawasan Pertambangan di KSN Timika

Kajian Perkembangan Kebijakan dan Strategi dalam Penataan Kawasan Perkotaan Jabodetabekpunjur

Output 10 RTR KSN dan RTR KSN Hasil Reviu

TARGET : Tersusunnya 38 (tiga puluh delapan) dokumen RTR KSN dan atau RTR KSN hasil reviu.

REALISASI : Tersusunnya 37 (tiga puluh tujuh) dokumen RTR KSN dan 1 (satu) dokumen RTR KSN

Hasil Reviu.

EVALUASI : Dokumen RTR KSN dan dokumen RTR KSN hasil reviu masih dalam tahap proses

legalisasi di Kemenkumham. Penyelesaian legalisasi Dokumen tersebut diatas mengikuti adanya kebijakan di Kemenkumham yang membatasi jumlah usulan Raperpres hanya 4 Raperpres setiap tahun sehingga proses legalisasi secara bertahap akan diajukan pada tahun berikutnya.

MANFAAT : Dokumen RTR KSN merupakan rencana rinci dari RTRWN yang akan menjadi

dokumen acuan pemerintah daerah dalam melakukan penyusunan program prioritas pada KSN serta menjadi acuan sektor pada Kementerian/Lembaga dalam penyiapan program pembangunan serta program lintas sektor dalam mendukung program prioritas di KSN.

(27)

3.1.2 Perbandingan Realisasi Kinerja Tahun 2015 Dengan Target Jangka Menengah

RPJMN tahun 2015-2019 adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2019. Dokumen ini merupakan penjabaran dari visi, misi dan program Presiden hasil Pemilihan Umum tahun 2015. RPJM memuat strategi pembangunan nasional, kebijakan umum, program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayah, serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.

Dalam penyelenggaraan penataan ruang yang meliputi kegiatan pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang, perlu dilakukan penyusunan, sinkronisasi, dan sosialisasi peraturan perundang-undangan serta berbagai pedoman teknisnya. Sejak ditetapkannya UU No. 26 Tahun 2007, kelembagaan penataan ruang baik di tingkat pusat maupun daerah menjadi prasyarat bagi tercapainya tujuan penataan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Salah satu fungsi kelembagaan yang perlu diperkuat adalah koordinasi antara berbagai instansi terkait. Di tingkat pusat, koordinasi dilaksanakan oleh Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN) sesuai dengan Keppres No. 4 Tahun 2009 tentang Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional, sedangkan di tingkat daerah koordinasi dilaksanakan oleh Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) sesuai dengan Kepmendagri No. 50 Tahun 2009 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah.

Dalam rangka meningkatkan pemahaman seluruh pemangku kepentingan, maka telah dilakukan sosialisasi dan advokasi terhadap peraturan perundang-undangan yang telah disusun serta beberapa NSPK ke berbagai pemangku kepentingan baik di tingkat pusat maupun daerah. Pelaksanaan sosialisasi dan advokasi diperlukan agar diperoleh kesamaan pemahaman terhadap produk penataan ruang yang berkualitas secara rutindan intensif mengingat adanya dinamika pergantian pemangku kepentingan di daerah.

Untuk peningkatan penyelenggaraan penataan ruang maka perlu mengacu pada target-target RPJMN yang terkait dengan Program Penyelenggaraan Penataan Ruang. Target-target RPJMN pada Program Penyelenggaraan Penataan Ruang dipenuhi oleh realisasi kinerja dari Kegiatan yang ada di lingkungan Direktorat Jenderal Penataan Ruang yaitu dari Sekretariat Direktorat Jenderal Tata Ruang, Direktorat Perencanaan Tata Ruang, Direktorat Pemanfaatan Ruang, Direktorat Penataan Kawasan, serta Direktorat Pembinaan Perencanaan Tata Ruang dan Pemanfaatan Ruang Daerah.

Perbandingan Realisasi Kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang Tahun 2015 Dengan Target Jangka Menengah 2015-2019 dapat dilihat pada tabel 3.1.

(28)

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT PERENCANAAN TATA RUANG 2015

III-9

Tabel 3.1

Perbandingan Realisasi Kinerja Tahun 2015 Dengan Target Jangka Menengah 2015-2019

No. Kode Sasaran Indikator Output Target Realisasi Pekerjaan

1 Pembinaan Pelaksanaan Penataan Ruang Daerah Wilayah II Meningkatnya ketersediaan regulasi tata ruang yang efektif dan harmonis

Jumlah Dokumen Materi Teknis dan Rancangan NSPK Penataan Ruang yang Sudah Mengakomodasi Kebijakan Sektoral 5 dokumen 5 dokumen

1. Finalisasi Pedoman Perpetaan RDTR 2. Finalisasi Pedoman Penataan Ruang di Kawasan Rawan Bencana

3. Penyusunan Materi Teknis Pedoman Penyusunan RTR Kawasan Industri 4. Penyusunan Materi Teknis Pedoman Perencanaan Tata Ruang di Kawasan Reklamasi Pantai

5.Penyusunan Naskah Akademis Pedoman Penyajian dan Interpretasi Peta Rencana Tata Ruang 2 Pelaksanaan Penataan Ruang Nasional Meningkatnya ketersediaan regulasi tata ruang yang efektif dan harmonis

Jumlah Dokumen Materi Teknis dan Rancangan NSPK Wilayah Nasional, Pulau/ Kepulauan, dan Pengelolaan Ruang Udara Nasional

1 dokumen

1

dokumen

Finalisasi Pedoman Penataan Ruang Kawasan Strategis Kabupaten Direktorat Jenderal Tata Ruang(Prioritas)

Jumlah Dokumen Materi Teknis dan Rancangan NSPK Wilayah Nasional, Pulau/ Kepulauan, dan Pengelolaan Ruang Laut di atas 12 mil

1 dokumen

1

dokumen

Finalisasi Pedoman Kemitraan dalam Penataan Ruang Meningkatnya kualitas pelaksanaan penataan ruang nasional

Jumlah Dokumen Kajian, Materi Teknis, Peninjauan Kembali RTRWN 1 dokumen 1 dokumen Prioritas

1.Fasilitasi Tindak Lanjut Hasil Peninjauan Kembali RTRWN (Prioritas)

Pendukung

2.Pendampingan Penyusunan KLHS RTRWN 3.Integrasi Peta RTRWN dengan Peta Rencana Rincinya

Jumlah Dokumen Kajian, Materi Teknis, RTR dan Peninjauan Kembali RTR Laut Nasional

1 dokumen

1

dokumen

Kajian Pemanfaatan dan Pengelolaan Ruang Laut dan Ruang Udara Nasional

(29)

No. Kode Sasaran Indikator Output Target Realisasi Pekerjaan

Jumlah Dokumen Kajian, Materi Teknis, RTR, Peninjauan Kembali, dan RTR KSN Non Perkotaan

41 dokumen 38 KSN Prioritas

1. Penyediaan Peta dan Fasilitasi Legislasi RTR KSN Taman Nasioal (Kawasan Ekosistem Leuser, TN Kerinci Seblat, HL Batabuh, TN Bukit Tiga Puluh, dan TN Ujung Kulon)

2. Fasilitasi Penetapan RTR KSN Perkotaan (Kedung Sepur, Gerbangkertosusila, dan Cekungan Bandung)

3. Rounding Up Fasilitasi Legalisasi dan Penyusunan Raperpres RTR KSN Wilayah I (4 KSN)

4. Penyempurnaan Peta dan Fasilitasi Legislasi Raperpres RTR KSN Taman Nasional ( Tanjung Putting, Gunung Rinjani, HoB, dan Komodo) 5. Rounding Up Fasilitasi Legalisasi dan

Penyusunan Raperpres RTR KSN Wilayah II ( 12 kapet, komodo, sorowako, timika, tondano, toraja, tangjung putting, rinjani)

6. Penyepakatan Muatan dan Proses Legislasi RaperPres KSN Teknologi Tinggi (4 KSN) 7. Fasilitasi Legislasi Raperpres RTR KSN Timika dan Raja Ampat

Pendukung

8.Penyusunan Raperpres dan Penyiapan Peta RTR KSN Berbak, Bukit Dua Belas dan Mahato 9.Penyusunan KLHS KSN Mahato, Bukit Dua Belas, Berbak, dan Tanjung Lesung

10. Penyempurnaan Materi Teknis Kawasan Cagar Budaya Bali Landscape

(30)

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT PERENCANAAN TATA RUANG 2015

III-11

No. Kode Sasaran Indikator Output Target Realisasi Pekerjaan

11.Penyiapan Materi Teknis Peninjauan Kembali RTR KSN BBK

12.Penyempurnaan Peta Lampiran Raperpres RTR KSN Laut Banda dan RTR KSN PBPB Sabang 13.Penyiapan draft Raperpres dan Peta

Lampiran Arahan Peraturan Zonasi Kawasan Candi Prambanan

14.Penyusunan KLHS KSN Teknologi Tinggi 15.Penyiapan Peta Lampiran RTR KSN Teknologi Tinggi

16.Penyempurnaan dan Penyiapan Peta Raperpres RTR KSN K3H Teluk Bintuni, KL Buol Lambunu, KL Balingara, dan Poso

17.Penyempurnaan dan Penyiapan Peta Lampiran RTR KSN TN Rawa Aopa-Watumohai dan Rawa Tinondo

18.Penyempurnaan Raperpres RTR KSN TN. Lorentz

19.Rencana Pengembangan Kawasan Pusat Pelayanan Utama Danau Toba Kota Balige 20.Rencana Pengembangan Wilayah Terisolir Pulau Sumatera Bagian Barat

21.Rencana Pengembangan Wilayah Terisolir Pulau Jawa Bagian Selatan

22.Rencana Pengembangan Wilayah Papua Bagian Selatan

23.Rencana Pengembangan Wilayah Pulau Nias, Mentawai, Rupat, dan Simeuleu

24.Penyiapan Strategi Pengembangan Wilayah Berbasis Rendah Karbon di Pulau Papua

(31)

No. Kode Sasaran Indikator Output Target Realisasi Pekerjaan

25.Penyiapan Strategi Pengembangan Wilayah Berbasis Rendah Karbon di Pulau Kalimantan 26.Rencana Pengembangan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan di Bali dan Jawa

27.Penyusunan Konsep Penataan Kawasan Pertambangan di KSN Timika 3 Pelaksanaan Pengembangan Perkotaan Meningkatnya kualitas pelaksanaan penataan ruang nasional

Jumlah Dokumen Kajian, Materi Teknis, RTR dan Peninjauan Kembali RTR KSN Perkotaan 2 dokumen/ Raperpres 1 dokumen

Finalisasi Pedoman Kemitraan dalam Penataan Ruang

Jumlah Dokumen Materi Teknis dan Review RTR KSN Jabodetabekpunjur 1 dokumen 4 dokumen

1. Finalisasi Revisi Perpres 54/2008 tentang Penataan Ruang Jabodetabebekpunjur

(Prioritas)

2. Fasilitasi Penetapan RTR KSN Perkotaan Jabodetabekpunjur (Prioritas)

3.Penyiapan Peta Lampiran Raperpres RTR KSN Jabodetabekpunjur

4.Kajian Perkembangan Kebijakan dan Strategi dalam Penataan Kawasan Perkotaan

Jabodetabekpunjur

Meningkatnya ketersediaan regulasi tata ruang yang efektif dan harmonis

Jumlah Dokumen Materi Teknis dan Rancangan NSPK Perkotaan

2 Materi Teknis/ NSPK

Jumlah Kelompok Masyarakat dan Dunia Usaha yang Terbina 35 kelompok

1

dokumen

Pembinaan Kompetensi Sumber Daya Perencana Indonesia (Kerjasama dengan IAP)

(32)

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT PERENCANAAN TATA RUANG 2015

III-13

3.1.3 Perbandingan Antara Realisasi Kinerja dan Capaian Kinerja Pada Tahun 2015 dengan Tahun 2014

Perbandingan Realisasi Kinerja dan Capaian Kinerja Tahun 2014 dengan Tahun 2015 perlu memperhatikan beberapa hal seperti restrukturisasi organisasi Direktorat Jenderal Tata Ruang yang sebelumnya di Kementerian Pekerjaan Umum kemudian dipindahkan ke Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ BPN mengakibatkan perubahan struktur organisasi. Perubahan struktur organisasi mempengaruhi kinerja dari Direktorat Perencanaan Tata Ruang dalam menentukan target dan juga realisasi pekerjaan.

Perbandingan Realisasi dan Capaian Kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang Tahun 2015 dengan Rencana dan Capaian Kinerja Direktorat Penataan Ruang Wilayah Nasional Tahun 2014 dapat dilihat pada tabel 3.2

Tabel 3.2

Perbandingan Capaian Kinerja Tahun 2014 dengan Direktorat Perencanaan Tata Ruang Tahun 2015

RENCANA KINERJA TAHUN 2014 RENCANA KINERJA TAHUN 2015 INDIKATOR OUTPUT 2014 TARGET REALISASI INDIKATOR OUTPUT

2015

TARGET REALISASI

Hasil pengendalian pelaksanaan pengembangan wilayah nasional, pulau, dan KSN (monev)

12 laporan 27 KSN

13 laporan 27 KSN

Dokumen monitoring dan evaluasi kinerja perencanaan tata ruang

2 dokumen

2 dokumen

Hasil penyiapan dan review RTRWN, RTR Pulau, dan RTR KSN 6 raperpres 6 materi teknis 1 kajian 16 laporan 6 raperpres 6 materi teknis 1 kajian 16 laporan Kebijakan dan strategi penataan

ruang nasional 11 laporan 12 laporan

Kebijakan Teknis dan Program Perencanaan Tata Ruang 3 dokumen 3 dokumen Standarisasi Teknis (NSPK) Nasional 5 NSPK; 4 Materi NSPK 1 NSPK; 4 Materi NSPK NSPK Perencanaan Tata Ruang 8 NSPK 8 NSPK

3.1.4 Perbandingan Realisasi Kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang Tahun 2015 dengan Rencana Strategis

Penyusunan Perjanjian Kinerja harus menyesuaikan dengan Rencana Strategis yang telah disusun. Perbandingan antara Rencana Stategis dengan Perjanjian Kinerja, bertujuan untuk mengetahui target apa saja yang telah direalisasikan dan sesuai dengan Rencana Strategis yang telah disusun. Perbandingan antara kegiatan yang ada pada Perjanjian Kinerja dengan Renstra 2015 ditemukan indikator dengan realisasi kinerja yang melebihi target Renstra namun juga juga sebaliknya ada yang belum sesuai dengan target pada Renstra.

Perbandingan Realisasi Kinerja Tahun 2015 dengan Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Perencanaan Tata Ruang Tahun 2015 dapat dilihat pada Gambar 3.2 .

Gambar

Tabel 1.1. Rekapitulasi Perhitungan Telapak Ekologis dan Biokapasitas  per Kapita Pulau-pulau di Indonesia
Tabel 2.1. Perjanjian Kinerja Direktorat Perencanaan Tata Ruang
Gambar 3.3 DIRJEN TR MENTE RI ATR/BPN  Ex pose 1 Internal DJTR Ex pose 3 Internal DJTR Ex pose 2 Internal DJTR

Referensi

Dokumen terkait