HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PENERAPAN STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN DI PUSKESMAS KALASAN TAHUN 2010

Teks penuh

(1)

13

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PENERAPAN

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN DI PUSKESMAS KALASAN

TAHUN 2010

Oleh : Arita Muwarni3

ABSTRACT

Background: The low level of knowledge of nurses on nursing care standard become one of the

causes that can affect the performance of nurses in implementing nursing care in accordance with nursing care on health services, considering aspects of this knowledge is the basic foundation for the implementation of nursing actions.

Objective: To identify the factors that influence nurse’s knowledge about nursing care standard

with application of Standard Nursing Care in the Health Center of Kalasan District.

Method: This research is non-experimental research is an observational study analytic inferential

hypothesis, the method of crosses sectional approach with point time approach. The samples are nine respondents.

Result: Statistical analysis result found that the value coefficient correlation Spearman between

the level of nurse’s knowledge about nursing care with the implementation of Nursing Care Standards in Kalasan Health Center,with Spearmen Rho that is-0553 with significance level p = 0,364, then Ho is refused, which means there is significant relationship between the factors that affect nurses knowledge about the standard of nursing care by implementing standards of nursing care in Kalasan health center.

Conclusion: Most of the respondent’s knowledge level on nursing care standards is good enough

5 people, poorly is 1 people. Part of Nursing Standard Application is good satisfactory as many as 5 people, poorly is 4 people. There are significant correlations between the factors that influence the level of knowledge about the health center nurse with Nursing Standard implementation in Kalasan Health Center.

Keywords: Nurses Knowledge, SAK (Nursing Care Standard) application, Kalasan Health Center

(2)

JURNAL ILMU-ILMU KESEHATAN Volume 7. No. 1 Januari 2011

SURYA MEDIKA

14

PENDAHULUAN

Standar Asuhan Keperawatan adalah suatu pernyataan yang menguraikan kualitas yang diinginkan terkait dengan pelayanan keperawatan terhadap klien. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1990) menyatakan bahwa standar asuhan keperawatan adalah alat ukur kualitas asuhan keperawatan yang berfungsi sebagai pedoman atau tolok ukur dalam pelaksanaan praktek keperawatan. Standar Asuhan Keperawatan adalah upaya memberikan asuhan dan bimbingan langsung pada perawat

untuk melaksanakan praktek

keperawatan (Nursalam, 2007).

Asuhan keperawatan yang aman artinya standar yang dibuat harus menjamin bahwa asuhan keperawatan tersebut aman untuk pasien dan perawat, karena profesi mempunyai komitmen untuk melindungi masyarakat dari praktek yang merugikan dan juga profesi seharusnya bertanggung jawab terhadap kompetensi perawat sesuai dengan standar yang dibuat. Efektif bisa berarti dengan biaya yang sedikit mampu menghasilkan yang terbaik dan etis berarti standar juga harus memperhatikan etik yang secara moral bisa dipertanggung jawabkan. Pencapaian maksud tersebut di atas tentu saja diperlukan pengetahuan mengenai standar asuhan keperawatan. Tujuan penting lainnya mencakup proteksi terhadap publik, pengaturan praktek perawat, pembuatan pedoman administratif, menafsirkan harapan publik dan profesional pelayanan kesehatan lainnya terhadap praktek perawat dan acuan legal untuk praktek yang layak. Tersedianya sarana kesehatan di seluruh pelosok tanah air

menandakan keberhasilan

pembangunan kesehatan yang ditandai dengan berdirinya Pusat Kesehatan

Masyarakat (Puskesmas). Puskesmas merupakan organisasi pelayanan terdepan yang mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan, yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat (Depkes RI, 2002). Wilayah kerja Puskesmas pada mulanya ditetapkan satu kecamatan, kemudian dengan semakin berkembangnya kemampuan dana yang dimiliki oleh

pemerintah untuk membangun

Puskesmas, wilayah kerja Puskesmas ditetapkan berdasarkan jumlah penduduk di satu kecamatan, kepadatan dan mobilitasnya. Umumnya satu Puskesmas mempunyai penduduk binaan antara 30.000-50.000 jiwa (Munijaya, 1999). Setiap kecamatan di Indonesia telah memiliki paling sedikit sebuah Puskesmas. Lebih dari 40% desa telah dilayani oleh sarana pelayanan kesehatan pemerintah. Tahun 2001 tersedia 7.277 Puskesmas, 21.587 Puskesmas Pembantu dan 6.392 Puskesmas Keliling (Depkes RI, 2001).

Berdasarkan studi

pendahuluan yang dilakukan melalui wawancara dan pengamatan terhadap 9 orang tenaga perawat di Puskesmas Kalasan dapat diketahui bahwa sebagian besar perawat yaitu sebanyak 6 orang (60 %) kurang memahami tentang Standar Asuhan Keperawatan, dan tidak menerapkan Standar Asuhan Keperawatan sesuai dengan standar Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pengkajian keperawatan pengumpulan data belum sistematis, menggunakan format, pengelompokan data belum memenuhi kriteria data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Diagnosa keperawatan belum memenuhi komponen Problem Etiology

(3)

JURNAL ILMU-ILMU KESEHATAN Volume 7. No. 1 Januari 2011

SURYA MEDIKA

15

keperawatan tidak sesuai prioritas

masalah. Pencatatan asuhan

keperawatan tidak mencantumkan inisial atau nama perawat yang melaksanakan tindakan, catatan tidak menggunakan formulir yang baku. Hal ini disebabkan latar belakang pendidikan lulusan Sekolah Pengatur Perawat/ Sekolah Perawat Kesehatan (SPR/SPK), belum pernah mengikuti pelatihan tentang Standar Asuhan Keperawatan serta kurangnya sosialisasi tentang Standar Asuhan Keperawatan. Standar Asuhan Keperawatan yang dilakukan oleh tenaga perawat masih perlu mendapatkan perhatian karena pelayanan kesehatan yang diberikan kepada individu, keluarga, kelompok/

masyarakat berupa asuhan

keperawatan kesehatan masyarakat yang utuh (holistic), komprehensif, dan bersifat dinamis belum diterapkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan dijadikan pedoman dalam melaksanakan tugasnya. Kesadaran perawat akan tuntutan dan kebutuhan asuhan keperawatan yang berkualitas di masa depan merupakan tantangan yang harus dipersiapkan secara benar-benar dan ditangani secara mendasar, terarah dan sungguh-sungguh dari Puskesmas. Tanggung jawab ini memang berat mengingat bahwa keperawatan di Indonesia masih dalam tahap awal proses profesional.

Rendahnya tingkat

pengetahuan perawat tentang Standar Asuhan Keperawatan menjadi salah

satu penyebab yang dapat

mempengaruhi kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang sesuai dengan Standar Asuhan

Keperawatan pada pelayanan

kesehatan, mengingat aspek

pengetahuan ini merupakan pondasi dasar untuk terselenggaranya suatu

tindakan keperawatan. Latar belakang di atas, perlu dilakukan penelitian guna mengetahui hubungan tingkat pengetahuan perawat Puskesmas dengan penerapan Standar Asuhan Keperawatan di Puskesmas Perawatan Kecamatan Kalasan.

TUJUAN PENELITIAN

Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan perawat Puskesmas dengan penerapan Standar Asuhan Keperawatan di Puskesmas Perawatan Kecamatan Kalasan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental yang merupakan penelitian observasional bersifat analitis inferensial. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan cross sectional yaitu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach) artinya setiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja (Nursalam, 2007). Pada penelitian ini menggunakan uji Spearmen Rho dengan menguji satu variabel bebas dan satu variabel terikat.

LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2010 di Puskesmas Kecamatan Kalasan

INSTRUMEN PENELITIAN

Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan dan observasi dengan menggunakan check list. Kuesioner diartikan sebagai daftar pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik, responden dalam

(4)

JURNAL ILMU-ILMU KESEHATAN Volume 7. No. 1 Januari 2011

SURYA MEDIKA

16

interview tinggal memberikan tanda

tertentu (Notoatmodjo, 2005). Pengetahuan menggunakan skala Ordinal yaitu pengetahuan Baik,Cukup

dan Kurang.Sedangkan untuk

Penerapan Standar Asuhan

Keperawatan juga menggunakan skala Ordinal yakni Penerapan baik,Cukup dan Kurang.

Observasi merupakan cara

pengumpulan data dengan

mengadakan pengamatan secara langsung kepada responden penelitian untuk mencari perubahan atau hal-hal yang akan diteliti (Hidayat, 2007)

Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini adalah lembar kuesioner yang dibuat sendiri, lembar kepada responden setelah diuji validitas dan reliabilitasnya bentuk pertanyaan dalam kuesioner pada penelitian ini adalah pertanyaan tertutup yang mencakup 4 (empat) jawaban alternatif, dan harus dijawab dan diisi oleh responden dengan memilih jawaban yang menurut responden paling benar mengenai pengetahuan perawat Puskesmas dengan penerapan standar asuhan keperawatan di Puskesmas Perawatan Kecamatan Kalasan. Instrumen penelitian melalui observasi berupa check list bersumber dari Depkes tahun 1995, sehingga tidak memerlukan pengujian validitas instrumen.

Hasil penghitungan tiap-tiap item dibandingkan dengan tabel nilai

product momment. Bila rhitung > dari rtabel

dengan taraf signifikasi 5%, maka kuesioner dikatakan valid dan dapat dipakai untuk meneliti. Namun sebaliknya, jika rhitung kuesioner < rtabel maka pertanyaan tersebut tidak valid dan harus dikeluarkan dari kuesioner (Sugiyono, 2002).

HASIL PENELITIAN

1. Karakteristik Responden

Karakteristik perawat Puskesmas Kalasan ditampilkan berdasarkan umur dan tingkat pendidikan berikut ini:

Tabel 1.Karaktersistik Responden berdasarkan Umur No Kategori Frekuensi 1 31-35 th 3 orang 2 36-40th 2 orang 3 20-30th 4 orang Total 9 orang

Gambaran umur responden menunjukkan bahwa sebagian besar responden kelompok umur 31 -35 tahun yaitu sebanyak 3 orang, kelompok umur 36 – 40 tahun sebanyak 2 orang, kelompok umur 20-30 tahun 4 orang . Interval umur tersebut merupakan umur yang produktif identik dengan idealisme yang tinggi, semangat kerja meningkat dan penuh optimisme. Kategori umur ini seorang perawat memiliki kinerja atau prestasi kerja yang tinggi.

Tabel 2.Karakterstik Responden berdasarkan Tingkat Pendidikan

No Kategori frekuensi 1 D III Keperawatan 5 orang 2 D IV/S1 Keperawatan 1 orang 3 SPK 3 orang Total 9 orang

Gambaran pendidikan sebagian

besar responden perawat

berpendidikan DIII Keperawatan / AKPER yaitu sebanyak 5 orang, sedangkan perawat yang berpendidikan

(5)

17

DIV / S1 Keperawatan 1 orang dan

yang lainnya berpendidikan SPR / SPK yaitu sejumlah 3 orang. Green cit Notoatmodjo, 1993 berpendapat bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor

yang menjadi dasar untuk

melaksanakan tindakan. Pelayanan keperawatan yang profesional membutuhkan kualifikasi tenaga keperawatan yang profesional. Ciri-ciri perawat profesional adalah perawat lulusan pendidikan tinggi keperawatan minimal sarjana keperawatan / Ners. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin baik pengetahuan, sikap dan perilakunya.

Perawat yang mempunyai pengalaman dipandang lebih mampu dalam melaksanakan tugas. Makin lama kerja seseorang kecakapan mereka akan lebih baik karena sudah dapat menyesuiakan diri dengan pekerjaanya. Pengalaman kerja yang sudah lama belum menjamin bahwa mereka lebih produktif dari pada karyawan yang paling sedikit lama kerjanya.

2. Tingkat PengetahuanResponden Tingkat pengetahuan perawat Puskes-mas Kalasan ditampilkan dalam tabel 3 berikut ini:

Tabel 3. Distribusi Pengetahuan Perawat tentang Standar Asuhan

Keperawatan (SAK) No Kategori Frekuensi 1 Baik 3 orang 2 Cukup 5 orang 3 Kurang 1 orang Total 9 orang

Sebagian besar tingkat pengetahuan responden perawat Puskesmas tentang Standar Asuhan Keperawatan adalah cukup baik yaitu sebanyak 5 orang.Pengetahuan Baik 3

orang dan Kurang baik 1 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan responden belum memadai untuk dapat melaksanakan Standar Asuhan Keperawatan dengan baik, karena tingkat pendidikan responden perawat Puskesmas yaitu 5 orang. Pendidikan sebagai salah satu bagian dalam mencapai pengetahuan diperlukan oleh perawat sebagai sarana mencapai profesionalisme keperawatan, melalui pendidikan tinggi keperawatan tersebut diharapkan terjadi percepatan proses perubahan atau transisi keperawatan yang semula merupakan kegiatan okupasional menjadi profesional dan yang semula menggunakan pendekatan tradisional menjadi penyelesaian

masalah ilmiah yang dapat

dipertanggungjawabkan kepada pemakai jasa dan profesi ( Mubarak Wahid Iqbal, 2005). Jika menghendaki sesuatu agar bertahan lebih lama, maka jelas diperlukan pengetahuan positif tentang apa yang dikerjakan, sebab perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih abadi dibandingkan dengan perilaku tanpa didasari pengetahuan.

Menurut Notoatmodjo (2003), bahwa pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: pengalaman, tingkat pendidikan, keyakinan, fasilitas, penghasilan dan sosial budaya. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt bihavior).

4. Penerapan Standar Asuhan Keperawatan.

(6)

JURNAL ILMU-ILMU KESEHATAN Volume 7. No. 1 Januari 2011

SURYA MEDIKA

18

Tabel 4.Distribusi Penerapan Standar Asuhan Keperawatan

No Kategori Frekuensi

1 Baik 3 orang

2 Cukup baik 5 orang

3 Kurang baik 1 orang

Total 9 orang

Dilihat dari segi penerapan Standar Asuhan Keperawatan di Puskesmas Kalasan menunjukkan bahwa responden perawat Puskesmas dalam penerapan Standar Asuhan Keperawatan adalah baik ada 3 orang, cukup baik 5 orang dan kurang baik 1orang. Penelitian tersebut

menunjukkan bahwa perawat

Puskesmas dalam penerapan Standar Asuhan Keperawatan salah satunya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan pengetahuan seorang perawat. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo bahwa pendidikan adalah upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku positif yang meningkat. Semakin tinggi tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap perilaku dan pengetahuan yang dimiliki.

Pada kenyataannya sering kali bahwa seorang perawat dalam menjalankan peran dan fungsinya masih jauh dari harapan yaitu sebagai perawat yang mampu mandiri dan profesional dalam tatanan praktek keperawatan secara langsung di rumah sakit ataupun puskesmas (Mubarak Wahid Iqbal, 2005).

Hubungan tingkat pengetahuan

Perawat Puskesmas Tentang Standar

Asuhan Keperawatan Dengan

Penerapan Standar Pelayanan

Kesehatan.

Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara

tingkat pengetahuan perawat Puskesmas tentang Standar Asuhan Keperawatan dengan penerapan Standar Asuhan Keperawatan di Puskesmas Kecamatan Kalasan. Sejumlah 9 orang perawat yang memiliki tingkat pengetahuan tentang Standar Asuhan Keperawatan baik ada 3 orang, penerapan standar asuhan keperawatannya baik ada 3 orang perawat.Pengetahuan cukup baik ada 5 orang, sedangkan dari 9 orang yang memiliki tingkat pengetahuan tentang standar asuhan keperawatannya kurang baik ada 1 orang. Penerapan standar asuhan keperawatannya kurang baik ada 1 0rang.dari hasil uji Korelasi Spearmen Rho didapatkan hasil -0,553 lebih besar dibandingkan dengan tabel =0,364 dengan taraf Signifikansi 0,05.Artinya ada hubungan yang signifikan antara Tingkat Pengetahuan Perawat tentang SAK dengan

Penerapan Standar asuhan

keperawatan di Puskesmas Kalasan. Disimpulkan bahwa semakin tinggi pengetahuan perawat tentang Standar Asuhan Keperawatan maka akan semakin tinggi kinerjanya dalam

penerapan Standar Asuhan

Keperawatan. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin besar kemampuan menyerap, menerima, mengadopsi informasi dan pengetahuannya akan semakin tinggi.

Keperawatan hubungannya sangat banyak keterlibatan dengan segmen manusia dan kemanusiaan, oleh karena berbagai masalah kesehatan aktual dan potensial. Keperawatan memandang manusia secara utuh dan unik sehingga praktek keperawatan membutuhkan penerapan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang kompleks sebagai upaya untuk

(7)

JURNAL ILMU-ILMU KESEHATAN Volume 7. No. 1 Januari 2011

SURYA MEDIKA

19

memenuhi kebutuhan objektif

pasien/klien. Keunikan hubungan ners dan klien harus dipelihara interaksi

dinamikanya dan

kontuinitasnya. Penerimaan dan pengakuan keperawatan sebagai pelayanan profesional diberikan dengan perawat profesional sejak tahun 1983, maka upaya perwujudannya bukanlah hal mudah di Indonesia. Keperawatan di Indonesia menghadapi tuntutan dan kebutuhan eksternal manajemen

internal yang kesemuanya

membutuhkan upaya yang sungguh– sungguh dan nyata keterlibatan berbagai pihak yang terkait sehingga kualitas struktur, proses dan hasil dapat dinilai Standar asuhan keperawatan berarti pernyataan kualitas yang didinginkan dan dapat dinilai pemberian

asuhan keperawatan

terhadappasien/klien.

Terjadi kesepakatan antara praktisi terhadap tingkat kinerja dan menawarkan ukuran penilaian agar praktek keperawatan terbaru dapat dibandingkan. Penilaian esensial asuhan keperawatan melalui penataan standar sebagai dasar kesepakatan untuk mencapai asuhan keperawatan optimal. Standar keperawatan dalam prakteknya harus dapat diterima, setiap klien berhak mendapatkan asuhan berkualitas, tanpa membedakan usia dan diagnosa. Standar dapat diharapkan memberikan pondasi dasar dalam mengukur kualitas asuhan keperawatan.

Setiap hari perawat bekerja sesuai standar-standar yang ada seperti merancang kebutuhan dan jumlah tenaga berdasarkan volume kerja, standar pemerataan dan distribusi pasien dalam unit khusus, standar pendidikan bagi perawat profesional sebagai persyaratan agar dapat masuk

dan praktek dalam tatanan pelayanan keperawatan profesional.

Tujuan utama standar memberikan kejelasan dan pedoman untuk mengidentifikasi ukuran dan penilaian hasil akhir, dengan demikian standar dapat meningkatkan dan memfasilitasi perbaikan dan pencapaian kualitas asuhan keperawatan. Kriteria kualitas asuhan keperawatan mencakup : aman, aku kontinuitas, efektif biaya, manusiawi dan memberikan harapan yang sama tentang apa yang baik

bagi perawat dan pasien.

Pengembangan dan penetapan standar keperawatan melalui tahapan yaitu : harus diumumkan, diedarkan atau disosialisasikan dan terakhir penerapan dalam berbagai

tatanan pelayanan

Pelayanan keperawatan adalah esensial bagi kehidupan dan kesejahteraan klien oleh karena itu profesi keperawatan harus akuntabel terhadap kualitas asuhan yang diberikan. Pengembangan ilmu dan teknologi memungkinkan perawat untuk

mendapatkan informasi yang

dibutuhkan dalam rangka menerapkan asuhan bagi klien dengan kebutuhan yang kompleks. Penjaminan efektifitas asuhan keperawatan pada klien, harus tersedia kriteria dalam area praktek yang mengarahkan keperawatan mengambil keputusan dan melakukan intervensi keperawatan secara aman. Saat ini biaya asuhan kesehatan telah meningkat tajam walaupun hari rawat singkat. Melalui penataan standar

keperawatan, maka tindakan

keperawatan sesuai kebutuhan dan harapan pasien tanpa mengurangi kesejahteraan pasien namun biaya lebih terjangkau. Pemborosan anggaran dan fasilitas dan kesalahan praktek perawat standar asuhan keperawatan hendaknya dapat digunakan dalam

(8)

JURNAL ILMU-ILMU KESEHATAN Volume 7. No. 1 Januari 2011

SURYA MEDIKA

20

semua situasi pelayanan kesehatan.

Standar asuhan keperawatan menjadi esensial terutama jika diterapkan dalam unit-unit pelayanan yang secara relatif terdapat sedikit jumlah perawat yang berpengalaman tapi harus memberikan pelayanan untuk berbagai jenis penyakit dan memenuhi kebutuhan kesehatan yang kompleks.

Praktek keperawatan profesional harus terwujud dalam tatanan praktek yang nyata yaitu pemberian asuhan secara langsung kepada pasien,

keluarga, kelompok ataupun

komonitas.Penjaminan mutu asuhan yang diberikan diperlukan suatu ukuran untuk mengevaluasikannya. Uraian ini adalah suatu standar. Standar keperawatan dapat dibedakan atas dua jenis yaitu standar asuhan dan standar praktek. Profesi keperawatan harus mulai menata diri dengan membuat standar untuk berbagai keperluan seperti pelayanan, pendidikan, dan penelitian. Pelayanan keperawatan akan diterima dan dipercaya oleh komsumen bila mutu pelayanannya terjamin melalui standar yang baku dan selalu ditinggkatkan dari waktu ke waktu.

Seseorang yang memiliki pengetahuan yang tinggi maka ketrampilan atau praktek yang ada dia miliki akan semakin tinggi pula jika dibandingkan dengan seseorang yang memiliki pengetahuan sedang. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian oleh Istanto (2002) ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan

pelaksanaan Standar Asuhan

Keperawatan di RSUD Ambarawa. Penelitian juga sama dengan hasil penelitian Walin (2005), yang menyebutkan ada hubungan secara signifikan antara pengetahuan dengan

penerapan Standar Asuhan

Keperawatan.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitan ini adalah : Pertama. Sebagian besar tingkat pengetahuan responden Perawat Puskesmas tentang Standar Asuhan Keperawatan adalah cukup baik. Penerapan Standar Asuhan Keperawatan sebagian besar adalah cukup baik. Ketiga. Ada hubungan yang bermakna antara Tingkat pengetahuan perawat tentang Penerapan Standar

Asuhan keperawatan dengan

Penerapan Standar Asuhan

Keperawatan di Puskesmas Kecamatan Kalasan

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. S, 2002. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. PT Rineka Cipta, Jakarta

Depkes RI, 1990.Standar Asuhan bagi Perawat.Depkes RI Jakarta Depkes RI,2002.Laporan Tahunan

Depkes RI,Depkes RI Jakarta Hidayat,2007.Metodologi Penelitian Keperawatan.Salemba Jakarta Mubaraq,dkk,2006.Ilmu Keperawatan Komunitas 2,Sagung Seto,Jakarta Muninjaya,1999.Manajemen Pelayanan Kesehatan.PT Rineka Cipta Notoatmodjo, S. 2005. Pendidikan dan

Perilaku kesehatan. PT Rineka Cipta, Jakarta

Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Perilaku. PT Rineka Cipta, Jakarta

Nursalam, 2007. Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika. Jakarta.

Nursalam, 2007. Dokumentasi Keperawatan. Salemba Medika, Jakarta

Sugiyono,2007.Statistika untuk Penelitian, Alfabeta, Bandung.

(9)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...