DESKRIPSI MOTIVASI SANTRI DALAM MENGHAFAL AL-QUR AN DI PONDOK PESANTREN TAHAFFUDZUL QUR AN PURWOYOSO NGALIYAN SEMARANG TAHUN 2011

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata (S.1)

Pendidikan Agama Islam

Disusun Oleh : Disusun Oleh : Disusun Oleh : Disusun Oleh : NUR KHASANAH 063111072

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

(2)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Nur Khasanah

NIM : 063111072

Jurusan / Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian / karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.

Semarang, 27 Mei 2011 Saya yang menyatakan,

Nur Khasanah

(3)

iii

KEMENTERIAN AGAMA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG FAKULTAS TARBIYAH

Jl. Prof. Dr. Hamka KM 1 Ngaliyan Telp. (024)7601291 Semarang 50185

PENGESAHAN

N a m a : Nur Khasanah

N I M : 63111072

Fakultas/Jurusan : Tarbiyah /PAI

Judul Skripsi : DESKRIPSI MOTIVASI SANTRI DALAM MENGHAFAL AL-QUR’AN DI PONDOK PESANTREN TAHAFFUDZUL QUR’AN PURWOYOSO NGALIYAN SEMARANG TAHUN 2011

Telah Dimunaqosahkan oleh Dewan Penguji FakultasTarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, pada tanggal:

22 Juni 2011

Dan dapat diterima sebagai kelengkapan ujian akhir dalam rangka menyelesaikan studi Program Sarjana Strata I (S.1) tahun akademik 2011/2012 guna memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Tarbiyah.

Semarang, 28 Juni 2011 Dewan Penguji

Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,

Amin Farih, M.Ag. Yunita Rahmawati, M.Ag.

NIP. 19710614 200003 1002 NIP. 15780627 200501 2004

Penguji I, Penguji II,

Drs. Ikhrom, M.Ag. Dr. Akhwan Fanani, M.Ag.

NIP. 19650329 199403 1002 NIP. 19780930 200315 1001

Pembimbing I, Pembimbing II

Dra. Muntholi’ah, M.Pd. Drs.H. Soediyono, M.Pd.

(4)

iv

NOTA PEMBIMBING Semarang, 27 Mei 2011

Kepada

Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo

di Semarang

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah skripsi dengan:

Judul : DESKRIPSI MOTIVASI SANTRI DALAM MENGHAFAL

AL-QUR’AN DI PONDOK PESANTREN TAHAFFUDZUL QUR’AN PURWOYOSO NGALIYAN SEMARANG TAHUN 2011

Nama : Nur Khasanah

NIM : 063111072

Jurusan : Pendidikan Agama Islam Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam sidang munaqasah. Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Pembimbing I

Dra. Muntholi’ah, M. Pd.

(5)

v

NOTA PEMBIMBING Semarang, 27 Mei 2011

Kepada

Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo

di Semarang

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah skripsi dengan:

Judul : DESKRIPSI MOTIVASI SANTRI DALAM MENGHAFAL

AL-QUR’AN DI PONDOK PESANTREN TAHAFFUDZUL QUR’AN PURWOYOSO NGALIYAN SEMARANG TAHUN 2011

Nama : Nur Khasanah

NIM : 063111072

Jurusan : Pendidikan Agama Islam Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam sidang munaqasah. Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Pembimbing II

Drs.H.Soediyono, M. Pd. NIP. 19460715 197612 1 001

(6)

vi

ABSTRAK

Judul :Deskripsi Motivasi Santri dalam Menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Tahaffudzul Qur’an Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun

2011.

Nama : Nur Khasanah NIM : 063111072

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) Jenis motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an di pondok pesantren Tahaffudzul Qur’an Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011. 2). Latar motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an di pondok pesantren Tahaffudzul Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011. 3). Perwujudan motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an di pondok pesantren Tahaffudzul Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011

Penelitian menggunakan field research (penelitian lapangan) yang disajikan secara deskriptif. Kemudian data yang telah terkumpul akan diadakan penganalisaan dengan pendekatan deskriptif fenomenologi untuk mengetahui motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an di pondok pesantren Tahaffudzul Qur’an Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an terdiri dari tiga santri memiliki motivasi ekstrinsik dan dua santri memiliki motivasi intrinsik. Latar motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an yaitu keinginan untuk memperdalam isi kandungan Al-Qur’an, memelihara ayat-ayat Al-Qur’an agar tetap terjaga, membahagiakan orang tua dan keinginan untuk memperoleh tempat mulia disisi Allah swt. Perwujudan motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an berbeda-beda yaitu dua santri tahassus lama menggunakan seluruh waktu luang untuk menghafal dan mengulang. Satu santri menggunakan setengah waktu untuk menghafal dan waktu setengah waktu untuk mengulang. Sedangkan dua santri menghafal dan kuliah baik baru atau lama lebih banyak menggunakan waktu malam hingga pagi hari untuk menghafal dan mengulang yang disesuaikan dengan adanya kesibukan kuliah. Selain hal tersebut yang tampak perbedaannya adalah teknik menghafal yaitu menghafal ayat yang lebih mudah, menghafal melihat cermin mendengarkan murattal. Sedangkan taktik secara umum yang di pakai adalah membaca, mengulang-ulang dan melihat terjemahan. Sedangkan perwujudan yang lain memiliki kemiripan yaitu para santri mentarget hafalan baru sebanyak satu halaman per hari.

Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi mahasiswa, para tenaga pengajar, para peneliti, dan semua pihak, terutama dalam memberi pertolongan dan motivasi kepada rekan-rekan mahasiswa agar senantiasa meningkatkan kualitas penelitian pada masa

mendatang.

(7)

vii

TRANSLITERASI ARAB LATIN

Penulisan transliterasi huruf-huruf Arab Latin dalam skripsi ini berpedoman pada SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I Nomor: 158/1987 dan Nomor: 0543b/Untuk1987. Penyimpangan penulisan kata sandang (al-) disengaja secara konsisten agar sesuai teks Arabnya.

a

t}

b

z}

t

s|

Gh

j

F

h}

Q

kh

K

d

L

z|

M

r

N

z

W

s

H

sy

s}

Y

d}

Bacaan madd: Bacaan diftong:

a> = a panjang

ﻭﹶﺍ

= au

i> = I panjang

ﻱﹶﺍ

= a

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur alhamdulillah ke hadirat Ilahi Rob, Tuhan semesta alam, dengan ridho dan hidayah-Nya lah semua dapat terjadi, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ini.

Dan dengan ketulusan hati yang terdalam, penulis sampaikan ucapan terima kasih atas pemberian dan bantuan dalam bentuk apapun kepada berbagai pihak yang telah ikhlas dan rela. seiring doa jazakumullah khoiro jaza, limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya tercurah kepada kita semua. Amin. Ucapan terima kasih, penulis haturkan kepada :

1. Prof. Dr. H. Muhibbin, M. Ag. selaku Rektor IAIN Walisongo Semarang 2. Dr. Suja’i, M. Ag. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo

Semarang

3. Drs. H.Soediyono, M.Pd dan Dra. Muntholi’ah, M. Pd. Selaku Guru Besar Pembimbing skripsi bagi diri penulis.

4. Ibu Nyai Hj. Aufa Abdullah Umar AH beserta Keluarga Besar Pondok Pesantren Tahaffudzul Qur’an Purwoyoso Ngaliyan Semarang yang telah mendukung menjadi tempat penelitian dan sekaligus membimbing dalam penelitian ini.

5. Santri Putri Pondok Pesantren Tahaffudzul Qur’an Purwoyoso Ngaliyan Semarang yang telah membantu menyelesaikan penelitian.

6. Keluarga besarku; Orang tuaku tercinta Abdul Khafidz dan Ibunda Siti Aminah; kakakku Nur Rohmah, Adik-adiku tercinta Nur Khayati dan Nur Kholifah yang selalu mendampingi perjalanan hidupku dan menjadi pelita hidupku.

7. Sahabat-sahabatku di kos Nusa Indah 1 (Tri Masrifah, Ika Septi Andan Dewi, Rofiatul Khoiriyah, mbak Yani) yang telah memotivasi dan membantu menwujudkan terselesainya skripsi ini.

8. Sahabat- sahabatku Sofiyatun, Endah Chusnul Chotimah dan Ummu Aiman yang senasib seperjuangan

(9)

ix

9. Semua pihak yang membantu, yang tidak dapat penulis sebutkan satu demi satu, terimakasih. Allah pasti mengembalikan setiap titik debu kebaikan kepadamu kembali.

Akhirnya, dengan penuh rendah hati, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dalam penulisan, materi, bahasa, maupun analisisnya. Oleh karena itulah kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan demi perbaikan penulisan selanjutnya. Penulis berharap semoga karya ini tetap membawa manfaat bagi pengembangan pendidikan Islam dan khasanah bersama. Amin.

Semarang, 27 Mei 2011 Penulis,

(10)

x DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ... i PERNYATAAN KEASLIAN ... ii PENGESAHAN ... iii NOTA PEMBIMBING ... iv ABSTRAK ... v TRANSLITERASI ... vi

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ix

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Penegasan Istilah ... 3 C. Rumusan Masalah ... 4 D. Tujuan Penelitian ... 5 E. Manfaat Penelitian ... 5 F. Telaah Pustaka ... 5 G. Metodologi Penelitian ... 8

BAB II : LANDASAN TEORI TENTANG MOTIVASI SANTRI DALAM MENGHAFAL AL-QUR’AN A. Motivasi ... 13

1. Pengertian Motivasi ... 13

2. Jenis Motivasi dan Faktor Penyebab Munculnya ... 3. Motivasi ... 14 4. Fungsi Motivasi ... 21 B. Santri ... 23 1. Pengertian Santri ... 23 2. Karakteristik Santri ... 23 C. Menghafal Al-Qur’an ... 26 1. Pengertian Menghafal ... 26

(11)

xi

2. Dasar dan Tujuan Menghafal ... 27

3. Faktor Pendukung dan Penghambat Menghafal Al-Qur’an ... 28

4. Strategi Menghafal Al-Qur’an ... 31

BAB III : KAJIAN OBYEK PENELITIAN TENTANG MOTIVASI SANTRI DALAM MENGHAFAL AL-QUR’AN DI PONDOK PESANTREN TAHAFFUDZUL QUR’AN PURWOYOSO NGALIYAN SEMARANG TAHUN 2011 1. Tinjauan Historis ... 35

2. Tinjauan Geografis ... 36

3. Struktur Organisasi Kepengurusan Pondok Pesantren Tahaffudzul Qur’an Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011-2012 ... 37

4. Kondisi Ustadz Di Pondok Pesantren Tahaffudzul Qur’an Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011 ... 39

5. Keadaan Santri Di PPTQ ... 39

6. Aktivitas Santri ... 41

7. Waktu dan Tempat Penelitian ... 43

8. Pelaksanaan Menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Tahaffudul Qur’an Purwoyoso Ngaliyan Tahun 2011 ... 43

BAB IV : TEMUAN DAN HASIL PENELITIAN MOTIVASI SANTRI DALAM MENGHAFAL AL-QUR’AN DI PONDOK PESANTREN TAHAFFUDZUL QUR’AN PURWOYOSO NGALIYAN SEMARANG TAHUN 2011 ... 48

BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 59 B. Saran-Saran ... 60 C. Penutup ... 60 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

(12)

1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad sebagai petunjuk bagi umat manusia. Penurunan tersebut di lakukan bagian demi bagian yang dimaksudkan agar nabi Muhammad membacakannya, secara perlahan-lahan. Begitu pula dengan pemeliharaan Al-Quran yang mulai dengan pencatatan dalam lembaran-lembaran hingga disusun dalam satu mushaf oleh khalifah Abu Bakar dan disempurnakan oleh Ustman bin Affan. Kemudian Al-Qur’an mulai dicetak diberbagai negara hingga sampai di tangan kita sekarang ini. Al-qur’an yang ada sekarang ini adalah Al-qur’an yang masih asli sesuai yang diajarkan nabi Muhammad kepada para sahabatnya. Hal ini karena kitab Allah yang mulia dan wahyu yang terakhir ke bumi ini di jaga oleh Allah dari segala bentuk pengubahan.1 Firman Allah

$

‾ΡÎ)

ßøtwΥ

$

uΖø9¨“tΡ

tø.Ïe%!$#

$

‾ΡÎ)uρ

…çµs9

tβθÝàÏ≈ptm:

∩∪

Artinya: ”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Q.S.Al-Hijr:9)2

Dengan jaminan tersebut bukan berarti umat islam terlepas dari tanggung jawab dan kewajiban untuk memelihara kemurniannya. Allah dalam menjaga Al-Qur’an melibatkan para hamba hambanya. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh hambanya untuk memelihara Al-Qur’an adalah menghafalkannya.

Menghafal Al-Qur’an bukanlah tugas yang mudah, sederhana, serta bisa dilakukan kebanyakan orang tanpa meluangkan waktu khusus,

1

Ahmad Salim Badwilan, Panduan Cepat Menghafal Al-Qur’an, (Jogjakarta:Diva Press, 2010) hlm 6

2

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Depag RI, 1995), hlm. 391

(13)

kesungguhan mengerahkan kemampuan dan keseriusan. Perilaku tersebut dapat ditimbulkan atau dimulai dengan adanya motivasi.3

Motivasi yang ada pada seseorang akan mewujudkan sesuatu perilaku yang diarahkan pada tujuan mencapai sasaran yang diinginkan.

Berkaitan dengan proses pendidikan pondok Pesantren, khususnya pondok pesantren tahfidzul Quran, motivasi memiliki peranan yang sangat penting bagi santri dalam menghafal al-Qur’an. Peranan motivasi dalam mempelajari tingkah laku seseorang besar sekali. Hal ini disebabkan, motivasi diperlukan bagi reinforcement (stimulus yang memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang dikehendaki)yang merupakan kondisi mutlak bagi proses belajar, motivasi menyebabkan timbulnya berbagai tingkah laku, dimana salah satu diantaranya mungkin dapat merupakan tingkah laku yang dikehendaki.4 Untuk mencapai tingkah laku yang dikehendaki yaitu menghafalkan Al-Quran, motivasi santri dapat berasal dari dua arah yaitu motivasi yang bersumber tidak dipengaruhi lingkungan, motivasi yang muncul karena pengaruh lingkungannya.5

Berasal dari motivasi yang berbeda-beda, jika diterapkan dalam proses menghafal atau proses belajar motivasi tercermin melalui ketekunan yang tak mudah patah dalam mencapai sukses, meskipun dihadang banyak kesulitan. Motivasi juga ditunjukkan melalui intensitas unjuk kerja dalam melakukan suatu tugas.6

Dalam proses menghafal Al-Quran, perwujudan motivasi santri dapat dilihat dari aktivitas yang dapat menunjang dalam menghafal Al-Qur’an. Semakin tinggi taraf motivasi akan semakin mempermudah dalam mencapai keberhasilan dalam menghafalkan Al-Qur’an.

3

M.Nur Ghufron dan Rini Risnawati S, Teori-Teori Psikologi, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010) hlm 83

4

Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta:PT Bumi Aksara, 2008) Cet II hlm 104

5

Hamzah B.Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008) Cet IV hlm 33

6

Prasetya Irawan dkk, Teori Belajar, Motivasi, dan Ketrampilan Mengajar, (Jakarta: PAU-PPAI, 1996) hlm 42

(14)

Bertolak dari pentingnya motivasi dalam menghafal Al-Quran penulis merasa perlu untuk mengkaji lebih mendalam kedalam bentuk skripsi yang berjudul “DESKRIPSI MOTIVASI SANTRI DALAM MENGHAFAL

AL-QUR’AN DI PONDOK PESANTREN TAHAFUDZUL QUR’AN PURWOYOSO NGALIYAN SEMARANG TAHUN 2011”

B. PENEGASAN ISTILAH

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam menginterpretasikan judul skripsi ini, maka penulis perlu menjelaskan istilah, sebagai berikut:

1. Deskripsi Motivasi Santri

Deskripsi Motivasi Santri berasal dari tiga kata yaitu:

Deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata secara jelas dan terperinci.7

Motivasi berasal dari bahasa latin ”movere” yang berarti “menggerakkan” yaitu suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut.8

Santri adalah orang yang mendalami agama Islam, orang yang beribadat, orang yang sholeh.9

Yang dimaksud Deskripsi Motivasi Santri dalam penulisan ini adalah pemaparan dengan kata-kata mengenai motivasi santri yang menghafal Al-Qur’an.

2. Menghafal Al-Qur’an

Menghafal adalah berusaha meresapkan ke dalam pikiran agar selalu ingat.10 Sedangkan Al-Qur’an menurut bahasa ialah bacaan atau

7

Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta:PT Gramedia, 2008) hlm 320

8

Prasetya Irawan dkk, op cit, hlm 41

9

Tim Penyusun Kamus, op cit, hlm 1224

10

Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:Balai Pustaka, 2005) Cet III hlm 381

(15)

yang dibaca, menurut istilah Al-Quran adalah nama bagi kalamullah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw yang ditulis dalam mushaf.11

Berarti menghafal Al-Quran yang dimaksud disini adalah berusaha melafadzkan ayat-ayat al-qur'an tanpa melihat tulisan.

3. Pondok Pesantren

Pondok Pesantren merupakan gabungan dua kata yang memiliki arti hampir sama yaitu:

Pondok berasal dari bahasa Arab “funduq” yang berati hotel, asrama, rumah dan tempat tinggal sederhana.12

Perkataan pesantren berasal dari kata santri, dengan awalan pe di depan dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri.13

Pondok Pesantren yang dimaksud disini adalah pondok pesantren Tahafudzul Quran yang berada di daerah Purwoyoso Ngaliyan Semarang

C. RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang masalah di atas maka terdapat permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana motivasi santri dalam menghafal Al-Quran di Pondok Pesantren Tahafudzul Quran Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011:

a. Bagaimana jenis motivasi santri dalam menghafal Al-Quran di Pondok Pesantren Tahafudzul Quran Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011? b. Bagaimana latar motivasi santri dalam menghafal Al-Quran di Pondok

Pesantren Tahafudzul Quran Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011? c. Bagaimana perwujudan motivasi santri dalam menghafal Al-Quran di

Pondok Pesantren Tahafudzul Quran Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011?

11

Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran

dan Tafsir, (Semarang:PT. Pustaka Putra, 2000) Cet III hlm 3

12

Yasmadi, Modernisasi Pesantren, (Ciputat: Quantum Teaching, 2005) hlm 62

13

(16)

D. TUJUAN PENELITIAN

Berkaitan dengan permasalahan di atas, tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk:

1. Mengetahui motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Tahafudzul Quran Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011: a. Mengetahui jenis motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an di

Pondok Pesantren Tahafudzul Quran Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011.

b. Mengetahui latar motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Tahafudzul Quran Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011.

c. Mengetahui perwujudan motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Tahafudzul Quran Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011.

E. MANFAAT PENELITIAN

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dalam penelitian ini adalah:

1. Menambah wawasan tentang gambaran (deskripsi) motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Tahafudzul Quran Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011.

2. Mengetahui jenis, latar, dan perwujudan motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Tahafudzul Quran Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011.

3. Membantu meningkatkan motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Tahafudzul Quran Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011.

F. TELAAH PUSTAKA

Sebelum penulis mengadakan penelitian tentang motivasi santri dalam menghafal Al-Quran di Pondok Pesantren Tahafudzul Quran Purwoyoso

(17)

Ngaliyan Semarang Tahun 2011, penulis dengan segala kemampuan yang ada berusaha menelusuri dan menelaah berbagai hasil kajian antara lain:

Skripsi yang ditulis oleh Barokatun (073111489) yang berjudul “Upaya Meningkatkan Motivasi Menghafal Al-Qur’an Melalui Metode Kitabah di Pondok Pesantren Uswatun Hasanah Mangkang Kulon Semarang” Hasil skripsinya menyatakan bahwa upaya meningkatkan motivasi dilakukan dengan: memberi perhatian khusus kepada santri yang kurang lancar menghafal al-qur'an dengan cara santri yang sudah hafal membantu santri yang kurang hafal, membangkitkan semangat santri dengan memberi pujian bagi santri yang bisa menghafal dengan lancar dan fasih, menggunakan metode kitabah dan mengadakan tes menghafal al-qur'an santri secara teratur.14

Hasil penelitian yang ditulis oleh Bahrudin (3104164) yang berjudul “Deskriptif Jaudah Tahfidz Al-Quran di Pondok Pesantren Madrosatul Quranil Azizyah Bringin Ngaliyan Semarang Tahun 2008/2009”Skripsi membahas tentang gambaran jaudah tahfidz al quran(upaya meningkatkan hafalan Al-Qur'an) harus dilakukan oleh dua pihak yaitu:

1. Upaya Meningkatkan jaudah tahfidz al-qur'an oleh ustadz meliputi takhmis al-qur'an, tasbi al-qur'an, murajaah secara umum, menghatamkan murajaah secara umum, menghatamkan murojaah hafalan al-qur'an sebulan sekali, takrir dalam shalat, konsentrasi melakukan murojaah terhadap lima juz terlebih dahulu dan mengulang-ngulang pada waktu yang ditentukan.15

2. Upaya meningkatkan jaudah tahfidz al-qur'an oleh santri yaitu dengan sikap semangat dan niat ikhlas, kontinyu dalam bertakrir , simaan atau takrir dengan teman pondok, takrir di dalam shalat, tanya jawab atau

14

Barokatun, Upaya meningkatkan motivasi menghafal al-qur'an melalui metode kitabah

di pondok pesantren uswatun hasanah mangkang semarang, (Semarang: Koleksi Skripsi Fakultas

Tarbiyah IAIN Walisongo, 2009) , hlm 55

15

Bahrudin, Deskripsi Jaudah Tahfidz Al-Qur'an Santri Hafidz Al-Qur'an di Pondok

Pesantren Madrosatul Quranil Azizyah Beringin Ngaliyan Semarang Tahun 2008/2009,

(18)

tebak-tebakan ayat, berusaha tadarus dengan suara keras, istirahat yang teratur, berdoa.16

Buku ”Motivasi dan Kepribadian” yang merupakan karangan Abraham H. Maslow. Secara garis besar buku ini menerangkan tentang teori motivasi manusia yang didasarkan pada tingkat kebutuhan yang paling rendah menuju ke tingkatan berikutnya. Kebutuhan tersebut yaitu: Kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan akan rasa memiliki dan ras cinta, kebutuhan akan harga diri, serta kebutuhan akan perwujudan diri.17

Kajian ”Teori Motivasi dan Pengukurannya” oleh Dr. Hamzah B Uno, M.Pd. memaparkan berbagai macam teori motivasi seperti teori motivasi kerja, teori keadilan, teori sasaran, teori motivasi kesehatan. Akan tetapi yang lebih menonjol dalam pembahasanya adalah teori motivasi dari sudut pandang motivasi belajar, motivasi kerja, motivasi berprestasi.18 Dan pengukurannya diarahkan dalam bidang pendidikan. Berasal dari teori yang bermacam-macam dan berbeda pandangan, salah satu teori yang dikemukakan adalah teori hierarki kebutuhan Maslow. Dalam dunia pendidikan dilakukan dengan cara memenuhi kebutuhan peserta didik, agar dapat mencapai hasil belajar yang maksimal dan sebaik mungkin. Misalnya, guru dapat memahami keadaan peserta didik secara perorangan, memelihara suasana belajar yang baik, keberadaan peserta didik, memperhatikan lingkungan belajar.19 Menurut penulis kebutuhan yang harus dipenuhi termasuk kebutuhan fisiologis dan rasa aman.

Buku berjudul “Motivasi teori dan Penelitiannya” merupakan karangan E.Koeswara yang membahas tentang teori motivasi yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan dan pendekatannya masing-masing.20 Seperti teori insting, fisiologi motivasi, teori dorongan, motivasi insentif, motivasi belajar, motivasi kognitif, motivasi sosial dan atribusi, motivasi pertumbuhan.

16

Ibid, hlm 58

17

AbrahamH.Maslow, Motivasi Kepribadian I, (Bandung:Remaja Rosdakarya offset, 1993) Cet IV hlm 43-57

18

Hamzah B.Uno, op cit., hlm 2

19

Ibid, hlm 7

20

(19)

Subjek penelitiannya pun berbeda-beda dengan yaitu para peneliti yang menggunakan hewan bagi mereka yang menggunakan pendekatan biologis dan behavioristik, yang subjeknya manusia adalah para peneliti motivasi pendekatan kognitif. Metode yang digunakan pun berbeda dimulai dari rancangan eksperimen subjek tunggal dengan variabel yang ditentukan dan dimanipulasi, sampai wawancara lapangan.21

G. METODOLOGI PENELITIAN 1. Fokus Penelitian

Sesuai dengan obyek kajian skripsi ini, maka penelitian ini adalah penelitian lapangan atau field research, yakni penelitian yang dilakukan di kancah atau medan terjadinya gejala-gejala yang diselidiki.22 Dalam hal ini penelitian difokuskan pada motivasi santri dalam menghafal Al-Quran di pondok pesantren Tahafudzul Qur’an Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011.

2. Pendekatan Penelitian

Di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yaitu merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya.23

3. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah: a. Metode Interview

Interview merupakan alat pengumpulan data dengan cara menggunakan sejumlah pertanyaan lisan.24 Metode ini digunakan untuk mewawancarai sejumlah santri tentang motivasinya dalam menghafal Al-Quran, pada interview tersebut peneliti menggunakan

21

Ibid,hlm 6

22

Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid I (Yogyakarta: Andi offset, 2003),Cet XXXIX hlm 10

23

Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003) hlm 157

24

S.Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000) Cet III hlm 165

(20)

instrumen pedoman wawancara di bantu juga dengan tape recorder, dan buku lapangan. Yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Tahafudzul Qur'an Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 20011. b. Metode Observasi

Observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh indra.25 Metode ini digunakan untuk mengamati secara langsung terhadap perwujudan motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an, yaitu pelaksanaan serta proses menghafal al-qur'an santri, waktu yang digunakan dalam menghafal al-Qu’ran santri, target ayat dalam menghafal setiap hari, metode santri dalam menghafal al-qur'an, teknik menulang hafalanya baik sendiri maupun bersama santri lain serta keadaan geografis pondok pesantren, sarana prasarana di pondok pesantren yang dapat membantu meningkatkan hafalan santri.

c. Dokumentasi

Dokumentasi dari asal kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.26 Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan sejarah berdirinya, tujuan didirikan, nama dan letak geografis, struktur kepengurusan, jadwal kegiatan santri, tata tertib dalam menghafalkan al-Qur’an, yang berasal dari dokumen-dokumen Pondok Pesantren Tahafudzul Qur’an Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011.

4. Metode Analisa Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori,

25

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002) Ed. Revisi V hlm 133

26

(21)

menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain.27

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang diimbangkan ke arah penelitian naturalistik (penelitian setting alami) dengan pendekatan fenomenologis (berdasar fakta di lapangan).28 Analisis tersebut di gunakan untuk menganalisis tentang : 1) Jenis motivasi santri dalam menghafal al-qur'an yang dapat

dikategorikan motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

2) Latar motivasi yaitu faktor yang menyebabkan motivasi santri menghafal al-qur'an seperti untuk meraih penghargaan, kehormatan, prestasi, ataupun perwujudan diri.

3) Perwujudan motivasi seperti proses menghafal al-qur'an, waktu yang digunakan dalam menghafal al-Qur’an, target ayat yang harus dihafal setiap hari, metode yang digunakan dalam pembelajaran, teknik yang digunakan santri dalam mengulang hafalannya yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi di Pondok Pesantren Tahafudzul Qur'an Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011.

5. Keabsahan Data

Dalam penelitian kualitatif yang diuji validitas adalah datanya. Pengajuan tersebut dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negative dan member check.29 Sedangkan dalam penelitian ini, untuk menguji validitas data digunakan teknik triangulasi sumber, yaitu dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber. Data target setoran dan kedisiplinan setoran diuji validitas pada pengasuh( Bu Nyai), data waktu menghafal, mengulang hafalan, pengggunaan waktu luang untuk menghafal, teknik yang digunakan serta tempat untuk menghafal

27

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: CV.Alfabeta, 2008) hlm 89

28

Sukardi, op cit hlm 158

29

(22)

diuji validitas data melalaui santri lain yang tinggal satu kamar. Kemudian data tersebut dideskripsikan, dikategorikan, mana pandangan yang sama dan yang berbeda sehingga menghasilkan kesimpulan.

Tabel data, pengumpulan data dan sumber data

No Data

Metode Pengumpulan

Data

Sumber data

1 Jenis motivasi menghafal al-Qur’an

Wawancara Wawancara santri

2 Latar motivasi menghafal al-Qur’an

Wawancara Wawancara santri

3 Waktu menghafal Wawancara dan

observasi

Wawancara santri dan aktifitas santri

4 Target hafalan per hari Wawancara dan observasi

Wawancara santri dan aktifitas santri

mencapai target 5 Waktu mengulang hafalan Wawancara dan

observasi

Wawancara santri dan aktifitas mengulang hafalan

6 Penyetoran hafalan Wawancara dan

observasi

Wawancara santri dan aktifitas penyetoran santri

7 Metode menghafal Wawancara dan

observasi

Wawancara santri dan proses penggunaan metode 8 Proses menghafal (pelaksanaan) Wawancara dan observasi Aktifitas menghafal santri

9 Media menghafal al-Qur’an

Wawancara dan observasi

Wawancara santri dan penggunaan media dalam menghafal al-Qur’an

(23)

10 Kedisiplinan menghafal Observasi Rutinitas menghafal santri

11 Istirahat dan kegiatan lain Observasi Istirahat santri 12 Lingkungan pondok

pesantren

Observasi Lingkungan pondok

pesantren

13 Sarana prasarana Observasi Sarana prasarana di

lingkungan pondok pesantren

14 Evaluasi menghafal santri Observasi Aktifitas evaluasi hafalan santri 15 Sejarah berdiri pondok

pesantren

Dokumentasi Dokumen sejarah berdiri pondok pesantren 16 Tujuan berdirinya pondok

pesantren

Dokumentasi Dokumen tujuan

berdirinya pondok pesantren

17 Letak geografis pondok pesantren

Dokumentasi dan Observasi

Dokumen letak geografis dan letak pondok pesantren 18 Struktur kepengurusan Dokumentasi Dokumen struktur

kepengurusan 19 Jadwal menghafal

al-Qur’an

Dokumentasi Dokumen jadwal

kegiatan santri

20 Tata tertib/sanksi Dokumentasi Dokumen tata

(24)

13

LANDASAN TEORI TENTANG MOTIVASI SANTRI DALAM MENGHAFAL AL-QUR’AN

A. Motivasi

1. Pengertian Motivasi

Motivasi berasal dari bahasa latin “movere” yang berarti “menggerakkan” yaitu suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu yang member arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut.1

Arthur S.Reber dan Emily mengatakan bahwa motivasi (motivation) merupakan sebuah pemberi energi perilaku.2 Istilah motivasi dapat definisikan sebagai keadaan internal individu yang melahirkan kekuatan, kegairahan, dinamika dan tingkah laku pada tujuan. Atau dalam pengertian lain, motivasi merupakan istilah yang digunakan untuk menunjuk sejumlah dorongan, keinginan, kebutuhan dan kekuatan.3 Mc. Clelland mendefinisikan motivasi sebagai :

“The redintegration by a cue of a change in an affective situation”. Dalam konteks ini redintegration membulatkan kembali proses psikologi dalam kesadaran sebagai akibat adanya rangsangan suatu peristiwa di dalam lingkungannya. Cue merupakan penyebab tergugahnya afeksi dalam diri individu. Affective situation (disebut juga affective situation), asumsi Mc.Clelland bahwa setiap orang memiliki situasi afeksi yang merupakan dasar semua situasi motif.4

1

Prasetya Irawan dkk, Teori Belajar, Motivasi dan Ketrampilan Mengajar, (Jakarta:PAU-PPAI, 1996), hlm. 42.

2

Arthur S.Reber dan Emily S.Reber, Kamus Psikologi, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 596

3

Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta:PT Bumi Aksara,2008), Cet. II, hlm. 107.

4

(25)

Sedangkan motivasi menurut S.Nasution dalam buku Ramayulis adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga anak itu mau melakukan apa yang dapat dilakukannya.5

Dari beberapa definisi diatas, penulis dapat mengemukakan bahwa motivasi adalah daya (kekuatan) yang mendorong seseorang (baik dari dalam ataupun dari luar) melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

2. Jenis Motivasi Dan faktor Penyebab Munculnya Motivasi

Dorongan atau motivasi memiliki makna yang sangat besar dalam belajar. Apabila terdapat motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan tertentu dan kondisi memungkinkan, orang akan berusaha sekuat tenaga untuk mempelajari cara-cara yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut.6 Menghafal Al-Qur’an pun banyak ditentukan oleh motivasi, makin tepat motivasi yang diberikan akan semakin berhasil pembelajaran tersebut. Karena motivasi menentukan intensitas usaha seseorang dalam menghafal al-Qur’an. Dengan kata lain seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam menghafal al-Qur’an, tidak mungkin melakukan aktifitas al-Qur’an dengan baik.

a. Jenis Motivasi

1) Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsik adalah penghargaan internal yang dirasakan seseorang jika mengerjakan tugas.7 Atau perbuatan individu yang benar-benar didasari oleh suatu dorongan (motif) yang tidak dipengaruhi dari lingkungan.8 Apabila seseorang memiliki motivasi tersebut dalam dirinya maka ia akan sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya.

5

Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2005) Cet. IV, hlm. 117.

6

Muhammad Utsman Najati, “Al-Qur’an Wa Ilm Nafsi”, terj. Amirussodiq dkk,

Psikologi Qur’ani , (Surakarta: Aulia Press, Solo, 2008), hlm.198.

7

M. Ghufron dan Rini Risnawati S, Teori-Teori Psikologi, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), hlm.84.

8

Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya, (Jakarta: PT bumi Aksara, 2008), Cet.IV, hlm 33

(26)

15

Dalam menghafal al-Qur’an, motivasi intrinsic sangat diperlukan terutama untuk mendisiplinkan dirinya dalam menghafal ataupun mengulang hafalannya sendiri.

Jadi seseorang yang tidak memiliki motivasi intrinsik sulit sekali melakukan aktivitas belajar terus-menerus. Karena seseorang yang memiliki motivasi tersebut selalu ingin maju dalam belajar. Keinginan itu dilatarbelakangi oleh pemikiran yang positif, bahwa materi yang dipelajari sekarang akan dibutuhkan dan berguna kini dan dimasa yang akan datang.9 Begitu pula motivasi pada diri seseorang yang menghafal al-Qur’an, untuk menjaga hafalannya yang akan dibutuhkan dan berguna kini maupun dimasa yang dating. Diantara hal-hal yang termasuk motivasi intrinsik adalah alas an, minat, kemauan, perhatian, sikap.

a) Alasan

Alasan adalah yang menjadi pendorong (untuk berbuat).10 Alasan juga berarti kondisi psikologis yang mendorong untuk melakukan suatu pekerjaan. Jadi Alasan dalam menghafal Al-Qur’an adalah kondisi psikologis seseorang yang mendorong untuk melakukan aktivitas menghafal. Seorang santri akan berhasil dalam menghafal al-Qur’an apabila di dalam dirinya terdapat alasan positif atau dorongan kuat untuk menghafal. b) Minat Atau Kemauan

Minat adalah rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin basar minatnya.11 Minat merupakan kecenderungan jiwa seseorang terhadap suatu hal, karena ia

9

Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm.150.

10

Tim Penyusun kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), Cet.III, hlm.27.

11

(27)

merasa mempunyai kepentingan (hubungan) dengan hal tersebut. Begitu pula dengan menghafal al-Qur’an, tidak akan berhasil jika tidak disertai dengan minat.

Hadist Nabi:

ﻋ

ﻦ

ﻋ

ﻤ

ﺮ

ﺑﹺﻦ

ﹾﻟﺍ

ﺨ

ﱠﻄ

ﹺﺏﺎ

ﺭ

ﺿ

ﻲ

ُ ﷲﺍ

ﻋﻨ

ﻪ

ﹶﺎﻗ

ﹶﻝ

ﺳ

ﻤ

ﻌ

ﺖ

ﺭ

ﺳ

ﻮ

ﹶﻝ

ِﷲﺍ

ﺻ

ﱠﻠ

ﷲﺍ ﻰ

ﻋﹶﻠ

ﻴﻪ

ﻭ

ﺳ

ﱠﻠﻢ

ﻳ

ﹸﻘﻮ

ﹸﻝ

ﹺﺇﻧ

ﻤ

ﹾﺍ ﺎ

َﻷ

ﻋ

ﻤ

ﹸﻝﺎ

ﹺﺑ

ﹺﻨﻟﺎ

ﻴ

ﺕﺎ

١٢

“Diriwayatkan dari Umar ibnu Khaththab bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya”(HR Bukhari )13

Niat dalam hadist di atas tidak bisa disamakan dengan motivasi dalam kajian psikologi. Niat adalah bagian dari perilaku atau permulaan dari perilaku. Sedangkan motivasi adalah kebutuhan yang muncul sebagai bentuk implikasi dari adanya niat, yang lalu menuntut pemikiran atas suatu pekerjaan dan merealisasikannya.14

Dengan adanya niat maka motivasi dalam menghafalkan al-Qur’an akan terbentuk, karena niat sudah tertanam dalam hati dan jiwa santri. Jika minat itu ada pada diri santri kemungkinan basar dalam proses menghafal al-Qur’an akan berhasil. Akan tetapi sebaliknya jika minat itu tidak ada dalam diri peserta didik kemungkinan keberhasilan dalam menghafal Qur’an sangat kecil. Karena dalam menghafal al-Qur’an diperlukan minat yang besar untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

c) Perhatian

Perhatian merupakan hal terpenting di dalam menghafal al-Qur’an. Akan berhasil atau tidaknya proses menghafal,

12Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari, Matan al-Bukhari, (Libanon : Darul Fikr, t.th) Juz.4., hlm. 158.

13 Muhammad Ustman Najati, op.cit., hlm.654

14. Ibid.

(28)

17

perhatian akan turut menentukan. Disamping factor lain yang mempengaruhinya.

Menurut Sumadi suryabrata perhatian adalah “pemusatan psikis tertuju pada suatu objek”.15 Berdasar pengertian tersebut bahwa perhatian adalah pemusatan suatu aktivitas jiwa yang disertai kesadaran dan perasaan tertarik pada suatu objek, berarti dalam setiap melakukan usaha diperlukan adanya perhatian, agar usaha tersebut dapat berjalan dengan baik.

d) Sikap

Sikap adalah suatu kesiapan mental atau emosional dalam beberapa jenis tindakan pada situasi yang tepat.16 Sikap belajar ikut menentukan intensitas kegiatan belajar. Sikap belajar yang positif akan menimbulkan intensitas kegiatan yang lebih tinggi disbanding dengan sikap belajar yang negatif. Peranan sikap bukan saja ikut menentukan apa yang dilihat seseorang, bagaimana ia melihatnya.17

Sikap akan membawa pengaruh yang penting terhadap diri seseorang sebagai penyebab atau hasil dari kelakuan. Sikap belajar yang positif berwujud adanya ketertarikan diri santri dalam menghafalkan al-Qur’an. Sikap belajar negative ditunjukkan dengan malasnya dalam menghafal dan mengulang hafalannya. Sikap merupakan kemampuan internal yang berperan sekali dalam mengambil tindakan, terlebih jika terdapat kesempatan untuk bertindak. Orang yang memiliki sikap ikhlas mampu untuk memilih secara tegas diantara beberapa kemungkinan yang akhirnya akan mencapai keberhasilan.

15

Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta :Rajawali Pers, 2010), hlm.14.

16

Djaali, op.cit., hlm. 114.

17

(29)

2) Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik pada dasarnya merupakan tingkah laku yang digerakkan oleh kekuatan eksternal individu.18 Motivasi ekstrinsik merupakan daya penggerak yang dapat menambah kekuatan dalam menghafal al-Qur’an, sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Motivasi ekstrinsik meliputi :

a) Orang tua

Keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama. Dalam keluarga dimana anak akan di asuh dan dibesarkan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangannya. Tingkat pendidikan orang tua juga besar pengaruhnya terhadap perkembangan rohaniah anak terutama kepribadian dan kemajuan pendidikan.19

Anak yang dibesarkan dalam lingkungan orangtua yang tahu tentang pendidikan agama dapat member pengaruh besar terhadap anaknya dalam bidang tersebut seperti memberikan arahan untuk mempelajari ten tang al-Qur’an ataupun pendidikan sesuai dengan keinginan orangtua.

b) Guru

Guru memiliki peranan yang sangat unik dan sangat komplek di dalam proses belajar-mengajar, dalam mengantarkan siswa kepada taraf yang dicita-citakan. Oleh karena itu setiap rencana kegiatan guru harus dapat didudukkan dan dibenarkan semata-mata demi kepentingan peserta didik, sesuai dengan profesi dan tanggungjawabnya.20 Guru dalam melaksanakan pembelajaran tidak hanya di sekolah formal, tetapi dapat juga di masjid, rumah ataupun pondok pesantren.

18

M.Ghufron dan Rini Risnawati, loc.cit.

19

M.Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm.130.

20

Sardiman A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: CV Rajawali, 1992), Cet.IV hlm.123.

(30)

19

Dalam hal ini seorang santri termotivasi untuk menghafalkan al-Qur’an dapat ditopang oleh arahan dan bimbingan seorang guru sebagai motivator.

c) Teman atau sahabat

Teman merupakan partner dalam belajar. Keberadaannya sangat diperlukan menumbuh dan membangkitkan motivasi. Seperti melalui kompetisi yang sehat dan baik, sebab saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Baik persaingan individual ataupun kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.21

Terkadang seorang anak lebih termotivasi untuk melakukan suatu kegiatan seperti menghafalkan al-Qur’an karena meniru ataupun menginginkan seperti apa yang dilakukan temannya.

d) Masyarakat

Masyarakat adalah lingkungan tempat tinggal anak. Mereka juga termasuk teman-teman diluar sekolah. Disamping itu kondisi orang-orang desa atau kota tempat ia tinggal juga turut mempengaruhi perkembangan jiwanya.22

Anak-anak yang tumbuh berkembang didaerah masyarakat yang kental akan agamanya dapat mempengaruhi pola pikir seorang anak untuk menghafalkan al-Qur’an sesuai dengan lingkungan masyarakatnya.

Semua perbedaan sikap dan pola pikir pada anak merupakan salah satu akibat pengaruh dari lingkungan masyarakat dimana mereka tinggal.

b. Penyebab Munculnya Motivasi

Sebuah motivasi merupakan suatu kondisi yang terbentuk dari berbagai tenaga pendorong yang berupa desakan, motif, kebutuhan dan

21

Ibid., hlm. 92.

22

(31)

keinginan. Untuk menyederhanakan pembahasan keempat macam tenaga pendorong tersebut akan disebut dengan satu istilah yang umum yaitu motif.23

Kebutuhan atau motif adalah satu definisi keniscayaan yang menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam diri manusia baik disebabkan oleh cacat materi ataupun non materi.24 Kebutuhan menyebabkan adanya dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu menuju ke arah tercapainya suatu tujuan. Ketika seseorang memiliki kebutuhan dan dorongan kuat untuk mencapai suatu tujuan, maka keberhasilan mencapai tujuan yang dapat memuaskan kebutuhannya.

Dalam hal menghafalkan al-Qur’an, Para santri menganggap bahwa menghafalkan al-Qur’an merupakan suatu kebutuhan untuk dirinya sendiri. Kebutuhan tersebut dapat berasal dari iming-iming pahala bagi orang yang menghafalkan al-Qur’an, dan mengharap rahmat Allah. Hingga mereka termotivasi untuk menunaikan ibadah menghafalkan al-Qur’an. Sesuai dengan permasalahan motivasi santri dalam menghafalkan al-Qur’an. Berikut akan dipaparkan motif yang berkaitan dengan hal tersebut:

1) Motif Prestasi

Motif berprestasi (need of achievement) yaitu motif yang berkompetisi baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi.25 Motif berprestasi dalam menghafalkan al-Qur’an dapat berbentuk melalui belajar dalam lingkungannya. Misalnya, lingkungan keluarga, tuntutan orang tua atau lingkungan kultur tempat seseorang dibesarkan. Lingkungan tersebut dijadikan sebagai acuan bagi seorang santri dalam menghafal al-Qur’an ataupun dalam belajar lain.

23

Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologis Proses Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), Cet.V ,hlm.64.

24

Muhammad Utsman Najati, op.cit., hlm. 655.

25

(32)

21

2) Motif Penghargaan(Motif harga diri)

Motif harga diri yaitu motif untuk mendapat pengenalan, Pengakuan, penghargaan dan penghormatan dari orang lain.26Dalam masa pendidikannya individu mendapatkan penghargaan dari orang lain dan diterima dalam lingkungannya. Kebutuhannya akan harga diri memotivasi seseorang untuk bisa bersaing dan melakukan segala sesuatu dengan professional.

Kaitan dengan menghafal al-Qur’an, akan sangat baik jika seseorang santri melakukan hal tersebut untuk memperoleh ridho Allah meskipun disisi lain juga berimplikasi pada penghargaan, pujian, penghormatan atas dirinya terhadap sesama.

3) Motif Aktualisasi Diri

Dalam hierarki Maslow, kebutuhan ini ditempatkan paling atas dan berkaitan dengan keinginan pemenuhan diri. Ketika semua kebutuhan lain sudah dipuaskan, seseorang ingin mencapai secara penuh potensinya.27Potensi yang dimiliki seseorang perlu diaktualisasikan dalam berbagai bentuk sifat, kemampuan dan kecakapan nyata. Melalui berbagai upaya belajar dan pengalaman individu berusaha mengaktualisasikan semua potensi yang dimiliki.28

Sejak lahir manusia memiliki potensi, yang dapat diaktualisasikan pada lingkungan yang kondusif. Seperti seorang anak yang dari kecil memiliki potensi yang unggul dalam membaca al-Qur’an dan ingin mengembangkan kemampuan dan kecakapan yang secara nyata dimiliki dengan menghafalkan al-Qur’an bahkan dapat termotivasi untuk mempelajari al-Qur’an pada taraf yang lebih tinggi.

26

Ibid., hlm. 68.

27

Hamzah B.Uno, op.cit., hlm. 42.

28

(33)

3. Indikator Motivasi

Motivasi belajar adalah daya penggerak dari dalam individu untuk melakukan kegiatan belajar untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan serta pengalaman. Motivasi ini tumbuh karena ada keinginan untuk bisa mengetahui dan memahami sesuatu yang mendorong serta mengarahkan minat belajar siswa sehingga sungguh-sungguh belajar dan bermotivasi untuk mencapai prestasi. Motivasi belajar bisa tumbuh karena faktor intrinsik atau faktor dari dalam diri manusia yang disebabkan oleh dorongan atau kebutuhan belajar, harapan dan cita-cita. Faktor ekstrinsik juga mempengaruhi dalam motivasi belajar. Faktor tersebut dapat berupa adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif dan kegiatan belajar yang menarik.

Hakikat dari motivasi belajar adalah dorongan yang berasal dari dalam dan dari luar diri siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan pada tingkah laku pada umumnya dan keinginan untuk belajar lebih semangat lagi. Indikator motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut:

a. Adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil dalam belajar b. Adanya keinginan, semangat dan kebutuhan dalam belajar c. Memiliki harapan dan cita-cita masa depan

d. Adanya pemberian penghargaan dalam proses belajar e. Adanya lingkungan yang kondusif untuk belajar yang baik

Menurut Martin Handoko untuk mengetahui kekuatan belajar siswa, dapat di lihat dari beberapa indikator sebagai berikut:

a. Kuatnya kemauan untuk berbuat

b. Jumlah waktu yang di sediakan untuk belajar c. Kerelaan meninggalkan kewajiban atau tugas lain d. Ketekunan dalam mengerjakan tugas

Sedangkan menurut Sardiman A.M. indikator motivasi belajar yaitu: a. Tekun menghadapi tugas

(34)

23

c. Lebih senang bekerja mandiri d. Cepat bosan pada tugas-tugas rutin e. Dapat mempertahankan pendapatnya

Apabila seseorang memiliki indikator tersebut berarti seseorang itu memiliki motivasi yang tinggi. Kegiatan belajar akan berhasil baik kalau siswa tekun mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan berbagai masalah dan hambatan secara mandiri, serta yang belajar dengan baik tidak akan terjebak pada sesuatu yang rutinitas.

Begitu pula motivasi santri dalam menghafal Al-Qur’an, santri yang memiliki indikator seperti : kuatnya kemauan untuk menghafal, tekun (istiqomah) dalam menghafal, ulet dalam menghadapi hambatan, kerelaan meninggalkan tugas yang tidak mendukung dalam menghafal, ketekunan dalam mengulang (memuraja’ah) hafalannya.29

4. Fungsi Motivasi

Menurut Sardiman A.M, fungsi motivasi meliputi :

a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

b. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

c. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak melakukan kegiatan selain belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab ia tidak serasi dengan tujuan.

29 http : //teori pembelajaran. blogspot. com / 2008/ 09/ meningkatkan- motivasi –

(35)

Disamping itu, motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik.30

Sedangkan menurut Nana Syaodih Sukmadinata motivasi memiliki dua fungsi :

1) Mengarahkan ( directional function)

Dalam mengarahkan kegiatan, motivasi berperan mendekatkan atau menjauhkan individu dari sasaran yang akan dicapai. Apabila sesuatu sasaran atau tujuan merupakan sesuatu yang diinginkan oleh individu, maka motivasi berperan mendekatkan dan bila sasaran tidak diinginkan oleh individu maka motivasi berperan menjauhi sasaran. Karena motivasi berkenaan dengan kondisi yang cukup komplek, maka motivasi dapat berperan mendekatkan sekaligus menjauhkan sasaran. 2) Mengaktifkan dan meningkatkan kegiatan (Activating and energizing

function)

Motivasi juga dapat berfungsi mengaktifkan atau meningkatkan kegiatan. Suatu perbuatan atau kegiatan yang tidak bermotif atau motifnya sangat lemah, akan dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh, tidak terarah dan kemungkinan besar tidak akan membawa hasil. Sebaliknya apabila motivasinya besar atau kuat, maka akan dilakukan dengan sungguh-sungguh, terarah, dan penuh semangat, sehingga kemungkinan akan keberhasilannya lebih besar.31

Dari beberapa fungsi yang telah dipaparkan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa motivasi dapat mendorong, mengarahkan, mengaktifkan, atau meningkatkan kegiatan bagi santri yang menghafalkan al-Qur’an untuk mencapai tujuannya.

30

Sardiman A.M.op.cit., hlm.85.

31

(36)

25

B. Santri

1. Pengertian Santri

Asal-usul kata santri dalam pandangan Nurcholis Madjid dapat dilihat dari dua pendapat. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa “santri” berasal dari perkataan “sastri” sebuah kata dari bahasa sansekerta yang artinya “melek huruf”. Pendapat ini menurut Nurcholis Madjid agaknya didasarkan atas kaum santri adalah kelas literary bagi orang jawa yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertulisan dengan bahasa arab. Kedua pendapat yang mengatakan bahwa perkataan santri sesungguhnya berasal dari bahasa Jawa dari kata “cantrik” berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru itu pergi menetap.32

Menurut Amien Haedari mengatakan bahwa santri adalah siswa atau murid yang belajar di pesantren.33

2. Karakteristik santri

Pada umumnya santri terbagi dalam dua kategori yaitu: a. Kategori santri mukim

Yaitu murid-murid yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap di pesantren. Santri mukim yang paling lama dan menetap di pesantren. Santri mukim yang paling lama tinggal (santri senior) di pesantren tersebut biasanya merupakan satu kelompok tersendiri yang memegang tanggungjawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari. Santri senior juga memikul tanggungjawab mengajar santri-santri yunior tentang kitab dasar dan menengah.

b. Kategori santri kalong

Yaitu para santri atau siswa yang berasal dari desa-desa sekitar pesantren. Mereka bolak-balik (nglajo) dari rumahnya sendiri. Para santri kalong berangkat ke pesantren ketika ada tugas belajar dan aktivitas belajar lainnya.

32

Yasmadi, Modernisasi Pesantren, (Ciputat: Quantum Teaching, 2005), hlm.61-62

33

(37)

Apabila di pesantren memiliki lebih banyak santri mukim daripada santri kalong, maka pesantren tersebut adalah pesantren besar. Sebaliknya pesantren kecil memiliki lebih banyak santri kalong daripada santri mukim.

Seorang santri lebih memilih menetap di suatu pesantren karena tiga alasan yaitu : berkeinginan mempelajari kitab-kitab lain yang membahas islam secara mendalam langsung dibawah bimbingan seorang santri yang memimpin pesantren tersebut; berkeinginan memperoleh pengalaman kehidupan pesantren baik dalam bidang pengajaran, keorganisasian, maupun hubungan dengan pesantren-pesantren lain ;berkeinginan memusatkan perhatian studi di pesantren-pesantren tanpa harus disibukkan dengan kewajiban sehari-hari di rumah.34

Sedangkan santri yang dimaksud oleh penulis dalam penelitian ini adalah santri yang mukim dan menghafalkan al-Qur’an di Pondok pesantren Tahafudzul Qur’an Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun 2011.

C. Menghafal Al-Qur’an

1. Pengertian Menghafal Al-Qur’an

Menghafal Al-Qur’an adalah membaca berulang-ulang sehingga menghafal dari satu ayat ke ayat berikutnya, dari satu surat kesurat lainnya dan begitu seterusnya sehingga genap tiga puluh juz. 35

Menurut Ahmad Salim Badwilan dalam menghafal Al-Qur’an mengharuskan pembacaan yang berulang-ulang, dan penguatan hafalan membutuhkan pengulangan yang terus-menerus.36

Jadi menghafalkan Qur’an adalah melafadzkan ayat-ayat Al-Qur’an tanpa melihat tulisan dan berusaha meresapkan kedalam pikiran agar selalu ingat.

34

Ibid., hlm. 35-36

35 Zaki Zamani dan M. Syukron Maksum, Menghafal Al-Qur’an itu gampang, (Yogyakarta :Mutiara Madia, 2009), hlm. 20-21

36 Ahmad Salim Badwilan, Panduan Cepat Menghafal Al-Qur’an, (Jogjakarta : Diva Press, 2009 ), hlm. 20

(38)

27

2. Dasar dan Tujuan Menghafal Al-Qur’an

Menghafal al-Qur’an merupakan suatu sikap dan aktivitas yang mulia, dengan mengagungkan al-Qur’an dalam bentuk menjaga serta melestarikan semua keaslian al-Qur’an baik dari tulisan maupun pada bacaan dan menghafal nya, sikap dan aktifitas tersebut dilakukan dengan dasar dan tujuan sebagai berikut:

a. Dasar Menghafal Al-Qur’an

Menghafal al-Qur’an hukumnya adalah “fardhu kifayah”. Apabila sebagian orang melakukannya, maka gugurlah dosa dari yang lain.37 Artinya apabila ada sejumlah orang yang menghafalkan al-Qur’an maka gugurlah kewajiban tersebut dari yang lainnya.

Rasulullah saw adalah seorang hafidz pertama, imam para ahli qiro’ah, dan suri tauladan orang-orang muslim. Oleh karena Rasulullah memberikan contoh dalam sikap beliau dengan wujud menghafalkan al-Qur’an, maka menghafalkan al-Qur’an yang dilakukan oleh umat rasulullah baik sejak beliau masih hidup maupun sampai sekarang, juga merupakan sunnah yang beliau. Dan Allah memudahkan Al-Qur’an untuk dihafal sebagaimana firmannya:

ô‰s)s9uρ

$tΡ÷Žœ£o„

tβ#uöà)ø9$#

̍ø.Ïe%#Ï9

ö≅yγsù

ÏΒ

9Ï.£‰•Β

∩⊂⊄∪

dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran? (Q.S.Al-Qamar :32)38

b. Tujuan Menghafal Al-Qur’an

Pemeliharaan dan penghafalan al-Qur’an yang dilakukan kaum muslimin pada dasarnya dilatarbelakangi oleh beberapa tujuan, yang diantaranya adalah:

1) Agar tidak terjadi pergantian atau pengubahan pada al-Qur’an baik dari redaksinya (yaitu ayat-ayat dan suratnya) maupun pada bacaannya. Sehingga al-Qur’an tetap terjamin seperti segala isinya

37 Ibid., hlm.23.

38

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta :Depag RI, 1995), hlm.881.

(39)

sebagaimana ketika diturunkan Allah dan diajarkan oleh rasulullah kepada umatnya.

2) Agar dalam pembacaan al-Qur’an yang diikuti dan dibaca kaum muslimin tetap satu arahan yang jelas sesuai standar yaitu mengikuti qiraat mutawatir.39 Yaitu mereka yang telah menerima periwayatan yang jelas dan lengkap yang termasuk dalam qiraah sab’ah.

3) Agar kaum muslimin yang sedang menghafal Al-Qur’an atau yang telah hafidz (penghafal Al-Qur’an) berakhlak dengan akhlak al-Qur’an, seperti halnya nabi Muhammad saw.40

3. Faktor Pendukung dan Penghambat Menghafal Al-Qur’an

Terdapat beberapa hal yang dapat membantu dalam menghafal al-Qur’an yaitu:

a) Pena

Pena merupakan alat yang dapat membantu hafalan yang dapat dipergunakan untuk mencatat dan member tanda pada ayat-ayat atau kalimat-kalimat yang memiliki kemiripan atau kesamaan antara yang satu dengan yang lainnya (al-ayaat al-mutasybihat)

b) Simaan

Simaan yang dimaksud disini adalah saling memperdengarkan dan memperdengarkan bacaan antara dua orang atau lebih. Jika yang lain membaca (memperdengarkan) maka yang lainnya akan mendengarkan dan ini bergantian seterusnya hingga setiap orang mendapat kesempatan membaca.

c) Bahasa Arab

Bahasa arab merupakan bahasa al-Qur’an. Tentunya pemahaman terhadap bahasa arab tersebut sangat membantu dalam menghafal yaitu dengan pemahaman arti ayat yang dibaca. Namun hal

39

Howard M. Federsipel, “Popular Indonesian Literature of the Qur’an” terj. Kajian

Al-Qur’an di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1996)hlm.200.

40

Yusuf Qardhawi, Berinteraksi dengan Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), hlm.203.

(40)

29

ini baru merupakan anjuran karena tidak semua orang dapat memahami semua ayat-ayat yang dibaca atau dihafal.

d) Usia

Kemampuan menghafal seorang manusia sangat beragam dan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Umur menjadi hal yang sering dibicarakan bagi orang yang akan menghafal al-Qur’an. Semakin tinggi usia seseorang maka akan semakin menurun daya kemampuannya dalam menghafal. Sedangkan usia emas bagi penghafal al-Qur’an adalah pada usia memasuki jenjang sekolah dasar. Pada usia tersebut kemampuan menghafal al-Qur’an lebih mudah. Akan tetapi selain hal tersebut yang lebih penting adalah motivasi seseorang dalam menghafal al-Qur’an.

e) Inteligensi (Kecerdasan)

Intelegensi merupakan bawaan sejak lahir dan berbeda-beda bagi setiap orang. Semakin tinggi tingkat kecerdasan seseorang semakin mudah untuk menghafal al-Qur’an. Namun hal tersebut bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi dalam menghafal al-Qur’an. Karena dalam menghafalkan al-Qur’an juga dibutuhkan kesungguhan bagi orang yang menghafal.

f) Lingkungan

Sebagai manusia salah satunya adalah merupakan makhluk sosial. Kita tidak bisa memungkiri bahwa lingkungan mempunyai peranan penting dalam pembentukan kebiasaan dan kepribadian seseorang.

Dalam hal menghafal al-Qur’an pun hal tersebut patut menjadi perhatian. Supaya seseorang dapat membuat lingkungan menjadi kondusif, baik untuk menghafal ataupun muraja’ah al-Qur’an.41

Sedangkan beberapa penghambat dalam menghafal Al-Qur’an meliputi:

41

(41)

1) Malas, Tidak Sabar, dan Berputus asa

Malas adalah kesahan yang sering terjadi. Tidak terkecuali dalam menghafal al-Qur’an. Karena setiap hari harus bergelut dengan rutinitas yang sama, tidak aneh jika suatu ketika seseorang dilanda kebosanan.

Malas juga dapat timbul dari energi positif yang tidak disalurkan dengan baik. Energi tersebut adalah izzah atau keinginan dalam hati. Karena tidak dikelola dengan baik izzah tersebut menjadi sifat terburu-buru dan tidak sabar. Seperti seseorang yang ingin menghafal banyak ayat dengan waktu yang terlalu singkat sehingga hasilnya tidak maksimal.

2) Tidak Bisa Mengatur Waktu

Dalam sehari terdapat dua puluh empat jam yang berlaku bagi setiap orang. Kaitan dengan menghafal al-Qur’an, waktu yang telah ditentukan tersebut harus optimal. Seorang penghafal al-Qur’an dituntut untuk lebih pandai mengatur waktu dalam menggunakannya, baik untuk urusan dunia terlebih hafalannya. Meskipun terdapat banyak kesibukan, akan tetapi yang terpenting adalah keahliannya dalam mengatur waktu bagi hafalannya. Apabila hal tersebut tidak dapat dilaksanakan, orang tersebut akan melalaikan kewajibannya dalam menghafal al-Qur’an.

3) Sering Lupa

Sebagian orang penghafal al-Qur’an mengatakan bahwa hafalan yang telah dihafal cepat hilang. Lupa dalam hafalan bukan sesuatu yang mengherankan. Akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita terus berusaha menjaga hafalan yang diperoleh dengan cara muraja’ah, metode yang tepat bagi masing-masing penghafal dan mencurahkan segala kemampuan untuk menghafal.42

42

(42)

31

4. Strategi Menghafal Al-Qur’an

Strategi atau cara menghafal al-Qur’an pada dasarnya yang terpenting adalah adanya motivasi dan minat santri serta keaktifan santri dalam mentakrir hafalannya.

Ada beberapa strategi yang digunakan dalam menghafal al-Qur’an yaitu :

a. Memilih waktu yang tepat dalam menghafal al-Qur’an

Memilih waktu yang tepat merupakan faktor yang sangat penting dalam mengajarkan materi.43 Ataupun dalam menghafal Qur’an. Ada beberapa waktu yang dianggap baik untuk menghafal al-Qur’an antara lain: waktu sebelum dating isya, setelah shalat subuh, dan waktu diantara shalat maghrib dan isya. Disamping itu, ada penelitian ilmiah yang menguatkan bahwa waktu tengah hari juga merupakan konsentrasi yang paling utama, tetapi sebagian besar ulama cenderung pada dua waktu pertama dan kedua.44 Akan tetapi jika para penghafal al-Qur’an memiliki banyak kesibukan, maka waktu yang tepat adalah disesuaikan dengan kondisi masing-masing penghafal. b. Menggunakan media mutakhir dalam menghafal al-Qur’an

Menghafal al-Qur’an bukan merupakan hal yang mudah. Sebagian orang yang sedang menghafal al-Qur’an suatu saat dapat menemui kebosanan. Hal tersebut dapat diantisipasi dengan melakukan variasi dalam menggunakan sarana pendidikan, sekaligus berupaya terus memperbarui sarana sesuai karakteristik anak.45Atau penghafal. Diantara sarana yang digunakan yaitu mendengarkan kaset, menonton contoh proses menghafal dengan video, atau komputer dll.

43

Sa’d Riyadh, Agar Anak Mencintai dan Hafal Al-Qur’an, (Bandung: Irsyadul Baitus Salam, 2007), hlm.43.

44

Ahmad Salim Badwilan, op.cit., hlm.35.

45

(43)

c. Menentukan Ukuran Hafalan Harian

Menghadirkan sejenis komitmen harian bagi orang yang menghafal al-Qur’an dianggap mampu mempermudah dalam menghafal. Dalam hal ini seorang penghafal al-Qur’an harus menentukan jumlah ayat yang harus dihafal setiap harinya, dalam satu atau dua halaman.46 Penentuan tersebut tentu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Akan tetapi hal ini harus dilakukan secara rutin hingga memperoleh tambahan setiap harinya.

d. Memperkuat hafalan yang diperoleh sebelum pindah pada halaman yang lain

Seseorang yang mulai menghafal al-Qur’an tidak sepantasnya berpindah pada hafalan baru sebelum memperkuat hafalan yang telah ia lakukan sebelumnya secara sempurna. Salah satu hal yang dapat membantu memecahkan masalah ini adalah mengulang hafalan tersebut disetiap ada waktu longgar, kapanpun itu, seperti pengulangan hafalan diwaktu di waktu shalat wajib dan sunnah, waktu menunggu shalat dll. Semua itu akan membantu memperkuat hafalan yang telah dilakukan.

e. Menggunakan satu mushaf

Manusia menghafal dengan melihat sama halnya menghafal dengan mendengar. Posisi-posisi ayat dalam mushaf akan tergambar dalam bentuk penghafal, sebab seringnya membaca dan melihat pada mushaf. Oleh karena itu jika seorang penghafal ada yang mengganti mushafnya, maka hal itu bisa menyebabkan kekacauan pikiran. Berpegang pada satu mushaf saja adalah satu hal paling baik. Untuk itu, mushaf yang paling diutamakan adalah mushaf penghafal yang halaman-halamannya dimulai dan akhiri dengan ayat.

46

Figur

Tabel Nama Santri Pondok Pesantren Tahaffudzul Qur’an Tahun 2011  No.  Nama Santri  No

Tabel Nama

Santri Pondok Pesantren Tahaffudzul Qur’an Tahun 2011 No. Nama Santri No p.51
Tabel Jadwal Kegiatan Santri Di Pondok Pesantren Tahafudzul Qur’an  Tahun 2011

Tabel Jadwal

Kegiatan Santri Di Pondok Pesantren Tahafudzul Qur’an Tahun 2011 p.52

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :
Outline : Penutup