• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI STERILITAS. Marlia Singgih Wibowo School of Pharmacy ITB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UJI STERILITAS. Marlia Singgih Wibowo School of Pharmacy ITB"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

UJI STERILITAS

Marlia Singgih Wibowo

School of Pharmacy ITB

(2)

Pembuatan produk farmasi

steril >>> perlu diuji sterilitas

(3)

Tujuan uji sterilitas:

Untuk menetapkan apakah bahan

farmakope yang harus steril

memenuhi syarat berkenaan dengan

uji sterilitas seperti yang tertera pada

masing-masing monografi

(4)

|

UJI STERILITAS

(FARMAKOPE INDONESIA IV/1995)

|

GUIDELINES FOR STERILITY TESTING OF

THERAPEUTIC GOODS (THERAPEUTIC

GOODS ADMINISTRATION/ TGA 2006)

(5)

Suatu produk dikatakan

STERIL

|

Bila memenuhi persyaratan dalam uji

sterilitas

|

Kemungkinan hasil positif dapat terjadi

karena teknik yang salah atau

kontaminasi lingkungan pada waktu

pengujian.

(6)

Mikroba yang Digunakan:

(1) Bacillus subtilis (ATCC No. 6633)

(2) Candida albicans (ATCC No. 10321) (3) Bacteroides vulgatus (ATCC No. 8482)

(7)

PRECAUTIONS AGAINST MICROBIAL

CONTAMINATION

| Tests for sterility are to be carried out by

trained personnel

| Conducted in a

clean-room environment

the standard of

clean-room

| Personnel should wear

sterilized over-garments

| All equipment may come into contact in the course of the testing

should be sterilized prior to use.

| All substances added to the goods tested, should be sterilized prior to

use by heat

| All vessels, substances or outer clothing to be used should be

appropriately packaged or closed,

| The outer surfaces of all packages of equipment which are introduced

(8)

TEST METHODS VALIDATION

(TGA 2006)

Test method validation

z

Before tests for sterility for any product are initially

carried out, it is necessary to demonstrate the validity of

the test method used

z

Validation should mimic the test proper in every detail

z

Validation is to be performed when the test for sterility

has to be carried out on reformulated or new product

z

All validation procedures should be carried out by

personnel who are responsible for the routine testing of

the product

(9)

|

Jika terdapat kontaminasi mikroba dengan

menggunakan prosedur farmakope, maka

ditentukan bahwa bahan tersebut

tidak

memenuhi

syarat.

|

Jika terdapat kegagalan menunjukkan

adanya kontaminasi mikroba dengan

menggunakan prosedur dalam farmakope,

maka ditentukan bahwa bahan tersebut

memenuhi

syarat.

(10)

Media yang digunakan :

Media yang digunakan mempunyai sifat

merangsang pertumbuhan bagi mikroba

yaitu:

|

Fluid Thioglycolate Medium (FTM) dan / atau

Alternative Thioglycolate Medium (ATM)

|

Soybean-Casein Digest Medium (SCDM)

Cairan Pengencer dan pembilas :

ƒ Cairan A

ƒ Cairan D = Cairan A + 1mL polisorbat 80/L

ƒ Cairan K

(11)

MEDIA (FI IV/TGA 2006)

Medium 1 (Fluid Thioglycollate Medium) Pancreatic Digest of Casein  15.0 g Yeast Extract (water‐soluble)  5.0 g Glucose monohydrate/anhydrous  5.5 g/5.0 g Sodium chloride  2.5 g L‐Cystine 0.5 g Sodium thioglycollate 0.5 g 0.1% Resazurin Sodium Solution (freshly prepared)  1.0 mL Granulated Agar (moisture not more than 15%)  0.75 g Purified Water  1000 mL Polysorbate 80 (optional)  5.0 mL pH after sterilisation (measured at room temperature): 7.1± 0.2

(12)

MEDIA (FI IV)

Media Tioglikolat Alternatif (untuk alat yang

mempunyai lumen kecil)

:

|

Pancreatic Digest of Casein 

15.0 g

|

Yeast Extract (water‐soluble) 

5.0 g

|

Glucose monohydrate/anhydrous 

5.5 g/5.0 g

|

Sodium chloride 

2.5 g

|

L‐Cystine

0.5 g

|

Sodium thioglycollate

0.5 g

|

Purified Water 

1000 mL

|

pH after sterilization (measured at room temperature): 7.1± 

0.2

(13)

MEDIA (FI IV/TGA 2006)

Medium 2 (Soybean‐Casein Digest Medium)

|

Pancreatic Digest of Casein 

17.0 g

|

Papain Digest of Soybean Meal 

3.0 g

|

Glucose monohydrate/anhydrous 

2.5 g/2.3 g

|

Sodium chloride

5.0 g

|

Dipotassium hydrogen phosphate

2.5 g

|

Purified Water 

1000 mL

|

Polysorbate 80 (optional) 

5.0 mL

|

pH after sterilisation (measured at room temperature): 

7.3±0.2

(14)

Cairan A

|

1 gram jaringan hewan yg telah diuraikan

oleh enzim pepsin, dilarutkan dlm air smp 1

liter, saring atau sentrifuga, pH diatur 7,1

|

Jika akan digunakan untuk uji sediaan yang

mengandung senyawa

gol.penisilin/sefalosporin (beta laktam),

maka media tsb harus ditambahkan enzim

penisilinase utk proses inaktivasi

(15)

Cairan D

|

Adalah 1 L Cairan A + 1 mL Tween 80

|

Digunakan bila sediaan mengandung

lesitin, atau minyak

|

Atau utk uji peralatan steril dengan

(16)

Cairan K

|

Cairan yang mengandung Jaringan

hewan yg telah diuraikan oleh enzim

lambung (peptic digest), beef extract,

dan Tween 80

|

Semua cairan pembilas harus

(17)

Prosedur penambahan

penisilinase:

Tetapkan jumlah penisilinase yang diperlukan dengan menggunakan sediaan penisilinase yang sebelumnya telah diuji daya penginaktif penisilin atau sefalosporin atau tetapkan jumlah penisilinase yang diperlukan dengan menambahkannya ke dalam tabung FTM dan sejumlah antibiotik dalam spesimen uji

1. Inokulasi media dengan 1 ml pengenceran (1 : 1000) biakan 18 jam-24 jam Staphylococcus aureus (ATCC 29737) dalam FTM.

(18)

Pada saat tersebut harus teramati

pertumbuhan mikroba yang spesifik.

Lakukan uji konfirmasi di daerah yang

benar-benar terpisah dari tempat uji

(19)

Uji fertilitas

|

Tujuan?

|

Untuk memastikan bahwa media yang

digunakan dapat menumbuhkan

mikroba uji sampai waktu 7 hari

|

Dilakukan sebelum uji sterilitas thp

(20)

Uji Fertilitas

Tabel 1

Inkubasi Media Mikroba Uji

Suhu (oC) Kondisi Fluid Tioglikolat

Medium

(1) Bacillus subtilis (ATCC 6633)

(2) Candida albicans (ATCC10321) (3) Bacteroides vulgatus (ATCC8482) 30 – 35 30 – 35 30 – 35 Aerobik Tioglikolat alternative (1) Bacteroides vulgatus (ATCC8482) 30 – 35 Anaerobik Soybean – casein digest

(1) Bacillus subtilis (ATCC 6633) (2) Candida albicans (ATCC No.

10321)

20 – 25

20 – 25

(21)

Prosedur

|

Inokulasi duplo wadah tiap media secara

terpisah dengan 10 hingga 100 mikroba

viabel dari tiap galur pada tabel.

|

Media uji memenuhi syarat jika terjadi

pertumbuhan yang nyata dalam semua

wadah media yang diinokulasikan dalam

kurun waktu 7 hari.

(22)

METODE UJI STERILITAS

|

INOKULASI LANGSUNG KE DALAM

MEDIA UJI

(23)

Prosedur Inokulasi langsung:

¾

Uji aktivitas bakteriostatik dan Fungistatik

Prosedur:

1. Encerkan biakan bakteri dan jamur tidak kurang dari galur

mikroba seperti pada uji fertilitas.

2. Inokulasi media dengan uji sterilitas dengan 10 mikroba hingga

100 mikroba viabel, gunakan volume media seperti yang tertera dalam Tabel Jumlah untuk bahan cair pada pemilihan spesimen uji dan masa inkubasi.

3. Tambahkan sejumlah tertentu bahan ke dalam setengah dari

jumlah wadah yang mengandung inokulum dan media.

4. Inkubasi wadah pada suhu dan kondisi seperti yang tertera dalam

(24)

Jumlah untuk bahan cair

Volume minimum tiap media

Isi wadah (mL) Volume minimum diambil dari wadah untuk tiap media Digunakan untuk inokulasi langsung ke volume yang diambil dari tiap wadah (mL) Digunakan untuk membrane atau setengah bagian membrane yang mewakili volume total dari jumlah wadah yang sesuai (mL) Kurang dari 10 1mL, atau seluruh isi jika

kurang dari 1mL

15 100 20 (40 jika volume tiap wadah tidak cukup untuk kedua media) 10 sampai kurang dari

50

5mL 40 100 20 50 sampai kurang dari

100

10mL 80 100 20 50 sampai kurang dari

100 dimaksudkan untuk pemberian intravena

Seluruh isi - 100 20

100 sampai 500 Seluruh isi - 100 10 Di atas 500 500mL - 100 10

Jumlah wadah per media

(25)

Jika pertumbuhan mikroba uji dalam

campuran media bahan secara visual

sebanding dengan pertumbuhan dalam

tabung kontrol, gunakan jumlah bahan dan

media seperti yang tertera pada Tabel

jumlah untuk bahan cair dalam pemilihan

spesimen uji dan masa inkubasi.

(26)

Penetapan perbandingan bahan dan

media yang tidak merugikan pertumbuhan

mikroba uji.

Prosedur yang digunakan sama

dengan uji aktivitas bakteriostatik dan

fungistatik, tetapi digunakan sejumlah

tertentu bahan dan volume media yang

lebih besar.

(27)

Ketentuan Penambahan atau pengurangan

dalam menentukan perbandingan bahan dan

media

|

Jika sejumlah tertentu bahan dalam 250mL media

masih mempunyai daya bakteriostatik atau

fungistatik, kurangi jumlah bahan hingga diperoleh

jumlah maksimum yang tidak menghambat

pertumbuhan uji dalam 250mL media.

|

Untuk cairan dan suspensi yang jumlahnya kurang

dari 1mL, perbesar jumlah media hingga cukup untuk

mengencerkan dan mencegah hambatan

pertumbuhan.

|

Untuk bahan padat yang tidak segera larut atau

dapat terdispersi, jika jumlahnya kurang dari 50mg,

perbesar jumlah media hingga cukup untuk

mengencerkan untuk mencegah hambatan

pertumbuhan.

(28)

PROSEDUR UJI INOKULASI

LANGSUNG KE DALAM MEDIA UJI

Untuk:

|

Cairan

|

Salep dan minyak yang

tidak larut dalam isopropil

miristat

|

Zat padat

|

Kapas murni, perban,

pembalut, benang bedah

dan bahan sejenisnya

|

Alat kesehatan steril

|

Alat suntik kosong atau

(29)

Bahan uji Bahan uji + media

Prinsip pengujian:

Inkubasi minimal 14 hari dengan pengamatan pada hari ke 3,4,atau 5, hari ke 7 atau 8, dan pada hari terakhir pengujian.

Catatan:

Perlakuan awal berbeda untuk masing-masing produk

farmasi dan kesehatan.

Bahan uji merupakan larutan yang pada produk farmasi

dan kesehatan kecuali yang berbentuk cairan digunakan

untuk membilas atau mendispersi produk tersebut.

(30)

Cairan

1. Pindahkan cairan dari wadah uji menggunakan pipet atau jarum suntik steril.

2. Secara aseptik inokulasikan sejumlah tertentu bahan dari tiap wadah uji ke dalam tabung media.

3. Campur cairan dengan media tanpa aerasi berlebihan.

Salep dan minyak yang tidak larut dalam isopropil miristat

Pilih 20 wadah yang mewakili, dibagi atas 2 kelompok terdiri dari 10 wadah, dan diperlakukan tiap kelompok sebagai berikut:

1. Secara aseptik pindahkan 100mg dari tiap wadah dari 10 wadah ke

dalam labu berisi 100mL pembawa air steril yang dapat mendispersi homogen bahan uji dalam seluruh campuran cairan.

2. Campur 10mL alikot dari campuran cairan yang diperoleh dengan

80mL tiap media.

Perlakuan awal untuk

berbagai sediaan

(31)

Zat padat

„ Ambil sejumlah tertentu produk dalam bentuk padat kering (atau yang sudah dibuat larutan atau suspensi dalam cairan pengencer steril) tidak kurang dari 300mg tiap wadah atau seluruh isi wadah jika tiap isi kurang dari 300mg.

„ Inokulasikan ke dalam masing-masing tidak kurang dari 40mL FTM dan SCDM.

Kapas murni, perban, pembalut, benang bedah dan bahan sejenisnya

„ Dari setiap kemasan, ambil secara aseptik 2 bagian atau lebih masing-masing 100 sampai 500mg dari bagian paling dalam.

„ Secara aseptik pindahkan bagian bahan uji ini ke dalam sejumlah tertentu wadah media yang sesuai dan inkubasi.

Alat kesehatan steril

Untuk alat yang bentuk dan ukurannya memungkinkan dicelupkan keseluruhan ke dalam tidak lebih dari 1000mL media, uji alat utuh menggunakan media yang sesuai.

(32)

Untuk alat yang mempunyai pipa/saluran berlubang

seperti alat transfusi atau infus atau yang ukurannya

menyebabkan pencelupan tidak dapat dilakukan dan

hanya saluran cairannya yang harus steril,

1.

Bilas lumen masing-masing dengan sejumlah FTM dan

SCDM hingga diperoleh kembali tidak kurang dari

15mL setiap media.

2.

Inkubasi dengan tidak kurang dari 100mL

masing-masing media.

(33)

Untuk alat dengan lumen yang sangat kecil sehingga FTM tidak mengalir, gunakan ATM, tetapi inkubasi dilakukan secara

anaerob.

Jika karena ukuran dan bentuk alat tidak dapat diuji dengan cara pencelupan keseluruhannya ke dalam tidak lebih dari 1000mL media:

„ Uji bagian alat yang paling sulit disterilisasi dan jika mungkin lepaskan 2 atau lebih bagian yang paling dalam dari alat.

„ Secara aseptik pindahkan bagian tersebut ke dalam sejumlah tertentu tabung berisi tidak kurang dari 1000mL media yang sesuai, inkubasikan.

„ Amati pertumbuhan pada media secara visual sesering mungkin sekurangnya pada hari ke-3 atau ke-4 atau ke-5, pada hari ke-7 atau ke-8 dan pada hari terakhir dari masa uji.

(34)

|

Catatan: jika spesimen uji dalam media

mempengaruhi uji karena kerja bakteriostatik

atau fungistatik, bilas seksama alat dengan

cairan pembilas sesedikit mungkin seperti

yang tertera pada cairan pengencer dan

pembilas. Peroleh kembali cairan bilasan dan

uji menggunakan teknik penyaringan

(35)

Prosedur untuk:

Alat suntik kosong atau terisi steril

|

Uji dilakukan sama seperti uji untuk produk steril

dalam ampul atau vial.

|

Cara inokulasi langsung dapat dilakukan jika

penetapan bakteriostatik dan fungistatik telah

menunjukkan aktivitas yang tidak merugikan

dalam kondisi pengujian.

(36)

UJI STERILITAS DENGAN TEKNIK

PENYARINGAN MEMBRAN

(37)

Kegunaan uji sterilitas dengan

teknik penyaringan membran

| Berguna untuk cairan dan

serbuk yang dapat larut yang bersifat bakteriostatik atau fungistatik, untuk

memisahkan mikroba kontaminan dari

penghambat pertumbuhan.

| Berguna untuk bahan

seperti minyak, salep atau krem yang dapat melarut ke dalam larutan pengencer bukan bakteriostatik atau bukan fungistatik.

| Berguna untuk uji sterilitas permukaan atau lumen kritis alat-alat kesehatan.

(38)

Prosedur awal:

| Buat perbandingan yang sama menggunakan

sejumlah tertentu bahan uji dan cairan pengencer dan pembilas yang sesuai.

| Bilas membran 3 kali, tiap kali dengan 100mL cairan

pengencer dan pembilas.

Pertumbuhan mikroba uji dari membran yang digunakan untuk menyaring bahan diikuti cairan

pengencer dan pembilas yang telah diinokulasi secara visual sebanding dengan pertumbuhan dari membran yang hanya digunakan untuk menyaring cairan

(39)

Cara membuka wadah:

| Bersihkan permukaan luar ampul dan tutup vial dan

tutup botol menggunakan bahan dekontaminasi yang sesuai dan ambil secara aseptik.

| Jika isi vial dikemas dalam hampa udara, masukkan

udara steril dengan alat steril yang sesuai, seperti alat suntik dengan jarum yang dilengkapi bahan penyaring untuk sterilisasi.

| Untuk kapas murni, perban, pembalut, benang bedah

dan bahan farmakope sejenis, buka kemasan atau wadah secara aseptik.

(40)

Pemilihan spesimen uji dan

masa inkubasi

| Untuk bahan cair:

Gunakan volume bahan dan media untuk setiap unit dan

jumlah wadah per media tidak kurang dari seperti yang tertera pada Tabel jumlah untuk bahan cair. Jika volume setiap wadah sejumlah tidak cukup untuk kedua media, gunakan wadah

sejumlah dua kali.

| Untuk bahan selain cairan:

Uji 20 unit bahan dengan masing-masing media. Untuk bahan yang hanya lumennya harus steril, bilas lumen dengan

sejumlah media yang sesuai hingga diperoleh kembali tidak kurang dari 15mL media.

Catatan:

Jika tidak dinyatakan lain di dalam monografi atau bab ini, inkubasi campuran uji dengan FTM (atau ATM) selama pada suhu 20oC -25oC.

(41)

PROSEDUR UJI MENGGUNAKAN

PENYARINGAN MEMBRAN

Untuk:

|

Cairan yang dapat bercampur dengan pembawa air

|

Cairan yang tidak bercampur dengan pembawa air

(kurang dari 100mL per wadah)

|

Zat padat yang dapat disaring

|

Salep dan minyak yang larut dalam Isopropil Miristat

|

Zat padat yang tak dapat disaring

|

Alat kesehatan

Peralatan: porositas 0,45µm, diameter ±47mm, kecepatan

(42)

Prosedur untuk:

Cairan yang dapat bercampur dengan

pembawa air

Secara aseptik pindahkan sejumlah volume

tertentu yang dibutuhkan untuk kedua media

seperti yang tertera pada tabel 2, langsung ke

dalam satu atau dua corong penyaring membran

terpisah, atau ke dalam tabung penampung steril

terpisah sebelum dipindahkan.

(43)

|

Jika volume cairan dalam wadah kurang dari 50mL,

atau 50mL smp <100mL dan tidak dimaksudkan untuk

pemberian intravena, diperlukan volume tidak kurang

dari 20 wadah diwakili satu membran atau setengah

bagian membran yang dipindahkan ke dalam media.

|

Jika volume cairan 50mL, 50mL smp <100mL per

wadah dan dimaksudkan untuk pemberian intravena,

atau 100mL – 500mL, secara aseptik tidak kurang dari

10 wadah melalui tiap penyaring dari 2 rakitan

penyaring, atau tidak kurang dari 20 wadah jika hanya

digunakan satu rakitan penyaring. Lewatkan segera

tiap spesimen melalui penyaring dengan bantuan

pompa vakum atau tekanan.

(44)

|

Jika cairan sangat kental dan tidak mudah disaring

melalui 1 atau 2 membran maka diperlukan lebih dari

2 rakitan penyaring. Setengah jumlah membran

diinkubasi dalam masing-masing media asalkan

volume dan jumlah wadah per media memenuhi

syarat.

z

Jika produk bersifat bakteriostatik atau fungistatik

bilas membran 3 kali , tiap kali dengan 100mL

cairan A.

(45)

Secara aseptik pindahkan membran dari alat

pemegang, potong membran menjadi setengah

bagian (jika digunakan hanya 1), celupkan membran

atau setengah bagian membran, ke dalam 100mL

SCDM dan inkubasi pada suhu 20

o

-25

o

dan ke

dalam FTM dengan suhu inkubasi 30

o

-35

o

selama

min.7hari.

Catatan: jika contoh yang diuji bersifat bakteriostatik,

gunakan cakram membran penyaring hidrofobik atau

setelah spesimen disaring, potong cakram lebih kurang

setengah daerah penyaringan dari pusat membran

menggunakan alat pemotong steril, secara aseptik

pindahkan potongan setengah cakram membran ke

(46)

Prosedur untuk:

Cairan yang tidak bercampur dengan pembawa air

(kurang dari 100mL per wadah)

1.

Pindahkan volume yang diinginkan untuk ke dua

media, seperti yang tertera pada tabel 2 langsung

ke dalam 1 atau 2 corong penyaring membran

terpisah atau ke dalam tabung penampung steril

sebelum dipindahkan.

2.

Lewatkan segera tiap spesimen melalui penyaring

dengan bantuan pompa vakum atau tekanan.

(47)

|

Jika bahan uji berupa cairan kental atau suspensi

dan tidak sesuai untuk penyaringan cepat, secara

aseptik tambahkan cairan pengencer secukupnya

ke dalam kumpulan spesimen yang akan disaring

untuk menambahkan kecepatan aliran.

|

Jika produk uji bersifat bakteriostatik atau fungistatik

atau mengandung pengawet, bilas membran 1-3

kali dengan 100mL cairan A. Jika bahan uji

mengandung lesitin atau minyak, gunakan cairan D

sebagai cairan A.

(48)

Catatan :

z

Setelah penyaringan dan pencucian secara aseptik

pindahkan membran dari alat pemegang, potong

membran menjadi setengah bagian (jika digunakan

hanya 1), celupkan membran atau setengah bagian

membran, ke dalam 100mL SCDM dan inkubasi

pada suhu 20

o

-25

o

dan ke dalam FTM dengan suhu

(49)

Prosedur untuk:

Zat Padat yang tidak dapat disaring

1.

Ambil ±6g produk dalam bentuk padat kering, atau

tidak kurang dari 300mg tiap wadah yang akan diuji,

atau seluruhnya jika isi tiap wadah kurang dari

300mg bahan padat.

2.

Secara aseptik masukkan spesimen uji ke dalam

tabung berisi 200mL cairan A, dan aduk hingga

larut. Jika spesimen tidak larut sempurna, gunakan

400mL cairan A, atau secara aseptik bagi spesimen

ke dalam 2 bagian, dan uji tiap bagian dengan

(50)

3.

Setelah penyaringan dan pembilasan secara aseptik

pindahkan membran dari alat pemegang, potong

membran menjadi setengah bagian (jika digunakan

hanya 1), celupkan membran atau setengah bagian

membran, ke dalam 100mL SCDM dan inkubasi

pada suhu 20

o

-25

o

dan ke dalam FTM dengan suhu

inkubasi 30

o

-35

o

selama min.7hari.

Jika contoh uji bersifat bakteriostatik atau

fungistatik , bilas membran 3 kali, tiap kali

dengan 100mL cairan A.

(51)

Prosedur untuk:

Salep dan minyak yang larut dalam isopropil

miristat

1. Larutkan tidak kurang dari 100mg dari tiap isi wadah, tidak

kurang dari 20 wadah dalam tidak kurang dari 100mL isopropil miristat dengan pH ekstrak air tidak kurang dari 6,5.

2. Goyang labu untuk melarutkan salep atau minyak .

3. Saring segera salep yang dilarutkan.

4. Secara aseptis pindahkan campuran ke dalam 1 atau 2 corong penyaring membran dengan bantuan pompa vakum atau

tekanan.

5. Setelah penyaringan spesimen, bilas membran 2 kali dengan 200mL cairan D, kemudian cuci dengan 100mL cairan A.

6. Secara aseptik pindahkan membran dari alat pemegang, potong membran menjadi setengah bagian (jika digunakan

hanya 1), celupkan membran atau setengah bagian membran, ke dalam 100mL SCDM dan inkubasi pada suhu 20o-25o dan

ke dalam FTM dengan suhu inkubasi 30o-35o selama

(52)

Jika zat yang diuji mengandung petrolatum,

gunakan cairan K. Basahi membran dengan ±200µL

media pembilas sebelum penyaringan dimulai.

Setelah penyaringan spesimen, bilas membran 3

kali, tiap kali dengan 100mL media pembilas.

Catatan: Untuk salep dan minyak yang tidak larut dalam isopropil miristat lakukan penetapan seperti tertera pada salep dan minyak tidak larut dalam isopropil miristat dalam prosedur uji inokulasi langsung ke dalam media uji.

(53)

Prosedur untuk:

Zat padat yang tak dapat disaring

Tidak dianjurkan dengan menggunakan teknik

penyaringan membran kecuali telah terbukti

bahwa tidak terjadi penyumbatan pada filter.

(54)

Prosedur untuk:

Alat Kesehatan

1. Secara aseptik alirkan volume tertentu cairan D melalui tiap

lumen tidak kurang dari 20 alat hingga diperoleh 100mL dari tiap alat.

2. Kumpulkan cairan dalam wadah aseptik dan saring seluruh volume melalui penyaring membran.

3. Secara aseptik pindahkan membran dari alat pemegang, potong membran menjadi setengah bagian (jika digunakan hanya 1), celupkan membran atau setengah bagian membran, ke dalam 100mL SCDM dan inkubasi pada suhu 20o-25o dan ke dalam

FTM dengan suhu inkubasi 30o-35o selama min.7hari.

Jika ukuran alat besar, dan ukuran lot kecil, lakukan uji sejumlah unit yang sesuai seperti yang tertera pada kasus serupa dalam alat kesehatan pada prosedur uji inokulasi langsung ke dalam media uji.

(55)

Penafsiran Hasil Uji Sterilitas

| Tahap I

Amati adanya pertumbuhan mikroba seperti kekeruhan dan / atau pertumbuhan pada permukaan pada isi semua wadah dalam interval waktu tertentu dan pada akhir periode inkubasi. Jika tidak terjadi pertumbuhan, maka bahan uji memenuhi

syarat.

| Tahap II

Jumlah spesimen yang diuji minimal 2 kali jumlah tahap I. Jika tidak ditemukan pertumbuhan mikroba, bahan yang diuji memenuhi syarat.

Jika ditemukan pertumbuhan mikroba, bahan yang diuji tidak memenuhi syarat.

Referensi

Dokumen terkait