9
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Politik Burung Unta
Konsep politik burung unta merupakan konsep yang biasanya dipakai dalam bidang dan permasalahan politik. Hal ini merujuk pada keadaan dimana beberapa pihak yang saling terkait dalam suatu permsalahan sama-sama menutup mata pada fakta yang seharusnya dinyatakan. Fakta tersebut biasanya adalah fakta yang diabaikan dengan alasan dapat menurunkan kredibilitas atau tidak berpengaruh baik pada tujuan.
Dalam kaitannya dengan persoalan PMI ilegal, pihak yang mendominasi pesan terkait “menjadi PMI illegal” atau pihak pendorong keputusan adalah pihak yang cenderung memainkan peran signifikan dalam menjalankan politik burung unta. Kebanyakan akan membeberkan isi pesan yang bermuatan positif terkait PMI dengan mengabaikan fakta-fakta miris dibalik kehidupan seorang PMI.
2.2 Pekerja Migran Indonesia (PMI)
Berdasarkan KBBI tenaga kerja diartikan sebagai seseorang yang mampu melakukan kegiatan atau pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja. TKW merupakan bagian dari tenaga kerja Indonesia (TKI) yang kemudian mengalami perubahan istilah menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) berdasarkan UU No 18 Tahun 2017. Pengertian PMI atau pengertian calon PMI menurut Pasal 1 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tetang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, calon pekerja migran Indonesia adalah setiap tenaga kerja Indonesia yang memenuhi syarat sebagi pencari kerja yang akan bekerja di luar negeri dan terdaftar di instansi pemerintah kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan. Sedangkan, pekerja migran Indonesia adalah setiap warga negara Indonesia yang akan, sedang, atau telah melakukan pekerjaan dengan menerima upah di luar wilayah Republik Indonesia.
10
Pengertian PMI menurut pedoman pengawasan perusahaan jasa tenaga kerjaIndonesia adalah warga negara Indonesia baik laki-laki maupun perempuan yang melakukan kegiatan di bidang perekonomian, sosial, keilmuan, kesenian, dan olahraga profesional serta mengikuti pelatihan kerja di luar negeri baik di darat, laut maupun udara dalam jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian kerja yaitu suatu perjanjian antara pekerja dan pengusaha secara lisan dan atau tertulis baik untuk waktu tertentu maupun untuk waktu tidak tertentu yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban para pihak.
Pekerja migran Indonesia menurut UU Nomor 18 Tahun 2017 pasal 4 ayat 1 meliputi PMI yang bekerja pada pemberi kerja berbadan hukum, PMI yang bekerja pada pemberi kerja perseorangan atau rumah tangga dan pelaut awak kapal dan pelaut perikanan. Adapun syarat untuk bisa menjadi seorang PMI tercantum dalam UU berikut:
Tabel 2.1 Persyaratan Menjadi TKI/PMI
Menurut UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri
Menurut UU Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran
Indonesia Berusia sekurang-kurangnya 18 tahun
kecuali bagi calon TKI yang akan dipekerjakan pada pengguna perseorangan sekurang-kurangnya berusia 21 tahun.
Berusia minimal 18 tahun
Sehat jasmani dan rohani Memiliki kompetensi Tidak dalam keadaan hamil bagi calon
tenaga kerja perempuan
Sehat jasmani dn rohani
Berpendidikan sekurang-kurangnya lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Terdaftar dan memiliki nomor kepesertaan Jaminan Sosial
11
(SLTP) atau yang sederajat. Memiliki dokumen lengkap yangdipersyaratkan
(Sumber: UU Nomor 18 Tahun 2017 dan UU Nomor 39 Tahun 2004)
Selain itu syarat menjadi tenaga kerja menurut pasal 51 Undang-undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, calon TKI wajib memiliki dokumen yaitu :
a) Kartu Tanda Penduduk, Ijazah pendidikan terakhir, akte kelahiran atau surat keterangan kenal lahir
b) Surat keterangan status perkawinan bagi yang telah menikah dengan melampirkan copy buku nikah
c) Surat keterangan izin suami atau istri, izin orangtua atau izin wali
d) Sertifikat Kompetensi Kerja
e) Surat keterangan sehat berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan dan psikologi
f) Paspor yang diterbitkan oleh Kantor Imigrasi setempat g) Visa kerja
h) Perjanjian penempatan kerja i) Perjanjian kerja
j) Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) yaitu kartu identitas bagi TKI yang memenuhi persyaratan dan prosedur untuk berkerja di luar negeri.
Terdapat beberapa perubahan terkait dokumen yang harus disiapkan calon PMI di dalam UU Nomor 18 Tahun 2017 dimana tidak perlu melampirkan KTP, Ijazah pendidikan terakhir, akta kelahiran atau surat keterangan kenal lahir. Selain itu, kewajiban memiliki Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) sebagai kartu identitas dan tanda jika pekerja memenuhi syarat juga ditiadakan. Namun pada poin surat keterangan izin dari keluarga, dalam UU yang diperbaharui, terdapat
12
tambahan bahwa perizinan dari keluarga harus seatas pengetahuan kepala desa atau lurah setempat.Sebelum menjadi pekerja di luar negeri seorangg calon tenaga kerja membutuhkan suatu proses perencanaan kerja yaitu dimana semua proses pengumpulan informasi harus dianalisis dan hal tersebut terkandung dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. Prosedur yang harus dilakukan oleh calon tenaga kerja yaitu :
a. Pengurusan SIP
Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, pelaksana penempatan TKI swasta yang akan melakukan perekrutan wajib memilki SIP dari Menteri. Untuk mendapatkan SIP, pelaksana penempatan TKI swasta harus memiliki:
1) Perjanjian kerjasama penempatan; 2) Surat permintaan TKI dari pengguna; 3) Rancangan Perjanjian Penempatan 4) Rancangan Perjanjian Kerja
b. Perekrutan dan Seleksi yaitu proses pemberian informasi kepada calon tenaga kerja sekurang-kurangnya tentang tata cara perekrutan, dokumen yang diperlukan, hak dan kewajiban calon TKI/TKW, situasi, kondisi dan resiko di Negara tujuan serta tata cara perlindungan bagi tenaga kerja.
c. Pendidikan dan Pelatihan Kerja yang harus disesuaikan dengan pekerjaan yang akan dilakukan. Hal yang tercantum di dalamnya juga adalah untuk membekali, menempatkan dan mengembangkan kompetensi kerja calon TKI, memberi pengetahuan dan pemahaman tentang situasi dan kondisi, adat istiadat, budaya, agama serta risikonya, membekali kemampuan berkomunikasi dalam bahasa
13
negara tujuan dan memberi pemahaman tentang hak dan kewajiban yang harus dilakukan.d. Pemeriksaan kesehatan dan psikologi yang dimaksudkan untuk mengetahui kesiapan psikis serta kesesuaian keprinbadian calon tenaga kerja dengan pekerjaan yang akan dilakukan.
e. Pengurusan dokumen yang berisi syarat-syarat untuk menjadi seorang PMI. f. Uji kompetensi
g. Pembekalan akhir pemberangkatan yang bertujuan untuk mengetahui kesiapan mental dan psikis calon tenaga kerja serta memastikan mereka mengerti akan hak dan tanggung jawabnya. Selain itu juga aka nada penjelasan mengenai peraturan perundang-undangan di negara tujuan dan materi perjanjian kerja.
2.3 Hegemoni dan Teori Resepsi
Berdasarkan pengertian etimologisnya, hegemoni berasal dari kata Yunani
Hegemonia/eugemonia yang merujuk pada pemimpin/dominansi atau kekuasaan.
Bersadarkan pengertian dari Merriam-Webster1 hegemoni adalah “having a
presponderant influence or authority” atau bicara soal “siapa yang memiliki
kekuasaan atau pengaruh lebih dari yang lainnya”. Pada prinsipnya hegemoni bicara soal kontrol dan menuntut kesenjangan yang besar antara suatu hal dengan hal lainnya. Karena hegemoni tidak terjadi dan berlangsung dalam ruang hampa, maka hegemoni akan tetap ada selama tidak ada penentang atau minimal pemahaman yang setara dengan apa yang menjadi hegemon tersebut.
Teori Hegemoni dikembangkan oleh Stuart Mcphail Hall, seorang teoritisi kebudayaan, aktivis politik dan sosiolog Marxis. Bertolak dari konsep hegemoni Gramscian (merujuk pada produksi sosiokultural „izin‟ dan „pemaksaan‟), Hall menganggap bahwa penggunaan bahasa beroperasi dalam wahana kekuasaaan,
1
Merriam-Webster merupakan sebuah perusahaan Amerika Serikat yang menerbitkan buku referensi khususnya Kamus. Kamus Merriam-Webster merupakan anak usaha dari Encyclopedia Britannica Inc yang diakuisisi pada tahun 1964. Kamus ini merupakan karya Noah Webster yang cetakan pertamanya
diterbitkan tahun 1806, setelah kematiannya, kamusnya pun dibeli dan diterbitkan ulang dengan beberapa gubahan oleh Merriam bersaudara pada tahun 1847. Merriam-Webster kini menjadi kamus yang berisi 118.000 kata dalam bahasa inggris amerika telengkap.
14
institusi, ekonomi dan politik. Dengan pandangan ini Hall menganggap bahwa setiap orang adalah produsen sekaligus konsumen dari suatu kebudayaan. Bagi Hall, budaya bukanlah hanya untuk diapresiasi atau dipelajari, tetap juga sebagai tempat aksi dan intervensi sosial kritis dan tempat relasi kuasa berdiri.Dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa, hegemoni dapat lahir dari adanya proses komunikasi yang berulang sehingga tumbuh subur sebagai suatu konsensus yang lumrah. Dalam hal ini, suatu informasi atau pesan akan disampaikan dengan metode penyampaian mengulang-ulang pesan (redundancy) dan metode memengaruhi seseorang untuk menerima pesan sebelum kemudian perlahan-lahan merubah sikap dan pola pemikirannya kearah yang dikehendaki (canalizing). Menurut bentuk isinya suatu pesan dapat disampaikan juga dengan metode informatif yang dilakukan dalam bentuk pernyataan berupa keterangan, penerangan dan berita, metode persuasif untuk memengaruhi dengan jalan membujuk, metode edukatif dengan memberikan suatu idea kepada khalayak berdasarkan fakta-fakta, pendapat dan pengalaman, dan yang terakhir dengan metode kursif atau upaya memengaruhi khalayak dengan memaksa tanpa memberikan waktu berpikir.
Teori Hegemoni memiliki kaitan yang erat dengan Teori Penerimaan Pesan atau yang biasa dikenal dengan teori Resepsi Pesan dimana setiap informasi yang diproduksi (enkode) akan diartikan (dekode) secara berbeda oleh konsumen informasi. Dalam hal ini proses encoding dan decoding ditangani berbeda oleh setiap orang sesuai dengan latar belakang budaya dan pengalaman hidupnya masing-masing. Oleh karena itu muncul sebuah konsep bahwa memang pemaknaan suatu informasi/pesan tidak melekat pada medianya melainkan tergantung pada hubungan antara pesan dengan sang penerima pesan dengan kata lain proses encoding dan decoding tidak selalu bermuara pada satu hal yang sama atau tidak selalu simetris.
Lebih jauh Hall juga mengidentifikasi bahwa terdapat tiga tipe resepsi pesan yang berlaku secara umum yaitu yang sifatnya dominan, bernegosiasi, dan beroposisi. Hall juga menganggap bahwa proses mengode dan memaknai pesan selalu melalui 4 tahap yaitu tahap produksi pesan (production) yang merupakan tahap enkode, tahap persepsi
15
pesan (circulation), tahap distribusi/konsumsi (use) dan tahap reproduksi pesan (reproduction) yang merupakan akhir dari proses dekode.2.4 Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan dalam Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, didefinisikan sebagai pemilihan keputusan atau kebijakan yang didasarkan atas kriteria tertentu. James Reason, seorang professor bidang psikologi yang tekenal dengan bukunya yang berjudul Human Error beranggapan bahwa pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa seseorang kepada pemilihan tindakan diantara beberapa alternatif yang tersedia2.
George Terry dalam Syamsi (2000:16), seorang tokoh manajemen yang berajasa dalam memunculkan konsep POAC menjelaskan bahwa sebuah keputusan yang berlaku didasari oleh hal-hal sebagai berikut3 :
a) Intuisi, bersifat subjektf sehingga mudah terkena sugesti, pengaruh luar dan faktor kejiwaan lain.
b) Pengalaman, yang sifatnya lebih nyata dan praktis.
c) Fakta, yang didasarkan pada kebenaran akan suatu pengalam atau informasi. d) Wewenang,yang kadang menjadi kabur karena sering melewati
permasalahan dan e) Hal Rasional.
Sedangkan menurut Philip Kotler4 (2003:98) yang juga dikenal sebagai Bapak Pemasaran Dunia, fakor-faktor yang memengaruhi pengambilan sebuah keputusan antara lain :
1. Faktor Budaya yang meliputi peran budaya, sub budaya dan kelas sosial 2. Faktor Sosial yang meliputi kelompok acuan, keluarga, peran dan status
2
Reason, James. 1990. Human Error. Ashgate.
3 Syamsi, Ibnu. 2000. Pengambilan Keputusan dan Sistem Informasi. Jakarta : Bumi Aksara. 4
16
3. Faktor Pribadi yang termasuk usia dan siklus/tahap hidup, pekerjaan, kelasekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri
4. Faktor Psikologis yang meliputi motivasi, persepsi, pengetahuan, keyakinan dan pendirian
2. 5 Penelitian Terdahulu
Peneliti mengambil referensi dari beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan oleh beberapa orang dengan mengangkat topik bahasan yang sama yaitu :
a. Disertasi yang dilakukan oleh Nurfaizi Suwandi pada tahun 20155 dengan judul “Model Perilaku Migrasi Tenaga Kerja Wanita Penata Laksana Rumah Tangga (TKW PLRT) Indonesia di Mesir”. Dengan latar belakang tingginya angka pengangguran dan sedikitnya lahan pekerjaan dan adanya data yang menunjukan bahwa Mesir yang notabenenya tidak memiliki MoU ketenagakerjaan apapun dengan Indonesia namun menjadi pilihan banyak perempuan sebagai Negara tujuan bekerja, maka penulis melakukan penelitian ini. Hal yang disorotnya adalah mengapa para pekerja memilih Mesir untuk menjadi Negara tujuan bekerja padahal Mesir adalah Negara yang tidak mrncantumkan persoalan TKW PLRT dalam undang-undangnya sehingga menjadi rentan sekali bagi para pekerja terkait status dan kondisi mereka nantinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa yang meyebabkan mereka berada dan bekerja di Mesir. Penelitian ini menguji model perilaku migrasi TKW PLRT Indonesia di Mesir yang disusun berdasarkan Theory Planned Of Behaviour yang dikombinasikan dengan Teori Migrasi. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan menggunakan strategi eksplanatoris sekuensial. Hasil temuan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa seseorang yang dulunya belum memiliki pekerjaan cenderung akan memiliki persepsi yang baik terhadap pekerjaan menjadi TKW PLRT. Dorongan dari keluarga,lingkungan,teman, sponsor/calo maupun yang
5 Disertasi yang dilakukan Nurfaizi Suwandi untuk mendapatkan gelar Doktor Ilmu Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret
17
mengajak untuk menjadi TKW merupakan faktor penting dalam meningkatkan niat menjadi TKW di Negara tujuan.Perbedaan dengan penelitian yang dibuat penulis adalah penulis hanya menggunakan pendekatan deskriptif dengan kata lain penulis tidak sampai menguji teori namun hanya mendeskripsikan dan menganalisis masalah menggunakan teori. Penelitian penulis juga tidak hanya fokus pada PMI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, namun penulis mengambil sektor kerja secara umum yang biasanya menjadi sektor kerja para TKW. Tempat penelitian yang berbeda juga menjadi faktor lain yang membedakan kedua penelitian ini.
b. Penelitian yang dilakukan oleh Irma Ariani pada tahun 20136 dengan judul “Peran dan Faktor Pendorong Menjadi Tenaga Kerja Wanita (Studi Kasus Di Kawasan Demak)”. Dengan latar belakang tingginya tingkat pengangguran dan ambruknya sistem ekonomi lokal sehingga membuat banyak tenaga kerja diekspor ke luar negeri, Irma Ariani melakukan penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui peran PMI dalam meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga di Kabupaten Demak. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian Kualitatif Deskriptif dengan objek penelitian ibu rumah tangga yang sudah pernah bekerja sebagai PMI di luar negeri.. Hasil penelitiannya adalah faktor yang mendorong ibu rumah tangga untuk memutuskan untuk bekerja sebagai PMIadalah memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai kebutuhan pendidikan dan kesehatan anak dankarena ingin mendapatkan upah yang lebih tinggi. Keberhasilan PMI sebelumnya yang berhasil bekerja sebagai PMI secara ekonomis memberikan daya dorong bagi PMI di Kabupaten Demak untuk dapat meniru jejak yang sama dengan tujuan lain yaitu mencapai status sosial ekonomi yang lebih tinggi meskipun kenyataannya banyak PMI juga yang mengalami permasalahan namun itu tidak menyurutkan niat para ibu rumah tangga untuk mengukir jejak.
6 Penelitian skripsi yang dilakukan oleh Irma Ariani untuk menyelesaikan pendidikan strata 1 pada program sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang.
18
Perbedaan penelitian yang dilakukan penulis dengan penelitian ini terletak pada tujuan penelitian dimana penulis bertujuan untuk mengetahui alasan serta faktor apa saja yang melatarbelakangi diambilnya keputusan seorang perempuan untuk menjadi TKW. Objek penelitian nya pun berbeda, dimana peneliti berfokus pada mereka yang menjadi TKW secara non-prosedural. Selain itu tempat penelitian yang dipilih juga berbeda.c. Penelitian yang dilakukan oleh Adika Putraga Sembiring pada tahun 20147 dengan judul “Perlindungan Hukum Terhadap TKI ke Luar Negeri oleh Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Jawa Tengah”. Latar belakang dari penelitian ini adalah banyaknya kasus yang menimpa para TKI maupun calon TKI, padahal pada dasarnya negara sudah membentuk Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI),pada tingkat provinsi ada Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI), bursa tenaga kerja juga diwadahi oleh Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), hingga PJTKI. Peneliti menyoroti upaya BP3TKI Semarang dalam menangani kasus-kasus yang terjadi selama pra penempatan, penempatan dan purna penempatan. Menggunakan metode eksplanatoris, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya –upaya pencegahan yang dilakukan BP3TKI Jawa Tengah dalam melakukan perlindungan TKI ke luar negeri pada saat pra penempatan dan selama penempatandan mengetahui bagaimana BP3TKI Jawa Tengah menangani masalah-masalah yang timbul dalam melakukan perlindungan hukum kepada TKI pada saat pra penempatan dan selama penempatan. Hasil penelitiannya peneliti menemukan bahwa dalam upaya pencegahan yang dilakukan oleh BP3TKI pada masa pra penempatan dan selama penempatan dibutuhkan adanya kesadaran TKI sebagai langkah awal untuk mengikuti prosedur yang benar dan resmi guna bekerja di luar negeri. Penanganan yang
7
Penelitian skripsi ini ditulis oleh Adika Putra Sembiring untuk mendapatkan gelar Strata 1 pada Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana.
19
dilakukan BP3KI Jawa Tengah adalah melakukan peninjauan ulang, mengevaluasi dan mengawasi PPTKIS terkait kelengkapan data diri para TKI serta menjamin kembali keberangkatan TKI melalui prosedur resmi ketika TKI telah dideportasi dari negara tujuan.Perbedaan penelitian yang diteliti penulis dengan penelitian ini terletak pada metode dan pendekatan penelitian dimana peneliti hanya mendeskripsikan dan tidak melakukan pendekatan eksplanatoris. Penulis berfokus pada faktor-faktor yang melatarbelakangi lahirnya keputusan seseorang untuk bekerja sebagai PMI dalam hal ini khususnya TKW, sedangkan penelitian ini lebih berfokus pada upaya perlindungan dari lemabaga dan badan pemerintahan yang bertanggungjawab terhadap urusan ketenagakerjaan.
2.6 Kerangka Pikir
Jumlah PMI Perempuan TKW ILEGAL
Alasan menjadi PMI TKW ILEGAL Peningkatan Jumlah PMI
Perempuan PMI TKW ILEGAL
Teori Resepsi Pesan
Faktor Pengambilan Keputusan Hegemoni Stuart Hall
Kasus pelanggaran HAM PMI
TKW ILEGAL
Pesan/Informasi menjadi PMI