DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT . PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENT ANG PENAT AAN RUANG

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RAPAT

. PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENT ANG Tahun Sidang Masa Persidangan Rapat ke Jenis Rapat Sifat Rapat Hari/tanggal Waktu Deng an Tempat Ketua Rapat Sekretaris Rapat Acara Hadir PIMPINAN PANSUS

PENAT AAN RUANG (RDPU T ANGGAL 24 MEI 2006)

2005-2006 IV

Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Terbuka

Jum'at, 24 Mei 2006 Pukul 14.00 WIB

Ketua Real Estate Indonesia (REI), lkatah Konsultan Indonesia (INKINDO), Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Ketua Kontak Tani Nasional Andalan (KTNA), Ketua Dewan Maritim Indonesia (!;)Ml), dan Ketua GAPENSI.

Ruang Rapat Komisi V DPR RI

Ir. H. Rendhy A. Lamadjido, M.B.A./Wakil Ketua Pansus RUU Penataan Ruang

Ora. Hani Juliasih/Kabag Set. Komisi V DPR RI Pembahasan RUU tentang Penataan Ruang 29 orang Anggota Pansus

1. Ir. H: A. Rahman Syagaff/F-PPP

2. Ir. H, Rendhy A. Lamadjido, M.B.A/F-PDIP 3. Ors. H. M. Syarfie Hutauruk/F-PG

4. M. Nasir D.iamil, S.Ag./F-PKS 5. Abdullah A.zwar Anas/F-KB

1. FRAKSI P. GOLKAR 6.FRAKSIK.BANGSA

1. Ors. H. M. Syarfie Hutauruk 1. Ors. H. M. Dachlan Chudori 2. Dr. H. Bomer Pasaribu,S.H., S.E., M.S. · 2. H. Ali Mubarak, Amd. Par. 3. Andi Wahab DT. Majokayo, S.M. 3. Ors. H. M. Arsa Suthisna, M.M. 4. Ors. H. Sulaeman Efendi

5. Drs .. Enggartiasto Lukito 6. Ir. Soeharsojo

7. Hasanuddin Murad, S.H.

2. FRAKSI PDIP 7. FRAKSI PKS

1. Ir. H. Rendhy A. Lamadjido, M.B.A. 1. Ir. Abdul Hakim, M.M. 2. Ors. H. Sumarsoto

3. Imam Soeroso 2. Syamsu Hila!

4. Ir. H. Heri Akhmadi

ARSIP

DPR

(2)

5. Nusyirwan Soejono 6. Ben Vincent Djeharu

3. FRAKSI PPP 1. Dra. Lena Maryana Mukti

4. FRAKSI P. DEMOKRAT

1. Teuku Riefky Harsya 2. Maruahal Silalahi

3. Ir. H. Roestanto Wahidi D, M.M. 4. E. E. Mangindaan,S.E., S.IP.

5. FRAKSI PAN

1. Ir. Afni Achmad

1.

1.

1.

-KETUA RAPAT (H. RENDHY A. LAMADJIDO/F-PDIP):

8. FRAKSI BPD

9. FRAKSI PBR

10. FRAKSI PDS

Acara saya buka dengan resmi, an sekaligus saya skors selama kurang lebih dua puluh men it.

Terima kasih.

(RAPAT DISKORS)

Bapak-bapak, Saudara-saudara Sekalian, maka Skors saya cabut. (SKORS DICABUT)

Sudara Ketua Dewan Maritim Indonesia, Ketua Kontak Tani Nasional, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, Ketua lnkindo dan K:etua Gapensi yang sama-sama saya hormati, serta seluruh rekan-rekan Pansus Anggota DPR yang terhormat.

Pertama-tama, hari ini kita melakukan Rapat Dengar Pendapat mengenai Undang-Undang Tentang Penataan Ruang.

Perlu kita ketahui bersama, bahwa Undang-Undang1 ini adalah merupakan Undang-undang inisiatif Pemerintah, di man a kami melakukan pendekatan-pendekatan dan ingin mendengar masukan-masukan dari teman-teman selwuh Asosiasi Profesi dan Ketua Kontak Tani Nasional.

Sebelum saya melanjutkan ha! ini, barangkali saya ingin memperkenalkan seluruh Anggota Pansus RUU tentang Penataari Ruang, mulai dari ujung belakang, ini orang tua kami, silahkan Pak diperkenalkan.

F·PG (SULAEMAN EFENDY):

Sulaeman Efendi dari F.PG Komisi II Daerah Pemilihan Provinsi Bengkulu. KETUA RAPAT:

Silakan!

INKINDO (DJOKO SUPRIONO):

Saya Djoko Supriono dari lnkindo mendampingi Ketua lnkindo, pak Lukman. Terima kasih.

KETUA RAPAT: Silakan!

F-PDIP (BEN VINCENT DJEHARU):

Saya Ben Vincent dari Daerah Pemilihan Papua dari F.PDIP Terima kasih.

ARSIP

DPR

(3)

F-PD (ROESTANTcP WAHIDI D.): Assalamu'alaikum '4Jr.Wb. '

Saya Roestanto da~i F.PD Daercilh Pemilihan Jawa Barat II Assalamu'alaikum '1Jr.Wb. ·

I

F-PG (SOEHARSOµO): ·

Saya Soeharsojo, s~ya masih tetap di Golkar, karena Pak Roestanso pindah ke F.PD dan dari Daerah Pemilihan Jaw~ Tengah V.

Terima kasih. i Assalamu'alaikum Wr.Wb.

I

F-PKS (SYAMSU HILAL): .

Saya, Syamsul Hila) dari F.PKS qari Daerah Pemilihan Jawa Barat I.

. I

i I

F-PG (ENGGARTl4STO LUKIT0):

Saya, Enggartiasto! Lukita dari f,.PG Daerah Pemilihan Jawa Barat 7, Komisi V, dan ada keponakan saya dari Gaperisi.

' i i

F·PPP (RAHMAN ~y AGAFF): Saya, Rahman Syagaff dari F.PPP.

I

F·PD (E. E. MANG,NDAAN):

Saya Mangindaan ~ari F.PD dariPememilihan Sulawesi Utara bekas Golkar. I

i

KETUA RAPAT: ~ ,

Beliau ini mantan lubernur, silakan Pak Hen. F-PDIP (HERi AK~MADI):

Nama saya, Heri ~khmadi dari :Daerah Pemilihan Jawa Timur 7, F.PDI P, tidak boleh disingkat P-nya pak," P " P~rjuangan nanti salah Pembaharuan.

I

F·PD (MARUAHAU SILALAHI): ·

Saya Maruahal Sil~lahi F.PD Sumatera Utara 3, Komisi IV. Terima kasih. ·

I

I

i F-PKS (ABDUL HAKIM):

Saya Abdul Hakim ~ari F.PKS dari Daerah Pemilihan Lampung 2. Terima kasih. '

KETUA RAPAT: I

Terima kasih, yang[ baru datang silakan. F·PD (TEUKU RIEfKY HARSYA): Terima kasih

i

.

Saya, Teuku Riefky Harsya dari Daerah Pemilihan Nanggroe Aceh Daruss,,alam I, Komisi VII, dari F.PD I

Terima kasih. I KETUA RAPAT:

I

Baiklah,

Saudara-~audara

sekali<;in bahwa di Pansus ini kami dipimpin oleh satu ketua, yaitu tadi sudah memper~enalkan diri, ~audara Rahman Syagaff, beliau ini sebenarnya Ketua Pansus ini, dan kami mem~erkenalkan dari sebelah kira saya silakan.

WAKIL KETUA

(Sr

ARFIE HUTA]URUK/F-PG):

Saya, Syarfie Huta~ruk dari F.PG!Daerah Pemilihan Sumatera Utara 2.

I

I

3

ARSIP

DPR

(4)

WAKIL KETUA (A~DULLAH AZWAR ANAS/F-KB):

Assalamu'alaikum Vrfr. Wb. Selamat Pagi,

Nama Saya, Abdull$h Azwar Anas dari Daerah Pemilihan 3, Jawa Timur dari F.KB

KETUA RAPAT: i Baiklah, terima kasi~.

Sudara-saudara sekalian dari Asosiiasi Profesi maupun Asosiasi Perusahaan dan Ketua Kontak Tani Andalan. ,

Perlu kami informqsikan, bahwa Pansus ini terdiri dari mulai dari jenderal sampai ke kopral', mulai dari mantanl pejabat sampai penjambret, lengkap di Pansus ini, ini informasi terakhir. Selanjutnya barahgkali saya hanya rnenginformasikan, bahwa kami sengaja ingin mendengarkan pendapat-p~ndapat dari saudara-saudara sekalian mengenai adanya Rancangan Undang-Undang tentang Renataan Ruang ini, seperti kita ketahui bersama, bahwa Penataan Ruang ini memegang pera~an yang sangat penting dalam peranan di Republik yang kita cintai ini. Kita membahas Undang-urldang ada kurang lebih 50 an, kalau nanti teman-teman meninggalkan tempat ini, bukan berarti tidak senang dengan saudara-saudara sekalian, tetapi hampir dalam waktu yang bersamaan ada Pansus juga yang mengharuskan teman-teman pergi ke ruangan masing-masing Pansus. Uhtuk itu barangkali saya ingin minta pengertian, tetap kita lanjutkan masukan-masukan pada U!'lldang-undang tentang Tata Ruang ini sendiri.

Yang kedua, saya ~engingatkan kepada saudara-saudara sekalian, bahwa sengaja kami mengundang saudara-saudara tidak lain adalah bagaimana masukan-masukan terhadap Undang· undang ini benar-benar n~ntinya apabi:la undang-undang ini disahkan, saudara-saudara tidak termasuk yang dirugikan d~lam pengesahan Undang-undang nantinya, bahkan nanti tidak tertutup kemungkinan saudara-sauclara akan menjadi pelopor ke Mahkamah Konstitusi untuk barangkali meminta penundaan atau penjadualan ulang masalah Undang-undang ini, itulah yang kami tidak harapkan dalam persoalan pembahasan Undang-undang tentang Penataan Ruang ini.

Baiklah, untuk mernpersingkat waktu, barangkali saya persilahkan dari sebelah kiri saya, untuk itu barangkali yangl paling banyak mengena masalah kerakyatan tentang Kontak Tani Nasional Andalan, untuk itui saya persilahkan sekaligus memperkenalkan anggotanya. silahkan.

I i

KETUA KTNA (WIJONO TOHIR):

Assalamu' alaikum, j

Selamat pagi dan ~elamat sejahtera untuk kita semua.

Terima kasih Bapak Ketua atas waktu yang telah diberikan kepada saya.

Kami dari Kontak ~ani Nasional Andalan ada empat Pa, saya sendiri Ketua Umum Witono I

Tahir, dan Pa' Maman dari Jawa Barat dan lbu Ning dari DKl,dan Pa Bambang dari DKI. Kita berlima disini dan kebetulan teman-teman yang lain masih di dlaerah dengan waktu yang singkat kami belum bisa mengonte~ untuk segera datang.

Bapak-bapak yang1 kami hormati, dalam waktu yang singkat ini, kami beserta teman-teman melihat dan mempelajari R;ancangan Unoang-Undang tentang Penataan Ruang ini, dan memang ini sangat unik sekali bagi lkami, khususnya dalam hal tata ruang bidang pertanian. Kami banyak menyoroti pada Bab 7, ~asal 55, 56, 57, dan 58 tentang Hak Kewajiban dan Perencanaan Masyarakat, itu yang lebih! kami tekankarn, dan kami juga membuat materi Pa', tetapi karena baru selesai pagi belum sempat1 di foto copy saya titipkan didepan untuk diperbanyak. Jadi di sini kam lebih banyak menekankan[, karena kami sebagai masyarakat petani dan nelayan, tentang tata ruang ini, tapi kami juga ~i sini perlu juga dipertimbangkan, karena kami juga punya Undang-undang Nomor 12 tentang! budi daya tanaman. Jadi di situ ada kebebasan petani untuk menanarn apa yang diinginkan oleh wara petani, sementara berdasa~kan tata ruang kami juga memerlukan adanya pemwilayahan taqaman, sehingga kalau Bapak-bapak Anggota Dewan yang terhormat melihat tata ruang yang 1ada di Jepang, kebetulan saya 9 bulan di sana, kami merasakan nikmatnya, jadi petani di ~egara sana selama 9 bulan, agar di Indonesia juga bisa dibuat tata ruang seperti di sana, mak~nya saya sangat strategis sekali dengan Tata Ruang ini yang ada ini , sehingga kami mempunyal pemikiran dengan teman-teman, bahwa untuk ketahanan pangan kita tidak bisa lagi selalu tertu~pu kepada Jawa. Jawa bisa meningkatkan ketahanan pangan dengan intensifikasi, tetapi untuk e~sentifikasinya itu lebih banyak diarahkan ke daerah Sumatera, karena

ARSIP

DPR

(5)

daerah Sumatera ini sangat cocok sekali untuk pengembangan tanaman pangan dalam rangka ketahanan pangan nasional ini.

Yang kami pelajari bersama teman-teman di daerah Sumatera ini ternyata juga ada aliran sungai diantaranya sungai Musi, itu sangat memudahkan dan rnemungkinkan untuk dikernbangkan tanarnan pangan di sana. Dan untuk daerah Kalimantan, kami juga menghendaki di sana itu cocok untuk lahan perkebunan, jadi kalau di daerah Kalimantan akan dikembangkan untuk tanaman sawit, itulah yang kami sangat suka sekali, walaupun di Kalimantan Tengah sejuta hektar lahan gambut yang dulu belum terselesaikan dan Bapak Gubernur sekarang sudah mernulai lagi, karni juga masih mendukung untuk Kalimantan Tengah ini, walaupun memerlukan proses, tetapi ini tanda-tanda untuk keberhasilan sud<;ih mulai nampak Kalimantan Tengah, kalau mau dikembangkan untuk tanaman pangan, karena kalau kita lihat dari areal yang ada di Indonesia ini ternyata petani kita sudah cukup maju dibandingkan dengan petani di Asean, hanya saja luasan tanah kita dibandingkan kalau kita lihat Vietnam dan di Thailand itu produktifitasnya sudah linggi, tetapi karena kepemilikan lahan atau jumlah lahan perkapita ini sangat kecil sekali hanya 451 meter, sementara untuk Vietnam bisa dua kali' lipat bahkan Thailand bisa tiga kali lipat daripada Indonesia, sehingga bisa terjadi surplus dan bisa ekspor, sementara kita dengan kepemilikan lahan yang sempit ini hanya 451 meter perkapita ini diperlukan eksentifikasi dan kami beserta ternan-teman merekomendasikan untuk Sumatera ini, bahwa pengembangan lahan untuk menyarigga tanaman pangan selain Jawa.

Selanjutnya untuk daerah-daerah seperti lrian, kita lebih banyak untuk tanaman-tanarnan kehutanan dan juga surnber daya alarn yaitu dengan tarnbangnya, nah itu diantaranya garis besarnya untuk Tata Ruang secara nasional. Dan untuk Bab 7, Pasal 55, 56, 57, 58, bahwa kami sependapat sekali, karena di sana juga disampaikan bahwa setiap orang berhak mengajukan usul dan memberikan saran atau mengajukan keberatan kepadla F>emerintah dalam Penataan Ruang, dan juga Tata Ruang ini akan disebar luaskan, ini sangat baik sekali, karena selama ini Tata Ruang itu merupakan rahasia orang-orang tertentu, dianggapnya ini akan mendapatkan sesuatu, sehingga ini dianggap rahasia.

Saya sangat mendukung, kalau Rancangan Undang-undang yang akan datang ini bukan menjadi rahasia, tetapi diketahui oleh masyarakat, sehingga peran serta masyarakat termasuk pengawasannya juga bisa dilibatkan, itu sangat bagus SE!kali dan juga masyarakat akan mendapatkan manfaat hasil dari pelaksanaan dari Tata Ruang itu sendiri. Kalau ini diinformasikan secara luas, saya yakin masyarakat akan mendapatkan manfaat, sehingga tidak memberikan kesalahan dalam merencanakan usahanya. Saya sependapat juga dengan masyarakat memperoleh pergantian yang layak atas kerugian yang timbul akibat pelaksanaan pembangunan yang sesuai dengan Tata Ruang.

Jadi setelah direncanakan Tata Ruang dan di situ ada masyarakat yang harus melepaskan haknya, itu juga harus mendapatkan pergantian yang layak, sehingga disini masyarakat juga akan dapat membantu pelaksanaan Tata Ruang sesuai dengan yang diharapkan nanti. Dan juga masalah hak masyarakat tentang pembatalan izin dan penghentian pembangunan yang tidak sesuai dengan Tata Ruang nantinya, selanjutnya Rancangan Undang-undang tentang Penataan Ruang ini agar dapat banyak melibatkan dan ada konsultasi publik serta masyarakat, sehingga peran masyarakat akan lebih besar d~lam pelaksanaan Tata Ruang ini. Mungkin itu garis besarnya, mungkin secara detailnya, nanti bahan dibagikan k:epada Bapak-bapak yang terhormat, karena keterbatasan waktu dan juga banyaknya yang akan memberikan masukan mungkin kita batasi saja penyampaian dari saya.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Baik, terima kasiih Ketua Kontak Tani Nasional Andalan, perlu kami informasikan, bahwa di ruangan ini juga dihadiri oleh Pemerintah yang diwakili Dirjen Tata Ruang, saya kira perlu diperkenalkan beserta seluruh jajarannya, .silahkan Ketua Real Estate Indonesia.

KETUA REI (LUKMAN PURNOMO SIDI): Terima kasih bapak Pimpinan,

Bapak-bapak lbu-lbu Anggota Pansus, ijinkan kami pertama kali memperkenalkan diri, pertama, saya Lukman F'urnomo Sidi selaku Ketua Umum REI.

5

ARSIP

DPR

(6)

Kemudian kami hadir berlima pada pagi hari ini didampingi oleh saudara Sekretaris

I '

Jenderal Teguh Satria, Ir. Harry Gani, Ir. Ary Lazuardi, dan Ir. Sugeng Riyadi. Selamat pagi,

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pertama-tama, kami mengucapkan terima kasih kepada Pansus Tata Ruang yang telah berkenan mengundang REI dalam rangka memberikan masukan-masukan sesuai bidang kopetensi dan pengalaman-pengalaman yang kami punyai saat iini.

Dengan pengalaman-pengalam9n kami saat ini REI sudah berusia 34 tahun dengan anggota saat ini 2145, dengan 30 DPD REI seluruh Indonesia. ljinkan kami dalam perspektif kami selaku pengusaha Real Estate dan atas nama asosiasi memberikan tanggapan-tanggapan tentang keadaan tata ruang dan usulan-usulan yang akan kami sampaikan.

Bapak-bapak dan lbu-ibu sekalian,

kami melihat kalau tata ruang yang ada saat ini, mungkin kami dapat memotret suatu keadaan dimana dapat dibagi dua.

Yang pertama, adalah daerah-daerah yang meman~J berkembang pesat, dimana pada akhirnya daya dukung dari tata ruang itu sendiri terasa kualahan, ini adalah daerah-daerah yang pesat perkembangannya. Namun juga ada daerah-daerah dalam perspektif Kabupaten dan Kota yang juga memang relative biasa-biasa saja dan lambat. Pada daerah-daerah yang semacam ini, kami melihat tata ruangnya sendiri relative tidak terlalu bermasalah, meskipun menurut catatan yang kami peroleh, bahwa saat ini dari kabupaten dan kota yan!~ ada, yang sudah memiliki r~UTR mudah-mudahan data ini nanti bisa dikonfirmasi, baru sekitar 4% yang sudah ada tata ruangnya, artinya sebagian besar dari daerah-daerah kita sebenarnya mi;mang belum jelas tata ruangnya, ini kenyataan yang ada di lapangan. Akibat di daerah-daerah yang pesat perkembangannya terasa bahwa tata ruang itu mendapatkan tekanan-tekanan, kami mencatat pertama adalah tekanan kependudukan, dari sisi kepadatan manusia yang ada dalam suatu daerah dengan segala macam konsekuensinya. Konsekuensi hunian, transportasi, sampah semacam di Bandung, dan juga konsekuensi-konsekuensi lainnya. lni a~alah suatu tekanan pada daerah-daerah yang relative pesat perkembangannya, dan ini jujur harus kita akui, bahwa tata ruang itu sendiri kualahan terhadap perkembangan-perkembangan yang ada.

Yang kedua, tekanan itu juga berasa bahwa lambatnya ataupun kurangnya infrastruktur terhadap tekanan-tekanan kebutuhan kependudukan itu sencliri. Jadi, masyarakatnya, daerahnya berkembang pesat misalnya semacam daerah cibubur atau depok, rapat, tetapi infrastrutur yang menjadi kewajiban pem1:irintah ini juga terasa lambat, terasa kurang. Akibatnya terjadi suatu stagnasi, terjadi inefisiensi waktu, inefisiensi bahan bakar dan sebagainya, terjadi suatu masalah-masalah di dalam pelaksanaannya.

Hal lain yang kami catat adalah Tata Ruang yan~1 ada saat ini pada daerah-daerah semacam itu cenderung untuk belum menjadi acuan pembangunan dari semua pihak. Jadi sektor perumahan, pertanahan, perhubungan bisa jadi ini kita ke1temu krodit didalam realisasi Tata Ruangnya , kepentingannya berbeda, tetapi pengacu utamanya belum ketemu seperti yang jelas di Jabodetabek. Pada sisi yang lain sebenarnya sangat baik terjadi di masyarakat saat ini adalah kesadaran masyarakat akan good governance, kalau dulu mungkin lebih ya, kalau Tata Ruang melenceng orang menjacli tidak terlalu sensitive, tetapi sekarang kami di sektor perumahan, kalau dulunya ada suatu peruntukan di dalam side plant, peruntukannya adalah fasilitas tertentu, dirubah ataupun ada perubahan side plant, masyarakat otomatis langsung mempertanyakan, kenapa ini bisa terjadi?dan sebagainya-dan sebaga:inya. lni memang sangat kasuistis, tetapi kami melihat bahwa kondisi masyarakat saat ini adalah kondusif untuk melakukan suatu kritis terhadap Tata Ruang yang ada atau aturan-aturan yang ada.

Demikian juga kami melihat bahwa Rancangan Undang-undang Penataan Ruang yang ada atau ketentuan Tata Ruang yang ~da dikaitkan dengan kalau di daerah-daerah adanya Undang-Undang Otonomi Daerah, yang baru datang belakangan, ini juga menimbulkan permasalahan-permasalahan, karena didalam konteks Tata Ruang belum jelas diatur titik terrunya dimana di dalam persin9gungan itu send!iri. lni adalah suatu Tata Ruang sudah ada, kemudian otonomi daerah datan!J belakangan, di dalam kenyataanya, jadi kami misalnya selaku pengembang, ini adalah bagian dari masyarakat yang mengisi tata ruang itu sendiri, kadang-kadang bingung, ini ada suatu benturan-benturan titik singgung ini bagaimana cara mengaturnya. Tentu dengan kondisi dcm fakta-fakta se~acam itu, kami dari R:EI sangat berharap tata ruang ini

ARSIP

DPR

(7)

nanti mengatur beberapa hal, artinya ada suatu kondisi yang diharapkan yang ingin dicapai dari adanya Undang-undahfl Tata Ruang itu sendiri.

Harapan kami pertama, adalah tata ruang sejogjanya menjadi acuan pemerintah baik Pusat, Daerah maupLJn Sektoral, swasta, masyarakat, jadli Tata Ruang ini kami berharap melalui tingkatan Undang-undang adalah meng~integrasikan berbagai macam kepentingan sektor dan pemerintah, swasta dan masyarakat tadi ..

Yang kedua, harapan kami juga biisa diatur untuk di tingkatkannya pengawasan sistim sangsi ataupun mendorong insentif-in!sentif tentang suatu pembangunan ini juga sejogjanya memungkinkan diaturdidalam suatu mekanisme Undang-undang Tata Ruang itu sendiri .

Hal yang ketiga, adalah perlu adanya mekanisme dibuka suatu mekanisme peran swasta dan masyarakat didalam pelaksanaan Tata Ruang sendiri, kamna seperti yang tadi kami laporkan bahwa terkadang perkembangan kependudukan ini berjalan dengan pesat, kemudian infrastruktur berjalan dengan lambat dan ini timbul kompleksitas permasalah. Di dalam hal ini perlu adanya suatu mekanisme, b·ahwa masyarakat dan peran swasta juga punya urun rempug terhadap pelaksanaan khususnya yang langsung terhadap pemecahan-pemecahan masalah dilapangan.

Bapak dan lbu ibu, para anggota pansus yang kami hormati, dengan harapan- harapan yang demikian kami ada usulan-usulan yang secara kongkrit ingin kami sampaikan didalam Rapat Dengar Pendapat dengan pansus ini.

Pertama, kami berharap mengusulkan, bahwa didalam Undang-undang tentang Tata Ruang ini kita mempunyai suatu orientasi, jadi Tata Ruang tidak hanya datar, tetapi mempunyai orientasi secara nasional menuju daya saing nasional kita. Jadi kalau kita Negara banyak hutan, Negara banyak pulau, banyak pantai atau juga Negara punya perbatasan dengan daerah-daerah lain, ini juga Tata Ruang punya jiwa membangun suatu daya saing nasional terhadap bangsa-bangsa lain, ini suatu usulan dari kami dimana didalamnya adalah juga mengakomodir kepentingan pemerintah swasta dan masyarakat dimana harapannya adalah terutama diatur mengenai infrakstrutur yang dalam hal ini menjadi bagian dari pemerintah, sehingga potensi-potensi yang ada dari sumber daya nasional ini dapat diarahkan oleh Tata Ruang menjadi suatu kekuatan.

Kemudian hal yang kedua, ada!lah tata ruang bersifat future orented artinya kita tahu bahwa didalam menyusun Rancangan Undang-undang tentang Penataan Ruang ini kita tidak sendirian ada didalam Republik Indonesia ini, tetapi kita hidup didalam alam global yang sedang berkembang dengan pesat, kalau lah ini ada pada bidang kami saat ini, di Negara-negarn lain sudah terbuka untuk property untuk orang asing, misalnya ini hanya suatu misal, maka kami juga berharap di dalam tata ruang nasional ini ada suatu dorongan dimana kita mengikuti irama itu, kalaulah ini tidak diatur kondisi saat ini. lebih banyak orang Indonesia membeli property di luar negeri yang notabenya merupakan capita/plain uang kita membeli di singapur, di Malaysia, di Australia, di Amerika dan lain-lain. Tet~pi disisi yang lain kita belum membuka pintu terhadap masuknya para pembeli property dari luar negeri ke Indonesia, nah ini sebenarnya suatu

opportunity didalam era globalisasi dima8a seyogyanya salah satu elemennya adalah melalui tata

ruang, ini juga didorong untuk menghasilkan suatu daya saing. Bisa jadi semacam ini property orang asing ini ada!ah mungkin bisa dlatur dalam tata ruang, tidak diatur di semua provinsi, misalnya Jabotabek, Bali, Batam, Bintan, Medan misalnya, atau ada satu aturan tertentu, tetapi ada suatu dorongan, sehingga tata ruang ini mengandung unsur insentif di dalam melakukan investasi-investasi. ·

Hal ketiga, yang kami ingin usulkan adalah Tata Ruang ini agar bisa mengakomodasi kepentingan dan pro!~ram semua sektor, ilustrasinya adalah dibidang perumahan. Saat ini pemerintah mencanangkan gerakan na~ional pengembangan satu juta rumah, seyogyanya di dalam Kabupaten dan Kata itu ditetapkarl adanya kawasan siap bangun minimum satu pada satu kabupaten untuk mendukung GNPSR ini dengan pola kasiba (Kawasan Siap Bangun) yang di inisiatifi oleh Pemerintah Daerah. Tentu :ada sektor-sektor yang lain Sektor Pertanahan, Sektor lnfrastruktur dan Ungkungan Hidup, ini harapan kami, bahwa ini bisa betul-betul menjadi suatu dorongan, sehingga satu sektor perumahan memang terwadahi kepentingannya di dalam Undang-undang Tata Ruang ini.

Yang kedua, adalah kita berbicara Jabotabek, Jabotabek ini jelas permasalahannya salah satu menjadi beban Jabodetabek ini adalah beban lalu lintas para komuter yang bekerja di Jakarta tinggal di Bogar, T(:mgerang, Depok dan Bekasi. Seyogyanya bisa diakomodir juga, bahwa sebenarnya mutlak adanya kebutuhan Rurnah Susun Sederhana di tangah kota. Sampai sejauh ini

7

ARSIP

DPR

(8)

rumah susun murah ~i tengah kota belu~ ada suatu dorongan, di satu sisi dari pihak pemerintah melalui Menteri Perurmahan Rakyat suda~ memprogramkan. Tetapi real tidak ada dorongan, siapa yang mencadangkan 'tanah, siapa yang! akan memberikan insentif infrastruktur terhadap rumah susun murah di Jakarta. Kalau tidak ad~, di sini tidak GNPRS-nya gerakan 1 juta rumah , tetapi kemarin di Pansus Megapolitan kami rr)engusulkan adanya gerakan seratus ribu rumah susun murah di Jabotabek yang dicadangkan t~nahnya, kemudian diberi dorongan melalui tata ruangnya, diberikan insentif infrastrukturnya, dan ~asyarakat yang akan tinggal di situ juga diberi insentif listrinya 50%, airnya 50% dan sebagainy$. Jadi kami sangat berharap, karena tata ruang ini sangat strategis bisa mendo~ong dan bisa men6iptakan · kemanfaatan-kemanfaatan dari kami pengusaha timbul suatu insentif ~ntuk mendorong k~pada titik tertentu yang bisa menyelesaikan tata ruang, sekaligus juga insentif kepada masyar$kat. Karena kalau tidak diatur Pak, mohon maaf, jadi misalnya bicara mengenai air, listrik. Listlriknya rumah susun dengan rumah susun yang lain tidak ada bedanya, rumah: susun yang lain li~triknya sama dengan hotel berbintang, nah ini menu rut saya suatu hal yang perlu mendapatkan ~orongan.

Demikian juga air, air di rumah spsun lebih mahal daripada air yang ada di landed house',

Landed house satu kibik kalau tidak salap Rp 1500, rumah susun Rp 11.000, jadi ini ilustrasi saja,

mungkin keterbatasan kami yang terlal~ detail pada persoalan, tetapi paling tidak kami punya harapan yang sangat besar terhadap ~ndang~undang Tata Ruang ini agar bisa memberikan

dorongan. ·

Demikian, Bapak Pimpinan dan Anggota yang kami hormati.

Berbagai masukan sebagai dis~usi awal, bahan diskusi di dalam pembahasan yang sangat baik ini.

Terima kasih:atas perhatiannya, • Assalamu'alaikum.

KETUA RAPAT: ,

Terima kasih Ketua Real Estate lhdonesia,

Sebelum saY,a lanjut ke Dewan I Maritim, mungkin teman-teman ada yang baru datang. Saya perkenalkan mulai dari sebelah bel~kang, silakan.

F·KB (ALI MUBARAK): Terima kasihi Pimpinan.

Nama saya,: Ali Mubarak dari ~.KB dari Daerah Pemilihan 10 Pekalongan Pemalang Batang.

Terima kasih. KETUA RARAT:

Baik, ada juga dari senior kita darli Komiisi V, Silakan. F·PG (ANDI

~AHAB

OT. MAJOKAYO):

Assalamu'alaikum Wr.Wb. ·

Nama saya, andi Wahab dari F.PG Daerah Pemilihan Sumatera Barat 2. Terima kasih..

Assalamu'alaikum Wr.Wb. KETUA RAPAT:

lni dari senior kita dari Komisi V, ~eliau adalah Pimpinan Komisi V. F-PDIP (H. SUMARYOTO):

Assalamu'alqiikum Wr.Wb.

Nama saya, Sumaryoto dari F.PD!I Perjuangan dari Daerah Pemilihan 4 Jawa tengah. KETUA RAPAT:

Silakan.

ARSIP

DPR

(9)

F·KB (DACHLAN CHUDORI):

Nama saya, Dachlan Chudori a~al Daerah PemiHhan 10 Jawa Barat, Kabupaten Tasik, Kata Tasik dan Kabupaten Garut F.KB dqri Komisi X.

KETUA RAPAT:

Silakan!

F·PDIP (IMAM SOEROSO):

Saya Imam Soeroso dari F.PDI Perjuangan Daerah Pemilihan 4 Jawa Timur Kabupaten Lumajang dan Jember.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Silakan!

F-PPP (LENA MARYANA MUKl\I):

Assalamu'alaikum Wr.Wb. i

Saya, Lena Maryana dari F.PPP,Daerah Pemilihan DKI I. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Silakan!

F·PG (BOMER PASARIBU):

Bomer Pasaribu, dari daerah PertJilihan 3 Sumatera Utara dari F.PG.

KETUA RAPAT:

Kebetulan ada yang baru datang 11agi, s1ilakan pak.

F·KB (ARSA SUTHISNA):

Saya, M.ArsaSuthisna, dari FKB Daerah Pemilihan Banten

KETUA RAPAT:

Baik, saya kira kita lanjutkan kepada Dewan Maritim, kami persilahkan.

SEKRET ARIS UMUM DMI:

Terima kasih kepada Pimpinan Si1dang dan Bapak lbu Anggota Pansus yang terhormat.

Assalamu'alaikum Wr.Wb. Salam sejahtera bagi kita semua.

Tentu yang pertama, barangkali ada yang belum mengetahui tentang Dewan Maritim Indonesia, Dewan Maritim Indonesia ketuanya sebenar betulnya Presiden, Ketua Harianya Menteri Kelautan dan Perikanan. :

Kemudian, ada 10 Menteri di ~alam dan ada satu Kepala Staf Angkatan Laut, ada Anggota dari berbagai stakeholders dari instansi yang berkaitan dengan kemaritiman dari HNSI dan semacam itu, oleh karena itu hari 'ini saya ingin menyampaikan, bahwa biasanya dalam pertemuan adalah Ketua Harian yang hacdir, tapi tadi malam ada rapat bersama dengan Korrisi IV sampai jam 24.00 lewat, sehingga beliaµ menugaskan Sekretaris Umum untuk menyampaikan tanggapan terhadap Rancangan Undanglundang tentang Penataan Ruang. Oleh karena itu dari Ketua Harian menyampaikan mohon maaf, tidak bisa hadir di sini dan saya kira tidak rugi juga, karena yang hadir Sekertaris Umum.

Kemudian dari Dewan Maritim :Indonesia memang hanya saya sendiri, karena ada beberapa Sekretaris Bidang, staf kami sedang membantu DPD dalam menggodok UU Kepelabuanan yang sekarang ada di Mataram bersama-sama dengan Asosiasi Pemerintah Daerah.

Dan kedua, ada staf kami juga m~mbantu Perla didalam menyusun naskah akademiknya untuk menyusun Undang-undang Pelaya~an Rakyat yang nanti tahun depan kita ajukan, karena mitra kerja dari Dewan Maritim Indonesia ini sebetulnya ada di Komisi IV dan kami sudah

9

ARSIP

DPR

(10)

menyampaikan, bahwa tahun depan kita akan masukan dengan Undang-undang pelayaran yang sekarang kita sedang menggodok naskah akademiknya dan staf kami sudah ada dilapangan, oleh karena itu mo hon maaf, karena say a sendiri.

Bapak Pimpinan dan Para Angg9ta Yang Terhormat.

Kemudian Bapak Dirjen Tata RU!ang, ini barangkali setelah saya membaca memang saya mohon maaf, kami tidak menyampaikani secara tertulis, karena baru terima kemarin sore jam 5, sedangkan jam 7 ada rapat dengan Komisi IV, sehingga tidak sempat kami merangkum, tapi kami sudah membaca di dalam. Ada beberapa hal yang akan kami komentari pertama, bahwa penyusunan tata ruang ini barangkali tidak bisa memisahkan antara ruang darat, ruang laut dan ruang udara, sebagai contoh nanti, kala~ RancanganUndang-undang katakanlah Undang-undang kita boleh bertentangan dengan Undarg-undang lnternasional yang namanya ruang laut itu menurut UNCLOS adalah badan air dibi.awah daripada badan air dibawahnya dan badan air di udara itu namanya Ruang Laut, ini kal~u pandangan air saja ini bertentangan dengan Hukum lnternasional nanti kita kena jebakan lagi! Oleh karena itu harus mendapat perhatian serius.

Yang kedua, barangkali dalam penyusunan ini saya melihat sepintas ini pola pikirnya masih sama dengan dulu. Padahal jan~an lupa, bahwa Undang-Undang Dasar 1945 kita yang revisinya terakhir Pasal 25 Ayat (25) a' menjelaskan, bahwa Negara Indonesia adalah Negara

Kepulauan yang berbasis Nusantara, apa artinya Nusantara, NUSANTARA itu sama ironisnya

dengan bahasanya dengan Kelautan, oleh karena itu didalam tata ruang itu harus berangkat dari Undang-Undang ini dalam Pasal 25 hart.ls masuk, ini tidak masuk, saya lihat bertolak dari Pasal 33 tanah milik Negara dan sebagainya, i~i barangkali saran untuk masukan.

Kemudian untuk pendekatan diaalam penyusunan Tata Ruang kebetulan Bapak Dirjen juga ada dan Bapak-bapak yang terhormat di DPR. Barangkali harus kita lihat tidak melihat dari Darat, Laut dan Udara, tetapi pendekatamnya haruslah pendekatan wilayah, kenapa, disampaikan oleh pembicara pertama tadi jangan sampai terfokus di Jawa, kita harus pendekatan wilayah, pendekatan wilayah itu bisa saja kita ~embagi Indonesia 3 wilayah atau pendekatan perpulau yang besar, sehingga apa yang kita idam~idamkan perencanaan Tata Ruang ini adalah merupakan acuan dari pembangunan nasional kita. Saya kira berangkat dari sana tidak tumpang tidih satu dengan yang lain memang sekarang ini pun, kalau kita mau lepas kan Tata Ruangnya untuk di pulau jawa ini sudah tidak beraturan lagi memang ini tantangan besar bagi Bapak Dirjen untuk menghadapi, oleh karena itu didalam penyusunan Tata Ruang itu tidak memerlukan pendeka-ian Ruang Laut, Ruang Darat dan Ruang Wdara, tetapi haruslah pendekatan dengan pendekatan wilayah. Apakah dia bersifat pendekatan wilayalh sebagai Wilayah Timur, Wilayah Tengah, ataukah Wilayah Barat ataukah pendekatan wilayah melihat posisi pulau, sehingga Tata Ruang itu akan mencakup sampai dengan batas Kelautan kita yang sekarang ini menjadi tantangan besar bagi kita.

Indonesia ini sekarang ada didalam kondisi yang sangat rawan, kalau mau lihat batas wilayah kita ini dengan beberapa Nega(a tetangga yang belum tuntas, kita dengan Singapurn belum tuntas, kita dengan Malaysia beilum tuntas Pasca dari Sipadan Ligitan belum selesai, Ambalat-pun belum selesai belum clear, pleh karena itu tata ruang harus juga memikirkan hal hal demikian, sudah tidak lagi pikirkan kita saja dengan Philipina ini ada born waktu yang tersimpa~ mereka masih mikirkan dengan traktat tahun 1927. Padahal sudah ada pembicaraan bilateral, oleh karena itu pendekatan dengan penyusuncrin tata ruang itu harus pendekatan wilayah jangan hanya dengan Darat, Laut, Udara, saya setuju memang dalam tujuan ini kita harus mengakui semuanya

~~tu.k melihat per~em~angan keseimbangian dan l~in-1.ain. Keputusan dasar untuk pengkembangan

1ni k1ta harus mel1hat JUga, karena pemb~ngunan 1tu JUga harus merata seluruh Indonesia .iangan sampai nanti, kalau tidak melihat wilayah mmti akan tersentral, sentral pada daerah-daerah tertentu, sehingga pada bagian-bagian kecil tidak akan kebagian.

Selanjutnya barangkali saya tidak telalu banyak pak, nanti secara tertulis dari Dewan Maritim akan menyampaikan ke Pansus, karena mungkin minggu depan, saya akan mengundang semua, karena di Dewan Maritim ini banyak ahli pak, baik ahli hukum, ahli maritim maupun barangkali Bapak Bomer, Bapak Silalahi itahu, karena mitra kerja kita dengan Komisi IV, jadi itu terkumpul disana, sehingga nanti kita rapatkan dan kita berikan masukan. Dan ada satu hal yang sang.pt prinsif , kalau saya melihat disini ada Pasal 17 Bagian 3, bahwa harus dilaksanakan dengan tetap menghormat hak yang dimiliki orang, Laut tidak dimiliki orang, tetapi ada hak ulayat harus dipertimbangkan pak, misalnya hak ulayat yang ada di Aceh, itu harus mendengar tentang Panglima Laut di sanger ta laut itu ada hak ulayat, itu yang mengaturnya adalah opolau, begitu

ARSIP

DPR

(11)

juga dengan lrian ada hak ulayatnya tidak dimiliki orang, tapi hak ulayat ini harus dimasukan, sehingga ada pertimbangan-pertimbangan di dalam penetapan penetapan wilayah itu, saya kira demikian pak, untuk penyampaian dari D~wan Maritim Indonesia dan saya mohon maaf barangkali kalau nadanya agak keras, karena saya kira ini lebih baik dari awal harus kita cepat-cepat mengemukakan ini supaya jangan sampai nanti terbentur sesudah terjadi peristiwa-peristiwa sesudah Undang-Undang keluar, ini narnti timbul lagi persoalan yang baru, lebih awal awal kita mengasah otak dan kita sama-sama surnbangkan demi Bangsa dan Negara.

Dan Dewan Maritim Indonesia siap untuk membantu Bapak-bapak Pansus L'ntuk menggodok Rancangan Undang-Undang tentang Penataan Ruang ini, dan kami siap juga untuk menyiapkan beberapa ahli untuk membantu ini pak, saya kira demikian.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Baik, terima kasih kepada Ketua pewan Maritim Indonesia,

Selanjutnya kepada Ketua Himpunan K:erukunan Tani Indonesia, silahkan. KETUA HKTI (MARTIN H.):

Saudara Ketua,

Para Angota Dewan Perwakilan Rakyat Yang T erhormat, Saudara Dirjen dan hadirin yang berbahagia.

lzinkan kami menyampaikan permohonan maaf, Ketua Umum HKTI tidak bisa hadir dan mewakilkan kepada kami ada 6 orang. F?ertama saya ingin memperkenalkan Sdr. Winarno Tahir, Ketua HKTI juga Ketua KTNH, Sdr. Edi Prabowo, salah satu Ketua HKTI, Ahsandul Kasasi, Ketua HKTI, Sdr. Dr.Rahmat Mahfudi, Sekjen1 HKT:I dan Sdr. Syaiful Darner, Bendahara HKTI, dan

Sdr.Silalahi, saya sendiri Martin Hutab~rat. Kami sangat menghargai sekali atas undangan ini, karena ini kesempatan kami untuk mengingatkan kepada Dewan Yang Terhormat, bahwa karena Negara kita ini Negara agraris. Oleh :Dewan Maritim tadi sudah dikatakan ini juga daerah Kepulauan. Tetapi kami juga ingin mehgingatkan, bahwa Negara agraris ini seyogyanya tidak boleh tergantung kebutuhan pangannya itu kepada import dari luar, maka dalam rangka ini, Penataan Ruang ini juga harus menduk~ng bagaimana ketahanan pangan nasional kita didukung oleh pengaturan ruang agar petani-petani kita ini mampu untuk memenuhi kebutuhan nasional kita di bidang pangan.

Sekarang ini Saudara Ketua dan Saudara-saudara Anggota Dewan yang Terhormat, ada 12,8 juta hektar tanah yang dijadikan sebagai tanah untuk pertanian, khususnya dalam memproduksi padi di Negara kita. Di Jawa saja ada 29,5 juta ton produksi padi yang dihasilkan oleh irigasi pertanian di Jawa, sedangkan di luar Jawa itu ada 24,8 juta ton padi, maka keseluruhan produksi padi di Indonesia pada tahun yang lalu adalah 54,8 juta ton padi. Pada saat kita akan membuat Penataan Ruang, kita ingin b$gaimana agar supaya tanah-tanah pertanian ini jangan mudah untuk dikonfersi kepada penggunaan yang lain. Bagaimana kita lihat, bahwa tanah-tanah pertanian yang bagus itu begitu gampang dikonfersi kepada penggunaan yang lain, seperti industri sehingga sangat mengurangi potensi kita untuk meningkatkan produksi pangan kita.

Dari 12,8 juta hektar tanah untuk pertanian, sekarang malah mengalami kerusakan itu kira-kira 22%. Dalam keadaan inilah, maka lkami mengingatkan agar di dalam pembahasan ini ada suatu penekanan terhadap Indonesia ini sebagai daerah pertanian. Dan didalam penataan ini memang kita tidak melihat secara signifikan kalimat-kalimat itu, kami memahami, karena ini memang merupakan satu Undang-undang yang mengatur secara garis besarnya saja. Tetapi kami kira tidak ada salahnya, bahwa penekanan terhadap perlindungan penggunaan tanah-tan2,h untuk pertanian itu perlu juga digaris bawahi di dalam Rancangan Undang-undang ini.

Saudara Ketua dan saudara-saudara sekalian,

Kami melihat, bahwa pada saat i~i di Indonesia ada di Pulau Jawa daerah pertanian yang sudah mengalami tingkat yang sangat susah untuk eksentifikasi, maka tadi dikatakan saudara Winarno intensiflkasi akan dilakukan, tetapi ada daerah-daerah yang lain yang berpotensi untuk membuka perluasan sawah, misalnya di Maraoke. Maraoke itu adalah suatu daerah yang sangat potensial sebenarnya sebagai lumbung padi kita ke depan. Ada ratusan ribu hektar dalam satu tanah yang datar yang tidak memerlukan 9uatu pembangunan irigasi yang terlalu rumit.

Hal-hal seperti ini memang memerlukan adanya koordinasi penyusunan mengenai Penataan Ruang dengan instansi-instansi yang terkait instansi Departemen Pertanian, khususnya

1 1

ARSIP

DPR

(12)

nantinya akan membahas mengenai k itan ini dengan Undang-undang tentang Pokok-pokok Agraria. Kami melihat, bahwa memang kan ada penyempurnaan tentang Undang-undang Pokok Agraria, tetapi sejak awal kami ingin m ngingatkan agar ada sinkronisasi di dalam penyusunan Undang-undang Tata Ruang ini denga~ Undang-undang Agraria yang akan datang, sehingga dengan demikian ada satu usaha-usaha yang sungguh-sungguh untuk membangun kepentingan bangsa, tetapi yang berangkat dari ketah nan pangan kita dan juga memberikan kesempatan yang luas bagi tanah-tanah pertanian digunakan oleh petani kita.

Saudara Ketua dan Saudara-saubara Sekalian.

Kami menghargai, bahwa di diam Undang-undang ini dikatakan keikutsertaan peran masyarakat di dalam merumuskan Pendtaan Ruang ke depan. Saya kira sangat penting, karena Indonesia ini begitu luas sekali, maKa banyak daerah-daerah yang memiliki keunggulan-keunggulan tertentu, khususnya di

bidan~

masalah pertanian. Keunggulan-keunggulan tertentu ini hendaknya jangan sampai diabaikan, te~api ini bisa disinkronkan dalam rangka penyusunan satu Undang-undang yang bersifat Nasional. I

Terakhir saya kira Saudara Ket~a adalah mengenai masalah keterbukaan, kami sangat menggaris bawahi mengenai Undang-urydang Penataan Ruang ini ke depan. Kalau sesudah ini diundangkan yang paling panting ada.la~h bagaimana keterbukaan itu dinyatakan didalam public kepada masyarakat. Karena Tata Ruan ini seringkali menjadi objek bisnis daripada orang yang mengetahui, sedangkan masyarakat yan memerlukan mengenai ini tidak dapat akses untuk bisa menjadikan ini sebagai pegangannya di dalam mengatur bagaimana penggunaannya ke depan, maka kami sangat mengharapkan aga 'I di dalam Rancangan Undang-Undang ini keterbukaan mengenai Penataan Ruang ini dapat 1 diakses oleh masyarakat secara terbuka agar dapat

membantu masyarakat dalam rangka m mahami, membangun pertanian kita, penggunaan lahan-lahan secara berencana yang tepat di dalam kepentingan Negara kita.

Demikianlah, saya kira Saud ra Ketua, Saudara-saudara Anggota Dewan Yang Terhormat, pemikiran-pemikiran kami, k rena masih banyak teman-teman yang lain, dan kami berharap kalau ada seperti ini diberikan waktu agak luas beberapa hari supaya ada kesempatan bagi kami untuk mengumpulinya, dan n~pti dalam tanya jawab ada teman-teman yang membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan Bapa~-bapak Anggota Dewan Yang Terhormat.

Terima kasih.

KETUA RAPAT: I

Baik! Terima kasih Ketua HKTI. ~aya lanjutkan Ketua INKINDO, saya persilahkan! I

SEKRETARIS UMUM INKINDOl(LUKMAN HAKIM): Assalamu'alaikum,

Selamat pagi. 1

Yang Terhormat Pimpinan Rapatldan Anggota Pansus, rekan-rekan dari Asosiasi.

Pertama-tama, kami

perkenalka~I'

bahwa kami nama Lukman Hakim, jabatan Sekretaris Umum, karena Ketua kami berhalangan untuk hadir, dan hadir bersama ini adalah rekan kami Djoko dari Ketua Jawa Timur. \

Bapak dan lbu Sekalian. !

lnkindo adalah asosiasi konsul~an Indonesia yang beranggotakan kurang lebih 5000 anggota, diantara anggota itu sekitar 5%1.sekitar 250 adalah konsultan perencanaan tata ruang, dan konsultan Perencanaan Tata Ruang rtu sudah tersebar hampir seluruh Indonesia, jadi sudah ada. Jadi pengalaman didalam proses ta~a ruang selama kita ada Republik ini banyak sekali kami tidak ceritakan, bapak dan lbu saya kiral bisa mengetahui pada garis besarnya yang ditemukan adalah inkonsistensi terhadap apa yang ~·ta buat.

Pertama-tama, saya ingin sampaikan, bahwa rencana Tata Ruang adalah suatu kesepakatan, berbagai kekuatan dalam s atu masyarakat di suatu wilayah administrasi, itu sudah saya lihat di bungkus dalam kata-kata Pabal demi Pasal. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam gambar, gambarnya diwarnai hijau, kuning, dan cokelat, dan gambar tersebut terikat suatu bentuk koordinat geografis. Dan lebih jauh lagi! dari koordinat geografis itu, dia lebih jauh lagi akan

b~~d~mpak secara ekonomis terhadap lpemilik tanah atau yang mengembangkan tanah itu,

d1s1nilah letaknya permasalahan yang akan dihadapi oleh Rancangan Undang-Undang atau rumusan tata ruang. ~

ARSIP

DPR

(13)

Dalam Rancangan IUndang-Un ang tentang Penataan Ruang, Rancangan Tata Ruang yang disampaikan tadi malaf. I

I .

ANGGOTA PANsys: '

Bapak Pimpinan, s1ya pikir bisa iganti mengganggu sekali suaranya. KETUA RAPAT:

I

Oh mikenya ya.

I

SEKRET ARIS UMUM INKINDO (LUKMAN HAKIM):

Dalam Rancangan ndang-Und ng tentang Penataan Ruang yang disampaikan baru satu hari ini, kami tidak menemu an

Pasal-P~sal

yarig mengatur tata cara proses pengambil keputusan di dalam menghasilkan Ra cangan tata 1uang ini. Di dalam proses menghasilkan suatu keputusan ini tidak dibuat didalam ta a ruang, pa aha! undang-undang ini adalah mengikat semua warga Negara termasuk instansi, adi kami me yarankan disini dimasukan dalam proses menghasilkan tata ruang. Di sini disebutk n proses te sebut akan diatur oleh Peraturan Pemerintah, Peraturan Pemerintah terlalu banyak khirnya nga bang, jadi ini tidak mengikat lagi.

Kami maksudkan, ahwa proses itu adalah dimulai dari konsep, jalan pemikiran, sehingga sampai perjalanannya Ran angan Tata uang itu sampai ke Legislatif, maupun Legislatif Tingkat Nasional, Provinsi maupun Kabupaten/K ta. Jadi proses inilah yang sebetulnya mengikat, karena di dalam proses inilah e sekutif bisa ermain, ini kesulitan kita. Di dalam suatu kota yang menguasai investasi bisa engatur tat ruang, segi proses ini yang harus ada dalam Undang-undang, ini tidak ada sama ekali. I

Kemudian, itu

men~enai

tidak

a~anya

tata cara dan proses, karena kita tadi menyatakan tata ruang itu merupakan ~uatu kesepa~atan. Kesepakatan itu sebelum kita gambar, tentu harus ketemu dulu jalan pikiran~a, kalau ka1arnya konsepnya, kalau sederhananya ini dipilah. Tata Ruang Nasional adalah mi~pi kita secana nasional kita sepakat terhadap bentuk fisik tata ruang Indonesia ini. Konsepnya hFrus sederha a bisa diterima dari Aceh, Kalimantan maupun lrian, jadi mimpi ini harus jelas tidak renjelimet. K lau ini .mimpinya panjang-panjang tidak tertangkap, inilah yang disebut konsep. BegiJ.u juga kons p satu Provinsi, mimpi ini juga harus jelas dengan kata-kata sederhana, ini harus k\ta sepakati, j di proses inilah mewujudkan mimpi, mimpi yang begitu di awan, turun ke bawah sarr,pai menjadi ertas jadi gambar kuning, hijau dan cokelat, jadi ininya setuju dulu, jadi proses inil9h didalam Ra cangan ini tidak ada.

Selanjutnya mengenai hierarki 1ata Ruang, didalam Pasal-Pasal ini disebutkan, bahwa Tata Ruang Provinsi berpedoman kepad$ Tata Ruang Nasiionall, Tata Ruang Kota dan Kabupaten berpedoman dengan Tata1 Ruang Provirsi, kata-kata berpedoman ini apa? apa anjuran? apa

mengikat? dan

sebagainy~,

jadi

kata-ka~~

"pedoman" itu lebih bagus dihilangkan. Berdasarkan

jadi urutannya, turunan,

kal~u

pedoman

i masih ngambang, jadi masih bisa ini diselewengkan, itu kata-kata hierarki. I

Kemudian di dala beberapa P sal yang saya baca disitu tidak ada sanksi pidana hanya sanksi administrative, k mudian dis butkan diberikan sanksi sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku ini juga nga~bang, ini harus dibuat sajalah sanksinya, misalnya kalau melanggar itu sekian tahu , apa 5 tahu~ atau 3 tahun, dijelaskan saja, jadi ada kalimat-1<.alimat seperti itu. Misalnya Kepal Daerah bers~kongkol melanggar itu, ya .. dia diturunkan, jadi Anggota Dewan Perwakilan Rakya di daerah j~las, oh ini Kepala Daerah melanggar, melanggarnya misalnya 20%, 30% jelas, alau sekaran$ kan susah melanggar sedikit kena banyak, jadi supaya bisa operasional di dalam ~engawasan. I

Bapak dan lbu se~rlian,

Mengenai Tata R~ang Nasional. Tata Ruang Nasional tidak disebutkan secara jelas, hanya disebutkan garis be arnya saja. Saya ingin menyampaikan, bahwa Tata Ruang Nasional tadi adalah hanya me gatur kepad infrastruktur skala nasional, Pelabuhan Nasional, lnternasional, Bandara N~sional, Band ra lnternasional, Jalan Raya Nasional, Hutan-hutan Lindung Skala Nasional, Areal-areal Prod ksi Skala Nasional, dan ini saja yang bisa dibiayai oleh APBN di dalam proyek-pr~yek yang me unjang Tata Ruang Nasional. Jadi APBN ini tidak bisa membiayai misalnya proye -proyek yang di Provinsi yang trdak menunjang Tata Ruang Nasional. Jadi keberadaan Tata R ang Nasional ini adalah kesepakatan kita terhadap mimpi nasional dituangkan kedalam gamb,r, dituangkan ~alam rancangan, dan inilah uang rakyat secara nasional

I I I I I 13

ARSIP

DPR

RI

(14)

boleh keluar. Kalau sement~ra ini kan uiang APBN inikan Bupati usulkan, Gubernur usulkan, ini proyeknya skalanya kira-kir~ Nasional dikeluarin uangnya dari APBN. Jadi belum tentu uang diturunkan di Kalimantan lrekan-rekan ; kita di lrian setuju, dibuat jembatan begitu panjang, dikeluarkan uang Rp 500 rrjiliar di lriannya tidak kebagian. Jadi jalan jembatan di Kalimantan itu belum berarti, itu mimpi n~sional, itu bc;iru mimpi Provinsi ya uang Provinsi, itu mengenai Tata Ruang Nasional. Apa yang ikita hadapi sekarang contohnya, seperti Samarinda ingin membangun lapangan terbang, 30 km 1nya kabupaten tenggarong buat juga lapangan terbang, tidak ada keputusan Gubernur pasti Wilih mana? Menteri pun ragu, siapa yang banyak menggosok di tingkat nasional, dia yang mengarilbil keputusarl, tidak ada suatu kepastian. Jadi kembali lagi, kalau ada Tata Ruang Nasional yang· mengatur teptang dimana kita bangun Bandara Skala Nasional dan lnternasional dan itu memqng biayanya i Nasional, investornya pun bergabung dengan Nasional, jadi tidak ada investornya qergabung dengan pemerintah local, tetapi Dirjen Perhubungan Udara atau Menteri Perhubungan \ngin mengat4r investor, saya kira tidak bisa. Jadi Tata Ruang Nasional itu adalah membatasi sk~la-skala nasional saja, seperti pemerintah Malaysia membangun perkebunan kelapa sawit yang begitu be,sar, itu juga biaya nasional tidak ada biaya local. Jadi di dalam Tata Ruang Nasionfl ini kepada !yang menyusun ini ditegaskan Tata Ruang ini apa saja yang bisa kita atur, jangan ~ang kecil-kecil, karena duitnya, duit keseluruhan.

Bapak dan lbu sekalian, !

Ada lagi yang in~in kami sampaikan, bahwa Tata Ruang Nasional ini nomor satu perioritasnya adalah Satu, 1mempertahankan ideology dan persatuan bangsa, tidak usah disebut, tapi itulah urutan pertama~ Kedua, mehjamin · efisiensi jaringan transportasi dan perhubungan secara nasional, itu tujua~nya. Ketiga, mempertahankan tanah-tanah produksi yang menjadi bagian kehidupan dan bagjian daripada pekerjaan kita, seperti yang tadi bapak sampaikan, kho tidak ada jaminannya sawah itu bertahan, kho tidak ada jaminan tempat perkebunan itu bertahan, semua dihabiskan untuk ~angunan, semua didirikan untuk industri, satu saat industrinya mati semuanya akhirnya produki>i tidak ada. J~di tata ruang nasional ini adalah tujuannya itu, kalau kita sepakat atau masih merasa kita ini masih makan beras 20 tahun atau 30 tahun yang akan datang, tentu kan lahan pertanian i~i kan dipertahankan. Di dalam rancangan ini kami tidak melihat ini bisa

ada. i '

Dan terakhir,

masi~

didalam Pasal-Pasal itu disebutkan Presiden menunjuk Menteri untuk urusan tata ruang. Kalima( ini ngambang juga, kesehatan jelas Menteri Kesehatan, tanah jelas BPN, kenapa tidak dipastik~n saja Menteh apa yang ditunjuk. Jadi Bapak dan lbu di Pansus, saya menyarankan dipastikan s$ja, karena supaya masyarakat ini tahu, ini kalau Tata Ruang kita ini ngacok siapa siapa yan1g bertanggun:g jawab? Kan tidak bisa Bapak Presiden, pasti ada Menterinya, Menteri mana? Kalau sekarang mungkin masih dipegang oleh Dirjen Tata Ruang,

I

Departemen Pekerjaan Urryum, tetapi secara legal Undang-undangnya tidak ada pak. Jadi mesti dipastikan saja kalau kita kesih ke Pekedaan Umum, Pekerjaan Umum, apa dikasih ke Bapenas, Bapenas, jadi sudah pasti. I ,

Dan terakhir, ini riiohon maaf ~epada Bapak Dirjen yang mengonsep ini, setelah era reformasi dan era pikiran-pikiran baru kami berpendapat, khususnya konsultan kata-kata yang tercantum didalamnya ad~lah "pembina9n" itu tidak tepat lagi, karena "pembinaan" itu dengan

yang dibina lebih bodoh yang membina lebih pintar. Kata dan Kabupaten maupun Provinsi itu tidak dalam pengertian lebih bodph daripada Pemerintah Pusat.

Jadi kata-kata "p~mbinaan" itu ~olong dipikirkanlah, apakah itu masih tepat untuk kita sekarang. Khususnya untyk "pengawasan" justru ditekankan, karena ditingkat nasionallah yang

bisa mengawasi kurang le~ihnya atau peryelewengan tata ruang itu Pemerintah Nasionallah yang mempunyai wewenang. Ja~i di sanalah letaknya, jadi kata-kata yang menyangkut pembinaan itu hanyalah klise bagaimana[ instansi pusat ingin campur pekerjaan di daerah. Jadi lebih bagus

"pembinaan" itu dibuang,. dan itu mengur$ngii harga dari ahli-ahli maupun instansi di daerah. Jadi

itu sajalah pak, kira-kira surnbang pikiran 'dari lkatan Nasional Konsultan Indonesia dan tertulisnya akan kami sampaikan kep~da Bapak, sekian.

Terima kasih, i Wassalamu'alaiku~. !

ARSIP

DPR

RI

(15)

KETUA RAPAT:

Terima kasih Ketua lnkindo, sebelum saya lanjutkan kepada Ketua Gapensi ada anggota yang baru datang, yann pertama adalah beliau ini dulunya juru bicara Amin Rais.Silakan memperkenalkan diri.

F-PDIP (NUSYIRWAN SOEJONO): Terima kasih Pak Ketua, ' Nusyirwan dari F.PDIP.

KETUA RAPAT:

Baik, silakan Saudara Ketua Gapensi. KETUA GAPENSI (EFENDI SIANIPAR):

Terima kasih Bapak Pimpinan dan Bapak-bapak Sekalian.

Pertama, saya rnemperkenalkan diri saya, saya Effendi Sianipar, dari Gapensi bersama saya turut hadir Bapak Suep Dido, Fane! Pandjaitan, lbu Sri Suharyati Suharsoyo, dan Bapak Sarmi.

Bapak Sekalian diruangan ini kenyamanan kami terjamin, karena banyak orang-orang kami disini, sehingga keb19ranian kami cukup terjamin.

Bapak-bapak Sekalian, bahwa kpmi dari pelaksana konstruksi tentu tidak begitu banyak memasuki ruang-ruang yang filosofis t~ntang tata ruang, tadi telah banyak kami mendengar teman-teman kami yang lebih menguasai mengenai tata ruang, sehingga hal-hal yang bersifat filosofis kami merasa terjamin, tetapi setalah ke kontraktor banyak hal-hal yang kami alami karena tata ruang ini mencakup kepada Penataan Ruang, pemanfaatan dan juga pengendalian, karena tentu dari hal-hal Penataan Ruang ini akan terwujudlah diatasnya beberapa pembangunan infrastruktur yang tentunya pembangunan infrastruktur ini sangat erat dengan tugas-tugas kami, sehingga kami melihat dalam perjala~an profesi kami1, bahwa ada hal-hal yang menjadi penghambat profesi karni dan juga bagi kenyamanan d~ tengah-tengah masyarakat kalau mengenai beberapa hal tentang tata ruang ini tidak benar-benar kita kritisi, antara lain, bilamana Penataan Ruang ini rnasalah pertama pelepasan hak. Sering kami alami dalam proses pembangunan dalam pelaksanaannya rnasalah pelepasan hak ini menjadi kendala yang besar pada saat kita melaksanakan pembangunan. Jadi tentu hal ini menjadi catatan dalam penyusunan ini, bagaimana pengaturan dalam pemanfaatan Tata Ruang dan penyusunan Tata Ruang supaya hal-hal yang telah di plot d.i dalam pemanfaatan ruang tersebut betul-betul pelepasan-pelepasan hal< dilakukan secara baik.

Kedua, mengenai masalah yang berkaitan perizinan-perizinan,pak. Tentu kita sebagai pelaksana konstruksi meminta supaya I masalah perizinan-perizinan juga diatur secara baik masalah tingkatan-tingkatan pengambil keputusan, karena begitu kita melaksanakan pembangunan sering kita terhambat di dCllam perizinan atau peruntukan daripada objek yang akan kita laksanakan. Jadi saya kira masalah !teknis mengenai objek ini begitu kita mendapat perintah untuk melaksanakan, artinya pelaksan~an itu telah masuk didalam koridor-koridor daripada Penataan Ruang secara baik. Yang tidak kalah pentingnya saya kira adalah yang berkaitan dengan sosialisasi, tentu karena tata ruang ini mencakup kepada kehidupan masyarakat dan diatasnya ada pemanfaatan yang benmanfaat bagi masyarakat tentu sosialisasi daripada pemanfaatan ruang dan tata ruang itu h'arus secara terus menerus secara baik disosialisasikan mungkin oleh aparat-aparat pemerintah ldari tingkatan yang lebih rendah sampai atas supaya masyarakat itu mengerti objek apa yang' akan ada di dalam pemanfaatan ruang yang berkaitan dengan kepemilikan daripada tanahnya, karena hal ini yang sering kita lihat, kita akan menbangun suatu fasilitas atas perintah dari pemerintah, tetapi di dalam kendalanya berlarut-larut karena masyarakat yang menurut pikiran dari pembuat kebijakan bermanfaat bagi masyarakat karena tidak disosialisasikan dengan baik menjadi kendala bagi masyarakat. Jadi saya kira, karena kami ini dari Gapensi kontraktor kami nanti lebi~ banyak mendengar, tentu kalau ada hal-hal yang teknis yang perlu mendapat masukan dari kami, kami siap akan dimintai oleh Bapak lbu yang terhormat sebagai masukan dalam aturan ini.

T erima kasih.

15

ARSIP

DPR

(16)

KETUA RAPAT:

Baik, terima kasih ketua Gapensi.

Barangkali perlu saya informa$ikan, bahwa sebenarnya bahan Rancangan Undang-undang ini sudah kami k.irimkan dua minggu lalu, saya tidalc tahu persis dimana hambatannya sampai ada beberapa, menurut sekretariat kami sudah mengirim itu kurang lebill dua minggu lalu, tetapi tidak ada masalah, barangkali masukan-masukan dari saudara-saudara sekalian adalah merupakan hal yang sangat penting buat k.ami mengingat, bahwa undang-undang ini dilakukan secara integritas, sinkronisasi dan mencakup masalah-masalah yang membutuhkan kelangsungan daripada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Untuk itu barangkali disini sudah ada tujuh teman-teman yang ingin memperdalam dan mernperkaya wacana tentang Undang-undang ini. Untuk itu barangkali nama-nc;imanya saya bacakan mungkin ada lagi yang mendaftar, yang pertama adalah Syamsul Hilal, kedua, Heri Akhmadi, ketiga, Maruahal Silalahi, Ke-ernpat, Mangindaan, Abdul Hakim, Bomer Pasa:ribu dan Arsa Suthisna, hanya 7 orang barangkali. Kira-kira siapa lagi yang mendaftar sebelum kita berikan, Bapak Afni.

F·PAN (AFNI ACHMAD):

Saya ingin mendaftar, tapi saya irgin pi1ndah ke Pansus lain pak, jadi saya agak malu.

KETUA RAPAT:

Baik, nanti kita lihat waktunya, hanti kita waktunya nanti kita persilakan. Baiklah, untuk tidak membuang waktu, saya persilak~n Saudara Syamsul Hilal bersiap-siap Saudara Heri

Akhmadi. '

F·PKS (SY AMSU HILAL):

Terima kasih Pimpinan, Assalamu'alaikurn Wr.Wb.

Yang saya hormati Bapak Pimpi~an Pansus dan Anggota Pansus Penataan Ruang, Bapak-bapak undangan yang nadir pada hari ini, saya sangat berterima kasih atas masukan-masukan yang kami terima paqa kesempatan pagi hari ini. Memang yang idealnya yang ingin kami harapkan tadinya kita akan mendapatkan masukan Pasal per Pasal, sehingga kita akan lebih konkret untuk menyempurnakan Rancangan Undang-Undang ini ke depan. Sedikit saya mengingatkan, bahwa sering kali kita salah dalam mengungkapkan, seringnya mengatakan Rancangan Undang-Undang Tata Ruang,seringnya sepeprti itu. Padahal yang benar adalah Rancangan Undang-Undang tentang Penataan Ruang meskipun masuk RUU, ini sekedar mengingatkan saja.

Ada beberapa t1al yang ingin !saya tanggapi terkait dengan masukan-masukan tadi, pertama, mengenai Penataan Ruang itu 1yang diusulkan ba~1aimana, kalau Penataan Ruang itu

berdasarkan region,masalah wilayah barat, timur, tengah dan seterusnya, yang sesungguhnya di dalam Pasal 4 di bagian kedua, pengelo1mpokan memang di situ Penataan Ruang dikelompokan

berdasarkan system, fungsi kawasan, adminiistrasi, kegiatan kawasan dan nilai strategis kawasan, di situ sudah dipilah-pilah hanya saja saya ingin meminta masukan dari bapak-bapak sekalian, bahwa kata-kata Rancangan Undang-unqang Penataan Ruang ditambah kata-kata system disana yang ingin menekankan lkepada keterpad!uan dari perencanaan atau panataan ruang ini, sehingga pengelompokan-pengelompokan yang ad~ di pasal 4 itu dilakukan secara terintegrasi. Mohon juga ingin mendapatkan tanggapan dari bapak'-bapak sekalian,

Kemudian tentang konsep

Ranc~ngan

Undang-Undang tentang Penataan Ruang yang juga tadi selalu disinggu11g oleh salah satu bapak yang ada di depan, memang kita ingin memiliki konsep global tentang F1enataan Ruang !Nasional, sehingga kita bisa mengacu kemana arahnya

Rancangan U11dang-Undang tentang PE?nataan Ruang ini nantinya, karena kalau kita sudah memiliki semacam blue print Penataan !Ruang Nasional kita, sehingga kita bisa mengarahkan Rancangan Undang-Undlang ini ke depan. Tetapi didalam Pasal 15 sudah ada tentang Rencana Tata Ruang Nasional yang sesungguhnya itu terkait dengan Dirjen Penataan Ruang dan tidak mungkin sulit untuk dimasukan ke dalam Rancangan Undang-Undang ini, karena konsep Penataan Ruang Nasional tentu saja merupakan hal yang operasional dan Rancangan Undang-Undang ini hanya mengatur bagaimana Penataan Ruang Nasional khususnya mencapai target dan tujuannya dan tujuannya sudah ada disan'a, hanya saja memang kita ingin mendapatkan masukan apakah tujuan dari Rancangan Undang-~ndang tentang Penataan Ruang ini sudah tepat atau

ARSIP

DPR

(17)

tidak, misalnya di sini salah satu tujuannya adalah mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas, berbudi luhur dan sejahtera. lni antara yang satu dengan yang lainnya seolah-olah terpisE1h. Mewujudkan keterpaquan dalam penggunaan sumber daya alam, sumber daya buatan dengan memperhatikan sumqer daya manusia, mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negative terhadap lingkungan. Yang juga sering mendapat sorotan dalam Rancangan l.Jndang-Undang ini adallah bahwa Rancangan Undang-Undang tentang Penataan Ruang lebih cenderung kepada daratan dan lebih berat kepada perkotaan, sehingga di dalam Rancangan Undang-Undang ini juga sering mendapat sorotan dalam beberapa kali Rapat Dengar Pendapat kita, belum ada rencana atau penataan ruang untuk pedesaan, sehingga ketika Rancangan Undang-Undang tentang ~enataan Ruang ini dan muatannya sudah terintegrasi bahkan mencakup seluruh aspek kehidupan, maka kita berharap dengan adanya Rancangan Undang-Undang Penataan Ruang ini masyarakat pedesaan itu tidak tersedot lagi ke kota, karena meraka telah mendapatkan sebagaimana tujuan meraka di sini agar menghasilkan kenyamanan dan kesejahteraan, · rnewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas bahkan iJroduktif dan berkelanjutan. Bagairn.ana orang-orang desa itu dengan adanya penataan ruang dia merasa nyaman dan produktif k:ehidupan disana dan merasa kota dengan desa itu tidak berbeda jauh, mereka bisa mendapatkan penghasilan disana, fasilitas kehidupan juga ada si sana, nah ini juga perlu mendapatkan niasukan dari bapak sekalian, bahwa penataan ruang itu cenderung ke daratan hanya diatur bagaimana menata ruang 'di daratan sementara ruang lautan dan ruang udara itu belum diatur secara l~bih luas.

Jadi mungki~ ini tanggapan dari ,saya, saya berharap kalaupun bahan yang diberikan oleh kami kepada bapak sekalian terlambat, isehingga belum begitu bisa mencerna lebih detail, kami juga berharap masukan secara tertulis1, sehingga kita bisa memasukan hal-hal yang belum tercantum di dalam Rancangan Undang~Undang ini dan kita segera membahas lebih lanjut untuk memperdalam bahkan untuk lebih komprehensif Rancangan Undang-Undang ini dan lebih sempurna ke depan.

Terima kasih. KETUA RARAT:

Baik, silahkan bapak Heri Akhmadi, bersiap-siap bapak Maruahal Silalahi. F·PDIP (HERi AKHMADI):

Terima kasih! saudara Pimpinan,

Pertama, kepada bapak Lukman Hakim dari lnkindo yang telah menyampaikan sesuatu yang sangat menarik tentang bagaimana Rancangan Undang-Undang ini belum menyusun tata cara di dalam penyusunan atau pembentukan tata ruan·g itu sendiri dalam pengertian proses sampai dengan mengambil keputusan. Selama ini saya kira anggapannya yang berkembang adalah tata ruang itu adalah wewenang dari pemerintah dan legislative, sehingga produknya cli pusat undang-undang, di Provinsi Perda, dan kemudian dibawahnya lagi apa begitu. Tetapi saya kira ini harus membGngkar kembali pikiran kita, apakah memang kenyataan selama ini kalau tata ruang itu hanya mengandalkan saja sebagai suatu produk hukum saja/ produk peraturan, ternyata di bawah tidak bisa berjalan. lnkonsisterisi yang tadi disebutkan barangkali bukan karena faktor-faktor, ya memang tidak bisa dilaksanakan karena tidak ada kesepakatan yang lebih luas yang dicapai itu, bagaimara ini yang dicapai. ,Apakah undang-undang sendiri ini sesungguhnya cukup menentukan kaidah~kaidah di dalam pehyusunannya saja termasuk proses itu tadi , sehingga sepenuhnya nantinya harus dibalikan ke !bawah saja yang mernang itu berurusan sehari-hari atau seperti apa.

Usu! saya,pal< Lukman mungkin kita diberi masukan yang lebih konkret, dan saya kira anggapan yang berkernbang kan seperti i!tu, karena nantinya tata ruang itu menjadi produk hukum, ya urusan pemerintah dan legislative. Pr~sesnya seperti konsultasi public biasa, kalau ini memang tidak dianggap cukup prosedur atau pros~dur seperti apa yang barangkali konkret, saya kira saya merespon dengan s~ngat baik apabila ad~ pemikiran yang lebih jauh ke sana.

Kemudian, mengenai yang kedu~, sudah ada diskusi sebelumnya kalau ditentukan satu Menteri, sementara kilta mengetahui bahwa tata ruang ini adalah berkaitan dengan lintas sektor, lintas Departemen dan lain-lain itu selam:a ini saya kira pak Dirjen juga memahami itu tidak akan efektif juga Menteri f!Jana yang mau ngatur, semuanya juga berjalan sendiri-sendiri,dan karena itu apakah,bagaimana sE:baiknya. Di dalam negeri ini kalau koordinasi kan sangat sulit untuk

17

ARSIP

DPR

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :