DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian...

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL………...………… ...…... i

PRASYARAT GELAR ... ii

LEMBAR PENGESAHAN…... ………...………...… iii

PENETAPAN PANITIA PENGUJI ………...………..…….. iv

SURAT PERNYATAAN ... iv

UCAPAN TERIMA KASIH ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ………...………...,...……. x

DAFTAR TABEL ……….………....………...… xii

DAFTAR GAMBAR ……….……….……...…...… xiii

DAFTAR LAMPIRAN ………...………....…. xiv

BAB I PENDAHULUAN ………..………...…...1

1.1 Latar Belakang ………....…………...…..1

1.2 Rumusan Masalah …………..………..………….….11

1.3 Tujuan Penelitian ………..………...…………...…14

1.4 Manfaat Penelitian ………..………...…….……15

BAB II KAJIAN PUSTAKA ………...…………...17

2.1 Konsep-konsep dan Defenisi …...……….……...17

2.1.1 Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter …...18

2.1.1.1 Saluran Suku Bunga …...20

2.1.1.2 Saluran Kredit ...23

2.1.1.3 Saluran Nilai Tukar ...25

2.1.1.4 Saluran Harga Asset ...27

2.1.2 Tahap kedua : Perubahan induksi kebijakan moneter ...29

2.2 Teori-teori yang relevan ...30

2.2.1 Teori Permintaan Uang ...30

2.2.2 Teori Inflasi dan Uang Keynes ...32

2.3.3 Teori Konsumsi ...33

2.2.4 Teori Kekayaan dan Konsumsi ...40

2.2.5 Teori Investasi ...41

2.2.6 Teori Produk Domestik Bruto ...45

2.3 Keaslian Penelitian ...46

BAB III KERANGKA BERFIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN ...50

3.1 Kerangka Berfikir…... ………...50

3.2 Kerangka Konsep Penelitian ………...52

3.3 Hipotesis Penelitian ...56

BAB IV METODE PENELITIAN ...57

(2)

4.2 Lokasi, Ruang Lingkup dan Waktu Penelitian ………...59

4.3 Identifikasi Variabel ………... ...59

4.4 Defenisi Operasional Variabel ……….…...59

4.5 Jenis dan Sumber Data ………...61

4.6 Teknis Analisis Data ………...63

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...78

5.1 Gambaran Umum Perekonomian Indonesia ...78

5.1.1 Gambaran Umum Perekonomian Indonesia ...78

5.1.2 Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi ...80

5.1.3 Keterbukaan Ekonomi Indonesia ...83

5.1.4 Struktur Pasar Keuangan Indonesia ...88

5.1.5 Bank Sentral Indonesia dan Kebijakan Moneter ...91

5.2 Deskripsi Hasil Penelitian ...100

5.2.1 Data dan Uji Stabilitas Data ...100

5.3 Estimasi dan Pengukuran Dampak kebijakan kejutan moneter ...111

5.3.1 Contemporaneous Matrix ...111

5.3.2 Fungsi Impulse Response ...113

5.3.2.1 Respon variabel domestik terhadap kejutan Eksternal 113

5.3.2.2 Respon variabel domestik terhadap kejutan suku bunga Domestik ... 117

5.3.3 Variance Decomposition ... 124

5.4 Analisa SVAR terhadap Transmisi Internasional ... 129

5.4.1 Contemporaneous Matrix ... 129

5.4.2 Fungsi Impuls response ... 131

5.4.3 Variance Decomposition ... 133

5.5 Analisa SVAR perilaku Konsumsi dan Investasi ... 135

5.5.1 Contemporaneous Matrix ... 135

5.5.2 Fungsi Impuls response ... 136

5.5.3 Variance Decomposition ... 138

5.6 Keterbatasan Penelitian ... 139

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ... 141

6.1 Simpulan ... 141

6.2 Saran ... 143

DAFTAR PUSTAKA ... 145

(3)

ABSTRAK

Tesis ini menginvestigasi peran dari empat saluran utama dalam transmisi kebijakan moneter di Indonesia. Respon indikator utama makro ekonomi Indonesia terhadap kejutan yang berasal dari Internasional dan domestik diestimasi dengan menggunakan pendekatan model Structural Vector Autoregression (SVAR) ekonomi kecil terbuka dengan menggunakan data bulanan. Asumsi pemblokiran variabel eksogen serta resktriksi nol pada non-recursive matriks contemporanous interaksi antar varaibel digunakan untuk melakukan identifikasi model SVAR Hasil estimasi memperlihatkan bahwa mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui saluran suku bunga, saluran kredit bank, saluran nilai tukar dan saluran harga aset tidak terbukti efektif dalam mentransmisikan kebijakan moneter ke pasar keuangan maupun pasar barang. Lebih lanjut, dilakukan estimasi dampak kejutan internasional dan domestik terhadap variabel domestik dengan menggunakan tehnik fungsi impuls respon dan variance decomposition. Sebagian besar hasil estimasi respon variabel indikator ekonomi sesuai dengan yang teori ekonomi, namun respon tingkat harga dan nilai tukar tidak seperti yang diharapkan dengan adanya price puzzle dan exchange rate puzzle. Hasil analisa makro ekonomi menemukan kejutan internasional lebih signifikan mempengaruhi fluktuasi variabel domestik dibandingkan kejutan domestik.

Kata Kunci : Kebijakan Moneter, Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter, model SVAR

(4)

MONETARY TRANSMISSION MECHANISM IN INDONESIA ECONOMY ABSTRACT

This Thesis investigates the role of monetary transmission mechanism in Indonesia. The responses on leading indicator Indonesia economy to structural shock of Internasional dan domestic are estimated using monthly data of the open economy Structural Vector Autoreggression (SVAR) model approach. Block exogenous assumption on SVAR model and non-recursive zero restriction on AB model of contemporaneous matrix interaction of variables are imposing for SVAR model identification purpose. The estimation result reveal that monetary transmission mechanism channels : Interest rate, credit, exchange rate and assets price did not prove to be strongly effective play a crucial role in changes in financial market and good market. Further, we estimate crucial role of internasional shock and domestic shock using Impulse response function and variance decomposition technique. The empirical investigate demonstrates the result which more in line with the economic theory. However, result from the impulse response analysis show that price level rises and depreciation on home currancy, not as expected. This thesis finds that Internasional shock have significant impact on Indonesia economy than domestic shock.

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter (MTKM) dapat didefinisikan sebagai suatu proses bagaimana kebijakan moneter bank sentral ditransmisikan kedalam perubahan PDB riil dan infasi (Taylor, 1995). MTKM merupakan tahapan-tahapan dinamis kebijakan moneter dalam mempengaruhi aktivitas keuangan dan ekonomi untuk mencapai sasaran yang sudah ditentukan, yaitu inflasi dan selanjutnya pertumbuhan ekonomi. Artinya, setiap perubahan tingkat suku bunga acuan ataupun moneter agregat mengakibatkan perubahan pada kuantitas dan harga variabel-variabel di pasar keuangan, yang kemudian mempengaruhi output riil dan perubahan harga. MTKM merupakan suatu proses yang relatif kompleks karena melibatkan interaksi antara bank sentral, sektor keuangan, pelaku ekonomi, dan juga kebijakan pemerintah dan otoritas lainnya, baik di dalam negeri maupun internasional (Warjiyo, 2016). MTKM memainkan peranan yang krusial dalam kebijakan ekonomi makro, karena kebijakan moneter merupakan alat yang sangat berpengaruh besar terhadap keberhasilan ekonomi, namun bukan berarti tidak lepas dari dampak yang tidak diharapkan, sehingga perlu pemahaman yang jelas mengenai instrumen dan tenggat waktu (lag) yang diperlukan sampai kebijakan tersebut mempengaruhi aktivitas ekonomi. Oleh karena itu proses bekerjanya MTKM sangat essensial dalam penyusunan dan implementasi kebijakan moneter. MTKM didalamnya mencakup saluran suku bunga, saluran nilai tukar, saluran kredit dan saluran harga asset (Mishkin, 1995).

(6)

Indonesia merupakan negara emerging economy, dengan tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 5,5 persen (2005-2016), dan dengan didukung potensi sumber daya yang besar pemerintah Indonesia yakin akan menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2025. Namun, untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan banyak tantangan yang harus dihadapi, seperti tekanan tingkat inflasi yang tidak stabil, defisit neraca perdagangan dan sistem keuangan yang belum berkembang dengan baik, menjadikan Indonesia rentan terhadap shock baik itu yang berasal dari dalam negeri maupun internasional. Ditetapkannya sasaran kebijakan moneter antara lain, menstabilkan nilai mata uang, memastikan keamanaan sistem perbankan dan mempercepat pembangunan sosial ekonomi. Maka, dampak kebijakan moneter sangat besar terhadap variabel kunci makroekonomi, oleh karena itu sangat penting untuk menilai dan mengetahui peranan masing-masing saluran kebijakan moneter guna melakukan evaluasi peran kebijakan moneter dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Struktur pasar keuangan juga berperan dalam proses transmisi kebijakan moneter ke berbagai sektor ekonomi, karena setiap perubahan struktur pasar keuangan mempengaruhi keberhasilan transmisi kebijakan moneter. Struktur pasar keuangan, ukuran dan keterbukaan ekonomi dipercaya mampu mengerahkan efek transmisi variabel-variabel kebijakan instrumen moneter ke berbagai jenis harga dan barang di pasar keuangan, juga mempengaruhi posisi neraca perusahaan dan rumah tangga dalam melakukan konsumsi (kamin dkk., 1998). Persaingan dan keberagaman yang ada di pasar dalam hal ini lembaga dan institusi, semakin banyak ragam dan persaingan di pasar keuangan semakin cepat perubahan kebijakan moneter diterjemahkan ke

(7)

dalam perubahan harga di pasar keuangan, sehingga semakin cepat dan efektif pula jalannya mekanisme transmisi moneter, semakin besar solvabilitas dan ragam neraca pembayaran perusahaan dan rumah tangga maka semakin beragam pula mekanisme moneter.

Beranjak dari pengalaman menangani krisis 1997 dapat dilihat bahwa pergerakan inflasi lebih dipengaruhi oleh perubahan pergerakan nilai tukar dibanding dengan uang beredar. Depresiasi rupiah (apresiasi) selalu berhubungan dengan kenaikan inflasi (penurunan) inflasi, sementara kenaikan (penurunan) uang beredar tidak selalu berarti inflasi bertambah (berkurang). Krisis juga mengakibatkan terjadinya perubahan struktual yang memicu terjadinya perubahan-perubahan variabel makro-moneter, yaitu; a) penerapan kurs mengambang menyebabkan volatilitas rupiah lebih tinggi. b) perubahan struktural perbankan, pembenahan total perbankan, pembentukann badan penyehatan perbankan (BPPN), restrukturisasi, program divestasi dan privatisasi. c) berkembangnya pasar obligasi dan produk lainnya, pasar saham mengalami kemajuan yang sangat signifikan sebagai sumber dana external bila dibandingkan dengan masa sebelum krisis yang kurang begitu berperan.

Terbitnya undang-undang Bank Sentral nomor 23 tahun 1999 menjadi momentum awal pembenahan sistem moneter di indonesia, dengan mandat penetapan satu tujuan utama (single objective) kebijakan moneter yaitu kestabilan rupiah, yang diintrepretasikan sebagai sebuah kestabilan harga. Hal ini berbeda jauh dengan Undang-Undang nomor 84 tahun 1968 yang membebani Bank Indonesia (BI) sebagai

(8)

bank sentral dengan tugas pokok yang cukup luas dan tidak terfokus serta independensi BI yang tidak jarang dipertanyakan.

Untuk mencapai stabilitas harga dalam negeri BI menggunakan uang primer sebagai acuan dalam menyusun target moneter agregat termasuk di dalamnya M1, M2 dan kredit agregat, BI mengendalikan uang primer (M0) sebagai target operasi pada operasi pasar terbuka dengan melelang Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Fakta bahwa biaya komponen input masih menjadi bagian terbesar dari struktur harga produk, bahan baku dan barang setengah jadi impor sudah menjadi bagian substansial produksi dalam negeri, sehingga dampak depresiasi sangat cepat terhadap inflasi, yang artinya dalam prakteknya strategi kebijakan moneter tidak menyasar satu sasaran stabilitas harga karena masih terus melakukan intervensi valas. BI Mengendalikan jumlah uang beredar dan nilai tukar secara bersama-sama.

Kemudian, sesuai dengan pasal 7 Undang-Undang No 3 tahun 2004, BI secara eksplisit menetapkan sasarannya, yaitu mencapai dan menjaga kestabilan rupiah yang tercermin dari tingkat inflasi. Oleh karena itu, untuk mencapai sasaran tersebut, BI secara penuh mengadopsi kerangka kebijakan moneter Inflation Targeting Framework (ITF) dan menggunakan suku bunga sebagai sasaran operasional untuk mencapai target inflasi yang sudah ditetapkan sebelumnya. Dalam undang-undang ini, pemerintah menetapkan target inflasi untuk satu periode tertentu dan mengumumkan kepada publik dan BI akan berupaya untuk mencapai target tersebut. Kerangka kebijakan moneter ITF mulai diterapkan pada pertengahan tahun 2005. Namun, sejak Indonesia menerapkan sistem nilai tukar mengambang bebas (free floating rate system) pada 14 agustus 1997, BI tidak dapat lagi mematok nilai tukar pada tingkat

(9)

tertentu, hal ini mengakibatkan stabilitas nilai tukar memainkan peran yang krusial dalam pencapaian sasaran kebijakan moneter. Untuk mengatasi kondisi ini, BI kemudian membuat kebijakan dalam meminimalisasi volatilitas yang berlebihan dari nilai tukar, namun kebijakan ini bukan untuk menggiring nilai tukar ke tingkat tertentu.

Sumber : BI

Gambar 1.1

Target Inflasi dan Inflasi Aktual Tahun 2005-2016

Sejak diterapkannya ITF, dinamika ekonomi domestik yang disertai dengan tingginya ketidakpastian ekonomi dunia mempengaruhi pencapaian target inflasi untuk periode 2005-2016 yang masih jauh dari harapan, seperti yang diperlihatkan gambar 1.1 hanya enam periode target inflasi yang tercapai dari keseluruhan dua belas periode penelitian. Dalam penerapan kerangka kerja ITF, pemahaman yang baik mengenai Mekanisme Transmisi Kebijakan moneter (MTKM) sangat dibutuhkan dan sama pentingnya dengan pengetahuan mengenai proses inflasi.

Pengaturan suatu kebijakan yang tepat merupakan hal yang sangat krusial terhadap suatu ekonomi. Oleh karena itu, otoritas monoter harus mampu melakukan penilaian yang akurat untuk waktu dan efek dari sebuah kebijakan terhadap ekonomi.

2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00 16,00 18,00 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Target Inflasi dan Inflasi aktual

(10)

Apabila kebijakan adalah pelonggaran (expansionary) dengan cara menurunkan tingkat suku bunga, yang dapat mengakibatkan terjadinya tingkat inflasi yang tinggi. Hal ini dapat menurunkan efisiensi ekonomi yang akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, kebijakan pengetatan moneter (contrationary) dengan menaikkan tingkat suku bunga dapat mengakibatkan resesi, seperti penurunan output dan tingginya tingkat pengangguran.

Kamin dkk (1998) menyatakan bahwa terdapat dua aspek penting dalam mengevaluasi seberapa cepat kebijakan moneter mempengaruhi ekonomi. Aspek yang pertama adalah transmisi dari instrumen yang berada dibawah kendali bank sentral, seperti tingkat suku bunga jangka pendek atau giro wajib minimum, yang mana variabel-variabel tersebut secara langsung mempengaruhi sektor non-keuangan; suku bunga pinjaman, suku bunga simpanan, harga aset dan nilai tukar. Linkage ini sangat bergantung pada struktur sistem keuangan. Aspek yang kedua adalah keterkaitan antara kondisi keuangan dan keputusan konsumsi rumah tangga dan perusahaan. Dalam hal ini posisi keuangan awal rumah tangga, perusahaan dan bank memainkan peran kunci, termasuk memperluas leverage, komposisi dan denominasi mata uang aset atau kewajiban, dan juga tingkat ketergantungan terhadap sumber pembiayaan eksternal khususnya bank pembiayaan.

Sejak berlakunya suku bunga BI rate sebagai sasaran operasional kebijakan moneter pada Juli 2005, suku bunga ini di transmisikan melalui Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang diarahkan menjadi acuan pembentukan suku bunga di pasar uang antar bank yang kemudian menjadi patokan bagi sektor perbankan maupun pelaku pasar. Pada periode penelitan ini, seperti yang ditunjukkan oleh data pada tabel 1.1

(11)

suku bunga acuan BI rate dipandang tidak cukup efektif mengimbangi kontraksi kebijakan moneter. Hal ini dapat dilihat dari ketidakmampuan BI rate dalam mengendalikan inflasi, target inflasi yang tidak tercapai bahkan cenderung gagal dalam mengantisipasi tingkat inflasi yang rendah. Kurang lancarnya transmisi suku bunga BI ke sektor perbankan dapat menjadi salah satu penyebab kurang efektifnya kinerja BI rate, penurunan suku bunga BI rate sejatinya diikuti dengan penurunan suku bunga deposito yang kemudian mempengaruhi suku bunga pinjaman. Penurunan BI rate tidak mampu mempengaruhi suku bunga pinjaman rata-rata yang masih bertengger di kisaran 12 persen, meningkatnya kredit modal kerja yang terjadi di tiap tahun dalam periode penelitian bukan dipengaruhi oleh suku bunga tetapi kuantitas ketersediaan kredit. Ketika otoritas moneter menurunkan suku bunga acuan tahun 2009, jumlah kredit perbankan naik sebesar 14 persen dari tahun sebelumnya dari 13,914,545 milliar rupiah menjadi 16,153,905 miliar rupiah. Demikian juga halnya ketika suku bunga acuan mengalami kenaikan pada tahun 2013, volume kredit perbankan masih meningkat sebesar 18 persen dari tahun 2012, dari total kredit 29,598,470 miliar rupiah meningkat menjadi 36,151,434 miliar rupiah di tahun 2013. Hal ini selaras dengan proposisi yang diajukan oleh Kamin (1998), pada negara emerging economy kuantitas atau ketersediaan kredit lebih berpengaruh dari harga kredit itu sendiri, tahun 2016 peningkatan kredit modal kerja dipengaruhi oleh masuknya dana besar-besaran sebagai dampak dari kebijakan fiskal pemerintah melalui program tax amnesty. Turunnya suku bunga acuan BI pada tahun yang sama tidak diselaras dengan suku bunga pinjaman bank.

(12)

Sebagai negara dengan perekonomian small-open economy, Indonesia rentan terhadap gejolak global. Krisis likuidasi global yang bersumber dari sektor eksternal khususnya Amerika Serikat mempengaruhi perekonomian Indonesia melalui dua jalur, yaitu jalur modal dan jalur perdagangan. Melalui jalur modal krisis likuidasi global membuat pelaku bisnis maupun investor cenderung mengambil sikap menghindari resiko (risk aversion), khususnya negara emerging economy yang dianggap memiliki tingkat resiko investasi yang lebih tinggi oleh karena ketidakpastian pasar keuangan. Hal ini mendorong adanya capital reversal, terjadinya arus modal keluar dari Indonesia, mengakibatkan neraca Modal dan Finansial tahun 2008 defisit sebesar 1,7 milliar dollar AS, yang sebelumnya mengalami surplus sebesar 3,6 miliar dollar AS di Tahun 2007 (gambar 1.2). Volatilitas nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing tinggi, khususnya dollar Amerika serikat. Derasnya arus modal keluar dari Indonesia berdampak pada penguatan mata uang Amerka serikat (AS) terhadap mata uang rupiah. Rupiah terdepresiasi secara drastis dari nilai tukar sebesar 9,258 rupiah persatu dollar AS menjadi 12,150 rupiah persatu dollar AS. Dengan terpuruknya nilai tukar rupiah, Neraca Pembayaran Indonesia mencatat defisit sebesar 1,9 miliar dolar AS. Yang kemudian juga merambat pada perekonomian Indonesia melalui jalur perdagangan. Tekanan nilai tukar yang rendah berimplikasi melalui tekanan inflasi yang tinggi (direct pass-through).

Kebijakan moneter ekspansif dianggap mampu mendorong derasnya arus modal masuk dalam proses pemulihan ekonomi dari krisis likuidasi global. Arus modal yang masuk sebagian besar masih dalam bentuk portofolio. Dominasi modal portofolio dalam sistem nilai tukar yang bebas mengambang seperti Indonesia yang rentan

(13)

terhadap dampak pass through maupun shock amplifier, membuat transmisi perubahan suku bunga terhadap nilai tukar tidak dapat berlangsung dengan cepat, sehingga nilai tukar rupiah cenderung terdepresiasi.

Sumber : BI

Gambar 1.2

Transaksi Modal dan Finansial

Seperti terlihat pada tabel 1.1 usaha otoritas moneter menaikkan suku bunga kurang berhasil dalam menaikkan ekspor. Subsidi pemerintah masih menjadi faktor utama stabilnya tingkat pengeluaran konsumsi rumah tangga, pada saat suku bunga acuan BI naik, tahun 2006 konsumsi swasta (rumah tangga) masih berada pada tingkat 5,5 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar 4,1 persen, daya beli masyarakat yang rendah ditopang oleh subsidi pemerintah melalui kebijakan bantuan tunai langsung (BTL), berdampak pada kenaikan pengeluaran pemerintah menjadi sebesar 9,6 persen pada tahun 2006 lebih tinggi dari tahun sebelumnya 6,6 persen. Demikian juga pada saat terjadinya krisis keuangan global di tahun 2008, pengeluaran rumah

(14)

tangga masih relatif stabil pada kisaran 5,3 persen, diikuti kenaikan pengeluaran pemerintah menjadi 10,4 persen di tahun 2008 dari 9,6 persen di tahun 2007. Sehingga pada periode penelitan, konsumsi rumah tangga masih memberikan kontribusi yang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi.

Tabel 1.1

Suku bunga BI dan indikator ekonomi

(inflasi dalam persen, indikator lainnya dalam triliun)

Tahun Suku bunga SBI Inflasi Kredit Modal kerja

Konsumsi Investasi Net Ekspor

2005 12,75 17,11 2.881 1.043,80 39,97 27,96 2006 9,75 6,60 3.403 1.076,90 42,38 39,73 2007 8,00 6,59 3.992 1.131,20 (1,05) 39,63 2008 9,25 11,06 5.403 1.191,19 5,82 7,82 2009 6,50 2,78 6.342 1.249,06 (7,26) 19,68 2010 6,50 6,96 7.610 3.786,06 129,09 22,12 2011 6,00 3,79 9.086 3.977,29 131,33 26,06 2012 5,75 4,30 11.339 4.195,79 202,64 (1,66) 2013 7,50 8,38 13.692 4.423,42 178,09 (4,08) 2014 7,75 8,36 15.659 4.651,02 220,23 (1,89) 2015 7,50 3,35 17.348 4.881,90 158,75 7,70 2016 4,75 3,02 19.296 5.126,50 214,10 8,84 Sumber : BI (data diolah)

Mempelajari kejutan moneter dan memahami mekanisme transmisi kebijakan moneter bukan hal yang sederhana, sehingga dalam menganalisa dampak dari kebijakan moneter Benanke dan Gertler (1995) mendeskripsikan MTKM sebagai “black box”. Selaras dengan itu, Mishkin (1995) juga memperkirakan kemungkinan akan terjadi dampak yang tidak terduga dan tidak diharapkan dari implementasi kebijakan moneter.

Pasca krisis 2008 terjadi dinamika baru dalam transmisi kebijakan moneter, tuntutan kredibilitas dan konsistensi kebijakan bank sentral dalam menjangkar ekspektasi inflasi, sistem keuangan dalam hal ini perbankan dan inovasi produk keuangan serta integrasi keuangan global yang erat dan volatilitas aliran modal masuk

(15)

menjadi faktor penting penentu keberhasilan transmisi kebijakan moneter. Oleh karena itu sasaran kebijakan moneter bank sentral tidak selalu terbatas untuk sebuah stabilitas harga meskipun masih yang diutamakan tetapi juga untuk mencapai stabilitas nilai tukar dan mendukung stabilitas sistem keuangan (Warjiyo, 2016).

Penelitian ini mengestimasi model Structural vector autoreggressive (SVAR) untuk meneliti mekanisme transmisi kebijakan moneter di Indonesia. Terdapat beberapa penelitian sebelumnya menggunakan SVAR untuk mengatasi pitfalls yang terdapat pada model VAR. Gottschalk (2001) memperkenalkan metodologi SVAR untuk mengatasi dampak yang tak terduga dari kejutan. Analisis model data berkala multivariat (multivariate data series), model SVAR jauh lebih baik dari model VAR dalam mengevaluasi kejutan struktural (Bhattacharyya dan Sensarma, 2007). Hal ini disebabkan karena model SVAR lebih berguna dalam mengidentifikasi parameter dari model dan pemulihan kejutan struktural, yang merupakan syarat dalam teori ekonomi dalam analisis interaksi variabel-variabel simultan (Aslanidi, 2007).

Afandi (2005) dalam penelitiannya terhadap MKTM di Indonesia sebelum dan sesudah krisis keuangan tahun 1998 menemukan bahwa saluran kredit merupakan saluran dengan pengaruh yang kekuatan relatifnya lebih besar bila dibandingkan dengan saluran nilai tukar dan saluran harga aset. Hal ini terindikasi dari menurunnya kredit bank sebagai respons dari kontraksi moneter, impulse respon produk domestik bruto (PDB) terhadap kejutan suku bunga mengalami penurunan disaat kredit bank di eksogenkan dan peran krusial kredit bank saat terjadi credit crunch pada masa krisis. Meskipun bukan merupakan saluran dengan kekuatan relatif yang terbesar, saluran

(16)

nilai tukar merupakan saluran yang tercepat dalam merespon kejutan moneter dibandingkan saluran kredit bank dan saluran harga aset.

Dalam membangun model SVAR Indonesia, terdapat dua aspek penting yang menjadi pertimbangan. Pertama, Indonesia sbagai ekonomi kecil terbuka (small open economy) sangat rentan terhadap gejolak kejutan global yang merupakan variabel eksogen. Untuk mulai menganalisa kebijakan moneter pada ekonomi kecil terbuka, Cushman dan Zha (1997), Zha (1999) dan Dungey dan Pagan (2000) menyarankan penekanan batasan foreign sebagai asumsi variabel eksogen. Keharusan penggunaan batasan tidak hanya dilihat dari sudut pandang ekonomi tetapi juga secara ekonometrik guna mencegah terjadinya kesalahan dalam spesifikasi model (Zha, 1999). Model ekonomi Indonesia mengasumsikan tidak ada pengaruh langsung maupun tidak langsung dari ekonomi Indonesia terhadap ekonomi global.

Aspek kedua adalah jumlah dari variabel yang seharusnya diikutkan dalam model. Tidak terdapat satu kesepakatan tertentu mengenai jumlah variabel yang digunakan dalam merepresentasikan suatu ekonomi (Afandi, 2005). Cushman dan Zha (1997) menggunakan sebelas variabel untuk mengidentifikasi kebijakan moneter di Canada. Kim dan Roubini (2000) berpendapat bahwa tujuh variabel sudah cukup untuk untuk mewakili ekonomi di negara ekonomi terbuka. Sedangkan Afandi (2005) menggunakan sembilan variabel dalam membentuk model SVAR ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini akan menggunakan ketiga model SVAR tersebut sebagai benchmark dalam membangun model ekonomi Indonesia sesuai dengan permasalahan yang di soroti dalam penetian ini.

(17)

Penelitian ini mengembangkan tiga model SVAR untuk ekonomi Indonesia, terbagi atas satu model SVAR dasar pertama yang digunakan untuk menganalisa kejutan kebijakan moneter domestik dan kejutan Internasional dalam ekonomi Indonesia. Kemudian, model SVAR kedua merupakan model SVAR dasar yang diperluas dengan memasukkan variabel yang berhubungan dengan perdagangan, guna menganalisa dampak kontraksi kebijakan moneter dalam transmisi internasional yang mempengaruhi aktivitas ekspor dan impor. Dan yang terakhir model SVAR yang memasukkan variabel perilaku pengeluaran, guna menganalisa dampak kontraksi kebijakan moneter terhadap konsumsi dan investasi. Penelitian ini akan menggunakan data beruntun (time series data) dari January 2005 sampai Desember 2016. Data diperoleh dari Datastream, International Financial Statistic (IFS), Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah kejutan moneter dengan suku bunga BI sebagai sasaran operasional berkaitan (sebagai penggerak utama) dengan fluktuasi output, harga dan fluktuasi-fluktuasi lainnya dalam ekonomi Indonesia?

Mengukur dan mengevaluasi peran kebijakan moneter dalam perekonomian Indonesia. Menggunakan metode prosedur SVAR, termasuk contemporaneous matrix, fungsi respon impulsif dan variance decomposition. Menganalisa besaran dampak kontraksi moneter dengan menentukan fungsi respon impulsif, untuk melihat apakah sesuai dengan teori ekonomi. Hasil dari Variance decomposition kemudian digunakan untuk mengidentifikasi apakah fluktuasi dalam ekonomi Indonesia sebagai dampak dari kontraksi moneter atau bukan.

(18)

2. Apakah saluran kredit merupakan saluran transmisi kebijakan moneter yang paling penting?

Mengingat sektor keuangan Indonesia masih di dominasi oleh bank, sehingga menjadi suatu kewajaran mengharapkan pemberian kredit pinjaman oleh bank menjadi peran dominan dalam transmisi kebijakan moneter, hal ini dapat diketahui dengan membandingkan kekuatan relatif dari semua saluran melalui hasil estimasi variance decomposition.

3. Apakah kejutan yang bersumber dari luar negeri lebih besar pengaruhnya terhadap ekonomi Indonesia dibanding dengan kejutan moneter domestik?

Sebagai negara dengan ekonomi kecil terbuka yang rentan terhadap spillover global, yang ditransmisikan melalui jalur perdagangan (trade channel) dan jalur keuangan (financial channel) memberikan kontribusi yang besar terhadap fluktuasi-fluktuasi ekonomi domestik.

4. Apakah kejutan moneter melalui kebijakan contractionary dengan penggunaan suku bunga BI sebagai sasaran operasional berhubungan positip terhadap komponen permintaan agregat Indonesia, khususnya konsumsi dan investasi ?

Mengevaluasi stance kebijakan moneter mempengaruhi permintaan agregat melalui konsumsi pribadi (private consumption) dan investasi pribadi (private investment)

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk menganalisa dampak kejutan kontraksi kebijakan moneter yang mempengaruhi output, inflasi dan indikator ekonomi lainnya.

(19)

2. Untuk menganalisa kekuatan relatif dari masing-masing saluran. Oleh karena saluran kredit bank merupakan sumber utama dana external bagi perusahaan, perannya sangat krusial bagi sektor swasta sehingga evaluasi yang mendalam diperlukan. Dengan diketahuinya peranan penting masing-masing saluran dan membandingkan kekuatan relatif yang berbeda dapat menjadi bahan pertimbangan kebijakan praktis untuk saat ini dan masa depan.

3. Untuk menganalisa hubungan keterkaitan antara tingkat keterbukaan ekonomi Indonesia dalam merespon kejutan yang bersumber dari luar negeri melalui peran saluran nilai tukar. Melengkapi pembuktian pertanyaan nomor 1 dengan memberi penjelasan atas fluktuasi ekonomi domestik, benarkah pengaruh kejutan luar negeri lebih besar dampaknya terhadap fluktuasi tersebut ataukah kejutan dari dalam negeri.

4. Untuk menganalisa pengaruh kejutan kontraksi moneter terhadap komponen PDB melalui induksi moneter terhadap konsumsi pribadi dan investasi pribadi.

1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Praktis

Penulis berharap dengan adanya penelitian ini dapat membantu masyarakat umum yang belum memahami ekonomi makro dari sudut pandang moneter dalam perspektif kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesia sebagai bank sentral, dapat mengerti dan memahami bagaimana suatu kebijakan moneter tersebut ditransmisikan sampai ke sektor riil. Kemudian diharapkan hasil penelitian empiris ini dapat menjadi pedoman bahan pertimbangan yang dapat membantu para praktisi untuk

(20)

bisa membuat keputusan yang tepat dalam melakukan kegiatan ekonominya, investasi atau konsumsi.

2. Manfaat Akademik

Penelitian empiris ini diharapkan mampu memberi bukti bagaimana kebijakan moneter dapat mempengaruhi ekonomi riil disamping pengaruhnya terhadap harga, dan tahapan mekanisme kebijakan tersebut ditransmisikan sehingga dapat merubah produk domestik bruto riil (PDB) dan inflasi. Dengan menganalisa empat saluran mekanisme transmisi kebijakan moneter (MTKM) – nilai tukar (exchange rate), suku bunga (interest rate), harga asset (assets price) dan kredit (credit) maka kekuatan relatif dari keempat saluran tersebut dapat dibandingkan. Evaluasi beberapa aspek yang berbeda dalam sebuah ekonomi kecil terbuka, termasuk peranan nilai tukar dalam ekonomi, kejutan moneter luar negeri dan dampaknya terhadap aktivitas perdagangan. Juga mengevaluasi pengaruh kejutan-kejutan kontraksi kebijakan moneter terhadap komponen permintaan agregat indonesia. Penulis berharap hasil penelitian empiris yang berlandaskan teori dan tinjauan literatur yang luas ini nantinya dapat menjadi bahan acuan dan pembanding untuk penelitian yang selanjutnya. Penulis juga berharap hasil dari penelitian empiris ini dapat menjadi bukti pendukung untuk pihak pengambil kebijakan moneter dalam memahami hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan inflasi, interaksi antara kebijakan moneter dan indikator ekonomi dan dampak dari kejutan-kejutan luar negeri maupun dalam negeri terhadap pembangunan ekonomi indonesia.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :