DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
RISALAH
RAPAT KERJA KOMISI I DPR RI Tahun Sidang : 2011-2012
Masa Persidangan : IV
Jenis Rapat : Rapat Kerja Komisi I DPR RI dengan Pemerintah (Menteri Luar Negeri RI, Menteri Pertahanan RI, dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI) Hari, Tanggal : Senin, 11 Juni 2012
Pukul : 10.00 WIB
Sifat Rapat : Terbuka
Pimpinan Rapat : Drs. Mahfudz Siddiq, M.Si., Ketua Komisi I DPR RI Sekretaris Rapat : Suprihartini, S.IP., Kabagset. Komisi I DPR RI
Tempat : Ruang Rapat Komisi I DPR RI, Gedung Nusantara II Lt. 1, Jl. Jenderal Gatot Soebroto, Jakarta 10270
Acara : 1. Pembukaan
2. Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi terhadap:
a. RUU tentang Pengesahan Perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Ceko tentang Kegiatan Kerja Sama di Bidang Pertahanan (Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of Czech Republic on Cooperation Activities in the Field of Defence)
b. RUU tentang Pengesahan Memorandum Saling Pengertian antara Departemen Pertahanan Keamanan Republik Indonesia dan Kementerian Pertahanan Republik Italia tentang Kerja Sama dalam Bidang Peralatan, Logistik dan Industri Pertahanan (Memorandum of Understanding between the Department of Defence and Security of the Republic of Indonesia and the Ministry of Defence of the Italian Republic Concerning Cooperation in the Field of Defence Equipment, Logistic and Industry)
3. Pembahasan Materi
4. Pembicaraan Tingkat I/Pengambilan Keputusan terhadap:
a. RUU tentang Pengesahan Perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Ceko tentang Kegiatan Kerja Sama di Bidang Pertahanan (Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of Czech Republic on Cooperation Activities in the Field of Defence)
b. RUU tentang Pengesahan Memorandum Saling Pengertian antara Departemen Pertahanan Keamanan Republik Indonesia dan Kementerian Pertahanan Republik Italia tentang Kerja Sama dalam Bidang Peralatan, Logistik dan Industri Pertahanan (Memorandum
2 of Understanding between the Department of Defence and Security of the Republic of Indonesia and the Ministry of Defence of the Italian Republic Concerning Cooperation in the Field of Defence Equipment, Logistic and Industry)
Hadir : 35 orang dari 48 orang Anggota Komisi I DPR RI
Pemerintah : Menteri Pertahanan RI, Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., M.A., Ph.D., beserta jajaran.
Jalannya Rapat :
KETUA RAPAT (Drs. MAHFUDZ SIDDIQ, M.Si./F-PKS):
Untuk bisa kita mulai Rapat Kerja Komisi I DPR RI dengan Pemerintah yang diwakili Menteri Pertahanan, Menteri Luar Negeri, dalam hal ini Wakil Menteri Luar Negeri, dan Menteri Hukum dan HAM yang diwakili oleh Ses. Dirjen PP Kemkumham.
Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Rapat Kerja ini secara resmi kami buka dan dinyatakan terbuka untuk umum.
KETUK PALU 3 X
(RAPAT DIBUKA PUKUL 10.30 WIB) Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. Yang terhormat Bapak/Ibu Pimpinan, Anggota Komisi I;
Yang terhormat Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Professor Purnomo Yusgiantoro;
Yang terhormat Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Bapak Wardana;
Yang terhormat Ses. Dirjen PP Kemkumham, Bapak Supriyanto, SH., MH; dan hadirin yang berbahagia.
Hari ini merupakan Raker yang kedua, jadi saya perlu mengingatkan, Raker yang kedua antara Komisi I dengan Pemerintah untuk membahas RUU tentang Pengesahan MoU antara Departemen Pertahanan RI (ini disebut Departemen Pertahanan, karena memang MoU ini sebelum ada perubahan nomenklatur jadi kementerian) dengan Republik Italia tentang Kerja Sama dalam bidang Peralatan Logistik dan Industri Pertahanan dan RUU tentang Pengesahan Perjanjian antara Pemerintah RI dan Republik Ceko tentang Kegiatan Kerja Sama di bidang Pertahanan.
Bapak/Ibu sekalian, sebelum kita masuk kepada pokok acara, kami dari meja Pimpinan meminta sedikit waktu untuk me-refresh dulu proses yang sudah pernah kita jalankan secara bersama-sama. Bahwa pada 12 Januari 2012, Badan Musyawarah DPR RI telah menugaskan Komisi I untuk membahas kedua RUU tersebut bersama dengan Pemerintah yang diwakili oleh Menhan, Menlu, dan Menkumham. Nah, pada 27 Februari 2012, kita melaksanakan Rapat Kerja bersama dengan Pemerintah yang pada saat itu kita mendengarkan penjelasan Pemerintah mengenai kedua RUU tersebut dan sudah dijelaskan oleh Pemerintah mengenai latar belakang, isi, dan tujuan dari kedua kerja sama tersebut yang merupakan kerja sama yang dilakukan antara Pemerintah dan satu lagi kerja sama antar Kementerian.
Bapak/Ibu sekalian, saat itu memang Raker kita pertama baru mendengarkan penjelasan Pemerintah. Kemudian, pada Rapat Internal yang kita lakukan sebanyak 2 kali, kalau tidak salah terakhir di 29 Mei dan sebelumnya itu sekitar April kalau tidak salah, ada pandangan yang berkembang di Komisi I, termasuk dari Poksi-poksi, bahwa untuk 2 RUU tersebut, walaupun menyangkut bidang pertahanan, dalam pandangan yang berkembang ini tidak perlu ratifikasi
3 dalam bentuk Undang-Undang. Ya tetapi cukup dalam ditindaklanjuti dalam bentuk Kepres yang secara substansi, secara prinsip, perjanjian dan MoU Kerja Sama ini kita sepakati dan kita dukung penuh.
Yang kedua, ini juga merujuk kepada hal serupa ketika kita membahas ratifikasi atau pengesahan perjanjian di bidang pertahanan dan militer antara Indonesia dengan Pemerintah Rusia beberapa waktu yang lalu, dimana putusan Komisi I dan juga menjadi Keputusan Paripurna DPR, ini ditindaklanjuti melalui Keputusan Presiden.
Nah, itu yang perlu saya segarkan kembali dan bahan-bahan terkait dengan RUU tersebut sudah ada di Bapak/Ibu sekalian. Maka pada hari ini kita harapkan pada Raker yang kedua, kita sudah bisa mengambil Keputusan Tingkat I antara Komisi I dengan Pemerintah. Sesuai dengan prosedur yang ada, walaupun kita sudah pernah membahas ini di Rapat Intern, maka kami akan memberikan kesempatan kepada Fraksi-fraksi untuk menyampaikan kembali pandangan fraksinya dan kemudian dari pandangan Fraksi-fraksi itu kalau ada hal yang bisa kita sepakati, segera kita sepakati segera, nanti opsinya ada dua. Kalau misalnya ini kita sepakati harus diratifikasi dalam bentuk Undang-Undang, maka kita akan tempuh prosedur pembahasan RUU ini, pasal per pasal, ayat per ayat, sampai selesai. Tetapi kalau pandangan Fraksi-fraksi bisa kita kerucutkan, kita simpulkan, ini ditindaklanjuti dalam bentuk Kepres, maka prosedur pembahasan RUU ini tidak kita tempuh, karena ini sepenuhnya menjadi domain dari eksekutif, dari Pemerintah. Tinggal nanti setelah itu kita dengarkan pandangan dari Pemerintah untuk selanjutnya kita ambil keputusan bersama.
F-PDI PERJUANGAN (TJAHJO KUMOLO, S.H.): Ketua, kiri juga boleh.
KETUA RAPAT: Ya, silakan Pak.
Itu penjelasan dulu ya, penjelasan dari kami seperti itu. Selanjutnya, silakan Pak Tjahjo.
F-PDI PERJUANGAN (TJAHJO KUMOLO, S.H.): Terima kasih Ketua.
Sebelum Ketua mempersilakan masing-masing Fraksi untuk menyampaikan sikap dan pandangannya, saya mengembalikan dulu bahwa mengenai kesepakatan Pimpinan, saya kira Pemerintah dan teman-teman Komisi I memahami bahwa di Komisi I itu pada prinsipnya TNI Pak, taat, nurut instruksi yang sudah digariskan kesepakatan bersama yang merangkum daripada hasil rapat-rapat internal.
Yang ingin kami tanyakan memang sebenarnya begini Pak. Betul tadi Ketua memang sudah ada kesepakatan tidak perlu ada bentuk undang-undang. Jadi tidak perlu ada pembahasan. Inikan sifatnya kerja sama teknis. Saya kira diserahkan sajalah kepada Pemerintah, bisa lewat Perpu, dan sebagainya.
Yang kedua, tentunya Pemerintah dalam hal ini Departemen Pertahanan perlu juga ada skala prioritas bentuk-bentuk kerja sama yang menjadi skala pertama, kedua, atau plan A, plan B dengan sejumlah negara-negara yang sudah dipersiapkan dengan baik, baik Renstra jangka pendeknya, menengah, maupun jangka panjangnya, termasuk mengenai Ceko, termasuk mengenai Italia, dan sebagainya. Bukannya juga Pemerintah sudah menjalin pola-pola semacam ini dengan sejumlah negara, seperti Pak Menhan juga sudah rutin ke Korea Selatan. Kami kemarin ke Jepang, ketemu Menlu juga ingin lebih ditingkatkan pembahasan teknis mengenai kerja sama di bidang pertahanan antara Jepang dan Indonesia misalnya. Dengan Rusia juga begitu, dengan Amerika juga sudah sama. Saya pikir Ketua, ini saya kira tadi arahan Ketua sudah jelas saya kira. Daripada muter-muter lagi lewat pandangan-pandangan fraksi, toh kita
4 sudah sepakat bersama. Saya kira daripada bertele-tele, inikan domainnya Pemerintah, ya sudah, fungsi kita kan fungsi pengawasan secara teknis.
Sekian Ketua. Terima kasih. KETUA RAPAT:
Baik, terima kasih Mas Tjahjo.
Ada dua hal. Yang pertama, ini hal yang sangat penting. Sebagaimana kita tahu sekarang ini sedang ada pergeseran-pergeseran dinamika, geo politik, geo strategis di dunia internasional, termasuk juga di kawasan, ya termasuk juga kita mencermati bagaimana kebijakan baru politik luar negeri negara-negara besar semacam Amerika, China, dan seterusnya, yang ini tentu saja akan mempengaruhi posisi peran Indonesia di dalam kerja sama di tingkat internasional. Nah, memang harus kita akui Bapak/Ibu sekalian, sampai hari ini, kita Komisi I belum pernah duduk secara khusus bersama dengan Menhan dan Menlu untuk coba mendiskusikan, membicarakan persoalan ini, sambil kita dengarkan kebijakan politik luar negeri Indonesia, termasuk kerja sama pertahanan antar negara-negara ya, apakah di kawasan atau secara multilateral ini seperti apa, karena ini akan sangat nanti menentukan posisi peran Indonesia di dalam kancah global.
Ini tema menarik, saya mendukung dan saya kira bisa kita agendakan nanti, kita sepakati, kita duduk bersama dengan Menhan dan Menlu membicarakan aspek strategis secara geo politik dan geo strategis.
Kita sepakati ya?
Saya kira Pak Menhan juga setuju betul dengan hal ini. F-PKS (Drs. AL MUZZAMMIL YUSUF):
Pimpinan.. KETUA RAPAT:
Sebentar, yang kedua, tadi Pak Tjahjo mengusulkan, karena ini sudah pernah kita diskusikan di Komisi I, ya tidak perlu pandangan Poksi, tapi kita perkuat saja apa yang menjadi kesimpulan Komisi I.
Saya ingin undang dulu pandangan. Kalau kita setuju, oke. Kalau tidak, ya kita putar gilirannya.
Silakan Pak Muzzammil.
F-PKS (Drs. AL MUZZAMMIL YUSUF): Terima kasih Pimpinan.
Pimpinan yang saya hormati, serta rekan-rekan Anggota, dan Pihak Pemerintah dari Kemenhan dan Kemenlu, serta jajaran yang hadir.
Sebelum diputar pendapat-pendapat Fraksi, saran dari kami adalah kami ingin minta pendapat dari Kemenhan dan Kemenlu, apa sih yang membedakan antara kerja sama antara 2 negara itu patut dijadikan undang-undang dan sebaliknya kerja sama diantara 2 negara tidak menjadi domain undang-undang. Penting kita dengar pembedaan ini, karena kalau kita baca konstitusi kita, kerja sama antar 2 negara itu wilayah yang harus mendapatkan persetujuan dari DPR. Oleh karena itu, kita perlu tahu apa sesungguhnya. Saya tidak mengatakan semua hal harus mendapat persetujuan DPR, tetapi apa substansi yang membedakan 2 hal itu, kapan kita membuat undang-undang, kapan tidak. Mungkin elaborasi dari Pemerintah ini akan menjadi pertimbangan sikap kita masing-masing Fraksi untuk menentukannya.
Demikian saran saya. Terima kasih Pimpinan.
5 KETUA RAPAT:
Baik, pertanyaan ini penting dan karena konstitusi menegaskan kewenangan pembuatan Undang-Undang itu DPR RI, memang mesti kita yang jawab. Tetapi kalau nanti Pemerintah memberikan penjelasan, artinya itu penjelasan atau pandangan dari perspektif Pemerintah. Saya kira nanti bisa kita dengar.
Nah, saya ingin tawarkan dulu, ini apa perlu kita putar setiap Poksi untuk mendengarkan kembali atau kita minta pandangan Pemerintah dulu mengenai apa yang ditanyakan Pak Muzzammil sebagai Pandangan Pemerintah ya.
Bagaimana?
F-PD (Drs. H. GUNTUR SASONO, M.Si.):
Setuju Pimpinan, kita mendengar dari pandangan Pemerintah dulu. KETUA RAPAT:
Oh, baik.
Ya, kalau begitu, ya mungkin 2-3 menit kita persilakan ke Pemerintah untuk menjawab pertanyaan Pak Muzzammil tadi.
Kami persilakan.
MENTERI PERTAHANAN RI (PROF. Ir. PURNOMO YUSGIANTORO, M.Sc., M.A., Ph.D.):
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.
Pertama, saya ingin memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, karena pagi ini kita dapat bersama-sama hadir di sini dalam Rapat Kerja untuk membahas 2 Rancangan Undang-Undang, yaitu:
1. Tentang Pengesahan Perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Republik Ceko tentang Kegiatan Kerja Sama di bidang Pertahanan; dan
2. Rancangan Undang-Undang tentang Pengesahan Memorandum Saling Pengertian antara Departemen Pertahanan Keamanan Republik Indonesia dan Kementerian Pertahanan Republik Italia tentang Kerja Sama dalam bidang yang lebih teknis, yaitu bidang peralatan, logistik, industri, dan pertahanan.
Pada prinsipnya, setiap perjanjian internasional, seperti yang tertuang di dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, ini saya bacakan Pasal 10 dan Pasal 11: “Pengesahan Perjanjian Internasional dilakukan dengan Undang-Undang apabila berkenaan dengan:
a. Masalah politik, perdamaian, pertahanan, dan keamanan negara;
b. Perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia; c. Kedaulatan atau hak berdaulat negara;
d. Hak asasi manusia dan lingkungan hidup; e. Pembentukan kaidah hukum baru;
f. Pinjaman dan/atau hibah luar negeri.”
Jadi pembuatan dilakukan dengan Undang-Undang itu apabila terkait dengan memang masalah pertahanan. Tetapi di dalam Pasal 11 disebutkan, terutama ayat (1), “Pengesahan Perjanjian Internasional yang materinya tidak termasuk materi sebagaimana dimaksud Pasal 10, artinya lebih teknis lagi, itu dapat dilakukan dengan Keputusan Presiden”. Di ayat (2) dikatakan: “Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan salinan setiap Keputusan Presiden yang mengesahkan suatu perjanjian internasional kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk dievaluasi”. Kalau itu dalam bentuk Kepres, maka Kepres itu tetap harus diserahkan kepada DPR c.q. dalam hal ini adalah Komisi I.
6 Jadi, kalau tadi ada nuansa untuk ini ditetapkan dengan Keputusan Presiden dan memang pembahasan yang telah dilakukan itu sebetulnya sudah cukup lama, yaitu berlangsung dari tanggal 27 Februari sampai dengan tanggal 11 Juni 2012. Jadi, kami dari pihak Pemerintah tidak ada masalah seandainya memang kemudian materi ini akan dilakukan dengan Keputusan Presiden, kedua perjanjian tersebut, karena yang satu memang government to government, memang lebih teknis, tidak dalam arti pertahanan luas. Kemudian, yang kedua itu justru perjanjiannya lebih teknis, yaitu antara Kementerian dengan Kementerian.
Namun, kami ingin memberikan catatan kepada Bapak-bapak dan Ibu sekalian. Memang ke depan, itu perlu diberikan kriteria dan ini saya kira perlu adanya suatu Rapat Kerja atau khusus Panitia Kerja (Panja), bahwa mesti jelas ada kriteria, kapan itu nanti dalam bentuk Undang-Undang, kapan itu cukup dalam bentuk Kepres. Seperti yang lalu, di pengalaman kita di ruangan ini juga, kerja sama kita pertahanan dengan Brunei, itu ditetapkan dengan Undang-Undang, tentu waktu itu argumentasi yang kuat adalah ini adalah salah satu negara tetangga kita, ASEAN. Kemudian, waktu itu juga pernah kita ajukan Rencana Undang-Undang untuk beberapa negara di Eropa, juga di Rusia, waktu itu juga ditetapkan dalam bentuk Keputusan Presiden. Jadi, condition presedent-nya itu memang sudah ada, bahwa tidak harus semua perjanjian internasional itu ditetapkan dalam bentuk Undang-Undang, bisa dalam bentuk Kepres. Namun memang perlu dibahas, diajukan di DPR RI Komisi I dan untuk ke depan, saya kira perlu ada suatu kriteria yang jelas kapan itu nanti dalam bentuk Kepres, kapan itu dalam bentuk Undang-Undang. Sehingga dengan demikian, keputusan kita bersama yang kita tetapkan nantinya itu bisa lebih konsisten terhadap kriteria-kriteria yang ada.
Demikian yang dapat kami sampaikan. Terima kasih.
Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:
Baik.
Jadi, jelas ya?
Saya kira pandangan dari Pemerintah sejalan, senafas dengan apa yang kita bahas di Komisi I dan memang Tim Hukum DPR juga sudah melakukan kajian dan apa yang dihasilkan oleh kajian Tim Hukum DPR juga sama dengan apa tadi yang disampaikan oleh Pak Menteri dan ini juga menjadi masukan bagi kita untuk, kalau tadi istilah Pak Menteri memperjelas kriteria mana yang harus di-ratify dengan Undang-Undang, mana yang cukup itu dengan Kepres, karena kita juga khawatir terlalu banyak nanti perjanjian teknis yang kita harus sampai Paripurna pada Undang-Undang, seperti bulan lalu kita Paripurna mengesahkan RUU tentang Legal Assistance Cooperation antara Polri disini dengan Kepolisian Hongkong. Itu sangat teknis sebagai suatu contoh. Kalau ada seratus sekian negara, ya mungkin kita hanya sibuk nanti ratifikasi kerja sama teknis, tetapi ini masukan untuk Baleg Pak Guntur, saya kira Baleg perlu mencermati hal ini.
Baik, Bapak/Ibu sekalian, karena pandangan Komisi I dan Pemerintah ini sudah sebangun dan saya ingin perkuat juga informasi, mungkin Pak Agus sajalah yang menyampaikan, karena Beliau yang mimpin rombongan ke Ceko.
F-PG (Drs. AGUS GUMIWANG KARTASASMITA): Terima kasih Ketua.
Kebetulan kami ditugaskan oleh Komisi I untuk memimpin rombongan ke Ceko. Anggota Delegasinya adalah Pak Muzzammil sendiri, kemudian ada Pak Sidarto, Ibu Lili. Ya, intinya saya sendiri, Pak Muzzammil, Pak Darto, dan Bu Lili, Pak Fayakhun, mohon maaf Pak Fayakhun. Di sana, di Ceko, di Praha, kami bertemu beberapa pihak, termasuk adalah Menteri Pertahanan, Luar Negeri, kemudian Wakil Ketua DPR, juga Ketua DPR yang membidangi masalah luar negeri. Nah, di sana memang muncul pertanyaan mengenai keseriusan kita untuk meratifikasi
7 perjanjian pertahanan antara Republik Indonesia dan Cekoslavia, dengan Ceko, apalagi ada agenda kunjungan dari Presiden Ceko ke Indonesia bulan Juli, maka mereka minta bahwa kalau bisa bulan Juli perjanjian ini sudah diratifikasi dan saya sampaikan ketika itu bahwa sebelum Presiden mengunjungi atau datang atau menginjakan kaki di Indonesia, kami akan sudah selesai untuk meratifikasi dan ratifikasinya itu adalah dalam bentuk Kepres, bukan dalam bentuk Undang-Undang. Kami sampaikan dan mereka happy, mereka bisa terima itu semua.
Demikian Ketua. Terima kasih. KETUA RAPAT:
Baik, kalau begitu untuk mengefektifkan forum, saya ingin tawarkan kepada Poksi-poksi bahwa hari ini dalam Forum Raker Komisi I dengan Pemerintah, kita mendukung sepenuhnya perjanjian antara Pemerintah RI dan Republik Ceko tentang Kegiatan Kerja Sama di bidang Pertahanan dan mendukung sepenuhnya MoU antara Departemen Pertahanan RI dengan Republik Italia tentang Kerja Sama dalam bidang Peralatan Logistik dan Industri Pertahanan.
Dan yang kedua, saya ingin tawarkan sekali lagi pendapat, bahwa Komisi I dan juga dengan mempertimbangan pandangan Pemerintah tadi, bersepakat bahwa pengesahan atau ratifikasi perjanjian dan MoU ini dilakukan dengan Keputusan Presiden.
Saya undang Fraksi Partai Demokrat, setuju dengan itu? F-PD (Drs. H. GUNTUR SASONO, M.Si.):
Setuju Ketua, karena sudah disampaikan oleh Kemhan dan lainnya. KETUA RAPAT:
Baik.
KETUK PALU 1 X Fraksi PDI Perjuangan, oh sorry, Golkar, nomor.. F-PG (Ir. NEIL ISKANDAR DAULAY):
Golkar juga setuju Ketua. KETUA RAPAT:
Saya menyebut Golkar nomor 1 tadi. Ya, Fraksi Partai Golkar?
F-PG (Ir. NEIL ISKANDAR DAULAY): Setuju Ketua.
KETUA RAPAT: Baik.
KETUK PALU 1 X Fraksi PDI Perjuangan?
F-PDI PERJUANGAN (H. TRI TAMTOMO, S.H.): Terima kasih.
8 Dari apa yang disampaikan sejak awal, kita berpedoman kepada dasar sudah jelas Pak, Undang-Undang Dasar 1945, kemudian pertimbangan Undang-Undang RI Nomor 12 Pasal 5, 6, 10, dan 26. Kemudian, sikap PDI dengan melihat kejelasan tugas kelembagaan yang ditinjau atau yang dituju jelas, kemudian apa yang akan dilakukan akan mendapatkan manfaat kegunaan, kemudian menyangkut sifat teknis.
Oleh karena itu, sesuai dengan apa yang kami sampaikan merujuk kepada Kepres. Demikian Pak.
Selesai.
KETUA RAPAT:
PDI setuju dengan Kepres. Fraksi PKS?
F-PKS (Drs. AL MUZZAMMIL YUSUF): Terima kasih Pimpinan.
Kami dari Fraksi PKS, menyetujui ini dengan Kepres, tetapi dengan satu tambahan, kami minta di penjelasan dari Pemerintah. Bagi kami sejauh itu pertukaran terkait dengan teknologi informasi, kerja sama dengan teknologi militer maksud kami atau riset, tidak masalah. Tetapi satu hal yang perlu kami minta tambahan penjelasan dari Pemerintah adalah ketika dimasukan kerja sama di bidang intelijen, pada sampai level apa intelijen yang dimaksud kerja sama ini? Karena menurut saya ini sudah masuk wilayah strategis, bukan lagi kerja sama teknis, terutama di Ceko dan di Italia masuk pertukaran informasi.
Jadi, kami menyetujui bahwa tidak jelasnya kita dalam tolak ukur apakah undang-undang, apakah Kepres, ini belum jelas. Jika ini kita sepakati teknis, kami sepakati itu kita jadikan sebagai Kepres, tetapi satu poin yang kami minta tambahan penjelasan Pemerintah adalah yang dimaksud kerja sama intelijen, apakah ini juga tergolong teknis menurut Pemerintah dan pertukaran informasi dalam istilah di Italia, intelijen dalam istilah dengan Ceko.
Demikian Pimpinan, kami sepakati dengan tambahan penjelasan. Jika itu bagi Pemerintah adalah teknis, kami setuju mendukungnya. Tetapi jika itu dianggap strategis, maka ini poin yang menurut kami perlu kita pertimbangkan ulang, karena ini amanat konstitusi. Yang dibacakan Pemerintah Undang-Undang, tetapi dalam Undang-Undang Dasar kita jelas Pak, kerja sama antar negara itu adalah wilayah Undang-Undang. Jadi, mohon satu poin ini tambahan penjelasan dari Pemerintah.
Demikian Pimpinan. KETUA RAPAT: Baik, terima kasih.
Jadi Fraksi PKS setuju dengan Kepres dengan penjelasan tambahan kaitan dengan kerja sama di bidang intelijen dan pertukaran informasi intelijen.
KETUK PALU 1 X
Dan saya ingin sampaikan juga di Pasal 11 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 pada ayat (2) disebutkan: “Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan salinan setiap Keputusan Presiden yang mengesahkan suatu perjanjian internasional kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk dievaluasi”.
Jadi, nanti berdasarkan penjelasan dari Pemerintah, kalau kemudian kita menilai dalam implementasinya yang teknis bergerak menjadi sesuatu yang strategis, maka DPR punya kewenangan melakukan evaluasi terhadap Kepres tersebut.
9 Baik.
KETUK PALU 1 X Selanjutnya Fraksi Partai Amanat Nasional. F-PAN (Ir. MUHAMMAD NAJIB, M.Sc.):
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.
Pimpinan dan Rekan-rekan Anggota Komisi I yang kami banggakan. Pak Menhan, Pak Wamenlu, dan segenap jajarannya yang kami hormati.
Merujuk pada ketentuan-ketentuan undang-undang yang tadi sudah disampaikan oleh Pak Menhan, kami menginterpretasikannya, bahwa terkait dengan perjanjian kerja sama, khususnya di dalam bidang ketahanan dengan negara sahabat, itu kita memiliki dua pilihan. Sebelum masuk pada bagaimana Parlemen harus menyikapinya, kami ingin menyampaikan bahwa kerja sama di bidang pertahanan dengan negara sahabat semakin banyak dilakukan akan semakin baik, terkait dengan semangat diversifikasi sumber peralatan pertahanan yang saya kira menjadi semangat yang berkembang, baik di Komisi I maupun di Kementerian Pertahanan. Selain itu juga, setiap kerja sama harus diikuti dengan semangat untuk memperkuat industri pertahanan kita, transfer teknologi, dan seterusnya. Karena itu, kami menyampaikan persetujuan kerja sama, baik kepada Ceko maupun kepada Italia. Nah, hanya saja berdasarkan interpretasi yang kami yakini, kepada Italia itu cukup dengan Kepres. Nah sementara dengan Ceko, kami menyakini lebih baik dengan Kepres. Kecuali, apabila Pemerintah merasa perlu untuk pertimbangan-pertimbangan tertentu, dimana dengan Ceko ini perlu ratifikasi atau persetujuan dengan Undang-Undang. Karena itu, kami undang kepada Pemerintah untuk meyakinkan Komisi I dengan alasan-alasan, dengan argumen-argumen, dengan pertimbangan-pertimbangan yang kuat, karena tujuan-tujuan tertentu, misalnya tidak bisa disampaikan kepada publik, rapat ini bisa kita buat tertutup, kalau itu dirasa pertimbangan-pertimbangan itu tidak boleh disampaikan kepada publik.
Karena itu, sekali lagi, sementara ini kami menyakini persetujuan itu, khususnya dengan Ceko cukup dengan Kepres, kecuali kalau Pemerintah punya pertimbangan khusus mendalam dan memerlukan persetujuan Parlemen dengan bentuk ratifikasi atau persetujuan dalam bentuk Undang-Undang.
Saya kira itu Pak Ketua. Terima kasih.
KETUA RAPAT: Baik.
Jadi Fraksi PAN setuju dengan Kepres, kecuali ada hal-hal yang menurut Pemerintah perlu dengan undang-undang, khususnya untuk Ceko ya?
Oke.
KETUK PALU 1 X Fraksi PPP, Pak Daeng mana?
Ya.
Kemarin di Papua Pak Daeng izin memang, karena ada urusan Takalar dan menyerahkan sepenuhnya keputusan Fraksi kepada Ketua Komisi. Jadi saya nyatakan setuju.
10 Sepanjang tidak ada surat dari DPP, kita.
Silakan Fraksi PKB.
F-PKB (Hj. LILY CHODIDJAH WAHID): Terima kasih.
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Yang saya hormati Ketua Komisi I, seluruh Anggota Komisi I;
Yang saya hormati Saudara Menteri Pertahanan dan Saudara Wamenlu, beserta seluruh jajaran.
Untuk kedua RUU ini, kami memberikan apresiasi dan mendukung langkah Pemerintah dalam melakukan jalinan kerja sama dalam bidang pertahanan, dalam hal ini dengan Negara Republik Ceko dan Italia. Kami melihat pembuatan perjanjian dan kerja sama ini masih dalam kerangka yang sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 Pasal 4 ayat (2) yang menegaskan: “Dalam pembuatan perjanjian internasional, Pemerintah Republik Indonesia berpedoman pada kepentingan nasional dan berdasarkan prinsip-prinsip persamaan kedudukan, saling menguntungkan, dan memperhatikan baik hukum nasional maupun hukum internasional yang berlaku”.
Yang kedua, sesuai dengan Pasal 9 ayat (2) dan Pasal 11 ayat (1), kami melihat perjanjian dan kerja sama yang tercantum dalam 2 RUU ini sangat terkait dengan persoalan teknis yang semestinya cukup disahkan dengan Keputusan Presiden. Sehingga kami berpendapat, bahwa ini cukup dengan Keputusan Presiden dan kami mengharapkan dan memberikan dukungan politis agar perjanjian dan kerja sama internasional di bidang pertahanan ini mampu dimanfaatkan secara optimal yang mampu mendorong kapasitas pertahanan dan memberikan kontribusi positif bagi keamanan nasional.
Demikian pendapat Fraksi PKB. Terima kasih.
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:
Baik.
Fraksi PKB setuju dengan Kepres.
KETUK PALU 1 X Fraksi Gerindra, tidak ada.
Kalau ini belum ada mandat dari, jadi saya tidak bisa. Oke, kita skip dulu Fraksi Gerindra.
Fraksi Hanura.
F-HANURA (DR. SUSANINGTYAS NEFO HANDAYANI KERTOPATI, M.Si): Terima kasih Ketua.
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Ibu/Bapak yang saya hormati.
Pada prinsipnya, Fraksi kami setuju dengan apa yang telah disampaikan oleh Pemerintah. Tetapi ada 2 catatan yang ingin kami sampaikan, yaitu dalam pasal bentuk-bentuk kerja sama, penting untuk menjelaskan lebih lanjut dalam aturan-aturan yang lebih operasional tentang pengembangan industri pertahanan mencakup investasi barang modal, infrastruktur industri, seperti mesin, peralatan produksi, penelitian, dan pengembangan teknologi, serta pengembangan SDM disamping untuk kebutuhan modal kerja. Kemudian juga perlu dipikirkan untuk menginisiasi lahirnya Undang-Undang tentang Offset Pertahanan dalam akuisisi alat
11 pertahanan, karena hal ini akan membuka kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk membangun dan meningkatkan kapasitas industri pertahanan.
Demikian. Terima kasih.
Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:
Baik.
Jadi, setuju dengan Kepres ya dengan tadi beberapa catatan disampaikan. KETUK PALU 1 X
Baik, Bapak/Ibu sekalian,
Dengan demikian, 7 Fraksi yang hadir menyatakan persetujuan, dengan tadi Fraksi PKS memberikan catatan penjelasan tambahan, lalu Ibu Nuning juga ada tambahan agar ada breakdown secara lebih detail terkait dengan industri pertahanan dan Pak Najib juga tadi untuk Ceko khusus, jika Pemerintah punya pandangan lain, yang tidak dengan Kepres. Fraksi PPP, kemarin memang mempercayakan ke Komisi. Fraksi Gerindra ini tidak hadir dan tidak ada kabar, karena 2 Anggotanya sedang ada umroh.
Dengan demikian, kita putuskan bahwa Komisi I mendukung Perjanjian dan MoU ini sepenuhnya dan menyepakati bahwa ini ditindaklanjuti dalam bentuk Keputusan Presiden.
KETUK PALU 1 X Baik, terima kasih.
Selanjutnya, dengan kesepakatan Komisi I itu dan beberapa catatan, kami persilakan kepada pihak Pemerintah.
MENTERI PERTAHANAN RI:
Pimpinan dan Anggota Komisi I DPR RI yang terhormat; Hadirin sekalian.
Alhamdulillah pada pagi ini kita telah sampai pada tahap akhir dari proses pembahasan mengenai perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Ceko dan MoU pembahasan mengenai MoU antara Departemen Pertahanan Keamanan Republik Indonesia dengan Kementerian Pertahanan Republik Italia dengan kesimpulan dan kami setuju bahwa kedua hal tersebut akan diratifikasi dalam bentuk Keputusan Presiden atau pengesahannya dalam bentuk Keputusan Presiden.
Atas nama Pemerintah, kami ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Komisi I DPR RI yang telah bekerja keras, yang berlangsung dari akhir Februari sampai dengan pertengahan Juni ini merampungkan kedua hal tersebut.
Saya kira ini merupakan suatu pencapaian penting di dalam menjalin kerja sama kita dengan Negara-negara Sahabat, terutama dengan Pemerintah Republik Ceko dan dengan Kementerian Pertahanan Republik Italia. Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas perhatian pada Anggota Komisi I dalam proses pembahasan ini.
Sedikit kami ingin menyampaikan tadi respon terhadap apa yang disampaikan oleh Fraksi PKS, terutama mengenai masalah tukar menukar informasi. Tukar menukar informasi di sini tidak termasuk pertukaran informasi yang bersifat rahasia negara. Biasanya kegiatan teknis yang menyangkut tukar menukar informasi itu terkait dengan capacity building, tetapi bukan dalam hal pertukaran rahasia negara. Kami akan menyampaikan nanti setelah ada pengesahan dari Keputusan Presiden untuk sesuai dengan Pasal 11 ayat (2) untuk menyampaikan copy-nya
12 kepada Dewan Perwakilan Rakyat dan kami mempersilakan nanti untuk dievaluasi dalam perjalanan kerja sama ini dengan Pemerintah Ceko dan dengan Pemerintah Italia, silakan nanti dilakukan evaluasi, apakah tukar menukar informasi yang tadi disampaikan itu sejalan dengan apa yang ada di dalam ini.
Oh, ini ada sedikit koreksi dari Kumham. Sesuai dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 2011, itu bukan dalam bentuk Kepres, tetapi dibaca Perpres. Karena di dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, ini masih disebutkan dengan Keputusan Presiden, tetapi dengan Undang-Undang yang baru Nomor 12 Tahun 2011 itu dikatakan dibaca Perpres. Jadi pengaturan saja, bentuknya tidak Kepres, tetapi dalam bentuk Perpres.
Kemudian dari PAN tadi disampaikan bahwa bagaimana sikap Pemerintah. Tadi pada awal kita sudah menyampaikan bahwa kita sependapat, sepakat untuk itu dalam bentuk Perpres, Kepres dibaca Perpres.
Untuk dari Fraksi Hanura, tadi kami catat, kami rekam catatan-catatan yang disampaikan dan memang ini juga kita harapkan nantinya akan masuk di dalam Undang-Undang Revitalisasi Industri Pertahanan, masalah-masalah yang terkait dengan Industri Pertahanan.
Saya kira itu yang dapat kami sampaikan Bapak.
Atas perhatian Komisi I DPR RI, kami mengucapkan terima kasih. KETUA RAPAT:
Baik, terima kasih.
Selamat datang Ibu Rachel,
Ini tadi disampaikan oleh Pak Menteri, berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011, jadi nomenklaturnya itu bukan dengan Kepres, tetapi Perpres. Nah, sementara kita merujuk ke Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 yang lahir sebelumnya, itu memang masih disebutkan dalam Undang-Undang dengan Kepres.
Oleh karena itu, nanti kita perlu menyesuaikan putusan kesepakatan Komisi I. Tetapi karena tadi kita skip Fraksi Gerindra, saya persilakan dulu untuk membulatkan kesepakatan komisi.
F-GERINDRA (RACHEL MARYAM SAYIDINA):
Fraksi Gerindra pada dasarnya setuju dengan Kepres, karena mengingat hal-hal yang teknis lebih baik diatur dalam Kepres.
KETUA RAPAT:
Oh, ini Fraksi PPP walaupun Kapoksinya Pak Daeng, tetapi jika Pak Daeng berhalangan, otomatis Kapoksinya diambil oleh Pak Maiyasyak Johan.
F-PPP (DR. H. MAIYASYAK JOHAN, S.H., M.H.):
Saudara Menteri, Saudara Dirjen, dan Para Hadirin sekalian.
Ini sebenarnya tugas dari Ketua Komisi, bukan dari Fraksi. Karena itu sesuai dengan perintah Ketua Komisi, maka karena dia terminologinya adalah terminologi Undang-Undang Nomor 12, maka kita setuju harus mengacu pada Undang-Undang Nomor 12 dan itu yang sesuai agar sistem hukum kita lebih baik.
Terima kasih.
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:
Baik, alhamdulillah.
Jadi Pak Maiyasyak sejalan dengan Pak Daeng, setuju dengan Kepres yang dalam hal ini kita ubah dengan Perpres (Peraturan Presiden).
13 KETUK PALU 1 X
Baik, dengan demikian Bapak/Ibu sekalian, setelah kita mendengarkan pandangan dari Pemerintah diwakili oleh Menteri Pertahanan, maka Rapat Kerja Komisi I DPR RI bersama dengan Pemerintah membahas tentang Pengesahan Perjanjian antara Pemerintah RI dan Republik Ceko tentang Kegiatan Kerja Sama di bidang Pertahanan dan RUU tentang Pengesahan MoU antara Departemen Pertahanan RI dengan Republik Italia tentang Kerja Sama dalam bidang Peralatan Logistik dan Industri Pertahanan pada hari ini, tanggal 11 Juni 2012, kita dalam Forum Pengambilan Keputusan Tingkat I sepakat mendukung 2 hal ini dan ditindaklanjuti melalui Peraturan Presiden.
Setuju?
(RAPAT : SETUJU) KETUK PALU 1 X
Alhamdulillah, dengan demikian, rapat ini bisa kita akhiri lebih cepat dari yang kita rencanakan.
F-PPP (DR. H. MAIYASYAK JOHAN, S.H., M.H.): Sedikit Ketua.
Ada interupsi Ketua.
Sebenarnya kita akhiri itu menunjukan bahwa koalisi hampir makin solid Ketua. Terima kasih Ketua.
KETUA RAPAT:
Tidak, memang kalau coba kita pilah secara sektoral, koalisi dengan Kementerian Pertahanan, Kemlu ini selalu solid.
Baik, terima kasih Pak Menteri, Pak Wamenlu, Pak Ses. Dirjen, terima kasih banyak atas kehadirannya. Kami mengingatkan kepada Bapak/Ibu Anggota Komisi I, jam 14.00 WIB kita ada Raker dengan Kepala Badan Intelijen Negara. Mohon kehadirannya tepat waktu nanti.
Terima kasih. Saya tutup.
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUK PALU 3 X
Jakarta, 11 Juni 2012 a.n Ketua Rapat SEKRETARIS RAPAT,
SUPRIHARTINI, S.IP. NIP. 19710106 199003 2 001