JURNAL ILMIAH SIMANTEK
ISSN. 2550-0414
Vol. 3 No. 2
Mei 2019
127
PERBEDAAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA BELAJAR DENGAN
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL DI KELAS X SMA N 1
B.PURBAPADA MATERI STATISTIKA T.A 2017/2018
SARI MUTHIA SILALAHI
D3 TEKNIK KOMPUTER INSTITUT TEKNOLOGI DEL (IT DEL) ABSTRAK
This study aims to determine the description of students' mathematical communication skills by applying 2 learning strategies, namely contextual learning strategies and conventional learning in class X SMA N 1 B. Purba T.A. 2017/2018 and the process of answering mathematical communication skills of students who learn with contextual learning are better than conventional learning. This research is a quasi-experimental research. The population in this study were all grade X students of SMA N 1 B. Purba T.A. 2017/2018 which consists of 4 parallel classes. Meanwhile, the sample in this study is a homogeneous sample, randomly selected after being given a pretest for the population, students as a sample of 2 classes, namely class X-2 (experimental class) of 30 people and class X-1 (control class) as many as 30 people. From the calculation results obtained = 2.079 and = 2,000 with = 58 and the real level α = 0.05. It can be seen that, it is rejected or accepted. So from the results of research and hypothesis testing concluded that the mathematical communication skills of students who learn with contextual learning strategies are higher than students who learn with conventional learning on statistical material in SMA N 1 B.Purba. Based on the student answer process, classes that follow contextual learning strategies are better than students who follow conventional learning.
Keywords: contextual, conventional, and mathematical communication skills of students. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting bagi suatu negara, karena pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia dalam jangka panjang. Pendidikan juga merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Perkembangan dunia pendidikan dan IPTEKS yang semakin pesat, menuntut lembaga pendidikan untuk bekerja lebih baik dalam menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dengan pendidikan yang ada di negara kita.
Dalam dunia pendidikan, matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu dan mengembangkan daya pikir manusia. Selain itu matematika memiliki struktur keterkaitan yang kuat dan jelas satu sama lain serta pola pikir yang bersifat deduktif dan konsisten kemudian, matematika juga merupakan alat bantu yang dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan atau situasi yang sifatnya abstrak menjadi konkrit melalui bahasa dan ide matematika serta generalisasi, untuk memudahkan pemecahan masalah.
Namun kenyataan yang dilihat dalam dunia pendidikan adalah pembelajaran matematika merupakan permasalahan yang sepertinya tidak kunjung terpecahkan. Hal ini terbukti dari penelitian yang dilakukan oleh PISA. Hasil pemeringkatan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2012 tergolong sangat rendah. Hasil pemeringkatan PISA 2012 menempatkan siswa Indonesia pada peringkat 64 dari 65 negara dalam ujian literasi matematika. Perolehan ini jauh lebih buruk dari pemeringkatan PISA 2009 yang menempatkan Indonesia pada posisi 61 dari 65 negara peserta pemeringkatan.
JURNAL ILMIAH SIMANTEK
ISSN. 2550-0414
Vol. 3 No. 2
Mei 2019
128
Masalah diatas juga telah diungkapkan Ruseffendi (Ansari, 2009: 2) bahwa bagian terbesar dari matematika yang dipelajari siswa di sekolah tidak di peroleh melalui eksplorasi matematis tetapi pemberitahuan.Untuk mengatasi permasalahan yang dipaparkan diatas maka strategi pembelajaran matematika di kelas perlu direformasi. Tugas dan peran guru bukan lagi sebagi pemberi informasi tetapi sebagi pendorong siswa belajar agar dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuan melalui berbagi aktivitas sepertipemecahan masalah, penalaran dan komunikasi sebagai wahana pelatihan berpikir kritis dan kreatif. Sullivan (Ansari, 2009: 3) mengatakan bahwa:
”Peran dan tugas guru sekarang adalah memberi kesempatan belajar maksimal pada siswa dengan jalan 1. melibatkannya secara aktif dalm eksplorasi matematika; 2. mengkonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman yang telah ada pada mereka; 3. mendorong agar mampu mengembangkan dan menggunakan berbagi strategi; 4. mendorong agar berani mengambil resiko dalam menyelesaikan soal; 5. memberi kebebasan berkomunikasi untuk menjelaskan idenya danmendengar temannya.”
Kitcher (Uno, 2007: 128) juga lebih memfokuskan perhatiannya pada komponen dalam kegiatan matematika. Kitcher membagi matematika terdiri atas beberapa komponen yakni:bahasa(language), pernyataan (statements), pertanyaan (questions), alasan (reason)”. Berbagai pandangan diatas, memberitahubahwa kemampuan komunikasi matematis perlu ditumbuhkembangkan dikalangan siswa. Baroody (Ansari, 2009: 4) menyebutkan sedikitnya ada dua alasan penting mengapa komunikasi dalam matematika perlu ditumbuh kembangkan di kalangan siswa yakni : ”Pertama mathematics as language artinya matematika tidak hanya sekedar alat bantu berpikir (a tool to aid thinking), alat untuk menemukan pola, menyelesaikan masalah atau mengambil kesimpulan tetapi matematika juga sebagai suatu alat yang berharga untuk mengkomunikasikan berbagai ide secara jelas tepat dan cermat. Kedua mathematics learning as social activity: artinya sebagai aktivitas sosial dalam pembelajaran matematika, matematika juga sebagi wahana interaksi antar siswa dan juga komunikasi antar guru dan siswa.hal ini merupakan bagian terpenting untuk mempercepat pemahaman matematis siswa”.
Maka dari itu Baroody mengusulkan untuk mendorong anak anak dalam mengungkapkan ide - ide mereka yang merupakan cara terbaik untuk menemukan kesenjangan, inkosistensi atau ketidakjelasan dalam pemikiran mereka. Ini juga di dukung oleh Guerreiro (Izzati, 2010: 721) yang mengatakan komunikasi matematis juga merupakan alat bantu dalam transmisi pengetahuan matematika atau sebagai fondasi dalam membangun pengetahuan matematika. Disisi lain NCTM (Izzati, 2010: 721) menuliskan bahwa ketika para siswa berpikir, merespon, berdiskusi, menjelaskan, menulis, membaca, mendengarkan dan mengkaji tentang konsep konsep matematika, mereka meraup keuntungan ganda yaitu mereka berkomunikasi untuk mempelajari matematika dan mereka belajar untuk berkomunikasi secara matematika, karena siswa selalu tidak terpacu untuk mau mencari sendiri ide-idenya, hanya guru yang selalu berperan aktif dalam proses belajar-mengajar.
Dengan demikian, komunikasi matematis baik secara aktivitas sosial (talking) maupun sebagai alat bantu berpikir (writing) adalah kemampuan yang mendapat rekomendasi para pakar agar terus di tumbuhkembangkan dikalangan siswa. Kendatipun kemampuan komunikasi matematis itu penting namun ironisnya pembelajaran matematika selama ini masih kurang memberikan perhatian terhadap pengembangan kemampuan ini, sehingga penguasaan kompetensi ini bagi siswa masih rendah.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sirait (2013), Muhammad (2013), dan Setiawati (2013), menunjukkan bahwa kemampuan berkomunikasi secara matematis masih menjadi titik lemah siswa dalam pembelajaran matematika. Jika kepada siswa diajukan suatu pernyataan pada umumnya reaksi mereka adalah menunduk atau melihat kepada teman yang duduk di sebelahnya. Mereka kurang mempunyai percaya diri untuk mengkomunikasikan ide yang dimiliki karena takut salah dan ditertawakan.
Dari hasil observasi yang peneliti telah lakukan, permasalahan yang ditemukan dalam proses pembelajaran yakni: 1) kurangnya keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat dan mempersentasikan hasil jawaban
JURNAL ILMIAH SIMANTEK
ISSN. 2550-0414
Vol. 3 No. 2
Mei 2019
129
mereka, 2) minat dan ketertarikan siswa terhadap matematika rendah sehingga siswa cenderung kurang memberi sikap positif terhadap matematika, 3) siswa belum mampu mengkomunikasikan matematika dalam bentuk gambar grafik maupun diagram/tabel pada materi tertentu. Hal ini diperkuat lagi dengan hasil wawancara terhadap salah seorang guru matematika Ibu Hasratna, S.Pd guru kelas X SMA Negeri 1 B.Purba, mengatakan bahwa:
”Banyak siswa yang tidak menyukai pelajaran matematika. Mereka menganggap bahwa matematika itu sangat susah. Di dalam kelas itu paling banyak hanya 5 orang yang senang belajar matematika. Bila dilihat hasil belajar siswa masih sangat rendah. Hanya beberapa siswa yang mendapat nilai tuntas di atas KKM yaitu nilai 75. Selebihnya harus diadakan remedial untuk menambah nilai siswa yang tidak tuntas tersebut.”
Selain dari siswa permasalahan lain yang masih sering muncul adalah cara mengajar guru yang kurang menarik dalam menyampaikan materi yang abstrak, masih ada guru yang memandang bahwa siswa hanyalah objek yang harus diisi dengan ilmu dari guru ke siswa. Keadaan seperti ini menyebabkan siswa belajar secara pasif dan aktivitasnya hanya terbatas pada mendengar, mencatat, dan mengerjakan latihan yang diberikan oleh guru. Akibat dari proses pembelajaran matematika biasa atau konvensional, siswa mengalami kesulitan dalam mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya secara optimal. Siswa juga mengalami kesulitan menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menyebabkan pembelajaran matematika seolah-olah asing dalam kehidupan sehari-hari..
Keabstrakan objek-objek matematika perlu diupayakan dapat diwujudkan secara lebih konkrit, sehingga akan mempermudah siswa untuk memahaminya. Inilah hal penting yang harus diperhatikan oleh guru matematika. Seorang guru harus cermat dalam memilih dan menggunakan strategi yang efektif untuk disajikan sesuai dengan bentuk materi yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran, karena tidak semua strategi cocok digunakan pada setiap pembelajaran.
Adanya masalah tersebut dalam pendidikan matematika merupakan salah satu alasan bagi guru untuk mereformasi pembelajaran matematika disekolah sebagai salah satu upaya meningkatkan mutu pendidikan. Strategi kontekstual merupakan salah satu inovasi dalam pendidikanmatematika. Dalam pembelajaran kontekstual siswa tidak menerima rumus atau konsep langsung dari guru, karena peran guru hanya sebagai fasilitator, mediator dan evaluator. Sedangkan siswa dituntut berfikir dan belajar lebih aktif dalam memahami konsep dasar sehingga hasil belajar siswa menjadi lebih bermakna dan dapat mengaitkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata sehingga mendorong siswa mencari hubungan dan aplikasinya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Seperti diungkapkan Sanjaya (2006: 255):
“Contextual Teaching and learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka”.
Dalam pembelajaran kontekstual, siswa dituntut secara aktif. Guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dengan segenap potensi yang dimilikinya akan berusaha mengkontruksi sendiri pemahamannya dengan bantuan guru sebagai pengarah dan pembimbing. Dalam lingkungan belajar seperi ini, interaksi atau komunikasi antara siswa dengan guru, guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa lainnya akan sering terjadi. Hal ini memperlihatkan bahwa antara pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual dengan komunikasi siswa memiliki hubungan yang erat.
Hal senada juga di ungkapkan US.Departement of Education (Trianto, 2009: 104) mengemukakan bahwa: pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situsi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga. Sementara Trianto, (2009 : 105) berpendapat pula mengenai CTL
JURNAL ILMIAH SIMANTEK
ISSN. 2550-0414
Vol. 3 No. 2
Mei 2019
130
adalah pembelajaran yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situsi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan warga masyarakat dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual yakni : kontruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pe strategian, dan penilaian autentik.
Sejalan dengan hal di atas, Muslich, (2007: 41 ) menjelaskan bahwa landasan filosofi CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal tetapi mengkonstruksi atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta yang mereka alami dalam kehidupannya.
Dengan mengacu pada beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan pembelajaran CTL merupakan suatu konsep pembelajaran yang mengaitkan antara materi pelajaran yang dipelajari siswa dengan konteks di mana materi tersebut digunakan dengan menggunakan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya untuk menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri. Materi pelajaran akan bermakna bagi siswa jika mereka mempelajari materi tersebut melalui konteks kehidupan mereka.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian quasi eksperiment (eksperimen semu). Desain ini mempunyai kelompok kontrol tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperiment. Oleh sebab itu, dalam melakukan pengelompokan sampel penelitian berdasarkan kelas yang telah terbentuk sebelumnya atau kelas yang sudah ada. Sehingga penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperiment dengan kelas yang sudah ada tanpa membentuk kelas baru.
Desain penelitian yang digunakan adalah Pretest-Posttest Control Group Design.Penelitian ini telah dilaksanakan di SMA N 1 B.Purba pada semester genap tahun ajaran 2017/2018. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 minggu, yaitu pada tanggal 1Maret 2018 sampai 9 Maret 2018. Sebagai populasi dalam penelitian ini adalahseluruh siswa kelas X SMAN 1 B.Purba yang terdiri dari 4 (empat) kelas dengan masing-masing kelas sebanyak 30 orang, yang diajar dengan menggunakan Kurikulum 2013. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 2 kelas yang masing-masing kelas terdiri dari 30 siswa.
Sampel yang akan dipakai dalam penelitian ini terlebih dahuluakan diberikan pretest untuk mengetahui kemampuan atau pemahaman siswa mengenai materi prasyarat sebelum dilakukan pembelajaran serta untuk memperoleh sampel yang homogen. Dua kelas yang terpilih secara acak (diperoleh dari kelas-kelas yang homogen pada perhitungan uji homogenitas lebih awal) masing-masing akan menerapkanpembelajaran kontekstual untuk kelas eksperimen, yakni X-1 danpembelajaran konvensionaluntuk kelas kontrol , yaitu X-2.
Variabel bebas pada penelitian ini dipilihpembelajaran matematika dengan menerapkan strategi pembelajaran kontekstual pada kelas eksperiment dan pembelajaran konvensionalpada kelas kontrol.Variabel terikat adalah suatu keadaan yang menunjukan pengaruh dan akibat yang disebabkan oleh variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan komunikasi matematis siswa.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian, yaitu tes kemampuan komunikasi matematis siswa. Instrumen kegunaanya adalah untuk mengukur kemampuan komunikasi matematis siswayang disusun dalam bentuk essay test yang disusun pada ranah kognitif.
Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah hipotesis yang sudah dilakukan ditolak atau diterima. Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini dipakai uji-t satu arah (one tail t-test).Tujuan analisis uji-t satu arah tersebut adalah untuk menguji signifikansi efek variabel bebas terhadap variabel terikat dan interaksi kedua variabel bebas terhadap variabel terikatmenggunakan program SPSS 18.00. Pada uji hipotesis ini taraf signifikansi (α) ditetapkan = 0,05. Taraf signifikansi merupakan angka yang menunjukkan seberapa besar peluang terjadinya kesalahan analisis. Dengan riteria pengujian: Terima jika dengan = ( )
JURNAL ILMIAH SIMANTEK
ISSN. 2550-0414
Vol. 3 No. 2
Mei 2019
131
dengan peluang (1 α) dan taraf nyata α = 0,05, maka ( ) . Untuk harga-harga lainnya, ditolak
atau terima .
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
1. Penyajian dan Analisis Data
Data yang dideskripsikan pada penelitian ini meliputi data kemampuan komunikasi matematis siswa pada mata pelajaran matematika di kelas X SMA N 1 B.Purba.Hasil komunikasi matematis siswa merupakan nilai hasil belajar individu dan kelompok siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kontekstual dan pembelajaran konvensional.
2. Deskripsi Data Kemampuan Komunikasi matematis Siswa
Berdasarkan data hasil penelitian berupa hasil belajar matematika yang diperoleh dari nilai pretes, postes hasil belajar matematika siswa untuk kelas eksperimen dan kontrol dirangkum dalam table 1.
Tabel 1. Data Kemampuan Komunikasi Matematis Pada Kelas Eksperimen dan Kontrol
No. Kode Siswa
Kontekstual
No. Kode Siswa
Konvensional
Pretest Posttest Pretest Posttest
1. EKSP-1 25 58 1. KTROL-1 33 92 2. EKSP-2 50 75 2. KTROL-2 42 67 3. EKSP-3 25 83 3. KTROL-3 67 67 4. EKSP-4 50 58 4. KTROL-4 58 50 5. EKSP-5 33 75 5. KTROL-5 42 50 6. EKSP-6 42 67 6. KTROL-6 33 58 7. EKSP-7 50 83 7. KTROL-7 58 67 8. EKSP-8 33 58 8. KTROL-8 42 42 9. EKSP-9 42 67 9. KTROL-9 25 92 10. EKSP-10 50 67 10. KTROL-10 58 58 11. EKSP-11 50 67 11. KTROL-11 33 58 12. EKSP-12 42 75 12. KTROL-12 50 67 13. EKSP-13 17 67 13. KTROL-13 25 58 14. EKSP-14 25 92 14. KTROL-14 50 75 15. EKSP-15 17 58 15. KTROL-15 50 75 16. EKSP-16 25 92 16. KTROL-16 25 50 17. EKSP-17 33 92 17. KTROL-17 50 67 18. EKSP-18 25 75 18. KTROL-18 50 67 19. EKSP-19 33 75 19. KTROL-19 33 75 20. EKSP-20 33 75 20. KTROL-20 50 50 21. EKSP-21 42 75 21. KTROL-21 33 75
JURNAL ILMIAH SIMANTEK
ISSN. 2550-0414
Vol. 3 No. 2
Mei 2019
132 22. EKSP-22 42 58 22. KTROL-22 42 75 23. EKSP-23 58 92 23. KTROL-23 58 92 24. EKSP-24 58 83 24. KTROL-24 33 50 25. EKSP-25 58 92 25. KTROL-25 42 67 26. EKSP-26 50 83 26. KTROL-26 58 75 27. EKSP-27 33 67 27. KTROL-27 42 67 28. EKSP-28 33 75 28. KTROL-28 42 75 29. EKSP-29 17 83 29. KTROL-29 58 92 30. EKSP-30 25 83 30. KTROL-30 67 923. Uji Normalitas Data
Uji normalitas yang digunakan adalah uji Kolmogorof Smirnov. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak, dengan kriteria: signifikansi (sig.) > 0,05 maka H0 diterima begitu sebaliknya.
1) Uji Normalitas Kelompok Eksperimen (Kontekstual)
Hasil perhitungan uji normalitas pada kelompok eksperimen, diperoleh nilai signifikansi adalah 0,154 dengan = 0,05, 0,154 > 0,05 maka diterima, artinya data yang terdapat pada kelompok eksperimen berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
2) Uji Normalitas Kelompok Kontrol (Konvensional)
Hasil perhitungan uji normalitas pada kelompok eksperimen, diperoleh nilai signifikansi adalah 0,132 dengan = 0,05, 0,132 > 0,05 maka diterima, artinya data yang terdapat pada kelompok eksperimen berasal berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Hasil perhitungan uji normalitas antara kelompok eksperimen dan kontrol menunjukkan kelompok sampel berasal dari populasi yang normal.
4. Uji Homogenitas Data
Uji homogenitas varians digunakan untuk mengetahui apakah kedua kelompok sampel berasal dari populasi yang sama (homogen) atau berbeda (heterogen). Dalam penelitian ini, uji homogenitas menggunakan SPSS 18.00. Kriteria pengujian yang digunakan yaitu kedua kelompok sampel dikatakan homogen jika signifikansi (sig.)>0,05 maka H0 diterima begitu sebaliknya dengan = 29, = 29 dari pengolahan
data didapat nilai signifikansi pretest 0,822 > 0,05 dan nilai signifikansi posttest 0,397> 0,05. diterima atau dengan kata lain varians kedua populasi homogen Sehingga dapat disimpulkan bahwa varians posttest adalah homogen.
5. Uji Hipotesis
Dari hasil perhitungan uji prasyarat menunjukkan bahwa data kemampuan komunikasi matematis siswa kelas kontekstual dan konvensional berdistribusi normal dan homogen. Untuk menguji perbedaan rata-rata kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tersebut digunakan uji t. Setelah melakukan perhitungan dengan menggunakan uji t, maka diperoleh =2,079 menggunakan tabel distribusi t pada taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan ( ) = 58, diperoleh harga = 2,000.Terlihat bahwa nilai signifikansi untuk 2-tailed = 0,022. karena yang dilakukan uji hipotesis satu arah : , maka nilai signifikansi (2-tailed) harus
JURNAL ILMIAH SIMANTEK
ISSN. 2550-0414
Vol. 3 No. 2
Mei 2019
133
dibagi dua menjadi . Karena nilai signifikansi atau 0,022 0,025, maka ditolak dan diterima. Dimana menyatakan bahwa Kemampuan komunikasi matematis siswa pada kelas dengan pembelajaran kontekstual lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan komunikasi matematis siswa pada kelas dengan pembelajaran konvensional pada materi statistika kelas X SMA N 1 B. Purba.
PEMBAHASAN
Berdasarkan data nilai posttest siswa ditemukan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa dengan menerapkan strategi pembelajaran kontekstual lebih tinggi daripada strategi pembelajaran konvensional pada materi statistika. Hal ini dapat dilihat dari rata pretest untuk kelas eksperiment sebesar 37,22, sedangkan rata-rata pretest untuk kelas kontrol sebesar 45 Nilai rata-rata-rata-rata posttest untuk kelas eksperiment sebesar 75, sedangkan nilai rata-rata posttest untuk kelas kontrol sebesar 68,05.
Pada kelas yang diajarkan dengan pembelajaran kontekstual siswa diberikan kesempatan untuk berfikir, bekerja dan belajar mandiri dan melakukan kerja sama dengan orang lain untuk membangun sosial dalam belajar untuk mencapai penyelesaian dari suatu permasalahan yang berikan guru. Kemudian dalam pembelajaran siswa diberi waktu untuk bekerja sama dalam mencari penyelesaian masalah secara kelompok dan satu kelas. Hal ini dapat membantu siswa untuk lebih aktif dan lebih berpartisipasi dalam proses pembelajaran karena siswa diberi kesempatan untuk belajar mandiri terlebih dahulu dan kelompok. Seperti dikemukakan Sanjaya,(2006:255) bahwa Contextual Teaching and learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Hal ini juga di perkuat teori belajar Vygotsky bahwa pembelajaran tidak terlepas dari pengaruh lingkungan sekitar yaitu dengan berinteraksi dengan lingkungan social, sehingga teori belajar Vygotsky relevan dengan masyarakat belajar (Learning Community dan pemodelan (Modelling) yang merupakan salah satu komponen utama pembelajaran kontekstual. Tingkat perkembangan seorang siswa saat ini tidak lain adalah tingkat pengetahuan awal atau pengetahuan prasyarat itu telah dikuasai, maka kemungkinan sekali akan terjadi pembelajaran bermakna. Pembelajaran bermakna ini merupakan salah satu indikator kualitas pembelajaran kontekstual.
Untuk memperkuat hasil penelitian ini maka dibandingkan dengan penelitian yang relevan yang dilakukan Setiawati (2013), yang menerapkan model pembelajaran kontekstual pada pokok bahasan maksimum dan minimum di SMK N 1 Bireuen T.P 2011/20112. Maka dari hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata posttest kelas eksperiment adalah 37,65 dan nilai rata-rata posttest kelas kontrol adalah 25,29. Berdasarkan data hasil tes kemampuan komunikasi matematis siswa di atas dapat dilihat bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran kontekstual lebih tinggi dari strategi pembelajaran konvensional.
Strategi pembelajaran kontekstual adalah strategi pembelajaran yang mengangkat masalah dari kehidupan siswa sehari hari juga memberikan kesempatan berpikir dan bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain dan seluruh kelas yang akan meningkatkan partisipasi tiap anggota. Sedangkan pembelajaran konvensional, kegiatan pembelajaran diawali langsung oleh guru yang menyajikan materi pelajaran. Guru berperan sebagai sumber informasi satu-satunya sehingga siswa menjadi pendengar yang aktif. Dalam pembelajaran ini, guru tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan ide-ide atau gagasan mengenai materi pelajaran yang sedang berlangsung. Sehingga pengetahuan siswa akan materi pelajaran terbatas pada apa yang diberikan atau diajarkan oleh guru.
Dengan melihat ketiga aspek kemampuan komunikasi matematis siswa yang terdapat pada lembar jawaban siswa antara kelas eksperiment dan kelas kontrol terdapat variasi yang berbeda. Siswa dituntut untuk dapat menjawab soal dengan kata kata atau teks tertulis dari pengetahuan yang mereka dapat sebelumnya atau yang ada mereka, kemudian juga siswa dituntut untuk dapat menyajikan data dalam bentuk tabel maupun diagram serta siswa
JURNAL ILMIAH SIMANTEK
ISSN. 2550-0414
Vol. 3 No. 2
Mei 2019
134
juga diharapkan mampu membuat model matematika dari suatu permasalahan yang di berikan.Mengenai analisis proses jawaban siswa dapat disimpulkan bahwa proses jawaban siswa yang mengikuti strategi pembelajaran kontekstual lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data penelitian dan temuan di lapangan yang diuraikan pada bagian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa :
1.Kemampuan komunikasi matematis siswa yang belajar dengan strategi pembelajaran kontekstual lebih tinggi daripada kemampuan komunikasi matematis siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional pada materi statistika di kelas X SMA B.Purba T.A 2017/2018. Siswa yang belajar dengan strategi pembelajaran kontekstual memperoleh rata-rata kemampuan komunikasi matematis sebesar 75 sebelumnya 37,22. Sementara siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional memperoleh rata-rata kemampuan komunikasi matematis sebesar 68,05 sebelumnya 45.
2.Proses jawaban siswa terkait kemampun komunikasi matematis siswa yang belajar dengan strategi pembelajaran kontekstual lebih baik daripada proses jawaban yang ada di kelas kontrol.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran yang dapat peneliti berikan adalah:
1. Pembelajaran matematika dengan strategi pembelajaran kontekstual mampu meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa khususnya pada pokok bahasan statistika, sehingga strategi pembelajaran tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu variasi pembelajaran matematisa yang dapat diterapkan oleh guru.
2. Terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini, oleh karena itu sebaiknya dilakukan penelitian lanjut yang meneliti tentang pembelajaran matematika dengan strategi pembelajaran kontekstual pada pokok bahasan lain, mengukur aspek lain serta pada jenjang sekolah yang berbeda.
3. Guru ataupun peneliti lanjutan yang hendak menggunakan strategi pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran di kelas diharapkan dapat mendesain pembelajaran dengan seefektif mungkin, sehingga pembelajaran dapat selesai tepat waktu dan dapat membimbing siswa secara penuh dan rata.
4. Kepada peneliti lanjutan agar dapat menerapkan pembelajaran kontekstual pada sampel yang berbeda dan pada sekolah yang berbeda.
5. Kepada siswa, siswa harus lebih berani dalam menyampaikan pendapat atau ide-ide sehingga siswa yang mempelajari matematika mampu menyelesaikan masalahmatematika dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Armiati, (2009), Komunikasi matematis dan Kecerdasan Emosional, Prosiding Desember 2009.
Afriati, V., (2011), Peningkatan Pemahaman Konsep Dan Komunikasi Matematis Siswa Dengan Pendekatan Penemuan Terbimbing Berbantuan Sofware Autograph, Tesis tidak diterbitkan, Program Pascasarjana Unimed, Medan.
Ansari, B.I, (2009), Komunikasi Matematis, Yayasan Pena, Banda Aceh, TIMSS, Chestnut Hill: TIMSS & PIRLS International Study Center.
Dahar, R.W., (2011), Teori-teori Belajar dan Pembelajaran, Erlangga, Jakarta.
Fakultas Matematisa dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan, (2012), Buku Pedoman Penulisan Skripsi dan Proposal Penelitian Kependidikan, FMIPA Unimed.
JURNAL ILMIAH SIMANTEK
ISSN. 2550-0414
Vol. 3 No. 2
Mei 2019
135
Hadjar, I., (1996), Dasar – Dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif Dalam Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Izzati N., (2010), Komunikasi Matematis dan Pendidikan Matematika Realistik. Prosiding November 2010.
Muhammad, I., (2013), Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis dan Sikap Positif Siswa SMP Loksumawe Melalui Pendekatan Kontekstual, Tesis tidak diterbitkan, Program Pascasarjana Unimed, Medan.
Muslich, M. (2007), KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Bumi Aksara, Jakarta.
PISA, (2012), http://news.okezone.com/read/2013/12/06/373/908225/miris-indeks-kepintaran-anak-indonesia-jeblok ( diakses 30 - 11 - 2014)
Sanjaya, W., (2006), Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Kencana, Jakarta.
Setiawati, D., (2013), Perbedaan Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Komunikasi Matematis Siswa Antara Pendekatan CTL dan Konvensional Pada Siswa Kelas X SMK N 1 Bireuen, Tesis tidak diterbitkan, Program Pascasarjana Unimed, Medan.
Silitonga, M.P., (2011), Metodologi Penelitian Pendidikan, Unimed, Medan.
Sirait, B. A., (2013), Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Komunikasi Matematis Siswa SMK Melalui Pembelajaran kontekstual. Tesis tidak diterbitkan, Program Pascasarjana Unimed, Medan.
Suhaedi, D., (2012), Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Smp Melalui Pendekatan Pendidikan Matematisa Realistik, Prosiding November 2012.
Trianto , (2009), Mendesain Model Pembelajaran Inovatif- Progresif, Kencana Prenada Media Group, Jakarta. Uno, H., (2007), Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Edukatif, Bumi Aksara,
Jakarta.