I S K A N D A R M U D A , S . H . , M . H .
Kewenangan Memutus Sengketa
Hasil Pemilukada
I S K A N D A R M U D A , S . H . , M . H .
P E N G A J A R H U K U M A C A R A M A H K A M A H K O N S T I T U S I D L B F A K U L T A S S Y A R I A H I A I N R A D E N I N T A N L A M P U N G
Pokok Bahasan
Tujuan Penyelenggaraan Pemilu.
Cikal-bakal Kewenangan Memutus Sengketa Hasil Pemilukada.
Perkembangan Kewenangan Memutus Sengketa Hasil Pemilukada.
Para Pihak (Subjectum Litis).
Objek Perselisihan (Objectum Litis).
2
Objek Perselisihan (Objectum Litis).
Jenis Pelanggaran Pemilukada.
Pelanggaran Pemilukada Secara “TSM”.
Perkembangan Amar Putusan Sengketa Hasil Pemilukada.
Tujuan Penyelenggaraan Pemilu
Tujuan diadakannya penyelenggaraan Pemilu, yaitu
sebagai berikut
(Jimly Asshiddiqie, 2009: 418-419):
1.
Utk memungkinkan terjadinya peralihan
kepemimpinan pemerintahan secara tertib dan
damai;
3
damai;
2.
Utk memungkinkan adanya pergantian pejabat
yang akan mewakili kepentingan rakyat di
lembaga perwakilan;
3.
Utk melaksanakan prinsip kedaulatan rakyat;
4.
Utk melaksanakan prinsip hak-hak asasi warga
Cikal-bakal Kewenangan Sengketa Hasil
Pemilukada
1.
Putusan MK Nomor 072-073/PUU-II/2004 menyatakan
bahwa “rezim” pemilihan kepala daerah langsung
(Pilkadal) walaupun secara formal ditentukan oleh
pembentuk undang-undang bukan merupakan rezim
pemilihan umum, tetapi secara substantif adalah
pemilihan umum sehingga penyelenggaraannya harus
memenuhi asas-asas konstitusional Pemilu.
4
memenuhi asas-asas konstitusional Pemilu.
2.
UU No. 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu,
pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah
(Pemilukada) secara tegas dinyatakan sebagai bagian dari
pemilihan umum.
3.
Pasal 236C UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan
pengalihan wewenang memutus sengketa Pemilukada
dari MA ke MK dalam waktu 18 bulan sejak
Perkembangan Kewenangan Memutus
Sengketa Hasil Pemilukada
Kewenangan MK utk memutus sengketa hasil
Pemilu terbatas pada hasil penghitungan suara,
namun dlm praktiknya MK tlh melakukan suatu
terobosan hukum dgn memeriksa
pelanggaran-5
terobosan hukum dgn memeriksa
pelanggaran-pelanggaran Pemilu yg berpengaruh thd hasil
perolehan suara pasangan calon, baik
pelanggaran yg bersifat administratif maupun
Para Pihak (Subjectum Litis)
(Pasal 3 PMK No. 15 Th. 2008 ttg Pedoman Beracara Hasil Pemilukada)
(1) Para pihak yang mempunyai kepentingan langsung
dalam perselisihan hasil Pemilukada adalah:
a. Pasangan Calon sebagai Pemohon;
b. KPU/KIP provinsi atau KPU/KIP kabupaten/kota
sebagai Termohon.
6
sebagai Termohon.
(2) Pasangan Calon selain Pemohon dapat menjadi Pihak
Terkait dalam perselisihan hasil Pemilukada;
(3) Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait dapat diwakili
dan/atau didampingi oleh kuasa hukumnya
masing-masing yang mendapatkan surat kuasa khusus
Objek Perselisihan (Objectum Litis)
(Pasal 4 PMK No. 15 Th. 2008 ttg Pedoman Beracara Hasil Pemilukada)
Objek perselisihan Pemilukada adalah hasil
penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon
yang mempengaruhi:
penentuan Pasangan Calon yang dapat mengikuti
7
a.
penentuan Pasangan Calon yang dapat mengikuti
putaran kedua Pemilukada; atau
b.
terpilihnya Pasangan Calon sebagai kepala daerah
Jenis Pelanggaran Pemilukada
MK dlm putusannya No. 190/PHPU.D-VIII/2010 telah membagi
pelanggaran Pemilukada menjadi tiga jenis
(M. Mahrus Ali, dkk., 2012):
1.
Pelanggaran dlm proses yg tdk berpengaruh atau tdk dpt ditaksir
pengaruhnya thd hasil suara Pemilu atau Pemilukada spt pembuatan
baliho, kertas simulasi yg menggunakan lambang, dan alat peraga yg
tak sesuai dengan tata cara yg telah diatur dlm peraturan
perundang-undangan.
2.
Pelanggaran dalam proses Pemilu atau Pemilukada yang berpengaruh
8
2.
Pelanggaran dalam proses Pemilu atau Pemilukada yang berpengaruh
thd hasil Pemilu atau Pemilukada spt money politic, keterlibatan
oknum pejabat atau PNS, dugaan pidana Pemilu, dan sbgnya.
Pelanggaran yg spt ini dpt membatalkan hasil Pemilu atau Pemilukada
sepanjang berpengaruh scr signifikan, yakni krn tjd scr terstruktur,
sistematis, dan masif yg ukuran-ukurannya tlh ditetapkan dlm berbagai
putusan MK
(lebih jelas lihat dlm Pelanggaran Pemilu Secara “TSM”)
3.
Pelanggaran ttg persyaratan mjd calon yg bersifat prinsip dan dpt
diukur (seperti syarat tdk pernah dijatuhi pidana penjara dan syarat
keabsahan dukungan bagi calon independen) dpt dijadikan dasar utk
membatalkan hasil Pemilu atau Pemilukada krn ada pesertanya yg tdk
memenuhi syarat sejak awal.
Pelanggaran Pemilukada Secara “TSM”
Pemilukada sepanjang berpengaruh scr signifikan thd
perolehan suara dan tjd scr terstruktur, sistematis, dan
masif yang ukuran-ukurannya telah ditetapkan dlm
berbagai putusan MK
(M. Mahrus Ali, dkk., 2012),
yakni:
Pelanggaran itu bersifat terstruktur, artinya
pelanggaran ini dilakukan oleh aparat struktural, baik
aparat pemerintah maupun aparat penyelenggara
9
aparat pemerintah maupun aparat penyelenggara
Pemilukada secara kolektif bukan aksi individual;
Pelanggaran itu bersifat sistematis, artinya pelanggaran
ini benar-benar direncanakan scr matang (by design);
Pelanggaran itu bersifat masif, artinya dampak
Perkembangan Amar Putusan Sengketa Hasil Pemilukada
Amar Putusan berdasarkan Pasal 13 Ayat (3) PMK No. 15 Th. 2008:
1.
Permohonan tidak dapat diterima apabila pemohon dan atau
permohonan tidak memenuhi syarat;
2.
Permohonan dikabulkan apabila permohonan terbukti
beralasan dan selanjutnya Mahkamah membatalkan hasil
10
beralasan dan selanjutnya Mahkamah membatalkan hasil
penghitungan suara yang ditetapkan oleh KPU/KIP Provinsi
atau KPU/KIP kabupaten/kota, serta menetapkan hasil
penghitungan suara yang benar menurut Mahkamah;
3.
Permohonan ditolak apabila permohonan tidak beralasan.
Dalam perkembangannya MK juga mengenal amar
putusan “dikabulkan sebagian”.
(M. Mahrus Ali, dkk., 2012)
Perkembangan Putusan Sela Sengketa Hasil Pemilukada
Pasal 8 Ayat (4) PMK No. 15 Th. 2008 menyebutkan:
“
Untuk kepentingan pemeriksaan, Mahkamah dapat
menetapkan putusan sela yang terkait dengan
penghitungan suara ulang”.
Dalam praktik, putusan sela juga tidak hanya dijatuhkan
11
Dalam praktik, putusan sela juga tidak hanya dijatuhkan
saat MK memerintahkan penghitungan suara ulang,
tetapi juga pemungutan suara ulang dan
diskualifikasi pasangan calon juga dijatuhkan MK
pada putusan sela. Pasca dilakukan pemungutan
dan/atau penghitungan suara ulang, MK selanjutnya
menjatuhkan putusan akhir atas perkara itu
. (M. Mahrus Ali,
dkk., 2012).
Daftar Pustaka
Jimly Asshiddiqie, 2009, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Jakarta:
RajaGrafindo Persada.
M. Mahrus Ali, dkk., 2012, “Tafsir Konstitusional Pelanggaran Pemilukada yang
Bersifat Sistematis, Terstruktur dan Masif”, Jurnal Konstitusi, Volume 9 Nomor
1, Maret, h. 189 – 230.
Muchamad Ali Safa’at, dkk., 2010, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi, Jakarta:
12
Muchamad Ali Safa’at, dkk., 2010, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi, Jakarta:
Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi.
Peraturan Mahkamah Konstitusi No. 15 Th. 2008 ttg Pedoman Beracara Hasil
Pemilihan Umum Kepala Daerah.
Bibliographi
Iskandar Muda, menyelesaikan pendidikan kesarjanaan di Fak. Hukum Univ. Lampung Th. 2007 dan Magister Hukum Th. 2010
pada almamater yang sama dengan konsentrasi hukum kenegaraan predikat cumelaude. Sejak Th. 2007 bergabung pada Univ. Malahayati Bandar Lampung selanjutnya Th. 2010 diangkat sebagai Dosen Tetap sampai sekarang pada Fak. Ekonomi Univ. Malahayati mengampu mata kuliah: Aspek Hukum Dalam Ekonomi dan Ilmu Sosial & Politik, selain itu sebagai Dosen Luar Biasa di Fakultas Syari’ah IAIN Raden Intan Lampung mengajar mata kuliah Hukum Tata Negara, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi dan Kapita Selekta Hukum Tata Negara. Aktifitas bidang studinya meliputi Hukum Tata Negara, Hukum Konstitusi dan Konstitusi
Ekonomi. Kontak melalui e-mail:[email protected]
Publikasi Karya Ilmiah (Jurnal & Buku):
13
Publikasi Karya Ilmiah (Jurnal & Buku):
1. “Pro-Kontra dan Prospektif Kewenangan Uji Konstitusionalitas Perpu”, Jurnal Konstitusi , Vol. 10 No. 1, Maret 2013.
2. “Penerapan Konsep Hukum Pembangunan Ekonomi Dalam Upaya Pencegahan Eksploitasi Pekerja Alih Daya”, Jurnal Yudisial,
Vol. 6 No.1, April 2013.
3. “Konstitusionalitas Mengenai Kekuasaan Negara Dalam Kegiatan Penanaman Modal”, Jurnal Konstitusi, Vol. 8 No. 6, Desember
2011.
4. “Politik Hukum Pembentukan Mahkamah Konstitusi Di Indonesia”, Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 3 No. 1, Juni 2010, Bandar
Lampung: Magister Hukum Univ. Lampung.
5. Pokok-Pokok Hukum Acara Mahkamah Konstitusi (co-author) diterbitkan oleh Seksi Penerbitan Fakultas Syari’ah IAIN Raden
Intan Lampung 2012.
Keanggotaan Organisasi Ilmiah: