MONITORING LINGKUNGAN
Monitoring atau pemantauan lingkungan yang diimplementasikan oleh PT. BUMWI, dilakukan terhadap 4 (empat) komponen lingkungan yang terkena dampak yaitu meliputi komponen Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT), komponen biologi, komponen fisik kimia, dan komponen sosial.
Data yang diperoleh dari hasil monitoring berfungsi sebagai bahan evaluasi terhadap efektivitas pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan terhadap keempat komponen lingkungan tersebut. Data hasil monitoring juga merupakan instrumen dalam membangun sistem peringatan dini terhadap dampak yang muncul pada tiap komponen lingkungan sehingga mampu menjadi input untuk pengembangan pola pengelolaan lingkungan.
Data hasil monitoring pada tahun 2016 untuk setiap komponen lingkungan adalah sebagai berikut.
1. Komponen Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT)
Luas total seluruh KBKT di PT.BUMWI berdasar hasil identifikasi NKT oleh IDEAS Consultancy Services adalah sebesar 19.837,94 Ha. Kawasan tersebut meliputi Kawasan Sempadan, Kawasan Perlindungan Plasma Nutfah (KPPN), Kantong Satwa, Hutan Sagu, Hutan Nipah, Hutan Darat (Namawene, Sarbe-Naramasa, Kasuri 1, Kasuri 2, Kasuri 3), Hutan Rawa Primer, Kampung Lama dan Zona Penyangga CATB. Keberadaannya yang tersebar di seluruh areal PT. BUMWI merupakan habitat yang penting bagi pelestarian flora fauna. Selain karena perannya sebagai habitat, penyedia pakan dan tempat berlindung, KBKT juga berfungsi sebagai koridor yang menghubungkan mozaik cluster mangrove di seluruh penjuru areal konsesi PT. BUMWI.
Gambar 1. Elang bondol (Haliastur indus)
Data keanekaragaman jenis hayati dari hasil monitoring KBKT selama tahun 2016 dapat dilihat pada tabel 1.
Kegiatan monitoring fauna pada KBKT menggunakan metode line transect dan point
count, sedangkan monitoring vegetasi
menggunakan metode quadrat plot sampling. Hasil monitoring menunjukkan bahwa kondisi areal KBKT seluruhnya berada dalam kondisi utuh dan tidak terdapat gangguan dari pihak luar.
Tabel 1. Data spesies flora hasil monitoring di areal KBKT tahun 2016.
No. KBKT Jumlah Jenis Flora Status Perlindungan
PP IUCN CITES
1 Sempadan Pantai, Sungai dan Alur
Sempadan pantai: 8 jenis flora mangrove mayor dari 3 famili, Sempadan sungai: 10 jenis flora
mangrove dari 4 famili Sempadan alur: 9 jenis flora
mangrove dari 3 famili
- 1 spesies -
2 Zona Penyangga
CATB 7 jenis flora mangrove dari 3 famili - - - 3 Hutan Sagu Didominasi oleh jenis sagu
(Metroxylon sagu, Rottb) - - -
4 Hutan Nipah Didominasi oleh jenis nipah (Nypa
fructicans) - - -
5 KPPN 7 jenis flora mangrove dari 3 famili - 1 spesies - 6 Kantong Satwa 6 jenis flora mangrove dari 3 famili - - - 7 Namawene Didominasi oleh jenis bakau
(Rhizophora apiculata) - - -
8 Sarbe Naramasa 103 jenis flora hutan dataran
rendah dari 46 famili - 4 spesies 6 spesies
Tabel 2. Data spesies fauna hasil monitoring di areal KBKT.
2. Komponen Fisik-Kimia
2. 1 Kualitas Air
Lokasi sampel untuk pengukuran kualitas air adalah lokasi tebangan yang masih berjalan yaitu blok 2016 (Et) serta bekas tebangan blok 2015 (Et+1) dan blok 2016 (Et+2). Pada masing-masing blok dipilih lokasi sampel dengan tingkat ketinggian tapak yang berbeda yaitu tapak rendah, sedang dan tinggi. Data kontrol menggunakan lokasi sampel di virgin
forest sekitar blok sampel. Hasil pengukuran kualitas air dibandingkan dengan Baku Mutu
Lingkungan yang tertera pada Kepmen LH No. 02/1988. Hasil monitoring menunjukkan bahwa besar rerata pH pada lokasi tebangan (Et) adalah sebesar 7,53. pH rata-rata pada seluruh lokasi sampel pasca tebangan (Et+1 dan Et+2) adalah sebesar 7,65. Sedangkan pH pada lokasi virgin forest adalah sebesar 7,13. Rata-rata kadar salinitas pada lokasi tebangan, bekas tebangan, dan virgin forest berturut-turut adalah sebesar 0,91 - 0,90 - 0,93. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pH dan salinitas tidak melebihi baku mutu. Siklus pasang surut diurnal pada kawasan Teluk Bintuni terlihat mampu menjadi sistem nature purification di ekosistem mangrove yang dikelola oleh PT. BUMWI sehingga tidak terdapat perbedaan kualitas air yang signifikan antara lokasi tebangan, bekas tebangan dan virgin forest.
No. KBKT Jumlah Jenis Fauna Status Perlindungan
PP No 7 IUCN CITES
1 Sempadan Pantai, Sungai dan Alur
Sempadan pantai: 33 jenis burung dari 19 famili dan 1 jenis reptilia
Sempadan sungai: 33 jenis burung dari 17 famili dan 1 jenis reptilia
Sempadan alur: 29 jenis burung dari 19 famili dan 2 jenis reptilia dari 2 famili
13 spesies - 6 spesies
2 Zona Penyangga CATB
18 jenis fauna burung dari 13 famili dan 2 jenis reptilia dari 2 famili
9 spesies - 4 spesies 3 Hutan Nipah 16 jenis burung dari 12 famili dan 1
jenis mamalia 7 spesies - 4 spesies
4 KPPN 5 jenis fauna burung dari 4 famili 2 spesies - - 5 Kantong satwa 12 jenis burung dari 6 famili dan 1
jenis reptil 11 spesies - 5 spesies
6 Namawene 9 jenis burung dari 7 famili dan 1
jenis reptilia 5 spesies - 3 spesies 7 Sarbe Naramasa
45 jenis burung dari 20 famili, 3 jenis mamalia dari 3 famili, dan 2 jenis reptilia dari 2 famili
2. 2 Tanah
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa pada sub komponen tanah, tidak terdapat pola kecenderungan penurunan permukaan tanah yang konsisten pada areal bekas tebangan. Pada beberapa titik sampel di areal bekas tebangan justru ketebalan tanahnya lebih besar dibanding virgin forest di sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan penebangan dan penyaradan kayu yang dilakukan pada hutan mangrove tidak memberikan dampak besar pada sub komponen tanah mengingat kegiatan eksploitasi yang dilakukan hanya menggunakan tenaga manusia tanpa mobilisasi alat berat.
2. 3 Hidrooceanografi
Lokasi sampel untuk pemantauan pemunduran garis pantai adalah pantai di blok RKT 2009 (tingkat abrasi besar) dan pantai di blok RKT 2010 (tingkat abrasi kecil). Kedua blok tersebut berada pada satu bentang lahan, yaitu pulau besar yang berada di kawasan Sungai Wemoi – Sungai Naramasa.
Hasil monitoring menunjukkan bahwa pemunduran garis pantai pada blok 2010 di tahun 2016 adalah 1,01 m/tahun. Sedangkan hasil monitoring pemunduran garis pantai pada blok 2009 adalah sebesar 13,99 m/tahun.
Abrasi yang terjadi pada pantai Blok RKT 2009 bukanlah abrasi yang disebabkan oleh kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu yang dilakukan PT. BUMWI. Abrasi pada lokasi tersebut adalah abrasi alam. Sedangkan pada lokasi pemanenan hutan mangrove, tidak ditemukan pemunduran garis pantai yang signifikan karena terdapat sempadan pantai selebar 200 m yang mampu menjaga keberadaan dan kestabilan garis pantai di areal konsesi PT. BUMWI.
3. Komponen Biologi
Monitoring terhadap komponen biologi dilakukan terhadap empat lokasi blok RKT yaitu blok 2006, 2011, 2015, dan 2017 (Et+10, Et+5, Et+1 dan virgin forest). Data kontrol menggunakan lokasi virgin forest blok URKT 2017. Metode yang digunakan adalah garis transek untuk pengamatan jenis fauna dan di dalam transek di buat plot pengamatan jenis vegetasi dengan menggunakan quadrat plot sampling. Jarak antara transek yaitu 1 km dan jumlah total plot pada seluruh areal pengamatan yaitu 175 plot.
Struktur Vegetasi
Hasil monitoring terhadap struktur vegetasi menunjukkan bahwa pada tingkat strata pohon, lokasi blok sampel dengan kerapatan tertinggi adalah blok URKT 2017 yaitu 262 batang/ha
dan lokasi blok sampel dengan kerapatan terendah adalah blok RKT 2011 yaitu 30 batang/ha. Perbandingan kerapatan pada jenis pohon untuk tiap blok sampel dapat dilihat pada grafik 1.
Grafik 1. Kerapatan pohon (N/ha) di seluruh lokasi sampel. Keanekaragaman Jenis Flora
Hasil pemantauan menunjukan bahwa besaran indeks H’ di seluruh blok sampel tidak bergeser jauh dari angka indeks 1. Pada hutan mangrove sangat sulit untuk mencapai indeks keanekaragaman jenis yang tinggi karena jenis flora yang mampu tumbuh di ekosistem mangrove sangatlah terbatas. Indeks keanekaragaman jenis pada seluruh lokasi blok sampel dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Indeks keanekaragaman jenis Shannon Wienner (H’) flora di lokasi blok sampel.
No. Tingkat Strata Indeks Shannon Wienner (H’)
2006 2011 2015 2017
1 Semai 0,99 0,94 1,06 1,29
2 Pancang 0,80 0,70 1,20 1,20
3 Tiang 1,05 0,70 1,08 1,09
4 Pohon 1,02 0,73 1,23 1,06
Jenis Flora Dilindungi
Tidak terdapat jenis flora mangrove yang dilindungi, namun terdapat 1 spesies mangrove dengan status Near Threatened menurut Red List IUCN v 3.1 tahun 2012 yaitu Ceriops
decandra. Spesies ini dapat dijumpai dengan kelimpahan yang tinggi dan distribusi yang
cukup luas pada areal PT. BUMWI.
20 19 60 2 1 14 38 2 7 26 8 8 23 34 4 1 174 16 Bruguiera gymnorrhiza Bruguiera parviflora Ceriops decandra Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Jumlah pohon/ha 2006 2011 2015 2017
Hasil monitoring menunjukan bahwa spesies Ceriops decandra ditemukan dengan merata untuk tingkat strata semai. Sedangkan untuk strata pancang, tiang dan pohon jenis ini hanya dijumpai pada beberapa lokasi blok sampel (lihat tabel 4).
Tabel 4. Persebaran jenis Ceriops decandra di lokasi blok sampel.
Jenis Tingkat Strata Jumlah individu (N) Total 2006 2011 2015 2017 Ceriops Decandra Semai 200 250 1900 500 2850 Pancang 240 - 400 480 1120 Tiang 2 - 12 20 34 Pohon - - 8 8 16
Hasil monitoring menunjukkan bahwa jenis Ceriops decandra yang memiliki status Near
Threatened pada IUCN Red List, ternyata memiliki persebaran yang cukup melimpah di areal
konsesi PT. BUMWI. Sehingga jika jenis tersebut dikatakan langka secara global belum tentu langka secara nasional. Hal tersebut sesuai dengan deskripsi yang dikemukakan oleh Rusila Noor, dkk. (1999) bahwa spesies tersebut berstatus langka secara global namun relatif umum dijumpai dalam lingkup lokal di Indonesia.
Jenis Fauna Dilindungi
Hasil monitoring menunjukkan bahwa terdapat 20 jenis burung dan 1 jenis reptil yang memiliki status fauna penting. Lokasi sampel dengan jumlah tertinggi untuk fauna penting adalah pada blok RKT 2011 yaitu sebanyak 16 jenis. Sedangkan blok sampel dengan jumlah fauna penting terkecil adalah blok RKT 2015 yaitu sebanyak 6 jenis. Daftar jenis fauna penting di seluruh blok sampel dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Daftar Jenis Fauna yang Dilindungi di Berbagai Blok RKT.
No Spesies Nama Ilmiah Status Perlindungan Lokasi Sampel
CITES PP 7 IUCN 2006 2011 2015 2017 1 Biawak Varanus salvadorii App. II NL + + + + 2 Burung madu sriganti Nectarinia jugularis P LC + +
3 Kukabura perut merah Dacelo gaudichaud P LC + +
4 Meliphaga aru Meliphaga aruensis P LC + + + + 5 Meliphaga mimika Meliphaga mimikae P LC + +
6 Raja udang kecil Alcedo pusilla P LC +
7 Cekakak rimba Halcyon macleayii P LC + + + + 8 Cikukua lantang Philemon corniculatus P LC + +
9 Cikukua tanduk Philemon buceroides P LC + + + + 10 Ibis suci Threskiornis aethiopicus P LC + +
No Spesies Nama Ilmiah Status Perlindungan Lokasi Sampel
CITES PP 7 IUCN 2006 2011 2015 2017 11 Isap madu polos Ramsayornis modestus P LC + + + 12 Julang papua Rhyticeros plicatus App. II P LC +
13 Kakatua koki Cacatua galerita App. II P LC + + + +
14 Cekakak sungai Halcyon chloris p LC +
15 Cikukua tanduk Philemon buceroides P LC + + 16 Isap madu zaitun Lichmera argentauris P LC
17 Nuri pipi merah Geoffroyus geoffroyi App. II LC + + + 18 Elang bondol Haliastur indus App. II P LC + + 19 Perkici kerdil Charmosyna wilhelminae App. II LC +
20 Perkici pelanggi Trichoglossus goldiei App. II LC +
21 Kuntul karang Egretta sacra P +
4. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya
4.1 Kesempatan Kerja
Hasil monitoring terhadap kesempatan kerja yang menunjukkan perbandingan jumlah tenaga kerja lokal dan pendatang yang bekerja di base camp PT. BUMWI selama tahun 2016, dapat dilihat pada grafik 2. Persentasi tenaga kerja lokal yang bekerja di base camp PT. BUMWI masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan tenaga kerja pendatang. Perusahaan telah membuka kesempatan yang selebar-lebarnya bagi masyarakat lokal yang ingin bekerja dalam pengelolaan mangrove di Teluk Bintuni. Namun demikian, hanya sedikit masyarakat lokal yang berminat untuk bekerja di PT. BUMWI dikarenakan terdapat sumber penghidupan lain yang telah ditekuni oleh masyarakat.
Grafik 2. Perbandingan jumlah tenaga kerja lokal dan pendatang yang bekerja di base camp PT. BUMWI selama tahun 2016.
0 50 100 150 200 Ju m lah t e n ag a k e rja Lokal Pendatang
0 1,000,000 2,000,000 3,000,000 4,000,000 5,000,000 6,000,000 Ju m lah n o m in al ( R p ) 0 20 40 60 80 100 90 62 85 100 Ju m lah p asi e n 4.2 Kesempatan Berusaha
Hasil monitoring terhadap kesempatan berusaha dalam hal jumlah nominal pembelian hasil usaha masyarakat lokal oleh PT. BUMWI selama tahun 2016, dapat dilihat pada grafik 3. Kegiatan operasional PT. BUMWI dalam mengelola hutan mangrove di kawasan Teluk Bintuni praktis memberikan peluang yang sangat baik bagi masyarakat sekitar untuk memperoleh penghasilan tambahan dengan menjual hasil usaha mereka kepada perusahaan. Hasil usaha masyarakat lokal yang diserap oleh PT. BUMWI berasal dari desa-desa yang ada di sekitar areal perusahaan.
Grafik 3. Nominal (Rp) pembelian hasil masyarakat selama tahun 2016. 4.3 Kesehatan Masyarakat
Perusahaan memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada masyarakat yang ada di sekitar areal perusahaan untuk memanfaatkan fasilitas yang ada pada klinik PT. BUMWI di
base camp P. Amutu Besar. Pasien yang datang berobat ke klinik PT. BUMWI mayoritas
hanya melakukan pengobatan ringan. Untuk jenis keluhan penyakit yang berat, mantri klinik PT. BUMWI memberikan surat rujukan untuk selanjutnya melakukan pengobatan lanjutan ke Puskesmas atau RSUD Bintuni. Jumlah pasien dan nominal biaya penggunaan obat yang digunakan oleh masyarakat sekitar perusahaan dapat dilihat pada grafik 4.
Grafik 4. Data jumlah pasien (kiri) dan jumlah nominal penggunaan obat dalam Rupiah (kanan) masyarakat lokal yang berobat ke klinik PT. BUMWI di P. Amutu Besar Tahun 2016.
0 10,000,000 20,000,000 30,000,000 40,000,000 50,000,000
JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGU SEP OKT NOV DES
Ju m lah n o m in al ( R p )