• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI BUDIDAYA MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM UNTUK KEBERLANJUTAN PRODUKSI PANGAN JOKO PRAMONO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IMPLEMENTASI TEKNOLOGI BUDIDAYA MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM UNTUK KEBERLANJUTAN PRODUKSI PANGAN JOKO PRAMONO"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI BUDIDAYA

MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM

UNTUK KEBERLANJUTAN PRODUKSI PANGAN

JOKO PRAMONO

Webinar Nasional Optimasi Sumber Daya Pertanian Mengantisipasi Kekeringan dan Keberlanjutan Produksi Pangan di Masa Pandemi Covid 19

(2)

PENDAHULUAN

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM (DPI) (Elnino/LaNina) Kekeringan/Banjir,

OPT

Teknologi VUB Adaptif DPI (VUB Tahan Kering, Umur Genjah, tahan

Genangan, Salinitas), pola tanam, mekanisasi, Katam Info

(3)

PENGERTIAN

Perubahan Iklim Global adalah perubahan unsur-unsur iklim (suhu, tekanan, kelembaban, hujan, angin,dan sebagainya) secara global terhadap normalnya (Winarso, 2007)

Perubahan Iklim dapat dikarenakan proses alami maupun pengaruh dari luar atau perubahan anthropogenik dalam atmosfer maupun penggunaan lahan (IPCC, 2011)

Terjadinya musim hujan dan kemarau yang semakin sering tidak menentu, yang dapat mengganggu kebiasaan petani dan mengancam hasil panen (Pemahaman Umum)

Perubahan iklim yang diakibatkan, langsung atau tidak langsung, oleh aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan komposisi atmosfer secara global serta perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan (UU 31/2009 MKG)

(4)

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM (PI)

• Dampak Kontinu:

Kenaikan suhu, perubahan pola CH, kenaikan

salinitas tanah (lahan tepi pantai)  Produktivitas

tanaman

• Dampak Diskontinu:

Anomali Iklim (El Nino/La Nina), & Iklim Ekstrim 

banjir, kekeringan, angin kencang/badai  Produktivitas, Gagal Panen

• Dampak Permanen:

Degradasi dan penciutan lahan,  luas areal

(5)

Strategi Yang Harus Dilakukan:

Mitigasi

:

adalah usaha pengendalian untuk

mengurangi risiko akibat perubahan iklim melalui

kegiatan yang dapat menurunkan emisi/ meningkatkan penyerapan GRK dari bbg sbr emisi

Adaptasi

:

adalah proses untuk memperkuat dan membangun strategi antisipasi dampak perubahan iklim serta melaksanakannya sehingga mampu

mengurangi dampak negatif dan mengambil manfaat positifnya.

(6)

Contoh Aksi Mitigasi:

• Menanam pohon,

• kegiatan reboisasi, menggunakan peralatan yang ramah lingkungan,

• memberikan pakan ternak yg menghasilkan kotoran rendah emisi.

Contoh Aksi Adaptasi:

• Menyesuaikan waktu tanam terhadap kondisi curah hujan  Panduan

KALENDER TANAM

• memilih varitas unggul adaptif, • penggunaan teknologi hemat air.

(7)

77

KEBIJAKAN UMUM SEKTOR PERTANIAN

MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM

Aksi ADAPTASI sebagai upaya “penyelamatan & pengamanan”  melestarikan dan memantapkan ketahanan pangan, SEBAGAI PRIORITAS UTAMA Program aksi MITIGASI mendukung RAN-GRK

(Perpres 61/2011) sebagai KEWAJIBAN dilakukan melalui pengembangan Pert. Ramah Lingkungan

Aksi Adaptasi harus diupyakan bersinergi dan sekaligus sebagai mitigasi & sebaliknya, serta

mengacu upaya pencapaian sasaran pembangunan pertanian (produksi & ekonomi)

(8)

RISET INTERNATIONAL

• STRATEGI

• Perubahan umur semaian untuk transplanting • Pengembangan varietas padi aerobik

• Pemanfaatan kerabat liar padi untuk perbaikan ketahanan terhadap hama dan penyakit

• Kebijakan yang mendukung peningkatan produksi padi

• REKOMENDASI

• Perlu lebih melibatkan ahli Iklim & ahli GIS dalam

pengembangan teknologi padi tahan perubahan iklim Perlu peningkatan kapasitas penelitian

(9)

• PERAKITAN VARIETAS PADI TOLERAN TERHADAP BERBAGAI KONDISI EKSTREM AKIBAT PERUBAHAN IKLIM GLOBAL

• Kekeringan

• Kadar garam tinggi • Genangan/rendaman

• Suhu ekstrim (tinggi-rendah)

• Perubahan pola serangan hama, penyakit, gulma

(10)

RISET NASIONAL

• STRATEGI

• Pengembangan VUB padi Amphibi, umur Genjah • Pengembangan VUB toleran kekeringan

• Pengembangan VUB padi tahan rendaman

• Pengembangan VUB padi Green Super Rice (GSR)  Rice

Consortium

• REKOMENDASI

• Perlu rekayasa pola tanam yang adaptif terhadap DPI dengan memanfaatkan VUB padi sesuai kondisi spesifik

(11)

• STRATEGI

• Pengembangan VU padi tahan kekeringan  INPAGO UNSOED-1

• Pengembangan Sistem Tanam Kedelai Superbodi

UNSOED

(Totok Agung, 2016)

• STRATEGI

• Pengembangan VUB Kedelai tahan Naungan • Pengembangan VUB Kedelai tahan Genangan • Pengembangan VUB Kedelai tahan Kekeringan • Paket Teknologi Budidaya Kedelai adaptif DPI

(Budega, Budena, Budeka)

(12)

STRATEGI

Antisipasi dan Adaptasi

BUDIDAYA TANAMAN PANGAN

MENGHADAPI MUSIM KEMARAU

(13)

Adaptasi Perubahan Iklim di Sub Sektor Tanaman Pangan

1. Pemanfaatan Katam info (pola tanam, waktu tanam tepat)

2. Pengembangan jenis dan varietas tanaman yang toleran terhadap cekaman lingkungan (kenaikan suhu udara, kekeringan, dan salinitas)

3. Perbaikan pengelolaan air,

termasuk sistem dan jaringan irigasi 4. Pengembg.teknologi panen air

(embung, dam parit) dan efisiensi penggunaan air (irigasi tetes dan mulsa, intermitten irigation)

(14)

PEMANFAATAN INFORMASI

KATAM

• PREDIKSI MUSIM TANAM

• POLA TANAM DAN LUAS TANAM POTENSIAL

• WILAYAH RAWAN BANJIR DAN KEKERINGAN

• REKOMENDASI VARIETAS

• REKOMENDASI PEMUPUKAN SPESIFIK

• STANDING CROPS (SC)

(15)
(16)

Strategi Budidaya Tanaman (1)

A. Wilayah dengan awal musim hujan mundur dengan curah hujan di bawah normal

 Penggunaan varietas unggul yang tahan kekeringan, berumur pendek/genjah (< 100 hari), serta tahan hama dan penyakit utama  Penerapan teknologi pengolahan tanah awal,

minimum (minimum tillage) atau tanpa olah

tanah (TOT) untuk memperpendek masa tanam  Penanaman sesuai dengan jadwal

(17)

Strategi Budidaya Tanaman (2)

B. Wilayah dengan awal musim hujan mundur

dengan

curah hujan normal

Optimalisasi pemanfaatan air dan periode tanam MH dan

MK-1 serta penerapan teknologi semai kering, Gora utk LTH

Penerapan teknologi minimum tillage atau TOT untuk

memperpendek masa tanam

Penggunaan varietas berumur genjah, agar sisa masa

tanam dapat digunakan untuk memaksimalkan MK-1

(18)

Strategi Budidaya Tanaman (3)

C. Wilayah dengan awal musim hujan tetap dengan

curah hujan

di bawah normal

 Penanaman padi varietas unggul tahan kekeringan

yang berumur genjah  Inpari 1, 10, 19,

Situbangendit, Inpago 5, Inpago Unsoed, Inpari 42 GSR

 Semai Dapok, semai methuk, Alsintan Transplanter

 Penerapan teknik irigasi gilir giring  intermitten irigation

(19)

PENERAPAN POLA TANAM ADAPTIF PI

PRINSIP :

Mengatur pola tanam di lahan sawah, dengan

mempertimbangan ketersediaan air pengairan dan

kemungkinan ledakan OPT  untuk megamankan produksi pangan dan menjaga kelestarian lahan

(20)

STRATEGI POLA TANAM

MISAL PREDIKSI MT. 2021: KETERSEDIAAN AIR 306 HR  ( EL NINO)

POLAT TANAM EKSISTING : PADI-PADI-PADI

VAR. CIHERANG UMUR 120 TOTAL BUTUH 360 HR  (RESIKO GAGAL)

POLAT TANAM ALTERNATIF 1: PADI-PADI-PADI

VAR. CIHERANG (120) – IR.64 (115)- INPARI 30 (110) TOTAL BUTUH 345 HR  ( RAWAN)

POLAT TANAM ALTERNATIF 2: PADI-PADI-PALAWIJA

VAR. CIHERANG (120) – Inpari 19 (104 ) - KEDELAI (76) TOTAL BUTUH 300 HR

 semai metuk (AMAN)

POLAT TANAM ALTERNATIF 1: PADI-PADI-PADI

VAR. INPARI-18 (102) – INPARI 12 (100)- INPARI 19 (104) TOTAL BUTUH 306 HR

(21)

BAGAN POLA TANAM

Pola Tanam Bulan ke

11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Padi-Padi-Padi (TB/TN) =360 Padi-Padi-Padi (TK) = 308 hr Padi-padi-palawija (TK) =281 hr

Keterangan: TB=tahun basah; TN=tahun normal, TK=tahun kering

(22)

Manfaat Penerapan Pola Tanam

Padi-Padi-Palawija:

1. Menjamin kecukupan air irigasi untuk pertanaman MT II dari kemungkinan

bahaya kekeringan

2. Memutus siklus hama/OPT pada pola pertanaman padi-padi-padi

3. Memberikan kesempatan kepada tanah untuk melepaskan gas2 beracun seperti H2S,

4. Mengurangi Emisi GRK (Mentan) pada kondisi anaerobik/tergenang

(23)

Inovasi Budidaya Adaptif PI (Optimasi

Pemanfaatan Lengas Tanah)

Budidaya Tanaman Kacang-Kacangan (kedelai, kacang hijau) ditengah bonggol padi  Superbodi

(24)

pilih varietas unggul disesuaikan kondisi agroekosistem, cekaman abiotik

PEMANFAATAN VARIETAS UNGGUL

ADAPTIF CEKAMAN AIR

(25)

Varietas padi umur genjah dan toleran kekeringan

Sifat Varietas Nama Varietas Umur genjah

(104-110 hari)

Inpari 18, Inpari 19, dan Inpari 20

Toleran kekeringan Silugonggo, Situbagendit, Batutegi, Limboto, Inpari 10, Inpago 1-10

Umur genjah dan toleran kekeringan

Inpari 1, Inpari 11, Inpari 12, dan Inpari 13

Toleran kekeringan hasil tinggi (8 t/ha)

Inpari 38 Agritan, dan Inpari 39 Agritan

(26)

VUB Sangat Genjah (Umur <105 hari)

Varietas

Umur

(hari)

Potensi

hasil

Rata-rata

hasil

Inpari 12

99

8.0

6.2

Inpari 13

99

8.0

6.6

Inpari 18

102

9.5

6.7

Inpari 19

104

9.5

6.7

Inpari 20

104

8.8

6.4

(27)

Keragaan produktivitas varietas toleran

kekeringan pada El Nino Kab. Pemalang

Varietas Persentase gabah

isi (%) Berat 1000 butir (gr) Hasil GKG (t ha-1) Inpari 10 86,1 a 27,5 a 7,374 ab Inpari 19 73,9 b 30,8 a 7,108 ab Inpari 20 88,5 a 26,5 a 7,707 a Situ Bagendit 87,6 a 26,9 a 7,546 a Inpago 5 82,5 ab 27,6 a 6,764 bc Ciherang (kontrol) 91,0 a 26,3 a 6,070 c

(28)

Varietas jagung umur genjah dan toleran

kekeringan

Sifat Varietas Nama Varietas

Umur genjah

(80 hst) Gumarang

Toleran kekeringan (non hibrida)

Lamuru, Sukmaraga, Anoman

Toleran kekeringan (hibrida)

Bima 2 (MW 2); Bima 3 (Bima Super), Bima 4, Bima 20 (SA 333), Bima 9 dan Bima 14 (Premium 999)

Adaptasi luas (non hibrida)

Bisma

(29)

Varietas kedelai umur genjah dan toleran kekeringan

Sifat Varietas Nama Varietas

Umur super genjah (66-68 hari)

Gamasugen 1, Gamasugen 2

Umur genjah (73-76 hari)

Grobogan, Gepak ijo, Gepak kuning, Gema,

Toleran kekeringan Dering, Grobogan, Argomulyo, Burangrang, Dering 1

Toleran naungan Dena 1 dan Dena 2 (tahan

naungan 50%) tumpangsari lahan hutan);

Sumber : Nursyamsi, (2016); Balitkabi (2015)

(30)

Hasil : 3,0 t/ha

Biji sedang : (12 g/100 biji)

Umur : 73 hari (sangat Genjah) Biji bulat dan kuning mengkilat

KEDELAI GENJAH

GEPAK KUNING

Hasil : 2,86 ton/ha Umur : 73 hari

Biji kecil: 8,25 g/100 biji Rendemen tahu tinggi

GEPAK IJO

Hasil : 2,68 ton/ha Umur : 76 hari

Biji kecil : 6,82 g/100 biji Rendemen tahu tinggi

(31)

TEKNIK PEMBERIAN AIR IRIGASI

Lahan sawah

irigasi macak-macak, metode

gilir giring,

alternate wetting and drying

(AWD)

atau pengairan basah kering (PBK).

(32)

Metode Basah-kering

Tujuan :

Untuk mengatur pemberian air sesuai kebutuhan tanaman padi

Prinsip:

Metode ini dipraktekkan mulai tanam s/d seminggu sebelum tanaman berbunga.

Sawah baru diairi bila kedalaman muka air tanah mencapai 15 cm

(33)

Air pengairan cukup

PENGAIRAN BERSELANG

Air pengairan perlu ditambahkan

Pada saat pembungaan, pertahankan ketinggian air sekitar

3-5 cm. Pada saat pemupukan air dibuat macak-macak.

(34)

Manfaat :

1. Meningkatkan efisiensi pemupukan

(terutama N)

2. Menekan keracunan besi (Fe)

tergenang Fe

3+

jadi Fe

2+

Jika Fe

2+

=

>350 ppm  padi keracunan

3. Menghambat akumulasi CO2, H2S,

asam

2

organik

4. Menghambat perkembangan OPT

(penggerek batang, WBC, keong

mas), dan penyakit (busuk batang

dan busuk pelepah)

(35)

35

AWD dipraktekkan mulai tanam sampai satu minggu sebelum tanaman berbunga. Sawah baru diairi apabila kedalaman muka air tanah mencapai + 15 cm, diukur dari permukaan tanah. Hal ini dapat diketahui dengan bantuan alat sederhana dari paralon belubang yang dibenamkan ke dalam tanah.

Pengairan Berselang

Salah satu metode pengairan berselang yang dapat diukur secara praktis adalah pengairan basah-kering/Alternate Wetting and

Drying (AWD, pengaturan air di lahan pada kondisi tergenang dan kering secara bergantian). Dengan cara ini pemakaian air dapat dihemat sampai 20%.

(36)
(37)

PENGEMBANGAN TEKNIK PANEN AIR

HUJAN

(38)

Teknologi Panen Air Hujan - Embung

 Air adalah emas  optimasi lahan tadah hujan  melalui teknologi panen air hujan / embung

 Embung dibangun dengan memanfaatkan cekungan / alur sungai / bekas galian  menampung air hujan dan air aliran permukaan

(39)

Sasaran Embung

 Daerah yang memiliki tipe iklim C (Smith ferguson) dengan 5-6 bulan basah, iklim D dengan 3-4 bulan

basah, dan tipe iklim E kurang dari 3 bulan basah (bulan

basah menerima curah hujan 200mm/bulan, bulan

kering 100 mm/bulan.

 Lahan dengan kemiringan 8-30%  limpasan aliran permukaan dapat mengalir ke dalam embung

 Lahan dengan tekstur tanah liat, lempung liat berlempung dan lempung liat berdebu (umumnya permeabilitas /

(40)

Sasaran Embung

 Jika embung dibuat pada lahan miring, perlu

memperhatikan sifat-sifat tanah terutama stabilitas dan porositas. Pada tanah yang labil, embung mudah longsor atau retak, contohnya pada tanah Vertisol/Grumusol atau tanah lain yang mudah retak

 Tipe tanah yang porus tidak dianjurkan untuk embung  air cepat hilang, jika dibangun embung perlu teknik

(41)

Gambar

Gambar Penampang Paralon Kontrol

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,