IMPLEMENTASI TEKNOLOGI BUDIDAYA
MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM
UNTUK KEBERLANJUTAN PRODUKSI PANGAN
JOKO PRAMONO
Webinar Nasional Optimasi Sumber Daya Pertanian Mengantisipasi Kekeringan dan Keberlanjutan Produksi Pangan di Masa Pandemi Covid 19
PENDAHULUAN
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM (DPI) (Elnino/LaNina) Kekeringan/Banjir,
OPT
Teknologi VUB Adaptif DPI (VUB Tahan Kering, Umur Genjah, tahan
Genangan, Salinitas), pola tanam, mekanisasi, Katam Info
PENGERTIAN
Perubahan Iklim Global adalah perubahan unsur-unsur iklim (suhu, tekanan, kelembaban, hujan, angin,dan sebagainya) secara global terhadap normalnya (Winarso, 2007)
Perubahan Iklim dapat dikarenakan proses alami maupun pengaruh dari luar atau perubahan anthropogenik dalam atmosfer maupun penggunaan lahan (IPCC, 2011)
Terjadinya musim hujan dan kemarau yang semakin sering tidak menentu, yang dapat mengganggu kebiasaan petani dan mengancam hasil panen (Pemahaman Umum)
Perubahan iklim yang diakibatkan, langsung atau tidak langsung, oleh aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan komposisi atmosfer secara global serta perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan (UU 31/2009 MKG)
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM (PI)
• Dampak Kontinu:
Kenaikan suhu, perubahan pola CH, kenaikan
salinitas tanah (lahan tepi pantai) Produktivitas
tanaman
• Dampak Diskontinu:
Anomali Iklim (El Nino/La Nina), & Iklim Ekstrim
banjir, kekeringan, angin kencang/badai Produktivitas, Gagal Panen
• Dampak Permanen:
Degradasi dan penciutan lahan, luas areal
Strategi Yang Harus Dilakukan:
Mitigasi
:
adalah usaha pengendalian untukmengurangi risiko akibat perubahan iklim melalui
kegiatan yang dapat menurunkan emisi/ meningkatkan penyerapan GRK dari bbg sbr emisi
Adaptasi
:
adalah proses untuk memperkuat dan membangun strategi antisipasi dampak perubahan iklim serta melaksanakannya sehingga mampumengurangi dampak negatif dan mengambil manfaat positifnya.
Contoh Aksi Mitigasi:
• Menanam pohon,
• kegiatan reboisasi, menggunakan peralatan yang ramah lingkungan,
• memberikan pakan ternak yg menghasilkan kotoran rendah emisi.
Contoh Aksi Adaptasi:
• Menyesuaikan waktu tanam terhadap kondisi curah hujan Panduan
KALENDER TANAM
• memilih varitas unggul adaptif, • penggunaan teknologi hemat air.
77
KEBIJAKAN UMUM SEKTOR PERTANIAN
MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM
Aksi ADAPTASI sebagai upaya “penyelamatan & pengamanan” melestarikan dan memantapkan ketahanan pangan, SEBAGAI PRIORITAS UTAMA Program aksi MITIGASI mendukung RAN-GRK
(Perpres 61/2011) sebagai KEWAJIBAN dilakukan melalui pengembangan Pert. Ramah Lingkungan
Aksi Adaptasi harus diupyakan bersinergi dan sekaligus sebagai mitigasi & sebaliknya, serta
mengacu upaya pencapaian sasaran pembangunan pertanian (produksi & ekonomi)
RISET INTERNATIONAL
• STRATEGI
• Perubahan umur semaian untuk transplanting • Pengembangan varietas padi aerobik
• Pemanfaatan kerabat liar padi untuk perbaikan ketahanan terhadap hama dan penyakit
• Kebijakan yang mendukung peningkatan produksi padi
• REKOMENDASI
• Perlu lebih melibatkan ahli Iklim & ahli GIS dalam
pengembangan teknologi padi tahan perubahan iklim Perlu peningkatan kapasitas penelitian
• PERAKITAN VARIETAS PADI TOLERAN TERHADAP BERBAGAI KONDISI EKSTREM AKIBAT PERUBAHAN IKLIM GLOBAL
• Kekeringan
• Kadar garam tinggi • Genangan/rendaman
• Suhu ekstrim (tinggi-rendah)
• Perubahan pola serangan hama, penyakit, gulma
RISET NASIONAL
• STRATEGI
• Pengembangan VUB padi Amphibi, umur Genjah • Pengembangan VUB toleran kekeringan
• Pengembangan VUB padi tahan rendaman
• Pengembangan VUB padi Green Super Rice (GSR) Rice
Consortium
• REKOMENDASI
• Perlu rekayasa pola tanam yang adaptif terhadap DPI dengan memanfaatkan VUB padi sesuai kondisi spesifik
• STRATEGI
• Pengembangan VU padi tahan kekeringan INPAGO UNSOED-1
• Pengembangan Sistem Tanam Kedelai Superbodi
UNSOED
(Totok Agung, 2016)• STRATEGI
• Pengembangan VUB Kedelai tahan Naungan • Pengembangan VUB Kedelai tahan Genangan • Pengembangan VUB Kedelai tahan Kekeringan • Paket Teknologi Budidaya Kedelai adaptif DPI
(Budega, Budena, Budeka)
STRATEGI
Antisipasi dan Adaptasi
BUDIDAYA TANAMAN PANGAN
MENGHADAPI MUSIM KEMARAU
Adaptasi Perubahan Iklim di Sub Sektor Tanaman Pangan
1. Pemanfaatan Katam info (pola tanam, waktu tanam tepat)
2. Pengembangan jenis dan varietas tanaman yang toleran terhadap cekaman lingkungan (kenaikan suhu udara, kekeringan, dan salinitas)
3. Perbaikan pengelolaan air,
termasuk sistem dan jaringan irigasi 4. Pengembg.teknologi panen air
(embung, dam parit) dan efisiensi penggunaan air (irigasi tetes dan mulsa, intermitten irigation)
PEMANFAATAN INFORMASI
KATAM
• PREDIKSI MUSIM TANAM
• POLA TANAM DAN LUAS TANAM POTENSIAL
• WILAYAH RAWAN BANJIR DAN KEKERINGAN
• REKOMENDASI VARIETAS
• REKOMENDASI PEMUPUKAN SPESIFIK
• STANDING CROPS (SC)
Strategi Budidaya Tanaman (1)
A. Wilayah dengan awal musim hujan mundur dengan curah hujan di bawah normal
Penggunaan varietas unggul yang tahan kekeringan, berumur pendek/genjah (< 100 hari), serta tahan hama dan penyakit utama Penerapan teknologi pengolahan tanah awal,
minimum (minimum tillage) atau tanpa olah
tanah (TOT) untuk memperpendek masa tanam Penanaman sesuai dengan jadwal
Strategi Budidaya Tanaman (2)
B. Wilayah dengan awal musim hujan mundur
dengan
curah hujan normal
Optimalisasi pemanfaatan air dan periode tanam MH dan
MK-1 serta penerapan teknologi semai kering, Gora utk LTH
Penerapan teknologi minimum tillage atau TOT untuk
memperpendek masa tanam
Penggunaan varietas berumur genjah, agar sisa masa
tanam dapat digunakan untuk memaksimalkan MK-1
Strategi Budidaya Tanaman (3)
C. Wilayah dengan awal musim hujan tetap dengan
curah hujan
di bawah normal
Penanaman padi varietas unggul tahan kekeringan
yang berumur genjah Inpari 1, 10, 19,
Situbangendit, Inpago 5, Inpago Unsoed, Inpari 42 GSR
Semai Dapok, semai methuk, Alsintan Transplanter
Penerapan teknik irigasi gilir giring intermitten irigation
PENERAPAN POLA TANAM ADAPTIF PI
PRINSIP :Mengatur pola tanam di lahan sawah, dengan
mempertimbangan ketersediaan air pengairan dan
kemungkinan ledakan OPT untuk megamankan produksi pangan dan menjaga kelestarian lahan
STRATEGI POLA TANAM
MISAL PREDIKSI MT. 2021: KETERSEDIAAN AIR 306 HR ( EL NINO)
POLAT TANAM EKSISTING : PADI-PADI-PADI
VAR. CIHERANG UMUR 120 TOTAL BUTUH 360 HR (RESIKO GAGAL)
POLAT TANAM ALTERNATIF 1: PADI-PADI-PADI
VAR. CIHERANG (120) – IR.64 (115)- INPARI 30 (110) TOTAL BUTUH 345 HR ( RAWAN)
POLAT TANAM ALTERNATIF 2: PADI-PADI-PALAWIJA
VAR. CIHERANG (120) – Inpari 19 (104 ) - KEDELAI (76) TOTAL BUTUH 300 HR
semai metuk (AMAN)
POLAT TANAM ALTERNATIF 1: PADI-PADI-PADI
VAR. INPARI-18 (102) – INPARI 12 (100)- INPARI 19 (104) TOTAL BUTUH 306 HR
BAGAN POLA TANAM
Pola Tanam Bulan ke
11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Padi-Padi-Padi (TB/TN) =360 Padi-Padi-Padi (TK) = 308 hr Padi-padi-palawija (TK) =281 hr
Keterangan: TB=tahun basah; TN=tahun normal, TK=tahun kering
Manfaat Penerapan Pola Tanam
Padi-Padi-Palawija:
1. Menjamin kecukupan air irigasi untuk pertanaman MT II dari kemungkinan
bahaya kekeringan
2. Memutus siklus hama/OPT pada pola pertanaman padi-padi-padi
3. Memberikan kesempatan kepada tanah untuk melepaskan gas2 beracun seperti H2S,
4. Mengurangi Emisi GRK (Mentan) pada kondisi anaerobik/tergenang
Inovasi Budidaya Adaptif PI (Optimasi
Pemanfaatan Lengas Tanah)
Budidaya Tanaman Kacang-Kacangan (kedelai, kacang hijau) ditengah bonggol padi Superbodi
pilih varietas unggul disesuaikan kondisi agroekosistem, cekaman abiotik
PEMANFAATAN VARIETAS UNGGUL
ADAPTIF CEKAMAN AIR
Varietas padi umur genjah dan toleran kekeringan
Sifat Varietas Nama Varietas Umur genjah
(104-110 hari)
Inpari 18, Inpari 19, dan Inpari 20
Toleran kekeringan Silugonggo, Situbagendit, Batutegi, Limboto, Inpari 10, Inpago 1-10
Umur genjah dan toleran kekeringan
Inpari 1, Inpari 11, Inpari 12, dan Inpari 13
Toleran kekeringan hasil tinggi (8 t/ha)
Inpari 38 Agritan, dan Inpari 39 Agritan
VUB Sangat Genjah (Umur <105 hari)
Varietas
Umur
(hari)
Potensi
hasil
Rata-rata
hasil
Inpari 12
99
8.0
6.2
Inpari 13
99
8.0
6.6
Inpari 18
102
9.5
6.7
Inpari 19
104
9.5
6.7
Inpari 20
104
8.8
6.4
Keragaan produktivitas varietas toleran
kekeringan pada El Nino Kab. Pemalang
Varietas Persentase gabah
isi (%) Berat 1000 butir (gr) Hasil GKG (t ha-1) Inpari 10 86,1 a 27,5 a 7,374 ab Inpari 19 73,9 b 30,8 a 7,108 ab Inpari 20 88,5 a 26,5 a 7,707 a Situ Bagendit 87,6 a 26,9 a 7,546 a Inpago 5 82,5 ab 27,6 a 6,764 bc Ciherang (kontrol) 91,0 a 26,3 a 6,070 c
Varietas jagung umur genjah dan toleran
kekeringan
Sifat Varietas Nama Varietas
Umur genjah
(80 hst) Gumarang
Toleran kekeringan (non hibrida)
Lamuru, Sukmaraga, Anoman
Toleran kekeringan (hibrida)
Bima 2 (MW 2); Bima 3 (Bima Super), Bima 4, Bima 20 (SA 333), Bima 9 dan Bima 14 (Premium 999)
Adaptasi luas (non hibrida)
Bisma
Varietas kedelai umur genjah dan toleran kekeringan
Sifat Varietas Nama VarietasUmur super genjah (66-68 hari)
Gamasugen 1, Gamasugen 2
Umur genjah (73-76 hari)
Grobogan, Gepak ijo, Gepak kuning, Gema,
Toleran kekeringan Dering, Grobogan, Argomulyo, Burangrang, Dering 1
Toleran naungan Dena 1 dan Dena 2 (tahan
naungan 50%) tumpangsari lahan hutan);
Sumber : Nursyamsi, (2016); Balitkabi (2015)
Hasil : 3,0 t/ha
Biji sedang : (12 g/100 biji)
Umur : 73 hari (sangat Genjah) Biji bulat dan kuning mengkilat
KEDELAI GENJAH
GEPAK KUNING
Hasil : 2,86 ton/ha Umur : 73 hari
Biji kecil: 8,25 g/100 biji Rendemen tahu tinggi
GEPAK IJO
Hasil : 2,68 ton/ha Umur : 76 hari
Biji kecil : 6,82 g/100 biji Rendemen tahu tinggi
TEKNIK PEMBERIAN AIR IRIGASI
Lahan sawah
irigasi macak-macak, metode
gilir giring,
alternate wetting and drying
(AWD)
atau pengairan basah kering (PBK).
Metode Basah-kering
Tujuan :
Untuk mengatur pemberian air sesuai kebutuhan tanaman padi
Prinsip:
Metode ini dipraktekkan mulai tanam s/d seminggu sebelum tanaman berbunga.
Sawah baru diairi bila kedalaman muka air tanah mencapai 15 cm
Air pengairan cukup
PENGAIRAN BERSELANG
Air pengairan perlu ditambahkan
Pada saat pembungaan, pertahankan ketinggian air sekitar
3-5 cm. Pada saat pemupukan air dibuat macak-macak.
Manfaat :
1. Meningkatkan efisiensi pemupukan
(terutama N)
2. Menekan keracunan besi (Fe)
tergenang Fe
3+jadi Fe
2+Jika Fe
2+=
>350 ppm padi keracunan
3. Menghambat akumulasi CO2, H2S,
asam
2organik
4. Menghambat perkembangan OPT
(penggerek batang, WBC, keong
mas), dan penyakit (busuk batang
dan busuk pelepah)
35
AWD dipraktekkan mulai tanam sampai satu minggu sebelum tanaman berbunga. Sawah baru diairi apabila kedalaman muka air tanah mencapai + 15 cm, diukur dari permukaan tanah. Hal ini dapat diketahui dengan bantuan alat sederhana dari paralon belubang yang dibenamkan ke dalam tanah.
Pengairan Berselang
Salah satu metode pengairan berselang yang dapat diukur secara praktis adalah pengairan basah-kering/Alternate Wetting and
Drying (AWD, pengaturan air di lahan pada kondisi tergenang dan kering secara bergantian). Dengan cara ini pemakaian air dapat dihemat sampai 20%.
PENGEMBANGAN TEKNIK PANEN AIR
HUJAN
Teknologi Panen Air Hujan - Embung
Air adalah emas optimasi lahan tadah hujan melalui teknologi panen air hujan / embung
Embung dibangun dengan memanfaatkan cekungan / alur sungai / bekas galian menampung air hujan dan air aliran permukaan
Sasaran Embung
Daerah yang memiliki tipe iklim C (Smith ferguson) dengan 5-6 bulan basah, iklim D dengan 3-4 bulan
basah, dan tipe iklim E kurang dari 3 bulan basah (bulan
basah menerima curah hujan 200mm/bulan, bulan
kering 100 mm/bulan.
Lahan dengan kemiringan 8-30% limpasan aliran permukaan dapat mengalir ke dalam embung
Lahan dengan tekstur tanah liat, lempung liat berlempung dan lempung liat berdebu (umumnya permeabilitas /
Sasaran Embung
Jika embung dibuat pada lahan miring, perlu
memperhatikan sifat-sifat tanah terutama stabilitas dan porositas. Pada tanah yang labil, embung mudah longsor atau retak, contohnya pada tanah Vertisol/Grumusol atau tanah lain yang mudah retak
Tipe tanah yang porus tidak dianjurkan untuk embung air cepat hilang, jika dibangun embung perlu teknik