Sumbangan tayangan ``Penyejuk imani Katolik`` produksi Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta sebagai salah satu bahan katekese audiovisual di lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat Sumatera Selatan - USD Repository

149 

Teks penuh

(1)

SEBAGAI SALAH SATU BAHAN KATEKESE AUDIOVISUAL DI LINGKUNGAN SANTO PAULUS

PAROKI SANTA MARIA PENGANTARA LAHAT SUMATERA SELATAN

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

Oleh:

Cyrillus Daru Sadewa NIM: 061124011

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan untuk

kedua orangtuaku Bapak Sukiman Laurentius dan Ibu Yoanita Sumiyati, saudara-saudariku Petrus Chanel Danan Jaya, Patricius Daru Nakula,

Vincentia Retno Kusumaningrum, seluruh umat dan para pemandu katekese

di Lingkungan Santo Paulus

(5)

v MOTTO

“Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya.” (Pkh 3:11)

“Tugas kita bukanlah untuk berhasil, tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah,

(6)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 11 Maret 2011 Penulis

(7)

vii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta:

Nama : Cyrillus Daru Sadewa NIM : 061124011

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

SUMBANGAN TAYANGAN “PENYEJUK IMANI KATOLIK”

PRODUKSI STUDIO AUDIO VISUAL PUSKAT YOGYAKARTA SEBAGAI SALAH SATU BAHAN KATEKESE AUDIOVISUAL DI

LINGKUNGAN SANTO PAULUS PAROKI SANTA MARIA

PENGANTARA LAHAT SUMATERA SELATAN, beserta perangkat yang diperlukan (bila ada).

Dengan demikian saya memberikan kepada Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta, 11 Maret 2011 Yang menyatakan,

(8)

viii ABSTRAK

Skripsi ini berjudul SUMBANGAN TAYANGAN “PENYEJUK IMANI KATOLIK” PRODUKSI STUDIO AUDIO VISUAL PUSKAT YOGYAKARTA SEBAGAI SALAH SATU BAHAN KATEKESE AUDIOVISUAL DI LINGKUNGAN SANTO PAULUS PAROKI SANTA MARIA PENGANTARA LAHAT SUMATERA SELATAN. Judul ini dipilih berdasarkan kenyataan bahwa pelaksanaan katekese/pendalaman iman di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat belum memanfaatkan media audiovisual dengan maksimal. Hal ini tampak dari dalam setiap pelaksanaan katekese/pendalaman iman pemandu hanya menggunakan metode ceramah, diskusi, informasi dan sharing pengalaman. Bedasarkan keadaan di atas maka penulis memberikan suatu usulan kepada umat di Lingkungan Santo Paulus yaitu dengan mengadakan katekese dengan menggunakan bahan tayangan “Penyejuk Imani Katolik”.

Setelah mengadakan katekese dengan menggunakan bahan tayangan PIK, maka untuk melihat efektivitas dari bahan tayangan “Penyejuk Imani Katolik” ini, penulis mengadakan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah tayangan “Penyejuk Imani Katolik” dapat dijadikan bahan dalam proses katekese dan melihat sumbangan tayangan “Penyejuk Imani Katolik" sebagai bahan katekese audiovisual di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat Sumatera Selatan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tayangan PIK sangat cocok untuk dijadikan bahan dalam katekese. Ada 19 responden (100%) yang mengatakan bahwa tayangan PIK sangat cocok sebagai bahan katekese. Sumbangan tayangan PIK bagi katekese terlihat juga dari manfaat yang dirasakan oleh peserta ketika mengikuti proses katekese dengan menggunakan tayangan PIK. Manfaatnya antara lain: mendapatkan wawasan atau pengetahuan baru dan dapat menambah pengalaman pribadi/iman dengan jumlah 10 responden (52,63%), dan proses katekese lebih menarik dan lebih mudah dipahami dengan jumlah 5 responden (26,31%), serta semakin diteguhkan sehingga beban pikiran menjadi ringan dengan jumlah responden 4 (21,05%).

(9)

ix ABSTRACT

This thesis entitles THE CONTRIBUTION OF “PENYEJUK IMANI KATOLIK” PRODUCED BY STUDIO AUDIOVISUAL

PUSKAT YOGYAKARTA AS THE ONE OF MATERIAL

AUDIOVISUAL CATECHISM IN SAINT PAUL COMMUNITY OF SANTA MARIA PENGANTARA LAHAT SOUTH SUMATERA. This title is chosen based on the fact that in the catechism lesson in Saint Paul community of Santa Maria Pengantara Lahat, the catechist had not employed any audiovisual media maximally. It is showed by the fact that a catechist only used lecturing, discussion, giving information, and sharing experience as his method in every lesson. Because of that reason, the writer gave suggestion to the members of Saint Paul community to hold the catechism lesson using the video presentation of video “Penyejuk Imani Katolik” as the material.

After had done the catechism lesson using PIK presentation, the writer did a research to see the effectiveness. The purposes of this research are to know whether PIK material can be used in any catechism lesson and to see its contribution of audiovisual material as the catechism lesson in Saint Paul community of Santa Maria Pengantara Lahat, South Sumatera.

The result of the research showed the fact that PIK video presentation is very suitable to be used as the material in any catechism lesson. Nineteen respondents among respondents (100%) said that PIK presentation is very suitable to be used. The contribution could be seen from the advantages felt by the respondents while they followed the catechism process. The advantages are getting new perception, knowledge, and spiritual experience, which are video by ten respondents (52.63%); getting more interesting and understandable catechism course, which are said by five respondents (26.31%); and getting more strengthen in their faith, makes any burden feels light in weight, which are video by four respondents (21.05%).

(10)

x

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur atas limpahan anugerah dari Allah Bapa di surga, karena penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul SUMBANGAN TAYANGAN “PENYEJUK IMANI KATOLIK” PRODUKSI STUDIO AUDIO VISUAL PUSKAT YOGYAKARTA SEBAGAI SALAH SATU BAHAN KATEKESE AUDIOVISUAL DI

LINGKUNGAN SANTO PAULUS PAROKI SANTA MARIA

PENGANTARA LAHAT SUMATERA SELATAN. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Banyak hambatan dan rintangan penulis alami dalam proses penyusunan skripsi ini. Karena anugerah-Nya, keterlibatan, dan bantuan dari berbagai pihak sehingga penulis dapat melaluinya dengan baik. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, antara lain:

1. Drs. Y.I. Iswarahadi, S.J., M.A. selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan kepada penulis dengan sabar. Terima kasih atas segala motivasi, saran, dan kritik selama penyusunan skripsi ini.

(11)

xi

petunjuk berupa saran-saran dan kritikan demi kemajuan penulis, perhatian, dorongan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini.

3. Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd. selaku dosen penguji yang telah memberikan pengarahan dan masukan dalam penulisan skripsi ini dengan penuh kesabaran.

4. Ferdinandus Hermanto Riyadi, S.C.J. selaku Pastor Paroki Santa Maria Pengantara Lahat dan Bpk. Agustinus Sunaryo selaku ketua Lingkungan Santo Paulus yang telah memberikan izin kepada saya untuk mengadakan penelitian.

5. Segenap dosen dan seluruh staf sekretariat Prodi IPPAK Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.

6. Kedua orangtuaku Bpk. Sukiman Laurentius, S.Pd., Ibu Yoanita Sumiyati, dan nenek serta kakek, serta saudara-saudariku Petrus Chanel Danan Jaya, S.Pd., Patricius Daru Nakula, dan Vincentia Retno Kusumaningrum. Terima kasih atas doa, semangat, dukungan, dan dorongan untuk segera menyelesaikan skripsi.

7. Sdr. Yustina Dina Yunianti, S.Pd. yang telah dengan setia memberikan semangat, motivasi dan bantuannya dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.

(12)

xii

9. Semua pihak yang telah membantu penyusunan skripsi ini namun tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat pada skripsi ini. Saran dan kritik selalu penulis harapkan demi perbaikan di masa yang akan datang.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kemajuan dan perkembangan pendidikan dan pembaca pada umumnya.

Penulis

(13)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv

PERNYATAAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR SINGKATAN ... xvii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang Masalah ... 1

B.Rumusan Masalah ... 4

C.Tujuan Penulisan ... 4

D.Manfaat Penulisan ... 5

E. Metode Penulisan ... 6

F. Sistematika Penulisan ... 6

BAB II. TAYANGAN “PENYEJUK IMANI KATOLIK” SEBAGAI BAHAN KATEKESE AUDIOVISUAL ... 8

A. Tayangan “Penyejuk Imani Katolik ... 8

1. Pengertian Program Televisi ... 8

2. Pengertian Tayangan “Penyejuk Imani Katolik” ... 9

(14)

xiv

4. Susunan Acara dan Isi Acara dalam Tayangan “Penyejuk

Imani Katolik” ... 11

5. Tayangan Televisi menurut Pandangan Gereja Katolik ... 18

B.Katekese Audiovisual ... 23

1. Pengertian Katekese secara Umum ... 23

2. Dasar Katekese dalam Kitab Suci ... 24

3. Bahasa, Bahan dan Isi dalam Katekese ... 27

4. Pengertian Katekese Audiovisual ... 29

5. Dasar Biblis Katekese Audiovisual ... 31

6. Tujuan Katekese Audiovisual ... 31

7. Kelebihan Katekese Audiovisual ... 32

8. Kekhasan Katekese Audiovisial ... 33

9. Katekese Audiovisual Menurut Pandangan Gereja Katolik ... 33

10. Model-model yang digunakan dalam Katekese Audiovisual... 34

BAB III. PENELITIAN SEDERHANA SUMBANGAN TAYANGAN “PENYEJUK IMANI KATOLIK” PRODUKSI STUDIO AUDIO VISUAL PUSKAT YOGYAKARTA SEBAGAI SALAH SATU BAHAN KATEKESE AUDIOVISUAL DI LINGKUNGAN SANTO PAULUS PAROKI SANTA MARIA PENGANTARA LAHAT SUMATERA SELATAN ... 43

A. Gambaran Umum Keadaan Umat, Keadaan Katekese/Pendalaman Iman, Permasalahan-permasalahan yang terjadi di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat Sumatera Selatan ... 43

1. Keadaan Umat di Lingkungan Santo Paulus ... 44

2. Pandangan Umat Mengenai Kegiatan Katekese di Lingkungan Santo Paulus ... 45

3. Permasalahan-permasalahan yang terjadi di Lingkungan Santo Paulus ... 47

(15)

xv

1. Frekuensi dan Pandangan Umat Lingkungan Santo

Paulus terhadap tayangan Penyejuk Imani Katolik ... 49

2. Tanggapan dan Kesan umat terhadap tayangan Penyejuk Imani Katolik ... 50

C. Latar Belakang Penelitian Tayangan “Penyejuk Imani Katolik” (PIK) sebagai Bahan Katekese/Pendalaman Iman di Lingkungan Santo Paulus ... 52

D. Rencana Pelaksanaan Program Katekese Audiovisual dengan Menggunakan DVD/tayangan “Penyejuk Imani Katolik” ... 56

1. Desain Pelaksanaan Katekese (A) ... 56

2. Desain Pelaksanaan Katekese (B) ... 67

BAB IV. LAPORAN PELAKSANAAN KATEKESE DAN HASIL PENELITIAN SUMBANGAN TAYANGAN “PENYEJUK IMANI KATOLIK” PRODUKSI STUDIO AUDIO VISUAL PUSKAT YOGYAKARTA SEBAGAI SALAH SATU BAHAN KATEKESE AUDIOVISUAL DI LINGKUNGAN SANTO PAULUS PAROKI SANTA MARIA PENGANTARA LAHAT SUMATERA SELATAN ... 77

A.Laporan Pelaksanaan Katekese ... 78

1. Proses dan Hasil Pelaksanaan Katekese (A) ... 78

2. Proses dan Hasil Pelaksanaan Katekese (B) ... 87

3. Hasil Penilaian Evaluator terhadap Proses Pelaksanaan Katekese/pendalaman iman ... 94

B.Laporan Hasil Penelitian dan Pembahasan Penelitian ... 98

1. Laporan Hasil Penelitian ... 98

(16)

xvi

BAB V. PENUTUP ... 113

A. Kesimpulan ... 113

B. Saran-saran ... 115

DAFTAR PUSTAKA ... 116

LAMPIRAN ... 118

Lampiran 1: Kuesioner Pra Penelitian ... (1)

Lampiran 2: Rangkuman Hasil Pra Penelitian ... (3)

Lampiran 3: Hasil Wawancara Pra penelitian kepada para pemandu katekese ... (6)

Lampiran 4: Kuesioner Penelitian ... (7)

(17)

xvii

DAFTAR SINGKATAN

A. Singkatan Kitab Suci

Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini meliputi Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan

kepada Umat Katolik Indonesia oleh Ditijen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal. 8.

B. Singkatan dalam Dokumen Gereja

AN : Aetatis Novae, Intruksi pastoral tentang Hari Komunikasi

Sosial dalam rangka memperingati Hari Komunikasi Sosial ke-26 (20 tahun sesudah communion et progressio) yang disetujui oleh Paus Yohanes Paulus ke II pada tanggal 24 Januari 1992.

CP : Communio et Progressio, Instruksi pastoral tentang

komunikasi sosial, Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-5 (7 tahun sesudah Dekrit Inter Mirifica) disetujui oleh Paus Paulus VI pada tanggal 25 Mei 1975.

CT : Catechesi Tradendae, anjuran apostolik Paus Yohanes

(18)

xviii

DCG : Directorium Catechisticum Generale, Direktorium

Kateketik Umum yang dikeluarkan oleh Kongregasi Suci para Klerus, 11 April 1971.

DV : Dei Verbum, Konstitusi Dogmatis tentang wahyu ilahi, 18

November 1965.

EN : Evangelii Nuntiandi, Ensiklik Bapa Suci Paulus VI tentang

karya pewartaan Injil pada zaman modern, 8 Desember 1975.

IM : Inter Mirifica, Dekrit Konsili Vatikan II tentang upaya-upaya komunikasi sosial, 4 Desember 1963.

C. Singkatan Lain Art : Artikel

DVD : Digital Versatile Disk

GROPESH : Gerombolan Orang-orang yang Peduli dengan Sampah IPTEK : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

MAWI : Majelis Agung Waligereja Indonesia PIK : Penyejuk Imani Katolik

PUSKAT : Pusat Kateketik SAV : Studio Audio Visual

(19)

xix

artinya Tema, (A) artinya Analisis, (R) artinya Rangkuman, (A) artinya Aksi, (E) artinya Evaluasi

TV : Televisi

(20)

A. Latar Belakang

Di jaman yang semakin maju dan berkembang begitu pesat ini, dunia sangat dipengaruhi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Masyarakat mulai terbiasa menggunakan teknologi yang canggih tersebut. Keadaan yang semakin berkembang ini juga diungkapkan oleh Lukas Batmomolin dan Fransisca Hermawan (2003: 31) dalam bukunya yang berjudul Budaya Media. Mereka berpendapat bahwa:

Perkembangan dunia ditandai oleh adanya kemajuan dalam bidang teknologi, khususnya teknologi komunikasi. Kemajuan dalam bidang teknologi membawa juga perubahan dan pemahaman tentang komunikasi, hakikat, fungsi dan tujuan komunikasi. Perubahan dalam pemahaman tentang komunikasi dari masa ke masa menjadi sebab dan sekaligus alasan bagi upaya mengaplikasikan fungsi-fungsi dasar komunikasi untuk tujuan-tujuan praksisi.

(21)

alat perekam, komputer, kamera, proyektor, mesin cetak, mesin foto copy segala perpanjangan mekanis dari diri manusia dimana kemajuan teknologi telah mengubah zaman manusia (Iswarahadi, 2008: 3).

Dengan adanya media televisi dalam kehidupan masyarakat, masyarakat merasa dipermudah dalam mencari informasi, pengetahuan, serta hiburan melalui media televisi. Mereka tinggal menekan remot televisi untuk memilih acara yang disukai. Namun tidak semua pendengar dan pemirsa sadar bahwa acara yang disajikan itu memberikan pengaruh. Pengaruh yang ditimbulkan dari acara yang disajikan dapat berdampak negatif dan positif. Pengaruh negatif yang dapat dicontohkan oleh penulis adalah acara televisi, misalnya sinetron-sinetron yang sering berbau kekerasan dalam rumah tangga, dan tindakan yang tidak baik seperti: siswa-siswi yang membolos dan tawuran. Hal ini tidak jarang banyak ditiru oleh masyarakat di sekitar kita sekarang ini. Penulis juga mau mencontohkan pengaruh yang positif dari sebuah acara televisi, misalnya dengan dikumandangkannya azan magrib, atau mimbar agama seperti tayangan “Penyejuk Imani Katolik”.

(22)

bergerak dalam bidang komunikasi lewat media televisi. Lembaga itu adalah Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta (SAV Puskat Yogyakarta). Program yang sering ditampilkan oleh SAV Puskat pada stasiun TV Indosiar adalah acara/tayangan “Penyejuk Imani Katolik”. Tujuan dari diproduksinya program ini adalah menyebarluaskan kabar gembira dan sebagai media/sarana komunikasi iman/katekese untuk seluruh umat. Dalam penulisan skripsi ini penulis ingin mengkaitkan peranan media audiovisual berupa tayangan “Penyejuk Imani Katolik” dengan proses katekese. Tayangan “Penyejuk Imani Katolik” sebenarnya dapat dijadikan suatu variasi dalam proses katekese/pendalaman iman, akan tetapi pada kenyataannya sarana/bahan ini belum dimanfaatkan secara maksimal dalam proses katekese. Hal ini serupa dengan keadaan katekese di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat. Proses katekese di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat belum memanfaatkan media audiovisual dengan maksimal. Hal ini tampak dari dalam setiap pelaksanaan katekese/pendalaman iman, pemandu masih kurang menggunakan media audiovisual. Dalam pelaksanaan katekese para pemandu katekese hanya menggunakan metode ceramah, diskusi, dan informasi. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah mengapa media ini tidak dimanfaatkan dan digunakan sebagai bahan dalam proses katekese?

(23)

tayangan “Penyejuk Imani Katolik”. Dari pelaksanaan katekese ini penulis ingin melihat apakah tayangan PIK dapat dijadikan bahan dalam proses katekese audiovisual. Selain itu penulis ingin melihat apa sumbangan tayangan “Penyejuk Imani Katolik” sebagai bahan katekese audiovisual di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat Sumatera Selatan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas ditemukan beberapa persoalan yang menjadi keprihatinan penulis, yaitu:

1. Apa yang dimaksud dengan tayangan “Penyejuk Imani Katolik”? 2. Apa arti, tujuan, model-model dari katekese audiovisual?

3. Bagaimana keadaan umat, keadaan katekese di Lingkungan Santo Paulus, serta pandangan umat Santo Paulus mengenai tayangan PIK di televisi? 4. Apakah tayangan PIK dapat dijadikan bahan katekese audiovisual di

Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat Sumatera Selatan?

5. Apa sumbangan tayangan PIK sebagai bahan katekese audiovisual di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat Sumatera Selatan?

C. Tujuan Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini memiliki tujuan antara lain:

(24)

2. Mengetahui arti, tujuan, model-model dari katekese audiovisual.

3. Mengetahui gambaran keadaan umat, keadaan katekese di Lingkungan Santo Paulus, serta pandangan umat Lingkungan Santo Paulus Terhadap tayangan PIK di televisi.

4. Apakah tayangan PIK dapat dijadikan bahan dalam proses katekese audiovisual di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat Sumatera Selatan.

5. Mendeskripsikan sumbangan tayangan PIK terhadap katekese audiovisual di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat Sumatera Selatan.

D. Manfaat Penulisan

Penulisan ini memiliki manfaat antara lain:

1. Bagi Umat Paroki di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat

Memberikan masukan kepada para pemandu katekese/pendalaman iman di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat bahwa tayangan “Penyejuk Imani Katolik” dapat digunakan sebagai salah satu bahan untuk katekese audiovisual.

2. Bagi Pengelola Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta

(25)

“Penyejuk Imani Katolik”. Dari masukan tersebut diharapkan Studio Audio Visual dapat semakin meningkatkan kualitas dari tayangan ”Penyejuk Imani Katolik”.

3. Bagi Penulis

Menambah wawasan dan pengetahuan tentang seberapa besar sumbangan tayangan “Penyejuk Imani Katolik” sebagai salah satu bahan katekese audiovisual di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat, serta untuk memenuhi salah satu persyaratan kelulusan sarjana strata satu di IPPAK USD.

E. Metode Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode deskriptif analitis yang artinya penulisan dilakukan berdasarkan studi dan analisa pustaka dengan dilengkapi hasil penelitian secara sederhana melalui kuesioner. Kuesioner ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana tayangan “Penyejuk Imani Katolik” dapat menjadi salah satu bahan katekese audiovisual umat di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat Sumatera Selatan.

F. Sistematika Penulisan

Bab I berisi latar belakang penulisan, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan.

(26)

serta tujuan dari Tayangan ”Penyejuk Imani Katolik”, susunan acara Tayangan ”Penyejuk Imani Katolik”, program televisi menurut pandangan Gereja Katolik, arti katekese secara umum, dasar katekese audiovisual dalam Kitab Suci, bahasa, bahan, dan isi dalam katekese audiovisual, pengertian katekese audiovisual, dasar biblis katekese audiovisual, tujuan katekese audiovisual, kelebihan katekese audiovisual, kekhasan katekese audiovisual, katekese audiovisual menurut pandangan Gereja Katolik, serta model-model katekese audiovisual.

Bab III ini menguraikan gambaran secara umum Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat Sumatera Selatan, pandangan umat Santo Paulus mengenai tayangan PIK, latar belakang penelitian sederhana, metodologi penelitian yang meliputi tujuan penelitian, tempat dan waktu penelitian, metode penelitian, instrumen pengumpulan data, responden penelitian, variabel penelitian, serta rencana program pelaksanaan katekese audiovisual dengan menggunakan DVD tayangan ”Penyejuk Imani Katolik”.

Bab IV ini menguraikan laporan pelaksanaan katekese dan hasil penelitian sumbangan tayangan PIK sebagai salah satu katekese audiovisual di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat.

(27)

BAB II

TAYANGAN “PENYEJUK IMANI KATOLIK” SEBAGAI BAHAN KETEKESE AUDIOVISUAL

Berkaitan dengan judul yang penulis pilih yakni ”Sumbangan Tayangan Penyejuk Imani Katolik Produksi Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta sebagai Salah Satu Bahan Katekese Audiovisual di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat Sumatera Selatan”, maka penulis mencoba menguraikannya dalam kajian teori bedasarkan beberapa sumber maupun pendapat para ahli.

A. Tayangan “Penyejuk Imani Katolik” 1. Pengertian Tayangan Televisi

(28)

2. Pengertian Tayangan ”Penyejuk Imani Katolik”

Tayangan televisi “Penyejuk Imani Katolik’ yang disingkat dengan PIK adalah salah satu bentuk program/acara yang disajikan oleh media televisi yakni stasiun TV Indosiar. Tayangan Penyejuk Imani Katolik ini merupakan suatu bentuk pewartaan dengan menggunakan media audiovisual yang berisi acara-acara rohani keagamaan dan ajaran-ajaran keagamaan. Tayangan “Penyejuk Imani Katolik” ini bertujuan salah satunya demi perkembangan iman umat kristiani.

Media televisi menjadi suatu media yang sangat digemari dan paling banyak dimiliki oleh masyarakat. Tidak hanya sebagai sumber informasi akan tetapi media televisi juga menjadi sarana hiburan bagi hampir setiap orang di dunia. Hal ini nampak bahwa banyak dari kalangan masyarakat yang menghabiskan waktu 35 jam/minggu atau 5 jam/hari dan 55 % dari anak-anak SMA gemar menonton televisi lebih dari 2 jam/hari (Wirodono Sunardian, 2005: ix). Adanya kebebasan penuh bagi para pemirsa setia televisi untuk menonton berbagai macam acara televisi membuat banyak masyarakat menonton dengan bebas memilih acara. Media televisi ini diharapkan mampu memberikan pengaruh positif bagi masyarakat.

(29)

mendorong Studio Audio Visual Pusat Kateketik (SAV PUSKAT) yang terletak di Desa Sinduharjo, Jln Kaliurang km: 8,5 Yogyakarta untuk menciptakan sebuah program acara televisi rohani yang diproduksi secara khusus dengan tujuan membantu umat agar semakin menghayati dan memperkembangkan iman mereka. Tayangan televisi rohani tersebut dinamakan tayangan “Penyejuk Imani Katolik”. Tayangan “Penyejuk Imani Katolik” ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan iman umat agar semakin menghayati dan berkembang dalam iman.

Efektivitas tayangan “Penyejuk Imani Katolik” ini ditentukan dari segi isi dan strategi dalam komunikasi, teknis, manajemen SAV Puskat Yogyakarta, dan akses pemirsa atas program ini. Lembaga Studio Audio Visual Puskat adalah salah satu lembaga perancang program pewartaan Injil dan menanamkan nilai-nilai religius kepada pemirsa melalui media televisi. Kalau tayangan “Penyejuk Imani Katolik” ini berjalan efektif dan banyak ditonton oleh para pemirsa, sebagai umpan balik/feed back-nya program ini berfungsi sebagai sumber informasi, korelasi, kontinuitas, hiburan dan mobilisasi, sarana pertobatan serta penanaman nilai-nilai religius kristiani (Iswarahadi, 2002: 6).

3. Visi dan Misi Tayangan “Penyejuk Imani Katolik”

(30)

ajaran Kristiani demi perkembangan dan penghayatan iman para pemirsa Kristiani. Tayangan “Penyejuk Imani Katolik” yang bertujuan untuk memperkembangkan iman umat tidak hanya berisi ajaran-ajaran kristiani/ajaran Gereja saja,

Tayangan “Penyejuk Imani Katolik” ini memiliki visi dan misi yang tidak jauh beda dengan visi serta misi lembaga SAV Puskat sebagai lembaga pendiri dan pengelola program ini. Adapun visi dan misi dari tayangan “Penyejuk Imani Katolik” tersebut antara lain (Iswarahadi, 2002: 11).

a. Menggali inspirasi dari tradisi-tradisi kebudayaan dan spiritual demi kebahagiaan semua manusia jaman sekarang.

b. Membangun terbentuknya masyarakat religius-plural yang cinta damai, dan berkeadilan.

c. Melestarikan alam semesta dan budaya lokal. d. Mengangkat martabat rakyat kecil.

e. Masyarakat hidup terbebas dari kekerasan dan hidup damai dalam kebhinekaan.

4. Susunan Acara dan Isi Acara dalam Tayangan “Penyejuk Imani Katolik” Secara umum susunan acara PIK dapat dilihat dari pengamatan yang

(31)

05.30 WIB. Tema yang dikupas adalah “Puasa dan Pengendalian Diri”. Susunan acara tersebut antara lain terdiri dari:

a. Lagu pembukaan

Tayangan “Penyejuk Imani Katolik” diawali dengan lagu pembukaan. Lagu pembukaan tersebut langsung dinyanyikan oleh pembawa acara sendiri yaitu Sr. Hetwika JMJ, dan Rm. L. Heri Purnawan MSF. Lagu tersebut berjudul “Kasih Yang Sempurna”.

b. Salam pembukaan dari pembawa acara

Pada sesi kedua yang berisi salam pembuka, pembawa acara langsung mengawali PIK dengan menyapa para pemirsa dan menyebutkan tema yang akan diangkat pada Minggu tersebut. Adapun tema yang diambil pada tanggal 21 Maret 2010 tersebut adalah “Puasa dan Pengendalian Diri”.

c. Informasi dari narasumber yang pertama

(32)

kebangkitan Tuhan. Rm. Hartono juga memberikan suatu peneguhan tentang arti puasa menurut Kitab Suci. Hal ini dapat dilihat pada Injil Yohanes 13, di mana dalam Injil itu diceritakan perjamuan terakhir Yesus bersama para muridNya. Terlihat dalam perjamuan itu para murid Yesus mendekatkan diri kepadaNya. Puasa bukanlah suatu aturan agama, tetapi puasa adalah sikap kembali lagi kepada Tuhan. Relevansi puasa untuk jaman sekarang adalah Gereja mempunyai usulan tetapi kita harus mempunyai pilihan, dan pilihan itu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yaitu tobat atau kembali kepada Allah. Dalam melaksanakan puasa kita ditantang untuk dapat jujur terhadap diri kita sendiri, serta dapat memilih jalan-jalan yang kiranya akan membantu kita kembali kepada Allah. Sikap kreatif sangat dibutuhkan untuk menemukan Tuhan dan mengendalikan diri kita. Dalam berpuasa tidak dapat dinilai dengan berat dan ringannya puasa tersebut, tetapi bagaimana kita dapat bertindak secara jujur sebagai orang beriman.

(33)

dan lingkungan kita. Adapun yang leboh menarik adalah puasa Maria, di mana puasa Maria merupakan puasa yang diam yaitu kita tidak perlu boros tentang kata-kata apa lagi kata-kata kosong. Setiap kata yang dikeluarkan mesti menjadi kata-kata berkat. Penting sekali bahwa puasa harus diarahkan untuk kembali kepada Allah, kembali kepada keprihatinan Allah sendiri seperti yang ada dalam diri Yesus Kristus yang membangkitkan kehidupan, yang memberikan kehidupan.

d. Pengantar dari pembawa acara

Pembawa acara memberikan sebuah kesimpulan bahwa, semua agama pasti mengenal dan menghayati tradisi puasa. Salah satu manfaat dari puasa adalah pengendalian diri dari hal-hal yang mengganggu kebebasan batin untuk membuat keputusan yang benar dan mengikuti Tuhan. Dengan kata lain, dengan praksis puasa orang beriman memperoleh jalan yang mudah untuk berkomunikasi dan bersatu dengan Tuhan. Setelah itu pembawa acara mengantar pemirsa untuk menyaksikan sebuah kehidupan dan karya Suster-suster Ursulin di Madiun.

e. Informasi dari narasumber yang kedua

(34)

suatu informasi yang pembicaranya adalah Sr. Reinilda O.S.U. Dalam pembicaraannya beliau memberikan informasi tentang kekhasan dari karya ini, yaitu memperhatikan kaum muda secara khusus melalui kegiatan pembinaan kepribadian. Yang lebih disoroti adalah bagaimana memperhatikan keunikan masing-masing pribadi secara utuh, baik secara mental, rohani, dan jasmani/fisik yang merupakan suatu kesatuan.

f. Pengantar dari pembawa acara

Pembawa acara mengantar arti pengendalian diri dan sikap kreatif. Pengendalian diri sangat penting dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosial. Orang yang tidak dapat mengendalikan dirinya akan membawa dampak negatif bagi dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Demikian juga jika manusia tidak dapat mengendalikan diri dalam mengkonsumsi kekayaan bumi akan berakibat kerusakan lingkungan. Kita perlu mendukung sikap kreatif di kalangan orang muda, sebab sikap kreatif merupakan bentuk lain dari pengendalian diri.

g. Informasi dari narasumber yang ketiga

(35)

Tentunya usaha yang dapat dilakukan dalam menemani orang muda dalam mengembangkan diri mereka adalah kita perlu untuk menggali kedalaman dari orang muda itu sendiri. Dengan demikian kita sebenarnya memberikan suatu peluang dan kesempatan serta mengajak orang muda untuk bergerak dan mempersilakan mereka untuk bergerak.

h. Pengantar pembawa acara

Pembawa acara memperkenalkan dua buah buku yang berkisahkan tentang lingkungan hidup, dan cara untuk mendapatkannya. Pembawa acara juga memberikan pertanyaan-pertanyaan kuis. Setelah itu pembawa acara mengantar pemirsa untuk menyaksikan sebuah kehidupan di Postulat Suster-suster Miseri Cordia Madiun.

i. Informasi dari narasumber yang keempat

(36)

ekonomi. Selain itu ada kesaksian dari para postulan (kembar tiga) mengenai panggilan. Dalam pembicaraannya mereka memberikan kesaksian tentang bagaimana mereka masuk ke komunitas Postulat suster Miseri Cordia Madiun.

j. Pembahasan Kitab Suci dari pembawa acara

Pembawa acara membacakan kutipan Kitab Suci. Bacaan yang dipakai adalah Surat Paulus kepada umat di Rm 8: 5-6. Setelah membacakan bacaan Kitab Suci, pembawa acara memberikan sebuah pesan singkat yang berhubungan dengan bacaan Kitab Suci. Inti isi pesan itu adalah kalau kita ingin mengendalikan diri, kita harus berlatih mengendalikan diri kita terlebih dahulu.

k. Lagu Penutup.

Rm. Andi Iwan menyanyikan lagu “Penuhi RencanaMu”. Isi syair dari lagu tersebut adalah sebagai berikut ini.

Penuhilah RencanaMu

Berikan diri hanya kepadaMu, walau dengan ciuman yang kadang ternoda. Ku srahkan hati menjadi milikmu, walau kadang penuh derita namun aku tetap setia.

Reff: Tunjukkan jalan kepadaku. Agar aku tak ragu memilih jalanMu. Penuhi segala rencanaMu, biarku jadi mampu wartakan sabdaMu.

(37)

sikap penyerahan diri dan pasrah itu juga ia memohon agar Tuhan menunjukkan jalan agar ia tak ragu untuk melangkah, dan mampu mewartakan sabda Tuhan.

5. Tayangan Televisi menurut Pandangan Gereja Katolik

(38)

Selain itu, Gereja juga memberikan pandangannya mengenai media televisi di dalam dokumen-dokumen Gereja Katolik. Dokumen-dokumen itu antara lain:

a. Evangelii Nuntiandi

Dalam dokumen ini salah satu tugas utama Gereja adalah mewartakan Injil, berkotbah dan mengajar, serta menjadi saluran kurnia dan rahmat yang mendamaikan para pendosa dengan Allah dan untuk mengabdikan Kurban Kristus dalam perayaan ekaristi, yang merupakan kenangan akan kematian serta kebangkitanNya yang mulia. Mewartakan Injil sesungguhnya merupakan suatu rahmat dan panggilan yang khas bagi Gereja, dan merupakan identitas yang terdalam (EN, art. 14)

(39)

bersalah di hadirat Tuhan jika tidak memanfaatkan sarana-sarana modern yang ampuh ini, yang dari hari ke hari semakin disempurnakan oleh keterampilan manusia. Melalui sarana-sarana modern ini, Gereja mewartakan nilai-nilai luhur dari atas atap-atap rumah dan menemukan penjabaran secara modern dan efektif. Jadi dengan sarana-sarana modern ini pesan Injil dapat menjangkau sejumlah besar orang, tetapi juga mampu untuk menembus hati nurani setiap individu (EN, art. 45).

b. Himpunan Keputusan MAWI

Himpunan keputusan MAWI adalah sebuah dokumen nasional hasil dari Konferensi Uskup-uskup seluruh Indonesia yang sekarang bernama KWI (Konferensi Waligereja Indonesia). Pada tahun 1974 MAWI menyetujui usul dan rencana kerja KWI Komsos yang berbunyi: “Supaya membangkitkan pengertian terhadap media massa, baik di kalangan umat Katolik maupun masyarakat pada umumnya, digunakan PWI Komsos bagi radio/televisi/film” (Hadiwikarta, 1981: 88). Komsos telah berusaha untuk memberikan pengertian-pengertian yang benar terhadap mass media, antara lain dengan memberikan kursus radio dan televisi, mengadakan lokakarya tentang mass media, khotbah, ceramah, mengadakan riset, menerbitkan buku untuk umat Katolik tentang media massa.

c. Directorum Catechisticum Generale

(40)

dokumen ini diungkapkan bahwa warta keselamatan perlu mempunyai tempat pada media komunikasi sosial. Dalam hal ini agar media komunikasi semakin dapat sempurna, Gereja perlu menjalin kerjasama dengan pihak-pihak yang mengusahakan penerbitan media, para penulis, dan para seniman yang berkecimpung dalam bidang ini, kerjasama memerlukan terbentuknya kelompok-kelompok ahli, baik taraf nasional maupun internasional yang mampu memberikan sumbangan berupa nasihat mengenai program-program kegiatan dalam bidang agama (DCG, art. 123).

Dari keadaaan dan realita yang terjadi maka Gereja menghimbau kepada semua semua pihak-pihak yang bersangkutan, bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memanfaatkan audiovisual bagi para pengguna sarana-sarana ini, himbauan itu antara lain:

1) Hendaknya disediakan studi mengenai kriteria yang perlu menjadi penuntun pembuatan serta pemilihan sarana-sarana audiovisual tersebut yang berkaitan dengan segi-segi khusus warta kristiani yang akan disuguhkan (DCG, art. 122).

(41)

d. Inter Mirifica

Dekrit Inter Mirifica tentang upaya-upaya komunikasi sosial menegaskan bahwa semakin banyak penemuan teknologi yang sangat mengagumkan, di antaranya penemuan yang paling menonjol adalah upaya-upaya yang pada hakikatnya mampu mencapai dan menggerakkan bukan hanya orang perorang melainkan juga massa, bahkan seluruh umat manusia, misalnya media cetak, sinema, radio, televisi, dsb (IM, art. 1).

Suatu pemberitaan, penguraian atau penggambaran kejahatan moral yang ditayangkan dalam media komunikasi sosial memang dapat membantu mengungkapkan suatu kebenaran. Akan tetapi jangan sampai merugikan atau merangsang nafsu-nafsu manusia yang terluka akibat dosa asal (IM, art. 7).

Oleh sebab itu Gereja menghimbau kepada para pemakai/pengguna media komunikasi sosial agar melakukan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh para pembaca, pemirsa dan pendengar media komunikasi sosial tersebut antara lain: agar para pengguna media komunikasi sosial mampu untuk memilih tayangan yang benar-benar mendukung khususnya bagi nilai-nilai keutamaan dan ilmu pengetahuan serta menghindari tayangan yang dapat menimbulkan kerugian rohani dan membahayakan bagi sesama (IM, art. 9).

(42)

merupakan bentuk perhatian Gereja terhadap perkembangan teknologi baru yang kian hari mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku masyarakat teristimewa mereka yang dikategorikan sebagai generasi digital. Dalam pesan ini ada dua gagasan utama yang ditandaskan oleh Bapa Suci, yakni teknologi baru sebagai sarana dan manusia sebagai pihak yang berkepentingan dengan teknologi itu. Yang ditekankan dalam dua gagasan ini terletak pada bagaimana kedua unsur itu berinteraksi dan berkorelasi.

Pada dasarnya sarana komunikasi sosial baik bentuk dan kemasannya, dipandang sebagai “restu Allah” (IM, art. 1) dan “anugerah Allah” (CP, art. 2). Prinsip inilah yang merupakan posisi teologis dari Gereja. Karena fungsinya sebagai sarana, ia harus memfasilitasi terbangunnya “kesatuan dan kemajuan” umat manusia sebagai tujuan komunikasi Kristiani (Paus Benediktus XVI, 2010b:1-2)

B. Katekese Audiovisual

1. Pengertian Katekese secara Umum

(43)

aktif melalui pengajaran (DCG, art. 17). Gereja juga menegaskan bahwa pelaksanaan katekese mampu menghantarkan kelompok maupun perorangan kepada iman yang dewasa (DCG, art. 21).

Hal lain juga diungkapkan oleh Sumarno Ds, (2004: 61) katekese merupakan tempat untuk mengungkapkan imannya pada Tuhan dengan sesama orang beriman. Di sini komunikasi iman terjadi sebagai salah satu usaha umat untuk saling meneguhkan, mengembangkan dan mengarahkan iman. Dari sini dapat disimpukan bahwa katekese adalah salah satu bentuk komunikasi iman. Komunikasi iman yang dimaksud adalah orang saling mengungkapkan pengalaman imannya atau terjadinya komunikasi dua arah. Katekese juga sering diartikan banyak orang Kristiani sebagai suatu pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang-orang dewasa dalam iman yang secara khusus mencakup penyampaian ajaran Kristen yang sistematis dengan tujuan menghantar umat untuk memasuki kepenuhan hidup Kristen (CT, art. 18).

2. Dasar Katekese dalam Kitab Suci

(44)

mendalam Gereja berusaha mewujudkan kesetiaannya kepada Allah dan kepada manusia serta menimba kebenaran-kebenaran ajaran Allah lewat sabda-sabdanya yakni melalui pelaksanaan katekese (DV, art. 24). Dasar-dasar katekese yang ada di dalam Kitab Suci antara lain:

a. Lukas (Luk 1:4)

Diungkapkan bahwa ”Supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar”.

b. Kisah Para Rasul (Kis 18:25)

Perikop ini menjelaskan bahwa pada jaman dahulu sudah ada pengajaran dalam jalan Tuhan dan pengenalan tentang Yesus Kristus. Gereja dipanggil untuk melanjutkan tugas Yesus sebagai Sang Guru, dan diutus menjadi pengajar iman dengan dijiwai oleh Roh Kudus.

c. Matius (Mat 28:19-20)

(45)

agar iman mereka lebih mendalam. Dalam injil ini terlihat jelas bahwa pada jaman dahulu Yesus telah mewartakan sabdanya melalui katekese.

d. Kisah Para Rasul (Kis 21:21)

Dalam perikop ayat ini mengungkapkan bahwa ”Tetapi mereka mendengar tentang engkau, bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa, sebab engkau mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat kita”.

e. Roma (Rm 2:18)

Diungkapkan bahwa ”Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh”.

f. Kisah Para Rasul (Kis 14:19)

(46)

3. Bahasa, Bahan dan Isi Katekese

Salah satu hal yang terpenting dalam pelaksananaan katekese adalah penggunaan bahasa, pemilihan bahan, dan isi ketekese. Ketiga unsur ini merupakan kesatuan yang tidak dapat terpisahkan dalam sebuah proses katekese. Berikut ini hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam menggunakan bahasa, pemilihan bahan serta isi dalam berkatekese:

a. Bahasa dalam Pelaksanaan Katekese

Bahasa yang digunakan dalam katekese adalah bahasa yang disesuaikan dengan usia, latar belakang sosial dan kebudayaan setempat peserta katekese. (DV, art. 8). Hal ini bertujuan supaya para peserta/umat mampu menangkap dan memahami apa yang disampaikan dari proses katekese yang dilaksanakan.

b. Bahan dan Isi Katekese

(47)

1) Sejarah Keselamatan dalam Perjanjian Lama

Seluruh sejarah manusia dalam Perjanjian Lama menjadi sejarah keselamatan, sebab pengalaman hidup manusia diyakini bahwa Allah ikut berperan mengatur perjalanan hidup manusia. Oleh sebab itu seluruh perencanaan maupun pelaksanaan sejarah keselamatan dalam Perjanjian Lama merupakan bahan dan isi katekese. Secara garis besar bahan dan isinya meliputi: penciptaan, dosa, panggilan Abraham, panggilan Musa dan Israel, dsb.

2) Sejarah Keselamatan Perjanjian Baru

Dalam Sejarah Keselamatan Perjanjian Baru diceritakan bahwa berlangsung secara terus menerus dengan Kristus sebagai poros, kunci, sekaligus tonggak batasnya. Atas iman akan pribadi Yesus Kristus itulah maka umat dan Gereja menata serta mengembangkan hidupnya terus menerus. Sebagai bahan dan isi katekese dalam sejarah Keselamatan Perjanjian Baru secara garis besar meliputi: Yesus Kristus, Gereja (Umat) Perdana, Gereja Kristus, dsb.

3) Ajaran Pokok Pewartaan Kristiani

(48)

4) Sakramen-sakramen

Sakramen adalah suatu tanda dan sarana keselamatan yang berasal dari Allah bagi manusia melalui Gereja. Sakramen menjadi tanda dan sarana dimana manusia berada dalam hubungan secara khusus dengan Allah. Dengan menerima sakramen berarti manusia itu memperoleh kebahagiaan, keselamatan dan dapat bersatu dengan Allah. Adapun sakramen-sakramen yang menjadi isi dan bahan katekese adalah sakramen baptis, sakramen krisma, sakramen ekaristi, sakramen tobat, sakramen pengurapan orang sakit, sakramen imamat, dan sakramen perkawinan.

5) Pengalaman manusia yang dihayati sebagai karya penyelamatan Allah. Roh dan cinta kasih Allah selalu berkarya dalam semua ciptaan, dan mengundang manusia pada setiap saat dan setiap tempat untuk diselamatkan. Allah selalu hadir dan membimbing manusia dalam kehidupan sehari-hari. Atas dasar itulah, pengalaman manusia dalam seluruh hidupnya merupakan isi dan bahan katekese.

4. Pengertian Katekese Audiovisual

Katekese audiovisual berasal dari dua kata yakni “katekese” dan “audio visual”. Katekese adalah suatu bentuk komunikasi pengalaman iman umat dan

audio visual getaran pribadi seseorang yang merupakan perpanjangan

(49)

penyampaian pengalaman pribadi sebagai seorang kristiani dan pengalaman iman akan Yesus Kristus (Adisusanto, 1977: 8).

Menurut Adisusanto (1977: 9-11), ada beberapa hal yang harus diperhatikan apabila kita akan menggunakan audiovisual sebagai sarana pewartaan, yakni dalam penyampaian pesan iman berupa ajaran-ajaran kristiani jangan dianggap sebagai suatu ceramah/penyampaian doktrin, tetapi sebagai suatu pertemuan rohani. Iman harus dikomunikasikan melalui perasaan dan getaran pribadi bukan hanya melalui kalimat-kalimat yang seragam, selain itu juga dituntut adanya komunikasi iman timbal balik antara katekis dan anggota kelompok/peserta katekese. Kita harus mampu membuka topeng/membuka diri kita sendiri: bagaimana kita mampu menghayati iman dalam hati.

(50)

gambar, kaset, musik yang sesuai, film, tayangan televisi, video, dsb. Apabila sarana-sarana katekese tersebut tidak dapat difungsikan dengan baik maka proses katekese akan menjadi terganggu.

Dalam pelaksanaan katekese audiovisual hendaknya katekis juga harus memperhatikan tempat yang akan digunakan dalam katekese. Tempat mempunyai peran yang sangat penting dalam proses kegiatan. Tempat yang baik harus didukung dengan kapasitas peserta yang mengikuti kegiatan. Tempat yang dapat dijadikan sebagai tempat berlangsungnya pertemuan katekese adalah keluarga, lingkungan, kring, stasi, maupun sekolah.

5. Dasar Biblis Katekese Audiovisual

Dasar biblis dari katekese audiovisual adalah ”Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya Yesus Kristus” (1 Yoh 1:3). Dari sini terlihat bahwa dasar katekese audiovisual sangat berkaitan dan sangat berhubungan dengan tujuan katekese audiovisual sendiri dimana katekese audiovisual bertujuan untuk memperoleh persaudaraan dengan kelompok yang percaya akan Kristus (Adisusanto, 1977: 8).

6. Tujuan Katekese Audiovisual

(51)

sangat besar. Masing-masing umat pasti mempunyai pengalaman-pengalaman yang unik tentang pribadi Yesus Kristus. Pengalaman iman akan pribadi Yesus kristus dapat diperoleh dari sekitar kita, misalnya pengalaman dari keluarga, tempat kita beraktifitas, serta lewat perjumpaan dari sesama. Dari berbagai macam pengalaman umat ini bagaimana menghubungkannya dengan ajaran Gereja. Salah satu bentuk, usaha, cara untuk menyatukan berbagai macam pengalaman dengan ajaran yang ada adalah dengan mengadakan katekese. Salah satu bentuk katekese itu adalah katekese audiovisual. Katekese audiovisual bertujuan untuk membangun persekutuan antar umat beriman, menjalin persekutuan kristiani dengan cara mengkomunikasikan pengalaman tentang pribadi Yesus Kristus dan tentunya yang tidak bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik (Adisusanto, 1977: 8).

7. Kelebihan dari Katekese Audiovisual

(52)

8. Kekhasan Katekese Audiovisual.

Kekhasan katekese audiovisual bukan hanya gagasan yang diungkapkan dalam gambar dan musik, tetapi kekhasannya juga terletak pada penyampaian pengalaman pribadi seorang kristiani. Seorang kristiani pasti mempunyai suatu pengalaman yang unik tentang Yesus Kristus. Bagaimana pengalaman yang unik akan pribadi Yesus Kristus itu disatukan dengan ajaran Gereja. Kesatuan dengan ajaran Gereja bukan hanya terletak pada ungkapan-ungkapan, kata-kata, gerak-gerik tetapi pada kenyataan/fakta komunio yang ada antara kita dan doa bersama dalam kalangan kita (Adisusanto, 1977: 8).

9. Katekese Audiovisual menurut Pandangan Gereja Katolik

Gereja adalah suatu persekutuan, komunitas umat beriman yang mengimani pribadi Yesus Kristus. Peranan Gereja adalah mengembangkan iman umat serta serta pelayanan yang melihat situasi umat dan dunia. Dalam perkembangannya, Gereja memiliki empat fungsi karya pastoral Gereja itu adalah: Koinonia, Diakonia, Leitorgia, dan Kerygma (Suroso, 2010: 3-4).

(53)

sebagai salah satu bentuk pelayanan Sabda yang dilakukan oleh Gereja dengan tujuan untuk memperdalam iman umat baik perorangan maupun kelompok akan Yesus Kristus, serta menginisiasikan atau mengantar umat ke dalam kehidupan Gereja.

10.Model-model yang digunakan dalam Katekese Audiovisual

Banyak cara/model-model yang dapat dilakukan saat kita melakukan katekese/pendalaman iman. Salah satu model katekese yang dapat digunakan adalah model katekese audiovisual. Model katekese audiovisual sangat mendukung dan mempermudah, membantu katekis dalam memimpin atau menjadi fasilitator dalam katekese. Dengan model-model katekese audiovisual proses katekese menjadi lebih bervariasi dan tidak monoton, menghidupkan suasana katekese/pendalaman iman. Selain itu model-model katekese audio visual juga mampu membantu para peserta semakin menghayati dan membangkitkan imannya akan Yesus Kristus. Beberapa bentuk model/cara yang sering digunakan dalam katekese audiovisual, antara lain:

a. Naratif Eksperiensial

Dari asal katanya Naratif Eksperiensial berasal dari dua kata yakni naratif yang berasal dari kata sifat berarti cerita dan eksperiensial yang berarti

(54)

biasanya pemimpin/katekis sebagai fasilitator memanfaatkan cerita-cerita yang mengandung nilai-nilai religius, sosial, budaya, keluarga, dll. Tentunya cerita yang digunakan dalam proses katekese audiovisual ini merupakan cerita yang utuh. Cerita yang digunakan dalam pola naratif eksperensial adalah cerita kanonis, cerita rakyat, cerita pengalaman. Cerita kanonis adalah cerita yang paling berharga bagi Gereja, misalnya: cerita Kitab Suci. Cerita rakyat adalah cerita yang merupakan bagian dari warisan budaya yang diturunkan dari nenek moyang. Salah satu alasan mengapa kita perlu belajar dan memasukkan cerita rakyat dalam katekese adalah yang pertama kerena Yesus sendiri sangat senang menggunakan cerita rakyat dalam pewartaannya mengenai kerajaan Allah. Cerita rakyat yang digunakan Yesus berasal dari buku-buku Perjanjian Lama, dan juga berasal dari nenek moyangNya yang diturunkan lewat lisan (Hofmann, 1994: 17).

Sedangkan cerita pengalaman adalah cerita nyata mengenai kehidupan, dan sesuatu yang sungguh-sungguh benar dialami. Tujuan mengapa cerita kehidupan dibutuhkan dalam katekese adalah supaya para peserta katekese semakin mampu untuk menceritakan cerita mereka sendiri, baik menceritakan diri mereka, keluarga mereka, maupun masyarakat dengan membandingkannya dengan cerita rakyat dan cerita kanonis (Hofmann, 1994: 21).

b. Group Media

(55)

suatu alat yang berguna untuk berkomunikasi, alat perantara/penghubung (Badudu, 1996: 189). Group media adalah suatu model dalam katekese audiovisual yang dapat membantu suatu kelompok baik dalam jumlah kecil maupun besar untuk dapat saling bertukar pikiran maupun pengalaman baik itu pengalaman hidup sehari-hari maupun pengalaman perjumpaan dengan Allah. Adapun tujuan dari model group media ini adalah membantu para peserta untuk saling memperkaya dan melengkapi antar anggota kelompok. Menurut Olivera (1989: 16) dalam buku yang ia tulis dengan judul Group Media, ada beberapa unsur yang harus diperhatikan apabila kita akan menggunakan model ini dalam katekese audiovisual. Unsur-unsur tersebut antara lain:

1) Kelompok orang

Idealnya jumlah anggota kelompok adalah maksimal terdiri dari 12-15 orang. Jumlah ini dilihat sangat ideal jika dibandingkan dengan jumlah anggota kelompok yang lebih banyak. Jumlah anggota yang banyak akan menghabiskan waktu yang lama dalam berdiskusi/sharing pengalaman. Di dalam kelompok semua orang yang terlibat diharapkan dapat ikut serta mengambil bagian/berpartisipasi untuk diskusi/sharing, mendengarkan atau mendengarkan, menerima maupun memberikan masukan serta saling melengkapi antar anggota kelompok satu dengan yang lainnya (Olivera, 1989: 16).

2) Tempat yang cocok

(56)

digunakan untuk proses katekese itu menciptakan suatu suasana yang nyaman, maka peserta Sebuah tempat ideal yang dapat digunakan dalam katekese adalah suatu ruang dengan luas yang disesuaikan dengan jumlah peserta keseluruhan dalam kelompok. Selain itu juga hal yang harus diperhatikan adalah tempat yang cukup tenang dengan sarana yang lengkap (Olivera, 1989: 17).

3) Dokumen yang menarik

Dokumen merupakan salah satu hal yang pokok dalam suatu katekese. Dokumen dalam group media dapat dikatakan menarik apabila dokumen itu mampu dimengerti, berkesan, dan mampu menghipnotis seseorang sehingga mampu menciptakan kesan yang tak terlupakan. Dokumen yang dapat digunakan dalam group media contohnya seperti: film, surat kabar, potongan majalah, poster, dll. Dalam pemilihan suatu dokumen harus memperhatikan juga keadaan peserta, permasalahan-permasalahan yang terjadi, sesuai dengan minat peserta, bervariasi dan bermakna, enak didengar, membahas sifat-sifat dasar manusia, mutunya baik, diamati dan dibaca (Olivera, 1989: 18).

4) Perlengkapan yang tepat

(57)

5) Seorang moderator (pengarah)

Kehadiran seorang moderator/pengarah dalam suatu pertemuan katekese merupakan suatu yang penting. Hal ini disebabkan karena seorang moderator memiliki tugas untuk mempermudah proses dialog antar para peserta, membantu si pemalu untuk ikut serta dalam proses katekese, mengendalikan orang yang paling berpengaruh, memperkenalkan materi dengan memberikan beberapa panduan pertanyaan, dan mampu merangkum dari keseluruhan proses katekese tersebut (Olivera, 1989: 20).

6) Metode

Salah satu model group media yang yang dapat dipakai dalam berkatekese adalah salah satunya adalah model SOTARAE. Menurut Manuel Olivera dalam bukunya yang bejudul Group Media, metode SOTARAE merupakan sebuah metode yang memberikan suatu petunjuk untuk mempermudah menganalis dan mengkaji sebuah dokumen (Olivera, 1989: 30). Berikut ini adalah berbagai macam cara untuk menganalisa sebuah dokumen melalui metode SOTARAE. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

(a) Situasi (menjajahi kesan para peserta)

(58)

untuk mempermudah para peserta mendalami cerita/tayangan yang telah disaksikan bersama (Olivera, 1989: 30). Pertanyaan itu antara lain meliputi:

• Apa yang dirasakan, pengalaman, atau ingatan apa yang ditimbulkan

dari cerita/tayangan yang akan ditampilkan?

• Bagaimana kesan yang muncul setelah membaca cerita/menyaksikan

film tersebut?

(b) Menemukan Fakta-fakta objektif.

Setelah para peserta mengungkapkan kesan-kesan terhadap cerita/tayangan yang sudah ditampilkan, maka tahap selanjutnya yang dilakukan oleh fasilitator/pemandu adalah mencari dan menemukan fakta-fakta objektif dari dokumen yang sudah ditampilkan. Pada tahap ini dokumen dibagi menjadi beberapa bagian dengan sedetail-detailnya. Langkah- langkahnya pada tahap ini yakni; menelusuri ceritanya secara mendetail, pokok demi pokok terutama apabila dokumen itu kontroversial sifatnya (Olivera, 1989: 30). Dengan cara ini maka empat mata akan lebih baik dari pada hanya dua mata. Pada langkah ini pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkan bersifat objektif dan anggapan pribadi yang bersifat subjektif dikesampingkan. Dalam langkah ini untuk mencapai interpretasi dengan tepat diperlukan penyelidikan yang seksama (Olivera, 1989: 30).

(59)

waktu yang cukup untuk mengendapkan buah-buah pikiran, sehingga penilaian yang tergesa-gesa dapat dihindari.

(c) Merumuskan Tema

Setelah para peserta telah menemukan dan mengungkapkan fakta-fakta secara obyektif dari tayangan/cerita yang ditampilkan, langkah selanjutnya adalah pemandu mengelompokkan langkah sebelumnya dari hal-hal yang sudah diringkas dan hasil-hasil observasi dengan merumuskan tema-tema pokok. Kemudian langkah terakhir, pemandu mengajak para peserta untuk memilih tema-tema mana saja yang akan cocok dan dapat menjadi prioritas (Olivera, 1989: 31).

(d) Analisis

Langkah selanjutnya adalah menganalisis tema. Pada langkah ini peserta diminta dalam kelompok menganalisis tema-tema yang telah ditemukan tersebut dengan realita yang terjadi di tengah masyarakat atau dilingkungan tempat tinggal para peserta. Adapun beberapa unsur yang harus diperhatikan dalam tahap analisis ini, yakni:

• Apa yang paling menonjol pada tema tersebut?

• Bagaimana konteks peristiwa tersebut?

• Jelaskan sebab mengapa peristiwa itu bisa terjadi?

• Jelaskan asal-usul, hubungan dengan fakta, gagasan dan lingkungan yang

(60)

Dari beberapa pertanyaan di atas diharapkan para peserta semakin mampu untuk menganalisis serta menemukan fakta atau pemikiran dalam konteks yang khusus, sehingga para peserta semakin mudah untuk memahami arti atau tujuan yang ingin dicapai (Olivera, 1989: 31).

(e) Rangkuman

Pada langkah ini peserta diminta untuk merangkum apa yang telah diungkapkan oleh peserta dan menunjuk persoalan-persoalan yang telah jelas dan masih harus dipikirkan lebih lanjut. Kemampuan peserta dalam merumuskan persoalan dengan jelas dan teliti merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam langkah ini. Dalam langkah ini, proses tak perlu sampai pada persetujuan atau penyelesaian setiap permasalahan (Olivera, 1989: 31).

(f) Aksi

Setelah membuat suatu rangkuman, maka tahap yang selanjutnya adalah membuat suatu aksi. Aksi merupakan rencana yang dilakukan/tindakan nyata sebagai perwujudan nyata dari inti pertemuan tersebut. Misalnya tema mengasihi sesama, maka sebagai aksi nyatanya adalah kita akan memberikan bakti sosial kepada fakir miskin (Olivera, 1989: 32).

(g) Evaluasi

(61)

digunakan. Kadang-kadang hal ini nampak berlebihan, tetapi orang sering menemukan petunjuk menarik untuk memperbaiki pertemuan-pertemuan berikutnya (Olivera, 1989: 32).

(62)

PRODUKSI STUDIO AUDIO VISUAL PUSKAT YOGYAKARTA SEBAGAI SALAH SATU BAHAN KATEKESE AUDIOVISUAL

DI LINGKUNGAN SANTO PAULUS PAROKI SANTA MARIA PENGANTARA LAHAT SUMATERA SELATAN

Pada bab III ini akan diuraikan gambaran situasi umat, dan keadaan katekese di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat Sumatera Selatan. Dalam bab III ini akan diuraikan juga pandangan umat mengenai tayangan “Penyejuk Imani Katolik” (PIK). Untuk mengetahui gambaran situasi umat, keadaan katekese, permasalahan-permasalahan yang terjadi di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat, serta pandangan umat mengenai tayangan “PIK”, maka penulis mencari informasi dan mengumpulkan data-data dengan menggunakan kuesioner pra penelitian dan wawancara dengan beberapa umat.

A. Gambaran Umum Keadaan Umat, Katekese/Pendalaman Iman, dan Permasalahan-permasalahan yang terjadi di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat

(63)

Yosef, Yohanes, Yeremia, Petrus, dan Paulus. Berdasarkan data/hasil dari kuesioner pra penelitian yang dilakukan oleh penulis pada tanggal 5 Juli 2010, dengan jumlah responden 25 orang, maka penulis memperoleh gambaran tentang keadaan umat di Lingkungan Santo Paulus. Gambaran itu meliputi: keadaan umat di lingkungan, permasalahan-permasalahan yang terjadi, kegiatan hidup menggereja, dan keadaan katekese yang terjadi di Lingkungan Santo Paulus, serta pandangan umat mengenai tayangan ”Penyejuk Imani Katolik” [Lampiran 2: (3)-(5)].

1. Keadaan Umat di Lingkungan Santo Paulus

Untuk melihat keadaan umat di Lingkungan Santo Paulus, maka peneliti menggunakan variabel yang menanyakan situasi di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat. Dari kuisioner tersebut ditemukan gambaran keadaan umat di Lingkungan Santo Paulus yang secara umum dapat dilihat di dalam Table 1 berikut ini:

Tabel. 1. Pandangan Umat Mengenai Keadaan Umat di Lingkungan Santo Paulus

(64)

(1) (2) (3) (4) Alasan:

•••• Adanya sebagian umat yang sudah aktif dalam kegiatan-kegiatan gereja dan lingkungan

•••• Kegiatan-kegiatan di lingkungan sudah berlangsung cukup baik

•••• Ada kebersamaan

•••• Kekompakan dalam mengisi tugas di Gereja mengatakan bahwa keadaan umat di Lingkungan Santo Paulus sangat baik, dan sebanyak 21 orang (84%) mengatakan bahwa keadaan umat di Lingkungan Santo Paulus cukup baik. Keadaan lingkungan yang cukup baik ini juga didukung oleh alasan-alasan yang ditulis oleh para responden. Alasan-alasan responden yang mendukung bahwa Lingkungan Santo Paulus cukup baik, antara lain: adanya sebagian umat yang sudah aktif dalam kegiatan-kegiatan gereja dan lingkungan ada 9 responden (36%), kegiatan-kegiatan di lingkungan sudah berlangsung cukup baik ada 5 responden (20%), ada kebersamaan ada 4 responden (16%), dan kekompakan dalam mengisi tugas di gereja ada 7 responden (28%)

2. Pandangan Umat terhadap Kegiatan Katekese/Pendalaman Iman yang ada di Lingkungan Santo Paulus

(65)

kegiatan katekese, maka peneliti menanyakan intensitas dan pandangan responden tentang kegiatan katekese/pendalaman iman yang dapat dilihat di Tabel 2 berikut ini.

Tabel. 2. Frekuensi dan Pandangan Umat Mengenai Keadaan Katekese/Pendalalaman Iman

5. Frekuensi umat dalam mengikuti kegiatan katekese/pendalaman iman

6 Pandangan terhadap kegiatan

(66)

(40%), dan yang berpandangan sangat baik berjumlah 2 orang (8%). Metode yang sering digunakan dalam proses katekese di Lingkungan Santo Paulus adalah metode ceramah, diskusi, informatif, dan sharing pengalaman hidup. Hasil ini diperoleh dari wawancara kepada para pemandu katekese lingkungan dengan jumlah responden 4 orang dan sebagian umat dengan jumlah 6 orang [Lampiran 3: (6)].

Dari hasil di atas maka dapat disimpulkan bahwa pandangan umat terhadap kegiatan katekese/pendalaman iman yang ada di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat cukup baik. Hal ini didukung oleh intensitas dan kesan umat dalam mengikuti kegiatan katekese/pendalaman iman. Intensitas umat dalam mengikuti kegiatan katekese adalah 1-3x dalam satu bulan. Kesan umat terhadap kegiatan katekese/pendalaman adalah kegiatan katekese sangat menambah wawasan rohani, dan membantu mereka untuk mendalami serta memperkembangkan iman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan metode yang sering digunakan dalam proses katekese di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat Sumatera Selatan adalah metode ceramah, diskusi, informasi, dan sharing pengalaman hidup. Data ini diperoleh dari wawancara kepada umat di Lingkungan Santo Paulus [Lampiran 3: (6)].

3. Permasalahan yang terjadi di Lingkungan Santo Paulus

(67)

ini cukup baik, tetapi di lingkungan ini masih ada permasalahan dan keprihatinan. Untuk mengetahui permasalahan dan keprihatinan yang terjadi di Lingkungan ini, maka penulis mencari mengenai permasalahan-permasalahan yang terjadi di Lingkungan Santo Paulus. Permasalahan-permasalahan yang dikemukakan dalam kuisioner dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3. Permasalahan dan Keprihatinan yang terjadi di Lingkungan Santo Paulus

(68)

Dari data di atas diketahui bahwa permasalahan yang terjadi adalah permasalahan tentang keterlibatan umat dalam kegiatan lingkungan dan gereja dimana terlihat bahwa masih ada sebagian umat yang masih kurang aktif dalam kegiatan lingkungan dan gereja. Selain itu kurangnya pembinaan iman anak dan keluarga juga menjadi persoalan di lingkunan ini.

B. Pandangan Umat Santo Paulus mengenai Tayangan ”Penyejuk Imani Katolik” (PIK)

1. Frekuensi dan Pandangan Umat Lingkungan Santo Paulus terhadap tayangan ”Penyejuk Imani Katolik”

Tabel 4. Frekuensi dan Pandangan Umat mengenai tayangan ”Penyejuk Imani Katolik”

Paulus dalam menonton tayangan

”Penyejuk Imani Katolik” yang

ditayangakan di stasiun televisi Indosiar. a. Satu bulan 1x

(69)

pendapat dan kesan umat yaitu sebanyak 11 orang (44%) rutin menyaksikan Program (PIK). Selain itu ada 5 orang yang menyaksikan tayangan PIK satu bulan 1x, ada 3 orang yang menyaksikan tayangan PIK satu bulan 2x, serta ada 3 orang yang menyaksikan tayangan PIK satu bulan 3x. Di samping itu 14 orang (56%) yang tidak pernah menyaksikan tayangan (PIK). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa intensitas umat Lingkungan Santo Paulus yang menonton dan menyaksikan tayangan PIK cukup banyak dan antusias. Hal ini terlihat dari 25 jumlah responden ada 11 orang (44%) yang rutin menyaksikan tayangan ”Penyejuk Imani Katolik”.

2. Tanggapan dan Kesan Umat Lingkungan Santo Paulus terhadap Tayangan ”Penyejuk Imani Katolik”.

Tabel 5. Tanggapan dan Kesan Umat Lingkungan Santo Paulus terhadap Tayangan ”Penyejuk Imani Katolik”

(70)

(1) (2) (3) (4)

kembangkan dan memperkuat iman

mereka.

Kesan umat yang tidak pernah menonton tayangan ”PIK”:

Meskipun tidak pernah menonton

tayangan PIK, tetapi tayangan ini

kelihatannya bagus dan

(71)

C. Latar Belakang Penelitian Tayangan ”Penyejuk Imani Katolik” (PIK) Sebagai Bahan Katekese/Pendalaman Iman di Lingkungan Santo Paulus

Dari gambaran situasi umat, pandangan umat mengenai kegiatan katekese, keprihatinan yang terjadi, dan pandangan umat mengenai tayangan PIK terlihat masih ada beberapa keprihatinan-keprihatinan yang terjadi di Lingkungan Santo Paulus. Keprihatinan yang pertama adalah keadaan katekese/pendalaman iman di Lingkungan Santo Paulus yaitu penggunaan metode dalam katekese yang masih sangat terbatas dan kurang bervariasi. Keprihatinan yang kedua adalah masih ada persoalan dan permasalahan di Lingkungan Santo Paulus Paroki Santa Maria Pengantara Lahat. Persoalan dan permasalahan yang terjadi antara lain adanya sebagian umat yang masih kurang aktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan lingkungan seperti kegiatan katekese serta kurang adanya pendampingan iman anak dan keluarga.

Figur

Tabel. 1.  Pandangan Umat Mengenai Keadaan Umat
Tabel 1 Pandangan Umat Mengenai Keadaan Umat . View in document p.63
Tabel. 2. Frekuensi dan Pandangan Umat Mengenai Keadaan
Tabel 2 Frekuensi dan Pandangan Umat Mengenai Keadaan . View in document p.65
Tabel  3. Permasalahan dan Keprihatinan yang terjadi
Tabel 3 Permasalahan dan Keprihatinan yang terjadi . View in document p.67
Tabel 4. Frekuensi dan Pandangan Umat mengenai tayangan
Tabel 4 Frekuensi dan Pandangan Umat mengenai tayangan . View in document p.68
Tabel 5. Tanggapan dan Kesan Umat Lingkungan Santo Paulus terhadap
Tabel 5 Tanggapan dan Kesan Umat Lingkungan Santo Paulus terhadap . View in document p.69
Tabel 6. Variabel Penelitian
Tabel 6 Variabel Penelitian . View in document p.74
Tabel di atas menunjukkan bahwa umur responden terbanyak antara 26
Tabel di atas menunjukkan bahwa umur responden terbanyak antara 26 . View in document p.118
Tabel 2. Pandangan umat terhadap metode kegiatan katekese
Tabel 2 Pandangan umat terhadap metode kegiatan katekese . View in document p.119
Tabel 3. Tanggapan umat terhadap isi
Tabel 3 Tanggapan umat terhadap isi . View in document p.122
Tabel 4. Faktor pendukung tayangan (PIK)
Tabel 4 Faktor pendukung tayangan PIK . View in document p.124
Tabel 5. Peranan dan Faktor pendukung (PIK) sebagai bahan dalam
Tabel 5 Peranan dan Faktor pendukung PIK sebagai bahan dalam . View in document p.126
Tabel 6. Usulan bagi tayangan (PIK) dalam Katekese
Tabel 6 Usulan bagi tayangan PIK dalam Katekese . View in document p.128

Referensi

Memperbarui...