PERBEDAAN SENSE OF SCHOOL BELONGING ANTARA SISWA KELAS TUJUH YANG BERASAL DARI KOTA DAN DESA SKRIPSI

83 

Teks penuh

(1)

i

PERBEDAAN SENSE OF SCHOOL BELONGING

ANTARA SISWA KELAS TUJUH YANG BERASAL

DARI KOTA DAN DESA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun Oleh : Yulianti Awang NIM : 099114041

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN MOTTO

Segala sesuatu ada waktunya, tetap berdoa dan berusaha

(Bapa & Mama)

Masih ada harapan untuk hari depanmu

(5)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan bagi:

Tuhan Yesus Kristus yang selalu menyertai langkah hidupku.

Keluarga yang selalu mendoakan dan mendukungku

(6)

vi

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 6 Agustus 2014 Penulis

(7)

vii

PERBEDAAN SENSE OF SCHOOL BELONGING ANTARA SISWA KELAS TUJUH YANG BERASAL DARI KOTA DAN DESA

Yulianti Awang

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan sense of school belonging antara siswa kelas tujuh yang berasal dari kota dan dari desa. Hipotesis yang diajukan yaitu 1). Adaperbedaan sense of belonging antara siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di perkotaan; 2) Tidak ada perbedaan sense of belonging antara siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di pedesaan. Subjek dalam penelitian ini adalah 410 siswa kelas tujuh SMP yang terdiri dari 4 kelompok subjek yaitu 110 siswa kota yang bersekolah di perkotaan, 100 siswa kota yang bersekolah di pedesaan, 100 siswa desa yang bersekolah di perkotaan, dan 100 siswa desa yang bersekolah di pedesaan. Jenis penelitian ini adalah komparatif dengan teknik pengambilan sample menggunakan

purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan skala Psychological Sense of School Membership (Goodenow, 1993) yang diadaptasi oleh peneliti. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan Mann-Whitney Two Independent Sample Test dan Independent Sample t-test. Hasil analisis data menghasilkan nilai p sebesar 1). 0,005 (p < 0,05) artinya hipotesis diterima bahwa ada perbedaan sense of belonging antara siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di perkotaan. 2). 0,677 ( p > 0,05) artinya hipotesis diterima bahwa tidak adaperbedaan sense of belonging antara siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di pedesaan.

(8)

viii

THE DIFFERENCE OF SENSE OF SCHOOL BELONGING BETWEEN SEVENTH GRADES STUDENTS WHO COMES FROM URBAN AND

RURAL AREA

Yulianti Awang ABSTRACT

This research aims to see the difference of sense of school belonging between seventh grades students who comes from the urban and rural. The hypothesis that had been propose was 1) there is a difference on sense of belonging between urban students and rural student who study in the urban area. 2) there is no difference on sense of belonging between urban student and rural students who study in the rural area. Subject of this study are 410 seventh graders in junior high school students which consist of four groups of subjects are 110 urban students who study in the urban area, 100 urban students who study in the rural area, 100 rural students who study in the urban area, and 100 rural students who study in the rural area. Type of this research is comparative with purposive sampling method. Data was collected by Psychological Sense of School Membership scale (Goodenow, 1993) which is adapted by the researcher. Data then analyze with

Mann-Whitney Two Independent Sample Test and Independent Sample t-test. Result shows p score 1) 0,005 (p < 0,05) which means the hypothesis is accepted, there is a difference in sense of belonging between urban students and rural student who study in the urban area. 2). 0,677 (p > 0,05) means that the hypothesis is accepted, that there is no difference on sense of belonging

between urban student and rural students who study in the rural area.

(9)

ix

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

Nama : Yulianti Awang NIM : 099114041

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

“Perbedaan Sense Of School Belonging Antara Siswa Kelas Tujuh Yang

Berasal Dari Kota Dan Desa”

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perputakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet dan media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 6 Agustus 2014

Yang menyatakan,

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa yang telah memberikan anugerah dan tuntunan sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul Perbedaan Sense Of School Belonging Antara Siswa Kelas 7 Yang Berasal Dari Kota dan Desa.

Penulisan skripsi ini merupakan tugas akhir sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penelitian ini dapat terselesaikan berkat bantuan, dukungan, saran-saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Dr. Tarsisius Priyo Widiyanto M.Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2. Ibu Ratri Sunar Astuti S.Psi., M.Si., selaku Kaprodi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

3. Ibu MM. Nimas Eki S., S.Psi., Psi., M.Si., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah sabar memberikan bimbingan, kritik dan saran kepada peneliti selama penyusunan skripsi.

4. Bapak Y. Agung Santoso S.Psi., M.A., M.Si selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan saran, arahan dan bimbingan selama peneliti belajar di Universitas Sanata Dharma.

(11)

xi

6. Bapa Oktavianus Dj. T. Awang dan Mama Habrita Logo yang sangat pengertian serta selalu menyayangi dan mendoakan penulis selama menyelesaikan skripsi ini.

7. Adik-adikku sayang (Messy, Jellyn, Janet, & Shania), Ma ope dan tanta nonavaya atas doa dan dukungan bagi penulis selama ini.

8. Gank Buntu (Christi, Keket, Detha dan Steny) dan Ita yang selalu mendukung dan menyemangati penulis selama berkuliah.

9. Kefa crew : Esy, Carla, Copa, Juan, Nita, & Dirk yang sudah menemani dan menghibur penulis selama di Jogja.

10.Tommy yang selalu menyemangati penulis dalam menyelesaikan skripsi. 11.Sahabat-sahabatku: Yenny, Yunny, Erna, Astrela, Ineqe, James, Dyantsa,

yang pernah membantu dan menghibur penulis.

12.Seluruh elemen di SMPK St. Antonius Padua Kefamenanu, SMPN Neonbat Kefamenanu, SMPK Aurora Kefamenanu, dan SMPK Xaverius Putra Kefamenanu atas bantuannya pada penulis dalam pengambilan data penelitian.

13.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu penyelesaian skripsi ini.

Peneliti menyadari dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu peneliti sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun.

Penulis,

(12)

xii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix

(13)

xiii

2. Aspek Sense of Belonging ... 8

3. Faktor yang Mempengaruhi Sense of Belonging ... ...9

B. KARAKTERISTIK DAERAH PERKOTAAN DAN DAERAH PEDESAAN ... 13

1. Daerah Perkotaan ... 13

2. Daerah Pedesaan ... 14

C. KARAKTERISTIK SISWA KOTA DAN SISWA DESA ... 16

1. Siswa Kota ... 16

2. Siswa Desa ... 17

D. REMAJA DALAM MASA TRANSISI DARI SEKOLAH DASAR KE SMP ... 18

E. DINAMIKA ANTAR VARIABEL ... 20

F. HIPOTESIS ... 22

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 23

A. JENIS PENELITIAN ... 23

B. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN ... 23

C. DEFINISI OPERASIONAL ... 23

1. Sense of Belonging ... 23

2. Perbedaan Asal ... 24

D. SUBJEK PENELITIAN ... 24

E. METODE PENGUMPULAN DATA ... 25

F. VALIDITAS DAN RELIABILITAS ... 26

(14)

xiv

2. Reliabilitas ... 27

G. METODE ANALISIS DATA ... 28

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 29

A. PELAKSANAAN PENELITIAN ... 29

B. DATA PENELITIAN ... 30

1. Deskripsi Subjek Penelitian ... 30

2. Deskripsi Data Penelitian ... 30

C. UJI HIPOTESIS 1 ... 32

1. Uji Normalitas ... 32

2. Uji Homogenitas ... 33

3. Uji Mann-Whitney ... 33

D. UJI HIPOTESIS 2 ... 34

1. Uji Normalitas ... 34

2. Uji Homogenitas ... 35

3. Uji t ... 36

E. PEMBAHASAN ... 37

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 40

A. KESIMPULAN ... 40

B. SARAN ... 40

1. Bagi Siswa Desa ... 40

2. Bagi Guru ... 40

(15)

xv

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Skor Berdasarkan Kategori Jawaban... 26

Tabel 4.1 Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Asal Siswa, Lokasi Sekolah dan Jenis Kelamin ... 30

Tabel 4.2 Deskripsi Data Penelitian ... 31

Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Siswa di Perkotaan ... 32

Tabel 4.4 Levene’s Test for Equality of Variances Siswa di Perkotaan ... 33

Tabel 4.5 Uji Mann-Whitney Siswa di Perkotaan ... 34

Tabel 4.6 Hasil Uji Normalitas Siswa di Pedesaan...35

Tabel 4.7 Levene’s Test for Equality of Variances Siswa di Pedesaan ... 36

(17)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran A. Skala Sense of Belonging ... 48

Lampiran B. Uji Normalitas Kelompok Siswa di Perkotaan ... 54

Lampiran C. Uji Levene Kelompok Siswa di Perkotaan... 56

Lampiran D. Uji Mann-Whitney Kelompok Siswa di Perkotaan ... 58

Lampiran E. Uji Normalitas Kelompok Siswa di Pedesaan ... .60

Lampiran F. Uji Levene Kelompok Siswa di Pedesaan ... .62

Lampiran G. Uji t Kelompok Siswa di Pedesaan ... .64

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Siswa kelas tujuh berada pada masa remaja awal yang merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja dan juga bersamaan dengan beralihnya dari tingkat SD ke tingkat SMP. Bersamaan dengan masa transisi ini, banyak masalah dan perubahan dialami oleh remaja antara lain dibidang sosial. Dari bidang sosial, remaja memiliki kebutuhan yang tinggi untuk diterima oleh lingkungan. Menurut Karcher, Holcomb, dan Zambrano (2008), remaja membutuhkan hubungan yang sehat dengan keluarga, teman, lingkungan tempat tinggal dan sekolah. Oleh sebab itu pada masa transisi yang dialami remaja awal, sangat dibutuhkan penerimaan dari lingkungannya.

Sense of belonging adalah perasaan yang dirasakan oleh seseorang

(19)

tahap sekolah yang lain karena pada masa ini para remaja mengalami penurunan dalam motivasi akademik (Anderman 2002).

Beberapa penelitian menunjukan rendahnya sense of belonging di sekolah. Sebuah survei berjudul My Voice National Student Report pada tahun 2012 di Amerika Serikat, menunjukan bahwa sebanyak 25% siswa merasa kurang diterima, 49% siswa merasa kurang dihargai sebagai bagian dari sekolah dan 42% siswa merasa para guru kurang peduli dengan masalah atau perasaan mereka (dalam www. qisa.org). Di Indonesia sebuah penelitian terkait dengan sense of belonging menemukan bahwa sebanyak 24% siswa mengalami school connectedness (sense of belonging) yang rendah (Pattihahuan,2012).

(20)

lingkungan yang baru. Siswa desa yang bersekolah di sekolah kota mengalami penurunan prestasi jika dibandingkan dengan prestasi mereka ketika masih SD di desa. Hasil wawancara menunjukkan bahwa siswa desa mengalami banyak masalah dan merasa kurang diterima di sekolah perkotaan.

Sense of belonging yang dirasakan ternyata berhubungan dengan

asal siswa itu sendiri. Hal ini di karenakan kejadian yang dialami siswa desa tidak dialami oleh siswa kota yang bersekolah di sekolah perkotaan. Siswa kota tidak merasa kaku di sekolah dan cepat mendapat teman. Siswa kota memiliki banyak teman seperti ketika masih di SD. Penilaian siswa kota terhadap perlakuan guru-guru di SMP sama saja dengan perlakuan guru semasa di SD. Mereka merasa lebih nyaman di sekolah dan merasa tidak terlalu asing dengan lingkungan di SMP. Para siswa kota juga mengalami penurunan prestasi ketika berada di SMP namun tidak sebanyak siswa desa.

(21)

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Trickett (1996) menunjukkan bahwa siswa perkotaan memiliki sense of belonging yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa yang berada di pedesaan. Sebaliknya pada penelitian yang dilakukan oleh Anderman (2002) menemukan bahwa sense of belonging pada siswa di perkotaan lebih rendah dari siswa yang berada di pinggiran kota dan pedesaan. Perbedaan penemuan ini membuat peneliti ingin mendalami penelitian sebelumnya dengan meninjau faktor asal siswa serta mengendalikan lokasi sekolah siswa. Hal ini juga diperkuat dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti mengenai perbedaan pendapat antara siswa kota dan dari pinggiran kota atau dari desa tentang sense of belonging di sekolah. Beberapa penelitian lain mengenai sense of belonging telah dilakukan dengan tinjauan dari faktor gender, ras, etnis, umur, ukuran sekolah, dan dukungan dari partner sosial (Akos dan Galassi, 2004; Booker, 2007; Hamm & Faircloth, 2005; Ma, 2003; Witherspoon, Schotland, & Hughes, 2009).

(22)

literatur, sense of belonging merupakan faktor protektif dalam masalah transisi dan dapat membantu menjawab masalah transisi sekolah yang sedang terjadi.

B. RUMUSAN MASALAH

Apakah ada perbedaan sense of belonging antara siswa kota dan siswa desa di sekolah perkotaan dan pedesaan?

C. TUJUAN PENELITIAN

Untuk mengetahui apakah ada perbedaan sense of belonging antara siswa kota dan siswa desa di sekolah perkotaan dan pedesaan.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Dari segi teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam dunia psikologi khususnya dalam bidang Psikologi Pendidikan, mengenai sense of belonging di Indonesia khususnya menyangkut faktor asal siswa dan lokasi sekolah.

(23)

6

BAB II

LANDASAN TEORI

A. SENSE OF BELONGING

1. Pengertian Sense of Belonging

Sense of belonging (Anant dalam Hagerty, Lynch, Patusky,

Bouwsema, & Collier, 1992) berarti keyakinan seseorang bahwa dirinya dirasa penting dalam suatu sistem sosial dan merasa bahwa dirinya diterima serta diakui sebagai anggota dalam suatu kelompok masyarakat. Menurut Goodenow (1993) sense of belonging merupakan perasaan seseorang ketika merasa menjadi bagian dari sebuah kelompok sosial di sekolah dan merasa diterima serta dihargai oleh para anggota kelompok yang lain.

Sense of belonging mengacu pada perasaan ketika siswa merasa

secara personal diterima, dihargai, dilibatkan, dan didukung oleh oranglain di lingkungan sekolah (Goodenow & Grady, 1993). Sense of belonging mempresentasikan persepsi siswa terhadap konteks sosial di

sekolah sehingga sense of belonging merupakan salah satu elemen penting dalam konteks sosial siswa di sekolah maupun dalam kelas. Siswa akan merasa nyaman di sekolah ketika semua elemen di sekolah ikut mendukung.

Sense of belonging diukur secara subjektif memakai fungsi

(24)

mereka dengan sebuah kelompok dan hasil penilaian individu ini akan mempengaruhi respon afektifnya (Hurtado & Carter, 1997). Faircloth dan Hamm (2005) mendefinisikan sense of belonging pada siswa yang berada pada masa remaja sebagai berikut : (1) remaja yang memiliki hubungan yang positif dengan teman sebayadan merasa diakui di dalam sebuah kelompok; (2) remaja yang memiliki hubungan yang positif dengan guru atau orang dewasa lainnya dan mereka merasa dihargai, didukung, dan yakin mereka akan dibantu dalam masa-masa sulit; (3) partisipasi dalam berbagai kegitan ekstrakurikuler, budaya atau olahraga.

Sense of belonging memiliki arti yang sama dengan beberapa istilah seperti school attachment, sense of relatedness, sense of school community, atau school membership (Osterman, 2000). Mouratidis & Sideridis (2009) mendefinisikan sense of school belonging sebagai perasaan siswa saat mengidentifikasi diri mereka dalam sebuah kelompok atau kelas

Dari beberapa definisi di atas, peneliti menyimpulkan bahwa sense of belonging seorang siswa merupakan perasaan siswa ketika

(25)

2. Aspek Sense of Belonging

Goodenow (1993) menyebutkan 4 indikator dalam sense of belonging siswa yaitu:

a. Kesenangan siswa terhadap sekolah.

Perasaan senang dalam diri siswa dengan lingkungan sekolah dan berbagai kegiatan yang ada di sekolah.

b. Persepsi siswa bahwa diterima secara personal dan dilibatkan di sekolah.

Keyakinan dalam diri siswa bahwa dirinya diterima apa adanya oleh seluruh elemen sekolah dan hal itu dinyatakan dengan dllibatkannya siswa dalam berbagai kegiatan di sekolah.

c. Perasaan dihargai dan dorongan untuk berpartisipasi di sekolah. Siswa merasa secara personal dihargai oleh seluruh lingkungan sekolah sehingga membuat siswa terdorong untuk berpartisipasi aktif baik itu di dalam maupun di luar kelas.

d. Perasaan mengenai respon siswa, guru dan staf terhadap keterlibatannya di sekolah.

Perasaan yang timbul dalam diri siswa tentang respon dari orang lain yang berada di sekolah tentang segala keterlibatannya di sekolah baik itu di dalam maupun di luar kelas.

(26)

dalam penelitian ini. Hal ini dikarenakan peneliti lain juga memakai skala ini dalam meneliti sense of belonging siswa.

3. Faktor-faktor Sense Of Belonging

Berdasarkan berbagai sumber yang didapatkan peneliti, peneliti mencoba memetakan faktor-faktor yang mempengaruhi sense of belonging menurut beberapa ahli ke dalam dua faktor 2 yaitu:

a. Faktor internal

Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu yang dapat mempengaruhi sense of belonging seseorang. Dari beberapa hasil penelitian peneliti menyimpulkan beberapa faktor yang dikelompokan menjadi faktor internal yang meliputi: harga diri siswa, kesehatan siswa, penyesuaian diri, pengalaman emosional di kelas dan konsep diri (Anderman 2002; Ma, 2003; Kia & Ellis, 2007; Singh, Chang, dan Dika, 2010; Skinner dan Furrer, 2003).

1) Harga diri siswa

(27)

2) Kesehatan siswa

Siswa yang memiliki kesehatan baik fisik maupun psikis yang yang baik cenderung akan memiliki sense of belonging yang tinggi di sekolah jika dibandingkan dengan siswa yang kurang sehat baik dari segi fisik maupun psikologis (Ma, 2003).

3) Penyesuaian diri

Siswa yang dapat menyesuaikan diri dengan baik di sekolah akan memiliki sense of belonging yang tinggi di sekolah. Sedangkan siswa yang kurang bisa menyesuaikan diri di sekolah cenderung memiliki sense of belonging yang rendah di sekolah (Kia & Ellis, 2007)

4) Pengalaman emosional di kelas

Disimpulkan bahwa siswa yang pernah memiliki pengalaman emosional yang positif di kelas sebelumya cenderung akan memiliki sense of belonging yang tinggi di kelas selanjutnya. Sebaliknya siswa yang pernah memiliki pengalaman emosional yang negatif di kelas sebelumnya, cenderung akan memiliki sense of belonging yang rendah di kelas-kelas berikutnya (Skinner & Furrer, 2003).

5) Konsep diri

(28)

jika dibandingkan dengan siswa dengan konsep diri yang buruk cenderung memiliki sense of belonging yang rendah di sekolah (Singh, Chang, dan Dika, 2010).

b. Faktor eksternal

Faktor eksternal individu adalah faktor-faktor penyebab yang berasal dari luar individu. Dari beberapa hasil penelitian peneliti menyimpulkan beberapa faktor yang dikelompokan menjadi faktor eksternal meliputi prestasi akademik, grade, lokasi sekolah, dukungan keluarga, penerimaan sosial (teman sebaya, guru dan staf di sekolah), iklim sekolah, dan status sosial ekonomi (Anderman 2002; Ma, 2003; Sari, 2012; Singh, Chang, dan Dika, 2010; Skinner dan Furrer, 2003).

1) Prestasi akademik

Siswa dengan prestasi akademik yang tinggi cenderung memiliki sense of belonging yang tinggi di sekolah jika dibandingkan dengan siswa yang memiliki prestasi akademik yang rendah cenderung memiliki sense of belonging yang rendah di sekolah (Anderman, 2002).

2) Grade

(29)

tingkatan yang lebih rendah di sekolah cenderung memiliki sense of belonging yang lebih rendah (Anderman, 2002).

3) Lokasi sekolah

Siswa yang bersekolah di lokasi seperti pusat kota cenderung memiliki sense of belonging yang lebih tinggi di sekolah.Di sisi lain siswa yang bersekolah di lokasi seperti pinggiran kota atau desa cenderung memiliki sense of belonging yang lebih rendah (Trickett, 1978).

4) Dukungan keluarga

Siswa yang didukung oleh keluarga dalam setiap aktivitasnya cenderung memiliki sense of belonging yang tinggi. Sebaliknya, siswa yang kurang didukung oleh keluarga cenderung memiliki sense of belonging yang rendah (Singh, Chang, dan Dika, 2010).

5) Penerimaan sosial (teman sebaya, guru dan staf di sekolah) Siswa yang diterima oleh teman sebaya, guru dan staf di sekolah cenderung memiliki sense of belonging yang tinggi, jika dibandingkan dengan siswa yang kurang diterima teman sebaya, guru dan staf di sekolah, cenderung memiliki sense of belonging yang rendah (Ma, 2003). 6) Iklim sekolah

(30)

itu, iklim sekolah yang kurang suportif akan menumbuhkan sense of belonging yang rendah juga pada diri siswa (Ma,

2003).

7) Status sosial ekonomi

Disimpulkan bahwa siswa yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi yang tinggi cenderung memiliki sense of belonging yang tinggi di sekolah, jika dibandingkan dengan siswa yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi yang rendah cenderung memiliki sense of belonging yang rendah di sekolah (Sari, 2012).

Jadi, faktor-faktor yang mempengaruhi sense of belonging dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor internal

dan faktor eksternal.

B. KARAKTERISTIK PERKOTAAN DAN PEDESAAN 1. Daerah Perkotaan

(31)

Menurut Rahayu, Lestari, & Maryadi (2009) istilah kota juga sering disebut dengan urban, city (pusat kota), town (kabupaten), dan township (kota kecamatan). Secara fisik, kota harus menyediakan berbagai

macam fasilitas yang lengkap, seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, pusat bisnis, rekreasi, dan olahraga. Hal ini berdampak pada sifat-sifat kehidupan masyarakat kota. Beberapa sifat masyarakat perkotaan yaitu hubungan sosial antarwarga bersifat sementara dan formal serta adanya heterogenitas sosial. Kemudian sikap hidup penduduk perkotaan bersifat egois dan individualistik dan rumah-rumah penduduk yang memisah atau berkompleks. Selain itu norma keagamaan di perkotaan kurang ketat seperti di desa dan pandangan hidup masyarakat kota lebih rasional.

Dari paparan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa daerah perkotaan mempunyai beberapa karakteristik seperti penduduknya minimal berjumlah 20.000 jiwa, masyarakatnya sangat heterogen, hubungan sosial di perkotaan sangat individualis, tersedianya berbagai fasilitas yang sangat lengkap dan kemajuan teknologi yang pesat.

2. Daerah pedesaan

(32)

Di Indonesia, penjelasan desa secara administratif dituangkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 1999 (dalam Rahayu, Lestari, & Maryadi, 2009 ), desa adalah wilayah dengan pertanian menjadi kegiatan utama masyarakat kesatuan dan masyarakat hukum yang mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di dalam daerah kabupaten. Jumlah penduduk di desa tidak lebih dari 20.000 jiwa.

Desa memiliki tata ruang yang lebih sederhan dan secara fisik desa tidak menyediakan berbagai fasilitas yang lengkap seperti di perkotaan. Oleh sebab itu berdampak pada sifat-sifat kehidupan masyarakat desa yaitu hubungan sosial antar warga lebih akrab dan berlangsung lama karena lebih homogen. Kemudian sikap hidup penduduk pedesaan bersifat kekeluargaan dan tidak individualistis.

(33)

menjadi mata pencaharian utama dan mendominasi di daerah pedesaan. Fasilitas umum di pedesaan tidak selengkap dan semaju di daerah perkotaan.

C. KARAKTERISTIK SISWA KOTA DAN SISWA DESA 1. Siswa Kota

Remaja kota telah terbiasa dengan stratifikasi sosial yang tajam, dan terbiasa untuk berjuang dengan kemampuannya sendiri. Hal ini disebabkan oleh lingkungan perkotaan yang mempunyai penduduk yang heterogen sehingga menciptakan persaingan diantara para penduduk (Soekanto, 2006).

Pengaruh dari status sosial ekonomi siswa kota yang berada pada level menengah ke atas membuat siswa kota cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi dari remaja desa (Breen & Quaglia dalam Bajema, Miller, & Williams, 2002). Kemudian remaja kota memiliki harga diri yang lebih tinggi dan penyesuaian diri yang lebih baik di sekolah (Acharya & Deshmukh, 2012; Venkateshaiah & Sampath, 2013).

(34)

2. Siswa Desa

Remaja desa lebih terbiasa dengan kesederhanaan dan sifat kekeluargaan. Hal ini disebabkan oleh lingkungan pedesaan yang mempunyai penduduk yang homogen dan lebih mementingkan kepentingan bersama. Remaja desa terbiasa dengan aspek-aspek kehidupan yang relatif seragam seperti kelas ekonomi, bahasa, pekerjaan, dan sistem kekerabatan yang erat sehingga remaja desa cenderung hidup tanpa beban tanpa merasa ada persaingan (Soekanto, 2006).

Status sosial ekonomi yang rendah pada siswa desa membuat siswa desa cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah dari siswa kota ( Breen & Quaglia dalam Bajema, Miller, & Williams, 2002; Fan & Chen, 1999). Selain itu siswa desa juga memiliki harga diri dan penyesuaian diri yang kurang baik dari siswa kota (Acharya & Deshmukh, 2012; Venkateshaiah & Sampath, 2013).

Siswa yang berasal dari pedesaan terbiasa dengan ukuran sekolah yang kecil dan homogen (Bouck, 2004). Selain itu siswa desa lebih tertinggal dalam kemajuan teknologi yang merupakan salah satu sumber belajar bila dibandingkan dengan siswa kota (Fan & Chen, 1999).

(35)

kepercayaan diri yang lebih tinggi,dan harga diri lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa desa (Acharya & Deshmukh, 2012; Breen & Quaglia dalam Bajema, Miller, & Williams, 2002; Venkateshaiah & Sampath, 2013). Sementara itu siswa yang berasal dari desa terbiasa dengan ukuran sekolah yang kecil, lingkungan yang cenderung homogen, sistem kekeluargaan yang sangat erat, dan penduduk yang mayoritasberstatus sosial ekonomi yang rendah (Bouck,2 004; Fan & Chen, 1999). Selain itu siswa desa lebih tertinggal dalam kemajuan teknologi yang merupakan salah satu sumber belajar bila dibandingkan dengan siswa kota (Fan & Chen, 1999).

D. Remaja dalam Masa Transisi Dari Sekolah Dasar (SD) ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa, meliputi semua perkembangan yang dialami sebagau persiapan memasuki masa dewasa (Gunarsa, 1988). Dalam Papalia, Old, & Feldman (2008) menjelaskan bahwa masa remaja merupakan transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang mengandung perubahan besar fisik, kognitif, dan psikososial. Usia remaja awal berlangsung antara umur 11 atau 12 sampai 14 tahun dan usia remaja akhir berkisar dari 15 tahun sampai usia 20 tahun.

(36)

dibutuhkan oleh para remaja awal adalah keinginan untuk diterima oleh masyarakat baik itu orang dewasa maupun teman sebaya.Para remaja sangat ingin mengalami penerimaan dari orang lain dan tidak suka jika mengalami penolakan. Diterima atau tidaknya seorang remaja akan mempengaruhi tingkah lakunya (Soesilowindradini, 1982).

Menurut Soesilowindradini (1982) para remaja akan diterima oleh lingkungan jika seorang remaja dipandang sebagai pribadi yang aktif, dapat membantu sesama, bersikap sopan, dapat dipercaya, dan bisa menahan emosi negatif. Selain itu remaja yang memiliki fisik yang menarik dan rapi, selalu menaati peraturan serta mampu menjalankan kewajiban yang diemban, dan kemampuan untuk dapat menyesuaikan diri dalam berbagai situasi dengan baik juga bisa dengan mudah diterima oleh lingkungan sekitar.

(37)

kurang hangat dikarenakan guru semakin banyak dan beragam (Schunk, Pintrich, & Meece, 2008).

E. Perbedaan Sense Of Belonging Antara Siswa Yang Berasal dari Perkotaan dan Siswa Yang Berasal dari Pedesaan

Siswa yang berasal dari perkotaan dan pedesaan memiliki karakteristik yang berbeda sehingga dapat memperngaruhi sense of belonging yang tumbuh dalam diri siswa. Peneliti berasumsi bahwa antara

siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di sekolahperkotaan memiliki sense of belonging yang berbeda. Namun antara siswa kota dan siswa desa

yang bersekolah di sekolah pedesaan tidak memiliki sense of belonging yang berbeda.

(38)

(Soesilowindradini, 1982). Menurut Karcher, Holcomb, dan Zambrano (2008), remaja membutuhkan hubungan yang sehat dengan keluarga, teman, lingkungan tempat tinggal dan sekolah. Siswa sangat ingin diterima oleh semua masyarakat dimana saja dirinya berada. Oleh sebab itu siswa desa yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah merasa kurang diterima di lingkungan perkotaan yang bersifat individual dan heterogen (Breen & Quaglia dalam Bajema, Miller, & Williams, 2002).

Siswa kota memiliki kemampuan menyesuaikan diri yang lebih baik dari siswa desa (Venkateshaiah & Sampath, 2013). Kemampuan inilah yang mempengaruhi sense of belonging dalam diri siswa kota tidak berbeda dengan siswa desa walaupun siswa kota pergi bersekolah ke sekolah pedesaan. Tingkat kepercayaan diri siswa kota yang lebih tinggi dari siswa desa membuat siswa kota tidak merasa minder dengan siswa desa di pedesaan (Breen & Quaglia dalam Bajema, Miller, & Williams, 2002). Selain itu siswa kota telah terbiasa dengan ukuran sekolah yang besar, kemajuan teknologi, lingkungan penduduk yang heterogen, dan status sosial ekonomi yang berada pada level menengah keatas (Bouck, 2004; Fan & Chen, 1999). Siswa kota juga memiliki harga diri yang lebih tinggi dari siswa yang berasal dari desa sehingga membuat siswa kota mampu menghadapi persaingan yang ketat dalam lingkungannya (Acharya & Deshmukh, 2012). Hal-hal di atas mempengaruhi tidak adanya perbedaan sense of belonging yang dirasakan oleh siswa kota dengan siswa desa yang

(39)

F. Hipotesis

a. Ada perbedaan sense of belonging antara siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di perkotaan.

(40)

23

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif komparasi. Penelitian komparasi atau perbandingan adalah penelitian yang menitikberatkan pada subjek penelitian dan membandingkan variabel yang diteliti pada kelompok subjek yang diperbandingkan (Arikunto, 2006). Berdasarkan pengertian tersebut, peneltian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sense of belonging terhadap sekolahantara siswa kota dan siswa desa.

B. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN

Variabel merupakan objek peneltian yang diperhatikan dan penting dalam penelitian (Arikunto, 2006). Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Variabel bebas : siswa kota dan siswa desa atau asal siswa. 2. Variabel tergantung : sense of belonging.

C. DEFINISI OPERASIONAL 1. Variabel Tergantung

Sense of belonging terhadap sekolah merupakan perasaan siswa

(41)

oleh seluruh elemen di sekolah yang akan berimbas pada keterlibatan secara aktif di sekolah.

Sense of belonging diukur dengan skala Psychological Sense of School Membership (PSSM)yang disusun oleh Goodenow (1993) dan

kemudian diadaptasi oleh peneliti.

Hasil dari skala ini menunjukkan tingkat sense of belonging siswa di sekolah. Semakin tinggi skor yang diperoleh dari skala sense of belonging berarti semakin tinggi pula sense of belonging yang dimiliki siswa di sekolah dan sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh dari skala sense of belonging berarti semakin rendah pula sense of belonging yang dimiliki siswa di sekolah.

2. Variabel Bebas

Perbedaan asal siswa merupakan pengkategorian berdasarkan asal siswa yang berada dalam sebuah sekolah yang sama, untuk membedakan siswa yang berasal dari perkotaan dan siswa yang berasal dari pedesaan. Untuk mendapatkan informasi mengenai asal siswa ini, peneliti membuat pertanyaan dalam skala penelitian tentang asal SD dan alamat tempat tinggal siswa.

D. Subjek Penelitian

(42)

representatif atau dapat menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya (Arikunto, 2006).

Teknik pengambilan subyek menggunakan metode purposive sampling yaitu mengambil subyek dengan kriteria tertentu. Subjek penelitian ini adalah siswa dan siswi yang berasal dari daerah perkotaan dan pedesaan. Subjek penelitian dibagi menjadi empat kelompok yaitu kelompok siswa kota yang bersekolah di perkotaan dan pedesaan dan kelompok siswa desa yang bersekolah di daerah perkotaan dan pedesaan. Kelompok-kelompok ini dibandingkan sense of belonging yang dirasakan di sekolah. Adapun kriteria pemilihan subyek dalam penelitian ini berdasarkan tingkat pendidikan dan asal. Subjek adalah siswa-siswi yang duduk di kelas 7 SMP yang berasal dari daerah perkotaan dan pedesaan. E. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah skala. Skala adalah alat ukur psikologi yang dapat mengungkap atribut tertentu (Azwar, 2010). Peneliti mengadaptasi skalaPsychological Sense of School Membership (PSSM) yang disusun oleh Goodenow (1993)

untuk mengukur sense of belonging siswa.

(43)

Pemberian skor skala pada skala sense of belonging, pada item favorable bergerak dari skor 5 sampai 1. Sementara pada item unfavorable skor bergerak dari 1 sampai 5. Pemberian skor tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3. 1

Skor berdasarkan Kategori Jawaban.

F. Validitas, Reliabilitas, dan Seleksi Item. 1. Validitas

Validitas diartikan sebagai ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tes tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud yang dilakukannya pengukuran tersebut, sebaliknya tes yang menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran dikatakan sebagai tes yang memiliki validitas yang rendah (Azwar, 2011).

Kategori Jawaban Pertanyaan

Favorable Unfavorable

1 5 1

2 4 2

3 3 3

4 2 4

(44)

Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Pengujian validitas ini dilakukan dengan menggunakan metode professional judgement, yaitu dosen pembimbing skripsi untuk melihat kesesuaian isi item dengan indikator-indikator variabel dalam skala pengukuran(Azwar, 2011).

Skala ini diterjemahkan dengan metode Back-Translation oleh empat orang sarjana Bahasa Inggris. Metode Back-translation ini melibatkan para translator yang bukan dalam bidang psikologi. Seorang translator menerjemahkan skala asli yang berbahasa inggris ke bahasa Indonesia dan hasilnya diterjemahkan lagi oleh seorang translator ke dalam bahasa Inggris. Kemudian karena hasil terjemahan di rasa kurang memuaskan, peneliti meminta bantuan lagi pada dua translator berbeda dari yang sebelumnya untuk menterjemahkan lagi ke dalam bahasa Inggris kemudian ke bahasa Indonesia lagi. Hal ini dilakukan agar item-item hasil terjemahan yang didapatkan bisa sesuai dengan makna dari skala asli yang dibuat oleh Goodenow. Akhirnya item-item hasil terjemahan dipilih dan dipertimbangkan oleh Professional judgment yang adalah dosen pembimbing penelitian ini.

2. Reliabilitas

(45)

akan relatif sama selama apek yang diukur pada subjek belum berubah (Azwar, 2011).

Batasan koefisien reliabilitas berada dalam rentang angka 0 hingga 1,00 sehingga pengukuran yang mencapai koefisien reliabilitas mendekati 1,00 merupakan pengukuran yang semakin reliabel. Untuk menilai apakah skala sense of belonging yang disusun peneliti merupakan skala yang variabel maka peneliti menguji skala sense of belonging tersebut dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach yang

dihitung melalui SPSS 16.0for Windows. Variabel dikatakan reliabel jika nilai alphanya lebih dari 0,6. Setelah dihitung dengan teknik tersebut didapatkan koefisien sebesar 0,676yang berarti bahwa skala sense of belonging yang disusun peneliti bersifat reliabel atau dapat

dipercaya.

G. Metode Analisa Data

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sense of belonging antara siswa kelas 7 yang berasal dari perkotaan dan yang

berasal dari pedesaan. Oleh karena itu, metode analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah uji t dengan menggunakan Independent Sampel t-testdan Mann-Whitney Two Independent Sample

Testdengan bantuan SPSS 16.0 for Windows.

(46)

29

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. PELAKSANAAN PENELITIAN

Pengambilan data pada penelitian ini kurang lebih dilakukan selama empat hari, sejak tanggal 24 Januari 2014 sampai dengan 27 Januari 2014. Waktu pengambilan data termasuk cepat karena pihak sekolah tidak keberatan dengan waktu yang diajukan oleh peneliti.

Subjek penelitian adalah siswa kelas tujuh SMP, baik perempuan maupun laki-laki, berasal dari kota dan dari desa. Subjek yang dijadikan sampel dalam penelitian ini berasal dari beberapa sekolah yang berada di Kefamenanu antara lain SMPK St. Antonius Padua Kefamenanu, SMPN Neonbat Kefamenanu, SMPK Aurora Kefamenanu, dan SMPK Xaverius Putra Kefamenanu. Peneliti mengelompokkan SMPK Aurora Kefamenanu danSMPK Xaverius Putra Kefamenanu sebagai sekolah yang berada di daerah perkotaan. Kemudian SMPK St. Antonius Padua Kefamenanu dan SMPN Neonbat Kefamenanu dikelompokkan sebagai sekolah yang berada di daerah pedesaan.

(47)

Dalam penelitian ini peneliti mendapat 410 subjek yang terdiri dari 110 siswa kota yang bersekolah di perkotaan dan 100 siswa kota yang bersekolah di pedesaan. Kemudian 100 siswa desa yang bersekolah di perkotaan dan 100 siswa desa yang bersekolah di pedesaan.

B. DATA PENELITIAN

1. Deskripsi Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini terdiri dari siswa-siswi yang berasal dari desa dan dari kota. Berikut tabel deskripsi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin.

Tabel 4.1

Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Asal Siswa, Lokasi Sekolah Dan Jenis Kelamin.

2. Deskripsi Data Penelitian

Berikut ini adalah deskripsi data penelitian yang berfungsi untuk melihat data secara umum:

Asal Siswa Lokasi Sekolah Jenis Kelamin Total Perempuan Laki-laki

Kota Perkotaan 38 72 110

Desa Perkotaan 56 44 100

Kota Pedesaan 43 57 100

(48)

Tabel 4.2

(49)

C. UJI HIPOTESIS 1 1. Uji Normalitas

Asumsi dalam uji normalitas adalah jika p > 0,05 maka kesimpulannya adalah hipotesis nol diterima, dengan kata lain sebaran data yang diuji mengikuti distribusi normal.Uji normalitas dalam penelitian ini dihitung menggunakan SPSS 16.0 for windows dengan teknik One-sample Kolmogorov-Smirnov Test. Asymp.Sig. (2-tailed) merupakan nilai p yang dihasilkan dari uji hipotesis nol yang berbunyi tidak ada perbedaan antara distribusi data yang diuji dengan distribusi data normal.

Tabel 4.3

Hasil Uji Normalitas Siswa Kota dan Siswa Desa Yang Bersekolah Di Perkotaan

Asal Lokasi N Assymp. Sig. (2-tailed) p >0,05

Keterangan

Siswa kota Perkotaan 110 0,403 Normal Siswa desa Perkotaan 100 0,248 Normal

(50)

2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk menguji apakah varians dari setiap sampel relatif sama atau tidak. Suatu data penelitian dikatakan homogen jika p dari nilai F lebih besar dari 0,05 ( p > 0,05). Uji homogenitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode analisis uji Levene.

Tabel 4.4

Levene’s Test for Equality of Variances siswa kota dan siswa

desa yang bersekolah di perkotaan.

Uji Levene menunjukkan nilai pobabilitas sebesar 0,023 atau berada di bawah probabilitas 0,05. Nilai ini menunjukkan bahwa varians dalam populasi data penelitian tidak sama dan tidak memenuhi asumsi homogenitas.

3. Uji Mann-Whitney

Uji Mann-Whitney diterapkan pada kelompok siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di perkotaan karena sebaran data kedua kelompok ini tidak memiliki varian yang sama. Pengujian hipotesis dilakukan dengan Mann-Whitney Two Independent Sample Test dengan bantuan SPSS 16.0 for windows. Hipotesis

Levene’s Test for Equality of Variances

F Signifikansi

(51)

yang diajukan adalah ada perbedaan sense of belonging siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di perkotaan.

Tabel 4.5

Hasil Mann-Whitney Sense of belonging siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di perkotaan

Hasil uji Mann-Whitney menunjukan kelompok siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di perkotaan memperoleh p = 0,005 (signifikan). Hal ini membuktikan hipotesis bahwa ada perbedaan sense of belonging yang signifikan antara siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di perkotaan.

D. UJI HIPOTESIS 2 1. Uji Normalitas

Asumsi dalam uji normalitas adalah jika p > 0,05 maka sebaran data yang diuji mengikuti distribusi normal. Uji normalitas

Asal Lokasi N Mean

Perkotaan 110 115.88 12747,00

(52)

dalam penelitian ini dihitung menggunakan SPSS 16.0 for windows dengan teknik One-sample Kolmogorov-Smirnov Test. Asymp.Sig. (2-tailed).

Tabel 4.6

Hasil Uji Normalitas siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di pedesaan.

Berdasarkan hasil uji normalitas di atas, sebaran data dikatakan normal karena nilai Asymp.Sig (2-tailed) untuk skor skala sense of belonging dari masing-masing kelompok lebih dari 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol diterima atau dengan kata lain memiliki distribusi normal.

2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji Levene.

Asal Lokasi N Assymp. Sig. (2-tailed) p >0,05

(53)

Tabel 4.7

Levene’s Test for Equality of Variances siswa kota dan siswa desa

yang bersekolah di pedesaan.

Uji Levene menunjukkan nilai pobabilitas sebesar 0,571 atau berada di atas probabilitas 0,05. Nilai ini menunjukkan bahwa varians dalam populasi data penelitian sama dan memenuhi asumsi homogenitas.

3. Uji t

Dengan hasil uji homogenitas yang signifikan pada kelompok siswa di sekolah perkotaan maka digunakan uji beda Independent Sample t-Test dengan bantuan SPSS 16.0 for windows. Hipotesis dalam penelitian ini adalah tidak ada perbedaan sense of belonging antara siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di

pedesaan.

Levene’s Test for Equality of Variances

F Signifikansi

(54)

Tabel 4.8

Hasil uji-t Sense of belonging siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di pedesaan.

Uji t atas kelompok siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di pedesaan menghasilkan p = 0,677 > 0,05, hasil ini menunjukan perbedaan yang tidak signifikan. Dengan demikian, hipotesis diterima bahwa tidak ada perbedaan sense of belonging yang signifikan antara siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di pedesaan.

E. PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan melihat perbedaan sense of belonging pada siswa kelas tujuh yang berasal dari kota dan dari desa. Uji hipotesis pertama menunjukan perbedaan sense of belonging yang signifikan antara siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di sekolah perkotaan dengan nilai p = 0,005 (p < 0,05). Uji hipotesis kedua menunjukan tidak adanya perbedaan sense of belonging yang signifikan antara siswa kota dan siswa

(55)

desa yang bersekolah di sekolah pedesaan dengan nilai p = 0,677 ( p > 0,05).

Perbedaan sense of belonging antara siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di perkotaan dikarenakan siswa desa kurang memiliki kemampuan penyesuaian diri (Venkateshaiah & Sampath, 2013). Dari hasil wawancara dan pre liminary survei yang dilakukan pada beberapa siswa dan guru diperoleh informasi bahwa para siswa desa memang kurang mendapat perhatian dari guru maupun siswa kota. Hal ini mempengaruhi siswa desa dalam beradaptasi di sekolah. Selain itu ketika masa orientasi siswa di sekolah, tidak diselenggarakan kegiatan khusus yang ditujukan untuk siswa yang berasal dari desa atau dari daerah lain untuk lebih mengenal lingkungan sekolah. Kegiatan serupa membantu siswa desa untuk lebih beradaptasi di sekolah. Para siswa kota lebih memilih untuk berteman dengan siswa kota sendiri yang merupakan teman mereka sejak SD ketimbang berteman dengan siswa yang berasal dari desa. Pemilihan teman tersebut membuat siswa desa yang bersekolah di perkotaan susah mendapat teman dan merasa kurang nyaman di sekolah.

(56)

dan sistem kekerabatan yang erat (Soekanto, 2006). Perbedaan lingkungan ini mempengaruhi siswa desa dalam beradaptasi di lingkungan perkotaan.

Sense of belonging siswa desa yang sekolah di sekolah pedesaan

tidak berbeda dengan siswa kota yang bersekolah di pedesaan. Hal ini dikarenakan siswa desa tetap berada dalam lingkungan mereka sendiri sehingga mereka tidak perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sementara itu siswa kota yang memiliki kemampuan penyesuaian diri yang lebih baik daripada siswa desa membuat mereka mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan pedesaan (Venkateshaiah & Sampath, 2013). Kemampuan penyesuaian diri mempengaruhi sense of belonging pada siswa kota yang bersekolah di pedesaan sehingga sense of

belonging mereka menjadi tidak berbeda dengan sense of belonging siswa

(57)

40

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan 1) ada perbedaan sense of belonging yang signifikan antara siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di sekolah perkotaan (Hasil hitung p = 0,005; tingkat signifikansi p < 0,05); 2) tidak ada perbedaan sense of belonging yang signifikan antara siswa kota dan siswa desa yang bersekolah di sekolah pedesaan (Hasil hitung p = 0,677; tingkat signifikansi p < 0,05).

B. SARAN

Berikut adalah saran yang dapat diajukan: 1. Bagi Siswa Desa

Siswa desa yang bersekolah di perkotaan disarankan meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan agar bisa menumbuhkan sense of belonging, dengan cara antara lain mempelajari kebiasaan hidup orang di perkotaan dan mengubah pola pikir yang negatif tentang kehidupan perkotaan.

2. Bagi Guru

(58)

bimbingan konseling disarankan lebih berdiskusi dengan siswa desa untuk mencari tahu dan membantu mengatasi kendala-kendala yang di alami siswa desa di sekolah.

3. Bagi Orangtua

Orangtua siswa desa disarankan membantu anak untuk mengembangkan rasa percaya diri pada anak agar tidak merasa rendah diri di lingkungan masyarakat. Cara untuk membangun rasa percaya diri anak antara lain adalah memberi apresiasi pada hasil karya anak dan lebih bersikap demokratis pada anak.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Dalam penelitian ini peneliti hanya melakukan wawancara dan pre liminary survei pada siswa desa dan siswa kota di sekolah

(59)

42

DAFTAR PUSTAKA

Acharya, P. B., & Deshmukh, M. R. S. (2012). Self-Esteem and Academic Achievement Of Secondary School Students. International Referred Research Journal, 3(29), 20.

Akos, P., & Galassi, J. P. (2004). Gender And Race As Variables In Psychosocial Adjustment To Middle And High School. The Journal Of Educational Research, 98(2), 102-108.

Anderman, E. M. (2002). School Effects On Psychological Outcomes During Adolescence. Journal Of Educational Psychology, 94(4), 795-809. Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, S. (2010). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Azwar, S. (2011). Reliabilitas Dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Bajema, D. H., Miller, W. W., & Williams, D. L. (2002). Aspirations Of Rural Youth. Journal Of Agricultural Education, 43(3), 61-71.

Bouck, E. C. (2004). How Size And Setting Impact Education In Rural Schools. Rural Educator, 25(3), 38-42.

Booker, K. C. (2007). Likeness, Comfort, And Tolerance: Examining African

American Adolescents’ Sense Of School Belonging. The Urban Review, 39(3), 301-317.

Faircloth, B. S., & Hamm, J. V. (2005). Sense Of Belonging Among High School Students Representing 4 Ethnic Groups. Journal Of Youth And Adolescence, 34(4), 293-309.

Fan, X., & Chen, M. J. (1999). Academic Achievement Of Rural School Students: A Multi-Year Comparison With Their Peers In Suburban And Urban Schools. Journal Of Research In Rural Education, 15(1), 31-46. Goodenow, C. (1993). The Psychological Sense Of School Membership Among

(60)

Goodenow, C., & Grady, K. E. (1993). The Relationship Of School Belonging And Friends' Values To Academic Motivation Among Urban Adolescent Students. The Journal Of Experimental Education, 62(1), 60-71.

Gunarsa, S. D. (1989). Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Jakarta: Bpk Gunung Mulia.

Hagborg, W. J. (1994). An Exploration Of School Membership Among Middle-And High-School Students. Journal Of Psychoeducational Assessment, 12(4), 312-323.

Hagerty, B. M., Lynch-Sauer, J., Patusky, K. L., Bouwsema, M., & Collier, P. (1992). Sense Of Belonging: A Vital Mental Health Concept. Archives Of Psychiatric Nursing, 6(3), 172-177.

Hoffman, M., Richmond, J., Morrow, J., & Salamone, K. (2002). Investigating" Sense Of Belonging" In First-Year College Students. Journal Of College Student Retention: Research, Theory And Practice, 4(3), 227-256.

Hurtado,S., & Carter, D. F. (1997). Effects Of College Transition And Perceptions Of The Campus Racial Climate On Latino College Students' Sense Of Belonging. Sociology Of Education, 324-345.

Karcher, M. J., Holcomb, M., & Zambrano, E. (2008). Measuring Adolescent Connectedness: A Guide For School-Based Assessment And Program Evaluation. Handbook Of School Counseling, 649-669.

Kia-Keating, M., & Ellis, B. H. (2007). Belonging And Connection To School In Resettlement: Young Refugees, School Belonging, And Psychosocial Adjustment. Clinical Child Psychology And Psychiatry, 12(1), 29-43.

Li, S. (2010). An Investigation On Moving Rural Secondary Schools To Town In New Countryside Construction: Taking Ling County In Shandong Province As An Example. International Education Studies, 3(3), 175-178.

(61)

Mouratidis, A. A., & Sideridis, G. D. (2009). On Social Achievement Goals: Their Relations With Peer Acceptance, Classroom Belongingness, And Perceptions Of Loneliness. The Journal Of Experimental Education, 77(3), 285-308.

Osterman, K. F. (2000). Students' Need For Belonging In The School Community. Review Of Educational Research, 70(3), 323-367.

Papalia, D. E., Old, S. W., Feldman, R. D. (2008). Human Development (Psikologi Perkembangan). Jakarta: Kencana (Prenada Media Group). Pattihahuan, R.M. (2012). School Connectedness Dan Dukungan Sosial Teman

Sebaya Sebagai Prediktor Subjective Well-Being Siswa Sma Negeri 1 Ambon (Doctoral Dissertation, Magister Sains Psikologi Program Pascasarjana Uksw).

Quaglia Institute for Student Aspirations. (2013). My Voice national student report (grades6–12). Dipungut 10 Oktober, 2013,dari

http://www.qisa.org/publications/docs/MyVoiceNationalStudentRepor t%286-12%292010.pdf

Rahayu, S., Lestari, E., Maryadi. 2009. Nuansa Geografi : Untuk Sma / Ma Kelas Xii. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Santrock, J. W. (2002). Live-Span Devlopment. Jakarta: Erlangga.

Sari, M. (2012). Sense Of School Belonging Among Elementary School Students. Cukurova University Faculty Of Education Journal, 41(1), 1-11.

Schunk, D., Pintrich, P.,Meece, J. (2008). Motivation In Education : Theory, Research, And Applications. Ohio: Pearson Merrill Prentice Hall.

Singh, K., Chang, M., & Dika, S. (2010). Ethnicity, Self-Concept, And School Belonging: Effects On School Engagement. Educational Research For Policy And Practice, 9(3), 159-175.

Skinner, E. & Furrer, C. (2003). Sense Of Relatedness As A Factor In Children's Academic Engagement And Performance. Journal Of Educational Psychology, 95(1), 148-162.

Soekanto, S.(2006). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali Pers.

(62)

Trickett, E.J. (1978). Toward A Social –Ecological Conception Of Adolescent Socialization: Normative Data On Contrasting Types Of Public School Classrooms. Child Development, 49, 408-414.

Venkateshaiah., & Sampath, K. (2013). Assessment Of Adjustment Of Rural And Urban Student Of Sc/St And Others. ( Asian Journal Of Development Matters No. 7) Abstrak Dipungut 18 Mei, 2014, Dari Http://Www.Indianjournals.Com/Ijor.Aspx?Target=Ijor:Ajdm&Volu me=7&Issue=1&Article=011.

(63)
(64)

LAMPIRAN A

SKALA PENELITIAN SENSE OF

(65)

LAMPIRAN A

SKALA SENSE OF BELONGING

INFORMASI PENELITIAN

Saya adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2009. Saya sedang meneliti mengenai Sense Of Belonging, dalam rangka menyelesaikan tugas akhir (skripsi). Saya akan membagikan skala yang berisi pernyataan berkaitan dengan tema penelitian saya. Teman-teman diminta untuk memberikan jawaban terhadap pernyataan dengan cara memilih jawaban yang telah disediakan. Saya berharap teman-teman dapat memberikan jawaban yang sejujur-jujurnya sesuai dengan apa yang dialami dan dirasakan teman-teman.

Hasil dari penelitian ini akan digunakan untuk kepentingan akademik saya dan dipublikasikan dalam bentuk data hasil penelitian. Oleh karena itu, saya menjamin kerahasiaan segala informasi yang teman-teman berikan dalam skala ini. Atas perhatian dan bantuan teman-teman, saya mengucapkan banyak terima kasih.

Yogyakarta, 15 Januari 2014

Hormat Saya,

(66)

IDENTITAS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian ini. Saya juga menyatakan bahwa keterlibatan saya bersifat sukarela tanpa paksaan dari pihak manapun.

Nama :

Usia : tahun

Jenis Kelamin :

Nama SMP :

Asal SD :

Alamat :

Yogyakarta, Januari 2014

(67)

PETUNJUK

1. Skala ini berjumlah 18 item.

2. Nyatakanlah sikap/tanggapan anda terhadap setiap pernyataan dengan melingkari salah satu huruf yang berada di bawah pernyataan, yang lebih sesuai dengan keadaan teman-teman saat ini.

Contoh:

*Jika teman-teman merasa bahwa teman-teman suka berolahraga maka lingkarilah angka yang mendekati kata tersebut, contohnya angka 5.

3. Tidak ada jawaban benar atau salah. 4. Harap dikerjakan sendiri-sendiri.

5. Jika teman-teman merasa bahwa jawaban yang teman-teman berikan kurang tepat dan teman-teman ingin mengganti dengan jawaban yang lain, maka teman-teman dapat langsung mencoret dengan memberikan tanda dua garis horisontal (=) pada pilihan jawaban yang dianggap kurang tepat dan memberikan tanda silang (X) pada pilihan teman-teman yang baru.

(68)

No. PERNYATAAN

1. Saya merasa menjadi bagian dari sekolah ini saya ketika melakukan sesuatu yang baik hormat seperti halnya siswa-siswa lain di sekolah saya

(69)

12. Saya merasa sangat

13. Saya dapat benar-benar dapat menjadi diri saya sendiri di sekolah saya

Tidak benar 15. Orang-orang di sekolah

tahu bahwa saya dapat

(70)

LAMPIRAN B

(71)

LAMPIRAN B

UJI NORMALITAS KELOMPOK SISWA DI PERKOTAAN

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic

anak_kota_diperkotaan 110 43 90 73.58 .826 8.662

anak_desa_diperkotaan 100 21 86 69.62 1.083 10.835

Valid N (listwise) 100

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

anak_kota_diper

kotaan

anak_desa_dipe

rkotaan

N 110 100

Normal Parametersa Mean 73.58 69.62

Std. Deviation 8.662 10.835

Most Extreme Differences Absolute .085 .102

Positive .049 .065

Negative -.085 -.102

Kolmogorov-Smirnov Z .892 1.021

Asymp. Sig. (2-tailed) .403 .248

(72)

LAMPIRAN C

(73)

LAMPIRAN C

UJI

LEVENE

KELOMPOK SISWA DI PERKOTAAN

Levene's Test for Equality of

Variances

F Sig.

skor Equal variances assumed 5.277 .023

Equal variances not

(74)

LAMPIRAN D

UJI MANN-WHITNEY

KELOMPOK SISWA DI

(75)

LAMPIRAN D

UJI MANN-WHITNEY KELOMPOK SISWA DI PERKOTAAN

Ranks

lokasi N Mean Rank Sum of Ranks

skor anak kota sekolah di kota 110 115.88 12747.00

anak desa sekolah di kota 100 94.08 9408.00

Total 210

Test Statisticsa

skor

Mann-Whitney U 4.358E3

Wilcoxon W 9.408E3

Z -2.599

Asymp. Sig. (2-tailed) .009

Exact Sig. (2-tailed) .009

Exact Sig. (1-tailed) .005

Point Probability .000

(76)

LAMPIRAN E

(77)

LAMPIRAN E

UJI NORMALITAS KELOMPOK SISWA DI PEDESAAN

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

desa_didesa kota_didesa

N 100 100

Normal Parametersa Mean 72.56 72.21

Std. Deviation 7.587 7.556

Most Extreme Differences Absolute .075 .066

Positive .071 .058

Negative -.075 -.066

Kolmogorov-Smirnov Z .753 .664

Asymp. Sig. (2-tailed) .623 .770

a. Test distribution is Normal.

Descriptive Statistics

N Mean Std. Deviation Minimum Maximum

desa_didesa 100 72.56 7.587 51 90

(78)

LAMPIRAN F.

(79)

LAMPIRAN F.

UJI

LEVENE

KELOMPOK SISWA DI PEDESAAN

Levene's Test for Equality of

Variances

F Sig.

skor Equal variances assumed .322 .571

(80)

LAMPIRAN G

(81)

LAMPIRAN G

UJI T KELOMPOK SISWA DI PEDESAAN

Independent Samples Test

Levene's

Test for

Equality of

Variances t-test for Equality of Means

(82)

LAMPIRAN H

(83)

LAMPIRAN F

RELIABILITAS SKALA SENSE OF BELONGING

Reliability Statistics

Cronbach's

Alpha

Cronbach's Alpha Based on

Standardized Items N of Items

Figur

Tabel 4.1 Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Asal Siswa, Lokasi Sekolah
Tabel 4 1 Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Asal Siswa Lokasi Sekolah . View in document p.16
tabel berikut ini :
tabel berikut ini : . View in document p.43
Tabel 4.1
Tabel 4 1 . View in document p.47
Tabel 4.2 Deskripsi Data Penelitian
Tabel 4 2 Deskripsi Data Penelitian . View in document p.48
Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Siswa Kota dan Siswa Desa Yang
Tabel 4 3 Hasil Uji Normalitas Siswa Kota dan Siswa Desa Yang . View in document p.49
Tabel 4.4 Levene’s Test for Equality of Variances siswa kota dan siswa
Tabel 4 4 Levene s Test for Equality of Variances siswa kota dan siswa . View in document p.50
Tabel 4.5  Hasil Mann-Whitney Sense of belonging siswa kota dan siswa
Tabel 4 5 Hasil Mann Whitney Sense of belonging siswa kota dan siswa . View in document p.51
Tabel 4.6
Tabel 4 6 . View in document p.52
Tabel 4.7 Levene’s Test for Equality of Variances siswa kota dan siswa desa
Tabel 4 7 Levene s Test for Equality of Variances siswa kota dan siswa desa . View in document p.53
Tabel 4.8
Tabel 4 8 . View in document p.54

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Sense of Belonging