BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit pada sistem reproduksi yang menyebabkan kematian yaitu
neoplasma ganas serviks uterus, neoplasma ganas ovarium, neoplasma ganas
kandung kemih (buli-buli), leiomioma uterus (mioma uteri), dan neoplasma jinak
ovarium. Salah satu penyakit sistem reproduksi yang paling sering ditemukan
adalah mioma uteri. Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot
uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya, sehingga dikenal dengan istilah
fibromioma, leiomioma, atau pun fibroid (Wiknjosastro, 2008; h. 338).
Rice dan Katz (1989) menemukan bahwa 1,4 persen dan lebih dari 6700
kehamilan mengalami penyulit mioma dan 1 dari 500 wanita hamil di rawat inap
akibat penyulit yang berkaitan dengan mioma (Cunningham, 2006; h. 1031).
Suatu penelitian di Amerika Serikat menyebutkan bahwa angka kejadian mioma
uteri adalah sebesar 2-12,8 orang per 1000 wanita tiap tahunnya, sedangkan
mioma uteri di Indonesia ditemukan 2,39 – 11,7% pada semua penderita
ginekologi yang dirawat (Schwartz, 2001; Saifuddin, 2008; h. 338). Coronando
dkk (2000) melaporkan hasil-hasil akhir kehamilan pada 2065 wanita dengan
leimioma yang dipastikan dari akte kelahiran negara bagian washington
(Cunningham, 2006; h. 1032).
Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai faktor
predisposisi mioma. Belum ada penelitian yang mengatakan bahwa mioma
terjadi sebelum menstruasi. Setelah menopause hanya 10% mioma yang masih
banyak ditemukan pada umur 35-45 tahun yang ditemukan sebanyak 25% dan
jarang ditemukan pada wanita 20 tahun dan wanita post menopause
(Wiknjosastro, 2007; h. 339).
Walaupun etiologi dan patogenesis dari faktor utama yang merupakan
penyebab terjadinya mioma uteri belum diketahui, namun diketahui bahwa
pertumbuhan mioma uteri dan perkembangannya dipengaruhi oleh faktor
hormonal yaitu hormon estrogen dan hormon progesteron (Djuwantono, 2011;
h. 2). Berdasarkan data klinis bahwa mioma uteri terjadi setelah menstuasi,
berkembang selama usia reproduktif, bertambah besar saat kehamilan, dan
mengalami regresi setelah menopause. Kadar reseptor ditemukan meningkat
segnifikan pada lapisan miometrium penderita mioma uteri (Flake, et al., 2006;
h. 832).
Berdasarkan hasil survey rekam medik di RSUD dr. R Goeteng
Taroenadibrata Purbalingga, di ruang bougenville selama satu tahun terakhir
pada tahun 2011, yaitu dari jumlah khususnya terdapat 38. Dari usia yang lebih
dari 65 tahun terdapat 1 orang yang menderita mioma uteri, atau 0,026 %, Usia
45 tahun sampai 64 tahun yang yang menderita mioma uteri berjumlah 17
orang, atau 0,44%, dan Usia 25 tahun sampai 44 tahun yang menderita mioma
uteri berjumlah 20 orang atau 0,52% (Rekam medik RSUD dr. R Goeteng
Taroenadibrata).
Penanganan di Rumah Sakit dr. R Goeteng Taroenadibrata mengenai
mioma uteri pada umumnya adalah terapi operatif, dapat berupa histerektomi
atau miomektomi. Pada miomektomi ada yang menggunakan laparotomi
maupun laparoskopi. Tindakan miomektomi pada umumnya yang paling sering
Sedangkan pada histerektomi dilakukan karena merupakan tindakan yang harus
dilakukan demi keselamatan pada pasien dan merupakan jalan yang terbaik.
Berdasarkan dari uraian diatas penulis tertarik pada kasus mioma uteri
karena banyak kejadian mioma uteri yang terjadi setelah menstruasi, dan
berkembang pada usia reproduktif dan angka morbiditas yang cukup tinggi,
diketahui bahwa pertumbuhan mioma uteri dan perkembangannya dipengaruhi
oleh faktor hormonal yaitu hormon estrogen dan progesteron.
Dengan harapan penulis sebagai bidan dapat memberikan asuhan
pelayanan kebidanan dan mengetahui tanda dan gejala dari mioma uteri.
Setelah terdeteks kemungkinani terjadinya mioma uteri, bidan memberikan
konseling atau KIE pada pasien. Kemudian bidan melakukan rujukan atau
kolaborasi terhadap tenaga kesehatan lainnya. Supaya pasien dapat tertangani
segera dan diharapkan penderita mioma uteri tidak meningkat dan mengurangi
angka morbiditas yang cukup tinggi pada masa reproduktif.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka permasalahan
dapat dirumuskan sebagai berikut “Bagaimana Asuhan Kebidanan pada Ny. M
dengan mioma uteri di Rumah Sakit dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Mahasiswa dapat melaksanakan asuhan kebidanan dengan gangguan
sistem reproduksi mioma uteri.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan mioma uteri untuk
menilai keadaan klien secara keseluruhan.
b. Mampu menginterpretasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa atau
masalah pada mioma uteri.
c. Mampu mengidentifikasi diagnosa masalah potensial dan mengantifikasi
penanganan pada mioma uteri.
d. Mampu menetapkan kebutuhan terhadap kebutuhan akan tindakan
segera, melakukan tindakan, konsultasi, kolaborasi dengan tenaga
kesehatan lain berdasarkan kondisi klien dengan mioma uteri.
e. Mampu menyusun rencana asuhan secara keseluruhan dengan tepat dan
rasional pada mioma uteri.
f. Mampu melakukan penatalaksanaan langsung asuhan secara efesien dan
aman pada mioma uteri.
g. Mampu mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan
mengulang kembali penatalaksanaan proses untuk aspek-aspek asuhan
yang tidak efektif pada mioma uteri.
D. Ruang Lingkup
1. Sasaran
Pada penulisan karya tulis ini penulis memfokuskan pada ibu dengan
gangguan reproduksi mioma uteri.
2. Tempat pengambilan kasus
Asuhan kebidanan dilaksanakan di ruang Bougenville Rumah Sakit dr. R
3. Waktu
Waktu ujian proposal dilakukan pada tanggal 9 Maret 2012.
Pengkajian kasus dilakukan pada tanggal 16 April 2012.
Kunjungan ulang/rumah dilakukan pada tanggal 26 April 2012.
E. Manfaat Penulisan
1. Manfaat teoritis
a. Bagi penulis
Diharapkan mampu menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang
asuhan kebidanan pada gangguan sistem reproduksi tentang mioma uteri.
b. Bagi institusi
Diharapkan dapat menambah kepustakaan sehingga dapat dijadikan
sebagai referensi untuk bahan bacaan dalam kegiatan belajar mengajar,
khususnya pengetahuan tentang mioma uteri.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Penulis
Hasil studi kasus ini dapat di gunakan untuk meningkatkan pelayanan
asuhan kebidanan pada gangguan sistem reproduksi, sehingga dapat
mengambil langkah yang tepat dalam penanganan kasus gangguan
sistem gangguan reproduksi pada mioma uteri.
b. Bagi institusi
Sebagai bahan masukan untuk dapat dikembangkan menjadi penelitian
dan karya tulis selanjutnya.
c. Bagi lahan
Sebagai bahan kajian untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
F. Metode pengumpulan data
Dalam pengumpulan data ini penulis menggunakan teknik :
1. Wawancara
Suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, dimana penulis
mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seseorang dengan
melakukan tanya jawab secara langsung dengan pihak keluarga yang
berhubungan dengan masalah tersebut.
a. Auto anamnesa
Suatu pengumpulan data yang diperoleh dari pasien langsung.
b. Allo anamnesa
Suatu pengumpulan data yang diperoleh dari keluarga pasien, bidan,
perawat termasuk dari sumber keterangan rekam medik dan semua
keterangan yang diperoleh dari pasien.
2. Pemeriksaan fisik
Metode pengumpulan data dengan cara melakukan pemeriksaan fisik
kepada pasien. Mulai dari inspeksi, palpasi abdomen, pemeriksaan dalam
dan pemeriksaan penunjang.
3. Observasi
Suatu metode yang disengaja dan sistematika tentang fenomena sosial dan
gejala-gejala fisik dengan cara mengamati dan mencatat hasil dari
permasalahan yang di bahas dalam karya tulis ini.
4. Studi Literatur
Metode penulisan karya tulis untuk memperoleh teori-teori dan data baru
literature lain yang ada hubungannya dengan permasalahan yang dibahas
dalam karya tulis ini.
G. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Terdiri dari pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah,
tujuan masalah, ruang lingkup, manfaat, metode pengumpulan data dan
sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1. Tinjauan medis
Tujuan medis meliputi definisi, etiologi/faktor predisposisi, fisiologis/
patologis, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan
medis.
2. Tinjauan asuhan kebidanan
Tinjauan asuhan kebidanan yang memuat tentang manajemen
kebidanan dengan menggunakan kerangka berfikir varney yang terdiri dari 7
langkah : pengumpulan data dasar, interpretasi data untuk mengidentifikasi
diagnosa/masalah, mengidentifikasi diagnosa/masalah potensial dan
mengantisipasi penanganannya, menetapkan kebutuhan terhadap tindakan
segera untuk melakukan konsultasi, menyusun rencana asuhan yang
menyeluruh, pelaksanaan langsung asuhan dengan efisiensi dan aman, dan
3. Landasan hukum
Berisi landasan hukum permenkes 1464 HK, 02, 02/MENKES/149/
2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktek bidan dan standar pelayanan
kebidanan yang mengatur tugas pokok dan kompetensi bidan serta
wewenang bidan sesuai dengan kasus yang di ambil.
Permenkes
Pasal 9 (c)
Bidan dalam menjalankan praktik, berwenang untuk memberikan pelayanan
yang meliputi :
Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan.
Pasal 12 (a)
Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 huruf c, berwenang untuk :
Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan.
Standar Pelayanan Kebidanan
Asuhan pada wanita/ibu dengan gangguan reproduksi.
Kompetensi ke - 9
Melakukan asuhan kebidanan pada wanita/ibu dengan gangguan sistem
reproduksi.
a. Pengetahuan dasar
1) Penyuluhan kesehatan mengenai kesehatan reproduksi.
2) Tanda, gejala dan penatalaksanaan pada kelainan ginekologi
b. Keterampilan dasar
1) Mengidentifikasi gangguan masalah dan kelainan-kelainan sistem
2) Melaksanakan kolaborasi dan atau rujukan secara tepat pada wanita/
ibu dengan gangguan system reproduksi.
BAB III TINJAUAN KASUS
Tujuan kasus meliputi penerapan asuhan kebidanan yang telah
dilaksanakan pada gangguan sistem reproduksi mulai dari pengumpulan data
dasar, interpretasi data, diagnosa masalah/potensial identifikasi kebutuhan yang
memerlukan penanganan segera, merencanakan asuhan kebidanan,
pelaksanaan asuhan kebidanan, dan evaluasi serta data perkembangan yang
menggunakan SOAP.
BAB IV PEMBAHASAN
Berisikan perbandingan antara teori dengan kenyataan pada kasus yang
disajikan sesuai dengan langkah-langkah manajemen kebidanan yaitu mulai
dari pengumpulan data dasar, interpretasi data, diagnosa masalah/potensial
identifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan segera, merencanakan
asuhan kebidanan, pelaksanaan asuhan kebidanan, dan evaluasi.
Serta pembahasan kasus yang meliputi pembahasan masalah dari
kesenjangan teori dan kenyataan pada asuhan kebidanan yang diberikan pada
gangguan reproduksi dengan mioma uteri.
BAB V PENUTUP
Berisi kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA