BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lingkungan sehat yang memenuhi syarat kesehatan yang menitikberatkan pada

26 

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sanitasi Dasar

Sanitasi dasar adalah sanitasi minimum yang diperlukan untuk menyediakan lingkungan sehat yang memenuhi syarat kesehatan yang menitikberatkan pada pengawasan berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia.Sarana sanitasi dasar terdiri dari sarana air bersih, sarana pembuangan kotoran, sarana pembuangan air limbah, dan sarana pembuangan sampah (Dirjen PPM & PL 2002)

2.1.1. Penyediaan Air bersih

Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Sekitar tiga per empat bagian dari tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun dapat bertahan hidup lebih dari 4-5 hari tanpa minum air. Selain itu, air juga dipergunakan untuk memasak, mencuci, mandi, dan membersihkan kotoran yang ada disekitar rumah. Air juga dipergunakan untuk keperluan industri, pertanian, pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi, dan lain-lain. Penyakit-penyakit yang menyerang manusia dapat juga ditularkan dan disebarkan melalui air. Kondisi tersebut tentunya dapat menimbulkan wabah penyakit dimana-mana (Chandra, 2005).

Ditinjau dari sudut ilmu kesehatan masyarakat, penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat karena persediaan air bersih yang terbatas memudahkan timbulnya penyakit di masyarakat. Volume rata-rata kebutuhan air setiap individu per hari berkisar antara 150-200 liter atau 35-40 galon. Kebutuhan

(2)

air tersebut bervariasi dan bergantung pada keadaan iklim, standar kehidupan, dan kebiasaan masyarakat (Chandra, 2005).

2.1.1.1. Sumber Air

Air yang berada di permukaan bumi ini dapat berasal dari berbagai sumber. Berdasarkan letak sumbernya, air dapat dibagi menjadi air angkasa (air hujan), air permukaan, dan air tanah.

1. Air Angkasa

Air angkasa atau air hujan merupakan sumber utama air di bumi. Walaupun pada saat presipitasi merupakan air yang paling bersih, air tersebut cenderung mengalami pencemaran ketika berada di atmosfer.

2. Air Permukaan

Air permukaan yang meliputi badan-badan air seperti sungai, danau, telaga, waduk, rawa, air terjun, dan sumur permukaan, sebagian besar berasal dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi. Air hujan tersebut kemudian akan mengalami pencemaran baik oleh tanah, sampah, maupun lainnya.

3. Air Tanah

Air tanah (ground water) berasal dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi yang kemudian mengalami perkolasi atau penyerapan ke dalam tanah dan mengalami proses filtrasi secara alamiah. Proses-proses yang telah dialami air hujan tersebut, di dalam perjalanannya ke bawah tanah, membuat air tanah menjadi lebih baik dan lebih murni dibandingkan air permukaan (Chandra, 2005). Misalnya yaitu air sumur dan air mata air.

(3)

2.1.1.2. Persyaratan Air Minum

Air minum yang ideal seharusnya jernih, tidak bewarna, tidak berasa, dan tidak berbau. Air minum seharusnya tidak mengandung kuman pathogen dan segala makhluk yang membahayakan kesehatan manusia. Tidak mengandung zat kimia yang dapat mengubah fungsi tubuh, tidak dapat diterima secara estetis, dan dapat merugikan secara ekonomi. Air itu seharusnya tidak korosif, tidak meninggalkan endapan pada seluruh jaringan distribusinya. Pada hakekatnya, tujuan ini dibuat untuk mencegah terjadinya serta meluasnya penyakit bawaan air (water-borne diseases) (Slamet, 2009).

Menurut peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum menetapkan bahwa kualitas air harus memenuhi syarat kesehatan yang meliputi parameter fisika, parameter kimia, parameter mikrobiologi, dan parameter radioaktivitas.

1. Parameter Fisika

Parameter fisika umumnya dapat diidentifikasi dari kondisi fisik air tersebut. Parameter fisika meliputi bau, kekeruhan, rasa, suhu, warna, dan jumlah zat padat terlarut (TDS).

Air yang baik idealnya tidak berbau. Air yang berbau busuk tidak menarik dipandang dari sudut setetika. Selain itu juga, bau busuk bisa disebabkan oleh proses penguraian bahan organik yang terdapat di dalam air.

Air yang baik idealnya harus jernih. Air yang keruh mengandung partikel padat tersuspensi yang dapat berupa zat-zat berbahaya bagi kesehatan. Disamping itu

(4)

air yang keruh sulit didesinfeksi, karena mikroba patogen dapat terlindung oleh partikel tersebut (Slamet, 2002).

Air yang baik idealnya juga tidak memiliki rasa/tawar. Air yang tidak tawar mengindikasinya ada zat-zat tertentu di dalam air tersebut. Rasa asin disebabkan adanya garam-garam tertentu di dalam air tersebut, begitu juga rasa asam disebabkan adanya asam di dalam air dan rasa pahit disebabkan adanya basa di dalam air tersebut.

Selain itu juga, air yang baik tidak boleh memiliki perbedaan suhu yang mencolok dengan udara sekitar (udara ambien). Di Indonesia, suhu air minimum idealnya ±3º C dari suhu udara air yang secara mencolok mempunyai suhu di atas atau di bawah suhu udara berarti mengandung zat-zat tertentu, misalnya fenol yang terlarut atau sedang terjadi proses biokimia yang mengeluarkan atau menyerap energi dalam air (Kusnaedi, 2002).

Padatan terlarut total (Total Dissolved Solid) adalah bahan terlarut (diameter < 10-6) dan koloid (diameter 10-6 – 103 mm) yang berupa senyawa-senyawa kimia dan bahan-bahan lain (Effendi, 2003). Bila TDS bertambah maka kesadahan akan naik. Kesadahan yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya endapan/kerak pada sistem perpipaan.

2. Parameter Kimiawi

Parameter kimiawi dikelompokkan menjadi kimia anorganik dan kimia organik. Dalam standart air minum di Indonesia zat kimia anorganik dapat berupa logam, zat reaktif, zat-zat berbahaya dan beracun serta derajat keasaman (pH). Sedangkan zat kimia organik dapat berupa insektisida dan herbisida, volatile organic

(5)

chemical (zat kimia organic yang mudah menguap) zat-zat berbahaya dan beracun maupun zat pengikat oksigen.

Sumber logam dalam air dapat berasal dari industri, pertambangan ataupun proses pelapukan secara alamiah. Korosi dari pipa-pipa penyaluran air minum dapat juga menyebabkan kehadiran logam dalam air minum.

Arsen, barium, kadmium, kromium, merkuri, dan selenium merupakan logam beracun yang mempengaruhi organ bagian dalam manusia. Timbal merusak sel darah merah, sistem saraf, dan ginjal manusia. Tembaga merupakan indikator terjadinya perkaratan. Konsentrasi Fluor yang terlalu tinggi dalam air minum dapat menimbulkan gangguan pada gigi. Nitrit dalam air minum akan bereaksi dengan haemoglobin membentuk methemoglobin yang dapat menyebabkan penyakit blue babies pada bayi.

Bahan kimia organik dalam air minum dapat dibedakan menjadi tiga kategori. Kategori pertama adalah bahan kimia yang mungkin bersifat carsinogen bagi manusia. Kategori kedua bahan kimia yang tidak bersifat carsinogen bagi manusia. Kategori ketiga adalah bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit kronis tanpa ada fakta carsinogen.

3. Parameter Mikrobiologi

Parameter mikrobiologi menggunakan bakteri koliform sebagai organisme petunjuk (indicator organism). Dalam laboratorium, istilah total koliform menunjukkan bakteri bakteri koliform dari tinja, tanah, atau sumber alamiah lainnya. Istilah faecal coliform (koliform tinja) menunjukkan bakteri koliform yang berasal dari tinja manusia atau hewan berdarah panas lainnya. Penentuan parameter

(6)

mikrobiologi dimaksudkan untuk mencegah adanya mikroba patogen di dalam air minum.

4. Parameter Radioaktivitas

Apapun bentuk radioaktivitas efeknya adalah sama, yakni menimbulkan kerusakan pada sel yang terpapar. Kerusakan dapat berupa kematian dan perubahan komposisi genetik. Kematian sel-sel dapat dapat diganti kembali apabila sel dapat beregenerasi dan apabila tidak seluruh sel mati. Perubahan genetis dapat menimbulkan penyakit seperti kanker dan mutasi.

Sinar Alpha, Beta, dan Gammaberbeda dalam kemampuan menembus jaringan tubuh. Sinar Alpha sulit menembus kulit dan Sinar Gamma dapat menembus sangat dalam. Kerusakan yang terjadi ditentukan oleh intensitas serta frekuensi dan luasnya pemaparan (Mulia, 2005).

1. Pengelolahan Air Minum

Menurut Kusnaedi (2002), tujuan pengelolahan air minum merupakan upaya untuk mendapatkan air yang bersih dan sehat sesuai dengan standart mutu air. Proses pengelolahan air minum merupakan proses perubahan fisik, kimia dan biologi air baku agar memenuhi syarat untuk digunakan sebagai air minum.

Pada dasarnya, pengelolahan air minum dapat diawali dengan penjernihan air, pengurangan kadar bahan-bahan kimia terlarut dalam air sampai batas yang dianjurkan, penghilangan mikroba patogen, memperbaiki derajat keasaman (PH) serta memisahkan gas-gas terlarut yang dapat mengganggu estetika dan kesehatan (Viessman, 1993).

(7)

2.1.1.3. Pengaruh Air terhadap Kesehatan

Penggunaan air yang tidak memenuhi persyaratan dapat menimbulkan terjadinya gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan tersebut dapat berupa penyakit menular maupun penyakit tidak menular. Penyakit menular umumnya disebabkan oleh mahluk hidup; sedangkan penyakit tidak menular umumnya bukan disebabkan oleh mahluk hidup (Mulia, 2005).

Penyakit menular yang disebabkan oleh air secara langsung diantara masyarakat disebut penyakit bawaan air (water borne disease). Hal ini dapat terjadi karena air merupakan media yang baik tempat bersarangnya bibit penyakit/agent. Tabel 2.1 penyakit bawaan air dan penyebabnya

Penyebab Penyakit

Virus:

1. Rota virus 2. Virus hepatitis A 3. Virus poliomyelitis

Diare, terutama pada anak-anak Hepatitis A Poliomyelitis Bakteri: 1. Vibrio Cholerae 2. Escherichia coli 3. Salmonella typhi 4. Salmonella paratyphi 5. Shigella dysentriae Cholera Diare/ dysentri Typhus abdominale Paratyphus Dysentri Protozoa: 1. Entamoeba histolytica 2. Balantidia coli 3. Giardia lambilia Dysentri amoeba Balantidiasis Giardiasis Metazoa: 1. Ascaris lumbricoides 2. Clonorchis sinensis 3. Diphyllobotrhium latum 4. Taenia saginata/solium 5. Schistosoma Ascaris Clonorchiasis Dyphylobothriasis Taeniasis Schistosomiasis Sumber: Wardhana (1995)

(8)

2.1.2. Tempat Pembuangan Tinja

Pembuangan tinja merupakan bagian yang penting dari kesehatan lingkungan. Pembuangan tinja yang tidak menurut aturan memudahkan terjadinya penyebaran penyakit tertentu yang penularannya melalui tinja antara lain penyakit diare. Suatu jamban disebut sehat apabila memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut: 1. Tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling jamban tersebut.

2. Tidak mengotori air permukaan disekitarnya. 3. Tidak mengotori air tanah disekitarnya.

4. Tidak dapat terjangkau oleh serangga terutama lalat dan kecoa, dan binatang-binatang lainnya.

5. Tidak menimbulkan bau.

6. Mudah digunakan dan dipelihara (maintenance).

Apabila persyaratan-persyaratan ini dapat dipenuhi, maka perlu diperhatikan antara lain hal-hal sebagai berikut:

1. Sebaiknya jamban tersebut tertutup, artinya bangunan jamban terlindung dari panas dan hujan, serangga–serangga dan binatang–binatang lain, terlindung dari pandangan orang dan sebagainya.

2. Bangunan jamban sebaiknya mempunyai lantai yang kuat, tempat berpijak yang kuat dan sebagainya.

3. Bangunan jamban sedapat mungkin ditempatkan pada lokasi yang tidak mengganggu pandangan, tidak menimbulkan bau dan sebagainya.

4. Sedapat mungkin disediakan alat pembersih seperti air atau kertas pembersih ( Notoatmodjo, 2003).

(9)

2.1.2.1. Jenis-jenis Jamban

Menurut Entjang (2000), macam-macam tempat pembuangan tinja, antara lain:

1. Jamban cemplung (Pit latrine)

Jamban cemplung ini sering dijumpai di daerah pedesaan. Jamban ini dibuat dengan jalan membuat lubang ke dalam tanah dengan diameter 80-120 cm sedalam 2,5-8 meter. Jamban cemplung tidak boleh terlalu dalam, karena akan mengotori air tanah dibawahnya. Jarak dari sumber minum sekurang-kurangnya 15 meter.

2. Jamban air (Water latrine)

Jamban ini terdiri dari bak yang kedap air, diisi air di dalam tanah sebagai tempat pembuangan tinja. Proses pembusukannya sama seperti pembusukan tinja dalam air kali.

3. Jamban leher angsa (Angsa latrine)

Jamban ini berbentuk leher angsa sehingga akan selalu terisi air. Fungsi air ini sebagai sumbat sehingga bau busuk dari kakus tidak tercium. Bila dipakai, tinjanya tertampung sebentar dan bila disiram air, baru masuk ke bagian yang menurun untuk masuk ke tempat penampungannya.

4. Jamban bor (Bored hole latrine)

Tipe ini sama dengan jamban cemplung hanya ukurannya lebih kecil karena untuk pemakaian yang tidak lama, misalnya untuk perkampungan sementara. Kerugiannya bila air permukaan banyak mudah terjadi pengotoran tanah permukaan (meluap).

(10)

5. Jamban keranjang (Bucket latrine)

Tinja ditampung dalam ember atau bejana lain dan kemudian dibuang di tempat lain, misalnya untuk penderita yang tak dapat meninggalkan tempat tidur. Sistem jamban keranjang biasanya menarik lalat dalam jumlah besar, tidak di lokasi jambannya, tetapi di sepanjang perjalanan ke tempat pembuangan. Penggunaan jenis jamban ini biasanya menimbulkan bau.

6. Jamban parit (Trench latrine)

Dibuat lubang dalam tanah sedalam 30-40 cm untuk tempat defaecatie. Tanah galiannya dipakai untuk menimbunnya. Penggunaan jamban parit sering mengakibatkan pelanggaran standar dasar sanitasi, terutama yang berhubungan dengan pencegahan pencemaran tanah, pemberantasan lalat, dan pencegahan pencapaian tinja oleh hewan.

7. Jamban empang / gantung (Overhung latrine)

Jamban ini semacam rumah-rumahan dibuat di atas kolam, selokan, kali, rawa dan sebagainya. Kerugiannya mengotori air permukaan sehingga bibit penyakit yang terdapat didalamnya dapat tersebar kemana-mana dengan air, yang dapat menimbulkan wabah.

8. Jamban kimia (Chemical toilet)

Tinja ditampung dalam suatu bejana yang berisi caustic soda sehingga dihancurkan sekalian didesinfeksi. Biasanya dipergunakan dalam kendaraan umum misalnya dalam pesawat udara, dapat pula digunakan dalam rumah.

(11)

2.1.3.Pembuangan Sampah

Sampah adalah sesuatu bahan atau benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang. Para ahli kesehatan masyarakat Amerika membuat batasan, sampah (waste) adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan manusia, dan tidak terjadi dengan sendirinya.

2.1.3.1. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Sampah

Sampah, baik kuantitas maupun kualitasnya, sangat dipengaruhi oleh berbagai kegiatan dan taraf hidup masyarakat. Beberapa faktor yang penting antara lain adalah: 1. Jumlah penduduk. Dapat difahami dengan mudah bahwa semakin banyak

penduduk, maka semakin banyak pula sampahnya. Pengelolahan sampah inipun berpacu dengan laju pertambahan penduduk.

2. Keadaan sosial dan ekonomi. Semakin tinggi keadaan sosial ekonomi masyarakat, semakin banyak jumlah per kapita sampah yang dibuang.

3. Kemajuaan teknologi. Kemajuaan teknologi akan menambah jumlah maupun kualitas sampah, karna pemakaian bahan baku yang semakin beragam, cara pengepakan dan produk manufaktur yang semakin beragam pula (Slamet, 2009). 2.1.3.2. Cara-cara pengelolahan sampah:

1. Pengumpulan dan pengangkutan sampah

Pengumpulan sampah adalah tanggung jawab dari masing–masing rumah tangga atau institusi yang menghasilkan sampah. Oleh sebab itu mereka ini harus membangun atau mengadakan tempat khusus untuk mengumpulkan sampah.

(12)

Kemudian dari masing–masing tempat pengumpulan sampah tersebut harus diangkut ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) sampah dan selanjutnya ke Tempat Penampungan Akhir (TPA).

2. Pemusnahan dan pengolahan sampah

Pemusnahan dan atau pengolahan sampah dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain sebagai berikut: a) Ditanam (landfill), yaitu pemusnahan sampah dengan membuat lubang di tanah kemudian sampah dimasukkan dan ditimbun dengan tanah, b) Dibakar (inceneration), yaitu pemusnahan sampah dengan membakar di dalam tungku pembakaran (incenerator) dan c) Dijadikan pupuk (composting) Yaitu pengolahan sampah menjadi pupuk, khususnya untuk sampah organik daun–daunan, sisa makanan, dan sampah lain yang dapat membusuk (Notoatmodjo, 2003).

2.1.3.3. Pengaruh Sampah Terhadap Kesehatan

Pengaruh sampah terhadap kesehatan dapat di kelompokkan menjadi efek langsung dan tidak langsung. Yang dimaksud dengan efek langsung adalah efek yang disebabkan karena kontak yang langsung dengan sampah tersebut. Misalnya, sampah beracun, sampah yang korosif terhadap tubuh, yang karsinogenik, teratogenik, dan lainnya. Selain itu ada pula sampah yang mengandung kuman pathogen, sehingga dapat menimbulkan penyakit. Sampah ini bisa berasal dari sampah rumah tangga selain sampah industri.

Pengaruh tidak langsung dapat dirasakan masyarakat akibat proses pembusukan, pembakaran, dan pembuangan sampah. Efek tidak langsung lainnya berupa penyakit bawaan vektor yang berkembang biak di dalam sampah. Sampah bila ditimbun sembarangan dapat dipakai sarang lalat dan tikus. Seperti kita ketahui, lalat

(13)

adalah vektor berbagai penyakit perut. Demikian juga halnya dengan tikus, selain merusak harta benda masyarakat, tikus juga sering membawa pinjal yang dapat menyebarkan penyakit pest (Slamet, 2009).

2.1.4. Sarana Pembuangan Air Limbah

Air limbah (sewage) adalah excreta manusia, air kotor dari dapur, kamar mandi, dari W.C., dari perusahaan-perusahaan termasuk pula air kotor dari permukaan tanah dan air hujan. Sewage ini dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu: 1. Domestic sewage, yaitu sewage yang berasal dari rumah-rumah.

2. Industrial sewage, yaitu sewage yang berasal dari sisa-sisa proses industri. Maksud pengaturan pembuangan air limbah adalah:

1. Untuk mencegah pengotoran sumber air rumah tangga.

2. Menjaga makanan kita , misalnya: sayuran yang dicuci dengan air permukaan. 3. Perlindungan terhadap ikan yang hidup di dalam kolam ataupun di kali. 4. Menghindari pengotoran tanah permukaan.

5. Perlindungan air untuk ternak.

6. Menghilangkan tempat berkembangbiaknya bibit-bibit penyakit (cacing dan sebagainya) dan vektor penyebab penyakit (nyamuk, lalat, dan sebagainya).

7. Menghilangkan adanya bau-bauan dan pemandangan yang tidak sedap. 2.1.4.1. Cara-cara pembuangan air limbah:

1. Dengan Pengeceran (Disposal by Dilution)

Air limbah dibuang ke sungai, danau, atau laut agar mendapat pengeceran. Cara ini hanya dapat dilaksanakan di tempat-tempat yang banyak air permukaannya. Dengan cara ini air limbah akan mengalami purifikasi alami. Karena kontaminasi air

(14)

permukaan oleh bakteri patogen, larva, dan telur cacing serta bibit penyakit lainnya yang berasal dari feces penderita maka diisyaratkan:

a. Sungai atau danau itu airnya tidak boleh digunakan untuk keperluaan lain. b. Airnya harus cukup banyak sehingga pengecerannya paling sedikit 30-40 kali. c. Airnya harus cukup mengandung O2, artinya harus mengalir sehingga tidak bau. 2. Cesspool

Cesspool ini menyerupai sumur tapi gunanya untuk pembuangan air limbah. Dibuat pada tanah yang poreus (berpasir) agar air buangan mudah meresap ke dalam tanah. Bagian atasnya ditembok agar tak tembus air. Bila sudah penuh (± 6 bulan) lumpurnya diisap keluar atau sejak semula dibuat cesspool secara berangkai, sehingga bila yang satu penuh, airnya akan mengalir ke cesspool berikutnya.

3. Seepage Pit (sumur resapan)

Sepage pit merupakansumur tempat menerima air limbah yang telah mengalami pengolahan dalam sistim lain, misalnya aqua-privy atau septic-tank. Di dalam seepage pit ini airnya tinggal mengalami peresapan saja di dalam tanah. Lama pemakaiannya adalah 6-10 tahun.

4. Septik Tank

Merupakan cara yang terbaik yang di anjurkan WHO tapi biayanya mahal, tekniknya sukar dan memerlukan tanah yang luas.

5. Sistim Riool (Sewerage)

Sistim riool merupakan cara pembuangan sewage di kota-kota dan selalu harus termasuk dalam rencana pembangunan kota. Semua sewage baik dari rumah-rumah maupun dari perusahaan-perusahaan dialirkan ke sistim riool. Kadang-kadang

(15)

menampung pula kotoran dari lingkungan yang dialirkan air hujan. Bila sistim riool ini dipakai pula untuk menampung air hujan disebut combined system; bila untuk menampung air hujan dipisahkan disebut separated system. Di ujung kota, agar tidak merugikan keperluan lain di bawahnya alirannya, misalnya: daerah peternakan, pertaniaan ataupun perikanan darat maka sewage yang dibuang ini masih perlu pengolahan (Enjang, 2000).

Bila tanpa pengelolahan terlebih dahulu, air limbah dapat menimbulkan hal-hal yang dapat merugikan antara lain (Azwar, 1990):

1. Dapat menimbulkan bahaya kontaminasi dan pencemaran air permukaan dan badan-badan air lainnya termasuk manusia yang menggunakannya untuk keperluan sehari-hari mereka seperti mandi, mencuci, gosok gigi dan tidak jarang menggunakannya sebagai sumber air minum.

2. Dapat mengganggu kehidupan dalam air yaitu mematikan binatang-binatang dan tumbuhan-tumbuhan dalam air.

3. Dapat menimbulkan bau yang tidak enak.

Pengolahan air limbah yang tidak memenuhi syarat dapat menimbulkan penyakit-penyakit yang disebut dengan water borne disease.

2.2. Karakteristik Penduduk 1. Umur

Umur merupakan hal yang penting karena semua rate morbiditas dan rate mortalitas yang dilaporkan hampir selalu berkaitan dengan umur. Penyakit diare banyak diderita oleh golongan umur di bawah lima tahun (Balita), sekitar 70-80% dari penderita. Pada saat terjadinya wabah penyakit diare dapat menyerang semua

(16)

golongan umur (Budiarto, 2001). Umur merupakan karakteristik penduduk yang pokok. Struktur ini mempunyai pengaruh penting, baik terhadap tingkah laku demografis maupun sosial ekonomi (Prayoga, 2007).

2. Pendidikan

Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa orang dengan pendidikan formal lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih tinggi dibanding orang dengan pendidikan formal lebih rendah, karena akan lebih mampu memahami arti dan pentingnya kesehatan.

Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang untuk bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya. Orang yang berpendidikan lebih tinggi biasanya akan bertindak lebih rasional. Oleh karena itu orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan baru. Pendidikan juga mempengaruhi pola berpikir pragmatis dan rasional terhadap adat kebiasaan, dengan pendidikan lebih tinggi orang dapat lebih mudah untuk menerima ide atau masalah baru (Notoatmodjo, 2007).

3. Pekerjaan

Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak dicapainya, dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukannya akan membawa kepada sesuatu keadaan yang lebih memuaskan dari keadaan sebelumnya. Anderson menyatakan bahwa struktur sosial yang salah satu diantaranya adalah pekerjaan menentukan dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan (Notoatmodjo, 2007).

Dalam lingkungan sosioekonomis yang buruk, masyarakat lebih mudah mengalami penyakit infeksi. Kemiskinan bertanggungjawab terhadap penyakit yang

(17)

ditemukan pada masyarakat. Hal ini karena kemiskinan mengurangi kapasitas masyarakat untuk mendukung perawatan kesehatan yang memadai, cenderung memiliki higiene yang kurang, miskin diet, dan miskin pendidikan.

4. Pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour). Berdasarkan pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.

Pengetahuna yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yakni : 1. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

2. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar.

3. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.

(18)

4. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6. Evaluasi (Evaluasion)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Notoatmodjo, 2003).

5. Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari adalah merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.

Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan, yakni: 1. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

(19)

2. Merespons (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

3. Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

4. Bertanggung Jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi (Notoatmodjo, 2007).

2.3 Diare

Diare adala defekasi encer lebih dari tiga kalisehari dengan/tanpa darah dan/lendir dalam tinja (Mansjoer, 2000). Menurut Hippocrates, maka diare adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal (meningkat) dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair (Suharyono, 1986).

2.3.1. Penyebab diare

Penyebab diare dapat dikelompokkan dalam tujuh besar, yaitu virus, bakteri, parasit, keracunan makanan, malabsorpsi, alergi, dan immunodefisiensi (Widoyono, 2008).

2.3.2. Penularan Diare

Penyakit diare sebagian besar (75%) disebabkan oleh kuman seperti virus dan bakteri. Penularan penyakit diare melalui orofekal terjadi dengan mekanisme berikut. a. Melalui air yang merupakan media penularan utama diare. Diare dapat terjadi bila

(20)

sumbernya, tercemar selama perjalanan sampai ke rumah-rumah, atau tercemar pada saat disimpan di rumah. Pencemaran di rumah terjadi bila tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan.

b. Melalui tinja yang terinfeksi. Tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh binatang dan kemudian binatang tersebut hinggap di makanan, maka makanan itu dapat menularkan diare kepada orang yang memakannya(Widoyono, 2008).

2.3.3 Jenis Diare

1. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7 hari). Akibat diare akut adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare.

2. Disentri, yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat disentri adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat, kemungkinan terjadinya komplikasi pada mukosa.

3. Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme.

4. Diare dengan masalah lain. Anak yang menderita diare (diare akut dan diare persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti: demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.

2.3.4. Gejala dan Tanda Diare 1. Gejala Umum

(21)

a. Berak cair atau lembek dan sering adalah gejala khas diare. b. Muntah, biasanya menyertai diare pada gastroenteritis akut. c. Demam, dapat mendahului atau tidak mendahului gejala diare.

d. Gejala dehidrasi, yaitu mata cekung, ketegangan kulit menurun, apatis, bahkan gelisah.

2. Gejala Spesifik

a. Vibrio cholera: diare hebat, warna tinja seperti cucian beras dan berbau amis. b. Dysenteriform tinja berlendir dan berdarah.

Diare yang berkepanjangan dapat menyebabkan : 1. Dehidrasi (kekurangan cairan)

Tergantung dari persentase cairan tubuh yang hilang. Dehidrasi dapat terjadi ringan, sedang, atau berat. Derajat dehidrasi akibat diare dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

a. Tanpa dehidrasi, biasanya anak merasa normal, tidak rewel, masih bisa bermain seperti biasa. Umumnya karena diarenya tidak berat, anak masih mau makan dan minum seperti biasa.

b. Dehidrasi ringan atau sedang, menyebabkan anak rewel atau gelisah, mata sedikit cekung, turgor kulit masih kembali dengan cepat jika dicubit.

c. Dehidrasi berat, anak apatis (kesadaran berkabut), mata cekung, pada cubitan kulit turgor kembali lambat, nafas cepat, anak terlihat lemas.

(22)

2. Gangguan Sirkulasi

Pada diare akut, kehilangan cairan dapat terjadi dalam waktu yang singkat. Bila kehilangan cairan ini lebih dari 10% berat badan, pasien akan mengalami syok atau presyok yang disebabkan karena berkurangnya volume darah (hipovolemia). 3. Gangguan asam-basa (asidosis)

Hal ini terjadi akibat kehilangan cairan elektrolit (bikarbonat) dari dalam tubuh. Sebagai kompensasinya tubuh akan bernafas cepat untuk membantu meningkatkan PH arteri.

4. Hipoglikemia (kadar gula darah rendah)

Hipoglikemia sering terjadi pada anak yang sebelumnya mengalami malnutrisi (kurang gizi). Hipoglikemia dapat mengakibatkan koma. Penyebab yang pasti belum diketahui, kemungkinan karena cairan ekstraseluler menjadi hipotonik dan air masuk ke dalam cairan intraseluler sehingga terjadi edema otak yang mengakibatkan koma. 5. Gangguan gizi

Gangguan ini terjadi karena asupan makanan yang kurang dan output yang berlebihan. Hal ini akan bertambah berat apabila pemberian makanan dihentikan, serta sebelumnya penderita sudah mengalami kekurangan gizi (malnutrisi) (Widoyono, 2008).

2.3.5. Upaya Pencegahan Diare

Penyakit diare dapat dicegah melalui promosi kesehatan, antara lain: 1. Menggunakan air bersih

Tanda-tanda air bersih adalah “3 Tidak”, yaitu tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Sebagian kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui fecal

(23)

oral. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan, atau benda yang tercemar tinja, misalnya air minum, jari-jari tangan, makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar.

2. Memasak air sampai mendidih sebelum diminum untuk mematikan sebagian besar kuman penyakit.

3. Mencuci tangan dengan sabun pada waktu sebelum makan, sesudah makan, dan sesudah buang air besar (BAB).

4. Memberikan ASI kepada anak sampai berusia dua tahun. Memberikan ASI gunanya adalah agar daya tahan tubuh anak meningkat yang akan melindungi anak terhadap penyakit diare.

5. Menggunakan jamban yang sehat.

6. Membuang tinja bayi dan anak dengan benar (Widoyono, 2008).

7. Sampah dibuang secara baik sehingga lalat tidak dapat hidup dan berkembang biak (Jelliffe, 1994)

2.3.6. Pengobatan Diare

1. Tanpa dehidrasi, dengan terapi A

Pada keadaan ini buang air besar terjadi 3-4 kali sehari atau disebut mulai mencret. Anak yang mengalami kondisi ini masih lincah dan masih mau makan dan minum seperti biasa. Pengobatan dapat dilakukan di rumah oleh ibu atau anggota keluarga lainnya dengan memberikan makanan dan minuman yang ada di rumah seperti air kelapa, larutan gula garam (LGG), air tajin, air teh, maupun oralit. Istilah pengobatan ini adalah dengan menggunakan terapi A. Ada 3 cara pemberian cairan yang dapat dilakukan di rumah, yaitu:

(24)

a. Memberikan anak lebih banyak cairan. b. Memberikan makanan terus-menerus.

c. Membawa ke petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam tiga hari. 2. Dehidrasi ringan atau sedang, dengan terapi B

Diare dengan dehidrasi ringan ditandai dengan hilangnya cairan sampai 5% dari berat badan, sedangkan pada diare sedang terjadi kehilangan cairan 6-10% dari berat badan.

Untuk mengobati penyakit diare pada derajat dehidrasi ringan atau sedang digunakan terapi B, yaitu sebagai berikut:

Umur <1 tahun 1-4 tahun >5 tahun Jumlah Oralit 300 ml 600 ml 1200 ml Setelah itu, tambahkan setiap kali mencret:

Umur <1 tahun 1-4 tahun >5 tahun

Jumlah Oralit 100 ml 200 ml 400

3. Dehidrasi berat, dengan terapi C

Diare dengan dehidrasi berat ditandai dengan mencret terus-menerus, biasanya lebih dari 10 kali disertai muntah, kehilangan cairan lebih dari 10% beratbadan. Diare ini diatasi dengan terapi C, yaitu perawatan di Puskesmas atau di rumah sakit untuk diinfus RL (Ringer Laktat).

4. Teruskan pemberian makan

Pemberian makanan seperti semula diberikan sedini mungkin dan disesuaikan dengan kebutuhan. Makanan tambahan diperlukan pada masa penyembuhan. Untuk

(25)

bayi, ASI tetap diberikan bila sebelumnya mendapatkan ASI, namun bila sebelumnya tidak mendapatkan ASI dapat diteruskan dengan memberikan susu formula.

5. Antibiotik bila perlu

Sebagian besar penyebab diare adalah Rotavirus yang tidak memerlukan antibiotik dalam penatalaksanaan kasus diare karena tidak bermanfaat dan efek sampingnya bahkan merugikan penderita (Widoyono, 2008).

(26)

2.4Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Sanitasi Dasar Kejadian Diare Karakteristik Ibu 1. Umur 2. Pendidikan 3. Pekerjaan 4. Pengetahuan 5. Sikap

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :