PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (dahulu PT Centrin Online Tbk) dan entitas anaknya

83 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Laporan keuangan konsolidasian interim tanggal 31 Maret 2014 dan untuk periode tiga bulan yang berakhir

(2)

Halaman Surat Pernyataan Direksi

Laporan Auditor Independen

Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian Interim...………1 - 2 Laporan Laba Rugi Komprehensif Konsolidasian Interim.…...……….……. 3 Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian Interim…...…...……… 4 Laporan Arus Kas Konsolidasian Interim………….……….. 5 Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasian Interim….……….6 - 81

(3)

ASET LANCAR

Kas dan setara kas 2,3,5,38

40,41 41.532.672.261 29.839.051.349

Aset keuangan lancar lainnya 2,3,6,38

40,41 17.684.085.491 20.779.846.133

Piutang usaha 2,3,7,38

40,41

Pihak ketiga - neto 13.458.160.203 15.288.742.435

Piutang lain-lain 2,3,8,40,41

Pihak ketiga - neto 1.537.349.685 1.486.795.209

Persediaan - neto 2,9 71.497.499 90.846.823

Pajak dibayar dimuka 2,17a 19.121.936.030 15.746.565.741

Biaya dibayar dimuka - bagian lancar 2,10 15.843.603.553 15.392.466.057

Uang muka pembelian - pihak ketiga 11 19.055.882.886 17.598.256.526

TOTAL ASET LANCAR 128.305.187.608 116.222.570.273

ASET TIDAK LANCAR

Investasi pada entitas asosiasi 2,12 4.861.784.749 4.894.996.419

Uang muka pembelian aset tetap 4.320.000.000 4.320.000.000

Aset tetap - neto 2,3,13

29,30,31 487.224.038.966 459.231.674.089

Biaya sewa dibayar dimuka - bagian

tidak lancar 2,10 72.609.101.233 71.274.202.426

Klaim atas restitusi pajak 2,17a 13.820.051.349 13.820.051.349

Aset takberwujud - neto 2,3,4,14 140.276.202.957 140.430.780.331

Aset keuangan tidak lancar lainnya 2,3,15

40,41

Pihak ketiga - neto 7.117.696.447 7.128.587.431

Aset pajak tangguhan - neto 2,3,17 19.985.456.791 15.157.906.554

TOTAL ASET TIDAK LANCAR 750.214.332.492 716.258.198.599

(4)

Catatan atas laporan keuangan konsolidasian interim terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan

LIABILITAS

LIABILITAS JANGKA PENDEK

Utang usaha 2,3,16

38,40,41

Pihak ketiga 29.373.453.032 46.242.617.171

Pihak berelasi 37a 158.621.306 204.979.649

Utang lain-lain 2,3,40,41 Pihak ketiga 1.557.129.208 1.706.889.042 Pihak berelasi 72.250.000.000 - Beban akrual 2,3,18 38,40,41 3.662.344.417 2.847.424.060 Utang pajak 2,3,17b 2.296.414.509 5.705.004.272

Uang muka penjualan 1.084.246.702 1.088.269.892

Liabilitas imbalan kerja jangka pendek 3,19,40,41 457.842.031 230.279.865

Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun:

Pendapatan diterima dimuka 20 10.603.326.717 12.643.526.612

Utang pembiayaan konsumen 2,3,21,40,41 803.840.501 784.404.937

TOTAL LIABILITAS JANGKA PENDEK 122.247.218.423 71.453.395.500

LIABILITAS JANGKA PANJANG

Liabilitas jangka panjang - setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun:

Pendapatan diterima dimuka 20 14.391.521.172 15.588.205.897

Utang pembiayaan konsumen 2,3,21,40,41 674.073.699 882.462.830

Liabilitas imbalan kerja jangka panjang 2,3,22 10.062.607.985 10.298.700.820

Liabilitas pajak tangguhan 2,3,17 - 2.222.949.858

TOTAL LIABILITAS JANGKA PANJANG 25.128.202.856 28.992.319.405

TOTAL LIABILITAS 147.375.421.279 100.445.714.905

EKUITAS

EKUITAS YANG DAPAT DIATRIBUSIKAN

KEPADA PEMILIK ENTITAS INDUK

Modal saham - nilai nominal Rp100 per saham Modal dasar - 29.500.000.000 saham dan

1.500.000.000 saham pada tanggal-tanggal 31 Maret 2014 dan 31 Desember 2013 Modal ditempatkan dan disetor penuh -

7.424.634.500 saham dan 575.112.500 saham pada tanggal-tanggal

31 Maret 2014 dan 31 Desember 2013 23 742.463.450.000 742.463.450.000

Tambahan modal disetor - neto 2,24 (5.281.058.276) (5.281.058.276)

Saldo laba

Telah ditentukan penggunaannya 25 1.500.000.000 1.500.000.000

Belum ditentukan penggunaannya (7.508.366.947) (6.483.923.199)

Keuntungan penjabaran laporan keuangan 2 (864.871.777) (337.467.701)

Sub-total 730.309.153.000 731.861.000.824 KEPENTINGAN NONPENGENDALI 2,27 834.945.821 174.053.143 TOTAL EKUITAS 731.144.098.821 732.035.053.967

TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 878.519.520.100 832.480.768.872

(5)

PENDAPATAN USAHA 2,28,37b,43 27.174.876.870 16.390.112.317

BEBAN POKOK PENDAPATAN USAHA 2,29,37b,43 (18.411.139.130) (7.869.306.419)

LABA BRUTO 8.763.737.740 8.520.805.898

BEBAN USAHA

Beban penjualan 2,30,43 (777.427.475) (679.473.568)

Beban umum dan administrasi 13,14,31,37b (12.408.383.204) (8.146.892.922)

Pendapatan operasi lainnya 13,32 327.225.255 50.095.602

Beban operasi lainnya 33 (1.242.216.724) (1.857.973.752)

TOTAL BEBAN USAHA (14.100.802.148) (10.634.244.641)

RUGI USAHA (5.337.064.408) (2.113.438.743)

Pendapatan keuangan 2,34,43 824.034.869 1.745.094.803

Biaya keuangan 2,35,43 (2.355.652.813) (94.958.262)

Bagian rugi neto entitas asosiasi 2,12,43 (33.211.667) (403.612)

RUGI SEBELUM BEBAN

PAJAK PENGHASILAN (6.901.894.019) (463.705.814)

Manfaat (beban) pajak penghasilan - neto 2,3,17,43 6.538.342.948 (83.222.727)

RUGI PERIODE BERJALAN (363.551.071) (546.928.541)

PENDAPATAN KOMPREHENSIF LAINNYA

Selisih kurs penjabaran laporan keuangan

dalam mata uang asing 2 (527.404.076) 99.991.516

TOTAL RUGI KOMPREHENSIF

PERIODE BERJALAN (890.955.147) (446.937.025)

Rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada:

Pemilik entitas induk (1.024.443.749) (494.954.574)

Kepentingan nonpengendali 660.892.678 (51.973.967)

TOTAL (363.551.071) (546.928.541)

Total rugi komprehensif periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada:

Pemilik entitas induk (1.551.847.825) (394.963.058)

Kepentingan nonpengendali 660.892.678 (51.973.967)

TOTAL (890.955.147) (446.937.025)

RUGI PER SAHAM YANG DAPAT DIATRIBUSIKAN KEPADA PEMILIK

ENTITAS INDUK

Dasar 2,36 (0,14) (0,07)

(6)

Modal Saldo Laba

Ditempatkan Tambahan

dan Disetor Modal Disetor Saham Telah Ditentukan Belum Ditentukan Penjabaran Laporan Kepentingan

Catatan Penuh - Neto Treasuri Penggunaannya Penggunaannya Keuangan Sub-total Nonpengendali Total

Saldo 1 Januari 2013 57.511.250.000 1.170.864.614 (1.459.694.450) 1.500.000.000 23.180.804.478 (1.529.001.002 ) 80.374.223.640 2.322.886.285 82.697.109.925

Penambahan modal dari PUT I 1b,24 684.952.200.000 - - - - - 684.952.200.000 - 684.952.200.000

Biaya emisi saham PUT I 1b,24 - (6.451.922.890 ) - - - - (6.451.922.890) - (6.451.922.890 )

Rugi komprehensif periode berjalan - - - - (494.954.574) 99.991.516 (394.963.058) (51.973.967) (446.937.025)

Saldo 31 Maret 2013 742.463.450.000 (5.281.058.276) (1.459.694.450) 1.500.000.000 22.685.849.904 (1.429.009.486) 758.479.537.692 2.270.912.318 760.750.450.010

Saldo 1 Januari 2014 742.463.450.000 (5.281.058.276) - 1.500.000.000 (6.483.923.199) (337.467.701) 731.861.000.824 174.053.143 732.035.053.967

Rugi komprehensif periode berjalan - - - - (1.024.443.749) (527.404.076) (1.551.847.824) 660.892.678 (890.955.147)

Saldo 31 Maret 2014 742.463.450.000 (5.281.058.276) - 1.500.000.000 (7.508.366.948) (864.871.777 ) 730.309.153.000 834.945.821 731.144.098.821

(7)

Catatan 31 Maret 2014 31 Maret 2013

ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI

Penerimaan kas dari pelanggan 25.944.489.083 12.549.250.449

Pembayaran kas kepada pemasok (36.087.212.341) (9.414.366.704)

Pembayaran kepada karyawan (6.860.359.581) (4.258.716.788)

Pembayaran beban operasi (5.837.859.347) (3.287.925.967)

Kas yang digunakan untuk operasi (22.840.942.186) (4.411.759.009)

Penerimaan penghasilan bunga 474.679.293 815.823.486

Pembayaran pajak penghasilan (414.502.976) (143.580.727)

Kas neto digunakan untuk aktivas operasi (22.780.765.869) (3.739.516.250)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI

Perolehan aset tetap 13 (38.140.480.921) (9.862.299.023)

Hasil penjualan aset tetap 13 48.000.000 3.500.000

Penambahan aset tidak berwujud (19.136.900) (6.100.000)

Akuisisi Entitas Anak setelah dikurangi kas yang diperoleh - (88.782.350.552)

Pembelian fasilitas pinjaman kepada pihak ketiga - (294.842.937.600)

Penarikan aset keuangan lancar lainnya 3.445.116.218 -

Penambahan uang jaminan (18.059.010) (42.833.296)

Kas neto digunakan untuk aktivitas investasi (34.684.560.613) (393.533.520.471)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN Penambahan modal disetor melalui Penawaran

Umum Terbatas I (PUT I) 1b - 684,952,200,000

Pembayaran biaya pelaksanaan PUT I 24 (2,843,092,386)

Pembayaran utang pembiayaan konsumen (228.589.000) (61,367,300)

Penambahan utang afialiasi 70.000.000.000

Kas neto diperoleh dari aktivitas pendanaan 69.771.411.000 682.047.740.314

KENAIKAN NETO KAS DAN SETARA KAS 12.306.084.518 284.774.703.592

DAMPAK NETO PERUBAHAN NILAI TUKAR

ATAS KAS DAN SETARA KAS (612.463.606) 208.950.232

KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 29.839.051.349 11.335.137.690

KAS DAN SETARA KAS AKHIR PERIODE 41.532.672.261 296.318.791.515

Saldo Cerukan - 5.145.466

KAS DAN SETARA KAS AKHIR PERIODE 41.532.672.261 296.323.936.980

(8)

a. Pendirian Perusahaan

PT Centrin Online Tbk (“Perusahaan”) dahulu bernama PT Centrindo Utama didirikan berdasarkan Akta Notaris Nanny Sukarja, S.H., No. 33 tanggal 11 Februari 1987. Akta ini telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C210781.HT.01.01.TH.88 tanggal 26 November 1988 dan diumumkan dalam Berita Negara No. 14 Tambahan No. 1084 tanggal 16 Februari 2001.

Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, perubahan terakhir berdasarkan Akta Notaris Kirana Ivyminerva Wilamarta, S.H., LL.M. No. 18 tanggal 28 Oktober 2013, mengenai perubahan nama Perseroan yang semula bernama PT Centrin Online Tbk menjadi PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk. Perubahan Anggaran Dasar terakhir telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. AHU-0001686.AH.01.09.Tahun 2014 tanggal 8 Januari 2014.

Perusahaan telah mendapatkan ijin penyelenggaraan jasa akses internet (Internet Service

Provider) dan jasa interkoneksi internet (Network Access Point) dari Direktur Jenderal Pos dan

Telekomunikasi yang terakhir diperbaharui pada tahun 2010.

Sejak tanggal 11 Desember 2013, Perusahaan telah mengubah kegiatan usaha perseroan menjadi bergerak di bidang jasa dan investasi, termasuk tetapi tidak terbatas pada jasa penyediaan, penyewaan dan pengelolaan menara telekomunikasi atau Base Transceiver Station (BTS) serta alat, sarana atau instalasi penunjang telekomunikasi, jasa konsultasi bidang instalasi telekomunikasi, jasa konsultasi manajemen, bisnis administrasi dan strategi pengembangan. Perubahan ini diaktakan dalam Akta Notaris Hasbullah Abdul Rasyid, S.H., M.Kn, No. 72 tanggal 11 Desember 2013.

Perusahaan berdomisili di Gedung Pinang 22, Jl. Ciputat Raya No. 22A, Kebayoran Lama, Pondok Pinang, Jakarta dan mulai beroperasi sebagai penyelenggara jasa internet pada tahun 1996.

Perusahaan dan Entitas Anak saat ini memiliki 6 (enam) kantor cabang yaitu Bandung, Jakarta, Surabaya, Denpasar, Medan dan Yogyakarta.

b. Penawaran Umum Efek Perusahaan

Perusahaan telah melakukan penawaran umum perdana sahamnya kepada masyarakat sebanyak 100.000.000 (seratus juta) saham biasa dengan nilai nominal Rp100 per saham dengan harga penawaran Rp125 per saham dan mulai efektif berdasarkan surat keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) No. S-2585/PM/2001 tanggal 12 Oktober 2001.

Pencatatan saham dilakukan pada tanggal 1 November 2001 pada papan pengembangan di Bursa Efek Jakarta sebanyak 100.000.000 (seratus juta) saham biasa atas nama dengan nominal Rp100 per saham yang berasal dari penawaran umum dan 450.000.000 (empat ratus lima puluh juta) saham biasa atas nama pemegang saham lama dengan nilai nominal Rp100 per saham.

(9)

b. Penawaran Umum Efek Perusahaan (lanjutan)

Bersamaan dengan pencatatan saham tersebut dicatatkan pula sebanyak 40.000.000 (empat puluh juta) Waran Seri I. Saham dan Waran Seri I dari penawaran umum diperdagangkan dengan kode perdagangan CENT dan CENT-W.

Pada tanggal 23 Januari 2013, para pemegang saham Perusahaan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa sebagaimana diaktakan dalam Akta Notaris Fathiah Helmi, S.H., No. 25 dengan tanggal yang sama, telah menyetujui perubahan anggaran dasar Perusahaan antara lain sebagai berikut:

• Peningkatan modal dasar Perusahaan di mana struktur permodalan Perusahaan sebesar Rp150.000.000.000 terdiri atas 1.500.000.000 saham ditingkatkan menjadi Rp2.950.000.000.000 terdiri atas 29.500.000.000 saham.

• Peningkatan modal ditempatkan dan disetor sebesar Rp57.511.250.000 terdiri atas 575.112.500 saham menjadi Rp742.463.450.000 terdiri atas 7.424.634.500 saham.

• Dana yang diperoleh dari hasil Penawaran Umum Terbatas I (PUT I) setelah dikurangi biaya-biaya emisi seluruhnya akan dipergunakan sebesar 63,80% untuk pelaksanaan rencana transaksi pembelian Opsi Saham dari Winlord Enterprise Ltd., (“Winlord”) sebesar 24,07%, pelaksanaan Hak Opsi atas saham PT Retower Asia (“RTA”) sebesar 8,67%, dan pembelian piutang Winlord atas RTA sebesar 67,26%. Sementara sisanya sekitar 36,20% akan digunakan untuk pinjaman dan/atau setoran modal kepada Entitas Anak dan/atau mengakuisisi suatu perusahaan.

Perubahan anggaran dasar Perusahaan tentang peningkatan modal dasar tersebut di atas dinyatakan kembali dalam Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa dengan Akta Notaris No. 26 tanggal 23 Januari 2013 dibuat oleh Notaris Fathiah Helmi, S.H., dan telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui suratnya No. AHU-03086.AH.01.02.Tahun 2013 tanggal 28 Januari 2013.

Pada tanggal 23 Januari 2013, Perusahaan telah memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan untuk melakukan PUT I berdasarkan surat No. S-11/D.04/2013.

Pada bulan Februari 2013, Perusahaan melakukan Penawaran Umum Terbatas (“PUT”) I kepada pemegang saham dengan menerbitkan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (“HMETD”) sebanyak 6.849.522.000 saham biasa dengan nilai nominal Rp100 per saham dengan harga penawaran Rp100 per saham. Setiap pemegang saham yang memiliki 1 (satu) saham, yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan pada tanggal 5 Februari 2013, berhak mempunyai 12 (dua belas) HMETD, di mana setiap 1 (satu) HMETD berhak untuk membeli 1 (satu) saham baru dengan nilai nominal Rp100 setiap saham dengan harga penawaran sebesar Rp100.

Jika saham baru yang ditawarkan dalam PUT I ini tidak seluruhnya diambil oleh pemegang HMETD, maka sisanya akan dialokasikan kepada pemegang HMETD lainnya yang pemesanannya lebih dari haknya secara proporsional sesuai dengan hak yang telah dilaksanakan.

Apabila setelah alokasi pemesanan saham tambahan, masih terdapat sisa saham yang tidak diambil bagian oleh pemegang HMETD dalam PUT I, maka Clover Universal Enterprise Ltd., (“Clover”) selaku Pembeli Siaga, wajib membeli seluruh sisa saham baru dalam PUT I tersebut, sesuai dengan Perjanjian Pembelian Sisa Saham dalam Rangka Penawaran Umum Terbatas I No. 47 tanggal 22 November 2012, yang dibuat di hadapan Notaris Fathiah Helmi, S.H.

(10)

b. Penawaran Umum Efek Perusahaan (lanjutan)

Pada tanggal 25 Oktober 2013 berdasarkan Akta Notaris Notaris Ely Baharini, S.H., M.H.,Sp.N No. 28 tanggal 25 Oktober 2013, para pemegang saham menyetujui perubahan rencana penggunaan dana PUT I sebesar 36,20% akan digunakan untuk pinjaman dan/atau tambahan setoran modal kepada Entitas Anak dan/atau mengakuisisi suatu perusahaan. Selanjutnya Entitas Anak akan menggunakan dana tersebut untuk pengembangan usaha Entitas Anak dalam meningkatkan kapasitas, memperluas tipe jasa dan produk serta meningkatkan daya saing Entitas Anak, serta memanfaatkan peluang usaha dari potensi pertumbuhan di sektor telekomunikasi Indonesia. Adapun bentuk pengembangan usaha yang direncanakan untuk dilakukan adalah pembangunan infrastruktur telekomunikasi; dan/atau akuisisi aset infrastruktur telekomunikasi; dan/atau pemeliharaan aset infrastruktur telekomunikasi, dan/atau akuisisi suatu perusahaan. Saat ini pengembangan usaha Entitas Anak tersebut masih dalam tahap perencanaan. Realisasi pengembangan usaha tersebut diharapkan dapat terjadi dalam periode tahun 2013-2015.

c. Susunan Entitas Anak

Pada tanggal-tanggal 31 Maret 2014 dan 31 Desember 2013, Perusahaan memiliki Entitas Anak dengan kepemilikan hak suara langsung lebih dari 50% dengan rincian sebagai berikut:

Persentase Kepemilikan Total Aset sebelum Eliminasi

Tahun usaha

Nama Entitas Ruang lingkup komersial 31 Maret 31 Desember 31 Maret 31 Desember Anak aktivitas Kedudukan dimulai 2014 2013 2014 2013

PT Centrin

Nuansa Jasa

Teknologi telekomu-

(“CNT”) nikasi Indonesia 2003 99,00% 99,00% 362.499.757 375.219.723

Centrin Techno- Jasa

logy Pte., Ltd. telekomu-

(“CT”) nikasi Singapura 2003 100,00% 100,00% - 3.579.781

Centrin

Communica- Jasa

tions Ltd. telekomu- British Virgin

(“CCom”) nikasi Island 2003 100,00% 100,00% 21.011.418.402 22.405.381.605

PT Centrin Penyeleng-

Online Prima garaan jasa

(“COP”) internet Indonesia 1997 51,00% 51,00% 24.695.625.471 23.442.430.466

PT Retower Asia Sarana jaringan

(“RTA”) *)

telekomu-

nikasi Indonesia 2008 99,99% 99,99% 607.181.020.270 577.882.395.476

*) Perusahaan mengakuisisi RTA pada tanggal 27 Februari 2013.

CNT

Berdasarkan Akta Notaris Efemia Surjawati Salim, S.H., M.H., No. 21 tanggal 23 Juli 2002, Perusahaan dan PT Centrindata Saranaprima (“CS”), mendirikan Entitas Anak dengan nama PT Centrin Nuansa Teknologi, dengan total modal awal disetor sebesar Rp3.000.000.000 dengan komposisi kepemilikan masing-masing sebesar 99% dan 1%. Sejak tanggal 1 Agustus 2011, CNT mengoperasikan wahana rekreasi segway bekerja sama dengan PT Taman Impian Jaya Ancol.

(11)

c. Susunan Entitas Anak (lanjutan) CT

Berdasarkan Registry of Companies and Bussiness Certificate tanggal 20 Agustus 2002, Perusahaan mendirikan Entitas Anak dengan nama Centrin Technology Pte., Ltd., dengan total modal awal disetor sebesar SGD200.000 dengan komposisi kepemilikan sebesar 100%. Pada saat ini, CT sedang dalam proses pengajuan ijin untuk menutup usahanya kepada otoritas Singapura

CCom

Perusahaan mendirikan Centrin Communications Ltd., dengan total modal awal disetor sebesar AS$10 dengan komposisi kepemilikan sebesar 100%.

COP

Berdasarkan Akta Notaris Kirana Ivyminerva Wilamarta, S.H., LL.M., No. 3 dan 5 tanggal 14 Januari 2008, Perusahaan membeli 51% saham KTI dengan harga sejumlah Rp30.000.000.000. Nilai aset neto KTI pada saat akuisisi sebesar Rp9.188.902.893 dan menimbulkan goodwill sebesar Rp20.811.097.107 periode 31 Desember 2013.

Pembelian saham KTI tersebut telah disetujui para pemegang saham, sebagaimana dinyatakan dalam Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang diaktakan dalam Akta Notaris Kirana Ivyminerva Wilamarta, S.H., LL.M., No. 17 tanggal 17 Desember 2007.

Berdasarkan Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham tanggal 18 November 2013, yang diaktakan dalam Akta Notaris Kirana Ivyminerva Wilamarta, S.H., LL.M., No. 1 dengan tanggal yang sama, para pemegang saham KTI menyetujui melakukan perubahan nama dari PT Khasanah Timur Indonesia menjadi PT Centrin Online Prima.

Persetujuan perubahan Anggaran Dasar mengenai perubahan nama yang semula bernama PT Khasanah Timur Indonesia menjadi PT Centrin Online Prima telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. AHU-11696.AH.01.02 Tahun 2014 tanggal 19 Maret 2014.

RTA

Perusahaan melakukan akuisisi atas seluruh saham RTA pada tanggal 27 Februari 2013 (Catatan 4).

Pada tanggal 20 Agustus 2013, Perusahaan mengalihkan 1 (satu) lembar saham PT Retower Asia kepada Rahendrawan, Direktur Utama Perusahaan dengan harga sebesar Rp4.667.000. Pengalihan saham ini telah diaktakan dengan Akta Notaris Hasbullah Abdul Rasyid, SH., M.Kn No. 63 tanggal 20 Agustus 2013 dan telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham PT Retower Asia berdasarkan Akta Notaris Hasbullah Abdul Rasyid, SH., M.Kn No. 62 tanggal 20 Agustus 2013.

(12)

d. Dewan Komisaris, Direksi, Komite Audit dan Karyawan

Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan adalah sebagai berikut:

31 Maret 2014

Komisaris Utama : Guntur Soaloan Siboro Direktur Utama : Rahendrawan Komisaris : Lukman Tirta Guna Direktur : Ari Dewanto Sutedi

Sun Jen Tjin

Komisaris Direktur Tidak

Independen : Susanto Sosilo Terafiliasi : Hartanto Kusmanto

31 Desember 2013

Komisaris Utama : Guntur Soaloan Siboro Direktur Utama : Rahendrawan Komisaris : Lukman Tirta Guna Direktur : Ari Dewanto Sutedi

Sun Jen Tjin

Komisaris Direktur Tidak

Independen : Susanto Sosilo Terafiliasi : Hartanto Kusmanto

Berdasarkan Akta Notaris Kirana Ivyminerva Wilamarta, S.H., LL.M., No. 1 tanggal 2 April 2013, Lukman Tirta Guna dan Susanto Sosilo menggantikan Andi Oeij, Eddy Wikundono Santoso dan Bonivasius Purba sebagai Komisaris dan Komisaris Independen Perusahaan. Selanjutnya, Rahendrawan menggantikan Ismail Hirawan sebagai Direktur Utama Perusahaan serta Ari Dewanto Sutedi dan Hartanto Kusmanto menggantikan Sony Sunjaya dan Binsar Napitupulu sebagai Direktur Perusahaan.

Susunan komite audit Perusahaan adalah sebagai berikut:

31 Maret 2014 31 Desember 2013

Ketua Ir. Susanto Sosilo Ir. Susanto Sosilo

Anggota Beatrix Susanto Beatrix Susanto

Indra Yudison Indra Yudison

Pembentukan komite audit Perusahaan telah dilakukan sesuai dengan Peraturan BAPEPAM-LK No. IX.1.5.

Berdasarkan hasil keputusan Dewan Komisaris No. 011/SK-KA/CO/VI/2013 pada tanggal 11 Juni 2013, Ir. Susanto Sosilo menggantikan Bonivasius Purba sebagai ketua komite audit Perusahaan. Serta Beatrix Susanto dan Indra Yudison menggantikan Yayan Mulyana dan Wandy Sumarli sebagai anggota komite audit Perusahaan.

Berdasarkan Surat Keputusan Dewan Direksi No. 006-1/CO-SK/I/2011 tanggal 6 Januari 2011, Direksi Perusahaan menyetujui pengangkatan Herlani Mardiani, S.E., sebagai Ketua Internal Audit.

(13)

d. Dewan Komisaris, Direksi, Komite Audit dan Karyawan (lanjutan)

Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan merupakan personil manajemen kunci.

Pada tanggal-tanggal 31 Maret 2014 dan 31 Desember 2013, sekretaris Perusahaan adalah Janti Kosasih.

Pada tanggal-tanggal 31 Maret 2014 dan 31 Desember 2013, Perusahaan dan Entitas Anak memiliki total karyawan tetap masing-masing sebanyak 251 dan 252 orang.

e. Penyelesaian Laporan Keuangan Konsolidasian

Laporan keuangan konsolidasian telah diselesaikan dan diotorisasi untuk terbit oleh Direksi Perusahaan pada tanggal 28 April 2014.

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING

a. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasian

Laporan keuangan konsolidasian telah disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia (“SAK”), yang mencakup Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (“PSAK”) dan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (“ISAK”) yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia, serta Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan yang diterbitkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (“BAPEPAM-LK”).

Laporan keuangan disusun sesuai dengan PSAK No. 1 (Revisi 2009), “Penyajian Laporan Keuangan”.

Laporan keuangan Entitas Anak, Centrin Technology Pte., Ltd., yang berdomisili di Singapura disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Singapura. Untuk penyusunan laporan keuangan konsolidasian, laporan keuangan Entitas Anak tersebut telah terlebih dahulu disesuaikan dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.

Kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasian untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2014 konsisten dengan kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasian Perusahaan dan Entitas Anak untuk tahun-tahun sebelumnya.

Laporan keuangan konsolidasian disusun berdasarkan konsep akrual, dan dasar pengukuran dengan menggunakan konsep biaya historis, kecuali untuk akun tertentu yang diukur dengan menggunakan dasar seperti yang disebutkan dalam catatan yang relevan.

Laporan arus kas konsolidasian, menyajikan penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas yang diklasifikasikan ke dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan dengan menggunakan metode langsung.

(14)

a. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasian (lanjutan)

Akun-akun yang tercakup dalam laporan keuangan konsolidasian Perusahaan dan Entitas Anak masing-masing disajikan dengan menggunakan mata uang dari lingkungan ekonomi utama dimana entitas beroperasi (“mata uang fungsional”). Perusahaan dan Entitas Anak menerapkan PSAK No. 10, “Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Mata Uang Asing” di mana Perusahaan dan Entitas Anak menggunakan Rupiah sebagai mata uang pelaporan yang juga merupakan mata uang fungsional kecuali untuk beberapa Entitas Anak.

Seluruh angka dalam laporan keuangan konsolidasian ini disajikan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain.

b. Prinsip-prinsip Konsolidasian

Perusahaan dan Entitas Anak menerapkan PSAK No. 4 (Revisi 2009), “Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri”, kecuali beberapa hal berikut yang diterapkan secara prospektif: (i) rugi entitas anak yang menyebabkan saldo defisit bagi kepentingan nonpengendali (“KNP”); (ii) kehilangan pengendalian pada entitas anak; (iii) perubahan kepemilikan pada entitas anak yang tidak mengakibatkan hilangnya pengendalian; (iv) hak suara potensial dalam menilai keberadaan pengendalian; dan (v) konsolidasian atas entitas anak yang dibatasi oleh restriksi jangka panjang.

Laporan keuangan konsolidasian meliputi akun-akun Perusahaan dan Entitas Anak yang dimiliki oleh Perusahaan, secara langsung dengan kepemilikan saham lebih dari 50%. Seluruh saldo akun dan transaksi yang material antar perusahaan yang dikonsolidasi telah dieliminasi.

Semua akun dan transaksi antar perusahaan yang material, termasuk keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi, jika ada, dieliminasi untuk mencerminkan posisi keuangan dan hasil operasi Perusahaan dan Entitas Anak sebagai satu kesatuan usaha.

Entitas Anak dikonsolidasi secara penuh sejak tanggal akuisisi, yaitu tanggal perusahaan memperoleh pengendalian, sampai dengan tanggal entitas induk kehilangan pengendalian. Pengendalian dianggap ada ketika perusahaan memiliki secara langsung atau tidak langsung melalui entitas anak, lebih dari setengah kekuasaan suara suatu entitas.

Pengendalian juga ada ketika perusahaan memiliki setengah atau kurang kekuasaan suara suatu entitas jika terdapat:

a) kekuasaan yang melebihi setengah hak suara sesuai perjanjian dengan investor lain; b) kekuasaan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional entitas berdasarkan

anggaran dasar atau perjanjian;

c) kekuasaan untuk menunjuk atau mengganti sebagian besar direksi atau organ pengatur setara dan mengendalikan entitas melalui direksi atau organ tersebut; atau

d) kekuasaan untuk memberikan suara mayoritas pada rapat dewan direksi atau organ pengatur setara dan mengendalikan entitas melalui direksi atau organ tersebut.

Rugi entitas anak yang tidak dimiliki secara penuh diatribusikan pada KNP bahkan jika hal ini mengakibatkan KNP mempunyai saldo defisit.

(15)

b. Prinsip-prinsip Konsolidasian (lanjutan)

Jika kehilangan pengendalian atas suatu entitas anak, maka perusahaan:

- menghentikan pengakuan aset (termasuk setiap goodwill) dan liabilitas entitas anak; - menghentikan pengakuan jumlah tercatat setiap KNP;

- menghentikan pengakuan akumulasi selisih penjabaran, yang dicatat di ekuitas, bila ada; - mengakui nilai wajar pembayaran yang diterima;

- mengakui setiap sisa investasi pada nilai wajarnya;

- mengakui setiap perbedaan yang dihasilkan sebagai keuntungan atau kerugian dalam laporan laba rugi; dan

- mereklasifikasi bagian entitas induk atas komponen yang sebelumnya diakui sebagai pendapatan komprehensif ke laporan laba rugi atau ke saldo laba.

KNP mencerminkan bagian atas laba atau rugi dan aset neto dari entitas-entitas anak yang tidak dapat diatribusikan secara langsung maupun tidak langsung oleh perusahaan, yang masing-masing disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian dan dalam ekuitas pada laporan posisi keuangan konsolidasian, terpisah dari bagian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

c. Kombinasi Bisnis

Kombinasi bisnis dicatat dengan menggunakan metode akuisisi. Biaya perolehan dari sebuah akuisisi disajikan pada nilai agregat imbalan yang dialihkan, disajikan pada nilai wajar pada tanggal akuisisi dan jumlah setiap KNP pada pihak yang diakuisisi. Untuk setiap kombinasi bisnis, pihak pengakuisisi mengukur KNP pada entitas yang diakuisisi baik pada nilai wajar ataupun pada proporsi kepemilikan KNP atas aset neto yang teridentifikasi dari entitas yang diakuisisi. Biaya-biaya akuisisi yang timbul dibebankan langsung dan disajikan dalam “Beban Penjualan, Umum dan Administrasi”.

Ketika melakukan akuisisi atas sebuah bisnis, Perusahaan dan Entitas Anak mengklasifikasikan dan menentukan aset keuangan yang diperoleh dan liabilitas keuangan yang diambil alih berdasarkan pada persyaratan kontraktual, kondisi ekonomi dan kondisi terkait lain yang ada pada tanggal akuisisi. Hal ini termasuk pengelompokan derivatif melekat dalam kontrak utama oleh pihak yang diakuisisi.

Jika proses akuntansi awal untuk kombinasi bisnis belum selesai pada akhir tahun pelaporan saat kombinasi terjadi, maka Entitas Anak melaporkan jumlah sementara untuk pos-pos yang proses akuntansinya belum selesai dalam laporan keuangan konsolidasiannya. Selama periode pengukuran, Entitas Anak menyesuaikan secara retrospektif jumlah sementara yang diakui pada tanggal akuisisi untuk mencerminkan informasi baru yang diperoleh tentang fakta dan keadaan yang ada pada tanggal akuisisi dan, jika diketahui, telah berdampak pada pengukuran jumlah yang diakui pada tanggal tersebut. Periode pengukuran berakhir segera setelah Entitas Anak menerima informasi yang dicari tentang fakta dan keadaan yang ada pada tanggal akuisisi atau mempelajari bahwa informasi lebih tidak dapat diperoleh. Namun demikian, periode pengukuran tidak boleh melebihi satu tahun dari tanggal akuisisi.

Dalam suatu kombinasi bisnis yang dilakukan secara bertahap, pihak pengakuisisi mengukur kembali kepentingan ekuitas yang dimiliki sebelumnya pada pihak yang diakuisisi pada nilai wajar tanggal akuisisi dan mengakui keuntungan atau kerugian yang dihasilkan melalui laba atau rugi.

(16)

c. Kombinasi Bisnis (lanjutan)

Imbalan kontinjensi yang dialihkan oleh pihak pengakuisisi diakui pada nilai wajar tanggal akuisisi. Perubahan nilai wajar atas imbalan kontinjensi setelah tanggal akuisisi yang diklasifikasikan sebagai aset atau liabilitas, akan diakui dalam laporan laba rugi atau pendapatan komprehensif lain sesuai dengan PSAK No. 55 (Revisi 2011), “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran”. Jika diklasifikasikan sebagai ekuitas, imbalan kontinjensi tidak disajikan kembali dan penyelesaian selanjutnya diperhitungkan dalam ekuitas.

Pada tanggal akuisisi, goodwill awalnya disajikan pada harga perolehan yang merupakan selisih lebih nilai agregat dari imbalan yang dialihkan dan jumlah setiap KNP atas jumlah neto dari aset teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih. Jika imbalan tersebut kurang dari nilai wajar aset neto entitas anak yang diakuisisi, selisih tersebut diakui dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

Setelah pengakuan awal, goodwill disajikan pada jumlah tercatat dikurangi akumulasi kerugian penurunan nilai. Untuk tujuan uji penurunan nilai, goodwill yang diperoleh dari suatu kombinasi bisnis, sejak tanggal akuisisi, dialokasikan kepada setiap Unit Penghasil Kas (“UPK”) dari Perusahaan dan Entitas Anak yang diharapkan akan bermanfaat dari sinergi kombinasi tersebut, terlepas dari apakah aset atau liabilitas lain dari pihak yang diakuisisi dialokasikan atas UPK tersebut.

Jika goodwill telah dialokasikan pada suatu UPK dan operasi tertentu dalam UPK tersebut dihentikan, maka goodwill yang diasosiasikan dengan operasi yang dihentikan tersebut termasuk dalam jumlah tercatat operasi tersebut ketika menentukan keuntungan atau kerugian dari penghentian operasi. Goodwill yang dilepaskan tersebut disajikan berdasarkan nilai relatif operasi yang dihentikan dan porsi UPK yang ditahan.

d. Kas dan Setara Kas

Kas dan setara kas terdiri dari kas, bank dan deposito berjangka dengan jangka waktu 3 (tiga) bulan atau kurang sejak tanggal penempatan dan tidak dibatasi penggunaannya.

e. Transaksi dengan Pihak-pihak Berelasi

Perusahaan dan Entitas Anak menerapkan PSAK No. 7 (Revisi 2010), “Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi” mensyaratkan pengungkapan hubungan, transaksi dan saldo Pihak-pihak-Pihak-pihak berelasi, termasuk komitmen, dalam laporan keuangan konsolidasian dan juga diterapkan terhadap laporan keuangan secara individual.

Suatu pihak dianggap berelasi dengan Perusahaan dan Entitas Anak jika adalah sebagai berikut: a. orang atau anggota keluarga terdekat mempunyai relasi dengan entitas pelapor jika orang

tersebut:

(i) memiliki pengendalian atau pengendalian bersama atas entitas pelapor, (ii) memiliki pengaruh signifikan atas entitas pelapor, atau

(iii) personil manajemen kunci entitas pelapor atau entitas induk entitas pelapor; b. suatu entitas berelasi dengan entitas pelapor jika memenuhi salah satu hal berikut:

(i) entitas dan entitas pelapor adalah anggota dari kelompok usaha yang sama (artinya entitas induk, entitas anak dan entitas anak berikutnya terkait dengan entitas lain), (ii) satu entitas adalah entitas asosiasi atau ventura bersama dari entitas lain (atau entitas

asosiasi atau ventura bersama yang merupakan anggota suatu kelompok usaha, yang mana entitas lain tersebut adalah anggotanya),

(17)

e. Transaksi dengan Pihak-pihak Berelasi (lanjutan)

b. suatu entitas berelasi dengan entitas pelapor jika memenuhi salah satu hal berikut (lanjutan):

(iii) kedua entitas tersebut adalah ventura bersama dari pihak ketiga yang sama,

(iv) satu entitas adalah ventura bersama dari entitas ketiga dan entitas yang lain adalah entitas asosiasi dari entitas ketiga,

(v) entitas tersebut adalah suatu program imbalan paska kerja untuk imbalan kerja dari salah satu entitas pelapor atau entitas yang terkait dengan entitas pelapor. Jika entitas pelapor adalah entitas yang menyelenggarakan program tersebut, maka entitas sponsor juga berelasi dengan entitas pelapor,

(vi) entitas yang dikendalikan atau dikendalikan bersama oleh orang yang diidentifikasi dalam huruf (a),

(vii) orang yang diidentifikasi dalam huruf (a) (i) memiliki pengaruh signifikan atas entitas atau personil manajemen kunci entitas (atau entitas induk dari entitas).

Transaksi dengan pihak berelasi dilakukan berdasarkan harga dan kondisi lainnya yang setara dengan transaksi dengan pihak ketiga.

Seluruh transaksi dan saldo dengan pihak-pihak berelasi diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasian.

f. Persediaan

Persediaan dinyatakan sebesar nilai terendah antara biaya perolehan atau nilai realisasi neto. Biaya perolehan persediaan Perusahaan dan Entitas Anak ditentukan dengan menggunakan metode “masuk pertama, keluar pertama” (“FIFO”). Cadangan untuk persediaan usang dan/atau penurunan nilai persediaan ditetapkan berdasarkan hasil penelaahan berkala atas kondisi fisik dan nilai realisasi neto persediaan.

Nilai realisasi neto persediaan adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan.

g. Biaya Dibayar Dimuka

Biaya dibayar dimuka diamortisasi dan dibebankan pada usaha selama masa manfaatnya. Bagian jangka panjang dari sewa dibayar di muka disajikan sebagai "Biaya Sewa Dibayar Dimuka - Bagian Tidak Lancar" dalam laporan posisi keuangan konsolidasian.

h. Sewa

Penentuan apakah suatu perjanjian merupakan perjanjian sewa atau perjanjian yang mengandung sewa didasarkan atas substansi perjanjian pada tanggal awal sewa dan apakah pemenuhan perjanjian tergantung pada penggunaan suatu aset tertentu dan perjanjian tersebut memberikan suatu hak untuk menggunakan aset tersebut. Sewa yang mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset, diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan.

Selanjutnya, suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi, jika sewa tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.

(18)

h. Sewa (lanjutan)

Perusahaan dan Entitas Anak sebagai Lessee

i. Dalam sewa pembiayaan, Perusahaan dan Entitas Anak sebagai lessee mengakui aset dan liabilitas dalam laporan posisi keuangan konsolidasian pada awal masa sewa, sebesar nilai wajar aset sewaan atau sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih rendah dari nilai wajar. Biaya keuangan dialokasikan pada setiap periode selama masa sewa, sehingga menghasilkan tingkat suku bunga periodik yang konstan atas saldo liabilitas. Rental kontinjen dibebankan pada periode terjadinya. Biaya keuangan dicatat dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

ii. Aset sewaan (disajikan sebagai bagian dari “Aset Tetap”) disusutkan selama jangka waktu yang lebih pendek antara umur manfaat aset sewaan dan periode masa sewa, jika tidak ada kepastian yang memadai bahwa Perusahaan dan Entitas Anak akan mendapatkan hak kepemilikan pada akhir masa sewa.

iii. Dalam sewa operasi, Perusahaan dan Entitas Anak mengakui pembayaran sewa sebagai beban dengan metode garis lurus (straight-line method) selama masa sewa.

Perusahaan dan Entitas Anak sebagai Lessor

i. Dalam sewa pembiayaan, Perusahaan dan Entitas Anak mengakui aset berupa piutang sewa pembiayaan di laporan posisi keuangan konsolidasian sebesar jumlah yang sama dengan investasi sewa neto. Penerimaan piutang sewa diperlakukan sebagai pembayaran pokok dan pendapatan pembiayaan. Pengakuan pendapatan pembiayaan didasarkan pada suatu pola yang mencerminkan suatu tingkat pengembalian periodik yang konstan atas investasi neto sebagai lessor dalam sewa pembiayaan.

ii. Dalam sewa operasi, Perusahaan dan Entitas Anak mengakui aset untuk sewa operasi di laporan posisi keuangan konsolidasian sesuai sifat aset tersebut. Biaya langsung awal sehubungan proses negosiasi sewa operasi ditambahkan ke jumlah tercatat dari aset sewaan dan diakui sebagai beban selama masa sewa dengan dasar yang sama dengan pendapatan sewa. Rental kontinjen, apabila ada, diakui sebagai pendapatan pada periode terjadinya. Pendapatan sewa operasi diakui sebagai pendapatan atas dasar garis lurus selama masa sewa.

Berdasarkan PSAK No. 30 (Revisi 2011), ketika sewa mengandung elemen tanah dan bangunan sekaligus, entitas harus menelaah klasifikasi untuk setiap elemen secara terpisah apakah sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi. Sebagai hasil dari penelaahan terpisah yang dilakukan oleh Perusahaan dengan mempertimbangkan perbandingan antara masa sewa dengan umur ekonomis yang ditelaah ulang dari masing-masing elemen dan faktor-faktor lainnya yang relevan, setiap elemen mungkin akan menghasilkan klasifikasi sewa yang berbeda.

i. Investasi pada Entitas Asosiasi

Investasi Perusahaan dan Entitas Anak pada entitas asosiasi dengan pemilikan 20% sampai dengan 50% disajikan dengan menggunakan metode ekuitas. Entitas asosiasi adalah suatu entitas di mana Perusahaan dan Entitas Anak mempunyai pengaruh signifikan. Sesuai dengan metode ekuitas, nilai perolehan investasi ditambah atau dikurang dengan bagian Perusahaan dan Entitas Anak atas laba atau rugi neto dan penerimaan dividen dari investee sejak tanggal perolehan. Investasi saham dengan pemilikan kurang dari 20% dicatat sebagaimana diatur dalam PSAK No. 55, “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran” (Catatan 2u).

(19)

i. Investasi pada Entitas Asosiasi (lanjutan)

Laporan laba rugi komprehensif konsolidasian mencerminkan bagian Perusahaan dan Entitas Anak atas hasil operasi dari entitas asosiasi. Bila terdapat perubahan yang diakui langsung pada ekuitas dari entitas asosiasi, Perusahaan dan Entitas Anak mengakui bagiannya atas perubahan tersebut dan mengungkapkan hal ini, jika ada, dalam laporan perubahan ekuitas konsolidasian. Laba atau rugi yang belum direalisasi sebagai hasil dari transaksi-transaksi antara Perusahaan dan Entitas Anak dengan entitas asosiasi dieliminasi pada jumlah sesuai dengan kepemilikan Perusahaan dan Entitas Anak dalam entitas asosiasi.

Perusahaan dan Entitas Anak menentukan apakah diperlukan untuk mengakui tambahan rugi penurunan nilai atas investasi Perusahaan dan Entitas Anak dalam entitas asosiasi. Perusahaan dan Entitas Anak menentukan pada setiap tanggal pelaporan apakah terdapat bukti yang obyektif yang mengindikasikan bahwa investasi dalam entitas asosiasi mengalami penurunan nilai. Dalam hal ini, Perusahaan dan Entitas Anak menghitung jumlah penurunan nilai berdasarkan selisih antara jumlah terpulihkan atas investasi dalam entitas asosiasi dan nilai tercatatnya dan mengakuinya dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

j. Aset Tetap

Perusahaan menerapkan PSAK No. 16 (Revisi 2011), “Aset Tetap”. PSAK No. 16 (Revisi 2011) mengatur pengakuan aset, penentuan jumlah tercatat, biaya penyusutan dan kerugian atas penurunan nilai harus diakui dalam kinerja dengan aset tersebut.

Aset tetap dinyatakan sebesar biaya perolehan (termasuk kapitalisasi biaya pinjaman tertentu selama masa konstruksi), dikurangi akumulasi penyusutan dan rugi penurunan nilai, jika ada. Biaya perolehan termasuk biaya penggantian bagian aset tetap saat biaya tersebut terjadi, jika memenuhi kriteria pengakuan. Selanjutnya, pada saat inspeksi yang signifikan dilakukan, biaya inspeksi itu diakui ke dalam nilai tercatat aset tetap sebagai suatu penggantian jika memenuhi kriteria pengakuan. Semua biaya pemeliharaan dan perbaikan yang tidak memenuhi kriteria pengakuan diakui dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian pada saat terjadinya. Penyusutan dimulai ketika aset tetap telah siap sesuai dengan yang diharapkan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus, dengan estimasi masa manfaat ekonomis aset tetap sebagai berikut:

Taksiran Umur Manfaat

Jenis Aset Tetap Metode (Tahun) Tarif

Bangunan Garis lurus 20 5%

Menara Garis lurus 4 - 25 4% - 25%

Peralatan Komputer Garis lurus 5 20%

Perlengkapan internet Garis lurus 5 20%

Kendaraan Garis lurus 5 - 8 12,5% - 20%

Inventaris kantor Garis lurus 2 - 8 12,5% - 50%

Peralatan kabelnet Garis lurus 5 20%

Peralatan dan perlengkapan

(20)

j. Aset Tetap (lanjutan)

Tanah dinyatakan sebesar biaya perolehan dan tidak diamortisasi.

Aset tetap dalam penyelesaian dicatat sebesar biaya perolehan, yang mencakup, jika ada, kapitalisasi biaya pinjaman dan biaya-biaya lainnya yang terjadi sehubungan dengan pendanaan aset tetap dalam penyelesaian tersebut. Akumulasi biaya perolehan akan direklasifikasi ke akun “Aset Tetap” yang bersangkutan pada saat aset tetap tersebut telah selesai dikerjakan dan siap untuk digunakan. Aset tetap dalam penyelesaian tidak disusutkan karena belum tersedia untuk dipergunakan.

Biaya perbaikan dan pemeliharaan dibebankan pada operasi pada saat terjadinya; pembaruan dan perbaikan yang signifikan akan dikapitalisasi ke dalam nilai aset. Aset tetap yang sudah tidak digunakan lagi atau yang dijual, biaya perolehan serta akumulasi penyusutannya dikeluarkan dari akun aset tetap dan laba atau rugi yang terjadi dibebankan pada periode berjalan.

Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat dilepaskan atau saat tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset (dihitung sebagai perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan dan jumlah tercatat dari aset) dimasukkan dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian pada tahun aset tersebut dihentikan pengakuannya.

Pada setiap akhir tahun, nilai residu, umur manfaat dan metode penyusutan ditelaah, dan jika sesuai dengan keadaan, disesuaikan secara prospektif.

k. Aset Takberwujud

Aset takberwujud yang diperoleh secara terpisah diukur pada pengakuan awal sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan aset takberwujud yang berasal dari kombinasi bisnis adalah nilai wajar pada tanggal akuisisi. Setelah pengakuan awal, aset takberwujud dinyatakan pada biaya perolehan dikurangi dengan akumulasi amortisasi dan akumulasi rugi penurunan nilai, kecuali untuk goodwill yang dinyatakan pada nilai wajar pada tanggal akuisisi dengan dikurangi penurunan nilai.

Umur manfaat aset takberwujud dinilai sebagai terbatas atau tidak terbatas. Aset takberwujud dengan umur manfaat terbatas diamortisasi sesuai umur manfaat ekonomis dan diuji untuk penurunan nilai jika terdapat indikasi bahwa aset takberwujud mengalami penurunan nilai. Periode dan metode amortisasi aset takberwujud dengan umur manfaat terbatas ditelaah sekurang-kurangnya pada setiap akhir tahun pelaporan. Perubahan pada perkiraan umur manfaat atau pola konsumsi manfaat ekonomi masa depan dari aset tersebut dijadikan pertimbangan dalam mengubah periode atau metode amortisasi dan diperlakukan sebagai perubahan estimasi akuntansi. Beban amortisasi aset takberwujud dengan umur manfaat terbatas dicatat sebagai beban pada laba rugi sesuai dengan fungsi aset takberwujud tersebut. Aset takberwujud dengan umur manfaat tidak terbatas tidak diamortisasi, tetapi diuji setiap tahun untuk penurunan nilai, secara individual atau pada tingkat unit penghasil kas. Umur manfaat aset takberwujud yang tidak diamortisasi ditelaah setiap tahun untuk menentukan apakah peristiwa dan kondisi dapat terus mendukung penilaian bahwa umur manfaat tetap tidak terbatas. Jika tidak, maka perubahan umur manfaat dari tidak terbatas menjadi terbatas diterapkan secara prospektif.

(21)

k. Aset Takberwujud (lanjutan)

Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset takberwujud dihitung sebagai selisih antara jumlah neto hasil pelepasan dan jumlah tercatat aset takberwujud dan diakui dalam laba rugi pada saat aset takberwujud tersebut dihentikan pengakuannya.

Ringkasan kebijakan yang diterapkan untuk aset takberwujud milik Perusahaan dan Entitas Anak adalah sebagai berikut:

Kontrak Pelanggan

Goodwill Perangkat Lunak dan Order Backlog

Umur manfaat Tidak terbatas 4 tahun 10 tahun

Metode amortisasi Tidak diamortisasi Garis lurus Garis lurus

Dihasilkan secara internal atau

dari pembelian Dari pembelian Dari pembelian Dari pembelian

l. Penurunan Nilai Aset Non-keuangan

Seperti diuraikan pada bagian ini, penerapan PSAK No. 48 (Revisi 2009) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pelaporan keuangan, berikut pengungkapan terkait, terutama atas uji penurunan nilai bagi goodwill yang diharuskan minimal satu kali setiap tahun atau lebih sering bila ada indikasi penurunan nilai.

Pada setiap akhir periode pelaporan tahunan, Perusahaan dan Entitas Anak menilai apakah terdapat indikasi suatu aset mengalami penurunan nilai. Jika terdapat indikasi tersebut atau pada saat pengujian penurunan nilai aset (yaitu aset takberwujud dengan umur manfaat tidak terbatas, aset takberwujud yang belum dapat digunakan atau goodwill yang diperoleh dalam suatu kombinasi bisnis) diperlukan, maka Perusahaan dan Entitas Anak membuat estimasi formal jumlah terpulihkan aset tersebut.

Jumlah terpulihkan yang ditentukan untuk aset individual adalah jumlah yang lebih tinggi antara nilai wajar aset atau UPK dikurangi biaya untuk menjual dengan nilai pakainya, kecuali aset tersebut tidak menghasilkan arus kas masuk yang sebagian besar independen dari aset atau kelompok aset lain. Jika nilai tercatat aset lebih besar daripada nilai terpulihkannya, maka aset tersebut mengalami penurunan nilai dan nilai tercatat aset diturunkan menjadi sebesar nilai terpulihkannya. Rugi penurunan nilai dari operasi yang dilanjutkan diakui pada laporan laba rugi komprehensif konsolidasian sebagai “rugi penurunan nilai”. Dalam menghitung nilai pakai, estimasi arus kas masa depan neto didiskontokan ke nilai kini dengan menggunakan tingkat diskonto sebelum pajak yang menggambarkan penilaian pasar terkini atas nilai waktu dari uang dan risiko spesifik dari aset. Jika tidak terdapat transaksi tersebut, Perusahaan dan Entitas Anak menggunakan model penilaian yang sesuai untuk menentukan nilai wajar aset. Perhitungan-perhitungan ini dikuatkan oleh penilaian berganda atau indikasi nilai wajar yang tersedia.

Dalam menentukan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual, digunakan harga penawaran pasar terakhir, jika tersedia. Kerugian penurunan nilai dari operasi yang dilanjutkan, jika ada, diakui pada laporan laba rugi komprehensif konsolidasian sesuai dengan kategori beban yang konsisten dengan fungsi dari aset yang diturunkan nilainya.

(22)

l. Penurunan Nilai Aset Non-keuangan (lanjutan)

Penilaian dilakukan pada akhir setiap periode pelaporan tahunan apakah terdapat indikasi bahwa rugi penurunan nilai yang telah diakui dalam tahun sebelumnya untuk aset selain goodwill mungkin tidak ada lagi atau mungkin telah menurun. Jika indikasi dimaksud ditemukan, maka entitas mengestimasi jumlah terpulihkan aset tersebut. Kerugian penurunan nilai yang telah diakui dalam tahun sebelumnya untuk aset selain goodwill dibalik hanya jika terdapat perubahan asumsi-asumsi yang digunakan untuk menentukan jumlah terpulihkan aset tersebut sejak rugi penurunan nilai terakhir diakui. Dalam hal ini, jumlah tercatat aset dinaikkan ke jumlah terpulihkannya. Pembalikan tersebut dibatasi sehingga jumlah tercatat aset tidak melebihi jumlah terpulihkannya maupun jumlah tercatat - neto setelah penyusutan, seandainya tidak ada rugi penurunan nilai yang telah diakui untuk aset tersebut pada tahun sebelumnya. Pembalikan rugi penurunan nilai diakui dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian. Setelah pembalikan tersebut, penyusutan aset tersebut disesuaikan di tahun mendatang untuk mengalokasikan jumlah tercatat aset yang direvisi, dikurangi nilai sisanya, dengan dasar yang sistematis selama sisa umur manfaatnya.

Goodwill diuji untuk penurunan nilai setiap akhir tahun pelaporan dan ketika keadaan yang mengindikasikan bahwa nilai tercatat mengalami penurunan nilai. Penurunan nilai goodwill ditetapkan dengan menentukan jumlah tercatat tiap UPK (atau kelompok UPK) di mana goodwill terkait. Jika jumlah terpulihkan dari UPK kurang dari jumlah tercatatnya, rugi penurunan nilai diakui. Kerugian penurunan nilai yang berhubungan dengan goodwill tidak dapat dibalik pada tahun berikutnya.

m. Liabilitas Imbalan Kerja Karyawan

Perusahaan menerapkan PSAK No. 24 (Revisi 2010), “Imbalan Kerja”, yang mengatur persyaratan tentang pencatatan dan pengungkapan atas imbalan kerja karyawan jangka pendek dan jangka panjang. PSAK No. 24 (Revisi 2010) memberikan opsi tambahan dalam pengakuan keuntungan dan kerugian aktuarial dari imbalan paska kerja, di mana keuntungan dan kerugian tersebut dapat diakui seluruhnya melalui pendapatan komprehensif lain. Perusahaan telah memutuskan untuk tetap mengakui keuntungan atau kerugian aktuarial menggunakan metode garis lurus berdasarkan perkiraan rata-rata sisa masa kerja karyawan.

Penyisihan biaya jasa lalu ditangguhkan dan diamortisasi selama sisa masa kerja rata-rata yang diharapkan dari karyawan yang memenuhi syarat tersebut. Selain itu, penyisihan untuk biaya jasa kini dibebankan langsung pada operasi tahun berjalan. Keuntungan atau kerugian aktuarial yang timbul dari penyesuaian dan perubahan dalam asumsi-asumsi aktuarial diakui sebagai pendapatan atau beban apabila akumulasi keuntungan atau kerugian aktuarial neto yang belum diakui pada akhir tahun pelaporan sebelumnya melebihi 10% dari nilai kini kewajiban imbalan pasti. Keuntungan atau kerugian aktuarial yang melebihi batas 10% tersebut diakui atas dasar metode garis lurus selama ekspektasi rata-rata sisa masa kerja karyawan yang memenuhi syarat.

Perusahaan mengakui keuntungan atau kerugian dari kurtailmen atas program manfaat pasti pada saat kurtailmen terjadi (apabila terdapat komitmen untuk melakukan pengurangan material terhadap jumlah karyawan yang tercakup dalam program atau apabila terdapat perubahan terhadap ketentuan-ketentuan program manfaat pasti di mana bagian yang material dari jasa masa depan yang akan diberikan oleh karyawan yang ada saat ini, tidak lagi memenuhi syarat untuk menerima imbalan, atau memenuhi syarat untuk menerima imbalan yang lebih rendah). Keuntungan atau kerugian kurtailmen terdiri dari perubahan pada nilai kini kewajiban imbalan pasti dan keuntungan atau kerugian aktuarial dan biaya jasa lalu yang belum diakui sebelumnya.

(23)

n. Provisi

Provisi diakui jika Perusahaan dan Entitas Anak memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat konstruktif) jika, sebagai akibat peristiwa masa lalu, besar kemungkinan penyelesaian kewajiban tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi dan total kewajiban tersebut dapat diestimasi secara andal.

Provisi ditelaah pada setiap tanggal pelaporan dan disesuaikan untuk mencerminkan estimasi terbaik yang paling kini. Jika arus keluar sumber daya untuk menyelesaikan kewajiban kemungkinan besar tidak terjadi, maka provisi dibatalkan.

o. Pajak Penghasilan

Perusahaan dan Entitas Anak menerapkan PSAK No. 46 (Revisi 2010), yang mensyaratkan Perusahaan dan Entitas Anak untuk memperhitungkan konsekuensi pajak kini dan mendatang dari pemulihan (penyelesaian) jumlah tercatat aset (liabilitas) masa depan yang diakui dalam laporan posisi keuangan konsolidasian, dan transaksi dan kejadian lain dari tahun kini yang diakui dalam laporan keuangan konsolidasian.

Beban pajak tahun berjalan dihitung berdasarkan taksiran penghasilan kena pajak untuk tahun yang bersangkutan. Aset dan liabilitas pajak tangguhan diakui atas perbedaan temporer dari aset dan liabilitas antara pelaporan komersial dan pajak pada setiap tanggal pelaporan. Manfaat pajak masa mendatang, seperti rugi pajak yang dapat dikompensasi, diakui sepanjang besar kemungkinan manfaat pajak tersebut dapat direalisasikan. Pengaruh pajak untuk suatu tahun dialokasikan pada usaha tahun berjalan, kecuali untuk pengaruh pajak dari transaksi yang langsung dibebankan atau dikreditkan ke ekuitas.

Aset dan liabilitas pajak tangguhan dihitung berdasarkan tarif pajak yang akan dikenakan pada tahun saat nilai aset direalisasikan atau nilai liabilitas tersebut diselesaikan, berdasarkan tarif pajak (dan undang-undang pajak) yang berlaku atau berlaku secara substantif pada tanggal posisi keuangan. Perubahan nilai tercatat aset dan liabilitas pajak tangguhan yang disebabkan oleh perubahan tarif pajak dikreditkan atau dibebankan pada usaha tahun berjalan, kecuali untuk transaksi-transaksi yang sebelumnya telah langsung dibebankan atau dikreditkan ke ekuitas. Jumlah tambahan pokok dan denda pajak yang ditetapkan dengan Surat Ketetapan Pajak (SKP) diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian tahun berjalan, kecuali jika diajukan upaya penyelesaian selanjutnya. Jumlah tambahan pokok pajak dan denda yang ditetapkan dengan SKP ditangguhkan pembebanannya sepanjang memenuhi kriteria pengakuan aset.

Perusahaan menerapkan PSAK No. 46 (Revisi 2010), yang mensyaratkan Perusahaan mencatat bunga dan denda untuk kekurangan/kelebihan pembayaran pajak penghasilan, jika ada, sebagai bagian dari “Manfaat Pajak Penghasilan - neto” dalam laporan laba rugi komprehensif.

Untuk setiap entitas yang dikonsolidasi, pengaruh pajak atas perbedaan temporer dan akumulasi rugi pajak, yang masing-masing dapat berupa aset atau liabilitas, disajikan dalam jumlah neto untuk masing-masing entitas tersebut.

(24)

p. Saham Treasuri

Saham treasuri, yang direncanakan untuk diterbitkan kembali dan/atau dijual kembali pada masa yang akan datang, dicatat sebesar biaya perolehan dan disajikan sebagai pengurang modal saham di bagian Ekuitas dalam laporan posisi keuangan konsolidasian. Selisih lebih penerimaan dari penjualan saham treasuri di masa yang akan datang atas biaya perolehan atau sebaliknya, akan diperhitungkan sebagai penambah atau pengurang akun tambahan modal disetor.

q. Tambahan Modal Disetor - Neto

Tambahan modal disetor - neto merupakan selisih antara harga penawaran dari hasil penawaran umum saham Perusahaan dengan nilai nominal saham, setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang terjadi sehubungan dengan penawaran umum saham tersebut.

r. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing

Perusahaan dan Entitas Anak menerapkan PSAK No. 10 (Revisi 2010), “Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Mata Uang Asing”, yang menggambarkan bagaimana memasukkan transaksi mata uang asing dan kegiatan usaha luar negeri dalam laporan keuangan entitas dan menjabarkan laporan keuangan ke dalam mata uang penyajian. Perusahaan dan Entitas Anak mempertimbangkan indikator utama dan indikator lainnya dalam menentukan mata uang fungsionalnya, jika ada indikator yang tercampur dan mata uang fungsional tidak jelas, manajemen menggunakan penilaian untuk menentukan mata uang fungsional yang paling tepat menggambarkan pengaruh ekonomi dari transaksi, kejadian dan kondisi yang mendasarinya. Laporan keuangan konsolidasian disajikan dalam Rupiah, yang merupakan mata uang fungsional Perusahaan dan mata uang penyajian Perusahaan dan Entitas Anak. Transaksi dalam mata uang asing dicatat berdasarkan nilai tukar yang berlaku pada saat transaksi dilakukan. Pada tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian, aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing disesuaikan untuk mencerminkan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut dan laba atau rugi kurs yang timbul dikreditkan atau dibebankan pada usaha tahun berjalan, kecuali untuk selisih kurs yang dapat diatribusikan ke aset tertentu dikapitalisasi ke aset dalam pembangunan dan pemasangan.

Kurs yang digunakan untuk menjabarkan aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing pada tanggal-tanggal 31 Maret 2014 dan 31 Desember 2013 adalah sebagai berikut:

31 Maret 2014 31 Desember 2013

1 Dolar Amerika Serikat (AS$1) 11.404 12.189

1 Dolar Singapura (SGD1) 9.050 9.628

1 Dolar Hongkong (HKD1) 1.470 1.572

s. Pengakuan Pendapatan dan Beban

Pendpatan diakui bila besar kemungkinan manfaat ekonomi akan diperoleh oleh Perusahaan dan Entitas Anak dan jumlahnya dapat diukur secara handal. Pendapatan diukur pada nilai wajar pembayaran yang diterima, tidak termasuk diskon dan Pajak Pertambahan Nilai (“PPN”).

Pendapatan dari barang dagang diakui pada saat barang diserahkan dan risiko serta hak kepemilikannya berpindah kepada pelanggan.

(25)

s. Pengakuan Pendapatan dan Beban (lanjutan)

Pendapatan dari jasa diakui pada saat jasa tersebut diberikan kepada pelanggan. Uang muka yang diterima dari pelanggan dicatat dalam akun “Uang Muka Penjualan”.

Pendapatan jasa internet dapat berupa pendapatan registrasi (pendaftaran), abonemen dan jasa pemakaian internet (tarif dikali jam pemakaian) yang dihitung setiap bulan untuk setiap pelanggan dari billing statement yang dikirimkan.

Pendapatan sewa diakui sesuai dengan masa sewa dan pendapatan jasa pemeliharaan diakui pada saat jasa tersebut diberikan kepada pelanggan. Uang muka sewa dan/atau pemeliharaan yang diterima disajikan sebagai pendapatan ditangguhkan dan diakui sebagai pendapatan sesuai dengan masa manfaatnya.

Untuk semua instrumen keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi, pendapatan atau beban bunga dicatat dengan menggunakan metode suku bunga efektif (“SBE”), yaitu suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari instrumen keuangan, atau jika lebih tepat, digunakan tahun yang lebih singkat, sebesar nilai tercatat neto dari aset keuangan atau liabilitas keuangan.

Beban diakui pada saat terjadinya (accrual basis).

t. Laba (Rugi) per Saham Dasar

Perusahaan dan Entitas Anak menerapkan PSAK No. 56 (Revisi 2011), “Laba per Saham”. Laba (rugi) per saham dasar dihitung dengan membagi laba (rugi) tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dengan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar pada tahun yang bersangkutan.

Laba (rugi) per saham dasar dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang jumlah biasa yang beredar selama tahun yang bersangkutan setelah memperhitungkan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (“HMETD”) yang diterbitkan pada saat Penawaran Umum Terbatas I yang diterapkan secara retrospektif.

Perusahaan tidak memiliki saham biasa berpotensi dilutif.

u. Instrumen Keuangan

Perusahaan dan Entitas Anak menerapkan PSAK No. 50 (Revisi 2010), “Instrumen Keuangan: Penyajian”, PSAK No. 55 (Revisi 2011), “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran” dan PSAK No. 60, “Instrumen Keuangan: Pengungkapan”.

PSAK No. 50 (Revisi 2010), berisi persyaratan penyajian dari instrumen keuangan dan mengidentifikasikan informasi yang harus diungkapkan. Persyaratan pengungkapan berlaku terhadap klasifikasi instrumen keuangan, dari perspektif penerbit, dalam aset keuangan, liabilitas

keuangan dan instrumen ekuitas; pengklasifikasian yang terkait dengan suku bunga, dividen, kerugian dan keuntungan; dan keadaan di mana aset keuangan dan liabilitas keuangan akan saling hapus. PSAK ini mensyaratkan pengungkapan, antara lain informasi mengenai faktor yang mempengaruhi jumlah, waktu dan tingkat kepastian arus kas masa datang suatu entitas terkait dengan instrumen keuangan dan kebijakan akuntansi yang diterapkan untuk instrumen tersebut.

(26)

u. Instrumen Keuangan (lanjutan)

PSAK No. 55 (Revisi 2011), mengatur prinsip-prinsip pengakuan dan pengukuran aset keuangan, liabilitias keuangan dan beberapa kontrak pembelian atau penjualan item non-keuangan. PSAK ini, antara lain menyediakan definisi dan karakteristik derivatif, kategori instrumen keuangan, pengakuan dan pengukuran, akuntansi lindung nilai dan penetapan hubungan lindung nilai.

PSAK No. 60, mensyaratkan pengungkapan signifikansi instrumen keuangan untuk posisi keuangan dan kinerja, beserta sifat dan tingkat yang timbul dari resiko keuangan Perusahaan dan Entitas Anak yang terekspos selama tahun berjalan dan pada akhir tahun pelaporan dan bagaimana entitas mengelola risiko mereka.

i. Aset Keuangan

Pengakuan awal

Aset keuangan diklasifikasikan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba atau rugi, pinjaman yang diberikan dan piutang, investasi dimiliki hingga jatuh tempo, aset keuangan tersedia untuk dijual atau sebagai derivatif yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai dalam lindung nilai yang efektif.

Perusahaan dan Entitas Anak menentukan klasifikasi aset keuangan tersebut pada pengakuan awal dan, jika diperbolehkan dan sesuai, akan mengevaluasi kembali pengklasifikasian aset tersebut pada setiap akhir tahun pelaporan.

Aset keuangan Perusahaan dan Entitas Anak adalah kas dan setara kas, aset keuangan lancar lainnya - deposito berjangka, piutang usaha, piutang lain-lain dan aset keuangan tidak lancar lainnya - uang jaminan dikategorikan sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang, aset keuangan lancar lainnya - surat-surat berharga dikategorikan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi serta aset keuangan tidak lancar lainnya - investasi jangka panjang dikategorikan sebagai aset keuangan tersedia untuk dijual. Pada saat pengakuan awal, aset keuangan diukur pada nilai wajar namun dalam hal aset keuangan yang tidak diukur pada nilai wajar melalui laba atau rugi, maka nilai wajar tersebut ditambah dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan aset keuangan tersebut.

Pengukuran setelah pengakuan awal

Pengukuran aset keuangan setelah pengakuan awal tergantung pada klasifikasinya sebagai berikut:

• Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba atau rugi

Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba atau rugi termasuk aset keuangan untuk dijual dan aset keuangan yang ditetapkan pada saat pengakuan awal untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba atau rugi.

Aset derivatif diklasifikasikan sebagai kelompok untuk dijual kecuali mereka ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai efektif. Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba atau rugi disajikan dalam laporan posisi keuangan konsolidasian pada nilai wajar dengan keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar diakui dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :