MANAJEMEN AGRIBISNIS TANAMAN INDUSTRI
“Tanaman Karet”
Dosen Pengampu : Ir. Sarjiyah, M.S
Oleh :
Kelompok I
Inayatul Lutfi
(20110210047)
Program Studi Agroteknologi
Fakultas Pertanian
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
TANAMAN KARET
Tanaman karet (Havea brasiliensis) berasal dari negara Brazil. Tanaman ini merupakan
sumber utama bahan tanaman karet alam dunia. Tanaman karet pada pertama kali hanya tumbuh
di Amerika Selatan, namun setelah percobaan berkali-kali oleh Henry Wickham, pohon ini
berhasil dikembangkan di Asia Tenggara, di mana sekarang ini tanaman ini banyak
dikembangkan; sekarang Asia merupakan sumber karet alami (Wikipedia (a), 2013).
A. Taksonomi dan Morfologi Karet
Struktur botani tanaman karet ialah termasuk dalam divisi spermatophyte, subdivisi
angiospermae, kelas dicotyledonae, ordo euphorbiales, famili euphorbiaceae, genus hevea,
dan spesies Havea brasiliensis. Dalam genus Havea, hanya species Havea brasiliensis Muell
Arg. Yang dapat menghasilkan lateks unggul, dimana sebanyak 90 % karet alam dihasilkan
oleh spesies tersebut. Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang
cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 meter. Batang tanaman biasanya tumbuh
lurus dan memiliki percabangan yang tinggi. Di beberapa kebun karet ada beberapa
kecondongan arah tumbuh tanamanya agak miring kearah utara. Batang tanaman ini
mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks. Daun karet terdiri dari tangkai daun
utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai daun utama 3-20cm. Panjang tangkai anak
daun sekitar 3-10cm dan pada ujungnya terdapat kelenjar. Biasanya ada tiga anak daun yang
terdapat pada sehelai daun karet. Anak daun berbentuk eliptis, memanjang dengan ujung
meruncing, tepinya rata dan gundul. Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah. Jadi jumlah
biji biasanya ada tiga kadang enam sesuai dengan jumlah ruang. Ukuran biji besar dengan
kulit keras. Warnaya coklat kehitaman dengan bercak-bercak berpola yang khas. Sesuai
dengan sifat dikotilnya, akar tanaman karet merupakan akar tunggang. Akar ini mampu
menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar (Wikipedia (a), 2013).
Karet merupakan tanaman berbuah polong (diselaputi kulit yang keras) yang sewaktu
masih muda buahnya berpaut erat dengan rantingnya. Buah karet dilapisi oleh kulit tipis
berwarna hijau dan didalamnya terdapat kulit yang keras dan berkotak. Tiap kotak berisi
sebuah biji yang dilapisi tempurung, setelah tua warna kulit buah berubah menjadi
dari kotaknya. Tiap buah tersusun atas dua sampai empat kotak biji. Pada umumnya berisi
tiga kotak biji dimana setiap kotak terdapat satu biji. Tanaman karet mulai menghasilkan
buah pada umur lima tahun dan akan semakin banyak setiap pertambahan umur tanaman.
B. Syarat Tumbuh
Tanaman karet adalah tanaman daerah tropis. Daerah yang cocok untuk tanaman
karet adalah pada zona antara 15° LS dan 15° LU. Bila ditanam di luar zona tersebut,
pertumbuhannya agak lambat, sehingga memulai produksinya pun lebih lambat. Curah hujan
tahunan yang cocok untuk pertumbuhan tanaman karet tidak kurang dari 2.000 mm. Optimal
antara 2.500-4000 mm/tahun, yang terbagi dalam 100-150 hari hujan. Pembagian hujan dan
waktu jatuhnya hujan rata-rata setahunnya mempengaruhi produksi. Daerah yang sering
mengalami hujan pada pagi hari produksinya akan kurang. Keadaan iklim di Indonesia yang
cocok untuk tanaman karet ialah daerah-daerah Indonesia bagian barat, yaitu Sumatera, Jawa
dan Kalimantan, sebab iklimnya lebih basah (Suwarto, 2012).
Tanaman karet tumbuh optimal di dataran rendah, yakni pada ketinggian sampai 200
meter di atas permukaan laut. Makin tinggi letak tempat, pertumbuhannya makin lambat dan
hasilnya lebih rendah. Ketinggian lebih dari 600 meter dari permukaan laut tidak cocok untuk
tanaman karet. Angin juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Angin yang kencang
pada musim-musim tertentu dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman karet yang
berasal dari klon-klon tertentu yang peka terhadap angin kencang (Suwarto, 2012).
Lahan kering untuk pertumbuhan tanaman karet pada umumnya lebih
mempersyaratkan sifat fisik tanah dibandingkan dengan sifat kimianya. Hal ini disebabkan
perlakuan kimia tanah agar sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet dapat dilaksanakan
dengan lebih mudah dibandingkan dengan perbaikan sifat fisiknya. Berbagai jenis tanah
dapat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet baik tanah vulkanis muda dan tua, bahkan
pada tanah gambut dengan kedalaman kurang dari 2 m. Tanah vulkanis mempunyai sifat
fisika yang cukup baik terutama struktur, tekstur, solum, kedalaman air tanah, aerasi dan
drainasenya, tetapi sifat kimianya secara umum kurang baik karena kandungan haranya
rendah. Tanah alluvial biasanya cukup subur, tetapi sifat fisikanya terutama drainase dan
pH <3,0 dan pH > 8,0. Sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet pada umumnya
antara lain :
1. Solum tanah sampai 100 cm, tidak terdapat batu-batuan dan lapisan cadas
2. Aerase dan drainase cukup
3. Tekstur tanah remah, porous dan dapat menahan air
4. Struktur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir
5. Tanah bergambut tidak lebih dari 2 m
6. Kandungan hara NPK cukup dan tidak kekurangan unsur hara mikro
7. Reaksi tanah dengan pH 4,5-pH 6,5
8. Kemiringan tanah <16% dan permukaan air tanah <100 cm.
(Anwar, 2001 dalam Anonim, 2013).
C. Persiapan Bahan Tanam
Kegiatan pemuliaan karet di Indonesia telah banyak menghasilkan klon-klon karet
unggul sebagai penghasil lateks dan penghasil kayu. Pada Lokakarya Nasional Pemuliaan
Tanaman Karet 2005, telah direkomendasikan klon-klon unggul baru generasi-4 untuk
periode tahun 2006 – 2010, yaitu klon: IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 104, IRR 112,
dan IRR 118. Klon IRR 42 dan IRR 112 akan diajukan pelepasannya sedangkan klon IRR
lainnya sudah dilepas secara resmi. Klon-klon tersebut menunjukkan produktivitas dan
kinerja yang baik pada berbagai lokasi, tetapi memiliki variasi karakter agronomi dan
sifat-sifat sekunder lainnya.
Hal yang paling penting dalam penanaman karet adalah bibit/bahan tanam, dalam hal
ini bahan tanam yang baik adalah yang berasal dari tanaman karet okulasi. Persiapan bahan
tanam dilakukan paling tidak 1,5 tahun sebelum penanaman. Dalam hal bahan tanam ada tiga
komponen yang perlu disiapkan, yaitu: batang bawah (root stoct), entres/batang atas
(budwood), dan okulasi (grafting) pada penyiapan bahan tanam. Persiapan batang bawah merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh bahan tanam yang mempunyai perakaran kuat
dan daya serap hara yang baik. Untuk mencapai kondisi tersebut, diperlukan pembangunan
pembibitan batang bawah yang memenuhi syarat teknis yang mencakup persiapan tanah
pembibitan, penanganan benih, perkecambahan, penanaman kecambah, serta usaha
Untuk mendapatkan bahan tanam hasil okulasi yang baik diperlukan entres yang
baik, Pada dasarnya mata okulasi dapat diambil dari dua sumber, yaitu berupa entres cabang
dari kebun produksi atau entres dari kebun entres. Dari dua macam sumber mata okulasi ini
sebaiknya dipilih entres dari kebun entres murni, karena entres cabang akan menghasilkan
tanaman yang pertumbuhannya tidak seragam dan keberhasilan okulasinya rendah. Okulasi
merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan menempelkan mata
entres dari satu tanaman ke tanaman sejenis dengan tujuan mendapatkan sifat yang unggul.
Dari hasil okulasi akan diperoleh bahan tanam karet unggul berupa stum mata tidur, stum
mini, bibit dalam polibeg, atau stum tinggi. Untuk tanaman karet, mata entres ini yang
merupakan bagian atas dari tanaman dan dicirikan oleh klon yang digunakan sebagai batang
atasnya.
Penanaman bibit tanaman karet harus tepat waktu untuk menghindari tingginya angka
kematian di lapang. Waktu tanam yang sesuai adalah pada musim hujan. Selain itu perlu
disiapkan tenaga kerja untuk kegiatan-kegiatan untuk pembuatan lubang tanam,
pembongkaran, pengangkutan, dan penanaman bibit. Bibit yang sudah dibongkar sebaiknya
segera ditanam dan tenggang waktu yang diperbolehkan paling lambat satu malam setelah
pembongkaran.
D. Persiapan Lahan 1. Lahan Baru
Untuk pembukaan lahan baru hal pertama yang harus dilakukan adalah penebangan
pohon yang ada pada lahan. Setelah itu, melakuakn pembersihan rumput yang ada dan
kemudian lahan dibajak dengan traktor atau penggarpuan/pencangkulan dilakukan 3 kali,
dengan tenggang waktu 1 bulan, setelah pembajakan ke 3 lahan dibiarkan 2 minggu baru
digaru.
2. Peremajaan (Replanting)
Peremajaan tanaman karet dilakukan pada kebun-kebun karet yang pohonnya sudah tidak
berproduksi dengan baik. Tahapan replanting yaitu penebangan dilakukan dengan
menumbangkan pohon karet tua secara bertahap. Kayu-kayu hasil penebangan kemudian
dipotong-potong dengan panjang sesuai yang dibutuhkan pabrik serta untuk memudahkan
kayu-kayu yang mempunyai diameter diatas 10 cm. Kemudian melakukan pemancangan
untuk rencana perumpukan. Lebar rumpukan adalah 4 meter dan panjang sesuai
kebutuhan. Kemudian dilakukan pembajakan yang ke-I dengan menggunakan traktor
dengan kedalaman 20-30 cm. Lalu melakukan pengayapan yang ke-I dengan
mengumpulkan seluruh akar yang berdiameter lebih besar 1 cm dan dikumpulkan di atas
tunggul. Setelah itu, melaksanakan pembajakan yang ke-2 dan pengayapan yang ke-2
dengan kriteria sama seperti pembajakan yang ke-I dan pengayapan yang ke-I. Kemudian
melaksanakan penggaruan yang ke-1 yang bertujuan untuk meratakan tanah dari hasil
pembajakan sebelumnya kemudian lakukan pengayapan 3, pastikan semua tanah hancur
dan rata. Terakhir adalah melakukan penggaruan yang ke 2 dengan langkah yang sama
seperti penggaruan ke-1.
3. Pemancangan
Pemancangan bertujuan untuk menandai tempat lubang tanam, dengan ketentuan jarak
tanam pada areal lahan yang relatif datar/landai (kemiringan antara 0-10 %) jarak tanam
adalah 6 m x 3 m (±550 lubang tanam/hektar) berjarak 6 m mengikuti arah timur ke barat
dan arah utara-selatan berjarak 3 m. Pada areal lahan yang mempunyai kemiringan 10-25
% maka menggunakan sistem pola tanam menurut kontur (teras bersambung) untuk
mengendalikan erosi. Cara pengajiran pada pola tanam kontur yaitu menentukan ajir teras
bersambung dan memasang ajir dengan jarak tanam 3 m pada teras yang dibuat.
4. Pembuatan Lubang Tanam
Ukuran lubang tanam bergantung pada bentuk bibitnya. Untuk stum mata tidur, stum
mini, dan bibit polibeg menggunakan ukuran panjang, lebar, dan tinggi berturut-turut 40
cm, 40 cm dan 40 cm. Sedangkan untuk stum tinggi masing-masing panjang, lebar dan
tingi adalah 60 cm, 60 cm dan 60 cm. Pada waktu penggalian lubang tanam diusahakan
topsoil dipisahkan dari subsoil dengan cara meletakkan disebelah kanan dan kiri lubang.
Kemudian lubang tanam dibiarkan 1 bulan lebih.
E. Penanaman
Bila menggunakan stum mata tidur dan stum mini, mata okulasi harus sudah
membengkak/mentis dan jika menggunakan bibit dalam polibeg, dan teratas harus dalam
kemudian ditimbun dengan subsoil dan topsoil. Bila menggunakan bahan tanam stum mata
tidur, stum mini, dan stum tinggi, pemadatan tanah dilakukan secara bertahap sehingga
timbunan menjadi padat dan kompak. Lubang tanam diisi tanah sampai penuh dan
dipadatkan sampai permukaannya rata dengan sekelilingnya. Bila menggunakan bibit dalam
polibeg, pemadatan tanah di sekeliling cukup dilakukan dengan tangan tanpa diinjak.
Penanaman tanaman penutup tanah (cover cropi) berfungsi dalam pengendalian
gulma, peningkatan kesuburan tanah dan dapat sebagai konservasi tanah. Tanaman penutup
tanah yang biasa ditanam di area perkebunan karet yaitu Puecaria javanica, Colopogonium
moconoides dan Centrosema fubercens. Penanaman dapat diatur setelah tanah diolah dan di
bersihkan, jumlah bibit yang ditanam 15 – 20 Kg/Ha dengan perbandingan 1 : 5 : 4 antara
Puecaria javanica, Colopogonium moconoides dan Centrosema fubercens
F. Pemeliharaan 1. Penyulaman
Bibit yang baru ditanam selama tiga bulan pertama setelah tanam diamati terus menerus.
Tanaman yang mati segera diganti. Klon tanaman untuk penyulaman harus sama.
Penyulaman dilakukan sampai umur 2 tahun. Penyulaman setelah itu dapat berkurang
atau terlambat pertumbuhannya.
2. Pemotongan Tunas Palsu
Tunas palsu dibuang selama 2 bulan pertama dengan rotasi 1 kali 2 minggu, sedangkan
tunas liar dibuang sampai tanaman mencapai ketinggian 1,80 meter.
3. Merangsang Percabangan
Bila tanaman 2 – 3 tahun dengan tinggi 3,5 meter belum mempunyai cabang
perlu diadakan perangsangan dengan cara pengeringan batang (ring out), pembungkusan
pucuk daun (leaf felding), penanggalan (tapping).
4. Pemupukan
Pemupukan dilakukan 2 kali setahun yaitu menjelang musim hujan dan akhir musim
kemarau, sebelumnya tanaman dibersihkan dulu dari rerumputan dibuat larikan
melingkar selama – 10 Cm. Pemupukan pertama kurang lebih 10 Cm dari pohon dan
Tabel Waktu Dosis dan Cara Pemupukan Tanaman Penutup Tanah
Waktu Dosis Cara Pemberian
Saat tanam
kemerahan dan terbungkus lapisan lak dan mengeluarkan cairan madu, membuat
daun lalu cairannya dihisap sehingga bagian tanaman yang terserang kering.
Penyebaran kutu lak dibantu semut gramang.
Pengendalian :
Melakukan pengawasan sedini mungkin. Bila serangan ringan lakukan pengendalian
secara mekanais, Fisik dan Biologis Bila serangan berat, dengan Insektisida
Albocinium 2% dan formalin 0,15% ditambah Surfaktan Citrowet 0,025%,
penyemprotan interval 3 mg.
b. Pscudococcus citri
Ciri-ciri, stadia yang merusak adalah nympha dan imago berwarna kuning muda.
Meyerang tanaman yang masih muda seperti ranting dan tangkai daun.
Pengendalian :
Bila serangan berat bisa menggunakan Insektisida jenis metamidofos dilarutkan
dalam air dengan konsentrasi 0,05%-0,1%. Interval penyemprotan 1-2 mg.
2. Penyakit
a. Penyakit Embun Tepung.
Penyebabnya adalah Cendawan Oidium heveae. Gejalanya, menyerang daun muda
lalu berbintik putih dan merangas. Umumnya menyerang setelah musim gugur daun.
Pengendaliannya dapat dilakukan secara mekanis dengan menanam klon yang sesuai.
pemeliharaan yang intensif, penyelarasan beban sadapan Secara kimiawi dengan
belerang circus dosis 3 – 5 Kg/Ha interval 3 – 5 hari.
b. Penyakit Daun Colletotrichum
Penyebabnya adalah Colletotrichum gloeosporioides yang penyebarannya dibantu
oleh angin dan hujan. Gejalanya, daun muda cacat dan gugur, pucuk gundul daun
bercak coklat, ditengah bercak berwarna putih bintik hitam (spora). Pengendaliannya
dengan fungisida
c. Penyakit Kanker garis.
Penyebabnya adalah Phytophthora palmivora butl, dengan gejala bidang sadapan
terdapat garis vertikal berwarna hitam dan bisa masuk sampai kebagian kayu dan
kulit membusuk. Banyak timbul dimusim penghujan dan kebun yang terlampau
dapat dilakukan secara mekanis penjarangan pemangkasan pelindung, penanaman
penutup tanah dan secara Kimiawi dengan Fungisida (B.a. Kaptofol)
d. Penyakit Jamur Upas
Penyebabnya adalah Cortisium salmonicolor, dengan gejala tajuk pada dahan /
cabang akan layu sehingga tanaman lemah dan produksi turun. Pengendaliannya
dapat dilakukan secara kimiawi dengan cara melumasi luka akibat serangan penyakit
dengan fungisida bahan aktif tridermof (Calizin Rm 2%).
e. Penyakit Bidang Sadapan
Penyebabnya adalah Ceratocystis fimbriata, dengan gejala pada kulit bidang sadapan
timbul selaput benang berwarna putih kelabu lalu penyebaran melalui spora dan pisau
sadap. Pengendalian dapat dilakukan secara mekanis dengan mengurangi kelembaban
dan secara kimiawi dengan Fungisida bahan aktif benomil dan Kaptofol.
f. Penyakit Cendawan Akar putih.
Penyebabnya adalah cendawan Fomes lignosu, dengan gejala daun kusam,
menguning, layu dan akhirnya gugur. Tanaman bila dibongkar pada akar terdapat
cendawan berwarna putih kekuningan. Pengendaliannya dapat dilakukan secara
mekanis saat pembukaan lahan tunggul dan akar harus dibongkar. Penanaman 1-2
tahun setelah pembongkaran. Tanaman sakit dibongkar lalu dibakar. Secara kimiawi
akar yang terserang dipotong lalu diolesi fungisida.
H. Panen dan Pascapanen
Pemungutan hasil tanaman karet disebut penyadapan karet. Penyadapan karet
(menderes, menoreh, tapping) adalah mata rantai pertama dalam proses produksi karet.
Penyadapan dilaksanakan pada umur pohon karet rata-rata 6 tahun atau 55% dari areal 1
hektar sudah mencapai lingkjar batang 45 Cm sampai dengan 50 Cm. Penyadapan dilakukan
di kebun produksi dengan menyayat atau mengiris (saat ini juga menusuk) kulit batang
dengan cara tertentu, dengan maksud untuk memperoleh getah atau yang disebut sebagai
lateks. Kulit batang yang disadap adalah modal utama untuk berproduksinya tanaman karet.
Kesalahan dalam penyadapan akan membawa akibat akibat yang sangat merugikan baik bagi
Untuk menampung lateks yang keluar dari pembuluh lateks dan mengalir pada
saluran lateks diperlukan mangkok. Pada saat ini penyadapan menggunakan mangkok dari
bermacam-macam bahan seperti alumunium, arnit, gelas, plastik, porselin yang diglasir atau
bahan lainnya.
Pengumpulan lateks dilaksanakan 3-4 jam setelah penyadapan. Lateks dari mangkok
dituangkan ke dalam ember pemupul dengan menggunakan spatel. Bila lateks dalam ember
pemupul telah penuh kemudian dipindahkan ke dalam ember pengumpul, dan selanjutnya
dibawa ke tempat pengumpulan hasil (TPH) atau langsung ke pabrik (Setyamidjaja, 1993).
Ada beberapa alat yang digunakan dalam pengolahan karet alam. Alat-alat ini tidak
semuanya digunakan dalam pengolahan setiap jenis karet. Ada alat yang hanya digunakan
untuk pembuatan jenis karet tertentu saja. Selain alat, juga banyak digunakan bahan dalam
pengolahan karet alam (Tim Penulis PS, 2008). Beberapa peralatan yang digunakan di
pabrik karet untuk mengolah lateks sebagai berikut :
1. Mesin penggiling
2. Tangki koagulasi
3. Ruang pengering
4. Ruang pengasapan
Bahan-bahan untuk pengolahan karet di sini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
bahan kimia dan bahan nonkimia. Beberapa bahan kimia yang digunakan di dalam
pengolahan lateks sebagai berikut :
1. Bahan pembeku
2. Bahan pengelantang
3. Bahan vulkanisasi
4. Bahan pemercepat dan penggiat reaksi
5. Bahan antioksidan dan antiozonan
6. Bahan pelunak
7. Bahan pengisi
8. Bahan peniup
9. Bahan pencegah pravulkanisasi
Bahan nonkimia yang sangat diperlukan dalam pengolahan karet adalah air dan kayu
bakar (Setiawan dan Andoko, 2005).
Pada dasarnya prinsip pengolahan karet remah adalah meremahkan dan
mengeringkan karet. Dalam rangkaian proses peremahan karet diperlukan air untuk
pencucian kotoran yang terdapat dalam bahan baku (Tim Penulis PS, 2008)
Pada saat mulai keluar dari pohon hingga beberapa jam lateks masih berupa cairan,
tetapi setelah kira-kira 8 jam lateks mulai mengental dan selanjutnya membentuk gumpalan
karet. Penggumpalan (prakoagulasi) dapat dibagi 2 yaitu :
1. Penggumpalan spontan
2. Penggumpalan buatan
Penggumpalan spontan biasanya disebabkan oleh pengaruh enzim dan bakteri,
aromanya sangat berbeda dari yang segar dan pada hari berikutnya akan tercium bau yang
busuk. Sedangkan penggumpalan buatan biasanya dilakukan dengan penambahan asam.
Prakoagulasi terjadi karena kemantapan bagian koloidal yang terkandung dalam
lateks berkurang. Bagian-bagian koloidal ini kemudian menggumpal menjadi satu dan
membentuk komponen yang berukuran lebih besar. Komponen koloidal yang lebih ini akan
membeku. Inilah yang menyebabkan terjadinya prakoagulasi.
Getah karet atau lateks sebenarnya merupakan suspensi koloidal dari air dan
bahan-bahan kimia yang terkandung didalamnya. Bagian-bagian yang terkandung tersebut tidak
larut sempurna, melainkan terpencar secara homogen atau merata di dalam air.
Partikel-partikel koloidal ini sedemikian kecil dan halusnya sehingga dapat menembus saringan.
Susunan bahan lateks dapat dibagi menjadi dua komponen. Komponen pertama
adalah bagian yang mendispersikan atau memancarkan bahan-bahan yang terkandung secara
merata, biasa disebut serum. Bahan-bahan bukan karet yang larut dalam air, seperti protein,
garam-garam mineral, enzim dan lain-lain termasuk ke dalam serum. Komponen kedua
adalah bagian yang didispersikan atau dipancarkan. Komponen kedua ini terdiri dari
butir-butir karet yang dikelilingi lapisan tipis protein.
Sebenarnya sistem koloidal bisa dipertahankan agak lama sampai satu hari lebih,
sebab bagian-bagian karet yang dikelilingi oleh lapisan tipis sejenis protein mempunyai
kestabilan sendiri. Stabilisatornya adalah lapisan protein yang mengelilingi tersebut. Dengan
Penyebab terjadinya prakoagualasi antara lain sebagai berikut :
1. Penambahan asam
Penambahan asam organik ataupun anorganik mengakibatkan turunnya pH lateks titik
isoelektriknya sehingga lateks kebun membeku (pH lateks kebun 6,9).
2. Mikroorganisme
Lateks segar merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme,
mikroorganisme banyak terdapat dilungkungan perkebunan karet (pepohonan, udara,
tanah, air atau pada alat-alat yang digunakan).
Mikroorganisme ini menghasilkan asam-asam yang menurunkan pH mencapai titik
isoelektrik sehingga lateks membeku serta menimbulkan rasa bau karena terbentuknya
asam-asam yang mudah menguap (volatile fatty acid). Bila banyak mikroorganisme maka
senyawa asam yang dihasilkan akan banyak pula.
Suhu udara yang tinggi akan lebih mengaktifkan kegiatan bakteri, sehingga dalam
penyadapan ataupun pengangkutan diusahakan pada suhu rendah atau pagi.
3. Iklim
Air hujan akan membawa zat penyamak, kotoran dan garam yang larut dari kulit batang.
Zat-zat ini akan mengkatalisis terjadingan prakoagualasi.
Lateks yang baru disadap juga mudah menggumpal jika terkena sinar matahari yang terik
karena kestabilan koloidnya rusak oleh panas yang terjadi.
4. Pengangkutan
Pengangkutan yang terlambat ataupun jarak yang jauh menyebabkan lateks baru tiba
ditempat pengolahan pada siang hari dan sempat terkena matahari sehingga mengganggu
kestabilan lateks.
Jalan yang buruk atau angkutan yang terguncang-guncang mengakibatkan lateks yang
diangkut terkocok-kocok secara kuat sehinggan merusak kestabilan koloid.
5. Kotoran atau bahan-bahan lain yang tercampur
Lateks akan mengalami prakoagualasi bila dicampur dengan air kotor, terutama air yang
mengandung logam atau elektrolit.
Prakoagualasi juga sering terjadi karena tercampurnya kotoran atau bahan lain yang
mengandung kapur atau asam.
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya prakoagualasi
antara lain sebagai berikut :
1. Menjaga kebersihan alat-alat yang digunakan dalam penyadapan, penampungan, maupun
pengangkutan. Selama pengangkutan dari kebun ke pabrik pengolahan, lateks dijaga agar
tidak mengalami banyak guncangan.
2. Mencegah pengenceran lateks dari kebun dengan air kotor, misalnya air sungai, air
saluran atau air got.
3. Memulai penyadapan pada pagi hari sebelum matahari terbit untuk membantu agar lateks
dapat sampai ke pabrik atau tempat pengolahan sebelum udara menjadi panas.
Apabila langkah-langkah pencegahan diatas sudah dilakukan tetapi hasilnya belum
seperti yang diinginkan, maka zat antikoagulan dapat digunakan. Zat antikoagulan ada
beberapa macam, tetapi harus dipilih yang paling tepat. Pilihan disesuaikan dengan kondisi
lokasi, harga, kadar bahaya zat tersebut dan yang terpenting adalah kemampuan zat tersebut
dalam mencegah prakoagualasi. Dalam pemakaiannya zat antikoagulan bias digabung untuk
menambah daya antikoagulasinya, bisa dua macam menjadi satu atau tiga macam campuran
sekaligus. Berikut ini contoh beberapa antikoagulan yang banyak dipakai di perusahaan atau
tempat-tempat pengolahan karet.
1. Soda atau natrium karbonat (Na2CO3)
Dibanding dengan zat antikoagulan yang lain, harga soda atau natrium karbonat memang
lebih murah. Karena itu soda banyak digunakan di pabrik-pabrik pengolahan yang
sederhana. Akan tetapi zat ini tidak dianjurkan digunakan pada pabrik yang akan
mengolah lateks menjadi ribbed smoked sheets (RSS) karena sheet kering yang
dihasilkan akan bergelembung-gelembung atau bubbles. Pemakaian soda aman untuk
karet yang akan diolah menjadi crepe. Dosis soda yang digunakan adalah 5-10 ml larutan
soda tanpa air kristal (soda ash) 10% setiap liter lateks.
2. Amonia (NH3)
Zat antikoagulan ini termasuk yang paling banyak digunakan karena :
a. Desinfektan sehingga dapat membunuh bakteri
b. Bersifat basa sehingga dapat mempertahankan/menaikkan pH lateks kebun
Lateks yang akan diolah menjadi crepe hendaknya tidak diberi ammonia secara
berlebihan karena berpengaruh terhadap warna crepe yang jadi nantinya. Dosis ammonia
yang dipakai untuk mencegah terjadinya prakoagualasi adalah 5-10 ml larutan ammonia
2,5% untuk setiap liter lateks.
3. Formaldehid
Pemakaian formaldehid sebagai anti koagulan paling merepotkan dibanding zat lainnya,
karena kurang baik apabila digunakan di musim hujan dan apabila disimpan zat ini akan
teroksidasi menjadi asam semut atau asam format (HCHO → HCOOH) yang dapat
menyebabkan pembekuan apabila dicampur pada lateks. Oleh karena itu, formaldehid
yang akan digunakan terlebih dahulu harus diperiksa apakah larutan ini bereaksi asam
atau tidak, apabila bereaksi asam harus dinetralkan dengan zat yang bersifat basa seperti
soda kaustik. Seteleh formaldehid bereaksi netral baru digunakan. Dosis yang dapat
dipakai adalah 5-10 ml larutan dengan kadar 5% untuk setiap liter lateks yang akan
dicegah prakoagualasinya.
4. Natrium sulfit (Na2SO3)
Pemakaian zat ini sebagai zat antikoagulan paling merepotkan, karena :
a. Bahan ini tidak tahan lama disimpan
b. Apabila ingin digunakan harus dibuat terlebih dahulu
c. Dalam jangka waktu sehari akan teroksidasi oleh udara menjadi natrium sulfat
(Na2SO3 → Na2SO4), bila sudah teroksidasi maka sifatnya sebagai antikoagulan
menjadi lenyap.
Selain sebagai antikoagulan natrium sulafit juga bias memperpanjang waktu pengeringan
dan sebagai desinfektan. Dosis yang digunakan adalah 5-10 ml larutan berkadar 10%
untuk setiap liter lateks.
Jensi-Jenis Karet Alam
Ada beberapa macam karet alam yang dikenal, diantaranya merupakan bahan
olahan. Bahan olahan ada yang setengah jadi atau sudah jadi. Ada juga karet yang diolah
kembali berdasarkan bahan karet yang sudah jadi. Jenis-jenis karet alam yang dikenal luas
1. Bahan Olah Karet
Bahan olah karet adalah lateks kebun serta gumpalan lateks kebun yang diperoleh dari
pohon karet hevea brasiliensis. Beberapa kalangan mengatakan bahwa bahan olah karet
bukan produksi perkebunan besar, melainkan merupakan bokar (bahan olah karet rakyat)
karena biasanya diperoleh dari petani yang mengusahakan kebun karet. Menurut
pengolahannya bahan olah karet dibagi menjadi 4 macam :
a. Lateks kebun adalah cairan getah yang didapat dari bidang sadap pohon karet.
Cairan getah ini belum mengalami penggunpalan entah itu dengan tambahan atau
tanpa bahan pemantap (zat antikoagulan).
b. Sheet angin adalah bahan olah karet yang dibuat dari lateks yang sudah disaring
dan digumpalkan dengan asam semut, berupa karet sheet yang sudah digiling tetapi
belum jadi.
c. Slab tipis adalah bahan olah karet yang terbuat dari lateks yang sudah
digumpalkan dengan asam semut.
d. Lump segar adalah bahan olah karet yang bukan berasal dari gumpalan lateks
kebun yang terjadi secara alamiah dalam mangkuk penampung.
2. Karet Alam Konvensional
Ada beberapa macam karet olahan yang tergolong karet alam konvensional.jenis ini
pada dasarnya hanya terdiri dari golongan karet sheet dan crepe. Jenis-jenis karet alam yang
tergolong konvensional adalah sebagai berikut :
a. Ribbed smoked sheet (RSS) adalah jenis karet berupa lembaran sheet yang
mendapat proses pengasapan dengan baik.
b. White crepe dan pale crepe adalah jenis crepe yang berwarna putih atau muda
dan ada yang tebal dan tipis.
c. Estate brown crepe adalah jenis crepe yang berwarna cokelat dan banyak
dihasilkan oleh perkebunan-perkebunan besar atau estate. Jenis ini juga dibuat dari
bahan yang kurang baik atau jelek seperti yang digunakan untuk pembuatan off crepe
serta dari sisa lateks, lump atau koagulum yang berasal dari prakoagulasi, dan scrap
d. Compo crepe adalah jenis crepe yang dibuat dari bahan lump, scrap pohon,
potongan-potongan sisa dari RSS atau slab basah.
e. Thin brown crepe remilis adalah crepe coklat yang tipis karena digiling ulang.
f. Thick blanket crepes ambers adalah crepe blanket yang tebal dan berwarna
coklat, biasanya dibuat dari slab basah, sheet tanpa proses pengasapan dan lump serta
scrap dari perkebunan atau kebun rakyat yang baik mutunya. Scrap tanah tidak boleh
digunakan.
g. Flat bark crepe adalah karet tanah atau earth rubber, yaitu jenis crepe yang
dihasilkan dari scrap karet alam yang belum diolah, termasuk scrap tanah yang
berwarna hitam.
h. Pure smoked blanket crepe adalaha crepe yang diperoleh dari penggilingan karet
asap yang khusus berasal dari RSS, termasuk juga block sheet atau sheet bongkah,
atau dari sisa pemotongan RSS. Jenis karet lain atau bahan bukan karet tidak boleh
digunakan.
i. Off crepe adalah crepe yang tidak tergolong bentuk beku atau standar. Biasanya
tidak dibuat melelui proses pembekuan langsung dari bahan lateks yang masih segar,
melainkan dari contoh-contoh sisa penentuan kadar karet kering, lembaran-lembaran
RSS yang tidak bagus penggilingannya sebelum diasapi, busa-busa dari lateks, bekas
air cucian yang banyak mengandung lateks serta bahan-bahan lain yang jelek.
3. Lateks Pekat
Lateks pekat adalah jenis karet yang berbentuk cairan pekat, tidak berbentuk
lembaran atau padatan lainnya. Lateks pekat dijual di pasaran ada yang dibuat melalui
proses pendadihan atau creamed lateksdan melalui proses pemusingan atau centrifuged
lateks. Biasanya lateks pekat banyak digunakan untuk pembuatan bahan-bahan karet yang
tipis dan bermutu tinggi.
4. Karet Bongkah (Block Rubber)
Karet bongkah adalah karet remah yang telah dikeringkan dan dikilang menjadi
bandela-bandela denga ukuran yang telah ditentukan. Karet bongkah ada yang berwarna
5. Karet Spesifikasi Teknis (Crumb Rubber)
Karet spesifikasi teknis adalah karet alam yang dibuat khusus sehingga terjamin mutu
teknisnya. Penetapan mutu juga didasarkan pada sifat-sifat teknis. Warna atau penilaian
visual yang menjadi dasar penentuan golongan mutu pada jenis karet sheet, crepe maupun
lateks pekat tidak berlaku pada jenis ini
6. Tyre Rubber
Tyre rubber adalah bentuk lain dari karet alam yang dihasilkan sebagai barang
setengah jadi sehingga bisa langsung dipakai oleh konsumen, baik untuk pembuatan ban atau
barang yang menggunakan bahan baku karet alam lainnya.
7. Karet Reklim (Reclaimed Rubber)
Karet reklim adalah karet yang diolah kembali dari barang-barang karet bekas,
terutama ban-ban mobil bekas dan bekas ban-ban berjalan. Karenanya boleh dibilang karet
reklim dalah suatu hasil pengolahan scrap yang sudah divulkanisir. Biasanya karet reklim
banyak dipakai sebagai bahan campuran sebab bersifat mudah mengambil bentuk dalam
acuan serta daya lekat yang dimilikinya juga baik. Produk yang dihasilkan lebih kukuh dan
tahan lama dipakai, lebih tahan terhadap bensin atau minyak pelumas. Tetapi karet reklim
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Pemeliharaan TBM pada Tanaman Karet.
http://syarattumbuh.blogspot.com/2013/05/pemeliharaan-tbm-pada-tanaman-karet.html#sthash.WSQb0aWe.dpuf. Akses 10 Oktober 2013.
Kompas Indonesia. 2011. Akal-akalan Petani dalam Mengolah Lateks.
http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2011/05/24/akal-akalan-petani-karet-saat-mengolah-lateks-364816.html. Akses 10 Oktober 2013.
Suwarto. 2012. 12 Budidaya Tanaman Perkebunan Unggulan. Penebar Swadaya. Bogor. 260 hal.
Wikipedia Indonesia (a). 2013. Pohon Karet. http://id.wikipedia.org/wiki/Pohon_karet. Akses pada 5 Oktober 2013.
Wikipedia Indonesia (b). 2013. Karet Lembaran Asap Bergaris.
http://id.wikipedia.org/wiki/Karet_lembaran_asap_bergaris. Akses 10 Oktober 2013.
Yuono, T. 2013. Mempercepat Pematangan Karet.
DISKUSI
1. Wulan Prasetyo
Pertanyaan : Adakah bahan lain yang ditambahkan ke dalam cawan (tempat) penampungan
karet yang telah disadap? Kalau ada, apa tujuannya?
Jawaban : Ya, ada.
Pada umunya digunakan larutan asam format/asam semut atau asam asetat /asam cuka
dengan konsentrasi 1-2% ke dalam lateks dengan dosis 4 ml/kg karet kering. Tujuan dari
penambahan asam adalah untuk menurunkan pH lateks pada titik isoelektriknya sehingga
lateks akan membeku atau berkoagulasi, yaitu pada pH antara 4.5-4.7. Pada proses ini lateks
akan membeku setelah 40 menit. Tidak hanya asam semut yang digunakan para petani karet,
biasanya petani menggunakan tawas dan pupuk TSP yang dilarutkan dengan air. Pembekuan
lateks dilakukan di dalam bak atau dalam mangkuk dengan menambahkan zat koagulan
tersebut.
2. Agis Pratama
Pertanyaan : a. Apa fungsi penyanggulan pada tanaman karet?
b. Umur berapa stum mata tidur pada tanaman karet?
Jawaban :
a. Penyanggulan adalah suatu teknik perlakuan dalam rangka pengelolaan percabangan
pada TBM (tanaman belum menghasilkan) karet yang bertujuan merangsang
pertumbuhan cabang dan daun, menekan pertumbuhan batang kearah atas (longitudinal),
meningkatkan pertumbuhan lilit batang (transversal). Penyanggulan dilakukan
dengan cara melipat daun dewasa pada payung teratas secara berkelompok (6 s/d 8
helaian daun) kearah pucuk tanaman menyerupai sanggul, kemudian lipatan tersebut
diikat dengan tali karet. Dengan demikian titik tumbuh pada pucuk terminalnya mati,
sehingga batang utama menjadi tidak dominan. Keberhasilan cara sanggul lebih tinggi
b. Stum mata tidur pada pembibitan tanaman karet ynag digunakan adalah yang berumur 9
– 18 bulan. Pada stum ini, entres yang digunakan berwarna hijau kecokelatan hingga cokelat, berbatang lurus dan bermata tunas dalam keadaan tidur.
3. Fadhillah Achmad
Pertanyaan : a. Apa tujuan dari pembuangan tunas palsu?
b. Apakah ada pembagian kelas mutu dalam pengolahan karet?
Jawaban :
a. Tunas palsu pada tanaman karet adalah tunas yang tumbuh bukan dari mata okulasi.
Tunas ini banyak dijumpai pada bibit stum mata tidur, sedangkan pada bibit stum mini
atau bibit polibag, tunas palsu relatif jarang ditemui. Tunas palsu dapat menghambat
tumbuhnya mata okulasi bahkan dapat menyebabkan mata okulasi tidak tumbuh, karena
pasokan fotosintat yang dihasilkan diserap seluruhnya untuk pertumbuhan tunas palsu.
Oleh karena itu, tunas palsu harus dibuang agar pertumbuhan dan populasi tanaman tetap
optimal. Selain itu, tunas-tunas palsu perlu dibuang, supaya tanaman dalam satu blok
tumbuh dengan seragam. Pembuangan tunas sebaiknya dilakukan ketika tunas tersebut
belum mengayu atau dilakukan pada awal-awal pertumbuhan bibit.
b. Kelas mutu karet
Berdasarkan kualitasnya, karet yang telah diolah dibedakan dalam kelompok sebagai
berikut :
RSS 1
Kelas ini harus memenuhi persyaratan yaitu, lembaran yang dihasilkan harus
benar-benar kering, bersih, kuat, tidak ada cacat, tidak berkarat, tidak melepuh serta tidak
ada benda-benda pengotor. Jenis RSS 1 tidak boleh ada garis-garis pengaruh dari
oksidasi, lembaran lembek, suhu pengeringan terlalu tinggi, belum benar-benar
kering, pengasapan berlebihan, warna terlalu tua serta terbakar. Bila terdapat
gelembung-gelembung berukuran kecil (seukuran jarum pentul) masih
diperkenankan, asalkan letaknya tersebar merata. Pembungkusan harus baik agar
tidak terkontaminasi jamur. Tetapi, bila sewaktu diterima terdapat jamur pada
RSS 2
Kelas ini tidak terlalu banyak menuntut kriteria. Standar RSS 2 hasilnya harus kering,
bersih, kuat, bagus, tidak cacat, tidak melepuh dan tidak terdapat kotoran. Lembaran
tidak diperkenankan terdapat noda atau garis akibat oksidasi, lembaran lembek, suhu
pengeringan terlalu tinggi, belum benar-benar kering, pengasapan berlebihan, warna
terlalu tua serta terbakar. Lembaran kelas ini masih menerima gelembung udara serta
noda kulit pohon yang ukurannya agak besar (dua kali ukuran jarum pentul).
Zat-zat damar dan jamur pada pembungkus, kulit luar bandela atau pada lembaran di
dalamnya masih dapat ditorerir. Tetapi bila sudah melebihi 5% dari bandela, maka
lembaran akan ditolak.
RSS 3
Standar karet RSS 3 harus kering, kuat, bagus, tidak cacat, tidak melepuh dan tidak
terdapat kotoran. Bila terdapat cacat warna, gelembung udara besar (tiga kali ukuran
jarum pentul), ataupun noda-noda dari kulit tanaman karet, masih ditorerir. Namun,
tidak diterima jika terdapat noda atau garis akibat oksidasi, lembaran lembek, suhu
pengeringan terlalu tinggi, belum benar-benar kering, pengasapan berlebihan, warna
terlalu tua serta terbakar. Jamur yang terdapat pada pembungkus kulit luar bandela
serta menempel pada lembaran tidak menjadi masalah, asalkan jumlahnya tidak
melebihi 10% dari bandela dimana contoh diambil.
RSS 4
Standar karet RSS 4 harus kering, kuat, tidak cacat, tidak melepuh serta tidak terdapat
pasir atau kotoran luar. Yang diperkenankan adalah bila terdapat gelembung udara
kecil-kecil sebesar 4 kali ukuran jarum pentul, karet agak rekat atau terdapat kotoran
kulit pohon asal tidak banyak. Mengizinkan adanya noda-noda asalkan jernih.
Lembaran lembek, suhu pengeringan terlalu tinggi dan karet terbakar tidak bisa
diterima. Bahan damar atau jamur kering pada pembungkus kulit bagian luar bandela
serta pada lembaran, asalkan tidak melebihi 20% dari keseluruhan masih mungkin
untuk kelas RSS 4.
RSS 5
Karet yang dihasilkan harus kokoh, tidak terdapat kotoran atau benda asing, kecuali
terendah standarnya. Bintik-bintik, gelembung kecil, noda kulit pohon yang besar,
karet agak rekat, kelebihan asap dan sedikit belum kering masih termasuk dalam
batas toleransi. Bahan damar atau jamur kering pada pembungkus kulit bagian luar
bandela serta pada lembaran, asalkan tidak melebihi 30% dari keseluruhan masih
mungkin untuk kelas RSS 5. Pengeringan pada suhu tinggi dan bekas terbakar tidak