• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANA JEMEN AGRIBISNIS TANAMAN INDUSTRI Ta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MANA JEMEN AGRIBISNIS TANAMAN INDUSTRI Ta"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN AGRIBISNIS TANAMAN INDUSTRI

“Tanaman Karet”

Dosen Pengampu : Ir. Sarjiyah, M.S

Oleh :

Kelompok I

Inayatul Lutfi

(20110210047)

Program Studi Agroteknologi

Fakultas Pertanian

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

(2)

TANAMAN KARET

Tanaman karet (Havea brasiliensis) berasal dari negara Brazil. Tanaman ini merupakan

sumber utama bahan tanaman karet alam dunia. Tanaman karet pada pertama kali hanya tumbuh

di Amerika Selatan, namun setelah percobaan berkali-kali oleh Henry Wickham, pohon ini

berhasil dikembangkan di Asia Tenggara, di mana sekarang ini tanaman ini banyak

dikembangkan; sekarang Asia merupakan sumber karet alami (Wikipedia (a), 2013).

A. Taksonomi dan Morfologi Karet

Struktur botani tanaman karet ialah termasuk dalam divisi spermatophyte, subdivisi

angiospermae, kelas dicotyledonae, ordo euphorbiales, famili euphorbiaceae, genus hevea,

dan spesies Havea brasiliensis. Dalam genus Havea, hanya species Havea brasiliensis Muell

Arg. Yang dapat menghasilkan lateks unggul, dimana sebanyak 90 % karet alam dihasilkan

oleh spesies tersebut. Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang

cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 meter. Batang tanaman biasanya tumbuh

lurus dan memiliki percabangan yang tinggi. Di beberapa kebun karet ada beberapa

kecondongan arah tumbuh tanamanya agak miring kearah utara. Batang tanaman ini

mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks. Daun karet terdiri dari tangkai daun

utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai daun utama 3-20cm. Panjang tangkai anak

daun sekitar 3-10cm dan pada ujungnya terdapat kelenjar. Biasanya ada tiga anak daun yang

terdapat pada sehelai daun karet. Anak daun berbentuk eliptis, memanjang dengan ujung

meruncing, tepinya rata dan gundul. Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah. Jadi jumlah

biji biasanya ada tiga kadang enam sesuai dengan jumlah ruang. Ukuran biji besar dengan

kulit keras. Warnaya coklat kehitaman dengan bercak-bercak berpola yang khas. Sesuai

dengan sifat dikotilnya, akar tanaman karet merupakan akar tunggang. Akar ini mampu

menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar (Wikipedia (a), 2013).

Karet merupakan tanaman berbuah polong (diselaputi kulit yang keras) yang sewaktu

masih muda buahnya berpaut erat dengan rantingnya. Buah karet dilapisi oleh kulit tipis

berwarna hijau dan didalamnya terdapat kulit yang keras dan berkotak. Tiap kotak berisi

sebuah biji yang dilapisi tempurung, setelah tua warna kulit buah berubah menjadi

(3)

dari kotaknya. Tiap buah tersusun atas dua sampai empat kotak biji. Pada umumnya berisi

tiga kotak biji dimana setiap kotak terdapat satu biji. Tanaman karet mulai menghasilkan

buah pada umur lima tahun dan akan semakin banyak setiap pertambahan umur tanaman.

B. Syarat Tumbuh

Tanaman karet adalah tanaman daerah tropis. Daerah yang cocok untuk tanaman

karet adalah pada zona antara 15° LS dan 15° LU. Bila ditanam di luar zona tersebut,

pertumbuhannya agak lambat, sehingga memulai produksinya pun lebih lambat. Curah hujan

tahunan yang cocok untuk pertumbuhan tanaman karet tidak kurang dari 2.000 mm. Optimal

antara 2.500-4000 mm/tahun, yang terbagi dalam 100-150 hari hujan. Pembagian hujan dan

waktu jatuhnya hujan rata-rata setahunnya mempengaruhi produksi. Daerah yang sering

mengalami hujan pada pagi hari produksinya akan kurang. Keadaan iklim di Indonesia yang

cocok untuk tanaman karet ialah daerah-daerah Indonesia bagian barat, yaitu Sumatera, Jawa

dan Kalimantan, sebab iklimnya lebih basah (Suwarto, 2012).

Tanaman karet tumbuh optimal di dataran rendah, yakni pada ketinggian sampai 200

meter di atas permukaan laut. Makin tinggi letak tempat, pertumbuhannya makin lambat dan

hasilnya lebih rendah. Ketinggian lebih dari 600 meter dari permukaan laut tidak cocok untuk

tanaman karet. Angin juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Angin yang kencang

pada musim-musim tertentu dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman karet yang

berasal dari klon-klon tertentu yang peka terhadap angin kencang (Suwarto, 2012).

Lahan kering untuk pertumbuhan tanaman karet pada umumnya lebih

mempersyaratkan sifat fisik tanah dibandingkan dengan sifat kimianya. Hal ini disebabkan

perlakuan kimia tanah agar sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet dapat dilaksanakan

dengan lebih mudah dibandingkan dengan perbaikan sifat fisiknya. Berbagai jenis tanah

dapat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet baik tanah vulkanis muda dan tua, bahkan

pada tanah gambut dengan kedalaman kurang dari 2 m. Tanah vulkanis mempunyai sifat

fisika yang cukup baik terutama struktur, tekstur, solum, kedalaman air tanah, aerasi dan

drainasenya, tetapi sifat kimianya secara umum kurang baik karena kandungan haranya

rendah. Tanah alluvial biasanya cukup subur, tetapi sifat fisikanya terutama drainase dan

(4)

pH <3,0 dan pH > 8,0. Sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet pada umumnya

antara lain :

1. Solum tanah sampai 100 cm, tidak terdapat batu-batuan dan lapisan cadas

2. Aerase dan drainase cukup

3. Tekstur tanah remah, porous dan dapat menahan air

4. Struktur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir

5. Tanah bergambut tidak lebih dari 2 m

6. Kandungan hara NPK cukup dan tidak kekurangan unsur hara mikro

7. Reaksi tanah dengan pH 4,5-pH 6,5

8. Kemiringan tanah <16% dan permukaan air tanah <100 cm.

(Anwar, 2001 dalam Anonim, 2013).

C. Persiapan Bahan Tanam

Kegiatan pemuliaan karet di Indonesia telah banyak menghasilkan klon-klon karet

unggul sebagai penghasil lateks dan penghasil kayu. Pada Lokakarya Nasional Pemuliaan

Tanaman Karet 2005, telah direkomendasikan klon-klon unggul baru generasi-4 untuk

periode tahun 2006 – 2010, yaitu klon: IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 104, IRR 112,

dan IRR 118. Klon IRR 42 dan IRR 112 akan diajukan pelepasannya sedangkan klon IRR

lainnya sudah dilepas secara resmi. Klon-klon tersebut menunjukkan produktivitas dan

kinerja yang baik pada berbagai lokasi, tetapi memiliki variasi karakter agronomi dan

sifat-sifat sekunder lainnya.

Hal yang paling penting dalam penanaman karet adalah bibit/bahan tanam, dalam hal

ini bahan tanam yang baik adalah yang berasal dari tanaman karet okulasi. Persiapan bahan

tanam dilakukan paling tidak 1,5 tahun sebelum penanaman. Dalam hal bahan tanam ada tiga

komponen yang perlu disiapkan, yaitu: batang bawah (root stoct), entres/batang atas

(budwood), dan okulasi (grafting) pada penyiapan bahan tanam. Persiapan batang bawah merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh bahan tanam yang mempunyai perakaran kuat

dan daya serap hara yang baik. Untuk mencapai kondisi tersebut, diperlukan pembangunan

pembibitan batang bawah yang memenuhi syarat teknis yang mencakup persiapan tanah

pembibitan, penanganan benih, perkecambahan, penanaman kecambah, serta usaha

(5)

Untuk mendapatkan bahan tanam hasil okulasi yang baik diperlukan entres yang

baik, Pada dasarnya mata okulasi dapat diambil dari dua sumber, yaitu berupa entres cabang

dari kebun produksi atau entres dari kebun entres. Dari dua macam sumber mata okulasi ini

sebaiknya dipilih entres dari kebun entres murni, karena entres cabang akan menghasilkan

tanaman yang pertumbuhannya tidak seragam dan keberhasilan okulasinya rendah. Okulasi

merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan menempelkan mata

entres dari satu tanaman ke tanaman sejenis dengan tujuan mendapatkan sifat yang unggul.

Dari hasil okulasi akan diperoleh bahan tanam karet unggul berupa stum mata tidur, stum

mini, bibit dalam polibeg, atau stum tinggi. Untuk tanaman karet, mata entres ini yang

merupakan bagian atas dari tanaman dan dicirikan oleh klon yang digunakan sebagai batang

atasnya.

Penanaman bibit tanaman karet harus tepat waktu untuk menghindari tingginya angka

kematian di lapang. Waktu tanam yang sesuai adalah pada musim hujan. Selain itu perlu

disiapkan tenaga kerja untuk kegiatan-kegiatan untuk pembuatan lubang tanam,

pembongkaran, pengangkutan, dan penanaman bibit. Bibit yang sudah dibongkar sebaiknya

segera ditanam dan tenggang waktu yang diperbolehkan paling lambat satu malam setelah

pembongkaran.

D. Persiapan Lahan 1. Lahan Baru

Untuk pembukaan lahan baru hal pertama yang harus dilakukan adalah penebangan

pohon yang ada pada lahan. Setelah itu, melakuakn pembersihan rumput yang ada dan

kemudian lahan dibajak dengan traktor atau penggarpuan/pencangkulan dilakukan 3 kali,

dengan tenggang waktu 1 bulan, setelah pembajakan ke 3 lahan dibiarkan 2 minggu baru

digaru.

2. Peremajaan (Replanting)

Peremajaan tanaman karet dilakukan pada kebun-kebun karet yang pohonnya sudah tidak

berproduksi dengan baik. Tahapan replanting yaitu penebangan dilakukan dengan

menumbangkan pohon karet tua secara bertahap. Kayu-kayu hasil penebangan kemudian

dipotong-potong dengan panjang sesuai yang dibutuhkan pabrik serta untuk memudahkan

(6)

kayu-kayu yang mempunyai diameter diatas 10 cm. Kemudian melakukan pemancangan

untuk rencana perumpukan. Lebar rumpukan adalah 4 meter dan panjang sesuai

kebutuhan. Kemudian dilakukan pembajakan yang ke-I dengan menggunakan traktor

dengan kedalaman 20-30 cm. Lalu melakukan pengayapan yang ke-I dengan

mengumpulkan seluruh akar yang berdiameter lebih besar 1 cm dan dikumpulkan di atas

tunggul. Setelah itu, melaksanakan pembajakan yang ke-2 dan pengayapan yang ke-2

dengan kriteria sama seperti pembajakan yang ke-I dan pengayapan yang ke-I. Kemudian

melaksanakan penggaruan yang ke-1 yang bertujuan untuk meratakan tanah dari hasil

pembajakan sebelumnya kemudian lakukan pengayapan 3, pastikan semua tanah hancur

dan rata. Terakhir adalah melakukan penggaruan yang ke 2 dengan langkah yang sama

seperti penggaruan ke-1.

3. Pemancangan

Pemancangan bertujuan untuk menandai tempat lubang tanam, dengan ketentuan jarak

tanam pada areal lahan yang relatif datar/landai (kemiringan antara 0-10 %) jarak tanam

adalah 6 m x 3 m (±550 lubang tanam/hektar) berjarak 6 m mengikuti arah timur ke barat

dan arah utara-selatan berjarak 3 m. Pada areal lahan yang mempunyai kemiringan 10-25

% maka menggunakan sistem pola tanam menurut kontur (teras bersambung) untuk

mengendalikan erosi. Cara pengajiran pada pola tanam kontur yaitu menentukan ajir teras

bersambung dan memasang ajir dengan jarak tanam 3 m pada teras yang dibuat.

4. Pembuatan Lubang Tanam

Ukuran lubang tanam bergantung pada bentuk bibitnya. Untuk stum mata tidur, stum

mini, dan bibit polibeg menggunakan ukuran panjang, lebar, dan tinggi berturut-turut 40

cm, 40 cm dan 40 cm. Sedangkan untuk stum tinggi masing-masing panjang, lebar dan

tingi adalah 60 cm, 60 cm dan 60 cm. Pada waktu penggalian lubang tanam diusahakan

topsoil dipisahkan dari subsoil dengan cara meletakkan disebelah kanan dan kiri lubang.

Kemudian lubang tanam dibiarkan 1 bulan lebih.

E. Penanaman

Bila menggunakan stum mata tidur dan stum mini, mata okulasi harus sudah

membengkak/mentis dan jika menggunakan bibit dalam polibeg, dan teratas harus dalam

(7)

kemudian ditimbun dengan subsoil dan topsoil. Bila menggunakan bahan tanam stum mata

tidur, stum mini, dan stum tinggi, pemadatan tanah dilakukan secara bertahap sehingga

timbunan menjadi padat dan kompak. Lubang tanam diisi tanah sampai penuh dan

dipadatkan sampai permukaannya rata dengan sekelilingnya. Bila menggunakan bibit dalam

polibeg, pemadatan tanah di sekeliling cukup dilakukan dengan tangan tanpa diinjak.

Penanaman tanaman penutup tanah (cover cropi) berfungsi dalam pengendalian

gulma, peningkatan kesuburan tanah dan dapat sebagai konservasi tanah. Tanaman penutup

tanah yang biasa ditanam di area perkebunan karet yaitu Puecaria javanica, Colopogonium

moconoides dan Centrosema fubercens. Penanaman dapat diatur setelah tanah diolah dan di

bersihkan, jumlah bibit yang ditanam 15 – 20 Kg/Ha dengan perbandingan 1 : 5 : 4 antara

Puecaria javanica, Colopogonium moconoides dan Centrosema fubercens

F. Pemeliharaan 1. Penyulaman

Bibit yang baru ditanam selama tiga bulan pertama setelah tanam diamati terus menerus.

Tanaman yang mati segera diganti. Klon tanaman untuk penyulaman harus sama.

Penyulaman dilakukan sampai umur 2 tahun. Penyulaman setelah itu dapat berkurang

atau terlambat pertumbuhannya.

2. Pemotongan Tunas Palsu

Tunas palsu dibuang selama 2 bulan pertama dengan rotasi 1 kali 2 minggu, sedangkan

tunas liar dibuang sampai tanaman mencapai ketinggian 1,80 meter.

3. Merangsang Percabangan

Bila tanaman 2 – 3 tahun dengan tinggi 3,5 meter belum mempunyai cabang

perlu diadakan perangsangan dengan cara pengeringan batang (ring out), pembungkusan

pucuk daun (leaf felding), penanggalan (tapping).

4. Pemupukan

Pemupukan dilakukan 2 kali setahun yaitu menjelang musim hujan dan akhir musim

kemarau, sebelumnya tanaman dibersihkan dulu dari rerumputan dibuat larikan

melingkar selama – 10 Cm. Pemupukan pertama kurang lebih 10 Cm dari pohon dan

(8)

Tabel Waktu Dosis dan Cara Pemupukan Tanaman Penutup Tanah

Waktu Dosis Cara Pemberian

Saat tanam

kemerahan dan terbungkus lapisan lak dan mengeluarkan cairan madu, membuat

(9)

daun lalu cairannya dihisap sehingga bagian tanaman yang terserang kering.

Penyebaran kutu lak dibantu semut gramang.

Pengendalian :

Melakukan pengawasan sedini mungkin. Bila serangan ringan lakukan pengendalian

secara mekanais, Fisik dan Biologis Bila serangan berat, dengan Insektisida

Albocinium 2% dan formalin 0,15% ditambah Surfaktan Citrowet 0,025%,

penyemprotan interval 3 mg.

b. Pscudococcus citri

Ciri-ciri, stadia yang merusak adalah nympha dan imago berwarna kuning muda.

Meyerang tanaman yang masih muda seperti ranting dan tangkai daun.

Pengendalian :

Bila serangan berat bisa menggunakan Insektisida jenis metamidofos dilarutkan

dalam air dengan konsentrasi 0,05%-0,1%. Interval penyemprotan 1-2 mg.

2. Penyakit

a. Penyakit Embun Tepung.

Penyebabnya adalah Cendawan Oidium heveae. Gejalanya, menyerang daun muda

lalu berbintik putih dan merangas. Umumnya menyerang setelah musim gugur daun.

Pengendaliannya dapat dilakukan secara mekanis dengan menanam klon yang sesuai.

pemeliharaan yang intensif, penyelarasan beban sadapan Secara kimiawi dengan

belerang circus dosis 3 – 5 Kg/Ha interval 3 – 5 hari.

b. Penyakit Daun Colletotrichum

Penyebabnya adalah Colletotrichum gloeosporioides yang penyebarannya dibantu

oleh angin dan hujan. Gejalanya, daun muda cacat dan gugur, pucuk gundul daun

bercak coklat, ditengah bercak berwarna putih bintik hitam (spora). Pengendaliannya

dengan fungisida

c. Penyakit Kanker garis.

Penyebabnya adalah Phytophthora palmivora butl, dengan gejala bidang sadapan

terdapat garis vertikal berwarna hitam dan bisa masuk sampai kebagian kayu dan

kulit membusuk. Banyak timbul dimusim penghujan dan kebun yang terlampau

(10)

dapat dilakukan secara mekanis penjarangan pemangkasan pelindung, penanaman

penutup tanah dan secara Kimiawi dengan Fungisida (B.a. Kaptofol)

d. Penyakit Jamur Upas

Penyebabnya adalah Cortisium salmonicolor, dengan gejala tajuk pada dahan /

cabang akan layu sehingga tanaman lemah dan produksi turun. Pengendaliannya

dapat dilakukan secara kimiawi dengan cara melumasi luka akibat serangan penyakit

dengan fungisida bahan aktif tridermof (Calizin Rm 2%).

e. Penyakit Bidang Sadapan

Penyebabnya adalah Ceratocystis fimbriata, dengan gejala pada kulit bidang sadapan

timbul selaput benang berwarna putih kelabu lalu penyebaran melalui spora dan pisau

sadap. Pengendalian dapat dilakukan secara mekanis dengan mengurangi kelembaban

dan secara kimiawi dengan Fungisida bahan aktif benomil dan Kaptofol.

f. Penyakit Cendawan Akar putih.

Penyebabnya adalah cendawan Fomes lignosu, dengan gejala daun kusam,

menguning, layu dan akhirnya gugur. Tanaman bila dibongkar pada akar terdapat

cendawan berwarna putih kekuningan. Pengendaliannya dapat dilakukan secara

mekanis saat pembukaan lahan tunggul dan akar harus dibongkar. Penanaman 1-2

tahun setelah pembongkaran. Tanaman sakit dibongkar lalu dibakar. Secara kimiawi

akar yang terserang dipotong lalu diolesi fungisida.

H. Panen dan Pascapanen

Pemungutan hasil tanaman karet disebut penyadapan karet. Penyadapan karet

(menderes, menoreh, tapping) adalah mata rantai pertama dalam proses produksi karet.

Penyadapan dilaksanakan pada umur pohon karet rata-rata 6 tahun atau 55% dari areal 1

hektar sudah mencapai lingkjar batang 45 Cm sampai dengan 50 Cm. Penyadapan dilakukan

di kebun produksi dengan menyayat atau mengiris (saat ini juga menusuk) kulit batang

dengan cara tertentu, dengan maksud untuk memperoleh getah atau yang disebut sebagai

lateks. Kulit batang yang disadap adalah modal utama untuk berproduksinya tanaman karet.

Kesalahan dalam penyadapan akan membawa akibat akibat yang sangat merugikan baik bagi

(11)

Untuk menampung lateks yang keluar dari pembuluh lateks dan mengalir pada

saluran lateks diperlukan mangkok. Pada saat ini penyadapan menggunakan mangkok dari

bermacam-macam bahan seperti alumunium, arnit, gelas, plastik, porselin yang diglasir atau

bahan lainnya.

Pengumpulan lateks dilaksanakan 3-4 jam setelah penyadapan. Lateks dari mangkok

dituangkan ke dalam ember pemupul dengan menggunakan spatel. Bila lateks dalam ember

pemupul telah penuh kemudian dipindahkan ke dalam ember pengumpul, dan selanjutnya

dibawa ke tempat pengumpulan hasil (TPH) atau langsung ke pabrik (Setyamidjaja, 1993).

Ada beberapa alat yang digunakan dalam pengolahan karet alam. Alat-alat ini tidak

semuanya digunakan dalam pengolahan setiap jenis karet. Ada alat yang hanya digunakan

untuk pembuatan jenis karet tertentu saja. Selain alat, juga banyak digunakan bahan dalam

pengolahan karet alam (Tim Penulis PS, 2008). Beberapa peralatan yang digunakan di

pabrik karet untuk mengolah lateks sebagai berikut :

1. Mesin penggiling

2. Tangki koagulasi

3. Ruang pengering

4. Ruang pengasapan

Bahan-bahan untuk pengolahan karet di sini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu

bahan kimia dan bahan nonkimia. Beberapa bahan kimia yang digunakan di dalam

pengolahan lateks sebagai berikut :

1. Bahan pembeku

2. Bahan pengelantang

3. Bahan vulkanisasi

4. Bahan pemercepat dan penggiat reaksi

5. Bahan antioksidan dan antiozonan

6. Bahan pelunak

7. Bahan pengisi

8. Bahan peniup

9. Bahan pencegah pravulkanisasi

(12)

Bahan nonkimia yang sangat diperlukan dalam pengolahan karet adalah air dan kayu

bakar (Setiawan dan Andoko, 2005).

Pada dasarnya prinsip pengolahan karet remah adalah meremahkan dan

mengeringkan karet. Dalam rangkaian proses peremahan karet diperlukan air untuk

pencucian kotoran yang terdapat dalam bahan baku (Tim Penulis PS, 2008)

Pada saat mulai keluar dari pohon hingga beberapa jam lateks masih berupa cairan,

tetapi setelah kira-kira 8 jam lateks mulai mengental dan selanjutnya membentuk gumpalan

karet. Penggumpalan (prakoagulasi) dapat dibagi 2 yaitu :

1. Penggumpalan spontan

2. Penggumpalan buatan

Penggumpalan spontan biasanya disebabkan oleh pengaruh enzim dan bakteri,

aromanya sangat berbeda dari yang segar dan pada hari berikutnya akan tercium bau yang

busuk. Sedangkan penggumpalan buatan biasanya dilakukan dengan penambahan asam.

Prakoagulasi terjadi karena kemantapan bagian koloidal yang terkandung dalam

lateks berkurang. Bagian-bagian koloidal ini kemudian menggumpal menjadi satu dan

membentuk komponen yang berukuran lebih besar. Komponen koloidal yang lebih ini akan

membeku. Inilah yang menyebabkan terjadinya prakoagulasi.

Getah karet atau lateks sebenarnya merupakan suspensi koloidal dari air dan

bahan-bahan kimia yang terkandung didalamnya. Bagian-bagian yang terkandung tersebut tidak

larut sempurna, melainkan terpencar secara homogen atau merata di dalam air.

Partikel-partikel koloidal ini sedemikian kecil dan halusnya sehingga dapat menembus saringan.

Susunan bahan lateks dapat dibagi menjadi dua komponen. Komponen pertama

adalah bagian yang mendispersikan atau memancarkan bahan-bahan yang terkandung secara

merata, biasa disebut serum. Bahan-bahan bukan karet yang larut dalam air, seperti protein,

garam-garam mineral, enzim dan lain-lain termasuk ke dalam serum. Komponen kedua

adalah bagian yang didispersikan atau dipancarkan. Komponen kedua ini terdiri dari

butir-butir karet yang dikelilingi lapisan tipis protein.

Sebenarnya sistem koloidal bisa dipertahankan agak lama sampai satu hari lebih,

sebab bagian-bagian karet yang dikelilingi oleh lapisan tipis sejenis protein mempunyai

kestabilan sendiri. Stabilisatornya adalah lapisan protein yang mengelilingi tersebut. Dengan

(13)

Penyebab terjadinya prakoagualasi antara lain sebagai berikut :

1. Penambahan asam

Penambahan asam organik ataupun anorganik mengakibatkan turunnya pH lateks titik

isoelektriknya sehingga lateks kebun membeku (pH lateks kebun 6,9).

2. Mikroorganisme

Lateks segar merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme,

mikroorganisme banyak terdapat dilungkungan perkebunan karet (pepohonan, udara,

tanah, air atau pada alat-alat yang digunakan).

Mikroorganisme ini menghasilkan asam-asam yang menurunkan pH mencapai titik

isoelektrik sehingga lateks membeku serta menimbulkan rasa bau karena terbentuknya

asam-asam yang mudah menguap (volatile fatty acid). Bila banyak mikroorganisme maka

senyawa asam yang dihasilkan akan banyak pula.

Suhu udara yang tinggi akan lebih mengaktifkan kegiatan bakteri, sehingga dalam

penyadapan ataupun pengangkutan diusahakan pada suhu rendah atau pagi.

3. Iklim

Air hujan akan membawa zat penyamak, kotoran dan garam yang larut dari kulit batang.

Zat-zat ini akan mengkatalisis terjadingan prakoagualasi.

Lateks yang baru disadap juga mudah menggumpal jika terkena sinar matahari yang terik

karena kestabilan koloidnya rusak oleh panas yang terjadi.

4. Pengangkutan

Pengangkutan yang terlambat ataupun jarak yang jauh menyebabkan lateks baru tiba

ditempat pengolahan pada siang hari dan sempat terkena matahari sehingga mengganggu

kestabilan lateks.

Jalan yang buruk atau angkutan yang terguncang-guncang mengakibatkan lateks yang

diangkut terkocok-kocok secara kuat sehinggan merusak kestabilan koloid.

5. Kotoran atau bahan-bahan lain yang tercampur

Lateks akan mengalami prakoagualasi bila dicampur dengan air kotor, terutama air yang

mengandung logam atau elektrolit.

Prakoagualasi juga sering terjadi karena tercampurnya kotoran atau bahan lain yang

mengandung kapur atau asam.

(14)

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya prakoagualasi

antara lain sebagai berikut :

1. Menjaga kebersihan alat-alat yang digunakan dalam penyadapan, penampungan, maupun

pengangkutan. Selama pengangkutan dari kebun ke pabrik pengolahan, lateks dijaga agar

tidak mengalami banyak guncangan.

2. Mencegah pengenceran lateks dari kebun dengan air kotor, misalnya air sungai, air

saluran atau air got.

3. Memulai penyadapan pada pagi hari sebelum matahari terbit untuk membantu agar lateks

dapat sampai ke pabrik atau tempat pengolahan sebelum udara menjadi panas.

Apabila langkah-langkah pencegahan diatas sudah dilakukan tetapi hasilnya belum

seperti yang diinginkan, maka zat antikoagulan dapat digunakan. Zat antikoagulan ada

beberapa macam, tetapi harus dipilih yang paling tepat. Pilihan disesuaikan dengan kondisi

lokasi, harga, kadar bahaya zat tersebut dan yang terpenting adalah kemampuan zat tersebut

dalam mencegah prakoagualasi. Dalam pemakaiannya zat antikoagulan bias digabung untuk

menambah daya antikoagulasinya, bisa dua macam menjadi satu atau tiga macam campuran

sekaligus. Berikut ini contoh beberapa antikoagulan yang banyak dipakai di perusahaan atau

tempat-tempat pengolahan karet.

1. Soda atau natrium karbonat (Na2CO3)

Dibanding dengan zat antikoagulan yang lain, harga soda atau natrium karbonat memang

lebih murah. Karena itu soda banyak digunakan di pabrik-pabrik pengolahan yang

sederhana. Akan tetapi zat ini tidak dianjurkan digunakan pada pabrik yang akan

mengolah lateks menjadi ribbed smoked sheets (RSS) karena sheet kering yang

dihasilkan akan bergelembung-gelembung atau bubbles. Pemakaian soda aman untuk

karet yang akan diolah menjadi crepe. Dosis soda yang digunakan adalah 5-10 ml larutan

soda tanpa air kristal (soda ash) 10% setiap liter lateks.

2. Amonia (NH3)

Zat antikoagulan ini termasuk yang paling banyak digunakan karena :

a. Desinfektan sehingga dapat membunuh bakteri

b. Bersifat basa sehingga dapat mempertahankan/menaikkan pH lateks kebun

(15)

Lateks yang akan diolah menjadi crepe hendaknya tidak diberi ammonia secara

berlebihan karena berpengaruh terhadap warna crepe yang jadi nantinya. Dosis ammonia

yang dipakai untuk mencegah terjadinya prakoagualasi adalah 5-10 ml larutan ammonia

2,5% untuk setiap liter lateks.

3. Formaldehid

Pemakaian formaldehid sebagai anti koagulan paling merepotkan dibanding zat lainnya,

karena kurang baik apabila digunakan di musim hujan dan apabila disimpan zat ini akan

teroksidasi menjadi asam semut atau asam format (HCHO → HCOOH) yang dapat

menyebabkan pembekuan apabila dicampur pada lateks. Oleh karena itu, formaldehid

yang akan digunakan terlebih dahulu harus diperiksa apakah larutan ini bereaksi asam

atau tidak, apabila bereaksi asam harus dinetralkan dengan zat yang bersifat basa seperti

soda kaustik. Seteleh formaldehid bereaksi netral baru digunakan. Dosis yang dapat

dipakai adalah 5-10 ml larutan dengan kadar 5% untuk setiap liter lateks yang akan

dicegah prakoagualasinya.

4. Natrium sulfit (Na2SO3)

Pemakaian zat ini sebagai zat antikoagulan paling merepotkan, karena :

a. Bahan ini tidak tahan lama disimpan

b. Apabila ingin digunakan harus dibuat terlebih dahulu

c. Dalam jangka waktu sehari akan teroksidasi oleh udara menjadi natrium sulfat

(Na2SO3 → Na2SO4), bila sudah teroksidasi maka sifatnya sebagai antikoagulan

menjadi lenyap.

Selain sebagai antikoagulan natrium sulafit juga bias memperpanjang waktu pengeringan

dan sebagai desinfektan. Dosis yang digunakan adalah 5-10 ml larutan berkadar 10%

untuk setiap liter lateks.

Jensi-Jenis Karet Alam

Ada beberapa macam karet alam yang dikenal, diantaranya merupakan bahan

olahan. Bahan olahan ada yang setengah jadi atau sudah jadi. Ada juga karet yang diolah

kembali berdasarkan bahan karet yang sudah jadi. Jenis-jenis karet alam yang dikenal luas

(16)

1. Bahan Olah Karet

Bahan olah karet adalah lateks kebun serta gumpalan lateks kebun yang diperoleh dari

pohon karet hevea brasiliensis. Beberapa kalangan mengatakan bahwa bahan olah karet

bukan produksi perkebunan besar, melainkan merupakan bokar (bahan olah karet rakyat)

karena biasanya diperoleh dari petani yang mengusahakan kebun karet. Menurut

pengolahannya bahan olah karet dibagi menjadi 4 macam :

a. Lateks kebun adalah cairan getah yang didapat dari bidang sadap pohon karet.

Cairan getah ini belum mengalami penggunpalan entah itu dengan tambahan atau

tanpa bahan pemantap (zat antikoagulan).

b. Sheet angin adalah bahan olah karet yang dibuat dari lateks yang sudah disaring

dan digumpalkan dengan asam semut, berupa karet sheet yang sudah digiling tetapi

belum jadi.

c. Slab tipis adalah bahan olah karet yang terbuat dari lateks yang sudah

digumpalkan dengan asam semut.

d. Lump segar adalah bahan olah karet yang bukan berasal dari gumpalan lateks

kebun yang terjadi secara alamiah dalam mangkuk penampung.

2. Karet Alam Konvensional

Ada beberapa macam karet olahan yang tergolong karet alam konvensional.jenis ini

pada dasarnya hanya terdiri dari golongan karet sheet dan crepe. Jenis-jenis karet alam yang

tergolong konvensional adalah sebagai berikut :

a. Ribbed smoked sheet (RSS) adalah jenis karet berupa lembaran sheet yang

mendapat proses pengasapan dengan baik.

b. White crepe dan pale crepe adalah jenis crepe yang berwarna putih atau muda

dan ada yang tebal dan tipis.

c. Estate brown crepe adalah jenis crepe yang berwarna cokelat dan banyak

dihasilkan oleh perkebunan-perkebunan besar atau estate. Jenis ini juga dibuat dari

bahan yang kurang baik atau jelek seperti yang digunakan untuk pembuatan off crepe

serta dari sisa lateks, lump atau koagulum yang berasal dari prakoagulasi, dan scrap

(17)

d. Compo crepe adalah jenis crepe yang dibuat dari bahan lump, scrap pohon,

potongan-potongan sisa dari RSS atau slab basah.

e. Thin brown crepe remilis adalah crepe coklat yang tipis karena digiling ulang.

f. Thick blanket crepes ambers adalah crepe blanket yang tebal dan berwarna

coklat, biasanya dibuat dari slab basah, sheet tanpa proses pengasapan dan lump serta

scrap dari perkebunan atau kebun rakyat yang baik mutunya. Scrap tanah tidak boleh

digunakan.

g. Flat bark crepe adalah karet tanah atau earth rubber, yaitu jenis crepe yang

dihasilkan dari scrap karet alam yang belum diolah, termasuk scrap tanah yang

berwarna hitam.

h. Pure smoked blanket crepe adalaha crepe yang diperoleh dari penggilingan karet

asap yang khusus berasal dari RSS, termasuk juga block sheet atau sheet bongkah,

atau dari sisa pemotongan RSS. Jenis karet lain atau bahan bukan karet tidak boleh

digunakan.

i. Off crepe adalah crepe yang tidak tergolong bentuk beku atau standar. Biasanya

tidak dibuat melelui proses pembekuan langsung dari bahan lateks yang masih segar,

melainkan dari contoh-contoh sisa penentuan kadar karet kering, lembaran-lembaran

RSS yang tidak bagus penggilingannya sebelum diasapi, busa-busa dari lateks, bekas

air cucian yang banyak mengandung lateks serta bahan-bahan lain yang jelek.

3. Lateks Pekat

Lateks pekat adalah jenis karet yang berbentuk cairan pekat, tidak berbentuk

lembaran atau padatan lainnya. Lateks pekat dijual di pasaran ada yang dibuat melalui

proses pendadihan atau creamed lateksdan melalui proses pemusingan atau centrifuged

lateks. Biasanya lateks pekat banyak digunakan untuk pembuatan bahan-bahan karet yang

tipis dan bermutu tinggi.

4. Karet Bongkah (Block Rubber)

Karet bongkah adalah karet remah yang telah dikeringkan dan dikilang menjadi

bandela-bandela denga ukuran yang telah ditentukan. Karet bongkah ada yang berwarna

(18)

5. Karet Spesifikasi Teknis (Crumb Rubber)

Karet spesifikasi teknis adalah karet alam yang dibuat khusus sehingga terjamin mutu

teknisnya. Penetapan mutu juga didasarkan pada sifat-sifat teknis. Warna atau penilaian

visual yang menjadi dasar penentuan golongan mutu pada jenis karet sheet, crepe maupun

lateks pekat tidak berlaku pada jenis ini

6. Tyre Rubber

Tyre rubber adalah bentuk lain dari karet alam yang dihasilkan sebagai barang

setengah jadi sehingga bisa langsung dipakai oleh konsumen, baik untuk pembuatan ban atau

barang yang menggunakan bahan baku karet alam lainnya.

7. Karet Reklim (Reclaimed Rubber)

Karet reklim adalah karet yang diolah kembali dari barang-barang karet bekas,

terutama ban-ban mobil bekas dan bekas ban-ban berjalan. Karenanya boleh dibilang karet

reklim dalah suatu hasil pengolahan scrap yang sudah divulkanisir. Biasanya karet reklim

banyak dipakai sebagai bahan campuran sebab bersifat mudah mengambil bentuk dalam

acuan serta daya lekat yang dimilikinya juga baik. Produk yang dihasilkan lebih kukuh dan

tahan lama dipakai, lebih tahan terhadap bensin atau minyak pelumas. Tetapi karet reklim

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Pemeliharaan TBM pada Tanaman Karet.

http://syarattumbuh.blogspot.com/2013/05/pemeliharaan-tbm-pada-tanaman-karet.html#sthash.WSQb0aWe.dpuf. Akses 10 Oktober 2013.

Kompas Indonesia. 2011. Akal-akalan Petani dalam Mengolah Lateks.

http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2011/05/24/akal-akalan-petani-karet-saat-mengolah-lateks-364816.html. Akses 10 Oktober 2013.

Suwarto. 2012. 12 Budidaya Tanaman Perkebunan Unggulan. Penebar Swadaya. Bogor. 260 hal.

Wikipedia Indonesia (a). 2013. Pohon Karet. http://id.wikipedia.org/wiki/Pohon_karet. Akses pada 5 Oktober 2013.

Wikipedia Indonesia (b). 2013. Karet Lembaran Asap Bergaris.

http://id.wikipedia.org/wiki/Karet_lembaran_asap_bergaris. Akses 10 Oktober 2013.

Yuono, T. 2013. Mempercepat Pematangan Karet.

(20)

DISKUSI

1. Wulan Prasetyo

Pertanyaan : Adakah bahan lain yang ditambahkan ke dalam cawan (tempat) penampungan

karet yang telah disadap? Kalau ada, apa tujuannya?

Jawaban : Ya, ada.

Pada umunya digunakan larutan asam format/asam semut atau asam asetat /asam cuka

dengan konsentrasi 1-2% ke dalam lateks dengan dosis 4 ml/kg karet kering. Tujuan dari

penambahan asam adalah untuk menurunkan pH lateks pada titik isoelektriknya sehingga

lateks akan membeku atau berkoagulasi, yaitu pada pH antara 4.5-4.7. Pada proses ini lateks

akan membeku setelah 40 menit. Tidak hanya asam semut yang digunakan para petani karet,

biasanya petani menggunakan tawas dan pupuk TSP yang dilarutkan dengan air. Pembekuan

lateks dilakukan di dalam bak atau dalam mangkuk dengan menambahkan zat koagulan

tersebut.

2. Agis Pratama

Pertanyaan : a. Apa fungsi penyanggulan pada tanaman karet?

b. Umur berapa stum mata tidur pada tanaman karet?

Jawaban :

a. Penyanggulan adalah suatu teknik perlakuan dalam rangka pengelolaan percabangan

pada TBM (tanaman belum menghasilkan) karet yang bertujuan merangsang

pertumbuhan cabang dan daun, menekan pertumbuhan batang kearah atas (longitudinal),

meningkatkan pertumbuhan lilit batang (transversal). Penyanggulan dilakukan

dengan cara melipat daun dewasa pada payung teratas secara berkelompok (6 s/d 8

helaian daun) kearah pucuk tanaman menyerupai sanggul, kemudian lipatan tersebut

diikat dengan tali karet. Dengan demikian titik tumbuh pada pucuk terminalnya mati,

sehingga batang utama menjadi tidak dominan. Keberhasilan cara sanggul lebih tinggi

(21)

b. Stum mata tidur pada pembibitan tanaman karet ynag digunakan adalah yang berumur 9

– 18 bulan. Pada stum ini, entres yang digunakan berwarna hijau kecokelatan hingga cokelat, berbatang lurus dan bermata tunas dalam keadaan tidur.

3. Fadhillah Achmad

Pertanyaan : a. Apa tujuan dari pembuangan tunas palsu?

b. Apakah ada pembagian kelas mutu dalam pengolahan karet?

Jawaban :

a. Tunas palsu pada tanaman karet adalah tunas yang tumbuh bukan dari mata okulasi.

Tunas ini banyak dijumpai pada bibit stum mata tidur, sedangkan pada bibit stum mini

atau bibit polibag, tunas palsu relatif jarang ditemui. Tunas palsu dapat menghambat

tumbuhnya mata okulasi bahkan dapat menyebabkan mata okulasi tidak tumbuh, karena

pasokan fotosintat yang dihasilkan diserap seluruhnya untuk pertumbuhan tunas palsu.

Oleh karena itu, tunas palsu harus dibuang agar pertumbuhan dan populasi tanaman tetap

optimal. Selain itu, tunas-tunas palsu perlu dibuang, supaya tanaman dalam satu blok

tumbuh dengan seragam. Pembuangan tunas sebaiknya dilakukan ketika tunas tersebut

belum mengayu atau dilakukan pada awal-awal pertumbuhan bibit.

b. Kelas mutu karet

Berdasarkan kualitasnya, karet yang telah diolah dibedakan dalam kelompok sebagai

berikut :

RSS 1

Kelas ini harus memenuhi persyaratan yaitu, lembaran yang dihasilkan harus

benar-benar kering, bersih, kuat, tidak ada cacat, tidak berkarat, tidak melepuh serta tidak

ada benda-benda pengotor. Jenis RSS 1 tidak boleh ada garis-garis pengaruh dari

oksidasi, lembaran lembek, suhu pengeringan terlalu tinggi, belum benar-benar

kering, pengasapan berlebihan, warna terlalu tua serta terbakar. Bila terdapat

gelembung-gelembung berukuran kecil (seukuran jarum pentul) masih

diperkenankan, asalkan letaknya tersebar merata. Pembungkusan harus baik agar

tidak terkontaminasi jamur. Tetapi, bila sewaktu diterima terdapat jamur pada

(22)

RSS 2

Kelas ini tidak terlalu banyak menuntut kriteria. Standar RSS 2 hasilnya harus kering,

bersih, kuat, bagus, tidak cacat, tidak melepuh dan tidak terdapat kotoran. Lembaran

tidak diperkenankan terdapat noda atau garis akibat oksidasi, lembaran lembek, suhu

pengeringan terlalu tinggi, belum benar-benar kering, pengasapan berlebihan, warna

terlalu tua serta terbakar. Lembaran kelas ini masih menerima gelembung udara serta

noda kulit pohon yang ukurannya agak besar (dua kali ukuran jarum pentul).

Zat-zat damar dan jamur pada pembungkus, kulit luar bandela atau pada lembaran di

dalamnya masih dapat ditorerir. Tetapi bila sudah melebihi 5% dari bandela, maka

lembaran akan ditolak.

RSS 3

Standar karet RSS 3 harus kering, kuat, bagus, tidak cacat, tidak melepuh dan tidak

terdapat kotoran. Bila terdapat cacat warna, gelembung udara besar (tiga kali ukuran

jarum pentul), ataupun noda-noda dari kulit tanaman karet, masih ditorerir. Namun,

tidak diterima jika terdapat noda atau garis akibat oksidasi, lembaran lembek, suhu

pengeringan terlalu tinggi, belum benar-benar kering, pengasapan berlebihan, warna

terlalu tua serta terbakar. Jamur yang terdapat pada pembungkus kulit luar bandela

serta menempel pada lembaran tidak menjadi masalah, asalkan jumlahnya tidak

melebihi 10% dari bandela dimana contoh diambil.

RSS 4

Standar karet RSS 4 harus kering, kuat, tidak cacat, tidak melepuh serta tidak terdapat

pasir atau kotoran luar. Yang diperkenankan adalah bila terdapat gelembung udara

kecil-kecil sebesar 4 kali ukuran jarum pentul, karet agak rekat atau terdapat kotoran

kulit pohon asal tidak banyak. Mengizinkan adanya noda-noda asalkan jernih.

Lembaran lembek, suhu pengeringan terlalu tinggi dan karet terbakar tidak bisa

diterima. Bahan damar atau jamur kering pada pembungkus kulit bagian luar bandela

serta pada lembaran, asalkan tidak melebihi 20% dari keseluruhan masih mungkin

untuk kelas RSS 4.

RSS 5

Karet yang dihasilkan harus kokoh, tidak terdapat kotoran atau benda asing, kecuali

(23)

terendah standarnya. Bintik-bintik, gelembung kecil, noda kulit pohon yang besar,

karet agak rekat, kelebihan asap dan sedikit belum kering masih termasuk dalam

batas toleransi. Bahan damar atau jamur kering pada pembungkus kulit bagian luar

bandela serta pada lembaran, asalkan tidak melebihi 30% dari keseluruhan masih

mungkin untuk kelas RSS 5. Pengeringan pada suhu tinggi dan bekas terbakar tidak

Gambar

Tabel Waktu Dosis dan Cara Pemupukan Tanaman Penutup Tanah

Referensi

Dokumen terkait

- Media yang terdiri dari MgSO 4 0,05% , dan asam asetat 0,1 % diencerkan sampai 400 ml dengan aquades dalam Erlenmeyer 1000 ml yang ditutup dengan penutup karet yang

Permasalahan yang terjadi yaitu stok asam semut yang banyak dan bahan baku lateks untuk produksi hanya sedikit menyebabkan menumpuknya bahan baku asam semut serta serta

Lump segar adalah bahan olah karet yang berasal dari lateks kebun yang dikoagulasi dengan asam formiat di dalam mangkok (cup).. 2.2.2 Karet

Slab adalah bahan baku karet yang terbuat dari lateks yang telah digumpalkan dengan adanya bantuan bahan kimia seperti asam formit, asam cuka, urea.. Bahan baku slab