Ada begitu banyak bahasa yang

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

i) Bahasa Ibu

Bahasa ibu merupakan padanan untuk istilah Inggris native language, yaitu satu sistem linguistik yang pertama kali dipelajari secara alamiah dari ibu atau keluarga oleh anak. Sebagai contoh, bahasa ibu penduduk asli penduduk di lereng gunung merapi adalah bahasa Jawa dan bahasa ibu penduduk asli di tepi danau batur adalah bahasa Bali.

Bahasa ibu tidak mengacu pada bahasa yang dikuasai dan digunakan oleh seorang ibu (atau biasa disebut bahasa sang ibu), melainkan mengacu pada bahasa yang dipelajari seorang anak dalam keluarga yang mengasuhnya. Sekarang ini di kota-kota besar seperti Surabaya, Yogyakarta, Semarang dll, banyak terjadi orang tua menggunakan bahasa daerah saat berkomunikasi berdua namun menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan anak mereka. Hal ini bisa dikatakan bahasa ibu si anak adalah bahasa Indonesia sebab bahasa itulah yang dipelajari anak dari keluarganya.

Bahasa ibu biasa disebut bahasa pertama karena bahasa itulah yang pertama dipelajari anak. Kalau kemudian si anak mempelajari bahasa lain yang bukan bahasa ibunya, maka bahasa lain yang dipelajarinya itu disebut bahasa kedua. Sedangkan bahasa lain lagi yang mungkin dipelajari anak setelah itu disebut bahasa ketiga, keempat dan seterusnya.

Pada penjelasan di atas telah disebutkan bahwa bahasa ibu tidak mengacu pada bahasa yang dikuasai dan digunakan oleh seorang ibu (bahasa sang ibu), maka untuk menghindari kesalahpahaman istilah, perlu dibedakan istilah antara bahasa ibu dengan bahasa sang ibu. Bila bahasa ibu adalah bahasa yang dipelajari anak, maka bahasa sang ibu adalah bahasa yang dipakai oleh orang dewasa pada waktu berbicara dengan anak yang sedang dalam proses memperoleh bahasa ibunya. Istilah ini dipakai sebagai padanan istilah Inggris motherese, parentese, atau child directed speech.

(2)

pengertian intisari atau dasar. Hakikat bahasa dapat diartikan sebagai sesuatu yang mendasar dari bahasa.

Hakikat bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

Bahasa sebagai Simbol

Simbol atau lambang adalah sesuatu yang dapat melambangkan dan mewakili ide, perasaan, pikiran, benda, dan tindakan secara arbitrer, konversional, dan representatif-interpretatif. tidak ada hubungan langsung dan alamiah antara yang menyimbolkan dengan yang disimbolkan. Untuk itu baik yang batiniah (inner) seperti perasaan, pikiran, ide, maupun yang lahiriah (outer) seperti benda dan tindakan dapat dilambangkan atau diwakili simbol.

Manusia senantiasa bergelut dengan simbol. Melalui simbol, manusia memandang, memahami, dan menghayati alam dan kehidupannya. Simbol itu sendiri sebenarnya merupakan kenyataan hidup, baik kenyataan lahiriah maupun batiniah yang disimbolkan, karena di dalam simbol terkandung ide, pikiran, dan perasaan, serta tindakan manusia.

Bahasa adalah kombinasi kata yang diatur secara sistematis sehingga dapat dipergunakan sebagai alat komunikasi. Kata adalah bagian dari simbol yang hidup dan digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu. Kata bersifat simbolis karena tidak memiliki hubungan langsung atau hubungan instrinsik dengan kenyataan yang diacunya, tetapi hanya bersifat arbitrer dan konversional. Misalnya kata /b-u-k-u/ tidak ada hubungannya dengan benda yang dirujuk yaitu lembaran-lembaran kertas yang ditulis dan dibaca. Kata /a-p-i/ tidak ada hubungannya dengan sifat kepanasan yang diacunya sehingga walaupun kita mengucapkan kata api berkali-kali, maka mulut kita tidak akan terbakar. Hal itu hanya bersifat arbitrer dan kemudian disepakati menjadi suatu konvensi oleh pemakai bahasa.

(3)

orang yang meninggal. Bahasa ratapan melambangkan dan mewakili perasaan si peratap. Bahasa ratapan itu sebagai simbol secara totalitas, tetapi wacana bahasa ratapan itu juga terdiri dari simbol-simbol yang lebih kecil seperti kata, frase, dan kalimat.

Bahasa Sebagai Bunyi Ujaran

Telinga kita selalu mendengar bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh benda-benda tertentu. Hanya bunyi- bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Human Organs of Speech) yang disebut sebagai bahasa. Bunyi ujaran merupakan sifat kesemestaan atau keuniversalan bahasa. Tak satupun bahasa di dunia ini yang tidak terjadi dari bunyi. Bahasa sebagai ujaran, mengimplikasikan bahwa media komunikasi yang paling penting adalah bunyi ujaran. Jika kita mempelajari suatu bahasa kita harus belajar menghasilkan bunyi-bunyi suara.

Bahasa Bersifat Arbitrer

Pengertian arbitrer dalam studi bahasa adalah manasuka, asal bunyi, atau tidak ada hubungan logis antara kata sebagai simbol (lambang) dengan yang dilambangkan. Arbitrer berarti dipilih secara acak tanpa alasan sehingga ciri khusus bahasa tidak dapat diramalkan secara tepat.

Secara leksis, kita dapat melihat kearbitreran bahasa. Kata anjing digunakan dalam Bahasa Indonesia, Biang dalam bahasa Batak, Dog dalam bahasa Inggris. hal ini memiliki kata yang berbeda untuk menyatakan konsep yang sama. Kearbitreran bahasa di dunia ini menyebabkan adanya kedinamisan bahasa.

Bahasa bersifat Konvensional

(4)

Konvensi/kesepakatan akan menentukan apakah kata yang dibentuk secara arbitrer dapat terus berlangsung dalam pemakaian bahasa atau tidak. Suatu bahasa tidak dapat dipaksakan agar dipakai pada suatu kelompok masyarakat bahasa. Kelangsungan hidup suatu bahasa ditentukan oleh kemauan, kebiasaan, atau kesepakatan masyarakat.

Bahasa sebagai Sistem

Setiap bahasa memiliki sistem, aturan, pola, kaidah sehingga memiliki kekuatan atau alasan ilmiah untuk dipelajari dan diverifikasi. Pada hakikatnya, setiap bahasa memiliki dua jenis sistem yaitu sistem bunyi dan sistem arti. Sistem bunyi mencakup bentuk bahasa dari tataran terendah sampai tertinggi (fonem, morfem, baik morfem bebas maupun morfem terikat, frase, paragraf, dan wacana). Sistem bunyi suatu bahasa tidak secara acak- acakan, tetapi mempunyai kaidah- kaidah yang dapat diterangkan secara sistematis. Sistem arti suatu bahasa merupakan isi atau pengertian yang tersirat atau terdapat dalam sistem bunyi. Sistem bunyi dan sistem arti memang tidak dapat dipisahkan karena yang pertama merupakan dasar yang kedua dan yang kedua merupakan wujud yang pertama.

Bahasa Bermakna

Makna adalah arti, maksud atau pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan untuk menghubungkan bentuk kebahasaan tersebut dengan alam di luar bahasa atau semua hal yang ditunjuknya.

Machfudz (2000) mengemukakan bahwa macam- macam makna:

(5)

2. Makna Kiasan. Makna unsur- unsur bahasa yang didasarkan pada perasaan atau pikiran yang berada di luar makna sebenarnya. Misalnya Buah bibir memiliki makna menjadi pembicaraan orang.

3. Makna Kontekstual. Makna unsur bahasa yang didasarkan pada hubungan antara ujaran dengan situasi ketika ujaran itu dipergunakan. Misalnya kata bagus dapat berarti jelek ketika seorang ayah mengejek anaknya yang malas belajar, kalimat yang digunakan patutlah nilaimu sangat bagus.

4. Makna Gramatis. Makna yang diperoleh berdasarkan hubungan antara unsur-unsur bahasa dalam satuan- satuan yang lebih besar. Misalnya pada kata dia mencintai ibunya, bermakna sebutan atau perbuatan aktif.

Bahasa Bersifat Produktif

Hal ini diartikan sebagai kemampuan unsur bahasa untuk menghasilkan terus-menerus dan dipakai secara teratur untuk membentuk unsur-unsur baru. Prefik /men-/ dan /di-/, misalnya dapat melekat pada setiap kata kerja dan fungsinya masing-masing membentuk kata kerja aktif dan kata kerja pasif dalam Bahasa Indonesia.

Bahasa Bersifat Universal

Bahasa merupakan sesuatu yang berlaku umum dan dimiliki setiap orang. Pada sifat internal bahasa, universal adalah kategori linguistik yang berlaku umum untuk semua bahasa.

Bahasa Bersifat Unik

Hal ini terlihat dari studi bahasa adalah kategori bahasa yang tersendiri bentuk dan jenisnya dari bahasa lain. Setiap bahasa ada perbedaan dengan bahasa lain meskipun termasuk dalam bahasa serumpun.

(6)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :