P
OLITIKK
EBANGSAAN DANP
OTRETP
ERDAS
YARIAHDI
I
NDONESIA: S
TUDIK
ASUSB
ULUKUMBA DANC
IANJUROLEH: SYAFUANROZIDANNINAANDRIANA
(PENELITI DI PUSAT PENELITIAN POLITIK, LIPI, JAKARTA)
ABSTRAK
Bangkitnya sentimen keagamaan dengan penerapan Perda syariah di Bulukumba dan Cianjur cenderung tidak berpotensi menyurutkan semangat nasion atau kebangsaan, karena tidak ada gagasan atau tindakan Pemda atau masyarakat di kedua daerah itu untuk keluar dari “rumah Keindonesiaan”. Di Bulukumba dan Cianjur, dibuatnya Perda syariah dalam batas tertentu merupakan modal sosial yang dijadikan modal politik bagi politisi untuk mendapatkan simpati dan kepercayaan politik, yang berbuah dukungan terhadap jabatan politik kepala daerah dan DPRD setempat. Di Bulukumba yang penduduknya homogen, mayoritas Muslim, ada kecenderungan keluarga besar dari pihak yang tadinya berniat membangun Negara Islam Indonesia dan membentuk Tentara Islam Indonesia, pada generasi selanjutnya cenderung bertransformasi dan berjuang dengan cara yang damai, melalui proses parlemen lokal dan lewat kompetisi politik pilkada lokal, dalam mencapai tujuan membangun masyarakat dan pemda yang Islami. Di Cianjur yang penduduknya relatif heterogen, lahirnya perda bernuansa Islami terdorong karena peristiwa pelanggaran moral kesusilaan yang mengguncangkan. Sehingga politisi di DPRD merespon hal tersebut dalam bentuk Perda Gerakan Membangun Masyarakat Berakhlakul Karimah (Gerbang Marhamah). Perda Syariah dalam batas tertentu merupakan kendaraan politik, dengan memanfaatkan Perda Syariah sebagai instrument memperoleh dukungan politik lewat visi dan cara dalam mengendalikan kriminalitas akibat lemahnya regulasi peredaran minuman keras yang memicu pelanggaran moral dan kejahatan pembunuhan, perkelahian, pencurian, perzinahan, prostitusi dan pemerkosaan. Perda Syariah Zakat Profesi, Infak dan Sedekah di Bulukumba, terlepas dari pro dan kontra dalam mewajibkannya, berpotensi menjadi sumber alternatif pembiayaan daerah dalam mengatasi problem sosial-ekonomi yang daerah ini hadapi. Perda Gerbang Marhamah di Cianjur cenderung merupakan reaksi terhadap gejala moralitas masyarakat, yang disambut oleh sebagian anggota DPRD menjadi kebijakan publik. Namun praktiknya cenderung bersifat simbolik dan dalam perumusannya kurang melibatkan kaum pinggiran, kelompok minoritas dan non muslim sehingga terkesan kurang demokratis.
KATAKUNCI: POLITIKIDENTITAS, NASIONALISMEKEBANGSAAN, PERDASYARIAH.
A.Pendahuluan
sebuah kabupaten paling selatan di Propinsi Sulawesi Selatan, Bulukumba, “Perda Syariah” ini kemudian bermunculan bak cendawan di musim hujan di daerah lain mulai dari Padang, Solok, Pasaman Barat, Depok, Cianjur, Kota Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Pamekasan, Banjar Baru, Enrekang, Gowa hingga Maros. Sementara pada level propinsi perda sejenis dapat ditemukan misalnya di Propinsi Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten, Gorontalo ataupun Sulawesi Selatan.1
Sebagai gambaran, di Kabupaten Maros misalnya “Perda Syariah” dikeluarkan terkait dengan upaya-upaya seperti pemberantasan buta aksara Al-quran, kewajiban mengenai pemakaian busana muslimah hingga pengelolaan zakat. Sementara di Kabupaten Lombok Timur telah ditetapkan Perda tentang pengelolaan Zakat Profesi. Sedangkan larangan peredaran minuman beralkohol telah ditetapan dalam perda oleh Pemerintahan Kabupaten Pamekasan. Di Padang “Perda Syariah” mengatur pelarangan perempuan menggunakan pakaian yang menimbulkan birahi di tempat umum, kewajiban wirid bagi para siswa, maupun pelarangan melayani tamu di rumah makan pada siang hari di bulan Ramadhan. Mengenai soal pelarangan membuka ijin usaha restauran dan sejenisnya di siang hari pada bulan Ramadhan juga dapat ditemui di Kabupaten Banjarbaru.
Adapun di Bulukumba sendiri sebagai pelopor ditetapkannya “Perda Syariah” telah ditetapkan aturan mengenai pelarangan minuman keras, kewajiban memakai busana muslim dan muslimah, pengaturan zakat dan pandai baca tulis Al-Qur’an bagi calon siswa dan pengantin. Bahkan di Kabupaten ini implementasi nilai-nilai keagamaan ini telah menyentuh hingga wilayah pemerintahan desa, yang tercermin dengan dikeluarkannya beberapa Peraturan Desa (Perdes) yang berlandaskan hukum Islam. Hal-hal yang diatur misalnya ancaman akan perzinahan dengan 100 kali cambuk atau perjudian dengan 40 kali cambukan2. Secara umum pada lima tahun terakhir kecenderungan penegakan Perda atas dasar Syari’ah Islam relatif terlihat semakin merata di seluruh tanah air.
Tabel 1 Syariat Islam di Berbagai Daerah di Nusantara
DAERAH NAMA PERDA/SK
Bulukumba (Sulsel) Perda 2/2002 tentang pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah
Perda 3/2002 tentang larangan, penertiban dan penjualan minuman keras Perda 5/2003 tentang berpakaian Muslim dan Muslimah
Perda 6/2005 tentang Pandai Baca-Tulis Al-Quran bagi siswa dan Calon Pengantin
Maros (Sulsel) Perda 15/2005 tentang Buta Aksara Al-Quran Perda 16/2005 tentang Busana Muslimah Perda 17/2005 tentang Pengelolaan Zakat Lombok Timur
(NTB)
Perda 9/2000 tentang pengelolaan Zakat Profesi
Pamekasan (Jatim) Perda 18/2001 tentang larangan peredaran minuman beralkohol
1 Lihat Gatra, 6 Mei 2006. Lihat pula Taufik Adnan Amal dan Samsu Rizal Panggabean, Politik Syariat
Cianjur (Jabar) Surat Edaran No.061/2896/Org tentang anjuran pemakaian seragam kerja muslim/muslimah pada hari-hari kerja
Padang (Sumbar) Instruksi Wali Kota No.451.442/Binsos-III/2005 tentang kewajiban berbusana muslim
Riau Surat Gubernur No.003.1/UM/08.1 tentang pembuatan papan nama arab melayu
NAD Qanun 13/2003 tentang Maisir (Perjudian) Qanun 14/2003 tentang Khalwat (Mesum) Qanun 7/2004 tentang Zakat
Sumber: Gatra 6 Mei 2006
Menyikapi hal itu beberapa kalangan di daerah memandang tuntutan penolakan dan dukungannya adanya Perda Syariah sebagai suatu hal yang logis terjadi. Berdasarkan sebuah penelitian, elit politik dan pemerintahan baik pada level propinsi maupun kabupaten dan kota tempat diimplementasikan perda Syariah, pandangan mayoritas di tingkat lokal cenderung menyatakan kebersetujuannya dan berkecenderungan kuat mengakmodir semangat untuk kembali pada nilai-nilai keagamaan.3
Dan uniknya kebersetujuan itu tidak saja terjadi pada daerah-daerah yang selama ini terkenal sebagai basis kaum santri, namun pula di wilayah yang dikuasai secara politik oleh partai-partai non-agama, seperti di Propinsi Sulawesi Selatan dan Jawa Barat, di Kabupaten Bulukumba atau pun di Kabupaten Cianjur. Meskipun demikian, tidak semua kalangan setuju dengan hal itu. Beberapa pihak melihat eksistensi perda seperti itu berpotensi menyebabkan keresahan, memicu konflik dan mereduksi makna toleransi dan pluralisme. Bahkan beberapa kalangan menengarai bahwa upaya “provokasi” kalangan tertentu untuk menegakan nilai-nilai keagamaan dapat memicu terjadinya upaya disintegrasi yang lebih akut.
Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh Ince Sayuna anggota DPRD NTT, yang meyuarakan kegelisahan akan maraknya Perda yang berbau nilai-nilai keagamaan. Selanjutnya dia mengatakan, dalam konteks nasional “Jika syariat Islam berhasil diundangkan kami warga NTT tidak tertutup kemungkinan akan memisahkan diri dari NKRI. Karena kami hanya satu prinsip, Pancasila harga mati landasan hukum NKRI”4.
Sementara itu di Jakarta kebanyakan pengamat memandang bahwa perda semacam itu bersifat diskriminatif dan bertentangan dengan semangat negara modern yang plural dan multikultural semacam Indonesia. Terlepas dari adanya perdebatan di atas, “Perda Syariah” merupakan ekspresi dari bangkitnya identitas keagamaan dan merupakan tanda kebangkitan politik identitas di era demokratisasi. Kehadirannya bak sebuah simalakama. Di satu sisi perda semacam itu bagi sebagian kalangan merupakan cerminan dari munculnya aspirasi masyarakat lokal yang tengah ditumbuhkan kembali dan secara formal berjalan dalam koridor demokrasi.
3 Lihat misalnya hasil laporan penelitian Freedom Institute, Lembaga Survei Indonesia, The Indonesian Institute dan Jaringan Islam Liberal dalam Ihsan Ali-Fauzi dan Saiful Mujani, eds, Gerakan Kebebasan Sipil: Studi dan Advokasi atas Perda Syariah, (Jakarta: Nalar, 2009).
Di sisi lain secara substansi perda semacam itu dipandang sebagian kalangan mengandung semangat eksklusivisme yang berpotensi memundurkan hakekat keindonesiaan yang menyaratkan toleransi dan sifat antidiskriminasi. Atas dasar itulah sebuah penelitian yang dapat melihat dengan seksama posisi “Perda Syariah” dalam konteks keindonesiaan dan hal-hal yang menyebabkan bangkitnya kesadaran keagamaan dalam memunculkan perda tersebut, serta implikasinya dalam kehidupan berbangsa perlu untuk dilakukan.
Eksistensi kebangsaan, yang menyiratkan sikap loyal terhadap prinsip kebersamaan, toleransi dan inklusivisme, di era reformasi seolah mendapatkan tantangan dengan bermunculannya komitmen keagamaan yang eksklusif. Salah satunya mewujud dalam bentuk kebijakan bertendensi eksklusif yang tercermin dari keberadaan Peraturan Daerah Bernuansakan Syariah Islam di beberapa daerah. Hal yang menarik adalah kebangkitan sentimen keagamaan sedemikian cenderung meningkat pascarezim otoriter Orde Baru.
B.Politik KEBANGSAAN DAN PERDA SYARIAH DI BULUKUMBA: SYIAR ISLAMI ATAU
MODAL POLITIK?
Kehadiran Indonesia sebagai sebuah Negara-bangsa merupakan sebuah fenomena unik, terutama jika dilihat dari sisi kemajemukan yang dimilikinya. Tidak saja karena demikian beragam etnis, bahasa dan keyakinan, namun pula dalam hal adaptasi ekonomi, bentuk-bentuk komunitas, sistem politik tradisional, maupun sistem kekerabatan menjadikan ke-Indonesia-an sebagai gejala politik identitas yang menarik5. Dalam situasi tersebut dua tantangan segera hadir manakala bangsa Indonesia itu berdiri, yakni bagaimana menciptakan negara yang mampu merekat kemajemukan di satu sisi dan di sisi lain, mampu mengakomodir kemajukan tersebut hingga tahap yang harmonis namun dinamis. Nasion yang tegak dan berkiprah di atas prinsip-prinsip solidaritas, inklusivisme, keadaban, kesaling-percayaan dan pluralitas.6
Sejak 1998 hingga 2003, Orde transisi reformasi pascaSoeharto, dalam sudut pandang tertentu cenderung telah tumbuh lebih demokratis, egaliter dan emansipatif dalam konteks hubungan pusat dan daerah, juga dalam hubungan agama dan negara di Bulukumba. Ia telah menjadi elemen penting faktor eksternal sistem politik yang telah memberi angin segar terhadap tumbuhnya keragaman dan semangat keberagamaan, “syiar Islami”, dan kompetisi kendaraan politik pemilihan kepala daerah di tingkat lokal di Indonesia, termasuk di Bulukumba, salah satu kabupaten di pesisir selatan jazirah Sulawesi.
5 Lihat lebih jauh karya-karya Clifford Geertz. Available Light: Anthropological Reflections on
Philosophical Topics (New Jersey: Princeton University Press, 2000); Anderson, Benedict. Imagined Communites: Reflections on the Origin and Spread of nationalism (London: Verso, 1983), Hildreed Geertz, “Indonesian Cultures and Communities” dalam Ruth McVey (ed), “Indonesia”, Cornell, 1967, hlm.24, dalam Max Lane, Bangsa Yang belum Selesai: Indonesia Sebelum dan Sesudah Soeharto, (Jakarta: Reform Institute, 2007), hlm.1.
Sementara itu secara internal, kecenderungan menguatnya kesadaran dan obsesi pencarian model alternatif bagi “pemerintahan sekular” ataupun model kebijakan politik Orde Baru yang represif, terhadap kalangan keagamaan tertentu, sebut saja kelompok muslim di berbagai daerah, juga di Bulukumba, yang tampaknya secara hipotetik telah menjadi faktor bergulirnya demokratisasi dan emansipasi politik yang tidak dapat diabaikan, dalam melihat berkembangnya semangat menonjolkan identitas keagamaan dan dalam beberapa kasus dianggap kebangkitan modal sosial di era pascaOrde Baru yang monolitik.7
Suatu hal yang unik juga tampak ketika bangkitnya perda syariah, menimbulkan gesekan kegelisahan akan makna keindonesiaan dan potensi diskriminasi yang mengisyaratkan adanya perda syariah akan menjadi lawan semangat kebhinekaan Indonesia, spirit toleransi, persamaan dan penghargaan terhadap pluralisme dan multikultural, seolah berhadap-hadapan dengan upaya bangkitnya semangat keagamaan semacam Perda bernuansa agama, hingga anggapan ujung cerita perda ini adalah pendirian Negara agama, atau bantahannya, syiar agama dan akhlakul karimah, tanpa pemaksaan apalagi kekerasan fisik.
C.Formulasi Perda Syariah Bulukumba: Mengapa Perlu Formalisasi Syariah?
Luas wilayah Bulukumba sekitar 1.154,67 km2 yang terbagi dalam 10 Kecamatan, 125 desa/kelurahan. Kondisi sosial budaya masyarakat Bulukumba berlatar belakang maritim dan agraris. Bulukumba merupakan kabupaten paling ujung selatan Sulawesi Selatan, berjarak kurang lebih 153 km dari ibu kota propinsi Sulawesi Selatan, dengan jumlah penduduknya pada tahun 2010 ada sekitar 370.728 jiwa yang mayoritasnya beragama Islam, sebanyak 99,88 persen.
Hal yang tidak aneh jika wilayah yang berpenduduk secara relatif kultural homogen atau sama, mayoritas Muslim ini memperjuangkan ada Perda Syariah yang mengatur kehidupan kemasyarakatan mereka berbasis religio-spiritual, setelah kehidupan sekuler di masa sebelumnya belum tuntas menyelesaikan persoalan rasa aman akibat gangguan kriminalitas diantara mereka sendiri. Berikut ini penjelasan beberapa perspektif tentang mengapa di Bulukumba masyarakatnya memerlukan Perda bernuansa keagamaan:
c.1.Perspektif aktifis soal “keharusan sejarah”?
Setelah sekian puluh tahun isu penerapan Syari’at Islam cenderung menghilang dari panggung politik nasional Orde Baru, maka pada era reformasi yang ditandai dengan lengsernya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaannya tanggal 21 Mei 1998 dan bergulirnya proses demokratisasi di Indonesia, gagasan dan upaya penerapan Syari’at Islam di Indonesia kembali disuarakan oleh aktifis dan pemikir kaum Muslimin baik melalui parlemen maupun di luar parlemen,8 begitu pula yang terjadi di masyarakat dan DPRD Bulukumba.
Lukman Ma’sa memberi catatan tentang kemunculan Perda Syariah Islam di Bulukumba sebagai rangkaian dari peristiwa nasional yaitu adanya sidang tahunan MPR RI tanggal 7-18 Agustus 2000, dimana Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP) dan Fraksi Partai Bulan Biantang (F-PBB) kembali memperjuangkan masuknya kembali ‘tujuh kata’ dalam Piagam Jakarta ke dalam rumusan Pasal 29 ayat (1) UUD 1945.
Namun usulan ini pun kembali mendapat penentangan dan pro-kontra di kalangan anggota dewan, terutama dari kalangan nasionalis maupun masyarakat secara umum yang pada akhirnya mengalami kegagalan untuk yang kesekian kalinya. Tidak berhasilnya usulan perubahan Pasal 29 UUD 1945 terutama ayat (1) tidak menyurutkan semangat kalangan pendukung Piagam Jakarta untuk terus memperjuangkan penerapan Syari’at Islam baik dalam forum konstitusional kenegaraan maupun di masyarkat.9
Ada perspektif emik, soal “keharusan sejarah” yang dikemukakan penggagas Syariah di Bulukumba soal mengapa mereka turut berjuang menuntut penerapan Syari’at Islam di daerahnya. Sudah menjadi fakta historis bahwa sejak abad ke-14, Islam di Sulawesi Selatan sudah menjadi anutan para raja dan rakyatnya. Syari’at Islam menjadi dasar orientasi dan way of life, cara pandang dan jalan hidup. Jika dilihat dari sisi filosofis, Islam di Sulawesi Selatan telah menjadi sistem nilai kehidupan masyarakat. Aktualisasi Islam sebagai nilai dasar filosofi kehidupan orang Bugis, Makassar ataupun Mandar, sungguh banyak bertebaran dalam khasanah budaya masyarakat Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Dengan kata lain, kehadiran nilai-nilai Islam telah membudaya dan secara turun temurun telah berasimilasi dalam sistem budaya lokal. Dari sudut pandang sosiologis, daerah Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa masyarakat disana mayoritas beragama Islam dan dikenal sangat religius. Kondisi ini jelas merupakan argumentasi sosiologis untuk menegakkan Syari’at Islam secara formal. Para ktifis syariah Islam ingin mengatakan bahwa dilihat dari sisi historis, filosofis dan sosiologis, formalistik penegakkan Syariah Islam di Sulawesi Selatan telah menjadi sebuah keharusan sejarah.
c.2.Perspektif Modal Sosial dan Politik: Kriminalitas Turun Kemakmuran naik
Bangkitnya perda syariah seolah menjadi suatu fenomena puncak gunung es yang menguatkan modal sosial masyarakat lokal berupa rasa aman yang partisipatif dan hanya bisa terjadi di era demokratisasi pascaSoeharto, namun hampir tidak dimungkinkan pada era otoritarinisme sebelumnya. Hal yang menjadi pertanyaan misalnya apakah bangkitnya sentimen keagamaan berupa penerapan Perda syariah cenderung berpotensi menyurutkan atau berlawananan dengan semangat kebangsaan ataukah tidak, malah memperkuat keindonesiaan kita.
Ada kecenderungan dalam konteks pemerintahan daerah bangkitnya sentimen keagamaan cenderung tampak konsisten dengan semangat upaya mengembalikan nilai-nilai religiositas lokal
8 Ormas-ormas Islam di panggung politik nasional seperti, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Hizbullah, Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), Milisi Ansharullah, Hizbut Tahrir, Al Irsyad Al Islamiyah, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Pelajar Islam Indonesia (PII). Serta masih banyak lagi ormas, yayasan dan lembaga da’wah yang turut menyuarakan penerapan Syari’at Islam.
9 Lihat naskah Lukman Ma’sa, ”Penerapan Syari’at Islam Melalui Peraturan Daerah” (Studi Kasus Desa
dan upaya mendapat dukungan politik dalam pemilihan kepala daerah. Suatu kondisi ketika agama merupakan salah satu elemen kuat di dalamnya. Lebih dari itu jika ditelaah lebih dalam, semangat Perda-perda keagamaan yang kemudian disebut sebagai “Perda Syariah”, termaktub pula semangat untuk memberantas hal-hal negatif seperti pemicu angka kriminalitas yang ada di masyarakat.
Untuk kasus kabupaten Bulukumba, pemicu kejahatan itu antara lain semacam kebiasaan minuman keras, cara berbusana, prostitusi dan perjudian, yang mendorong kejahatan dan pelanggaran susila di masyarakat. Tidak bisa dengan mudah dituduhkan secara sederhana sebagai alat mencari kekuasaan atau mendirikan negara agama yang monolitik. Benarkah begitu adanya? . Analisisnya adalah baiknya rasa aman masyarakat, adalah modal sosial dan menjadi modal politik ketika itu dijanjikan untuk dicapai jika terpilih menjadi kepala daerah atau DPRD. Perda syariah akhirnya digunakan sebagai isntrumen politik suka atau tidak suka untuk diakui oleh para politisi lokal di Bulukumba.
Analisis terhadap pertanyaan mengapa identitas keagamaan yang tercermin dari keberadaan Perda Syariah di Bulukumba tampak meningkat pada saat Indonesia memasuki era keterbukaan dan demokratisasi, jawabannya adalah perda syaraiah yang disahkan tahun 2003, seolah-oleh mendapatkan momentum yang tepat untuk muncul di Bulukumba. Bukan dari kalangan partai Islam seperti PPP, namun dipelopori oleh mantan remaja mesjid yang berkiprah di Partai Golkar, Patabai Pabokari. Politisi yang mendapat dukungan dari Komite Perjuangan Penerapan Syariat Islam (KPPSI), se-Sulawesi Selatan. Hal itu ditambah lagi adanya suasana keterbukaan politik pascaSoeharto.
Gagasan dibentuknya Perda Syariat Islam di Bulukumba diawali di era reformasi pascaSoeharto melalui terbentuknya KPPSI (Komite Perjuangan Penegakan Syariat Islam) dan keputusan Kongres Umat Islam I di Sulawesi Selatan. KPPSI yang diketuai oleh Abdul Azis Kahar Muzakkar, putra Abdul Kahar Muzakar pernah mendorong dan meminta para politisi di DPRD, terutama Partai Golkar dan umat Islam di Bulukumba mengutamakan memilih kandidat bupati yang pro penegakan syariat Islam di daerahnya. Selain itu, pemimpin daerah apakah bupati atau gubernur yang akan dipilih hendaknya memiliki track record yang bersih dari korupsi dan berkarakter amanah (terpercaya), shiddiq (jujur), tabligh (menasehati, menyampaikan) dan fatonah (cerdas).
Di era reformasi, elemen-elemen muda seperti Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) Sulawesi Selatan mengadakan seminar dan dialog terbuka Syari’at Islam sebagai respon terhadap dinamika politik tanah air dan besarnya animo masyarakat untuk pemberlakuan Syari’at Islam secara legal formal. Dari dialog ini kemudian merekomendasikan pelaksanaan kongres Umat Islam se-Sulawesi Selatan di Makassar.10
Maka pada tanggal 19-21 Oktober 2000, FUI Sulawesi Selatan menggelar Kongres Umat Islam Pertama se-Sulawesi Selatan yang bertempat di Asrama Haji Sudiang Makassar, yang melahirkan beberapa keputusan dan pembentukan suatu wadah perjuangan penegakan Syari’at
10 Sumber: Lukman Ma’sa, ”Penerapan Syari’at Islam Melalui Peraturan Daerah” (Studi Kasus Desa
Islam yang di sebut Komite Persiapan Penegakan Syari’at Islam (KPPSI) Sulawesi Selatan. KPPSI diberi amanat memperjuangkan pemberlakuan Syari’at Islam di Sulawesi Selatan melalui otonomi khusus secara konstitusional, demokratis dan tetap dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
KPPSI dalam kiprahnya melaksanakan amanah kongres telah berhasil membentuk KPPSI daerah di 24 Kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan. Pemerintah/DPRD propinsi pun memberikan respon yang sangat baik dengan adanya kesepakatan bersama anggota DPRD Sulawesi Selatan untuk melegal-formalkan pemberlakuan Syari’at Islam di Sulawesi Selatan, dengan rekomendasi DPRD Sulawesi Selatan tertanggal 23 April 2001 dan ditandatangani langsung pimpinan DPRD, serta seluruh ketua fraksi.
Terbentuknya panja RUU Perda Bernuansa Agama di DPRD Bulukumba sejak tahun 2001 di pelopori oleh KPPSI, politisi dari Partai Golkar, dengan dukungan PPP, PAN, PKS, yang oleh pemda disebut sebagai Crash Program Keagamaan Bulukumba. Pembentukan panitia kerja (Panja) dan rapat dengar pendapat umum berlangsung semarak dan hangat antara kurun waktu 2001-2003.
Lukman Ma’sa menjelaskan panjang lebar bagaimana proses awal mula terbentuknya Perda Syariah di Bulukumba. Berawal dari terbentuknya Komite Persiapan Penegakan Syari’at Islam atau KPPSI yang diberi amanat memperjuangkan pemberlakuan Syari’at Islam di Sulawesi Selatan melalui otonomi khusus secara konstitusional, demokratis dan tetap dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
KPPSI dalam kiprahnya melaksanakan amanah kongres telah berhasil membentuk KPPSI daerah di 24 Kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan. Pemerintah/DPRD propinsi pun memberikan respon yang sangat baik dengan adanya kesepakatan bersama anggota DPRD Sulawesi Selatan untuk melegal-formalkan pemberlakuan Syari’at Islam di Sulawesi Selatan, dengan rekomendasi DPRD Sulawesi Selatan tertanggal 23 April 2001 dan ditandatangani langsung pimpinan DPRD, serta seluruh ketua fraksi.
Rekomendasi tersebut diantar dan dijelaskan langsung kepada pimpinan DPR-RI pada tanggal 25 April 2001 oleh wakil ketua DPRD Sulawesi Selatan beserta seluruh ketua fraksi dan pengurus KPPSI. Untuk selanjutnya, rekomendasi di sampaikan kepada Presiden RI dengan surat No. 309/DPRD/2001 tanggal 24 April 2001. Kesepakatan di atas ternyata juga mendapat respon baik oleh Paguyuban lintas fraksi Sulawesi Selatan DPR-RI. Ini terlihat dengan dibentuknya kelompok kerja (pokja) dengan SK tanggal 18 Mei 2001 yang antara lain bertugas melakukan pengkajian terhadap konsep Syari’at Islam dan rancangan operasionalnya secara akademis, komprehensif dan konstitusional.
Pada tanggal 29-31 Desember 2001, masyarakat Islam Sulawesi Selatan kembali mengadakan Kongres Umat Islam yang kedua di Makassar, sebagai penegasan atau penajaman dan mengkristalisasikan penegakan Syari’at Islam menuju pembentukan otonomi khusus di daerah Sulawesi Selatan.
menyuarakan otonomi khusus pemberlakuan Syari’at Islam di Sulawesi Selatan. Sambil menunggu (perjuangan) pemberlakuan UU otonomi khusus tersebut, KPPSI terus melakukan langkah-langkah konkrit dalam upaya menciptakan kondisi masyarakat yang kondusif agar siap menerima pemberlakuan Syari’at Islam.
Langkah-langkah tersebut menurut narasumber adalah: Pertama, Melaksanakan sosialisasi secara intensif dan menyeluruh tentang pengertian Syari’at Islam, untuk menyadarkan masyarakat betapa pentingnya kewajiban menegakkan Syari’at Islam. Kedua, Memanfaatkan UU No. 22/1999 tentang Otoda, dengan mendesak pemerintah, DPRD kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan untuk menerbitkan perda tentang keagamaan dan anti maksiat. Ketiga, Para ulama, cendikiawan muslim, muballig/da’i dan tokoh umat agar mendorong masyarakat untuk mengamalkan secara optimal ajaran Islam dengan da’wah bî al-hal atau contoh tauladan.
Selanjutnya, Keempat, Para pakar hukum Islam, ulama ahli fiqh menyusun konsep rancangan kitab undang-undang syari’ah yang dirumuskan bersama sehingga merupakan ijtihad jamâ’i. Kelima, Mendirikan shalat lail dan witir setiap malam untuk memohon pertolongan Allah SWT, berupa petunjuk, bimbingan dan membuka hati umat, para pemimpin untuk berjuang menegakkan Syari’at Islam secara kaffah atau sempurna.
Dalam melakukan kegiatan-kegiatan ini, KPPSI mendapat dukungan dan respon yang cenderung sangat baik dari masyarakat Bulukumba khususnya yang masyoritas muslim dan Sulawesi Selatan umumnya. Hal itu dapat dilihat dari respon beberapa pemerintah Kabupaten di Sulawesi Selatan yang menyatakan kesiapannya untuk menerapkan Syari’at Islam di daerahnya masing-masing, dan kemudian ditindak lanjuti dengan pembuatan perda-perda keagamaan.
Adanya Perda bernuansa semangat keagamaan di Bulukumba, langsung atau tidak langsung cenderung tampaknya akan terkait dengan Kongres Umat Islam I Sulawesi Selatan19-21 Oktober 2000,11 KPPSI dan Ketua Lajnah Tanfidziyah-nya Abdul Azis Kahar Muzakkar. Abdul Azis juga telah terpilih menjadi salah satu wakil dari Dewan Perwakilan Daerah asal Sulsel di MPR RI. Hal yang sangat penting adalah meski memiliki tujuan yang sama dengan sang ayah, yakni menegakkan Syariat Islam, Darul Islam Indonesia/Negara Islam Indonesia, namun langkah lelaki kelahiran Palopo, 15 Desember ini tidak sama dengan sang ayah.
Jika ayahnya cenderung menggunakan cara kekerasan dan membentuk milisi bersenjata, yang dikenal dengan pemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan, Aziz, lebih memilih langkah yang konstitusional dengan memperjuangkan Otonomi Khusus penegakan Syariat Islam melalui KPSI dan pendukungan kepala daerah lewat pilkada tidak langsung sebelum reformasi maupun pilkada langsung pascareformasi.
Berikut ini ada data kejadian penting sebelum lahirnya Perda bernuansa agama dan syiar Islam di Bulukumba:12 hal itu diawali dialog terbuka di Hotel Berlian tentang pelaksanaan syariat Islam, Juli 1999. Hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut: Prof. Dr. Achmad Ali, Prof Dr Mattulada, dan Gubernur Berkuasa Penuh Negara Bagian Malaysia Trenggano, Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang. Keberadaan para tokoh ini bisa bermakna kecendikiawanan dan keserumpunan peradaban Melayu Nusantara.
Pada tanggal 19 Oktober 2000, berlangsung Tabliq Akbar di Masjid Al-Markaz Al-Islami. Hadir dalam acara tersebut da`i kondang berhaluan Islam garis keras KH Husain Alhabsyi. Pada saat itu, Alhabsyi tampil mengajak penegakan syariat Islam di Indonesia. Salah satu kendalanya, menurut ulama yang pernah ditahan karena terlibat peledakan Candi Borobudur tersebut, karena ulama dan aktifis Islam masih banyak yang tergiur mengejar kursi atau jabatan politik, sehingga saling bermusuhan, bertikai, “gontok-gontokan” dan susah bersatu, "ikatan Ukhuwah Islamiyyah” masih lemah. Ada kecenderungan ajakan dan dakwah Ukhuwah Basyariyah (Persaudaraan kemanusiaan) kurang atau cenderung tidak ditonjolkan dalam pertemuan tersebut.
Selanjutnya pada tanggal 19-21 Oktober 2000, berlangsung Kongres Umat Islam Sulsel I di Asrama Haji Sudiang, Makassar. Acara yang mengambil tema " Otonomi Khusus Untuk Tegakkan Syariat Islam di Sulsel" tersebut dihadiri perwakilan aktivis Islam se-Sulawesi Selatan.
Tanggal 29-31 Desember 2001 di Asrama Haji Sudiang, telah digelar kongres Umat Islam se-Sulsel II. Acara itu dihadiri 2.800 peserta, wakil dari seluruh ummat Islam Sulsel. Dalam acara itu disepakati dasar-dasar pemberlakuan syariat Islam di Sulawesi Selatan. Seperti dasar historis, kultur, hukum dan politik, rancangan undang-undang tentang otonomi khusus pemberlakuan syariat Islam, program perjuangan, dan sejumlah rekomendasi. Kongres ini juga menyepakati perubahan nama KPPSI menjadi Komite Penegakan Syariat Islam (KPSI).
Tanggal 12 Januari 2002, KPSI menggelar acara Silaturrahmi dan Temu Kaji RUU Otonomi Khusus Penegakan Syariat Islam di Sulsel, di Hotel Berlian. Hadir sebagai penceramah dalam acara tersebut, Menteri Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra, dan Hakim Agung RI Rifyal Ka`bah.
Ketua Lajnah Tanfidziyah KPSI Sulsel Abdul Aziz Kahar Muzakkar,13 menjelaskan bahwa masing-masing Kongres Umat Islam Sulsel I, II dan III mempunyai tingkatan urgensi yang berbeda. Kongres I tahun 2000, waktu itu untuk membuat deklarasi berisi kesepakatan untuk membuat KPPSI ke penegakan Syariat Islam. Kongres I juga untuk membuat struktur kelembagaan KPSI di semua kabupaten, dan itu cenderung rampung selama satu tahun. Kongres ke II, untuk mengupayakan konsolidasi program. Tapi sepanjang dari kongres ke II, KPSI mengalami ujian-ujian.
Di kongres II Umat Islam Sulsel, ada bom, lalu Agus Dwikarna ditangkap, kemudian terjadi bom Makassar. Alhasil menurut Abdul Aziz sepanjang dari kongres ke II , waktu dan energi habis mengurusi isu terorisme. Makanya KPSI merasa perlu untuk kongres ke III dengan
12 Sumber: harian Tribun, Makasar, Sulsel, http://scriptintermedia.com/view.php?id=4614 13http://koran.republika.co.id/berita/20687/
tujuan recovery dan konsolidasi program kembali. Dalam hal ini satu kabupaten di Sulsel yang sudah menelurkan empat perda yang bernuansa syariat Islam, kemudian kita jadikan pilot project. Kita sengaja membuat kongres III di situ sehingga di samping bisa menjelaskan produk-produk perda di Bulukumba, juga peserta dari daearah-daerah bisa menyaksikan langsung.
Abdul Aziz Kahar Muzakar menjelaskan bahwa pada saat Kongres Umat Islam Sulsel, ada tiga komisi yang dibantuk: komisi organisasi, rekomendasi, dan program. Jadi sebetulnya bukan hanya rekomendasi tapi juga program. Di rekomendasi itu ada hal-hal aktual. Misalnya soal pilkada, kita merokemendasikan bahwa KPSI terlibat secara aktif dalam pilkada. KPSI tidak menjadi penonton terhadap prosesi pilkada itu, karena itu adalah hal yang sangat strategis untuk kepentingan politik KPSI.
Salah satu rekomendasi KPSI menurut Abdul Aziz Kahar Muzakar adalah meminta pemerintah dan DPRD untuk memberikan syariat Islam di Sulsel. Itu memang target KPSI sejak didirikan. Jadi itu akan terus jadi perjuangan politik KPSI karena sejak awal kita menyatakan itu sebagai target politik KPSI. Karena kita melihat bahwa kesempurnaan pelaksanaan syariat Islam di NKRI mesti dengan otonomi khusus. Abdul Aziz Kahar Muzakar juga melihat bahwa otonomi khusus itu adalah sesuatu yang dimungkinkan dalam UUD 1945.
D. Perda Syariah: Modal Politik atau Alat Kesejahteraan Publik?
Apakah yang dimaksud sebagai Perda Syariah atau Perda yang bernuansa agama? Pertama, ada pandangan bahwa jenis Perda yang isi pengaturannya terkait dengan perasaan moralitas masyarakat secara umum. Meski menyangkut moral, namun Perda jenis ini sebenarnya menjadi kepedulian semua agama. Perda jenis ini terutama diwakili oleh Perda anti pelacuran, perzinaan yang ada hampir di semua daerah yang istilah generiknya Perda “anti kemaksiatan”. Memang di sini ada “konotasi Islam” seperti penggunaan istilah “maksiat” yang sangat tipikal Islam, namun isunya bukan tipikal Islam, bisa juga kepedulian agama non-Islam.
Terkait Perda-Perda jenis ini ada pandangan sebagian bahwa ia tidak bisa dikritik atau ditolak mentah-mentah hanya karena mempermasalahkan aspek istilah yang berkonotasi dengan nilai–nilai keislamannya atau berbahasa Arab. Untuk Perda jenis ini sudut permasalahannya bukan terletak di situ, tapi apakah Perda jenis ini bisa menyelesaikan problem di tingkat lokal seperti rasa aman, perbaikan perekonomian, atau justru menambah masalah; apakah bisa menjamin keadilan atau justru membuka peluang kesewenang-wenangan.
Kedua, jenis Perda yang terkait dengan fashion dan mode pakaian lainnya seperti keharusan memakai jilbab dan jenis pakaian lainnya di tempat-tempat tertentu. Perda jenis ini juga banyak sekali muncul di berbagai daerah. Berbeda dengan yang pertama, Perda fashion ini jelas sangat tipikal Islam sehingga orang akan dengan mudah mengidentifikasi sebagai Perda SI. Siapapun akan mengatakan bahwa dalam jilbab ada kepentingan untuk menunjukkan identitas keislaman.
Pada tingkat tertentu, Perda keharusan belajar di Madrasah Diniyah Awwaliyah dapat digolongkan sebagai Perda “ketrampilan beragama”.
Perda jenis ini juga sangat tipikal Islami, sehingga pihak yang kontra dengan perda syariah akan mengatakan tampak sekali kepentingan Islam mendominasi munculnya Perda tersebut. Perda keterampilan baca tulis Al-Qur’an dan diniyah ini dikaitkan dengan dengan aktifitas lain. Ketrampilan baca tulis Al-Qur’an menjadi syarat untuk nikah, naik pangkat bagi PNS, bahkan untuk memperoleh pelayanan publik. Sedangkan ijazah diniyah dijadikan sebagai syarat untuk dapat meneruskan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Anak SD yang akan melanjutkan ke SMP harus menyertakan ijazah diniyah.
Latar belakang lahirnya Perda Bernuansa Agama di Bulukumba, menurut beberapa narasumber bukan karena alasan politis untuk mendirikan Negara Islam atau alat politik mendapatkan kekuasaan. Untuk kasus Bulukumba, perda bernuansa agama dimunculkan untuk mengatasi akar kriminalitas di daerah tersebut akibat beredar luasnya minuman keras yang memicu kejahatan dan perkelahian. Perda tersebut muncul pada pasca Bupati Andi Partabai Pobokori yang berasal dari partai Golkar dipilih secara tidak langsung oleh DPRD.14
E.Implikasi Perda Syari’ah Bulukumba: Negara Islam, Syiar Islam atau Modal Politik?
Mereka yang menggugat Perda Syariah mengkhawatirkan pemberlakuan perda yang bernuansa agama Islam akan mengarah dan menimbulkan praktik diskriminasi dan tindakan pemaksaan syariah Islam terhadap mereka yang beragama non muslim. Bahkan ada anggapan dan dugaan bahwa hal tersebut akan mengarahkan Indonesia ke Negara agama atau Negara Islam Indonesia (NII). Hal ini lah yang dibantah oleh beberapa pihak yang merancang Perda Islam di Bulukumba. Rancangan Perda bernuansa Islam dibuat di DPRD Bulukumba dan diusulkan oleh bupati yang berasal dari Partai Golkar. 15 Dalam tinjauan ontologi, apa saja yang menjadi objek kajian penelitian ini adalah sebagai berukut:
PERDA NOMOR 2 TAHUN 2003, TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT PROFESI,
INFAQ DAN SHADAQAH.
PERDA NOMOR 3 TAHUN 2002, TENTANG LARANGAN, PENGAWASAN,
PENERTIBAN DAN PENJUALAN MINUMAN BERALKOHOL.
PERDA NOMOR 5 TAHUN 2003, TENTANG BERPAKAIAN MUSLIM DAN
MUSLIMAH.
PERDA NOMOR 6 TAHUN 2003, TENTANG PANDAI BACA AL-QUR’AN BAGI
SISWA DAN CALON PENGANTIN.
e.1.PERDA NOMOR 2 TAHUN 2003: PENGELOLAAN ZAKAT PROFESI, INFAQ DAN SHADAQAH.
14 Wawancara dengan N, aktifis remaja mesjid di Bulukumba, Agustus 2010.
Bupati Patabai Pabokari yang menjadi pencetus Perda Syariat Islam di Bulukumba tahun 2003 menjelaskan bahwa salah satu alasan penyusunan RUU pengelolaan zakat karena regulasi sebelumnya belum mengatasi dan memaksimalkan potensi zakat. Pengelolaan zakat belum terarah dan terpadu. Aspek kerangka hukum, kebijakan, dan implementasi belum terlaksana dengan baik. Kondisi Sebelum Lahirnya Perda Tentang Pengelolaan Zakat Profesi, Infaq,dan Shadaqah di Kabupaten Bulukumba Tingkat Kesadaran Ummat Islam Bulukumba memenuhi Kewajiban membayar Zakat, Infaq dan Sadaqah masih rendah. Berikut ini petikan wawancara dengan penggagas Perda bernuansa agama di Bulukumba:
"….Berdasarkan hasil perhitungan potensi zakat Kab. Bulukumba adalah delapan kali lipat dari PAD (pendapatan asli daerah). PAD hanya Rp 12 miliar, sedangkan perhitungan potensi zakat hingga Rp 98 miliar. Daerah ini bisa hidup dari zakat meski hanya 30 persen dari potensi zakat. Tidak perlu pajak dan retribusi. Akhirnya, kami membentuk desa pelopor zakat di tiap kecamatan yang diberi wewenang penuh mengelola zakat. Kunci pelaksanaan program adalah komitmen pemimpin. Dengan komitmen tinggi pasti berhasil. Pemimpin harus menjadi contoh dan teladan. Selain itu efektivitas pembayaran zakat bisa sukses dengan payung hukum maupun sanksi bagi mereka yang melanggar. Kunci pengelolaan (zakat) adalah transparansi…" 16
Dulu saat perda ini masih kencang berjalan bupati, asisten, dan pejabat wajib menghitung zakat di depan umum setiap tahun. Pengumpulan dan penggunaan zakat di umumkan ke masyarakat luas melalui masjid. Namun saat penelitian ini dilakukan, di bawah kepemimpinan bupati pengganti ada gejala semangat membayar zakat cenderung kian terkikis. Salah satu alasannya pihak Bazisda (Badan Amil Zakat Infak dan Sadaqah Daerah) sebagai pengelola dinilai kurang transparan dan tidak optimal memasyarakatkan dan melaporkan pemanfaatan zakat.17
Sekretaris Provinsi Sulsel, berinisial AM menjelaskan pandangannya tentang pelaksanaan kebijakan pengelolaan zakat di Bulukumba pascakepemimpinan Bupati Patabai Pabokari. AM mengatakan tingkat kemiskinan di Sulsel mencapai 1 juta jiwa. Pemerintah daerah Bulukumba cenderung mampu untuk menurunkan hingga 10 persen per tahun jika ada dana yang bisa dialokasikan untuk mendorong penciptaan usaha bagi kaum dhuafa. Untuk itu, peraturan mendasar mengenai operasionalisasi penanganan zakat sangat diperlukan. Konsep untuk jaminan sosial, infaq dan sedekah bisa digunakan untuk program alih profesi para penjual Ballo, minuman semacam tuak, penjual kupon dan bandar judi kecil, preman pasar dan preman pesisir, menjadi pedagang, supir angkutan, penarik becak, wirausaha perbengkelan dan seterusnya.
Perda Syariat Islam diawali di era reformasi melalui terbentuknya KPPSI. Kemudian berlanjut dengan lahirnya Perda Syariat Islam di Bulukumba yang menjadi daerah pertama. Namun, Muallim justru menyesalkan karena implementasi perda tersebut pasca kepemimpinan Bupati Patabai Pabokari justru semakin kendor. Padahal di awal kelahirannya, nafas tersebut mewabah hingga kebeberapa kabupaten bahkan tingkat provinsi. Pemprov Sulsel sudah melahirkan Perda Zakat No 7 tahun 2005. Berikut ini penjelasannya:
“…Saat menjadi bupati Bulukumba, Andi Patabai Pabokari cukup berhasil menghidupkan semangat membayar zakat dikalangan PNS Pemda. Ia telah mengawal
Bulukumba ke gerbang Syariat Islam yang sekarang. Bupati di kabupaten lain pun ikut-ikut membuat perda, termasuk saya yang kala itu menjabat pejabat bupati sementara (Luwu Utara). Tetapi setelah pejabat selanjutnya, justru hingga sekarang semangat membayar zakat lewat BAZ semakin mengendor...”
Hal senada dikatakan Pengurus Badan Amil Zakat (BAZ) Bulukumba, berinisial AT. AT mengatakan bahwa di zaman bupati Bulukumba Patabai Pabokari, pembayaran zakat profesi dari instansi relatif lancar masuk ke BAZ. Termasuk bentuk zakat lain setelah banyak bersosialisasi wajib zakat banyak berdatangan di kantor BAZ untuk menyerahkan sendiri. Hanya saja lewat periode beliau, masa bupati Sukri Sappewali, pengelolaan zakat profesi mulai “dikaburkan” dan menurun semangatnya.
Ada kondisi bahwa pembayaran zakat sangat tergantung oleh keinginan dan kesadaran pegawai negeri. Pembayaran zakat oleh profesi non PNS seperti supir, pengusaha, polisi, TNI, dan lainnya belum terkelola dan tersosialisasikan dengan optimal. Awal bulan Mei 2010, pengurus BAZ Bulukumba berupaya bertemu lagi dengan Sukri Sappewali ,bupati pengganti Patabai Pabokari. Hasilnya, bupati merespon untuk kembali merealisasikan zakat profesi ini. Namun ketika ditanyakan kepada masyarakat, narasumber masih mempertanyakan transaparansi dan peruntukkan zakat tersebut perlu diumumkan secara garis besar melalui media masa dan radio lokal.
e.2.Strategi Penegakan Perda Nomor 2 Tahun 2003
Humas Pemda Bulukumba menjelaskan ada beberapa strategi penegakkan Perda Zakat Profesi, antara lain lewat sosialisasi di beberpa Seminar lokal, membentuk desa pelopor Zakat (Percontohan), pembentukan Unit Pengelola Zakat (UPZ) di masing-masing Desa/Kelurahan dan Instansi.
Kondisi Setelah Lahirnya Perda Nomor 2 Tahun 2003
Anggota masyarakat dan narasumber wartawan lokal, Radar Bulukumba memberikan pandangan bahwa tingkat kesadaran masyarakat, pegawai Negeri, pengusaha untuk melaksanakan kewajibannya membayar Zakat, Infaq dan Sadaqah mengalami peningkatan pada masa bupati Patabai, dan menurun pada periode bupati penggantinya. Pada masa Bupati Patabai telah terbentuk 12 Desa Pelopor Zakat/Desa Muslim, Pemberian bantuan kepada siswa – siswi kurang mampu melalui dana Bazkab, Bantuan kepada Sarana Peribadatan, Ekonomi Lemah, TPA/TKA dan Madrasah. Berikut ini petikan wawancara terkait pelaksanaan Perda Zakat Profesi di Bulukumba:
“…Sejak bupati yang baru, PNS Bulukumba tampaknya tidak lagi antusias membayar pajak profesi. Beberapa alasannya antara lain masalah transparansi penggunaan pajak. Selain itu belum ada inovasi untuk memancing orang membayar zakat. Kalangan non PNS pun tidak dipancing dengan cara yang menarik mereka untuk membayar zakat profesi…”.18
e.3.Perda minuman beralkohol nomor 3 tahun 2002
Perda Nomor 3 Tahun 2002 berisi tentang Larangan, Pengawasan, Penertiban, Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol . Perda minuman beralkohol ini antara lain mengatur jarak penjualan terhadap tempat ibadah, sekolah dan perkantoran pemda, TNI dan Polri, minimal satu kilometer. Juga diatur bahwa yang boleh menjual miras itu hanya tempat-tempat daerah obyek wisata yang memiliki hotel yang didatangi orang asing, seperti di kawasan wisata Pantai Bira dan Bonto Bahari.
Sebelum tahun 2002 banyak pedagang menjual minuman keras dan pembelinya para pemuda setempat. Setelah adanya perda minuman beralkohol hanya diperbolehkan di kawasan hotel di tempat obyek wisata tidak di pemukiman apalagi sekolah dan perkantoran. Pihak Biro Hukum dan Humas menjelaskan sebagai berikut:
“…Sebenarnya Perdanya tidak bernuansakan keagamaan juga. Hal yang diatur adalah yang bersifat umum, misalnya pengaturan penjualan. Hanya pola pendekatannya menggunakan sektor dan pedekatan keagamaan. Jadi perda itu tidak bisa dikatakan sepenuhnya perda syariah Islam, karena yang diatur adalah perilaku yang bersifat umum dan semua pihak menyetujui bahwa misalnya penyalahgunaan minuman keras itu dilarang. Namun ada juga yang berpendapat bahwa agama Islam melarang minuman keras, di penduduk mayoritas muslim bagaimana cara melarangnya, maka dibuatlah perda pegaturan minuman beralkohol…”.19
Hal yang diatur adalah bukan pelarangan total, hanya pengaturan dimana saja tempat miras boleh dan dilarang diperjualbelikan. Kalau dikatakan ini terkait dengan keagamaan, bukan sepenuhnya demikian, tapi ini menyentuh. Pada prinsipnya pemerintah melarang penyalahgunaan alkohol secara umum bukan pada tempatnya. Hanya pola pendekatannya secara keagamaan.
e.4.Kondisi Sebelum Lahirnya Perda Nomor 3 Tahun 2002
Sebelum lahirnya perda pengaturan minuman beralkohol, diceritakan adanya keadaan maraknya minuman keras (Miras) yang beredar di kalangan masyarakat Bulukumba. Keadaan itu terkait dengan perilaku kriminal yang meningkat sebagai dampak minuman keras. Stabilitas ketertiban dan keamanan terganggu dengan banyaknya pemabuk yang melakukan tindakan perkelahian, pencurian, perjudian, pembunuhan.
e.5.Strategi Penegakan Perda Nomor 3 Tahun 2002
Pemda beserta jajarannya seperti Kesbangpolinmas dan Satpol Pamong Praja melakukan upaya sosialisasi dan pendekatan persuasif terhadap pemuda pemakai Miras dan pedagang penjual Miras, termasuk jenis minuman local yang bernama Ballo di Bulukumba; Melakukan tindakan tegas terhadap pelanggaran Perda; Membentuk Tim Buserda (Buru dan Sergap Daerah);
Melakukan Operasi Pengawasan dan Penenindakan Moras di lapangan; Mengembangkan Majelis – Majelis Taklim untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan warga Bulukumba; Pemberian Bantuan modal usaha untuk pengalihan profesi yang tidak bertentangan dengan Syariat Islam; Membuka jaringan pengaduan bagi masyarakat tentang peredaran Miras sehingga bisa ditangani lebih lanjut.
Bagaimana pengalaman menjalankan Perda Miras di Bulukumba. Apa hambatan dalam mengendalikan peredaran Miras. Berikut ini penjelasan narasumber terkait hal tersebut:
“…Sebelum lahirnya perda pengaturan minuman beralkohol, adanya keadaan maraknya minuman keras (Miras) yang beredar di kalangan masyarakat Bulukumba. Keadaan itu terkait dengan perilaku kriminal yang meningkat sebagai dampak minuman keras. Stabilitas ketertiban dan keamanan terganggu dengan banyaknya pemuda dan orang dewasa yang menjadi pemabuk yang melakukan tindakan perkelahian, pencurian, perjudian dan bahkan pembunuhan karena emosinya naik setelah minum ballo atau jenis minuman dari luar seperti brendy, whisky, topi miring, guiness, dan lainnya. Pedagang menjualnya di warung-warung dan dibeli di mana saja ada…’.20
e.6.Dampak Setelah Perda Nomor 3 Tahun 2002
Ada kecenderungan indikasi positif secara bertahap sebagai implikasi sosial akibat adanya Perda pengendalian minuman keras di Kabupaten Bulukumba, hasilnya adalah angka kejadian kejahatan yang dapat menjadi parameter tingkat kriminalitas cenderung menurun secara drastis sekitar 80%, antara kurun waktu 2002 hingga 2005.
DATA KRIMINALITAS DI KABUPATEN BULUKUMBA PERIODE 2002 S/D 2005
No. Jenis Tindak Pidana Yang menonjol 2002 2003 2004 2005 Ket
1.
Stabilitas ketertiban dan keamanan kondusif sejak Pemda Bulukumba beserta jajarannya telah melakukan operasi penertiban dan pemusnahan Miras dari jenis yang dibuat di luar daerah + 250.000 botol dan minuman tuak lokal ballo + 15.000 liter. Data tersebut merupakan hasil operasi lapangan Polres Bulukumba. Peneliti juga menanyakan perihal apa yang menjadi sanksi jika ada penduduk yang menjual minuman keras? Berikut ini penjelasan Pihak Biro Hukum dan Perundang-undangan:
“…Sanksinya adalah pencabutan izin usahanya. Karena sebelum tahun 2002 banyak pedagang menjual minuman keras dan pembelinya para pemuda setempat. Setelah adanya perda minuman beralkohol hanya diperbolehkan di kawasan hotel di tempat obyek wisata. Hal yang diatur adalah bukan pelarangan total, hanya pengaturan dimana miras boleh dan dilarang diperjualbelikan. Kalau dikatakan ini terkait dengan keagamaan, bukan sepenuhnya demikian, tapi ini menyentuh. Pada prinsipnya pemerintah melarang penyalahgunaan alkohol secara umum bukan pada tempatnya. Hanya pola pendekatannya secara keagamaan. Sebenarnya Perdanya tidak bernuansakan keagamaan juga. Hal yang diatur adalah yang bersifat umum, misalnya pengaturan penjualan. Hanya pola pendekatannya menggunakan sektor dan pedekatan keagamaan….”.21
Sebenarnya perda Miras menurut narasumber adalah perda umum yang bernuansa semangat agama, yang disebut crash program bidang keagamaan itu terdiri dari empat perda yang disusun Pemda dan DPRD untuk mengatur minuman beralkohol, mengajak masyarakat Bulukumba yang mayoritas Muslim (sebanyak 99%) untuk mengendalikan dirinya sebagai pelaku dan korban kejahatan. Berikut ini pandangan seorang supir di Bulukumba tentang Perda Syariah Bulukumba:
“….Soal perda Miras, baca tulis qur’an, zakat, pakaian muslim, ada yang setuju dan ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang menolak karena tidak paham. Namun yang saya rasakan tergantung orangnya, kalau dia terbiasa minum, akan menolak tapi kalau dia yang terganggu dengan orang mabuk, baru dia mendukung…..”.i
Sebelum tahun 2002 di Bulukumba ini kalau malam hari banyak anak muda yang mabuk-mabukan dan berujung pada tawuran. Dengan adanya dasar hukum perda, maka kebiasaan minum ballo dan minuman keras lainnya ditertibkan semua. Pada masa bupati Andi Patabai Pabokari, dengan pendayagunaan dana zakat profesi, infaq dan sadaqah, maka penduduk yang menjual miras dialihkan profesinya dan pemuda yang menganggur diberikan jalan dan modal usaha untuk bekerja sebagai pedagang, usaha bengkel, supir angkot, direkrut sebagai Satpol PP, dan usaha halal lainnya yang mereka kehendaki.
Dengan berjalannya empat Perda sekitar lima tahunan sejak 2003-2008, mulai tampak tanda-tanda perbaikan dan terjadi perubahan kondisi sosial dan moralitas masyarakat. Gerakan politis ini sejalan dengan gerakan kultural yang ada di masyarakat Bulukumba. Hal itu bersinergi melahirkan perbaikan, sejak tahun 2004 misalnya, orang-orang Bukumba kalau
21 Narasumber dalam FGD di kantor bupati: Syamsul, Nuriana, Afriadi, bag hukum dan perundang-undangan, dan
keluar malam hari sudah enak dan aman. Sebelumnya tahun 1998-1999 kalau kita keluar malam ada banyak perkelahian, perjudian, pemerkosaan dan pembunuhan.
e.7.Perda Nomor 5 Tahun 2003 Tentang Pakaian Muslim dan Muslimah
e.7.1.Kondisi Sebelum Perda Nomor 5 Tahun 2003
Ada data yang dikumpulkan pihak Pemda Bulukumba bahwa tingkat Pemakaian Busana Muslim (Jilbab) Khususnya Siswi SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi sebelum Perda diberlakukan hanya berkisar + 2 %, tingkat pemakaian busana Muslim (Jilbab) di kalangan masyarakat +5 %; Tingkat Pemakaian Busana Muslim bagi Karyawati Pemda Bulukumba + 6 % .
e.7.2.Strategi Penegakan Perda Nomor 5 Tahun 2003
Strategi ditempuh dengan prinsip contoh, ketauladan dan program pemberian bantuan pakaian Muslim secara gratis atau cuma-cuma jilbab dan bergo kepada warga masyarakat di desa muslim. Sosialisasi dilakukan dengan turun ke sekolah-sekolah dan majlis taklim di tengah masyarakat. Juga diadakan lomba-lomba disain dan peragaan busana muslim mulai tingkat SD,SLTP, SLTA, Majelis Taklim dan Umum; Membentuk Tim Da’wah busana yang menutup aurat dan melakukan himbauan melalui tempat pelayanan umum seperti Puskesmas, Rumah Sakit, Pasar dan Karang Taruna. Berikut ini petikaan wawancara dengan narasumber dari Biro Hukum Pemda Kabupaten Bulukumba:
“….Terkait dengan pakaian muslim di Bulukumba, ada kontroversi dari Komnas Perempuan yang menganggap perda ini berujung diskriminasi terhadap perempuan. Tetapi, sebenarnya konsep yang diperkenalkan awalnya seolah demikian. Lama-kelamaan ini sudah menjadi karakter. Perda ini diperkenalkan, disosialisasikan khusus kepada penduduk yang beragama Islam. Bagi yang bukan muslim tidak diberlakukan dan tidak juga dipersyaratkan. Bagi yang beragama non muslim silahkan berbusana menurut kebiasaan mereka. Bagi yang muslim-muslimah mereka ini disosilisasikan untuk muslim menggunakan busana muslim laku-laki dan muslimah berjilbab. Himbauan itu lama-lama menjadi suatu kebiasaan, hampir 100 persen pegawai pemda berbusana muslim-muslimah kecuali yang non muslim. Sekali lagi tidak ada pemaksaan bagi yang non muslim, jadi perda ini tidak diskriminatif…”.22
Strategi ditempuh dengan prinsip contoh, ketauladan dan program pemberian bantuan pakaian Muslim secara gratis atau cuma-cuma jilbab dan bergo kepada warga masyarakat di desa muslim. Sosialisasi dilakukan dengan tturun ke sekolah-sekolah dan majlis taklim di tengah masyarakat. Juga diadakan lomba-lomba disain dan peragaan busana muslim mulai tingkat SD,SLTP, SLTA, Majelis Taklim dan Umum; Membentuk Tim Da’wah busana yang menutup aurat dan melakukan himbauan melalui tempat pelayanan umum seperti Puskesmas, Rumah Sakit, Pasar dan Karang Taruna.
e.7.3.Dampak Setelah Perda Nomor 5 Tahun 2003
Pemda lewat Humas melaporkan bahwa setelah pemberlakuan Perda Busana Muslim Bulukumba secara persuasif, ketaladanan dan fasilitasi pemberian pakaian secara cuma-cuma maka tingkat Pemakaian Busana Muslim (Jilbab) khususnya Siswi SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi yang beragama Islam, hasilnya hampir seratus persen berbusana muslim dengan sukarela. Sama halnya juga pemakaian Busana Muslim (Jilbab) di kalangan Masyarakat dan Karyawati Pemda. Perda ini hanya diberlakukan untuk kalangan Muslim dan tidak pernah diberlakukan apalagi dipaksakan bagi penduduk yang non-Muslim di Bulukumba, seperti para pedagang etnis Tionghoa atau penduduk Nasrani yang berasal dari kawasan Indonesia bagian Timur lainnya.
e.8.Perda Nomor 6 tahun 2003: Pandai baca al-qur’an bagi siswa dan calon pengantin.
Ada alasan sejarah mengapa perlu ada kepandaian membaca Al Qur’an bagi warga Muslim Bulukumba. Perkembangan syariat Islam dimulai pada saat kehadiran ulama tasawuf Khatib Bungsu yang bergelar Dato Ri Tiro pada awal abad ke 17 Masehi. Diperkirakan Jumlah Penduduk Bulukumba yang Buta Aksara Al-Qur’an +20 % dari 360.126 jiwa (+72.252 jiwa). Selain itu ada kenyataan bahwa tingkat kesadaran masyarakat Bulukumba untuk mempelajari, membaca, mendalami dan mengamalkan Al-Qur’an masih rendah.
e.8.1.trategi Pemda untuk Penegakkan PERDA NO. 6 TAHUN 2003
1. Melakukan pendataan terhadap kelompok-kelompok pengajian tradisional yang dilakukan oleh masyarakat untuk dibina dalam bentuk pengajian modern.
2. Menginstruksikan pembentukan TKA/TPA (TKA usia 4 – 6 tahun, TPA usia 7 – 12 tahun) dari tingkat kabupaten sampai kecamatan, desa dan TPA orang tua.
3. Memperkuat fungsi dan peranan lembaga BKPRMI Kabupaten Bulukumba sebagai leading Sektor Pembinaan dan Pengembangan : Pendataan dan pengorganisasian lembaga TPA/TKA. Mengembangkan teknik pembinaan baca tulis Al-Qur’an.Memantau, mengendalikan dan mengkoordinasikan kegiatan TKA/TPA kepada Bupati Bulukumba
4. Menyediakan anggaran pembinaan TKA/TPA melalui pos APBD sejak tahun 1995 sampai sekarang (Bantuan pembinaan berupa dana pengelolaan, dana pengadaan sarana prasarana pendukung belajar dan bantuan material berupa Al-Qur’an, buku metode Iqra dan Toga wisuda).
5. Komitmen Bupati menghadiri Proses Wisuda diuji + Hadits.
6. Mengangkat tenaga kontrak ngaji yang disebar keseluruh TPA/TKA dalam wilayah Kabupaten Bulukumba (tahun 2004 dimulai dengan jumlah guru 160 orang).
7. Menjalin kerja sama dengan IAIN Alauddin Makassar melalui Program Diploma II Instruktur Baca Tulis Al-Qur’an (IBTQ).
9. Penunjukan organisasi LPPTKA-BKPRMI untuk mengeluarkan Ijazah/Sertifikat pandai baca tulis Al-Qur’an (SK BKDA No. 307/VI/2004).
10.Menetapkan kebijakan mata pelajaran Al-Qur’an sebagai Muatan lokal di SD, SMP dan SMA dengan menambah jam pelajaran Agama menjadi 4 jam setiap minggu (SK Bupati No. 306/VI/2004, tentang Pembentukan Tim Penyusun Kurikulum Muatan Lokal Mata Pelajaran Al-Qur’an).
11.Bekerjasama dengan Departemen Agama Bulukumba, memprogramkan kegiatan pembinaan baca Al-Qur’an bagi para calon jamaah haji.
12.Memberikan penghargaan/satya lencana kepada para pembina TPA/TKA berprestasi dan tokoh-tokoh agama.
13.Menyelenggarakan festival anak saleh (FASI) setiap tahun dan porseni pemuda remaja masjid yang dimulai sejak tahun 1996 sampai sekarang.
14.Menetapkan kebijakan Pemerintah Daerah tentang pemberlakuan persyaratan pandai baca Al-Qur’an kepada :calon Pegawai Negeri Sipil (SK No. 800/5701/2003), calon siswa SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi, Pegawai yang akan naik pangkat termasuk guru sebagai tenaga fungsional , Calon Mempelai/Pengantin, Pegawai yang akan
dipromosikan menduduki jabatan struktural maupun fungsional, Calon Kepala Desa, Perangkat Desa dan BPD, sesuai surat Bupati No. 240/84/PMD, Calon Jamaah Haji.
15.Membentuk tim pemantauan pelaksanaan Perda No. 5/2003 dan Perda No. 6/2003 ditiap jenjang pendidikan (SK Bupati No. 308/VI/2004).
16.Membentuk tim fasilitasi kegiatan Crash Program Pemerintah Kabupaten Bulukumba Bidang Keagamaan, (SK Bupati No. Kpts. 305/VI/2004).
17.Pembentukan tim penguji tetap bagi pejabat yang akan menduduki jabatan struktural dan fungsional.
18.Mengeluarkan Surat Edaran Bupati kepada para Kepala Sekolah SLTP, SMU/SMK, tentang pelaksanaan Perda keagamaan di sekolah-sekolah (SE. No. 378b/DP-DIK/IX/2003).
19.Menjalin kerjasama dengan Fakultas Dakwah IAIN Alauddin Makassar Bidang Diploma II Bimbingan Penyuluhan Agama Islam.
20.Melaksanakan Gerakan Wakaf Al-Qur’an.
21.Pemberian bantuan pakaian Wisuda (Toga) TPA/TKA kepada para Ketua BKPRMI Kecamatan sebanyak 2.000 pasang.
22.Mengembangkan sekolah-sekolah Arab dan Madrasah Diniyah.
23.Membentuk Sekolah Model Islam di tingkat TK, SD dan SLTP.
24.Mengembangkan Hifzil Qur’an di Pesantren-pesantren dengan memberikan bantuan fisik dan Bea Siswa bagi santri.
25.Membuat dan mempersiapkan Desa Muslim.
e.8.2.Dampak setelah PERDA NO. 6 TAHUN 2003
Tabel Perkembangan Jumlah Santri Anak yang bisa baca tulis Al Qur’an di Bulukumba dan Telah di Wisuda Tahun 2000 – 2005
No Tahun
Selain itu Humas Pemda Bulukumba melaporkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat dalam mempelajari, membaca, mendalami dan mengamalkan Al-Qur’an meningkat dengan berkembangnya TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an/TKA (Taman Kanak-kanak Al Qur’an) sebanyak 648 buah, Majelis Taklim 143 buah).
F.Analisis Politik Kebijakan Publik: Substansi dan Implementasi Perda Syar’iah
Perda Syar’iah bernuansa agama dan Syiar Islam dituangkan dalam bentuk “CRASH PROGRAM PEMERINTAH KABUPATEN BULUKUMBA DI BIDANG KEAGAMAAN” dan menurut penjelasan pihak Humas Pemda telah diturunkan dalam sejumlah kegiatan berikut:
• PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PEMUDA REMAJA MASJID.
• PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN TKA – TPA (Taman Kanak-kanak Al Qur’an-Taman Pendidikan Al Qur’an).
“….Ada kecenderungan setelah lima tahunan pemberlakuan perda bernuansa syiar Islam di Bulukumba ada suasana tingkat keimanan dan ketakwaan masyarakat Bulukumba semakin meningkat , antara lain tampak dari maraknya pemberangkatan dan sambutan kepulangan bagi jemaah haji, suasana masjid semakin hidup, ramai dan makmur tidak hanya pada hari besar Islam tapi juga pada shalat berjamaah lima waktu. Selain itu terasa sekali tingkat buta aksara Al-Qur’an makin menurun, Majelis Taklim berkembang di setiap desa dan yang paling penting terciptanya stabilitas ketertiban dan keamanan akibat perkelahian pemuda antar kampong menurun, tingkat kriminalitas akibat perilaku pemabuk menurun drastis. Semangat Ukhuwah Islamiah, persatuan dan kesatuan, kekeluargaan dan kebersamaan tercipta dengan makin membaik ….”
Narasumber wartawan lokal menjelaskan bahwa berkembangnya Syiar Islam di Bulukumba tidak terjadi dengan cepat jika tidak melalui kerjasama radio-radio FM setempat. Siaran mereka banyak mengangkat tema bagaimana caranya agar terwujudnya keluarga sakinah, mawadah dan warahmah, keluarga yang tenang, penuh cinta dan kasih sayang. Pemakaian busana muslim (Jilbab) semakin memasyarakat dan tidak menjadi hal yang aneh untuk dipersoalkan bagi warga muslim, namun tidak ada pemaksaan atau tekanan terhadap warga yang non-muslim. 23
Narasumber yang merupakan staf ahli Bupati Bulukumba menjelaskan Islam mengajarkan perdamaian dan kasih sayang dan tidak ada pemaksaan apalagi kekerasan. Itulah keindahan Islam kata narasumber. Kesenian yang bernafaskan keagamaan seperti rabana, marawis, barzanji, nasyid kitan meningkat dan diterima dengan kegembiraan. Hifzil atau penghapal al- Qur’an kian berkembang. Pemuda Remaja Masjid semakin berperan dalam aktivitas sosial keagamaan. TPA/TKA kian tumbuh berkembang. Sektor pendidikan dan kesenian itu juga membuka lapangan kerja atau usaha produk barang dan jasa yang terkait dengan pelaksanaan Perda. 24
Pemda juga peduli untuk meningkatnya kuantitas dan kualitas da’i-muballigh lewat pelatihan, beasiswa pendidikan pascasarjana dan rekruitmen kepegawaian daerah. Selain itu diupayakan pengadaan honor untuk meningkatkan kesejahteraan guru mengaji, imam masjid dan dai-muballigh. Kesadaran masyarakat untuk membumikan Al-Qur’an meningkat melalui gerakan Wakaf Al-Qur’an, yaitu pemberian cinderamata atau hadiah dalam bentuk Qur’an dan tafsir. Kesadaran pegawai negeri sipil (PNS) membayar Zakat, infaq dan Sadaqah mulai tumbuh walupun mengalami pasang-surut pascakepemimpinan Bupati Patabai Pabokari. Pengajian rutin pegawai, tukang becak, agen dan sopir angkot, IPHI dan Aisyiah di Rumah Jabatan dan Kantor Bupati.
f.1.Hubungan Muslim dan Non-Muslim Bulukumba
23 Wawancara dengan wartawan Radar Bulukumba, September 2010.
Umat non Islam di Bulukumba jumlahnya kurang dari 1% penduduk. Mereka ini adalah suku Tionghoa, suku Manado, suku Papua dan NTT. Perda-perda bernuansa Syariah Islam di Kabupaten Bulukumba, Sulsel, cenderung didukung umat non muslim yang minoritas tersebut. Salah satu bentuknya, warga non muslim ketika ada Kongres Umat Islam di Bulukumba, mereka ikut membentangkan spanduk dukungan. Dalam prakteknya Pemda sengaja tidak membentuk Polisi Syariah, atau Wilayatul Hasbah seperti di Nangroe Aceh Darrussalam (NAD).25 Berikut ini wawancara dengan warga non muslim, Ayin dan Kristina di Bulukumba:
“…Saya pernah dengar soal perda pakain muslim, namun itu tidak berlaku bagi yang non muslim. Jadi kami biasa-biasa saja. Selama tidak keterlaluan tentu tidak ramai disorot orang. Jadi kita tahu dirilah sebagai perantau. Kita ni cari uang buat hidup, jadi perlu pandai-pandai menempatkan diri di mana saja berada…”26
“…..Kami maklum ada perda itu. Namanya pemerintah memang berhak mengatur daerahnya. Soal pakaian atau miras, itu memang ramai dibicarakan orang sini tahun 2000-an dulu. Pernah juga ada dukung2000-an dari kami y2000-ang non muslim, maksudnya agar tidak ada pemaksaan atau kekerasan yang kami alami. Kami ini cari hidup, pinginnya aman dan usaha lancer. Jadi kami menyesuaikan diri saja sebagai perantau di Bulukumba ini. Belum pernah ada sweeping miras atau pemaksaan berbusana muslim kepada kami yang non muslim..”27
Dari penjelasan lapangan di atas, peneliti menangkap kecenderungan tidak ada pemaksaan perda kepada pihak non Muslim, sehingga kekhawatiran bahwa akan terjadi dampak negatif sejauh ini belum atau tidak terjadi.
f.2.Indikasi Angka Kriminalitas dan Syiar Kegembiraan Beragama
Ada kecenderungan dengan diterapkannya nuansa Syariah Islam di Bulukumba pada tahun 2001-2005, tingkat kriminalitas, turun 85 persen. Tidak ada lagi warung yang berani dan mau menjual minuman keras, peredaran Miras secara ketat hanya diperbolehkan di daera pariwisata seperti pantai Bira dan sekitarnya. Tidak ada lagi perkelahian pemuda atau pelajar yang disebabkan karena emosi akibat mabuk-mabukan. Ada ketentuan dalam radius 500 meter dari sekolah, tempat ibadah dan perkantoran dilarang keras diperjualbelikan minuman keras. Bukan hanya himbuan tapi ada penindakan yang dilakukan polisi pamong praja dan POLRI.
Setelah pemberlakuan empat perda tersebut tahun 2003 lalu, Bulukumba di tahun 2010 saat penelitian ini dilakukan cenderung telah menunjukan perkembangan yang sangat pesat dimana masjid-masjid kian hidup oleh ramainya jama’ah, beberapa fasilitas perkantoran serta sekolah lebih bernuansa Islami karena dilengkapi dengan kaligrafi al-Qur’an, seluruh siswa-siswi beserta guru-guru yang beragama Islam memakai busana muslim dan muslimah.
25Ibid,- wawancara dengan AM.
26 Wawancara dengan narasumber: Ayin, kapster salon rambut dan kecantikan di sekitar pasar Sentral, Bulukumba, 28/8/2010.
Berdasarkan informasi dari narasumber,28 setidaknya hingga Maret 2005 sudah terbentuk 12 desa percontohan muslim, salah satunya adalah Desa Padang, yang diresmikan sendiri oleh Bupati Bulukumba, H.A. Patabai Pabokori pada tanggal 11 Agustus 2004. Desa Padang yang berjarak sekitar 12 km dari kota Bulukumba ini adalah desa yang sangat pro-aktif melaksanakan empat perda yang telah dikeluarkan pemerintah Kabupaten itu.
Bahkan untuk melancarkan pemberlakuan empat perda tersebut, Kepala Desa Padang, Andi Rukman Jabbar bersama jajarannya mengeluarkan peraturan desa tentang hukuman cambuk bagi pelanggaran hukum Syari’at seperti pelaku perzinaan, peminum minuman beralkohol, judi dan penganiayaan. Keadaan ini menjadi semacam penggentar (deterance) bagi anggota masyarakat yang melakukan perilaku menyimpang atau tindakan kriminalitas. Walaupun tindakan hukuman rotan tentu mendapatkan reaksi protes dan penolakan bagi mereka yang menganggap hal tersebut melanggar HAM, namun bukankah tindakan kriminalitas oleh para pelaku kekerasan akibat mabuk juga melanggar HAM warga desa lainnya.
Dengan diberlakukannya Perdes ini sejak awal 2006, penduduk desa Pandang tampak cenderung merasa aman dan tentram, karena tidak ada lagi pemabuk, penjudi dan pencurian, bahkan kesadaran beragama masyarakat pun semakin meningkat, terlihat dari kegiatan-kegiatan keagamaan seperti majelis ta'lim yang semakin semarak. Dalam konteks ini bisa dikatakan secara relatif bahwa Perda Syariah telah menjadi semacam modal sosial bagi Bulukumba.
f.3.Pemberlakuan Perda Syariah: Studi Kasus Desa Padang Bulukumba29
Ada baiknya kita mempelajari konteks lokal pemberlakuan perda Syariah di sebuah desa yang penelitiannya sudal dilakukan oleh Lukman Masa. Ia menjelaskan bahwa Desa Padang adalah salah satu dari 20 desa/kelurahan yang ada di kecamatan Gantarang kabupaten Bulukumba, berjarak kurang lebih 12 km dari ibu kota Kabupaten Bulukumba. Jumlah penduduk Desa Padang mencapai 3621 jiwa dan tersebar di empat dusun yang ada di Desa Padang yaitu: Dusun Palimassang 914 jiwa (243 KK), Dusun Borongcinranae 972 jiwa (271 KK), Dusun Bontobulaeng 697 jiwa (181 KK), Dusun Mattoangin 678 jiwa (246 KK).
Hampir semua warga Desa Padang hidup dengan mata pencaharian sebagai petani atau pekebun karena sebagian besar lahan di Desa Padang adalah areal persawahan. Kondisi sosial budaya masyarakat Desa Padang yang mayoritas suku Bugis, Makassar, masih sangat kental dengan semangat kebersamaan dan kekeluargaan. Satu sama lain saling menolong dan memperhatikan sehingga hampir tidak ada masalah yang tidak diselesaikan bersama. Hampir seluruh warga Desa Padang satu dengan yang lainnya saling kenal dan sikap kepedulian terhadap
28 Lukman Ma’sa, ”Penerapan Syari’at Islam Melalui Peraturan Daerah” (Studi Kasus Desa Padang Kec.
Gantarang Kab Bulukumba Sulawesi Selatan, April 2007).
29 Lihat karya Lukman Ma’sa, ”Penerapan Syari’at Islam Melalui Peraturan Daerah” (Studi Kasus Desa
sesama masyarakat sangat tinggi. Mereka dengan suka rela akan membantu, baik itu berupa materi, tenaga, maupun pikiran.
Kondisi pendidikan warga Desa Padang masih sangat rendah. Rata-rata mereka hanya mengenyam pendidikan tingkat SD, SLTP sampai SMU. Sedangkan yang menempuh pendidikan sampai perguruan tinggi hanya beberapa orang saja. Tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan pun masih rendah. Ini dapat diketahui dengan banyaknya anak usia sekolah yang tidak lagi sekolah dengan berbagai alasan.
Sejak dulu Desa Padang dan Kabupaten Bulukumba secara umum dikenal sebagai daerah yang memiliki nuansa religius yang kental. Sentuhan ajaran Islam yang dibawa oleh ulama besar dari Sumatra yang bergelar Dato’ Tiro di daerah Bulukumba telah menanamkan kesadaran religius kepada masyarakat Bulukumba berupa keyakinan untuk hidup zuhud, suci lahir batin, selamat dunia akhirat, dalam kerangka tauhid ‘appasseuang (meng-Esakan Allah SWT).
Sebelum adanya perda syaria’at Islam yang diterapkan Pemda Kabupaten dan sebelum ditetapkannya Desa Padang sebagai salah satu desa percontohan Muslim, kondisi pemahaman masyarakat terhadap ajaran agamanya sangat memperihatinkan walaupun warga Desa Padang 100 persen beragama Islam. Kondisi sebagian besar warga Desa Padang dari kaum wanita muslimah umumnya tidak memakai hijab ketika keluar rumah.
Sementara itu terdapat banyak warga yang belum bisa membaca Al-Qur’an, pencurian dan mabuk-mabukan di jalan maupun dirumah-rumah penduduk masih bisa disaksikan setiap hari, dan kemauan warga untuk hadir di masjid mengerjakan shalat berjama’ah sangat minim, bahkan majelis ta’lim dan dan TPA pun sangat jarang ditemui.
Setelah adanya perda ini, pemahaman masyarakat akan ajaran agamanya dan kemauan menjalankan perintah syari’at serta meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh agama semakin meningkat. Sekarang kita dapat menyaksikan kondisi sebaliknya di mana TPA anak-anak maupun TPA orang tua ada disetiap masjid. Tidak ada lagi kaum wanita yang menghadiri suatu keramaian atau keluar rumah dalam keadaan tidak memakai hijab. Majelis-majelis ta’lim dibentuk sendiri oleh warga kemudian mencari guru atau ustadz. Jama’ah masjid pun semakin ramai melaksanakan shalat lima waktu.