Legal Opinion Kasus Pencemaran Lingkungan Oleh Pabrik Kulit di Malang Cairin Melina
Pendahuluan Posisi Kasus
PT Usaha Loka dan PT Kasin merupakan pabrik kulit yang berada di Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur, namun dalam menjalankan kegiatan dari pabrik tersebut menimbulkan dampak yang serius bagi lingkungan sekitar pabrik. Kedua pabrik tersebut telah melakukan pencemaran terhadap lingkungan di Kali Badek, dengan tidak mengelola terlebih dahulu air limbah secara maksimal. Air limbah tersebut dibuang begitu saja ke sungai. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui uji laboratorium atas air limbah yang telah dilakukan dua kali. Hasil dari kedua uji laboratorium tersebut bahwa air limbah yang dibuang ke sungai telah melebihi baku mutu dan terbukti telah mencemari lingkungan. Dari adanya uji laboratorium tersebut maka Badan Lingkungan Hidup Kota Malang, Jawa Timur, telah mengeluarkan surat teguran terhadap kedua pabrik kulit tersebut. Karena kedua pabrik tersebut telah terbukti mencemari lingkungan. Namun salah satu pihak pabrik mengaku telah mengolah air limbah sebelum dibuang ke sungai, serta instalasi befungsi dengan baik dan tak ada kerusakan. Karena itu ia memastikan bahwa air limbah yang dibuang ke aliran sungai sesuai dengan baku mutu. Namun fakta lain terdapat keluhan dari warga Kelurahan Ciptomulyo yang mengeluh bahwa sumur mereka telah tercemar berat. Air sumur mengeluarkan bau menyengat dan tak layak konsumsi. Sebanyak 500-an penduduk terimbas pencemar500-an sungai d500-an sumur. Hal tersebut mengakibatkan penduduk kesulitan untuk mendapatkan ait minum lantaran 70 persen di antara merela menggunakan air sumur. Namun pada kenyataannya Badan Lingkungan Hidup tak menindak secara tegas kedua pabrik pengolah kulit tersebut, seperti menghentikan izin operasi ataupun pabrik. Alasannya adalah kedua perusahaan tersebut akan dibina serta perusahaan pencemar lingkungan itu akan didampingi oleh tenaga ahli untuk mengolah limbah. Masyarakat juga sudah berulang kali melaporkan pencemaran tersebut ke pemerintah kota Malang dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Malang. Namun laporan tersebut tidak digubris.
Isu Hukum
Bahwa setelah melihat posisi kasus diatas maka isu hukum yang dapat diambil adalah:
1. Apa saja yang telah dilanggar oleh PT Usaha Loka dan PT Kasin selama menjalankan aktivitas perusahaan?
3. Tindakan apa yang wajib dilakukan oleh pemerintah?
4. Bagaimana sanksi yang dapat diterapkan apabila memang kedua pabrik tersebut terbukti melakukan pencemaran?
Fakta Hukum
1. Telah terjadi pencemaran lingkungan oleh dua pabrik di Malang yaitu PT Usaha Loka dan PT Kasin yang berdampak sangat serius terhadap masyarakat sekitar pabrik, seperti masyarakat kesulitan untuk memperoleh air minum karena sumur meraka telah tercemar limbah pabrik serta masyarakat sekitar dilanda kekhawatiran akan mengancam kesehatan mereka.
2. Bahan yang menjadi penyebab tercemarnya lingkungan sekitar pabrik adalah limbah cair dari pabrik kulit yang dibuang ke aliran sungai tanpa melalui proses pengelolaan secara maksimal
3. PT Usaha Loka dan PT Kasin yang melakukan kegiatan di Kelurahan Ciptomulyo telah mengakibatkan lingkungan sekitar menjadi tercemar, hal tersebut dapat dibuktikan secara kuat dari hasil uji laboratorium yang dilakukan sebanyak dua kali, dan hasil dari dua uji laboratorium tersebut terbukti bahwa air limbah yang dibuang ke sungai telah melebihi baku mutu hal ini berarti bahwa kedua pabrik tersebut terbukti telah mencemari lingkungan.
Konsep Hukum
1. Pasal 70 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
2. Pasal 80 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
3. Pasal 91 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
4. Pasal 98 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Analisis Hukum
menggambarkan apa yang sedang terjadi di Kelurahan Ciptomulyo yang diakibatkan oleh kegiatan dua pabrik tersebut. Sebenarnya pabrik tersebut telah mendapatkan teguran dari Badan Lingkungan Hidup Kota Malang, Jawa Timur melalui surat teguran yang dikeluarkan. Dalam surat teguran tersebut Badan Lingkungan Hidup Kota Malang mendesak agar kedua pabrik pengolah kulit tersebut dapat mengelola air limbah secara maksimal. Tujuannya untuk mencegah pencemaran sungai yang mengalir di wilayah Kota Malang. Larangan untuk melakukan pencemaran lingkungan sendiri juga diatur dalam pasal 69 ayat 1 huruf a UUPPLH dijelaskan bahwa:
Setiap orang dilarang:
a. Melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemarab dan/atau perusakan lingkungan hidup.
Kedua pabrik kulit tersebut terbukti telah melakukan pelanggaran sesuai dengan Pasal 69 atat 1 huruf a, bahwa pabrik tersebut dapat dibuktikan telah melakukan pencemaran lingkungan hidup dari hasil uji laboratorium sebanyak dua kali, dari dua uji laboratorium tersebut hasilnya bahwa kedua pabrik tersebut terbukti telah mencemari kali badek dengan membuang air limbah tersebut yang melebihi baku mutu lingkungan. Baku mutu lingkungan hidup sendiri juga telah dijelaskan dalam Pasal 1 ayat 13 UUPPLH bahwa “Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup”. Kedua pabrik tersebut telah terbukti telah melakukan pencemaran lingkungan hidup, dengan membuang air limbah tersebut ke sungai. Hal tersebut diperkuat dengan uji laboratorium yang telah dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Kota Malang yang hasilnya kedua pabrik tersebut telah membuang air limbah ke sungai yang telah melewati batas baku mutu lingkungan.
2. Masyarakat telah melakukan berbagai upaya untuk memprotes kedua pabrik tersebut dengan melaporkan berulang kali ke Pemerintah Kota Malang dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Malang. Namun sayangnya laporan dari masyarakat tersebut tidak digubris sama sekali oleh pemerintah. Masyarakat sendiri memiliki hak untuk melaporkan terkait dengan adanya pencemaran lingkungan yang terjadi di daerahnya. Hal tersebut diatur dalam Pasal 65 ayat 3 UUPPLH yang dijelaskan bahwa:
“Setiap orang berhak mengajukan usul dan/atau keberatan terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup”
memiliki peran untuk memantau atau melakukan pengawasan terhadap segala aktivitas lingkungan hidup. Masyarakat memiliki hak untuk melakukan pengawasan terhadap lingkungan hidup. Hal ini diatur dalam pasal 70 ayat 1 UUPPLH dijelaskan bahwa “Masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup” jadi jelas bahwa masyarakat diberikan kesempatan untuk berperan aktif dalam melakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Selain itu wujud dari peran masyarakat untuk melakukan perlindungan dan pengeolaan lingkungan hidup dapat dilihat dalam pasal 70 ayat 2 yang dijelaskan bahwa:
Peran masyarakat dapat berupa: a. Pengawasan sosial;
b. Pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan; dan/atau
c. Penyampaian informasi dan/atau laporan.
Hal tersebut dapat diwujudkan dengan melakukan pengawasan serta kontrol terhadap segala kegiatan kelingkungan hidup. Apa yang dilakukan oleh masyarakat di Kelurahan Ciptomulyo sangat dibenarkan terkait dengan tindakan masyarakat yang mengeluh dan memprotes dengan melakukan pelaporan kepada Pemeribtah Kota Malang atas kegiatan kedua pabrik tersebut. Hal ini berarti bahwa masyarakat di Kelurahan Ciptomulyo sangat peduli dengan kelangsungan lingkungan hidup. Dari aksi protes dan keluhan dari masyarakat atas tercemarnya lingkungan mereka akibat kegiatan pabrik menjadi perhatian tersendiri oleh pemerintah, karena setiap masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang layak. Hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan hidup yang layak dijelaskan dalam Pasal 65 ayat 1 bahwa “Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia”. Jadi sudah jelas bahwa masyarakat di Keluarahan Ciptomulyo berhak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang layak, namun pada kenyataannya lingkungan sekitar mereka telah tercemar oleh kegiatan pabrik kulit yang mengakibatkan dampak yang serius bagi kehidupan masyarakat. beberapa dampak yang sudah dirasakan oleh masyarakat disana ilah sumur mereka telah tercemar oleh limbah dengan mengeluarkan bau yang menyengat, air yang keruh sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Dampak serius yang dialami oleh masyarakat selanjutnya adalah mereka kesulitan untuk mendapatkan air minum karena memang 70 persen dari mereka mengandalkan air sumur.
Paksaan pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (2) hutur b berupa:
a. Penghentian sementara kegiatan produksi. b. Pemindahan sarana produksi;
c. Penutupan saluran pembuangan air limbah atau emisi; d. Pembongkaran;
e. Pembongkaran;
f. Penyitaan terhadap barang atau alat yang berpotensi menimbulkan pelanggaran;
g. Penghentian sementara seluruh kegiatan atau
h. Tindakan lain yang bertujuan untuk menghentikan pelanggaran dan tindakan memulihkan fungsi lingkungan hidup.
Jadi Pemerintah Kota Malang seharusnya melaksanakan perintah Undang-Undang sesuai dengan ketentuan pasal diatas. Karena pada faktanya kegiatan pabrik kulit tersebut telah mengakibatkan lingkungan menjadi tercemar serta merugikan bagi masyarakat. Pemerintah kota malang seharusnya menindak dengan tegas kedua pabrik tersebut demi kepentingan umum. Sebelumnya Badan Lingkungan Hidup Kota Malang telah melakukan teguran melalui surat teguran kepada dua pabrik tersebut yang mendesak agar kedua pabrik tersebut segera melakukan pengolahan air limbah secara maksimal sebelum dibuang ke sungai. Merujuk pada laporan warga yang telah merasakan secara langsung dampak dari kegiatan kedua pabrik kulit tersebut, bahwa pada faktanya pemerintah belum melakukan tindakan tegas bahkan tidak menggubris laporan dari warga sekitar. Pemerintah menyatakan akan melakukan pembinaan terlebih dahulu. Namun jika dilihat dari fakta-fakta dilapangan pabrik tersebut seharusnya sudah tidak lagi dibina, namun harus langsung diberikan sanksi yang tegas oleh pemerintah agar jera untuk tidak melakukan tindakan pencemaran lingkungan. Kewenangan pemerintah untuk memberikan paksaan kepada perusahaan yang telah melakukan pencemaran dapat dilihat dalam Pasal 82 Ayat (1) dijelaskan bahwa”
“Menteri, gubernur, atau bupati/walikota berwenang untuk memaksa penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan pemulihan lingkungan hidup akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang dilakukannya”
“Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang tidak melaksanakan paksaan pemerintah dapat dikenai denda atas setiap keterlambatan pelaksanaan sanksi paksaan pemerintah”
4. Sanksi yang dapat diterapkan kepada kedua pabrik yaitu PT Usaha Loka dan PT Kasin apabila terbukti telah melakukan pencemaran lingkungan hidup. Berdasarkan fakta-fakta yang telah dijelaskan diatas PT Usaha Loka dan PT Kasin terbukti telah melakukan pencemaran lingkungan hidup berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Kota Malang. Kedua pabrik tersebut telah melakukan pencemaran lingkungan sehingga berdampak serius bagi lingkungan. Akibat dari kegiatan pabrik tersebut kali badek yang merupakan salah satu sungai yang menjadi lokasi pembungan limbah cair dari pabrik telah tercemar sehingga sungai tersebut tidak dapat digunakan oleh masyarakat sekitar, selain itu dampak lain dari pencemaran lingkungan oleh kedua pabrik tersebut ialah sumur warga. Sumur warga sekitar juga menjadi tercemar dengan mengeluarkan aroma tidak sedap serta air sumur berubah warna. Hal tersebut sangat berbahaya apabila dikonsumsi oleh masyarakat, karena akan mengakibatkan gangguan kesehatan bahkan mengakibatkan kematian. Dari hal tersebut mengakibatkan masyarakat sekitar mengalami kesulitan mencari air minum yang layak konsumsi karena sebanyak 70 persen masyarakat menggunakan air sumur. Hal inilah yang seharunsya menjadi perhatian yang serius bagi pemerintah untuk segera melakukan tindakan tegas kepada PT Usaha Loka dan PT Kasin. Pemerintah harus menjatuhkan sanksi tegas kepada kedua pabrik tersebut. merujuk pada penjelasan diatas maka sanksi apa yang seharusnya diterapkan kepada PT Usaha Loka dan PT Kasin. Upaya penegakan hukum yang dapat dilakukan sesuai dengan UUPPLH bagi pelaku pencemar lingkungan sendiri dapat diterapkan beberapa jenis sanksi yaitu sanksi administratif, pidana maupun perdata.
Sanksi administratif merupakan tindakan hukum yang pertama diberikan terhadap perusahaan yang melaukan pencemaran dan perusakan lingkungan, sanksi administrasi mempunyai fungsi instrumental, yaitu pencegahan dan penanggulangan perbuatan terlarang dan terutama ditunjukan terhadap perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan hukum yang dilanggar tersebut.1