Analisis Pemberdayaan Masyarakat di Kampung Terapi Kelurahan Sukun RW
03 yang Berbasis Sustainable Development.
Oleh : Wulan Suci Al Imanah, Moch Weldy Arif F, Fahrur Rosyid, Hamida Condrowati J, Zein Ihya
Ulumuddin
Abstrak
Penelitian tentang analisis strategi pemberdayaan masyarakat di kampung terapi Kelurahan Sukun RW 03 Berbasis
Sustainable Development bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis strategi pemberdayaan masyarakat Kampung Terapi Kelurahan Sukun RW 03 dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian yang menekankan pada penelitian kualitatif dengan mengumpukan data-data yang berasal dari hasil pengamatan di lapangan dan wawancara secara mendalam. Metode kualitatif dipilih karena mendeskripsikan secara mendalam fenomena kampung terapi di daerah Kelurahan Sukun. Selain itu, metode ini juga dapat mengungkapkan strategi pemberdayaan masyarakat yang digunakan dengan berbasis sustainable development. Sesuai dengan visi misi RW 03 Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun yaitu “Guyub Rukun Tanpa Pamrih (Gurih)” dan misi “Kerja Bakti Tiada Henti dan Tak Kenal Waktu” untuk menunjang visi misi tersebut para tokoh masyarakat membuat strategi dan melaksanakan berbagai inovasi atau program kegiatan seperti pemilahan sampah, penanaman tanaman hias dan toga, kegiatan minggu bersih atau gotong royong, dilarang merokok di dalam rumah, pembuatan cuci tangan umum, pemasangan komposter dan biopori, pembangunan kawasan lingkungan ramah anak, membentuk kader lingkungan di setiap RT, dan pembangunan batu terapi di sepanjang jalan. Analisis kualitatif menunjukkan bahwa pemberdayaan
masyarakat di Kampung Terapi RW 03, Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun telah dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat, strategi-strategi yang menunjang pembangunan lingkungan sudah efektif untuk diterapkan, hal ini dibuktikan dengan bertambahnya partisipasi masyarakat untuk aktif mengikuti semua program atau kegiatan yang dilaksanakan.
Kata Kunci : Strategi Pemberdayaan,
Kampung Terapi, Sustainable
Development, Analisis Kualitatif
Abstract
environment, and building stone the therapy along the way. Qualitative analysis indicates that community development in Village Therapy RW 03, Village of Sukun, District of Sukun has been implemented well by the people, the strategies that support the development of effective environment has to be applied, this is evidenced by the increasing participation of the community to actively follow all the programs or activities were carried out. Keywords: Empowerment Strategies, Therapy of Village, Sustainable Development, Qualitative Analysis
PENDAHULUAN Latar Belakang
Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Kota Surabaya, Kondisi demografis Kota Malang berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 2013menyatakan bahwa, jumlah penduduk Kota Malang sebanyak 836.373 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 418.100. jiwa dan perempuan sebanyak 418.273 jiwa. Jumlah penduduk Kota Malang selalu meningkat setiap tahunnya dikarenakan tingginya laju urbanisasi. Akibat dari meningkatnya laju urbanisasi memberikan dampak negative yang menyebabkan semakin sempitnya lahan pertanian ataupun area hijau karena kebutuhan akan tempat tinggal yang semakin meningkat, selain itu juga meningkatnya aktivitas penduduk menyebabkan bertambahnya pencemaran udara.
Undang–Undang Dasar 1945 pasal 28 H ayat 1 menyatakan bahwa, setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Hak-hak tersebut adalah Hak-hak yang harus dipenuhi oleh pihak pemerintah, selaku pihak yang memberikan pelayanan publik,
termasuk penyediaan pelayanan
lingkungan hidup yang baik dan sehat. Sesuai dengan UUD tersebut maka
pemerintah sudah seharusnya
berkewajiban memenuhi hak masyarakat terkait lingkungan hidup, namun pada kenyataannya pemerintah belum mampu menyediakan lingkungan hidup seperti yang diamanatkan dalam undang–undang tersebut.
Pada tahun 1994 jumlah RTH masih sekitar 7.160 ha dari luasan Kota Malang sebesar 11.005,7 ha. Dua tahun berikutnya jumlah ruang terbuka hijau terus berkurang menjadi 6.957 ha dan menjadi 6.615 ha pada 1998. Tahun 2000, jumlahnya 6.415 ha dan 2002 tinggal 6.367 ha7. RTH di Kota Malang dari tahun ke tahun tercatat terus menipis. Sedangkan menurut data Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), RTH saat ini hanya tersisa 2,8 persen dari luas Kota Malang atau hanya 110,6 kilometer persegi. Sementara luasan terbangun sudah hampir mencapai 60 persen dari total luasan kota ini. (malangpost, 2014) Salah satu daerah yang dianggap belum memenuhi undang-undang tersebut adalah Kota Malang, dimana fakta menunjukan bahwa Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Malang belum mencapai angka 30%. Fakta ini menunjukan bahwa Kota Malang belum mampu merealisasikan Visi Misinya.
bebas dari tumpukan sampah dan limbah adalah kondisi yang diharapkan dalam pembangunan kedepan. Asri, Kota Malang yang asri adalah dambaan masyarakat. Terciptanya keasrian, kesegaran dan kebersihan lingkungan kota adalah yang diharapkan seluruh masyarakat. Namun, keasrian Kota Malang semakin lama semakin memudar sebagai akibat dari pembangunan kota yang tidak memperhatikan aspek lingkungan. Selanjutnya dalam rangka mewujudkan visi tersebut, maka misi pembangunan di Kota Malang adalah “Mengembangkan Potensi Daerah Yang berwawasan Lingkungan Yang Berkesinambungan, Adil, dan Ekonomis”. Misi tersebut menunjukkan bahwa perlunya strategi pembangunan daerah yang tetap memperhatikan aspek lingkungan, diharapkan kedepannya tidak terjadi pelanggaran lingkungan seperti yang terjadi saat ini, selain itu juga meningkatkan luas lahan yang berfungsi sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan kawasan resapan air. Berdasarkan visi misi tersebut seharusnya semua elemen masyarakat tanpa terkecuali dapat berpartisipasi dalam meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, kebersihan dan keasrian kota guna mewujudkan Kota Malang sebagai kota yang bersih, sehat dan berwawasan lingkungan.
Akibat maraknya kegiatan yang kurang memperhatikan lingkungan, maka
dibutuhkan sebuah konsep
sustainabledevelopment. Pembangunan yang selaras dan seimbang berarti pembangunan yang memperhatikan aspek lingkungan, untuk menjaga keseimbangan lingkungan hidup sepertiyang diamanatkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi
lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup. Maka dari itu, dalam pengelolaannya diperlukan menerapkan pembangunan berkelanjutan atau berkesinambungan. Sesuai dengan undang–undang tersebut yang dimaksud dengan Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses
pembangunan untuk menjamin
kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi
masa depan.Emil Salim
memberikanpengertian Pembangunan Berkesinambungan atau sustainable development sebagai “suatu proses perubahan yang di dalamnya eksploitasi sumberdaya, arah investasi, orientasi pengembangan teknologi, dan perubahan kelembagaan semuanya dalam keadaan yang selaras serta meningkatkan potensi masa kini dan masa depan untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia” (Silalahi, 2003).
Pembangunan Berkesinambungan selain pendekatan pada lingkungan hidup, tentunya tidak luput dari ketepatan dalam menempatkan ruang dan wilayah yang akan digunakan. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Malang nomor 7 tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang tahun 2001 – 2011, Bahwa untuk mengarahkan pembangunan di Kota Malang dengan memanfaatkan ruang wilayah secara berdaya guna, berhasil guna, serasi, selaras, seimbang dan berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan, perlu disusun Rencana Tata Ruang Wilayah.
Wilayah dalam pasal 32, poin a dikatakan bahwa, pengembangan prasarana imbuhan alami (naturalrecharge) dengan cara mempertahankan hutan kota atau ruang-ruang terbuka hijau eksisting serta menambah kawasan hutan kota dan ruang-ruang terbuka hijau sampai mencapai minimal 30%. Bahwasanya didalam Peraturan daerah kota Malang juga dikatakan bahwa, Rencana penyediaan RTH Publik di Kota Malang seluas kurang lebih 2.350 Ha, dan Rencana penyediaan RTH Privat di Kota Malang seluas kurang lebih 1.383 Ha.
Meskipun Kota Malang telah memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sebagai pedoman pembangunan, namun dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Banyak pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan dan terus dibiarkan. pembangunan yang kurang memperhatikan RTRW di Kota Malang misalnya, pembangunan mall, selain itu semakin meningkatnya perekonomian, urbanisasi dan jumlah penduduk berimplikasi pada terjadinya alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi lahan perkantoran, sentra bisnis, pabrik, dan permukiman. Kondisi ini mengakibatkan permasalahan ruang di suatu wilayah, baik kota maupun kabupaten semakin bertambah, ditandai dengan menurunnya kualitas permukiman, timbulnya permasalahan lingkungan seperti kemacetan, banjir, kawasan kumuh, pencemaran lingkungan, kurangnya resapan air, dan hilangnya ruang publik serta ruang terbuka hijau untuk artikulasi sosial dan kesehatan masyarakat.
Pembangunan wilayah dengan memperhatikan aspek lingkungan menjadi sangat penting di Kota Malang untuk mengurangi pencemaran udara dan mewujudkan lingkungan yang sehat bagi masyarakatnya. Hal tersebut telah dilaksanakan oleh sebagian besar
masyarakat yang tinggal di Kecamatan Sukun, Kelurahan Sukun RW 03 Kampung Terapi. Keinginan masyarakat RW 03 akan lingkungan yang hijau dan sehat tanpa pencemaran udara telah diharapkan sejak dulu, dan itu diwujudkan oleh kesadaran masyarakat. Bermula dari kegiatan yang melibatkan masyarakat RW 03 mampu memahami kebutuhan dalam hal lingkungan, dari permasalahan dan potensi yang ada sebenarnya, dimana melalui kegiatan seperti musyawarah kesiapan masyarakat, rapat RT atau RW. Sehingga disitu pemimpin masyarakat seperti RT dan RW menghimbau dan mengarahkan agar masyarakatnya diharapkan bisa hidup sehat dan mandiri.
Kecamatan Sukun, Kelurahan SukunRW 03 atau yang disebut dengan Kampung Terapi, yang merupakan kawasan perkampungan padat penduduk. Pada tahun 2001 pertama kalinya dibentuk BKM dan LPMK di Kelurahan Sukun, sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Malang nomor 18 tahun 2001 tentang pembentukan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) di Kota Malang yang dalam pertimbangannya bahwa, dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan dalam upaya memberdayakan Lembaga Kemasyarakatan di Kelurahan untuk lebih meningkatkan prakarsa dan swadaya sebagai perwujudan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, maka perlu membentuk Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) di seluruh Kelurahan Kota Malang.
kegiatan sesuai dengan kebutuhan riil dan permasalahan di lapangan dengan memperhatikan potensi yang ada. Bermula dari kegiatan seperti rembug kesiapan masyarakat, rapat RT atau RT dengan mengadakan kegiatan yang melibatkan masyarakat seperti gotong-royong dalam membersihkan lingkungan dari sampah, pengelolaan sampah sampai penghijauan sehingga diharapkan dari kegiatan ini supaya warga masyarakat RW 03 diharapkan dapat hidup sehat secara mandiri. Kemudian untuk pemasangan batu terapi di sepanjang jalan di RW 03 Kelurahan Sukun tersebut karena kebutuhan masyarakat akan kesehatan dan kebugaran tubuh dengan biaya yang sangat murah dan menghemat waktu, batu terapi merupakan sebuah pengobatan alternatif masyarakat RW 03 Kelurahan Sukun untuk mengurai simpul-simpul syaraf yang berada di kaki sehingga memperlancar peredaran darah, sehingga tidak hanya aspek kebersihan lingkungan namun juga aspek kesehatan masyarakat yang sangat diperhatikan. RW 03 juga menerapkan program pemberdayaan masyarakat dan juga pembangunan berkelanjutan untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan mandiri.
Terbentuknya LPMK yang kemudian diwujudkan pada tahun 2009 dengan dimulainya program penghijauan. Untuk mengawali program penghijauan tersebut para tokoh masyarakat di Kelurahan Sukun RW 03 mengajak semua elemen masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan berwawasan lingkungan tersebut guna mewujudkan program lingkungan yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Para tokoh masyarakat salah satunya Ketua RW pada saat itu menginginkan masyarakat Kampung Terapi dapat hidup sehat secara mandiri dan mewujudkan lingkungan yang hijau secara swadaya oleh masyarakat. Hasilnya pada tahun 2011 RW 03
Kampung Terapi Kelurahan Sukun dan Kecamatan Sukun tersebut meraih juara pada Lomba Green and Clean Kota Malang yang diadakan oleh Dinas Keamanan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang. Hal tersebut membuat masyarakat RW 03 semakin antusias dalam melakukan penghijauan dan membentuk pola hidup baru bagi sebagian masyarakat yaitu pola hidup bersih dengan kesadaran lingkungan yang tinggi.
Pembangunan berwawasan
lingkungan lingkungan untuk mencapai kehidupan yang bersih dan sehat bagi masyarakatnya ini semakin disempurnakan dari waktu ke waktu. Pemandangan yang sangat berbeda jika dibandingkan antara RW 03 Kelurahan Sukun dengan pusat Kota Malang, RW 03 yang bersih dari sampah, udara yang sejuk dan hijau merupakan pemandangan yang jarang ditemui di kota-kota besar saat ini. Wujud dari kepedulian masyarakat Kelurahan SukunRW 03 adalah bentuk dari pemberdayaan masyarakat yang berjalan dengan baik. Memberdayakan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat kita yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat (Kartasasmita, 1997). Pemberdayaan masyarakat juga tidak mungkin berjalan baik apabila kurangnya kesadaran pada masyarakatnya sendiri dan peran pemimpin masyarakat setempat untuk bekerjasama dalam pemberdayaan yang dilaksanakan. Maka dari itu, peneliti ingin mengetahui strategi-strategi yang dilakukan oleh pemimpin masyarakat
dalam mewujudkan program
Berdasarkan latar belakang diatas,
maka dilakukan penelitian
mengenai“Analisis Strategi
Pemberdayaan Masyarakat di
Kampung Terapi, Kelurahan SukunRW 03 Berbasis Sustainable Development”.
Melalui penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dan bahan evaluasi pelaksanaan bagi pihak pemangku kepentingan dan strategi yang diterapkan dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat serta lebih mengefektifitaskan program -program pemberdayaan yang berbasis lingkungan hidup.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui dan menganalisis strategi pemberdayaan masyarakat Kampung Terapi, Kelurahan SukunRW 03
dalam menumbuhkan kesadaran
lingkungan.
Metode Penelitian
Menggunakan metode penelitian ini menekankan pada penelitian kualitatif dengan mengumpukan data-data yang berasal dari hasil pengamatan di lapangan dan wawancara secara mendalam. Metode kualitatif dipilih karena mendeskripsikan secara mendalam fenomena kampung terapi di daerah Kelurahan Sukun. Selain itu, metode ini juga dapat mengungkapkan strategi pemberdayaan masyarakat yang digunakan dengan berbasis sustainable development.
PEMBAHASAN
Analisis Data
Strategi Pemberdayaan Masyarakat Kampung Terapi, Kecamatan Sukun Kelurahan Sukun RW 03 Kota Malang
dalam Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan.
1. Menciptakan iklim
Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi
masyarakat berkembang (enabling). Disini titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia memiliki potensi atau daya yang dapat dikembangkan. Potensi dan daya adalah salah satu strategi yang harus dimiliki untuk membangun masyarakat yang mandiri. Strategi pemberdayaan masyarakat melalui potensi dan daya sudah dimiliki RW 03 Kelurahan Sukun. RW 03 Kelurahan Sukun memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan seperti pemanfaatan sampah bekas, kerajinan tangan, kesenian, penghijauan, dan segala aktivitas yang berpotensi untuk menjadikan RW 03 Kelurahan Sukun sebagai kawasan hijau dan ramah lingkungan. Selain itu potensi yang dimiliki RW 03 juga mampu mengundang banyak pengunjung dari luar maupun dalam negeri yang ingin mengenal keindahan yang dimiliki kampung tersebut. Potensi yang dimiliki Kampung Terapi RW 03 tidak akan mampu berkembang apabila tidak diimbangi dengan daya kemampuan yang ada, masyarakat RW 03 yang memiliki daya dan kemampuan serta kemauan untuk berpartisipasi mengembangkan potensi yang ada juga menjadi salah satu faktor
keberhasilan pembangunan
lingkungan hijau di Kampung TerapiRW 03 Kelurahan Sukun.
Memperkuat daya
Memperkuat potensi atau daya
yang dimiliki masyarakat
banyak kegiatan peningkatan sumber daya yang ada. Seperti adanya upaya peningkatan SDM pada masyarakat RW 03 dengan melakukan program layak anak yang memberikan bekal pengetahuan dan juga les Bahasa inggris dan matematika untuk menunjang pendidikan agar lebih baik, selain itu pengadaan program tersebut sebagai bekal masa depan bagi generasi penerus agar mampu memasuki lapangan kerja yang luas. Tidak hanya memperkuat daya melaui pendidikan namun juga memperkuat daya melalui akses terhadap kemajuan pendapatan atau ekonomi, dimana RW 03 memanfaatkan komposter sebagai salah satu penunjang perekonomian di Kampung Terapi.
Pemberdayaan ini juga menyangkut pembangunan prasarana dan sarana dasar fisik seperti jalan setapak yang dipasang dengan batu terapi agar pejalan kaki dapat berjalan sekaligus terapi gratis, penerangan yang ada di RW 03 juga sudah dilakukan dengan baik apalagi dengan adanya CSR dari PLN yang membantu penerangan listrik, selain jalan dan penerangan juga ada pembangunan sarana dan prasarana secara sosial seperti fasilitas pendidikan yang dapat dijangkau oleh masyarakat pada lapisan paling bawah terutama pada anak – anak dengan adanya les gratis juga fasilitas kesehatan seperti Posyandu yang memiliki kegiatan rutin untuk lansia dengan mengadakan senam lansia, serta ketersediaan lembaga-lembaga pendanaan, pelatihan, dan pemasaran yang terkonsentrasi penduduk yang keberdayaanya sangat kurang. Kampong Terapi RW 03 memiliki banyak lembaga pendanaan yang menjadi salah satu modal untuk
membantu pembangunan segala sarana dan prasarana maupun kegiatan – kegiatan yang dilakukan, lebaga pendanaan yang dimiliki RW 03 seperti adanya CSR dari PLN, Bank Danamon, Decofresh, dan saat ini dengan bantuan dari MCW.
Melindungi
Pemberdayaan masyarakat bukan membuat masyarakat menjadi semakin tergantung pada berbagai program pemberia (charity) karena pada dasarnya setiap apa yang dinikmati harus dihasilkan atas usaha sendiri (yang hasilnya dapat dipertikarkan dengan pihak lain). Sehingga tujuan akhirnya adalah
memandirikan masyarakat,
memampukan, dan membangun kemampuan untuk memajukan diri ke arah kehidupan yang lebih baik secara berkesinambungan (Cholisin, 2011). Kampung Terapi RW 03 merupakan kampung mandiri bahkan sebelum adanya lembaga – lembaga yang membantu pendanaan melalui CSR. Untuk melindungi segala potensi dan daya yang dimiliki RW 03 sudah dilakukan dengan penerapan segala aturan dan kegiatan – kegiatan. Aturan dilarang merokok didalam rumah, aturan untuk tidak mengendarai motor saat memasuki kawasan RW 03, dan sturan melarang pemulung masuk, semuanya merupakan aturan yang tujuannya untuk melindungi potensi yang dimiliki Kampung Terapi, dengan aturan yang dijalankan tidak dalam bentuk normative namun aturan tersebut mampu menjadi bekal kemandirian dan pembelajaran sopan dan santun, serta pembelajaran akan kesadaran lingkungan.
2. Program Pembangunan
Kecamatan Sukun ini dimulai sejak tahun 2008 yang berawal dari seorang ketua RT yang bernama Dzainul Arifin yang sekarang menjadi ketua RW 03. Beliau merangkul segenap
elemen masyarakat, untuk
membangun lingkungan yang hijau dengan menerapkan berbagai strategi. Pada tahun 2011 ketika kampung tersebut akan mengikuti lomba green and clean di Kota Malang maka dibentuklah beberapa tim khusus untuk menangani lingkungan yaitu Kader Lingkungan Hidup RW 03 yang anggotanya diambil dari setiap RT berjumlah 3 orang yang dipilih secara swadaya oleh masyarakat yang dianggap mampu dan mau. Tim Kader Lingkungan ini bertugas sebagai fasilitator dari masyarakat terkait permasalahan lingkungan, sebagai wakil dari aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang akan disampaikan pada saat rapat setiap bulannya, mengadakan sosialisasi tentang cara pemilahan sampah kering dan basah, cara penggunaan komposter dengan baik. Selanjutnya kader lingkungan yang membentuk kesadaran sosial masyarakat akan lingkungan, hingga akhirnya pada tahun 2012 Kampung Terapi ini dinyatakan sebagai pemenang dalam kompetisi Green and Clean di Kota Malang dan sebagai kampung percontohan nasional. Setelah dinyatakan sebagai pemenang Pemerintah Kota Malang yaitu DKP mulai masuk memberikan bantuan berupa komposter sebanyak 48 tong komposter, yang dahulu hanya mempunyai 12 komposter. Kemudian terdapat juga CSR antara lain dari PLN, Bank Danamon, Decofresh dan sekarang dengan MCW, kebetulan ketua RW juga ikut MCW. Dahulu juga sempat dijadikan tempat
kunjungan oleh bapak menteri lingkungan hidup karena tertarik dengan program-program yang dilaksanakan di RW 03 ini terkait dari
sisi lingkungan dan
kemasyarakatannya.
Warga RW 03 senantiasa diajarkan untuk selalu menjaga lingkungan di sekitarnya agar bersih, indah dan sehat, seperti menanam bunga di setiap jengkal tanah di sekitar rumah, dan membersihkan saluran-saluran air, membersihkan selokan dan memilah sampah kering dan sampah basah. Pemilahan sampah dilakukan oleh warga setiap hari yaitu sampah kering dikumpulkan tersendiri dan sampah basah dimasukkan ke dalam komposter. Setiap bulan sampah kering warga akan diambil oleh kader lingkungan RW 03 untuk dipilah lagi menjadi sampah daur ulang sebagai bahan kerjainan dan sisanya akan dijual (rombeng atau mayeng) dan uang hasil penjualan sampah dikelola oleh kader lingkungan hidup untuk pembelian bunga, pupuk, pot, dan lain-lain.
Partisipasi, keterlibatan secara aktif dan kerjasama oleh seluruh elemen masyarakat dalam pembangunan sangat dibutuhkan guna tercapainya program ini.
3. Strategi Gotong Royong
Pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan hidup di Kecamatan Sukun ini dimulai sejak tahun 2008 yang berawal dari seorang ketua RT yang bernama Dzainul Arifin yang sekarang menjadi ketua RW 03. Beliau merangkul segenap
elemen masyarakat, untuk
membangun lingkungan yang hijau dengan menerapkan berbagai strategi. Salah satu strategi yang paling terlihat adalah gotong royong kerja bakti, kerjasama dan kebersamaan dalam menanam tanaman hias dan memilah sampah sebagainya. Semula gagasan ini banyak menimbulkan pertentangan di masyarakat, namun karena dalam pengelolaannya melibatkan seluruh elemen masyarakat program ini dapat diterima oleh masyarakat namun belum secara menyeluruh.
Dalam strategi gotong royong, melihat masyarakat sebagai sistem sosial. Artinya masyarakat terdiri atas bagian-bagian yang saling kerjasama untuk mewujudkan tujuan bersama. Gotong-royong dipercaya dapat menunjukkan bahwa adanya perubahan-perubahan masyarakat yang diwujudkan melalui partisipasi luas segenap komponen dalam masyarakat. Prosedur dalam gotong-royong bersifat demokratis, dilakukan atas kekuatan sendiri dan kesukarelaan.
4. Strategi Pembangunan Teknikal-Profesional
Dalam memecahkan berbagai masalah kelompok masyarakat dengan cara mengembangkan norma, peranan, prosedur baru untuk
menghadapi situasi baru yang selalu berubah. Dalam strategi ini peranan agen – agen pembaharuan sangat penting. Peran yang dilakukan agen pembaharuan terutama dalam menentukan program pembangunan, menyediakan pelayanan yang diperlukan, dan menentukan tindakan yang diperlukan dalam merealisasikan program pembangunan tersebut. Agen pembaharuan merupakan kelompok kerja yang terdiri atas beberapa warga masyarakat yang terpilih dan dipercaya untuk menemukan cara – cara yang lebih kreatif sehingga hambatan –hambatan dalam pelaksanaan program pembangunan dapat diminimalisir.
Agen pembaharuan ini telah dimiliki RW 03 Kelurahan Sukun seperti adanya Tim Kader Lingkungan yang pada setiap RT terdapat 3 perwakilan dengan tujuan untuk menyelesaikan, mengatasi permasalahan yang dihadapi di lingkungan masyarakat. Kader lingkungan yang dipilih secara swadaya oleh masyarakat setempat mampu mewujudkan strategi pengembangan lingkungan dan
mampu membantu dalam
pemberdayaan masyarakat khususnya pada RT 02 Kelurahan Sukun. Dengan adanya sinergitas antara aktor – aktor pemberdayaan masyarakat di Kelurahan Sukun RW 03 tersebut telah menunjukkan peranan masing – masing aktor dalam mencapai tujuan. Kader lingkungan salah satu aktor yang lebih dekat dengan masyarakat sehingga proses pemberdayaan mampu berjalan lebih efektif. Sebagai upaya mewujudkan masyarakat yang mandiri dalam pemberdayaan berbasis lingkungan, peran agen
lingkungan di setiap RT sangat penting.
5. Strategi Konflik
Dalam strategi ini menekankan pada menciptakan kerukunan antar masyarakat, dengan karakter individu yang berbeda-beda, menganjurkan perlunya mengorganisir seluruh
elemen masyarakat untuk
menyalurkan aspirasi mereka secara demokratis. Perubahan pada struktur organisasi dan peraturan harus berdasarkan dengan keputusan bersama dengan masyarakat.
Tantangan mewujudkan
pembangunan lingkungan
berkelanjutan berbasis masyarakat adalah memerlukan pemberdayaan masyarakat yang sungguh-sungguh dilakukan oleh masyarakat sebagai subjek pembangunan secara partisipatif.
Mampu menyatukan berbagai macam perbedaan karakteristik di masyarakat merupakan strategi yang dilakukan dalam pemberdayaan masyarakat di RW 03 Kelurahan Sukun guna menciptakan suasana yang rukun dan mau membaur, bekerjasama dalam mewujudkan lingkungan yang sehat ditunjang dengan sisi kemasyarakatan yang baik adalah kelebihan dari RW 03, Seperti yang dilakukan di Kampung Terapi yang mempunyai masyarakat yang dengan beragam latar belakang pendidikan, ekonomi dan status sosial, sehari-harinya warga RW 03 senantiasa hidup rukun dan saling menghormati segala perbedaan yang ada sehingga konflik horizontal sangat minim terjadi, sifat warga yang sangat menonjol adalah sifat gotong royongnya sangat tinggi, hal tesebut dapat dibuktikan ketika ada suatu kegiatan seperti kerja bakti maka
warga secara serentak akan berpartisipasi.
6. Strategi Perubahan Kultural
Menekankan pada perubahan tingkat subyektif individu, mulai dari perubahan nilai-nilai pribadi menuju gaya hidup baru yang manusiawi. Yaitu gaya hidup cinta kasih terhadap sesama dan partisipasi penuh komunitas orang lain. Dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan di RW 03 Kampung Terapi Kelurahan Sukun, tentunya terdapat banyak kendala-kendala di masyarakat namun kendala-kendala tersebut dapat diatasi dengan strategi-strategi yang dilaksanakan oleh segenap RT, RW dan Kader Lingkungan. Salah satu strategi yang diterapkan dalam RW 03 ini adalah strategi perubahan kultural. Hasil dari strategi ini dapat dilihat dengan tumbuhnya kesadaran sosial di masyarakat akan lingkungan serta
tertib dalam menjalankan
regulasi/peraturan yang disetujui bersama tersebut.
Pada RW 03 Kampung Terapi Kelurahan Sukun juga diterapkan strategi perubahan kultural untuk menunjang pengembangan dan pengelolaan lingkungan. Strategi yang diterapkan ini bertujuan untuk
meningkatkan peran serta
keterlibatan, partisipasi penuh dalam segala program dan kegiatan yang diadakan dan dilaksanakan dalam pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan tersebut. Hasil dari strategi ini dapat dilihat dengan tumbuhnya kesadaran sosial di masyarakat akan lingkungan serta
tertib dalam menjalankan
Pola pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan Kampung TerapiRW 03 Kelurahan Sukun
Pola pemberdayaan masyarakat diperlukan untuk menggambarkan strategi pemberdayaan masyarakat sehingga dapat dijadikan percontohan bagi kampung atau RW lain. Penjelasan dari analisis data yang diuraikan diatas dapat digambarkan sdengan ebuah pola pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Terapi RW 03 Kelurahan Sukun sebagai berikut :
Gambar 5: Pola Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Lingkungan Kampung Terapi RW 03 Kelurahan Sukun
Sumber: Olahan Penulis, 2014
Proses pemberdayaan adalah transformasi sebuah gagasan sehingga dilakukan secara luas oleh masyarakat. Pola pemberdayaan masyarakat di Kampung Terapi terjadi proses transformasi gagasan dari tokoh yang menginisiasi yaitu ketua RT/RW . Para tokoh masyarakat yang memiliki gagasan
melakukan intervensi kepada masyarakat. Terdapat hal unik dari proses intervensi yang dilakukan oleh tokoh masyarakat. Cara yang dilakukan oleh tokoh masyarakat adalah memberi contoh sehingga membuat sungkan. Dampak yang jelas terjadi adalah tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan. Tumbuhnya kesadaran ini menjadi terlembaga dengan baik karena tokoh masyarakat menjadi fasilitator yang baik.
Masyarakat yang sudah memiliki kesadaran lingkungan diorganisir untuk
melaksanakan program-program
lingkungan yang sebagaimana ditulis pada diagram di atas. Program lingkungan yang dilaksanakan berbasis pada pembangunan berkelanjutan. Tidak hanya memperhatikan kelestarian lingkungan namun juga
memperhatikan masalah sosial,
kebudayaan dan ekonomi.Strategi berikutnya yang dilakukan adalah, proses pembentukan struktural aktor masyarakat untuk melaksanakan program. Karena program lingkungan yang dilakukan semakin banyak dan memiliki kompleksitas tinggi maka dari itu dibentuk kader lingkungan. Tugas yang diemban oleh kader lingkungan selain mengatur program lingkungan adalah menyelesaikan konflik atau permasalahan yang terjadi.
Output yang ingin dicapai dari pemberdayaan ini adalah terjadinya transformasi kesadaran masyarakat untuk mengelola lingkungan hidup, baik biotik maupun abiotik yang lebih baik. hal ini sudah tercapai dengan baik karena masyarakat sudah berdaya dalam mengembangkan lingkungan. Walaupun perlu beberapa hal yang perlu diperbaiki utamanya pemberdayaan lingkungan yang memiliki dampak income ekonomi. Karena dalam pembangunan berkelanjutan hal yang perlu diperhatikan pula adalah pertumbuhan ekonomi masyarakat.
BAB V. PENUTUP Kesimpulan
Strategi pemberdayaan masyarakat dalam konsep pembangunan lingkungan di RW 03 Kampung Terapi, Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang antara lain menciptakan iklim, memperkuat daya dan melindungi, para tokoh masyarakat dalam hal ini RW , RT tidak henti-hentinya mengajak masyarakat untuk mau membangun lingkungan yang sehat dan hijau, meskipun pada awalnya sulit dan masyarakat banyak yang acuh seiring berjalannya waktu masyarakat dapat berpartisipasi sekaligus mendukung penuh kegiatan kampung hijau, untuk menunjang terciptanya pembangunan lingkungan yang efektif maka, para tokoh masyarakat RW 03 membuat strategi program pembangunan, pada awalnya hanya penanaman tanaman hias dan toga serta pemilahan sampah kemudian selanjutnya pembangunan batu terapi dan saat ini kawasan ramah anak, strategi yang secara nyata terlihat oleh partisipasi masyarakat adalah strategi gotong royong, kebersamaan dan kerukunan yang dilakukan secara swadaya, strategi pembangunan Teknikal-Profesional yang dibentuk oleh segenap RW 03 adalah agen pembaharuan seperti tim Kader Lingkungan yang berjalan efektif untuk
melayani permasalahan masyarakat terkait lingkungan, strategi perubahan kultural berhasil dicapai dengan sebagian besar masyarakat mempunyai pola hidup baru yaitu senantiasa menjaga kebersihan, peduli lingkungan dan mematuhi peraturan yang ada.
Secara keseluruhan strategi pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan lingkungan yang telah diterapkan di RW 03 telah berjalan dengan baik dibuktikan dengan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan atau program yang dilaksanakan, dan dengan mematuhi peraturan yang telah dibuat seperti dilarang merokok di rumah, dilarang menaiki sepeda di dalam lingkungan namun terdapat beberapa orang yang masih melanggar aturan yang telah dibuat tersebut. Namun pembangunan yang dilaksanakan telah sesuai dengan visi misi RW 03 Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Hal tersebut tidak terlepas dari peran serta segenap tokoh masyarakat seperti RT, RW, Karang Taruna, Kader Lingkungan dalam membentuk kesadaran masyarakat serta partisipasi masyarakat sehingga program pembangunan lingkungan hijau tersebut dapat tercapai dengan baik.
Saran
1. Untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti terkait masalah modal sosial yang ada di Kampung Terapi, 2. Lakukan branding dan marketing
Kampung Terapi agar mampu dikenal dan dapat menjadi percontohan untuk kampung atau RW lain,
Daftar Pustaka
Cholisin. 2011. Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta : UNY Kartasasmita, Ginandjar. 1997.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT: Konsep
Pembangunan Yang Berakar Pada Masyarakat. Sarasehan DPD GOLKAR Tk. I Jawa Timur Surabaya, 14 Maret 1997. Peraturan Daerah Kota Malang
Nomor 7 Tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang tahun 2001 – 2011 Peraturan Daerah Kota Malang Nomor
4 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang Tahun 2010 – 2030
Silalahi, Daud. 2003. Pembangunan Berkelanjutan Dalam Rangka Pengelolaan (Termasuk
Perlindungan) Sumber Daya Alam Yang Berbasis
Pembangunan Sosial Dan
Ekonomi. Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII. Denpasar, 14-18 Juli 2003.