• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Ilmu Ekonomi ANALISIS PENGEMBANGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jurnal Ilmu Ekonomi ANALISIS PENGEMBANGA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

43 - Volume 1, No. 1, Februari 2013

ANALISIS PENGEMBANGAN KAWASAN ANDALAN

DI KABUPATEN ACEH BESAR

Mursidah1, Abubakar Hamzah2, Sofyan2 1)

Magister Ilmu Ekonomi Program Pascasarjana Universitas Syiah Kuala 2)

Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Abstract: The purpose of this study is to look at the suitability of Aceh Besar economy with the criteria imposed on this key area. The methods used in this study are Typology Klassen analysis, Gravity analysis, analysis of Location Quotient, Shift Share, and Geographic Information System (GIS). The data used is the value of GDP, GDP per capita, population, and distance between districts/cities. As a comparison drawn region bordering the Aceh Besar district of Banda Aceh, Sabang, Aceh Jaya and Pidie.The results of typology klassen analysis indicate that Aceh Besar district is one of the areas that are fast-growing. Based on gravity analysis, the areas that are in the order of the greater gravity index as Aceh Besar are the city of Banda Aceh, Pidie District, the city of Sabang, and Aceh Jaya District. Furthermore, the results of Location quotient analysis shows that the base sectors (where LQ>1) include agriculture, construction, trade, hotels and restaurants, transportation and communications, financial services, real estate and business services, and the services sector. Shift Share method shows that the sectors that possess competitive values include mining, manufacturing, electricity, gas and clean water supply, construction and trade, hotels and restaurants, and the services sector (value of rij>rin). The Shift Share method also shows a positive shift towards all sectors with the positive value of Dij. The analysis therefore suggest that Aceh Besar District is suitable to become a key area with the criteria of fast-growing, having reliable interaction with other regions around it, and governing many sectors that contain export value and the potential to be the leading sectors. Policy implications are intensification and extensification of agriculture, and to make Aceh Besar district as the area of industry and trade sector development.

Keywords: Key Area, Typology klassen, Regional Interaction, Location Quotient, Shift Share, Geographic Information System

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat kesesuaian perekonomian Kabupaten Aceh Besar dengan kriteria kawasan andalan yang telah ditetapkan. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode analisis tipologi klassen, analisis gravitasi, analisis location quotient, shift share, dan analisis sistem informasi geografis (SIG). Data yang digunakan adalah nilai PDRB, PDRB Perkapita, jumlah penduduk, dan jarak antar kabupaten/kota. Sebagai pembanding diambil wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar yaitu Kota Banda Aceh, Kota Sabang, Kabupaten Aceh Jaya dan Kabupaten Pidie.Hasil analisis tipologi klassen menunjukkan Kabupaten Aceh Besar masuk dalam kategori daerah cepat maju dan cepat tumbuh. Berdasarkan analisis gravitasi, dari urutan indeks gravitasi paling besar dengan Kabupaten Aceh Besar adalah Kota Banda Aceh Kabupaten Pidie, Kota Sabang dan Kabupaten Aceh Jaya. Hasil analisis location quotient menunjukkan sektor basis (LQ>1) adalah sektor pertanian, sektor konstruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan, dan sektor jasa-jasa. Analisis dengan metode shift share menunjukkan bahwa sektor yang mempunyai nilai kompetitif adalah sektor pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih, konstruksi dan perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa (nilai rij>rin) dan menunjukkan pergeseran yang positif terhadap semua sektor ditunjukkan dengan nilai Dij yang positif. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa Kabupaten Aceh Besar sesuai menjadi kawasan andalan dengan kriteria cepat tumbuh dan cepat maju, mempunyai interaksi wilayah dengan wilayah sekitarnya dan terdapat sektor yang mempunyai nilai ekspor dan menjadi sektor unggulan. Implikasi kebijakan yang diharapkan adalah intensifikasi dan ekstensifikasi sektor pertanian, dan menjadikan Kabupaten Aceh Besar sebagai wilayah pengembangan industri dan perdagangan.

(2)

Volume 1, No. 1, Februari 2013 - 44

PENDAHULUAN

Penetapan otonomi daerah dimana daerah harus bisa mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan daerahnya dan kepentingan masyarakat.Hal ini mempengaruhi pembangunan daerah dimana daerah harus bisa melihat potensi wilayahnya agar dapat dikembangkan untuk bisa mensejahterakan masyarakat. Salah satu upaya untuk menjabarkan kebijaksanaan pembangunan ekonomi di tingkat daerah adalah dengan membuat suatu kawasan andalan yang berorientasi untuk mengembangkan potensi daerah.

Menurut Royat dalam Kuncoro (2002:28) kawasan andalan merupakan kawasan yang ditetapkan sebagai penggerak perekonomian wilayah, yang memiliki kriteria sebagai kawasan yang cepat tumbuh dibandingkan lokasi lainnya dalam suatu propinsi atau kabupaten, memiliki sektor basis dan memiliki keterkaitan ekonomi dengan daerah sekitar.

Kawasan Andalan, menurut PP No.47 Tahun 1997 pasal 7 tentang RTRWN, merupakan kawasan-kawasan yang dipilih dari kawasan budidaya yang dapat berperan mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan di sekitarnya, serta dapat mewujudkan pemerataan pemanfaatan ruang di wilayah Nasional. Pertumbuhan kawasan andalan diharapkan dapat memberikan imbas positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah sekitar atau daerah dibelakangnya (hinterland), melalui

pembudayaan sektor atau subsektor basis sebagai penggerak perekonomian daerah dan keterkaitan ekonomi antar daerah. Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2008 dalam Lampiran IX telah menetapkan bahwa Banda Aceh dan sekitarnya merupakan salah satu kawasan andalan dengan sektor unggulan dibidang pertanian, perikanan laut (sub sektor pertanian), pariwisata, dan industri di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Peraturan tersebut kemudian dijabarkan di dalam Draft Rencana Tata Ruang dan Wilayah Aceh (RTRWA) dengan menetapkan Kawasan Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar dan Kota Sabang sebagai Wilayah Pengembangan Kawasan Andalan Banda Aceh Raya (Bab 5 Draft RTRWA).

Secara geografis Kabupaten Aceh Besar terletak pada 503’1,2” - 5045’9,007” Lintang Utara dan 95055’43,6” - 94059’50,13” Bujur Timur. Secara administrasi, Kabupaten memiliki batas wilayah yaitu di sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka, Kota Banda Aceh, dan Kota Sabang; sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Aceh Jaya; sebelah Timur dengan Kabupaten Pidie; dan sebelah Barat dengan Samudera Hindia. Ibukota Kabupaten Aceh Besar terletak di Kota Jantho yang berjarak lebih kurang 50 km sebelah timur Kota Banda Aceh.

(3)

45 - Volume 1, No. 1, Februari 2013 yang cukup memadai seperti: Jalan Nasional Arteri Primer Banda Aceh – Medan serta Jalan Kolektor Primer Banda Aceh – Meulaboh. Disamping itu, didukung juga dengan prasarana transportasi Bandar Udara Iskandar Muda di Blang Bintang, Pelabuhan Malahayati di Krueng Raya. Disisi lain Kabupaten Aceh Besar berbatasan langsung dengan Kota Banda Aceh, yang menyebabkan Kabupaten Aceh Besar sebagai penyangga dari Kota Banda Aceh, diantaranya dalam kebutuhan perumahan. Perkembangan perekonomian Kabupaten Aceh Besar cukup baik.Hal ini ditunjukkan dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan laju pertumbuhan PDRB yang tinggi dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Propinsi Aceh. Perkembangan dan Laju Pertumbuhan PDRB di tingkat propinsi untuk 3 (tiga) tahun terakhir masuk dalam urutan ke tiga, yaitu rata-rata sebesar 5,69 persen.

Secara sektoral, kontribusi terbesar terhadap perekonomianAceh Besar adalah sektor pertanian. Pada periode2001-2010, pertaniantetapmenjadi leading sector di Aceh Besar, namun laju pertumbuhannya relatif kecil dan kontribusinya terus menurun. Sektor jasa-jasa menyusul diurutan kedua dengan kontribusi sebesar 21,91 persen pada tahun 2007 dan menurun pada tahun 2010 menjadi 20,69 persen terhadap PDRB Kabupaten Aceh Besar. Diurutan ketiga di sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran yang mana dari tahun ke tahun terus meningkat.

Penetapan kawasan andalan tersebut

merupakan suatu kebijakan pemerintah yang sangat efektif untuk mengembangkan potensi sumber daya ekonomi daerah.Tetapi terkadang dalam pelaksanaan di daerah, konsep pengembangan kawasan andalan tidak secara efektif dilaksanakan, sehingga tidak dapat diukur keberhasilannya.

KAJIAN KEPUSTAKAAN

Teori Pembangunan Ekonomi

Pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang menyebabkan kenaikan pendapatan riil perkapita penduduk suatu negara dalam jangka panjang yang disertai oleh perbaikan kelembagaan (Arsyad, 1999). Pembangunan menurut Schumpeter dalam Jhingan (2007) adalah perubahan spontan dan terputus-putus dalam keadaan stasioner yang senantiasa mengubah dan mengganti situasi keseimbangan yang ada sebelumnya. Menurut Profesor Bonne dalam Jhingan (2007) bahwa pembangunan memerlukan dan melibatkan semacam pengarahan, pengaturan, dan pedoman dalam rangka menciptakan kekuatan-kekuatan bagi perluasan dan pemeliharaan.

(4)

Volume 1, No. 1, Februari 2013 - 46 dalam periode jangka panjang.

Teori Pertumbuhan Ekonomi

Istilah pembangunan ekonomi digunakan secara bergantian dengan istilah pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan ekonomi dan perubahan jangka panjang. Ursula Hicks dan Schumpeter dalam Jhingan (2007) membedakan pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi mengacu pada masalah yang dihadapi negara sedang berkembang, sedangkan pertumbuhan ekonomi mengacu pada masalah negara maju.Masalah negara berkembang menyangkut pengembangan sumber-sumber yang tidak atau belum digunakan, kendati penggunaannya telah cukup dikenal.Sedangkan negara maju terkait dengan pertumbuhan.Hal ini terkait dengan keberadaan sumber-sumber ekonomi yang ada telah digunakan pada batas tertentu.

Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik seperti Thomas Robert Malthus, Adam Smith, David Ricardo dan John Stuart Mill, ada 4 faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yaitu jumlah penduduk, jumlah stok barang-barang modal, luas tanah dan kekayaan alam serta tingkat teknologi yang digunakan (Sukirno, 2006). Menurut Simon Kuznets dalam Jhingan (2007)bahwa pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan kemampuan suatu negara (daerah) untuk menyediakan barang-barang ekonomi bagi penduduknya, yang terwujud dengan adanya kenaikan output nasional secara terus menerus yang disertai dengan kemajuan teknologi serta adanya

penyesuaian kelembagaan, sikap dan ideologi yang dibutuhkan.

Teori Wilayah

Wilayah menurut kamus didefinisikan sebagai ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administrasi dan atau aspek fungsionalnya (UU no. 24 tahun 1992 pasal 1). Jayadinata (2000) mengemukakan wilayah dari sudut geografi merupakan kesatuan alam yang homogen dengan masyarakat serta kebudayaannya yang serba sama serta mempunyai ciri yang khas.

Wilayah pengembangan adalah

pewilayahan untuk tujuan

pengembangan/pembangunan.Tujuan-tujuan pembangunan terkait dengan lima kata kunci, yaitu pertumbuhan, penguatan keterkaitan, keberimbangan, kemandiriandan keberlanjutan.Konsep keruangan dapat dilihat berdasarkan beberapa aspek diantaranya yaitu berdasarkan wilayah, jarak, lokasi, skala, dan batas ambang atau jangkauan pelayanan (Glasson dalam Tarigan, 2007).

Teori Pertumbuhan Ekonomi Untuk Pengembangan Wilayah

(5)

47 - Volume 1, No. 1, Februari 2013 sangat berbeda: mengadaptasi model-model ekonomi makro yang digunakan dalam teori pertumbuhan agragatif (dan varian-varian regional khusus seperti teori basis ekspor) atau menafsirkan pertumbuhan suatu daerah menurut dinamikanya struktur industri (seperti teori Shift Share).

Teori basis ekonomi (economic base theory) yang dikemukakan oleh Harry W.

Richardson dalam Arsyad (1999) menyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan barang dan jasa dari luar daerah. Glasson dalam Tarigan (2007) mengemukakan konsep dasar basis ekonomi membagi perekonomian menjadi dua sektor yaitu:

a. Sektor-sektor basis adalah sektor-sektor yang mengekspor barang-barang dan jasa ke tempat di luar batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan.

b. Sektor-sektor Bukan Basis adalah sektor-sektor yang menjadikan barang-barang yang dibutuhkan oleh orang yang bertempat tinggal di dalam batas perekonomian masyarakat bersangkutan dan bersifat lokal.

Teori Pertumbuhan Jalur Cepat yang Disinergikan

Teori pertumbuhan jalur cepat diperkenalkan oleh Samuelson (1955). Setiap negara/wilayah perlu melihat sektor/komoditi apa yang memiliki potensi besar dan dapat dikembangkan dengan cepat, baik karena potensi alam maupun karena sektor itu

memiliki competitive advantage untuk dikembangkan. Mensinergikan sektor-sektor adalah membuat sektor-sektor saling terkait dan saling mendukung. Sehingga pertumbuhan sektor yang satu mendorong pertumbuhan sektor yang lain, begitu juga sebaliknya, sehingga perekonomian akan tumbuh cepat (Tarigan, 2007).

Teori Basis Ekonomi

Teori basis ekonomi menyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan akan barang dan jasa dari luar daerah. Strategi pembangunan daerah yang muncul yang didasarkan pada teori ini adalah penekanan terhadap arti penting bantuan kepada dunia usaha yang mempunyai pasar secara nasional maupun intemasional (Arsyad,1999).

Teori Pusat Pertumbuhan (Growth Pole Teory)

(6)

Volume 1, No. 1, Februari 2013 - 48 berbagai macam usaha tertarik untuk berlokasi

di situ dan masyarakat senang datang memanfaatkan fasilitas yang ada di kota tersebut, walaupun kemungkinan tidak ada interaksi antara usaha-usaha tersebut. (Adisasmita, 2005).

Teori Model Gravitasi

Model gravitasi adalah model yang paling banyak digunakan untuk melihat besarnya daya tarik suatu potensi yang berada pada suatu lokasi.Model ini sering digunakan untuk melihat kaitan potensi suatu lokasi dan besarnya wilayah pengaruh dari potensi tersebut.Model ini dikenalkan oleh Carey dan Ravenstein pada abad ke 19.

Teori Model Sistem Informasi Geografis Menurut Kuncoro, (2012), Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah jenis khusus sistem informasi yang memperhatikan representasi dan manipulasi realita geografi. SIG mentransformasikan data menjadi informasi dengan mengintegrasikan sejumlah data yang berbeda, menerapkan analisis fokus, dan menyajikan output untuk mendukung pengambilan keputusan (Juppenplatz dan Tian, 1996:Bab I, dalam Kuncoro, 2012). Salah satu trend utama dalam paradigma ilmu ekonomi regional dalam perkotaan yang disebut geografi ekonomi baru (Kuncoro, 2012).

Kemampuan SIG dalam penyimpanan, analisis, pemetaan, dan pembuatan model mendorong aplikasi yang luas dalam berbagai disiplin ilmu dari tekhnologi informasi hingga sosial-ekonomi ataupun analisis yang berkaitan

dengan populasi (Martin, 1996, dalam Kuncoro, 2012).Beberapa prosedur standar dalam merancang dan menggunakan SIG yaitu pengumpulan data, pengolahan data awal, konsruksi basis data, analisis dan kajian spasial, serta penyajian grafis (Kuncoro, 2012).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini berlokasi di Kabupaten Aceh Besar dengan memusatkan pembahasan mengenai pengembangan kawasan andalan di Kabupaten Aceh Besar.Data yang digunakan adalah data PDRB, PDRB perkapita, jarak antar kabupaten/kota dan jumlah penduduk.Data PDRB, PDRB perkapita dan data penduduk dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010.

Penelitian ini menggunakan pembanding dengan kabupaten dan kota yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Aceh Besar yaitu Propinsi Aceh sebagai daerah referensi, Kota Banda Aceh, Kota Sabang, Kabupaten Pidie dan Kabupaten Aceh Jaya. Metode yang digunakan bersifat metode deskriptif kuantitatif, yaitu suatu metode penelitian dengan menggunakan fakta-fakta yang ada.

Metode Analisis

(7)

49 - Volume 1, No. 1, Februari 2013 Tujuan kedua adalah untuk mengidentifikasi sektor unggulan dengan metode analisis Location Quotient dan Shift Share.Alat analisis

lainnya yang digunakan untuk mendukung dan memperkuat alat analisis sebelumnya adalah metode Sistem Informasi Geografis (SIG).

HASIL PEMBAHASAN

Hasil Analisis Tipologi Klassen

Alat analisis Tipologi Klassen digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi masing-masing daerah.Tipologi Klassen membagi daerah berdasarkan dua indikator utama, yaitu pertumbuhan ekonomi daerah dan pendapatan per kapita daerah. Dengan menentukan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebagai sumbu vertikal dan rata-rata pendapatan per kapita sebagai sumbu horizontal, daerah yang diamati dapat dibagi dibagi menjadi empat klasifikasi, yaitu: daerah cepat-maju dan cepat-tumbuh (high growth and high income), daerah maju tapi

tertekan (high income but low growth), daerah berkembang cepat (high growth but low income), dan daerah relatif tertinggal (low

growth and low income) (Kuncoro, 2002).

Perkembangan PDRB perkapita dan pertumbuhan PDRB, serta nilai rata-rata PDRB perkapita dan rata-rata pertumbuhan PDRB Kabupaten Aceh Besar selama periode pengamatan dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 adalah sebesar Rp. 7.036.717,23. Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Aceh Besar mempunyai pendapatan perkapita lebih besar dari pada Provinsi Aceh yang bernilai

rata-rata Rp. 6.194.426,32.

Laju pertumbuhan PDRB juga menunjukkan hal yang sama, dimana laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Aceh Besar adalah 7,83 persen dan lebih besar dari laju pertumbuhan PDRB di Propinsi Aceh dengan rata-rata sebesar 5,23 persen.

PDRB Perkapita dan laju pertumbuhan PDRB dimasukkan dalam matriks Tipologi Klassen.Berdasarkan matriks Tipologi Klassen menghasilkan Kabupaten Aceh Besar masuk ke daerah cepat berkembang dan cepat tumbuh (Gambar 2).

(8)

Volume 1, No. 1, Februari 2013 - 50

Gambar 1. Posisi Pertumbuhan Ekonomi

Berdasarkan Matriks Tipologi Klassen

Ketersediaan prasarana dan sarana dan letak geografis Kabupaten Aceh Besar yang strategis menjadikan perekonomian Kabupaten Aceh Besar terus meningkat. Hal ini menjadi pendorong untuk mempercepat proses perkembangan wilayah dan ekonomi menjadi cepat tumbuh dan cepat berkembang.

HasilAnalisis Model Gravitasi

Analisis Model Gravitasi bertujuan untuk melihat interaksi perekonomian antar daerah sekitarnya.Dalam melakukan perhitungan gravitasi, asumsi jarak yang digunakan diukur berdasarkan citra satelit google earth, dari jarak jalan yang menghubungkan Kabupaten Aceh Besar dengan kota/kabupaten yang berbatasan. Asumsi fasilitas jalan diasumsikan sama untuk mempermudah perhitungan sehingga diasumsikan tidak ada faktor hambatan pada analisis gravitasi ini.

Kabupaten Aceh Besar yang berbatasan di sebelah utara dengan Kota Banda Aceh dan Kota Sabang yang masing-masing berjarak antara Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda

Aceh sepanjang 33 km dan dengan Kota Sabang sepanjang 80,5 km. Diantara kedua kota tersebut yang paling besar interaksinya adalah dengan Kota Banda Aceh. Interaksi antar Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 semakin meningkat. Interaksi yang besar dan semakin meningkat menunjukkan adanya mobilitas sumber-sumber ekonomi seperti arus tenaga kerja kedua daerah ke Kabupaten Aceh Besar atau sebaliknya.

Kabupaten yang berbatasan langsung yang juga mempunyai interaksi gravitasi kuat adalah Kabupaten Pidie.Hal ini menandakan adanya keeratan hubungan arus lalu lintas barang, jasa dan mobilitas penduduk yang tinggi antar kedua daerah.Kabupaten Pidie yang memasarkan produknya ke Banda Aceh dan keluar Provinsi Aceh masuk melalui Kabupaten Aceh Besar terlebih dahulu. Transportasi laut yang ada di Kabupaten Aceh Besar dapat ditempuh dalam jarak yang lebih singkat melalui ruas jalan Krueng Raya – Batas Kabupaten Pidie dengan panjang ruas jalan 35,09 Km.

(9)

51 - Volume 1, No. 1, Februari 2013 Kabupaten Aceh Jaya yang mempunyai interaksi yang paling kecil dibandingkan dengan dengan kabupaten/kota lainnya. Mobilitas barang, jasa dan manusia antar kedua daerah ini terhalang dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Pemerintah telah merencanakan pembangunan jalan nasional yang langsung ke Lamno (ibukota Aceh Jaya) dan Jantho (ibukota Aceh Besar) tetapi hal ini terhalang dengan adanya kawasan lindung disekitar jalan tersebut. Keadaaan topografi antar Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Aceh Jaya yang melewati perbukitan dan berliku membuat mobilitas antar kedua daerah menjadi kecil. Indeks Gravitasi ini dapat dilihat dalam Gambar 2.

Gambar 2. Peta Analisis Gravitasi Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Aceh Jaya dan Kota Sabang

Hasil Analisis Location Quotient (LQ)

Analisis basis ekonomi (LQ) bertujuan untuk mengetahui suatu sektor telah dapat memenuhi kebutuhan wilayah itu sendiri (subsistem), kurang atau justru lebih/surplus. Sektor yang surplus ini adalah sektor yang dikatakan sebagai sektor basis dan

memilikipotensi ekspor.

Kriteria pengukuran LQ menurut Bendavid-Val dalam Kuncoro, 2002, yaitu: subsektor dengan nilai LQ>1 berarti subsektor tersebut merupakan subsektor unggulan didaerah dan potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian daerah. Apabila LQ<1 berarti subsektor tersebut bukan merupakan sub sektor unggulan dan kurang potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian.

Analisis LQ dilakukan dengan membandingkan sektor/subsektor di suatu wilayah terhadap lingkup yang lebih luas, dalam analisis ini dilakukan dengan membandingkan sektor-sektor/subsektor PDRB Kabupaten Aceh Besar terhadap nilai PDRB Provinsi Aceh. Tahun pengamatan dilakukan selama 5 (lima) tahun yaitu dari tahun 2006 sampai tahun 2010.

Hasil analisis LQ pada Tabel 2 menunjukkan nilai LQ rata-rata>1 ada di sektor pertanian, sektor konstruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan, dan sektor jasa-jasa.Sektor-sektor tersebut menjadi sektor unggulan dan potensial serta mempunyai nilai ekspor untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Kabupaten Aceh Besar.

Tabel 1. Nilai LQ Sektoral Kabupaten Aceh Besar Dari Tahun 2006-2010

LAPANGAN USAHA

Nilai LQ

2006 2007 2008 2009 2010

Pertanian 1,53 1,28 1,14 1,00 0,94

Pertambangan

(10)

Volume 1, No. 1, Februari 2013 - 52

Sumber : Hasil diolah, 2012

Berdasarkan tahun pengamatan dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 ada sektor-sektor yang mengalami penurunan nilai LQ.Sektor-sektor tersebut menjadi sektor basis dan memiliki nilai ekspor dalam pengembangan produksinya.Sektor pertanian yang menurun secara signifikan. Pada tahun 2006 sektor pertanian mempunyai nilai LQ sebesar 1,53, tetapi pada tahun 2010 sudah berkurang menjadi 0,94. Untuk tahun terakhir sektor pertanian mulai menjadi sektor non basis.Walaupun penurunannya tidak terlalu besar tetapi patut dicermati kembali untuk meningkatkan kembali nilai ekspor di sektor pertanian.

Penurunan nilai produksi di sektor pertanian kemungkinan disebabkan adanya konversi lahan tanaman pangan, dari lahan sawah menjadi tempat pemukiman dan lahan tidak produktif akibat bencana tsunami. Subsektor tanaman pangan, dengan luas lahan pertanian dengan lahan basah menurut pencitraan satelit SPOT 5 tahun 2009 (Materi

Kenaikan distribusi terhadap PDRB Aceh Besar adalah sektor konstruksi, yaitu sebesar 10,42 persen pada tahun 2006 naik menjadi 15,84 persen pada tahun 2010. Ini menandakan banyaknya kegiatan pembangunan sarana dan prasarana pendukung perekonomian di Kabupaten Aceh Besar. Sektor perdagangan, hotel dan restoran juga mengalami kenaikan produksi. Sektor perdagangan yang merupakan daerah lintasan untuk wilayah pesisir timur dan pesisir barat menjadi faktor berkembangnya perdagangan di Kabupaten Aceh Besar. Hal ini terlihat dengan pesatnya gerakan arus mobilitas barang dan jasa baik melalui transportasi udara, laut maupun darat.

Sektor yang mempunyai nilai LQ<1 adalah sektor pertambangan/galian, listrik, gas dan air bersih, dan industri pengolahan, dimana dari tahun 2006 sampai tahun 2010 tetap bernilai LQ<1 sehingga sektor tersebut menjadi sektor non basis dan dalam kinerjanya masih memerlukan impor dari daerah sekitarnya.

(11)

53 - Volume 1, No. 1, Februari 2013 real estate dan jasa perusahaan, dan sektor jasa-jasa.

Hasil Analisis Shift Share

Analisis shift share bertujuan untuk menentukan kinerja atau produktifitas kerja

perekonomian daerah dengan

membandingkannya dengan daerah yang lebih besar (regional atau nasional). Dalam hal ini kinerja atau produktifitas kerja perekonomian Kabupaten Aceh Besar dibandingkan dengan Propinsi Aceh.Teknik analisis shift share membagi pertumbuhan sebagai perubahan (D) suatu variabel wilayah, seperti pendapatan atau output selama kurun waktu tertentu menjadi pengaruh pertumbuhan nasional (N), industri mix/bauran industri (M), dan keunggulan

kompetitif (C).

Hasil perhitungan (Tabel 3) sektor-sektor pembentuk PDRB di Kabupaten Aceh Besar tahun 2006-2010 dipengaruhi oleh beberapa komponen. Pengaruh komponen pertumbuhan PDRB Propinsi Aceh (Nij) terhadap Kabupaten Aceh Besar yang paling besar terdapat mempunyai efek positif dalam memberikan konstribusi PDRB. Pengaruh pertumbuhan Propinsi Aceh yang paling kecil terdapat pada sektor listrik, gas dan air bersih, .

Pengaruh komponen bauran industri (Mij) mempunyai efek negatif atau penurunan terhadap sektor yang sama di tingkat Propinsi Aceh. Sektor-sektor tersebut adalah sektor pertanian, pertambangan dan penggalian , industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, hotel dan restoran. Sedangkan sektor listrik, gas

dan air bersih, pengangkutan dan komunikasi, keuangan dan jasa-jasa berpengaruh positif dengan bauran industri atau terjadi kenaikan pada sektor yang sama di tingkat Propinsi Aceh. Secara keseluruhan komponen bauran industri memberikan memberi pengaruh negatif terhadap peningkatan PDRB Kabupaten Aceh Besar.

Kabupaten Aceh Besar berspesialisasi pada sektor ekonomi yang tumbuh lebih cepat dan mempunyai daya saing yang meningkat dibandingkan dengan sektor yang sama di Provinsi Aceh dimana ditunjukkan pada nilai komponen (rij>rin). Sektor tersebut menjadi sektor yang mempunyai keunggulan kompetitif dibandingkan sektor yang sama di Propinsi Aceh adalah pada sektor pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih, konstruksi dan perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa.

Berdasarkan perhitungan Dijyang diperoleh menunjukkan pergeseran yang positif terhadap semua sektor. Berdasarkan perhitungan, Kabupaten Aceh Besar berspesialisasi pada sektor ekonomi yang tumbuh lebih cepat dan mempunyai daya saing yang meningkat dibandingkan dengan sektor yang sama di Provinsi Aceh yang ditunjukkan pada nilai komponen Dij>0.

Tabel 2. Hasil Perhitungan Analisis Shift Share Kabupaten Aceh Besar Tahun 2006-2010

Lapangan Usaha Nij Mij Cij Dij

Pertanian + - - +

Pertambangan dan

Penggalian + - + +

Industri Pengolahan + - + +

Listrik, Gas dan Air

(12)

Volume 1, No. 1, Februari 2013 - 54

Lapangan Usaha Nij Mij Cij Dij

Konstruksi + - + +

Perdagangan, Hotel

dan Restoran + - + +

Pengangkutan dan

Komunikasi + + - +

Keuangan, R. Estate

& Js. Prshn + + + +

Jasa-jasa + + + +

Sumber: Hasil diolah, 2012

Hasil Analisis Sistem Informasi Geografis Analisis Sistem Informasi Geografis pada penelitian ini menghasilkan Peta Kesesuaian Kabupaten Aceh Besar Sebagai Kawasan Andalan di Propinsi Aceh.Hasil dari analisis tipologi klassen dan analisis gravitasi dibuat dalam bentuk peta tematik yang kemudian digabungkan (overlay) sehingga didapatkan suatu informasi secara terpadu, lengkap dan keruangan (spasial). Output dari analisis ini adalah dengan menggunakan software ArcGIS 9.3.Hasil dari gabungan analisis tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Hasil analisis Tipologi Klassen menunjukkan Kabupaten Aceh Besar masuk

Gambar 3. Peta Kesesuaian Kabupaten Aceh Besar

Sebagai Kawasan Andalan Di Provinsi

Aceh

Untuk sektor basis berdasarkan analisis Location Qoutient menunjukkan sektor basis

secara keseluruhan di Kabupaten Aceh Besar

adalah sektor konstruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan, dan sektor jasa-jasa dengan nilai LQ>1. Sektor non basis ada di sektor pertanian, pertambangan/galian, listrik, gas dan air bersih, dan industri pengolahan dengan nilai LQ<1. Sektor yang mempunyai keunggulan kompetitif berdasarkan hasil analisis shift share menunjukkan sektor yang mempunyai keunggulan kompetitif di Kabupaten Aceh Besar adalah sektor dengan nilai Dij yang positif terdapat disemua sektor.

Hasil analisis sistem informasi geografis gravitasi diperoleh bahwa Kabupaten Aceh Besar sesuai untuk kawasan andalan dengan kriteria cepat tumbuh dan cepat maju serta menpunyai interaksi antar wilayah.

KESIMPULAN

(13)

55 - Volume 1, No. 1, Februari 2013 dan agrowisata sebagai formulasi kebijakan untuk meningkatkanpertumbuhan pada sektor-sektor basis pertanian.

Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Besar perlu menarik investor-investor untuk menanam modal di sektor pariwisata, pertanian, perdagangan, hotel dan restoran dan industri pengolahan karena sektor tersebut sangat potensial dalam pengembangan ke depan dengan kekayaan sumber daya yang dimiliki di sektor tersebut.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Adisasmita, R., 2005.Dasar-dasar Ekonomi Wilayah. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Jayadinata, J.T., 2000.Pembangunan Desa Dalam Perencanaan. Bandung: ITB.

Jhingan, M.L., 2007.Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Kuncoro, M., 2002. Evaluasi Penetapan Kawasan Andalan: Studi empiris di Kalimantan selatan 1993-1999, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 17, No.1, 2002. Kuncoro, M., 2003.Ekonomi Pembangunan, Teori,

Masalah dan Kebijakan. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

Kuncoro, M., 2012.Perencanaan Daerah, Bagaimana Membangun Ekonomi Lokal, Kota dan Kawasan. Jakarta: Salemba

Empat.

Muchlisin, Z.A., 2012.Pemetaan Potensi Daerah Untuk Pengembangan Kawasan Minapolitan Di Beberapa Lokasi Dalam Provinsi Aceh: suatu kajian awal.Jurnal Depik Vol. 1, No.1, 68-77/April 2012. Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 Tentang

Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.Pemerintah Republik Indonesia. Richardson, 2001.Dasar-dasar Ilmu Ekonomi

Regional. Jakarta: FEUI.

Ridwan, 2009.Dampak Integrasi Ekonomi Terhadap Investasi di Kawasan ASEAN : Analisis Model Gravitasi, Jurnal Organisasi dan Manajemen.Vol.5, No.2, 95-107/September 2009.

Rustiadi, et., al., 2006.Perencanaan dan Pengembangan Wilayah.Fakultas Pertanian. Bogor: IPB.

Sugiyanto, 2010.Penelitian Pengembangan Pusat-Pusat Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Lamandau.Jurnal Mitra Ekonomi dan Manajemen Bisnis.Vol.1, No. 2, 202-215/Oktober 2010.

Sukirno, S., 2007.Ekonomi Pembangunan, Proses, Masalah, dan Dasar Kebijakan. Edisi Kedua. Jakarta: Kencana Prenada Media. Tarigan, R., 2007.Ekonomi Regional, Teori dan

Aplikasi. Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara.

Gambar

Gambar 1. Posisi
Gambar 2. Peta Analisis Gravitasi Kabupaten Aceh
Tabel 2. Hasil Perhitungan Analisis Shift Share
Gambar 3. Peta Kesesuaian Kabupaten Aceh Besar

Referensi

Dokumen terkait

efek yang positif terhadap pembelajaran bahasa Inggris, terutama dalam mempelajari kosakata, selanjutnya peneliti meneliti respon siswa terhadap penggunaan teknik

Pada awal berdirinya masjid ini diberi nama Jami’ul Kahhirah (Kairo) karena mengambil nama tempat universitas tersebut didirikan, Belakangan, namanya diubah menjadi

Membimbing pendidik dan tenaga kependidikan PAUD dalam memanfaatkan hasil penilaian kinerja untuk peningkatan mutu pembelajaran.. Mengevaluasi kinerja satuan pendidikan PAUD

Hasil uji regresi diperoleh bahwa setiap kenaikan sebesar satu satuan akan berpengaruh pada peningkatan produktivitas kerja karyawan Kebun Wisata Pasir Mukti, secara berurut dari

Hasil penelitian menyarankan: (1) perlu adanya kegiatan pelatihan motivasi untuk peternak, agar peternak memahami usahaternak yang mereka lakukan memiliki nilai ekonomi

Bambu yang bertumbuh dengan liar dan sangat banyak di Indonesia memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, oleh karena itu masyarakat Indonesia, khususnya

Walau pada masa kekinian terdapat kompleksitas dan perbedaan baik dari segi bentuk, format dan aplikasinya, adalah penting untuk melihat berbagai dimensi nilai (prinsip)

9 Ridho Alamanda Bahasa Prancis Juara 2 lomba pidato dalam rangka Pekan Frankofoni yang diadakan oleh Jurusan Bahasa Prancis Universitas Negeri Jakarta bekerja sama dengan