RINGKASAN TULISAN DALAM BUKU
Pesawat tanpa awak merupakan salah satu teknologi canggih yang ada di dunia militer. Unmanned Aircraft System, atau pesawat tanpa awak. Perkembangan teknologi dalam persanjataan perang ini dilakukan atas dasar asas kepentingan militer “military doctrine” yang artinya setiap Negara diperbolehkan untuk menggunakan senjata untuk menundukkan lawan. Pesawat tanpa awak ini dinilai sebagai pengembangan paling maju yang mampu melakukan serangan secara akurat dan efisien. Dengan adanya teknologi ini dianggap dapat mengurangi keterlibatan tentara militer di medan perang yang akan melindungi angkatan bersenjata dari bahaya konflik dan menghindari jatuhnya korban yang berlebihan dari angkatan bersenjata. Namun faktanya hingga saat ini belum ada peraturan yang mengatur pelarangan penggunaan pesawat tanpa awak. Sehingga dalam menggunakan pesawat tanpa awak, prinsip proporsionalitas merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan.
Dalam penggunaan pesawat tanpa awak, sudah menjadi suatu kewajiban bahwa penggunaannya harus sejalan dengan prinsip ini. Terlebih lagi bahwa prinsip ini telah menjadi hukum kebiasaan internasional. Dalam hal ini, proporsionalitas memiliki kesamaan dengan 'keseimbangan', sehingga dalam prinsip ini harus terjadi keseimbangan antara prinsip kepentingan militer, prinsip kemanusiaan, dan prinsip kesatriaan. Melalui prinsip ini, pengguna pesawat tanpa awak tidak bisa menggunakan teknologi tersebut dengan sesuka hati tanpa adanya pembatasan. Dengan kata lain, pesawat tanpa awak harus digunakan secara proporsional. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban dari pihak sipil.
Selain itu kepada setiap negara yang menggunakan pesawat tanpa awak, negara-negara tersebut diharuskan tetap menghormati kaidah dan hukum yang berlaku didalam Hukum
1 Heriyanto, Dodik S.N., “Penerapan Prinsip Proporsionalitas terhadap Penggunaan Pesawat Tanpa Awak dalam Konflik Bersenjata”, dalam Denny Ramdhani, et. al, Konteks dan Perspektif Politik Terkait Hukum Humaniter Internasional Kontemporer, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2015, hlm.211-224.
Humaniter Internasional dan Konvensi-konvensi yang ada. Hal tersebut dilakukan demi menghindari jatuhnya korban yang berlebihan dan dalam membangan teknologi persenjataan setiap Negara tetap harus memperhatikan kewajibannya mengenai pembatasan dalam penggunaan senjata baru, atau alat-alat baru atau cara peperangan agar hal tersebut tidak melanggar hukum internasional yang berlaku. Seperti yang diatur dalam pasal 36 Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa tetang Perlindungan Korban-Korban Pertikaian Bersenjata Internasional Tahun 1977.
Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya, bahwa negara pengguna pesawat tanpa awak tidak boleh secara langsung dan sengaja menyerang penduduk sipil maupun orang-orang yang dilindungi menurut hukum humaniter internasional. Bahwa negara harus tetap secara lamgsung mengendalikan pesawat tanpa awak ini dalam penggunaannya. Hal tersebut untuk menghindari penyerangan tanpa bisa membedakan target sasaran militer. Penggunaannya juga tidak boleh bertentangan dengan hukum humaniter dan melanggar hukum humaniter yaitu dengan tetap memperhatikan juss ad bellum dan jus in bello.
DAFTAR PUSTAKA
Heriyanto, Dodik S.N., “Penerapan Prinsip Proporsionalitas terhadap Penggunaan Pesawat Tanpa Awak dalam Konflik Bersenjata”, dalam Denny Ramdhani, et. al, Konteks dan Perspektif Politik Terkait Hukum Humaniter Internasional Kontemporer,