• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN FISIKA EKSPERIMENTAL II PENGUKUR (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN FISIKA EKSPERIMENTAL II PENGUKUR (1)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

FISIKA EKSPERIMENTAL II

Percobaan R-3: PENGUKURAN SPEKTRUM DIFERENSIAL DENGAN SCA

Pelaksanaan Praktikum

Hari : Senin Tanggal : 15 September 2014 Jam : 14.50-16.40

Oleh:

IMROATUL MAGHFIROH

NIM: 081211331125

Anggota Kelompok:

1. Dewi Karmila Sari NIM : 081211333003 2. Hanu Lutvia NIM : 081211331144 3. Mei Budi Utami NIM : 081211332009 4. Muh. Patria Mahardhika NIM : 081211333026

33

Dosen pembimbing : 1. Drs. R. Arif Wibowo, M.Si. 2. Drs. Khusnul Ain, MT

LABORATORIUM FISIKA RADIASI

UNIVERSITAS AIRLANGGA

(2)

PERCOBAAN R.3

PENGUKURAN SPEKTRUM DIFERENSIAL DENGAN SCA

A. TUJUAN

1. Menentukan spektrum diferensial energi α dengan menggunakan sca

detektor semikonduktor

2. Menghitung resolusi energi α

B. ALAT DAN BAHAN

1. Detektor semikonduktor (559 92)

2. Discriminator preamplifier (559 93)

3. SCA (Single Channel Analyser/ 559 95) yang termasuk di dalamnya:

a. Preamplifier

b. Amplifier

c. DAC (Digital to analog converter)

d. Diskriminator

4. XY-YT recorder (575 662)

5. Sumber radiasi-α Ra-226 dan Am-241

C. DASAR TEORI

Pengukuran spectrum energi diferensial dilakukan dengan mengukur

jumlah partikel yang berada dalam interval energi tertentu, yang hal ini

akan sama dengan mengukur jumlah pulsa yang berada dalam interval

tertentu. Hal ini dapat diperoleh dengan cara mengoperasikan SCA sebagai

mode differensial.

SCA mempunyai satu salur pencacahan yang dibatasi oleh suatu

ambang batas dan ambang bawah yang jarak antara ambang tadi bisa diatur

dan disebut dengan cendela (window). Hanya pulsa-pulsa yang mempeunyai

tiggi amplitudonya berada di dlaam cendela saja yang akan diteruskan

menuju alat pencaca, sedangkan semua pulsa yang tingginya di luar cendela

tidak akan tercacah.

Jika batas SCA diset pada V1 (atau E1) dan jendela memiliki lebar

(atau ) maka hanya pulsa dengan tinggi antara V1 dan V1+ yang

(3)

Resolusi energi

Unjuk kerja detector yang digunakan untuk pengukuran energi

ditentukan oleh lebar distribusi pulsa sumber energi tunggal, yang

ditunjukkan oleh Γ atau FWHM (full With half maximum). Kemampuan detector untuk mengidentifikasi partikel dengan energi yang berbeda disebut

resolusi energi yang dinyatakan dalam,

Γ (1)

Dengan Γ dalam suatu energi, sedang R(Eo) dalam persen. Ada tiga factor

penting yang mempengaruhi resolusi energi :

1. Fluktuasi statistic dalam sejumlah muatan yang dihasilkan dalam detector

2. Derau elektronik dalam detektor, preamplifier dan amplifier

3. Tidak lengkapnya muatan yang dihasilkan dalam detector

FWHM (Full Width at Half Maximum)

FWHM atau Full Width at Half Maximum merupakan lebar “peak”

energi pada setangah energi puncaknya. Resolusi energi radiasi alfa

merupakan kemampuan sistem spektrometer energi radiasi untuk

memisahkan antar energi radiasi. Hal ini sangat penting karena dapat

memberikan informasi seberapa valid informasi energi radiasi yang muncul

dalam spektrum radiasi yang dihasilkan.

D. PROSEDUR PERCOBAAN

I. Demonstrasi Distribusi Energi Dengan Osiloskop

1. Susun peralatan percobaan sesuai dengan gambar

2. Hidupkan SCA selama 5 menit sebelum eksperimen dimulai

3. Letakkan potensiometer untuk integral diskriminator pada skala tengah

4. Periksa setting peralatan yang digunakan seperti berikut ini :

(4)

Switch (e) : reset

Base potensiometer : 0,00

Window potensiometer : 30%

5. Amati spektrum energi-α (distribusi energi) yang terlihat pada

osiloskop.

II.Perekaman Spektrum Energi Dengan XY-Recorder

1. Periksalah rangkaian percobaan, apakah sudah seperti pada gambar

2. Buatlah sumbu x : 0,1 V/cm, dan sumbu Y : V/cm

3. Sebelum menggunakan pena XY recorder, saklar (s) di start dan amati

bentuk puncak-puncak dan lebar spectrum

4. Berkaitan dengan tinggi dan lebar puncak spectrum berikut ini perlu

diperhatikan :

 Spektrum terlalu lebar : kecilkan amplifikasi

 Spektrum terlalu sempit : perbesar amplifikasi  Puncak terlalu tinggi : kurangi lebar window  Puncak terlalu rendah : perbesar lebar window

5. Ambil sumber 241AM dan amati spektrumnya. Hitung resolusinya dan

cari konstanta yang menghubungkan antara energi dan tinggi pulsa

6. Ganti sumber dengan yang lain (minta asisten pembimbing), cari

tegangan puncak spectrum yang dihasilkan, tentukan energi spectrum-α

(5)

III. DATA HASIL EKSPERIMEN

A. Data Spektrum Energi-α-Am-241

(6)

370 101 84 82 86 77 430

B. Data Spektrum Energi -α-Ra-226

No.Kanal Cacah 1 Cacah 2 Cacah 3 Cacah 4 Cacah 5 Jumlah

0 12376 12541 12480 12329 12408 62134

10 8426 8712 8748 8761 8685 43332

20 4670 4356 4287 4358 4078 21749

(7)
(8)
(9)

860 14 7 5 5 11 42

870 11 8 9 5 12 45

880 12 8 8 16 4 48

890 8 10 8 11 14 51

900 8 8 14 4 4 38

910 10 7 5 9 7 38

920 3 8 4 6 6 27

930 8 9 5 5 2 29

940 4 9 9 7 4 33

950 3 12 9 9 11 44

960 10 8 5 5 6 34

970 7 7 7 7 7 35

980 9 7 5 6 5 32

990 4 6 3 2 8 23

1000 7 5 10 12 5 39

Keterangan:

Tabel dengan berwarna hijau tersebut merupakan nilai nomor kanal (dari

(10)

C. ANALISIS DATA

Terlampir

D. PEMBAHASAN

Kali ini telah dilakukan percobaan pengukuran spektrum diferensial

dengan SCA. SCA (Single Channel Analyser) yang digunakan ialah SCA 559

95 terdiri dari preamplifier, amplifier, DAC (Digital to Analog Converter),

dan diskriminator. Pada eksperimen ini, awal mula semua peralatan disusun

seperti berikut ini:

Susunan Peralatan Eksperimen R.3

Setelah menyusun peralatan dengan benar selanjutnya

mengoperasikan peralatan sesuai dengan prosedur. Pada prinsipnya,

pengukuran spektrum energi diferensial ini dilakukan dengan mengukur

jumlah partikel yang berada dalam interval energi ΔE tertentu atau mengukur

jumlah pulsa yang berada dalam interval ΔV tertentu, dan hal tersebut dapat diperoleh dengan cara mengoperasikan SCA sebagai mode diferensial.

Pada eksperimen ini, digunakan pula detektor semikonduktor yang

memiliki kelebihan dibandingkan dengan detektor lainnya, detektor ini

memiliki resolusi yang baik karena mampu memisahkan energi dari partikel

yang menghasilkan polyenergetik. Selain itu juga mampu memberikan respon

yang linier dimana kenaikan energi sebanding dengan pancaran radiasi yang

diterima serta memiliki range yang lebar. Efisien yang tinggi juga perlu

diperhitungkan karena bahan penyusun detektor memiliki kerapatan yang

tinggi sehingga memungkinkan untuk membuat hasil spektrum yang mudah

dianalisis. Waktu timbul pulsa detektor semikonduktor ini cepat dan dapat

beroperasi pada daerah vacum dan tentunya tidak terpengaruh terhadap medan

(11)

Partikel α pada dasarnya terdiri dari 2 proton dan 2 neutron atau identik dengan inti helium. Partikel ini sangat masifdan berenergi tinggi serta

dipancarkan dari inti isotop radioaktif yang memiliki rasio neutron terhadap

proton yang terlalu rendah. Secara spontan inti akan meluruh menjadi atom

helium atau patikel α. Pada eksperimen ini digunakan radioaktif Am-241

sebagai kalibrator atau pembanding dan radioaktif Ra-226 yang akan dicari

energi partikel α dari hasil peluruhannya.

Berdasarkan kekekalan muatan dan nucleon peluruhan α memenuhi

reaksi yang dinyatakan oleh :

dengan T adalah inti turunan dan I adalah inti induk. Sedangkan untuk

peluruhan radioaktif 226Ra menjadi 210Po dalam eksperimen ini dapat

partikel α yang masing-masing partikel α memiliki besar energi partikel yang berbeda. Pada grafik antara jumlah cacahan dan nomor kanal pada eksperimen

ini, terlihat spektrum energinya memiliki 5 puncak yang menunjukkan

besarnya energi yang dihasilkan partikel α tersebut selama meluruh. Salah satu tujuan eksperimen ini adalah untuk menentukan energy dari partikel α Ra-226

dengan menggunakan Am-241 sebagai kalibrator yang memiliki spektrum

monoenergetik radiasi α sebesar 5,6 MeV. Besarnya energi partikel puncak

pada spektrum energi peluruhan Ra-226 menjadi Po-210 didapatkan dengan

menganalisis spektrum energi Am-241. Puncak energi partikel α pada

peluruhan Am-241 terjadi pada kanal 370, sehingga dapat diketahui bahwa 1

kanal mewakili besarnya energi yang dipancarkan partikel α sebesar

.

(12)

Maka, dapat ditentukan energi partikel α dari masing-masing

peluruhan, dan jika dibandingkan dengan energi partikel α tiap inti pada

literatur, terdapat persentase kesalahan sebagai berikut:

Inti Energi (MeV) % kesalahan

Selain menentukan spektrum diferensial energi partikel α, eksperimen

ini juga bertujuan untuk menghitung resolusi energi partikel α dari Am-241.

Resolusi energi ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus ,

dengan dalam satuan energi, dan

dalam persen. FWHM ini merupakan lebar „peak‟ energi pada setengah energi puncaknya (dapat dilihat pada lampiran). Setelah melakukan analisis

data, maka diketahui nilai resolusi energi partikel α pada eksperimen ini ialah

sebesar 50,89%.

E. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pembahasan serta analisis data yang telah dilakukan,

maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Pada peluruhan 226Ra menjadi 210Po menghasilkan 5 buah partikel α yang

masing-masing partikel α memiliki besar energi yang berbeda dan

ditunjukkan dengan 5 puncak energi pada spektrum energinya.

2. Resolusi energi α yang diperoleh sebesar 50,89%

3. Energi partikel α pada tiap puncak dihasilkan sebagai berikut:

(13)

Saran-saran yang dapat diberikan, sebagai berikut:

1. Hendaknya menggunakan peralatan-peralatan eksperimen yang masih

dapat berfungsi dengan baik, sehingga didapatkan data hasil eksperimen

yang sesuai dan mendekati kebenaran

2. Diperlukannya penelitian lanjutan dengan memperbanyak variabel–

variabel penelitian agar memperoleh banyak variasi data sehingga dapat

menambah nilai kemanfaatannya.

F. DAFTAR PUSTAKA

Krane,keneth.1992.Modern Physics. John WileySons,inc.,.Jakarta:Penerbit

Universitas Indonesia (UI-Press).

Leybold.1998.General Cataloque of Physics Experiments.Federal Republik

of Germany:Technical alterations reserved.

Setiawati, Heni. 2009. Rancang Bangun Single Channel Analyser Pada

Spektrometer Radiasi Nuklir.

Tipler, Paul A dan Ralph A.Liewellyn.1933.Modern Physics, Fourth Edition.

New York

_______________.2011. Modul Eksperimental Radiasi. Surabaya: Fakultas

(14)

ANALISIS DATA

PENGUKURAN SPEKTRUM DIFERENSIAL DENGAN SCA

A.Sumber Radiasi α-Am-241

Berdasarkan data eksperimen yang diperoleh, maka didapatkan grafik

(15)

Diketahui dari literature, energi untuk Am-241 adalah 5,6 MeV dan diketahui

pula dari grafik di atas, nilai cacahan terbanyak ialah pada nomor kanal 370.

Maka,

Sehingga, dapat ditentukan:

Dengan

Maka, resolusi energi α-Am-241 adalah:

(16)

B.Sumber Radiasi α-Ra-226

Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa:

(17)

Sehingga, energi radiasi α dapat dicari sebagai berikut:

(18)

Jika, hasil energi partikel alfa yang telah diperoleh ini dibandingkan dengan

hasil pada literatur,maka terdapat persentase kesalahan sebagai berikut:

| |

| |

| |

| |

| |

| |

Gambar

Tabel dengan berwarna hijau tersebut merupakan nilai nomor kanal (dari 210-360) untuk energi partikel α Ra-226 ; Po-210 ; Rn-222 ; Po-218 ; Po-214
Grafik Energi α-Am-241
GRAFIK ENERGI α-Ra-226

Referensi

Dokumen terkait

Teori yang digunakan yaitu bahasa ragam jual beli, pragmatik dalam teori pregmatik terdiri dari pengertian pragmatik dan aspek-aspek situasi tutur, dalam

Gambar 1.14 Diagram Persentase Persepsi Pelatih Terhadap SDM Berdasarkan diagram persentase persepsi pelatih di atas maka sumber daya manusia (SDM) yang ada di Akademi

Pada pengembangan sumber daya pengajar dari sisi pendidikan formal pembina al-Qur’an ada yang masih berada pada tingkatan Diploma III atau Aliyah tetapi tidak dapat dilanjutkan

Pemohon dalam permohonan a quo menyatakan bahwa keberadaan ketentuan Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), dan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004

Melanoma Maligna merupakan jenis kanker kulit yang paling ganas, dapat menyebar kebagian tubuh lainnya seperti kelenjar limfa.Penyebab yang timbul adalah factor

Program bantuan pemagangan siswa MA di Dunia Usaha/Dunia Industri (DU/DI) tahun anggaran 2011 merupakan kelanjutan dari program bantuan serupa yang telah mulai dilaksanakan pada

Kebijakan luar negeri adalah sikap dan langkah Pemerintah Republik Indonesia yang diambil dalam melakukan hubungan dengan negara lain, organisasi internasional, dan subyek

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan nikmat, petunjuk, dan kemudahan yang telah diberikan-Nya sehingga penulis dapat