• Tidak ada hasil yang ditemukan

SELFIE ditinjau dari TEORI INTERAKSI SIM (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SELFIE ditinjau dari TEORI INTERAKSI SIM (1)"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

“KECEMASAN SOSIAL DAN PERILAKU

AGRESIF PELAKU SELFIE”

Ditinjau dari

TEORI INTERAKSI SIMBOLIK

Berdasarkan Penelitian George Herbert Mead

Nama

: Ade Wahyu Tysna

NIM

: 51114003

Kelas

: R3 Komunikasi

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat ALLAH SWT karena atas karunia-Nya lah, kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya. Tugas makalah yang berjudul “ KECEMASAN SOSIAL DAN PERILAKU AGRESIF PELAKU SELFIE” yang ditinjau dari Teori Interaksi Simbolik, dimana tugas ini merupakan tugas UAS dari aspek penilaian mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi.

Di kesempatan kali ini pula kami ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini serta dosen pembimbing mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi yaitu ibu NANIEK AFRILLA FRAMANIK, S.SOS. , M.SI. Harapan kami, kiranya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk dijadikan sebagai bahan referensi dalam mempelajari bahasan ini.

Akhir kata, tak ada gading yang tak retak. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami dengan senang hati akan menerima kritik dan saran yang membangun.

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……… i

DAFTAR ISI………... ii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG……… 1

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH………. 3

1.3 TUJUAN PENELITIAN……… 3

1.4 MANFAAT PENELITIAN……… 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI……….. 4

2.2 TEORI INTERAKSI SIMBOLIK………. 5

2.3 KONSEP-KONSEP……… 7

2.3.1 PENGERTIAN SELFIE……….. 7

2.3.2 KECEMASAN SOSIAL………. 7

2.3.3 PERILAKU AGRESIF………... 8

BAB III PEMBAHASAN 3.1 DAMPAK AKIBAT FOTO SELFIE……….. 9

3.2 MENGATASI KEBIASAAN PELAKU SELFIE……….. 11

3.3 TANGGAPAN TERHADAP PELAKU SELFIE………... 12

BAB IV PENUTUP 4.1 KESIMPULAN……… 15

4.2 SARAN……… 15

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Fenomena selfie merupakan salah satu fenomena yang menjadi topik pembicaraan utama pada tahun 2013 bahkan sampai saat ini. Sedemikian fenomenalnya, sehingga Oxford Dictionaries pun mempopulerkan selfie sebagai Word of the Year. Selfie adalah foto hasil memotret diri sendiri, biasanya dengan smartphone atau webcam, lalu diunggah ke media sosial. Jenis media sosial yang digunakan untuk mengunggah selfie seperti facebook, twitter, dan instagram.

Saat ini selfie semakin banyak mengundang perhatian dari berbagai profesi khususnya para psikolog. Para psikolog biasanya menilai bahwa selfie memang sesuatu yang wajar, namun jika sudah menyebabkan kecanduan akan menjadi hal yang perlu mendapat perhatian dan pengawasan lebih terhadap diri sendiri maupun orang terdekat. Selfie sebenarnya tidak dimaksudkan untuk hal-hal yang negatif, karena hanya sekadar ingin menunjukan dirinya pada publik melalui sosial media. Bukan masalah yang besar ketika seseorang melakukan selfie lalu mengirim ke sosial media, bahkan bisa dikatakan banyak orang bisa melakukan hal tersebut. Namun, yang membuat prihatin adalah jika dampak dari selfie itu sendiri merugikan bagi orang yang melakukannya dan orang lain.

(5)

diunggah, kemudian pada twitter untuk variasi respon seperti retweet, reply, favorite pada sesuatu yang sudah diunggah, kemudian pada instagram juga variasi respon yang diberikan seperti love dan komentar. Komentar merupakan salah satu bentuk respon dalam dunia maya terhadap virtual sharing yang sudah diberikan, dimana komentar tersebut tidak dapat dikendalikan oleh yang bersangkutan.

Komentar yang muncul di dunia maya bisa berupa komentar positif, negatif, dan netral. Ketika komentar negatif yang muncul maka hal tersebut bisa memicu munculnya perilaku agresif. Perilaku agresi merupakan tindakan melukai yang disengaja oleh seseorang terhadap orang lain yang targetnya sebenarnya tidak mau untuk disakiti (Sarwono & Meinarno, 2009). Tindak agresi yang dilakukan bukan hanya terjadi secara insidental atau musiman, melainkan sudah menjadi kebiasaan, bahkan terencana.

Bentuk-bentuk agresi dibagi menjadi dua (Myers, 2012), yaitu agresi langsung (direct aggression) yang melibatkan adanya interaksi wajah ke wajah sehingga pelaku mudah mengidentifikasi korbannya. Selanjutnya ada agresi tidak langsung (indirect aggression) yang tidak bisa diidentifikasi identitasnya oleh target agresi. Perilaku agresif yang terjadi karena adanya provokasi sehingga memicu agresi tidak langsung secara verbal misalnya seperti memberikan komentar yang negatif. Komentar negatif yang muncul merupakan salah satu bentuk dari provokasi.

(6)

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH

1. Apa dampak akibat foto selfie?

2. Bagaimana cara mengatasi kebiasaan pelaku selfie? 3. Bagaimana tanggapan tentang pelaku selfie?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk mengetahui dampak positif dan negatif akibat foto selfie 2. Untuk mengetahui cara mengatasi kebiasaan foto selfie

3. Untuk mengetahui tanggapan/kritikan akan fenomena foto selfie

1.4 MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi bagi ilmu komunikasi dan dapat memberikan konstribusi dalam mengembangkan ilmu komunikasi, khususnya dalam penerapan teori komunikasi interpersonal, yaitu teori interaksionisme simbolik dalam komunikasi.

2. Manfaat Praktis

(7)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI

Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang (Wiryanto, 2004).

Jurgen Ruesch dan Gregory Beteson ( dalam Lawrence dan Salman, 1997:49) mengatakan demikian “komunikasi antar pribadi ditandai oleh adanya tindakan pengungkapan oleh seseorang pengamatan secara sadar ataupun tidak terhadap tindakan yang dilakukan oleh pihak lain, dan kemudian melakukan kembali bahwa tindakan yang pertama sudah diamatai oleh pihak lain. Kesadaran akan pengamatan merupakan kejadian yang mengisyaratkan terciptanya jalinan antar-pribadi.

Berdasarkan uraian di atas, maka komunikasi antar pribadi dapat didefinisikan sebagai proses hubungan yang tercipta, tumbuh dan berkembang antara individu yang satu (sebagai komunikator) dengan individu lain (sebagai komunikan) dengan gayanya sendiri menyampaikan pesan kepada yang lain (komunikan), sedangkan yang satu (komunikan) dengan gayanya sendiri menerima pesan dari sumber (komunikator). Dengan gaya, kedinamisan, kesadaran dan hubungan yang akrab dari masing-masing pihak maka komunikasi itu terus tumbuh dan berkembang hingga dicapai persepsi dan tujuan bersama.

Selanjutnya, terdapat beberapa definisi komunikasi antarpribadi menurut beberapa ahli lain, diantaranya adalah:

a. Menurut Joseph A.Devito dalam bukunya The Interpersonal Communication Book (Devito, 1989:4), komunikasi antarpribadi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika (the process of sending and receiving messages between two persons, or among a small group of persons, with some effect and some immediate feedback). b. Menurut Rogers dalam Depari, komunikasi antarpribadi merupakan komunikasi dari mulut ke

(8)

c. Tan mengemukakan bahwa komunikasi antarpribadi adalah komunikasi tatap muka antara dua orang atau lebih. (Liliweri, 1991: 12) Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang menimbulkan efek tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan oleh komunikator

Efek yang ditimbulkan oleh komunikasi dapat diklasifikasikan pada:

1. Efek kognitif, yaitu bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, dipersepsi oleh komunikan atau yang berkaitan dengan pikiran dan nalar/rasio. Dengan kata lain, pesan yang disampaikan ditujukan kepada pikiran komunikan.

2. Efek afektif, yaitu bila ada perubahan pada apa yang dirasakan atau yang berhubungan dengan perasaan. Dengan kata lain, tujuan komunikator bukan saja agar komunikan tahu tapi juga tergerak hatinya.

3. Efek konatif, yaitu perilaku yang nyata yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, kebiasaan, atau dapat juga dikatakan menimbulkan itikad baik untuk berperilaku tertentu dalam arti kita melakukan suatu tindakan atau kegiatan yang bersifat fisik (jasmaniah).

2.2 TEORI INTERKASI SIMBOLIK

Interaksi simbolik merupakan salah satu prespektif teori yang baru muncul setelah adanya teori aksi (action theory) yang dipelopori dan dikembangkan oleh Max Weber. Teori interaksi simbolik berkembang pertama kali di Universitas Chicago dan dikenal dengan mahzab Chicago tokoh utama dari teori ini berasal dari berbagai Universitas di luar Chicago. Diantaranya John Dewey dan C. H Cooley, filsuf yang semula mengembangkan teori interaksi simbolik di universitas Michigan kemudian pindah ke Chicago dan banyak memberi pengaruh kepada W. I Thomas dan George Herbert Mead.

(9)

ditampilkan oleh orang lain. Sesuai dengan pemikiran-pemikiran Mead, ada tiga ide konsep dasar dari interaksi simbolik yaitu Pikiran (Mind), Diri sendiri (Self), Masyarakat (Society).

Menurut Ralph Larossa dan Donald C.Reitzes (1993), bahwa interaksi simbolik adalah “pada intinya, sebuah kerangka refrensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan orang lainnya, menciptakan dunia simbolik dan bagaimana dunia ini sebaliknya membentuk perilaku manusia”. Mereka mengatakan bahwa ada tujuh asumsi mendasari Interaksi Simbolik dan bahwa asumsi-asumsi ini memperlihatkan tiga tema besar:

1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia

Teori Interaksi Simbolik berpegang bahwa individu membentuk makna melalui proses komunikasi karena makna tidak bersifat intrinsik terhadap apa pun.

Asumsi-asumsi ini adalah sebagai berikut :

 Manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang

diberikan orang lain pada mereka

 Makna diciptakan dalam interaksi anatarmanusia

 Makna dimodifikasi melalui proses interpretif

2. Pentingnya konsep mengenai diri

Teori Interaksi Simbolik ini berfokus pada pentingnya konsep diri (Self-concept), atau seperangkat persepsi yang relatif stabil yang dipercaya orang mengenai dirinya sendiri. Tema ini memiliki dua asumsi tambahan:

 Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan

orang lain

 Konsep diri memberikan motif yang penting untuk perilaku

3. Hubungan antar individu dengan masyarakat

Tema yang terakhir berkaitan dengan hubungan antara kebebasan individu dan batasan sosial. Mead dan Blumer mengambil posisi ditangah untuk pertanyaan ini. Mereka mencoba untuk menjelaskan baik mengenai keteraturan dan perubahan dalam proses sosial.

Asumsi yang berkaitan dengan tema ini adalah :

 Orang dan kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial

(10)

2.3 KONSEP 2.3.1 Selfie

Selfie diklaim dan dipopulerkan sebagai kata yang paling banyak dipakai selama 2013 oleh kamus bahasa Inggris Oxford. Perilaku memotret diri sendiri atau self portrait yang biasanya dilakukan menggunakan kamera digital maupun kamera ponsel, dan kemudian diunggah ke media sosial. Selfie bisa memunculkan berbagai respon seperti respon suka atau tidak suka. Namun, tidak jarang selfie mendapatkan pujian dan kekaguman.

Pada awalnya, selfie dilakukan dengan cara memegang kamera menghadap pada cermin. Namun, sekarang untuk teknik pengambilan foto selfie sudah canggih menggunakan kamera depan pada ponsel pintar yang dilengkapi oleh timer. Hasil dari selfie kemudian diunggah pada media sosial oleh para pelaku selfie, dan biasanya untuk digunakan sebagai foto profil atau dimunculkan untuk interaksi antar pengguna yang sedang online.

Selfie didefinisikan juga sebagai tindakan menampilkan diri yang dilakukan oleh setiap individu untuk mencapai citra diri yang diharapkan. Selfie ini bisa dilakukan oleh individu atau bisa juga dilakukan oleh kelompok individu. Selfie yang dilakukan diambil dengan moment yang tepat serta dengan kualitas gambar yang baik supaya memunculkan suatu komentar bahkan kekaguman (Luik, 2012).

2.3.2 Kecemasan Sosial

Menurut DeWall, dkk (2009), kecemasan sosial merupakan sebuah fenomena yang ditandai oleh rasa takut dan distres. Kecemasan sosial ditandai dengan melihat interaksi sosial sebagai kompetitif, kewaspadaan yang berlebihan pada tanda-tanda ancaman sosial, dan menghindari interaksi yang dapat mengakibatkan penolakan sosial. Pada skala ekstrem kecemasaan sosial berkaitan dengan kondisi kesehatan mental, seperti masalah penyalahgunaan zat, depresi, keinginan bunuh diri, dan percobaan bunuh diri.

Kecemasan sosial menurut Brown, Turovsky, Heimberg, Juster, Brown, Barlow (1997) menjelaskan bahwa kecemasan sosial merupakan rasa takut yang berlebihan dengan situasi sosial. Orang-orang dengan cemas secara sosial akan waspada dengan orang-orang yang asing. Mereka merasa melakukan hal yang memalukan sehingga takut dengan situasi sosial.

(11)

Individu juga khawatir tidak mampu mendapat persetujuan dari orang lain serta takut melakukan perilaku yang memalukan dimuka umum (Suryabrata, 2008).

2.3.3 Perilaku Agresif

Agresi merupakan tindakan melukai yang disengaja oleh seseorang pada orang lain yang dengan jelas disengaja (Sarwono & Meinarno, 2009). Tindakan melukai tersebut bisa berupa memukul, menendang, menyayat, dan lain-lain. Agresi juga merupakan suatu perilaku fisik atau verbal yang mempunyai maksud untuk menyebabkan kerusakan. Contoh dari agresi fisik misalnya seperti memukul, meninju, dan menendang. Contoh dari agresi verbal misalnya mencaci maki serta berkata kasar seperti bego, tolol. Definisi ini membedakan perilaku merusak yang tidak disengaja seperti kecelakaan yang terjadi pada peristiwa tabrakan (Myers, 2012).

Agresi juga dapat diartikan sebagai tingkah laku yang diarahkan kepada tujuan menyakiti makhluk hidup lain melalui kekerasan oleh sifat alamiah yang dimiliki (Baron & Byrne, 2005).

(12)

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 DAMPAK AKIBAT FOTO SELFIE

Semakin berkembangnya teknologi, juga semakin memudahkan kita dalam melakukan selfie. Kini, semakin banyak produk smartphone yang menawarkan kamera depan dengan resolusi tinggi dan beragam fitur kamera yang digunakan. Dan bertambah maraknya media sosial yang ditawarkan untuk mengupload hasil dari selfie tersebut, sehingga masyarakat gemar untuk memotret dirinya sendiri (selfie). Selfie dalam berbagai perspektif mengadung hal yang positif maupun negatif.

Efek Positif Selfie

1. Mampu meningkatkan rasa percaya diri

Secara tidak langsung, foto selfie mampu mengenali diri kita sendiri dengan baik sehingga kita bisa mengerti kelebihan yang ada dalam diri kita. Dengan memperlihatkan kelebihan tersebut, tentu mampu meningkatkan rasa percaya diri kita kepada orang lain. 2. Menjadi hiburan diwaktu luang

Seorang ahli psikolog pernah mengatakan, bahwa selfie bisa berguna untuk diri sendiri. Selfie bisa dijadikan sarana untuk mengisi waktu luang dan menjadi hiburan tersendiri. Bahkan sebagian orang bisa merakan tenang setelah melakukan selfie.

3. Sebagai sarana untuk mengeksplorasi diri

Psikolog Elizabeth T. Santoso mengatakan, bahwa salah satu efek dari selfie adalah membantu orang untuk mengeksplor dirinya. Dengan eksplorasi, otomatis seseorang akan mampu mengembangkan dirinya kearah yang lebih baik. Misalkan, ada seseorang yang memotret hasil masakannya sendiri lalu diupload dan dilihat oleh publik, mengartikan bahwa dia mampu menunjukan kepada orang lain, sisi lain dari dirinya.

4. Menyebarkan pesan positif kepada orang lain

(13)

Efek Negatif Selfie

1. Menjadi candu dan membuat kita ketagihan

Tanpa disadari, foto selfie secara terus menerus dapat mengakibatkan kecanduan dan sulit untuk lepas dari selfie. Bahkan, pada tingkat ekstrim selfie mampu menghilangkan kontak dengan dunia nyata.

2. Memiliki kecenderungan bersifat narsis yang berlebihan

Biasanya, orang yang sering melakukan selfie adalah seseorang pribadi yang cenderung narsis, hingga dapat membuat orang tersebut hilang kontrol atau agresif dan pada pada akhirnya itu tidak disukai oleh orang banyak. Untuk itu, kita harus mengkontrol diri supaya kita tidak di cap sebagai orang terlalu mencintai dirinya sendiri.

3. Tugas utama menjadi terbengkalai

Orang yang sudah kecanduan melakukan selfie, lama kelamaan akan mengabaikan tugas utamanya. Hal ini disebabkan karena terlalu sibuk melakukan selfie sehingga lupa akan tugas utamanya. Dalam sebuah riset disebutkan, ada seorang ibu mempunyai dua orang anak lebih memilih sibuk berfoto selfie dibandingkan mengurus kedua anaknya.

4. Menggangu orang lain

Mungkin pada awalnya kita tidak menyadari dampak buruk ini. Karena niat awalnya yaitu ingin iseng dan ingin menghibur diri sendiri. Namun jika seudah merasa ketagihan, kita akan berulang-ulang melakukannya. Namun, orang-orang yang terus menerus melihat foto kita akan merasa bosan dan risih.

(14)

Mead mendefinisikan diri (Self) sebagai kemampuan untuk merefleksikan diri kita sendiri dari perspektif orang lain. Selfie ini terlalu berdampak negative terhadap psikologi seseorang bilamana foto-foto selfie yang diunggah tidak mendapat respons atau sedikit mendapatkan perhatian ataupun jempol mereka akan merasa minder, tidak percaya diri sampai-sampai dia tertekan, tentu saja dapat mengundang kecemasan sosial. Mead meminjam konsep dari seseorang sosiologis Charles Cooley pada tahun 1912, Mead menyebut hal tersebut sebagai cermin diri

(looking glass self), atau kemampuan kita untuk melihat diri kita sendiri dalam pantulan dari pandangan orang lain. Bagi mereka yang merasa semakin banyak menyukai foto-foto selfie yang dia lakukan maka mereka semakin percaya diri, sebab apa yang dilakukan tidak sia-sia serta terlihat lebih “bernilai” bahkan akan terus menerus menunjukkan dirinya hingga lantas kebablasan narsisnya. Sebab, foto selfie sangat mudah dilakukan karena simpel. bisa dilakukan di tempat umum, acara resmi ataupun di kamar.

3.2 MENGATASI KEBIASAAN PELAKU SELFIE

Kamera maupun smartphone yaitu benda yang mempunyai natural sign sekaligus merupakan simbol yang mempunyai makna, dimaknai oleh sekelompok masyarakat atau khususnya pengguna benda itu sendiri. Dengan menggunakan kamera digital atau kamera smartphone, sudah ribuan foto selfie diupload melalui media sosial Facebook, Twitter, Path, Instagram atau media sosial lainnya. Foto selfie seakan menjadi cara untuk mengekspos keinginan dasar manusia yang selalu merasa ingin diperhatikan, dihargai dan diakui. Namun, beberapa psikolog menyatakan bahwa foto selfie dapat menyebabkan gangguan mental pada seseorang. Hal ini terkait dengan kondisi kesehatan mental yang berfokus pada obsesi seseorang dengan penampilan.

(15)

Setiap orang menginginkan diri mereka terlihat baik di depan orang lain, oleh karena itu terkadang individu berusaha atau bahkan memaksanakan diri mereka seperti apa yang diri mereka inginkan dan orang lain inginkan. Teori yang dapat dikaitkan dalam masalah ini adalah teori interaksi simbolik mengenai pentingnya konsep diri (self-concept) menurut Ralph Larossa dan Donald C.Reitzes (1993). Konsep diri yaitu seperangkat persepsi yang relatif stabil yang dipercaya orang mengenai dirinya sendiri. Pernyataan ini merupakan hal yang sangat penting untuk Interaksionisme Simbolik, Menggambarkan individu dengan dirinya yang aktif, didasarkan pada interaksi sosial dengan orang lain. Khususnya asumsi Konsep Diri Memberikan Motif Penting untuk Perilaku, Mead berpendapat bahwa manusia memiliki diri, mereka memiliki mekanisme untuk berinteraksi dengan dirinya sendiri. Selfie yang dilakukan Danny sangat menggambarkan bahwa dirinya memiliki self ideal yang sangat tinggi. Danny mengharapkan dirinya seperti apa yang seharusnya ia harapkan. Proses ini sering kali dikatakan sebagai prediksi pemenuhan diri (Self fulfilling prophecy), atau pengaharapan akan diri yang menyebabkan seseorang untuk berperilaku sedemikian rupa sehingga harapannya terwujud. Ketika orang tua Danny berusaha menasihatinya, Danny justru menjadi anak yang agresif. Danny pernah nekat menenggak obat yang membuatnya overdosis, karena tidak mendapat foto yang sesuai dengan harapannya.

Dengan demikian cara untuk mengatasi kebiasaan perilaku selfie yaitu :

1. Merubah Pola Pikir, jangan membandingkan foto selfie dengan yang lain, dapat menurunkan rasa percaya diri.

2. Membatasi Penggunakan Smartphone maupun Kamera 3. Stop membuat foto selfie, minimal mengurangi

4. Mencari kesibukan yang lain, dikala waktu senggang 5. Ingat bahwa selfie dapat mengundang kejahatan

3.3 TANGGAPAN TENTANG PELAKU SELFIE

(16)

Merujuk pada tiga konsep dasar Mead tentang Masyarakat, Mead berargumen bahwa interaksi mengambil tempat didalam sebuah stuktur sosial yang dinamis-budaya, masyarakat, dan sebagainya. Individu-individu terlibat di dalam masyarakat melalui perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, seperti halnya berfoto selfie yang sedang booming belakangan ini, bukan hanya sebagai kebiasaan tetapi bisa saja di jadikan budaya oleh masyarakat, kecanggihan dan perkembangan teknologi terkini menghasilkan smartphone, Ipad, Tab dan sebagainya menyebabkan selfie semakin popular dan mudah dilakukan dimana saja.

(Tempo.co) mencatat warga kota yang sering berfoto selfie : * Makati dan Pasig, Filipina sebanyak 258 per 100 ribu orang * Manhattan, New York sebanyak 202 per 100 ribu orang * Miami, Florida sebanyak 155 per 100.000 orang

* Anaheim dan Santa Ana, California sebanyak 147 per 100 ribu orang * Petaling Jaya, Malaysia sebanyak 141 per 100 ribu orang

* Tel Aviv, Israel sebanyak 139 per 100 ribu orang * Manchester, Inggris sebanyak 114 per 100 ribu orang * Milan, Italia sebanyak 108 per 100 ribu orang

* Cebu, Filipina sebanyak 99 per 100 ribu orang

* George Town, Malaysia sebanyak 95 per 100 ribu orang Sedangkan kota-kota di Indonesia dengan selfie tertinggi yaitu :

Denpasar urutan ke-18 dunia: 75 per 100 ribu orang dan Yogyakarta urutan ke-43 dunia: 51 per 100 ribu orang.

Hampir satu juta foto selfie diambil setiap hari, Usia pemotret selfie 18-24 tahun sebanyak 75% dan 25 tahun ke atas sebanyak 25%, dibagikan melalui media sosial Facebook: 48 %, Text: 14 %, WhatsApp: 13%, Twitter: 9%, Instagram: 8%, Snapchat: 5%, Pinterest: 2%.

Tanggapan Psikolog terhadap pelaku selfie (Kompas.com)

Menurut Salma Prabhu : “Selfies atau selfie adalah upaya untuk menunjukkan kepada orang banyak betapa hebatnya dia namun hal tersebut bisa jadi bertujuan ingin diperhatikan. Prabhu memperingatkan selfie dapat mengubah seseorang menjadi orang yang ambisius yang memiliki obsesi yang tidak sehat”.

(17)

perhatian, nanti lama kelamaan kalau terus dilakukan bisa menyebabkan seseorang memiliki obsesi yang tidak sehat karena kurangnya perhatian itu”.

Menurut Psikolog dan direktur media psychology research center, Dr. Pamela Rutledge “keinginan memotret, memposting dan mendapatkan ‘likes’ dari situs jejaring sosial merupakan hal yang wajar bagi setiap orang”

Penelitian di Inggris menyatakan bahwa : “membagi terlalu banyak foto ke jejaring sosial termasuk foto selfie, berpotensi memperburuk hubungan atau membuat pengunggah foto kurang disukai”.

Pikiran Mead mengenai orang lain secara khusus (Particular others) merujuk pada individu-individu dalam masyarakat yang signifikan bagi kita. Biasanya orang-orang yang kita kenal, dapat dilihat apabila seseorang yang gemar berfoto selfie lalu mengupload ke dalam media sosial untuk mendapatkan komentar bagi dirinya. Hal ini dapat membuat orang-orang yang melihat hasil upload tersebut bosan, bisa saja mengakibatkan hubungan personal mereka kurang baik. Orang lain secara umum (Generalized other) merujuk pada cara pandang sebuah kelompok atau budaya secara keseluruhan, hal ini dapat diberikan kepada pelaku selfie. Sikap dari orang lain secara umum adalah sikap dari keseluruhan kelompok atau budaya. Memang bukan hak seseorang untuk meminta kepada pelaku selfie berhenti, karena itu adalah hak seseorang untuk membuat foto dirinya sendiri. Tetapi mungkin sudah saatnya pelaku selfie bertanya, apakah foto selfie hanya untuk kesenangan atau hanya untuk butuh komentar tentang fotonya.

(18)

BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Semakin berkembangnya teknologi, semakin mudah juga untuk kita foto selfie dan memposting hasil ke dalam media sosial, hal ini dapat mengundang komentar. Semakin negatif komentar yang diterima oleh pelaku selfie, semakin tinggi pula tingkat agresivitas yang ia tampilkan. Jenis komentar yang diterima dari orang lain bisa mempengaruhi perilaku dari seseorang. Kecenderungan yang umum terjadi yaitu setiap individu ingin menimbulkan kesan yang baik kepada lingkungannya.

Kemampuan manusia inilah yang menjadi pokok dari teori interaksi simbolik. Ciri khas dari interaksi simbolik terletak pada penekanan manusia dalam lansung antara stimulus – response, tetapi di dasari pada pemahaman makna yang di berikan terhadap tindakan orang lain melalui penggunaan symbol-simbol, interpretasi, pada akhirnya tiap individu akan berusaha saling memahami maksud dan tindakan masing-masing untuk mencapai kesepakatan bersama.

4.2 SARAN

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Baron, R. A., & Byrne, D. 2005. “Psikologi Sosial”. Jakarta: Erlangga.

Brown, Elissa. J., Turovsky, Julia., Heimberg, Richard. G., Juster, Harlan. R., Brown, Timothy. A., & Barlow, David. H. (1997). Validation of the Social Interaction Anxiety Scale and the Social Phobia Scale Across the Anxiety Disorders. Psychological Assesment. American Psychological Association.

DeWall, C. N., Buckner, J. D., Lambert, N. M., Cohen, A. C., & Fincham, F. D. 2009. Bracing for the worst, but behaving the best: Social Anxiety, hostility, and behavioral aggression. Journal of Anxiety Disorders.

Luik, J. E. 2012. “Media Sosial dan Presentasi Diri”. Surabaya:UK Petra

Myers, D. G. 2012.“Psikologi Sosial”. Jakarta: Salemba Humanika.

Nevid, J. S., Rathus, S. A., & Greene, B. 2005. “Psikologi Abnormal”. Jakarta: Erlangga.

Sarwono, S. W., & Meinarno, E. A. 2009. “Psikologi sosial”. Jakarta: Salemba Humanika

Suryabrata, S. 2008. “Psikologi Kepribadian”. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Taylor, S. E., Peplau, L. A., & Sears, D. O. 2009. “Psikologi Sosial”. Jakarta: Kencana.

West, Richard & H. Tuner Lynn. 2008. “Pengantar Teori Komunikasi”. Jakarta : Salemba Humanika.

Referensi

Dokumen terkait

Baharuddin Aris et.al, (2000) pula menjelaskan bahawa pengajaran adalah proses mengenalpasti dan susunan mengenai matlamat, aktiviti, pendekatan dan media untuk membantu

Hubungan kedua variabel menunjukkan nilai positif (kuat), sehingga dapat dimaknai bahwa semakin baik gaya kepemimpinan, maka akan semakin baik budaya organisasi,

2) pejabat penyelenggara pemerintahan yang tidak berstatus pejabat negara, tidak termasuk bendahara dan Pegawai Negeri Bukan Bendahara.. Tuntutan Ganti Kerugian

Penegakan hukum terhadap modifikasi Tanda Nomor Kendaraan Bermotor berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan oleh Kepolisian

Dari berbagai pendapat-pendapat di atas, jelaslah bahwa kemitraan efektif adalah sesuatu yang mutlak dilakukan oleh sekolah dalam membetuk karakter siswa karena dengan

Angket yang digunakan dalam penelitian ini disusun dengan mengacu pada kisi-kisi penelitian, yang berkaitan dengan Evaluasi Program Penyelenggaraan Praktik Kerja

Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa algoritma dan teknik watermarking yang diimplementasikan menunjukkan bahwa kualitas citra watermarked masih dalam keadaan baik

Jawaban : Alat Pencuci Ikan berjalan dengan lancar, dimulai dari daging ikan yang di letakkan pada Conveyor sampai masuk pada Spin Whaser untuk melakukan proses pemisahan sisik