TATA LETAK FASILITAS
(MANAJEMEN OPERASIONAL)
Nama : Aisyah Fitri Febriani Sinaga
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini
dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan Dia penyusun tidak akan sanggup menyelesaikannya
dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang ‘Tata Letak Fasilitas’
yang saya sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini disusun oleh
penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari penyusun maupun yang datang
dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan yang pada
akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Penyusun menyadari makalah ini mempunyai banyak kekurangan. Krtik dan saran yang
bersifat membangun tentu sangat berarti bagi kami.
Binjai, Juni 2016
BAB I PENDAHULUAN
Bagi perusahaan jenis apapun, baik yang bergerak dalam manufaktur maupun jasa tentulah menyadari bahwa kelangsungan hidup perusahaan lebih penting daripada sekedar laba yang besar. Sekalipun untuk dapat terus bertahan (Going Concern), perusahaan memerlukan keuntungan yang cukup. Selanjutnya untuk mendapatkan keuntungan tersebut, produk yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan serta kepuasan konsumen (harga, kualitas, pelayanan, dsb.).
Biasanya, masalah yang akan muncul dan harus dipertimbangkan adalah lokasi dimana perusahaan itu berdiri dan letak dari departemen-departemen dari perusahaan tersebut. Hal ini sangat penting, karena lokasi berdirinya perusahaan tersebut akan mempengaruhi bukan saja komponen internal perusahaan, tetapi juga komponen eskternal serta variabel-variabel penentu lain seperti biaya dan mata uang. Begitu juga dengan perencanaan tata-letak yang tepat akan bermanfaat bagi efisiensi dan kelancaran aktivitas dari perusahaan tersebut, sehingga beban atau biaya aliran material yang tidak diperlukan bisa dihilangkan atau diminimalkan. Oleh karena itu, pada tugas makalah kelompok ini akan membahas tentang strategi lokasi dan tata letak
departemen sehingga dihasilkan tata-letak yang mempunyai biaya aliran material yang kecil. Salah satu ujung dari masalah ini adalah proses produksi yang harus baik dalam arti yang luas, agar output yang dihasilkan baik berupa barang atau jasa, dapat mendukung kelangsungan hidup perusahaan.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………..i
DAFTAR ISI ………..ii
BAB 1. PENDAHULUAN ………..iii
BAB 2. PEMBAHASAN ………..1
A. Kapasitas Perencanaan Dan Penjadwalan...1
B. Keputusan Fasilitas ………..3
C. Operasi Penjadwalan ………..5
D. Perencanaan Agregat ………..7
BAB 3. PENUTUP ………..10
1.1. Kesimpulan ………..10
1.2. Saran ………..10
1.3. Kata Penutup ………..10
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kapasitas Perencanaan Dan Penjadwalan
Perencanaan kapasitas berkaitan dengan pemilihan ukuran yang akan
digunakan oleh setiap industri dan strategi kapasitas untuk memilih satu fasilitas yang besar ataukah membangun beberapa fasilitas yang kecil-kecil. Menurut Maria Pampa, dkk (2011:79) umumnya, kapasitas ditunjukkan oleh dua ukuran, yaitu:
a. Ukuran berdasarkan output, dipilih oleh perusahaan yang berorientasi pada product focused. Ukuran output akan tepat digunakan ketika perusahaan menawarkan produk atau jasa yang standar dengan jumlah yang relatif kecil. Contoh: perusahaan otomotif dan perusahaan furniture.
b. Ukuran berdasarkan input, dipilih oleh perusahaan yang berorientasi pada process focus. Ukuran ini digunakan oleh perusahaan yang menawarkan produk dan jasa yang sesuai dengan keinginan konsumen dan jumlah yang dihasilkan relatif banyak. Contoh: Rumah Sakit mengukur kapasitas dengan ukuran jumlah pasien yang dilayani per hari. Perusahaan photo copy mengukur kapasitas usahanya berdasarkan mesin photo copy yang dimiliki.
Rata-rata penggunaan kapasitas dapat diukur dengan presentase pemakaian kapasitas untuk berproduksi dibagi dengan kapasitas yang tersedia, dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:
Persentase penggunaan kapasitas =
Sedangkan cadangan kapasitas atau selisih kapasitas dipakai senyatanya
dikurangi dengan kapasitas yang tersedia, disebut capacity cushion. Jadi capacity cushion = 1 – persentase penggunaan kapasitas. Danang Sunyoto & Danang Wahyudi (2011:50) mengatakan bahwa besar kecilnya capacity cushion tergantung pada beberapa faktor berikut, yaitu:
a. Keberanian pengusaha untuk menghadapi ketidakpastian. b. Pengaruh penggunaan mesin terhadap kerusakan.
c. Sifat fluktuasi permintaan dan risiko kekurangan hasil produksi. d. Kemungkinan subkontrak.
Rated capacity adalah ukuran kapasitas di mana fasilitas tertentu sudah digunakan dengan maksimal. Kapasitas yang dijadikan patokan (rated capacity) akan selalu kurang atau sama denbgan kapasitas riilnya. Rumus yang digunakan sebagai berikut:
Contoh:
PT X memiliki sebuah pabrik untuk memproses roti. Fasilitas ini efisiensinya 90%, dengan utilitas 80%. Untuk memproduksi roti, digunakan 3 lini proses. Tiga lini tersebut beroperasi 7 hari dalam seminggu dengan 3 kali pergantian (shift) setiap 8 jam setiap hari. Setiap lininya di desain untuk memproses 120 roti setiap jam. Berapakah rared capacity fasilitas tersebut?
Jawab:
Kapasitas = (3 lini x 7 hari x 3 shift x 120 roti x 8 jam) = 60.480 roti Pemanfaatan (utilitas) = 80%
Efesiensi = 90%
Rated capacity = Kapasitas x Pemanfaatan x Efisiensi = 60.480 x 80% x 90%
= 43.546 roti
Bagi perusahaan tidak ekonomik untuk menambah dan mengurangi tenaga kerja dengan naik dan turunnya penjualan. Penggunaan kerja lembur, subkontrak dari luar, atau penimbunan persediaan biasanya menjadi alternatif keputusan yang diambil oleh seorang manajer. Sisi positif kerja lembur adalah menaikkan upah karyawan sehingga akan membuat karyawan lebih senang.
Kerja lembur meminimumkan kebutuhan penarikan lebih banyak
karyawan dan kemudian memberhentikan mereka. Sisi negatifnya adalah bahwa pendapatan karyawan berfluktuasi karena kerja lembur tidak dilakukan secara teratur dan terus menerus. Masalah lain adalah turunnya produktivitas bila pekerjaan tidak didasarkan atas kecepatan mesin.
Pada dasarnya penentuan jumlah unit kapasitas (misal jam kerja karyawan atau mesin) yang diperlukan selama periode waktu tertentu dibuat melalui perhitungan rasio permintaan terhadap kapasitas satu unit sumber daya.
B. Keputusan Fasilitas
Keputusan Fasilitas sangat penting bagi bisnis dan fungsi operasi, keputusan ini membuat pembatasan secara fisik ( physical constraints) terhadap jumlah yang dapat diproduksi, dan memerlukan investasi modal yang langka. Oleh karena itu keputusan fasilitas seringkali dibuat pada tingkat korporasi yang paling tinggi, meliputi manajemen puncak dan dewan direksi (top management) dan (boards of directors).
Keputusan fasilitas terjadi pada suatu akhir hirarki dari keputusan fasilitas, berkisar (ranging) dari jangka panjang ke jangka pendek. Komitmen fasilitas adalah yang sifatnya paling panjang, Setelah keputusan fasilitas dibuat, maka keputusan kapasitas sisanya harus dibuat di dalam fasilitas yang tersedia.
Keputusan kapasitas jangka pendek dan menengah akan dibahas dalam 3 bab berikutnya. Karena adanya pembentukan waktu tunggu (construction lead time), maka keputusan fasilitas sering memerlukan (lead time) sampai 5 tahun.
Dalam keputusan fasilitas terdapat 3 pertanyaan/persoalan yang krusial :
1. Berapa besar kapasitas yang dibutuhkan ? 2. Kapan kapasitas itu dibutuhkan ?
3. Dimana kapasitas itu harus dilokasikan ?
Masalah berapa, kapan dan di mana secara konseptual dapat dipisahkan, akan tetapi seringkali saling terkait. Sebagai hasilnya keputusan fasilitas sangatlah komplek dan sulit dianalisis.
Dalam pembahasan akan diberikan perhatian rinci 3 tipe keputusan fasilitas. Kita mulai dengan pemikiran mengenai Strategi dan hubungannya dengan strategi bisnis (busuness
Strategi Fasilitas
Telah dibahas dalam bahwa strategi fasilitas (atau kebijakan) adalah salah satu bagian utama dari strategi operasi. Karena keputusan-keputusan fasilitas utama mempengaruhi sukses dalam persaingan,
Unsutr-unsur dari strategi fasilitas ini perlu dipertimbangkan secara terpadu dan dipengaruhi oleh factor berikut ini :
a. Prakiraan permintaan (predicted demand)
Merumuskan suatu strategi fasilitas memerlukan suatu prakiraan permintaan (forecast of demand), sekalipun penyimpangannya (variance) sangat besar
b. Biaya fasilitas (Cost of Facilities)
Biaya akan masuk dalam strategi fasilitas untuk mempertimbangkan apakah akan didirikan fasilitas besar atau kecil. Biaya juga mempengaruhi besarnya kapasitas yang ditambahkan pada setiap saat, pilihan waktunya (timing) dan lokasi kapasitas.
c. Kemungkinan perilaku pesaing (likely behavior of competitors)
Reaksi persaingan (competitive response) yang diperkiraan lambat akan mengarahkan perusahaan untuk menambah kapasitas agar dapat merebut pasar sebelum pesaing menjadi kuat.
d. Strategi bisnis (business strategy)
Strategi bisnis dapat mengarahkan perusahaan agar lebih memperhatikan biaya pelayanan atau fleksibilitas dalam memilih fasilitas. Misalnya strategi bisnis untuk memberikan layanan terbaik pada pelanggan akan mengarah ke fasilitas dengan kelebihan kapastas atau lokasi pasar untuk pelayanan yang cepat (fast service).
e. Pertimbangan internasional (international considerations)
Karena pasar makin bersifat global, fasilitas harus dilokasikan atas dasar global. Hal ini bukan saja menyangkut pengejaran “tenaga murah”, tetapi juga penempatan fasilitas secara global untuk memperoleh keuntungan strategi yang terbaik.
4
1. Penjadwalan yang efektif berarti pergerakan barang dan jasa pada sebuah fasilitas
menjadi lebuh cepat. Ini juga berarti perusahaan menggunakan asset secara lebih efektif sehingga menciptakan kapasitas yang lebih besar untuk setiap dolar yang ditanamkan, yang selanjutnya menghasilkan biaya yang lebih rendah.
2. Kapasitas tambahan, pergerakan yang lebih cepat, dan fleksibilitaas terkait menghasilkan pengiriman yang lebih cepat sehingga memberikan pelayanan pelanggan yang lbih baik.
3. Penjadwalan yang baik juga berperan pada komitmen yang realistis sehingga menghasilkan pengiriman yang dapat diandalkan.
Penjadwalan jangka pendek menerjemahkan keputusan kapasitas, perencanaan agregat (jangka menengah) serta jadwal induk ke dalam urutan pekerjaan dan penugasan tertentu atas keryawan, material, dan permesinan. Isu penjadwalan barang dan jasa dalam jangka pendek yaitu
memenuhi permintaan karyawan dan peralatan tertentu dalam basis harian atau jam.
Tujuan penjadwalan adalah mengalokasikan dan memprioritaaskan permintaanyang dihasilkan oleh perkiraan atau pesanan pelanggan pada fasilitas yang ada. Dua factor penting dalam melakukan alokasi dan prioritas ini adalah (1) jenis penjadwalan, maju atau mundur, dan (2) kriteria prioritas.
Penjadwalan Maju Dan Mundur
Penjadwalan mencakup penugasan batas waktu pada pekerjaan tertentu, tetapi banyak pekerjaan yang bersaing secara bersamaan dengan menggunakan sumber daya yang sama. Untuk
membantu mengatasi berbagai kesulitan dalam penjadwalan, teknik penjadwalan dapat digolongkan sebagai (1) penjadwalan maju dan (2) penjadwalan mundur.
1. Penjadwalan Maju
Penjadwalan mauju (forward scheduling) memulai jadwal persyaratan setelah suatu pekerjaan diketahui. Penjadwalan maju digunakan dalan berbagai organisasi, seperti rumah sakit, klinik, rumah makan mewah, dan produsen peralatan mesin.dalam fasilitas ini, pekerjaan dilakukan sesuai dengan pesanan pelanggan, dan biasanya minta dikirim sesegera mungkin. Penjadwalan maju umumnya dirancang untuk menghasilkan sebuah jadwal yang dapat dipenuhi, sekalipun hal ini berarti batas waktunya tidak dapat dipenuhi. Dalam banyak kejadian, penjadwalan maju menyebabkan penumpukan barang setengah jadi.
1. Penjadwalan Mundur
Teknik penjadwalan yang benar bergantung pada volume pesanan, sifat alami operasi, dan kompleksitas pekerjaan secara keseluruhan, serta kepentingan dari keempat kriteria. Berikut keempat kriteria tersebut.
1. Meminimalkan waktu penyelesaian. Kriteria ini dievaluasi dengan menentukan waktu penyelesaian rata-rata untuk setiap pekerjaan.
2. Memaksimalkan utilisasi. Kriteria ini dievaluasi dengan menghitung persentase waktu suatu fasilitas digunakan.
3. Meminimalkan waktu persediaan barang setengah jadi ( work in process – WIP ). Kriteria ini dievaluasi dengan menentukan jumlah pekerjaan rata-rata dalam sistem. Hubungan antara banyaknya pekerjaan dalam sistem dan persediaan WIP akan tinggi. Oleh karena itu, jika terdapat lebih sedikit pekerjaan dalam sistem, maka persediaan yang ada lebih rendah.
4. Meminimalkan waktu tunggu pelanggan. Kriteria ini dievaluasi dengan menentukan jumlah keterlambatan rata-rata.
Keempat kriteria di atas digunakan dalam bab ini; sebagaimana dalam industri, untuk mengevaluasi kinerja penjadwalan. Selain itu, pendekatan penjadwalan yang baik harus sederhana, jelas, mudah dipahami, mudah dilakukan, fleksibel, dan realistis.
Proses berbeda membutuhkan pendekatan penjadwalan yang berbeda :
6
Pengertian Perencanaan Agregat
Perencanaan Agregat (agregat planning) juga dikenal sebagai Penjadwalan Agregat adalah Suatu pendekatan yang biasanya dilakukan olehpara manajer operasi untuk menentukan kuantitas dan waktu produksi pada jangka menengah (biasanya antara 3 hingga 18 bulan ke depan). Perencanaan agregat dapat digunakan dalam menentukan jalan terbaik untuk memenuhi permintaan yang diprediksi dengan menyesuaikan nilai produksi, tingkat tenaga kerja, tingkat persediaan, pekerjaan lembur, tingkat subkontrak, danvariabel lain yang dapat dikendalikan.
Keputusan Penjadwalan menyangkut perumusan rencana bulanan dankuartalan yang mengutamakan masalah mencocokkan produktifitas dengan permintaan yang fluktuatif. Oleh karenanya perencanaan Agregat termasuk dalam rencana jangka menengah.
Tujuan Perencanaan Agregat
Pada dasarnya tujuan dari perencanaan agregat adalah berusaha untuk memperoleh suatu pemecahan yang optimal dalam biaya atau keuntungan pada periode perencanaan. Namun bagaimanapun juga, terdapat permasalahan strategis lain yang mungkin lebih penting daripada biaya rendah. Permasalahan strategis yang dimaksud itu antara lain mengurangi permasalahan tingkat ketenagakerjaan, menekan tingkat persediaan, atau memenuhi tingkat pelayanan yang lebih tinggi. Bagi perusahaan manufaktur, jadwal agregat bertujuan menghubungkan sasaran strategis perusahaan dengan rencana produksi, tetapi untuk perusahaan jasa, penjadwalan agregat bertujuan menghubungkan sasaran dengan jadwal pekerja.Ada empat hal yang diperlukan dalam perencanaan agregat antara lain:
· Keseluruhan unit yang logis untuk mengukur penjualan dan output
· Prediksi permintaan untuk suatu periode perencanaan jangka menengah yang layak pada waktu agregat.
· Metode untuk menentukan biaya
Sifat Perencanaan Agregat
Gambar di atas memperlihatkan bahwa dalam membuat rencana agregat untuk produksi, manajer operasi tidak hanya menerima input mengenai prediksi permintaan dari bagian pemasaran, tetapi harus pulaberhadapan dengan data keuangan, personel (tenaga kerja), persediaan
kapasitas eksternal (subkontraktor), dan ketersediaan bahan baku/mentah. Didalam sebuah lingkungan manufaktur, proses untuk menguraikan rencana agregat secara lebih terinci disebut disagregasi (disagregation). Disagregasi menghasilkan sebuah jadwal produksi induk (master production schedule),yang menyediakan input bagi system perencanaan kebutuhan material(material requirement planning-MRP system). Master production schedule menangani pembelian atau produksi komponen yang diperlukan untuk membuat produk akhir. Jadwal kerja yang terinci bagi orang-orang dan prioritas penjadwalan bagi produk menghasilkan tahap akhir system perencanaan produksi.
8
Biaya-biaya yang terlibat dalam perencanaan agregat antara lain : Hiring Cost (biaya penambahan tenaga kerja)
Penambahan tenaga kerja menimbulkan biaya-biaya untuk iklan, proses seleksi dan training. Biaya training merupakan biaya yang besar apabila tenaga kerja yang direkrut adalah tenaga kerja yang belum berpengalaman.
· Firing Cost (Biaya pemberhentian tenaga kerja)
Pemberhentian tenaga kerja biasanya terjadi karena semakin rendahnya permintaan akan produk yang dihasilkan, sehingga tingkat produksi menurun dengan drastic. Pemberhentian ini mengakibatkan perusahaan harus mengeluarkan uang pesangon bagi karyawan yang di-PHK, menurunnya moral kerja dan produktivitas karyawan yang masih bekerja, dan tekanan yang bersifat social. Semua akibat ini dianggap sebagai biaya pemberhentian tenaga kerja yang akan ditanggungperusahaan.
· Overtime Cost dan Undertime Cost (biaya lembur dan biaya menganggur)
BAB III PENUTUP 1.1 Kesimpulan
Tata letak (layout) adalah susunan letak fasilitas operasional perusahaan, baik yang ada didalam bangunan maupun yang ada diluar. Tata letak mencakup desain dari bagian-bagian, pusat kerja dan peralatan yang membentuk proses perubahan dari bahan mentah menjadi bahan jadi. Perencanaan tata letak merupakan satu tahap dalam perencanaan fasilitas yang bertujuan untuk mengembangkan suatu sistem produksi yang efisiesn dan efektif sehingga dapat
tercapainya suatu proses produksi dengan biaya yang paling ekonomis.
1.2 saran
Dalam menentukan tata letak, sebaiknya memperhatikan langkah – langkah berikut :
Definisikan tujuan tata letak, dalam hal ini bisa berupa produk apa yang akan dibuat dan berapa
banyak.
Memonitor jalannya pabrik dan mengevaluasi tata letak yang dioperasikan.
Melakukan Optimasi Tata Letak - Optimasi tata letak diantara yang paling banyak diperhatikan
ada dua yakni ; minimasi ongkos penanganan material pada tata letak proses (job shop) dan maksimasi efektifitas operator dengan penyeimbangan lintas (line balancing) pada tata letak lintas produksi.
Memilih alternatif terbaik berdasarkan tujuan – tujuan tata letak.
Spesifikasikan aktifitas premier yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan diatas, seperti
aktifitas produksi ; yang meliputi identifikasi proses produksi, mesin – mesin yang terlibat, jumlah mesin dan tenaga kerja pelaksana, kapasitas produksi, kebutuhan gudang bahan baku dan barang jadi, dan aspek perawatan mesin serta penanganan material.
Spesifikasikan aktifitas sekunder yang mendukung aktifitas premier, seperti parkir, kantor,
ibadah/masjid, kantin, klinik , pengolah limbah/sampah, sarana olahraga, satuan pengamanan, dan jalan – jalan kendaraan dilingkungan pabrik serta taman – taman.
1.3Kata penutup
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya
pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA